Resume Jurnal Miqot

Oleh Chairunnas Ar Roni

97,3 KB 3 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Resume Jurnal Miqot

Nama : Chairunnas Ar Roni Kelas : Sistem Informasi 1-5 Nim : 0702173200 Resume Tentang RELEVANSI AJARAN TASAWUF PADA MASA MODERN Para ulama tasawuf memberikan formulasi bahwa kehidupan Rasul bisa dilihat dari pandangan tasawuf. Hal itu merupakan pengejawantahan dari pengamalan tasawuf sebagaimana yang telah diformulasikan oleh para sufi, dan harus ditekankan bahwa Rasul tidak pernah menyatakan bahwa apa yang diamalkan itu merupakan pengamalan tasawuf, sebab istilah tasawuf saja lahir jauh setelah Rasul wafat. Namun, orang belakanganlah yang memformulasikan keilmuan dan istilah tasawuf. Bila ditelaah kehidupan Rasulullah SAW., maka dapat dilihat bahwa ia hidup sederhana, jauh dari kesan kemewahan, tidak suka berlebihan dalam segala hal. Sebagaimana dikemukakan oleh Husein Haikal, bahwa semboyan hidup Rasulullah SAW. adalah, ”kami adalah kaum yang tidak makan kecuali apabila lapar, dan apabila makan tidak kenyang.’’ Semboyan ini merupakan indikasi kesederhanaan dan sikap yang tidak suka akan berlebih-lebihan. Korelasi Ibadah, Etos Kerja, dan Profesionalisme dengan Tasawuf Korelasi Ibadah dengan Tasawuf Pada dasarnya, iman seseorang dikatakan tidak sempurna kalau tidak disertai dengan pelaksanaan ibadah, amal saleh, dan akhlak mulia. Pemahaman seperti ini merupakan pendekatan sufistik. Sebab, ilmu kalam atau teologi Islam hanya membicarakan iman, dan fiqih Islam hanya membicarakan aspek hukum dalam hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia. Sedangkan tasawuf pada intinya mengajarkan kepada kita untuk melakukan hubungan yang baik dengan Tuhan dan hubungan dengan sesama manusia khususunya, dan alam pada umumnya. Hubungan vertikal dengan Tuhan dijalankan dengan melaksanakan ibadah dan hubungan dengan manusia dan alam pada umumnya dengan melakukan amal saleh dan akhlak yang mulia. Dapat dikatakan bahwa ibadah merupakan salah satu kelanjutan dari suatu sistem iman yang logis. Kalau tidak ada ibadah, maka iman hanya akan menjadi rumusan-rumusan abstrak tanpa ada kemampuan memberi dorongan batin kepada individu untuk berbuat sesuatu dengan tingkat ketulusan yang sejati. Karena itu, iman harus dilembagakan dalam peribadatan sebagai ekspresi perhambaan seseorang kepada pusat makna dan tujuan hidupnya, yakni Tuhan. Sebagai sikap batin iman bisa berada pada tingkat keabstrakan yang sangat tinggi, yang sulit ditangkap hubungannya dengan perilaku nyata sehari-hari. Bagi agama samawi, seperti Islam, Tuhan tidak dipahami sebagai benda-benda (totemisme) atau upacara-upacara (sakramentalisme) seperti pada beberapa agama lain. Dengan kata lain, selain bersifat serba transendental dan maha tinggi, menurut persepsi agama-agama samawi Tuhan juga bersifat etis, dalam arti bahwa Dia menghendaki manusia bertingkah laku yang akhlaki, etis, bermoral. Untuk menengahi antara iman yang abstrak dan tingkah laku atau amal perbuatan yang konkret itu, maka diperlukan ibadah. Sebagai konkretisasi iman, ibadah mengandung makna intrinsik yang merupakan pendekatan kepada Tuhan. Dalam ibadah seorang hamba Tuhan merasakan kehampiran spiritual kepada Khalik-Nya. Pengalaman kerohaniaan itu merupakan sesuatu yang dapat disebut sebagai inti rasa keagamaan atau religiusitas, yang dalam pandangan mistis seperti pada kalangan kaum sufi memiliki tingkat keabsahan yang tertinggi. Bahkan kaum sufi itu cenderung melihat bahwa rasa keagamaan harus selalu berdimensi esoteris (batiniah), dengan penegasan bahwa setiap tingkah laku eksoteris (lahiriah) absah hanya jika mengantar seseorang kepada pengalaman esoteris (batiniah) ini. Selain itu, ibadah juga mengandung makna instrumental, karena ia bisa dilihat sebagai usaha pendidikan pribadi dan kelompok ke arah komitmen atau pengikatan batin kepada tingkah laku bermoral. Asumsinya adalah melalui ibadah seseorang yang beriman memupuk dan menumbuhkan kesadaran individul dan sekaligus kolektifnya akan tugastugas pribadi dan sosialnya mewujudkan kehidupan bersama yang sebaik-baiknya di dunia ini. Korelasi Etos Kerja dengan Tasawuf Karakteristik dari etos kerja manusia merupakan pancaran dari sikap hidup mendasar pemiliknya terhadap kerja. Menurut Ziauddin Sardar, suatu nilai (value) serupa dengan konsep dan cita-cita yang menggerakkan perilaku individu dan masyarakat. Senada dengan itu ‘Abd alSatar Nuwair juga menyatakan bahwa manusia adalah makhluk yang diarahkan dan terpengaruh oleh keyakinan yang mengikatnya. Salah atau benar, keyakinan tersebut niscaya mewarnai perilaku orang bersangkutan. Dalam konteks ini, selain dorongan kebutuhan dan aktualisasi diri, nilai-nilai yang dianut, keyakinan atau ajaran agama (termasuk di dalamnya nilai-nilai tasawuf) tentu dapat pula menjadi sesuatu yang berperan dalam proses terbentuknya sikap hidup mendasar ini. Berarti kemunculan etos kerja manusia didorong oleh sikap hidup baik disertai kesadaran yang mantap maupun kurang mantap. Sikap hidup yang mendasar itu menjadi sumber motivasi yang membentuk karakter, kebiasaan atau budaya kerja tertentu. Disebabkan latar belakang keyakinan dan motivasi yang berlainan, maka cara terbentuknya etos kerja yang tidak bersangkut paut dengan agama atau non-agama dengan sendirinya mengandung perbedaan dengan cara terbentuknya etos kerja yang berbasis ajaran agama, dalam hal ini etos kerja Islami. Tentang bagaimana etos kerja dapat diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari, kenyataannya bukan sesuatu yang mudah. Sebab, realitas kehidupan manusia bersifat dinamis, majemuk, berubah-ubah, dan antara satu dengan lainnya mempunyai latar belakang, kondisi sosial dan lingkungan yang berbeda. Perubahan sosial ekonomi seseorang dalam hal ini juga dapat mempengaruhi etos kerjanya. Manusia adalah makhluk yang keadaannya paling kompleks. Ia merupakan makhluk biologis seperti binatang, tetapi ia juga makhluk intelektual, sosial dan spiritual. Lebih dari itu, manusia adalah makhluk pencari Tuhan dan berjiwa dinamis. Manusia memang makhluk yang sangat kompleks. Ia memiliki rasa suka, benci, marah, gembira, sedih, berani, takut, dan lain-lain. Ia juga mempunyai kebutuhan, kemauan, cita-cita, dan angan-angan. Manusia mempunyai dorongan hidup tertentu, pikiran dan pertimbanganpertimbangan dalam menentukan sikap dan pendirian. Selain itu, ia mempunyai lingkungan pergaulan di rumah atau tempat kerjanya. Realitas sebagaimana tersebut di atas tentu mempengaruhi dinamika kerjanya secara langsung atau tidak. Sebagai misal, rasa benci yang terdapat pada seorang pekerja, ketidakcocokan terhadap atasan atau teman satu tim, keadaan seperti itu sangat potensial untuk menimbulkan dampak negatif pada semangat, konsentrasi, dan stabilitas kerja orang yang bersangkutan. Sebaliknya, rasa suka pada pekerjaan, kehidupan keluarga yang harmonis, keadaan sosio- kultural, sosial ekonomi dan kesehatan yang baik, akan sangat mendukung kegairahan dan aktivitas kerja. Orang yang bekerja sesuai dengan bidang dan cita-cita dibandingkan dengan orang yang bekerja di luar bidang dan kehendak mereka, niscaya tidak sama dalam antusias dan ketekunan kerja masing-masing. Sejumlah pakar psikologi menyatakan, perilaku adalah interaksi antara faktor kepribadian manusia dengan faktor-faktor yang ada di luar dirinya atau faktor lingkungan. Etos kerja manusia dapat dipengaruhi oleh dimensi individual, sosial dan lingkungan alam. Bagi orang yang beragama sangat memungkinkan etos kerjanya memperoleh dukungan kuat dari dimensi transendental. Musa Asy’ari mengemukakan bahwasanya etos kerja manusia berkaitan dengan dimensi individual bila dilatarbelakangi oleh motif yang bersifat pribadi di mana kerja menjadi cara untuk merealisasikannya. Kalau nilai sosial yang memotivasi aktivitas kerjanya seperti dorongan meraih status dan penghargaan masyarakat, maka ketika itu etos kerja orang tersebut sudah mendapat pengaruh kuat dan tidak terpisahkan dari dimensi sosial. Faktor lingkungan alam berperan bila keadaan alam, iklim dan sebagainya berpengaruh terhadap sikap kerja orang itu. Sedangkan dimensi transendental (termasuk di dalamnya pengaruh tasawuf) adalah dimensi yang melampaui batas-batas nilai materi yang mendasari etos kerja manusia hingga pada dimensi ini kerja dipandang sebagai ibadah. Jalaluddin secara lebih tegas mengemukakan agama dapat menjadi sumber motivasi kerja karena didorong oleh rasa ketaatan dan kesadaran ibadah. Namun, harus ditegaskan bahwa pemahaman parsial terhadap ajaran agama (baca: Islam) juga dapat berpengaruh negatif terhadap etos kerja. Korelasi Profesionalisme dengan Tasawuf Profesional adalah mengerti akan tugas (sesuai dengan keahlian/ bidangnya) dan bertanggung jawab (amânah), kemudian bersunggguh-sungguh mengerjakannya dengan kualitas yang terbaik (ahsan). Dengan kerja profesional, maka akan didapatkan hasil yang maksimal. Maka dapat dipahami bahwa profesionalisme adalah hal-hal yang berkaitan dengan bidang kerja yang telah menjadi keahliannya serta dikerjakan secara maksimal dan bertanggung jawab. Bila ditelaah lebih lanjut, manusia adalah homo faber, yakni makhluk bekerja. Kerja merupakan cara langsung dalam rangka memenuhi tuntutan yang bersifat pembawaan. Menurut al-Faruqi, manusia memang diciptakan untuk bekerja. Kerjanya adalah ibadahnya. Tidak ada kesuksesan, kebaikan, manfaat atau perubahan dari keadaan buruk menjadi lebih baik kecuali dengan kerja menurut bidang masing-masing. Terhadap mereka yang enggan bekerja al-Faruqi menyatakan, mereka tidak mungkin menjadi Muslim yang baik. Bila kerja atau perbuatan yang dalam Islam dikenal dengan amal, dikaitkan dengan iman, maka justru merupakan manifestasi dan bagian dari pengamalan Islam itu sendiri. Karena karakteristik iman ada dua, yaitu (1) keyakinan hati, dan (2) pengamalan atau kerja sebagai bukti bahwa keyakinan itu berfungsi. Iman dalam hati baru menjadi eksis bila telah dilahirkan dalam bentuk amal atau kerja. Tentu saja kerja atau amal yang dilahirkannya tidak boleh bertentangan dengan ajaran Islam yang diimaninya. Keistimewaan iman demikian terletak pada perpaduan antara nilai-nilai moral dan motif-motif ta‘abbudi dengan kerja atau pengamalan dalam satu bingkai. Dengan ungkapan lain, iman adalah landasan, sedangkan perbuatan atau kerja merupakan konsekuensi dan cara menyatakannya. Kerja, dalam hal ini termasuklah di dalamnya kerja otak dan hati, seperti berpikir, memahami, berzikir, meneguhkan iman dan berusaha mencintai ilmu yang bermanfaat. Selain itu, tentu saja kerja produktif dalam rangka memenuhi kebutuhan pribadi, keluarga dan masyarakat, mengembangkan serta membangun daerah atau negeri, menanggulangi kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, memerintahkan berbuat ma‘ruf, mencegah kemungkaran dan sebagainya. Tantangan-tantangan serupa bila memenuhi syarat husn al-fi‘liyah (pekerjaan yang baik) dan husn al-fa‘iliyyah (yang mengerjakan baik) itu jelas termasuk lahan ibadah, dapat dijadikan objek amal-amal atau kerja Islami yang sebagian besar daripadanya dapat dikategorikan penegakan tugas khilafah manusia di muka bumi. Dalam sebuah hadis yang diawali oleh pernyataan Rasul SAW. bahwa orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah. Beliau lalu bersabda antara lain, “… antusiaslah kamu melakukan apa saja yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah sekali-kali bersikap lemah”. Artinya, Rasul SAW. menyuruh umatnya agar bersemangat, penuh gairah melakukan, semua pekerjaan yang bermanfaat, kerja lahir maupun kerja batin, baik yang kecil-kecil, apalagi yang besar. Senantiasa optimis dan bertawakal kepada Allah dengan berusaha membuang jauh sikap lemah. Jadi, hadis tersebut jelas mengajarkan sifat giat bekerja dengan penuh semangat tanpa memberi peluang pada sifat malas. Tentu saja anjuran hadis ini mencakup pula dorongan kepada manusia untuk secara sadar berusaha memperoleh dan mencintai segala sesuatu yang bermanfaat dan layak dicintai, misalnya ilmu pengetahuan dan teknologi, kesehatan dan sebagainya. Pengaruh Pengamalan Tasawuf dalam Kehidupan Pengaruh Tasawuf dalam Kehidupan Pribadi Perkembangan kehidupan manusia begitu cepat dan canggih. Hal itu seiring dengan perkembangan sains dan teknologi yang begitu cepat. Kehidupan modern saat ini, telah berkembang menjadi sedemikian materialistik dan individualistik. Materi menjadi tolok ukur dalam segala hal, kesuksesan, kebahagiaan semuanya ditentukan oleh materi. Orang berlombalomba mendapatkan materi sebanyak-banyaknya, karena dengannya manusia merasa dirinya sukses. Akibatnya manusia sering bertindak tanpa kendali demi materi. Semakin terlihat kecenderungan manusia menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Nilai-nilai kemanusiaan semakin surut, toleransi sosial dan solidaritas sesama serta ukhuwah (di kalangan umat Islam) tampak hilang dan memudar, manusia cenderung semakin individualis. Di tengah suasana itu, manusia merasakan kerinduan akan nilainilai ketuhanan, nilai-nilai Ilahiah. Nilainilai berisikan keluhuran inilah yang dapat menuntun manusia kembali kepada nilai-nilai kebaikan yang pada dasarnya telah menjadi fitrah atau sifat dasar manusia itu sendiri. Dengan adanya kecenderungan manusia untuk kembali mencari nilai-nilai ilahiyah merupakan bukti bahwa manusia itu pada dasarnya makhluk rohani selain sebagai makhluk jasmani. Sebagai makhluk jasmani, manusia membutuhkan hal-hal yang bersifat materi, namun sebagai makhluk rohani, ia membutuhkan hal-hal yang bersifat immateri atau rohani. Sesuai dengan orientasi ajaran tasawuf yang lebih menekankan aspek rohani, maka manusia itu pada dasarnya cenderung bertasawuf. Dengan perkataan lain, bertasawuf merupakan fitrah manusia. Berdasarkan nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran tasawuf, selama manusia belum bisa keluar dari kungkungan jasmani dan materi, selama itu pula dia tidak akan menemukan nilai-nilai rohani yang dia dambakan. Untuk itu dia harus berusaha melepaskan rohnya dari kungkungan jasmaninya. Maka dia harus menempuh jalan latihan (riyâdhah) yang memerlukan waktu cukup lama. Riyâdhah juga bertujuan untuk mengasah roh supaya tetap suci. Naluri manusia selalu ingin mencapai yang baik dan sempurna dalam mengarungi kehidupannya. Untuk mencapai kebaikan dan kesempurnaan ini tidak dapat dilalui dengan mempergunakan ilmu pengetahuan saja, karena ilmu adalah produk manusia dan hanya merupakan alat yang terbatas. Manusia akan merasa kehilangan dan kekosongan kalau hanya mengandalkan ilmu materi saja. Jalan menuju kebahagiaan yang hakiki hanya dengan iman yang kokoh, perasan hidup yang aman bersama Tuhan. Pengaruh Tasawuf dalam Kehidupan Masyarakat Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa pada orang-orang Muslim kesadaran semacam itu telah melahirkan sikap-sikap sosial keagamaan yang unik, yang jauh berbeda dengan pemelukpemeluk agama lainnya. Masyarakat Islam dapat mewujudkan kesadaran tersebut dalam sinaran sejarah yang cemerlang. Fenomena keagamaan yang tunduk pada prinsipprinsip toleransi, kebebasan beragama, keterbukaan, keadilan dan kejujuran. Kenyataan ini diakui oleh Hudgson, misalnya dengan mengatakan bahwa umat Islam adalah satusatunya golongan manusia yang paling mendekati keberhasilan, lebih daripada golongan lain manapun dalam sejarah, untuk menyatukan seluruh umat manusia di bawah citacitanya. Kesadaran beragama, yang diimplementasikan lewat pengamalan kehidupan tasawuf, telah banyak memberikan pengaruh terhadap masyarakat modern. Sikap hidup masyarakat yang mengamalkan sikap takwa, tawakal, ikhlas, taubat, syukur, harapan (raja’), sabar, dan khauf merupakan pengajaran tasawuf yang telah diamalkan oleh kaum sufi. Hanya saja, pengamalan pengajaran tasawuf yang telah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga relevan dengan kehidupan masyarakat modern. Dengan pemahaman yang lebih moderat dan elegan sekaligus mengamalkannya, maka tasawuf tidak lagi menjadi amal orang-orang tradisional. Jadi, dapat dikatakan dengan tegas bahwa pengaruh tasawuf dalam kehidupan masyarakat, memang sudah menjadi bagian kehidupan masyarakat Muslim, khususnya di Indonesia. Namun, pengaruh ini hanya sebatas kesalehan individual, bukan kesalehan sosial, kesalehan sosial masih perlu dipertanyakan. Kendatipun terus mengalami berbagai perkembangan dalam pengamalannya, tasawuf untuk sebagian masyarakat Muslim Indonesia masih menjadi bagian dari kehidupannya. Pengaruh Tasawuf dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara Perkembangan sejarah Islam membuktikan bahwa peranan ajaran Islam demikian signifikan dalam membentuk etika kehidupan masyarakat. Demikian pula kontribusi Islam dalam etika berbangsa dan bernegara, sebagaimana yang terdapat dalam negara yang dibangun oleh Muhammad SAW. yang dikenal dengan negara Madinah. Etika berbangsa dan bernegara, hendaknya mengacu pada prinsip-prinsip yang telah dibangun oleh Rasulullah SAW. pada kehidupan masyarakat di Madinah. Adanya perilaku egalitarian sesama anak bangsa akan mewujudkan kerjasama yang baik, menghilangkan keangkuhan dan arogansi, sebab manusia pada dasarnya makhluk yang sederajat, dalam Islam semua manusia di hadapan Tuhan sama, kecuali yang memiliki kualitas ketakwaan yang mantap. meahirkan ketenangan jiwa dan menggerakkan dinamika kerja. Pada gilirannya ini akan membawa kepada kemaslahatan, kemakmuran dan kesejahteraan. Adil dalam tinjauan bernegara, adalah terciptanya tatanan masyarakat yang harmonis, sejahtera, bahagia lahir dan batin. Sumber-sumber pendapatan negara dikelola sesuai dengan kemaslahatan negara dan masyarakatnya. Ini merupakan perwujudan dari nilai keadilan itu sendiri. Semua undang-undang ditegakkan tanpa kecuali. Tidak ada diskriminasi dalam peraturan negara atau pemerintahan dan pelaksanaannya. Proses penegakkan hukum harus benarbenar memenuhi nilai keadilan, baik pada tingkat normatif peraturan maupun dalam pelaksanaan sampai ke pengadilan. Prinsip keadilan merupakan salah satu etika yang sangat signifikan untuk diterapkan dalam berbangsa dan bernegara. Bila dirujuk ke dalam teks al-Qur’an, maka kata al-‘adl dalam al-Qur’an menurut alBaidhawî bermakna “pertengahan dan persamaan”.39 Sayyid Quthb menekankan atas dasar persamaan sebagai asas kemanusiaan yang dimiliki oleh setiap orang. Keadilan baginya bersifat inklusif, tidak ekslusif untuk golongan tertentu,40 sekalipun umpamanya yang menetapkan keadilan itu seorang Muslim untuk orang non-Muslim. Sedangkan kata qisth dalam al-Qur’an berarti seimbang. Yusuf Ali menjelaskan bahwa al-‘adl dalam al-Qur’an suatu istilah yang bersifat komprehensif yang mencakup semua kebaikan dan kemanusiaan.41 Kata al-qisth ia artikan dengan persamaan dan jujur. Di Indonesia, keadilan masih perlu terus diperjuangkan, sebab selama ini perilaku adil belum menjadi etika yang harus diterapkan pada tataran berbangsa dan bernegara. Rakyat masih terus berjuang dalam mempertahankan hak yang terkadang dirampas oleh para penguasa. Untuk itulah pengaruh tasawuf dengan nilai-nilai luhurnya perlu ditegakkan dalam membangun hubungan yang mantap berbangsa dan bernegara. Adapun yang perlu dibangun adalah nilai-nilai universalnya, bukan pengamalan lokalnya. Nilai-nilai universal itu, sebagaimana yang telah disebutkan di atas, seperti nilai keadilan, nilai persamaan, nilai musyawarah dan sebagainya. Selanjutnya dalam dunia politik, khususnya tataran partai politik di Indonesia juga masih diperlukan kedewasaan untuk menerapkan etika sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah. Partai politik seharusnya menjalankan fungsinya sebagai salah satu lembaga yang ikut bertanggung jawab dalam pembangunan bangsa dan negara secara baik dan benar. Jangan sampai partai politik meracuni pemikiran masyarakat, membodohi masyarakat, atau menyalahgunakan kewenangan demi mengharapkan kedudukan dan uang. Etika bertanggung jawab dan amanah, serta tepat janji harusnya menjadi bagian perjuangan dan perilaku partai politik. Demikian pula para abdi negara seharusnya selaras antara kata dan perbuatan. Bila semua komponen bangsa; rakyat dan aparatur negara sama-sama berperilaku etis, dalam pengertian menjalankan norma-norma yang telah disepakati serta nilai-nilai yang berasal dari ajaran agama, maka dapat diharapkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar dan disegani dalam pergaulan internasional.

Judul: Resume Jurnal Miqot

Oleh: Chairunnas Ar Roni


Ikuti kami