Serviam Jurnal 4

Oleh Eron Yuwan

1,6 MB 4 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Serviam Jurnal 4

LAPORAN PELAYANAN ke Rumah Belajar Cicayur Agustinus Nathaniel XI A3 / 1 Gamaliel Rhema XI A3/ 13 Joshua Jedidiah Oswari XI A3/ 16 Madeline Gracia XI A3/ 21 Maria Juanita XI A3/ 22 Taniesha Algusta Setiadi XI A3/ 28 KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyusun dan menyelesaikan laporan ini dengan lancar dan tepat waktu. Laporan ini berjudul Laporan Pelayanan ke Rumah Belajar Cicayur. Kami mengucapkan terima kasih kepada : 1. Bapak Hieronymus Yuwan Pratama yang telah membimbing kami dalam melaksanakan kegiatan pelayanan. 2. Ibu Juliani, sukarelawan utama Rumah Belajar, yang telah membantu kami dalam menyediakan transportasi dan melaksanakan kegiatan pelayanan di Rumah Belajar. 3. Mama dari Joshua Oswari yang telah menyediakan transportasi dan membantu kegiatan pelayanan di Rumah Belajar. 4. Teman-teman satu kelompok yang telah bekerjasama dalam kegiatan pelayanan di Rumah Belajar, mendokumentasi dan pembuatan lagu untuk refleksi kelompok. Laporan ini berisi dasar-dasar teori, kronologi kegiatan pelayanan yang kami lakukan, laporan keuangan serta lampiran dokumentasi. Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan pada laporan ini. Oleh karena itu kami terbuka akan kritik dan saran dari para pembaca yang dapat membangun. Kritik dan saran yang diberikan akan berguna untuk pengembangan laporan kami berikutnya. Akhir kata semoga laporan ini memberikan manfaat bagi kita dan mengetuk hati kita untuk menjadi lebih peka. Tangerang, 23 Maret 2015 Kelompok Pelayan vii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ....................................................................................................vii DAFTAR ISI .................................................................................................................viii 1. BAB I PEMBUKAAN 1.1. Latar Belakang ...................................................................................................1 1.2. Tujuan ...............................................................................................................1 2. BAB II DASAR TEORI 2.1. Dasar Teori Pelayanan .......................................................................................3 2.2. Dasar ayat alkitab .............................................................................................8 2.3. Artikel-artikel tentang pelayanan .....................................................................8 3. BAB III SERVIAM JOURNEY 3.1. Proses Persiapan 3.1.1. Tantangan Selama Masa Persiapan .........................................................13 3.1.2. Dukungan Selama Masa Persiapan ..........................................................13 3.2. Pelaksanaan Pelayanan 3.2.1. Deskripsi Tempat ....................................................................................14 3.2.2. Jurnal Pelayanan .....................................................................................14 3.2.3. Tantangan selama Pelaksanaan Pelayanan .............................................15 3.2.4. Dukungan Selama Pelaksanaan Pelayanan .............................................16 4. BAB IV REFLEKSI 4.1. Refleksi Pribadi 4.1.1. Refleksi Agustinus Nathaniel .................................................................17 4.1.2. Refleksi Gamaliel Rhema........................................................................18 4.1.3. Refleksi Joshua Oswari...........................................................................19 4.1.4.Refleksi Madeline Gracia ........................................................................20 viii 4.1.5. Refleksi Maria Juanita ............................................................................21 4.1.6.Refleksi Taniesha Algusta .......................................................................23 4.2. Refleksi Kelompok ............................................................................................25 5. BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan .......................................................................................................27 5.2. Kritik dan Saran Kelompok untuk Proyek Pelayanan ......................................28 5.3. Kritik dan Saran Kelompok untuk Pembimbing ..............................................28 5.4.Laporan Keuangan .............................................................................................29 5.5. Laporan Dokumentasi .......................................................................................30 ix BAB I PEMBUKAAN 1.1 Latar Belakang Kami memilih Rumah Belajar yang lokasinya tidak jauh dari tempat tinggal kami sebagai tempat kegiatan pelayanan. Kami memiliki berbagai alasan ketika memilih Rumah Belajar sebagai tempat kegiatan pelayanan kami. Keterbatasan waktu dan tidak mendapat informasi yang jelas dari pihak tempat pelayanan yang kami ingin kunjungi, merupakan alasan teknis. Awalnya kami tidak berencana mengunjungi Rumah Belajar, namun tempat lain seperti panti asuhan anak-anak cacat dan rumah sakit kanker. Sayangnya kami tidak mendapat informasi yang jelas. Selain itu tempat-tempat tersebut juga cukup jauh jadi akan memakan banyak waktu. Di samping itu, kami juga ingin melayani di tempat yang dekat atau yang berada disekitar kami, karena kami yakin masih banyak orang-orang di sekitar kami yang tidak seberuntung kami dan masih membutuhkan bantuan. Kami ingin membantu anak-anak yang seharusnya bisa memiliki kesempatan yang setara dengan kami namun tidak mampu meraihnya karena keterbatasan fasilitas. Berdasarkan fokus kami terhadap pendidikan anak-anak yang ada di daerah pedalaman, kami memilih Rumah Belajar Cicayur yang cukup dekat dari BSD. Kunjungan ini kami lakukan karena kami ingin peka terhadap anak-anak yang membutuhkan bantuan kami dan kebetulan berada di dekat kami. Kami melayani mereka dengan cara mengajar anak-anak SD dan membimbing anak-anak yang belum sekolah. Kami mencoba memosisikan diri kami di antara mereka dan membantu mereka sesuai kemampuan dan niat kami. Kami juga berharap agar bantuan yang kami berikan kepada mereka walaupun kecil namun dapat bermanfaat besar bagi mereka. 1.2. Tujuan Pelayanan Kegiatan pelayanan yang kami lakukan bertujuan membantu orang-orang yang membutuhkan, sesuai dengan kemampuan kami. Masih banyak orang-orang di sekitar kita yang ternyata masih membutuhkan bantuan, maka lewat kegiatan ini hati kami diketuk untuk peduli dan membantu.Sesuai dengan fokus kami terhadap pendidikan anak, maka kami 1 membantu anak-anak yang belum mendapatkan fasilitas yang memadai dalam bidang pendidikan. Selain itu, menurut kami kegiatan pelayanan ini mengajak kami agar lebih mensyukuri apa yang kami miliki. Maksudnya adalah setelah kami melakukan pelayanan, bahwa kami yang selalu merasa tidak puas dengan apa yang dimiliki,menjadi sadar bahwa ternyata masih ada yang lebih berkekurangan daripada diri kita, sehingga kami perlu bersyukur dengan apa yang kami miliki. Kegiatan pelayanan juga menjadi sarana bagi kami untuk memuliakan Allah lewat apa yang kami katakan dan lakukan. Lewat kegiatan ini kami diajak untuk membagikan sukacita kepada sesama kita yang membutuhkan. 2 BAB II DASAR TEORI 2.1. Dasar Teori Pelayanan Definisi Pelayanan Menurut KBBI (2008); pelayanan /pe·la·yan·an/ n 1 perihal atau cara melayani: selama ini tamu hotel itu tidak mendapat ~ yg semestinya; 2 usaha melayani kebutuhan orang lain dng memperoleh imbalan (uang); jasa: yayasan itu bergerak dl pemberian ~ jual beli tanah; 3 kemudahan yg diberikan sehubungan dng jual beli barang atau jasa;~ medis Dok pelayanan yg diterima seseorang dl hubungannya dng pencegahan, diagnosis, dan pengobatan suatu gangguan kesehatan tertentu; ~ terbuka Dik penyelenggaraan pelayanan peminjaman buku dng cara memperbolehkan para peminjam masuk ke ruangan koleksi dan memilih sendiri buku yg dikehendaki; ~ tertutup Dik penyelenggaraan pelayanan peminjaman buku dng cara tidak membolehkan para peminjam masuk ke ruang koleksi layan /la·yan/, melayani /me·la·yani/ v 1 membantu menyiapkan (mengurus) apa-apa yg diperlukan seseorang; meladeni: para pembantu sibuk ~ tamu; 2 menerima (menyambut) ajakan (tantangan, serangan, dsb): kita tidak perlu ~ mulut-mulut usil; 3 mengendalikan; melaksanakan penggunaannya (senjata, mesin, dsb): lulusan STM sudah dapat ~ mesin diesel; Menurut Kotler (1994), pelayanan adalah aktivitas atau hasil yang dapat ditawarkan oleh sebuah lembaga kepada pihak lain yang biasanya tidak kasat mata, dan hasilnya tidak dapat dimiliki oleh pihak lain tersebut. Menurut Hadipranata (1980), pelayanan adalah aktivitas tambahan di luar tugas pokok (job description) yang diberikan kepada konsumen-pelanggan, nasabah, dan sebagainya-serta dirasakan baik sebagai penghargaan maupun penghormatan. Parasuraman et al., (dalam Zeithaml dan Bitner (1996: 118) sampai pada kesimpulan bahwa kesepuluh dimensi kualitas pelayanan di atas dirangkumkan menjadi lima dimensi pokok yang terdiri dari reliability, responsiveness, assurance (yang mencakup competence, courtesy, credibility, dan security), empathy (yang mencakup access, communication dan 3 understanding the customer), serta tangible. Penjelasan kelima dimensi untuk menilai kualitas pelayanan tersebut adalah : 1. Tangibles (bukti fisik); meliputi fasilitas fisik, perlengkapan, pegawai dan sarana komunikasi serta kendaraan operasional. Dengan demikian bukti langsung/wujud merupakan satu indikator yang paling konkrit. Wujudnya berupa segala fasilitas yang secara nyata dapat terlihat. 2. Reliability (kepercayaan); merupakan kemampuan memberikan pelayanan yang dijanjikan dengan segera dan memuaskan. Menurut Lovelock, reliability to perform the promised service dependably, this means doing it right, over a period of time. Artinya, keandalan adalah kemampuan perusahaan untuk menampilkan pelayanan yang dijanjikan secara tepat dan konsisten. Keandalan dapat diartikan mengerjakan dengan benar sampai kurun waktu tertentu. Pemenuhan janji pelayanan yang tepat dan memuaskan meliputi ketepatan waktu dan kecakapan dalam menanggapi keluhan pelanggan serta pemberian pelayanan secara wajar dan akurat. 3. Responsiveness (daya tanggap); yaitu sikap tanggap pegawai dalam memberikan pelayanan yang dibutuhkan dan dapat menyelesaikan dengan cepat. Kecepatan pelayanan yang diberikan merupakan sikap tanggap dari petugas dalam pemberian pelayanan yang dibutuhkan. Sikap tanggap ini merupakan suatu akibat akal dan pikiran yang ditunjukkan pada pelanggan. 4. Assurence (jaminan); mencakup pengetahuan, kemampuan, kesopanan dan sifat dapat dipercaya yang dimiliki pegawai, bebas dari bahaya, risiko dan keragu-raguan. Jaminan adalah upaya perlindungan yang disajikan untuk masyarakat bagi warganya terhadap resiko yang apabila resiko itu terjadi akan dapat mengakibatkan gangguan dalam struktur kehidupan yang normal. 5. Emphaty (empati); meliputi kemudahan dalam melakukan hubungan, komunikasi yang baik dan memahami kebutuhan pelanggan. Empati merupakan individualized attention to customer. Empati adalah perhatian yang dilaksanakan secara pribadi atau individu terhadap pelanggan dengan menempatkan dirinya pada situasi pelanggan 4 Definisi Diakonia Diakonia adalah salah satu misi gereja yang biasa dikenal melalui Tri Tugas Gereja, yakni Koinonia (persekutuan), Martyria (kesaksian) dan Diakonia (melayani). Diakonia berasal dari bahasa Yunani: Diakonein, yang berarti melayani. Umumnya diartikan sebagai melayani meja makan (seperti pelayanan: "sitahu bagod” bagi raja-raja Simalungun dahulu kala, yang selalu sedia tatkala raja bersantap). Jadi, Diakonia adalah Tugas Gereja untuk Melayani. Pelayanan Gereja ini bersumber pada diri Kristus yang hadir ke tengah dunia untuk Melayani umat Nya. Tetapi kemudian munculah kata Diaken, yang dipakai oleh Gereja sebagai sebutan kepada sekelompok pelayan yang bertugas melayani Jemaat di luar hal-hal yang berkaitan dengan Liturgi (Kebaktian). Mereka memperhatikan kehidupan orang-orang yang berada dalam kesusahan terutama pada janda dan yatim piatu. Justru oleh karena pelayanan para Diaken ini terdapat orang-orang yang susahlah nampak keindahan persekutuan Jemaat mula-mula. Dan ini jugalah yang menarik perhatian orang lain untuk menjadi pengikut Kristus (Kisah Rasul 6:1-7). Dalam perkembangannya, pemahaman tentang makna Diakonia telah semakin berkembang, yaitu: a. Diakonia bukan lagi hanya tugas para Diaken, melainkan tugas seluruh warga Jemaat karena Diakonia adalah tugas Gereja secara menyeluruh selaku tubuh Kristus. b. Diakonia bukan hanya ditujukan kepada sesama anggota Jemaat tetapi juga kepada umat kepercayaan lain, bahkan sampai kepada seluruh ciptaan (Mark. 10:45). Diakonia (menurut GBKU GKPS 1995-2000): a. Meringankan penderitaan yatim piatu, janda, jompo dan mereka yang berada di Lembaga Pemasyarakatan. b. Melestarikan lingkungan hidup. c. Meningkatkan kemandirian dan kepercayaan diri warga Jemaat. Pelayanan Kristiani adalah bukan di mana kita membawa atau mengajarkan agama Kristen kepada yang kita layani, tetapi yang harus kita lakukan adalah membawa Kristus kepada mereka, agar mereka juga dapat merasakan sukacita, damai dan kasih dari Allah. Kita 5 melayani bukanlah untuk memperoleh sesuatu, melainkan oleh karena kita telah memperoleh sesuatu yang telah kita dapatkan langsung dari Allah. “diakonal”, yaitu sikap dan sifat yang dibutuhkan dalam pelayanan sebab makna aslinya adalah membungkuk-bungkuk dalam debu tanah, merangkak, menaklukkan diri artinya sukarela merendahkan diri, menempatkan diri dalam posisi terendah”. Tujuan gereja dalam pelayanan diakonia (sosial) adalah memenuhi panggilan gereja dalam pelayanan gereja. Gereja terpanggil untuk melakukan dan melayani orang-orang yang sakit, mengalami bencana alam dan yang tidak mampu mencukupkan kebutuhan orang-orang yang ditimpa kelaparan, orang-orang yang diasingkan sebagai wujud kemurahan Allah. Definisi Pelayanan Menurut Pandangan Agama Kristen Mark 10:45 Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. Kata melayani dalam bahasa Yunani “diakonia” (diakonein = melayani, diakonos = pelayan). Banyak pemimpin gereja yang menyalahpahami kata diakonia sebagai hanya pelayanan di bidang sosial saja seperti membagi sembako, pengobatan gratis dan lain-lain. Tetapi sebenarnya arti kata diakonia sangat luas. Kalau boleh didefinisikan, setiap apa yang kita pikir, lihat, dengar, katakan, lakukan, motivasi, orientasi kepada Allah itu yang disebut diakonia. Banyak umat Kristen menyalahpahami arti diakonos. Diakonos dikatakan segelintir orang yang duduk dalam organisasi seperti para pendeta, penginjil, majelis, dan pengurus, sedangkan anggota gereja awam bukan diakonos. Oleh karena kesalahpahaman makna diakonos, maka banyak orang Kristen bersikap apatis terhadap gereja. Asal setiap minggu datang ke gereja sudah cukup, beri persembahan sudah lumayan, apalagi memberikan perpuluhan hebat sedangkan pergumulan dan masalah di gereja tidak mau pusing. Padahal yang dimaksud dengan diakonos, adalah setiap orang yang sudah menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat, memiliki hidup Kristus, entah kaya-miskin, punya posisi atau tidak, asal percaya Yesus dan mempunyai hidup Kristus dalam dirinya, dia adalah diakonos (pelayan). 6 Makna pelayanan 1. Kita dipanggil, dipilih dan mau dipakai sebagai pelayan. Itu hak istimewa yang diberikan Tuhan kepada kita. Allah kita Maha Mulia, Agung, Tinggi, Dia dihormati , dimuliakan oleh malaikat, jauh di atas sana pada tahta Kerajaan Sorga. Dalam kitab Mazmur, kita adalah debu tanah. Di hadapan Allah posisi kita sangat rendah, kita tidak berarti sama sekali. Inilah hak istimewa yang Tuhan berikan pada kita. Kalau mengerti hak istimewa, penghargaan luar biasa yang diberikan Allah kepada kita, beranikah kita melalaikan, meremehkan posisi kita sebagai diakonos? 2. Kita dipanggil, dipilih dan dipakai Allah, ini merupakan anugerah. Hadiah yang diberikan oleh orang yang lebih tinggi dari kita yang sebenarnya tidak layak kita terima, tetapi sudah diberikan. Inilah yang dimaksudkan dengan anugerah. Keselamatan dalam Yesus kita peroleh karena anugerah. Tetapi sebagai pelayan juga merupakan anugerah. 3. Kita jadi diakonos merupakan kesempatan yang diberikan kepada kita. Kesempatan tidak selalu ada. Hari ini ada, belum tentu besok ada. Begitu kesempatan berlalu untuk selamalamanya kita tidak bisa mengambilnya. yang dinamakan pelayanan untuk Tuhan , di mata Tuhan tidak ada yang besar atau kecil. Kalau sungguh-sungguh melayani dengan tulus hati, Tuhan bisa memakai kita. Orang bisa bertobat karena mendengar khotbah pendeta yang luar biasa. Kita bisa memulainya dengan hal yang kecil seperti menolong ibu di rumah atau teman (sesama) yang membutuhkan. Intinya, kita melakukan pelayanan itu dengan tulus hati. 4. Mempunyai nilai kekal. Semua yang ada dalam dunia bersifat sementara. Suatu hari kita akan melepas semuanya. Ada orang yang mengejar kekayaan. Bekerja pagi, sore dan malam. Ayub mengatakan, “Dengan telanjang aku lahir di dunia. Dengan telanjang juga aku akan pergi dari dunia.” Tetapi melayani, nilainya kekal. Bukan kita rasakan dalam dunia ini, tetapi dibawa saat meninggalkan dunia. Dulu ada orang Kristen kaya sekali tapi pelit. 5. Melayani itu sumber berkat. Setiap anggota yang mengerti makna pelayanan berkata seperti perkataan Tuhan Yesus, “Manusia datang bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani.” Rela menyerahkan nyawa. Itulah makna pelayanan. Jangan sedikit keluar keringat, ngomel. Tuhan Yesus bukan saja mencucurkan air mata, keringat, waktu dan tenaganya tapi juga mencucurkan darah dan serahkan nyawa karena Dia tahu makna pelayanan. 7 2.2. Dasar Alkitab Pelayanan Matius 25 : 40 Dan Raja itu akan menjawab mereka : Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. Matius 20:28 Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. 2.3. Artikel tentang pelayanan ARTIKEL 1 Uskup Agung Jakarta tetapkan 2014 sebagai Tahun Pelayanan 09/01/2014 Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo menetapkan 2014 sebagai Tahun Pelayanan. Tahun Pelayanan dimulai pada 6 Januari bertepatan dengan Hari Raya Epifani, yang dikeluarkan melalui surat gembala yang dibacakan di semua paroki di KAJ pada Misa-misa Sabtu dan Minggu (4-5/1). Tahun Pelayanan 2014 ini mengambil tema “Dipilih untuk Melayani”. Tema tersebut dibaca dalam dua konteks — konteks gerejawi dan konteks tahun politik. “Dalam konteks gerejawi, memilih dan melayani adalah dua kata amat dekat dengan jati diri kita sebagai murid-murid Kristus. Sementara dalam konteks politik, tema itu bisa dikaitkan dengan pemilu legislatif dan pemilu presiden-wakil presiden yang akan dilaksanakan pada tahun 2014 ini,” tulis uskup agung itu dalam surat gembalanya. Dalam konteks tahun politik, kata Uskup Agung Suharyo, “Harapannya agar para tokoh yang akan terpilih dalam pemilu legislatif, pemilu presiden dan wakil presiden benar-benar melayani demi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.” 8 Menurutnya, Tahun Pelayanan tidak bisa dipisahkan dari Tahun Iman dan Tahun Persaudaraan. Iman yang sejati akan berbuah persaudaraan. Belum atau kurang adanya persaudaraan merupakan tanda bahwa iman belumlah kuat dan mendalam. “Persaudaraan yang sejati akan berbuah pelayanan yang tulus dan gembira. Persaudaraan yang yang tidak atau belum berbuah pelayanan kasih barulah egoisme dalam bentuk yang terselubung,” tambahnya. Ia menyampaikan bahwa pelayanan mempunyai isi dan pengertian yang amat kaya. Setiap bentuk usaha untuk semakin memuliakan martabat manusia, mewujudkan kesejahteraan umum, mengembangkan solidaritas, memberi perhatian lebih kepada sudara-saudari kita yang kurang beruntung, dan melestarikan keutuhan ciptaan, adalah pelayanan. “Apa yang harus kita lakukan, agar lingkungan kita menjadi semakin manusiawi dan dengan sendirinya semakin Kristiani pula. Dengan demikian kreativitas pelayanan akan berkembang pula,” kata Uskup Agung Suharyo. Mgr Suharyo berharap kreativitas pelayanan dapat mewujudkan wajah gereja yang melayani yang semakin nyata di Keuskupan Agung Jakarta. Dalam rangka menghadirkan itu, pada awal 2014 ini akan diberlakukan pedoman dasar dewan paroki baru untuk semua paroki di Keuskupan Agung Jakarta. Ia juga memberikan apresiasi dan sekaligus berterima kasih kepada seluruh umat di yang dengan peran berbeda-beda telah ikut membangun KAJ. “Kita yakin melalui berbagai pelayanan sederhana yang kita lakukan dan prakarsa-prakarsa kreatif yang kita usahakan, baik sendiri maupun bersama-sama sebagai keluarga, komunitas, lingkungan, wilayah, stasi, paroki maupun keuskupan, kita menampakan kemuliaan Allah,” katanya menutup surat gembala tersebut. Sumber : http://indonesia.ucanews.com/2014/01/09/uskup-agung-jakarta-tetapkan-2014- sebagai-tahun-pelayanan/ 9 ARTIKEL 2 Pelayanan Adalah Anugerah. by margareth linandi · August 8, 2013 Dalam kehidupan ini, ada banyak macam bentuk pelayanan antara lain adalah ada orang yang bisa bermain musik, ada orang yang bisa memimpin pujian dan lainnya. Pelayanan adalah anugrah terbesar dari Tuhan selain keselamatan dan kesempatan untuk hidup. Dalam perumpamaan tentang talenta( Mat 25:14-30) sang tuan mau pergi ke satu tempat dan sebelum ia pergi ia mempercayakan talenta untuk dikembangkan. Dia membagikan kepada 3 orang hamba. Akan tetapi talenta yang diberikan tidak sama. Hamba ke 1 diberikan 5 talenta. hamba ke 2 diberikan 2 talenta dan hamba ke-3 diberikan 1 talenta. Mengapa sang tuan memberikan talenta tidak dengan jumlah yang sama tetapi malahan berbeda? Apakah tuan ini bersikap sangat tidak adil? Ternyata tidak, karena tuannya sangat mengetahui seberapa besar kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing hambanya dan tuannya hanya ingin hamba-hambanya menggunakan kepercayaan dari hambanya untuk mengembangkan talenta. I. Sikap hamba-hamba itu terhadap talenta yang diberikan. Hamba ke-1 dan ke 2 sangat respons kepada tugas yang dipercayakan oleh tuannya kepadanya dan mereka menjalankan talentanya dan bahkan beroleh keuntungan( dapat melipat gandakan pelayanan). Sedang hamba ke 3 dia tidak peduli dan malahan tidak mau mengembangkan talenta yang diberikan kepadanya dan bahkan menyimpannya dalam tanah. Saat ini, ketika kita diminta oleh gembala sidang kita untuk melayani Tuhan apa jawab kita? Apakah kita akan acuh, tidak peduli, menolak dengan seribu macam alasan, atau menerima dan melaksanakan tugas pelayanan sebaik mungkin? Dalam PL banyak nabi Tuhan yang dipercayakan Tuhan untuk melayani tetapi responnya juga bermacam-macam, antara lain: 10 Musa. Perintah Tuhan yaitu menjadi pemimpin bangsa Israel mengeluarkan bangsa Israel dari Mesir. Sikap Musa:menolak alasannya: a. Siapa saya? b. Siapa namaMu? Aku adalah Aku ( Kel 3;14) c. Takut jika orang Israel tidak percaya dan mendengar perkataan Tuhan ? Tuhan memberikan mujizat. d. Tidak pandai bicara, berat mulut dan lidah. e. Meminta Tuhan untuk mengutus orang lain saja. Akhirnya Tuhan juga memakai Harun menjadi juru bicara Allah dalam berbicara atau menghadap Firaun, selain Musa. Yunus. Perintah Tuhan yaitu memberitakan Injil kepada bangsa lain yang tidak mengenal Tuhan yaitu bangsa Niniwe , namun sikap Yunus adalah melarikan diri dari panggilan Tuhan dan ia malah pergi ke Tarsis dan ia marah kepada Tuhan karena Tuhan tidak jadi menghukum Niniwe jika Niniwe bertobat. Akibatnya adalah Tuhan mendatangkan seekor ikan besar yang menelan Yunus dan Yunus tinggal dalam perut ikan 3 hari 3 malam, sampai akhirnya Yunus jadi memberitakan Injil kepada Niniwe dan Niniwe bertobat. Yeremia Perintah Tuhan adalah menjadi nabi/ penyambung lidah Tuhan. Sikap Yeremia awalnya adalah menolak karena dia merasa tidak pandai berbicara dan merasa masih muda. Akhirnya Tuhan memberikan penguatan kepada Yeremia dan akhirnya Yeremia menjadi nabi Tuhan. Namun disamping itu ada juga nabi yang menerima panggilan Tuhan yaitu nabi Yesaya dan respon Yesaya : ” ini aku,utuslah Tuhan.”( Yesaya 6:8) 11 Pelayanan adalah anugrah. Mengapa pelayanan adalah anugerah? 1. karena tidak semua orang dipanggil ( Roma 8:28-29) 2. karena kita tidak tahu sampai kapan kita masih bisa hidup ( Pengkotbah 3:1-2) 3. karena kalau kita tidak mau menggunakan karunia yang Tuhan berikan kepada kita maka karunia itu akan diambil dan akan hilang karena kita tidak menggunakan karunia itu dengan baik. ( Mat 25:29) Tips untuk menghargai pelayanan sebagai anugrah Tuhan. a. Jadilah hamba yang setia ( Mat 25:16) b. Jadilah hamba yang rendah hati ( Mat 20:28) c. Jadilah hamba yang menggunakan karunia yang ada dengan sebaik-baiknya. ( I Kor 12). Sumber : http://artikelkristen.com/pelayanan-adalah-anugerah.html 12 BAB III SERVIAM JOURNEY 3.1. Proses Persiapan 3.1.1. Tantangan Selama Masa Persiapan Kami mendatangi Rumah Belajar yang terletak di daerah pedesaan di Cicayur. Persiapan yang kami lakukan saat akan mengunjungi tempat tersebut pertama kali adalah memfotokopi gambar- gambar untuk mewarnai, membeli bahan- bahan untuk membuat kandang hewan. Persiapan ini kurang matang sehingga pada saat di sana, kami merasa cukupkebingungan. Persiapan saat akan mengunjungi untuk kedua kalinya lebih matang yaitu membeli origami, menyediakan soal- soal karena akan diadakan lomba bagi yang kelas 6 yang dianggap sebagai tryout, mengeprint gambar yang kemudian dipotong untuk dijadikan puzzle. Persiapan kedua lebih matang dibandingkan dengan persiapan pertama karena, yang kedua kali itu, kami telah mengetahui kondisi dalam Rumah belajar tersebut dan ide-ide kreatif muncul lebih banyak ketika akan mengunjungi untuk kedua kalinya. Pada masa persiapan ini, tantangan yang harus dihadapi cukup banyak. Yang pertama terjadi misskomunikasi antara kami dengan pihak yang menjadi relawan di rumah belajar tersebut. Sehingga terjadi rasa kesal antar sesama anggota kelompok. Yang kedua adalah masalah akomodasi yang awalnya dibilang mudah namun saat semakin mendekati hari pertama pelayanan, kami susah mencari akomodasi. Pada masalah ini kami juga menjadi emosi, namun masalahdapat terpecahkan. 3.1.2. Dukungan Selama Masa Persiapan Pada awalnya kami bingung menentukan tempat untuk melakukan pelayanan namun akhirnya kami mendapat usulan tempat dari kenalan Elin, yang menyarankan untuk melakukan pengajaran di Rumah Belajar. Kemudian Elin, Joshua dan Shasha membantu membeli perlengkapan untuk kegiatan yang dilakukan di Rumah Belajar dan barang–barang yang akan disumbangkan. 13 3.2. Pelaksanaan Pelayanan 3.2.1. Deskripsi Tempat Rumah Belajar ini terletak di Jalan H. Upni, Kampung Dangdang, Cicayur, Tangerang. Rumah Belajar ini berdiri di atas tanah seluas 400 m2.Untuk menjangkau Rumah Belajar ini membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit dari BSD. Rumah ini tidak begitu luas dan ada 3 ruangan dan 1 kamar mandi. Satu ruangan tepat berada di depan pintu utama yang digunakan untuk siswa-siswi yang duduk di kelas 3 SD hingga kelas 6 SD, namun bagi siswa-siswi kelas 1 SD dan 2 SD dapat juga duduk di ruangan tersebut apabila ingin belajar atau sekedar mengerjakan PR. Ruangan kedua berada di belakang ruangan pertama dan berukuran jauh lebih kecil. Siswa- siswi yang belajar di ruangan tersebut sebagian hanya untuk menghafal namun ruangan tersebut jarang digunakan. Ruangan ketiga berada di sebelah kanan ruangan pertama. Ruangan ini dikhususkan bagi anak- anak yang belum sekolah dan kegiatan yang dilakukan seperti mewarnai dan membuat kreasi. Ruangan ini juga tidak terlalu besar namun cukup nyaman untuk bermain. Rumah ini hanya dilengkapi 1 kipas angin yang terletak pada ruangan ketiga. Fasilitas yang tersedia di Rumah Belajar tersebut terbatas, yaitu meja panjang, karpet, rak buku, pensil, penghapus, dan hal-hal yang standar. 3.2.2. Jurnal Pelayanan Pelayanan yang kami lakukan sebanyak dua kali. Yang pertama kami lakukan pada Selasa, 24 Febuari 2015, kami menggunakan dua mobil untuk menuju ke tempat tersebut. Kami tidak menyangka bahwa akses jalan untuk menuju kesana merupakan jalanan yang sempit, namun sudah beraspal. Dan ketika kami sampai, kami menemui sebuah rumah kecil yang sederhana. Saat pintu rumah tersbut dibuka, anak-anak yang awalnya telah menunggu di depan pintu tersebut, langsung masuk. Saat mereka masuk, mereka mencium tangan kami satu persatu sebagai bentuk hormat. Kemudian kami diarahkan oleh Tante Juliani untuk membagi tugas membimbing anak yang sudah sekolah dan anak-anak yang belum bersekolah. Nathan, Joshua, dan Maria membimbing anak-anak yang SD kelas 3,4, dan 6. Elin dan Shasha membimbing anak-anak yang belum bersekolah dan anak SD kelas 1 dan 2. Nathan, Joshua, dan Maria membantu mendampingi mereka untuk belajar dan membantu mereka mengerjakan PR. Elin dan Shasha mendampingi mereka dalam mewarnai gambar dan 14 membuat replika kandang hewan. Sementara Gama tidak bisa ikut, karena ada technical meeting. Pada pelayanan sesi kedua yaitu pada tanggal Minggu, 1 Maret 2015, kami juga menggunakan dua mobil serta membawa barang-barang yang akan disumbangkan, kebanyakan buku cerita dan hadiah yang kami persiapkan untuk lomba. Di sana, hampir sama dengan sesi pertama, anak-anak menunggu di depan Rumah Belajar dan tetap memberi salam. Kali ini, Nathan dan Gama membantu membimbing anak-anak kelas 4 dan 6 untuk melaksanakan lomba, memeriksa, dan membahas soal. Nathan membawa soal untuk lomba, sayangnya, anak-anak di sana tidak dapat mengerjakan, padahal soal yang dibuat berdasarkan buku mereka dan telah dipermudah. Ini dapat diartikan bahwa pendidikan di sana masih rendah. Sementara, Elin membimbing anak kelas 3 SD yang lomba dan memeriksa hasilnya serta mendampingi anak-anak yang belum sekolah. Shasha dan Maria membantu membimbing anak-anak yang belum sekolah untuk bermain puzzle, mewarnai, dan membuat kreasi dari origami. Di akhir kegiatan belajar-mengajar ini, kami membagikan hadiah berupa pensil, buku, dan permen. 3.2.3. Tantangan Selama Proses Pelayanan Pelayanan yang dilakukan dua kali ini memiliki tantangan yang berbeda di kedua sesi. Pada saat pelayanan yang pertama, kami merasa sudah siap, namun kami harus pergi tanpa Gama, karena ia harus menghadiri technical meeting di SMAN 2 Tangerang Selatan. Saat pertama kali di sana, kami merasa canggung ketika akan melakukan kegitan pengajaran karena kami belum mengenal anak-anak dan lingkungan di sana. Akhirnya dengan berjalannya waktu, kami dapat membagi kelompok kami dalam dua ruangan. Kegiatan belajar mengajar ini pun dapat berjalan dengan baik dan lancar selama kurang lebih dua jam. Pelayanan yang kedua, kami telah lebih siap dan tahu apa yang akan dilakukan di sana, namun kami masih mengalami kebingungan. Hal ini disebabkan karena ada anak-anak yang tidak mau melakukan kegiatan yang telah kami siapkan sehingga kami mencoba membujuk mereka agar mau melakukan kegiatan tersebut atau mencari kegiatan lain. 15 3.2.4. Dukungan Selama Proses Pelayanan Dalam masa pelayanan yang kami lakukan dua kali ini mendapat dukungan dari berbagai pihak. Pada kunjungan yang pertama, Tante Juliani, sukarelawan utama Rumah Belajar, membantu kami dalam memberi arahan kegiatan yang akan dilakukan. Untuk masalah akomodasi, kami dibantu oleh Mama dari Joshua untuk mengantar kami semua ke Rumah Belajar tersebut. Selain itu mama dari Joshua juga membantu kami dalam mengatasi kebingungan kami untuk melakukan kegiatan yang kreatif, karena kami belum memiliki kegiatan untuk anak-anak yang belum sekolah selain mewarnai.Dalam masa pelayanan yang kedua, masalah akomodasi juga teratasi dengan bantuan Tante Juliani. 16 BAB IV REFLEKSI 4.1 Refleksi Pribadi 4.1.1. Refleksi Agustinus Nathaniel XI IPA 3 / 01 Sebelum saya melakukan kegiatan pelayanan ini, saya merasa biasa saja karena hanya akan dilakukan selama dua kali dan hanya dalam beberapa jam. Namun sesampainya di sana, ada yang menggerakkan hati saya. Saat pintu rumah mulai dibuka, anak-anak berbondongbondong datang dan memberi salim kepada anggota kelompok saya satu per satu, lalu siap belajar. Saya tidak pernah merasakan bagaimana rasanya diberi salim, lalu saya juga jarang melihat anak-anak begitu antusias datang ke suatu tempat untuk belajar. Lalu saya pun mulai menghampiri beberapa anak dan mendampingi mereka. Saya sadar bahwa mereka menghadapi kesulitan yang pernah saya alami ketika saya seumur mereka, namun saya rasa mereka lebih merasa sulit karena saya yakin mereka lebih sulit memahami pelajaran eksak dibanding saya, khususnya Matematika. Saya pun melihat buku pelajaran yang mereka gunakan dan saya mencoba membantu menjelaskan kepada mereka bagaimana cara untuk menyelesaikan soal-soal. Saya terkejut karena soal yang mereka dapatkan memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi dibanding saat saya seumur mereka. Saya hanya bisa membayangkan, bagi saya yang dapat memiliki akses pendidikan lebih mudah merasa sulit, apalagi mereka. Itulah sebabnya saya mencoba memaklumi mereka ketika mereka terus bertanya karena bingung atau terdiam karena bingung, lalu saya mencoba menjelaskan pelanpelan. Setelah waktunya pulang, mereka pun memberi salim lagi kepada anggota kelompok saya. Saya pun mulai berbincang-bincang dengan kenalan yang membawa saya ke tempat itu. Ia menceritakan bahwa orang tua dari anak-anak tersebut kebanyakan buta huruf dan menikah muda (di bawah umur). Dukungan fasilitas pendidikan pun juga masih kurang. Setelah melakukan kegiatan ini dua kali, ada banyak yang saya dapatkan. Saya rasa ini adalah proses saya untuk melatih kesabaran saya, mengukur seberapa serius saya menangkap pelajaran di sekolah, seberapa beruntung saya dapat bersekolah, melatih saya untuk memahami kesulitan orang lain serta ikut merasakannya, menyadarkan saya bahwa banyak orang membutuhkan bimbingan dan uluran tangan. Selama ini saya seringkali menghindari anak-anak karena saya berpikir bahwa anak-anak merepotkan, tetapi ternyata di sana saya dapat mengatasi hal tersebut dan bahkan saya dapat menemani mereka dengan baik dan 17 sabar. Apa yang saya dapatkan di sekolah juga sangat membantu saya untuk mendampingi mereka. Terkadang saya pikir sekolah tidak terlalu berguna dan saya terkadang juga malas untuk sekolah, tetapi setelah mendampingi dan melihat anak-anak di sana, saya akhirnya dapat menggunakan apa yang saya dapatkan di sekolah dan bahwa saya beruntung bisa bersekolah di tempat yang memiliki fasilitas memadai serta memberi saya pengetahuan luas. Saya harus terus bersyukur atas apa yang saya miliki dan berusaha lebih peka terhadap keadaan di sekitar saya serta berusaha memahami dan merasakannya. 4.1.2. Refleksi Gamaliel Rhema XI IPA 3 / 13 Sebelum saya melakukan pelayanan agama ini,saya tidak pernah tahu bagaimana kehidupan di luar sana dan hanya tahu rasa kenyamanan yang saya miliki. Saya tidak pernah memikirkan apakah ada orang di luar sana yang nasibnya lebih buruk dari saya. Tetapi saat mengikuti pelayanan agama ini,saya menjadi mengerti banyak orang di luar sana yang tidak seberuntung saya. Pada hari pertama pelayanan, saya tidak dapat mengikuti dan belum memahami pelayanan ini. Tetapi setelah hari kedua ikut, saya seperti dibukakan mata nurani saya. Sesaat sesampainya di sana, saya langsung dihampiri oleh banyak sekali anak-anak yang sudah menunggu kami demi belajar untuk meraih masa depan mereka. Kekurangan dan keterbatasan ekonomi tidak menjadi beban mereka dan pikiran mereka hanya diisi oleh antusias keinginan untuk belajar. Ini yang membuat saya terdiam sesaat, merefleksikan betapa enaknya hidup saya dibanding anak-anak itu yang bahkan jika ingin belajar, hanya menunggu seseorang yang terketuk hatinya untuk menolong mereka. Banyak dari mereka yang bahkan diam-diam untuk pergi belajar tanpa orang tua mereka ketahui karena sudah pasti orang tua mereka menolak pengajaran yang akan kami berikan dan lebih baik untuk pergi ke pesantren. Sesampainya di rumah pengajaran, anak-anak tersebut langsung duduk di tempat masing-masing dan bersiap menunggu pengajaran yang akan kami berikan. Mereka seperti haus akan ilmu pengetahuan dan membuat saya berpikir sejenak, selama ini saya disekolah bahkan ingin cepat-cepat pulang hanya karena bosan di kelas. Lalu satu per satu kami mulai mengajari mereka, sampai tak terasa kami sudah harus mengakhiri pengajaran kami.Rasanyasaya ingin terus bersama mereka dan tak ingin kembali kehidupan normal kami, karena nanti mata saya seakan tertutup lagi bagi orang-orang seperti mereka yang seperti tidak ingin kehilangan kehadiran kami. 18 Setelah melakukan pelayanan agama ini,pikiran saya seperti dicuci ulang.Banyak halhal yang saya dapatkan yang susah disebutkan satu persatu. Banyak dari diri saya yang harus diperbaiki setelah bertemu dengan mereka. Saya selalu berpikir sekolah itu membosankan dan tidak penting, tetapi setelah bertemu mereka, saya tahu mereka sebenarnya lebih membutuhkan sekolah tetapi karena keterbatasan itu, mereka tidak dapat menikmatinya. Saya harus bersyukur karena dengan hidup yang seenak ini, seharusnya saya dapat menggunakan dengan baik dan membantu mereka yang ingin hidup seperti saya. 4.1.3. Refleksi Joshua Oswari XI IPA 3 / 16 Perasaan yang pertama kali saya rasakan pada saat datang adalah prihatin dan cukup kagum. Kagum karena pada saat mobil kami hendak menuju ke Rumah Belajar, anak-anak kampung Cicayur sudah antusias untuk datang. Pada saat itu saya juga menjadi malu kepada diri saya sendiri karena terkadang saya masih suka malas-malasan untuk pergi ke sekolah, bahkan kadang ingin untuk bolos. Lalu prihatin karena anak-anak di sana masih kurang dalam pendidikan dan motivasi. Menurut informasi anak-anak di sana sangat tidak diperhatikan oleh sekolah dan orangtuanya dalam dunia pendidikan. Beberapa anak yang ‘bodoh’ pun kadang dinaikkan kelasnya. Dan untuk para orang tua masih ada beberapa yang buta huruf. Untuk motivasi, saya juga prihatin karena sepertinya anak di sana tidak memiliki inisiatif dan motivasi untuk menjadi orang besar di suatu hari nanti. Bahkan orang tua dari anak-anak tersebut ada yang menyuruh anaknya untuk masuk pesantren dan menjadi ustad saja. Ada pula beberapa anak yang menjalani keseharianya untuk membantu orang tua nya yang sedang panen. Menurut saya banyak sekali faktor yang mempengaruhi rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia. Faktor-faktor yang bersifat teknis di antaranya berbagai guru yang kurang perhatian dan berkompeten serta pemeliharaan dari pemerintah sendiri. Namun sebenarnya menurut saya yang menjadi pemasalahan adalah sistem pendidikan di Indonesia yang menjadikan murid sebagai objek, sehingga murid yang dihasilkan dari sistem ini adalah murid yang hanya siap untuk memenuhi kebutuhan zaman dan bukan bersikap kritis terhadap zamannya ke depan. Dalam pelayanan ini saya memegang suatu pandangan bahwa saya melayani bukan karena saya diberi tugas untuk melayani atau karena saya ingin dilayani kedepannya, melainkan saya melayani karena Yesus telah melayani saya terlebih dahulu."...Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya 19 menjadi tebusan bagi banyak orang." (Matius 20:28).Saya juga yakin dan percaya firman Tuhan ini relevan diberikan untuk setiap kita, memberi sikap kita untuk hidup melayani Kristus yang sudah datang terlebih dahulu sebagai Gembala kita yang agung yang melayani kita semua. Dari kegiatan pelayanan ini saya belajar banyak hal. Terutama dalam hal menghargai hidup. Saya melihat mereka dalam segala kekuranganya masih dapat ceria dan bergembira, serta antusias untuk mengejar ilmu. Berbeda dengan saya yang kadang masih suka mengeluh dalam beberapa situasi sulit. Lalu saya berharap kedepannya agar para orang tua mereka segera sadar betapa pentingnya pendidikan demi menjamin masa depan anak serta memberikan motivasi belajar kepada anak. 4.1.4. Refleksi Madeline Gracia XI IPA 3 / 21 Sebelum saya pergi ke Rumah Belajar ini saya sudah merasa excited untuk mengajar anak-anak dan melaksanakan aktivitas dengan anak-anak. Namun, saya juga memiliki ketakutan karena takut nantinya akan canggung dan saya tidak mampu membimbing dengan baik. Masalah transportasi juga membuat kelompok kami agak terpecah belah karena kebingungan namun akhirnya masalah ini terpecahkan. Pertama kali saat saya sampai ke rumah belajar, saya melihat ada beberapa anak yang telah menunggu di depan Rumah Belajar yang bertempat di sebuah rumah kecil sederhana di daerah Cicayur. Dan saat Tante Julia mulai membuka pintu rumah itu satu per satu anak-anak masuk dan memberikan kami ‘salim’ tangan. Di situ saya melihat bahwa betapa anak-anak itu memiliki semangat belajar yang tinggi dan saya yang memiliki fasilitas belajar yang jauh lebih baik, sering kali tidak ingin dan tidak semangat untuk belajar. Pada saat awal saya merasa canggung di tengah mereka karena bingung mau berbuat apa. Namun akhirnya saya bisa cukup membaur dengan mereka dan sedikit mengobrol dengan mereka.Dan disitu saya juga menemukan banyak tipe anak, ada yang rajin, malas, atau hanya ingin main-main saja. Di situ saya juga mendapatkan pengalaman baru, yaitu kerepotan mondar-mandir ke anak yang satu dan yang lain. Ditambah dengan situasi yang gerah karena pada saat itu listrik mati di desa tersebut. Dan hari tersebut diakhiri dengan badan yang lelah dan keringat bercucuran namun dengan hati yang senang. Di sana saya melihat ada beberapa anak yang menghapus dengan menggunakan tangan mereka dan tidak berusaha untuk mencari penghapus. Hal tersebut membuat saya sedih dan prihatin, saya juga bersyukur atas apa yang saya miliki. 20 Kunjungan saya yang kedua, saya kembali menjumpai anak-anak dengan wajah yang bersemangat di depan rumah belajar. Saya dan teman-teman mulai terbiasa dengan situasi tersebut dan tidak terlalu canggung lagi dan kami pun lebih terencana dibanding sebelumnya.Dan suasana pada kunjungan kedua ini lebih nyaman karena listrik yang menyala. Di sana kami melakukan berbagai kegiatan yaitu ada perlombaan untuk try out bagi kelas 6 SD dan lomba Bahasa Indonesia untuk anak kelas 3 dan 4 SD. Dan mewarnai serta membuat origami dan puzzle bagi anak kelas 1-2 SD dan anak yang belum bersekolah. Saya juga menjumpai seorang anak yang hanya masuk pesantren dan tidak diperbolehkan sekolah, ia juga dimarahi saat ketahuan datang ke Rumah Belajar ini. Namun, ia tetap datang lagi. Saya terharu akan semangat yang ia memiliki, dan saya juga melihat bagaimana anak itu sebenarnya cepat menangkap sesuatu yang diajarkan. Pada saat saya sedang mengajari anakanak membuat bunga dari sedotan, ia langsung dapat melakukannya di mana yang lain belum bisa. Dan saya juga diceritakan bahwa banyak anak-anak perempuan di desa tersebut langsung dinikahkan di bawah umur dan banyak juga anak-anak di sana yang setelah lulus SD langsung masuk pesantren hingga kadang mereka tidak belajar dengan serius karena masa depannya selalu diatur oleh orang tua mereka. Saya sedih dan prihatin saat mendengar cerita tersebut karena mereka tidak bisa menggapai cita-cita mereka sendiri. Apabila saya di posisi mereka, saya tidak akan mau dipaksa orang tua saya untuk berhenti sekolah dan masuk pesantren. Saya akanberusaha untuk mencapai cita-cita yang lebih tinggi demi memperbaiki kehidupan keluarga saya dan saya sendiri. Untuk kedepannya saya akan lebih menghargai fasilitas yang sudah saya dapat dari sekolah, keluarga, dan lainlain karena semua orang belum tentu mendapatkan apa yang saya miliki dan terus bersyukur dengan apa yang saya miliki. Dan kedepannya saya ingin kembali mengajar di Rumah Belajar tersebut setelah ulangan umum dan membantu membimbing mereka saat waktuwaktu yang tidak bertabrakan dengan waktu sekolah. 4.1.5. Refleksi Maria Juanita XI IPA 3 / 22 Ketika ditawarkan untuk pergi ke Rumah Belajar di daerah Cicayur, saya merasa kurang semangat karena tidak sesuai dengan apa yang saya mau untuk projek pelayanan ini. Namun karena beberapa halangan, maka sepertinya sudah jalannya saya pergi kesana. Dalam perjalanan kesana yang pertama kalinya, masih belum menggerakan hati saya untuk “ayo ikut”. Saat mobil berhenti di rumah yang kecil nan sederhana dengan teras yang cukup untuk dua mobil, banyak anak yang telah menunggu membawa buku dengan pakaian 21 yang sangat sederhana. Dari situ hati saya mulai tergerak untuk “ayo bantu, disini yang dekat, banyak yang membutuhkan bantuanmu.” Saat pintu dibuka, listrik yang mati tidak menyurutkan segelintir anak untuk belajar dan bermain. Anak-anak yang berkisar antara belum sekolah hingga kelas 6 SD ini membantu untuk menyusun meja untuk mereka belajar dan karpet sebagai alasnya dan memulai untuk belajar. Dari sini saya belajar untuk menjadi orang yang harus apa adanya dan mensyukuri apa yang kita punya, karena masih banyak yang berada di bawah saya. Selain itu, saya juga belajar, untuk melakukan sesuatu, dibutuhkan semangat yang tinggi agar hasilnya pun baik. Kunjungan pertama ini, saya cukup kesulitan, karena belum mengenal anak-anak yang ada di Rumah Belajar tersebut. Namun setelah mencari anak-anak yang membutuhkan bantuan, saya dapat mengajar anak yang duduk dikelas 4 SD dan belajar pecahan. Anak ini pintar namun sangat lama dalam menangkap apa yang diajarkan, dan walaupun dia berkata mengerti padahal dia belum mengerti. Sehingga kesabaran saya diuji. Karena saya ingin ia bisa, namun apa yang diucapkan olehnya terkadang tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya. Setelah diajarkan berkali-kali dan ia dapat mengerjakan soal-soal dengan baik tanpa saya bantu, membuat saya merasa senang karena berhasil. Hal kecil seperti menghapus membuat hati saya miris, karena anak kelas 4 SD itu menghapus menggunakan jari telunjuknya karena tidak tersedianya jumlah penghapus dalam jumlah banyak. Kunjungan pertama berlangsung singkat. Kunjungan kedua, saya telah menyiapkan beberapa kegiatan untuk mendampingi anakanak yang belum sekolah, karena saya bergantian dengan rekan tim saya. Untuk kunjungan kedua ini, saya merasa lebih bersemangat untuk pergi. Saat mengajar anak-anak yang belum sekolah, saya bingung tidak tahu apa yang harus dilakukan padahal kegiatannya sudah banyak yang disiapkan. Kegiatan dimulai dengan bermain puzzle, hampir semua anak di ruangan itu menyelesaikan dengan baik dan benar, hanya dua orang yang tidak dapat menyelesaikan dan membutuhkan bantuan saya, namun pada akhirnya untuk yang kedua kalinya mencoba dengan gambar yang berbeda, mereka bisa menyelesaikannya dengan lancar. Kegiatan kedua yang kami lakukan adalah mewarnai, dan untuk kegiatan ini hampir semua dari mereka dapat melakukannya namun hasilnya memang kurang rapi. Kunjungan kedua ini juga berlangsung singkat. Dari kunjungan-kunjungan tersebut, Bu Julia banyak bercerita mengenai anak- anak di Rumah Belajar tersebut, ada satu cerita yang miris, ada anak yang harus masuk pesantren dan 22 tidak boleh datang ke rumah tersebut, apabila ia datang dan diketahui oleh orang tuanya maka ia akan dipukuli oleh bapaknya. Rumah Belajar itu mengajarkan saya bahwa, pelayanan dapat dilakukan di mana saja baik yang dekat maupun jauh. Saya sadar bahwa yang selama ini saya bilang kurang ternyata masih ada yang lebih kurang. Saya juga sadar bahwa menjadi guru tidaklah mudah terlebih menjadi guru didaerah terpencil. Jika saya berada di posisi mereka, saya belum tentu seantusisas mereka karena pelajaran yang susah, dan tidak mengerti di sekolah, serta ekonomi yang kurang, pikiran orang tua terhadap anaknya yang harus segera menikah ketika 17 tahun atau bahkan di bawah. Saya belum siap jika harus menjadi serba kekurangan karena selama ini saya merasa kecukupan dan selalu meminta lebih, namun saya akan tetap berusaha untuk meraih cita-cita saya. Hal kecil yang dapat saya pelajari adalah sopan santun terhadap yang lebih tua dan mereka menunjukan dengan cium tangan setelah masuk rumah. Untuk ke depannya, walaupun saya tidak mau menjadi guru yang berdasarkan sarjana, saya akan meluangkan waktu saya untuk menjadi pengajar yang baik di tempat-tempat yang terpencil. Karena mereka yang didaerah terpencil, peluang mereka untuk sukses juga sama seperti kita. Selain itu jika saya menjadi dokter, maka saya akan juga mengurus mereka yang sakit. Namun apabila saya menjadi seorang insinyur, maka saya akan membangunkan bangunan yang nyaman untuk belajar lengkap dengan fasilitas yang dibutuhkan. 4.1.6. Refleksi Taniesha Algusta XI IPA 3 / 28 Saat awal mendapat tugas pelayanan, saya merasa semangat untuk menjalankannya. Saya yakin pasti akan mendapat pengalaman baru. Saya sempat mengalami beberapa permasalahan kecil dengan teman sekelompok berkaitan dengan kegiatan yang akan dilakukan. Namun permasalahan tersebut bisa diselesaikan. Kami memutuskan untuk mengajar anak-anak di pedesaan Cicayur dan melaksanakannya pada hari Selasa, 24 Februari dan Minggu, 1 Maret. Saya mendapat banyak pengalaman berharga dan pelajaran hidup. Ketika pertama kali akan datang ke tempat pengajaran tersebut, saya merasa takut karena tidak yakin apakah bisa mengajari mereka dan bingung apa saja yang akan saya ajarkan. Sesampainya di sana, saya tidak langsung berbaur dengan anak-anak dan merasa sedikit canggung. Seiring bertambah banyaknya anak-anak yang datang ke tempat tersebut dan saya mulai mencoba mendampingi mereka, saya merasa lebih santai dan menikmatinya. 23 Saya memilih mendampingi anak-anak kecil seperti TK dan SD kelas 1 ketika melakukan kegiatan. Saya merasa kagum dengan semangat belajar dan keceriaan anak-anak di tempat pengajaran. Saat pengajaran pertama kami, listrik di sana mati sehingga ruang mengajar di sana agak gelap dan panas. Walaupun suasananya seperti itu dan fasilitas terbatas, anak-anak tetap mau datang, belajar dan ceria ketika belajar. Manda dan Ikal adalah anak-anak yang menarik perhatian saya. Mereka selalu tertawa dan bersungguh-sungguh ketika melakukan kegiatan yang diberikan. Padahal dalam suasana seperti itu saya mungkin sudah malas untuk belajar apalagi ceria. Maka dari pengalaman itu saya belajar untuk mencoba menerima kondisi apapun di sekitar saya walaupun itu tidak nyaman dan berusaha tidak malas ketika belajar. Saya mendampingi juga seorang anak pesantren yang usianya sebetulnya sudah cukup besar. Ia tidak sekolah dan tidak bisa baca tulis. Menurut Bu Julia, anak tersebut pernah dimarahi dan dipukul oleh bapaknya karena belajar di tempat tersebut. Bapaknya hanya membolehkan ia mengikuti pesantren. Walau pernah mengalami hal itu, anak tersebut tetap datang dan mengikuti kegiatan di tempat pengajaran. Dari hal ini, saya kagum akan keberanian anak tersebut dan keberanian inilah yang bisa saya contoh. Walaupun hal yang kita ingin lakukan bertentangan dengan orangtua atau orang lain, terkadang keberanian itu perlu kita miliki. Mungkin keberanian itu bisa mengubah sudut pandang orang yang bertentangan dengan keinginan kita. Ketika mengajari anak-anak di sana tentunya saya menemukan hambatan. Ada anak yang benar-benar diam sehingga saya bingung apa yang harus saya lakukan. Saya hanya berusaha mengajak mengobrol dan terus tersenyum. Ada juga anak yang kurang sopan, namun saya harus bersabar menghadapinya. Saya juga sempat merasa kesulitan menangani anak-anak di sana karena jumlah mereka terlalu banyak dan masing-masing sangat antusias melakukan kegiatan yang diberikan. Saya juga menyadari bahwa ternyata beberapa kilometer dari tempat tinggal saya yang nyaman di BSD, masih ada pedesaan yang keadaannya masih cukup tertinggal, fasilitas terbatas sehingga anak-anak di sana belum terpenuhi kebutuhan pendidikannya. Saya bersyukur bahwa saya bisa mendapat fasilitas dan hidup nyaman. Untuk ke depannya, saya akan lebih peka terhadap orang-orang di sekitar saya terutama yang membutuhkan bantuan dan membagikan apa yang saya miliki. 24 Pengalaman bekerja dengan kelompok saya juga telah memberikan pelajaran. Bila kita memang bekerja dalam kelompok, maka kita harus benar-benar kompak. Tidak hanya kepentingan sendiri saja yang didahulukan namun kepentingan bersama. Saya juga belajar memilah kepentingan mana yang harus diprioritaskan. Selain itu kita juga harus menepati perkataan yang telah kita janjikan terutama bila hal itu menyangkut banyak orang. 4.2 Refleksi Kelompok Don't you ever know, what would it be? If you were outside there with them With them who don't even have money for their lunch? And don't even have the chance to learn And yeah, yeah, God is great Yeah, yeah, God is good Yeah, yeah, yeah, yeah, yeah What if we were one of them? Just a wretch like one of them? Just like nothing else happen? Waiting us coming to learn? If They had a chance, what would it look like? And would you want to help? If they're lucky like us Will you come to them? 25 Yeah, yeah, God is great Yeah, yeah, God is good Yeah, yeah, yeah, yeah, yeah What if they were one of us Have a chance like one of us Living in a better place? Trying to make their life better? Yeah, yeah, God is great Yeah, yeah, God is good Yeah, yeah, yeah, yeah, yeah What if we were one of them? Just a wretch like one of them? Just like nothing else happen? Waiting us coming to learn? 26 BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Pelayanan merupakan aktivitas membantu yang membutuhkan. Hasil pelayanan dapat berupa materi maupun refleksi dalam diri kita yang akan membuat niat dalam diri kita. Sementara Diakonia yang artinya melayani dalam konteks gereja memiliki arti bahwa melayani dapat dilakukan oleh seluruh umat gereja. Jemaat yang dilayani juga tidak harus yang satu persekutuan dengan kita. Kami yang terdiri dari anggota-anggota yang tidak semuanya Katolik melakukan pelayanan di Rumah Belajar Cicayur, Tangerang. Kami memilih tempat tersebut karena kami ingin melayani yang ada di sekitar kami dahulu, karena masih ada yang membutuhkan bantuan dalam jarak yang dekat. Berdasarkan ayat Matius 20 : 28 “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Kami dapat belajar bahwa sekecil apapun bantuan yang kami berikan bagi orang-orang atau dalam pelayanan kami anak-anak itu dapat memberikan manfaat yang kecil maupun besar bagi mereka. Dari tugas pelayanan ini, kami dapat belajar dari hal-hal yang kecil maupun yang besar, kami juga memiliki niat untuk menjadi orang yang berguna bagi semua orang yang ada di sekitar kami terutama yang membutuhkan. Mata kami juga terbuka akan banyak hal. Banyak yang bisa dilakukan untuk orang di luar dan kita hanya perlu peka untuk menyadari dan bertindak. Kami juga sadar bahwa selama ini kami merupakan manusia yang “haus” akan kesenangan duniawi dan jarang untuk mengucap syukur atas apa yang dimilikinya hingga saat ini. Jadi, tugas pelayanan maupun laporan pelayanan selesai dengan banyak pengalaman berharga yang kami dapatkan beserta pelajaran hidup yang membuat kami harus terus bersyukur apapun kondisinya. Ibarat roda yang terus berputar, jika kita berada di atas, maka kita harus peka untuk membantu orang-orang yang sedang berada dibawah dan selalu rendah hati. Jika kita berada dibawah maka kita harus siap dan harus tetap bersyukur karena semua itu hanya sementara. 27 5.2. Kritik dan Saran untuk Proyek Tujuan dari proyek ini sudah baik karena telah menggerakkan hati siswa-siswi untuk mau melayani sesama dan peduli terhadap orang-orang yang berkekurangan. Sebaiknya kegiatan pelayanan ini didukung dengan kegiatan penjualan agar membantu dalam proses pengumpulan dana. Apabila dana yang terkumpul lebih banyak, maka bantuan yang diberikan bisa lebih banyak. 5.3. Kritik dan Saran untuk Pembimbing Pembimbing sudah baik dalam mengatur dan membimbing kami dalam melakukan tugas pelayanan ini. Hal ini dikarenakan setiap ada pertemuan, pembimbing selalu menanyakan mengenai perkembangan dari tugas pelayanan kami. Selain itu pembimbing juga sudah terbuka terhadap pertanyaan-pertanyaan ketika kami mengalami kebingungan. Kami menyarankan agar pembimbing tetap memberikan tugas pelayanan karena melalui kegiatan pelayanan, kita mendapat berbagai pengalaman yang baru dan berharga. Selain itu kegiatan pelayanan perlu dilanjutkan agar semakin banyak siswa-siswi yang hatinya tergerak untuk menjadi lebih peduli terhadap orang-orang yang masih berkekurangan. 28 5.4. Laporan Keuangan 15 Karton Buffalo Rp 7.000,00 3 Plastisin Rp 12.000,00 6 Buku Gambar Rp 18.000,00 3 Pensil Warna Rp 30.000,00 3 Paket Ujian Rp 52.500,00 2 pak Buku Tulis Rp 58.500,00 3 pak Origami Rp 18.000,00 1 pak Rautan Rp 9.000,00 2 Lem Stick Rp 14.000,00 13 Penghapus Rp 10.400,00 1 Lem Fox Rp 8.000,00 8 Pensil Faber Castle Rp 23.000,00 6 set Paket Pensil Rp 62.500,00 1 pak Stick Es Krim Rp 2.500,00 2 pak Buku Tulis Rp 40.000,00 TOTAL Rp 365.400,00 29 5.5.Lampiran Dokumentasi Foto-foto dan Video Bagian depan Rumah Belajar Bagian belakang Rumah Belajar Anak-anak datang dengan penuh semangat Suasana ruang belajar utama di Rumah Belajar 30 Suasana ruang kedua di Rumah Belajar (saat mati lampu) Kegiatan di sesi pelayanan 1 : membuat replika kandang hewan dan mewarnai 31 Maria, Joshua dan Nathan mendampingi anak-anak SD belajar pada sesi pelayanan 1. Shasha dan Elin mendampingi anak-anak yang belum sekolah di sesi pelayanan 1. 32 Bersama anak-anak di Rumah Belajar (sesi pelayanan 1) Maria dan Shasha mendampingi anak-anak yang belum sekolah dalam kegiatan menempel. (sesi pelayanan 2) 33 Elin, Nathan dan Gama mendampingi lomba anak-anak kelas 3SD, 4SD dan 6SD. (sesi pelayanan 2) Bersama anak-anak di Rumah Belajar (sesi pelayanan 2) 34 Cium tangan sebagai bentuk hormat. Salah satu anak pesantren yang tidak sekolah. Ia pernah dipukuli oleh ayahnya karena datang ke Rumah Belajar namun ia tetap datang lagi. Salah satu fasilitas Rumah Belajar yaitu perpustakaan kecil. Ikal, salah satu anak di Rumah Belajar yang selalu penuh semangat dan gembira. 35

Judul: Serviam Jurnal 4

Oleh: Eron Yuwan


Ikuti kami