Serviam Jurnal 3

Oleh Eron Yuwan

2,3 MB 4 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Serviam Jurnal 3

LAPORAN TUGAS PELAYANAN AGAMA Disusun Oleh : Epifani Angelina Chandra XI IPA 1 / 07 Gideon Setyawan XI IPA 1 / 10 Leonardo XI IPA 1 / 16 Nathanael Bagas Waskito XI IPA 1 / 23 Stania Liedwina XI IPA 1 / 29 Vania Edra Christabel N. XI IPA 1 / 31 SMA SANTA URSULA BSD 2015 KATA PENGANTAR Puji dan Syukur kami haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas kasih dan penyertaan-Nya kami boleh menyusun dan menyelesaikan laporan ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Dalam laporan ini, kami melaporkan hasil proyek pelayanan kami mulai dari proses perencanaan hingga pelaksanaannya kepada tukang sapu di kawasan Nusa Loka, BSD City. Laporan ini dibuat dengan melihat kronologi peristiwa yang kami alami termasuk segala tantangan dan hambatannya, serta bantuan dari beberapa pihak. Oleh karena itu, kami mengucapkan terimakasih kepada Bapak Eron selaku pembimbing, Ibu dari Vania Edra atas bantuannya menjadi penghubung pertemuan kelompok kami dengan kedua orang yang kami layani, Ibu Manah, serta Ibu Oci atas segala pengalaman yang diberikan sehingga boleh menjadi suatu pelajaran bagi kami. Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada laporan ini. Oleh karena itu kami mengundang pembaca untuk memberikan saran serta kritik yang dapat membangun kami. Kritik konstruktif dari pembaca sangat kami harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya. Akhir kata semoga laporan ini dapat menjadi inspirasi bagi kita sekalian serta menjadi sarana untuk merefleksikan diri, apakah sejauh ini kita sudah cukup mensyukuri hidup yang diberikan Tuhan ? Tangerang Selatan, 25 Maret 2015 2 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ........................................................................ 2 DAFTAR ISI ...................................................................................... 3 BAB I PEMBUKAAN 1.1 Latar Belakang .................................................................................. 5 1.2 Tujuan Pelayanan.............................................................................. 6 BAB II DASAR PELAYANAN 2.1 Dasar Teori Pelayanan ...................................................................... 7 2.2 Kitab suci tentang pelayanan ............................................................ 10 2.3 Artikel tentang bentuk – bentuk pelayanan ...................................... 10 BAB III SWEETER (SWEEPING TOGETHER) 3.1 Proses Persiapan 3.1.1 Perencanaan………………………………………………...14 3.1.2 Tantangan…………………………………………………..18 3.1.3 Dukungan…………………………………………………..20 3.2 Proses Pelaksanaan 3.2.1 Deskripsi tempat 3.2.1.1 Lingkungan Nusa Loka Sektor 14-4……………………………………..21 3.2.1.2 Rumah Ibu Manah……………………………….22 3.2.1.3 Rumah Ibu Oci……………………………..........23 3.2.2 Jurnal Pelayanan……………………………………………24 3.2.3 Tantangan……………………………………………..........27 3 3.2.4 Dukungan………………………………………………….28 BAB IV REFLEKSI 4.1 Refleksi Kelompok ........................................................................... 29 4.2 Refleksi Pribadi 4.2.1 Epifani Angelina Chandra…………………………………...31 4.2.2 Gideon Setyawan…………………………………………….34 4.2.3 Leonardo……………………………………………………..35 4.2.4 Nathanael Bagas Waskito……………………………………37 4.2.5 Stania Liedwina……………………………………………...38 4.2.6 Vania Edra Christabel N…………………………………….42 BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan………………………………………………………….45 5.2 Kritik dan Saran Kelompok untuk Proyek Pelayanan…………………………………………….45 5.3 Kritik dan Saran untuk Kelompok…………………………………46 5.4 Kritik dan Saran Kelompok untuk Pembina……………………………………………………...46 5.5 Laporan Dokumentasi (Foto) 5.5.1 Proses Melakukan Survey………………………………….47 5.5.2 Menyapu bersama Ibu Manah……………………………...48 5.5.3 Menyapu bersama Ibu Oci…………………………………50 4 BAB I PEMBUKAAN I.1. Latar Belakang Pada awal tugas pelayanan ini, kelompok kami memiliki beberapa rencana dalam mencari seseorang ataupun suatu lembaga atau organisasi yang bisa kami layani yaitu, melakukan kegiatan pelayanan di puskesmas dan mengajar di sekolah kurang mampu. Namun setelah melakukan survey di kedua tempat, ada beberapa kesulitan dalam birokrasi, juga berbagai alasan lain yang kemudian memutuskan kami untuk membantu tukang sapu di kawasan Nusa Loka BSD, yang terbilang lebih mudah secara birokrasi. Latar belakang kami membantu tukang sapu di kawasan Nusa Loka BSD, yakni Ibu Manah dan Ibu Oci bukan semata karena kemudahan birokrasi, namun kami merasa terketuk dan terpanggil untuk membantu pekerjaan kedua Ibu ini. Di usia yang renta, kedua Ibu ini masih harus berkerja dengan cukup keras demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Oleh karena itu, kami putuskan untuk membantu kedua Ibu ini. Bantuan yang kami berikan bukan berwujud materi untuk memenuhi kebutuhan hidup kedua Ibu ini. Kami membantu kedua Ibu ini dengan terjun langsung, menyapu jalanan di Nusa Loka BSD, pada pagi hari yang berlainan. Kami juga sempat mengunjungi rumah Ibu Manah dan Ibu Oci, karena kami ingin betul-betul merasakan dan mencoba menjalani kehidupan mereka, bukan sekadar memberi begitu saja. Kami sangat berharap agar kegiatan pelayanan ini tidak berhenti sampai di sini, namun jika ada waktu luang, kami mau dengan kerendahan hati kembali tergerak untuk melayani. Selain itu, kami juga berharap agar bantuan yang singkat ini dapat meringankan beban Ibu Manah dan Ibu Oci sekaligus merangkul, menemani, dan memberikan dorongan semangat kepada keduanya untuk tetap tegar menjalani hidup. Selain itu sekiranya boleh turut menginspirasi generasi muda lainnya untuk lebih peka terhadap sesama di sekitar kita yang masih membutuhkan bukan hanya secara materi tapi lebih kepada spiritual. 5 I.2. Tujuan Pelayanan Kegiatan pelayanan ini ditujukan agar bisa membantu orang-orang yang benar-benar membutuhkan bantuan. Bantuan di sini bukan lebih mengacu hanya pada kebutuhan finansial atau material saja, tapi lebih kepada tujuan untuk menemani dan menyelami kehidupan masyarakat sekitar yang masih kurang beruntung. Oleh sebab itu, kami beberapa kali melakukan survey dengan harapan mampu mendapatkan orang yang tepat. Hingga akhirnya kami putuskan untuk membantu Ibu Manah dan Ibu Oci, dengan harapan bisa sesekali meringankan pekerjaan mereka di tengah usianya yang sudah uzur sekaligus menjadi teman bagi mereka. Kegiatan pelayanan ini membimbing setiap dari kami untuk lebih mensyukuri hidup. Tidak terus-terusan menghambur-hamburkan uang, namun lebih menghargai apa yang sudah kami punya karena kami turut merasakan bagaimana rasanya ketika jerih payah kami dihargai dengan nominal yang jauh dari standar hidup layak. Kegiatan pelayanan ini kami lakukan tanpa membawa nama sekolah. Tapi kami berharap kegiatan ini boleh bertujuan untuk mengembangkan karakter dan sikap kami ke arah yang lebih baik melalui kegiatan yang riil, bukan sekadar teori. Di samping itu, kami berharap agar bantuan kami boleh benar-benar merangkul dan meringankan pekerjaan para ibu tukang sapu dan boleh berkesan bagi kami sehingga bisa mampu mengetuk hati kami agar mengarahkan diri menjadi yang lebih baik, menjadi individu yang mau bersyukur, peka dan selalu peduli pada sesama yang membutuhkan. 6 BAB II DASAR PELAYANAN 2.1 Dasar Teori Pelayanan Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, pelayanan adalah menolong, menyediakan segala apa yang diperlukan orang lain seperti tamu atau pembeli. Menurut Kotler (1994) berpendapat bahwa pelayanan adalah aktivitas atau hasil yang dapat ditawarkan oleh sebuah lembaga kepada pihak lain yang biasanya tidak kasat mata, dan hasilnya tidak dapat dimiliki oleh pihak lain tersebut. Hadipranata (1980) berpendapat bahwa pelayanan adalah aktivitas tambahan di luar tugas pokok (job description) yang diberikan kepada konsumen-pelanggan, nasabah, dan sebagainya-serta dirasakan baik sebagai penghargaan maupun penghormatan. Gereja sendiri pun juga memiliki pandangannya tersendiri mengenai pelayanan. Pelayanan Gereja memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1. Bersikap Sebagai Pelayan : Yesus menyuruh para murid-nya selalu bersikap "yang paling rendah dari semua dan sebagai pelayan dari semua." (Mrk 9:35). Yesus sendiri memberi teladan dan menerangkan bahwa demikianlah kehendak Bapa. Menjadi pelayan adalah sikap iman yang radikal. Pelayanan Kristiani tidak berdasarkan belaskasihan atau ketaatan kepada pemerintah, melainkan berdasarkan hormat terhadap Allah Pencipta, yang membuat manusia sesuai dengan citra-Nya sendiri. 2. Kesetiaan kepada Kristus Sebagai Tuhan dan Guru: “Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian tampil sebagai murid-murid-Ku” (Yoh 15:8). Dengan sikap pelayanan Kristus, Gereja menyatakan diri sebagai murid Kristus. Ciri religius pelayanan secara konkret ialah ciri Kristiani, dan menimba kekuatannya dari suriteladan Kristus. Demikianlah, pelayanan mulai di dalam Gereja sendiri, yang dalam Kristus merupakan satu tubuh dengan banyak anggota, yang saling membutuhkan dan melayani (lih. 1Kor 12:31). 7 3. Orientasi Pelayanan Gereja pada Kaum Miskin : Dalam usaha pelayanan kepada kaum miskin janganlah mereka menjadi objek belas kasihan, yang pokok adalah harkat, martabat dan harga diri, bukan kemajuankemajuan dan bantuan spiritual/sosial yang hanya sarana. Mengambil bagian dalam sengsara dan penderitaan Kristus, yang tetap senasib dengan semua orang yang menderita. “Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu lakukan untuk Aku” (Mat 25:40 dst.). Maka pelayanan Gereja tertuju terutama kepada mereka yang paling membutuhkan perhatian dan pelayanan. Dengan sepenuh hati Gereja akan melibatkan diri dalam segala usaha yang ingin membebaskan manusia dari kemiskinan dan penderitaan. Dengan demikian Gereja tidak pernah akan menyangkal bahwa penderitaan, dan terutama orang yang menderita mempunyai nilai tinggi, biarpun secara ekonomis tidak menguntungkan bagi masyarakat. 4. Dilakukan dengan Kerendahan Hati : Kerendahan hati Gereja tidak boleh berbangga diri, tetapi tetap melihat dirinya sebagai "Hamba yang tak Berguna" (Luk 17:10). Gereja tidak (boleh) membanggakan pelayanannya, bahkan seringkali harus mengakui dirinya sebagai “hamba tidak berguna”. Kerendahan hati ini pun bukan sesuatu yang amat istimewa atau tanda kesucian, melainkan sikap realistis yang mengakui keterbatasan segala usaha manusia, termasuk pelayanan Gereja. Dalam pelayanannya Gereja tidak memainkan peranan Tuhan, dan juga tidak berusaha memperbaiki “kekurangan-kekurangan” yang ada dalam ciptaan. Pelayanan Gereja ialah menerima dunia dan manusia seadanya, dan berusaha menghayati sikap Kristus di hadapan sesama. Bentuk-Bentuk Pelayanan adalah sebagai berikut: 1. Beribadah (Yesaya 58:13-14) Beribadah merupakan tindakkan nyata kita melayani Tuhan dimana kita mengikatkan diri dengan waktu yang telah ditentukan oleh Allah sendiri agar kita masuk dalam lingkungan kekudusan Allah sendiri. Oleh karena itu kita harus 8 memberi diri seutuhnya saat kita beribadah yaitu dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, segenap akal budi dan dengan segenap kekuatan kita. (Markus 12:30) 2. Melayani Sesama (Amsal 27:17) Dari sesama kita belajar bagaimana seharusnya hidup dan menghargai kehidupan pemberian Tuhan, karena dengan pelayanan kepada sesama kita dapat menyatakan kasih. (Galatia5:13). Dan sesuai dengan karunia yang telah Tuhan berikanlah, kita dapat melayani sesama (Roma 12:6-8), dan sesungguhnya hidup adalah bila kita dapat berbagi dengan orang lain. (Lukas 6:38). 3. Memberitakan Kabar Keselamatan (Matius 28:18-20) Kita diciptakan untuk melakukan tugas yang Tuhan perintahkan. (Efesus 4:11). Tugas utama kita adalah melakukan Amanat Agung Tuhan Yesus yaitu memberitakan Kabar Keselamatan bagi semua bangsa (Kisah Para Rasul 1:8). Karena itu jika kita tidak bersedia dan gagal melakukan tugas Amanat Agung maka sebenarnya kita telah menyia-nyiakan hidup yang Allah berikan pada kita. (Kisah Para Rasul 20:20-24). 4. Memuridkan (2 Timotius 2:2) Sendirian kita tidak mungkin dapat mengerjakan pekerjaan Allah yang Maha Besar bagi penyelamatan umat manusia sepanjang generasi (Matius 25:14-15). Kita harus mendelegasikan tugas kepada orang lain, supaya banyak orang dapat dimuridkan bagi Tuhan Yesus. (Kolose 18:13-17) 5. Bersekutu Bersama Saudara Seiman. (Ibrani 10:25) Kita dipanggil Tuhan bukan sekedar menjadi orang percaya saja, tetapi lebih dari itu adalah agar kita masuk dalam persekutuan bersama, dimana kita ditempatkan Tuhan menemukan peran dan bertindak dalam pelayanan sesungguhnya. (Roma 12:48). Persekutuan dalam gereja dan kebersamaan dengan saudara seiman ini kita dapat didewasakan secara rohani dan terus terpelihara iman kita sampai Tuhan Yesus datang ke dua kalinya. (Kisah Para Rasul 2:41-47). 9 2.2 Kitab Suci Tentang Pelayanan Pelayanan ini berpegang pada Matius 20 : 26-28 “Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." 2.3 Artikel Tentang Bentuk – Bentuk Pelayanan “Let us touch the dying, the poor, the lonely and the unwanted according to the graces we have received and let us not be ashamed or slow to do the humble work.” – Bunda Teresa , memberi cintanya untuk melayani ribuan masyarakat miskin dan sakit di India. Dilahirkan di Skopje, Yugoslavia, dengan nama Agnes Boyakhul, 26 Agustus 1910. la masuk Biara 1oretto di Irlandia 1928. Setahun sesudahnya dikirim ke India untuk menjalankan novisiatnya di sana dan memulai karya sebagai guru, mengajar di SMP St.Mary Calcuta. Ia mengajar di situ hampir 20 tahun. Pada tahun 1946 dalam perjalanan menuju retret tahunannya, ia berkata: Aku mendengar panggilan untuk meninggalkan segalanya dan mengikuti Dia ke lorong-lorong kumuh untuk melayani orang-orang miskin dan terlantar. la mengajukan permohonan kepada pimpinan Biara Loretto dan pada tahun 1984, ia meninggalkan biara Lorreto. Dalam ketaatan kepada Uskup Agung Calcuta, ia memulai hidup di tengah orang-orang miskin. Ia mendirikan sekolah di daerah kumuh dan mulai mengajar anak-anak miskin di situ. la juga belajar obat-obatan sederhana dari para suster BKK (Biarawati Karya Kesehatan) dan mulai mengunjungi rumah-rumah orang sakit dan merawat mereka. Tidak lama banyak gadis alumni Sekolah St. Mary bergabung dengan dengan dia dan melayani orang-orang menderita itu. Tahun 1952 ia bertemu seorang wanita yang dibuang, sedang dalam keadaan hampir mati di jalan. Badannya penuh dengan tikus-tikus dan semut. Ia mengangkat wanita itu dan membawanya ke Rumah Sakit, tetapi Rumah Sakit tidak melayani. Teresa Ialu membawa ibu 10 itu ke Wahkota dan meminta pertolongan untuk melayani orang-orang miskin, agar mereka boleh mendapat tempat perlindungan yang layak. Petugas kesehatan membawa dia ke sebuah gedung di dekat kuil Hindu. Gedung itu tidak dipakai, kecuali sebagai penginapan bagi para pengunjung kuil. Petugas kesehatan itu menawarkan rumah itu kepada Ibu Teresa untuk digunakan. Dalam sehari ia menampung banyak orang sakit di situ dan memulai di rumah itu tempat untuk orang sakit payah - yang sekarang terkenal dengan nama: Kalighat. Bertahun-tahun ia mengembangkan karya pelayanannya ini secara subur. la melayani hampir setiap penderita yang ia jumpai untuk dilayani; memberi perlindungan, memelihara anak-anak yatim-piatu, memberi makan yang lapar dan memberi pakaian kepada yang telanjang, membuka klinik untuk keluarga berencana, pelayanan perawatan jalan, dan perawatan orang-orang lepra. Ia mendirikan Tarekat Misionaris Cintakasih, yang sekarang sudah lebih dari 3000 anggotanya, yang bekerja di 52 negara di manca negara seperti di Roma, Addis Ababa, Bronx, Jenkins, Kentucky. Para suster menjalankan hidup bakti dengan mengikrarkan kaul ke-empat yakni Dengan Segenap Hati Dan Seluruh Diri. Memberikan Pelayanan Bebas Kepada Mereka Yang Paling Miskin. Dalam situasi dunia di mana panggilan hidup religius berkurang, suster Misionaris Cintakasih ini malah bertumbuh amat subur. Penjelasan untuk ini sangat sederhana, kata Ibu Teresa: Ada banyak wanita data pekerjaan seperti ini yang masih tetap mencari suatu kehidupan doa, kemiskinan dan pengorbanan. Pekerjaan Ibu Teresa diakui di seluruh dunia. Ia terkenal sebagai wanita yang diakui di mata dunia dan pada tahun 1979 ia mendapat hadiah Nobel Perdamaian. Kemasyhuran nama seperti itu tidak memudarkan cara hidupnya yanq bersinarkan cinta-kasih Kristus kepada orang-orang miskin. la berjalan dengan kaki telanjang ke mana saja bila perlu dan tidur di lantai rumah-rumah penampungan orang miskin bersama suster-suster dan novisnovisnya. la makan makanan orang sederhana dan minum air putih. Seperti semua susternya, ia pun mempunyai hanya dua buah baju putih sari dan sendiri mencuci pakaian. Para pengunjung merasa terharu oleh kesederhanaan hidupnya. Mereka menyaksikan ia sedang menyisir rambut seorang anak gadis India. Ia memadamkan listrik kalau ekaristi atau doa di kapel sudah tidak lagi butuh terang lampu untuk membaca. Hal-hal itu lebih menunjuk kepada cara hidup dan semangatnya. Tak ada uang yang diberikan kepada orang 11 miskin. Ia menjelaskan “Adalah suatu pemborosan kalau kita membiarkan listrik bernyala tanpa diperlukan. Kta hanya boleh menggunakan kalau itu perlu sekali.” Ibu Teresa pergi ke mana-mana untuk berbicara tentang pelayanan kasih. Ia tidak menumpuk uang untuk tarekatnya. Uang-uang yang diperolehnya semuanya dipakai untuk pelayanan orang-orang kecil itu. la berbicara sederhana dan tepat sasaran. Ia menggambarkan dengan jelas warta cinta kasih Yesus bagi orang-orang miskin dan terlantar. Pewartaannya merupakan pancaran nyala cinta seperti yang digambarkannya dalam ungkapan-ungkapan yang terus-menerus diulanginya: Kami buat karena Yesus, untuk Yesus dan bersama Yesus. Sesuatu yang indah untuk Tuhan, memberi sampai diri sendiri menderita karena memberi, layanilah Yesus dalam orang-orang yang menderita dan terbuang. Terbukti orang-orang yang tersentuh pelayanan Ibu Teresa akan bertanya: Apa yang dapat saya lakukan? Jawabannya selalu sama, yakni suatu jawaban yang memperjelas visinya. Jawaban diberikan secara pribadi, sesuai tempat di mana kita berada: Mulai saja, ...satu, satu, satu, ujarnya. Mulai di rumah dengan mengatakan sesuatu yang baik kepada anak-anakmu, kepada suamimu, atau kepada istrimu. Mulai dengan melakukan apa saja yang dapat kau lakukan, sesuatu yang indah untuk Allah. Sebagai suatu kritik sosial, ia mengganti kebiasaan memerintah dengan pelayanan. Selama tahun-tahun pelayanannya ia tidak nampak jera atau lelah. la selalu tampak gembira dan ceria yang merupakan unsur paling penting dalam hidup para suster Misionaris Cintakasih. la menghayati kegembiraan kebangkitan. Kegembiraan dan sukacita adatah pusat karya pelayanannya. Buatlah apa yang kau mau buat dengan gembira dan dengan suatu hati penuh bahagia, ia menasehati suster-susternya. Orang-orang yang sakit payah adalah tubuk hati Yesus yang bersengsara. Kapan saja engkau menjumpai Yesus, tersenyumlah kepada-Nya. la mengatakan kepada suster-susternya, “Jikalau kamu tidak mau tersenyum kepada Yesus, maka lebih baik bungkuslah pakaianmu dan pulang saja ke rumah. “ Pada suatu kesempatan konferensi pers di USA, ia ditanyakan hal-hal sekitar perubahan dan perkembangan di dalam Gereja, masalah emansipasi wanita, kerohanian dunia Barat, ekonomi dan penggunaan media untuk pewartaan Injil. la mengatakan: Saya tidak tahu apa-apa tentang hal itu. Atau bahkan ia balik bertanya yang ada kaitannya dengan visinya: 12 “Kalau anda melakukan pekerjaan ini untuk kemuliaan diri, Anda hanya lakukan itu untuk satu tahun, dan tidak lebih. Hanya kalau engkau melakukan itu untuk Yesus maka engkau akan terus maju.” Ibu Teresa dan suster-susternya menghayati Injil secara harafiah dan amat radikal. Kepada anggota-anggota pers, paling sedikit waktu ia berbicara pada kesempatan itu, ia sangat berbeda pengalaman dengan semua yang lain. Mereka tidak biasa mendengar seseorang berkata bahwa ia mencintai Yesus dan didorong oleh Yesus, atau didukung oleh Ekaristi dan doa. Ada beberapa orang yang terharu, yang dapat kita saksikan dengan melihat mata mereka. Kebanyakan orang kehilangan warta kasih yang sebenarnya dan memandang dia sebagai wanita naif yang coba mempengaruhi dunia yang tidak dapat lagi berubah situasi sosialnya ini. Mereka memuji dia dan pekerjaannya, sambil kehilangan kesederhanaan dan keluguan motivasinya. Beberapa orang yang mengenal Ibu Teresa, yang menggunakan waktu berbincang bincang dengan dia, merasakan bahwa beliau sungguh satu karunia Tuhan bagi jaman kita. Barangkali ia juga salah satu dari tokoh-tokoh historis yang muncul sebagai nabi yang datang untuk memperingatkan kita akan warta gembira Injil, mengingatkan kita akan apa yang Allah Bapa harapkan dari kita. Agnes Boyaxhui mengeluh tentang kata-kata dan mengatakan: Terlalu banyak katakata. Biarkan mereka melihat saja apa yang kita buat. Tetapi ia terus berbicara, dengan sabar mengulangi hal-hal pokok dari cita-cita dan visinya. Beberapa ungkapan yang mengikuti pembicaraannya - semoga dapat menjadi inspirasi dan pemahaman tentang wanita itu dan karyanya. Sumber: http://indonesiaindonesia.com/f/11923-mother-theresa/ 13 BAB III SWEETER (SWEEPING TOGETHER) 3.1 Proses Persiapan 3.1.1 Perencanaan Pada awalnya, kelompok kami memiliki 3 buah pilihan untuk melakukan pelayanan yaitu: membantu pelayanan di puskesmas, mengajar di sekolah yang masih kurang tenaga pendidik, atau mencoba mencari seorang Bapak pengemis yang cacat (sudah tidak memiliki kedua kaki) yang sering kami temui di perempatan Giant pada malam hari. Kami menomorsatukan pilihan pertama karena kami merasa tindakan pelayanan tersebut akan sangat menarik dan berbeda sehingga kami menetapkan bahwa dalam minggu pertama harus sudah ditemukan puskesmas untuk didatangi. Lalu, kami merencanakan untuk melakukan pelayanan pada minggu kedua dan pembuatan laporan pada minggu ketiga. Pada hari Rabu, 25 Februari 2015, kelompok kami mendatangi Puskesmas yang terletak di sebelah Kantor Kelurahan Rawa Buntu. Setelah melakukan perbincangan dengan petugas puskesmas, kami sebenarnya boleh melakukan pelayanan di tempat tersebut namun prosedurnya lumayan rumit dan bisa memakan waktu yang sangat lama karena kami perlu memberikan surat keterangan kepada dinas kesehatan, yang lalu surat tersebut akan diteruskan ke puskesmas Rawa Buntu. Hal ini menjadi lebih sulit ketika pihak puskesmas tidak bisa menjanjikan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menyetujui surat permohonan itu. Selain itu, kemungkinan bagi kami bisa membantu sangat minim karena kami berasal dari jurusan IPA (yang diharapkan adalah dari jurusan SMK bagian kesehatan, administrasi, dan lainnya). Selain itu, kesulitan yang akan dihadapi apabila membantu puskesmas tersebut adalah jam ramai puskesmas adalah pada pagi hari sedangkan di atas pukul 14.00, yang buka hanyalah bagian rawat inap, sementara kami bersekolah di pagi hari. Kami sempat menyatakan kepada petugas puskesmas tersebut bahwa walaupun hanya membantu di rawat inap, kami bisa membantu membersihkan, menuntun lansia, menyuapkan makanan, dan lainnya. Namun petugas tersebut dengan tegas hanya menyatakan “ Kami tidak bisa memastikan. Nanti lihat pembagian tugas dari kepala puskesmasnya saja bila sudah diijinkan.” 14 Setelah mendapatkan hasil dari puskesmas Rawa Buntu yang kurang mendukung, kami mencoba untuk menelepon puskesmas lain di daerah Tangerang, salah satunya adalah puskesmas di Jalan Raya Serpong. Kami menelepon untuk membuat janji bertemu serta menanyakan apakah boleh membantu di puskesmas tersebut. Namun, diberitahukan bahwa puskesmas tersebut buka dari pagi sampai sore saja. Padahal, kami baru pulang sekolah siang menjelang sore sehingga secara waktu menjadi kurang efektif untuk melakukan pelayanan. Selain itu, kami tidak menemukan titik temu untuk bertemu dengan kepala puskesmas tersebut karena beliau hanya bisa ditemui pada pagi hari dan hari kerja. Setelah mendapatkan hasil yang kurang memuaskan dari puskesmas, kami melihat bahwa di sebelah puskesmas terdapat jalan ke belakang yang mengarah ke sebuah kampung. Kami bertemu dengan salah seorang warga kampung bernama Haji Agus. Beliau menceritakan keadaan di kampung tersebut dan beliau menjawab pertanyaan kami. Haji Agus menyatakan bahwa apabila kami ingin membantu melakukan pelayanan di kampung tersebut, dapat dilakukan dengan mengajar Bahasa Inggris di tempat untuk belajar ngaji. Beliau menyatakan bahwa banyak anak-anak di kampung tersebut adalah yatim atau piatu atau keduanya. Kami ingin membantu mengajar, namun kami juga ingin mencoba melakukan survey beberapa kampung terlebih dahulu supaya benar-benar bisa membantu secara tepat dan tidak salah sasaran. Maka dari itu, setelah mendapatkan informasi dari Haji Agus mengenai kampung di belakang kelurahan Rawa Buntu, kelompok kami merencanakan untuk melakukan beberapa survey ke kampung-kampung untuk melihat adakah yang bisa kami bantu. Setelah pulang dari daerah tersebut, beberapa dari kami (Gideon, Nia, dan Angel) yang masih bisa pulang lebih sore sepakat untuk menuju ke Roti Bakar 88 dan menanyakan kepada pegawai di sana apakah kami boleh membantu di tempat tersebut dan apakah ada pegawai di Roti Bakar 88 yang bisa kami bantu ringankan kesulitan kerjanya dengan kami bekerja di tempat tersebut. Respon dari pegawai Roti Bakar tersebut positif, namun ia menyatakan bahwa ia harus mengkomunikasikan kepada atasannya dan ia menyatakan bahwa ia sendiri tidak tahu apakah ada pegawai yang kesulitan di Roti Bakar 88. Hal tersebut dikarenakan, saat mereka bekerja biasanya mereka tidak menceritakan kesulitan pribadi. Dikarenakan masih kurang jelas, maka kami tetap memutuskan untuk melakukan survey kampung untuk menentukan orang yang akan dibantu. 15 Survey kedua setelah survey ke kampung Rawa Buntu tersebut adalah menjelajahi kampung di belakang kawasan Taman Giri Loka pada hari Jumat, 27 Februari 2015 pukul 14.00-16.00. Selama berada di kampung tersebut, yang kami lihat kebanyakan adalah rumah-rumah, warung, dan sangat sedikit orang-orang yang berjualan. Kampung tersebut sangat sepi dan tidak seperti kampung yang kami kira akan kami lihat pada hari tersebut. Awalnya, apabila menemukan tukang jualan jamu gendong, atau menjual sesuatu dengan dipikul pada pundak, kami ingin membantu. Namun, kami tidak menemukan orang-orang tersebut dan keadaan kampung tersebut terlihat sudah lumayan bagus khususnya dengan adanya jalan yang rapi juga. Saat kami menanyakan kepada penjaga warung di sana, beliau menyatakan bahwa kebanyakan mata pencaharian warga kampung tersebut adalah sebagai tukang cuci gosok ke rumahrumah atau sebagai penjaga warung. Pada hari Selasa, 3 Maret 2015 pukul 15.30-17.30, kelompok kami melakukan survey ke Kampung Dadap di depan Anggrek Loka. Keadaan saat melakukan survey di Kampung Dadap pada hari itu adalah hujan sehingga kami memutuskan untuk menanyakan langsung kepada ketua RT/RW di kampung tersebut apakah yang kira-kira boleh kami bantu untuk melakukan pelayanan. Dalam perbincangan tersebut, beliau menyatakan bahwa kebanyakan mata pencaharian warga kampung Dadap adalah sebagai pedagang kaki lima gerobak dan beliau memperbolehkan kami untuk melakukan pelayanan. Setelah berbincang dengan ketua RT/RW tersebut dan setelah hujan mulai reda, kami mulai menyusuri kampung tersebut kembali dan menemukan suatu rumah yang sangat kecil bila dibandingkan dengan rumah lain di kampung tersebut. Beberapa pedagang juga terlihat sedang mempersiapkan untuk berjualan dan melihat hal tersebut, kami berniat untuk membantu. Setelah bertanya pada seorang warga kampung Dadap, kami mengetahui bahwa orang yang tinggal di rumah yang sangat kecil tersebut adalah seorang penjual nasi goreng yang kerap dikenal dengan nama Babeh. Selain itu, kami juga menjadi tahu bahwa di kampung tersebut banyak orang melakukan judi dan banyak kambing maupun ayam berkeliaran. Berdasarkan hasil survey dari Kampung Dadap bahwa ada seorang penjual nasi goreng dengan keadaan rumah yang sangat sempit, kami pun mendatangi penjual nasi goreng yang disebut dengan panggilan Babeh itu pada hari Sabtu, 7 Maret 2015 untuk makan di tempat ia berjualan sekaligus menanyakan apakah kami boleh membantunya dalam bekerja. Kami sempat menyatakan kepada Babeh bahwa kami bisa membantu mengemas makanan, membersihkan meja, memotong sayur, mencuci alat bekas makan, 16 dan lainnya. Namun, beliau menyatakan bahwa ia sudah mempunyai 2 orang yang membantunya sehingga apabila ada orang lain yang ikut membantu, nanti asistennya tidak bekerja. Lalu kami menyatakaan bahwa, mungkin dengan kami membantu bisa membuat mereka istirahat sejenak dari kelelahan mereka. Namun, Babeh menyatakan bahwa yang terpenting asistennya bekerja dan ia berterimakasih atas penawaran bantuan kami. Kami semakin kebingungan harus membantu melayani orang yang seperti apalagi. Berawal dari cerita Vania mengenai tukang sapu di kompleks rumahnya yang pernah menemukan mayat, kami merencanakan untuk menanyakan kepada tukang sapu di wilayah kompleks masing-masing untuk membantu mereka dalam bekerja. Selain itu, kami mencoba mencari seorang Bapak yang sudah tidak memiliki kaki, yang awalnya menjadi rencana cadangan kami. Namun, kami tidak menemukan Bapak tersebut. Selagi menunggu menemukan waktu libur UAS kelas XII untuk menanyakan kepada tukang sapu di kompleks rumah pada pagi hari, beberapa di antara kami (Gideon dan Angel) sempat menanyakan kepada tukang parkir di McDonald Sunburst pada hari Kamis, 5 Maret 2015 apakah kami bisa membantu menjadi tukang parkir di tempat tersebut. Namun, pembicaraan kami berakhir pada kesimpulan bahwa untuk bisa menjadi tukang parkir di tempat tersebut diperlukan perijinan kepada pemimpin kelompok tukang parkir tersebut. Untuk bisa bekerja di tempat tersebut juga akan sulit karena wilayah parkir McDonald Sunburst saat ini sudah di bawah kepolisian setempat. Pada hari Senin, 9 Maret 2015, Vania telah menanyakan kepada tukang sapu di kompleks rumahnya bahwa kelompok kami ingin membantu menyapu sebagai bentuk pelayanan. Vania saat itu bertemu dengan tukang sapu bernama Ibu Oci. Ibu Oci saat itu memberikan informasi bahwa total tukang sapu di kompleks Nusa Loka sector 14-4 ada 4 orang yang terdiri dari Ibu Oci, suaminya, dan 2 tukang sapu lainnya. Ibu Oci memberitahukan bahwa ia biasa bekerja dari subuh sampai pukul 08.30. Sebenarnya, Ibu Oci seharusnya libur pada hari Minggu. Namun kadang kala ia kerja lembur walaupun hanya 2 rumah pada hari minggu. Ibu Oci sendiri ingin menanyakan terlebih dahulu kepada rekan kerjanya mengenai kami yang akan membantu. Namun, karena tidak bisa bertemu Ibu Oci yang hanya hadir di pagi hari (karena Vania sekolah pada pagi hari dan pada saat jadwal belajar di rumah hujan sehingga Ibu Oci tidak ada), kelompok kami memutuskan untuk datang langsung ke lokasi pada hari Jumat, 13 Maret 2015 pukul 06.00. 17 Persiapan kami sebelum hari pelaksanaan pelayanan adalah mencari sapu yang kebetulan kebanyakan dari kami punya. Bagas tidak punya sapu yang besar sehingga ia meminjam. Selain itu, kami mempersiapkan perkiraan hal-hal yang ingin kami tanyakan kepada ibu-ibu atau bapak tukang sapu di daerah Nusa Loka sektor 14-4 tersebut. Kami juga memutuskan untuk berkumpul di rumah Vania pukul 06.00 dan memulai mencari tukang sapu lalu apabila sudah bertemu akan segera kami tanya dan menawarkan untuk melakukan pelayanan dengan membantunya menyapu. 3.1.2 Tantangan Dalam pelaksanaan pelayanan tersebut, kami menemukan beberapa tantangan yang cukup menyulitkan kami untuk melakukan pelayanan. Tantangan-tantangan tersebut adalah sebagai berikut : a. Komunikasi dengan pihak luar Pada saat pertama kali menemui pihak yang ingin kami bantu, kami merasa kurang berani dan kebingungan apa saja yang perlu kami katakana kepada petugas puskesmas. Namun, syukurnya dengan adanya dorongan dan keberanian, kami masuk ke puskesmas dan mulai menanyakan kepada petugas puskesmas tersebut yang menjadi awal dari serangkaian persiapan pelayanan kelompok kami. Kami juga sempat menemui tantangan untuk berbicara dengan Babeh karena ia sedang bekerja pada saat kami ingin bertanya sehingga untuk menunggunya mulai beristirahat lumayan membutuhkan waktu banyak. Syukurnya kami bisa memiliki waktu untuk berbicara dengannya saat ia sedang beristirahat, walaupun keputusannya adalah kami tidak dapat membantunya. b. Prosedur rumit untuk bisa membantu di puskesmas Kami mendapatkan tantangan saat ingin membantu puskesmas yaitu prosedur yang rumit berupa penyerahan surat keterangan kepada dinas kesehatan, yang nantinya akan diarahkan langsung ke puskesmas Rawa Buntu, baru setelahnya puskesmas Rawa Buntu akan mengabarkan kepada kelompok kami bila kami boleh membantu di puskesmas tersebut. Setelah ditanya berapa lama waktu yang dibutuhkan, petugas tersebut menjawab bisa sampai bulanan. Maka dari itu, solusi yang kelompok kami ambil adalah dengan menanyakan sekali lagi apakah 18 boleh tanpa prosedur tersebut, namun sayangnya tidak diperbolehkan. Kami mencoba mencari solusi lain berupa puskesmas lain, tapi tidak membuahkan hasil karena jam buka yang bertabrakan dengan jadwal sekolah. Kami mencoba mencari solusi lain yang pada akhirnya berujung pada membantu Ibu Manah dan Ibu Oci menyapu di kompleks perumahan Nusa Loka sektor 14-4. c. Penolakan oleh beberapa orang yang ingin kami bantu beberapa kali Kami sempat ditolak sebanyak 2 kali dan gagal karena jadwal yang tidak memungkinkan sebanyak 2 kali. Hal yang paling menyakitkan bagi kelompok kami dan merupakan suatu tantangan yang nyata dalam mempersiapkan pelayanan adalah apabila terjadi penolakan dari orang yang ingin kami bantu. Pertama kali kami ditolak oleh tukang nasi goreng yang sering dipanggil Babeh. Ketika ditolak kami merasa lumayan kecewa, namun kami mencoba melihat sisi positifnya juga yaitu apabila kami membantu beliau, mungkin juga akan terlalu penuh dan mengganggu ruang geraknya untuk membuat nasi goreng dan mengganggu ruang gerak konsumennya. Penolakan yang kedua kali adalah penolakan oleh tukang parkir secara halus dengan mengembalikan pada alasan bahwa daerah tersebut sudah diatur oleh kepolisian. Dari penolakan-penolakan tersebut, kami awalnya merasa kecewa dan menjadi kebingungan harus melakukan pelayanan apa. Namun, kami setelah ditolak oleh penjual nasi goreng, kami berkumpul di mobil Gideon dan berdoa bersama meminta arahan dari Tuhan. Pada akhirnya, kami bisa bertemu dengan Ibu Oci dan Ibu Manah untuk membantu mereka. d. Mencari orang yang bisa dibantu oleh jumlah anggota kelompok yang banyak Tantangan terakhir yang juga menjadi kebingungan dalam kelompok kami adalah dalam menentukan orang seperti apa yang bisa kami bantu dengan jumlah personil yang banyak yaitu 6 orang. Gideon sempat terpikirkan membantu penjual siomay atau cingcongfan di gereja. Namun, setelah berunding kembali dirasa bahwa untuk membantu penjual makanan tersebut dengan 6 anggota justru akan menjadi tidak efektif. Lalu sempat juga terpikirkan untuk menjadi tukang parkir, tetapi kemudian terpikirkan juga mengenai sulitnya membantu tukang parkir dengan anggota 6 orang (komposisi 3 putra dan 3 putri), padahal dalam realitanya petugas setiap shift hanya 3 sampai 4 orang. Selain itu, sempat juga 19 muncul ide untuk menjadi tukang angkot dan keneknya. Namun, hal tersebut akan menjadi sulit dilakukan dengan anggota 6 orang. Maka dari itu, tantangan lain bagi kelompok kami adalah dalam menentukan ide yang bisa benar-benar dilakukan dengan baik oleh 6 orang dan jangan sampai ada yang tidak kebagian tugas atau menganggur. 3.1.3 Dukungan Selama proses pelayanan dari awal hingga akhir, kami bersyukur memiliki banyak uluran tangan kasih Tuhan dari berbagai pihak. Pada saat kami melakukan survey untuk menemukan kegiatan pelayanan yang akan kami lakukan, kami mendapat bantuan dari orang tua dan warga sekitar. Pada saat kami mengunjungi kampung di belakang Puskesmas Rawa Buntu, kami bertemu Pak Haji Agus, yang membantu kami memberi beberapa gambaran mengenai keadaan kampung tersebut meskipun akhirnya kami tidak melakukan pelayanan pada kampung tersebut, namun memberikan inspirasi dan pencerahan bagi kelompok kami untuk pelayanan yang akan kami lakukan. Selain itu, orang tua kami, khususnya Ibu dari Vania turut memberikan referensi agar kami dapat menemukan orang atau tempat yang cocok bagi kami untuk melakukan pelayanan. Hingga akhirnya, membantu mengenalkan kami kepada Ibu Oci (orang yang kami bantu dalam tugas pelayanan ini) serta menyediakan makanan bagi kami setelah lelah melakukan pelayanan. Selain itu, dukungan internal juga ada di dalam kelompok kami, bahwa kami merasa sangat kooperatif dalam proses pengerjaan kegiatan pelayanan ini. Meskipun banyak perbedaan pendapat, tapi semata-mata untuk melengkapi satu sama lain. Jika terjadwal untuk berkumpul dan berdiskusi bersama, semuanya dapat hadir (terkecuali tidak dapat hadir karena ada perlombaan sekolah dan kegiatan Gereja) dan berdiskusi dengan baik. Selain itu, dukungan juga tersedia dari segi transportasi-akomodasi. Beberapa anggota kelompok, yakni Bagas, Gideon, beserta supirnya selalu bersedia menyediakan transportasi bagi kami, mulai dari proses survey hingga saat pelayanan berlangsung sehingga kami tidak kesulitan dalam hal mobilitas. 20 3.2 Proses Pelaksanaan 3.2.1 Deskripsi Tempat 3.2.1.1 Lingkungan Nusa Loka sektor 14-4 Lingkungan Nusa Loka sektor 14-4 adalah daerah yang wajib disapu oleh Ibu Manah, Ibu Oci dan 2 orang tukang sapu lainnya. Nusa Loka sektor 14-4 berlokasi di belakang sekolah Antonius dari Padua dan masih termasuk dalam Kelurahan Gudang Lengkong Timur. Komplek ini dibagi menjadi 6 blok utama sesuai dengan Rukun Tetangganya (RT), yaitu blok L1, L2, L3, M1, M2, dan M3. Ibu Manah mendapat bagian menyapu daerah M2, M3, dan daerah sekitar pos satpam depan. Sementara Ibu Oci mendapat daerah menyapu jalan utama Nusa Loka sektor 14-4 dan blok M1. Sisanya, blok L, dibagi lagi oleh 2 orang tukang sapu lainnya. Lingkungan komplek Nusa Loka masih dapat dibilang asri dan hijau karena banyak pepohonan dan tanaman yang dipelihara baik oleh warga secara personal dalam kebun masing-masing, maupun oleh RW di kebun kecil di tengah jalan-jalan utama komplek. Hal ini dinikmati pula oleh warga manfaatnya. Di kala subuh, masih terlihat kabut menyelimuti. Udara pagi masih terasa sejuk dan masih terdengan kicauan burung di komplek ini. Beberapa warga memanfaatkan suasana ini untuk berolahraga dengan jogging kecil. Masih ada padang rumput di komplek ini. Padang rumput ini merupakan tanah kosong yang menghubungkan komplek ke sebuah kampung, yaitu tempat tinggal para tukang sapu ini. Selain itu, terdapat 3 tanah kosong lainnya di komplek ini yang dijadikan sebagai taman bermain untuk anak-anak yang berisikan jungkat-jungkit, ayunan, dan perosotan. Di tanah kosong ini, ditanami beberapa pohon untuk menjaga keteduhan dan kesejukan. Karena banyaknya pohon dan tanaman di lingkungan komplek ini maka sampah yang mendominasi adalah sampah daun. Jika hujan, sampah-sampah ini banyak menempel di permukaan aspal. Sampah lainnya adalah kotoran kucing atau anjing liar karena ada beberapa anjing dan kucing liar di daerah komplek ini. 21 Setelah itu, ada juga sampah dari kegiatan pembangunan yang dilakukan beberapa rumah di komplek ini, seperti pasir, pecahan batu bata, lantai, dan lain-lain. Untuk sampah lainnya dapat terbilang sedikit. Warga jarang buang sampah sembarangan. Sampah-sampah warga diikat rapi dan ditaruh di tempat sampah masing-masing, menunggu diambil oleh tukang sampah. Atau, untuk sampah-sampah yang cukup besar atau berbau busuk, dibuang di tepi kali atau sungai yang terletak di belakang komplek ini. 3.2.1.2 Rumah Ibu Manah Rumah Ibu Manah terletak di kampung yang berdekatan dengan komplek Nusa Loka. Jalan masuknya masih berupa tanah, tapi begitu masuk ke permukiman warga kampung, jalan sudah berupa conblock. Rumah Ibu Manah terletak agak jauh ke dalam kampung. Suasana kampung pagi itu lumayan sepi karena saat itu adalah hari kerja. Tapi masih terlihat aktivitas seperti warung dan kegiatan ibu rumah tangga. Kami melihat ada kebun singkong di kampung tersebut. Anak-anak yang lebih kecil dan belum bersekolah bermain bersama di luar. Rumah Ibu Manah tidak seperti yang kami semua kira sebelumnya. Menurut kami rumah Ibu Manah bisa terbilang cukup baik untuk seorang tukang sapu. Rumah beliau sudah bertembok biru dan berlantai keramik. Atapnya juga dalam keadaan baik dan tidak bocor. Beliau memiliki sebuah pohon di depan rumahnya. Tapi kami tetap mencari informasi, siapa tahu ada cerita dan kisah dibalik rumah itu. Ternyata benar memang ada kisah. Rumah yang terbilang cukup besar ini ditinggali oleh kurang lebih 14 orang dengan anak, menantu, dan cucucucunya. Untuk ukuran 14 orang, tentunya rumah ini menjadi kecil dan sempit. Lalu, keadaan rumah yang sudah bagus ini baru bisa dicapai karena anak-anaknya sudah mapan dan dapat menghidupi diri dan keluarga mereka masing-masing. Tak lupa mereka juga membantu ibu mereka. Maka dari itu, gaji Ibu Manah dan suami yang tidak banyak dapat mereka kumpulkan untuk membenahi rumah mereka. 22 Selain itu, Ibu Manah sudah lahir dan besar di kampung tersebut. Dan beliau bercerita bahwa rumah tersebut adalah warisan dari keluarganya. Ibu Manah cukup beruntung karena dapat tinggal di rumah yang memadai, sehingga beliau tetap sehat dan tidak terganggu kesehatannya. Apalagi sekarang sudah ada menantu dan cucu-cucu yang bisa membantunya mengurus rumah. Jalan di depan rumahnya masih tanah. Lalu di depan rumahnya ada sebuah warung, tempat Ibu Manah berbelanja untuk memenuhi perut anak dan cucu-cucunya. Rumahnya tersapu dan terlihat terawat. Di bagian samping rumahnya yang masih semen dan belum dicat, terlihat beberapa peralon tidak terpakai. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya daerah tersebut masih dapat dikatakan kumuh. Kami tidak masuk ke dalam dan hanya mengobrol di teras rumahnya. Tapi saat kami intip sedikit, rumah Ibu Manah dilengkapi ruang tamu mungil tempat ia menerima tamu-tamunya. Ruang tamu itu hanya diisi beberapa kursi dan satu meja kecil. Di dinding tergantung foto keluarga besar, menunjukkan betapa beliau mencintai mereka. Setelah ruang tamu ada lorong kecil, di mana kiri kanannya terdapat kamar-kamar. Di ujung lorong, terlihat sedikit dapur mereka. Walau rumah tersebut mungil untuk keluarga besar mereka, mereka tetap semangat dan bersyukur. 3.2.1.3 Rumah Ibu Oci Rumah Ibu Oci terletak di kampung yang sama dengan Ibu Manah, tetapi lebih dekat dengan komplek Nusa Loka. Jalan di depan rumahnya masih berupa tanah. Rumah Beliau termasuk terpencil, atau jauh dari tetangga-tetangga. Setelah mendengar cerita Ibu Oci, ternyata sebagian tanah di sekeliling rumahnya adalah miliknya dan beliau tanami pohon Melinjo dan Rambutan sebagai penghasilan tambahan. Rumah Ibu Oci kurang lebih sama dengan Ibu Manah, tetapi jauh lebih kecil. Rumah beliau sudah berlantai keramik dan bertembok berwarna kuning. Akan tetapi sepenglihatan kami, rumah Ibu Oci tidak memiliki atap genting, melainkan hanya semen yang datar, dengan atap seng kecil sebagai kanopi teras 23 rumahnya. Terasnya terlihat kosong dan tidak ada kursi panjang untuk menerima tamu, hanya ada beberapa kursi plastik. Rumah Ibu Oci tidak sebersih rumah Ibu Manah. Kami juga hanya mengobrol di teras sehingga tidak masuk ke dalam. Tapi, rumah Ibu oci kelihatannya memang lebih kecil dari pada rumah Ibu Manah. Dari pintu masuk saja, tidak terihat adanya ruang tamu, melainkan langsung lemari tempatnya menyimpan benda-benda keperluannya di pagi hari. Jarak dari pintu masuk ke lemari hanya kecil dan sempit sehingga rumahnya terasa sesak. Ternyata anak-anak Ibu Oci kebanyakan sudah mapan dan tidak tinggal bersama dengan Ibu Oci lagi. Hanya tinggal satu yang masih menjadi tanggungan beliau. Ada yang sudah bekerja dan membiayai kuliah mereka masing-masing, dorongan yang mereka dapat dari semangat ibunya. Maka dari itu tidak ada yang membantu Beliau untuk membersihkan rumah dan melakukan pekerjaan rumah tangga. Beliau sendiri mengaku sekarang sudah lebih leluasa untuk mengikuti kegiatan di pedesaan seperti pengajian di masjid yang tak jauh dari rumahnya. 3.2.2 Jurnal Pelayanan Pada hari Jumat, 13 Maret 2015 kelompok kami melakukan pelayanan di kompleks perumahan di Nusa Loka sektor 14-4. Kami berkumpul di rumah Vania pada pukul 06.00 WIB lalu dengan berjalan kaki pergi menemui salah seorang tukang sapu di kompleks ini yang bernama Ibu Manah. Tanpa membuat janji terlebih dahulu, kami langsung menjelaskan maksud dan tujuan kami kemudian menawarkan bantuan padanya untuk ikut menyapu. Setelah beliau mengizinkan kami untuk membantunya, kelompok kami langsung membagi kelompok kami menjadi 3 pasang untuk menyapu di tempat yang berbeda agar pekerjaan menyapu ini dapat cepat selesai. Pasangan yang menyapu bersama Ibu Manah, Nia dan Vania, membantu menyapu sekaligus bertanya-tanya mengenai keseharian Ibu Manah sebagai seorang tukang sapu. Pekerjaan menyapu ini ternyata cukup melelahkan, namun akhirnya kami dapat menyelesaikannya dengan baik. Seusai membantu Ibu Manah menyapu yaitu sekitar pukul 07.30 WIB, kami diperbolehkan untuk ikut Ibu Manah mengunjungi rumahnya yang terletak di kampung 24 belakang perumahan kompleks Nusa Loka tersebut. Perjalanan menuju rumah Ibu Manah cukup jauh dan jalanannya becek dan licin, dipenuhi tanah merah basah sehabis hujan rintik-rintik di pagi hari. Setelah sampai di rumahnya, kami berbincang-berbincang dan bercanda tawa dengan Ibu Manah dan suaminya tentang keluarga, pekerjaan mereka, serta kehidupan di kampung mereka. Ibu Manah telah bekerja sebagai tukang sapu kurang lebih sejak tahun 1996. Sebelum kembali ke rumah Vania Edra, kami menyempatkan diri untuk bermain bersama Indra, cucu Ibu Manah yang masih berumur 6 bulan dan berfoto bersama sebelum pulang. Sesampai kembali di rumah Vania kurang lebih pukul 08.00, kami bertemu dengan Ibu Oci yang juga merupakan seorang tukang sapu di kompleks tersebut yang merupakan target awal kami sebagai seseorang yang hendak kami layani. Kami langsung membuat janji dengan Ibu Oci untuk membantunya menyapu pada hari Minggu, 15 Maret 2015. Setelah itu, kami menyantap sarapan nasi uduk bersama yang telah disediakan oleh Ibu dari Vania yang diawali dulu dengan berdoa bersama sebagai doa pembuka makan dan ucapan syukur atas terselesaikannya hari pelayanan pertama sebelum akhirnya pulang ke rumah masing-masing. Sama seperti sebelumnya, pada hari Minggu, 15 Maret 2015 kami mulai membantu Ibu Oci menyapu sekitar pukul 06.20 WIB. Pada hari itu Ibu Manah sedang libur, sehingga Ibu Oci sudah harus menyapu dari pagi. Sekitar pukul 08.00 WIB kami sudah selesai menyapu dan meminta izin kepada Ibu Oci untuk ikut menemaninya pulang ke rumahnya yang berada di kampung yang sama dengan Ibu Manah. Jalanan yang kami tempuh bersama memang lebih dekat daripada jalan ke rumah Ibu Manah, namun tetap saja jalanan yang harus ditempuh cukup terjal dan licin sekaligus dipenuhi semak-semak. Sesampainya di rumahnya, kami disambut oleh kehadiran kucing-kucing manis serta ayam peliharaan Ibu Oci. Di rumahnya, kami berbagi banyak kisah dan canda tawa. Beliau bercerita bagaimana susahnya hidup beliau dan keluarga dulu. Beliau tidak termasuk dalam segelintir orang yang cukup beruntung untuk dapat mengecap pendidikan. Walaupun hanya lulusan SD, beliau tahu bahwa untuk menjadi sukses, pendidikan adalah kunci yang sangat penting. Oleh karena itu, beliau sangat terdorong untuk menyekolahkan anak-anaknya setinggi-tingginya. Akan tetapi, penghasilannya sebagai tukang sapu sangat lah kecil. 25 Maka dari itu, beliau tidak hanya bekerja menjadi tukang sapu, tetapi juga beberapa sambilan lainnya untuk menambah penghasilan untuk mencukupi kehidupannya. Sepulang menyapu, beliau menjadi pekerja cuci-gosok di beberapa rumah warga. Suaminya yang juga seorang tukang sapu, sepulangnya menyapu, selalu menyempatkan diri untuk memulung. Hasil yang dipulung akan dijual untuk menambah penghasilan mereka. Ibu Oci juga mengembangkan hasil kebunnya untuk dijual sebagai sedikit tambahan penghasilan walaupun tidak seberapa. Seperti rambutan, daun melinjo yang dijual hanya dengan Rp 5.000,00/kg, dan buah melinjo dengan harga Rp 3.000,00/kg. Lelah dan capai selalu dirasakannya. Tetapi, tidak sedikit pun beliau mengeluh. Cita-citanya yang tak tersampaikan, beliau salurkan kepada anak-anaknya. Dan hal inilah yang menjadi dorongan keras baginya untuk terus berjuang. Anak-anaknya yang mengerti perjuangan orang tua mereka, selalu membantu mereka. Mulai dari mengurus rumah hingga ikut membantu orang tua mereka mencari nafkah. Sekarang, hidup Ibu Oci sudah lebih makmur dengan berkurangnya tanggungan beliau. Tak hanya memikirkan pendapatannya pribadi, Ibu Oci menunjukkan kerukunan dan kepeduliannya kepada tetangga di kampungnya dengan sering membagi-bagikan hasil kebun yang beliau pelihara seperti buah rambutan yang ditanam persis di depan rumahnya. Beliau yang sangat ramah dan menggangap kami sebagai tamu, Ibu Oci langsung memanjat pohon rambutan dengan tangga bambu dan mengambil rambutan dengan gala. Gideon juga sempat mencoba untuk mengambil rambutan, ternyata tak semudah yang dilihat walaupun pada akhirnya Gideon berhasil mengambil seikat rambutan. Di akhir pertemuan singkat itu, Ibu Oci tanpa ragu membawakan kami pulang dua kantong rambutan, meskipun pada awalnya kami menolak, namun Ibu Oci tetap memaksa agar kami bawa sebagai tanda terima kasihnya. Setelah cukup lama bertanyatanya dan mengobrol dengan Ibu Oci, akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan melakukan kumpul kelompok untuk mulai membuat lirik lagu sebagai refleksi kelompok di McD Sunburst. 26 3.2.3 Tantangan Kami sempat berkeluh kesah karena harus merelakan hari libur kami (saat UAS kelas XII) dengan bangun lebih pagi dari biasanya. Bahkan, kami harus bangun lebih pagi dari pada jadwal bangun kami untuk berangkat ke sekolah. Kami sepakat untuk berkumpul di rumah Vania pukul 6 pagi. Hal ini dikarenakan Ibu Manah dan Ibu Oci selalu mulai bekerja dari subuh dan kami berniat untuk membantu mereka dari awal. Untuk mengatasi hal ini, kami memasang alarm masing-masing dan saling membangunkan satu sama lain dengan cara menelepon. Sempat ada yang ketiduran karena padatnya kegiatan akibat mengerjakan proyek lain, tapi segera menyusul ke daerah Nusa Loka. Hambatan berikutnya adalah pada awalnya kami mengira tidak memiliki peralatan lengkap untuk menyapu, yaitu sapu lidi dan pengki dan kami bingung apakah harus membeli sebanyak orang di kelompok kami, yaitu 6 orang. Pengki yang kami miliki semuanya untuk keperluan di dalam rumah dan tidak dapat kami bawa untuk membantu tukang sapu. Saat kami berjalan kaki dari rumah Vania menuju tempat Ibu Manah dan Ibu Oci memulai menyapu, kami mengira wilayah yang disapu tidak terlalu banyak dan kami berenam. Sehingga dalam pikiran kami, tidak akan membutuhkan terlalu banyak energi. Ternyata salah besar. Selesai menyapu daerah Ibu Manah kami cukup letih, padahal Ibu Manah sudah mulai lebih pagi dan menyapu hampir setengah dari daerah yang beliau sapu. Daerah yang disapu oleh Ibu Oci lebih banyak dan kami membantu dari awal, sehingga kami merasa sangat letih setelah membantu Ibu Oci menyapu. Gideon, Nia, dan Bagas sempat membantu Ibu Oci mengangkut sampah daun yang sudah dikarungi untuk dibuang ke tepi sungai di belakang wilayah Nusa Loka. Beban sampah daun itupun tidak seringan yang kami kira ditambah bau yang tidak enak. Pagi-pagi hujan rintik turun. Kami khawatir ibu-ibu tukang sapu absen melaksanakan tugasnya karena hujan, karena kami pun datang tanpa pemberitahuan. Untungnya kegiatan menyapu tetap dilaksanakan walau agak terlambat. Jalanan pagi hari saat membantu Ibu Manah masih basah akibat tersiram hujan, sehingga sampahsampah daun lebih lengket pada jalanan. Akibatnya kami harus mengeluarkan energi ekstra. 27 Tanah di daerah kampung rumah Ibu Manah dan Ibu Oci agak becek dan licin akibat siraman hujan. Kami harus berjalan ekstra hati-hati mengikuti beliau yang berjalan dengan gesit di depan, terutama jika ada tanjakan atau turunan. Kami harus merelakan kaki kami kotor terkena tanah merah. 3.2.4 Dukungan Kami didukung oleh anggota keluarga kami untuk mencari sapu lidi. Setelah diperiksa di rumah masing-masing, ternyata semua orang memiliki sapu lidi kecuali Vania. Untungnya setelah dicek kembali, Angel mempunyai 2 buah sapu dan dapat dipinjamkan kepada Vania. Mengenai pengki, kami bertanya pada Ibu Manah dan Ibu Oci dan mereka menyarankan untuk memakai kantung plastik. Orang tua kami membantu dalam membangunkan kami pagi-pagi agar bisa memulai kegiatan menyapu tepat waktu. Mereka juga membantu kami dalam hal mobilitas dari rumah masing-masing menuju rumah Vania sebagai meeting point. Orang tua Vania menyediakan sarapan pagi bagi kami di hari pertama. Intinya, orang tua memberikan dukungan penuh terhadap kami dalam melakukan pelayanan. Cuaca cukup mendukung kegiatan pelayanan kami yang dilakukan di outdoor. Hujan sempat turun dari subuh, tapi untungnya berhenti menjelang jam 6 pagi dan tidak hujan lagi hingga sore. Sehingga kami dapat menyapu bersama dengan Ibu Manah dan Ibu Oci, walau jadwal sedikit tergeser. Ibu Manah dan Ibu Oci bersedia dan terbuka dalam menerima bantuan kami. Mereka ramah sehingga kami dapat melakukan pendekatan dengan semaksimal mungkin. Mereka juga kooperatif dan tidak segan memberikan informasi dan berbagi cerita dan candaan kepada kami. Tak lupa, mereka menyisipkan kisah-kisah hidup mereka di selasela jawaban. Mereka juga terbuka dan menerima kami dalam rumah mereka dan tidak curiga terhadap kami. Keluarga mereka juga menerima dengan tangan terbuka. Kami diterima dengan tawa dan cengkrama. Mereka juga turut memberi informasi yang dapat membuat kami makin menyadari betapa beruntungnya kehidupan yang kami miliki. Mereka memberi kami kesempatan untuk melihat secara langsung kehidupan cucu dan anak-anaknya. 28 BAB IV REFLEKSI 4.1 Refleksi Kelompok (Lagu) Sebelum fajar menyapa kau tunjukkan smangatmu… Pilu membayangi setiap langkah yang kau lalui… Kau genggam tongkat penghidu…panmu. Jerih payahmu tak cukup untuk menghidupimu Namun tekadmu dan semangatmu Tak luntur oleh ribuan tantangan Reff : Kau tunjukkan semangat jiwa, bersyukur atas sgalanyaa Jangan menyerah walau sukar Bertekad dan peduli pada sesama walau ditolak Saatnya ku peka dan membuka hati Karnamu ku blajar syukuri hidupku yang layak Ku dapat siapkan masa depan tuk kejar mimpiku Kau tunjukkan suka cita hidupmu Kasihmu tiada batas tak akan tergantikan Dengan tekadmu dan semangatmu Tak luntur oleh ribuan makian 29 Back to reff Bridge : Tubuh kecilmu yang rentan tetap semangat Senyumanmu mengalihkan Tapi tiada yang tahu adakah luka di balik senyumanmu *transpose 1* Back to reff CODA : Ku kan mengingatmu Bersyukur peduli Tekad dan peka a… Come on lets praise our lord 3x 30 4.2 Refleksi Pribadi 4.2.1 Epifani Angelina Chandra XI IPA 1 / 07 Dari kegiatan pelayanan ini, saya belajar sangat banyak mulai dari persiapan sampai meyelesaikan laporan serta mulai dari berinteraksi dengan sesama anggota kelompok sampai dengan orang di daerah yang bahkan belum pernah saya masuki sebelumnya. Selama pelayanan ini, saya sangat belajar untuk pantang menyerah, berani mencoba, positif thinking, dan yang paling penting adalah bersyukur. Semangat pantang menyerah sangat saya pelajari dan dalami khususnya setelah beberapa kali kami mencoba untuk membantu orang tetapi ditolak dan beberapa kali gagal karena jadwal yang bertabrakan dengan jadwal sekolah. Jujur saja, awalnya saya merasa perencanaan kelompok kami sangat baik khususnya dibantu dengan adanya mobilisasi yang mudah. Namun, karena beberapa penolakan kami menjadi belum menemukan sasaran untuk melakukan pelayanan sampai minggu-minggu ketiga. Namun, menurut saya kelompok ini sangatlah hebat karena saling membantu dan aktif untuk mencari-cari alternatif lainnya. Di saat kelompok mendapatkan penolakan, anggota di kelompok tetap berusaha untuk bangkit dan mencari alternatif. Dengan adanya sikap pantang menyerah dari anggota kelompok, saya yang awalnya kecewa ditolak menjadi ikut bersemangat kembali. Saya pribadi menjadi lebih dekat dengan teman-teman di kelompok ini karena merekalah orangorang yang sering saya temui di luar jam sekolah walaupun hanya untuk sekedar mencari tahu keadaan kampung, makan nasi goreng untuk survey, dan lainnya. Selain pantang menyerah saat persiapan, dalam pelaksanaan pelayanan saya juga sangat belajar mengenai pantang menyerah khususnya dari Ibu Oci. Beliau adalah seorang yang sudah terlihat tua dan menurut saya lumayan rapuh bila dibandingkan diri saya, tetapi semangatnya saat menyapu tetap membara dan seperti tidak pernah lelah. Saya saja menyapu 1 jam sudah lelah dan berkeringat sangat banyak, tetapi Ibu Oci tetap melanjutkan menyapu sampai daerahnya selesai dibersihkan. Semangat dan kerja kerasnya sangat menginspirasi saya yaitu bahwa di saat saya merasa saya sudah lelah, masih ada orang lain yang mungkin merasakan hal yang sama namun ia perlu untuk tetap bekerja untuk menghidupinya. Dari hal tersebut, saya menjadi sadar bahwa saya perlu bersyukur punya hidup yang lebih mudah daripada Bu Oci yaitu bahwa saya tidak perlu membuang energi sebanyak Ibu Oci untuk mendapatkan hidup yang paspasan. Sikap pantang menyerah dari Ibu Oci saat ini menjadi alasan saya untuk 31 berusaha tetap menjalani hidup dengan bahagia walaupun banyak tugas, ulangan, dan lainnya. Nilai keberanian saya pelajari yaitu saat pertama kali survey ke kampung yang belum dikenal. Saya pribadi pernah ke kampung, tetapi biasa bersama orangtua. Namun saat ini adalah pertama kali saya pergi ke kampung yang belum dikenal bersama teman. Awalnya ada perasaan takut, namun setelah melihat keadaannya saya menjadi berani. Mungkin hal tersebut terlihat sepele, namun hal tersebut membuat saya tersadar bahwa apa yang kelihatannya menyeramkan, atau apa yang belum pernah dilakukan, belum tentu berarti tidak bisa dilakukan atau akan menghasilkan hal yang buruk. Saya menjadi belajar untuk berani mencoba hal-hal baru. Positive thinking khususnya muncul saat membantu Ibu Manah. Ibu Manah adalah seorang tukang sapu yang jauh lebih tua lagi dari pada Ibu Oci, tetapi ia selalu tersenyum saat bekerja dan sangat ramah walaupun memiliki gaji sangat kecil. Faktanya memang ia memiliki rumah yang lumayan bagus untuk ukuran seorang tukang sapu, tetapi saya yakin itu dikarenakan ada anak-anaknya yang membantunya. Hal yang saya pelajari dari Ibu Manah adalah keceriaannya menghadapi hidup dan senyumannya. Saya menjadi tersadar bahwa, Ibu Manah dengan keuangan yang sangat terbatas dan harus capek-capek bekerja saja tetap bisa ceria dalam hidupnya. Ia tidak pernah memarahi Allah karena ia hanya menjadi seorang tukang sapu. Tetapi, mengapa saya sering mengeluh padahal sudah memiliki hidup yang layak tanpa harus susah payah mendapatkan uang? Kerja keras saya sebagai seorang pelajar memang tidak bisa dibandingkan dengan kerja keras seorang tukang sapu, tetapi saya melihat bahwa tingkat bersyukur saya sangatlah kurang dibandingkan Ibu Manah. Saya tersadar bahwa saya lebih sering mengeluh dibanding bersyukur, padahal saya bisa hidup dengan layak dan tersokongi secara pasti, mendapat pendidikan, dan lainnya. Saya bersyukur memiliki Ibu Manah sebagai contoh bagi saya untuk lebih menghargai hidup ini, untuk selalu ceria dan ramah dalam menanggapi orang lain seperti yang Ibu Manah katakan, “Saya mah ada orang juga saya jawab pake senyuman.” Entah adakah luka di balik senyumannya, namun ia berusaha memberikan keceriaan dan hal positif kepada orang lain walaupun dirinya mungkin sedang kesulitan dan lainnya. Dari hal tersebut, saya menjadi belajar juga untuk tidak egois atau mencari perhatian dengan menunjukkan bahwa kita sedang kesulitan melainkan bertindak ramah dan tersenyum. 32 Dengan pelayanan ini, selain bersyukur memiliki hidup yang layak dan pendidikan, saya sangat bersyukur memiliki orangtua yang bisa mendapatkan pekerjaan yang layak dengan gaji yang layak juga. Saya juga bersyukur bahwa saya memiliki orangtua yang mau bekerja keras untuk membiayai hidup keluarganya. Saya semakin menyadari bahwa walaupun saya sering bertengkar dengan orangtua saya, mereka tetap orang yang menjadi alasan utama saya hidup di dunia ini. Tanpa mereka saya bukan siapa-siapa dan saya bersyukur mereka masih sehat. Hal tersebut saya sadari setelah mendengar cerita Ibu Oci yang sempat mengalami pendarahan karena kelelahan bekerja. Setelah mendengar kisah tersebut, jujur saya kaget tetapi saya beryukur bahwa saat ini ibu Oci sudah baik-baik saja. Saya berharap, jangan sampai orangtua saya sakit karena kelalahan bekerja atau bahkan kelelahan menghadapi saya yang sering keras kepala dan membantah mereka. Saya menjadi belajar untuk lebih menghargai orangtua saya karena tanpa mereka, belum tentu saya memiliki hidup seperti ini. Dalam diri Ibu Oci dan Ibu Manah, jujur saja awalnya saya tidak melihat sosok Allah. Namun, lama kelamaan saya melihat sisi Allah dalam diri mereka. Saya melihat sisi Allah yang penuh kasih dan yang meminta para Ibu yang menangisi diriNya untuk berhenti menangis (hal tersebut terlihat dalam diri Ibu Manah). Beliau memancarkan suatu sosok yang penuh keceriaan dan kasih, seakan-akan ia adalah oma saya sendiri. Sangat menyenangkan bisa membantu Ibu Manah dan berbagi kisah dengannya. Ia bahkan tidak segan-segan memperbolehkan kami ikut ke rumahnya dan selalu melihat sisi positif dari keadaan pendapatannya yang pas-pas-an, “Ya dicukupcukupi saja uangnya”. Hal tersebut membuat saya bersyukur atas segala kelemahan saya. Apapun kelemahan saya, saya harus tetap bersyukur dan untuk bisa melakukan atau mencapai suatu tujuan, saya harus mengerahkan segala yang saya miliki dan mengusahakan yang terbaik. Seperti kata Ibu Manah yang intinya adalah dicukupi saja apapun yang dimiliki. Saat berjalan ke rumah Ibu Manah, saya berjalan berdua dengannya di paling depan dan mendengar banyak cerita darinya. Dari semua kekurangan yang ia miliki (suami hanya bekerja apa adanya, pendapatannya Rp 500.000,00 dibagi dua dengan Ibu Oci per bulan, dan lainnya), ia tetap ceria dan sering berbicara. Saya melihat bahwa Ibu Manah tidak menutup-nutupi permasalahan yang ia miliki, tetapi ia juga tidak mencari perhatian untuk dikasihani atau sebagainya. 33 Dalam diri Ibu Oci, saya melihat sosok Allah yang pantang menyerah walaupun sudah jatuh dari salib bekali-kali. Ibu Oci tanpa pernah lelah tetap bekerja dan bekerja walaupun telah beberapa kali dikritik warga. Perjuangan Ibu Oci tidak kenal lelah, padahal saya dengan teman-teman menyapu membantunya saja sudah sangat lelah. Bagaimana bila dia bekerja sendiri? Itulah hal yang saya pertanyakan dalam benak saya berulang kali sehingga saya berpikir “Bila Ibu Oci saja bisa, saya pasti bisa.” Dari pelayanan ini, saya menyadari bahwa sebenarnya selama ini Tuhan sudah ada dalam hidup saya tetapi belum saya sadari. Tuhan ada dalam hidup saya melalui orangtua dan sesama saya. Saya menjadi sadar bahwa, orangtua saya sangat menggambarkan Allah yang penuh kasih, pantang menyerah, dan lainnya. Bahwa memang orangtua saya kerap kali sering marah dan lainnya, tetapi mereka berusaha bekerja sekeras mungkin untuk membiayai saya. Saya juga semakin tersadar bahwa mungkin kelompok pelayanan ini memang rencana Tuhan untuk memperdekat hubungan saya dengan setiap anggota kelompok. Saya sekarang menjadi lebih mengenal dan merasa memiliki seorang teman yang mau senantiasa membantu dan memberikan semangat walaupun saya sedang berada di saat terenda (contohnya saat ditolak untuk melakukan pelayanan). Saya melihat semuanya ini baik untuk dilaksanakan karena justru saya mendapatkan lebih banyak daripada yang bisa saya berikan kepada Ibu Oci maupun Ibu Manah. 4.2.2 Gideon Setyawan XI IPA 1 / 10 Melalui kegiatan pelayanan ini saya belajar banyak hal baru mengenai kehidupan. Pada proses mencari orang yang akan kami bantu, terasa sangatlah sulit untuk mendapatkan orang yang tepat, walaupun kami sudah survey ke cukup banyak kampung. Melalui hal ini, saya belajar kerja keras, bukan hanya sekadar kerja keras untuk mencari orang yang tepat, namun saya melihat bagaimana kehidupan orangorang yang secara ekonomi berada di posisi yang lebih rendah dari kita. Saya menyaksikan bagaimana ada judi, dan bagaimana banyak pedagang-pedagang yang harus merantau dari jauh, tinggal di kontrakan yang mungkin hanya 2,5 m x 2,5 m, namun mereka tetap mau menjalani hidupnya dengan kerja keras demi mendapatkan nafkah. Terlebih pula, Ibu Manah dan Ibu Oci, di usia yang sudah senja, mereka 34 masih dengan penuh semangat menjalankan pekerjaan mereka dengan gaji yang tidak seberapa. Di samping itu, saya juga belajar untuk bersyukur. Pada survey sebelum melakukan pelayanan, saya sempat bertanya pada seorang penjaga parkir di restoran cepat saji Mc Donald’s BSD, saya bertanya “Sehari-hari bapak ngapain?” dengan santai dan tanpa ada duka beliau menjawab “ yaa makan, tidur, parkir, begitu seterusnya”. Saya cukup heran, dalam benak saya “hidupnya hanya makan, tidur, parkir, kenapa terasa senang-senang saja...” Dari sini saya belajar, bahwa sebenarnya kunci dari suatu kebahagiaan dalam hidup bukan materi atau cinta atau kekuasaan, tetapi bagaimana kita mau mensyukuri dengan sungguh-sungguh apa yang kita miliki, itulah kunci kebahagiaan dalam hidup. Bukan masalah jumlah, berapapun jumlahnya, sedikit apapun, asalkan kita mau merasa cukup dengan bersyukur, semu akan terasa bahagia dan baik-baik saja. Terakhir, saya juga belajar untuk lebih dermawan pada mereka yang masih tergolong kurang mampu. Melihat kehidupan mereka secara lebih dekat, menggerakkan dan mengajarkan saya bahwa hidup mereka tidak semudah yang kita bayangkan. Dengan upah jauh dari standar hidup layak, dan jauh dari Upah Minimum Regional, saya merasa tidak ada salahnya kita membantu orang-orang ini. Tidak selalu harus dengan materi, namun bisa dengan usaha dan lain sebagainya. Saya harap kegiatan pelayanan ini bukan hanya terjadi karena ada Tugas Agama, namun sekiranya boleh berulang kembali atas inisiatif kelompok kami dan juga atas gerakkan dari hati masing-masing. 4.2.3 Leonardo XI IPA 1 / 16 Saya merasa senang dengan dilakukannya kegiatan pelayanan ini. Kelompok saya merupakan kelompok yang menurut saya sangat kooperatif dalam bekerja sama dan bersemangat dalam melakukan kegiatan pelayanan ini, sehingga saat tugas pelayanan ini baru diberikan kelompok saya langsung segera berdikusi dan terus melakukan survey. Awalnya kami ingin melakukan pelayanan di Puskesmas. Namun, karena prosedur yang menurut kami cukup rumit dan waktu yang kurang sesuai, kami akhirnya melakukan survey hingga ke kampung-kampung. Dari sini saya dapat melihat keadaan kampung yang ternyata masih terdapat beberapa tempat tinggal yang masih 35 kurang layak. Saya sempat terheran dengan kondisi Kampung Dadap yang kami kunjungi saat melakukan survey, saya melihat masih ada rumah yang luasnya hanya sepetak dan sangat banyak warga yang berjudi di teras rumah. Sebenarnya cukup banyak orang yang masih perlu dibantu, namun kami terus mencari yang orang atau tempat yang cocok bagi kegiatan pelayanan kami. Dari sini saya dapat belajar untuk lebih peka dan peduli terhadap lingkungan sekitar. Kelompok saya juga sempat mendapat penolakan untuk membantu seorang tukang nasi goreng. Walau demikian kami tidak menyerah dan menyempatkan diri untuk berdoa bersama serta terus mencari agar dapat menemukan tempat atau orang yang dapat kami bantu. Akhirnya, kami memutuskan untuk membantu tukang sapu di kompleks perumahan Nusa Loka sektor 14-4 yang direfrensikan oleh Vania Edra. Saat melakukan kegiatan pelayanan, yaitu membantu menyapu, saya harus bangun pagi-pagi untuk bersiap-siap menyapu, walaupun sejujurnya saya masih mengantuk. Saat membantu menyapu yang saya rasakan adalah ternyata cukup melelahkan, padahal saya dan teman sekelompok telah membagi tugas untuk menyapu di tempat yang berbeda agar pekerjaan menyapu ini dapat cepat selesai. Kemudian Saya membayangkan bahwa betapa lelahnya Ibu Manah dan Ibu Oci yang sudah tua terus bekerja keras menyapu seorang diri. Walaupun jerih payah mereka hanya terbalas upah yang terbilang sangat sedikit tetapi mereka tetap terus bersyukur. Mereka mengaku telah lama menjadi tukang sapu dan terus bekerja demi mencukupi kebutuhan keluarganya, hingga akhirnya dapat membesarkan anak-anaknya yang sekarang telah dapat bekerja. Oleh karena itu, saya juga belajar untuk harus tetap terus bersyukur atas segala sesuatu yang telah diberikan atau dialami. Selain nilai kerjasama dan kepedulian serta tetap terus bersyukur, selama proses survey hingga selesai melakukan pelayanan ini saya juga belajar untuk untuk bekerja keras dan pantang menyerah dalam melakukan suatu pekerjaan serta harus melakukannya dengan senang hati. Selain itu, saya juga belajar untuk membantu sesama yang membutuhkan bantuan atau pertolongan agar menjadi pribadi yang dapat berguna bagi orang lain. 36 4.2.4 Nathanael Bagas Waskito XI IPA 1 / 23 Dalam tugas pelayanan agama ini banyak yang saya lalui dan banyak hal yang dapat saya pelajarai mulai dari survey ke beberapa kampong, pencarian narasumber, ditolak beberapa orang dan juga akhirnya mendapatkan narasumber dan merasakan hidup beliau. Dari awal kelompok kami sudah cukup aktif dalam berdiskusi dengan semua anggota terlibat aktif jadi saya cukup senang. Namun, cukup sulit untuk mendapatkan seseorang yang akan kami layani. Kami memulai dengan beberapa option yaitu panti asuhan dan pengemis namun, setelah kami lakukan beberapa proses seperti berdiskusi, mendatangi tempat dan mencari orang, akhirnya kami tidak dapat memenuhi option option awal kami dan kami pun memutuskan untuk melakukan survey di beberapa kampong sekitar BSD. Meski tak semua anggota bisa ikut melakukan survey, kami tetap menjalankan. Namun diakhirnya, hasil dari survey pun tak berbuah hasil yang maksimal. Dengan deadline yang mengejar dan kebingungan namun kami pun mendapat seseorang yang bersedia untuk kami layani. Adalah seorang tukang sapu di komplek Nusa Loka. Beliau bernama Ibu Oci dan Ibu Mana. Beliau rendah hati dan baik serta ramah. Dari proses pencarian narasumber saya belajar bahwa tak semua yang kita pikirkan dan inginkan langsung didapatkan melainkan melalui sebuah proses dulu. Jika keputusan tersebut tidak benar dimata Tuhan maka Ia akan mencari jalan lain dan meski harus bersusah payah, akhirnya kami mendapatkan narasumber dan hal tersebut sangatlah menggembirakan melihat kerja keras kami selama ini. Saat membantu Ibu Oci dan Ibu Mana saya terkejut bahwa diusia yang sudah lanjut, Beliau tetap semangat bekerja dan dengan upah yang tak seberapa, beliau tetap semangat bekerja dan dengan sukacita melakukannya. Saya bisa belajar bahwa syukuri hal yang telah diberikan oleh Tuhan dan lakukan dengan gembira. Jangan malas dalam mengejar tujuan dan hadapi rintangan rintangan yang telah di siapkan untuk kita karena hal tersebut yang menjadikan kita kuat. Kurangi mengeluh akan hal yang telah menjadi kewajiban kita dan mulai menyukai hal yang benar benar saya niat lakukan. Saya juga belajar mensyukuri apa yang saya punya dan tidak melihat kekurangan saya namun melihat beribu kelebihan saya yang telah diberikan Tuhan kepada saya dan saya akan belajar dari kekurangan saya untuk meningkatkan diri saya sendiri. 37 4.2.5 Stania Liedwina XI IPA 1 / 29 Dari proses pelayanan yang sudah dilakukan oleh saya dan kelompok ini, saya bisa belajar banyak hal baik dari pengalaman menjalani kehidupan maupun nilai hidup. Pertama-tama dari proses membantu kedua tukang sapu kompleks Nusa Loka yaitu Ibu Manah dan Ibu Oci, saya belajar untuk mencoba merasakan mengenai sulit dan letihnya menjadi seorang tukang sapu. Awalnya saya mengira bahwa menjadi tukang sapu merupakan pekerjaan yang mudah karena hanya berjalan dan membersihkan daundaun kering di jalanan dan hanya membutuhkan waktu sebentar saja untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Namun ternyata saya salah besar. Selama 2 hari menyapu itu, ternyata sangat lelah menjadi seorang tukang sapu karena bukan hanya menyapu tapi juga harus mengangkat beban sampah-sampah daun di dalam karung yang sangat berat dan bau. Bayangan mudah yang saya pikirkan di awal sudah hilang total. Saat saya bermain dan ikut menemani Ibu Manah dan Ibu Oci pulang ke rumahnya di kampung dekat dengan kompleks perumahan Nusa Loka, saya ikut merasakan sedikit mengenai suasana dan perjalanan ke dalam kampung tersebut. Tanah licin sehabis hujan, kotor, bermacam binatang berkeliaran di mana-mana, dan tanaman hijau tersebar merangkul dan mengajak saya untuk semakin dekat dan mencintai alam dibandingkan pemandangan setiap hari yaitu kompleks perumahan dan kendaraan-kendaraan bermotor. Dari proses dan pengalaman tersebut hal utama yang saya pelajari adalah bersyukur. Bersyukur di sini adalah mensyukuri setiap hal kecil yang telah Tuhan berikan dalam hidup saya. Saya sadar bahwa sesuatu yang harus disyukuri tidak perlu merupakan hal-hal besar yang terkait dengan prestasi atau harta atau lainnya. Tapi lebih bersyukur pada nafas, kesehatan yang baik, orang tua, serta teman-teman yang baik yang ada di sekitar saya yang membantu saya untuk bisa berkembang hingga saat ini. Dari Ibu Manah dan Ibu Oci, saya benar-benar bersyukur bahwa saat ini saya boleh merasakan kehidupan yang jauh lebih layak dan lebih beruntung dari mereka, bahwa saya memiliki orang tua yang bekerja dan mampu mencukupi kebutuhan serta pendidikan yang boleh saya dapatkan di sekolah karena Ibu Manah dan Ibu Oci saja tidak bersekolah namun tetap bersemangat bekerja secara halal lewat menyapu untuk menghidupi anak-anaknya agar lebih berhasil dan lebih sukses dari mereka. Selain itu, saya belajar untuk mandiri dan pantang menyerah dalam melakukan sesuatu, saya belajar bahwa saya harus berusaha dalam mengejar sesuatu, bukan tergantung dan mengandalkan orang lain terus menerus. Saya juga semakin terketuk untuk menjaga dan menghormati kedua orang tua saya, bukan sebagai balasan apa-apa karena saya merasa kasih orang tua tak akan bisa 38 terbalas, namun lebih kepada penghargaan saya kepada orang tua saya. Saya juga belajar untuk tidak menyerah dalam mengejar impian, seperti Ibu Manah dan Ibu Oci. Terlepas dari itu, pada saat proses pelayanan tersebut saya sungguh melihat diri Allah hadir di tengah-tengah hidup mereka dan saya pada saat itu. Dalam diri Ibu Manah dan Ibu Oci, saya melihat Allah hadir dalam rupa sukacita dan kasih. Sukacita terlukis dalam diri kedua Ibu tersebut bahwa walaupun mereka lelah, kekurangan, maupun kesulitan mereka tetap mampu tersenyum dengan penuh sukacita untuk mau melayani orang-orang di sekitar lewat menyapu sampah daun yang berserakan. Mereka tanpa kenal lelah, terus maju dan tidak mudah menyerah dalam menjalani pekerjaan mereka. Mereka tetap mensyukuri apa yang bisa mereka punya dan jalani hingga saat itu dengan sukacita penuh. Kedua, saya melihat bahwa kasih melingkupi hidup Ibu Manah dan Ibu Oci. Meskipun menjalani hidup yang ‘pas-pas-an’ bahkan seringkali kekurangan, mereka masih memiliki keluarga yang bahagia dan saling mengasihi yang senantiasa ada, mendukung, dan menerima mereka sebagai orang tuanya. Anak-anaknya sangat mandiri dan tidak merepotkan keduanya, bahkan ingin meringankan beban ibunya dengan bekerja masing-masing untuk juga membantu keperluan Ibu Manah dan Ibu Oci. Kasih terlebih juga dimiliki oleh kedua Ibu tersebut. Mereka sama-sama mau menjadi tukang sapu, bukan semata-mata mencukupi kepentingan pribadinya saja. Tapi lebih kepada niat mereka untuk bisa menghidupi anakanaknya dan memberikan mereka pendidikan tinggi yang layak agar kelak anak-anaknya dapat berkembang dan memiliki karier yang jauh lebih sukses daripada ibunya. Saya merasa bahwa kasih yang dimiliki kedua ibu tersebut sangat luar biasa, kasih kepada anak-anaknya. Demikian anak-anaknya yang juga mengasihi mereka, karena Ibu Oci pernah bercerita ketika dirinya mengalami sakit pendarahan di rahimnya, anak-anaknya begitu peduli dan mengasihi ibunya sampai menyampaikan pesan agar ibunya jangan kelelahan karena mereka tidak mau ibunya meninggalkan mereka karena mereka sangat membutuhkan kehadiran Ibu Oci di tengah-tengah mereka. Jujur, saya tersentuh dan merasakan bahwa kasih sangat tinggal di tengah-tengah keluarga mereka. Tidak hanya dalam hidup mereka saat itu, saya merasa bahwa Allah juga hadir dan menyertai perjalanan kelompok saya dalam menjalankan proyek pelayanan ini mulai dari proses perencanaan hingga pelaksanaannya. Bagi saya, yang paling berkesan dan akan teringat dalam hidup saya adalah pada proses perencanaan, terutama dalam pencarian target. Pada diskusi kelompok awal, saya merasa bahwa pelayanan ini 39 akan mudah dilakukan, melihat bahwa kelompok saya memiliki banyak ide dan kreatifitas target-target yang akan dilayani , yang umumnya jarang dilakukan oleh pelayanan-pelayanan sebelumnya, yakni membantu di Puskesmas, membantu seorang tukang sapu, membantu seorang penjual nasi goreng gerobak, dan seorang Bapak pengemis yang sudah tidak memiliki kaki. Namun ketika kelompok kami melakukan survey beberapa kali (bahkan hingga mengelilingi 3 wilayah kampung), kami merasa kesulitan dan hingga pada suatu titik sudah menemukan target, kami mendapat penolakan (penjual nasi goreng) dan mengundurkan diri dari rencana karena prosedural yang sulit (puskesmas). Saya merasa benar-benar kelelahan di awal yakni pada tahap pencarian orang yang akan dilayani. Namun di sini, kehadiran Allah kembali saya rasakan lewat semangat dan dorongan untuk pantang menyerah. Sebelum melakukan survey, kelompok kami berdoa dan membacakan ayat pegangan pelayanan kami yakni Matius 20: 28, bersama-sama bersatu dalam iman untuk meminta kehadiran dan pertolongan Tuhan agar kami boleh segera menemukan orang yang tepat untuk bisa kami layani. Memang beberapa pertemuan, kelompok saya lupa berdoa termasuk saya juga salah karena tidak mengingatkan. Namun ketika satu malam, kami benar-benar merasa Allah harus kami ikutsertakan dengan berdoa dan membacakan ayat tersebut, saya merasa dalam keheningan malam tersebut, Allah mau menyatu dan membantu kelompok saya meskipun harus lelah dan putus asa. Hingga setelah ditolak oleh penjual nasi goreng, kami diizinkan untuk boleh membantu Ibu Manah dan Ibu Oci, sebagai tukang sapu kompleks Nusa Loka. Di situ saya benar-benar merasa, Allah tidak berhenti bekerja dan mau menolong kelompok saya. Keputusasaan dan keletihan pencarian tersebut, mungkin hanyalah jembatan dan perantara dari Allah untuk sampai pada suatu rencana tepat bagi pelayanan yang dilakukan oleh kelompok saya. Pada proses pelaksanaannya sendiri, saya juga merasa Allah kembali hadir meskipun hanya dalam kegiatan menyapu jalanan. Saya merasakan sukacita hadir dalam diri saya dan Ibu Manah serta Ibu Oci. Ketika saya berkata lelah dan salut pada mereka, Ibu Manah dan Ibu Oci justru tetap tersenyum dan merasa ini adalah suatu hal yang patut disyukuri, daripada tidak bekerja sama sekali. Saya merasa ikut senang, bahwa meskipun lelah Allah mendorong kami untuk tetap semangat, pantang menyerah, dan terus bekerja untuk melayani sesama dan merawat kebersihan lingkungan. Berkaitan dengan proyek pelayanan dan apabila lebih jauh menyelami hidup pribadi saya saat ini, saya merasa bahwa Allah selalu bekerja dalam setiap hal kecil 40 maupun hal besar dalam hidup saya. Satu hal yang paling saya sadari adalah saya benar-benar bersyukur karena kasih Allah sungguh luar biasa ada dalam hidup saya. Hal ini saya rasakan terutama setelah saya berdoa baik untuk mengucap syukur, menceritakan masalah, maupun meminta suatu hal atau solusi. Hal ini saya lihat pelajari dari kedua Ibu tersebut yang sangat rajin mengikuti pengajian dan sholat 5 waktu, sebagai wujud kedekatan diri dengan Allah. Saya merasa memang apa yang saya inginkan tidak secara langsung terpenuhi atau diberikan Allah, namun saya lebih merasakan kedamaian setelah berdoa dan berbicara pada Allah. Saya sungguh mendapatkan kasih dan penyertaan-Nya. Tidak perlu pada hal yang besar, kasih Allah ini hadir dalam rupa orang tua, teman-teman, lingkungan, dan hal-hal di sekitar saya. Hingga kini, saya benar-benar bersyukur bahwa Allah masih memberikan kesehatan yang baik pada kedua orang tua saya. Apabila sakit, Ia sembuhkan dan apabila ada masalah melanda keluarga saya, Ia tuntun agar selesai dengan baik. Hingga dampaknya saya dan keluarga saya boleh hidup layak dan berkecukupan hingga saat ini. Tidak seperti Ibu Manah dan Ibu Oci, saya boleh mengeyam pendidikan formal di sekolah meskipun memang seringkali saya merasa malas atau mengeluh untuk bersekolah lantaran banyak tugas dan ulangan. Tapi ketika saya sadari dan syukuri lagi, masih banyak teman-teman saya di luar sana yang belum bisa bersekolah terlebih karena kesulitan finansial orang tuanya. Seperti karena proyek pelayanan dan bertemu kedua ibu tersebut, saya tidak bisa memungkiri bahwa harta dan pendidikan memang penting di dunia ini. Akan tetapi, tentunya hal tersebut harus bisa dimanfaatkan secara positif dalam hidup. Allah juga hadir dalam hidup saya lewat cinta dan sukacita yang boleh saya rasakan bersama orang tua, saudara, dan teman-teman. Saya merasa, apabila saya senang, sedih, takut, marah, ataupun dihadang masalah, Allah mengulurkan tangan-Nya lewat bantuan orang-orang yang ada di sekitar saya. Ketika saya senang, saya seringkali pula meninggalkan Allah dan lupa bersyukur (lebih fokus pada kesenangan itu). Namun baiknya, Allah tak pernah meninggalkan saya dalam keadaan sebaliknya. Banyak cobaan yang Ia berikan, namun pada akhirnya saya pasti mendapat jalan keluar dan pembelajaran yang berarti yang diberikan baik lewat orang tua, saudara, maupun temanteman. Ketika saya sakit, orang tua senantiasa mau merawat dengan sabar dan penuh perhatian. Ketika saya kesepian dan sedih, ada kakak yang mau menemani meskipun harus dengan jalan pertengkaran satu sama lain. Ketika saya membutuhkan teman bercerita, ada teman-teman yang siap mendengarkan dan memberikan masukan. Lewat tangan-tangan orang-orang di sekitar saya itulah, saya merasa Allah selalu hadir dalam 41 hidup saya, bukan dalam wujud fisik namun lebih kepada makanan rohani dan kasihNya yang amat besar sehingga saya sangat bersyukur boleh merasakan cinta kasih Allah di dunia ini. 4.2.6 Vania Edra Christabel N. XI IPA 1 / 31 Dari tugas pelayanan agama ini saya mendapat banyak sekali nilai penting. Pertama-tama, dimulai dari kelompok saya sendiri. Tanpa perlu disebut, tentulah kerja sama menjadi poin penting dalam kerja bersama dan saya senang karena kelompok saya sangat proaktif. Namun, disini saya menemukan hal lain yaitu saling mengerti dan rela berkorban. Sebelum kami melaksanakan tugas ini, kami melakukan beberapa survey. Dan dalam melakukan survey, tidak semua orang fleksibel dalam jadwal, sehingga siapapun yang bisa dan mau dapat ikut survey. Ada beberapa kali survey dan sayangnya saya hanya bisa mengikuti survey terakhir. Teman-teman saya sangat mengerti dengan keadaan saya yang sedang agak padat kala itu. Saya pun tetap tahu diri dengan ikut dalam setiap diskusi mereka, walau hanya sebatas line chat dan telepon. Saat melakukan survey pun, sempat ada rasa putus asa melingkupi kami. Saya pun secara personal merasa susah sekali untuk menemukan orang yang pas untuk ditolong. Ada yang butuh surat ijin ke pemerintah, ada yang kalau dibantu malah menyusahkan, ada yang menurut saya sudah cukup mapan, bahkan ada yang menolak untuk ditolong. Padahal biasanya orang ‘teriak-teriak’ untuk minta tolong, tapi mengapa sekarang, saat niatnya ada, yang ditolong malah tidak ada. Tak lupa, kami selalu mengakhiri setiap survey kami dengan doa, dan meminta pertolongan Tuhan untuk mempertemukan kami dengan orang yang harus kami tolong. Setelah akhirnya bertemu dengan Ibu Oci dan Ibu Manah, pelayanan kami pun dimulai. Saya meremehkan pekerjaan ini pada awalnya. Tak disangka ternyata menyapu jalanan tidaklah mudah dan membuat letih. Tetapi mereka berdua tetap berseri dan bersukacita, mensyukuri kehidupan yang mereka miliki. Saya masih ingat bagaimana Ibu Manah sangat bersyukur memiliki rumah mungilnya dan keluarganya. Jika dibandingkan dengan saya, tentulah saya harus bisa lebih dan lebih bersyukur lagi. Saya pun belajar untuk tidak meremehkan pekerjaan kecil seperti tukang sapu. Tanpa mereka, lingkungan di sekitar rumah saya pun tidak bisa bersih seperti sekarang dan malah akan menjadi 42 sarang penyakit dan menyebabkan banjir, mengingat adanya sungai di belakang komplek saya. Dari Ibu Oci, saya belajar lebih banyak lagi. Hal pertama adalah daya juang. Dari cerita-ceritanya, saya tahu bagaimana kerasnya Beliau berjuang. Mungkin sekarang Beliau sudah bisa lebih santai karena anak-anaknya sudah mapan. Tetapi dulu, Beliau bekerja begitu keras demi anak-anaknya. Disamping menyapu, Beliau mengerjakan beberapa pekerjaan lagi. Berdua bersama suaminya, mereka membangun kehidupan yang lebih layak untuk anak-anaknya. Dibandingkan dengan saya, yang diberi PR dan tugas setumpuk saja sudah mengeluh, saya merasa sangat malu. Rintangan saya tersebut tidak sebanding dengan rintangan yang Ibu Oci hadapi. Tapi Beliau terus berjuang. Hal utama yang saya lihat dari dalam diri Ibu Oci adalah cinta kasih. Semua daya juang itu Beliau dapatkan dari kasihnya pada anak-anaknya. Apa lagi yang dapat mendorong Beliau bekerja begitu keras membanting tulang selain melihat anak-anaknya dapat sekolah setinggi mungkin dan sukses, sementara dirinya sendiri saja tidak mengecap pendidikan? Keinginan kuat orang tua agar anaknya tidak hidup susah sangat membuat saya terharu. Saya sadar sekarang, bagaimana orang tua saya pun mencintai saya begitu dalam. Hanya saja saya menutup mata akan semua itu. Yang saya lihat hanyalah kejelekan mereka, yang tak jarang membuat saya jengkel terhadap mereka. Padahal, di setiap omelan dan teguran mereka terdapat pikiran yang terus-menerus mengkhawatirkan saya. Dari kegiatan membantu tukang sapu ini, saya memiliki beberapa tekad. Saya ingin lebih peka terhadap sesama, terutama mereka yang butuh bantuan saya. Memasang telinga dan mata, serta menyiagakan tangan untuk selalu siap membantu. Karena sekarang saya tahu, walaupun saya sudah niat dan bertekad untuk membantu orang, tapi jika hati saya belum siap, maka Tuhan tidak akan mempertemuka saya dengan orang yang membutuhkan pertolongan saya. Saya mau membantu meringankan beban orang, sedikit-sedikit namun pasti, lalu mengurangi mengeluh. Lama-kelamaan tanpa saya sadari, hal itu sudah menjadi kebiasaan dan otomatis, secara naluriah menjadi panggilan saya untuk menolong orang di sekitar saya. Saya pun belajar untuk tidak meremehkan pekerjaan orang kecil. Hal ini dapat saya wujudkan mulai dengan membantu pembantu saya mengerjakan pekerjaan rumah apabila saya memang sedang senggang, atau kalau bisa saya sempatkan waktu. Selain 43 Beliau merasa pekerjaannya lebih ringan, waktu ini pun dapat saya gunakan untuk mencoba mengenal dia lebih dalam. Sehingga, kalau saya nanti sudah besar dan sudah sukses, saya tidak menjadi sombong dan lupa kepada orang-orang lain yang turut membantu saya. Berdaya juang adalah hal utama yang dibutuhkan dalam sukses. Tetapi ada sisi lain yang saya pelajari dari tugas ini. Ternyata, berdaya juang juga dibutuhkan dalam menolong seseorang. Disamping daya juang dibutuhkan konsistensi. Hal ini akan saya wujudkan dalam pembelajaran saya yang masih lebih dikuasai rasa malas. Tidak hanya memikirkan diri sendiri, tapi juga membantu teman-teman saya yang kurang dalam pelajaran. Terakhir, saya belajar untuk lebih mencintai orang tua saya. Saya belajar untuk tidak hanya memikirkan diri saya sendiri, mau saya sendiri. Tapi bagaimana mengerti apa yang orang tua mau dan harapkan ada pada diri saya. Karena sudah begitu banyak yang orang tua saya berikan pada saya, kini waktunya saya membuat mereka bangga telah membesarkan saya sekian lama. Saya ingin masuk ke perguruan tinggi yang bagus dan sukses. Saya ingin tetap memperhatikan serta membangun sebuah rumah untuk tempat istirahat orang tua saya waktu tua nanti. 44 BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Jadi, dari seluruh rangkaian proses pada proyek pelayanan yang telah dilakukan, kami mempelajari beberapa hal penting, yakni selalu mau bersyukur, pantang menyerah, dan bertekad dalam melakukan sesuatu. Tak lupa, selalu bersikap peka dan membuka hati kepada sesama yang membutuhkan di sekitar kami. Pada akhirnya, kami merasa proyek pelayanan ini sangat berharga dan bermanfaat bukan semata-mata sebagai formalitas tugas, namun lebih kepada pengembangan karakter diri masing-masing anggota terutama dalam berelasi dengan Tuhan dan sesama. 5.2 Kritik dan Saran Kelompok untuk Proyek Pelayanan Setelah melaksanakan proyek pelayanan ini, kelompok kami memiliki beberapa kritik dan saran untuk tugas proyek pelayanan sebagai berikut: Kurangnya alokasi waktu yang diberikan untuk melakukan proyek pelayanan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan pembuatan laporan. Alokasi waktu pengerjaan proyek dirasa kurang karena kelompok kami merasa bahwa prosesnya membutuhkan waktu yang tidak sedikit karena untuk mencari target yang akan dilayani sendiri cukup sulit. Hal ini atas pertimbangan bahwa apabila individual seringkali ditolak, prosedural yang rumit apabila targetnya adalah suatu organisasi atau institusi, atau sulitnya mencari alternatif lain di samping target pelayanan yang sudah biasa dilakukan (seperti panti asuhan atau panti jompo). Sehingga kelompok kami menyarankan agar alokasi waktu pengerjaan proyek pelayanan diberikan lebih lama lagi agar perencanaan bisa dibuat lebih matang sehingga prosesnya dapat berjalan lebih maksimal. Pengumpulan laporan proyek laporan dalam bentuk hardcopy berupa laporan tertulis yang formal menimbulkan kesan kaku dan kurang kreatif. Kelompok kami merasa apabila seluruh rangkaian proses pelayanan didokumentasikan dalam bentuk laporan tertulis akan menimbulkan kesan bosan dan monoton, melihat bahwa dominasi produk hanya berupa tulisan di samping foto-foto hasil dokumentasi proses pelayanan. Sehingga saran kelompok kami ada baiknya apabila produk akhir proyek pelayanan ini dikemas dan disajikan dalam 45 bentuk video (audio-visual) sehingga penyajiannya dapat lebih dikreasikan secara lebih menarik dengan pemasukan gambar, foto, lagu, kronologi kejadian, dan lainnya. Sehingga kesan ‘tulisan’ tidak terlalu mendominasi sehingga akhirnya hasilnya tidak membosankan dan monoton. Selain itu, produk berupa audio-visual dirasa dapat mempersingkat durasi produk akhir dibandingkan dengan laporan tertulis yang biasanya membutuhkan banyak halaman untuk melaporkan seluruh rangkaian proses pelayanan. 5.3 Kritik dan Saran untuk Kelompok Sebaiknya pengerjaan laporan dilakukan dengan memanfaatkan sistem menyicil meskipun banyak tugas dan ulangan pada pelajaran lain juga. Sehingga pengerjaan laporan tidak dikejar pada hari mendekati pengumpulan tugas. 5.4 Kritik dan Saran Kelompok untuk Pembina Kelompok kami merasa bahwa pembina, Pak Eron, sudah cukup menjelaskan dan mengelaborasikan tugas yang harus kami lakukan dengan cukup detail. Beliau sangat memotivasi dan mendorong kami bahwa proses pelayanan ini bukan dilakukan hanya sematamata mengerjakan tugas dan memperoleh nilai saja. Tapi lebih kepada penerapannya dalam hidup dan mengasah kepedulian kami terhadap sesama yang kesepian dan membutuhkan. Namun kelompok kami masih merasa bahwa Pak Eron masih kurang membina dan mengontrol masing-masing kelompok secara mendalam dan detail. Beliau memang sudah cukup aktif menanyakan mengenai progress kerja masing-masing kelompok, namun hanya sebatas bertanya dan kurang menanggapi kelanjutannya lebih detail. Sehingga diharapkan untuk selanjutnya pembina dapat menanyakan dan mengontrol masing-masing kelompok secara lebih menyeluruh agar kelompok dapat memahami sejauh mana prosesnya sudah dilakukan dengan benar dan efektif, terutama dalam mencari target yang akan dilayani. Kedua, kelompok kami merasa bahwa media yang digunakan pembina sebagai pengantar untuk memancing dan mengaplikasikan proyek ini dalam kehidupan sehari-hari, yakni film Wedding Dress, kurang memiliki kaitan dan hubungan secara langsung. Kami 46 merasa bahwa film Wedding Dress ini lebih mengarah pada kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Memang apabila dilihat lebih dalam, film tersebut menunjukkan bahwa seorang ibu begitu tulus menemani anaknya dan melayani anaknya meskipun terhalang oleh penyakit. Namun menurut kami film tersebut jauh lebih mengarah pada hakikat seorang ibu yang selalu mengasihi anaknya, bukan pada proses seseorang melakukan pelayanan bagi sesama di sekitar yang masih membutuhkan dan kekurangan karena proyek yang kami lakukan ini lebih mengarah pada kepedulian seseorang untuk melihat keadaan sekitar bahwa masih banyak orang yang kurang beruntung bahkan kesepian sehingga layak untuk mendapatkan teman untuk menemani mereka. Terakhir, kami merasa pembimbing dalam kegiatan ini, Pak Eron, kurang membahas film Wedding Dress ini secara mendetail, meskipun film ini dimaksudkan untuk mengajak siswa untuk lebih mendalami kegiatan pelayanan ini. 5.5 Laporan Dokumentasi (Foto) 5.5.1 Proses melakukan survey Survey di kampung dekat Taman Giri Loka 47 Survey di Kampung Dadap di dekat Anggrek Loka; salah satu ibu Ketua RT 5.5.2 Menyapu bersama Ibu Manah Seusai menyapu bersama Ibu Manah 48 Perjalanan ke rumah Ibu Manah Usai menyapu bersama Ibu Manah 49 Bermain bersama cucu Ibu Manah, Indra 5.5.3 Menyapu bersama Ibu Oci Saat menyapu bersama Ibu Oci 50 Perjalanan ke rumah Ibu Oci Mengambil rambutan dari kebun Ibu Oci (kiri: gideon, kanan: Ibu Oci) 51 Seusai menyapu di rumah Ibu Oci Pekarangan depan rumah Ibu Oci 52

Judul: Serviam Jurnal 3

Oleh: Eron Yuwan


Ikuti kami