Jurnal Nisa Rahmatunisa

Oleh Nisa Rahmatunisa

257 KB 4 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Jurnal Nisa Rahmatunisa

Pengaruh Bina Keluarga Remaja terhadap peran orang tua dalam pencegahan kenakalan remaja (Nisa Rahmatunisa) PENGARUH BINA KELUARGA REMAJA TERHADAP PERAN ORANG TUA DALAM PENCEGAHAN KENAKALAN REMAJA Nisa Rahmatunisa UIN Sunan Gunung Djati, Jln. AH. Nasution 105 Bandung 40614. Telp. 022-7803936 Icarahmatunisa@gmail.com Abstract The purpose of this study is to find out how much influence of Youth Adolescent Development on the role of parents in the prevention of juvenile delinquency. This research uses experimental method and using approach with quantitative research method. . Research subjects used 56 members of Youth Family Development in Gedebage. The number of research samples were 48 people, selected by simple random sampling technique. Statistical analysis used is simple regression analysis. Based on data processing using SPSS version 20, obtained value of significance Pv (0.000) <0.05 This shows H0 rejected, so there is a significant influence of Youth Family Development on the role of parents in overcoming juvenile delinquency. The coefficient of determination r2 = 0.295 so that the Coefficient of Determination obtained is 29.5%. This shows that the percentage of adolescent Youth Development on Parents' Roles in Youth Delinquency prevention is 29.5% and not by other variables other than Youth Family Development or beyond the variables studied. Keyword : Youth Family Development, Youth, Parents, Juvenile Delinquency Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Bina Keluarga Remaja terhadap peran orang tua dalam pencegahan kenakalan remaja. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dan menggunakan pendekatan dengan metode penelitian kuantitatif. . Subjek penelitian pakai 56 orang anggota Bina Keluarga Remaja yang ada di Gedebage. Jumlah sampel penelitian sebanyak 48 orang, dipilih dengan teknik simple random sampling. Analisis statistik yang digunakan adalah analisis regresi sederhana. Berdasarkan pengolahan data dengan menggunakan SPSS versi 20, diperoleh nilai signifikansi Pv (0,000) <0,05 Hal ini menunjukkan H0 ditolak, sehingga ada pengaruh signifikan Bina Keluarga Remaja terhadap peran orang tua dalam mengatasi kenakalan remaja. Koefisien determinasi r2 = 0,295 sehingga Koefisien Determinasi yang didapat adalah 29,5%. Hal hal ini menunjukkan persentase Bina Keluarga Remaja terhadap Peran Orang Tua dalam pencegahan Kenakalan Remaja adalah 29,5% dan bukan oleh variabel lain selain Bina Keluarga Remaja atau di luar variabel yang diteliti. Kata Kunci : Bina Keluarga Remaja, Remaja, Orang Tua, Kenakalan Remaja PENDAHULUAN Perkembangan dunia yang semakin menggobal, menjadikan perubahan-perubahan besar terhadap perilaku remaja, namun perubahan tersebut lebih cenderung mengarah pada kegiatan negatif dibanding positifnya. Masalah remaja yang timbul biasanya berkaitan dengan masalah seksualitas (Hamil di luar nikah, aborsi), AIDS, penyalahgunaan Napza dan sebagainya. Remaja sejatinya adalah harapan semua bangsa, negara-negara yang memiliki remaja yang kuat serta memiliki kecerdasan sprititual, intelektual serta emosional yang kuat menjadikan bangsa tersebut kelak akan kuat pula. Remaja dalam kondisi ini tentu saja membutuhkan penanganan serta informasi seluas-luasnya mengenai kesehatan reproduksi, pentingnya menata masa depan dengan baik lewat meninggalkan perilaku yang tidak bermanfaat dan merusak masa depan remaja itu sendiri. Menjalani kehidupan remaja yang jauh dari perilaku sex bebas, pernikahan dini dan ketergantungan pada obat-obatan terlarang serta menjauhkan diri dari bahaya AIDS tentulah membutuhkan perhatian kita semua. Remaja tidak bisa berjalan sendirian tanpa pendampingan orang tua, masyarakat lingkungan serta negaranya. Menyadari ini maka BKKBN (Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional) sebagai wakil pemerintah yang bertanggung jawab menjalankan program PKBR (Penyiapan Kehidupan Berkeluarga bagi Remaja) suatu program yang memfasilitasi remaja agar belajar memahami dan mempraktikan perilaku hidup sehat dan berakhlak untuk mencapai ketahanan remaja sebagai dasar mewujudkan Generasi Berencana (GenRe). Untuk menjalankan niat mulia tersebut tentulah memerlukan strategi yang jitu, berkesinambungan serta melibatkan banyak pihak, baik dari institusi pendidikan sebagai tempat berkumpulnya aktifitas remaja dan pemerintah daerah sebagai pendukung dan pemegang kebijakan di suatu daerah. Pentingnya BKKBN memiki Public Relation yang terencana, baik itu menyangkut komunikasi ke dalam serta komunikasi ke luar diharapkan mampu menjadikan program GenRe ini berjalan dengan sukses. Tujuan dan Sasaran Genre Remaja usia (10-24 tahun) dan belum menikah, mahasiswa/mahasiswi yang belum menikah, keluarga yang memiliki remaja serta, masyarakat yang peduli terhadap remaja sebagai sasaran utama dari program GenRe harus masuk dan terlibat langsung dan memahami pentingnya akan tujuan dari program keluarga Berencana (GenRe). Pendekatan BKKBN dengan melibatkan pihak sekolah dan kampus sebagai bagian dari mendekatkan GenRe dengan komunitasnya yaitu remaja sekolah/mahasiswa yang telah berjalan selama ini tentulah harus mendapatkan dukungan dari semua pihak baik itu dari guru dan kampus dimana remaja dan mahasiswa itu beraktifitas. Masa remaja merupakan masa transisi dalam rentang kehidupan manusia, menghubungkan masa kanakkanak dan masa dewasa (Santrock, 2015) Masa remaja juga disebut sebagai masa penghubung atau masa peralihan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Pada periode ini terjadi perubahan-perubahan besar dan esensial mengenai kematangan fungsi-fungsi rohaniah dan jasmaniah, terutama fungsi seksual. Jelas dikatakan diatas bahwa remaja merupakan periode atau masa yang rentan. Maka kita sudah tidak tabu ketika mendengar kenakal remaja yang banyak terjadi. Sudah bukan hal aneh jika terjadi permasalahan yang dilakukanoleh remaja, bukan hanya di Kecamatan Gedebage saja namun disekitar tempat kitapun selalu mendengar permalashan yang terjadi. Dengan hal ini maka benar pentingnya program Bina Keluarga Remaja sebagai pelatihan untuk membimbing para orang tua yang memiliki remaja. Remaja, yang dalam bahasa aslinya disebut adolescence, berasal dari bahasa Latin adolescare yang artinya “tumbuh atau tumbuh untuk mencapai kematangan”. Bangsa primitif dan orang-orang purbakala memandang masa puber dan masa remaja tidak berbeda dengan periode lain dalam rentang kehidupan. Anak dianggap sudah dewasa apabila sudah mampu mengadakan reproduksi (Ali & Asrori, 2006). Menurut Rice (dalam Gunarsa, 2004), masa remaja adalah masa peralihan, ketika individu tumbuh dari masa anak-anak menjadi individu yang memiliki kematangan. Pada masa tersebut, ada dua hal penting Pengaruh Bina Keluarga Remaja terhadap peran orang tua dalam pencegahan kenakalan remaja (Nisa Rahmatunisa) menyebabkan remaja melakukan pengendalian diri. Dua hal tersebut adalah, pertama, hal yang bersifat eksternal, yaitu adanya perubahan lingkungan, dan kedua adalah hal yang bersifat internal, yaitu karakteristik di dalam diri remaja yang membuat remaja relatif lebih bergejolak dibandingkan dengan masa perkembangan lainnya (storm and stress period). Masa remaja adalah masa transisi yang ditandai oleh adanya perubahan fisik, emosi dan psikis. Masa remaja, yakni antara usia 10-19 tahun, adalah suatu periode masa pematangan organ reproduksi manusia, dan sering disebut masa pubertas. Masa remaja adalah periode peralihan dari masa anak ke masa dewasa (Widyastuti, Rahmawati, Purnamaningrum; 2009). Pubertas (puberty) ialah suatu periode di mana kematangan kerangka dan seksual terjadi secara pesat terutama pada awal masa remaja. Akan tetapi, pubertas bukanlah suatu peristiwa tunggal yang tiba-tiba terjadi. Pubertas adalah bagian dari suatu proses yang terjadi berangsur-angsur (gradual) (Santrock, 2015). Pubertas adalah periode dalam rentang perkembangan ketika anak-anak berubah dari mahluk aseksual menjadi mahluk seksual. Kata pubertas berasal dari kata latin yang berarti “usia kedewasaan”. Kata ini lebih menunjukkan pada perubahan fisik daripada perubahan perilaku yang terjadi pada saat individu secara seksual menjadi matang dan mampu memperbaiki keturunan (Hurlock, 2013). Santrock (2002) menambahkan bahwa kita dapat mengetahui kapan seorang anak muda mengawali masa pubertasnya, tetapi menentukan secara tepat permulaan dan akhirnya adalah sulit. Kecuali untuk menarche, yang terjadi agak terlambat pada masa pubertas, tidak ada tanda tunggal yang menggemparkan pada masa pubertas. Pada 1974, WHO (World Health Organization) memberikan definisi tentang remaja yang lebih bersifat konseptual. Dalam definisi tersebut dikemukakan tiga kriteria, yaitu biologis, psikologis, dan sosial ekonomi, sehingga secara lengkap definisi tersebut berbunyi sebagai berikut. Remaja adalah suatu masa di mana: 1) Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tandatanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual. 2) Individu mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa. 3) Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif lebih mandiri (Muangman dalam Sarwono, 2010). Dalam tahapan perkembangan remaja menempati posisi setelah masa anak dan sebelum masa dewasa. Adanya perubahan besar dalam tahap perkembangan remaja baik perubahan fisik maupun perubahan psikis (pada perempuan setelah mengalami menarche dan pada lakilaki setelah mengalami mimpi basah) menyebabkan masa remaja relatif bergejolak dibandingkan dengan masa perkembangan lainnya. Hal ini menyebabkan masa remaja menjadi penting untuk diperhatikan. Maka dengan dibuatnya jurnal ilmiah ini bisa lebih menyadarkan para orang tua bahwa pentingnya mengikuti penyuluhan BKR yang ada di masing-masing kecamatan supaya meningkat kema puan cara mendidik remaja, dan demi menyelamatkan muda tentunya. genenerasi METODE PENELITIAN Desain penelitian atau rancangan penelitian merupakan suatu rancangan yang dapat menuntun peneliti untuk memperoleh jawaban terhadap petanyaan penelitian. Dalam pengertian yang luas desain penelitian mencangkup berbagai hal yang dilakukan peneliti, mulai dari identifikasi masalah, rumusan hipotesis, operasionalisasi hipotesis, cara pengumpulan data, hingga analisis data. Pada hakekatnya desai penelitian merupakan suatu wahana untuk mencapai tujuan penelitian, yang juga berperan sebagai rambu-rambu yang menuntun peneliti dalam seluruh proses penelitian. Dalam gars besarnya, desain penelitian memiliki dua kegunaan yang amat penting dalam suatu proses penelitian, yakni : a) Sarana bagi peneliti untuk memperoleh jawaban terhadap pertanyaan penelitian. b) Merupakan alat bagi peneliti untuk mengendalikan atau mengontrol variabel yang berpengaruh dalam suatu penelitian. Desain penelitian membantu penelitu untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan peneliti yang sahih, objektif, akurat, serta hemat. Desain penelitian harus disusun dan dilaksanakan dengan penuh perhitungan agar dapat memperhatikan bukti empiris yang kuat relevansinya dengan pertanyaan penelitian. Desain yang direncanakan dengan baik sangat membantu peneliti untuk mengandalkan observasi dan intervensi, serta untuk melakukan inferensi atau generalisasi hasil penelitian. Penelitian kausal meneliti hubungan sebab-akibat antara dua variabel atau lebih. Dalam penelitian kausal, ingin dijelaskan pengaruh perubahan variasi nilai dalam suatu variabel terhadap perubahan variasi nilai dalam satu atau lebih variabel lain (Silalahi, 2012: 33). Definisi operasional variabel adalah pengertian variabel (yang diungkap dalam definisi konsep) tersebut, secara operasional, secara praktik, secara nyata dalam lingkup obyek penelitian/obyek yang diteliti. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel bebas dan variabel terikat. a. Variabel Bebas (Independent Variable) Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi, yang menyebabkan timbulnya atau berubahnya variabel terikat. Variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengaruh Bina Keluarga Remaja. b. Variabel Terikat (Dependent Variable) Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi karena adanya variabel bebas.Variabel terikat yang digunakan dalam penelitian ini adalah pencegahan kenakalan remaja. Definisi operasional variable penelitian merupakan penjelasan dari masing-masing variabel yang digunakan dalam penelitian terhadap indikator-indikator yang membentuknya. Definisi operasional penelitian ini dapat dilihat pada table berikut ini : Variabel Bina Keluarga Remaja No. 1. Aspek Indikator Perencanaan 1. Identifikasi Kebutuhan Peserta 2. Perumusan Tujuan 3. Penyusunan Materi 4. Penetuan Waktu 5. Pemilihan Tempat 6. Pemilihan Narasumber Pengaruh Bina Keluarga Remaja terhadap peran orang tua dalam pencegahan kenakalan remaja (Nisa Rahmatunisa) 2. 3. 4. Pelaksanaan /Pertemuan Kelompok Pendamping -an Hasil/ Evaluasi Variabel Peran Orang Tua No . Aspek 1. Orang Tua sebagai Pendidik 1. Motivasi yang diberikan pada peserta 2. Penampilan Narasumber 3. Metode yang digunakan 4. Media yang digunakan 5. Sarana dan Prasarana yang digunakan 6. Keterlibatan 2. peserta dalam keterlibatan program 1. Pembina menjadi fasilitator 2. Pembina menjadi motivator 3 3. Pembina . menjadi katalisator 1. Pemahaman peserta setelah mengikuti kegiatan BKR 4. Indikator 1. Mengajark an akhlak & sopan santun 2. Menganjar kan mana hal baik dan hal buruk 3. Memberika n pengertian yang jelas 1. Orang tua sebagai pelindung/pen damping 2. 3. Orang tua sebagai panutan 1. 2. Orang tua sebagai konselor 1. 2. 5. Orang tua sebagai teman/sahabat sesuai dengan kebutuhan perkemban gan anak Memberika n perlindung an terhadap kesehatan anak Memberika n perlindung an terhadap keamanan Memberika n perlindung an kesejahtera an Memberika n contah perkataan yang baik Memberika n contoh perbuatan/s ikap yang baik Mampu menjadi pendengar yang baik bagi anak remaja Membantu anak remaja ketika memiliki masalah Menjadi teman/saha bat bagi anak remajanya 6. Orang tua sebagai komunikator Menjadi sumber informasi dalam segala hal Metode penelitian dalam jurnal ini menggunakan eksperimen murni dan menggunakan pendekatan dengan metode penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif merupakan metode-metode untuk menguji teori-teori tertentu dengan cara meneliti hubungan antar variabel. Variabel-variabel ini diukur sehingga data yang terdiri dari angka-angka dapat dianalisis berdasarkan prosedur-prosedur statistik (Creswell, 2013: 5) Metode penelitian kuantitatif Menurut Sugiyono (14:2015), merupakan metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan. Subyek Penelitian Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anggota Bina Keluarga Remaja yang telah mengikuti pelatihan-pelatihan untuk membina anak remajanya, berdasarkan data yang diperoleh dari UPT-KB Gedebage seluruhnya berjumlah 54 orang. Pupulasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono. 2015 : 90). Sampling adalah cara pengumpulan data apabila yang diselidiki adalah elemen sampel dari suatu populasi (Supranto, 2008: 23). Pemilihan teknik pengambilan sampel merupakan upaya penelitian untuk mendapat sampel yang representatif (mewakili), yang dapat menggambarkan populasinya. Teknik pengambilan sampel tersebut dibagi atas 2 kelompok besar, yaitu : 1. Probability Sampling (Random Sample) 2. Non Probability Sampling (Non Random Sample) Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik sampel acak (probability random). Berdasarkan situasi dan keadaan yang memungkinkan pada saat pengambilan data, pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik sampling dengan jenis simple random sampling. Simple random sampling adalah sampling dimana pemilihan elemen populasi dilakukan sedemikian rupa sehingga setiap elemen tersebut mempunyai kesempatan yang sama untuk terpilih (Supranto, 2008: 24). Jumlah sampel minimum yang diambil ditentukan dengan rumus dari Slovin. Berdasarkan Teori Slovin n = N / ( 1 + N.(e)2)* * Keterangan : n = Jumlah Sampel N = Jumlah Total Populasi e = Batas Toleransi Error Maka, n = 54 / (1 + 54.(0.05)2) n = 54 / 1.135 n = 47,577092511 dibulatkan menjadi 48. Sampel adalah sebagian yang diambil dari populasi (Sudjana, 2005: 6). Setelah dilakukan perhitungan dari jumlah populasi sebanyak 54 orang, didapatkan sampel minimum untuk penelitian ini adalah sebanyak 48 orang anggota Bina Keluarga Remaja. Teknik Pengumpulan Data dan Analisis Data Pengaruh Bina Keluarga Remaja terhadap peran orang tua dalam pencegahan kenakalan remaja (Nisa Rahmatunisa) Pengumpulan data dilakukan melalui suatu proses untuk mendapatkan data empiris dari subjek penelitian. Dalam penelitian ini, metode pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan observasi, wawancara dan pem bagian angket. Metode observasi (Suardeyasasri, 2010:9) adalah suatu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis baik secara langsung maupun secara tidak langsung pada tempat yang diamati. Definisi wawancara (Moleong, 2009 : 186), wawancara adalah percakapan yang dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Menurut Benney & Hughes (dalam Denzin, 2009 : 501), wawancara adalah seni bersosialisasi, pertemuan “dua manusia yang saling berinteraksi dalam jangka waktu tertentu berdasarkan kesetaraan status, terlepas apakah hal tersebut benar-benar kejadian nyata atau tidak”. Dengan demikian, wawancara dapat menjadi alat/perangkat dan juga dapat sekaligus menjadi objek. Metode teknik angket yaitu mengajukan sejumlah pertanyaan secara tertulis dan terperinci kepada responden untuk mendapatkan jawaban sesuai dengan yang dikehendaki (UIN, 2014: 27). Dalam jurnal ini menggunakan kuesioner atau angket dalam mengumpulkan data yang didalamnya terdapat seperangkat daftar pertanyaan yang telah disusun sebelumnya. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan alat ukur berupa lembar kuesioner berskala Guttman, data yang diperoleh berupa data interval atau rasio dikotomi (dua alternatif) yaitu “Ya” dan “Tidak” sehingga dengan demikian penyusun berharap mendapatkan jawaban yang tegas terhadap suatu permasalahan yang diteliti. Adapun tahapan proses pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu: 1. Pengambilan data dilakukan oleh penyusun sendiri dengan mendatangi subjek penelitian. 2. Penyusun menjelaskan kepada calon responden mengenai teknik pengisian kuesioner dan apabila ada sesuatu yang kurang jelas, calon responden dipersilahkan untuk bertanya. 3. Pengumpulan data dilakukan dengan cara membagikan kuesioner secara langsung oleh penyusun dibantu oleh rekan-rekan di sekitar calon responden, dan setelah pengisian selesai, kuesioner dikumpulkan kepada penyusun. 4. Data primer didapat dari hasil pengisian kuesioner yang berisi data mengenai permasalahan yang diberikan. 5. Setelah data didapat proses selanjutnya kemudian analisa data. Dalam mengisi kuesioner ini, responden diminta untuk menempatkan diri mereka sesuai dengan hambatan yang harus diilustrasikan terlebih dahulu, setelah itu barulah responden mengisi pernyataan yang paling mencerminkan keadaannya saat menghadapi hambatan tersebut. Skor AQ ditunjukkan dengan skor yang diperoleh responden, yaitu semakin tinggi skor yang diperoleh menunjukkan semakin tinggi tingkat AQ yang dimilikinya. Begitu pula sebaliknya, semakin rendah skor yang diperoleh menunjukkan semakin rendah tingkat AQ yang dimilikinya. Sebelum kuisioner atau angket dibagikan kepada responden maka pertanyaan-pertanyaan tersebut di uji validasi terlebih dahulu menggunakan SPSS. Sejalan dengan yang dikatakan oleh Nasution bahwa “suatu alat ukur dikatakan valid, jika alat ukur itu mengukur apa yang harus diukur oleh alat itu” (Nasution, 2009:74). Hasil dari validasi penelitian jurnal adalah sebagai berikut: Dengan menggunakan jumlah responden sebanyak 100 maka nilai rtable (rt) dapat diperoleh melalui table r product moment pearson dengan df = n2, maka berlaku aturan kriteria uji : rhitung > rtabel. rtabel yang digunakan = 0,1966 karena nilai rhitung > rtabel maka semua item P4, P9, P11, P12, P13, P17, P18, P19, P20, P21, P22, P23, P24, P25, P26, P27, P28, P29, P30 dinyatakan valid. Langkah terakhir dalam pengujian instrumen adalah melakukan uji reliabilitas. Ada banyak cara dalam menghitung koefisien reliabilitas suatu skala. Pada penelitian ini, digunakan metode cronbach alpha reliability. Uji Reliabilitas Dapat dilihat pada nilai Crobach’s Alpha dengan aturan kriteria uji : Crobach’s Alpha > 0,70 maka kontruk pertanyaan yang merupakan dimensi variabel adalah reliable. Reliability Statistics Cronbach's Cronbach's Alpha Alpha Based on N of Items Standardized Items ,805 ,788 30 Selanjutnya dilakukan uji normalitas berikut uji normalitas yang di dapat penyusun dalam jurnal ini: Uji Normalitas Hipotesis Statistik : H0 ; Residual berdistribusi normal H1 ; Residual tidak berdistribusi normal Taraf signifikan α = 0,05 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardiz ed Residual N 48 Mean 0E-7 Normal Std. Parametersa,b 1,80772749 Deviation Absolute ,115 Most Extreme Positive ,083 Differences Negative -,115 Kolmogorov-Smirnov Z ,799 Asymp. Sig. (2-tailed) ,546 a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data. Kriteria Hipotesis : Pv > α  H0 diterima Pv < α  H0 ditolak Interpretasinya : Dari hasil output SPSS diperoleh Pv (0,546) > 0,05 maka H0 diterima, maka nilai residual tersebut normal atau dapat disimpulkan bahwa uji normalitas untuk penelitian tersebut terpenuhi. Selanjutnya dilakukan uji linearitas, berikut uji linearitas yang di dapat penyusun dalam jurnal ini: Uji Linieritas Hipotesis Statistik : Ho : Model regresi linier sederhana tidak dapat digunakan dalam memprediksi peran orang tua dalam pencegahan kenakalan remaja yang dipengaruhi bina keluarga remaja. H1 : Model regresi linier sederhana dapat digunakan dalam memprediksi peran orang tua dalam pencegahan Pengaruh Bina Keluarga Remaja terhadap peran orang tua dalam pencegahan kenakalan remaja (Nisa Rahmatunisa) kenakalan remaja yang dipengaruhi bina keluarga remaja.. Taraf signifikan  = 0,05 Y= a + bX = Y= 4,193 + 0,825 (50) Y= 45,443 ANOVA Table F Peran_ora ng_Tua_d alam_pen cegahan_k enakalan_ remaja * Bina_Kel uarga_Re maja (Combined ) Betwee Linearity n Groups Deviation from Linearity Within Groups Sig. 4,988 ,000 22,114 ,000 2,133 ,071 Total Interpretasinya : Karena Pv (0,000) < 0,05 maka H0 DITOLAK sehingga Model regresi linier sederhana dapat digunakan dalam memprediksi peran orang tua dalam pencegahan kenakalan remaja dipengaruhi bina keluarga remaja Y= 4,193 + 0,825X a. Konstanta (a) = 4,193 Artinya : Apabila BKR sama dengan nol ( tidak ada perubahan ), maka Peran Orang tua dalam Pencegahan Kenakalan Remaja sebesar 0,825 b. Koefisien Regresi BKR (b) = 0,825 Artinya : Koefisien regresi postif ( searah ) sebesar 0,825. Jika BKR meningkat 1 satuan, maka peran orang tua dalam pencegahan kenakalan remaja meningkat sebesar 0,825 yang berarti jika BKR naik sebesar 1,329 maka ekploarsi pada peran orang akan naik sebesar 0,825 Dalam jurnal ini penyusun menggunakan angket bersifat tertutup (berstruktur), hal ini didasarkan pada pengetahuan dan pengalaman responden yang berbeda-beda, selain itu untuk menghindari informasi yang lebih meluas. Penyusun menggunakan kuesioner tertutup sehingga dengan demikian responden tinggal memilih beberapa alternatif jawaban yang tersedia. Penyusun menggunakan kuesioner dengan skala Guttman. Penelitian menggunakan skala guttman dilakukan bila ingin mendapatkan jawaban yang tegas (konsisten) terhadap suatu permasalahan yang ditanyakan. Menurut Usman Rianse dan Abdi bahwa “skala Guttman sangat baik untuk meyakinkan peneliti tentang kesatuan dimensi dan sikap atau sifat yang diteliti, yang sering disebut dengan atribut universal” (Usman Rianse dan Abdi, 2011:155). Skala Guttman disebut juga skala scalogram yang sangat baik untuk meyakinkan hasil penelitian mengenai kesatuan dimensi dan sikap atau sifat yang diteliti. Adapun skoring perhitungan responden dalam skala Guttman adalah sebagai berikut: Jawaban dari responden dapat dibuat skor tertinggi “satu” dan skor terendah “nol”, untuk alternatif jawaban dalam kuesioner, penyusun menetapkan kategori untuk setiap pernyataan positif, yaitu Ya = 1 dan Tidak = 0, sedangkan kategori untuk setiap pernyataan negatif, yaitu Ya = 0 dan Tidak = 1. Dalam penelitian ini penyusun menggunakan skala Gutman dalam bentuk checklist, dengan demikian penyusun berharap akan didapatkan jawaban yang tegas mengenai data yang diperoleh. Tahap awal dari pembuatan kuesioner adalah mengumpulkan berbagai informasi yang ingin didapatkan dari responden yang kemudian dituangkan dalam kisi-kisi instrumen, setelah itu baru disusun pertanyaan dari kisi-kisi yang telah dibuat. HASIL PENELITIAN PEMBAHASAN remaja terhadap peran orang tua dalam pencegahan kenakalan remaja. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Bina Keluarga Remaja terhadap peran orang tua dalam pencegahan kenakalan remaja maka dilakukan penelitian dengan melakukan perhitungan angka atau melakukan uji instrumen terhadap subyek, berikut hasil yang di dapat: DAN Hasil penelitian akan dibahas mengenai seberapa besar pengaruh Bina Keluarga Remaja terhadap peran orang tua dalam pencegahan kenakalan remaja. Pengujian hipotesis dilakukan dengan teknik analisis regresi linear sederhana. Sebelum dilakukan analisis regresi, dilakukan uji asumsi klasik terlebih dahulu. Untuk mengetahui terdapatnya pengaruh Bina Keluarga Remaja terhadap peran orang tua dalam pencegahan kenakalan remaja maka dilakukan penelitian dengan melakukan perhitungan angka atau melakukan uji instrumen terhadap subyek, berikut hasil yang di dapat: Hipotesis Statistik : Ho : Tidak terdapat pengaruh positif Bina Keluarga Remaja terhadap Peran Orang tua dalam pencegahan kenakalan remaja H1 : Terdapat pengaruh positif motivasi Bina Keluarga Remaja terhadap Peran Orang tua dalam pencegahan kenakalan remaja Taraf signifikan  = 0,05 Model 1 (Constant) 1 Bina_Keluarga _Remaja Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients B Std. Error Beta 4,193 2,127 ,825 ,188 t Sig. 1,971 ,055 ,543 4,389 ,000 a. Dependent Variable: Peran_orang_ Tua_dalam_pencegahan_kenakalan_remaja Interpretasinya : Karena Pv < 0,05 maka H0 DITOLAK sehingga Terdapat pengaruh positif bina keluarga ,543a ,295 ,280 1,827 a. Predictors: (Constant), Bina_Keluarga_Remaja b. Dependent Variable: Peran_orang_Tua_ dalam_pencegahan_kenakalan_remaja Coefficientsa Model R Model Summaryb R Square Adjusted R Std. Error of Square the Estimate Interpretasinya : r2 = 0,295 sehingga Koefisien Determinasi yang didapat adalah 29,5%. Hal ini menunjukkan bahwa persentase Bina Keluarga Remaja terhadap Peran Orang Tua dalam pencegahan Kenakalan Remaja adalah 29,5% dan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain selain Bina Keluarga Remaja atau diluar variable yang diteliti. Untuk mengetahui berapa besar Bina Keluarga Remaja terhadap peran orang tua dalam pencegahan kenakalan remaja maka dilakukan penelitian dengan melakukan perhitungan angka atau melakukan uji instrumen terhadap subyek, berikut hasil yang di dapat: Coefficientsa Unstandardized Standard Coefficients ized Coeffici ents t Sig. Pengaruh Bina Keluarga Remaja terhadap peran orang tua dalam pencegahan kenakalan remaja (Nisa Rahmatunisa) B (Constant) 4,193 Std. Error Beta 2,127 1,971 ,055 1 Bina_Keluarga ,825 ,188 ,543 4,389 ,000 _Remaja a. Dependent Variable: Peran_orang_Tua_dalam _pencegahan_kenakalan_remaja β= 0,825 Interpretasinya : Koefisien regresi X sebesar 0,825 menyatakan bahwa setiap penambahan atau peningkatan sebesar 1 nilai bina keluarga remaja, maka nilai bertambah atau naik sebesar 0,825, ini dikarenakan nilai 0,825 bernilai positif, maka X naik, Y akan menggalami kenaikan. PEMBAHASAN 1. Program Bina Keluarga Remaja Bina Keluarga Remaja adalah wadah kegiatan yang beranggotakan keluarga yang mempunyai remaja usia 10 – 24 tahun. Program ini merupakan aplikasi dari program Generasi Berencana (GenRe) yang dilakukan melalui pendekatan kepada keluarga yang mempunyai remaja. Bina Keluarga Remaja bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan orangtua dan anggota keluarga lainnya dalam pengasuhan dan pembinaan tumbuh kembang remaja, dalam rangka meningkatkan kesertaan, 20 pembinaan, dan kemandirian ber KB bagi anggota kelompok. Bina Keluarga Remaja merupakan kegiatan yang dilakukan oleh keluarga (orang tua) khususnya untuk meningkatkan bimbingan dan pembinaan tumbuh kembang anak dan remaja secara baik dan terarah dalam rangka pembangunan Sumber Daya Manusia yang bermutu, tangguh, maju dan mandiri. Bina Keluarga Remaja dilakukan secara berkelompok yang terdiri dari orang tua dan anak remaja yang dibimbing dan dibantu oleh fasilitator/motivator/kader dari tenaga masyarakat secara sukarela dengan pembinaan oleh pemerintah. Program Bina Keluarga Remaja merupakan suatu wadah yang berupaya untuk mendapatkan pemahaman orang tua dalam mendidik anak remaja yang benar yang dilakukan dalam bentuk kelompokkelompok kegiatan, dimana orang tua mendapatkan informasi dan pengetahuan tentang bagaimana meningkatkan dan membina tumbuh kembang anak remaja. Melalui kelompok Bina Keluarga Remaja setiap keluarga yang memiliki remaja dapat saling bertukar informasi dan berdiskusi bersama tentang hal-hal yang berkaitan dengan remaja dalam konteks fenomena pernikahan dini, meliputi Pendewasaan Usia Perkawinan, Komunikasi Efektif Orangtua terhadap Remaja, dan Peran Orangtua Dalam Pembinaan Tumbuh Kembang Remaja. Pengembangan kelompok Bina Keluarga Remaja (BKR) dapat membantu orangtua dalam memahami remaja, permasalahan remaja, dan cara berkomunikasi dengan remaja. Melalui kelompok BKR setiap keluarga yang memiliki remaja dapat saling bertukar informasi dan berdiskusi bersama tentang hal-hal yang berkaitan dengan remaja, meliputi Kebijakan Program GenRe, Penanaman NilaiNilai Moral Melalui 8 Fungsi Keluarga, Pendewasaan Usia Perkawinan, Seksualitas, NAPZA, HIV dan AIDS, Keterampilan Hidup, Ketahanan Keluarga Berwawasan Gender, Komunikasi Efektif Orang tua terhadap Remaja, Peran Orang tua dalam Pembinaan Tumbuh Kembang Remaja, Kebersihan dan Kesehatan Diri Remaja, dan Pemenuhan Gizi Remaja. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa program Bina Keluarga Remaja adalah program yang dibuat untuk membentuk karakter remaja melalui keluarga dan pola asuh orang tua, yang telah diidentifikasi sebagai pengaruh penting dalam pembentukan karakter remaja. Proses pola asuh orang tua meliputi kedekatan orang tua dengan remaja, pengawasan orang tua, dan komunikasi orang tua dengan remaja. Sehubungan dengan hal tersebut. 2. Tujuan dan Sasaran Bina Keluarga Remaja a. Tujuan Tujuan BKR adalah meningkatkan pengetahuan anggota keluarga terhadap kelangsungan perkembangan anak remaja, di antaranya yaitu tentang pentingnya hubungan yang setara dan harmonis pada satu keluarga dalam rangka pembinaan kepribadian anak dari remaja. Menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang antara orang tua dan anak dan remajanya, atau sebaliknya dalam memecahkan berbagai masalah yang di hadapi oleh masing-masing pihak sehingga timbul rasa hormat dan saling menghargai satu sama lain. Terlaksananya diteksi dini terhadap setiap gejala yang memungkinkan timbulnya kesenjangan hubungan antara orang tua dan anak remaja di daam kehidupan rumah tangga. Serta tercipta sarana hubungan yang sesuai yang di dukung sikap dan perilaku yang rasional dalam bertanggung jawab terhadap pembinaan proses tumbuh kembang anak dan remaja. Meningkatkan kepedulian, kesadaran dan tanggung jawab orang tua terhadap kewajiban membimbing, meningkatkan pengetahuan, kesadaran anak dan remaja dalam rangka meningkatkan ketahanan fisik dan non fisik melalui interaksi, komunikasi yang sehat dan harmonis dalam suasana rumah tangga yang bahagia dan sejahtera. Adapun tujuan khusus dari pelaksanaan program bina keluarga remaja adalah sebagai berikut : 1) Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para pembina dan pengelola BKR, dalam menumbuhkembangkan program Bina Keluarga Remaja (dasar, berkembang, paripurna). 2) Meningkatkan kualitas pelayanan kelompok BKR. 3) Mewujudkan kelompok BKR Paripurna. 4) Meningkatkan jumlah keluarga yang memiliki remaja yang aktif dalam kegiatan kelompok BKR. 5) Memperluas jejaring kerja didalam pengelolaan BKR. b. Sasaran program Bina Keluarga Remaja. Sasaran program Bina Keluarga Remaja adalah setiap keluarga yang memiliki anak usia sekolah dasar dan sekolah menengah atau setara dalam keluarga dan remaja yang sudah berusia 10-24 tahun. Sedangkan sasaran tidak langsung yaitu guru, pemuka agama, pemuka adat, pimpinan organisasi profesi/organisasi sosial kemasyarakatan, pemuda/wanita, para ahli dan lembaga bidang ilmu yang terkait, serta institusi/lembaga pemerintah dan non pemerintah. Oleh karena itu, setiap program memiliki tujuan dan sasaran begitu pula dalam program Bina Keluarga Remaja yang telah dikembangkan oleh lembaga BKKBN juga memliki sasaran seperti yang tertera di atas, dengan adanya sasaran tersebut maka apa yang menjadi visi dan misi lembaga BKKBN dapat tercapai dengan baik. 3. Substansi Program Bina Keluarga Remaja Substansi program BinaKeluarga Remaja merupakan pokok-pokok materi yang dijadikan acuan untuk memberikan informasi dalam penyuluhan dan konseling kepada Orang tua/keluarga. Substansi Program terkait dengan pendewasaa usia pernikahan diantaranya ialah sebagai berikut: a. Komunikasi Efektif Orangtua terhadap Remaja, komunikasi merupakan proses penyampaian Pengaruh Bina Keluarga Remaja terhadap peran orang tua dalam pencegahan kenakalan remaja (Nisa Rahmatunisa) pikiran dan perasaan melalui bahasa, mendengar, berbicara, gerak tubuh dan ungkapan perasaan. Dengan terciptanya komunikasi antara orangtua dan remaja diharapkan dapat membuat remaja mau terbuka dan berbicara kepada orangtua saat menghadapi berbagai masalah serta menciptakan hubungan harmonis dengan remaja (BKKBN, 2012). b. Peran Orang Tua dalam pembinaan remaja, mengasuh dan membesarkan anak remaja membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang berbeda dibandingkan membesarkan anak balita. Hal ini karena anak menjelang remaja terus mengalami perubahan dan perkembangan secara cepat. Pada masa ini orangtua adalah pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya. Oleh karna itu ada beberapa peran orangtua antara lain; sebagai pendidik, sebagai panutan, sebagai pendamping, sebagai konselor (tidak menghakimi), sebagai komunikator, sebagai teman/sahabat (BKKBN, 2012). c. Kesehatan Reproduksi, adalah kesehatan secara fisik, mental, dan kesejahteraan sosial secara utuh pada semua hal yang berhubungan dengan 23 sistem dan fungsi serta proses reproduksi dan bukan hanya kondisi yang bebas dari penyakit dan kecacatan (BKKBN, 2010). A. Pergaulan Bebas Remaja 1. Pengertian Remaja Remaja, yang dalam bahasa aslinya disebut adolescence, berasal dari bahasa Latin adolescare yang artinya “tumbuh atau tumbuh untuk mencapai kematangan”. Bangsa primitif dan orang-orang purbakala memandang masa puber dan masa remaja tidak berbeda dengan periode lain dalam rentang kehidupan. Anak dianggap sudah dewasa apabila sudah mampu mengadakan reproduksi (Ali &Asrori : 2006). Masa remaja adalah masa transisi dalam rentang kehidupan manusia, menghubungkan masa kanak-kanak dan masa dewasa. Masa remaja disebut pula sebagai masa penghubung atau masa peralihan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Pada periode ini terjadi perubahan-perubahan besar dan esensial mengenai kematangan fungsifungsi rohaniah dan jasmaniah, terutama fungsi seksual. Menurut Rice masa remaja adalah masa peralihan, ketika individu tumbuh dari masa anak-anak menjadi individu yang memiliki kematangan. Pada masa tersebut, ada dua hal penting menyebabkan remaja melakukan pengendalian diri. Dua hal tersebut adalah, pertama, hal yang bersifat eksternal, yaitu adanya perubahan lingkungan, dan kedua adalah hal yang bersifat internal, yaitu karakteristik di dalam diri remaja yang membuat remaja relative lebih bergejolak dibandingkan dengan masa perkembangan lainnya (storm and stress period). Masa remaja adalah masa transisi yang ditandai oleh adanya perubahan fisik, emosi dan psikis. Masa remaja, yakni antara usia 10-19 tahun, adalah suatu periode masa pematangan organ reproduksi manusia, dan sering disebut masa pubertas. Masa remaja adalah periode peralihan dari masa anak ke masa dewasa Dalam definisi tersebut dikemukakan tiga kriteria, yaitu biologis, psikologis, dan sosial ekonomi, sehingga secara lengkap definisi tersebut berbunyi sebagai berikut. Remaja adalah suatu masa di mana: 4) Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tandatanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual. 5) Individu mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa. 6) Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif lebih mandiri (Sarwono, 2011). c. Pergaualan Bebas Telah kita ketahui bahwa kebebasan bergaul remaja sangatlah diperlukan agar mereka tidak "kuper" dan "jomblo" yang biasanya jadi anak mama. "Banyak teman maka banyak pengetahuan". Namun tidak semua teman kita sejalan dengan apa yang kita inginkan. Mungkin mereka suka hura-hura, suka dengan yang berbau pornografi, dan tentu saja ada yang bersikap terpuji. benar agar kita tidak terjerumus ke pergaulan bebas yang menyesatkan. Masa remaja merupakan suatu masa yang menjadi bagian dari kehidupan manusia yang di dalamnya penuh dengan dinamika. Dinamika kehidupan remaja ini akan sangat berpengaruh terhadap pembentukan diri remaja itu sendiri. Menurut Monks percepatan dan perkembangan dalam masa remaja yang berhubungan dengan pemasakan seksualitas, juga mengakibatkan suatu perubahan dalam perkembangan sosial remaja. Sebelum masa remaja sudah ada saling hubungan yang lebih erat antara anak-anak yang sebaya. Sering juga timbul kelompok-kelompok anak, perkumpulan-perkumpulan untuk bermain bersama atau membuat rencana bersama, misalnya untuk kemah, atau saling tukar pengalaman, merencanakan aktivitas bersama misalnya aktivitas terhadap suatu kelompok lain. Aktivitas tersebut juga dapat bersifat agresif, kadang-kadang kriminal seperti misalnya mencuri, penganiayaan dan lain-lain, dalam hal ini dapat dilakukan kelompok anak nakal. Masa remaja dapat dicirikan dengan banyaknya rasa ingin tahu pada diri seseorang dalam berbagai hal, tidak terkecuali bidang seks. Seiring dengan bertambahnya usia seseorang, organ reproduksipun mengalami perkembangan dan pada akhirnya akan mengalami kematangan. Kematangan organ reproduksi dan perkembangan psikologis remaja yang mulai menyukai lawan jenisnya serta arus media informasi baik elektronik maupun non elektronik akan sangat berpengaruh terhadap perilaku seksual individu remaja tersebut. Para remaja dibolehkan bergaul akrab dengan sesama remaja dari jenis kelamin lain tetapi dituntut satu penghargaan diri dan menjaga kehormatan diri untuk tetap hidup sebagai perawan atau bujang. Cara hidup yang diminta dalam bidang ini adalah kematangan heteroseksualitas di dala m arti sosial-psikologis. Salah satu masalah yang sering timbul pada remaja terkait dengan masa awal kematangan organ reproduksi pada remaja adalah masalah kehamilan yang terjadi pada remaja diluar pernikahan. Beberapa sebab kehamilan termasuk rendahnya pengetahuan tentang keluarga berencana, perbedaan budaya yang menempatkan harga diri remaja di lingkungannya, perasaan remaja akan ketidakamanan atau impulsifisitas, ketergantungan kebutuhan, dan keinginan yang sangat untuk mendapatkan kebebasan. Selain masalah kehamilan pada remaja masalah yang juga sangat menggelisahkan berbagai kalangan dan juga banyak terjadi pada masa remaja adalah banyaknya remaja yang mengidap HIV/AIDS. Dari data pemerintah menyebutkan bahwa sekitar 39% masyarakat indonesia mengidap AIDS. Konsep Orang Tua Pengertian Orang tua Orang tua adalah ayah dan ibu adalah figur atau contoh yang akan selalu ditiru oleh Pengaruh Bina Keluarga Remaja terhadap peran orang tua dalam pencegahan kenakalan remaja (Nisa Rahmatunisa) anak-anaknya (Mardiya, 2000:90). Orang tua adalah adalah orang-orang yang melengkapi budaya mempunyai tugas untuk mendefinisikan apa yang baik dan apa yang dinggap buruk. Sehingga anak akan merasa baik bila tingkah lakunya sesuai dengan norma tingkah laku yang diterima di masyarakat (Soekanto, 2007:55) Orang tua atau ibu dan ayah memegang peranan yang sangat penting dan amat berpengaruh atas pendidikan anak-anaknya. Sejak seorang anak lahir ibunyalah yang selalu ada di sampingnya oleh karena itu ia meniru peranggai ibunya dan ayahmya, seorang anak lebih cinta kepada ibunya, apabilah ibu itu menjalankan tugasnya dengan baik. Ibu merupakan orang yang mula-mula dikenal anak, yang mula-mula dipercayainya, apapun yang dilakukan ibu dapat dimaafkan, kecuali apabila ia ditinggalkan dengan memahami segalah sesuatu yang terkadang dalam hati anaknya, juga jika anak telah mulai besar, disertai kasih sayang, dapat ibu megambil hati anak untuk selama-lamanya. Tipe-tipe Orang Tua Perbedaan tipe-tipe orang tua dapat dikelompokkan dalam suatu skala. Skala yang dimaksudkan adalah beberapa cara yang dilakukan oleh orang tua tentang bagaimana mereka mendorong pengambilan keputusan secara bebas terhadap bimbingan dan mendidik anaknya. Beberapa cara yang mungkin dilakukan tersebut menurut Soekanto (2007:67) dapat dilakukan hal di bawah ini. 1. Orang tua yang melindungi secara berlebihan. Perlindungan orang tua yang berlebihan mencakup pengasuhan dan pengenalan anak terlalu berlebihan. Hal seperti ini akan menimbulkan sikap ketergantungan bagi diri anak tunagrahita yang berlebihan pula, sehingga rentang ketergantungan pada orang lain akan lebih lama pula dan dapat membuat kurangnya rasa percaya diri bagi anak. 2. Permisivitas orang tua Orang tua akan memberikan kebahagiaan penuh pada anak untuk berbuat. Sikap permisivitas pada orang tua akan terlihat pada orang tua yang membiarkan anaknya untuk berbuat sesuka hati, dengan memberikan sedikit kekangan. Sikap demikian akan mampu menciptakan situasi rumah tangga yang “berpusat pada anak”. Jika sikap permisif ini tidak berlebihan, ia akan mampu mendorong anak untuk menjadi cerdik, mandiri dalam kebutuhan pribadi, penyesuaian sosial yang baik, mampu menumbuhkan rasa percaya diri, daya kreativitas, dan kematangan sikap. 3. Memanjakan anak Sikap memanjakan akan menimbulkan sikap egois, suka menuntut, dan memaksakan kehendak pada anak. Mereka menuntut perhatian dan pelayanan dari orang alain, perilaku yang menyebabkan penyesuaian sosial yang buruk di rumah dan luar rumah. 4. Penolakan Penolakan dapat dinyatakan dengan mengabaikan kesejahteraan anak atau dengan menuntut terlalu banyak dan sikap permusuhan yang lebih terbuka.Disini orang tua membuat semua keputusan dan anak tunagrahita tidak boleh bertanya. Sikap demikian akan memunculkan rasa dendam, perasaan tak berdaya, frustrasi, perilaku gugup, dan sikap bermusuhan dengan orang lain, terutama bagi mereka yang lemah dan kecil. Inilah yang disebut dengan orang tua yang bersifat autokratis atau otoriter. 4. Penerimaan Sikap penerimaan bagi orang tua ditandai dengan adanya perhatian besar dan kasih sayang pada anak. Orang tua yang menerima akan memperhatikan perkembangan kemampuan, dan memperhitungkan minat anak. Orang tua akan mendorong anak untuk membicarakan apa yang diinginkan. Anak yang diterima umumnya mampu bersosialisasi dengan baik, bersikap kooperatif, berlaku ramah, bergaul loyal, secara emosional stabil dan gembira. 5. Dominasi Anak yang didominasi oleh salah satu orang tua, akan mampu bersikap jujur, sopan, dan berhati-hati. Tetapi anak ini cenderung pemalu, patuh, dan mudah dipengaruhi orang lain, mengalah, dan sangat sensitive. Pada anak yang didominasi sering akan berkembang rasa rendah diri dan perasaan menjadi korban keinginan orang tua yang tidak mampu dicapainya. 6. Tunduk pada anak Orang tua yang tunduk pada anaknya akan membiarkan anak mendominasi mereka. Di sini orang tua akan membiarkan anak untuk mencari jalannya sendiri. Anak akan suka memerintah orang tua dan akan menunjukkan sedikit rasa tenggang rasa, penghargaan, atau loyalitas pada mereka. Anak akan belajar untuk menentang semua yang berwenang dan mencoba mendomninasi orang di luar lingkungan rumah. 7. Favoritisme Meskipun mereka berkata bahwa mereka mencintai semua anak dengan sama rata, kebanyakan orang tua mempunyai favorit tersendiri. Sikap yang seperti ini akan membuat mereka lebih menuntut dan mencintai anak yang difavoritkannya dari pada anak yang lain dalam keluarga tersebut. Anak yang disenangi cenderung memperlihatkan sisi baik pada orang tua mereka tetapi agresif dan dominan dalam hubungan dengan kakak atau adik mereka. 8. Ambisi Orang Tua Hampir semua orang tua mempunyai ambisi terhadap anak mereka. Ambisi tersebut sering kali sangat tinggi sehingga tidak realistis. Ambisi orang tua ini sering dipengaruhi oleh tidak tercapainya atau hasrat orang tua supaya anak mereka naik status sosialnya. Bila anak tidak dapat memenuhi ambisi orang tua, anak cenderung terlihat bersikap bermusuhan, tidak bertanggung jawab, dan berprestasi di bawah kemampuan. Keadaan ini akan lebih parah bila anak memiliki perasaan tidak mampu yang sering diwarnai perasaan dijadikan orang yang dikorbankan akibat kritik orang tua terhadap rendahnya prestasi mereka. 9. Orang Tua Otoriter Cara-cara mengasuh anak dalam masyarakat merupakan awal kehidupan bermasyarakat. Pengasuhan secara otoritas ditentukan oleh sekelompok orang yang membentuk superioritas atas kelompok yang lain. Kelompok ini sekaligus menerima tanggung jawab untuk menetapkan pola-pola perilaku dalam kelompok orang yang dianggap lebih rendah tingkatnya. Pola ini dikenal sebagai pola atasan –bawahan yang dianut oleh sitem militer. Pelestarian hubungan dengan pola atasan bawahan ini ditetapkan dalam hubungan antara orang tua dan anak. Biasanya pihak orang tua yang menggariskan keputusan-keputusan tentang perilaku anaknya. kedisiplinan.Tanggung jawab sangat diperlukan dalam Pengaruh Bina Keluarga Remaja terhadap peran orang tua dalam pencegahan kenakalan remaja (Nisa Rahmatunisa) mengembangkan kepribadian anak. Orang tua harus lebih mengajarkan tentang arti dari suatu tangung jawab Kedisplinan juga berperan penting dalam perkembangan anak agar anak tidak terbiasa bergantung pada orang lain karena kemalasan. Peran orang tua sangatlah penting dalam memberikan perhatian dan kasih sayang karena itu sangat diperlukan untuk menjaga suatu hubungan dalam perkembangannya.Orang tua sebaiknya lebih mengutamakan keinginan anaknya. Sebaiknya dalam mendidik anak kita terapkan keteladanan yang baik, bimbingan yang baik, nasehat yang baik, dan juga mengingatkan kesalahan-kesalahan anak, menanamkan pemahamanpemahaman kepada anak. Jika anak membuat kesalahan sebaiknya orang tua tidak memarahi ataupun memberikan hukuman fisik namun memberikan peringatan ataupun arahan agar tidak mengulanginya lagi. Orang tua tentunya menginginkan anaknya kelak menjadi orang yang berguna bagi semua orang.Dalam lingkungan sosial yang lebih besar orang tua juga memiliki peran, orang tua adalah bagian dari sebuah kelompok masyarakat yang lebih besar. peran yang dijalankan tentu saja berbeda dengan peran didalam keluarga. Berikut peranan orang tua didalam keluarga terutama terhadap anak : a) Orang tua sebagai pendidik Peranan orang tua sebagai pendidik anak-anaknya jelas tidak usah lagi diragukan. itu adalah peranan sekaligus kewajiban para orang tua dimanapun. Para orang tua seharusnya sudah menyadari bahwa mereka adalah calon tenaga pendidik bagi anakanaknya kelak. Sehingga, ketika sudah dikaruniai buah hati, mereka tidak lagi canggung dengan peran itu. Peran sebagai tenaga pendidik yang harus diemban oleh para orang tua tentu saja tidak sama dengan peran tenaga pendidik yang ada dilembaga-lembaga pendidikan. Orang tua tidak mengajarkan teori tentang ilmu pelajaran, melainkan tentang ilmu kehidupan meski ditegah jalan, anak bisa mendapatkan ilmu tersebut dari pergaulannya dengan orang lain Peran orang tua dalam hal ini tetap yang paling mendasar. didalam keluarga, anak diajarkan tentang sopan santun, tentang bagaimana seharusnya bersikap terhadap orang lain dan tentang mengembangkan kemampuannya. Orang tua mengambil peran sebagai pendidik, mengajarkan tentang mana hal yang baik, dan mana hal yang buruk. Orang tua sebagai pendidik disini disebut sebagai guru ketika anakanaknya dirumah. Karena guru itu tidak cukup disekolahan saja. Jadi peran orang tua sebagai pendidik itu yang menjadi guru yang kedua untuk anakanak. Orang tua sebagai pelindung Orang tua adalah pelindung anakanaknya, penjelasan yang sangat mudah untuk dipahami. Dalam perannya yang ini, orang tua ibarat tameng atau pelindung yang siap sedia kapanpun untuk melindungi anak-anaknya dari berbagai hal yang tidak baik. Jenis perlindungan yang bisa dan biasa diberikan orang tua kepada anakanaknya terdiri atas perlindungan terhadap kesehatan anak-anaknya, perlindungan terhadap keamanan anakanaknya, dan perlindungan terhadap jaminan kesejahteraan bagi anakanaknya. Perlindungan yang diberikan oleh orang tua kepada anak-anaknya tersebut bersifat naluriah. Orang tua sebagai pelindung disini disebutkan bahwa orang yang selalu melindungi anaknya ketika dimana pun berada. Karena anak muda sekarang ini sanggat sulit untuk dikasih tau. d) Orang Tua Sebagai Pengarah Orang tua sebagai tenaga pengarah yaitu orang tua yang selalu mengarahkan anaknya ke hal-hal yang positif.Karena pengarahan dari orang tua itu sanggat penting bagi anakanaknya. Peran orang tua yang ini tidak berbeda dengan peran orang tua terhadap anak sebagai pendidik. Dalam perannya kali ini, tugas orang tua adalah mengarahkan anak-anaknya. Tentu saja mengarahkan pada hal-hal baik yang akan berguna bagi kehidupannya. Peran ini sangat dituntut berlebih ketika anak sudah menginjak masa remaja. Mereka, anak-anak remaja, dikenal memiliki kelabilan emosi. pada masa ini mereka menjalani tahap memilih serta mencari hal yang dianggap benar. Tidak jarang mereka menyerap, mengambil semua yang ditemuinya dijalan dan tugas oraang tuanyalah yang membantu mengarahkan. e) Peran orang tua sebagai penasehat Peran orang tua terhadap anak yang sat ini boleh dikatakan sebagai peran lanjutan dari peran pendidik dan tenaga pengarah. memberi nasihat adalah sesuatu yang sangat identik dengan orang tua. Namun, dalam menjalankan perannya ini, tidak sedikit orang tua yang menemui hambatan sehingga cukup kesulitan. Pada dasarnya, tidak ada manusia yang suka dinasehati, mereka akan merasa apabila mendapat nasehat membuat dirinya terlihat bodoh, terlihat tidak berguna dan salah. Oleh karena itu, sebagai orang tua juga dituntut pintar ketika akan memberinya nasihat, pastikan caranya berbeda dan tidak berkesan menggurui. Anak-anak sudah cukup pusimg dengan tuntutan dari gurunya disekolah. Mereka juga cukup pusing dengan nasihat guru-guru disekolah. Untuk itu, bisa mencoba cara lain untuk menasehati mereka, caranya bisa bermacam-macam tergantung kebutuhan anak-anak, yang jelas berbicara ari hati kehati adalah cara yang paling baik. Orang tua selalu menasehati anaknya karena apapun yang dilakukan oleh anak itu juga akan menyangkut pautkan kepada orang tuannya. e) Peran Orang Tua Sebagai Penanggung Jawab Peran orang tua sebagai penanggung jawab anakadalah bentuk perlindungan kepada anak-anaknya. Dalam kehidupan, tidak semuannya berjalan dengan baik ssuai yang diharapkan, termasuk berkenaan dengan anak-anak dalam perjalanannya menjadi dewasa. Anak-anak bukan hal yang mustahil mengalami hal-hal yang tidak baik. misalnya, membuat masalah dilingkungan sekolahnya dan sebagainya. Hal itu tentu menjadi tanggung jawab orang tuannya, menyikapi hal ini, orang tua harus memiliki kesabaran dan kekuatan yang extra. Jika hal-hal yang seperti ini membuat marah dan kecewa tentu saja wajar tetapi orang tua juga harus bisa menahan diri, ingat bahwa orang tua juga berperan sebagai pelindug mereka. Peran orang tua terhadap anak sebenarnya bukan hanya kelima point diatas. Pada intinya, orang tua sangat berperan dalam kehidupan anaknya, lalu bagaimana peran anak terhadap orang tuanya, perannya hanya satu, sebagai “ Penurut” . Hubungan Orang Tua dan Remaja Menurut Santrock (2002:23) banyak orang tua melihat anak-anak mereka mengalami perubahan dari sosok yang patuh menjadi seseorang yang tidak patuh, beroposisi dan menolak standar orang tua. Orang tua sering kali lebih ketat mengawasi dan memaksa remaja untuk mematuhi standar-standar yang ditetapkan oleh orang tua. Banyak orang tua sering kali menangani remaja kecilnya dengan mengharapkan mereka seolah-olah telah menjadi sosok yang matang dalam waktu 10 hingga 15 menit saja. Pengaruh Bina Keluarga Remaja terhadap peran orang tua dalam pencegahan kenakalan remaja (Nisa Rahmatunisa) Kenyataannya, transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa merupakan suatu perjalanan panjang yang naik turun. Remaja tidak mungkin segera mematuhi standar-standar orang dewasa. Orang tua yang mengetahui bahwa remaja membutuhkan waktu lama melakukan sesuatu dengan benar biasanya mampu menangani remaja dengan lebih kompeten dan tenang daripada orang tua yang menuntut kepatuhan segera. Sementara itu, terdapat pula orang tua yang tidak terlalu menuntut remaja untuk patuh: justru sebaliknya, dengan sangat permisif mereka membiarkan remaja melakukan segala sesuatu sesuai dengan keinginannya. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berbagai kegiatan, berbagai program, banyak dilakukan oleh PLKB di Gedebage, baik berupa pembekalan/penyuluhan kepada para TPK/TPD yang ada disana. Banyak Tri bina yang baru di dirikan itu menunjukan bahwa banyak kemajuan setiap tahun, setiap bulannya programprogram yang di adakan oleh PLKB disana. PLKB peduli atas perkembangan penduduk yang ada disana sehingga kegiatan yang sejauh apapun beliau mendatanginya untuk pekepentingan penduduknya, dapat disimpulkan dari hal itu bahwa PLKB sangat bertanggung jawab dan profesional dalam melakukan pekerjaannya. Peran orang tua sangat penting dan pengaruh bagi anak remaja, dari hasil penelitian yang menggunakan metode kuantitatif ini terbukti akan pengaruhnya orang tua bagi remaja untuk mencegah akan terjadinya hal-hal negatif yang kita sebut kenakallan remaja. Saran a) Saran untuk pemerintah Untuk pemerintah diharapkan lebih membuka mata dalam melihat keadaan masyarakat, baik dari segi kesehatan, ekonomi, dan pendidikan karena supaya untuk mempermudah masyarakat dalam mendapat pelayanan hal tsb. b) Saran untuk UPT KB Karena masyarakat sekarang sulit diajak atau diarahkan kepada hal baik menurut kita, misalnya sulit dalam pemasangan KB maka dibutuhkan kreativitas dan inovasi agar masyarakat mau untuk mendengarkan kita dan juga dibutuhkannya pemahaman sedikitnya mengenai konseling karena masyarakat yang sulit untuk diajak bisa teratasi oleh diadakanya sebuah konseling karena mumkin bisa saja masayarakat tersebut memiliki trauma atau hal lain yang tidak kita ketahui. c) Saran untuk Masyarakat Masyarakat diharapkan lebih mengerti maksud dan tujuan yang sebenarnya dari program-program yang diadakan oleh BKKBN ataupun PLKB di daerah masing-masing. Dan juga masyarakat diharapkan tidak hanya menunggu datangnya dari pemerintah yang akan menyampaikan informasi tetapi karena pada zaman sekarang sudah canggih maka diharapkan maasyarakat mencari informasi melalui internet atau hal lainnya. Masyarakat diharapkan lebih sadar untuk kesehatan dan kesejehteraan dirinya dan tidak harus dipaksa atau diminta dari pihak pemerintah dalam segala urusannya. Dan sadar bahwa di zaman sekarang ini banyak hal berbahaya dalam kesehatan khususnya HIV/AIDS jadi supaya untuk lebih berhati-hati dan mencari informasi mengenai hal tsb. DAFTAR PUSTAKA Ali, M. & Asrori, M .2006. Psikologi Remaja: Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Bumi Aksara (BKKBN, 2012) Creswell, J. W. (2010). Research design: pendekatan kualitatif, kuantitatif, dan mixed. Yogjakarta: PT Pustaka Pelajar. Moleong, J Lexy, Prof. Dr. 2009, Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Remaja Rosdakaya Nasution. (2009: 74). Metode Research (Penelitian Ilmiah). Jakarta: Bumi Aksara. John W. Santrock. 2008. Psikologi Belajar. Jakarta: Prenada Media Grup Sarwono, S. 2011. Psikologi Remaja. Jakarta: PT. Raja Grafindo. Sarwono, S.W. 2010. Psikologi Remaja. Jakarta: Rajawali Pers. Silalahi, Ulber. 2012:33. Metode Penelitian Sosial. Bandung: Refika Aditama Sudjana. (2005). Metode Statistika. Bandung: Tarsito Sugiyono. 2015:14. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D). Penerbit CV. Alfabeta: Bandung. Supranto, 2008:24. Statistik Teori dan Aplikasi. Jakarta: Penerbit Erlangga UIN, 2014:27 Panduan Karya Tulis Ilmiah. Bandung Abdi, Usman Rianse. 2012. Metodologi Penelitian Sosial dan Ekonomi Teori dan Aplikasi. Bandung. Alfabeta. Usman Rianse & Abdi, 2011:55 Widyastuti, Y., Rahmawati, A., Purwaningrum, Y.E. .2009. Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta: Fitramaya

Judul: Jurnal Nisa Rahmatunisa

Oleh: Nisa Rahmatunisa


Ikuti kami