Jurnal Dg Suherman.docx

Oleh Romli Ardie

163,1 KB 3 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Jurnal Dg Suherman.docx

PENGHITUNGAN ANGGARAN DENGAN REGRESI DUA FASE UNTUK MENGESTIMASI BIAYA PENDIDIKAN TERJANGKAU DI KOTA SERANG Dr. Suherman, M.Pd. Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana, Universitas Sultan Ageng Tirtyasa Email: suherman@untirta.ac.id, Dr. Romli Ardie, M.Pd. Administrasi Pendidikan, Program Pascasarjana, Universitas Sultan Ageng Tirtyasa Email: romli_ardi@yahoo.com Asep Muhyidin, M.Pd. Mahasiswa Program Doktor, Universitas Negeri Jakarta Email: Sri Widiastuti, M.Pd. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Email: widi@untirta.ac.id Abstract Abstrak Dalam era otonomi daerah, biaya pendidikan dasar menjadi tanggungjawab kabupaten/kota. Faktor dominan yang memicu biaya pendidikan terdiri dari gaji guru, gaji peagawai, biaya material dan operasional, dan biaya administrasi. Penghitungan biaya pendidikan dasar dalam penelitian ini, fokus pada Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Serang. Jumlah SMP di kota tersebut, sebanyak 56 sekolah, yang terdiri dari SMP Negeri 23 sekolah dan Swasta 33 sekolah. Penghitungan anggaran diawali dengan mengkaji Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS). Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengestimasi biaya pendidikan selama lima tahun ke depan. Estimasi biaya dibuat dengan metode trend eskponensial melalui regresi dua fase. Untuk mencapai tujuan tersebut, digunakan metode empiris dengan pendekatan survei. Berdasarkan kajian dari semua RAPBS, setiap komponen pada setiap sekolah memiliki besaran biaya yang berbeda. Hasil penghitungan anggaran untuk SMP di Kota Serang berada pada kisaran Rp (6.131.250.000-6.699.240.000) dengan unit cost pendidikan per siswa per tahun Rp (455.556-517.378). Kata kunci: biaya pendidikan, estimasi biaya, trend eskponensial, unit cost pendidikan, siswa. 1. Pendahuluan Pendidikan di Indonesia terdiri atas tiga tingkatan, yakni pendidikan tinggi, pendidikan menengah, dan pendidikan dasar. Pendidikan menengah terdiri atas Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan, sedangkan pendididkan dasar teridiri atas Sekolah Dasar, dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dalam era otonomi daerah, biaya pendidikan menengah menjadi tanggungjawab Pemerintah Provinsi, sedangkan pendidikan dasar menjadi tangungjawab Pemerintah Kabupaten/Kota. Kota Serang sebagai salah satu Kota di Provinsi Banten memiliki SMP sebanyak 56 sekolah, yang terdiri dari SMP Negeri 23 sekolah dan SMP Swasta 33 sekolah. Jumlah siswa SMP di Kota Serang pada setiap sekolah berbeda-beda, antara 231-1141 siswa. Perbedaan jumlah siswa berimplikasi pada jumlah guru pada setiap sekolah. Rasio rata-rata guru dengan siswa sebesar 1:22 sedangkan sebarannya cukup cukup merata dengan range 15-29 siswa per guru. Perbedaan jumlah siswa dan guru, berimplikasi pada besara biaya pendidikan untuk masing-masing sekolah. Dalam penghitungan besaran biaya pendidikan, SMP Negeri sepenuhnya menjadi tanggungjawab Pemerintah Kota, sedangkan SMP swasta biaya pendidikan menjadi tanggungjawab bersama antara Pemerintah Kota dan yayasan. Besaran biaya untuk masing-masing sekolah tampak pada Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS) yang dibuat oleh masing-masing Kepala Sekolah. Dalam RAPBS tersebut, tampak beberapa komponen kegiatan yang akan dilakukan sekolah serta besaran biayanya. Dalam penghitungan biaya pendidikan, sangat tergantung pada jumlah guru dan siswa di masing-masing sekolah. Biaya pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam siklus kegiatan pendidikan. Biaya pendidikan merupakan jumlah nominal yang harus dikeluarkan masyarakat untuk meraih atau menjadi bagian pendidikan. Richanson dalam Ghazali (2000a) konsep biaya pendidikan dijabarkan dengan pendekatan biaya langsung ke dalam, yang terdiri dari biaya administrasi, pengajaran, operasional, gedung dan pelengkapan. Selanjutnya Koch dalam Ghazali (2000b) menyatakan biaya pendidikan terdiri dari biaya langsung dari murid, pengeluaran masyarakat dan pendapatan yang hilang dalam melaksanakan pendidikan (leraning forgone). Dalam praktiknya, pembiayaan pendidikan dibagi menjadi dua, yaitu pembiayaan langsung dan pembiayaan tidak langsung. Biaya langsung merupakan elemen biaya yang memiliki kaitan langsung dengan volume pekerjaan yang tertera dalam item pembayaran atau menjadi komponen permanen hasil akhir pembelajaran. Komponen biaya langsung terdiri dari biaya upah, operasi peralatan, material. Adapun biaya tidak langsung merupakan elemen biaya yang tidak terkait langsung dengan besaran volume komponen fisik hasil akhir pembelajaran, tetapi mempunyai kontribusi terhadap penyelesaian kegiatan pembelajaran. Adapaun kategori yang termasuk biaya tidak langsung antara lain biaya overhead, pajak (taxes), biaya umum (general conditions), dan biaya risiko. Biaya-biaya tersebut, akan menjadi dasar analisis dalam penghitungan anggaran untuk mengestimasi biaya pendidikan. Dalam mengestimasi biaya penyelenggaraan satuan pendidikan diperlukan suatu konsep analisis biaya. Untuk keperluan tersebut, dikaji hal-hal yang berkaitan dengan: (1) faktor-faktor yang memicu biaya dalam satuan pendidikan (2) faktorfaktor tersebut ditelusuri dari sejak awal hingga menghasilkan suatu output, dan (3) jaminan efektivitas internal suatu penyelenggaraan pendidikan. Dalam penelitian ini, 2 dilakukan analisis biaya pendidikan untuk tingkat SMP di Kota Serang. Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengestimasi besaran biaya penyelenggaraan pendidikan SMP di Kota Serang. 2. Komponen dan Analisis Biaya Pendidikan 2.1. Komponen Biaya Pendidikan Komponen biaya pendidikan merupakan satuan biaya yang harus dikeluarkan oleh setiap sekolah dengan tujuan pemenuhan kebutuhan tertentu dalam kurun waktu tertentu pula. Fatah (2002) membagi biaya pendidikan empat komponen yakni pelaksanaan tes, peningkatan sarana pendidikan, pembinaan kegiatan siswa dan kesejahteraan. Komponen biaya pendidikan yang berkaitan dengan dana investasi, personal dan operasional yang ada dalam RAPBS, ditampilkan pada Tabel 1. Tabel 1. Komponen biaya pendidikan No Komponen Biaya Pendidikan 1 Peningkatan proses pembelajaran 2 Pemeliharaan dan penggantian sarana dan prasarana pendidikan 3 Pengadaan alat-alat belajar 4 Pembinaan tenaga kependidikan 5 Biaya pembinaan, pemantauan, pengawasan dan pelaporan 6 Rumah tangga sekolah 7 Kesejahteraan 8 Peningkatan pembinaan kegiatan siswa 9 Prosedur anggaran 10 Pengelolaan sekolah 11 Pembinaan siswa 12 Sarana sekolah 13 Sarana kelas 14 Perawatan 15 Pengadaan bahan pelajaran 16 Prosedur akuntasi keuangan 17 Pembelajaran, pergudangan dan pendistribusian 18 Peningkatan kemampuan dalam menguasai iptek 19 kebijakan pemerintah untuk menampung semua anak umur 7 – 12 tahun di tingkat pendidikan dasar dan mensukseskan wajib belajar 9 tahun 20 tuntutan masyarakat adanya perbaikan dalam sistem pendidikan nasional 21 laju perkembangan pendidikan yang lamban 22 Prosedur pemeriksaan 23 Prosedur investasi Komponen biaya pendidikan pada Tabel 1 menjadi bagian penting dalam menghitung anggaran pendidikan pada satuan pendidikan. Perhitungan biaya pendidikan untuk setiap satuan pendidikan terus dilakukan sebagai upaya mensukseskan pendidikan gratis di Kabupaten/Kota. Prakosa (2010) menganalisis biaya satuan pendidikan dasar di Kabupaten Sragen. Pembiayan pendidikan berkaitan dengan permasalahan perhitungan biaya di satuan pendidikan. Menurut 3 Postula (2004) cost is the value and activity or asset, this value is determined by the cost of the resources that are extende to complete the activity or produce the asset. Bastian (2007) selama ini perkembangan perhitungan biaya di tingkat sekolah dasar dan menengah belum mampu menjawab tantangan era otonomi dan globalisasi secara optimal. Selanjutnya, Granof (2000) menyatakan bahwa sistem perhitungan biaya dan sistem akuntansi yang diterapkan dan dikembangkan di satuan pendidikan masih banyak yang didasarkan pada bentuk (form) akuntansi dana yang lebih bertujuan untuk kepatuhan (compilance) terhadap sisi aturan dan memuaskan penilaian dalam penetapan anggaran dana. 2.2. Analisis Biaya Pendidikan Analisis terhadap biaya pendidikan dilakukan dengan dua cara, yaitu: memperkirakan biaya atas dasar sumber-sumber pembiyaan, dan memperkirakan biaya atas adasar laporan dari satuan pendidikan. Fatah (2008) membagi analisis biaya menjadi tiga, yaitu: cost-benefit analysis, study the determinants the educational cost, study economies of scale. Terkait analisis biaya pendidikan telah banyak dilakukan, baik melalui survei maupun model. Supriyadi (2010) melakukan penelitian satuan biaya pendidikan di enam provinsi di Indonesia dengan survei. Analisis dilakukan berdasarkan lokasi masing-masing sekolah, biaya pendidikan untuk SMP yang berlokasi di Kota per siswa per tahun sebesar Rp 3.147.809. Selanjutnya, Setyaningrum (2014) melakukan analisis satuan biaya di SMK Negeri 3 Kota Tanggerang Selatan dengan menggunakan model Activity Based Costing. Berdasarkan model tersebut, biaya per siswa per program keahlian per tahun berada pada kisaran Rp 8.923.452-10.018.166. Pada penelitian ini, penghitungan anggaran didasarkan pada RAPBS SMP di Kota Serang. Penghitungan anggaran meliputi biaya modal dan biaya berulang, dengan menganalisis aktivitas dari satuan biaya kemudian dikembangkan dalam cost poll dan cost object. Atas dasar kelengkapan peta satuan-satuan analisis tersebut, maka dapat ditentukan unit cost per siswa. Nilai unit cost merupakan satuan biaya yang dikeluarkan untuk memberikan pelayanan kepada seorang siswa per tahun. Berdasarkan nilai ini akan dibuat pola standar sehingga bisa diakukan estimasi biaya pendidikan terjangkau untuk tahun yang akan datang. Biaya pendidikan terjangkau merupakan semua jenis pengeluaran yang dikeluarkan untuk penyelenggaraan pendidikan. Terkait dengan pengeluaran biaya pendidikan, menurut statusnya dibedakan antara lembaga pendidikan pemerintah dan pendidikan swasta. Adapun menurut tingkatannya, dibedakan antara pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Dalam penelitian ini, dikaji biaya pendidikan yang terjangkau oleh Kota Serang untuk SMP Negeri maupun SMP Swasta. Perhitungan anggaran serta estimasi anggaran untuk lima tahun ke depan digunakan regresi dua fase. 3. Metode Penelitian berbentuk empiris dengan pendekatan survei, pada SMP di seluruh Kota Serang. Menurut Pardoto (2009) penelitian empiris dilakukan, di mana data studi dikumpulkan melalui dua mekanisme. Mekanisme pertama berupa survei, yang berkaitan dengan pemahaman dan persepsi Kepala Sekolah tentang komponen biaya 4 pendidikan pada tingkat satuan pendidikan. Mekanisme kedua pengolahan data pada RAPBS dengan analisis regresi. Penelitian dilakukan di SMP negeri dan swasta di Kota Serang, responden dalam penelitian ini berasal dari Kepala Sekolah yang telah memiliki pengalaman memimpin minimal 3 (tiga) tahun. Untuk menghitung unit cost pendidikan, digunakan persamaan: B =WT +WNT + AMO + ADM .........(1.1) B = AVTxNT + AVNTxNNT + AMO + ADM .........(1.2) UCP= B / NSTU .........(1.3) UCP= AVTxNT + AVNTxNNT + AMO + ADM NSTU .........(1.4) Persamaan (1.4) menghasilkan: UCP= AVT AVNT + + AMOSTU + ADMSTU PTR PNTR ..........(2) Keterangan: B = jumlah anggaran, WT = gaji guru, WNT = gaji pegawai (bukan guru), AMO = biaya material dan operasional, ADM = biaya administrasi, AVT = rata-rata gaji guru, NT = jumlah guru, AVNT = rata-rata gaji pegawai (bukan guru), NNT = jumlah pegawai (bukan guru), UCP = unit cost pendidikan, NSTU = jumlah murid, PTR = rasio guru terhadap murid, PNTR = rasio pegawai terhadap murid, AMOSTU = total pengeluaran bahan ajar (material) murid, dan ADMSTU = rata-rata administrasi per murid. Untuk membuat estimasi jumlah murid dan jumlah guru selama lima tahun kedepan dilakukan melalui metode trend eskponensial. Trend exponensial adalah suatu bentuk persamaan yang bukan dalam bentuk garis lurus, dimana persamannya berbentuk: Y=a . b rSup { size 8{x} } } {¿ ..........(3) Persamaan (3) dapat diubah dalam bentuk persamaan garis lurus dengan cara melakukan logaritma pada kedua bagian persamaan sehingga menjadi: log Y = log a+x log b} { ¿ ..........(4) Untuk membuat estimasi anggaran pendidikan selama 5 tahun kedepan digunakan metode present value dengan rumus sebagai berikut: FV = PV(1 + r)n ..........(5) Dengan: FV = nilai uang tahun ke-i, PV = nilai uang tahun 2015, r = tingkat suku bunga (12%), dan n = tahun estimasi. 4. Hasil dan Pembahasan Untuk menghitung jumlah anggaran dan unit cost pada SMP negeri dan swasta di Kota Serang, digunakan persamaan (1) dan (2). Variabel yang dihitung, yang mempengaruhi biaya pendidikan adalah: biaya gaji guu (WT), biaya gaji pegawai bukan guru (WNT), baya operasional dan material (AMO) dan biaya administrasi (ADM). Unit cost pendidikan (UCP) dianalisis dengan memperhatikan jumlah siswa (NSTU). Hasil analisis pengeluaran dan jumlah anggaran, untuk SMP ditampilkan pada Tabel 2. Berdasarkan data pada Tabel 2 jumlah anggaran biaya pendidikan (B) dari tahun ke tahun terjadi peningkatan. Antara tahun ajaran 2012/2013 sampai 5 2014/2015 jumlah anggaran meningkat antara (1,76-2,18) %. Dengan kata lain jumlah anggaran untuk tingkat SMP, Pemerintah Kota Serang perlu menyediakan dan menambah anggaran pendidikan maksimal 3 % dari tahun sebelumnya. Tabel 2. Jumlah Anggaran tingkat SMP di Kota Serang Pengeluaran berdasarkan Kode (Rp) Jumlah Anggaran Tahun Pelajaran WT WNT AMO ADM 2012/2013 26.052.000.000 6.732.000.000 4.206.150.000 1.925.100.000 Rp 38.915.250.000 2013/2014 26.247.000.000 6.864.000.000 4.381.470.000 2.107.620.000 Rp 39.600.090.000 2014/2015 26.637.000.000 7.128.000.000 4.431.960.000 2.267.280.000 Rp 40.464.240.000 B Analisis unit cost pendidikan untuk tingkat SMP ditampilkan pada tabel 3. Berdasarkan tabel tersebut, biaya pendidikan yang ditanggung Pemerintah untuk tingkat SMP per siswa per bulan berada pada kisaran Rp (213.660-222.121). Artinya, untuk jumlah siswa SMP sebanyak 15181 siswa, Pemerintah Kota Serang perlu menyiapkan anggaran selama satu tahun ajaran sebesar Rp. 40.464.240.000. Tabel 3. Unit Cost Pendidikan tingkat SMP di Kota Serang Jumlah Anggaran Jumlah Murid Unit Cost Pendidikan Biaya per siswa per bulan B NSTU UCP BSB SPP TPB TPT 2012/2013 38.915.250.000 15178 2.563.925 213.660 0 213.660,40 2.563.925 2013/2014 39.600.090.000 15196 2.605.955 217.163 0 217.162,90 2.605.955 2014/2015 40.464.240.000 15181 2.665.453 222.121 0 222.121,07 2.665.453 Tahun Pelajaran Sumbangan Masyarakat per bulan Tanggungan Pemerintah per bulan Tanggungan Pemerintah per tahun Estimasi biaya pendidikan dilakukan berdasarkan data sekunder yang diperoleh dari RAPBS. Sementara itu, pimpinanan sekolah pada setiap tingkat pendidikan kurang memberikan akses yang optimal terhadap data yang dibutuhkan, dengan alasan rahasia, sekolah tidak bersedia memberikan data RAPBS secara rinci. Untuk mengatasi hal tersebut model yang akan dibangun didasarkan pada data yang terbatas, serta informasi lain yang berkaitan dengan karakteristik sekolah, lokasi, kualitas sekolah dan sebagainya. Dari beberapa data RAPBS yang relatif lengkap. Dengan menggunakan persamaan (5), besaran anggaran operasional pendidikan untuk tingkat SMP di Kota Serang dapat diestimasi selama lima tahun ke depan, hasil analisis estimasi ditampilkan pada tabel 4. Tabel 4. Estimasi Biaya pendidikan SMP di Kota Serang Tahun Pelajaran Estimasi Biaya 2015/201 2016/201 2017/201 2018/201 2019/202 6 7 8 9 0 Unit cost 455.556 470.282 485.484 501.177 517.378 6 Biaya 37.963 39.190 40.457 41.765 43.115 Operasional Berdasarkan data pada Tabel 4, maka Pemerintah Kota Serang pada tahun 2016/2017 untuk SMP perlu merencanakan biaya operasional per siswa per tahun sebesar Rp 470.282 atau biaya operasional sekolah per siswa per bulan sebesar Rp 39.190. Biaya tersebut menjadi kewajiban Pemerintah Kota Serang, dalam membiayai seluruh siswa SMP baik negeri maupun swasta. Bagi SMP Negeri, tidak ada lagi biaya yang dibebankan pada siswa, mengingat semua unsur pengeluaran, baik bangunan, peralatan, gaji guru sudah dianggarkan oleh Pemerintah Kota. Sementara, bagi SMP Swasta, dimungkinkan masih ada biaya yang dibebankan pada siswa, mengingat tidak semua guru dan fasilitas yang ada di sekolah tersebut dibiayai oleh Pemerintah Kota. 5. Simpulan Biaya anggaran operasional SMP berada pada kisaran Rp 6.131.250.0006.699.240.000. Unit cost pendidikan per siswa per tahun berada pada kisaran Rp 403.956-441.291. Hasil analisis RAPBS dari beberapa SMP di Kota Serang, kebutuhan biaya operasional yang harus ditanggung Pemerintah Kota Serang berada pada kisaran Rp 37.963-43.115 per siswa per bulan. Daftar Pustaka Bastian, I.2007. Akuntansi Pendidikan. Jakarta: Erlanga. Fattah, Nanang 2001. “Studi Tentang Pembiayaan Pendidikan Sekolah Dasar” http://google.com/htm, download tanggal 8 September 2015. Ghazali, A. 2000a. Analisis Biaya Manfaat SMU dan SMK, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan No. 22 Tahun ke-5, Maret 2000 ................... 2000b. Pendidikan antara Investasi Manusia dan Alat Diskriminasi, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan No. 23 Tahun ke-6, Mei 2000 Granof, MH. DE, Platt, dan I, Vaysman. 2000. Using Activity-Based Costing to Manage More Effectively. Working Paper. Grand Research Report Austin America. University of Texas. Pardoto, RGK. 2009. Studi Estimasi Komponen Biaya Tidak Langsung Proyek Konstruksi. Laporan Akhir Penelitian Hibah Bersaing XIII. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. Depdiknas Postula, FD. 2004. Skills & Knowledge of Cost Engineering. 5th edition: Cost Element. AACE International Morgantown. West Virginia. USA Prakosa, I. 2010. Analisis Biaya Pendidikan Satuan Pendidikan Dasar: Studi Kasus di Kabupaten Sragen. Tesis: Program studi Akuntansi sektor Publik. Magister Akuntansi Fakultas Ekonomi. Surakarta: Universitas Sebelas Maret. Supriadi, D. 2010. Satuan Biaya Pendidikan Dasar dan Menengah. Bandung: Remaja Rosada Karya Setyaningrum, S. 2014. Analisis Perhitungan Biaya Satuan (Unit Cost) dengan Model Activity Based Costing untuk Menentukan Standar Biaya di SMK Negeri 3 Kota Tanggerang Selatan. Skripsi. Program Studi Manajemen Pendidikan. Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Jakarta: Universitas Islam Indonesia. 7

Judul: Jurnal Dg Suherman.docx

Oleh: Romli Ardie


Ikuti kami