Jurnal Musdalifah Arifuddin

Oleh Moh Mahsun Gfc

182,9 KB 5 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Jurnal Musdalifah Arifuddin

FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMILIHAN KONTRASEPSI HORMONAL PASUTRI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS LAMPA KECAMATAN DUAMPANUA KABUPATEN PINRANG 2013 RELATED FACTORS TO THE ELECTION HORMONAL CONTRACEPTION AT COUPLES IN THE REGION LAMPA OF PUBLIC HEALTH CENTER IN DUAMPANUA PINRANG DISTRICT IN 2013 1 Musdalifah1, Mukhsen Sarake 1, Rahma1 Bagian Biostatistik/KKB, Fakultas Kesehatan Masyarakat, UNHAS, Makassar (musdalifah.arifuddin@yahoo.com/085299595661) ABSTRAK Pelayanan kontrasepsi Hormonal merupakan kegiatan untuk mengatasi tingkat kelahiran yang ditujukan pasangan suami istri (PASUTRI) dengan cara metode hormonal. Jumlah peserta KB di Kecamatan Duampanua adalah yang tertinggi yaitu sebesar 5.588 peserta. Penulisan ini bertujuan memperoleh informasi tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan pemilihan alat kontrasepsi hormonal pada PASUTRI di wilayah kerja Puskesmas Lampa Kabupaten Pinrang. Pengambilan sampel dilakukan dengan Proportional Stratified Random Sampling, Pengujian hipotesis dengan uji Chi – Square ( α = 0,05 ). Jumlah populasi penelitian sebanyak 2545 dengan jumlah sampel 192 dimana semuanya berstatus sebagai akseptor KB aktif di wilayah kerja Puskesmas Lampa Kecamatan Duampanua Kabupaten Pinrang tahun 2012. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara umur dengan pemilihan alat kontrasepsi dengan nilai p = 0,008, ada hubungan antara dukungan suami dengan pemilihan alat kontrasepsi dengan nilai p = 0,000, tidak ada hubungan antara jumlah anak hidup dengan pemilihan alat kontrasepsi dengan nilai p = 0,988, ada hubungan antara efek samping dengan pemilihan alat kontrasepsi dengan nilai p = 0,010, ada hubungan antara pemberian informasi dengan pemilihan alat kontrasepsi dengan nilai p = 0,006. Umur menentukan pemilihan alat kontrasepsi hormonal, begitu juga dengan efek samping dan dukungan suami berperan penting dalam mendukung akseptor memilih kontrasepsi hormonal sedangkan Petugas KB diharapkan mampu menjalankan tugasnya untuk terus menerus melakukan penyuluhan secara berkala dan berkelanjutan kepada pasangan suami istri untuk tertarik dan tetap menggunakan alat kontrasepsi hormonal. Kata kunci : Pemilihan alat kontrasepsi, keluarga berencana, Pinrang ABSTRACT Hormonal contraceptive services is an activity to cope with a birth rate that is intended married couples (couples) by way of hormonal methods. Of the total number of existing district in the district. Pinrang planning acceptors in District Duampanua is the highest, at 5,588. This research aims to identify and obtain information about the factors associated with the selection of hormonal contraceptives on couples in the Puskesmas Lampa Pinrang. Sampling was done by Proportional Stratified Random Sampling, Testing hypotheses with Chi - Square (α = 0,05). Study population as in 2545 with a sample of 192 where everything existed as an active acceptors in the Puskesmas Lampa Duampanua Pinrang District in 2012. The results showed no relationship between age and the selection of contraceptive methods with p = 0.008, there is a relationship between the husband support the selection of contraceptive methods with p = 0.000, there is no relationship between the number of children living with the selection of contraceptive methods with p = 0.988, no the relationship between the selection of the side effects of contraceptives with p = 0.010, there is a relationship between the provision of information to the selection of contraceptive methods with p = 0.006. Age determines the selection of hormonal contraceptives, as well as side effects and husband's support was instrumental in supporting the acceptor choosing hormonal contraception while FP is expected to perform his duty to continue to make regular and ongoing counseling to married couples to be interested and keep using contraception hormonal. Key words: Selection of contraception, Family planning, Pinrang 1 PENDAHULUAN Kontrasepsi merupakan teknik-teknik untuk menjarangkan atau membatasi kehamilan. Keberhasilan dalam pemakaian kontrasepsi merupakan salah satu bukti keberhasilan program KB Nasional (Raoda, 2004). Perubahan visi paradigma program Keluarga Berencana Nasional dari mewujudkan norma keluarga kecil bahagia sejahtera (NKKBS) menjadi visi untuk mewujudkan "keluarga berkualitas tahun 2015". Keluarga yang berkualitas adalah yang sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak yang ideal, berwawasan kedepan, bertanggung jawab, harmonis dan Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (Saifuddin, 2006). Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1999 telah memberikan pijakan untuk program ini. Salah satu intinya adalah "meningkatkan kualitas penduduk melalui pengendalian kelahiran, memperkecil angka kematian dan meningkatkan kualitas program KB". Perubahan paradigma ini diharapkan mampu mengekang atau menurunkan angka kelahiran untuk mencegah terjadinya peledakan penduduk. Dari data sensus tahun 2010 didapat penduduk Indonesia berjumlah 237,56 juta jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,49% dan jumlahnya akan terus bertambah sesuai dengan Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP). Laju pertambahan penduduk 1,49 % per tahun-artinya setiap tahun jumlah penduduk Indonesia bertambah 3-3,5 juta jiwa. Bila tanpa pengendalian yang berarti atau tetap dengan pertumbuhan penduduk 1,49% per tahun, maka jumlah tersebut pada tahun 2013 akan terus bertambah menjadi 249 juta jiwa atau menjadi 293,7 juta jiwa pada tahun 2015 (www.BPS.go.id). Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI 2007) munculnya berbagai macam cara kontrasepsi memberikan lebih banyak pilihan bagi pemakainya. Alat kontrasepsi spiral banyak digunakan di negara-negara berkembang sementara di Indonesia, akseptor KB di Indonesia paling banyak menggunakan alat kontrasepsi suntik (57%). Persentase peserta KB di Indonesia mencapai 59,5% terdiri dari beberapa metode kontrasepsi yaitu suntik (27,8%), pil (13,2%), IUD (6,2%), susuk (4,3%), kondom (0,9%), tubektomi (3,7%), dan vasektomi (0,4%) (SDKI, 2002 - 2003). Sedangkan pada tahun 2005, prevalensi peserta KB di Indonesia adalah 66,2%. Terdiri dari suntikan (34%), pil (17%), IUD (7%), implant (7%), MOW (2,6%), MOP (0,3%), dan kondom (0,6%) (BKKBN mini survey tahun 2007). Jumlah ini mengalami peningkatan pada tahun 2009 menjadi 66,9% dengan jumlah peserta terbanyak yaitu suntik sebesar (36,8%) jumlah ini kemudian kembali mengalami peningkatan di tahun 2010 sebesar 0,7% atau sebesar 67,6% (BKKBN mini survey tahun 2010). 2 Seluruh jumlah Kecamatan yang ada di Kab. Pinrang, jumlah peserta KB di Kecamatan Duampanua adalah yang tertinggi yaitu sebesar 5.588 peserta. Persentase peserta KB per alat kontrasepsi adalah sebagai berikut: IUD 120 (2,1%) peserta, implant 355 (6,4%) peserta, suntik 1.420 (25,4%) peserta, pil 3.540 (63,4%) peserta, kondom 123 (2,2%) peserta, dan MOP/MOW 30 (0,5%) peserta (Dinkes Kab. Pinrang, 2011). Menurut Muhajirah (2004) mengemukakan hasil penelitiannya bawa pasangan usia subur termotivasi memakai alat kontrasepsi didasarkan pada beberapa faktor antara lain : umur, pendidikan, pengetahuan, jumlah anak, motivasi/pelayanan petugas, efek samping, dan sosial budaya serta ekonomi masyarakat, sehingga peneliti merasa tertarik untuk mengetahui faktorfaktor yang mendukung akseptor KB untuk menggunakan alat kontrasepsi hormonal. BAHAN DAN METODE Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Lampa Kecamatan Duampanua Kabupaten Pinrang. Waktu pengumpulan data yaitu selama 1 bulan pada tanggal 1 - 30 April 2013. Populasi penelitian adalah semua peserta KB aktif yang berada di wilayah kerja Puskesmas Lampa hingga akhir tahun 2012 berdasarkan data yang diperoleh dari Puskesmas Lampa yaitu sebanyak 2545 orang dengan sampel 192 orang pada saat penelitian dijadikan unit observasi. Pengambilan sampel yang digunakan yaitu teknik pengambilan sampel Proporsional Stratified Random Sampling. Penelitian ini menggunakan rancangan Cross Sectional Study. Pengumpulan data diperoleh dengan dua cara, data primer diperoleh dengan mengunakan kuesioner dan data sekunder berupa data sekunder diperoleh dari instansi – instansi terkait, antara lain BKKBN, Dinas Kesehatan kabupaten pinrang, Kantor Kecamatan Duampanua dan Puskesmas Lampa. Data diolah dan dianalisis menggunakan program SPSS di komputer dengan melakukan analisis univariat dan analisis hubungan dilakukan terhadap tiap variabel independen dengan variabel dependen dengan menggunakan uji Yate’s Correction dengan tingkat signifikan alfa (α) 0,05. HASIL Karakteristik Responden Tabel 1 menunjukkan bahwa berdasarkan umur responden, distribusi yang tertinggi berada pada umur 25-34 tahun yaitu sebanyak 84 responden (43,8%), untuk pekerjaan responden mayoritas adalah IRT sebesar 96 responden (50,0%) sedangkan Tabel 2 distribusi tertinggi untuk jenis kontrasepsi terbanyak pada pemakaian Pil yaitu sebesar 78 responden (40,6%). 3 Analisis Univariat Umur dalam penelitian ini adalah umur responden pada saat penelitian berlangsung berdasarkan ulang tahun terakhir yang diperoleh dari informasi yang dieksplorasi dari responden atau berdasarkan kartu penduduk yang dimiliki. Tabel 2 menunjukkan bahwa dari 198 responden, proporsi responden yang menggunakan kontrasepsi hormonal tertinggi berada pada kelompok umur > 30 tahun (98,5%). Sedangkan responden yang tidak menggunakan kontrasepsi hormonal tertinggi berada pada kelompok umur 20 - 30 tahun (16,2%). Dukungan suami dalam penelitian ini adalah ketika suami mengetahui istrinya ber-KB, setuju istrinya ikut program keluarga berencana, mendukung istrinya ber-KB, melakukan monitoring terhadap aturan penggunaan alat kontrasepsi serta mengawasi efek samping yang terjadi akibat penggunaan alat kontrasepsi. Tabel 2 menunjukkan bahwa proporsi responden yang menggunakan kontrasepsi hormonal lebih banyak mendapat dukungan suami sebesar 93,4% dibandingkan yang tidak menggunakan kontrasepsi hormonal sebesar 6,6%. Jumlah anak hidup dalam penelitian ini adalah jumlah anak yang pernah dilahirkan dan masih hidup pada saat penelitian berlangssung. Berdasarkan tabel 2 terlihat bahwa proporsi tertinggi pada responden yang menggunakan kontrasepsi hormonal memiliki anak 1 – 2 anak yaitu sebanyak 88,1%. Efek samping dalam penelitian ini adalah timbulnya gejala-gejala seperti pusing, mual, sesak nafas, haid tidak teratur, berat badan bertambah yang dirasakan menggangu, keluhan penggunaan yang dirasakan sebelumnya dan karena alasan medis peserta alat kontarsepsi tidak diperkenankan untuk menggunakan alat kontrasepsi tersebut. Berdasarkan tabel 2 proporsi tertinggi pada responden yang menggunakan kontrasepsi hormonal tidak mengalami efek samping yaitu sebesar 93,3%. Pemberian informasi petugas KB dalam penelitian ini adalah adanya pemberian informasi yang dibutuhkan peserta KB seperti jenis metode kontrasepsi, jangka waktu penggunaan alat kontrasepsi, jenis kontrasepsi yang sesuai dengan umur atau keadaan fisik peserta KB dan efek samping yang biasa ditimbulkan dalam penggunaan metode kontrasepsi sebelum peserta KB memutuskan untuk menggunakan salah satu alat kontrasepsi. Berdasarkan tabel 2 proporsi tertinggi pada responden yang menggunakan kontrasepsi hormonal menganggap bahwa informasi yang diperoleh adalah cukup yaitu sebesar 91,8%. Analisis Bivariat Hubungan antara variabel dependent (pemilihan alat kontrasepsi hormonal) dengan variabel independent (umur, dukungan suami, jumlah anak hidup, efek samping, pemberian informasi petugas KB) dapat di lihat pada tabel 2 diantaranya sebagai berikut. 4 Hasil analisis umur, sebanyak 170 responden akseptor KB menggunakan kontrasepsi hormonal sedangkan 22 responden akseptor KB tidak menggunakan kontrasepsi hormonal. Dari hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,008 (p < 0,05) dengan demikian Ho ditolak. Hal ini berarti ada hubungan umur responden dengan pemakaian kontrasepsi hormonal. Hasil analisis dukungan suami, dari 170 responden yang menggunakan kontrasepsi hormonal, sebesar 93,4% responden yang mendapat dukungan suami dan 70,7% tidak mendapat dukungan suami. Sedangkan dari 22 responden yang tidak menggunakan kontrasepsi hormonal, sebesar 6,6% responden yang mendapat dukungan suami dan 29,3% tidak mendapat dukungan suami. Dari hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,000 (p < 0,05) dengan demikian Ho ditolak. Hal ini berarti ada hubungan dukungan suami dengan pemakaian kontrasepsi hormonal. Hasil analisis jumlah anak hidup, sebanyak 170 responden yang menggunakan kontrasepsi hormonal diantaranya 88,1% memiliki 1 - 2 anak. Sedangkan dari 22 responden yang tidak menggunakan kontrasepsi hormonal diantaranya 11,9% memiliki 1 - 2 anak. Dari hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,988 (p > 0,05) dengan demikian Ho diterima dan Ha ditolak. Hal ini berarti tidak ada hubungan jumlah anak hidup dengan pemakaian kontrasepsi hormonal. Hasil analisis dukungan suami, dari 170 responden yang menggunakan kontrasepsi hormonal, sebesar 93,9% responden tidak mengalami efek samping dan 80,8% responden mengalami efek samping. Sedangkan dari 22 responden yang tidak menggunakan kontrasepsi hormonal, sebesar 6,1% responden tidak mengalami efek samping. Dari hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,010 (p < 0,05) dengan demikian Ho ditolak. Hal ini berarti ada hubungan efek samping dengan pemakaian kontrasepsi hormonal. Hasil analisis pemberian informasi petugas KB, dari 170 responden yang menggunakan kontrasepsi hormonal, sebesar 91,8% responden menganggap informasi yang diperoleh cukup dan 73,5% responden menganggap informasi yang diperoleh kurang. Sedangkan dari 22 responden yang tidak menggunakan kontrasepsi hormonal, sebesar 8,2% responden menganggap informasi yang diperoleh cukup. Dari hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,006 (p < 0,05) dengan demikian Ho ditolak. Hal ini berarti ada hubungan pemberian informasi petugas KB dengan pemakaian kontrasepsi hormonal. PEMBAHASAN Umur Hasil analisis data menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara variabel umur dengan variabel pemakaian kontrasepsi hormonal. Faktor umur sangat berpengaruh 5 terhadap aspek reproduksi manusia terutama dalam pengaturan jumlah anak yang dilahirkan dan waktu persalinan, yang kelak berhubungan pula dengan kesehatan ibu. Umur juga merupakan salah satu faktor yang menentukan perilaku seseorang termasuk dalam pemakaian alat kontrasepsi. Semakin tua umur seseorang maka pemilihan alat kontrasepsi ke arah alat yang mempunyai efektivitas lebih tinggi yakni metode kontrasepsi jangka panjang (BKKBN, 2003). Menurut Hartanto (2004), umur di bawah 20 tahun dan di atas 35 tahun sangat berisiko terhadap kehamilan dan melahirkan, sehingga berhubungan erat dengan pemakaian alat kontrasepsi. Periode umur wanita antara 20 – 35 tahun adalah periode yang paling baik untuk melahirkan. Pasangan usia subur yang telah melahirkan anak pertama pada periode ini, sangat dianjurkan untuk menggunakan kontrasepsi dengan tujuan untuk menjarangkan kehamilan. Apabila ibu merencanakan untuk mempunyai anak, kontrasepsi dapat dihentikan sesuai keinginan ibu dan kesuburan akan segera kembali. Menurut hasil penelitian Yanti (2009), responden yang umurnya lebih dari 35 tahun cenderung memilih metode alamiah karena menurut mereka lebih aman dan tanpa efek Ssamping. Sedangkan menurut Donaldson dan Tsui (1990), wanita yang lebih tua, lebih suka menggunakan metode kontrasepsi tradisional karena mereka sudah merasa cocok dengan metode kontrasepsi tersebut. Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan hasil penelitian Leridon H, et al (2002) yang menyatakan bahwa AKDR justru lebih banyak digunakan oleh wanita yang berusia di atas 35 tahun. Menurut Speroff L dan Darney P (2003), AKDR merupakan pilihan kontrasepsi reversibel yang baik bagi wanita yang lebih tua. Menurut hasil penelitian Patrick Thonneau dkk (2006), wanita umur reproduktif lebih dari 35 tahun justru lebih sering menggunakan AKDR karena resiko kegagalan akibat efek samping lebih rendah dibandingkan dengan wanita dibawah umur 35 tahun. Dukungan Suami Hasil analisis data menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara variabel dukungan suami dengan variabel pemakaian kontrasepsi hormonal. Bila suami tidak mengizinkan atau tidak mendukung, maka hanya sedikit istri yang berani untuk tetap memasang alat kontrasepsi tersebut. Dukungan suami sangat berpengaruh besar dalam pengambilan keputusan menggunakan atau tidak dan metode apa yang akan dipakai. Selain peran penting dalam mendukung mengambil keputusan, peran suami dalam memberikan informasi juga sangat berpengaruh bagi istri. Peran seperti ikut pada saat konsultasi pada tenaga kesehatan saat istri akan memakai alat kontrasepsi, mengingatkan istri jadwal minum 6 obat atau jadwal untuk kontrol, mengingatkan istri hal yang tidak boleh dilakukan saat memakai alat kontrasepsi dan sebagainya akan sangat berperan bagi istri saat akan atau telah memakai alat kontrasepsi. Besarnya peran suami akan sangat membantunya dan suami akan semakin menyadari bahwa masalah kesehatan reproduksi bukan hanya urusan wanita (istri) saja. Peran lain suami adalah memfasilitasi (sebagai orang yang menyediakan fasilitas), memberi semua kebutuhan istri saat akan memeriksakan masalah kesehatan reproduksinya. Hal ini dapat terlihat saat suami menyediakan waktu untuk mendampingi istri memasang alat kontasepsi atau kontrol, suami bersedia memberikan biaya khusus untuk memasang alat kontrasepsi dalam hal ini lebih banyak suami mendukung untuk menggunakan kontrasepsi hormonal, dan membantu istri menentukan tempat pelayanan atau tenaga kesehatan yang sesuai. Pemakaian alat kontrasepsi suami dan istri tidak begitu mempermasalahkan karena dilakukan secara musyawarah, keputusan dapat diambil oleh suami atau istri saja dengan memperhatikan segala risiko yang mungkin timbul akibat dari pemakaian alat kontrasepsi. Dengan kata lain musyawarah dalam hal pemilihan alat kontrasepsi hormonal sangatlah penting dalam mengambil keputusan dalam pemakaian alat kontrasepsi atau dapat dikatakan bahwa istri baru menggunakan alat kontrasepsi setelah mendapat dukungan dari suami dalam menggunakan kontrasepsi hormonal. Friedman (1998) dan Sarwono (2007) mengatakan bahwa ikatan suami isteri yang kuat sangat membantu ketika keluarga menghadapi masalah, karena suami/isteri sangat membutuhkan dukungan dari pasangannya. Hal itu disebabkan orang yang paling bertanggung jawab terhadap keluarganya adalah pasangan itu sendiri. Dukungan tersebut akan tercipta apabila hubungan interpersonal keduanya baik. Dukungan suami yang tidak baik akan memengaruhi kemauan wanita PUS untuk menggunakan alat kontrasepsi. Hal ini dikarenakan di masyarakat khususnya di wilayah kerja Puskesmas Lampa, lelaki atau suami masih memegang kendali dalam pengambilan keputusan di banyak hal, salah satunya adalah penggunaan alat kontrasepsi. Jika tidak didukung suami, maka sang istri juga tidak akan mau menggunakan alat kontrasepsi. Jumlah Anak Hidup Hasil analisis data menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara variabel jumlah anak hidup dengan variabel pemakaian kontrasepsi hormonal. Hal ini menunjukkan makin banyak anak, belum tentu responden dapat memilih dengan benar. Padahal pemerintah telah memberikan anjuran kepada masyarakat untuk menggunakan KB dan menganjurkan 7 untuk cukup memiliki 2 anak. Hal ini dilakukan untuk menekan laju pertumbuhan penduduk yang terus meningkat. Ibu yang telah memiliki 2 anak dianjurkan untuk menggunakan alat kontrasepsi hormonal yang memiliki efektifitas yang tinggi, sehingga kemungkinan untuk mengalami kehamilan lagi cukup rendah. Namun karena masih kuatnya anggapan di masyarakat bahwa banyak anak banyak rezeki, terutama masyarakat di daerah Bugis, sehingga menyebabkan masih banyaknya masyarakat yang tidak mengikuti anjuran dari pemerintah tersebut, padahal paradigma tersebut sangat keliru karena dengan banyak anak kehidupan keluarga akan lebih menderita (BKKBN, 2010). Masyarakat di daerah penelitian pada umumnya adalah masyarakat Bugis yang memandang sumber daya manusia adalah tolak ukur yang dapat dijadikan sebagai tenaga kerja untuk mengelolanya lingkungannya. Hal ini mungkin salah satu penyebab yang berpengaruh terhadap banyaknya jumlah anak yang dimiliki, anak merupakan sumber daya yang diharapkan dapat membantu orangtua dalam bekerja dan berusaha. Hasil dari penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian Syamsiah (2002) yang mengatakan adanya hubungan antara jumlah anak dengan pemilihan alat kontrasepsi. Penelitian yang dilakukan oleh Syamsiah, responden yang memiliki anak >2 anak atau memiliki paritas tinggi lebih banyak yang menggunakan alat kontrasepsi dalam rahim yang memiliki efektivitas tinggi, sehingga dapat disimpulkan responden telah sesuai dalam pemilihan alat kontrasepsi tidak seperti pada penelitian ini yang hasilnya menunjukkan responden dengan paritas tinggi masih banyak yang tidak sesuai dalam pemilihan alat kontrasepsi. Efek Samping Hasil analisis data menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara variabel efek samping dengan variabel pemakaian kontrasepsi hormonal. Efek samping adalah perubahan fisik atau psikis yang timbul akibat dari penggunaan alat/obat kontrasepsi, tetapi tidak berpengaruh serius terhadap kesehatan klien (BKKBN, 2002). Menurut Hartanto (2004), dengan belum tersedianya metode kontrasepsi yang benar-benar 100% sempurna, maka ada tiga hal yang sangat penting untuk diketahui oleh calon akseptor KB yakni efektivitas, keamanan dan efek samping. Reaksi efek samping yang sering terjadi sebagai akibat penggunaan alat kontrasepsi yaitu : amenorhoe, perubahan berat badan, pusing dan sakit kepala. Menurut Saifuddin (2006), pada umumnya efek samping dari penggunaan hormonal adalah perubahan siklus haid, haid menjadi lebih lama, volume darah haid lebih meningkat, dan saat haid akan menjadi lebih sakit. 8 Hasil penelitian yang telah dilakukan, didapatkan data bahwa adanya efek samping dari hormonal menyebabkan ibu tidak menggunakan hormonal. Menurut Glasier A & Gebbie A (2005), peningkatan perdarahan menstruasi yang sering disertai nyeri merupakan masalah paling umum yang berkaitan dengan pemakaian AKDR. Sekitar 15% wanita berhenti memakai AKDR karena masalah ini. Sedangkan menurut Speroff & Darney (2003), peningkatan perdarahan merupakan gejala yang paling sering diderita oleh pengguna AKDR dan menjadi alasan untuk menghentikan pemakaian AKDR. Dalam waktu satu tahun, 5-15% wanita berhenti menggunakan AKDR karena masalah ini. Hasil penelitian Patnaik BP dan Mishra KP (2003), menyatakan bahwa alasan utama yang menyebabkan wanita berhenti menggunakan AKDR adalah peningkatan darah menstruasi. Hal ini juga didukung oleh hasil penelitian Bradley, et al (2007) yang menyatakan bahwa pemakaian AKDR dapat menyebabkan perubahan yang cukup besar pada durasi dan intensitas menstruasi banyak wanita. Hal inilah yang menjadi masalah mendasar bagi banyak perempuan di Bangladesh sehingga akhirnya mereka memutuskan untuk menghentikan pemakaian. Pemberian Informasi Petugas KB Hasil analisis data menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara variabel pemberian informasi dengan variabel pemakaian kontrasepsi hormonal. Petugas kesehatan yang dimaksud dalam hal ini adalah bidan atau perawat yang bertugas di klinik kesehatan ibu dan anak dan keluarga berencana (KIA/KB). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan petugas kesehatan berupa pemberian informasi berhubungan dengan pemakaian alat kontrasepsi hormonal. Petugas kesehatan berperan dalam memberikan informasi, penyuluhan dan menjelaskan tentang alat kontrasepsi utamanya mengenai kontrasepsi hormonal. Petugas kesehatan sangat banyak berperan dalam tahap akhir pemakaian alat kontrasepsi. Calon akseptor yang masih ragu-ragu dalam pemakaian alat kontrasepsi akhirnya memutuskan untuk memakai alat kontrasepsi hormonal setelah mendapat dorongan maupun anjuran dari petugas kesehatan. Petugas kesehatan merupakan pihak yang mengambil peran dalam tahap akhir proses pemakaian alat kontrasepsi. Wilayah Kerja Puskesmas Lampa sendiri telah mempunyai petugas KIA/KB di tiap-tiap desa di wilayah kerjanya, biasa disebut Bidan desa namun dalam kenyataannya terdapat beberapa kendala seperti tidak menetapnya petugas KB dalam hal ini Bidan PTT yang tidak menetap tinggal di daerah tugasnya ( Desa ) dimana mereka pada umumnya tinggal menetap di ibukota Kecamatan diluar wilayah Kecamatan Duampanua sehingga pelayanan kepada 9 masyarakat kurang optimal, selain itu sebagian besar petugas kesehatan dalam hal ini Bidan kurang mengetahui tata laksana pemasangan IUD sehingga Bidan cenderung menyarankan pemakaian kontrasepsi hormonal yang praktis, murah dan efesien. Tetapi hal ini tentu harus mendapat perhatian dari kepala Puskesmas Lampa maupun Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pinrang, agar lebih meningkatkan mutu pelayanan berKB. Indikator dukungan petugas kesehatan, mayoritas responden mengatakan petugas kesehatan melakukan penyuluhan rutin tentang KB dan alat kontrasepsi, menyarankan agar ibu ikut KB atau menggunakan kontrasepsi. Petugas kesehatan juga menjelaskan terlebih dahulu tentang alat kontrasepsi yang akan dipilih serta efek sampingnya, memberi kesempatan atau kebebasan dalam memilih alat kontrasepsi, menyarankan untuk pemeriksaan rutin dan mengatakan bahwa pelayanan yang diberikan oleh petugas kesehatan memuaskan. KESIMPULAN Hasil penelitian dan pembahasan mengenai faktor yang berhubungan dengan pemilihan alat kontrasepsi hormonal, maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara umur, dukungan suami, efek samping dan pemberian informasi petugas KB sedangkan faktor yang tidak berhubungan dengan pemilihan alat kontrasepsi hormonal adalah jumlah anak hidup. SARAN Hasil Penelitian menyarankan kepada petugas KB untuk memberikan informasi mengenai alat kontrasepsi hormonal dan efek samping yang baik digunakan sesuai dengan umur para peserta KB, serta petugas KB diharapkan mampu menjalankan tugasnya untuk terus menerus melakukan penyuluhan secara berkala dan berkelanjutan kepada pasangan suami istri untuk tertarik dan tetap menggunakan alat kontrasepsi hormona, begitu pula kepada suami untuk selalu memberikan dukungan kepada istrinya dalam memilih dan memutuskan untuk menggunakan kontrasepsi hormonal. DAFTAR PUSTAKA BKKBN. 1992. Undang-Undang No 10 Tahun 1992 Kependudukan Dan Pembangunan Keluarga Sejahtera. Tentang Perkembangan BKKBN. 2003. Alat Kontrasepsi, KB dan Keluarga Sejahtera. Jakarta : BKKBN. BKKBN, 2002, Journal of Akseptor KB di Indonesia (Internet). Available from : (http://www.bkkbn.com) (Accessed April 15, 2013). 10 BKKBN, 2010. Laporan Pencapaian Peserta KB Aktif Tahun 2010, Medan : BKKBN Kota Medan .Jumlah Dan Persentase KB Baru Menurut Metode Kontrasepsi Sampai Bulan Desember Tahun 2010. www.bkkbn.go.id. Diakses 2 januari 2013. . Hasil Mini Survey Peserta KB Aktif Tahun 2010 Sampai 2011 Menurut Propinsi. www.bkkbn.go.id/web/dataLitbang.php. Diakses 2 Januari 2013. Depkes, 2007. Profil Kesehatan Indonesia 2005, Jakarta. Edy, S., 1999. Beberapa Determinant Kelangsungan pemakaian IUD di Progo (Tesis). Yogyakarta, UGM Kabupaten Kulon Glasier A dan Gebbie A. 2005. Keluarga Berencana & Kesehatan Reproduksi. Jakarta : EGC Hartanto, Hanafi. 2004. Keluarga Pustaka Sinar Harapan. Berencana Dan Kontrasepsi. Jakarta : Indira Laksmi. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Jenis Kontrasepsi yang Digunakan Pada Keluarga. Semarang : UNDIP 2009. Kusumaningrum, R. 2009. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kontrasepsi yang Digunakan Pada Pasangan Usia Subur. Diponegoro, Semarang. Notoadmojo, S 2005. Rineka Cipta. Metodologi Penelitian Kesehatan, edisi Puskesmas Duampanua. 2012. Jumlah Peserta KB Aktif Kontrasepsi Wilayah Kerja Puskesmas Duampanua 2012. Puskesmas Duampanua : Bagian KIA/KB. Sumaryati , Dwidjo Pustaka Pelajar. 2008. Demografi Kependudukan Pemilihan Universitas 3, Jakarta: Menurut Alat s/d November BKKBN. Yogyakarta : Syamsiah, 2002. Peranan Dukungan Suami Istri Dalam Pemilihan Alat Kontrasepsi Pada Peserta KB di Soak Bayu Kab Musi Banyuasin Sumatera Selatan Tahun 2002. Skripsi. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Depok. Triasnawan dedi, 2007. System Penunjang Keputusan Kontrasepsi. Jakarta: Genetika Jurnal Manejemen Informatika. Pemilihan Alat Wasserhest et. Al 1989. Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemilihan Metode Kontrasepsi (Studi Kasus Kota Palopo).Skripsi FKM UNHAS. 2004 11 LAMPIRAN Tabel 1. Distribusi Karakteristik Responden di Wilayah Kerja Puskesmas Lampa Tahun 2013 Karakteristik Responden Usia Responden (Tahun) 15-24 25-34 35-44 Pekerjaan IRT Wiraswasta Swasta PNS Honorer Bidan Mahasiswa Jenis Kontrasepsi Pil Implan Suntik IUD Jumlah n % 66 84 42 34,4 43,8 21,8 96 56 4 30 1 3 2 50,0 29,2 2,1 15,6 0,5 1,6 10 78 48 44 22 192 40,6 25,0 22,9 11,5 100,0 ` Sumber: Data Primer,2013 12 Tabel 2. Hubungan antara Variabel Independen dengan Pemilihan Alat Kontrasepsi Hormonal di Wilayah Kerja Puskesmas Lampa Tahun 2013 Pemakaian Kontrasepsi Hormonal Total Variabel Independen Uji Statistik Ya Tidak Nn % Nn % nn % Umur (Tahun) < 20 20 – 30 > 30 23 83 64 82,1 83,8 98,5 5 16 1 17,9 16,2 1,5 28 99 65 100,0 100,0 100,0 p = 0,008 141 29 93,4 70,7 10 12 6,6 29,3 151 41 100,0 100,0 p = 0,000 119 51 88,1 89,5 16 6 11,9 10,5 135 57 100,0 100,0 p = 0,988 107 63 93,9 80,8 7 15 6,1 19,2 114 78 100,0 100,0 p = 0,010 145 25 170 91,8 73,5 88,5 13 9 22 8,2 26,5 11,5 158 34 192 100,0 100,0 100,0 p = 0,006 Dukungan Suami Mendukung Tidak mendukung Jumlah Anak Hidup 1 – 2 anak > 2 anak Efek Samping Tidak ada Ada Pemberian Informasi Petugas KB Cukup Kurang Total Sumber : Data Primer,2013 13

Judul: Jurnal Musdalifah Arifuddin

Oleh: Moh Mahsun Gfc


Ikuti kami