Jurnal A.n. Patkurniati

Oleh Ka Febry

170,9 KB 3 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Jurnal A.n. Patkurniati

UPAYA MENINGKATKAN KEMANDIRIAN DAN KEMAMPUAN BERBAHASA ANAK MELALUI PEMBELAJARAN TEMATIK DI RA. NURUL HUDA CIMANGGIS DEPOK, TESIS 2015. PATKURNIATI NPM. 201309862310057 ABSTRACTION PATKURNIATI, NPM. 201309862310057, Efforts to Enhance Independence and Children Speak Through Thematic Learning in RA.Nurul Huda Cimanggis Depok, Tesis 2015. The purpose of this study to improve or enhance the independence and language skills early childhood through thematic learning in RA. Nurul Huda . The data is collected through research and record dokement learn about self-reliance and language skills of children. The results obtained independence increase of 60% and a child's language ability by 40 % . This data was obtained by comparing the values before and after the action . The number of samples is 10 children . This research was conducted in RA Nurul Huda Cimanggis Depok , with the type of research is qualitative research with action research methods ( Action Research ). Based on these results , the researchers suggest that : 1 ) the teacher should be creative in creating a learning process that is creative, innovative , conducive , comfortable , and fun . Create and organize media to improve the independence and the child's language skills so that children can be simulated accurately . 2 ) Schools should provide adequate facilities and infrastructure that support the independence of education and language skills of young children. ABSTRAK PATKURNIATI, NPM. 201309862310057, Upaya Meningkatkan Kemandirian dan Kemampuan Berbahasa Anak Melalui Pembelajaran Tematik di RA. Nurul Huda Cimanggis Depok, Tesis 2015. Tujuan dari penelitian ini untuk memperbaiki atau meningkatkan keterampilan kemandirian dan bahasa anak usia dini melalui pembelajaran tematik . Data dikumpulkan melalui penelitian dan merekam dokument belajar tentang kemandirian dan kemampuan bahasa anak-anak .Penelitian ini dilakukan di RA Nurul huda cimanggis Depok, dengan jenis penelitiannya yaitu penelitian kualitatif dengan metode penelitian tindakan kelas( action research ) Hasil yang diperoleh peningkatan kemandirian 60 % dan kemampuan bahasa anak sebesar 40 % . Data ini diperoleh dengan membandingkan nilai sebelum dan sesudah tindakan . Jumlah sampel adalah 10 anak . Upaya-upaya yang dilakukan peneliti untuk meningkatkan kemandirian dan kemampuan berbahasa diantaranya adalah menyediakan media pembelajaran yang menarik, menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan, kreatif dan inovatif. Berdasarkan hasil tersebut , para peneliti menyarankan bahwa : 1 ) guru harus kreatif dalam menciptakan proses pembelajaran yang kreatif, inovatif , kondusif , nyaman , dan menyenangkan . Membuat dan mengatur media untuk meningkatkan kemandirian dan kemampuan bahasa anak sehingga anak-anak dapat disimulasikan secara akurat . 2 ) Sekolah harus menyediakan sarana dan prasarana yang memadai yang mendukung kemerdekaan pendidikan dan keterampilan bahasa anak –anak. KATA KUNCI BAHASA INDONESIA 1. 2. 3. Kemandirian Kemampuan Berbahasa Pembelajaran Tematik PENDAHULUAN Latar Belakang Anak pada masa Taman Kanakkanak perlu mulai diarahkan pada dasar-dasar kecakapan hidup, kemampuan berbahasa yang baik seperti rasa percaya diri, berani menonjolkan ide/gagasan, rasa estetika, bekerja dalam kelompok dan lain-lain. Untuk vokasional diarahkan pada pra vokasional, seperti koordinasi mata-tangan dan mata-kaki, keterampilan lokomotor, dan 4 keterampilan nonlokomotor. Pembelajaran pada Taman Kanak-kanak (TK) harus dikemas dalam bentuk permainan sesuai usia anak TK. Usia anak TK adalah usia bermain, sehingga "joyful learning for fun" dapat benar-benar tercapai. Oleh karena itu, situasi belajar, pengadaan dan pengorganisasian sarana pembelajaran harus dirancang untuk kegiatan belajar sambil bermain. Bermain membuat anak akan merasa senang, rileks, tidak tertekan, dan tidak merasa bosan. Perasaan tersebut membuat anak betah dan termotivasi untuk belajar. Jika anak memiliki motivasi untuk belajar ia akan memiliki energi dan semangat apapun untuk melakukan dan menyelesaikan apa saja yang dipelajarinya. Bermain tidak semata- mata ditujukan untuk bermain itu sendiri, tetapi juga sebagai upaya persiapan anak menghadapi berbagai tantangan dalam hidupnya kelak. Hal ini semakin menarik bila dilihat dalam konteks pembelajaran di Taman Kanak-Kanak yang mengimplementasikan pembelajaran dengan cara belajar sambil bermain. Hasil penelitian Purwanti menunjukkan bahwa anak melakukan berbagai aktifitas dalam belajar, namun aktifitas anak tersebut belum sampai ke tahap melakukan penilaian bersamasama dengan guru.5 Dengan demikian refleksi atas semua kegiatan yang telah dilakukan dan hasil yang diperoleh dalam pembelajaran belum terjadi pada diri anak. Disiplin yang ditanamkan pada anak usia dini membentuk tingkah laku yang bermoral, pada masa remaja akan mengalami perubahan, remaja sangatlah mudah terpengaruh oleh lingkungan dari luar dan dalam. Iingkungan luar serta pengaruhnya kadang-kadang perlu di hambat dan dicegah. supaya tidak terlalu besar pengaruhnya terutama bila bersikap negatif. Demikian pula lingkungan dari dalam ( keluarga ) yang mempengaruhi munculnya perilaku yang tidak dapat diterima oleh masyarakat harus dikendalikan dan dicegah. 5 4 Fatimah Enung, Psikologi Perkembangan, , Jakarta, Pustaka Setia 2010. 32 Diana Purwanti, Strategi Pembelajaran Bernuansa Bisnis Sains Penemuan ( Discovery) Dalam Memgembangkan Kecerdasan Jamak , Jakarta UNJ,2005.13 Nilai-nilai, moralilas dan kemandirian yang ditanamkan orang tua, banyak yang tidak sesuai dengan keadaan, misalnya perbuatan anak yang tidak mandiri serta orang tua banyak yang tidak disiplin. Hal-hal yang seperti inilah yang sering membingungkan anak sehingga anak menjadi bimbang, mana yang harus dilakukannya. Ada tiga cara orang tua menanamkan kedisiplinan yaitu suatu cara dimana orang tua menentukan aturan-aturan dan batasan-batasan yang mutlak yang harus ditaati oleh anak. Anak harus patuh dan tunduk dan tidak ada pilihan lain yang sesuai dengan kemauan atau pendapatnya sendiri, kalau anak tidak mematuhi peraturan orang tua, ia akan diancam atau dihukum, orang tua memerintah dan memaksa tanpa kompromi. Kedua cara bebas, pada cara ini orang tua membiarkan anak mencari dan menemukan sendiri tata cara yang memberi batasan-batasan dari tingkah lakunya. hanya pada hal-hal yang sudah dianggap keterlaluan atau kelewat batas, orang tua baru bertindak. Ketiga cara demokratis, cara ini memperhatikan dan menghargai kebebasan anak namun kebebasan yang tidak mutlak dan dengan berhubungan yang penuh pengertian antara kedua belah pihak, anak dan orang tua. Keinginan dan pendapat anak diperhatikan dan kalau sesuai dengan norma-norma pada orang tua maka disetujui untuk dilakukan. sebaiknya kalau kerugian dan pendapatnya (tidak sesuai, kepada anak dituangkan secara rasional dan objektif dan sambil menyakinkan perbuatannya. kalau baik perlu dibiasakan sedangkan kalau tidak baik setidaknya ia tidak diperlihatkan lagi. Anak adalah buah hati orang tua, karena anak merupakan penerus dan harapan bagi kedua orang tuanya. Sebenarnya dalam hal pendidikan berawal dari lingkungan keluarga. karena dalam keluarga tempat ditanamkan nilai-nilai moral kepada anak- anak oleh para orang tua dan juga para anggota keluarga lainnya. Orang tua banyak yang menginginkan anaknya sekolah pada usia dini. karena tujuan agar anaknya dapat kreatif dan dapat bersosialisasi, dan juga agar dapat diketahui apa yang dimiliki oleh si anak yaitu minat dan bakatnya. Orang tua mempunyai kewajiban orang tua untuk membesarkan anak. mengasuh dan mendidik sehingga anak menjadi harapan orang tua dimasa depan. Anak ketika di usia balita adalah masa-masa yang sensitif. banyak sekali memerlukan bantuan. perhatian. Karena dalam usia dini ini anak dalam keadaan lemah. masih banyak bergantung kepada orangorang yang sudah dewasa. Misalnya apabila si balita ingin makan, ia memerlukan bantuan orang lain untuk menyuapinya. Pendidikan merupakan salah satu komponen penting bagi kehidupan manusia karena pendidikan ikut menentukan corak kehidupan kebudayaan dan kemajuan suatu bangsa. Pendidikan secara sederhana dapat diartikan sebagai usaha untuk membina kepribadian siswa sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam kehidupan masyarakat. Pendidikan pada hakikatnya adalah usaha sadar unluk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah serta berlangsung seumur hidup. Oleh karena itu agar pendidikan dapat dimiliki oleh seluruh rakyat sesuai dengan kemampuan masingmasing individu, maka pendidikan adalah tanggung jawab keluarga, masyarakat dan pemerintah. Pendidikan sangat memegang peranan penting dalam mewujudkan pembangunan nasional. karena melalui mendidikan dapat membentuk watak bangsa Indonesia yang mempunyai kepribadian serta kemampuan untuk melaksanakan pembangunan nasional. Pembelajaran bermutu adalah pembimbingan dan pengajaran yang dapat melaksanakan fungsinya. yaitu mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu perantara untuk menyampaikan informasi dan sumber ke penerima pesan. Tujuan pembelajaran yang hendak dicapai adalah tujuan yang sesuai dengan tujuan Pendidikan Nasional seperti yang tercantum dalam UU No. 20 Tahun 2003 Bab II Pasal 3. “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokralis serta bertanggung jawab.”6 Tujuan Tujuan pendidikan mengarah kepada semua proses pendidikan dapat diarahkan kepada pembentukan manusia yang diharapkan oleh masyarakat. Tujuan pendidikan nasional itu akan berhasil bila ditunjang oleh proses pembelajaran masing-masing mata pelajaran yang diajarkan di sekolah. untuk hal ini, 6 Undang-undang KI No.20 Tahun 2003 Sisdiknas Republika, Jakarta .6 guru memiliki peranan penting sebagai salah satu komponen yang turut menentukan keberhasilan pendidikan. Menurut Ali Pandil, mengajar adalah menanamkan pengetahuan kepada anak agar anak menguasai pengetahuan sebanyak-banyaknya yang diajarkan oleh guru.7 Mengacu pada pendapat tersebut. bahwa proses belajar mengajar terjadi apabila terdapat interaksi antara guru dan siswa. Dalam interaksi tersebut, siswa berperan sebagai pelajar yang sedang menerima pelajaran. Sedangkan guru berperan sebagai pengajar. Seorang guru yang professional akan mampu mendemontrasikan berbagai macam keterampilan mengajar secara utuh dan terintegrasi dalam kegiatan belajar mengajar yang dikelolanya. Penugasan berbagai keterampilan mengajar memungkinkan seorang guru dapat mengatasi berbagai kendala yang muncul sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan baik. Lokasi Penelitian Penelitian ini berlokasi di ra. Nurul huda cimanggis depok PEMBAHASAN A. Kajian Teori 1. Hakekat Kemandirian Kemandirian menurut Zainun Mutiadin, S Psi. Msi meliputi perilaku mampu berinisiatif, mampu mengatasi hambatan masalah mempunyai rasa percaya diri dan dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain"."11 Pendapat tersebut juga diperkuat oleh Kartini dan Dali yang mengatakan 7 Ali Pandil, Proses Belajar Mengajar, Jakarta 1984 , 50 11 Zainun Mu’tadin, Kebutuhan Psikologi Pada Anak dan Remaja, Jakarta, Gramedia Pustaka 2002, .27 bahwa kemandirian adalah "hasrat untuk mengerjakan segala sesuatu bagi dirinya sendiri".12 Berdasarkan keterangan diatas, secara singkat kemandirian mengandung pengertian : suatu keadaan dimana seseorang yang memiliki hasrat bersaing untuk maju demi kebaikan dirinya Mampu mengambil keputusan dan inisiatif untuk mengatasi masalah yang dihadapi, memiliki kepercayaan diri dalam mengerjakan tugas-tugasnya, bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya. Kemandirian terdiri dan beberapa aspek. Yaitu : a. Emosi. Aspek ini ditunjukan dengan kemampuan mengontrol emosi dan tidak tergantungnya kebutuhan emosi dan orang tua. b. Ekonomi, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan mengatur ekonomi dan tidak tergantungnya kebutuhan ekonomi pada orang tua. c. Intelektual, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan mengatasi berbagai masalah yang dihadapi. d. Sosial, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan untuk mengadakan interaksi dengan orang lain dan tidak tergantung atau menunggu aksi dari orang lain. 13 Menurut Prof. Dr. Soegeng Santoso, nilai etika dan kemandirian perlu ditanamkan sejak dini, yakni pada anak usia prasekolah.14 Kalau kita berhasil menanamkan pendidikan 12 Zainun Mu’tadin, Kebutuhan, 28 Zainun Mu’tadin, Kebutuhan.29 14 Soegeng Santoso, Etika Kemandirian Perlu ditanamkan Sejak Usia Dini, Kompas Pers 2000,. 20-25 13 moral, termasuk pendidikan kepribadian, kedisiplinan dan kemandirian sejak anak usia 1-6 tahun, maka pembentukan kepribadian anak pada jenjang pendidikan berikutnya akan lebih mudah. "Pendidikan moral sebetulnya harus dimulai dari lingkungan keluarga, termasuk dimulainya dari lingkungan yang disiplin. Kalau orang tua sudah mulai menanamkan kedisiplinan itu dirumah, nanti lambat laun akan terbentuk dengan baik. Menurut Soegeng, untuk melatih kedisiplinan, etika dan kemandirian sebetulnya bisa dimulai dari 15 kebiasaan. Pada awalnya anak melaksanakan tindakan, tanpa pengertian terlebih dahulu. Kalau nanti sudah mengenal kewibawaan orang tua biasanya antara usia 3-4 tahun anak akan mulai melakukan sesuatu dengan pengertian, meski tingkat pengertian anak prasekolah itu sangat terbatas. Lama kelamaan dalam pikirannya akan terbiasa sehingga jalan logika anak tadi akan ditandai dengan kematangannya Akhirnya nanti dia mampu mandiri dengan disiplin alasannya berbuat bisa diterima pikirannya. Kemandirian merupakan salah satu sikap individu yang di peroleh secara kumulatif selama perkembangan, dimana individu akan terus belajar untuk bersikap mandiri dalam menghadapi berbagai situasi dilingkungan sehingga individu pada akhirnya mampu berfikir dan bertindak sendiri. Dengan kemandiriannya seseorang dapat memilih jalan hidupnya untuk dapat berkembang dengan lebih mantap untuk dapat mandiri seseorang membutuhkan kesempatan,dukungan dan dorongan dari keluarga serta lingkungan disekitarnya. Agar dapat mencapai otonomi atas diri sendiri. 15 Soegeng Santoso, Etika.8 Pada saat ini peran orang tua dan respon dari lingkungan sangat diperlukan anak sebagai "penguat" untuk setiap perilaku yang telah dilakukannya. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Reber bahwa : "kemandirian merupakan suatu sikap otonomi dimana seseorang secara relative bebas dan pengaruh penilaian, pendapat dan keyakinan orang lain''. 16 Dengan otonomi tersebut seorang anak diharapkan akan lebih bertanggung jawab terhadap dinnya sendiri. Proses perkembangan kemandirian, seperti halnya kondisi psikologis yang lain, dapat berkembang baik jika diberikan kesempatan untuk berkembang melalui latihan yang dilakukan secara terus menerus dan dilakukan sejak dini. Latihan tersebut dapat berupa pemberian tugas-tugas tanpa bantuan, dan tentu saja tugas-tugas tersebut disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak Mengingat kemandirian akan banyak memberikan dampak positif bagi perkembangan individu. maka sebaiknya kemandirian diajarkan kepada anak sedini mungkin sesuai kemampuannya seperti telah diakui segala sesuatu yang dapat diusahakan sejak dini akan dapat dihayati dan akan semakin berkembang menuju kesempurnaan latihan kemandirian yang diberikan kepada anak harus disesuaikan dengan usia anak. Contoh : untuk anak-anak usia 3-4 tahun, latihan kemandirian dapat berupa membiarkan anak memasang kaos kaki dan sepatu sendiri, membereskan mainan setiap kali selesai bermain. Sementara untuk anak sebagai siswa diberikan kebebasan misalnya dalam memilih tempat duduk yang diminati, atau yang memberikan kesempatan pada anak untuk memutuskan sendiri jam berapa ia harus sudah pulang ke rumah. 16 Soegeng Santoso, Etika. 9 Keberhasilan didalam pendidikan anak prasekolah, menurut Soegeng, yang terpenting adalah seorang guru harus mengetahui bagaimana metodelogi cara mendidik anak. Dalam mendidik usahakan tidak mengatakan jangan kepada anak, tetapi anak perlu diarahkan atau dialihkan perhatiannya. 2. Hakekat Kemampuan Berbahasa Anak Usia Dini 2.1 Hakekat berbahasa Kemampuan dapat didefinisikan dari berbagai arti Munandar mengemukakan kemampuan merupakan daya untuk melakukan suatu tindakan sebagai hasil dari pembawaan dan latihan.32 Seseorang dapat melakukan sesuatu karena adanya kemampuan yang dimilikinya. Robbins juga mengemukakan kemampuan marujuk ke suatu kapasitas berbagai tugas dalam suatu pekerjaan tertentu.33 Berdasarkan pengertian tersebut dapat dideskripsikan bahwa kemampuan merupakan suatu daya atau kesanggupan dalam diri setiap individu dalam menyelesaikan tugasnya. Menurut Johnson sebagaimana dikutip Wijaya dan Rusyan kemampuan adalah perilaku rasional untuk mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan.34 Selanjutnya menurut Semiawan, kemampuan adalah suatu daya untuk melakukan tindakan sebagai hasil dari pembawaan 32 Utama Munandar, Mengembangkan Bakat dan Kreatifitas Anak Sekolah, Gramedia Indonesia 1999, 17 33 Stephen P Robbins, Organizational Behavior, Concept, Controversies Apllication , Boston Finish Asosiasion of Designer 1978, 13. 34 Cece Wijaya dan A.Tabrani Rusyan, Kemampuan Dasar Dalam Proses Belajar Menggajar,Bandung 1994, 8. latihan-latihan.35 Kemampuan merupakan suatu kekuatan atau kecakapan tertentu yang dimiliki seseorang sebagai hasil pengalamannya dalam kegiatan belajar. Sesuai dengan pendapat Gagne dan Briggs yang menempatkan kemampuan sebagai hasil belajar (learning outcome) yang terbagi atas lima kategori, yakni: (1) kemahiran intelektual (intelectual skills), (2) informasi verbal (verbal information), (3) pengaturan kegiatan (cognitive strategies), (4) keterampilan motorik (motor skills), dan (5) sikap (attitudes).36 Umumnya anak mampu menyerap dan memahami tugas-tugas yang diberikan oleh orang dewasa. Pemahaman tersebut muncul ketika anak mulai masuk pendidikan pra sekolah dan terus berkembang sampai dewasa. Kemampuan anak pra sekolah masih belum ditunjang oleh pertumbuhan logika. Peranan logika berkembang sejalan dengan pertumbuhan anak dan mulai tampak ketika anak masuk sekolah. Apabila anak mampu memikirkan penalarannya dimulailah operasi logika. Logika tersebut terus berkembang sehingga angka, kata, kalimat, dan simbolsimbol dapat dimengerti oleh anak. kemampuan yang dapat dikembangkan dalam perkembangan inteligensi adalah kemampuan berbahasa dan kemampuan matematis.37 Kemampuan berbahasa ke arah berbicara, menulis, membaca, dan mendengarkan, sedangkan kemampuan matematis menuju ke arah berpikir 35 Conny R.Semiawan, Memupuk Bakat dan Minat Kreatifitas Siswa Sekolah Menengah , Jakarta 1983, 3. 36 Robert M. Gagne dan Leslie.J.Briggs, Prenciples of Instructional Design ,New York: Holt, Rikhart and Winston,1999, 49-54. 37 Subarsono, Melejitkan IQ,IE, dan IS, Jakarta Inisiasi Press, 2002, 79-93. logika. Kedua kemampuan tersebut berkembang secara beriringan dan berkesinambungan. Kemampuan dalam penelitian ini dapat diartikan sebagai kecakapan atau daya yang dimiliki seseorang untuk melakukan sesuatu sebagai hasil pengalaman belajarnya yang mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Bidang pengembangan dalam pertumbuhan kemampuan dasar di TK salah satunya adalah pengembangan bahasa. Bahasa memungkinkan anak untuk menterjemahkan pengalaman mentah ke dalam simbol-simbol yang dapat digunakan untuk berkomunikasi dan berpikir. Bahasa erat sekali kaitannya dengan perkembangan kognitif. Menurut Vygotsky dalam Anita Wolfolk (1995) "Language is critical for cognitive development. Language provide a means for expressing ideas and asking question and it provides the categories and concept for thinkincf'. Bahasa merupakan alat untuk mengekspresikan ide dan bertanya dan bahasa juga menghasilkan konsep dan kategori-kategori untuk berfikir. Nana Syaodih Sukmadinata (2001) mengemukakan: "Aspek bahasa berkembang dimulai dengan peniruan bunyi dan meraban. Perkembangan selanjutnya berhubungan erat dengan perkembangan kemampuan intelektual dan sosial. Bahasa merupakan alat untuk berfikir. Berfikir merupakan suatu proses memahami dan melihat hubungan. Proses ini tidak mungkin dapat berlangsung dengan baik tanpa alat bantu, yaitu bahasa. Bahasa juga merupakan alat berkomunikasi dengan orang lain dan kemudian berlangsung dalam suatu interaksi sosial". Bahasa adalah alat untuk berfikir, mengekspresikan diri dan berkomunikasi. Keterampilan bahasa juga penting dalam rangka pembentukan konsep, informasi dan pemecahan masalah Melalui bahasa pula kita dapat memahami komunikasi pikiran dan perasaan. Menurut Eliason "Bahasa meliputi keterampilan berbicara, menyimak, menulis dan membaca".38 Kegiatan berbicara, menyimak, membaca, dan menulis tidak dapat dipisahkan atau diajarkan terisolasi, karena dasar pengembangan baca-tulis adalah bahasa. Menurut Eliason perkembangan berbahasa dimulai sejak bayi dan mengandalkan perannya pada pengalaman, penguasaan dan pertumbuhan bahasa".39 Anak belajar bahasa sejak masa bayi, sebelum belajar berbicara mereka berkomunikasi melalui tangisan, senyuman dan gerakan badan. Pada akhir tahun pertama hampir semua anak berbicara dengan kata pertama yang oleh ahli psikologi disebut dengan istilah tahap satu kata "The one word stage". 2.2 Hakikat Anak Usia Dini Masa usia dini merupakan suatu masa pada anak mengalami perjalanan baru yang berbeda dari pengalaman sebelumnya yang selalu di lingkungan rumah bersama orang tuanya. Anak mulai belajar bergaul dengan teman sebayanya, mengekspresikan pengalaman, kegembiraan dan juga menunjukkan kekurangan senangan secara spontan. Bahasa anak mulai berkembang dengan sangat cepat, kesalahan tata bahasa sudah mampu dikoreksi . sudah memiliki kemampuan fisik dan ketrampilan motorik dengan 38 Djawad Dahlan, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja , Bandung, Remaja Rosdakarya 2011, 6 39 Siti Rahayu Hadiyono, Psikologi Perkembangan , Gajah Mada University Press 2006, 359 baik seperti berjalan cepat, berlari, melompat mendaki dan memutar badan. Anak mulai menunjukkan ketrampilan dalam bermain. Menurut M.F. Braja perkembangan bahasa anak usia 5-6 tahun adalah masa pemahaman anak semakin mantap, walaupun masih sering bingung dalam hal yang berhubungan dengan waktu (konsep waktu belum dipahami dengan jelas). Kosakata aktif bisa mencapai dua ribuan, sedangkan kata pasif sudah makin banyak jumlahnya.69 Anak mulai belajar mengenal huruf dan kalimat-kalimat yang agak rumit mulai digunakan. Seperti yang dikemukakan oleh Mackey dalam M.F. Braja menyatakan menginjak usia 6 tahun anak tidak ada kesukaran dalam memahami kalimat yang biasa dipakai orang dewasa sehari-hari. Mulai belajar membaca dan aktivitas ini dengan sendirinya menambah perbendaharaan katanya. Mulai membiasakan diri dengan pola kalimat yang agak rumit dan pada dasarnya sudah dikuasai sebagai alat berkomunikasi.70 Perkembangan anak usia 5-6 tahun merupakan kelanjutan perkembangan pada usia sebelumnya. Menurut Piaget perkembangan kognitif anak pada usia 2-7 tahun berada pada tahap pra operasional konkret. Pada tahap ini mulai melukiskan dunia dengan katakata dan gambar- gambar.71 Pemikiran simbolik melampaui hubungan sederhana antara informasi sensor dalam tindakan fisik. Akan tetapi, walaupun anak-anak prasekolah dapat 69 MF Braja, Pengantar Membaca Tahap Permulaan dan Usaha Memupuk Kecintaan Membaca, IKIP Malang 1996. 36. 70 MF Braja, Kapita Selekta Pengajaran Bahasa , IKIP Malang 1990. .31 71 E.Mulyasa, Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan, Bandung Rosdakarya 2006. 104 secara simbolis melukiskan dunia, namun menurut Piaget mereka belum mampu melaksanakan apa yang disebut Piaget operasi sebuah tindakan mental yang diinternalisasikan anak secara mental apa yang sebelumnya dilakukan secara fisik.72 Menurut Martini bahwa perkembangan anak adalah: Pada usia 5-6 tahun anak-anak berada pada sub fase berfikir intuisi. Masa ini disebut fase berfikir intuisi karena pada saat ini anak kelihatannya mengerti untuk menciptakan/membuat proses pembalajaran secara relevan bermakna bagi anak.73 2.3. Pembelajaran Tematik Menurut Mulyasa pendekatan tematik atau pendekatan terpadu merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang menyatu padukan serangkaian pengalaman belajar sehingga terjadi saling berhubungan satu dengan yang lainnya dan berpusat pada sebuah pokok atau persoalan.74 Sedangkan Hilda berpendapat model pembelajaran tematik adalah suatu konsep yang dapat dikatakan sebagai pendekatan belajar mengajar yang melibatkan beberapa bidang studi untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa.75 Sejalan dengan pandangan tersebut Tukimo mengatakan pembelajaran tematik merupakan pembelajaran terpadu melalui tema sebagai pemersatu dengan memadukan beberapa mata pelajaran sekaligus yang bisa dikaitkan satu sama lain.76 72 Tukimo, Buku Pegangan Guru Perangkat Pembelajaran tematik, Trakindo Utama 2007.5 73 Endah Sudiarti, Pembelajaran tematik Bahan Sosialisasi Kurikulum 2004 Berbasis Kompetensi, Jakarta 2004. 1 74 E.Mulyasa, Menjadi Guru, 104 75 Yuliani Nurani Sujono dan Bambang Sujiono, Menu Pembelajaran Anak Usia Dini, Yayasan Citra Pendidikan Indonesia Jakarta 2005.68 76 Tukimo, Buku Pegangan Guru Perangkat Penelitian ini yang dipakai adalah pembelajaran tematik model Webbed, Fogarty mengatakan "using a thematic umbrella a cross all disciplines" bila diterjemahkan secara bebas artinya, pembelajaran tematik itu digunakan untuk memayungi kumpulan berbagai bidang studi.77 B. Metodologi penelitian Metode penelitian yang dilakukan di RA Nurul Huda dengan menggunakan metode penelitian kualitatif deskriftif dengan melakukan action research atau penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research ).. Responden dalam penelitian ini adalah peserta didik kelompok B di RA Nurul Huda Kota Depok yang berjumlah 10 anak. Rancangan ini terdiri dari perencanaan {planning), tindakan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflection). Prosedur pengumpulan data yang digunakan adalah: 1) observasi kemandirian dan kemampuan berbahasa anak, lembar observasi dibuat peneliti sendiri melalui penilaian harian, Observasi pembelajaran, dan studi dokumentasi berupa dokumen. C. Hasil Penelitian Berdasarkan hasil observasi tersebut kemudian dilakukan analisis data dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwasanya; 1. Melalui pembelajaran tematik antusias anak dalam melakukan kegiatan semakin baik, hal ini membuktikan bahwa melalui pembelajaran tematik yang dilakukan merupakan sesuatu yang menyenangkan bagi anak. Ketersediaan benda-benda konkret yang menarik dapat Pembelajaran tematik, Trakindo Utama 2007.5 77 Dyah Nugrahani, Pendidikan Anak Usia Dini Berbasis Live Skills, Jurnal IKIP PGRI Semarang 2012.10 2. 3. menambah antusias anak dalam melakukan kegiatan pembelajaran. Melalui pembelajaran tematik dengan tema makanan, pemahaman kemandirian hidup anak dan kemampuan berbahasa anak terjadi peningkatan kemandirian dan kemampuan berbahasa anak pada kelompik B di RA Nurul Huda. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari hasil pengamatan instrumen data pemantau tindakan. Data hasil post test menunjukkan adanya peningkatan pemahaman kemandirian hidup sebesar 20% dan kemampuan berbahasa dari 40%. Selain itu analisis data secara kualitatif dengan didasarkan pada catatan lapangan dan dokumentasi. Berdasarkan hasil refleksi dan analisis seluruh pertemuan pada siklus I berjalan dengan lancar. Dalam pembelajaran tematik khususnya pada kemandirian dan kemampuan berbahasa anak , penulis mendapatkan kendala yang dihadapi diantaranya adalah pola pengasuhan yang diterapkan orangtua dirumah sehingga tujuan yang akan dicapai belum mendapatkan hasil yang maksimal. mempengaruhinya. Anak usia 5-6 tahun memiliki perkembangan yang sangat pesat dan menentukan keberhasilan anak pada perkembangan selanjutnya sehingga anak mencapai tahap yang lebih baik. Hal yang perlu diperhatikan dalam pendidikan kemandirian dan kemampuan berbahasa pada anak usia dini yaitu tahapan-tahapan dan prinsipprinsip perkembangan anak usia dini. Pemberian stimulasi yang tepat dan sesuai juga penting diperhatikan. Selain itu, adanya kerjasama yang baik antara orang tua dan guru di sekolah dalam mengembangkan kemandirian dan kemampuan berbahasa pada anak usia dini penting dilakukan agar orangtua memiliki persamaan dalam memberikan pembelajaran tentang kemandirian dan kemampuan berbahasa, sehingga anak dapat bersosialasi dan berinteraksi dengan lingkungannya dan sekolah dengan baik. Demikian pula dengan guru perlu mengetahui kemampuan dan kebutuhan setiap anak sehingga dapat merancang kegiatan pembelajaran yang dapat memenuhi karakteristik yang dimiliki setiap anak. Melalui tematik dapat dikembangkan proses pembelajaran kreatif, inovatif dan menyenangkan. DAFTAR PUSTAKA PENUTUP Hasil penelitian ini secara aspek perkembangan memberikan suatu gambaran mengenai efek melalui pembelajaran tematik terhadap kemandirian dan kemampuan berbahasa. kemandirian memiliki peranan penting dalam kehidupan seseorang maka penting untuk memperhatikan hal-hal yang Zainun Mu’tadin, kebutuhan Psikologi Pada Anak Dan Remaja, Jakarta; Gramedia pustaka, 2002. Soegeng Santoso, Etika Kemandirian Perlu Ditanamkan Sejak Usia Dini, Jakarta; Kompas pers, 2000. Slameto, Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, Jakarta; Bina Aksara ,1989. Braja, M.F, Kapita Selekta Pengajaran Bahasa, Malang; IKIP Malang, 1990 Mul yasa E, Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan, Bandung; Rosda Karya, 2006 Nurani, Yuliani Sujiono dan Bambang Sujiono, Menu Pembelajaran Anak Usia Dini, Jakarta; Yayasan Citra Pendidikan Indonesia, 2005 Santoso, Soegeng, Konsep Pendidikan Anak Usia Dini Menurut Pendidirinya, Jakarta; Citra Pendidikan, 2002 Semiawan, Conny R, Pendidikan Tinggi; Peningkatan Kemampuan Manusia Sepanjang Hayat Seoptimal Mungkin. Jakarta; PT Grasindo, 1994. Soekamto, Toeti, Teori Belajar dan Model-Model Pembelajaran, Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,, 1997 Sudiharti, Endah, Pembelajaran Tematik Bahan Sosialisasi Kurikulum 2004 Berbasis Kompetensi, Jakarta, 2004 Diana Purwanti, "Strategi Pembelajaran Bernuansa Bisnis Sains Penemuan (Discovery) Dalam Mengembangkan Kecerdasan Jamak , Studi Deksriptif di TK Umum Jawa Barat", Skripsi. Jakarta ; UNJ, 2005. Utama Munandar, Mengembangkan Bakat dan Kreatifitas Anak Sekolah; Jakarta; Gramedia Indonesia, 1999 Conny R Semiawan, Memupuk Bakat dan Minat Kreatifitas Siswa Sekolah menengah ; Jakarta, 1983. Subarsono, Melejitkan EQ, IE,dan IS; Jakarta; Inisiasi Press, 2002 Djawad Dahlan, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung; Remaja Rosdakarya, 2011. Siti Rahayu Hadiyono, Psikologi perkembangan, Yogyakarta; Gajah Mada University Press, 2006 Supratiknya, Teori Psikodinamik, Yogyakarta; Kanesius, 2005. Henry Guntur Tarigan, Membaca sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa, Bandung; Angkasa ,1998. Sunaryo Kartadinata, Mendunia kedalam Dunia Anak Usia Dini, Bandung; Universitas pendidikan Indonesia, 2001. Depdiknas, Metodik Khusus Pengembangan kemampuan Berbahasa Di Taman kanakKanak, Jakarta; Depdiknas, 2000. Elizabeth B Hurlock, Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, Jakarta; Erlangga, 1999. MF Braja, Pengantar membaca Tahap Permulaan dan Usaha Memupuk kecintaan Membaca; IKIP Malang, 1996. Tukimo, Buku Pegangan Guru Perangkat pembelajaran Tematik; Trakindo Utama, 2007.

Judul: Jurnal A.n. Patkurniati

Oleh: Ka Febry


Ikuti kami