Jurnal Pikku Fix

Oleh Saricahya Nikmatus

471,8 KB 5 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Jurnal Pikku Fix

ANALISIS PENGUKURAN RISIKO KELELAHAN DAN BEBAN POSTUR TUBUH PADA OPERATOR PREMOLDING DENGAN PENDEKATAN METODE JSI DAN QEC DI PT. MK PRIMA INDONESIA Muhammad Taufiqul Ihsan, Nina Aini Mahbubah, Elly Ismiyah Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Gresik Jl. Sumatera 101 GKB Gresik, Jawa Timur, Indonesia Email: muhammad.taufiq84@yahoo.com, nina.hasan@gmail.com, Abstrak. Musculoskelletal disorder merupakan risiko terbesar dari pekerjaan yang dilakukan secara manual. Proses produksi Dist Pad di PT MK Prima Indonesia dilakukan secara berulang ulang selama 8 jam perhari menyebabkan permasalahan kelelahan dan cedera otot. Hasil Kuesioner NBM yang disebabkan pada operator produksi Disk Pad menunjukkan bahwa terdapat keluhan sakit pada tubuh bagian atas antara lain punggung, leher, pergelangan tangan dan tangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis kelelahan kerja dikarenakan postur kerja pada pekerjaan premoulding yang dimulai dengan menimbang material dengan menggunakan gelas takar, kemudian menuang material kedalam cetakan. Metode Job Strain Index dan Quick Exposure Level merupakan metode yang digunakan dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan data 5 sampel operator premolding. Hasil perhitungan menggunakan metode JSI menunjukkan bahwa nilai exposure score pada sub aktivitas 1 yaitu menimbang material dengan menggunakan gelas takar sebesar 4,5 sedangkan untuk sub aktivitas 2 menuang material kedalam cetakan bernilai 1,12. serta dapat di ambil kesimpulan untuk nilai sub aktivitas 1 dan sub aktivitas 2 berada dalam posisi < 3 dengan keterangan pekerjaan yang diamati cukup aman Sedangkan hasil perhitungan menggunakan metode QEC menunjukkan bahwa nilai Exposure level untuk sub aktivitas 1 sebesar 54.939% dengan keterangan perlu dilakukan penelitian untuk tindakan lebih lanjut dan dilakukan perubahan. sedangkan untuk sub aktivitas 2 sebesar 52.469% dengan keterangan perlu dilakukan penelitian untuk tindakan lebih lanjut dan dilakukan perubahan. Hasil penelitian tersebut di harapkan dapat menjadi masukan untuk perusahaan kemudian penelitian selanjutnya guna dapat meminimalisali terjadinya risiko cidera terutama pada tubuh bagian atas. sehingga dapat meningkatkan performancesi dari pekerja itu sendiri. Kata kunci. Ergonomi Risk, Musculoskelletal Disorder, Postur Kerja, Job Strain Index, Quick Exposure Check 1. PENDAHULUAN tersebut dapat disebut sebagai “Over exertion-lifting and carrying” yaitu kerusakan jaringan tubuh yang diakibatkan oleh beban angkat yang berlebihan (Nurmianto, 1996). Pada Proses Premolding terdapat 2 sub aktifitas yang dapat dilihat pada Gambar 1 dan 1 Seiring dengan perkembangan teknologi saat ini, peran manusia di lantai produksi masih sangat diperlukan. Meskipun saat ini telah banyak dijumpai industri di Indonesia yang dalam kegiatan produksinya menggunakan mesin, namun pada kenyataannya tidak sedikit industri yang masih menggunakan tenaga manusia terutama pada kegiatan Manual Material Handling (MMH). Aktivitas pemindahan secara manual (Manual Material Handling) yang tidak ergonomis dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan industri (industrial accident). Kecelakaan Gambar 2 yaitu yang pertama, saat operator melakukan penuangan material dari bak container kedalam gayung timbangan untuk di timbang sesuai standart. proses ini dapat dikatakan sub aktivitas yang pertama dapat menimbulkan risiko cidera pada leher, bahu, lengan bawah , serta punggung. sub aktifitas kedua, saat operator melakukan penuangan material yang sudah ditimbang kedalam cetakan dan menekan tombol start. aktivitas terdebut dapat dilihat pada gambar 1.2, pada proses ini dapat dikatakan sub 1 1 aktivitas yang kedua dapat menimbulkan risiko cidera pada leher, bahu, lengan bawah , serta punggung. menganalisis tingkat Risiko Ergonomi pada penelitian ini. Terdapat enam variabel kerja yang akan di nilai menggunakan JSI meliputi intensitas usaha, durasi usaha, usaha per menit, postur tangan/pergelangan tangan, kecepatan kerja, dan durasi kerja per hari. Sedangkan metode QEC merupakan suatu metode yang dapat digunakan untuk mengetahui risiko cidera gangguan otot rangka bagian atas meliputi punggung, leher, lengan/bahu, dan pergelangan tangan. Hasil penilaian risiko ergonomi dari kedua metode tersebut dapat digunakan untuk memberikan rekomendasi perbaikan pada permasalahan yang telah di identifikasi di atas. Gambar 1 Proses penuangan material dari bak container kedalam gayung timbangan Gambar 2 Proses penuangan material yang sudah ditimbang kedalam cetakan 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 ERGONOMI Selanjutnya untuk lebih memahami pengertian ergonomi, perlu ditampilkan definisidefinisi ergonomi dari beberapa ahli ergonomi terdahulu. Secara umum definisi-definisi ergonomi yang ada membicarakan masalah-masalah hubungan antara manusia pekerja dengan tugas-tugas dan pekerjaannya serta desain dari objek yang digunakannya. Pada dasarnya kita boleh mengambil definisi ergonomi dari mana saja, namun demikian perlu kita sesuaikan dengan apa yang sedang kita kerjakan. Di bawah ini ditampilkan beberapa definisi ergonomi yang berhubungan dengan tugas, pekerjaan dan desain.  Ergonomics is the aplication of scientific information about human being (and scientific methods of acquiring such information) to the problems of design (Pheasant,1988 dalam Tarwaka,dkk 2004).  Ergonomics is the study of human abilities and characteristics which affect the design of equipment, systems and job (Corlett & Clark, 1995 dalam Tarwaka,dkk 2004)  Ergonomics is the ability to apply information regarding human characters, capacities, and limitation to the design of human tasks, machine system, living spaces, and environment so that people can live, work and play safely, comfortably and efficiently (Annis & McConville, 1996 dalam Tarwaka,dkk 2004). Berdasarkan hasil wawancara dan verifikasi di lapangan didapatkan data tentang kenyamanan kerja pada posisi mengangkat perlu memutar badan dan berdiri terlalu lama saat bekerja, akan mengakibatkan pekerja cepat merasa lelah. Leher atas, bahu kiri, bahu kanan, punggung, tangan kiri, pergelangan kaki kanan cepat mengalami pegal / linu. Selain permasalaha tersebut, operator premolding juga bekerja dengan kondisi jam kerja yang setiap minggu selalu ada over time . Berdasarkan identifikasi permasalahan diatas maka perlu dilakukan penilaian terhadap risiko ergonomi pada proses pembuatan kampas rem mobil. Metode Job Strain Index (JSI) dan metode Quick Exposure Check (QEC). merupakan suatu pendekatan yang digunakan untuk 2  Ergonomic design is the application of human factors, information to the design of tools, machines, systems, tasks, jobs and environments for productive, safe, comfortable and effective human functioning (Manuaba, 1998 dalam Tarwaka, dkk 2004) 2.2 BIOMEKANIKA Biomekanika adalah disiplin ilmu yang mengintegrasikan faktor-faktor yang mempengaruhi gerakan manusia, yang diambil dari pengetahuan dasar seperti fisika, matematika, kimia, fisiologi, anatomi dan konsep rekayasa untuk menganalisis gaya yang terjadi pada tubuh. (Chaffin, D. B. dan Andersson, G. 1984 ). Dari pengertian diatas maka ilmu biomekanika mencoba memberikan gambaran ataupun solusi guna meminimumkan gaya dan momen yang dibebankan pada pekerja supaya tidak terjadi kecelakaan kerja. Jika seseorang melakukan pekerjaan maka sangat banyak faktor-faktor yang terlibat dan mempengaruhi pekerjaan tersebut. Secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi manusia tersebut adalah faktor individual dan faktor situasional. (Madyana, 1996). Biomekanika merupakan ilmu yang membahas aspek-aspek mekanika gerakan-gerakan tubuh manusia. Biomekanika adalah kombinasi antara keilmuan mekanika, antropometri dan dasar ilmu kedokteran (biologi dan fisiologi). Dalam dunia kerja yang menjadi perhatian adalah kekuatan kerja otot yang tergantung pada posisi anggota tubuh yang bekerja, arah gerakan kerja dan perbedaan kekuatan antar bagian tubuh. Selain itu juga kecepatan dan ketelitian serta daya tahan jaringan tubuh terhadap beban. (Mas’idah, Eli. 2009). 1. 2. aktivitas kerja. Keluhan musculoskeletal sering juga dinamakan MSD (Musculoskeletal disorder), RSI (Repetitive Strain Injuries), CTD (Cumulative Trauma Disorders) dan RMI (Repetitive Motion Injury). (Mas’idah, 2009.) Secara garis besar keluhan otot dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu : Keluhan sementara (reversible) yaitu keluhan otot yang terjadi pada saat otot menerima beban statis, namun demikian keluhan tersebut akan segera hilang apabila pembebanan dihentikan. Keluhan menetap (persistent) yaitu keluhan otot yang bersifat menetap, walaupun pembebanan kerja telah dihentikan, namun rasa sakit pada otot terus belanjut. 2.4 ERGONOMI RISK MSDs Faktor Risiko Ergonomi Terkait MSDs Faktor-faktor yang mempengaruhi keluhan MSDs, menurut Peter Vi (2000) dalam Tarwaka (2004) terdiri dari : a. Faktor pekerjaan, meliputi :  Postur  Beban/gaya  Frekuensi  Durasi b. Faktor individu, meliputi :  Umur  Jenis kelamin  Masa kerja  Kebiasaan merokok  Kesegaran jasmani  Antropometri Pekerja c. Faktor lingkungan, meliputi :  Tekanan  Getaran  Suhu 2.5 LOW BACK PAIN Low back pain adalah nyeri yang dirasakan daerah punggung bawah, dapat merupakan nyeri lokal maupun nyeri radikuler atau keduanya. Nyeri ini terasa diantara sudut iga terbawah sampai lipat bokong bawah yaitu di daerah lumbal atau lumbo-sakral dan sering disertai dengan 10 penjalaran 2.3 MUSCULOSKELETAL DISORDER Keluhan musculoskeletal adalah keluhan sakit, nyeri, pegal-pegal dan lainnya pada sistem otot (musculoskeletal) seperti tendon, pembuluh darah, sendi, tulang, syaraf dan lainnya yang disebabkan oleh 3 nyeri ke arah tungkai dan kaki. LBP yang lebih dari 6 bulan disebut kronik (Sadeli et al, 2001). Low back pain merupakan salah satu gangguan muskuloskletal yang disebabkan oleh aktivitas tubuh yang kurang baik (Maher et al, 2002). Adapun faktor risiko terjadinya low back pain dapat dibedakan menjadi tiga faktor, antara lain yakni : faktor inidividu (usia, indeks massa tubuh, kebiasaan merokok, jenis kelamin, masa kerja dan lain-lain), faktor pekerjaan (beban kerja, durasi, posisi kerja, repetisi), dan faktor lingkungan fisik. ketidaknormalan dari waktu kerja ini diakibatkan oleh operator yang bekerja secara tidak wajaryaitu bekerja dalam tempoatau kecepatan yang tidak sebagaimana mestinya ( Purnama, 2014). Rating faktor yang dihitung dengan metode Westing House yang dibagi menjadi 4 faktor yaitu skill ( Kemampuan), effort ( Usaha ), Condition ( kondisi ), Consistency (konsistensi) untuk keperluan penyesuaian terbagi menjadi 6 kelas yautu superskill, excelen skil, good skill, average, bad skill, poor skill. westinghouse adalah kondisi fisik lingkungannya, seperti keadaan pencahayaan, suhu dan kebisingan ruangan ( Sukania, 2014 ). 2.6 KEKUATAN OTOT 1. 2. Kekuatan otot adalah tenaga maksimum yang digunakan oleh suatu group otot di bawah kondisi yang ditetapkan. Kekuatan otot biasanya ditentukan setelah beberapa putaran kerja (10). Terdapat 2 macam kekuatan otot yaitu : (Genaidy, 1996) Kekuatan otot statis tidak termasuk beberapa gerakan selama pengerahan tenaga fisik. Kekuatan otot statis juga dikenal sebagai kontraksi volunter maksimum atau kekuatan isometik yaitu tenaga maksimum yang digunakan untuk suatu group otot setelah percobaan tunggal (single trial). Kekuatan otot dinamis memerlukan pengerahan selama proses gerakan. Kekuatan otot dinamis adalah beban maksimum yang dapat ditangani oleh seseorang tepat waktu atau beberapa kali tanpa istirahat di antara repetisi (contoh: 10 repetisi) untuk pekerjaan yang diinginkan. 2.8 JOB STRAIN INDEX a. b. 2.7 WESTINGHOUSE PERMORMANCE RATING SYSTEM c. d. e. f. Performance Rating merupakan suatu aktivitas dari seorang operator yang menjalankan pekerjaannya secara normal dengan kecepatan atau tempo yang dimiliki setiap operator. Dengan melakukan rating ini diharapkan waktu kerja yang diukur bisa dinormalkan kembali. 4 Job strain Index ( JSI ) merupakan metode pengukuran cepat yang dikembangkan oleh Dr. J.S Moore dan Dr. A. Garg. metode ini dikembangkan untuk mengetahui besarnya risiko cidera pada tubuh bagian atas (Cornell.University, 1995). Metode JSI ini berbeda dengan metode pengukuran cepat lainnya. karena metode ini tidak bersifat subjektif. Karena adanya pengukuran yang langsung di ukur secara langsung dalam kondisi aktual. Pengukuran menggunakan Job Strain Index terdiri dari enam parameter yang di ukur keenam parameter tersebut adalah : (Cornell.University, 1995) Intensitas Penggunaan Usaha (intencity of exertion / IE ) Durasi penggunaan Tenaga (Duration of exertion / DE ) Jumlah Usaha permenit (Efforts per Minute / EM ) Posisi Tangan ( Hand / Wrist Posture / HWP ) Kecepatan Kerja ( Speed of Work / SW ) Durasi aktivitas perhari ( Duration of Task per Day / DD ) Selanjutnya untuk menghitung nilai JSI didapatkan dengan mengalikan enam parameter. berikut adalah cara menghitung nilai JSI : (Cornell.University, 1995) JSI : IE x DE x EM x HWP x SW x DD 1. Perumusan Masalah dan Penetapan Tujuan Penelitian Identifikasi dan Perumusan Masalah : Pada tahap ini berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas maka diperoleh rumusan masalah sebagai berikut : Bagaimana cara mengidentifikasi dan menganalisis tingkat risiko ergonomi berdasarkan metode Job Strain Index (JSI) dan Quick Exposure Check (QEC) pada operator premolding di PT MK Prima Indonesia. sedangkan Tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini yaitu sebagai berikut: a. Mengidentifikasi postur kerja operator di bagian premolding. PT MK Prima Indonesia b. Menghitung nilai tingkat risiko ergonomi dengan menggunakan metode Job Strain Index (JSI) dan Quick Exposure Check (QEC) berdasarkan identifikasi tujuan penelitian No.1 c. Menganalisis tingkat risiko ergonomi sesuai hasil perhitungan dalam tujuan penelitian N0.2 d. Merekomendasikan usulan perbaikan sesuai hasil analisis No.3 sebagai masukan kepada manager produksi. Keterangan : IE : Penggunaan Usaha DE : Penggunaan Tenaga EM : Jumlah Usaha permenit HWP : Posisi Tangan SW : Kecepatan Kerja DD : Durasi aktivitas perhari 2.9 Quick Exposure Check (QEC) a. b. c. d. Quick Exposure Check (QEC) merupakan salah satu metode pengukuran beban postur yang diperkenalkan oleh Dr.Guanyang Li dan Peter Buckle. QEC menilai pada empat area tubuh yang terpapar pada risiko yang tertinggi untuk tejadinya work musculoskeletal disorders (WMSDs) pada seseorang ataupun operator. QEC dikembangkan untuk (Li dan Buckle, 1998 dalam Ahmad, 2013. ) Menilai perubahan paparan pada tubuh yang berisiko terjadinya muskuloskeletal sebelum dan sesudah intervensi ergonomi. Melibatkan pengamat dan juga pekerja dalam melakukan penilaian dan mengidentifikasi kemungkinan untuk perubahan pada sistem kerja. Membandingkan paparan risiko cedera diantara dua orang atau lebih yang melakukan pekerjaan yang sama, atau diantara orang-orang yang melakukan pekerjaan yang berbeda. Meningkatkan kesadaran diantara para manajer, engineer, desainer, praktisi keselamatan dan kesehatan kerja dan para operator mengenai faktor risiko musculoskeletal pada stasiun kerja. 3. 2. Pengumpulan Data Pengumpulan data Metode JSI dan QEC a. Intensitas usaha : memberikan kuesioner Skala Borg b. Durasi penggunaan tenaga : waktu observasi dan penggunaan tenaga c. Jumlah usaha permenit : Jumlah gerakan pada tangan kiri dan kanan d. Posisi pergelangan tangan : dokumentasi e. Kecepatan : menggunakan perhitungan westing house f. Durasi perhari : pekerja melakukan pekerjaannya dengan jam standart / hari g. Penyebaran kuesioner operator QEC h. Melakukan dokumentasi postur kerja pada tubuh bagian punggung, lengan, pergelangan tangan, leher METODE PENELITIAN Studi pendahuluan : pada tahap awal ini hal yang dilakukan ialah melakukan wawancara kepada pengambil keputusan utama untuk dijadikan acuan dalam melakukan identifikasi permasalahan. Wawancara tentang postur kerja dan gejalah kelelahan otot apa saja yang dialami operator dengan menyebar kuesioner NORDIC BODY MAP sebagai langkah awal penyelesain masalah. 3. 5 Pengolahan Data Pengolahan Data : setelah datadata yang dibutuhkan terkumpul tahap selanjutnya ialah melakukan Pengolahan data yang dilakukan sesuai dengan metode JSI dan QEC yakni metode yang akan diaplikasikan dalam pemecahan masalah diatas. Ringkas tahapan analisis metode JSI dan QEC :   Pengolahan data menggunakan metode Job Strain Index mencakup kegiatan : a. Pengolahan data enam variabel kerja yaitu 1. Intensitas usaha ( IE) 2. Durasi penggunaan tenaga ( DE ) 3. Jumlah usaha permenit ( EM ) 4. Posisi tangan ( HP ) 5. Kecepatan ( SW ) 6. Durasi per hari (DD) b. Penetapkan faktor penggali berdasarkan rating yang telah ditetapkan (1) Menentukan Strain Index Score = IE x DE x EM x HP x SW x DD (2) Mengidentifikasi hasil sehingga dapat dianalisis apakah sebuah aktivitas kerja itu aman. Contoh : Strain index score = 0,5 + 1 + 0,5 + 0,5 + 0,25 + 0,25 = 3 ( karena skor < 3 maka pekerjaan itu diamati cukup aman ) 4.1 Pengolahan Data Metode JSI (Job Strain Index) Pengukuran menggunakan Job Strain Index terdiri dari enam parameter yang di ukur keenam parameter tersebut adalah : (Cornell.University, 1995) a. Intensitas Penggunaan Usaha (intencity of exertion / IE) b. Durasi penggunaan Tenaga (Duration of exertion / DE) c. Jumlah Usaha permenit (Efforts per Minute / EM) d. Posisi Tangan (Hand / Wrist Posture / HWP) e. Kecepatan Kerja (Speed of Work / SW) f. Durasi aktivitas perhari (Duration of Task per Day / DD) Selanjutnya untuk menghitung nilai JSI didapatkan dengan mengalikan enam parameter. berikut adalah cara menghitung nilai JSI sumber : (Cornell.University, 1995) JSI : IE x DE x EM x HWP x SW x DD Keterangan : JSI : Job Strain Index IE : Penggunaan Usaha DE : Penggunaan Tenaga EM : Jumlah Usaha permenit HWP : Posisi Tangan SW : Kecepatan Kerja DD : Durasi aktivitas perhari Pengolahan data menggunakan metode Quick Exposure Check, adalah : Tahap 1 : Pengembangan metode untuk dokumentasi postur kerja. i) mengambil gambar untuk mengetahui nilai postur tubuh pada bagian Punggung, lengan / Bahu, pergelangan tangan serta leher. Tahap 2 : Kemudian Menghitung nilai Exposure score pada 4 bagian anggota tubuh. Tahap 3 : Pengembangan skor dan daftar tindakan . i) Rekapitulasi exposure level QEC Contoh : Exposure Score = karena dari hasil kuesioner menyatakan bahwa untuk punggung, posisi punggung dengan dilambangkan (A) dan beban dilambangkan ( H ). maka hasilnya A3 bertemu dengan H1 = 6 4. 1. Intensitas Penggunaan Usaha (intencity of exertion / IE ) Penilaian Intensitas usaha dapat di hitung dengan menggunakan tabel berikut ini : Tabel 1. Intensitas penggunaan tenaga sub aktivitas 1 S k a Prese l Kat ntasi a Ketera ego keku ngan ri atan b max o r g HASIL DAN PEMBAHASAN Pengolahan data merupakan langkah selanjutnya setelah data – data gerakan dan posisi kerja teridentifikasi. Pengolahan data dilakukan sesuai dengan langkah – langkah metode JSI dan QEC. Rin gan 6 <10 % < 2 Tanpa usaha Cu kup Ber at Kat ego ri Ber at San gat ber at Me nde kati ma x 10% - 29 % Prese ntasi keku atan max 30% 49% 50% 79% > 80% 3 Meme rlukan usaha S k a l a Kat ego ri Pres enta si kek uata n max Rin gan <10 % Cu kup Ber at 10% - 29 % 3 Memerl ukan usaha Ber at 30% 49% 4 5 Memerl ukan usaha yang lebih San gat ber at 50% 79% 6 7 Memerl ukan usaha berlebi h Ketera ngan b o r g Meme rlukan usaha yang lebih 4 5 Meme rlukan usaha berlebi h 6 7 >7 Memb utuhka n bahu dan pungg ung untuk menge luarka n tenaga Me nde kati ma x Sumber : (Cornell.University, 1995) Dari Tabel 1 dapat diketahui bahwa operator pada sub aktivitas 1 untuk intensitas penggunaan tenaga pada kategori berat dengan 30% - 49% serta skor skala borg 4 – 5 dengan keterangan memerlukan usaha yang lebih. Pengumpulan data sebelumnya operator mempresentakikan kerjanya dalam skala Borg 5. yang artinya masuk ke dalam kategori berat dengan presentasi 3049%. S k a l a Keteran gan b o r g < Tanpa usaha 2 > 8 0 % >7 Membu tuhkan bahu dan punggu ng untuk mengel uarkan tenaga Sumber : (Cornell.University, 1995) Dari Tabel 2 dapat diketahui bahwa operator pada sub aktivitas 2 untuk intensitas penggunaan tenaga pada kategori berat dengan 30% - 49% serta skor skala borg 4 – 5 dengan keterangan memerlukan usaha yang lebih. Pertama kali peneliti akan mengamati permasalahan yang diteliti. kemudian memasukkan permasalahan tersebut pada kategori apa dengan Tabel 2. Intensitas penggunaan tenaga sub aktivitas 2 7  mengacu pada tabel diatas. kemudian konversikan kategori dalam rating dan faktor penggali. Dari hasil penelitian didapatkan. operator mempresentasikan usaha kerjanya dengan skala 5 (skala Borg) pada sub aktivitas 1 dan skala 5 pada sub aktivitas 2. Sub 1 Sub 2 2. Durasi penggunaan Tenaga (Duration of exertion / DE) Untuk penghitungan durasi penggunaan tenaga berbeda dengan perhitungan intensitas penggunaan tenaga. penghitungan ini di dapatkan dengan rumus matematis sebagai berikut : (Cornell.University, 1995) 4800 ( penggunaan tenaga ) sub aktivitas 1 : %DE = ------------- x 100% = 66.6% 7200 ( waktu Observasi ) 1200 ( penggunaan tenaga ) M. Abid M. Abid 720 540 120 6 4.5 540 360 120 4.5 3 Hasil Untuk nilai EM untuk sub aktivitas 1 pada tangan kiri sebesar 6 dan tangan kanan sebesar 4.5 untuk nilai 6 dan nilai 4,5, sedangkan untuk sub aktivitas 2 pada tanga kiri sebesar 4.5 dan tangan kanan sebesar 3 untuk nilai 4.5 dan nilai 3. 4. Posisi Tangan ( Hand / Wrist Posture / HWP ) Gambar 3 s/d Gambar 6 merupakan penilaian posisi tangan. Gambar 3 Gambar 4 Sub aktivitas 2 : %DE = ------------ x 100% = 16.6% 7200 ( waktu Observasi ) DE merupakan durasi penggunaan tenaga dijadikan dalam satuan % , sedangkan untuk total waktu penggunaan tenaga dan total waktu observasi dalam satuan detik. kemudian konversikan kategori dalam rating dan faktor penggali. Untuk hasil perhitungan DE di dapatkan nilai untuk Sub aktivitas 1 sebesar 66,6%, sedangkan untuk sub aktivitas 2 sebesar 16,6%.. 3. Jumlah Usaha permenit (Efforts per Minute / EM ) Untuk penghitungan jumlah usaha permenit, sama dengan durasi penggunaan tenaga. penghitungan ini di dapatkan dengan rumus matematis sebagai berikut : (Cornell.University, 1995) Jumlah Pengulangan aktivitas kerja__ Total Waktu Observasi Keterangan : Total waktu observasi dalam satuan menit Kemudian konversikan kategori dalam rating dan faktor penggali. Tabel 3 nilai EM tangan kiri dan kanan R Jumlah Gerakan Waktu e Observasi Berdasarkan Gambar 3 dapat diketahui bahwa untuk sudut ekstensi pada gambar A sebesar 21,74° sedangkan untuk Gambar 4 memiliki sudut deviasi sebesar 11,92°. Gambar 5 Gambar 6 Dapat diketahui bahwa untuk sudut ekstensi pada Gambar 5 sebesar 22,43° sedangkan untuk Gambar 6 memiliki sudut deviasi sebesar 13,50° Tabel 4 Posisi Tangan ( Hand / Wrist Posture / HWP ) sub 1 dan 2 Ekstensi Fleksi Devias Kategor pergelangan pergelangan i pada Keterangan i tangan tangan unlar Sangat 0° - 10° 0–5 0 – 10 Netral baik 11° - 25° 6 – 15 11 – 15 Mendekati NilaiBaik EM 8 Cukup baik 26° - 40° 16 – 30 16 – 20 Buruk 41° - 55° 31 – 50 21 – 25 Sangat >60° >50 > 25 buruk sumber : (Cornell.University, 1995) netral Tidak netral Sangat tidak netral Mendekati ekstrim CONSISTEN CY Untuk nilai kecepatan operator premolding yang normal adalah 100% ( MTM = 1 ) kemudian akan di tambahkan atau di kurangkan dengan perhitungan menggunakan perhitungan westinghouse seperti pada tabel 4.7, dan perhitungan tersebut memenuhi klasifikasi sebagai berikut : Kecepatan Normal Operator = +1,00 Excellent Skill ( B2 ) = + 0,08 Good Effort ( C2 ) = + 0,02 Good Condition ( C ) = + 0,02 Good Consistency ( C ) = + 0,01 + Total = +1,13. Karena nilai akhir untuk perhitungan dengan menggunakan metode westinghouse adalah 1,13 maka sama dengan MTM = 113%. untuk MTM adalah kecepatan normal seorang pekerja melakukan pekerjaannya = 100%. (Wignjosoebroto, 2003) Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui bahwa posisi tangan pada sub aktivitas 1 dan 2 masuk pada kategori baik dengan sudut ekstensi sebesar 21,74° sedangkan untuk posisi fleksi tidak ada, dan untuk sudut deviasi adalah 11,92° maka masuk dalam ekstensi pergelangan tangan 11°-25° , Deviasi pergelangan tangan 11°-25°, dengan kategori baik. begitupun dengan sub aktivitas 2 yang mendapatkan 22,43° untuk ekstensi dan 13,50° untuk posisi deviasi pada unlar. Untuk penilaian pada pergelangan tangan kali ini tentukan masalah yang diamati dengan cara memacu pada Tabel 4 di atas untuk posisi ekstensi, fleksi pada pergelangan tangan dan nilai unlar. kemudian di kategori manakah hasil tersebut. setelah itu kategori yang di dapatkan di masukkan kedalam nilai rating faktor penggali. Tabel 6. Kecepatan Kerja ( Speed of Work / SW ) K Perbandingan at Keterang dengan MTM eg an - 1ˆ ori 5. Kecepatan Kerja ( Speed of Work / SW ) Untuk penentuan perhitungan pada parameter kecepatan kerja dapat di lakukan dengan cara mengacu pada Tabel 4.7 untuk perhitungan kecepatan kerja, kepala bagian Premolding yang melakukan penilaian atau menentukan performance ratings. Westinghous digunakan karena dapat mengarakan pada 4 faktor yang dianggap menentukan kewajaran atau ketidakwajaran dalam bekerja. Tabel 5 Rekapitulasi Performancence Ratings Performanc Nilai e SKILL + 0,08 B2 Excellent EFFORT + 0,02 C2 Good CONDITIO N + 0,02 C + 0,01 C Good Good Sa ng at la m ba t < 80% Sangat lambat K at eg ori Perbandingan dengan MTM - 1ˆ Keterang an La m ba t 81% - 90% Lambat 91% - 100% Normal C uk up ce 9 5. Kecepatan kerja masuk dalam nominasi cepat dan masuk dalam rating 4 dengan nilai 1,5 6. Durasi kerja perhari masuk dalam <1 hari dengan rating 1 dan bernilai 0,25. Untuk nilai rating dan faktor penggali dari ke enam parameter tersebut mengacu pada Tabel 8. Tabel 8 Penentuan rating dan faktor penggali sub aktivitas 2 Ratin Intensitas Durasi Jumlah Posisi Kecep g Pengguna Pengguna Usaha Tangan atan -an -an Per Kerja Tenaga Tenaga Menit pa t Ce pa t Cepat tapi dapat dijaga 101% - 115% Sa ng at ≥ 115% ce pa t sumber : (Cornell.University, 1995) 6. Cepat tapi tidak dapat dijaga Durasi aktivitas perhari ( Duration of Task per Day / DD )  Pekerja melakukan pekerjaannya selama 8 jam / hari dengan istirahat 1 jam Untuk nilai rating dan faktor penggali dari ke enam parameter tersebut mengacu pada Tabel 7. Berdasarkan Tabel 8 dapat diketahui bahwa untuk penentuan rating dan faktor penggali pada sub aktivitas 2 1. Intensitas usaha berada pada kondisi berat dan masuk pada rating 3 dengan nilai 6 2. Durasi penggunaan tenaga masuk dalam range 10% - 29% dan masuk pada rating 2 dengan nilai 1 3. Jumlah usaha permenit masuk dalam range <4 dan masuk pada rating 1 dengan nilai 0,5 4. Posisi pergelangan tangan berada dalam kondisi baik dan masuk dalam rating 2 dengan nilai 1 5. Kecepatan kerja masuk dalam nominasi cepat dan masuk dalam rating 4 dengan nilai 1,5 6. Durasi kerja perhari masuk dalam <1 hari dengan rating 1 dan bernilai 0,25. 7. Pemahaman Tentang JSI Setelah perhitungan JSI dilakukan dengan mengalikan ke enam parameter yang ada sebagai berikut : JSI : IE x DE x EM x HWP x SW x DD Selanjutnya adalah tahap penginterpretasian nilai JSI yang didapatkan. penginterpretasian nilai JSI mengikuti aturan berikut : (http://ergo.human.cornell.edu/ahJSI.html) Tabel 7. penentuan rating dan faktor penggali sub aktivitas 1 Rating Intensitas Penggunaan Tenaga Durasi Pengguna-an Tenaga Jumlah Usaha Per Menit Posisi Tangan Kecep atan Kerja Berdasarkan Tabel 7 dapat diketahui bahwa untuk penentuan rating dan faktor penggali pada sub aktivitas 1. Intensitas usaha berada pada kondisi berat dan masuk pada rating 3 dengan nilai 6 2. Durasi penggunaan tenaga masuk dalam range 50% - 79% dan masuk pada rating 4 dengan nilai 2 3. Jumlah usaha permenit masuk dalam range 4-8 dan masuk pada rating 2 dengan nilai 1 4. Posisi pergelangan tangan berada dalam kondisi baik dan masuk dalam rating 2 dengan nilai 1   10 Sub aktivitas 1 : 6 x 2 x 1 x 1 x 1,5 x 0.25 = 4,5 Sub aktivitas 2 : 6 x 1 x 0,5 x 1 x 1,5 x 0,25 = 1,12 Duras i Aktiv itas Perha ri 1 Tabel 9 Tabel interpretasi JSI Nilai JSI < 3 Pekerjaan yang cukup aman Nilai JSI > 5 Memiliki potensi terjadinya risiko cidera anggota gerak atas Pekerjaan yang diamati berbahaya Nilai JSI > 7 diamati Tabel 13 Rekapitulasi jawaban kuesioner pengamat Pertanyaan Stasiun N O Kerja H I J K L M Premolding H1 I3 J1 K1 L1 M1 N2 O2 Berdasarkan Tabel 9 dapat diketahui bahwa nilai JSI pada sub aktivitas 1 dengan nilai 4,5 karena di dalam tabel 4.11 nilai 4,5 tidak masuk kedalam nilai <3 atau >5 maka nilai akhir masuk ke dalam <3, karena untuk masuk kedalam nilai >5 nilai minimal harus 5,01 sedangkan untuk sub aktivitas 2 bernilai 1,12. serta dapat di ambil kesimpulan untuk nilai sub aktivitas 1 dan sub aktivitas 2 berada dalam posisi < 3 dengan keterangan pekerjaan yang diamati cukup aman untuk anggota gerak atas meliputi leher, lengan, punggung, pergelangan tangan. 1. Visualisasi postur kerja punggung pada Gambar 7 Operator melakukan gerakan penuangan material dari bak kontainer ke dalam gelas takar kemudian menimbang dengan standart yang ada dengan sudut 0.00° dengan kategori (low). Operator menuangkan material ke dalam cetakan dengan sudut 0.00° ada pada Gambar 8 dengan kategori ( LOW ). 4.2 Pengolahan Data Metode QEC (Quick Exposure Check) Berikut ini adalah tahapan yang penulis lakukan untuk pengolahan data dari metode QEC. jawaban – jawaban yang didapat dari kuesioner pada stasiun kerja premolding kemudian akan dihitung nilai exposure score pada 4 bagian anggota tubuh dari operator setiap stasiun kerja yang di teliti. Tabel 10 Rekapitulasi jawaban kuesioner Pengamat (1) Bahu / Pergelangan Punggung Stasiun Lengan Tangan Leher Kerja 1 2 1 2 1 2 Premolding A1 B2 C1 D3 E2 F2 G3 2. Bahu/Lengan Gambar 9 Tabel 11 Rekapitulasi jawaban kuesioner Operator (1) Stasiun Pertanyaan Kerja H I J K L M N O Premolding H J L N O2 I3 K2 M1 1 1 1 2 Stasiun Kerja Premolding Berdasarkan Gambar 4.7 s/d Gambar 4.16 dapat diketahui bahwa analisis menggunakan metode QEC ada 4 anggota tubuh yang diamati yaitu. Punggung (statis). Gambar 7 Gambar 8 Gambar 10 Visualisasi postur kerja bahu / lengan pada Gambar 9 Operator melakukan gerakan penuangan material dari bak kontainer ke dalam gelas takar kemudian menimbang dengan standart yang ada dengn sudut 22.86 edengan Kategori (moderate). Operator menuangkan material ke dalam cetakan Tabel 12 Rekapitulasi jawaban kuesioner Pengamat (2) Bahu / Pergelangan Punggung Lengan Tangan Leher 1 2 1 2 1 2 A B2 C1 D3 E2 F1 G3 11 dengan sudut 0.0 ada pada Gambar 10 dengan Kategori (low) 3. Pergelangan tangan Gambar 11 Gambar 13 Gambar 12 Visualisasi postur kerja leher pada Gambar 15 Operator melakukan gerakan penuangan material dari bak kontainer ke dalam gelas takar kemudian menimbang dengan standart yang ada dengan sudut 15.46 mauk kedalam kategori (hight). Operator menuangkan material ke dalam cetakan dengan sudut 24.58 ada pada Gambar 16 Masuk Kedalam kategori (hight). Gambar 14 Tabel 14. Rekapitulasi Exposure Score Sub aktivitas 1 Exposure Score Anggota tubuh yang di Moderat Very Low High amati e High Punggung 23-29 29-42 8-15 16-22 ( Statis ) Punggung 31-40 41-56 10-20 21-30 ( Dinamis) Bahu / Lengan 10-20 21-30 31-40 41-56 Pergelangan 31-40 41-46 10-20 21-30 Tangan Leher 4-6 8-10 12-14 16-18 Pada table 14 adalah hasil rekapitulasi untuk 4 sudut anggota tubuh yang di amati pada sub aktivitas 1 yaitu Punggung, Bahu/Lengan, Pergelangan Tangan dan Leher. Visualisasi postur kerja pergelangan tangan pada Gambar 13 dan Gambar 14 pada Operator melakukan gerakan penuangan material dari bak kontainer ke dalam gelas takar kemudian menimbang dengan standart yang ada masuk kedalam Kategori (moderate). Visualisasi postur kerja pergelangan tangan pada Gambar 11 dan Gambar 12 Operator menuangkan material ke dalam cetakan ada pada Gambar 11 dan 12 masuk kedalam kategori (moderate). 4. Leher Gambar 15 Tabel 15 Rekapitulasi Exposure Score Sub aktivitas 2 Exposure Score Anggota tubuh yang Moderat High Very Low di amati e High Punggung 23°-29° 29°-42° 8°-15° 16°-22° ( Statis ) Punggung 31°-40° 41°-56° 10°-20° 21°-30° ( Dinamis) Bahu / 31°-40° 4°1-56° 10°-20° 21°-30° Lengan Pergelangan 31°-40° 41°-46° 10°-20° 21°-30° Tangan Gambar 16 12 Leher 4°-6° 8°-10° 12°-14° 16°-18° Pada Tabel 15 adalah hasil rekapitulasi untuk 4 anggota tubuh yang di amati pada sub aktivitas 2 yaitu Punggung, Bahu/Lengan, Pergelangan Tangan dan Leher. Setelah didapatkan exposure score pada 5 anggota tubuh yang diamati, setelah itu memasukkan hasil kuesioner dan exposure score pada lembar skor QEC. Anggota tubuh yang di amati Punggung ( Statis ) Bahu / Lengan Pergelangan Tangan Leher Total Exposure Score Nilai exposure score pada Stasiun kerja Premolding 2+6+6+8= 22 2+6+6+6+10= 30 2+6+6+4+8= 26 10+4= 14 22+30+26+14= 92 Pada Tabel 18 dijelaskan tindakan yang perlu dilakukan berdasarkan nilai exposure level untuk meminimalisir tingkat risiko MSDs. Tabel 18 Action Level QEC Total Action Exposure Level < 40% Aman 40-49 % Perlu Penelitian Lebih Lanjut 50 – 69 % Perlu Penelitian Lebih Lanjut dan di lakukan perubahan > 70 % Dilakukan penelitian dan dan perubahan secepatnya. Untuk nilai yang muncul dalam Skor QEC pada bagian mengemudi, Getaran, Kecepatan kerja, dan stres kerja dapat di jadikan acuan untuk penelitian lebih lanjut karena untuk perhitungannya masih sederhana. Untuk menentukan exposure score dapat digunakan rumus sebagai berikut : Keterangan : X = Total skor yang didapat untuk paparan risiko cedera untuk punggung, bahu/lengan, pergelangan tangan, dan leher yang diperoleh dari perhitungankuesioner. Xmax = Total maksimum skor untuk paparan yang mungkin terjadi untuk punggung, bahu/lengan, pergelangan tangan, dan leher. *NP: jika untuk pekerjaan statis maka Xmax = 162 dan jika untuk pekerjaan matrial handling maka Xmax = 176 Tabel 19 Rekapitulasi Exposure Level Stasiun Exposure Level Tindakan Kerja Premolding 96/162 x 100% = Perlu penelitian lebih lanjut sub aktivitas 59,259% dan dilakukan perubahan 1 Premolding 92/162 x 100% = Perlu penelitian lebih lanjut sub aktivitas 56,790% dan dilakukan perubahan 2 Rekapitulasi untuk perhitungan exposure score pada setiap stasiun kerja dapat dilihat pada Tabel 16 dan Tabel 17. Dari nilai rekapitulasi pada Tabel 19 Exposure Level untuk metode QEC dapat di simpulkan bahwa untuk sub aktivitas 1 mendapatkan nilai 59,259% dengan tindakan perlu penelitian lebih lanjut dan dilakukan perubahan. sedangkan untuk sub aktivitas ke 2 mendapatkan nilai 56,790% dengan tindakan perlu penelitian lebih lanjut dan dilakukan perubahan. Tabel 16 Rekapitulasi Exposure Score sub aktivitas1 Nilai exposure score Anggota tubuh yang di pada Stasiun kerja amati Premolding Punggung ( Statis ) 2+6+6+8= 22 Bahu / Lengan 2+6+6+6+10= 30 Pergelangan Tangan 4+8+6+4+8 = 30 Leher 10+4 = 14 Total Exposure Score 22+30+30+14 = 96 Tabel 17 Rekapitulasi Exposure Score sub aktivitas 2 13 SIMPULAN 1. 2. 3. 4. perhari selama 8 jam per hari. kemudian di masukkan ke dalam tabel penentuan rating faktor penggali. kemudian di jumlahkan hasil dari faktor penggali dan didapatkan nilai interprentasi untuk nilai JSI <3 dengan keterangan pekerjaan yang di amati cukup aman. sub aktivitas 2 pada posisi ekstensi 22,43, flexi 0, dan deviasi 13,50. kemudian di dapatkan juga skor untuk intensitas usaha dengan menggunakan skala borg 4-5, penggunaan tenaga sebanyak 16,6, jumlah usaha permenit masuk kedalam kategori <4, kecepatan kerja sebesar 113% dengan normal seseorang bekerja adalah 100% serta durasi aktifitas perhari selama 8 jam per hari. kemudian di masukkan ke dalam tabel penentuan rating faktor penggali. kemudian di jumlahkan hasil dari faktor penggali dan didapatkan nilai interprentasi untuk nilai JSI <3 dengan keterangan pekerjaan yang di amati cukup aman, sedangkan untuk QEC di dapatkan sudut pada sub aktifitas 1 bagian tubuh punggung 0, bahu 22,86 ,leher 15,46 , dan pergelangan tangan 21,74. setelah itu di dapatkan hasil penyebaran kuesioner kepada pekerja yang nantinya akan di masukkan ke dalam lembar skor QEC. setelah itu di dapatkan nilai exposure score pada setiap bagian tubuh dengan total exposure score 89. hasil dari penjumlahan tersebut akan di hitung kembali untuk mendapatkan nilai exposure level. dengan 89 / 162 X 100 % = 54,939 dengan tindakan perlu penelitian lebih lanjut. sub aktifitas 2 bagian tubuh punggung 0, bahu 0 ,leher 24,58 , dan pergelangan tangan 22,43. setelah itu di dapatkan hasil penyebaran kuesioner kepada pekerja yang nantinya akan di masukkan ke dalam lembar skor QEC. setelah itu di dapatkan nilai exposure score pada setiap bagian tubuh dengan total exposure score 85. hasil dari penjumlahan tersebut akan di hitung kembali untuk mendapatkan nilai exposure level. dengan 85 / 162 X 100 % = 52,469 dengan tindakan perlu penelitian lebih lanjut. Adapun kesimpulan yang didapatkan dari penelitian di PT. MK Prima Indonesia adalah sebagai berikut: Berdasarkan identifikasi postur kerja tubuh operator premolding menggunakan metode JSI dan QEC, hasil analisis menggunakan dua metode tersebut diketahui bahwa postur tubuh yang memiliki risiko kelelahan yang berlebihan pada operator Premolding yang menggunakan mesin thailand di PT. MK PRIMA INDONESIA adalah pergelangan tangan ,bahu, batang tubuh ,leher. Berdasarkan perhitungan tingkat risiko ergonomi dengan metode JSI diketahui bahwa posisi kerja operator Premolding didapatkan nilai JSI <3 untuk aktivitas menuangkan material dari bak kontainer ke dalam gelas takar, sedangkan pada aktivitas menuangkan material ke dalam cetakan didapatkan nilai JSI <3. Berdasarkan perhitungan tingkat risiko ergonomi dengan metode QEC didapatkan nilai exposure level sebesar 54.934% untuk aktivitas menuangkan material dari bak kontainer ke dalam gelas takar, sedangkan sedangkan pada aktivitas menuangkan material ke dalam cetakan didapatkan nilai exposure level sebesar 52.469%. Berdasarkan nilai JSI dapat disimpulkan bahwa aktivitas menuangkan material dari bak kontainer ke dalam gelas takar dan aktivitas menuangkan material ke dalam cetakan termasuk dalam kategori pekerjaan yang cukup aman dari risiko ergonomi. Berdasarkan nilai QEC dapat disimpulkan bahwa aktivitas menuangkan material dari bak kontainer ke dalam gelas takar dan aktivitas menuangkan material ke dalam cetakan termasuk dalam kategori perlu penelitian lebih lanjut dan dilakukan perubahan. Perbedaan hasil dengan menggunakan metode JSI , QEC dan Postur tubuh saat ini. untuk JSI di dapatkan sudut untuk pergelangan tangan sub aktivitas 1 pada posisi ekstensi 21,74, flexi 0, dan deviasi 11,92. kemudian di dapatkan juga skor untuk intensitas usaha dengan menggunakan skala borg >7, penggunaan tenaga sebanyak 66,6, jumlah usaha permenit masuk kedalam kategori 4-8, kecepatan kerja sebesar 113% dengan normal seseorang bekerja adalah 100% serta durasi aktifitas 5. DAFTAR PUSTAKA Adha, E, R, Yuniar, A. Desrianty. 2014. Usulan Perbaikan Stasiun Kerja pada PT. Sinar Advertama Servicindo ( SAS ) Berdasarkan Hasil Evaluasi Menggunakan Metode Quick Exposure Check ( QEC ). 14 Andini F. 2015. Risk Factors of Low Back Pain in Workers. J.Majority. Universitas Lampung. 4(1):12-19. Carey TS, Garrett J, Jackman A. 1995. The Outcomes and Costs of Care for Acute Low Back Pain Among Patients Seen by Primary Care Practicioers, Chiropractors, and Orthopedic Surgeons. The North Carolina Back Pain Project. N. Engl J Med; 333(13): 913-7 Chaffin, D, B, dan Andersson, G. 1984. Occupational Biomecanichanics. New York : Wieley. Fauci AS, Kasper DL, Longo DL. 2008. Back and Neck Pain. Dalam: Harrison’s Principles of Internal Medicine. 17th Ed. New York: McGraw-Hill. Ghaffari et al, 2007. Low Back Pain among iranian Industrial Workers. oxford University Press. Harrianto R. 2007. Buku Ajar Kesehatan Kerja. Jakarta: EGC. Ilman, Ahmad, Yuniar, Y. Helianty. 2013. Rancangan Perbaikan Sistem Kerja Dengan Metode Quick Exposure Check ( QEC ) di bengkel sepatu X di Cibaduyut. Jurnal Online institut Teknologi Nasional. Vol 01. Kantana T. 2010. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keluhan Low Back Pain Pada Kegiatan Mengemudi Tim Ekspedisi PT. Enseval Putera Megatrading Jakarta Tahun 2010. Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Madyana. 1996. Analisis perancangan kerja dan ergonomi. Universitas Admajaya Yogyakarta Press: Yogyakarta. Maher, Salmond & Pellino, 2002. Low back Syndrome. Philadelpia. FA davis Company. Madyana, A. 1996. Analisis Perancangan Kerja dan Ergonomi. Yogyakarta : Universitas Atma jaya Yogyakarta. Mas’idah, E. 2009. Analisis Manual Material Hendling ( MMH ) dengan menggunakan Metode Biomekanika Untuk Mengidentifikasi Risiko Cidera Tulang Belakang (Musculoskeletal Disorder). Madschen sia Mei Ol Siska Selvija Tambun.2012. Analisis Risiko Ergonomi Dan Keluhan Musculoskeletal Disorder Pada Pekerja Tenun Ulos di kelurahan Martimbang dan kelurahan Kebun Sayur kota Pematang Siantar. Moore, J.S, and Grag ( 1995 ). A Proposed Method to Analys Job For Risk Of Distal Upper Exttemely Disorder. Diakses di : http://ergo.human.cornell.edu/ahJSI.html. Nurmianto, E. 1996. Ergonomi konsep dasar dan aplikasinya. edisi pertama guna widya: Jakarta. Pheasant, Stephen. 1999. Body Spaces: Second Edition, Great Britain: TJ Internasional Ltd. Padstow Cornwall. Pratiwi, Indah. 2012. Evaluasi Postur Kerja di Industri Tahu – Kartasura. Seminar Nasional Ergonomi. Pratiwi M, Setyaningsih y, kurniawan B, Martini. 2009. Beberapa Faktor yang Berpengaruh Terhadap Keluhan Nyeri Punggung Bawah Pada Penjual Jamu Gendong. Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia. 4(1):61-7. Purnamasari H, 2010. Owerweight sebagai faktor risiko low back pain pada pasien poli saraf RSUD Prof. Margono Soekarjo Purwokerto Putri, Nilamsari Gobano.2012. Metode ukur beban kerja Fisik dan Skala Borg. Sadeli HA dan Tjahjono B 2001. Nyeri Punggung Bawah, dalam : Nyeri Neuropatik, Patafisiologi dan penatalaksanaan. Septian, R Dwi. 2017. Analisis Efisiensi Karyawan untuk Meningkatkan Produktivitas Pada difisi Pengemasan Line Box di PT. MAK. Straker LM. 2000. An overview of manual handling injury statistic in Western Australia. International Journal of Industrial Ergonomics. Perth: Curtin University of Technology,24:(4), hal. 357-64. Tarwaka, Bakri dan Solichul. 2004. Ergonomi Untuk Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Produktivitas. Jakarta. UNIBA Press. Umami AR, Hartatnti RI, Dewi A. 2014. Hubungan Antara Karakteristik Responden dan Sikap Kerja Duduk dengan Keluhan Nyeri Punggung Bawah Pada Pekerja Batik Tulis. e-Jurnal Pustaka Kesehatan. 2(1):72-8. Wayne C. Turner. 2000. Pengantar Teknik dan sistem Industi.edisi ke 3 . Guna widya. Surabaya WHO, 2013. About Cardiovascular diseases. World Health Organization. Geneva Wignjosoebroto, Sritomo. 2003. Ergonomi Studi Gerak dan Waktu, Teknik analisis untuk peningkatan erja. edisi pertama Guna Widya. Surabaya Wijaya, Caesar Danu, dkk. 2013. Analisis Pengukuran Risiko Kelelahan Penggunaan Meja Notebook dengan metode Job Strain Index dan Rapid Office Strain Index. Wijayanti, Fitri. 2017. Hubungan Posisi duduk dan Lama Duduk Terhadap Kejadian Low Back Pain pada Penjahit Konveksi di Kelurahan Way Halim Bandar Lampung. 15

Judul: Jurnal Pikku Fix

Oleh: Saricahya Nikmatus


Ikuti kami