Apa Itu Intoksikasi Gramoxone? Bagaimana Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Diagnose Medis Intoksi...

Oleh Melda Yulinda

160,8 KB 9 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Apa Itu Intoksikasi Gramoxone? Bagaimana Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Diagnose Medis Intoksikasi Gramoxone

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gramoxone, diproduksi oleh Syngenta, adalah nama dagang yang paling umum untuk paraquat, namun herbisida juga dijual dengan banyak nama yang berbeda oleh produsen yang berbeda. Produk ini digunakan pada lebih dari 50 tanaman pada lebih dari 120 negara. Paraquat telah dilarang atau dibatasi di 13 negara, terutama untuk alasan kesehatan. Yang terbaru negara yang melarang penggunaan paraquat yaitu Malaysia pada tahun 2002. Ribuan kematian telah terjadi akibat konsumsi (paling sering bunuh diri) atau paparan kulit (terutama saat bekerja) dengan paraquat. Di negaranegara berkembang, di mana kondisi pemakaian paraquat telah meningkat sedikit dalam tiga puluh tahun terakhir, paraquat sering dipakai dalam kondisi yang berbahaya yang mengakibatkan paparan kulit yang tinggi. Kondisi tersebut yaitu suhu dan kelembaban yang tinggi, kurangnya pakaian pelindung, tas penyemprot yang bocor, buta huruf, kurangnya fasilitas untuk mencuci, atau pengobatan medis, dan paparan berulang. B. Rumusan Masalah 1. Apa itu Intoksikasi Gramoxone? 2. Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan diagnose medis Intoksikasi Gramoxone? A. Tujuan Penulisan 1. Agar perawat mampu mengetahui asuhan keperawatan klien dengan Intoksikasi Gramoxone 2. Agar perawat mampu melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan Intoksikasi Gramoxone. 1 BAB II TINJAUAN TEORI A. Defenisi Gramoxone merupakan nama dagang dari paraquat yang paling banyak dipakai. Paraquat yang digunakan lebih dari 120 negara bekerja secara nonselektif menghancurkan jaringan tumbuhan dengan mengganggu/merusak membran sel. Paraquat (metil viologen) merupakan herbisida golongan bipiridil yang berefek toksik sangat tinggi. Paraquat adalah produk sintesis yang pertama kali dibuat pada tahun 1882 oleh Weidel dan Russo. Pada tahun 1933, Michaelis dan Hill menemukan kandungan redoks dan disebut senyawa metil viologen. Kandungan paraquat pertama kali dijelaskan pada tahun 1958 dan mulai menjadi produk komersil pada tahun 1962. Paraquat mempunyai ciri berupa : a. Berupa massa padat, tetapi biasanya dalam bentuk konsentrat 20-24% b. Berat molekul 257,2 D c. pH 6,5 – 7,5 dalam bentuk larutan d. Titik didih pada 760 mmHg sekitar 175oC – 180oC. e. Berwarna kuning keputihan dan berbau seperti ammonia f. Sangat larut di dalam air, kurang larut dalam alkohol, dan tidak larut dalam senyawa hidrokarbon g. Stabil dalam larutan asam atau netral dan tidak stabil dalam senyawa alkali h. Tidak aktif akibat paparan sinar ultraviolet. B. Asal Paparan Jenis herbisida seperti paraquat memberikan efek toksik yang berbeda tergantung bagaimana zat tersebut masuk ke dalam tubuh manusia. Beberapa di antaranya, yaitu: 1. Oral Merupakan jalan masuknya zat yang paling sering yang didasari adanya tujuan bunuh diri. Tertelannya paraquat juga dapat terjadi secara kebetulan atau dari masuknya butiran semprotan ke dalam faring, namun biasanya tidak menimbulkan keracunan secara sistemik. 2 2. Inhalasi Belum ada kasus keracunan sistemik yang dilaporkan dari paraquat akibat inhalasi droplet paraquat yang ada di udara walaupun pada penilitian pada hewan menunjukkan tingginya keracunan melalui inhalasi. Efek toksik melalui inhalasi melalui semprotan biasanya hanya berupa iritasi pada saluran pernapasan atas akibat deposit paraquat pada daerah tersebut. 3. Kulit Kulit normal yang intak merupakan barier yang baik mencegah absorbsi dan keracunan sistemik. Namun, jika terjadi kontak yang lama dan lesi kulit yang luas, keracunan sistemik dapat terjadi dan dapat menyebabkan keracunan yang berat sampai kematian. Kontak yang lama dan trauma dapat memperburuk kerusakan kulit, namun ini terbilang jarang. 4. Mata Konsentrat paraquat yang terpercik dapat menyebabkan iritasi mata yang berat yang jika tidak diobati dapat menyebabkan erosi atau ulkus dari kornea dan epitel konjungtiva. Inflamasi tersebut berkembang lebih dari 24 jam dan ulserasi yang terjadi menjadi faktor resiko infeksi sekunder. Jika diberikan pengobatan yang adekuat, penyembuhan biasanya sempurna walaupun memakan waktu yang lama. 5. Parenteral Keracunan sistemik jarang terjadi pada kasus akibat injeksi subkutan, intraperitonial, dan intravena dari paraquat. C. Patofisiologi Penyebab terbanyak keracunan adalah pada sistem saraf pusat dengan akibat penurunan tingkat kesadaran dan depresi pernapasan. Fungsi kardiovaskuler mungkin juga terganggu,sebagian karena efek toksik langsung pada miokard dan pembuluh darah perifer,dan sebagian lagi karena depresi pusat kardiovaskular diotak. Hipotensi yang terjadi mungkin berat dan bila berlangsung lama dapat menyebabkan kerusakan ginjal, hipotermia terjadi bila ada depresi mekanisme pengaturan suhu tubuh. Gambaran khas syok mungkin tidak tampak karena adanya depresi sistem saraf pusat dan hipotermia, Hipotermia yang terjadi akan memperberat syok,asidemia,dan hipoksia 3 D. Manifestasi Klinik 1. Pencernaan Gejala dan tanda dini dari keracunan melalui melalui pencernaan di antaranya rasa terbakar pada mulut, kerongkongan, dada, perut atas, akibat dari efek korosif paraquat terhadap mukosa. Diare yang kadang-kadang dengan darah juga dapat terjadi. Muntah dan diare dapat berujung hipovolemia. Pankreatitis dapat menyebabkan nyeri abdomen berat. Pada derajat yang lebih tinggi, keracunan gastrointestinal yang lain berupa kerusakan sel-sel hati yang menyebabkan peningkatan bilirubin dan enzim hati seperti AST, ALT, dan LDH. 2. Gejala sistemik dan susunan saraf pusat (SSP) Pusing, sakit kepala, demam, mialgia, letargi, dan koma adalah contoh lain dari gejala sistemik dan susunan saraf pusat (SSP). Pankreatitis dapat menyebabkan nyeri abdomen berat. 3. Ginjal. Proteinuria, hematuri, pyuria, dan azotemia menunjukkan adanya kerusakan ginjal. Oligouria atau anuria mengindikasikan adanya nekrosis tubular akut. Oleh karena ginjal merupakan organ yang mengeliminasi paraquat dari jaringan tubuh, gagal ginjal dapat terjadi akibat terbentuknya konsentrasi tinggi, termasuk paru-paru. Kelainan patologik ini dapat terjadi dalam beberapa jam pertama setela masuknya paraquat yang melalui pencernaan. Asidosis metabolik dan hiperkalemia dapat terjadi akibat gagal ginjal. 4. Paru-paru Batuk, sesak napas, dan takipnea biasanya muncul 2-4 hari setelah tertelannya paraquat, tetapi dapat muncul setelah 14 hari. Sianosis secara progresif dan sesak napas menunjukkan adanya gangguan pertukaran oksigen pada paru yang rusak. Pada beberapa kasus, batuk berdahak adalah awal dan manifestasi terpenting dari kerusakan paru akibat paraquat. 4 E. Pemeriksaan Diagnostik 1. Hitung darah 2. Pemeriksaan faal hati untuk meentukan kerusakan hati 3. Tes fungsi ginjal dan pemeriksaan elektrolit untuk mengungkap kerusakan pada ginjal 4. Pemeriksaan ekg 5. Rontgent thorax menunjukkan kerusakan pada paru 6. Pemeriksaan urin F. Penatalaksanaan 1. Prioritas yang dipikirkan adalah mencegah absorpsi paraquat lebih lanjut dengan menyingkirkan semua bahan yang terkontaminasi dari tubuh 2. Pemberian oksigen merupakan kontraindikasi dari keracunan paraquat karena dapat memperbesar pembentukan radikal bebas (superoksida) yang merupakan patogenesis penyebab kerusakan pada paru-paru 3. Bilas lambung harus dipikirkan dalam satu jam pertama setelah masuknya racun yang melalui saluran pencernaan 4. Apabila terjadi asidosis sebaiknya dikoreksi dengan natrium bikarbonat intravena 5. Gagal ginjal akut dapat diterapi dengan hemodialisis 6. Efek paparan pada mata dapat dilakukan irigasi dengan air yang mengalir sekitar 15 menit 5 BAB III ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN INTOKSIKASI GRAMOXONE A. DATA KLINIS Nama : Ny. M USIA : 26 Tahun Jenis kelamin : Perempuan Agama : Islam Alamat : Sungai Padi Padang Aro Solok Selatan No MR : 01022954 Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Tanggal Lahir : 1 Januari 1992 Tanggal masuk : 26 Juli 2018 waktu kedatangan : 20.15 WIB Tanggal Pengkajian : 27 Juli 2018 Diangnosa Medis: Intoksikasi Gramoxone B. KELUHAN UTAMA ( ALASAN DIRAWAT DI RUMAH SAKIT ) Klien mengeluh nyeri di ulu hati sejak 3 hari yang lalu. Klien mengeluh nyeri di kerongkongan ketelah meminum racun rumput sebanyak seperempat sampai setengah gelas. Klien juga mengeluh sesak, mual dan muntah. C. RIWAYAT KESEHATAN 1. Riwayat Kesehatan Sekarang Klien meminum racun rumput 4 jam sebelum masuk rumah sakit. Klien mengeluhkan dada terasa panas, napas sesak, perut nyeri dan mual setelah meminum racun rumput. Klien mempuanyai masalah dengan istri dan keluarganya. Klien mempunyai kebiasaan berjudi online sehingga menyebabkan terjadinya masalah keuangan. 2. Riwayat Kesehatan Dahulu Klien tidak memiliki riwayat gangguan kesehatan fisik maupun kejiwaan. 3. Riwayat Kesehatan Keluarga 6 Klien mengatakan tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit seperti yang di derita oleh klien. D. POLA NUTRISI Klien megatakan sebelum sakit nafsu makan klien baik dengan frekuensi makan klien 3 kali sehari ( nasi , lauk , sayur ) dan klien mengatakan tidak ada pantangan dalam makanan. E. POLA ELIMINASI Sebelum sakit klien mengatakan BAB rutin 1 kali sehari dan pernah mengalami BAB yang berwarna hitam. Klien mengatakan BAK lancar dengan frekuensi sering. Warna kuning jernih dan tidak ada keluhan. F. POLA ISTIRAHAT TIDUR Sebelum sakit klien mengatakan tidur malam nyenyak. Dan klien biasanya tidur malam jam 22.00 WIB dan bagun tidur pada pagi jam 05.00 WIB. Dan klien tidak terbiasa tidur siang. G. PEMERIKSAAN FISIK Pemeriksaan Tanda vital Gambaran TD : 140/100 mmHg HR : 82 x/i P : 24 x/i S : 36 °C Kesadaran CMC Kepala Struktur kepala simetris, rambut hitam, kulit kepala bersih dan tidak berbau. Mata Mata klien simetris kira dan kanan, sklera tidak ikterik, pupil isokor kiri dan kanan. Reflek pupil sama besar dan bereaksi kecil terhadap cahaya. Telinga Telinga klien simetris kiri dan kanan. Tidak tampak serum adanya serum pada liang teliga. Lesi tidak ada. Dan tidak ada keluhan pada telinga. Hidung Bentuk hidung klien sedang, struktur bagian dalam berwarna merah muda. Klien tidak ada keluhan 7 epistaksis, sinusitis, maupun polip. Fungsi penciuman klien baik. Tenggorokan/ leher Pada leher tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan tidak ada pembesaran kelenjar getah bening. Klien mengeluh sakit pada kerongkongannya dan sakit saat menelan Mulut dan gigi Warna bibir tampak pucat, mukosa mulut berwarna merah muda, bersih dan tidak terdapat lesi. Mulut tidak berbau. Gigi tidak lengkap dan ada karies gigi. Keadaan lidah dan gusi baik. Tidak ada keluhan sariawan maupun peradangan pada gusi. Dada dan thorak Inspeksi : dada simetris kiran dan kanan. Palpasi : fremitus kiri dan kanan Perkusi : perkusi paru terdegar sonor Auskultasi : bunyi nafas broncovesikuler Jantung Inspeksi :iktus cordis tidak terlihat Palpasi : iktus cordis teraba 2 jari LMCS RIC VI Perkusi : Ka L LSD, atas: RIC II, Ki 2 jari lat LMCS Auskultasi : bunyi jantung I dan II normal Abdomen Inspeksi : abdomen tampak membuncit Palpasi : Nyeri tekan (+) Perkusi : Tympani Auskultasi : bising usus (+) normal Genitalia Tidak dilakukan pemeriksaan Ektremitas Akral dingin CRT < 2 detik Tidak ada kecacatan dan trauma maupun deformitas. Kekuatan otot klien baik 555 555 555 555 8 H. PEMERIKSAAN PENUNJANG TANGGAL JENIS HASIL NILAI RUJUKAN PEMERIKSAAN PEMRIKSAAN 26 Juli 2018 Hemoglobin 12,9 g/dl 12 - 16 Leukosit 17.140 /mm3 5.000 - 10.0000 Hematokrit 36 % 37 - 43 Trombosit 449.000 /mm3 150.000-400.000 Ureum darah 112 mg/dl 10,0-50,0 Kreatinin darah 4,0 mg/dl 0,6-1,2 Kalsium 9,7 mg/dl 8,1-10,4 Natrium 135 Mmol/L 136-145 Kalium 3,5 Mmol/L 3,5 - 5,1 Klorida Serum 101 Mmo;/L 97-111 AGD I. pH 7,476 pCO2 21,6 mmHg pO2 118,3 mmHg TERAPI No Terapi Dosis 1 IVFD NaCl 0,9 % 8 jam/kolf 2 Ceftriaxone 2 x 1 gr (IV) 3 Vit K 3 x 1 amp (IV) 4 N Acetyl 3 x 1 amp (IV) 5 Methylprednisolone 1 x 500 mg (IV) 6 Puasa 8 jam 9 J. NO ANALISA DATA DATA ETIOLOGI DIANGNOSA KEPERAWATAN 1 DS : - Agen Nyeri Akut Klien mengeluh kerongkongan sakit, cedera: perut sakit dan mual setelah minum Kimiawi racun rumput, sakit dirasakan cukup sering. DO: - Klien tampak memegang meringis perut terutama sambil saat bergerak 2 - Skala nyeri 4-5 - TD : 140/100 mmHg - HR : 82 x/i - RR : 24 x/i - S : 36° C DS: - Klien mengatakan badan lemah - Keluarga mengatakan isi pampers klien Polynefritis Perfusi jaringan renal tidak efektif sedikit DO: - TD : 140/100 mmHg - HR : 82 x/i - RR : 24 x/i - S : 36° C Ureum : 112 mg/dl Kreatinin : 4,0 mg/dl 10 3 DS: - Kehilangan Klien mengatakan kerongkongan sakit cairan aktif Resiko kekurangan volume cairan dan dan terasa kering - Keluarga mengatakan isi pampers sedikit DO: - Klien tampak lemah - Muntah (+) - Membrane mukosa kering - Turgor kulit ↓ 11 K. INTERVENSI KEPERAWATAN N0 DIANGNOSA PERENCANAAN KEPERAWATAN 1 NOC NIC Nyeri Akut b.d agen cedera - Keefektifan pompa jantung Manajemen Nyeri (kimia) - Status sirkulasi 1. Lakukan penilaian nyeri secara komprehensif - Vital signs 2. Kaji ketidaknyamanan non verbal 3. Kontrol factor lingkungan yang dapat menimbulkan Kriteria hasil: - TTV dalam rentang normal - Dapat mentoleransi aktivitas, tidak ada kelelahan - Tidak ada edema paru, perifer, dan tidak ada asites ketidaknyamanan 4. Ajarkan teknik non farmakologi untuk mengurangi nyeri 5. Monitor respon pasien terhadap manajemen nyeri yang diberikan 6. Monitor TTV - Tidak ada penurunan kesadaran Pemberian Analgesik 1. Periksa order analgetik meliputi nama obat, dosis, rute dan frekuensi yang diberikan 2. Cek riwayat alergi obat 3. Monitor vital sign setelah pemberian obat 12 4. Monitor dan dokumentasikan respon pasien terhadap obat. 2 Perfusi jaringan renal tidak - Status sirkulasi efektif b.d peradangan pada ginjal - Monitoring Cairan Keseimbangan elektrolit dan asam 1. Observasi status hidrasi basa 2. Monitor kadar ureum dan kreatinin darah Keseimbangan cairan 3. Monitor adanya kelebihan cairan 4. Monitor intake output Kriteria Hasil: 5. Monitor vital sign - TD dalam batas normal 6. Hemodialisa - Elektrolit, ureum, kreatinin dlam batas normal 3 Intake output seimbang Resiko kekurangan volume cairan - Fluid balance b.d kehilangan cairan aktif - Hydration - Nutritional Status: Food and Fluid Intake Hypovolemia Management 1. Monitor status cairan termasuk intake dan ourput cairan 2. Pelihara IV line Kriteria Hasil : 3. Monitor tingkat Hb dan hematokrit - Mempertahankan urine output sesuai 4. Monitor tanda vital dengan usia dan BB, BJ urine 5. Monitor respon pasien terhadap penambahan 13 normal, HT normal - cairan Tekanan darah, nadi, suhu tubuh 6. Monitor berat badan dalam batas normal 7. Dorong pasien untuk menambah intake oral Tidak ada tanda-tanda dehidrasi, 8. Pemberian cairan IV monitor adanya tanda dan Elastisitas turgor kulit baik, membran mukosa lembab, tidak ada gejala kelebihan volume cairan 9. Monitor adanya tanda gagal ginjal rasa haus yang berlebihan L. CATATAN PERKEMBANGAN 14 Hari / tanggal : 27 Juli 2018 Nama : Ny M Ruangan : HCU INTERNE MR : 01022954 NO DIANGNOSA IMPLEMENTASI KEPERAWATAN 1 EVALUASI Nyeri Akut b.d agen cedera 1. Melakukan penilaian nyeri secara komprehensif S: (kimiawi)  2. Mengkaji ketidaknyamanan non verbal 3. Menganjurkan posisi tidur yang nyaman oleh pasien Klien mengatakan O: nyeri (membayangkan hal-hal yang menyenangkan  TD : 130/90 mmHg HR : 80 x/ i  RR : 24 x/i 5. Memonitor respon pasien terhadap manajemen  S : 36,8° C nyeri yang diberikan  6. Memonitor TTV 7. Memberikan anakgetik sesuai order di kerongkongan dan ulu hati masih terasa 4. Mengajarkan teknik distraksi untuk mengurangi  bersama anak) nyeri Klien tampak meringis terutama saat menelan  Skala nyeri 3-4 A: Masalah keperawatan nyeri akut belum 15 teratasi P: Intervensi dilanjutkan 2 Perfusi jaringan renal tidak 1. mengobservasi status hidrasi S; efektif b.d peradangan pada 2. Memonitor kadar ureum dan kreatinin darah  Klien mengatakan badan masih lemah ginjal 3. Memonitor adanya kelebihan cairan  Keluarga 4. Memonitor intake output 5. Memonitor vital sign mengatakan isi pampers masih sedikit O:  TD : 130/90 mmHg  HR : 80 x/ i  RR : 24 x/i  S : 36,8° C A: Masalah keperawatan perfusi jaringan renal belum teratasi P: Intervensi dilanjutkan Inj metyl prednisolone 1 x 500 mg 3 Resiko kekurangan volume 1. Memonitor status cairan termasuk intake dan ourput S: 16 cairan b.d kehilangan cairan aktif cairan - 2. Memeelihara IV line 3. Memonitor tanda vital mengatakan masih sakit di kerongkongan dan susah untuk menelan - 4. Memonitor respon pasien terhadap penambahan cairan Klien Klien mengatakan masih muntah Klien mengatakan mulut terasa kering O: 5. Mendorong pasien untuk menambah intake oral  TD : 130/90 mmHg 6. Memonitor adanya tanda gagal ginjal  HR : 80 x/ i  RR : 24 x/i  S : 36,8° C  Muntah (+)  Bibir kering A: Masalah keperawatan resiko kekurangan volume cairan belum teratasi P: Intervensi dilanjutkan Hari / tanggal : 28 Juli 2018 Nama : Ny M 17 Ruangan : HCU INTERNE MR : 01022954 NO DIANGNOSA IMPLEMENTASI KEPERAWATAN 1 EVALUASI Nyeri Akut b.d agen cedera 1. Melakukan penilaian nyeri secara komprehensif S: (kimiawi)  2. Mengkaji ketidaknyamanan non verbal 3. Menganjurkan posisi tidur yang nyaman oleh Klien mengatakan nyeri di kerongkongan dan ulu hati sudah mulai pasien berkurang 4. Mengajarkan teknik distraksi untuk mengurangi O: nyeri (membayangkan hal-hal yang menyenangkan  bersama anak)  TD : 130/80 mmHg HR : 80 x/ i 5. Memonitor respon pasien terhadap manajemen  RR : 24 x/i  S : 36,8° C  Klien hanya sesekali tampak meringis nyeri yang diberikan 6. Memonitor TTV 7. Memberikan anakgetik sesuai order terutama saat menelan  Skala nyeri 3 A: Masalah keperawatan nyeri akut teratasi sebagian 18 P: Intervensi dilanjutkan 2 Perfusi jaringan renal tidak 1. mengobservasi status hidrasi S; efektif b.d peradangan pada 2. Memonitor kadar ureum dan kreatinin darah  Klien mengatakan badan masih lemah ginjal 3. Memonitor adanya kelebihan cairan  Keluarga 4. Memonitor intake output 5. Memonitor vital sign mengatakan isi pampers masih sedikit O:  TD : 130/80 mmHg  HR : 80 x/ i  RR : 24 x/i  S : 36,8° C A: Masalah keperawatan perfusi jaringan renal belum teratasi P: Intervensi dilanjutkan Inj metyl prednisolone 1 x 500 mg Klien rencana HD 3 Resiko kekurangan volume 1. Memonitor status cairan termasuk intake dan S: cairan b.d kehilangan cairan - Klien mengatakan sakit di 19 aktif ourput cairan 2. Memeelihara IV line kerongkongan sudah berkurang - Klien mengatakan muntah sudah tidak 3. Memonitor tanda vital ada 4. Memonitor respon pasien terhadap penambahan - Klien mengatakan mulut terasa kering cairan O: 5. Mendorong pasien untuk menambah intake oral  TD : 130/80 mmHg 6. Memonitor adanya tanda gagal ginjal  HR : 80 x/ i  RR : 24 x/i  S : 36,8° C  Muntah (-)  Bibir kering A: Masalah keperawatan resiko kekurangan volume cairan teratasi sebagian P: Intervensi dilanjutkan 20 BAB IV PENUTUP A. KESIMPULAN Seorang pasien (Ny.M) usia 26 tahun dirawat di HCU Penyakit Dalam dengan diagnose medis Intoksikasi Gramoxone. Pengkajian dilakukan tanggal 27 Juli 2018. Berdasarkan pengkajian yang dilakukan kepada Ny. M didapatkan diagnosa keperawatan yang meliputi: 1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera kimiawi 2. Perfusi jaringan renal tidak efektif berhubungan dengan peradangan pada ginjal 3. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif B. SARAN Dengan dibuatnya makalah ini, diharapkan nantinya akan memberikan manfaat bagi para pembaca terutama pemahaman yang berhubungan dengan bagaimana melakukan sebuah proses asuhan keperawatan terutama pada pasien yang mengalami intoksikasi gramoxone. Namun penulis juga menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu saran maupun kritik yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan penulisan makalah ini, dengan demikian penulisan makalah ini bisa bermanfaat bagi penulis atau pihak lain yang membutuhkannya. 21 KEPUSTAKAAN Brunner & Suddarth. 2005. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC Heardman, T. H. (2009). Nursing Diagnoses : Definition and Clasification 2009 – 2011. Willey – Blackwell. USA : United Kingdom. Johnson, M. (1999). Nursing Outcomes Clasification (NOC) Second Edition. USA : Mosby. Inc. McCloskey, J,C.(1995). Nursing intervention clasification (NIC) (Second Edition). USA : Mosby Potter, P.A & Perry, A.G . 2010. Fundamental Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika Price & Wilson. 2006. Patophysiology : Clinical Consepts Of Disease Procces. Michigan University : Mosby Sullivan JB, Krieger GR. 2001. Clinical Enviromental Health and Toxic Exposure. 2 nd Ed. Lippincott Williams & Wilkins: USA. p.1100 22

Judul: Apa Itu Intoksikasi Gramoxone? Bagaimana Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Diagnose Medis Intoksikasi Gramoxone

Oleh: Melda Yulinda


Ikuti kami