Inspirasi Qur'ani Bagi Pengembangan Sdm Ekonomi Dan Implikasinya Dalam Pendidikan Islam

Oleh Mahali Tabrani

91,3 KB 10 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Inspirasi Qur'ani Bagi Pengembangan Sdm Ekonomi Dan Implikasinya Dalam Pendidikan Islam

INSPIRASI QUR’ANI BAGI PENGEMBANGAN SDM EKONOMI DAN IMPLIKASINYA DALAM PENDIDIKAN ISLAM ُ ‫ن‬ ْ ‫ة‬ ْ ‫ق‬ َ ‫ال‬ ُ ‫م ْو‬ ْ ‫م‬ ْ ‫ذ‬ ْ ‫ح‬ َ ‫ج ْو‬ َ ‫م بِ ُن ْو ِر اِإل ْي‬ َ ‫ظ ْل‬ َ ‫ال‬ َ َ‫خل‬ َ ‫ي‬ ِ َ ‫اَ ْل‬ ،‫جا ِد‬ ‫م ُد‬ ِ ‫م‬ ِ ِ‫دات‬ ِ َّ‫هلل ال‬ ِ ‫ع َد‬ ْ ‫م‬ ْ ‫وي‬ َّ َ ‫م ْي‬ َ ً ‫دلِيْال‬ َ ‫ج‬ ْ ‫علَى َو‬ َ ‫ها‬ َ َ‫عل‬ َ َ‫الب‬ َ ‫َو‬ ‫الصال َ ُة‬ ‫ َو‬.‫عا ِد‬ ِ ‫ال‬ ِ ِ‫ح َدانِيَّت‬ ِ ‫ر ِإلَى يَ ْو‬ ِ ‫صاِئ‬ ِ ‫ه لَ َذ‬ ْ ‫ي‬ ْ ‫م‬ َّ ‫د‬ َّ ‫ح‬ َّ َ ‫ َو‬،‫خ َتا ِر‬ ُ ‫ال‬ ُ ‫حبِ ْيبِ َنا‬ َ ‫م‬ ُ َ ‫السال‬ َ ‫م‬ َ ‫دنَا َو‬ َ ،‫وا ِر‬ َ ‫علَى ُن ْو ِر اَأل ْن‬ ‫علَى‬ ‫َو‬ ِ ‫م‬ ِ ّ ‫س ِي‬ ِ ّ ِ‫النب‬ ُ ‫و‬ ْ ‫ْن اَأل‬ ْ ‫ه‬ ْ َ ‫حا ن‬ ْ ‫م‬ ْ ‫ه اَأل‬ َ ‫ط‬ َ ‫م‬ َ ‫ح‬ َ َ‫ن ن‬ َ ‫َو‬ َ ‫ص‬ َ ‫ َو‬،‫ها ِر‬ َ ‫ه الطَّ ِي ّ ِبي‬ ‫ن‬ ،‫خيَا ِر‬ ِ ‫م‬ ِ ِ‫حابَت‬ ِ ِ‫َأل‬ ْ ‫ْن َو‬ ْ ُ ‫ال‬ ُ ‫ال‬ ْ ‫م‬ َ ‫مي‬ .‫ْن اَأل ْب َرا ِر‬ @َ ‫منِي‬ ِ ‫مْؤ‬ ِ ِ‫سل‬ Salam penghormatan kepada dewan juri yang arif… Salam penghargaan kepada dewan guru yang alim… Salam hangat kepada para peserta MSQ yang membanggakan… Alhamdulillah, segala puji bagi Allah ‘Azza wa Jalla, Tuhan yang memberi berbagai kenikmatan dalam seluruh relung kehidupan kita sejak dulu, kini, hingga nanti. Allahumma Shalli ‘ala Muhammadin Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, semoga Shalawat dan Salam terus mengalir kepada suri tauladan kita, Nabi Muhammad SAW; keluarga, para Shahabat dan siapapun yang menapak-tilasi suri tauladan mereka sekalian. Amma Ba’du. Laporan tahunan terbaru dari Program Pengembangan Perserikatan BangsaBangsa (United Nation Development Programme/UNDP) menunjukkan bahwa Indeks Pengembangan Sumber Daya Manusia (Human Development Index/HDI) pada level rendah ditempati oleh negara-negara yang dihuni oleh mayoriyas umat muslim. HDI dihitung berdasarkan beberapa faktor, termasuk literasi, pendidikan, partisipasi politik dan ekonomi, pemberdayaan kaum wanita dan standar hidup. Atas dasar itu, salah satu faktor krusial yang harus segera dibenahi oleh bangsa ini adalah sektor ekonomi. Sebuah fakta yang ironis, bahwa bonus SDA yang melimpah di Indonesia berbanding terbalik dengan kondisi ekonomi rakyat yang meresahkan. Hemat kami, faktor paling asasi yang meruntuhkan ekonomi Indonesia adalah korupsi yang melekat-kental pada penyelenggara negara –yakni eksekutif, legislatif dan yudikatif–; serta hilangnya etika bisnis pada ekonomi warga negara. Contoh kasus terbaru adalah pemalsuan air zam-zam. Sebagai bagian dari evaluasi kolektif, mari kita simak Surat al-Baqarah: 188 berikut َّ ‫ح‬ ُ ْ ‫ها لَى‬ ْ ِ‫م ب‬ ُ ‫م بَ ْي َن‬ ُ َ‫وال‬ َ ‫م لِ َتْأ ُك ُلوا‬ ً ‫ر‬ ُ ‫ال‬ ْ ‫ك‬ ْ ‫ك‬ َ ‫َواَل تَْأ ُك ُلوا َأ ْم‬ ‫يقا‬ ِ ‫البَا‬ ِ ‫كا‬ ِ ‫ف‬ ‫ل َو ُت ْدلوا بِ َ ِإ‬ ِ ‫ط‬ َّ ‫ل‬ َ ‫م‬ ُ َ‫م تَ ْعل‬ ْ ‫م َوَأ ْن ُت‬ ْ ‫م‬ َ ‫ن َأ ْم‬ )‫) (البقرة‬188( ‫ون‬ ‫الن‬ ِ ‫وا‬ ِ ِ ‫اس بِاِإْل ْث‬ ِ Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian 1 daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. Ayat di atas menyinggung larangan bersikap manipulatif maupun menyalahgunakan kekuasaan dalam kegiatan perekonomian. Secara tegas, al-Qur’an menginspirasi sekaligus memotivasi umat muslim agar memiliki etos kerja yang jernih, cerdas dan keras. Kualifikasi ’jernih’ membuat seorang muslim terikat nilai halal-haram dalam bekerja; kualifikasi ’cerdas’ mengandaikan kapasitas intelektual yang membuat kerja menjadi efektif dan efisien; sedangkan kualifikasi ’keras’ mengacu pada sikap mental yang tahan banting (tabah-sabar). Etos kerja yang ’jernih’ berarti bekerja dengan cara-cara jujur, yakni tidak menyalah-gunakan kekuasaan demi mengeruk keuntungan ekonomi; tidak melakukan manipulasi dan perilaku aniaya lainnya yang mencederai etika bekerja; serta selalu mengedepankan hasil kerja yang berlabel ’halal lagi baik’ (halȃlan thayyiban). Etos kerja yang ’jernih’ ini sudah ditegaskan oleh Surat al-Baqarah: 188 yang dilantunkan di depan; serta disinggung dalam Surat al-Nisȃ ’: 29-30 dan alNahl: 144. Etos kerja yang ’cerdas’ secara gamblang diteladankan oleh Nabi Yȗ suf AS yang menerapkan ilmu manajemen tingkat tinggi sehingga mampu menyelamatkan bangsa Mesir bahkan bangsa-bangsa sekitar dari ancaman kelaparan berkepanjangan. ْ ‫ك‬ ْ ‫ل‬ َ ‫ه‬ َ ‫سي‬ َ ‫َو‬ ْ ‫س َت‬ ُ ‫م‬ َّ َ‫فل‬ َ ‫ما‬ ُ ِ‫مل‬ ْ ِ‫خل‬ ْ ‫ه َأ‬ َ ‫اليَ ْو‬ َ َّ‫ل ِإن‬ َ ‫قا‬ َ َّ‫كل‬ َ ‫ال‬ َ ‫قا‬ ‫م‬ @ُ ‫ص‬ ِ ‫ه لِ َن ْف‬ ِ ِ‫ك اْئ ُتونِي ب‬ ٌ‫ح ِفيظ‬ َ )54( ‫ين‬ ٌ ‫م‬ ٌ ِ‫مك‬ َ ‫ع ْلنِي‬ َ ‫اج‬ ْ ‫ل‬ َ ‫ن اَأْل ْرضِ ِإنِ ّي‬ َ ‫علَى‬ َ ‫قا‬ َ ‫لَ َد ْي َنا‬ ِ ‫ين َأ‬ ِ ‫خ َزاِئ‬ ٌ ‫علِي‬ َ )‫) (يوسف‬55( ‫م‬ Dan raja berkata: "Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku". Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: "Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami". Berkata Yusuf: "Jadikanlah aku bendaharawan negara; sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan." Contoh lain dari etos kerja yang ’cerdas’ adalah kisah pemindahan ’tahta’ Ratu Bilqis yang dilakukan oleh orang yang berilmu pada masa Nabi Sulaymȃ n AS dengan sangat cepat –semacam teknik transportasi– yang dijelaskan dalam Surat al-Naml: 38-40. Di samping itu, pemilihan waktu bekerja dan istirahat yang tepat juga termasuk bagian dari etos kerja ’cerdas’. Inilah yang diisyaratkan dalam Surat al-Nabȃ ’: 9-11. Etos kerja yang ’keras’ direpresentasikan oleh kisah Nabi Mȗ sȃ AS yang bertahun-tahun menjadi pegawai Nabi Syuʻaib AS yang diinformasikan dalam Surat al-Qashash: 26-27: Al-Qur’an juga menyiratkan pemahaman bahwa setiap 2 kemudahaan itu akan diperoleh jika disandingkan dengan kesulitan. Artinya kesuksesan selalu meminta harga berupa perjuangan yang menguras tenaga. Mari kita simak Surat al-Insyirah: 5-8 berikut ini: َّ )5( ‫س ًرا‬ َّ ‫ف‬ ْ ‫ف َر‬ ْ ‫ع‬ ْ ‫ع‬ َ ‫ت‬ َ ‫ذا‬ َ )6( ‫س ًرا‬ ُ ‫ال‬ ُ ‫ال‬ َ ‫فِإ‬ َ ‫م‬ َ ‫م‬ ْ ‫ص‬ ْ ‫ر ُي‬ ْ ‫ع‬ ْ ‫ر ُي‬ ْ ‫ع‬ َ ‫فا ْن‬ َ ‫غ‬ َ ‫ن‬ َ ‫ن‬ (‫ب‬ ِ ‫س‬ ِ ‫س‬ ‫ِإ‬ ‫َ ِإ‬ َ ‫ك‬ َ ‫ار‬ ْ ‫غ‬ ْ ‫ف‬ َ ِّ‫) َوِإلَى َرب‬7 )‫) (اإلنشراح‬8( ‫ب‬ Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmu lah hendaknya kamu berharap. Namun demikian, sekeras apapun dalam bekerja, al-Qur’an selalu mewantiwanti agar umat Islam tidak terjerumus dalam mengurusi dunia semata –layaknya Qarun yang dikecam al-Qur’an–, melainkan harus tetap menyisihkan sebagian waktunya untuk mempersiapkan bekal kehidupan akhirat. Itulah yang ditandaskan oleh Surat al-Qashash: 77. Adapun implikasi dari bahasan di atas dalam dunia pendidikan Islam adalah pengembangan SDM di bidang ekonomi dapat dilakukan dengan beberapa metode pendidikan, antara lain: Pertama, metode nasihat yang memotivasi dan menginspirasi peserta didik untuk menjadi pribadi-pribadi yang proaktif dalam berkerja dan berkarya dalam rangka mengembangkan kualitas perekonomian di masa depan. Kedua, metode observasional dapat dilakukan dengan mengadakan kegiatan semacam kuliah tamu, seminar, diklat, hingga studi visit yang dimaksudkan untuk memberi gambaran utuh tentang teori dan praktik perekonomian. Ketiga, memberikan ruang kebebasan yang terikat nilai-nilai Islami sekaligus kesempatan bagi peserta didik agar berlatih menerapkan ilmu pengetahuannya pada tataran realitas, meskipun pada skala kecil, semisal magang di tempat-tempat usaha. 3

Judul: Inspirasi Qur'ani Bagi Pengembangan Sdm Ekonomi Dan Implikasinya Dalam Pendidikan Islam

Oleh: Mahali Tabrani


Ikuti kami