Fenomena Perkembangan Ict, Strukturasi, Spasialisasi Dan Media Cetak (tinjauan Ekonomi Politik)

Oleh Hasyim Imran

279,6 KB 7 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Fenomena Perkembangan Ict, Strukturasi, Spasialisasi Dan Media Cetak (tinjauan Ekonomi Politik)

FENOMENA PERKEMBANGAN ICT, STRUKTURASI, SPASIALISASI DAN MEDIA CETAK (Tinjauan Ekonomi Politik) Hasyim Ali Imran (Peneliti madya bidang studi komunikasi dan media pada BPPI Wilayah II Jakarta, Badan Litbang SDM Depkominfo) ABSTRAK Berlatarbelakangkan fenomena perkembangan ICTdalam kaitannya dengan organisasi media cetak, tinjauan bertujuan menemukan gambaran tentang fenomena strukturasi dan spasialisasi dalam struktur KKG. Berdasarkan hasil analisis data sekunder disimpulkan bahwa terkait fenomena strukturasi, Jakob Oetama menjadi the prime social agent dalam struktur KKG. Dalam mengelola bisnis KKG, sebagai the prime social agent menerapkan prinsip manajemen kolektif. Dalam konteks teori ekonomi politik, terkait dengan struktur KKG, maka Jacob Oetama menjadi the prime social agent yang tetap dipertahankan dalam struktur KKG dengan gaya kepemimpinannya yang manajemen kolektif sehubungan ketidaksiapan para agen lainnya menerima suksesi. Berkaitan fenomena spasialisasi maka perkembangan ICT memiliki aspek positip dan negatip bagi media. Sisi positip mendukung upaya spasialisasi yang dilakukan media dan sisi negatip menghambat upaya spasialisasi. Bermigrasinya struktur organisasi media Kompas dari konvensional ke digital dalam wujud KCM-nya menjadi indikasi kalau fenomena spasialisasi telah terjadi dalam struktur KKG. Fenomena spasialisasi ini di sisi lain bisa pula menjadi indikasi bahwa the prime social agent dalam struktur KKG dalam sedikit hal yang relatif bersifat force major ternyata bisa juga terpengaruh oleh struktur eksternal (perkembangan ICT). Kebijakan spasialisasi melalui konvergensi media sekalipun masih rugi namun tetap dipertahankan para the prime social agent di dunia termasuk di struktur KKG karena dinilai dapat menguatkan posisi marketing mereka dan di masa mendatang diyakini semakin membaik. Namun optimisme tersebut bisa terganggu juga dengan munculnya fenomena spasialisasi yang muncul dari anggota masyarakat sejalan dengan perkembangan teknologi gadget seperti melalui pemunculan berbagai sistem operasi yang ada kini (I OS, Android OS atau Microsoft OS). Kata Kunci : ICT, Spasial; Strukturasi, Media Cetak, Ekonomi Politik PENDAHULUAN Latar Belakang dan Permasalahan Dalam konteks human communication, tradisi berkomunikasi melalui organisasi media muncul sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Embrio tradisi ini berawal ketika dalam era agricultural society, dengan perkembangan iptek saat itu, telah memungkinkan bagi terjadinya revolusi industri. Revolusi industri yang akhirnya mengubah masyarakat Eropa dari masyarakat pertanian (agricultural society) menjadi masyarakat industri (industrial society). Sebagai masyarakat industri, dengan mendayagunakan fungsi mesin cetak temuan Gutenberg dalam masa-masa revolusi industri untuk berkomunikasi dengan massa melalui media cetak1, organisasi media akhirnya menjadi eksis. 1 Dalam era industrial society, mesin cetak digunakan untuk mencetak media massa berupa buku (1455); suratkabar (1640); majalah (1731). Dalam era ini media juga berkembang pada media yang menggunakan gelombang elektromagnetik dan pita seluloid. Radio dan recorded, music (1877; Film & video (18881903); television & cabel (1948). Dalam era ini (1951) juga ditemukan media computer dan internet. 1 Iptek di bidang information and communication technology (ICT) yang terus mengalami perkembangan dalam era masyarakat industri akhirnya memunculkan fenomena revolusi informasi. Revolusi ini sendiri dimungkinkan karena kemajuan ICT tadi memfasilitasi bagi terjadinya konvergensi media yang memungkinkan terjadinya penyediaan, pengolahan, pendistribusian dan pengambilan informasi secara revolusioner oleh semua pihak. Kondisi ini akhirnya mengubah masyarakat industri menjadi masyarakat informasi (information society).2 Sebagai bagian dari masyarakat industri yang ber-core bisnis di bidang informasi, dengan mendayagunakan fungsi ICT dalam memfasilitasi terwujudnya media konvergen guna kepentingan distribusi informasi kepada khalayak dalam era masyarakat informasi, maka eksistensi organisasi media akhirnya mengalami perubahan signifikan. Perubahan tersebut, misalnya dalam bentuk out put kerja organisasi, budaya kerja organisasi3, atau dalam bentuk kebijakan organisasi media dalam berkarya4. Dalam realitas, fenomena media konvergence ternyata tidak secara otomatis memetamorfosis-kan semua organisasi media yang ada. Ini karena berkaitan dengan kemampuan mengadopsi setiap organisasi media terhadap media convergence. Kemampuan ini berhubungan dengan kemampuan ekonomi suatu media. Karena, seperti dikatakan Mc Manus (Mc Manus, 1994), sisi negatip teknologi baru itu biasanya memang memerlukan penambahan biaya yang besar, untuk pengembaliannya memerlukan waktu beberapa bulan atau beberapa tahun. Karena itu, hanya media-media besar sajalah akhirnya yang mampu melakukan perubahan terhadap organisasi medianya terkait dengan adopsi perkembangan ICT tadi. Sementara bagi media-media ekonomi lemah, relatif sulit untuk melakukannya. Sisi negatif dari apa yang dikatakan Mc Manus tadi, secara teoritis pada hakikatnya itu sebenarnya dapat dikatakan hanya merupakan salah satu titik lemah saja bagi kebanyakan organisasi media dari yang sebenarnya banyak faktor yang harus dipenuhi secara ideal dalam upayanya menjadikan media itu sebagai organisasi bisnis yang berorientasi profit. Fenomena media yang berbasis frofit oriented sendiri secara teoritis dikenal telah dikonseptualisir sebelumnya sebagai ekonomi politik oleh Vincent Mosco (1996). Dengan asumsi bahwa media massa berperan sebagai penghubung antara dunia produksi dan dunia konsumsi, maka media dengan kekuataan penyebarannya yang begitu luas, media massa kemudian dianggap bukan hanya mampu menentukan dinamika sosial, politik dan budaya (baik lokal maupun global), namun juga bisa berperan sangat signifikan dalam peningkatan surplus secara ekonomi. Lebih jauh, teori ekonomi politik sendiri disebutkan sebagai suatu teori yang berorientasi pada studi yang fokus pada fenomena tentang hubungan sosial, terutama kekuatan dari hubungan tersebut yang secara timbal balik meliputi proses produksi, distribusi dan konsumsi dari produk yang telah dihasilkan. (Mosco, 1996). Sementara Murdock dan Golding (Baran, 2000) menjelaskan bahwa ekonomi politik menekankan pada kajian tentang kelompok yang mempunyai kontrol atas institusi ekonomi seperti 2 Sehubungan berkaitan dengan fase masyarakat industri, masyarakat informasi karenanya ada yang mengkonseptualisirnya menjadi masyarakat pasca industri, misalnya oleh Daniel Bell. 3 Bentuk out put kerja, misalnya organisasi media menerapkan aplikasi e-newspaper; Budaya kerja, wartawan dituntut berkompetensi multi tasking agar efektif mengadopsi media konvergence 4 Bentuk kebijakan konvergensi ini variatif; terdiri dari model negosiasi, kooperasi, dan koordinasi. 2 bank dan pangsa pasar dan kemudian mencoba untuk menunjukan dampak dari kontrol tersebut terhadap institusisosial lainnya, termasuk didalamnya adalah mass media. Terkait upaya memahami lebih jauh menyangkut fenomena ekonomi politik tadi, maka Mosco (1996) menawarkan tiga konsep teoritik yang harus diketahui, yaitu : Komodifikasi, Spasialisasi, dan strukturasi. Konsep komodifikasi bertalian dengan bagaimana proses transformasi barang dan jasa beserta nilai gunanya menjadi suatu komoditas yang mempunyai nilai tukar di pasar. Konteks komodifikasi ini berkaitan dengan problema konten, khalayak dan pekerja. Terakhir yaitu konsep spasialisasi, yaitu konsep yang berkaitan dengan masalah sejauh mana media mampu menyajikan produknya kepada khalayak dalam batasan ruang dan waktu. Strukturasi berkaitan dengan relasi ide antaragen masyarakat, proses sosial dan praktik sosial dalam analisis struktur. Secara teoritis, dalam konsep strukturisasi, agen dapat mempengaruhi struktur dan sebaliknya struktur juga bisa mempengaruhi agen. Menyimak kembali tentang opini Mc Manus sebelumnya menyangkut sisi negatif dari teknologi baru yang berupa perlu penambahan biaya besar dan memerlukan durasi break event point (BEP) yang panjang, karenanya ini bisa menjadi indikasi penting bahwa bagi organisasi media kebanyakan di Indonesia yang kemampuan finansialnya umumnya pada level rata-rata atau di bawah rata-rata (misalnya seperti Dobrak, Sentana, Sinar Pagi, Medan Pos, Sinar Indonesia Baru), jadi kesulitan dalam mengadopsi perkembangan ICT saat ini. Pendapat Mc Manus tadi tentu tidak berlaku bagi organisasiorganisasi media besar di dunia atau di Indonesia seperti organisasi media yang tergabung dalam JPNN atau KKG. Berdasarkan pengamatan, terdapat sejumlah organisasi media cetak yang telah mengubah organisasi medianya sejalan dengan fenomena perkembangan ICT tadi. Di Inggris, yaitu Guardian Newspaper dengan Guardian Unlimited-nya, di Sewedia oleh suratkabar Aftonbladed dan di Spanyol diadopsi tabloid Marca, dan di Indonesia, antara lain Jawa Pos, Harian Kompas, Republika, Bangka Pos, dan lain-lain. Tulisan ini sendiri akan mencoba meninjau salah satu suratkabar besar di Indonesia dalam kaitannya dengan perkembangan ICT tadi, yakni Suratkabar Kompas yang tergabung dalam KKG sebagai kasus. Dijadikannya Kompas sebagai kasus karena Kompas dalam konteks kajian ekonomi politik, sebagaimana telah disinggung sebelumnya, mengindikasikan munculnya fenomena strukturasi yang unik5 dan fenomena spasialisasi yang relatif lebih dini di Indonesia melalui pemanfaatan perkembangan ICT. Sejalan dengan latar belakang tersebut, makalah tinjauan ini akan dibahas menurut masalah yang dirumuskan sbb.: 1) Bagaimana fenomena strukturasi dalam manajerial Organisasi KKG ?; 2) Bagaimana fenomena spasialisasi dalam Organisasi Kompas terkait perkembangan ICT ? Metode Tinjauan ini menggunakan metode analisis data sekunder dalam rangka menjawab dua permasalahan tinjauan. Analisis bersifat deskriptif mengacu pada konsep spasial dan strukturasi dalam teori ekonomi politik Vincent Mosco. Hasil dan Pembahasan 1. Fenomena Strukturasi dan Manajerial Organisasi KKG 5 Dalam struktur KKG, ada indikasi bahwa agen utama dapat mempengaruhi struktur, namun demikian sebaliknya struktur internal relatif tidak dapat mempengaruhi agen utama. Padahal secara teoritis juga bisa mempengaruhi agen. 3 Masalah kepemimpinan menjadi salah satu persoalan penting dalam organisasi modern. Dalam kepemimpinan terdapat sejumlah pemimpin yang level dan jumlahnya akan terdiri dari sesuai dengan jenjang dan jumlah nomenklatur yang ada dalam suatu organisasi. Dalam kaitan manajemen organisasi seperti perusahaan misalnya, maka para pemimpin sendiri tugasnya memerankan pengambilan keputusan yang berkait dengan fungsi-fungsi manajemen dalam hubungannya dengan fungsi pemimpin dalam organisasi. Fungsi yang dimiliki bagian-bagian yang dipimpin oleh seorang pemimpin dalam suatu organisasi, secara hakiki tidak sama bobotnya. Meskipun demikian, fungsi-fungsi itu seluruhnya diorientasikan kepada pencapaian goal organisasi. Dengan kata lain, setiap pemimpin suatu sub organisasi, target yang hendak dicapainya harus harmonis dengan goal yang mau dicapai perusahaan. Jadi, proses manajerial organisasi yang diperankan oleh setiap pemimpin, cara kerjanya tidak berbeda dengan cara kerja suatu sistem, yaitu berupa totalitas unsur dalam suatu himpunan yang saling berketergantungan dalam mencapai goal sistem. Mengingat proses manajerial identik dengan cara kerja sistem, maka dalam terminologi management, untuk mencapai efektifitas dan efisiensi capaian goal perusahaan, ragam level pimpinan tadi lazim dikategorikan menjadi tiga bagian besar, yaitu pemimpin dalam level lower manajemen, midle manajemen dan higher manajemen. Dalam kaitan level ini dengan Manajerial Organisasi Kelompok KompasGramedia (KKG), khusus menyangkut level higher, maka pada organisasi tersebut dipegang oleh Jakob Oetama sebagai CEO KKG. Dalam konteks teori strukturasi, Jakob Oetama inilah yang dimaksudkan sebagai social agent utama dalam struktur KKG. Sebagai the prime social agent, kedudukan dan peran Jacob Oetama bagi kemajuan KKG seperti sekarang ini, memiliki arti sangat penting. Dihadapkan dengan kondisi persaingan yang sangat ketat dalam market bisnis media saat ini, maka peran penting Jacob Oetama tadi justru menjadi masalah serius bagi kelanggengan manajemen KKG sekaitan dengan kondisinya yang semakin menua. Menyimak tentang sejarah kemajuan KKG seperti yang didapatkannya sekarang ini, maka itu berawal dari diterbitkannya Bentara Rakyat (nama asli Kompas yang diberikan Presiden Soekarno) pada 28 Juni 1965 oleh sejumlah orang muda yang dua diantaranya adalah Jacob Oetama dan P.K. Ojong (Auwjong Peng Koen) 6. Dari waktu ke waktu, harian ini kemudian mampu memikat para pembacanya dengan sajian-sajian menarik. Keberhasilan ini tak terlepas dari kepiawaian Jacob Oetama dan PK Ojong dalam memimpin, hingga menjadikan Kompas sebagai koran terbesar, baik dari segi tiras maupun iklan. Sejalan dengan kemajuan Kompas, maka perusahaan penerbitan ini kemudian melakukan diversifikasi usaha, baik pada bisnis media yang membentuk newspaper chain7 maupun non media. Kelompok bisnis mana, kemudian dikenal dengan Kelompok Kompas-Gramedia. Di bawah KKG yang dipimpin Jacob Oetama, menurut catatan Trust8 terhimpun di sini sebanyak 48 perusahaan penerbitan, termasuk 6 7 8 Majalah Trust, 2006 : 15. Praktek pemerolehan rangkaian suratkabar (newspapers chain) dimulai pada tahun 1880-an, yakni ketika penerbit-penerbit besar mulai mendapatkan sejumlah suratkabar (Vivian, 1995). Di Amerika Serikat, Lebih 85 % dari semua suratkabar yang ada dimiliki oleh perusahaan besar (McManus,1994). Majalah Trust, 2006 : 13. 4 Kompas sendiri. Di samping itu, terhimpun pula puluhan perusahaan yang bukan bergerak dalam bisnis industri media, misalnya seperti perhotelan, industri kertas tisu, perkebunan dan hortikultura, perdagangan ritel, pengolahan gas, pertambakan udang dan perikanan, serta merambah pada bisnis media televisi (TV7). Dalam mengelola bisnis KKG, sebagai the prime social agent Jacob Oetama menerapkan prinsip manajemen kolektif9 . Dalam artian bahwa pengelolaan semua unit bisnis yang bernaung di bawah KKG dilakukannya menurut prinsip kebersamaan dalam satu kesatuan dengan harmonisasi sebagai kata kunci dalam meraih keberhasilan. Bentuk-bentuk praktik manajemen demikian, dalam bisnis KKG diantaranya berupa saling isi bantu-membantu terhadap sesama unit bisnis dalam kelompok KKG demi kebersamaan dan harmonisasi dalam sistem manajemen bisnis KKG. TV 7 yang disinyalir masih terus merugi dan terus mendapat suplai dana dari Kompas sebagai salah satu tulang punggung dalam manajemen bisnis KKG 10(Trust, 2006 : 15) agar tetap eksis, kiranya menjadi salah satu contoh yang pas dalam kaitan pengertian ”kolektif” tadi (Lihat, Adiprasetyo, 2006 : 11). Untuk menyukseskan (efektifitas) prinsip tersebut, pengamat media 11 menilai bahwa hingga kini hanya Jacob Oetama satu-satunya pemimpin dalam KKG yang berhasil menjadi paku yang membuat harmonisme internal ala budaya Jawa tadi bisa terjaga secara ketat. Kini, Jacob Oetama telah berusia 75 tahun, suatu usia yang dinilai jauh di atas batas usia produktif. Meskipun demikian, pengamat media tetap optimis kalau Jacob Oetama dengan kehebatan kharismanya yang notabene juga telah dijadikan standard kepemimpinan di Kompas, tetap akan mampu mengantisipasi berbagai persoalan yang muncul dalam kompetisi market bisnis industri media yang cenderung kian mengetat 12. Sejalan dengan bisnis KKG yang terus berkembang melalui prinsip manajemen kolektif-konvensionalnya, maka organisasi inipun cenderung akan semakin tambun dan tentunya menjadi relatif lamban dalam bereaksi terhadap business environment. Pengamat bisnis media sendiri menganalogikan situasi ini dengan pohon yang tumbuh semakin tinggi dan rimbun yang notabene menjadi rawan tumbang karena terpaan angin13. Dalam kaitan status Jacob Oetama (the prime social agent) sebagai satu-satunya pemimpin yang dinilai mampu dalam mengatasi problema dalam manajemen organisasi KKG hingga saat ini, maka ”ketambunan” organisasi 9 10 11 12 13 Collective management is the exercise of copyright and related rights by organizations acting in the interest and on behalf of the owners of rights. There are various kinds of collective management organization or groups of such organizations, depending on the category of works involved (music, dramatic works, "multimedia" productions, etc.) that will collectively manage different kinds of right. . "Traditional" collective management organizations, acting on behalf of their members, negotiate rates and terms of use with users, issue licenses authorizing uses, collect and distribute royalties. The individual owner of rights does not become directly involved in any of these steps. Rights clearance centers grant licenses to users that reflect the conditions for the use of works and the remuneration terms set by each individual holder of rights who is a member of the center (in the field of reprography, for instance, authors of written works such as books, magazines and periodicals). Here the center acts as an agent for the owner of the rights who remains directly involved in setting the terms of use of his works. "One-stop-shops" are a sort of coalition of separate collective management organizations which offer users a centralized sources where authorizations can be easily and quickly obtained. There is a growing tendency to set up such organizations on account of growing popularity of "multimedia" productions (productions composed of, or created from, several types of work, including computer software) which require a wide variety of authorizations.( www.wipo.int.) Majalah Trust, 2006 : 15. Adiprasetyo,dalam Trust, 2006: 12. Majalah Trust, 2006 : 15. Lihat, “Berkibar dengan Manajemen Kolektif” dalam Profil Pers Indonesia, 1996 : 32. 5 KKG sebagai out put sistem manajemen kolektif tadi, tentunya bisa menjadi persoalan krusial bagi prospek bisnis organisasi KKG. Terkait dengan problem kepemimpinan dalam kaitan manajemen KKG tadi, maka demi terjaganya prospek positif bagi bisnis KKG itu sendiri, mungkin tersedia banyak alternatif yang dapat memberikan solusi bagi krisis kepemimpinan. Dua diantara alternatif yang mungkin relevan dengan faktor yang melatarbelakangi problema tersebut, dalam konteks konsep strukturasi Giden, yakni terkait dengan faktor struktur itu sendiri : pertama, solusi yang disesuaikan menurut tradisi manajemen yang berlaku di KKG (internal). Kedua, solusi yang disesuaikan dengan prinsip-prinsip manajemen organisasi modern yang aktual (eksternal). Berkaitan dengan alternatif pertama, maka alternatif ini diperlukan karena pertimbangan demi terjaganya kelanggengan manajemen dalam tubuh orgnisasi KKG yang nobene sejauh ini memang menunjukkan keberhasilan yang sangat signifikan. Signifikansi ini, paling tidak ditunjukkan oleh data riset AC Nielsen 14, bahwa pada sepanjang tahun 2002, Kompas memperoleh pendapatan iklan Rp. 800 milyar. Tabloid Nova pada tahun serupa, meraih Rp 80 milyar. PT Graha Kerindo Utama yang memproduksi tisu merek Tessa menyumbang keuntungan bagi KKG sebesar Rp 100 milyar setiap tahunnya. Sementara Tabloid Kontan diperkirakan omsetnya mencapai Rp 100 juta per minggunya. Indikasi lain berupa begitu banyaknya pengusaha yang tertarik untuk mengakuisi bisnis KKG, utamanya dalam bisnis medianya seperti Kompas. Meskipun begitu, pola manajemen kolektif yang dibangun Jacob Oetama tadi, ada juga memang yang menunjukkan kinerja yang kurang berhasil atau tidak berhasil sama sekali. Untuk yang kurang berhasil misalnya TV-7, yang karena terus disubsidi menyebabkan stasiun televisi tersebut harus didivestasikan sebagian sahamnya kepada kelompok Trans Corp. Sementara untuk usaha yang tidak berhasil, misalnya PT Hortindo yang bergerak di bidang perkebunan dan hortikultura, dan PT Gramina Swadaya dengan bisnis pertambakan udang dan perikanan, karena rugi terus akhirnya ditutup.15 Dalam hubungan perlunya pengaplikasian solusi menurut alternatif pertama tadi, maka ini berarti diperlukannya proses strukturasi/suksesi kepemimpinan di tingkat manajemen KKG yang sifatnya sangat urgen, berhubung kondisi fisik Jacob Oetama yang semakin hari, secara alami tentu cenderung akan semakin sulit diharapkan produktifitas maksimalnya bagi struktur KKG. Untuk melakukan suksesi yang demikian, tampaknya memang bukan menjadi pekerjaan mudah. Ketidakmudahan ini paling tidak tergambar dari komentar jajaran pimpinan KKG sendiri terhadap begitu sulitnya mengaplikasikan prinsip harmonisme yang dikembangkan melalui sistem manajemen kolektif pada organisasi KKG. Dalam hubungan ini, salah seorang pimpinan di KKG mengatakan, bahwa orang ber IQ 140 pun mungkin tak akan cocok bekerja di Kompas karena tuntutan harmonisme tadi 16. (Hambatan internal struktur pengaruhi agen) Komentar yang begitu, tentunya menyiratkan bahwa amat rumit dan sulitnya bekerja di KKG dengan tradisi manajemen yang dalam mencapai goal-nya melalui prinsip harmonisasi dalam kolektifitas. Selain mencerminkan kesulitan, komentar 14 15 16 AC Nielsen, dalam Majalah Trust, 2006 : 15. Trust, 2006 : 15. AC Nielsen, dalam Majalah Trust, 2006 : 12. 6 salah satu pimpinan KKG itu tampaknya dapat juga menjadi salah satu indikasi kalau dalam tubuh organisasi KKG saat ini, telah muncul pesimisme terhadap kelanggengan model manajemen kolektif pada pasca kepemimpinan Jacob Oetama nanti. Sejalan dengan indikasi sikap pesimistis tersebut, Trust17 mencatat bahwa dalam jajaran pemimpin generasi baru di KKG, memang tidak ada pemimpin yang memiliki kharisma sehebat Jakob Oetama. Dengan kondisi manajerial yang kurang mendukung bagi kelancaran proses suksesi model kepemimpinan kolektif ala Jacob Oetama itu, kiranya menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan. Untuk itu, dalam waktu yang sesegera mungkin, pihak jajaran pimpinan KKG tampaknya menjadi perlu untuk mengambil langkah-langkah konkrit dalam mengatasi krisis kepemimpinan dalam manajerial KKG tadi. Langkah-langkah konkrit dimaksud, diantaranya berupa pembentukan panitia ad hock untuk menyerap, mengkonseptualisir, dan kemudian mengoperasionalisasikan konsep-konsep gaya kepemimpinan kolektif ala Jacob Oetama (the prime social agent ) tadi. Hasil kerja tim ad hoch tersebut, kemudian disosialisasikan di tingkat pimpinan. Khusus menyangkut para pemimpin yang dinilai potensial untuk menerima suksesi, para pemimpin dimaksud perlu dibina secara intensif. Hasil pembinaan tersebut kemudian dievaluasi guna menemukan calon yang relatif pas dalam menerima tongkat estafet kepemimpinan ala jacob Oetama. Langkah suksesi merupakan hal umum terjadi dalam suatu organisasi, baik organisasi terbesar berupa negara maupun bentuk perusahaan. Suksesi (Strukturisasi) diperlukan dalam kaitan proses menjaga kelanggengan pelaksanaan sebuah sistem dari pemimpin yang lama kepada pemimpin yang baru. Suksesi tidak selalu berhasil, namun tidak sedikit dijumpai yang menemukan keberhasilannya. Untuk organisasi setingkat negara, maka contoh keberhasilan suksesi terjadi di Negara Singapura, yakni dari PM Lee Kuan Yew kepada penggantinya. Demikian halnya di Korea Utara, dari Kim Jung Il kepada putranya. Sementara terkait dengan perusahaan, tampaknya perusahaan rokok H.M Sampoerna dapat menjadi contoh keberhasilan suksesi yang kini dikelola oleh putranya. Selanjutnya, berkaitan dengan alternatif kedua, yaitu solusi yang disesuaikan dengan prinsip-prinsip manajemen organisasi modern yang aktual. Dalam kaitan ini, beberapa pengamat menilai, manajemen KKG yang berlangsung seperti saat ini, dianggap sudah kurang relevan dengan iklim bisnis yang relatif ketat dalam persaingan. Irrelevansi itu terutama berkaitan dengan soal pendanaan bagi perusahaanperusahaan yang berada di bawah payung manajemen KKG, terutama ketika anak perusahaan itu terus-menerus menerima bantuan dana karena mengalami kerugian. Selain soal pendanaan, manajemen kolektif yang tersentralisir juga dinilai kurang efisien dan efektif karena memiliki mata rantai pos-pos manajemen yang panjang yang menyebabkan sulitnya pengawasan. Sinyalemen para pengamat itu sendiri, banyak muncul ketika terdengar adanya rencana akuisisi TV7 yang rugi - oleh kelompok Trans Corp. di bawah pimpinan Chairul Tanjung. Dalam kaitan ini seorang pengamat media menegaskan bahwa Jacob Oetama memang sudah seharusnya melakukan divestasi (melepas) saham di perusahaan-perusahaan KKG. Karenanya pula, para pengamat menilai bahwa divestasi saham di KKG hendaknya tidak sebatas pada TV7 dan Kontan saja, 17 Trust, 2006 : 12. 7 melainkan mencakup pada perusahaan-perusahaan lainnya di bawah KKG, termasuk Harian Kompas sendiri. Menurut pengamat, model kepemimpinan Jacob Oetama yang nota bene hanya dia sendiri yang bisa melakukannya, dinilai justru menjadi justifikasi bagi kesegeraan (urgensitas) langkah-langkah divestasi saham di perusahaan-perusahaan kelompok KKG agar kekeroposan manajemen dari dalam KKG sendiri dapat dihindari sedini mungkin, sejalan dengan semakin menuanya Jacob Oetama sebagai ”pemain tunggal” manajemen Kolektif KKG itu.18 Banyak manfaat yang dapat diperoleh manajemen KKG dari upaya divestasi saham sebagaimana disarankan para pengamat tadi. Diantaranya, sejalan dengan divestasi saham yang menyebabkan kepemilikan saham menjadi tidak terkonsentrasi pada satu tangan sebagai mayoritas, maka ini memungkinkan munculnya banyak kontrol terhadap KKG. Kontrol mana dinilai akan menciptakan efisiensi dan efektifitas terhadap manajemen KKG. Apa yang menjadi analisis para pengamat itu, bila dibandingkan dengan respon Agung Adiprasetyo, Wakil Presiden Direktur KKG dan Jacob Oetama ketika dimintai wartawan jawabannya atas sejumlah pertanyaan menyangkut rencana penjualan mayoritas saham KKG di TV7, maka tampak adanya ketidaksesuaian di antara keduanya. Sejumlah indikasi yang mencerminkan ketidaksesuaian itu, misalnya dari munculnya beragam bantahan pihak KKG saat menjawab pertanyaan wartawan menyangkut divestasi saham KKG di sejumlah perusahaannya 19. Demikian pula dari respon Jacob Oetama sendiri. Sebagaimana dilaporkan wartawan, Jacob Oetama agak kesal ketika dalam proses divestasi saham TV7, para peminat juga ada yang menawarnawar saham Kompas, suratkabar yang menjadi anak emas Jacob Oetama 20 Suatu bentuk respon yang kiranya merefleksikan upaya Jacob dalam mempertahankan kolektifitas dalam KKG. Ada beberapa indikasi yang kiranya menjadi kontradiktif bagi upaya KKG dalam mempertahankan manajemen kolektifnya itu. Beberapa diantaranya, yaitu berkaitan dengan sejumlah kegagalan dalam unit-unit usaha yang berada di bawah manajemen kolektif KKG. Unit usaha yang ditutup karena rugi, yaitu PT Gramina Swadaya, PT Hortindo, PT Laksana Oxygen, Grasera (non media). Dalam bentuk media, yakni Tiara, Jakarta-Jakarta, Warta Pramuka dan Raket. Terakhir yaitu TV7, yakni bergerak di bidang industri penyiaran. Untuk unit usaha terakhir ini, disinyalir bahwa KKG mesti ke luar duit hingga triliunan rupiah untuk bisa terus menghidupi TV 7 hingga sekarang21 Sementara itu, Kompas yang menjadi salah satu “mesin uang” utama bagi manajemen KKG, di samping Nova, Hotel Santika dan beberapa lainnya, seperti diketahui juga mengalami persoalan yang sama dengan yang dialami oleh industri media cetak lainnya, baik pada tingkat lokal maupun internasional. Persoalan dimaksud yaitu fenomena menurunnya jumlah tiras suratkabar sehubungan dengan munculnya media on line. Namun demikian, bagi pihak KKG ternyata masalah tersebut bukan ancaman serius. “Kalau kita bicara bisnis di media cetak, Anda harus 18 Trust, 2006: 12. Trust, 2006 : 13 20 Trust, 2006 : 12 21 Trust, 2006 : 11 19 8 paham bahwa oplah bukanlah segala-galanya. Masih ada pemasukan dari iklan”, demikian Agung Adiprasetyo, Wakil Presiden Direktur KKG (social agent penting lainnya di struktur KKG), saat menjawab pertanyaan wartawan tentang menurunnya jumlah oplah media cetak saat ini.22 Atas keyakinan soal dukungan iklan tersebut, terutama dalam kaitannya dengan penurunan oplah, maka Kompas mengambil kebijakan dengan menaikkan jumlah halaman cetak dari 40 menjadi 50 halaman pada 2002. Langkah ini memang berhasil ketika itu karena harian ini sempat mengalami booming iklan.23. Kini, keberhasilan itu telah berlalu lima tahun. Pada tahun 2002, perkembangan media on line masih belum sepesat saat ini. Berdasarkan catatan, hingga medio 2006, terdapat 18-20 juta orang pengguna internet 24. Jumlah ini jauh meningkat dibandingkan dengan tahun 2000. Pada tahun ini, berdasarkan hasil survey Mark Plus dan Swasembada di kota-kota besar Indonesia, jumlahnya diperkirakan hanya 1,1 juta hingga 1,5 juta orang 25. Fenomena pertumbuhan pengguna media on line ini tentu menjadi signifikan eksistensinya bila dihubungkan dengan kebijakan Kompas menyangkut oplah pada tahun 2002 sebelumnya. Itu terutama dalam kaitannya dengan porsi iklan. Dengan kata lain, booming yang terjadi pada 2002 berindikasi akan sulit diperoleh Kompas dalam tahun-tahun belakangan ini sehubungan dengan meningkat tajamnya pengguna media on line yang nota bene menjadi pasar iklan baru bagi para pemasang iklan produk. Tidak jelas memang, ke mana para pengguna internet itu mengarahkan aktifitas media on line-nya, apakah ke on line news atau content lainnya yang non news. Sejauh pengamatan, belum ada temuan riset khusus menyangkut on line news tersebut di Indonesia. Namun, bila mengacu pada data penggunaan internet di Amerika Serikat, maka para pengguna on line news kecenderungannya menunjukkan fenomena peningkatan yang signifikan dari tahun-ke tahun. Menurut hasil survey di sana, disebutkan, that would mean that roughly about 137 million adult Americans reported going online at the end of 2005. Disebutkan pula, bahwa In 2005, approximately 70% (approximately 97 million- up from the 86 million estimated in November 2004) of American adults who had gone online said they had used the Internet for news. More than two thirds (67%) of American adults said they read either local or national newspaper Web sites in late 2005, an increase of five percentage points from earlier in 2005. If those people are substituting the online version of the paper for the print version, as some of the data suggest, that is probably one of the reasons print newspaper circulation losses are accelerating. Jupiter Research, one of the key forecasters of online economics and audience figures, predicts that by 2010,overall Internet penetration will reach 74%, up from 68% in 2005,or roughly a 1 % increase each year over the next four years. 26 Another study looked at the question more deeply, concentrating on one market — Washington, D.C. The study, conducted by Matthew Gentzkow of the 22 23 24 25 26 Trust, 2006 : 13 Majalah Trust, 2006 : 15. Bisnis Indonesia, 11 Juli 2006 Sukartono, 2000, dalam Manihuruk, Amin Sar, 2002, ”Medium Internet dan Penggunaannya oleh Pelajar”, dalam Jurnal Penelitian Pers dan Pendapat Umum, Vol. 6 (1), hal. 11, Jakarta, BPPI DKI Jakarta. Journalism_org- The State of the News Media 2006.htm 9 University of Chicago, developed a mathematical model to assess the extent to which online news either crowds out or complements print newspapers. According to that research, the city’s major online newspaper site, www.washingtonpost.com, reduced newspaper print readership by 27,000 a day, which Gentzkow called “a moderate amount.” To what extent other newspaper Web sites might be reducing Washington Post print readership was not clear.27 Gambaran mengenai penggunaan internet dalam kaitan penggunaan on line news di Amerika tadi, kiranya menunjukkan semakin mengecilnya jumlah penggunaan newsprint melalui suratkabar. Termasuk pada suratkabar sekaliber Washington Post sekalipun. Jika perkiraan Jupiter Research itu benar nantinya, maka bisa jadi suratkabar cetak Washington Post pada 2010 akan mendapat share yang lebih keci lagi, yakni sebagian dari 26 % sebagai sisa dari overall Internet penetration 74%, yakni proporsi yang diestimasikan oleh Jupiter Research tadi. Hasil riset penggunaan internet (the uses of on line news) di Amerika Serikat sebelumnya, memang tidak dapat dijadikan ukuran bahwa fenomenanya secara simetris terjadi di Indonesia saat ini. Salah satu faktor yang paling menunjang kebenaran asumsi ini, paling tidak bila dikaitkan dengan eksistensi internet di kedua Negara. Amerika Serikat telah memulai tradisi internet itu sejak tahun 1990-an Sementara di Indonesia, secara terbatas baru mulai pada penghujung 90-an dan mulai intensif dan resmi menjadi perhatian pemerintah sejak tahun 2005, yakni dengan dibentuknya Departemen Komunikasi dan informatika. Meskipun begitu, fenomena penggunaan on line news di Amerika itu, kiranya patut pula menjadi acuan penting dalam kaitan upaya melihat perkembangannya di Indonesia. Hal ini terutama jika dilihat dari pengaruh perkembangan ICT terhadap suratkabar di Amerika Serikat pada masa-masa awal penggunaannya, yakni pada masa-masa awal 90-an. Suatu masa yang mungkin mirip dengan kondisi perkembangan internet di Indonesia saat ini. Berdasarkan catatan Newspaper Association of America (NAA), sirkulasi tahunan untuk suratkabar sore (suratkabar paling popular di USA) pada masa-masa itu, jumlahnya 16.761.294 eksemplar, merosot mendekati satu juta suratkabar dibandingkan dengan tahun 1992. Demikian pula dari segi jumlah penerbitannya, dari sebanyak 1084 suratkabar sore pada tahun 1990, menjadi 956 pada tahun 1993. Penurunan ini jelas dapat menjadi indikasi kalau perkembangan ICT itu cenderung memang memillliki pengaruh pada eksistensi suratkabar cetak. 28 Bila gambaran pengaruh ICT pada masa awal penggunaannya di Amerika itu dihubungkan dengan kondisi di Indonesia saat ini, kondisi yang dilengkapi dengan kesadaran tinggi pihak pemerintah Indonesia dalam mencapai target terciptanya information society pada tahun 2015 sehubungan keterikatannya pada komitmen WSIS (World Summit Information Society) di Tunisia November 200329, maka akselerasi pertumbuhan jumlah pengguna internet yang signifikan, bukan menjadi sesuatu yang tidak mungkin terealisasi di Indonesia dalam tahun-tahun berikut. Prediksi akselerasi tersebut semakin logis tatkala komitmen WSIS tadi telah 27 28 29 Journalism_org- The State of the News Media 2006.htm Mc Manus, John H.,1994,Market-Driven Journalism: Let the CitizenBeware?, California, Sage Publications, Chapter 11, p. 153. Dalam WSIS Tunia November 2005 antara lain dirumuskan bahwa pada tahun 2015, 50 % dari penduduk bumi harus dapat mengakses informasi melalui internet, dan tahun 2020 ditargetkan sudah seluruhnya dapat mengakses. 10 diimplementasikan pemerintah dalam sejumlah kebijakan 30. Jika ini benar, maka ini berarti menjadi ancaman serius bagi eksistensi suratkabar harian di Indonesia. Pertumbuhannya, maka bisa jadi akan mirip dengan yang terjadi di USA, yang akan terus digerogoti pertumbuhan cepat jumlah pengakses media on line, seperti sebagaimana diperkirakan oleh Jupiter Research tadi. Bagi Kompas, maka sebagai anak emas CEO Jacob Oetama yang menjadi tulang punggung KKG dalam mendanai anak-anak usahanya, perkembangan pesat pengguna on line news yang berindikasi akan terus bertambah di Indonesia, berdasarkan pengalaman industri suratakabar di USA, tentu akan bisa pula mengurangi tiras Kompas di masa-masa mendatang. Pengurangan mana, implikasi negatifnya tentu berkaitan dengan perolehan keuntungan dari iklan. Jika fenomena ini terus dibiarkan, maka apa yang diramalkan oleh para pengamat media di Indonesia sebelumnya, bisa jadi akan benar-benar menjadi kenyataan. Manajemen KKG akan keropos dengan sendirinya dari dalam diri sendiri. Untuk itu, saran dari pengamat industri media di Indonesia, kiranya perlu menjadi perhatian serius para pimpinan KKG, bahwa pimpinan KKG sudah tepat waktunya saat ini untuk mendivestasikan saham-sahamnya pada sejumlah perusahaan yang berada di bawah manajemen KKG. Jadi, tidak hanya pada saham di TV 7, melainkan juga saham-saham di perusahaan lainnya, termasuk pada Kompas sendiri. 2. Spasialisasi, Kompas dan Perkembangan ICT Suratkabar sangat dipengaruhi oleh perubahan teknologi dalam hal cara suratkabar dipersiapkan, dicetak dan didistribusikan. Lebih dari tiga puluh tahun, sejumlah teknologi baru telah berdampak pada industri suratkabar (Mc Manus,1994). Dampak yang dimaksudkan Mc Manus tersebut, dalam konteks teori ekonomi politik sendiri, dokonseptualisasikan dalam konsep spasialisasi (Mosco, 1996), yakni upaya media dalam mendekatkan kontennya kepada khalayak. Menurut Picard (1993) bahwa teknologi baru memiliki dua efek utama pada industri suratkabar. Pertama, sebuah suratkabar bisa diproduksi saat ini dengan sedikit tenaga kerja yang mahir menggunakan teknologi canggih. Departemen dalam organisasi suratkabar dapat secara langsung memasukkan cerita/berita dan periklanan tanpa penggunaan typesetters. Kedua, suratkabar dapat diproduksi lebih cepat, memberikan waktu yang lebih lama bagi deadlines dan bisa menyediakan peliputan bagi berita penting paling aktual (late-breaking news). Dalam konteks spasialisasi, ini merupkan indikator pemungkin bagaimana suratkabar untuk tetap dapat lebih bersaing dengan media elektronik dalam kemampuan mereka meliput berita. Terdapat aspek positip dan aspek negatip dari pengadopsian teknologi baru dalam proses produksi berita. Sisi positipnya, suratkabar bisa dibuat secara lebih efisien, dengan proses dan distribusi yang cepat. Dengan demikian ini mendukung upaya spasialisasi yang dilakukan media. Pada sisi negatipnya, teknologi baru biasanya memerlukan penambahan biaya yang besar, untuk pengembaliannya memerlukan waktu beberapa bulan atau beberapa tahun (Picard, 1993). Dalam kaitan 30 Instruksi Presiden N0. 3/2003 tentang kebijakan dan strategi Nasional Pengembangan E-Govt, telah memerintahkan kepada eksekutif termasuk pejabat pemerintah di daerah untuk mengimplementasikan e-govt di pemerintahan masing-masing. Untuk maksud tersebut, saat melantik Satgas Reformasi Birokrasi Tahun 2005, Presiden telah menetapkan penjadualan implementasi egovt di Indonesia, yaitu : -Tahun 2009 e-govt telah diterapkan di 100 % kementerian dan 70 % di Pemerintahan Provinsi dan Pemerintahan Kabupaten/Kota; Pada tahun 2009, tele healt dilaksanakan di 50 % rumah sakit dan Puskesmas; Pada tahun 2009, tele education dilaksanakan di 50 % SLTP Negeri dan 60 % di SMU Negeri; Pada tahun 2009 lembaga keuangan (Perbankan, lembaga keuangan mikro, dll. Tergabungkan dalam satu sistem teknologi informasi. 11 ini, tentu bisa menjadi penghambat bagi upaya spasialisasi yang akan dilakukan organisasi media. Bagi kalangan pelaku bisnis industri media di Amerika, dalam kaitan menjawab perkembangan teknologi tadi, maka upaya spasialisasi pada masa itu mereka jawab dengan berbagai langkah-langkah bisnis. Para penerbit mencari pasar tambahan untuk mengembangkan aliran alternatif perolehan keuntungan. Banyak suratkabar telah mengembangkan kemampuan distribusi berita mereka melalui layanan offering voice information dan layanan komputer on-line kepada para pelanggan. Layanan suara termasuk suatu varitas dari kategori informasi, banyak diantaranya yang didukung oleh periklanan. Layanan informasi faksimili, 900-number services dan produk-produk lainnya berkembang dengan cepat dalam pusat bisnis suratkabar. Newspaper Association of America (NAA) memperkirakan bahwa lebih dari 150 suratkabar harian yang menyediakan beberapa jenis dari on line access kepada suratkabar mereka (NAA, 1994). Perusahaan lainnya, misalnya seperti Times Mirror, pemfokusannya pada cara-cara yang berbeda untuk mendistribusikan informasi –produk-produk dasar melalui CD ROM melalui bentuk-bentuk alternatif dari penerbitan elektronik. (Mc Manus, 1994). Kini, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, telah jauh berkembang jika dibandingkan dengan masa-masa sebagaimana digambarkan Mc Manus pada 1994. Pada tahun 2005, mungkin berkaitan dengan efisiensi seperti dikatakan McManus tadi, atau karena berkaitan dengan penurunan tiras, salah satu suratkabar besar di Amerika memang telah mem-PHK-kan sejumlah karyawannya. Hal serupa juga terjadi di Indonesia. Kini, meski masih belum sesemarak di Amerika Serikat yang notabene telah menggeser pasar media suratkabar secara signifikan, sebagaimana telah dipaparkan pada bagian sebelumnya menurut hasil-hasil riset, fenomena pergeseranpun juga mulai terjadi di lingkungan industri media cetak Indonesia. Menurut hasil survei AC Nielsen, pada tahun 2006, hampir semua media cetak mengalami penurunan tiras (Majalah Trust, 2006 : 13.) Namun begitu, beberapa tahun sebelum temuan riset AC Nielsen tadi, para pelaku bisnis media di Indonesia sebenarnya memang telah menunjukkan upayanya dalam mengantisipasi dampak perkembangan ICT (internet). Antisipasi ini berindikasi mengikuti media-media cetak besar di Barat, misalnya seperti yang dilakukan Washington Post (USA), Guardian (Suratkabar Inggris terbit tahun 1821) dengan Guardian Unlimited-nya (beroperasi sejak 1996), atau Aftonbladet (Swedia) 31 (Nainggolan, 2006,). Sejumlah media cetak di Indonesia yang melakukan antisipasi dimaksud diantaranya yaitu Tempo, Media Indonesia dan termasuk Kompas sendiri melalui Kompas Cyber Media-nya (KCM). Ada indikasi bahwa faktor pendorong sikap media lokal seperti Kompas tadi, tampaknya tidak semata hanya karena sekedar ikut-ikutan, melainkan juga lebih karena efek teknologi baru terhadap industri media seperti sebagaimana dikatakan Picard 32 sebelumnya. Dalam kaitan ini, melalui KCM-nya Kompas berindikasi berupaya mengimbangi pesaingnya yang berasal dari media elektronik guna menjaga 31 32 Nainggolan, Bestian, 2006, Handout mata kuliah Perkembangan Teknik-teknik Jurnalistik, PPS Magister Ilmu Komunikasi, Jakarta, UPDM (B). Picard (1993), dalam Mc Manus, John H.,1994,Market-Driven Journalism: Let the CitizenBeware?, California, Sage Publications, Chapter 11, p.159. 12 eksistensinya di masyarakat dengan cara senantiasa menyajikan late-breaking news.33 Jika demikian, maka dalam terminologi ekonomi politik, maka apa yang dilakukan oleh organisasi media Kompas itu dapat menjadi indikasi pula kalau fenomena spasialisasi itu telah terjadi ditubuh organisasi KKG. Fenomena spasialisasi ini di sisi lain bisa pula menjadi indikasi bahwa the prime social agent dalam struktur KKG dalam sedikit hal ternyata bisa juga dipengaruhi oleh struktur eksternal (perkembangan ICT). Suratkabar on line seperti KCM, Guardian Unlimited atau Aftonbladet, sebenarnya merupakan bentuk media yang merepresentasikan reaksi para pebisnis dalam industri media cetak terhadap kemajuan ICT. Dengan demikian dalam konteks ekonomi politik, dalam fenomena global terkait organisasi media, berinkasi bahwa pada hakikatnya faktor struktur (environtment seperti kemajuan ICT) itu sangat mempengaruhi para social agent dalam memanage organisasinya. Representasi reaksi ini sendiri secara terminologis dikenal dengan konsep konvergensi media. Konvergensi sendiri berarti the integration of mass media –print, radio, television, film-computers, and telecommunication in to a common technological and institutional base 34. Jadi, inti dari konvergensi yaitu : integrasi, mass media, komputer, telekomunikasi, teknologi dan kelembagaan. Dengan mengadopsi konvergensi media, dalam konteks ekonomi politik, pengelola manajemen industri media sebenarnya sudah memptraktikkan konsep spasialisasi yang bertujuan memperluas jangkauan pasar (pembaca, pengiklan) mereka dengan pengorbanan biaya (editorial & advetorial costs) yang terkendali. Di samping juga untuk mengembangkan medium berita yang lebih efektif, relevan dan berkelanjutan. Benefit yang diharapkan akan muncul dari konvergensi terdiri dari : konvergensi berupa pendiversifikasian produk ke berbagai flatform membuat suratkabar (media massa) tampil lebih efisien di dalam menjangkau pasar baru seperti pembaca muda, pembaca yang berada di luar jangkauan distribusi; -perluasan isi pemberitaan (informasi) yang selama ini bersifat statis dan menjadi arsip perpustakaan setelah penerbitan; memberikan nilai tambah baru bagi bagian periklanan dibandingkan dengan pola periklanan konvensional media cetak;-membuat core brand menjadi lebih kuat terlebih jika sukses bermigrasi ke dalam berbagai flatform;konvergensi dengan basis teknologi broadband memungkinkan terjadinya peningkatan pola konsumsi berita dan manfaat bagi penerbit yang mengembangkan teknologi di masa mendatang (Nainggolan, 2006). Idealisasi dari upaya spasialisasi melalui pengadopsian konvergensi media barusan, dalam realita ternyata kurang seiring dengan fakta yang dialami industri media. Berdasarkan hasil analisis situasi konvergensi media massa di Eropa oleh Mudia Project, World Association of Newspaper tahun 2002 menunjukkan bahwa Guardian Unlimited (4 juta pengakses/bulan) yang tergabung dalam kelompok Guardian Media Group (GMG) yang dimiliki The Scott Trust, pada 2001 merugi 16,6 juta Euro, padahal perusahaan induknya sendiri (GMG) dalam tahun serupa meraih laba bersih 112 juta Euro. Suratkabar berformat tabloid Aftonbladet yang terbit tahun 1830 di Swedia, melakukan pola konvergensi dengan web (Aftonbladet Nya Medier 33 34 Menurut Bestian Nainggolan, GM Litbang Kompas, suratkabar on line di Indonesia, baru KCM yang sifatnya sudah interaktif, yang lainnya masih belum. Sebagai media on line, KCM masih belum untung, namun dipertahankan karena dinilai akan mampu mempertahankan pasar tradisional Kompas. Straubbaar, Joseph and Robert LaRose, Media Now, Communications Media in the Information Age, Wadsworth, 2001. 13 AB). Tahun 2001 Aftonbladet yang bertiras 350 (weekdays) dan 500.000 tiap hari Minggu, meraih profit 15,5 juta dollar AS, sementara website-nya yang bernama Aftonbladet Nya Medier AB dengan sejuta pengakses setiap bulan justru merugi. Hal serupa juga dialami oleh Marca. Marca melakukan pola konvergensi antara suratkabar olah raga Marca, web (Marca.com), radio sport (Marca Digital). Marca terbit di Spanyol tahun 1938 dengan sirkulasi saat ini mencapai 396.000. Radionya mengudara sejak tahun 2000 dengan penguasaan populasi Barcelona dan Madrid sebesar 20 % dan Marca.com sendiri pengunjungnya mencapai 5,25 juta setiap bulannya. (Nainggolan, 2006).Batas OK Pengalaman spasialisasi melalui kebijakan konvergensi media yang dialami ketiga kelompok bisnis industri media itu, jauh sebelumnya memang telah diprediksi oleh Mc Manus (Mc Manus, 1994) ketika dia melihat fenomena pengadopsian teknologi baru dalam proses produksi berita dalam industri media. Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, Mc Manus menilai bahwa ada dua aspek dari pengadopsian teknologi baru itu. Aspek positipnya, suratkabar bisa dibuat secara lebih efisien, dengan proses dan distribusi yang cepat. Aspek negatipnya, teknologi baru biasanya memerlukan penambahan biaya yang besar, untuk pengembaliannya memerlukan waktu beberapa bulan atau beberapa tahun. Terkait dengan pengalaman kelompok media tadi, aspek positip ditandai dengan lebih meluasnya isi media (misalnya : Guardian, sirkulasi 410.000; Guardian Unlimited, 40 juta page impressions/4 juta pengunjung/bulan). Sedang aspek negatif dicirikan oleh meruginya kebijakan spasialisasi/konvergensi (Guardian Unlimited pada tahun kelima (1996-2001) rugi 16,6 juta Euro, tahun yang sama GMG untung 112 juta Euro; atau , budget untuk Aftonbladet yang memberi untung bersih 15,5 juta dollar AS pada tahun 2001, per tahunnya sebanyak 30 juta dollar AS, sementara Aftonbladet Nya Medier AB yang rugi-justru memakan biaya setiap tahunnya sebanyak 10 juta dollar AS). (Nainggolan, Bestian, 2006,) OK !! Kebijakan spasialisasi melalui konvergensi media, sekalipun masih mengalami kerugian, namun para pengelolanya tetap mempertahankan pola konvergensi media dengan adopsi modelnya35 masing-masing yang dinilai relevan bagi dunia usahanya. Terkait dengan ini, KCM pun tampaknya melakukan langkah serupa dengan media konvergensi Barat, tanpa memiliki rencana menutup maupun mengurangi bobot sekalipun masih mengalami kerugian (Nainggolan, 2006). Fenomena yang demikian tentu menjadi indikator kontradiktif bagi tujuan dasar keputusan spasialisasi melalui konvergensi media itu sendiri. Dengan kata lain, secara sederhana kebijakan spasialisasi itu dimaksudkan untuk memperoleh good will atau profit bagi organisasi usaha, namun dalam realitanya belum ada yang telah memberi keuntungan bagi organisasi. Meskipun begitu spasialisasi melalui konvergensi tetap saja dipertahankan. Dalam konteks ekonomi politik, ternyata dalam situasi tertentu seperti dalam era transformasi (misalnya seperti peralihan era masyarakat industri ke masyarakat informasi) sebagaimana dialami organisasi media news print, berdasarkan fenomena sebelumnya ternyata faktor struktur (berupa environment) tidak secara serta-merta dapat mempengaruhi the prime social agent untuk mengubah kebijakan spasialisasi yang telah diputuskannya. 35 Model konvergensi media terdiri dari : model negosiasi (diadopsi oleh Chicago Tribune, CLTV, WGN (Cable); Model Kooperasi (diadopsi Tampa Tribune, WFLA TV, TBO. Com); Model Koordinasi (misal, Orlando Sentinel Communication, The Orlando Sentinel, Orlando Sentinel.com, 13 News TV); model/pola integrasi (diadopsi oleh Guardian, Aftonbladet dan Marca). 14 Terdapat beberapa alasan mengapa spasialisasi tadi tetap dipertahankan sekalipun masih terus merugikan pengelola organisasi media saat ini. Di antara alasan yang paling diyakini adalah bahwa spasialisasi melalui pola konvergensi media dinilai dapat menguatkan posisi marketing mereka. Selain itu, mereka juga yakin bahwa di masa mendatang pasar akan terus-menerus membaik36. Kebijakan konvergensi media yang dimungkinkan karena perkembangan di bidang ICT, dalam kenyataan bukanlah menjadi satu-satunya bentuk out put dari perkembangan ICT. Sebagai salah satu bentuk out put yang notabene antara lain menyebabkan berubahnya pola akses khalayak terhadap media (dalam konteks decoder), di sisi lain “konvergensi media”37 juga jadi memungkinkan khalayak individu non media untuk mengekspresikan gagasan-gagasannya mengenai apa saja dalam kehidupannya. Ini berarti, bahwa melalui konvergensi media - setiap individu dapat melakukan peran relatif sama dengan peran yang dimainkan oleh organisasi media yang memerankan fungsi encoder. Peran ini sendiri, dalam terminologi ICT lazim dikenal dengan blog jurnalisme (blogging journalism)38, kata majemuk yang dikembangkan dari dua kata dasar : weblogs dan journalism. Dengan demikian masalah blogging journalism ini, dari sisi organisasi media dapat dikatakan menjadi semacam “virus struktur” yang tentu dapat mengganggu bagi kelanggengan kebijakan spasialisasi yang mereka terapkan dalam organisasi media mereka itu sendiri. Fenomena blogger journalism sendiri, menurut praktisi dan konsultan pemasaran on line, Onggo, kini telah mendapat perhatian dari para praktisi PR, komunikasi, jurnalis dan pelaku TI. Penyebabnya yaitu, karena para blogger melalui blog-nya dapat melakukan reportase dan jurnalisme blak-blakan. Bentuk jurnalisme yang kerap membuat para jurnalis dari mainstream publication, jadi merasa tersaingi karena mereka merasa kehilangan monopoli dan kendali atas reportase suatu berita. Bukan hanya menyangkut cara reportasenya, tapi juga dalam memilih apa yang cocok dan disukai publik. (Lihat, Onggo, Bob Julius, dalam Warta Ekonomi, 09/Th. XVIII, 12 Mei, 2006, 70). Terkait dengan fenomena blogger journalism yang mengkhawatirkan kalangan mainstream publication tadi, kiranya patut dipahami. Ini terutama bila dikaitkan dengan data riset di Amerika yang menunjukkan fenomena blogger journalism itu diminati oleh kalangan “younger and male”. Ironisnya, diminati pula oleh kalangan journalists. Kalangan jurnalis ini, menurut temuan riset University of Connecticut 2005, 41 % diantaranya mengakses blog paling tidak sekali dalam seminggu dan 55 % mengatakan mereka membaca blogs itu karena sebagai bagian dari kewajiban kerja mereka sebagai wartawan.39 Tambahan lagi, data survey konsumsi media dari the Pew Research Center for the People and the Press confirms what we saw last year, that some consumers who go to the online version of the newspaper are abandoning the 36 Nainggolan, Bestian, 2006, Handout mata kuliah Perkembangan Teknik-teknik Jurnalistik, PPS Magister Ilmu Komunikasi, Jakarta, UPDM (B). Prediksi membaiknya pasar dimaksud, berdasarkan indikasi yang diperlihatkan oleh hasil riset Matthew Gentzkow dan Jupiter Research di USA tentang on line media, tampaknya memang menemui relevansinya (Journalism_org- The State of the News Media 2006.htm). 37 Tanda kutip dimaksudkan untuk membedakannya dengan kebijakan konvergensi media dari organisasi media. Dengan begitu, “konvergensi media” di sini dimaksudkan sebagai padanan kata dari kata telematika/internet . 38 Lihat, Onggo, Bob Julius, dalam Warta Ekonomi, 09/Th. XVIII, 12 Mei, 2006, 70-71; Nieman Reports, Fall, 2003 : 9. 39 Journalism_org- The State of the News Media 2006.htm 15 print version. According to these data, more than a third (35%) of online newspaper readers say they are reading the print version “less often. Akan tetapi, kekhawatiran itu sebenarnya justru menjadi berlebihan bila dikaitkan dengan analisis temuan riset lainnya. Sebagaimana dilaporkan Gallup/CNN/USA Today poll, in February 2005, only 26% of Internet users said they were “very familiar” or “somewhat familiar” with blogs. Selain itu, diketahui pula bahwa “from February 2004 to January 2005, the number of online Americans who said they had ever read a blog increased nearly 60% — from 17% to 27%, according to the Pew Internet project. Since then, the percentage of blog readers has remained stable. The proportion of Internet users who were regularly reading blogs year to year remained at 7%. Regular blog readership, as distinct from occasional or one-time, has not grown much, either.40 Diskusi Makalah tinjauan ini pada dasarnya bertujuan untuk menemukan gambaran tentang fenomena strukturasi dalam manajerial Organisasi KKG dan fenomena spasialisasi dalam Organisasi Kompas terkait perkembangan ICT. Berdasarkan hasil analisis data sekunder dapat disimpulkan bahwa terkait fenomena strukturasi, Jakob Oetama menjadi the prime social agent dalam struktur KKG. Sebagai the prime social agent, kedudukan dan peran Jacob Oetama bagi kemajuan KKG seperti sekarang ini, memiliki arti sangat penting. Dihadapkan dengan kondisi persaingan yang sangat ketat dalam market bisnis media saat ini, maka peran penting Jacob Oetama tadi justru menjadi masalah serius bagi kelanggengan manajemen KKG sekaitan dengan kondisinya yang semakin menua. Dalam mengelola bisnis KKG, sebagai the prime social agent Jacob Oetama menerapkan prinsip manajemen kolektif. Dalam artian bahwa pengelolaan semua unit bisnis yang bernaung di bawah KKG dilakukannya menurut prinsip kebersamaan dalam satu kesatuan dengan harmonisasi sebagai kata kunci dalam meraih keberhasilan. Bentuk-bentuk praktik manajemen demikian, dalam bisnis KKG diantaranya berupa saling isi bantu-membantu terhadap sesama unit bisnis dalam kelompok KKG demi kebersamaan dan harmonisasi dalam sistem manajemen bisnis KKG. Hingga kini hanya Jacob Oetama satu-satunya social agent dalam struktur KKG yang berhasil menjadi paku yang membuat harmonisme internal ala budaya Jawa tadi bisa terjaga secara ketat. Dalam kaitan status Jacob Oetama (the prime social agent) sebagai satu-satunya pemimpin yang dinilai mampu dalam mengatasi problema dalam struktur KKG hingga saat ini, maka ”ketambunan” struktur organisasi KKG sebagai out put sistem manajemen kolektif tadi, tentunya bisa menjadi persoalan krusial bagi prospek bisnis organisasi KKG. Terkait dengan problem human agency dalam kaitan struktur KKG tadi, maka demi terjaganya prospek positif bagi bisnis KKG itu sendiri, tersedia banyak alternatif yang dapat memberikan solusi bagi krisis kepemimpinan. Dua diantara alternatif yang mungkin relevan dengan faktor yang melatarbelakangi problema tersebut, dalam konteks konsep strukturasi Giden, yakni terkait dengan faktor struktur itu sendiri : pertama, solusi yang disesuaikan menurut tradisi manajemen yang berlaku di KKG (internal). Namun dalam kaitan ini, tampaknya ada hambatan internal struktur yang mempengaruhi agen. Kedua, solusi yang disesuaikan dengan prinsip-prinsip manajemen organisasi modern yang aktual (eksternal). Dalam kaitan ini, beberapa pengamat menilai, manajemen KKG yang berlangsung seperti saat 40 Journalism_org- The State of the News Media 2006.htm 16 ini, dianggap sudah kurang relevan dengan iklim bisnis yang relatif ketat dalam persaingan. Dalam konteks teori ekonomi politik, mengacu pada konsep strukturasi, maka faktor human menentukan struktur. Faktor human yang wujudnya berupa para social agent itu terdiri dari beragam level dari lower hingga upper (higher) manager sesuai koordinatnya dalam nomenklatur struktur. Terkait struktur KKG, diketahui bahwa Jacob Oetama menjadi the prime social agent. Ada indikasi bahwa bahwa Jacob Oetama sebagai the prime social agent tetap dipertahankan dalam struktur KKG dengan gaya kepemimpinannya yang manajemen kolektif. sehubungan ketidaksiapan para agen lainnya menerima suksesi dalam struktur KKG sebagai the prime social agent. Kemudian berkaitan dengan fenomena spasialisasi maka perkembangan ICT memiliki aspek positip dan negatip bagi media dalam konteks spasialisasi. Sisi positip mendukung upaya spasialisasi yang dilakukan media. Sisi negatipnya, bisa menjadi penghambat upaya spasialisasi yang akan dilakukan organisasi media. Bermigrasinya struktur organisasi media Kompas dari konvensional ke digital dalam wujud KCM-nya menjadi indikasi kalau fenomena spasialisasi telah terjadi dalam struktur KKG. Fenomena spasialisasi ini di sisi lain bisa pula menjadi indikasi bahwa the prime social agent dalam struktur KKG dalam sedikit hal yang relatif bersifat force major ternyata bisa juga terpengaruh oleh struktur eksternal (perkembangan ICT). Dalam konteks ekonomi politik, dalam hubungan fenomena global terkait organisasi media, berindikasi bahwa pada hakikatnya faktor struktur eksternal (environtment : seperti kemajuan ICT) itu sangat mempengaruhi para social agent dalam menstrukturisasi organisasinya. Kebijakan spasialisasi melalui konvergensi media, sekalipun masih mengalami kerugian, namun para pengelolanya tetap mempertahankan pola konvergensi media dengan adopsi modelnya masing-masing yang dinilai relevan bagi dunia usahanya. Terkait dengan ini, KCM pun tampaknya melakukan langkah serupa dengan media konvergensi Barat, tanpa memiliki rencana menutup maupun mengurangi bobot sekalipun masih mengalami kerugian. Dalam konteks ekonomi politik, ternyata dalam situasi tertentu seperti dalam era transformasi (misalnya seperti peralihan era masyarakat industri ke masyarakat informasi) sebagaimana dialami organisasi media news print, berdasarkan fenomena sebelumnya ternyata faktor struktur (berupa environment) tidak secara serta-merta dapat mempengaruhi the prime social agent untuk mengubah kebijakan spasialisasi yang telah diputuskannya. Terdapat beberapa alasan mengapa spasialisasi tadi tetap dipertahankan sekalipun masih terus merugikan pengelola organisasi media saat ini. Di antara alasan yang paling diyakini adalah bahwa spasialisasi melalui pola konvergensi media dinilai dapat menguatkan posisi marketing mereka. Selain itu, mereka juga yakin bahwa di masa mendatang pasar akan terus-menerus membaik. Namun demikian, optimisme yang demikian kiranya jadi bisa terganggu juga dengan munculnya fenomena spasialisasi yang muncul dari kalangan anggota masyarakat sejalan dengan perkembangan teknologi gadget seperti melalui pemunculan berbagai sistem operasi yang ada kini (I OS, Android OS atau Microsoft OS), dengan mana jadi memungkinkan bagi pemaksimalan fungsi smartphone yang ada saat ini. Pemaksimalan itu misalnya seperti menghadirkan keberadaan media konvergensi (mainstream media) seperti radio dan televisi di smartphone. Pemaksimalan ini dengan sendirinya dapat memaksimalkan pemediasian berbagai berita di berbagai smartphone yang dimiliki 17 individu masyarakat dan ini sebaliknya mengkondisikan akan berkurangnya news traffic acces media online seperti KCM. PENUTUP Kesimpulan Makalah tinjauan ini pada dasarnya bertujuan untuk menemukan gambaran tentang fenomena strukturasi dalam manajerial Organisasi KKG dan fenomena spasialisasi dalam Organisasi Kompas terkait perkembangan ICT. Berdasarkan hasil analisis data sekunder dapat disimpulkan bahwa terkait fenomena strukturasi, Jakob Oetama menjadi the prime social agent dalam struktur KKG. Sebagai the prime social agent, kedudukan dan peran Jacob Oetama bagi kemajuan KKG seperti sekarang ini, memiliki arti sangat penting. Dalam mengelola bisnis KKG, sebagai the prime social agent Jacob Oetama menerapkan prinsip manajemen kolektif.. Hingga kini hanya Jacob Oetama satu-satunya social agent dalam struktur KKG yang berhasil menjadi paku yang membuat harmonisme internal ala budaya Jawa tadi bisa terjaga secara ketat. Dalam kaitan status Jacob Oetama (the prime social agent) sebagai satusatunya pemimpin yang dinilai mampu dalam mengatasi problema dalam struktur KKG hingga saat ini, maka ”ketambunan” struktur organisasi KKG sebagai out put sistem manajemen kolektif tadi, tentunya bisa menjadi persoalan krusial bagi prospek bisnis organisasi KKG. Terkait dengan problem human agency dalam kaitan struktur KKG tadi, maka demi terjaganya prospek positif bagi bisnis KKG itu sendiri, tersedia banyak alternatif yang dapat memberikan solusi bagi krisis kepemimpinan. Dua diantara alternatif yang mungkin relevan dengan faktor yang melatarbelakangi problema tersebut, dalam konteks konsep strukturasi Giden, yakni terkait dengan faktor struktur itu sendiri : pertama, solusi yang disesuaikan menurut tradisi manajemen yang berlaku di KKG (internal). Namun dalam kaitan ini, tampaknya ada hambatan internal struktur yang mempengaruhi agen. Kedua, solusi yang disesuaikan dengan prinsip-prinsip manajemen organisasi modern yang aktual (eksternal). Dalam konteks teori ekonomi politik, mengacu pada konsep strukturasi, maka faktor human menentukan struktur. Faktor human yang wujudnya berupa para social agent itu terdiri dari beragam level dari lower hingga upper (higher) manager sesuai koordinatnya dalam nomenklatur struktur. Terkait struktur KKG, diketahui bahwa Jacob Oetama menjadi the prime social agent. Ada indikasi bahwa bahwa Jacob Oetama sebagai the prime social agent tetap dipertahankan dalam struktur KKG dengan gaya kepemimpinannya yang manajemen kolektif. sehubungan ketidaksiapan para agen lainnya menerima suksesi dalam struktur KKG sebagai the prime social agent. Kemudian berkaitan dengan fenomena spasialisasi : maka perkembangan ICT memiliki aspek positip dan negatip bagi media dalam konteks spasialisasi. Sisi positip mendukung upaya spasialisasi yang dilakukan media. Sisi negatipnya, bisa menjadi penghambat upaya spasialisasi yang akan dilakukan oleh organisasi media. Bermigrasinya struktur organisasi media Kompas dari konvensional ke digital dalam wujud KCM-nya menjadi indikasi kalau fenomena spasialisasi telah terjadi dalam struktur KKG. Fenomena spasialisasi ini di sisi lain bisa pula menjadi indikasi bahwa the prime social agent dalam struktur KKG dalam sedikit hal yang relatif bersifat force major ternyata bisa juga terpengaruh oleh struktur eksternal (perkembangan ICT). Dalam konteks ekonomi politik, dalam hubungan fenomena global terkait organisasi media, berindikasi bahwa pada hakikatnya faktor struktur eksternal (environtment : seperti 18 kemajuan ICT) itu sangat mempengaruhi para social agent dalam menstrukturisasi organisasinya. Kebijakan spasialisasi melalui konvergensi media, sekalipun masih mengalami kerugian, namun para pengelolanya tetap mempertahankan pola konvergensi media dengan adopsi modelnya masing-masing yang dinilai relevan bagi dunia usahanya. Terkait dengan ini, KCM pun tampaknya melakukan langkah serupa dengan media konvergensi Barat, tanpa memiliki rencana menutup maupun mengurangi bobot sekalipun masih mengalami kerugian. Terdapat beberapa alasan mengapa spasialisasi tadi tetap dipertahankan sekalipun masih terus merugikan pengelola organisasi media saat ini. Di antara alasan yang paling diyakini adalah bahwa spasialisasi melalui pola konvergensi media dinilai dapat menguatkan posisi marketing mereka. Selain itu, mereka juga yakin bahwa di masa mendatang pasar akan terus-menerus membaik. Namun demikian, optimisme yang demikian kiranya jadi bisa terganggu juga dengan munculnya fenomena spasialisasi yang muncul dari kalangan anggota masyarakat sejalan dengan perkembangan teknologi gadget seperti melalui pemunculan berbagai sistem operasi yang ada kini (I OS, Android OS atau Microsoft OS). Saran Tinjauan terkait keterhubungan menyangkut fenomena perkembangan ict, strukturasi, spasialisasi dan media cetak dalam konteks ekomomi politik ini dilakukan berdasarkan metode analisis data sekunder. Dengan begitu, upaya mereduksi fenomena dimaksud tentu menjadi terbatas. Karena itu, untuk pelaksaan penelitian sejenis di masamasa mendatang, kiranya perlu ditempuh dengan cara yan g lebih dalam lagi, misalnya melalui penelitian yang berbasiskan paradigma kritis. Ucapan Terima kasih : Penulis mengucapkan terimakasasih yang sebanyak-banyaknya kepada Bapak Satrio Arismunandar dan Bapak Bestian Nainggolan, dua dosen penulis selama kuliah di strata dua. Keduanya banyak membantu dalam menyiapkan data bagi keperluan perampungan karya tulis ini. DAFTAR PUSTAKA Baran, 2000) Mc Manus, John H.,1994,Market-Driven Journalism: Let the CitizenBeware?, California, Sage Publications, Chapter 11, p. 153. Mosco, Vincent.1996. The Political Economy of Communication. Sage Publication. Nainggolan, Bestian, 2006, Handout mata kuliah Perkembangan Teknik-teknik Jurnalistik, PPS Magister Ilmu Komunikasi, Jakarta, UPDM (B). Onggo, Bob Julius, dalam Warta Ekonomi, 09/Th. XVIII, 12 Mei, 2006, 70. Picard (1993), dalam Mc Manus, John H.,1994,Market-Driven Journalism: Let the CitizenBeware?, California, Sage Publications, Chapter 11. Schramm (1982), dalam Cangara, Hafied, Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1998. Straubbaar, Joseph and Robert LaRose, Media Now, Communications Media in the Information Age, Wadsworth, 2001. 19 Sukartono, 2000, dalam Manihuruk, Amin Sar, 2002, ”Medium Internet dan Penggunaannya oleh Pelajar”, dalam Jurnal Penelitian Pers dan Pendapat Umum, Vol. 6 (1), hal. 11, Jakarta, BPPI DKI Jakarta. Sumber Lain : Majalah Trust, 2006 : 13. ; www.wipo.int. ; Majalah Trust, 2006 : 15.; Bisnis Indonesia, 11 Juli 2006. AC Nielsen, dalam Majalah Trust, 2006 : 15. “Berkibar dengan Manajemen Kolektif” dalam Profil Pers Indonesia, 1996 : 32. Adiprasetyo,dalam Trust, 2006: 12. Bisnis Indonesia, 11 Juli 2006 Journalism_org- The State of the News Media 2006.htm 20

Judul: Fenomena Perkembangan Ict, Strukturasi, Spasialisasi Dan Media Cetak (tinjauan Ekonomi Politik)

Oleh: Hasyim Imran


Ikuti kami