Asuhan Keperawatan Pada Trauma Psikis/ Kejiwaan Pada Korban Bencana Oleh : Kelompok Vii

Oleh Agus Putra

219,2 KB 8 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Asuhan Keperawatan Pada Trauma Psikis/ Kejiwaan Pada Korban Bencana Oleh : Kelompok Vii

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TRAUMA PSIKIS/ KEJIWAAN PADA KORBAN BENCANA OLEH : KELOMPOK VII Sr. Febiola Mantika Silaban Mariati Butar-butar Neno Tambunan Marton Sianturi Noni Naibaho David Samosir Novi Siregar Monika Sihotang PROGRAM STUDI NERS SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SANTA ELISABETH MEDAN 2016 KATA PENGANTAR Puji dan syukur kelompok ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunia-Nya kelompok dapat menyelesaikan tugas Makalah ini tepat pada waktunya. Adapun judul dari Makalah ini ialah: “Asuhan Keperawatan Pada Trauma Psikis/Kejiwaan Pada Korban Bencana”. Tidak lupa kelompok mengucapkan terima kasih pada dosen pembimbing atas bimbingan dan arahannya kolompok dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan baik. Kelompok menyadari bahwa tugas makalah ini masih jauh dari kesempurnaan oleh karena itu kelompok berharap agar dosen pembimbing memberikan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan makalah dikemudian hari. Atas perhatian dan kerjasamanya kolompok mengucapkan terima kasih. Medan, Maret 2016 Kelompok VII BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap orang pasti pernah mengalami kejadian yang hebat, mengejutkan, atau bahkan mengerikan. Kejadian-kejadian tersebut seringkali akan mengganggu kondisi kejiwaan. Salah satu peristiwa mengerikan yang mungkin dialami oleh seseorang adalah bencana alam. Dampak dari bencana selain merusak bangunan fisik juga dapat menimbulkan dampak psikologis. Bencana alam yang terjadi seringkali dapat menyebabkan trauma bagi para korban. Bencana alam yang berkepanjangan di dunia termasuk di Indonesia sepanjang tahun 2010, disebabkan oleh faktor alam yang berbeda. Dampak bencana alam tidak hanya mengakibatkan hilangnya harta benda tetapi juga nyawa masyarakat di wilayah bencana. Berdasarkan data dari 644 kejadian bencana di Indonesia total kerugian material diperkirakan mencapai lebih 15 trilyun rupiah. Kerugian tersebut meliputi kehilangan harta benda, kerusakan rumah-rumah masyarakat, sarana dan prasarana umum, lahan pertanian, perkebunan, peternakan, dan sebagainya. Selain itu juga menimbulkan kehilangan orang yang dicintai, trauma, dan timbuln ya gangguan kesehatan (Nugroho, 2010). Peristiwa traumatik dapat terjadi pada siapa saja. Seseorang bisa secara tiba-tiba mengalami bencana, baik karena bencana alam ataupun tindak kejahatan tertentu sehingga menyebabkan trauma. Peristiwa tersebut datang tanpa dapat diprediksi sebelumnya, sehingga kondisi psikologis menjadi terganggu. Reaksi terhadap suatu peristiwa dapat berbeda-beda pada setiap orang. Pada sebagian orang suatu bencana tidak menyebabkan trauma, tapi pada orang lain dapat menyebabkan trauma yang mendalam. Terkadang trauma menyebabkan seseorang tidak mampu menjalankan kesehariannya seperti yang biasanya dilakukan, bayangan akan peristiwa tersebut senantiasa kembali dalam ingatannya dan mengusiknya, ia juga merasa tak mampu untuk mengatasinya (Koentara, 2016). Jika berbicara tentang tindak kekerasan atau trauma, ada suatu istilah yang dikenal sebagai Post Traumatic Stress Disorderatau PTSD (gangguan stres pasca trauma) yaitu gangguan stres yang timbul berkaitan dengan peristiwa traumatis luar biasa. Misalnya, melihat orang dibunuh, disiksa secara sadis, korban kecelakaan, bencana alam, dan lainlain. PTSD merupakan gangguan kejiwaan yang sangat berat, karena biasanya penderita mengalami gangguan jiwa yang mengganggu kehidupannya (Koentara, 2016). Profesi keperawatan bersifat luwes dan mencakup segala kondisi, dimana perawat tidak hanya terbatas pada pemberian asuhan dirumah sakit saja melainkan juga dituntut mampu bekerja dalam kondisi siaga tanggap bencana. Situasi penanganan antara keadaan siaga dan keadaan normal memang sangat berbeda, sehingga perawat harus mampu secara skill dan teknik dalam menghadapi kondisi seperti ini (Anggi, 2010). Kegiatan pertolongan medis dan perawatan dalam keadaan siaga bencana dapat dilakukan oleh profesi keperawatan. Berbekal pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki seorang perawat bisa melakukan pertolongan siaga bencana dalam berbagai bentuk (Anggi, 2010). 1.1 Tujuan 1.1.1 Tujuan umum Mengetahui asuhan keperawatan pada trauma psikis/kejiwaan pada korban bencana 1.1.2 Tujuan khusus 1. Mengetahui masalah psikososial dan spiritual pada pengungsi. 2. Mengetahui intervensi pada fase kedaruratan akut (intervensi sosial, psikososial, spiritual). 3. Mengetahui intervensi pada fase konsolidasi (intervensi sosial, psikologis, spiritual). BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Teori 2.1.1 Trauma Trauma adalah sebuah respon emosi terhadap kejadian yang sangat buruk seperti kecelakaan, pemerkosaan, atau bencana alam. Trauma adalah reaksi fisik dan psikis yang bersifat stress buruk akibat suatu peristiwa, kejadian atau pengalaman spontanitas atau secara mendadak (tiba-tiba), yang membuat individu kaget, menakutkan, shock, tidak sadarkan diri yang tidak mudah hilang begitu saja dalam ingatan manusia. Sebagaimana yang disebutkan The American Psychological Association (2010), trauma as an emotional response to a terrible event like an accident, rape or natural disaster. 2.1.2 Jenis-jenis trauma Berdasarkan kajian psikologi (dalam Trauma: Deteksi Dini dan Penanganan awal, 2010) berikut ini adalah jenis-jenis trauma yang dilihat dari sifat dan sebab terjadinya trauma yaitu sebagai berikut : a. Trauma Psikologis Trauma ini adalah akibat dari suatu peristiwa atau pengalaman yang luar biasa, yang terjadi secara spontan (mendadak) pada diri individu tanpa berkemampuan untuk mengontrolnya (loss control and loss helpness) dan merusak fungsi ketahanan mental individu secara umum. Akibat dari jenis trauma ini dapat menyerang individu secara menyeluruh (fisik dan psikis). b. Trauma Neurosis Trauma ini merupakan suatu gangguan yang terjadi pada saraf pusat (otak) individu, akibat benturan-benturan benda keras atau pemukulan di kepala. Implikasinya, kondisi otak individu mengalami pendarahan, iritasi, dan sebagainya. Penderita trauma ini biasanya saat terjadi tidak sadarkan diri, hilang kesadaran, yang sifatnya sementara. c. Trauma Psikosis Trauma psikosis merupakan suatu gangguan yang bersumber dari kondisi atau problema fisik individu, seperti cacat tubuh, amputasi salah satu anggota tubuh, yang menimbulkan shock dan gangguan emosi. Pada saat-saat tertentu gangguan kejiwaan ini biasanya terjadi akibat bayang-bayang pikiran terhadap pengalaman atau peristiwa yang pernah dialaminya, yang memicu timbulnya histeris atau fobia. d. Trauma Diseases Gangguan kejiwaan jenis ini oleh para ahli ilmu jiwa dan medis dianggap sebagai suatu penyakit yang bersumber dari stimulus-stimulus luar yang dialami individu secara spontan atau berulang-ulang, seperti keracunan, terjadi pemukulan, teror, ancaman. 2.1.3 PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) Post-traumatic stress disorder (PTSD) adalah gangguan kecemasan yang dapat terbentuk dari sebuah peristiwa atau pengalaman yang menakutkan/mengerikan, sulit dan tidak menyenangkan dimana terdapat penganiayaan fisik atau perasaan terancam (American Psychological Association, 2004). Post-traumatic stress disorder (PTSD) adalah sebuah gangguan yang dapat terbentuk dari peristiwa traumatik yang mengancam keselamatan anda atau membuat anda merasa tidak berdaya (Smith & Segal, 2008). 2.1.4 Fase-fase PTSD Fase-fase keadaan mental pasca bencana: a. Fase Kritis Fase dimana terjadi gangguan stres pasca akut (dini/cepat) yangmana terjadi selama kira-kira kurang dari sebulan setelah menghadap bencana. Pada fase ini kebanyakan orang akan mengalami gejala-gejala depresi seperti keinginan bunuh diri, perasaan sedih mendalam, susah tidur,dan dapat juga menimbulkan berbagai gejala psikotik. b. Fase setelah kritis Fase dimana telah terjadi penerimaan akan keadaan yang dialami dan penstabilan kejiwaan, umumnya terjadi setelah 1 bulan hingga tahunan setelah bencana, pada fase ini telah tertanam suatu mindset yang menjadi suatu phobia/trauma akan suatu bencana tersebut (PTSD) sehingga bila bencana tersebut terulang lagi, orang akan memasuki fase ini dengan cepat dibandingkan pengalaman terdahulunya. c. Fase stressor Fase dimana terjadi perubahan kepribadian yang berkepanjangan (dapat berlangsung seumur hidup) akibat dari suatu bencana dimana terdapat dogma “semua telah berubah”. 2.1.5 Peristiwa traumatik yang dapat mengarah kepada munculnya PTSD termasuk: 1. Perang (War) 2. Pemerkosaan (Rape) 3. Bencana alam (Natural disasters) 4. Kecelakaan mobil / Pesawat (A car or plane crash) 5. Penculikan (Kidnapping) 6. Penyerangan fisik (Violent assault) 7. Penyiksaan seksual / fisik (Sexual or physical abuse) 8. Prosedur medikal - terutama pada anak-anak (Medical procedures - especially in kids). 2.1.6 Tiga kategori utama gejala yang terjadi pada PTSD Pertama, mengalami kembali kejadian traumatic (re-eksperience). Seseorang kerap teringat akan kejadian tersebut dan mengalami mimpi buruk tentang hal itu. Gejala flashback (merasa seolah-olah peristiwa tersebut terulang kembali), nightmares (mimpi buruk tentang kejadian-kejadian yang membuatnya sedih), reaksi emosional dan fisik yang berlebihan karena dipicu oleh kenangan akan peristiwa yang menyedihkan. Kedua, penghindaran (avoidance) stimulus yang diasosiasikan dengan kejadian terkait atau mati rasa dalam responsivitas. Orang yang bersangkutan berusaha menghindari untuk berpikir tentang trauma atau menghadapi stimulus yang akan mengingatkan akan kejadian tersebut, dapat terjadi amnesia terhadap kejadian tersebut. Mati rasa adalah menurunnya ketertarikan pada orang lain, suatu rasa keterpisahan dan ketidak mampuan untuk merasakan berbagai emosi positif. Gejala ini menunjukkan adanya penghindaran aktivitas, tempat, berpikir, merasakan, atau percakapan yang berhubungan dengan trauma. Selain itu, juga kehilangan minat terhadaps emua hal, perasaan terasing dari orang lain, dan emosi yang dangkal. Ketiga, gejala ketegangan (hyperarousal). Gejala ini meliputi sulit tidur atau mempertahankannya, sulit berkonsentrasi, wasapada berlebihan, respon terkejut yang berlebihan, termasuk meningkatnya reaktivitas fisiologis. 2.1.7 Dampak PTSD Gangguan stress pascatraumatik ternyata dapat mengakibatkan sejumlah gangguan fisik, kognitif,emosi,behavior (perilaku),dan sosial. Gejala gangguan fisik:  pusing,  gangguan pencernaan,  sesak napas,  tidak bisa tidur,  kehilangan selera makan,  impotensi, dan sejenisnya. Gangguan kognitif:  gangguan pikiran seperti disorientasi,  mengingkari kenyataan,  linglung,  melamun berkepanjangan,  lupa,  terus menerus dibayangi ingatan yang tak diinginkan,  tidak fokus dan tidak konsentrasi.  tidak mampu menganalisa dan merencanakan hal-hal yang sederhana,  tidak mampu mengambil keputusan. Gangguan emosi :  halusinasi dan depresi (suatu keadaan yang menekan, berbahaya, dan memerlukan perawatan aktif yang dini),  mimpi buruk,  marah,  merasa bersalah,  malu,  kesedihan yang berlarut-larut,  kecemasan dan ketakutan. Gangguan perilaku :  menurunnya aktivitas fisik, seperti gerakan tubuh yang minimal. Contoh, duduk berjam-jam dan perilaku repetitif (berulang-ulang). Gangguan sosial:  memisahkan diri dari lingkungan,  menyepi,  agresif,  prasangka,  konflik dengan lingkungan,  merasa ditolak atau sebaliknya sangat dominan. 2.1.8 Pandangan hukum tentang PTSD UU No 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang berisi hak dan kewajiban pemerintah dan masyarakat saat bencana maupun pasca bencana. Salah satu pasalnya yaitu pasal 26 menyatakan bahwa setiap orang berhak: a. Mendapat perlindungan sosial dan rasa aman bagi kelompok masyarakat yang rentan bencana. b. Mendapat pendidikan, pelatihan, ketrampilan dalam penyelenggaraan penaggulangan bencana. 2.1.9 Peran pemerintah Dalam mengatasi trauma psikologis pada anak dan perempuan telah dan akan dilanjutkan pelayanan trauma konseling melalui women trauma center dan children center, sekaligus untuk mencegah terjadinya tindak kekerasan dan perdagangan anak, dengan dibentuknya Gugus Tugas Anti-trafficking dan Pencegahan Tindak Kekerasan. Di samping itu, juga perlu terus dilakukan upaya untuk mempertemukan kembali anakanak dengan keluarganya dilakukan melalui kegiatan ”reunifikasi keluarga”, sejalan dengan terus mengupayakan pemulihan spiritual (spiritual healing), pemulihan emosional (emotional healing) terhadap kejadian traumatik yang dihadapi dengan memberikan semangat hidup dan bangkit kembali menjadi sangat penting, penyembuhan fisik (physical healing); dan penyembuhan terhadap kemampuan otak manusia (intelligential healing). 2.1.10 Dampak Spiritual pada Korban Bencana Manusia sebagai makhluk yang utuh atau holistik memiliki kebutuhan yang kompleks yaitu kebutuhan biologis, psikologis, sosial kultural dan spiritual. Spiritual digambarkan sebagai pengalaman seseorang atau keyakinan seseorang, dan merupakan bagian dari kekuatan yang ada pada diri seseorang dalam memaknai kehidupannya. Spiritual juga digambarkan sebagai pencarian individu untuk mencari makna. Forman (1997) menyatakan bahwa spiritual menggabungkan perasaan dari hubungan dengan dirinya sendiri, dengan ornag lain dan dengan kekuatan yang lebih tinggi. Kejadian bencana dapat merubah pola spiritualitas seseorang. Ada yang bertambah meningkat aspek spiritualitasnya ada pula yang sebaliknya. Bagi yang meningkatkan aspek spiritualitasnya berarti mereka meyakini bahwa apa yang terjadi merupakan kehendak dan kuasa sang pencipta yang tidak mampu di tandingi oleh siapapun. Mereka mendekat dengan cara mendekatkan spiritualitasnya supaya mendapatkan kekuatan dan pertolongan dalam menghadapi bencana atau musibah yang dialaminya. Sedangkan bagi yang menjauh umumnya karena dasar keimanan atau keyakinan terhadap sang pencipta rendah atau kaarena putus asa 2.1.11 Dampak Psikososial pada Korban Bencana Berdasarkan hasil penelitian empiris, dampak psikologis dari bencana dapat diketahui berdasarkan tiga faktor yaitu faktor pra bencana, faktor bencana dan faktor pra bencana (Tomoko, 2009) : 1) Faktor pra bencana : dampak psikologi pada faktor pra bencana ini dapat ditinjau dari beberapa hal dibawah ini ; a) Jenis kelamin : perempuan mempunyai resiko lebih tinggi terkena dampak psikologis dibanding laki-laki dengan perbandingan 2:1. b) Usia dan pengalaman hidup : kecenderungan kelompok usia rentan stres masing-masing negara berbeda karena perbedaan kondisi sosial politik ekonomi dan latar belakang sejarah negara yang bersangkutan. c) Faktor budaya, ras, karakter khas etnis : Dampak yang ditimbulkan bencana ini lebih besar di negara berkembang dibandingkan dengan negara maju. Pada kelompok usia muda tidak ada gejala khas untuk etnis tertentu baik pada etnis mayoritas maupun etnis minoritas, sedangkan pada kelompok usia dewasa, etnis minoritas cenderung mengalami dampak psikologis dibanding mayoritas. d) Sosial Ekonomi : Dampak bencana pada individu berbeda menurut latar belakang pendidikan, proses pembentukan kepribadian, penghasilan dan profesi. Individu dengan kedudukan sosio ekonomi yang rendah akan mengalami stress pasca trauma lebih berat. e) Keluarga : Pengalaman bencana akan mempengaruhi stabilitas keluarga seperti tingkat stress dalam perkawinan, posisi sebagai orang tua terutama orang tua perempuan. f) Tingkat kekuatan Mental dan kepribadian : Hampir semua hasil penelitian menyimpulkan bahwa kondisi kesehatan mental pra bencana dapat dijadikan dasar untuk memprediksi dampak patologis pasca bencana. Individu dengan maslah kesehatan jiwa akan mengalami stress yang lebih berat dibandingkan dengan individu dengan kondisi psikologis yang stabil. 2) Faktor bencana : pada faktor ini, dampak psikologis dapat ditinjau dari beberapa hal dibawah ini ; a) Tingkat keterpaparan : Keterpaparan seseorang akan masalah yang dihadapi merupakan variabel penting untuk memprediksi dampak psikologis korban bencana. b) Ditinggal mati oleh sanak keluarga atau sahabat. c) Diri sendiri atau keluarga terluka. d) Merasakan ancaman keselamatan jiwa atau mengalami kekuatan yang luar biasa. e) Mengalami situasi panik pada saat bencana f) Pengalaman berpisah dengan keluarga terutama pada korban usia muda g) Kehilangan harta benda dalam jumlah besar h) Pindah tempat tinggal akibat bencana i) Bencana yang menimpa seluruh komunitas. Hal ini mengakibatkan rasa kehilangan pada individu dan memperkuat perasaan negatif dan memperlemah perasaan positif. Semakin banyak fakltor yang diatas, maka akan semakin berat gangguan jiwa yang dialami korban bencana. Apalagi pada saat-saat seperti ini mereka cenderung menolak intervensi tenaga spesialis, sehingga menghambat perbaikan kualitas hidup pasca bencana. 3) Faktor pasca bencana : dampak psikologis pasca bencana dapat diakibatkan oleh kegiatan tertentu dalam siklus kehidupan stress kronik pasca bencana yang terkait dengan kondisi psykitrik korban bencana. Hal ini perlu adanya pemantuan dalam jangka panjang oleh tenaga spesialis.Gejala dan dampak psikologis pasca bencana juga dapat dilihat dari daftar gejala Hopkins untuk mengetahui adanya depresi dan kecemasan. Gejala-gejala Hopkins tersebut meliputi perasaan depresi, minat atau rasa senang yang kurang. Gejala perasaan depresi meliputi menangis, merasa tidak ada harapan untuk masa depan, merasa galau dan merasa kesepian. 2.2 Konsep Keperawatan 2.2.1 Pengkajian Pengkajian untuk klien dengan PTSD meliputi empat aspek yang akan bereaksi terhadap stress akibat pengalaman traumatis, yaitu : a. Pengkajian Perilaku (Behavioral Assessment) Yang dikaji adalah: 1. Dalam keadaan yang bagaimana klien mengalami perilaku agresif yang berlebihan. 2. Dalam keadan yang seperti apa klien mengalami kembali trauma yang dirasakan. 3. Bagaimana cara klien untuk menghindari situasi atau aktifitas yang akan mengingatkan klien terhadap trauma. 4. 5. Seberapa sering klien terlibat aktivitas sosial. Apakah klien mengalami kesulitan dalam masalah pekerjaan semenjak kejadian traumatis. b. 1. Pengkajian Afektif (Affective Assessment) Berapa lama waktu dalam satu hari klien merasakan ketegangan dan perasaan ingin cepat marah. 2. Apakah klien pernah mengalami perasaan panik. 3. Apakah klien pernah mengalami perasaan bersalah yang berkaitan dengan trauma. 4. Tipe aktivitas yang disukai untuk dilakukan. 5. Apa saja sumber - sumber kesenangan dalam hidup klien. 6. Bagaima hubungan yang secara emosional terasa akrab dengan orang lain c. Pengkajian Intelektual (Intellectual Assessment) 1. Kesulitan dalam hal konsentrasi. 2. Kesulitan dalam hal memori. 3. Berapa frekuensi dalam satu hari tentang pikiran yang berulang yang berkaitan dengan trauma. 4. Apakah klien bisa mengontrol pikiran-pikiran berulang tersebut 5. Mimpi buruk yang dialami klien. 6. Apa yang disukai klien terhadap dirinya dan apa yang tidak disukai klien terhadap dirinya. d. Pengkajian Sosiokultural (Sociocultural Assessment) 1. Bagaimana cara keluarga dan teman klien menyampaikan tentang perilaku klien yang menjauh dari mereka. 2. Pola komunikasi antara klien dengan keluarga dan teman. 3. Apa yang terjadi jika klien kehilangan kontrol terhadap rasa marahnya. 4. Bagaimana klien mengontrol kekerasan terhadap sistem keluarganya. 2.2.2 Diagnosa Keperawatan 1. Ansietas b/d Krisis situasiona 2. Koping Defensif b/d Kurangnya system dukungan 3. Ketakutan b/d berasal dari dlaam (neurotransmitter) 4. Duka cita b/d kematian orang terdekat 5. Resiko sindrom pasca trauma b/d bencana 6. Sindrom stress akibat perpindahan b/d pindah dari satu lingkungan ke lingkungan lain 2.2.3 Intervensi keperawatan 1. Ansietas (00146) Domain 9 : Koping/toleransi stress Kelas 2 : Respons koping Definisi : perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran yang samar disertai respons autonom (sumber sering kali tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu); perasaan takut yang disebabkan oleh antisipasi terhadap bahaya. Hal ini merupakan isyarat kewaspadaan yang memperingatkan individu akan adanya bahaya dan memampukan individu untuk bertindak menghadapi ancaman. Batasan karakteristik Perilaku  Penurunan produktivitas  Gerakan yang irelevan  Gelisah  Melihat sepinyas  Insomnia  Kontak mata yang buruk  Mengekspresikan kekhawatiran karena perubahan dalam peristiwa hidup  Agitasi  Mengintai  Tampak waspada Afektif  Mulut kering  Gelisah  Wajah merah  Kesedihan yang mendalam  Jantung berdebar-debar  Distress  Pupil melebar  Ketakutan  Lemah  Perasaan yang tidak adekuat Parasimpatik  Berfokus pada diri sendiri  Nyeri abdomen  Gugup  Penurunan denyut nadi  Senang berlebihan  Vertigo  Menyesal  Letih  Bingung  Mual  Khawatir  Gangguan tidur Fisiologis Kognitif  Wajah tegang  Menyadari gejala kognitif  Tremor tangan  Bloking pikiran  Peningkatan keringat  Konfusi  Peningkatan ketegangan  Lupa  Suara bergetar  Melamun Simpatik  Gangguan perhatian  Anorexio  Cenderung menyalahkan orang lain  Diare Faktor yang berhubungan  Perubahan dalam:  Status ekonomi  Lingkungan  Status kesehatan  Pola interaksi  Fungsi peran  Status peran  Pemajanan toksin  Terkait keluarga  Herediter  Infeksi  Penularan penyakit interpersonal  Krisis maturasi  Krisis situasional  Stress  Penyalahgunaan zat  Ancaman kematian  Ancaman pada:  Satatus ekonomi  Lingkungan  Status kesehatan  Pola interaksi  Fungsi peran  Status peran  Konsep diri  Konflik yang tidak disadari mengenai tujuan penting  Kebutuhanyangtidakdipenuhi. NOC: Anxiety Self – Control (1402) Setelah dilakukan tindakan Keperawatan selama 3 x 24 jam nyeri dapat teratasi dengan indikator:  (140201) monitor intensitas dari ansietas  (140206) gunakan strategi koping efektif  (140207) menggunakan teknik relaksasi untuk menurunkan ansietas NIC: Anxiety Reduction (5820)  Gunakan pendekatan yang menenangkan  Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pelaku pasien  Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur  Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi takut  Berikan informasi faktual mengenai diagnosis, tindakan prognosis  Libatkan keluarga untuk mendampingi klien  Instruksikan pada pasien untuk menggunakan tehnik relaksasi  Dengarkan dengan penuh perhatian  Identifikasi tingkat kecemasan  Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan, persepsi  Kelola pemberian obat anti cemas 2. Ketakutan (00148) Domain 9 : koping/ toleransi stress kelas 2 : respons koping Defenisi : respons terhadap persepsi ancaman yang secara sadar dikenali sebagai sebuah bahaya. Batasan karakteristik:  Melaporkan isyarat/ peringatan  Melaporkan kegelisahan  Melaporkan rasa takut  Melaporkan penurunan kepercayaan diri  Melaporkan ansietas  Melapokan kegembiraan  Melaporkan peningkatan ketegangan  Melaporkan kepanikan  Melaporkan terror Fakor yang berhubungan:  Berasal dari luar (mis: kebisingan tiba-tiba, ketinggian, nyeri, penurunan dukungan fisik)  Berasal dari dalam (neurotransmiter)  Kendala bahasa  Stimulus fobik  Gangguan sensorik  Berpisah dari system pendukung dalam situasi yang berpotensi menimbulkan stress  Tidak familier dengan pengalaman lingkungan. NOC : Anxiety control, Fear control Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama......takut klien teratasi dengan kriteria hasil :  Memiliki informasi untuk mengurangi takut  Menggunakan tehnik relaksasi  Mempertahankan hubungan sosial dan fungsi peran  Mengontrol respon takut NIC: Coping Enhancement  Jelaskan pada pasien tentang proses penyakit  Jelaskan semua tes dan pengobatan pada pasien dan keluarga  Sediakan reninforcement positif ketika pasien melakukan perilaku untuk mengurangi takut  Sediakan perawatan yang berkesinambungan  Kurangi stimulasi lingkungan yang dapat menyebabkan misinterprestasi  Dorong mengungkapkan secara verbal perasaan, persepsi dan rasa takutnya  Perkenalkan dengan orang yang mengalami penyakit yang sama  Dorong klien untuk mempraktekan tehnik relaksasi 3. Koping Defensif (00071) Domain 9 : Koping/ Toleransi Stres Kelas 2 : Respons Koping Defenisi : Proyeksi evaluasi- diri positif yang salah dan berulang yang didasarkan pada pola perlindungan-diri untuk bertahan terhadap ancaman yang dirasakan terhadap ancaman yang dirasakan terhadap harga diri yang positif Batasan Karakteristik:  Penyangkalan masalah yang jelas terjadi  Penyangkalan kelemahan yang jelas terjadi  Kesulitan membina hubungan  Kesulitan memelihara hubungan  Kesulitan dalam persepsi pengujian  Waham kebesaran  Tertawa menghina  Hipersensitif terhadap kritik realita  Hipersensitif terhadap ejekan/ penghinaan  Tidak komplet menjalani terapi  Tidak adekuat menjalani pengobatan  Kurang partisipasi dalam terapi  Sedikit partisipasi dalam menjalani  Proyeksi menyalahkan diri  Proyeksi tanggung jawab  Rasionalisasi kegagalan  Distorsi realitas  Menghina orang lain  Sikap superior terhadap orang lain. pengobatan Faktor yang berhubungan:  Konflik antara persepsi diri dan sistem nilai  Kurangnya system dukungan  Takut gagal  Takut akan penghinaan  Takut akan karma  Kurangnya penyesuaian  Tingkat kepercayaan yang rendah pada orang lain  Tingkat kepercayaan diri rendah  Ragu/ tidak percaya  Harapan diri yang tidak realistic NOC: Kriteria hasil:  Mengungkapkan kemampuan untuk menaggulangi dan meminta bantuan jika perlu  Menunjukkan kemampuan untuk memecahkan masalah dan ikut serta bermasyarakat  Mempertahankan bebas dari perilaku yang destruktif pada diri sendiri maupun orang lain  Mengkomunikasikan kebutuhan dan berunding dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhan  Mendiskusikan bagaimana tekanan kehidupan yang ada melebihi strategi penanggulangan yang normal  Menemukan kecepatan penyakit dan kecelakaan tidak melebihi tingkat perkembangan dan usia NIC: Nursing Therapeutic Intervention (Intervensi Terapeutik Perawat)  Amati penyebab tidak efektifnya penaggulanagn seperti konsep diri yang buruk, kesedihan, kurangnya ketrampilan dalam memecahkan masalah, kurangnya dukungan, atau perubahan yang ada dalam hidup.  Amati kekuatan seperti kemampuan untuk menceritakan kenyataan dan mengenali sumber tekanan  Monitor risiko membahayakan diri atau orang lain dan tangani secara tepat  Bantu pasien menentukan tujuan yang realistis dan mengenali ketrampilan dan pengetahuan pribadi  Gunakan komunikasi empatik, dan dorong pasien/keluarga untuk mengungkapkan ketakutan, mengekspresikan emosi, dan menetapkan tujuan  Anjurkan pasien untuk membuat pilihan dan ikut serta dalam perencanaan perawatan dan aktivitas yang terjadwal  Berikan aktivitas fisik dan mental yang tidak melebihi kemampuan pasien (misal bacaan, televisi, radio, ukiran, tamasya, bioskop, makan keluar, perkumpulan sosial, latihan, olahraga, permainan)  Jika memiliki kemampuan fisik, anjurkan latihan aerobik yang sedang  Gunakan sentuhan dengan izin. Berikan pasien pijatan punggung berupa usapan perlahan dan berirama dengan tangan. Gunakan 60 kali usapan dalam semenit selama 3 menit pada luasan 2 inchi pada kedua sisi mulai dari daerah atas ke bawah  4. Berikan informasi perihal perawatan sebelum perawatan diberikan Duka Cita (00136) Domain 9 : Koping/Toleransi Stres Kelas 2 : Respons Koping Defenisi : Proses kompleks normal yang meliputi respons dan perilaku emosional, fisik, spiritual, sosial, dan intelektual yakni individu, keluarga, dan komunitas memasukan kehilangan yang actual, adaptif, atau dipersepsikan ke dalam kehidupan sehari-hari mereka. Batasan Karakteristik:  Perubahn tingkat aktivitas  Perubahan pola mimpi  Perubahan fungsi imun  Gangguan fungsi neuroendokrin  Marah  Menyalahkan  Berpisah/ menarik diri  Putus asa  Disorganisasi/kacau  Gagngguan pola tidur  Mengalami kelegaan  Memelihara hubungan dengan almarhum/ah  Membuat makna kehilangan  Kepedihan  Perilaku panic  Pertumbuhan personal  Distress psikologis  Menderita Faktor yang Berhubungan  Mengantisipasi kehilangan hal yang bermakna  Mengantisipasi kehilangan orang terdekat  Kematian orang terdekat  Kehilangan objek penting NOC: Resolusi dukacita (1304)  Mampu mengespresikan kepercayaaan dengan kematian  Menggambarkan tentang kehilangan  Partisipasi dalam perencanaan NIC: Fasilitasi Pendampingan dukacita (5290)  Kaji persepsi klien dan makna kehilangannya. Izinkan penyangkalan yang adaptif.  Dorong atau bantu klien untuk mendapatkan dan menerima dukungan.  Dorong klien untuk mengkaji pola koping pada situasi kehilangan masa lalu saat ini.  Dorong klien untuk meninjau kekuatan dan kemampuan personal.  Dorong klien untuk merawat dirinya sendiri.  Tawarkan makanan kepada klien tanpa memaksanya untuk makan.  Gunakan komunikasi yang efektif.  Tawarkan kehadiran dan berikan pertanyaan terbuka  Gunakan refleksi  Berikan informasi  Nyatakan keraguan  Gunakan teknik menfokuskan  Berupaya menerjemahkan dalam bentuk perasaan atau menyatakan hal yang tersirat 5.  Bina hubungan dan pertahankan keterampilan interpersonal  Kehadiran yang penuh perhatian  Menghormati proses berduka klien yang unik  Menghormati keyakinan personal klien Risiko Sindrom Pasca Trauma (00145) Domain 9 :Koping/Toleransi Stress Kelas 1 :Respon Pascatrauma Definisi:Berisiko Mengalami respon maladaftif yang terus menerus terhadap peristiwa traumatitis dan memilukan faktor resiko:  Penurunan kekuatan ego  Pindah rumah. kebakaran, petugas penyelamat,  Durasi peristiwa. staf unit gawat darurat, petugas  Rasa tanggung jawab yang kesehatan jiwa, tenaga reparasi).   Pekerjaan (Mis.,Polisi pemadam berlebihan.  Persepsi peristiwa. Dukungan sosial yang tidak  Parah sebagai orang yang selamat dalam peristiwa. adekuat.  Lingkungan yang tidak mendukung NOC: Spiritual Health (2001)  Quality Of Faith (200101)  Quality Of Hope (200102)  Makna dan Tujuan Hidup (200103) NIC : Dukungan Rohani (5420)  Menggunakan komunikasi untuk membangun kepercayaan dan terapi empatik peduli  Mengobati individu dengan martabat dan menghormati  Mendorong melalui meninjau kehidupan melalui kenang-kenangan  Memberikan privasi dan tenang kali untuk activitas rohani  Mendorong partisipasi dalam kelompok pendukung  Mengajari metode relaksasi , meditasi , citra dan memberinya petunjuk  Berdoa dengan sendiri  Selalu terbuka untuk individu ekspresi perhatian  Mengungkapkan perasaan empati secara pribadi  Tersedia untuk mendengarkan individu perasaan 6. Sindrom Stress Akibat Perpindahan 00114 Domain 9 : Koping / Toleransi stress Kelas : Respon pascatrauma. Defenisi : Gangguan fisiologis dan atau psikososial setelah pindah dari satu lingkungan ke lingkungan lain. Batasan karakteristik  Perasaan asing  Frustasi  Merasa sendirian  Perburukan penyakit  Marah  Peningkatan gejala fisik  Ansietas (mis., perpisahan)  Peningkatan verbalisasi kebutuhan  Harga diri rendah kronik  Ketidakpercayaan diri  Khawatir terhadap perpindahan  Kesepian  Perasaan ketergantungan  Kehilangan identitas  Depresi  Kehilangan harga diri  Takut  Kehilangan penghargaan terhadap  Mengatkan tidak bersedia pindah diri  Menarik diri  Pesimisme  Khawatir.  Gangguan tidur Faktor yang berhubungan  Penerunan status kesehatan  Gangguan kesehatan psikososial  Isolasi  Kurang sistem dukungan yang adekuat  Kurangnya konseling pra keberangkatan  Kendala bahasa  Tersesat  Pindah dari satu lingkungan ke lingkungan lain.  Koping pasif  Menyatakan perasaaan tidak berdaya NOC: Stress level (1212)  Depresi (121221)  Kegelisahan (121222) NIC: Pengurangan Kecemasan Stres (Stress Anxiety Reduction) (5820)  Menggunakan pendekatan meyakinkan membuat pasien tenang  Tetap bersama pasien untuk keamanan dan mengurangi rasa takut  berusaha untuk memahami pasien dari situasi stres  Memberikan informasi berdasarkan fakta  Mendengarkan dengan perhatian  Memberi dukungan untuk mekanisme koping pasien  Membantu pasien mengenali situasi yang memicu kecemasan  Mengidentifikasi pasien ketika mengalami perubahan tingkat kecemasan  Mendorong verbalisasi perasaan persepsi dan ketakutan  Mendorong keluarga untuk tetap berada di dekat pasien BAB 3 PENUTUP 3.1 Kesimpulan Bencana merupakan sebagai peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam dan/ atau faktor non- alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Bencana menimbulkan trauma psikologis bagi semua orang yang mengalaminya. Peran perawat sangatlah penting pada kasus ini. Peran perawat sangat berguna untuk memberikan asuhan keperawatan yang sesuai dengan standar keperawatan dan kode etik dalam menangani pasien dengan Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) pasca bencana alam. Dan diharapkan kepada pembaca dan penulis bisa lebih memahami materi mengenai penyakit dengan Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) pasca bencana alam dilihat dari perbandingan data di lahan dan konsep teori yang sesungguhnya. 3.2 Saran Dengan mempelajari Asuhan keperawatan dengan Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) diharapkan mahasiswa/I mampu melakukan asuhan keperawatan meliputi pengkajian, diagnose, intervensi, dan implementasi sesuai dengan kebutuhan pasien dalam keadaan bencana alam. DAFTAR PUSTAKA Efendi, Ferry.Keperawatan Kesehatan Komunitas Teori dan praktik dalam keperawatan. Jakarta. Penerbit Salemba Medika,2009. Herdman, T. heather. 2011. Diagnose Keperawatan 2015-2017. Jakarta: EGC Koentara.(2006).MenanganiKasusBencana(online)(http://www.dispsiad.mil.id/ index.php/en/publikasi/artikel/221-post-traumatic-stress-disorder-ptsddiakses 09 Mar 2016) Mccloskey, Joanne. 2004. Nursing intervention classification. St. Louis, Missouri Moorhead, Sue. 2004. Nursing outcomes classification. St. Louis, Missouri Pratiwi, Anggi. 2010. PTSD (Post Traumatic Stress Disolder). (online)(www. Scribd. Com/doc/41221173/askep-PTSD. Pada tanggal 5Mei 2011)

Judul: Asuhan Keperawatan Pada Trauma Psikis/ Kejiwaan Pada Korban Bencana Oleh : Kelompok Vii

Oleh: Agus Putra


Ikuti kami