Asuhan Keperawatan Pada Tn .n Dengan Post Open Reduction Internal Fixation (orif) Fraktur Femur

Oleh Sukmara Wiratama

528,3 KB 8 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Asuhan Keperawatan Pada Tn .n Dengan Post Open Reduction Internal Fixation (orif) Fraktur Femur

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN .N DENGAN POST OPEN REDUCTION INTERNAL FIXATION (ORIF) FRAKTUR FEMUR Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Perioper atif AKADEMI KEPERAWATAN NOTOKUSUM O YOGYAKARTA 2016 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Saat ini siapa yang tak kenal dengan kendaraan transportasi baik itu pribadi atau umum. Bahkan saat ini tak jarang orang tua membolehkan anak-anaknya menggunakan kendaraan pribadi seperti motor, mereka pun tak takut menjalankannya dijalan raya. Seiring banyaknya kendaraan pribadi ataupun umum banyak juga kejadian negatif karenanya. Terutama kecelakaan lalu lintas seperti kecelakaan sesama pengendara motor, motor dengan mobil atau lainnya. Akibat dari kecelakaan yang terjadi yaitu kematian, cacat, dan juga fraktur. Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, retak atau patahnya tulang yang utuh, yang biasanya disebabkan oleh trauma /ruda paksa atau tenaga fisik yang ditentukan jenis dan luasnya trauma (Lukman dan Nurma, 2009). Fraktur bisa terjadi di bagian tubuh kita dimanapun itu, salah satunya adalah fraktur femur. Fraktur femur didefinisikan sebagai hilangnya kontinuitas tulang paha, kondisi fraktur femur secara klinis bisa berupa fraktur femur terbuka yang disertai adanya kerusakan jaringan lunak (otot, kulit, jaringan saraf, dan pembuluh darah) dan fraktur femur tertutup yang dapat disebabkan oleh trauma langsung pada paha (Zairin, 2012). Berdasarkan hasil riset oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2007), di Indonesia terjadi kasus fraktur yang disebabkan oleh cedera antara lain karena jatuh, kecelakaan lalu lintas dan trauma benda tajam atau tumpul. Dari 45.987 peristiwa terjatuh yang mengalami fraktur sebanyak 1.775 orang atau 3,8%, dari 20.829 kasus kecelakaan lalu lintas, yang mengalami fraktur sebanyak 1.770 orang atau 8,5%, dari 14.127 trauma benda tajam/tumpul yang mengalami fraktur sebanyak 236 orang atau 1,7% (Juniartha, 2007). Maka dari itu dengan meningkatnya jumlah kendaraan dan kecelakaan lalu lintas kita sebaiknya lebih berhati – hati dalam berkendara untuk menghindari berbagai efek buruk. B. Tujuan Adapun tujuan dari makalah ini yaitu: 1. Untuk mengetahui konsep dasar dari fraktur femur 2. Untuk mengetahui asuhan keperawatan dari fraktur femur BAB II KONSEP DASAR FRAKTUR FEMUR A. Pengertian Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer, 2007). Fraktur merupakan suatu keadaan dimana terjadi di istregritas tulang, penyebab terbanyak adalah insiden kecelakaan tetapi faktor lain seperti proses degenerative juga dapat berpengaruh terhadap kejadian fraktur (Brunner & Suddarth, 2008). Fraktur femur juga didefinisikan sebagai hilangnya kontinuitas tulang paha, kondisi fraktur femur secara klinis bisa berupa fraktur femur terbuka yang disertai adanya kerusakan jaringan lunak (otot, kulit, jaringan saraf dan pembuluh darah) dan fraktur femur tertutup yang dapat disebabkan oleh trauma langsung pada paha (Helmi, 2012). Fraktur femur didefinisikan sebagai hilangnya kontinuitas tulang paha, kondisi fraktur femur secara klinis bisa berupa fraktur femur terbuka yang disertai adanya kerusakan jaringan lunak (otot, kulit, jaringan saraf, dan pembuluh darah) dan fraktur femur tertutup yang dapat disebabkan oleh trauma langsung pada paha (Zairin, 2012). Dari beberapa penjelasan tentang fraktur femur diatas, dapat disimpulkan bahwa fraktur femur merupakan suatu keadaan dimana terjadi kehilangan kontinuitas tulang femur yang dapat disebabkan oleh trauma langsung maupun trauma tidak langsung dengan adanya kerusakan jaringan lunak. B. Etiologi Etiologi fraktur menurut Muttaqin, A (2008), Fraktur dapat terjadi akibat adanya tekanan yang melebihi kemampuan tulang dalam menahan tekanan. Tekanan pada tulang dapat berupa tekanan berputar yang menyebabkan fraktur bersifat spiral atau oblik, tekanan membengkok yang menyebabkan fraktur transversal, tekanan sepanjang aksis tulang yang menyebabkan fraktur impaksi, dislokasi, atau fraktur dislokasi, kompresi vertical dapat menyebabkan fraktur kominutif atau memecah, misalnya pada badan vertebra, talus, atau fraktur buckle pada anak-anak. Fraktur disebabkan oleh pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan puntir mendadak, dan bahkan kontraksi otot ekstrem. Umumnya fraktur disebabkan oleh trauma di mana terdapat tekanan yang berlebihan pada tulang. Fraktur cenderung terjadi pada laki-laki, biasanya fraktur terjadi pada umur di bawah 45 tahun dan sering berhubungan dengan olahraga, pekerjaan, atau luka yang disebabkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor. Pada orang tua, perempuan lebih sering mengalami fraktur daripada laki-laki yang berhubungan dengan meningkatnya insiden osteoporosis yang terkait dengan perubahan hormone pada menopause. C. Manifestasi klinis Tanda dan gejala fraktur femur umumnya antara lain (Helmi, 2012) : 1. Nyeri Terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang dimobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai alamiah yang dirncang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen tulang. 2. Kehilangan fungsi. 3. Deformitas Daya tarik kekuatan otot menyebabkan fragmen tulang berpindah kekuatan otot menyebabkan fragmen tulang berpindah dari tempatnya. 4. Pemendekan ekstermitas karena kontraksi otot. Terjadi pada fraktur panjang, karena kontraksi otot yang melekat di atas dan dibawah tempat fraktur. 5. Krepitasi. Akibat gerakan fragmen satu dengan yang lainnya. 6. Pembengkakan. 7. Perubahan warna lokal pada kulit yang terjadi akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. D. Manifestasi kinis post open reduction internal fixation (ORIF) Tanda dan gejala post open reduction internal fixation (ORIF) umumnya antara lain (Appley, 2005) : 1. Nyeri, terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang dimobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen tukang 2. Deformitas dapat di sebabkan pergeseran fragmen pada eksremitas. Deformitas dapat di ketahui dengan membandngkan dengan ekstremitas normal. Ekstremitas tidak dapat berfungsidengan baik karna fungsi normal otot bergantung pada integritas tulang tempat melekatnya otot 3. Pemendekan tulang, karena kontraksi otot yang melekat di atas dan di bawah tempat fraktur. Fragmen sering melingkupi satu sama lain sampai 2,5 sampai 5,5 cm 4. Krepitasi yaitu pada saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang. Krepitasi yang teraba akibat gesekan antar fragmen satu dengan yang lainnya 5. Pembengkakan dan perubahan warna local pada kulit akibat pendarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini baru terjadi setelah beberapa jam atau beberapa hari setelah cidera. 6. Peningkatan temperatur local 7. Pergerakan abnormal 8. Echymosis (pendarahan subkutan yang lebar) E. Patofisiologi Patofisiologi menurut Price (2006), Patah tulang biasanya terjadi karena benturan tubuh, jatuh atau trauma. Baik itu karena trauma langsung misalnya: tulang kaki terbentur bemper mobil, atau tidak langsung misalnya: seseorang yang jatuh dengan telapak tangan menyangga. Juga bisa karena trauma akibat tarikan otot misalnya: patah tulang patela dan olekranon, karena otot trisep dan bisep mendadak berkontraksi. Sewaktu tulang patah perdarahan biasanya terjadi di sekitar tempat patah dan ke dalam jaringan lunak sekitar tulang tersebut, jaringan lunak juga biasanya mengalami kerusakan. Reaksi peradangan biasanya timbul hebat setelah fraktur. Selsel darah putih dan sel mast berakumulasi menyebabkan peningkatan aliran darah ketempat tersebut. Fagositosis dan pembersihan sisa-sisa sel mati dimulai. Di tempat patah terbentuk fibrin (hematoma fraktur) dan berfungsi sebagai jala-jala untuk melekatkan sel-sel baru. Aktivitas osteoblast terangsang dan terbentuk tulang baru imatur yang disebut callus. Bekuan fibrin direabsorbsi dan sel-sel tulang baru mengalami remodeling untuk membentuk tulang sejati. Insufisiensi pembuluh darah atau penekanan serabut saraf yang berkaitan dengan pembengkakan yang tidak ditangani dapat menurunkan asupan darah ke ekstremitas dan mengakibatkan kerusakan saraf perifer. Bila tidak terkontrol pembengkakan dapat mengakibatkan peningkatan tekanan jaringan, oklusi darah total dapat berakibat anoksia jaringan yang mengakibatkan rusaknya serabut saraf maupun jaringan otot. Komplikasi ini dinamakan sindrom kompartemen. Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekeuatan dan gaya pegas untuk menahan tekanan Tapi apabila tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada tulang yang mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang. Setelah terjadi fraktur, periosteum dan pembuluh darah serta saraf dalam korteks, marrow, dan jaringan lunak yang membungkus tulang rusak. Perdarahan terjadi karena kerusakan tersebut dan terbentuklah hematoma di rongga medula tulang. Jaringan tulang segera berdekatan ke bagian tulang yang patah. Jaringan yang mengalami nekrosis ini menstimulasi terjadinya respon inflamasi yang ditandai denagn vasodilatasi, eksudasi plasma dan leukosit, dan infiltrasi sel darah putih. Kejadian inilah yang merupakan dasar dari proses penyembuhan tulang nantinya . F. Pathway Trauma langsung, benturan, kecelakaan Trauma eksternal – kekuatan tulang Kompresi tulang Patah tulang tak sempurna patah tulang sempurna Patah tulang tertutup dan patah tulang terbuka Kerusakan struktur tulang Patah tulang merusak jaringan Sumber : Price (2006) G. Klasifikasi Menurut Helmi (2012) faktur femur dapat dibagi lima jenis berdasarkan letak garis fraktur seperti dibawah ini : 1. Fraktur intertrokhanter femur Merupakan patah tulang yang bersifat ekstra kapsuler dari femur, sering terjadi pada lansia dengan kondisi osteoporosis. Fraktur ini memiliki risiko nekrotik avaskuler yang rendah sehingga prognosanya baik. Penatalaksanaannya sebaiknya dengan reduksi terbuka dan pemasangan fiksasi internal. Intervensi konservatif hanya dilakukan pada penderita yang sangat tua dan tidak dapat dilakukan dengan anestesi general. 2. Fraktur subtrokhanter femur Garis fraktur berada 5 cm distal dari trokhanter minor, diklasifikasikan menurut Fielding & Magliato sebagai berikut: a. Tipe 1 adalah garis fraktur satu level dengan trokhanter minor b. Tipe 2 adalah garis patah berada 1-2 inci di bawah dari batas atas trokhanter minor c. Tipe 3 adalah 2-3 inci dari batas atas trokhanter minor. Penatalaksanaannya dengan cara reduksi terbuka dengan fiksasi internal dan tertutup dengan pemasangan traksi tulang selama 6-7 minggu kemudian dilanjutkan dengan hip gips selam tujuh minggu yang merupakan alternatif pada pasien dengan usia muda. 3. Fraktur batang femur Faktur batang femur biasanya disebabkan oleh trauma langsung, secara klinis dibagi menjadi: 1) fraktur terbuka yang disertai dengan kerusakan jaringan lunak, risiko infeksi dan perdarahan dengan penatalaksanaan berupa debridement, terapi antibiotika serta fiksasi internal maupun ekternal; 2) Fraktur tertutup dengan penatalaksanaan konservatif berupa pemasangan skin traksi serta operatif dengan pemasangan plate-screw. 4. Fraktur suprakondiler femur Fraktur ini disebabkan oleh trauma langsung karena kecepatan tinggi sehingga terjadi gaya aksial dan stress valgus atau varus dan disertai gaya rotasi. Penatalaksanaan berupa pemasanga traksi berimbang dengan menggunakan bidai Thomas dan penahan lutut Pearson, cast-bracing dan spika pinggul serta operatif pada kasus yang gagal konservatif dan fraktur terbuka dengan pemasangan nailphroc dare screw. 5. Fraktur kondiler femur Mekanisme trauma fraktur ini biasanya merupakan kombinasi dari gaya hiperabduksi dan adduksi disertai dengan tekanan pada sumbu femur ke atas. Penatalaksanaannya berupa pemasangan traksi tulang selama 4 – 6 minggu dan kemudian dilanjutkan dengan penggunaan gips minispika sampai union sedangkan reduksi terbuka sebagai alternatif apabila konservatif gagal. H. Pemeriksaan diagnostik Menurut Doenges (2000) ada beberapa pemeriksaan penunjang pada pasien fraktur antara lain: 1. Pemeriksaan roentgen : untuk menentukan lokasi, luas dan jenis fraktur 2. Scan tulang, tomogram, CT – scan/MRI : memperlihatkan fraktur dan mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak 3. Pemeriksaan darah lengkap : Ht mungkkin meningkat (hemokonsentrasi) atau menurun (perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada trauma multiple). Peningkatan sel darah putih adalah respon stress normal setelah trauma. 4. Kreatinin : Trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens ginjal. 5. Profil koagulasi : perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah, transfuse multiple, atau cedera hati. I. Konsep Pembedahan Kata perioperatif adalah suatu istilah gabungan yang mencangkup 3 fase pengalaman pembedahan yaitu praoperatif, intraoperatif, dan pascaoperatif. 1. Fase Praoperatif Merupakan ijin tertulis yang ditandatangani oleh klien untuk melindungi dalam proses operasi yang akan dilakukan. Prioritas pada prosedur pembedahan yang utama adalah inform consent yaitu pernyataan persetujuan klien dan keluarga tentang tindakan yang akan dilakukan yang berguna untuk mencegah ketidaktahuan klien tentang prosedur yang akan dilaksanakan dan juga menjaga rumah sakit serta petugas kesehatan dari klien dan keluarganya mengenai tindakan tersebut. Pada periode pre operatif yang lebih diutamakan adalah persiapan psikologis dan fisik sebelum operasi. 2. Fase Intraoperatif Dimulai ketika pasien masuk ke bagian atau ruang bedah dan berakhir saat pasien dipindahkan ke ruang pemulihan. Lingkup aktifitas keperawatan, memasang infus, memberikan medikasi intravena, melakukan pemantauan fisiologis menyeluruh sepanjang prosedur pembedahan dan menjaga keselamatan pasien. 3. Fase Posotperatif Dimulai pada saat pasien masuk ke ruang pemulihan dan berakhir dengan evaluasi tindak lanjut pada tatanan klinik atau di rumah. Lingkup aktifitas keperawatan, mengkaji efek agen anestesi, membantu fungsi vital tubuh, serta mencegah komplikasi. Peningkatan penyembuhan pasien dan penyuluhan, perawatan tindak lanjut, rujukan yang penting untuk penyembuhan yang berhasil dan rehabilitasi diikuti dengan pemulangan (Baradero, 2008). J. Penatalaksanaan Penatalaksanaan konservatif, merupakan penatalaksanaan non pembedahan agar immobilisasi pada patah tulang dapat terpenuhi. 1. Proteksi (tanpa reduksi atau immobilisasi). Proteksi fraktur terutama untuk mencegah trauma lebih lanjut dengan cara memberikan sling (mitela) pada anggota gerak atas atau tongkat pada anggota gerak bawah. 2. Imobilisasi degan bidai eksterna (tanpa reduksi). Biasanya menggunakan plaster of paris (gips) atau dengan bermacam-macam bidai dari plastic atau metal. Metode ini digunakan pada fraktur yang perlu dipertahankan posisinya dalam proses penyembuhan. 3. Reduksi tertutup dengan manipulasi dan imobilisasi eksterna yang menggunakan gips. Reduksi tertutup yang diartikan manipulasi dilakukan dengan pembiusan umum dan local. Reposisi yang dilakukan melawan kekuatan terjadinya fraktur.penggunaan gips untuk imobilisasi merupakan alat utama pada teknik ini. 4. Reduksi tertutup dengan traksi kontinu dan counter traksi. Tindakan ini mempunyai dua tujuan utama, yaitu berupa reduksi yang bertahap dan imobilisasi. Penatalaksanaan pembedahan. 1. Reduksi tertutup dengan fiksasi eksternal atau fiksasi perkutan dengan K-Wire (kawat kirschner), misalnya pada fraktur jari. 2. Reduksi terbuka dengan fiksasi internal (ORIF : Open Reduction internal Fixation). 3. Reduksi terbuka dengan fiksasi eksternal (OREF : Open reduction Eksternal Fixation). Fiksasi eksternal digunakan untuk mengobati fraktur terbuka dengan kerusakan jaringan lunak. Alat ini memberikan dukungan yang stabil untuk fraktur kominutif (hancur atau remuk). Penatalaksanaan pembedahan Open Reduction internal Fixation (ORIF) 1. Pengertian ORIF adalah sebuah prosedur bedah medis, yang tindakannya mengacu pada operasi terbuka untuk mengatur tulang, seperti yang diperlukan untuk beberapa patah tulang, fiksasi internal mengacu pada fiksasi plate dan screw untuk mengaktifkan atau memfasilitasi penyembuhan (Smeltzer, 2004). 2. Metode Menurut Apley (2005) terdapat lima metode fiksasi internal yang digunakan, antara lain: sekrup kompresi antar fragmen, plat dan sekrup (paling sesuai untuk lengan bawah), paku intermedula (untuk tulang panjang yang lebih besar), paku pengikat sambungan dan sekrup (ideal untuk femur dan tibia), sekrup kompresi dinamis dan plat, ideal untuk ujung proksimal dan distal femur. 3. Indikasi ORIF Indikasi ORIF diantaranya adalah : fraktur yang tidak bisa sembuh atau bahaya avasculair nekrosis tinggi (fraktur collum femur), fraktur yang tidak bisa direposisi tertutup (fraktur avulse dan fraktur dislokasi), fraktur yang dapat direposisi tetapi sulit dipertahankan (fraktur monteggia, fraktur galeazzi, fraktur antebrachi dan fraktur ankle), fraktur yang berdasarkan pengalaman memberi hasil yang lebih baik dengan operasi (fraktur femur) (Appley, 2005). 4. Persiapan perioperatif di ruangan Keadaan preoperasi : a. Klien menjalani program puasa 6 jam sebelum operasi dimulai. b. Keadaan penderita, kooperatif, tensi 100/80 nadi 84 x/menit. Jenis anestesi : a. General anestesi : Face mask b. Premedikasi yang diberikan : Muscle relaxan : atracurium c. Induksi anestesi : Untuk induksi digunakan Propofol 80 mg intra vena secara pelan d. Anestesi inhalasi : O2, Halothane e. Rumatan : RL digrojog f. Posisi anastesi : Terlentang 5. Persiapan atau prosedur di ruang operasi Persiapan alat dan Ruangan a. Alat tidak steril : Lampu operasi, cuter unit, meja operasi, suction, hepafik, gunting b. Alat steril : Duk besar 3, Baju operasi 4, selang suction steril, selang cuter Steril,side 2/0, palain 2/0, berbagai macam ukuran jarum c. Set orif : 1) Koker panjang 2 2) Klem bengkok 6 3) Bengkok panjang 1 4) Pinset cirugis 2 5) Gunting jaringan 1 6) Kom 2 7) Pisturi 1 8) Hand mest 9) Platina 1 set 10) Kassa steril 11) Gunting benang 2 12) Penjepit kasa 1 13) Bor 1 14) Hak pacul 1 15) Hak sedang 1 16) Hak duk 3 d. Prosedur Operasi : 1) Pasien sudah teranastesi GA 2) Tim bedah melakukan cuci tangan (Scrub) 3) Tim bedah telah memakai baju operasi (Gloving) 4) Lakukan disinfeksi pada area yang akan dilakukan sayatan dengan arah dari dalam keluar, alkohol 2x, betadine 2x 5) Pasang duk pada area yang telah di disinfeksi (Drapping) 6) Hidupkan cuter unit 7) Lakukan sayatan dengan hand mest dengan arah paramedian 8) Robek subkutis dengan menggunakan cuter hingga terlihat tulang yang fraktur 9) Lakukan pengeboran pada tulang 10) Pasang platina 11) Lakukan pembersihan bagian yang kotor dengan cairan NaCl 12) Jahit subkutis dengan plain 2/0 13) Jahit bagian kulit dengan side 2/0 14) Tutup luka dengan kassa betadine, setelah itu diberi hepafik K. Komplikasi Komplikasi setelah fraktur adalah syok yang berakibat fatal dalam beberapa jam setelah cedera, emboli lemak, yang dapat terjadi dalam 48 jam atau lebih, dan sindrom kompartemen, yang berakibat kehilangan fungsi ekstremitas permanent jika tidak ditangani segera. Adapun beberapa komplikasi dari fraktur femur (Suratun, dkk, 2008) yaitu: 1. Syok Syok hipovolemik atau traumatik akibat pendarahan (baik kehilangan darah eksterna maupun interna) dan kehilangan cairan ekstrasel ke jaringan yang rusak dapat terjadi pada fraktur ekstremitas, toraks, pelvis, dan vertebra karena tulang merupakan organ yang sangat vaskuler, maka dapat terjadi kehilangan darah dalam jumlah yang besar sebagai akibat trauma, khususnya pada fraktur femur pelvis. 2. Emboli lemak Setelah terjadi fraktur panjang atau pelvis, fraktur multiple atau cidera remuk dapat terjadi emboli lemak, khususnya pada pria dewasa muda 20-30 tahun. Pada saat terjadi fraktur globula lemak dapat termasuk ke dalam darah karna tekanan sumsum tulang lebih tinggi dari tekanan kapiler atau karna katekolamin yang di lepaskan oleh reaksi stres pasien akan memobilitasi asam lemak dan memudahkan terjadiya globula lemak dalam aliran darah.Globula lemak akan bergabung dengan trombosit membentuk. L. Asuhan Keperawatan PENGKAJIAN 1. Riwayat keperawatan a. Riwayat Perjalanan penyakit 1) Keluhan utama klien datang ke RS atau pelayanan kesehatan 2) Apa penyebabnya, kapan terjadinya kecelakaan atau trauma 3) Bagaimana dirasakan, adanya nyeri, panas, bengkak dll 4) Perubahan bentuk, terbatasnya gerakan 5) Kehilangan fungsi 6) Apakah klien mempunyai riwayat penyakit osteoporosis b. Riwayat pengobatan sebelumnya 1) Apakan klien pernah mendapatkan pengobatan jenis kortikosteroid dalam jangka waktu lama 2) Apakah klien pernah menggunakan obat-obat hormonal, terutama pada wanita 3) Berapa lama klien mendapatkan pengobatan tersebut 4) Kapan klien mendapatkan pengobatan terakhir c. proses pertolongan pertama yang dilakukan 1) Pemasangan bidai sebelum memindahkan dan pertahankan gerakan diatas/di bawah tulang yang fraktur sebelum dipindahkan 2) Tinggikan ekstremitas untuk mengurangi edema 2. Pemeriksaan fisik a. Mengidentifikasi tipe fraktur b. Inspeksi daerah mana yang terkena 1) Deformitas yang nampak jelas 2) Edema, ekimosis sekitar lokasi cedera 3) Laserasi 4) Perubahan warna kulit 5) Kehilangan fungsi daerah yang cidera c. Palpasi 1) Bengkak, adanya nyeri dan penyebaran 2) Krepitasi 3) Nadi, dingin 4) Observasi spasme otot sekitar daerah fraktur M. Diagnosa Yang Mungkin Muncul a. Hambatan Mobilitas Fisik b.d gangguan muskuloketeletal b. Kerusakan intergritas kulit b.d medikasi c. Nyeri akut b.d agen cidera fisik d. Resiko syok hipovolemi N. Rencana Keperawatan Dx Keperawatan 1. Hambatan Mobilitas Fisik b.d gangguan muskuloketeletal NOC 1. 2. 3. 4. Joint Movement : Active Mobility level Self care : ADLs Transfer performance Kriteria Hasil : a. Klien meningkat dalam aktivitas fisik b. Mengerti tujuan dari peningkatan mobilitas c. Memverbalisasikan perasaan dalam meningkatkan kekuatan dan kemampuan berpindah d. Memperagakan penggunaan alat e. Bantu untuk mobilisasi (walker) NIC Exercise therapy : ambulation 1. Konsultasi dengan terapi fisik tentang rencana ambulansi sesuai kebutuhan 2. Bantu klien untuk menggunakan tongkat saat berjalan dan cegah terhadap cedera 3. Kaji kemampuan klien dalam mobilisasi 4. Latih pasien dalam pemenuhan kebutuhan ADLs secara mandiri sesuai kemampuan 5. Dampingi dan bantu pasien saat mobilisasi dan bantu penuhi ADLs ps. 6. Ajarkan pasien bagaimana merubah posisi dan berikan bantuan jika diperlukan 2. Kerusakan intergritas b.d medikasi kulit 1. Tissue integrity : skin and mocus 2. Membranes 3. Hemodyalis akses Kriteria Hasil : a. Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan b. Tidak ada luka/lesi pada kulit c. Perfusi jaringan baik d. Menunjukan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya cedera berulang e. Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban kulit dan perawatan alami 3. Nyeri akut b.d 1. Pain level agen cidera fisik 2. Pain control 3. Comfort level Kriteria Hasil : a. Mampu mengontrol nyeri b. Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri c. Mampu mengenali nyeri d. Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang 4. Resiko syok hipovelemi 1. Syok prevention 2. Syok management Kriteria hasil : a. Nadi dalam diharapkan batas yang Insision site care 1. Membersihkan, memantau dan meningkatkan proses penyembuhan pada luka yg ditutup dengan jahitan klip atau strapless 2. Monitor proses kesembuhan area insisi 3. Monitor tanda dan gejala infeksi pada area insisi 4. Bersihkan area sekitar jahitan atau straples, menggunakan lidi kapas steril 5. Gunakan preparat antiseptic, sesuai program 6. Ganti balutan pada interval waktu yang sesuai atau biarkan luka tetap terbuka (tidak dibalut) sesuai program Pain Management 1. Lakukan pengkajian nyeri secara komperhensif termasuk lokasi, karakteristik, onset/durasi, frekuensi, kualitas, intensitas atau beratnya nyeri dan faktor pencetus 2. Observasi adanya petunjuk nonverbal mengenal ketidaknyamanan terutama pada mereka yang tidak dapak berkomunikasi secara efektif 3. Gunakan strategi komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri dan sampaikan penerimaan pasien terhadap nyeri 4. Pertimbangkan tipe dan sumber nyeri ketika memilih strategi penurunan nyeri 5. Ajarkan penggunaan teknik non farmakologi 6. Berikan individu penurun nyeri yang optimal dengan peresepan analgesik 7. Kolaborasi dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil Syok prevention 1. Monitor status sirkulasi BP, warna kulit, suhu kulit, denyut jantung, HR, dan ritme nadi perifer, dan kapiler refill 2. Monitor tanda inadekuat b. Irama jantung pada batas yang diharapkan c. Frekuensi nafas dalam batas yang diharapkan d. Irama pernafasan dalam batas yang diharapkan e. Natrium serum dbn f. Kalium serum dbn g. Klorida serum dbn h. Kalsium serum dbn i. Magnesium serum dbn j. PH darah serum dbn Hidrasi Indikator : a. Mata cekung tidak ditemukan b. Demam tidak ditemukan c. TD dbn d. Hematokrit dbn oksigtenasi jaringan 3. Monitor suhu dan pernafasan 4. Monitor input dan output 5. Pantau nilai labor : HB, HT, AGD dan elektrolit 6. Monitor hemodinamik invasi yang sesuai 7. Monitor tanda dan gejala asites 8. Monitor tanda awal syok 9. Tempatkan pasien pada posisi supine, kaki elevasi untuk peningkatan preload dengan tepat 10. Lihat dan pelihara kepatenan jalan nafas 11. Berikan cairan iv dan oral yang tepat 12. Berikan vasodilator yang tepat 13. Ajarkan keluarga dan pasien tentang tanda dan gejala datangnya syok 14. Ajarkan keluarga dan pasien tentang langkah untuk mengatasi gejala syok Syok management 1. Monitor fungsi neurologis 2. Monitor fungsi renal 3. Monitor tekanan nadi 4. Monitor status cairan, input output 5. Catat gas darah arteri dan oksigen dijaringan 6. Monitor EKG 7. Monitor nilai laboratorium 8. Memonitor gejala gagal pernafasan BAB III KASUS A. Kasus Tn N berusia 40 tahun di bawa ke RS X tanggal 05 Agustus 2016 pada jam 14.30 WIB oleh keluarganya karena jatuh dari sepeda motor. Pasien telah menjalani operasi pemasangan plate pada fraktur femur sinistra jenis anestesi spiral pada tanggal 06 Agustus 2016. Pada tanggal 09 Agustus 2016 pasien mengatakan nyeri, skala nyeri 6, ekspresi wajah tampak meringis kesakitan. Dari hasil pemeriksaan tanda – tanda vital didapatkan Tekanan Darah : 110/70 mmHg, Nadi : 88 x/menit, S : 36 C, Repirasi : 86 x/menit. Luka operasi pasien sepanjang 20 cm, jumlah jahitan 20, luka tampak basah tidak ada nanah. Pasien mengatakan dalam beraktifitas tidak bisa mandiri dan membutuhkan bantuan orang lain, personal hygiene kurang, aktifitas pasien di bantu keluarga. FORMAT PENGKAJIAN PERIOPERATIF KAMAR BEDAH Nama Mahasiswa : NIM : Tgl & jam pengkajian : A. PENGKAJIAN 1. DENTITAS PASIEN a. Nama Pasien : Tn. N b. Umur : 40 tahun c. Agama : Islam d. Pendidikan : Sd e. Alamat : Sedayu, Bantul f. No CM :- g. Diagnosa Medis : fraktur fremur sinistra 2. IDENTITAS ORANG TUA/ PENANGGUNG JAWAB a. Nama : Ny. Tia b. Umur : 39 tahun c. Agama : Islam d. Pendidikan : Sekolah Dasar e. Pekerjaan : - f. Hubungan dengan pasien : istri Asal pasien □ Rawat Jalan □ Rawat Inap □ Rujuk POST OPERASI 1. Pasien pindah ke : Pindah ke □ ICU □ PICU □ NICU □ RR jam 14.00 Wib 2. Keluhan saat di RR : □ Mual □ Muntah pusing □ Nyeri luka operasi □ Kaki terasa baal □ Menggigil lainnya….. 3. Keadaan Umum : □ Baik □ Sedang □ Sakit berat 4. TTV : o Suhu 36 C, Nadi 88 x/mnt, respirasi 20 x/mnt, Tekanan Darah 110/70 mmHg 5. Kesadaran : □ Compos Metis □ Apatis □ Somnolen □ Soporo □ Coma 6. Survey Sekunder, lakukan secara head to toe secara prioritas: Kepala 1. Inspeksi : tidak terlihat lesi 2. Palpasi : tidak ada nyeri tekan 3. Perkusi : sonor 4. Auskultasi : suara nafas vasikuler Leher 1. Inspeksi : tidak terlihat lesi 2. Palpasi : tidak ada nyeri tekan Dada 1. Inspeksi : tidak terlihat pulpasi 2. Palpasi : tidak ada nyeri tekan 3. Perkusi : redup 4. Auskultasi : terdengar suara jantung lup dup Abdomen 1. Inspeksi : tidak terlihat lesi 2. Palpasi : tidak ada nyeri tekan 3. Perkusi : bunyi bising usus timpani 4. Auskultasi : suara bising usus 13 x/menit Genitalia 1. Terpasang dower cateter Integumen 1. Terdapat luka jahitan di kaki sinistra sepanjang 20 cm, jumlah jahitan 20 2. Luka tampak basah tidak ada nanah Ekstremitas 1. Ekstremitas atas kanan, rentang gerak bebas, kekuatan otot 5 2. Ekstremitas atas kanan terpasang infus RL 20 tetesan per menit, rentang gerak bebas, kekuatan otot 5 3. Ekstremitas bawah kiri, rentang gerak bebas, kekuatan otot 5 4. Ekstremitas bawah kanan, rentang gerak terbatas, kekuatan otot 3, karena terdapat luka post operasi fraktur fremur Schore Alderet gerakan 1. Dapat menggerakan ke 4 ekstremitasnya sendiri atau dengan perintah 2. Dapat menggerakkan ke 2 ekstremitasnya sendiri atau dengan perintah 3. Tidak dapat menggerakkan ekstremitasnya sendiri atau dengan perintah pernafasan 1. Bernapas dalam dan kuat serta batuk 2. Bernapas berat atau dispnu 3. Apnu atau napas dibantu Tekanan darah 1. Sama dengan nilai awal + 20% 2. Berbeda lebih dari 20-50% dari nilai awal 3. Berbeda lebih dari 50% dari nilai awal Kesadaran 1. Sadar penuh 2. Tidak sadar, ada reaksi terhadap rangsangan 3. Tidak sadar, tidak ada reaksi terhadap rangsangan Warna kulit 1. Merah 2. Pucat , ikterus, dan lain-lain 3. Sianosis Skor alderet pasien : 8 V V V V V Catatan: Dianggap sudah pulih dari anestesia dan dapat pindah dari ruang pemulihan ke ruang perawatan apabila skor>8 Numeric Rating Scale □ 0-1 □ 1-3 □ 4-6 □ 7-10 PENGELOMPOKAN DATA : Da ta Su bje kti f 1. Pasien mengatak an : P: luk a pos t op era si fre mu rQ : di tus uk tus uk R : f r e m u r s i n i s t r a S s k a l a 6 T : hilang timbul 2. Pasien mengataka n dalam beraktifitas tidak bisa mandiri dan membutuh kan bantuan orang lain Da ta O by ek tif 1. Terdapat luka post operasi fraktur fremur di ekstremita s bawah kanan 2. Kekuatan otot 3 3. Pasien terlihat meringis kesakitan 4. Skala nyeri sedang yaitu skala 6 5. Terdapa t luka jahitan di kaki sinistra sepanja ng 20 cm, jumlah jahitan 20 6. Luk a tam pak basa h tida k ada nana h 7. Aktifit as pasien terlihat dibantu keluarg a 8. Tanda – tanda vital : Tekana n Darah : 110/70 mmHg Nadi : 88 x/menit S u h u : 3 6 C ° R e p i r a s i : 8 6 x / m e n i t ANALISA DATA Symptom Problem Do : Nyeri akut 1. Terdapat luka post operasi fraktur fremur di ekstremitas bawah kanan 2. Pasien terlihat meringis kesakitan 3. Skala nyeri sedang yaitu skala 6 DS : 1. Pasien mengatakan : P: luka post operasi fremur Q : di tusuk tusuk R : fremur sinistra S : skala 6 T : hilang timbul Do: Kerusakan intergritas 1. Terdapat luka jahitan di kaki kulit sinistra sepanjang 20 cm, jumlah jahitan 20 2. Luka tampak basah tidak ada nanah DS : Do : Hambatan Mobilitas 1. Ekstremitas bawah kanan, Fisik rentang gerak terbatas, kekuatan otot 3, karena terdapat luka post operasi fraktur fremur DS : 1. Pasien mengatakan dalam beraktifitas tidak bisa mandiri dan membutuhkan bantuan orang lain Etiologi cidera fisik medikasi gangguan muskuloketeletal DIAGNOSA KEPERAWATAN Post Operasi : 1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik 2. Kerusakan intergritas kulit berhubungan dengan medikasi 3. Hambatan Mobilitas Fisik berhubungan dengan gangguan muskuloketeletal RENCANA KEPERAWATAN rhu bu ng an de ng an ag en cid era fisi k N ye ri ak ut be e k D st i re a m g it a n s o b s a i w s a h k k Do : a e 1. Ter n p da a e pat n r luk 2. P a a a s w po i st a e op t n era a si n fra t e ktu r r l fre i mu h r a di t meri ngis kesa kitan 3. Ska la nye ri sed ang yait u skala 6 DS : 1. Pasie n meng ataka n:P: luka post opera si fremu r Q : di tusuk tusuk R : fremur sinistra S : s k a l a 6 T : h i l a n g t i m b u l kri teri a Tuju an has il : Pain 1. K leve l l i Sete e lah n dila kuk m an e tind l akan a kepe p raw o atan r k sela a ma n 1X 60 n men y it, dapa e r t i men geta b hui e skal a nyer i den gan rkuran g 2. Klien tidak tampak mengera ng dan menangi s 3. Ekspresi wajah klien tidak menunju kkan nyeri Pain control Setelah dilakukan tindakan keperawata n selama 1X 60 menit, nyeri dapat berkurang dengan kriteria hasil : 1. Klien melapo rkan kapan nyeri terjadi 2. K l i e n m e l a p o r k a n n y e r i t e r k o n t r o l In te rv e ns i Pain Man age men t Man aje men nyer i 1. L ak u ka n pe n g ka ji an n ye ri k akteristik, o onset/dura m si, p frekuensi, r kualitas, e intensitas h atau e beratnya n nyeri dan s faktor i pencetus f 2. Ajarkan penggunaa y n tehnik a non n farmakolo g gi (seperti, biofeedbac m k, TENS, e hypnosis, l relaksasi, i bimbingan p antisipatif, u dan t bersamaan i dengan l tindakan o penurun k rasa nyeri a lainnya) s 3. Kolabora i si , pemberia k n a analgesic r 4. K o la b o r a si d e n g a n d o k te r ji k a a d a k el u h a n d a n ti n da ka n n ye ri ti da k be rh as il 09 Agustus 2016 I 14.00 WIB 14.15 WIB m p Mengkaji le nyeri secara m S : pasien e mengatakan komprehensif n P: luka post t operasi a fremur si Q : di tusuk tusuk E R : fremur v sinistra S : skala 6 a T : hilang timbul l O: u 1. Terdapat luka a post operasi si 14.20 WIB Sen in, 09 Ag ust us 201 6 Sen in, fraktur fremur di ekstremitas Kolaborasi pemberian bawah kanan analgetic melalui Pasien terlihat meringis intravena 2. kesakitan 3. Skala nyeri sedang yaitu skala 6 14.25 WIB S:O : Ceftriaxon 1 gram masuk melalui intravena Senin, 09 Agustus 2016 15.00 S : pasien mengatakan P: luka post operasi fremur Q : di tusuk tusuk R : fremur sinistra S : skala 6 T : hilang timbul O: 1. Terdapat luka post operasi fraktur fremur di ekstremitas bawah kanan 2. Pasien terlihat meringis kesakitan 3. Skala nyeri sedang yaitu skala 6 A : masalah belum teratasi P : Lanjutkan intervensi 1. Ajarkan pasien tekhnik relaksasi (nafas dalam) 2. Kolaborasi pemberian analgetic ( Kerusakan intergritas kulit berhubungan dengan medikasi Do: 1. Terdapat luka jahitan di kaki sinistra sepanjang 20 cm, jumlah jahitan 20 2. Luka tampak basah tidak ada nanah DS : - Tissue integrity : skin and mocus Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1X 60 menit, dapat mempertahankan integritas kulit dengan kriteria hasil : 1. Menunjukan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya cedera berulang 2. Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan Insision site care ) Senin, 09 Agustus 2016 14.15 wib Senin, 09 Agustus 2016 15.35 wib 1. Membersihkan, Mengobservasi tanda dan S : pasien mengatakan memantau dan gejala infeksi pada area lukanya sedikit perih dan meningkatkan proses insisi terasa panas O : tidak terdapat penyembuhan pada kemerahan pada sekitar kulit luka yg ditutup yang di operasi dengan jahitan klip A : masalah teratasi sebagian atau strapless P : lanjutkan intervensi 2. Monitor tanda dan 1. Ganti balutan pada interval gejala infeksi pada area insisi 3. Ganti balutan pada interval waktu yang sesuai atau biarkan waktu yang sesuai atau biarkan luka tetap terbuka (tidak dibalut) sesuai program Hambatan Mobilitas Fisik berhubungan dengan gangguan muskuloketeletal Do : 1. Ekstremitas bawah kanan, rentang gerak terbatas, kekuatan otot 3, karena terdapat luka post operasi fraktur fremur DS : 1. Pasien mengatakan dalam beraktifitas tidak bisa mandiri dan membutuhkan bantuan orang lain Mobility level Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1X 60 menit, dapat meningkatkan mobilitas dengan kriteria hasil : 1. Mengerti tujuan dari peningkatan mobilitas luka tetap terbuka (tidak dibalut) sesuai program Exercise therapy ambulation 1. Kaji kemampuan pasien dalam mobilisasi 2. Latih pasien dalam pemenuhan kebutuhan ADLs secara mandiri sesuai kemampuan 3. Konsultasi dengan terapi fisik tentang rencana ambulansi sesuai kebutuhan : Senin, 05 September 2016 14.30 wib Mengkaji kemampuan pasien dalam mobilisasi ( ) Senin, 05 September 2016 14.30 wib S: 1. pasien mengatakan dapat menggerakan ekstremitas atas degan bebas 2. pasien sedikit susah menggerakan ekstremitas atas akibat nyeri post operasi O: Pasien tampak kesulitan menggerakkan ekstremitas bawah A : masalah teratasi sebagian P : lanjutkan intervensi 1. Latih pasien dalam pemenuhan kebutuhan ADLs secara mandiri sesuai kemampuan ( ) BAB IV PEMBAHASAN Dalam makalah kami diagnosa yang ada dikasus dan diteori yaitu hambatan mobilitas fisik, kerusakan integritas kulit, dan nyeri akut. Hambatan mobilitas fisik yaitu keterbatasan dalam gerakan fisik atau satu atau lebih ekstremitas secara mandiri dan terarah. Batasan karakteristik dari hambatan mobilitas fisik dalam teori yaitu gerakan lambat, instabilita postur, kesulitan membolak – balik posisi dan tremor akibat bergerak sedangkan dalam kasus kami batasan karakteristik dari hambatan mobilitas fisik yaitu gerakan lambat, kesulitan membolak – balik posisi jika tidak di bantu keluarga. Jadi dari batasan karakteristik yang dibahas baik dalam teori maupun kasus hambatan mobilitas fisik pasti terjadi pada pasien post ORIF karena tindakan pembedahan tersebut bertujuan membenarkan struktur tulang yang patah ataupun retak, maka dari itu karena adanya tujuan tersebut sebaiknya pasien yang menjalani tindakan post ORIF harus berbaring dan menbatasi aktivitasnya agar proses perbaikan tulang segera tercapai, dan pasien juga harus dibantu dalam aktivitasnya oleh keluarga maka dari itu dengan adanya tindakan itu terjadilah diagnosa hambatan mobilitas fisik pada pada pasien post ORIF (NANDA 2015 – 2017). Diagnosa yang akan kami bahas kedua yaitu kerusakan integritas kulit, yang berarti kerusakan pada epidermis dan/atau dermis. Batasan karakteristik dari diagnosa ini menurut teori adalah benda asing menusuk permukaan kulit, kerusakan integritas kulit. Sedangkan menurut kasuspun sama dengan teori karena sesuai dengan batasan karakteristik pada pasien post ORIF yaitu dengan adanya prosedur pembedahan berarti benda asing seperti gunting bedah, pisau bedah yang menembus kulit kemudian terjadi penyatan pada kulit yang mengakibatkan dermis/epidermis terluka dan menyebabkan ditegakkannya diagnosa kerusakan integritas kulit pada pasien post ORIF (NANDA 2015 – 2017). Diagnosa yang terakhir yang muncul pada teori dan kasus adalah nyeri akut, nyeri akut merupakan pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial atau yang digambarkan sebagai kerusakan (International Association for the Study of pain), awitan yang tiba – tiba atau lambat dari intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat di antisipasi atau diprediksi. Batasan karakteristik menurut teori dari nyeri akut yaitu diaforesis, dilatasi pupil, ekspresi wajah nyeri, fokus menyempit, keluhan tentang intensitas menggunakan skala nyeri, laporan tentang perilaku nyeri/perubahan aktivitas, putus asa, perubahan selera makan. Sedangkan batasan karakteristik pada kasus yaitu keluhan tentang intensitas menggunakan skala nyeri, laporan tentang perilaku nyeri/perubahan aktivitas, putus asa, perubahan selera makan, dapat disimpulkan diagnosa ketiga ini muncul pada pasien post ORIF karena sebelum pebedahan dilakukan sudah terjadi beberapa batasan karakteristik yang muncul yaitu ekspresi wajah nyeri, perubahan posisi untuk menghindari nyeri pada frakturnya dan setelah proses pembedahan dilakukan batasan karakteristik lainnya menyertai maka diagnosa nyeri akut dapat ditegakkan pada pasien post ORIF (NANDA 2015 – 2017). Dalam makalah ini juga diagnosa yang ada di kasus tapi tidak ada di teori ternyata tidak ada, sedangkan diagnosa yang ada di teori dan tidak ada di kasus ada yaitu diagnosa resiko syok hipovolemik. Syok hipovolemik didefinisikan sebagai penurunan perfusi dan oksigenasi jaringan disertai kolaps sirkulasi yang disebabkan oleh hilangnya volume intravaskular akut akibat berbagai keadaan bedah atau medis (Greenberg, 2005). Pada pasien Fraktur femur dengan post ORIF bisa terjadi resiko syok hipovolemi karena pada saat dilakukan pembedahan untuk memasangan plate pasti terjadi pemotongan atau penyatan pada kulit yang mengakibatkan arteri atau vena terputus, keadaan itu juga yang menyebabkan perdarahan pada pasien saat terjadinya operasi. Jika perdarahan tersebut tidak segera diatasi maka akan terjadi perdarahan yang hebat dan akan menyebabkan kehilangan volume cairan, cairan ini dapat berupa darah, plasma dan elektrolit maka dari itu bisa menyebabkan syok hipovolemi atau resiko syok hipovolemi pada pasien dengan keadaan pembedahan fraktur femur (Price, 2006). Faktor – faktor yang menyebabkan syok hipovolemik yaitu perdarahan yang berat dan menyebabkan kehilangan cairan intravaskuler bisa berupa eksogen atau endogen. Pada kehilangan cairan yang eksogen cairan betul-betul keluar dari jaringan tubuh seperti pada perdarahan atau kasus luka bakar. Sedangkan pada kehilangan cairan endogen maka cairan betul-betul telah keluar dari intravaskuler tetapi masih dalam jaringan atau rongga tubuh namun belum keluar dari tubuh sendiri (Price, 2006). Syok hipovolemik tidak terjadi pada kasus kami karena pasien saat pembedahan ORIF pengalami perdarahan ± 200 cc dan itu bukan perdarahan yang sedang maupun berat. Sedangkan perdarahan yang menyebabkan syok hipovolemik yaitu kehilangan volume darah 30 – 40% sekitar 2000 cc pada orang dewasa. Maka dari itu kasus kami tidak menegakkan diagnosa resiko syok hipovolemik (Price, 2006). Intervensi pada diagnosa hambatan mobilitas fisik yang ada dalam teori dan kasus yaitu kaji kemampuan pasien dalam mobilisasi, latih pasien dalam pemenuhan kebutuhan ADLs secara mandiri sesuai kemampuan, konsultasi dengan terapi fisik tentang rencana ambulansi sesuai kebutuhan. Intervensi yang ada di teori tapi tidak ada di kasus yang pertama bantu klien untuk menggunakan tongkat saat berjalan dan cegah terhadap cedera kami tidak melakukan intervensi tersebut karena keluarga sudah mengajarkannya pada pasien, yang kedua dampingi dan bantu pasien saat mobilisasi dan bantu penuhi ADLs kami tidak melaukannya karena keluarga juga yang selalu membatu pasien dalam mobilisasi dan yang terakhir ajarkan pasien bagaimana merubah posisi dan berikan bantuan jika di perlukan kami tidak melakukannya karena sama seperti kedua intervensi tadi keluarga yang sudah membantu pasien merubah posisi. Kemudian pada diagnosa yang kedua kerusakan integritas kulit, intervensi yang ada di teori dan kasus yaitu membersihkan, memantau dan meningkatkan proses penyembuhan pada luka yg ditutup dengan jahitan klip atau strapless, monitor tanda dan gejala infeksi pada area insisi, ganti balutan pada interval waktu yang sesuai atau biarkan luka tetap terbuka (tidak dibalut) sesuai program. Intervensi yang ada di teori tapi tidak ada di kasus yaitu yang pertama monitor proses kesembuhan area insisi kami tidak mengambil intervensi tersebut karena sudah sekalian terpantau dalam intrvensi monitor tanda dan gejala infeksi pada area insisi, yang kedua dan ketiga yaitu bersihkan area sekitar jahitan atau straples, menggunakan lidi kapas steril dan gunakan preparat antiseptic, sesuai program kami tidak menggunakan intervensi tersebut karena dalam proses medikasi sudah ada alat dan program tersendiri. Intervensi yang ada diteori dan kasus dalam diagnosa terakhir ini yaitu nyeri akut adalah lakukan pengkajian nyeri komprehensif yang meliputi lokasi, karakteristik, onset/durasi, frekuensi, kualitas, intensitas atau beratnya nyeri dan faktor pencetus, ajarkan penggunaan tehnik non farmakologi (seperti, biofeedback, TENS, hypnosis, relaksasi, bimbingan antisipatif, dan bersamaan dengan tindakan penurun rasa nyeri lainnya), Kolaborasi pemberian analgesic, kolaborasi dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil. Sedangkan yang tidak kami ambil intervensi yang ada di teori pada kasus yaitu observasi adanya petunjuk nonverbal mengenal ketidaknyamanan terutama pada mereka yang tidak dapak berkomunikasi secara efektif, kami tidak mengambil intervensi tersebut karena pasien dapat berkomunikasi secara langsung jika tidak nyaman. Intervensi kedua gunakan strategi komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri dan sampaikan penerimaan pasien terhadap nyeri kam tidak menggunakannya karena pasien sudah menerima keadaan nyerinya. Yang terakhir pertimbangkan tipe dan sumber nyeri ketika memilih strategi penurunan nyeri kami tidak menggunakannya karena sudah terkaji pada saat pengkajian secara komprehensif (NANDA 2015 – 2017). BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Dapat kami simpulkan dari makalah kami fraktur femur didefinisikan sebagai hilangnya kontinuitas tulang paha, kondisi fraktur femur secara klinis bisa berupa fraktur femur terbuka yang disertai adanya kerusakan jaringan lunak (otot, kulit, jaringan saraf, dan pembuluh darah) dan fraktur femur tertutup yang dapat disebabkan oleh trauma langsung pada paha (Zairin, 2012). Pada pasien fraktur femur dalam kasus kami menggunakan pembedahan open reduction internal fixation (ORIF), karena pasien kami mengalami patah tulang dan memerlukan pengaturan kembali posisi pada tulang maka di lakukanlah tindakan tersebut. Asuhan keperawatan pada pasien fraktur femur post ORIF yaitu nyeri akut, hambatan mobilitas fisik dan kerusakan integritas nyeri. Tujuan utama dalam tindakan keperawatan membantu pasien dalam penyembuhan post pembedahan dengan kondisi baik tidak ada tanda – tanda infeksi dan membantu pasien dalam aktvitas kesehariannya sampai proses ORIF berhasil. Maka dari itu dalam penyembuhan pasien fraktur femur post ORIF memerlukan kolaborasi tidak hanya dari tenaga kesehatan tapi keluarga juga agar membatu pasien selagi tenaga kesehatan tidak ada. B. Saran Semoga makalah kami tentang asuhan keperawatan pada pasien fraktur femur post ORIF dapat bermanfaat serta menambah wawasan bagi penulis dan pembaca, kami juga mohon maaf karena makalah kami masih kurang dari sempurna. DAFTAR PUSTAKA Appley, G. A. 2005. Orthopedi dan Fraktur Sistem Appley, Edisi VII. Jakarta: Widya Medika. Baradero, Mary. 2008. Keperawatan perioperatif .Jakarta : EGC. Brunner & Suddarth. (2008). Keperawatan Medikal Bedah.(edisi 8). Jakarta : EGC Grace, Pierce A., dan Borley, Neil R., 2006. Nyeri Abdomen Akut. Dalam: Safitri, Amalia, ed. At a Glance Ilmu Bedah. Edisi ketiga. Jakarta : Erlangga. Juniartha. 2007. Angka Kejadian Fraktur. http://okezone.com diakses pada tanggal 14 September 2016 Lukman & Ningsih, Nurma. (2009). Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Musculoskeletal. Jakarta: Salemba Medik Mansjoer, A dkk. 2007. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1 edisi 3. Jakarta: Media Aesculapius Marilynn E, Doengoes. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. EGC : Jakarta Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem Muskuloskeletal. EGC: Jakarta. Noor Helmi, Zairin, 2012. Buku Ajar Gangguan Muskuloskeletal; jilid 1, Jakarta: Salemba Medika Price, dkk. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses – Proses Penyakit, Ed. 6, volume 1&2. EGC: Jakarta. Smeltzer, Suzanne, C. Bare Brenda, G. 2004. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Brunner & Suddarth, Edisi VIII. Jakarta: EGC. Suratun,.2008. Klien Gangguan System Muskuloskelata. Seri Asuhan Keperawatan ; Editor Monika Este. EGC: Jakarta.

Judul: Asuhan Keperawatan Pada Tn .n Dengan Post Open Reduction Internal Fixation (orif) Fraktur Femur

Oleh: Sukmara Wiratama


Ikuti kami