Strategi Pengembangan Ekonomi Lokal Di Kabupaten Malang Dengan Metode Heksagonal Pel

Oleh Naura Athira Ardianti

1,2 MB 8 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Strategi Pengembangan Ekonomi Lokal Di Kabupaten Malang Dengan Metode Heksagonal Pel

1 KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas besar makalah yang berjudul “ Strategi Pengembangan Ekonomi Lokal di Kabupaten Malang dengan Metode Heksagonal PEL”. Makalah ini dibuat dalam rangka pemenuhan tugas mata kuliah Ekonomi Wilayah yang merupakan syarat wajib bagi mahasiswa Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya dalam penyelesaian mata kuliah tersebut. Dengan selesainya makalah ini kami sampaikan terima kasih atas bantuan dalam kelancaran pembuatan makalah berupa bimbingan, arahan, koreksi dan saran kepada: 1. Pak Arwi Yudhi Koswara, ST, MT. selaku dosen pembimbing mata kuliah Perencanaan Wilayah. 2. Pak Adjie Pamungkas, ST., M.Dev.Plg., Ph.D. selaku dosen pengajar mata kuliah Perencanaan Wilayah. 3. Kedua orang tua dan keluarga yang telah mendukung selama masa studi di Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. 4. Rekan-rekan di Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota yang selalu memberikan dorongan dan motivasi selama proses penyusunan makalah ini. 5. Penulis referensi yang karyanya sangat bermanfaat sebagai pendukung penyusunan makalah ini, serta semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu – persatu. Penulis mengharapkan dapat memberikan berbagai informasi dan data yang bermanfaat bagi perkembangan wilayah dan kota khususnya yang berhubungan dengan mata kuliah Ekonomi Wilayah. Surabaya, Januari 2021 Tim Penyusun 2 3 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR...............................................................................................................2 BAB I.........................................................................................................................................4 PENDAHULUAN......................................................................................................................4 1.1 Latar Belakang.........................................................................................................4 1.2 Rumusan Masalah....................................................................................................5 1.3 Tujuan dan Sasaran..................................................................................................5 1.4 Sistematika Penulisan..............................................................................................5 BAB II........................................................................................................................................7 TINJAUAN PUSTAKA.............................................................................................................7 2.1 Tinjauan Teori..........................................................................................................7 2.1.1 Pengembangan Ekonomi Lokal...........................................................................7 2.1.2 Heksagonal PEL...................................................................................................8 2.2 2.2.1 Tinjauan Kebijakan..................................................................................................9 RPJMD Kabupaten Malang Tahun 2016-2021....................................................9 2.2.2 Kebijakan dan Strategi Pengembangan Kawasan Pertanian Kabupaten Malang Berdasarkan RTRW Kabupaten Malang Tahun 2010-2030..............................................9 BAB III.....................................................................................................................................13 GAMBARAN UMUM.............................................................................................................13 3.1 Gambaran Umum Wilayah............................................................................................13 3.2 RTRW Kabupaten Malang 2010 – 2030........................................................................14 BAB IV....................................................................................................................................15 ANALISIS................................................................................................................................15 BAB V KESIMPULAN...........................................................................................................16 LAMPIRAN.............................................................................................................................17 DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................18 4 DAFTAR TABEL Tabel 1 Indeks PEL Dimensi Kelompok Sasaran...............................................................17 Tabel 2 Indeks PEL Dimensi Faktor Lokasi.......................................................................18 Tabel 3 Indeks PEL Dimensi Pembangunan Berkelanjutan.............................................19 Tabel 4 Indeks PEL Dimensi Kesinergian dan Fokus Kebijakan.....................................19 Tabel 5 Indeks PEL Dimensi Tata Kepemerintahan..........................................................20 Tabel 6 Indeks PEL Dimensi Proses Manajemen...............................................................21 Tabel 7 Status PEL Kecamatan Karangploso.....................................................................22 v DAFTAR GAMBAR Gambar 1 Hexagonal PEL......................................................................................................9 Gambar 2 Peta Administrasi Kabupaten Malang..............................................................13 Gambar 3 Pengembangan Kawasn Pertumbuhan Cepat Karangploso...........................14 Gambar 4 Indeks PEL Kecamatan Karangploso...............................................................23 Gambar 5 Website UMKM Kabupaten Malang.................................................................26 Gambar 6 Website E-Monev Kabupaten Malang...............................................................27 vi BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pengembangan ekonomi lokal (PEL) merupakan proses dimana pemerintah lokal dan organsisasi masyarakat terlibat untuk mendorong, merangsang, memelihara, aktivitas usaha untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Untuk meningkatkan pembangunan daerah, terutama pada daerah pedesaan yang sebagian besar merupakan daerah pertanian, maka pemerintah daerah berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan menggali dan mengembangkan potensi-potensi yang ada di wilayah tersebut melalui Pengembangan Ekonomi Lokal. Pengembangan Ekoomi Lokal merupakan proses dimana pemerintah lokal dan organsisasi masyarakat terlibat untuk mendorong, merangsang, memelihara aktivitas usaha untuk menciptakan lapangan pekerjaan (Blakely and Bradshaw, 1994). Setiap upaya pembangunan ekonomi daerah mempunyai tujuan utama untuk meningkatkan jumlah dan jenis peluang kerja untuk masyarakat daerah. Pembangunan ekonomi daerah dapat dimulai pada pembangunan daerah pedesaan pada umumnya dan sektor pertanian pada khusunya karena keduanya sama sekali tidak bersifat pasif dan sekedar penunjang dalam proses pembangunan ekonomi secara keseluruhan, keduanya harus ditempatkan pada kedudukan yang sebenarnya yakni sebagi unsur yang sangat penting, dinamis dan bahkan sangat menentukan dalam strategi-strategi pembangunan secara keseluruhan, terutama pada negara sedang berkembang yang berpendapatan rendah. Kabupaten Malang merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Timur yang memiliki potensi untuk pengembangan sektor pertanian. Mata pencaharian masyarakat di Kabupaten Malang mencapai 415.821 jiwa berada di sektor pertanian (BPS Kabupaten Malang, 2020). Besarnya penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian tersebut mengindikasikan pembangunan di sektor pertanian merupakan pilar utama keberhasilan pembangunan daerah di Kabupaten Malang. Dalam rangka memajukan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Malang perlu dilakukan pembenahan sistem perencanaan pembangunan daerah dengan menganalisis aspek ekonomi dasar dan keterpaduan antar dinas yang memiliki potensi pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Malang, hal ini sangat penting, fokusnya adalah pada Untuk pertumbuhan ekonomi masing-masing sektor. Oleh karena itu, sasaran dari kebijakan strategi pembangunan adalah memberikan dampak terbaik bagi pertumbuhan ekonomi, meningkatkan pendapatan masyarakat dan menciptakan lapangan kerja. Idealnya, potensipotensi tersebut dimanfaatkan secara maksimal untuk meningkatkan perekonomian daerah dan mensejahterakan masyarakat, khususnya rakyat. Penelitian ini dilakukan dengan metode hexagonal PEL sebagai alat analisis untuk mengidentifikasi dan mengukur kondisi pengembangan ekonomi lokal di Kabupaten Malang. Hasil analisis yang diperoleh nantinya dapat menjadi faktor pengungkit dalam perencanaan strategi pembangunan di Kabupaten Malang. vii 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan penjabaran yang dijelaskan pada latar belakang penelitian ini, maka ditemukan rumusan masalah sebagai berikut “ Bagaimana Strategi Pengembangan Ekonomi Lokal bagi Kabupaten Malang dengan metode heksagonal PEL?”. 1.3 Tujuan dan Sasaran Tujuan penulisan dari dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi strategi pengembangan ekonomi local Kabupaten Malang melalui analisis heksagonal pengembangan ekonomi local. Adapun sasaran penelitian agar tercapainya tujuan diatas adalah sebagai berikut: 1. Menggambarkan dan mengukur kondisi PEL Kabupaten Malang 2. Menganalisis komponen hexagonal PEL sebagai factor pengungkit ekonomi Kabupaten Malang 3. Merumuskan strategi pengembangan PEL Kabupaten Malang 1.4 Sistematika Penulisan BAB I PENDAHULUAN Merupakan bab pendahuluan yang berisikan latar belakang, tujuan dan manfaat dari penyusunan makalah. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Merupakan bab tinjauan pustaka yang menjelaskan Analisis, faktor- faktor, dan metode. BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH Merupakan bab pembahasan yang berisi studi kasus yang dipilih, terdapat gambaran umum lokasi studi. BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN Merupakan bab pembahasan analisis menggunakan Hexagonal PEL untuk pengembangan ekonomo local kabupaten malang BAB V KESIMPULAN Bagian yang menyimpulkan dari semua bab telah dijelaskan serta lesson learned yang didapatkan. viii BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Teori 2.1.1 Pengembangan Ekonomi Lokal Pengembangan ekonomi local terjadi karena adanya keragaman kondisi dan kemajuan daerah, Indonesia yang luas, serta pelaksanaan pembangunan yg top down dan seragam atau sama mengakibatkan tidak efektifnya sebuah pembangunan. Adanya keterbatasan pemerintah pusat dalam kendali sumberdaya. Konsep pusat-pusat pertumbuhan (growth poles) yang menutup peluang pengembangan potensi ekonomi lokal, sehingga usaha-usaha kecil di daerah pinggiran tidak diperhatikan. Lalu munculnya tantangan globalisasi, peningkatan daya saing produk dan wilayah pada tataran global, masalah globalisasi dan kemiskinan tidak hanya menjadi masalah yang diselesaikan. Di satu sisi, dampak globalisasi memang mendapat kecaman. Dampak negatif globalisasi bahkan menjadi perdebatan tersendiri dalam penelitian pembangunan dan globalisasi. Namun di sisi lain, globalisasi sebenarnya bukanlah masalah yang pasti, otomatis, dan proses dampak kesejahteraan universal. Artinya, kemiskinan dan ketimpangan bukanlah efek pasti dari globalisasi. Kemiskinan dan ketimpangan adalah masalah yang kompleks, terutama jika berkaitan dengan integrasi regional atau regional dengan ekonomi global. Dalam era globalisasi, peningkatan ketimpangan dan kemiskinan di berbagai daerah dapat disebabkan oleh banyak faktor, seperti daya saing, kemampuan inovasi, kemampuan kebijakan publik dan lain sebagainya. Dengan adanya fokus kebijakan yang mengarah pada ekonomi makro tidak menjamin keberlanjutan pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu diperlukan pembangunan yang tidak seragam dan memperhatikan kekhasan lokal, perlu Pengembangan Ekonomi Lokal sebagai strategi dalam rangka desentralisasi ekonomi. Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL) adalah suatu proses ketika aktor-aktor di dalam komunitas baik kota, wilayah regional maupun kota-kota besar yaitu pemerintah, swasta dan masyarakat bekerjasama secara kolektif untuk menciptakan kondisi pembangunan ekonomi dan pertumbuhan generasi yang lebih baik. (World Bank, 2001). Pengembangan ekonomi lokal merupakan salah satu pendekatan dalam pengembanganwilayah dan memiliki 2 kata kunci yaitu 1) kerjasama antara semua komponen dan 2) pemanfaatan sumber daya lokal secara optimal (Kementerian PU Cipta Karya, 2012). Menurut Blakely dalam Supriyadi (2007, h.103-123) dalam keberhasilan pengembangan ekonomi lokal dapat dilihat dari beberapa indikator, yaitu: 1) perluasan kesempatan bagi masyarakat kecil dalam kesempatan kerja dan usaha; 2) perluasan bagi masyarakat untuk meningkatkan pendapatan; 3) keberda- yaan lembaga usaha mikro dan kecil dalam proses produksi dan pemasaran; dan 4) keberdayaan kelembagaan jari- ngan kerja kemitraan antara pemerintah, swasta, dan masyarakat lokal. Dalam kaitannya dengan teori pertumbuhan ekonomi, maka Krugman (1994) mengatakan bahwa investasi sumber daya manusia menjadi lebih penting peranannya dalam pembangunan. Sumber daya manusia yang berkuaitas bagi negara sedang berkembang merupakan faktor penting dalam upaya untuk mengejar ketertinggalan pembangunan dengan ix negara lain. Era informasi dan teknologi yang berkembang dewasa ini semakin membuktikan bahwa penguasaan, tehnologi yang baik akan berdampak pada kualitas maupun kuantitas pembangunan itu sendiri. Agar teknologi dapat dikuasi, maka dibutuhkan sumber daya manusia yang berkuaitas. Dalam konteks proses produksi, maka adanya penguasaan tehnologi yang baik, maka akan mendorong terjadinya inovasi tehnologi. Inovasi tehnologi tersebut pada akhirnya dapat menyebab- kan penemuan produk produk baru dan cara produksi yang lebih efisien (Barro dalam Romer, 1994). 2.1.2 Heksagonal PEL Heksagonal PEL (pembangunan Ekonomi Lokal) atau Local Economic Development menurut (Mayer & Stamer, 2014) merupakan semacam alat didaktif. Tujuan model ini adalah menyusun dan sebagai pengingat isu-isu penting dalam proses pembangunan ekonomi local. Model heksagon terdiri dari enam segitiga dimana masing-masing segitiga berkaitan dengan isu tertentu. Meski demikian, keenam segitiga ini tidak diartikan sebagai suatu runtutan aktifitas, namun hanya bersifat penggolongan isu-isu esensial dalam PEL. Segitiga pertama dan kedua (target group dan locational factors) disebut sebagai instrumen inti PEL. Segitiga ketiga dan keempat (policy focus and synergy dan sustanaibility) merupakan inovasi dan perluasan cakupan dan perspektif PEL yang disebut instrumen inovasi. Segitiga kelima dan keenam (governance dan planning M+E) mengenai isu-isu yang terkait dalam implementasi PEL dan digolongkan sebagai segitiga koordinasi. Gambar 1 Hexagonal PEL Sumber : http://www.meso-nrw.de/toolkit/hexagon/hexagon.html, 2021 Heksagonal PEL merupakan alat analisis yang dapat digunakan untuk menggambarkan dan mengukur kondisi PEL di suatu wilayah. Berdasarkan hasil pemetaan tersebut kemudian dilakukan analisis terhadap komponen heksagonal PEL yang berperan sebagai faktor pengungkit (leverage factor) PEL. Berdasarkan nilai faktor pengungkit tersebut selanjutnya disusun strategi pengembangan PEL (Bappenas, 2006). x 2.2 Tinjauan Kebijakan 2.2.1 RPJMD Kabupaten Malang Tahun 2016-2021 Dalam rangka pencapaian visi dan misi bupati Malang dan wakil bupati Malang Tahun 2016-2021, yaitu “Terwujudnya Kabupaten Malang yang MADEP MANTEB MANETEP” terdapat kebijakan alokasi anggaran prioritas II, yakni diarahkan pada salah satunya untuk Peningkatan kesejahteraan masyarakat, penanganan kemiskinan dan peningkatan ketahanan pangan melalui revitalisasi sektor pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan dan kehutanan, penguatan struktur ekonomi pedesaan berbasis potensi lokal, pemberdayaan koperasi dan UMKM, serta dukungan infrastruktur pedesaan. 2.2.2 Kebijakan dan Strategi Pengembangan Kawasan Pertanian Kabupaten Malang Berdasarkan RTRW Kabupaten Malang Tahun 2010-2030 Di Kabupaten Malang kawasan pertaniannya direncanakan untuk terletak di kawasan perdesaan dan kawasan agropolitan. Dalam pengembangan kawasan tersebut kedepannya, terdapat beberapa kebijakan dan strategi yang diberlakukan oleh pemerintah Kabupaten Malang. A. Pengembangan kawasan perdesaan sesuai potensi masing-masing kawasan yang dihubungkan dengan pusat kegiatan pada setiap kawasan perdesaan, dengan strategi sebagai berikut: 1. Pengembangan kawasan perdesaan berbasis hasil perkebunan pada wilayah Malang Selatan. 2. Peningkatan pertanian berbasis hortikultura pada wilayah Malang Barat dan Timur. 3. Pengembangan pusat pengolahan dan hasil pertanian termasuk lumbung modern pada pusat produksi di kawasan perdesaan. B. Pengembangan kawasan agropolitan untuk mendorong pertumbuhan kawasan perdesaan di Wilayah Malang Timur dan Malang Barat, dengan strategi sebagai berikut: 1. Peningkatan produksi, pengolahan dan pemasaran produk pertanian unggulan sebagai satu kesatuan system. 2. Pengembangan infrastruktur penunjang agropolitan. 3. Pengembangan kelembagaan penunjang agropolitan. C. Pengembangan produk unggulan perdesaan, dengan strategi sebagai berikut: 1. Pada kawasan perdesaan yang berpotensi sebagai pusat sentra produksi dilengkapi dengan lumbung desa modern. 2. Pengembangan fungsi kawasan perdesaan sesuai potensi wilayah, yakni perdesaan terletak di kawasan pegunungan untuk hutan lindung, hutan produksi, perkebunan dan hortikultura, perdesaan di dataran rendah untuk pertanian pangan, dan perdesaan pesisir pengembangan perikanan. 3. Peningkatan nilai tambah produk pertanian dengan pengolahan hasil. 4. Mendorong ekspor hasil pertanian unggulan daerah. 5. Pengembangan fasilitas sentra produksi-pemasaran pada pusat kegiatan ekonomi di Mantung - Pujon. xi D. Penetapan kawasan lahan pertanian pangan, dengan strategi sebagai berikut: 1. Peningkatan sarana dan prasarana pertanian untuk meningkatkan nilai produktivitas pertanian; 2. Pemberian insentif pada lahan yang telah ditetapkan sebagai lahan pangan berkelanjutan; serta 3. Pengendalian secara ketat kawasan yang telah ditetapkan sebagai lahan pangan berkelanjutan. E. Pengembangan sistem agropolitan pada kawasan potensial, dengan strategi sebagai berikut: 1. Pengembangan produk unggulan disertai pengolahan dan perluasan jaringan pemasaran 2. Menetapkan prioritas pengembangan kawasan agropolitan dengan mengarahkan pada Kecamatan Pujon, Kecamatan Ngantang, Kecamatan Poncokusumo, dan Kecamatan Sumbermanjing Wetan 3. Peningkatan kemampuan permodalan melalui kerjasama dengan swasta dan pemerintah. 4. Pengembangan sistem informasi dan teknologi pertanian. F. Pengembangan kawasan pertanian, dengan strategi sebagai berikut: 1. Luasan sawah beririgasi teknis di daerah secara keseluruhan tidak boleh berkurang; 2. Pada kawasan perkotaan yang alih fungi sawah tidak dapat dihindari harus dilakukan pengembangan irigasi setengah teknis menjadi sawah beririgasi teknis sehingga secara keseluruhan luas sawah beririgasi teknis tidak berkurang; 3. Saluran irigasi tidak boleh diputus atau disatukan dengan drainase, dan penggunaan bangunan sepanjang saluran irigasi harus dihindari; 4. Pada lahan yang ditetapkan sebagai lahan pangan berkelanjutan, pertanian tanaman pangan diberikan insentif dan tidak boleh alih fungsi untuk peruntukan lain; 5. Pengembangan lumbung desa modern; 6. Pengembangan hortikultura dengan pengolahan hasil dan melakukan upaya ekspor; 7. Upaya pelestarian kawasan hortikultura dengan mengembangkan sebagian lahannya untuk tanaman tegakan tinggi yang memiliki fungsi lindung; 8. Pengembalian lahan yang rusak atau alih komoditas menjadi perkebunan seperti semula; 9. Peningkatan produktivitas dan pengolahan hasil perkebunan; 10. Pengembangan kemitraan dengan masyarakat; 11. Melakukan usaha kemitraan dengan pengembangan peternakan; 12. Pengembangan breeding centre 13. Memelihara kualitas waduk dan sungai untuk pengembangan perikanan darat; 14. Pengembangan sistem minapolitan; 15. Pengembangan perikanan tangkap disertai pengolahan hasil ikan laut; 16. Penggunaan alat tangkap ikan laut yang ramah lingkungan; xii 17. Peningkatan kualitas ekosistem pesisir untuk menjaga mata rantai perikanan laut. G. Indikasi arahan peraturan zonasi sistem perdesaan, meliputi: 1. Kawasan terbangun perdesaan dapat dilakukan penambahan fungsi yang masih saling bersesuaian, tetapi dengan memperhatikan besaran dan/atau luasan ruangnya di setiap zona serta fungsi utama zona tersebut; 2. Kawasan tidak terbangun atau ruang terbuka untuk pertanian yang produktif harus dilakukan pengamanan khususnya untuk tidak dialihfungsikan menjadi lahan nonpertanian; 3. Kawasan perdesaan harus mengefisienkan ruang untuk pertanian dan perubahan fungsi ruang bagi kawasan terbangun hanya dilakukan secara infiltratif pada permukiman yang ada dan harus menggunakan lahan yang kurang produktif; 4. Pengembangan permukiman perdesaan harus menyediakan sarana dan prasarana lingkungan permukiman yang memadai sesuai kebutuhan masing-masing. xiii BAB 3 GAMBARAN UMUM 3.1 Gambaran Umum Wilayah Kabupaten Malang merupakan salah satu kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Timur. Terletak pada wilayah dataran tinggi dan secara astronomis terletak pada koordinat 112° 17’ 10,9” - 112° 57’ 0,0” Bujur Timur dan 7° 44” 55,11” - 8° 26’ 35,45” Lintang selatan. Kabupaten Malang memiliki luas wilayah sebesar 334.787 Ha. Secara administratif Kabupaten Malang terdiri dari 33 Kecamatan yang tersebar pada wilayah perkotaan dan perdesaan dan memiliki batas-batas administrasi wilayah sebagai berikut: Sebelah Utara : Kabupaten Jombang, Mojokerto, dan Pasuruan Sebelah Timur : Kabupaten Probolinggo dan Lumajang Sebelah Selatan : Samudra Indonesia Sebelah Barat : Kabupaten Blitar dan Kediri Gambar 2 Peta Administrasi Kabupaten Malang Sumber: RTRW Kabupaten Malang Tahun 2010 - 2030 xiv Secara administratif kewilayahan, Kabupaten Malang terbagi atas 33 Kecamatan, 12 Kelurahan, 378 Desa, 1.368 Dusun, 3.183 Rukun Warga (RW) dan 14.869 Rukun Tetangga (RT). Pusat pemerintahan kabupaten Malang berada di Kecamatan Kepanjen sebagaimana telah ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pemindahan Ibukota Kabupaten Malang dari Wilayah Kota Malang ke Wilayah Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang. 3.2 Identifikasi Pengembangan Ekonomi Lokal Segitiga pertama dan kedua (target group dan locational factors) disebut sebagai instrumen inti PEL. Segitiga ketiga dan keempat (policy focus and synergy dan sustanaibility) merupakan inovasi dan perluasan cakupan dan perspektif PEL yang disebut instrumen inovasi. Segitiga kelima dan keenam (governance dan planning M+E) mengenai isu-isu yang terkait dalam implementasi PEL dan digolongkan sebagai segitiga koordinasi. Gambar 3 Pengembangan Kawasn Pertumbuhan Cepat Karangploso Sumber : Kompasnia, 2020 1. Kelompok Sasaran Kecamatan Karangploso memiliki luas wilayah 5.957.898 Ha. Sebagian besar wilayah kecamatan ini didominasi oleh area tegal, kebun, hutan dan sawah. Tak heran jika sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai petani. Tercatat sebanyak 16.812 penduduk bermata pencahariaan petani dan buruh tani. Investasi di Kabupaten Malang ini juga telah dimudahkan dengan diterbitkannya Peraturan Daerah mengenai kemudahan investasi bagi investor. Terdapat juga xv pengurangan beban pajak, kemudahan dalam pengurusan IPPT (izin peruntukan penggunaan tanah), pengurusan IMB (izin mendirikan bangunan), dan izin lingkungan, AMDAL (analisis mengenai dampak lingkungan). Selain itu juga terdapat kemudahan dalam pengurusan KRK (keterangan rencana kota), dan izin gangguan atau HO. Selain di sector pertanian, sector usaha lain yang cukup banyak mendominasi dalam investasi yakni adalah bisnis property dengan capaian investasi mencapai Rp10 triliun. Pusat pelayanan investasti ini diurus oleh DPMPTSP Kabupaten Malang. 2. Faktor lokasi Listrik dan air bersih merupakan kriteria yang dibutuhan untuk mendukung daya saing sektor pertanian. Sedangakan kriteria selanjutnya yang juga penting untuk mendukung daya saing daerah adalah infrastruktur. Infrastruktur yang baik akan memuudahkan dalam hal pendistribusian hasil-hasil pertanian. Karangploso sendiri telah memiliki lokasi strategis dan biasa digunakan menjadi jalan pintas dari Kota Surabaya menuju Kota Batu ini sudah memiliki infrastruktur jalan yang baik. Sarana prasarana angkutan umum perlu perhatian lebih, karena hanya memiliki satu sub-terminal dan trayek angkutan umum terbilang cukup padat dalam melayani lintas dan dalam kota. Sarana prasarana angkutan umum perlu perhatian lebih, karena hanya memiliki satu subterminal dan trayek angkutan umum terbilang cukup padat dalam melayani lintas dan dalam kota. Terdapat juga lembaga penelitian yakni Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur yang berada di Kabupaten Malang. Tepatnya di Jalan Raya Karangploso Km. 4, Desa Kepuharjo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. Yang mulai berdiri dan mulai efektif pada tanggal 1 April 1995 dengan nama BPTP Karangploso berdasarkan SK Mentan No. 798/Kpts/OT.210/ 12/1994. 3. Aspek keberlanjutan Sektor unggulan di Kecamatan Karangploso adalah Sektor pertanian. Hal tersebut dapat dilihat dari Indeks daya saing sectoral Kecamatan Karangploso, Sektor pertanian menunjukkan angka 3,96, lebih tinggi dari kedua sektor lainnya. Hasil pertanian yang unggul dari wilayah ini adalah padi. Pada periode tanam Oktober 2017 – Maret 2018, Kabupaten Malang bisa panen secara terus-menerus sejak Desember 2017 dan akan berlanjut hingga puncaknya di akhir Maret 2018. Keberlanjutan panen ini disebabkan karena hampir seluruh petani yang panen bulan Desember 2017 dan seterusnya, diikuti langsung dengan olah tanah dan tanam. Dan juga 6 Kecamatan Karangploso sejak awal panen bulan Januari selalu tercatat sebagai kecamatan dengan produktivitas padi tertinggi di Kabupaten Malang. 4. Sinergi pembangunan ekonomi dan sosial Posisi Karangploso sebagai pendukung pertumbuhan perkotaan selain berbatasan langsung dengan dua kota, yaitu Malang dan Batu, dan juga merupakan pendukung skema kawasan strategis ekonomi seperti kawasan strategis agropolitan dan kawasan ekonomi khusus (KEK) Singosari. Pemberdayaan masyarakat di Kecamatan Karangploso dilaksanakan anggota masyarakat yang bekerjasama dengan kelompok formal maupun xvi informal untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman serta berusaha mencapai tujuan bersama. Berdasarkan data dari malangkab.go.id (2020), Kecamatan Karangploso memiliki lembaga masyarakat aktif sejumlah 18 kegiatan, kelompok ekonomi masyarakat sejumlah 2 kelompok, dan kegiatan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) yang terlaksana sejumlah 38 kegiatan selama tahun 2018. Pembangunan wilayah yang dibantu oleh anggaran dana desa, pajak maupun retribusi untuk pembangunan infrastruktur jalan guna memperlancar pergerakan roda perekonomian. Selain itu Kecamatan Karangploso juga merupakan wilayah pendukung pengembangan jaringan transportasi regional. 5. Tata Kepemerintahan RTRW Kabupaten Malang Pasal 45 ayat 2 Kecamatan Karangploso ditetapkan sebagai kawasan pertanian sawah dengan upaya penanganan/pengelolaan kawasan pertanian sawah, meliputi: 1. Sawah beririgasi teknis harus dipertahankan luasannya; 2. Perubahan fungsi sawah ini hanya diizinkan pada kawasan perkotaan dengan perubahan maksimum 50 % dan sebelum dilakukan perubahan atau alih fungsi harus sudah dilakukan peningkatan fungsi irigasi setengah teknis atau sederhana menjadi teknis dua kali luas sawah yang akan dialihfungsikan dalam pelayanan daerah irigasi yang sama; 3. Pada kawasan perdesaan alih fungsi sawah diizinkan hanya pada sepanjang jalan utama (arteri, kolektor, lokal primer), dengan besaran perubahan maksimum 20 % dari luasan sawah yang ada, dan harus dilakukan peningkatan irigasi setengah teknis atau sederhana menjadi irigasi teknis, setidaknya dua kali luasan area yang akan diubah dalam pelayanan daerah irigasi yang sama; 4. Pada sawah beririgasi teknis yang telah ditetapkan sebagai lahan pertanian tanaman pangan berkelanjutan maka tidak boleh dilakukan alih fungsi; 5. Sawah beririgasi sederhana dan setengah teknis secara bertahap dilakukan peningkatan menjadi sawah beririgasi teknis; serta 6. Kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan pertanian diarahkan untuk meningkatkan produktifitas tanaman pangan dengan mengembangkan kawasan cooperative farming dan hortikultura dengan mengembangkan kawasan good agriculture practices. Petani di Jawa Timur khususnya Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang mulai kesulitan dalam menemukan pupuk subsidi di pasaran. Yang mana hal ini mengharuskan mereka untuk mengeluarkan biaya lebih besar saat menjelang musim tanam. Namun hal ini dapat disiasati oleh Pemdes yang bekerjasama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Malang untuk mengadakan kegiatan peningkatan keterampilan pada petani budidaya padi. 6. Proses manajemen Pengembangan Ekonomi Lokal di Kecamatan Karangploso melibatkan beberapa stakeholders, seperti pemerintah, swasta, lembaga keuangan, akademisi, maupun masyarakat. Sektor unggulan di Kecamatan Karangploso ada di sektor pertanian. Sektor pertanian memiliki efek terhadap beberapa sektor lain, salah satunya pariwisata. Kecamatan Karangploso memiliki kultur agraris yang sangat kental dan memiliki potensi xvii sebagai desa wisata. Stakeholders dari pemerintahan yang berperan dalam PEL Kecamatan Karangploso adalah Bapedda Kabupaten Malang; Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura, dan Perkebunan Kabupaten Malang; Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Malang; Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Malang; dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang. Masyarakat juga berperan dalam PEL Kecamatan Karangploso melalui Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) maupun Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Pokdarwis Kecamatan Karangploso termasuk berkembang. Pihak swasta dalam pengembangan PEL Kecamatan Karangploso merupakan pihak yang melakukan usaha yang mendukung PEL Kecamatan Karangploso. Interaksi antar stakeholders dapat memberikan peluang dalam PEL berdasarkan potensi wilayah melalui knowledge sharing agar PEL Kecamatan Karangploso memiliki daya saing sehingga mampu melakukan ekspor. Pemberdayaan masyarakat dalam PEL salah satunya dilaksanakan di Desa Bocek. Desa Bocek memiliki komoditas unggulan kopi dan bekerjasama dengan Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) menghasulkan Kopi Pilozz. Program Kemitraan Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk memberi contoh proses pengolahan yang baik dan benar kepada para petani sebagai pelaku utama agar bisa diperoleh keuntungan yang lebih besar, sehingga para petani/poktan tergerak untuk mau melakukan proses pengolahan kopi dengan baik dan benar sebagai suatu usaha kelompok. Kecamatan Karangploso dalam RPJMD Kabupaten Malang Tahun 2016-2021 dinyatakan sebagai kawasan dengan orientasi kepada sektor pertanian (tanaman pangan, hortikultura, perkebunan). Pengembangan infrastruktur penunjang juga diperlukan dalam PEL Kecamatan Karangploso agar pertumbuhan ekonomi terjadi secara optimal. xviii BAB 4 ANALISIS Penilaian PEL Kecamatan Karangploso menggunakan analisis Rapid Assessment Technique for Local Economic Development (RALED). RALED dilakukan berdasarkan enam dimensi heksagonal PEL, yaitu kelompok sasaran; faktor lokasi; pembangunan berkelanjutan; kesinergian fokus dan kebijakan; tata kelola; dan proses manajemen. Perhitungan pada RALED dilakukan dengan memberikan penilaian terhadap dimensi atau aspek dalam heksagonal PEL yang dibagi menjadi empat antara lain : Good (baik) ≥75;50 ≤ Up (Cukup baik) < 75;50 ≤ Down (buruk) < 50; dan Bad (Sangat buruk) < 25. Hasil dari analisis RALED digunakan untuk menentukan leverage factors (faktor pengungkit) dalam PEL suatu wilayah. Faktor pengungkit dapat menjadi dasar dalam penyusunan rencana aksi PEL Kecamatan Karangploso untuk menentukan kebijakan maupun indikasi program strategis. 4.1 Dimensi Kelompok Sasaran Indeks PEL Kecamatan Karangploso dalam dimensi kelompok sasaran memiliki nilai sebesar 82.308. Indeks ini termasuk dalam kategori baik. Insentif pemda dalam bentuk pemberian dana stimulan, dan keringanan biaya perijinan memiliki nilai yang tinggi karena Pemkab Malang sudah melakukan peringanan pajak dalam pengelolaan ekonomi lokal di Kecamatan Karangploso. Berikut ini adalah tabel indeks PEL dimensi kelompok sasaran. Tabel 1 Indeks PEL Dimensi Kelompok Sasaran NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 xix Dimensi Kelompok Sasaran Aspek Penilaian Kecepatan pengurusan ijin bagi investasi baru Insentif pemda dalam bentuk pemberian dana stimulan, dan keringanan biaya perijinan Pendampingan dan monitoring bisnis pelaku usaha baru Fasilitasi Pelatihan kewirausahaan bagi pelaku usaha baru Upaya pemda untuk peningkatan teknologi, manajemen dan kelembagaan lokal Promosi produk UKM dari pemda Upaya fasilitasi permodalan dari pemda Pusat layanan investasi Kampanye peluang berusaha Keamanan Kepastian berusaha dan hukum Penilaian 85 90 80 80 80 85 85 80 85 80 80 Dimensi Kelompok Sasaran NO Aspek Penilaian 12 Informasi prospek bisnis 13 Peraturan tentang kemudahan investasi JUMLAH RATA-RATA Sumber : Hasil analisis, 2021 4.2 Dimensi Faktor Lokasi Penilaian 70 90 1070 82.308 Indeks PEL Kecamatan Karangploso dalam dimensi faktor lokasi memiliki nilai sebesar 73.529. Indeks ini termasuk dalam kategori cukup baik. Kecamatan Karangploso sudah memiliki infrastruktur penunjang PEL, tetapi beberapa sarana/prasarana perlu untuk diperbaiki. Berikut ini adalah tabel indeks PEL dimensi faktor lokasi. Tabel 2 Indeks PEL Dimensi Faktor Lokasi Dimensi Faktor Lokasi NO Aspek Penilaian 1 Etos kerja SDM 2 Fasilitas umum dan fasilitas sosial 3 Kualitas pelayanan kesehatan 4 Kualitas dari fasilitas pendidikan 5 Kualitas lingkungan 6 Kualitas pemukiman 7 Lembaga penelitian Peluang kerjasama dalam industri sejenis 8 maupun industri hulu-hilir 9 Jumlah Lembaga keuangan lokal 10 Tenaga kerja trampil 11 ketersediaan air bersih 12 Infrastruktur energi 13 Infrastruktur komunikasi 14 Sarana transportasi 15 Akses ke pelabuhan udara 16 Akses ke pelabuhan laut 17 Akses dari dan ke lokasi JUMLAH RATA-RATA Sumber : Hasil analisis, 2021 4.3 Dimensi Pembangunan Berkelanjutan Penilaian 85 75 75 80 60 70 65 70 75 75 80 80 75 60 70 70 85 1250 73.529 Indeks PEL Kecamatan Karangploso dalam dimensi pembangunan berkelanjutan memiliki nilai sebesar 72.222. Indeks ini termasuk dalam kategori cukup baik. dimensi lingkungan dalam PEL Kecamatan Karangploso memiliki nilai yang cukup rendah karena xx pada kondisi eksisting masih terdapat permasalahan lingkungan, seperti pengelolaan sampah yang tidak baik. Berikut ini adalah tabel indeks PEL dimensi pembangunan berkelanjutan. Tabel 3 Indeks PEL Dimensi Pembangunan Berkelanjutan Dimensi Pembangunan Berkelanjutan NO Aspek Penilaian Kebijakan konservasi sumber daya alam 1 dalam PEL 2 Pengelolaan dan pendaur ulangan limbah Kebijakan pemecahan permasalahan 3 lingkungan PEL mempertimbangkan Keberadaan adat 4 dan kelembagaan lokal Kontribusi PEL terhadap peningkatan 5 kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat lokal Jumlah perusahaan yang melakukan Inovasi 6 pengembangan produk dan pasar Jumlah perusahaan yang telah memiliki 7 business plan Pengembangan industri pendukung untuk 8 keberlanjutan sistem industri 9 Sistem industri yang berkelanjutan JUMLAH RATA-RATA Sumber : Hasil analisis, 2021 4.4 Dimensi Kesinergian dan Fokus Kebijakan Penilaian 70 60 70 80 80 75 60 70 85 650 72.222 Indeks PEL Kecamatan Karangploso dalam dimensi kesinergian dan fokus kebijakan memiliki nilai sebesar 73.750. Indeks ini termasuk dalam kategori cukup baik. PEL Kecamatan Karangploso memiliki beberapa kebijakan yang menunjang pengelolaan ekonomi lokal. Berikut ini adalah tabel indeks PEL dmensi kesinergian dan fokus kebijakan. Tabel 4 Indeks PEL Dimensi Kesinergian dan Fokus Kebijakan NO 1 2 3 4 xxi Dimensi Kesinergian dan Fokus Kebijakan Aspek Penilaian Kebijakan pengembangan jaringan usaha antar sentra usaha Kebijakan tata ruang PEL Kebijakan kerjasama antar daerah/pemda Kebijakan pengembangan komunitas sep:perbaikan lingkungan, perbaikan kampung Penilaian 70 75 75 60 Dimensi Kesinergian dan Fokus Kebijakan NO Aspek Penilaian Kebijakan pengembangan pusat 5 pertumbuhan di perdesaan (agropolitan) dan perkotaan Kebijakan pembangunan kawasan industri 6 hinterland/ industri Kebijakan pengurangan kemiskinan secara 7 partisipatif Kebijakan pemberdayaan masyarakat 8 berbasis kemitraan dengan dunia usaha 9 Kebijakan pengembangan keahlian 10 Kebijakan informasi bursa tenaga kerja Kebijakan pengembangan jaringan usaha 11 antar pelaku ekonomi Kebijakan peningkatan peran perusahaan 12 daerah 13 Kebijakan pemberdayaan UKM 14 Kebijakan persaingan usaha 15 Kebijakan promosi daerah 16 Kebijakan peningkatan investasi JUMLAH RATA-RATA Sumber : Hasil analisis, 2021 4.5 Dimensi Tata Kepemerintahan Penilaian 85 40 75 85 75 75 70 75 80 75 80 85 1180 73.750 Indeks PEL Kecamatan Karangploso dalam dimensi tata kepemerintahan memiliki nilai sebesar 81.667. Indeks ini termasuk dalam kategori baik. PEL dimensi tata kepemerintahan PEL Kecamatan Karangploso termasuk kategori baik karena dalam kondisi eksisting sudah terdapat interaksi antara pemerintah dengan swasta maupun masyarakat. Berikut ini adalah tabel indeks PEL dimensi tata kepemerintahan. Tabel 5 Indeks PEL Dimensi Tata Kepemerintahan NO 1 2 3 4 5 6 xxii Dimensi Tata Kepemerintahan Aspek Penilaian Manfaat asosiasi/organisasi bagi anggotanya Peran asosiasi industri/komoditas/forum bisnis terhadap perbaikan kebijakan pemerintah di bidang PEL Status Asosiasi industri/ komoditi/ Forum Bisnis Prosedur pelayanan administrasi publik Restrukturisasi organisasi pemerintah Reformasi sistem insentif pengembangan SDM Penilaian 90 80 70 85 75 75 NO Dimensi Tata Kepemerintahan Aspek Penilaian aparatur 7 Kemitraan di bidang pembiayaan usaha 8 Kemitraan di bidang promosi dan perdagangan 9 Kemitraan di bidang infrastruktur JUMLAH RATA-RATA Sumber : Hasil analisis, 2021 4.6 Dimensi Proses Manajemen Penilaian 90 90 80 735 81.667 Indeks PEL Kecamatan Karangploso dalam dimensi proses manajemen memiliki nilai sebesar 74.231. Indeks ini termasuk dalam kategori cukup baik. Dalam pengembangan PEL Kecamatan Karangploso memiliki beberapa stakeholders yang memiliki peran dalam proses perencanaan maupun monev. Berikut ini adalah tabel indeks PEL dimensi proses manajemen. Tabel 6 Indeks PEL Dimensi Proses Manajemen NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 xxiii Dimensi Proses Manajemen Aspek Penilaian Penggunaan hasil evaluasi dalam perbaikan perencanaan Frekuensi dilakukan diskusi bagi proses pemecahan permasalahan Frekuensi dilakukan evaluasi mandiri (self evaluation) Keterlibatan stakeholder dalam proses monitoring dan evaluasi Keterlibatan stakeholder dalam proses penyusunan indikator evaluasi Kesesuaian implementasi dengan perencanaan Sinkronisasi lintas sektoral dan spasial dalam perencanaan PEL Jumlah stakeholder yang terlibat dalam proses perencanaan PEL Penggunaan hasil diagnosis sebagai dasar perencanaan PEL Identifikasi stakeholder PEL Pemetaan kondisi politik lokal Penilaian terhadap daya saing wilayah Analisis dan pemetaan potensi ekonomi JUMLAH RATA-RATA Penilaian 80 75 60 70 70 80 80 75 80 80 65 75 75 965 74.231 Sumber : Hasil analisis, 2021 4.7 Status Pengembangan Ekonomi Lokal Kecamatan Karangploso Hasil analisis PEL Kecamatan Karangploso menggunakan RALED menunjukkan bahwa dua dimensi PEL berada dalam kategori baik dan empat dimensi dalam kategori cukup baik. Dua dimensi yang termasuk dalam kategori baik adalah dimensi kelompok sasaran dan dimensi tata kepemerintahan. Dua dimensi ini dapat dipertahankan dalam PEL Kecamatan Karangploso. Empat dimensi yang terdapat dalam kategori cukup baik adalah dimensi faktor lokasi, dimensi pembagunan berkelanjutan, dimensi kesinergian dan fokus kebijakan, dan dimensi manajemen. Indeks terbesar diperoleh oleh dimensi kelompok sasaran dengan nilai 82.308 dan indeks terendah diperoleh dimensi pembangunan berkelanjutan. Dimensi pembangunan berkelanjutan dengan indeks paling rendah memerlukan perhatian khusus dalam PEL Kecamatan Karangploso. Secara keseluruhan status PEL Kecamatan Karangploso memiliki nilai sebesar 76.259. Oleh karena itu, status PEL Kecamatan Karangploso berada dalam kondisi baik karena memiliki nilai di atas 75. Indeks Aspek PEL 1 Kelompok Sasaran 60 6 Proses Manajemen 2 Faktor Lokasi 10 5 Tata Pemerintahan 3 Pembangunan Berkelanjutan 4 Fokus dan Sinergi Kebijakan Gambar 4 Indeks PEL Kecamatan Karangploso Sumber : Hasil analisis, 2021 Tabel 7 Status PEL Kecamatan Karangploso No Dimensi PEL 1 2 Kelompok Sasaran Faktor Lokasi Pembangunan Berkelanjutan Fokus dan Sinergi 3 4 xxiv Indeks Dimensi PEL 82.308 73.529 Bobot JUMLAH 0.2 0.21 16.462 15.441 72.222 0.12 8.667 73.750 0.19 14.013 No Dimensi PEL Indeks Dimensi PEL 5 6 Kebijakan Tata Pemerintahan Proses Manajemen TOTAL 81.667 74.231 xxv Bobot 0.12 0.16 1 Sumber : Hasil analisis, 2021 JUMLAH 9.800 11.877 76.259 BAB 5 KONSEP PENGEMBANGAN Dimensi kelompok sasaran dan dimensi tata kepemerintahan sudah dalam kategori baik sehingga perlu dipertahankan dan mengembangkan dimensi tersebut. Dimensi kelompok sasaran dapat dikembangkan melalui sosialisasi prospek bisnis PEL Kecamatan Karangploso melalui media sosial maupun pameran potensi ekonomi Kecamatan Karangploso. Beberapa aspek dalam dimensi kelompok sasaran juga perlu dipertahankan, seperti mempertahankan kebijakan insentif dalam biaya perizinan dan kemudahan investasi, memperbanyak kegiatan pelatihan kewirausahaan bagi masyarakat yang baru melakukan bisnis, dan juga dapat melakukan optimalisasi fasilitas permodalan untuk membantu masyarakat dalam proses PEL. Dimensi tata kepemerintahan berhubungan dengan tata kelola pemerintah terhadap PEL Kecamatan Karangploso. Kegiatan yang dapat dilakukan dalam PEL adalah optimasisasi aspek-aspek yang terdapat dalam dimensi tata kepemerintahan, optimalisasi peran dan fungsi Asosiasi Industri/Komoditi/Forum Bisnis dalam hal kemitraan di bidang promosi dan perdagangan, pembiayaan usaha, infrastruktur. Dimensi proses manajemen, kesinergian dan fokus kebijakan, faktor lokasi, serta pembangunan berkelanjutan merupakan dimensi dengan kategori cukup baik. Dimensi proses manajemen dapat ditingkatkan atau diperbaiki melalui optimalisasi peran stakeholders dalam proses perencanaan hingga monev PEL Kecamatan Karangploso. Dimensi kesinergian dan fokus kebijakan dikembangkan melalui sinergi kebijakan yang berkaitan dengan PEL Kecamatan Karang Ploso. Dimensi faktor lokasi dapat diperkuat melalui pembangunan infrastrukur penunjang PEL Kecamatan Karangploso. Terakhir, dimensi pembangunan berkelanjutan melalui peningkatan upaya untuk pengelolaan sampah maupun limbah. Berdasarkan penjelasan PEL tersebut, maka rencana tindak yang dapat diterapkan di Kecamatan Karangploso adalah: 1. Sosialisasi prospek bisnis PEL untuk menarik investor agar melakukan kegiatan bisnis di Kecamatan Karangploso. Sosialisasi prospek bisnis disertai oleh pencerdasan mengenai tata cara berinvestasi kepada ekonomi lokal yang terdapat di Kecamatan Karangploso. Pemkab maupun dinas terkait PEL Kabupaten Malang dapat mengambil peran terkait izin berinvestasi. Investor dapat mengurus izin investasi melalui DPMPTSP Kabupaten Malang. 2. Pelatihan masyarakat agar dapat mengambil peran dalam proses PEL Kecamatan Karangploso. Pelatihan dapat berupa menambah kemampuan dalam pertanian maupun dalam pengelolaan bisnis yang baik sehingga memiliki daya saing. Pelatihan masyarakat dapat dilakukan di Desa Tawang Agro. Pangestuti et al. (2018) melakukan penelitian mengenai pemetaan potensi ekonomi di Desa Tawang Agro. Desa Tawang Agro memiliki potensi ekonomi di sektor pertanian. Luas lahan pertanian di Desa Tawang Agro sebesar 75% dan merupakan sentra holtikultura sayur di Kecamatan Karangploso. Pelatihan yang dapat diberikan kepada masyarakat Desa Tawang Agro adalah sosialisasi mengenai potensi budidaya jamur. 3. Pembentukan badan peminjaman modal dengan bunga ringan. Fasilitas peminjaman modal dapat berupa koperasi maupun lembaga keuangan daerah. Pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui zakat, infaq, dan shadaqah sudah diterapkan Masjid xxvi Besar Syarif Hidayatullah Kecamatan Karangploso (Nizar 2016). Pengurus Masjid Besar Syarif Hidayatullah melakukan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Pemberdayaan ekonomi masyarakat ini dapat didaptasi ke beberapa desa lain. 4. Pemerintah daerah dapat memanfaatkan Asosiasi Industri/Komoditi/Forum Bisnis dalam kemitraan sehingga kegiatan UMKM dapat terbantu. UMKM dapat mencari partner bisnis melalui kegiatan tersebut. Pemerintah daerah memiliki peran sebagai fasilitator antara UMKM dengan pelaku usaha lain. Pemerintah daerah juga dapat mempromosikan UMKM yang ada di Kecamatan Karangploso. Pemkab Malang memiliki website yang berisikan hasil UMKM di seluruh Kabupaten Malang yang dapat diakses melalui http://umkm.malangkab.go.id (2021). Pemkab Kabupaten Malang juga menjadikan rest area sebagai sarana untuk mempromosikan produk UMKM (malangvoice, 2021). Gambar 5 Website UMKM Kabupaten Malang Sumber: http://umkm.malangkab.go.id, 2021 5. Pelibatan peran stakeholders dalam pengambilan keputusan terkait perencanaan PEL Kecamatan Karangploso. Hal ini dilakukan agar pelaksanaan PEL dapat mengakomodasi kepentingan stakeholders dan meminimalisir miskomunikasi. Stakeholders perlu dilibatkan juga dalam proses monev agar pelaksanaan PEL sesuai dengan rencana. Kabupaten Malang memiliki E-Monev yang dapat diakses stakeholders melalui http://e-monev.malangkab.go.id/. Stakeholders dapat diakses apabila memiliki username dan password. xxvii Gambar 6 Website E-Monev Kabupaten Malang Sumber : e-monev.malangkab.go.id, 2021 6. Pengadaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana penunjang dan infrastruktur, misal sarana dan prasarana transportasi (kendaraan, jalan), infrastruktur energi (listrik, air), dan komunikasi. Pengembangan infrastrukur dapat dilakukan di semua sektor ekonomi lokal Kecamatan Karangploso, salah satunya desa wisata. Utomo & Satriawan (2017) melakukan penelitian di Desa Tawangargo dan Desa Donowarih yang menyatakan bahwa pengembangan infrasturktur penujang desa wisata diperlukan. 7. Peningkatan upaya untuk pemeliharaan lingkungan hidup. Dimensi pengembangan berkelanjutan merupakan dimensi dengan indeks paling rendah dalam analisis heksagonal PEL. Pengelolaan lingkungan menjadi prioritas penting dalam PEL Kecamatan Karangploso. Putri et al. (2015) meneliti mengenai Evaluasi Keberlanjutan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) Di Desa Girimoyo. Peneliti menyatakan bahwa aspek lingkungan memiliki permasalahan dalam pengelolaan limbah rumah tangga dan memiliki pengaruh terhadap KRPL Desa Girimoyo. xxviii BAB 6 PENUTUP 6.1 Kesimpulan Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL) yang dikembangkan di Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang adalalh pertanian. Analisis heksagonal PEL dilakukan untuk mengetahui faktor pengungkit dan dapat menjadi strategi pengembangan PEL Kecamatan Karangploso. Hasil analisis PEL Kecamatan Karangploso menggunakan RALED menunjukkan bahwa dua dimensi PEL berada dalam kategori baik dan empat dimensi dalam kategori cukup baik. Dua dimensi yang termasuk dalam kategori baik adalah dimensi kelompok sasaran dan dimensi tata kepemerintahan. Empat dimensi yang terdapat dalam kategori cukup baik adalah dimensi faktor lokasi, dimensi pembagunan berkelanjutan, dimensi kesinergian dan fokus kebijakan, dan dimensi manajemen. Faktor pengungkit dapat menjadi dasar dalam perumusan rencana tindak PEL Kecamatan Karangploso. Berikut ini adalah strategi PEL Kecamatan Karangploso: Sosialisasi prospek bisnis PEL untuk menarik investor agar melakukan kegiatan bisnis di Kecamatan Karangploso. Sosialisasi prospek bisnis disertai oleh pencerdasan mengenai tata cara berinvestasi kepada ekonomi lokal yang terdapat di Kecamatan Karangploso. Pemkab maupun dinas terkait PEL Kabupaten Malang dapat mengambil peran terkait izin berinvestasi; Pelatihan masyarakat agar dapat mengambil peran dalam proses PEL Kecamatan Karangploso. Pelatihan dapat berupa menambah kemampuan dalam pertanian maupun dalam pengelolaan bisnis yang baik sehingga memiliki daya saing; Pembentukan badan peminjaman modal dengan bunga ringan. Fasilitas peminjaman modal dapat berupa koperasi maupun lembaga keuangan daerah; Pemerintah daerah dapat memanfaatkan Asosiasi Industri/Komoditi/Forum Bisnis dalam kemitraan sehingga kegiatan UMKM dapat terbantu. UMKM dapat mencari partner bisnis melalui kegiatan tersebut. Pemerintah daerah memiliki peran sebagai fasilitator antara UMKM dengan pelaku usaha lain; Pelibatan peran stakeholders dalam pengambilan keputusan terkait perencanaan PEL Kecamatan Karangploso. Hal ini dilakukan agar pelaksanaan PEL dapat mengakomodasi kepentingan stakeholders dan meminimalisir miskomunikasi. Stakeholders perlu dilibatkan juga dalam proses monev agar pelaksanaan PEL sesuai dengan rencana; Pengadaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana penunjang dan infrastruktur, misal sarana dan prasarana transportasi (kendaraan, jalan), infrastruktur energi (listrik, air), dan komunikasi; dan peningkatan upaya untuk pemeliharaan lingkungan hidup. 6.2. Lesson Learned Pembelajaran yang diperoleh dari jurnal “Strategi Pengembangan Ekonomi Lokal di Kabupaten Malang dengan Metode Heksagonal PEL” adalah : 1. PEL dapat menjadi solusi dalam pengembangan ekonomi daerah berbasis masyarakat yang dilakukan oleh pemerintah maupun swasta dengan mengandalkan potensi masing-masing daerah. 2. PEL Kecamatan Karangploso berada di sektor petanian. PEL Kecamatan Karangploso memiliki pengaruh kepada sektor lain, seperti pariwisata dan UMKM. xxix 3. PEL Kecamatan Karangploso memiliki prioritas pengembangan di dimensi pembangunan berkelanjutan, lebih tepatnya aspek lingkungan. KecamatanKarangploso memiliki permasalahan dalam pengelolaan limbah rumah tangga maupun pertanian. 4. Best practice PEL ekonomi lokal di Indonesia terdapat di Sumatera Selatan karena 70% memiliki jenis tanah yang didominasi lahan suboptimal berupa rawa lebak (swamp) dan lahan pasang surut (tidal land). Inovasi, teknologi, dan kemitraan dengan swasta telah terbukti dapat meningkatkan produktivitas sawah di lahan suboptimal yang sebelumnya hanya sekali panen menjadi dua hingga tiga kali panen dalam setahun (Mashita, 2018). 5. xxx DAFTAR PUSTAKA Publikasi : Bradshaw, T. K., & Blakely, E. J. (1999). What are “third-wave” state economic development efforts? From incentives to industrial policy. Economic Development Quarterly, 13(3), 229-244. Krugman, P. (1994). Competitiveness: a dangerous obsession. Foreign Aff., 73, 28. Marhaeniyanto, E., Rusmiwari, S., & Susanti, S. (2019, November). KOPI PILOZZ: PEMBERDAYAAN KOPI RAKYAT DESA BOCEK KECAMATAN KARANGPLOSO KABUPATEN MALANG. In Conference on Innovation and Application of Science and Technology (CIASTECH) (Vol. 2, No. 1, pp. 127-136). Mashita, N. (2018). PBB berharap best practices Sumsel di bidang pertanian bisa diduplikasi di daerah lain. Nizar, M. N. M. (2016). Model Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Melalui Pengelolaan Zakat, Infaq dan Shadaqah (Zis) di Masjid Besar Syarif Hidayatullah Karangploso Malang. MALIA (TERAKREDITASI), 8(1). Pangestuti, E., Nuralam, I. P., Furqon, M. T., & Ramadhan, H. M. (2018). Peta Potensi dalam Menciptakan Kemandirian Ekonomi Desa. Journal of Applied Business Administration, 2(2), 258-266. Putri, A., Pranita, N., Aini, N., & Heddy, Y. S. (2015). Evaluasi Keberlanjutan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) di Desa Girimoyo, Kecamatan Karangploso, Malang (Doctoral dissertation, Brawijaya University). Overby, D. R., Zhou, E. H., Vargas-Pinto, R., Pedrigi, R. M., Fuchshofer, R., Braakman, S. T., ... & Dang, Q. (2014). Altered mechanobiology of Schlemm’s canal endothelial cells in glaucoma. Proceedings of the national Academy of Sciences, 111(38), 1387613881. Romer, P. M. (1994). The origins of endogenous growth. Journal of Economic perspectives, 8(1), 3-22. Supriyadi, E. (2007). Telaah kendala penerapan pengembangan ekonomi lokal: pragmatisme dalam praktek pendekatan PEL. Journal of Regional and City Planning, 18(2), 103-123. Utomo, S. J., & Satriawan, B. (2017). Strategi Pengembangan Desa Wisata di Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang. Jurnal Neo-Bis, 11(2), 142-153. Website : http://www.meso-nrw.de/toolkit/hexagon/hexagon.html di akses 12 Januari 2021 http://malangkab.go.id diakses 13 Januari 2021 https://malangvoice.com/rest-area-karangploso-bakal-pajang-produk-umkm-kabupatenmalang/ diakses 17 Januari 2021 http://umkm.malangkab.go.id/ diakses 17 Januari 2021 https://www.lensaindonesia.com/2018/04/13/pbb-berharap-best-practices-sumsel-dibidang-pertanian-bisa-diduplikasi-di-daerah-lain.html diakses 17 Januari 2021 xxxi

Judul: Strategi Pengembangan Ekonomi Lokal Di Kabupaten Malang Dengan Metode Heksagonal Pel

Oleh: Naura Athira Ardianti


Ikuti kami