Asuhan Keperawatan Kritis Pada Pasien Dengan Acute Heart Failure (ahf) Via Valinza

Oleh Via Valinza

102,2 KB 8 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Asuhan Keperawatan Kritis Pada Pasien Dengan Acute Heart Failure (ahf) Via Valinza

Asuhan Keperawatan Kritis Pada Pasien Dengan Acute Heart Failure (AHF) Via Valinza 11 November 2020 Abstrack Gagal jantung merupakan suatu kondisi dimana jantung mengalami ketidakmampuan dalam memompakan darah untuk memenuhi kebutuhan sirkulasi di dalam tubuh. Gagal jantung ini memiliki dua klasifikasi yaitu gagal jantung akut dan kronik. Gagal jantung ini biasanya disebakan oleh adanya peningkatan beban kerja jantung ataupun adanya hambatan pada pengisian jantung yang menyebabkan terjadi gagal jantung. Patofisiologi pada gagal jantung akut ini sendiri dibagi menjadi tiga tahapan. Manifestasi klinis yang biasanya muncul yaitu dispnea, takikardia, adanya bunyi jantung ¾, edema tungkai, batuk, dan juga tekanan darah rendah. Adapun pemeriksaan lanjut dari gagal jantung ini meliputi elektrokardiografi, rontgen dada, ekokardiografi, dan pemeriksaan laboraturium. Diagnosa yang biasanya muncul pada pasien dengan gagal jantung akut ini meliputi penurunan curah jantung, nyeri, pola napas tidak efektif, kelebihan volume cairan, dan intoleransi aktivitas. Pengertian Gagal jantung merupakan suatu kondisi dimana jantung mengalami ketidakmampuan dalam memompa darah secara adekuat untuk memenuhi kebutuhan sirkulasi sebagai keperluan metabolisme jaringan tubuh yang terjadi secara cepat . AHF adalah suatu tanda dan gejala gagal jantung yang timbul secara mendadak yang terjadi akibat adanya peningkatan kadar peptida natriuretik (NP) plasma. AHF merupakan sindrom multifaset dengan berbagai fenotipe klinis seperti edema paru akut (APE), HF hipertensi, dan syok kardiogenik (CS). AHF merupakan onset yang cepat atau memburuknya gejala dan tanda gagal jantung yang dapat menjadi penyakit onset baru (“de novo”) atau dekompensasi akut gagal jantung kronis. AHF bisa terjadi akibat adanya gangguan fungsi ventrikel kiri (LV) atau dengan fraksi ejeksi yang dipertahankan. Fenotipe klinis AHF meliputi pasien dengan edema paru akut (APE), gagal jantung hipertensi, karena sirkulasi yang tidak memadai, AHF menyebabkan gangguan sistemik yang mempengaruhi semua organ vital (Cerlinskaite et al., 2018, p. 464). Mekanisme utama disfungsi organ dibagi menjadi dua yaitu, kongesti dan hipoperfusi. Etiologi Etiologi gagal jantung akut dikelompokan menjadi beberapa yaitu (Andrianto, 2020, p. 36) : a. Terjadinya kegagalan miokard yang diakibatkan oleh sindrom koroner akut dan miokarditis b. Terjadinya peningkatan beban tekanan (overload pressure) yang disebabkan oleh hipertensi, stenosis katup, dan karkatio aorta c. Beban volume berlebihan misalnya regurgitasi/insifisiensi katup, shunt/pirau dalam jantung dan hipervolemia (kelebihan cairan) d. Terjadinya hambatan pada pengisian jantung misalnya tamponade jantung dan perikarditis konstriktif e. Terjadinya gangguan pada irama jantung yaitu aritmia ventrikular atau bradikardia f. Adanya gangguan metabolik yang menigkat mislanya anemia dan tirotoksikosis Patofisiologi Patofisiologi gagal jantung akut terjadi akibat iskemik atau hipertrofi pada bagian miokard jantung. Gagal janung umumnya sering disertai dengan adanya perubahan cardiac performance yang dilihat dengan beberapa tahapan berikut, yaitu (Rehatta, Hanindito and Tantri, 2019, p. 969-970) : a. Tahap 1-gangguan fungsi ventrikel yang ditandai dengan peningkatan tekanan pengisian jantung atau tekanan baji arteri pulmonalis sehingga menyebabkan kongesti vena di paru-paru dan bermanifestasi secara klinis dalam bentuk dyspnea. b. Tahap 2-terjadi peningkatan laju jantung dan penurunan volume sekuncup. Kondisi takikardi tersembut mengimbangi terjadinya penurunan volume sekuncup sehingga minute output tetap terjaga c. Tahap 3-terjadi penurunan pada curah jantung dan peningkatan pada tekanan pengisian Manifestasi Klinis Manifestasi klinis pada pasien dengan gagal jantung akut, yaitu (Ponikowski et al., 2016, p. 53) : a. Gejala : Dispnea (saat istirahat), sesak napas, kelealahan, ortopnea, batuk, penambahan berat badan/ edema pada pergelangan kaki b. Tanda : takipnea, takikardia, tekanan darah rendah atau normal, tekanan vena jugularis meningkat, bunyi jantung ke-3/4, kerutan, edema, intoleransi posisi terlentang. Penatalaksanaan Penatalaksanaan awal AHF tanpa syok kardiogenik, meliputi empat langkah yang dilakukan dengan cepat (Mebazaa et al., 2016, p. 149) : a. Melakukan triase awal untuk menilai keparahan awal b. Konfirmasi diagnosis AHF berdasarkan tanda klinis dan peptida natriuretik c. Mengidentifikasi penyebab terjadinya AHF d. Menilai cedera organ Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang pada pasien AHF (Andrianto, 2020, p. 40) : a. Elektrokardiografi sering abnormal tergantung penyakit jantung yang mendasari b. Rontgen dada dapat menunjukkan adanya kongesti atau edema paru serta ukuran dan bentuk jantung yang abnormal atau normal c. BNP (brain natriuretic peptide) atau pro-BNP sering meningkat karena stres dinding jantung d. Ekokardiografi dapat mengevaluasi hemodinamik, gangguan fungsi sistolik atau diastolik serta kelainan anatomi jantung misalnya kelainan miokard, katup, perikardium, ataupun kelainan bawaan e. Laboraturium 1. Fungsi ginjal dan gangguan elektrolit. Pada gagal jantung akut stadium lanjut, ditemukan adanya peningkatan BUN dan kreatinin serum, hiponatremia, dan serum bikarbonat rendah 2. Fungsi hati dapat terganggu dengan adanya peningkatan SGOTSGPT akibat kongesti liver Daftar Pustaka Mebazaa, A. et al. (2016) ‘Acute heart failure and cardiogenic shock: a multidisciplinary practical guidance’, Intensive Care Medicine. Springer Berlin Heidelberg, 42(2), pp. 147–163. doi: 10.1007/s00134-015-4041-5. Ponikowski, P. et al. (2016) ‘2016 ESC Guidelines for the diagnosis and treatment of acute and chronic heart failure: The Task Force for the diagnosis and treatment of acute and chronic heart failure of the European Society of Cardiology (ESC). Developed with the special contribution of the Heart Failure Association (HFA) of the ESC’, European Journal of Heart Failure, 18(8), pp. 891– 975. doi: 10.1002/ejhf.592. Rehatta, N. M., Hanindito, E. and Tantri, A. R. (2019) ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF : BUKU TEKS KATIPERDATIN. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Available at: https://books.google.co.id/books? id=d7q0DwAAQBAJ&printsec=frontcover&hl=id#v=onepage& q&f=false. Andrianto (2020) BUKU AJAR Kegawatdaruratan Kardiovaskular Berbasis Standar Nasional Pendidikan Profesi Dokter 2019. Edited by R. Mohammad Yogiarto. Jawa Timur: Airlangga Universitty Press (AUP). Available at: https://books.google.com/books/about/BUKU_AJAR_Kegawatdar uratan_Kardiovaskula.html?hl=id&id=HJ__DwAAQBAJ. Cerlinskaite, K. et al. (2018) ‘Acute Heart Failure Management’, Korean Circulation Journal, 48(6), pp. 463–480. Available https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5986746/. at:

Judul: Asuhan Keperawatan Kritis Pada Pasien Dengan Acute Heart Failure (ahf) Via Valinza

Oleh: Via Valinza


Ikuti kami