Strategi Pembentukan Sikap Sopan Santun Di Panti Asuhan Aisyiyah Sumberrejo Kabupaten Bojonegoro Lis...

Oleh Oga Anief

316,8 KB 7 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Strategi Pembentukan Sikap Sopan Santun Di Panti Asuhan Aisyiyah Sumberrejo Kabupaten Bojonegoro Listyaningsih

Kajian Moral dan Kewarganegaraan. Volume 01 Nomor 03 Tahun 2015, Hal 164-179 STRATEGI PEMBENTUKAN SIKAP SOPAN SANTUN DI PANTI ASUHAN AISYIYAH SUMBERREJO KABUPATEN BOJONEGORO Khafid Syahru Romadhon 094254243(PPKn, FIS, UNESA) khafid.ramadhan@gmail.com Listyaningsih 0020027505 (PPKn, FIS, UNESA) listyapkn@yahoo.co.id Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan tentang faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pelanggaran tata tertib terutama sikap sopan santun yang dilakukan anak asuh dan strategi pembentukan sikap sopan santun di panti asuhan Aisyiyah Sumberrejo Kabupaten Bojonegoro. Penelitian ini meggunakan pendekatan kualitatif dan menggunakan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi. Informan dipilih dengan teknik purposive sampling. Teknik Analisis data yang digunakan adalah reduksi data, display data, dan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya pelanggaran tata tertib terutama sikap sopan santun yang dilakukan anak asuh yaitu kurangnya kesadaran pada diri anak asuh, pengaruh lingkungan pergaulan, kurangnya pengawasan dari pengasuh dan pengurus, minimnya pengetahuan anak asuh terhadap tata tertib dan kurangnya hubungan interpersonal antara pengurus pondok dengan anak asuh terutama anak asuh yang bermasalah terhadap tata tertib. Pembentukan sikap sopan santun yang dilakukan pengasuh dengan cara (1) Keteladanan yaitu memberikan teladan yang baik terhadap anak asuh di panti; (2) Pembiasaan yaitu dengan cara senyum, sapa, dan salam (3) Komunikasi yaitu dilakukan pada saat musyawarah pada kegiatan kultum agar bisa mengetahui masalah, saran dan keluhan anak panti; (4) Nasehat atau teguran yaitu bertujuan untuk menanamkan pentingya tentang peraturan tata tertib (5) Pemberian penghargaan (reward)dan hukuman (punishment). Pemberian penghargaan (reward) ditujukkan kepada anak asuh yang berprestasi akademik maupun non akademik, sedangkan pemberian hukuman (punishment) ditujukan kepada anak asuh yang melanggar tata tertib panti asuhan. Kata kunci: Sopan Santun, Anak Asuh Abstract The study aims to determine the orphanage is the informal institution which builds children character who do not have family or live with family. The orphan taken care by the manager who replaces their parents in taking care of, protecting, and counseling them. This research aims to describe the causing factors of rules violence especially polite character in Aisyah orphanage at Sumberreja, Bojonegoro. This uses qualitative approach and data collection technique of: observation, in dept interview, and documentation. The informant was chosen by sampling purposive technique. The data analysis techniques used are data reduction, data display, and conclusion.The result of research shows that there are some causing factors of rules violence especially orphans‟ polite character such as: the lack of consciousness owned by the orphans, the effect of associating environment, the lack of control by the manager and sitter, the minimum knowledge of orphan toward the rules, and the lack of interpersonal relationship between boarding managers and orphans especially those who break the rule. Building the polite character done by the managers includes: good behavior as giving good example to the orphans in the orphanage, Communication done when discussion is in the speech. To know the problems, suggestion, and critics of the orphans, the suggestion or critics aims to implant the importance of rule. Rewarding is aimed for orphans who are either goo in academic or no academic. Punishment is only aimed to teach the orphans, who broke the rules in the orphanage. Keywords: polite character, orphans bersama dengan keluarga.Anak-anak panti asuhan diasuh oleh pengasuh yang menggantikan peran orang tua dalam mengasuh, menjaga dan memberikan bimbingan kepada anak agar anak menjadi manusia dewasa yang berguna dan bertanggung jawab atas dirinya dan terhadap PENDAHULUAN Panti asuhan merupakan lembaga yang bersifat informal untuk membentuk perkembangan anak-anak yang tidak memiliki keluarga ataupun yang tidak tinggal 164 Strategi pembentukan sikap sopan santun di panti asuhan Aisyiyah Sumberrejo Bojonegoro masyarakat di kemudian hari (Santoso, 2005). Panti asuhan merupakan salah satu lembaga perlindungan anak yang berfungsi untuk memberikan perlindungan terhadap hak-hak anak Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak disebutkan bahwa “setiap anak berhak untuk mendapat kesejahteraan, perawatan, asuhan, dan bimbingan berdasarkan kasih sayang baik dalam keluarganya maupun di dalam asuhan khusus untuk tumbuh dan berkembang wajar”. Panti asuhan merupakan tempat penampungan bagi anak-anak kurang beruntung, mulai dari anak yatim piatu, anak kurang mampu sampai anak-anak yang dibuang oleh orang tuanya karena hasil dari hamil diluar nikah.Panti Asuhan selain berfungsi untuk menampung anak-anak kurang mampu yang membutuhkan tempat tinggal, makan dan pendidikan. Maka dari itu di dalam panti asuhan terdapat pengasuh atau Orang tua asuh yaitu orang yang bertugas untuk mengurusi kebutuhan seharihari anak asuh dan lebih dari itu orang tua asuh juga berfungsi sebagai pengganti orang tua asuh yang mendidik anak asuh. Hal ini bertujuan agar anak dapat hidup dengan nyaman dan sejahtera selama tinggal di panti asuhan serta dapat menjadi manusia yang terdidik. Sebagai lembaga sosial, panti asuhan tidak hanya berfungsi sebagai tempat penampungan anak yang memberikan makan dan minum setiap hari serta membiayai pendidikan mereka, akan tetapi sangat berperan penting yakni sebagai pelayan alternatif yang menggantikan fungsi keluarga yang kehilangan peranannya, agar fungsi keluarga tersebut dapat dilanjutkan dan diusahakan, peranan panti asuhan memungkinkan anak agar merasa hidup dalam lingkungan keluarga sendiri melalui bimbingan serta mendapatkan perhatian dari pengasuh sebagai pengganti orang tua di dalam keluarga. Di dalam panti asuhan berlangsung proses sosialisasi nilai-nilai hidup bermasyarakat, nilai-nilai keagamaan dan sebagaimana diharapkan akan dapat mempersiapkan mental anak-anak dalam hidup bermasyarakat nantinya. Salah satu tujuan utama panti asuhan adalah untuk memberikan kesempatan yang luas dan memadai bagi perkembangan kepribadian anak asuh, membentuk individu yang dewasa, cakap dan berguna serta nantinya dapat menjadi anggota masyarakat yang mandiri dan bertanggung jawab terhadap lingkungannya, termasuk penanaman pendidikan karakter kepada anak-anak yatim piatu. (Mochtar, 2006: 4) Sikap sopan santun yang termasuk dalam pendidikan moral, ternyata juga termasuk di dalam pengembangan unsur-unsur dari pendidikan budi pekerti.Seperti yang diungkapkan Zuriah (2006:68) berikut ini, bahwa unsur-unsur ruang lingkup dari pendidikan moral budi pekerti. Unsur budi pekerti antara lain: (1) hatinurani, (2) kejujuran, (3) dapat dipercaya, (4) disiplin, (5) sopan santun, (6) kerapian, keikhlasan, (7) kebijaksanaan, (8) pengendalian diri, (9) keberanian ,(10) bersahabat, (11) kesetiaan ,(12) keadilan. Bagi lembaga yatim piatu, pendidikan ikut andil dalam memberikan bimbingan kepada anak agar dapat bersikap sopan santun sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat. Peranan orang tua asuh atau pengasuh merupakan salah satu pendidik yang bisa mengarahkan anak untuk bersikap lebih sopan dan terhindar dari masalah perilaku menyimpang, para pengasuh dalam membimbing anak lebih mengarah pada membentuk kepribadian anak, karakter anak, dan tindak tanduk berperilaku. Untuk itu para pengasuh dan pengurus harus mampu menggunakan beberapa pendekatan, metode dan dalam pembentukan sikap sopan santun anak asuh. Berdasarkan hasil observasi awal (bulan Mei 2014). Pihak pengurus panti asuhan sangat memperhatikan mengenai tingkah laku anak asuhnya terutama sikap sopan santun anak asuh yang ditunjukkan dengan memberikan bimbingan atau arahan kepada anak asuh perbuatan yang harus di tinggalkan dengan melihat perkembangan perilaku anak melalui perkembangan sikap yang mereka tunjukkan. Sosialisasi tata tertib pada anak asuh di panti asuhan Aisyiyah Sumberrejo Kota Bojonegoro dilakukan pada saat memberikan amanat pada acara musyawarah/kegiatan berkumpul oleh para pengasuh dan pengurus panti asuhan.Selain itu, pemberian lembaran kertas/print out yang berisi tata tertib anak asuh. Tata tertib anak asuh juga ditempelkan di setiap ruang kamar anak asuh sehingga setiap saat anak asuh bisa membaca tata tertib kapan saja. Hal tersebut dilakukan agar anak asuh mengerti dan mampu melakukan suatu perbuatan yang benar dengan apa yang telah digariskan dalam tata tertib panti asuhan. Bagi anak asuh yang melanggar tata tertib harus diberikan suatu tindakan, baik itu teguran atau koreksi untuk memperbaiki kesalahannya atau berupa sanksi. Karena itu penanaman sikap sopan anak asuh sangat diperlukan. Apabila anak asuh kurang memilki sikap sopan santun yang baik maka panti asuhan berkewajiban memperbaiki perilaku anak asuh agar tidak terjadi lagi pelanggaran terhadap tata tertib yang ada di panti asuhan. Berkaitan dengan hal tersebut maka dalam penelitian ini memilih panti asuhan Aisyiyah Sumberrejo Bojonegoro sebagai lokasi yang akan diteliti karena: 1) ingin mengetahui mengapa terjadi pelanggaran tata tertib yang tinggi terutama sikap sopan santun yang dilakukan anak asuh. 2) Strategi pembentukan sikap sopan santun yang dilakukan oleh pengurus dan pengasuh dalam upaya 165 Kajian Moral dan Kewarganegaraan. Volume 01 Nomor 03 Tahun 2015, Hal 164-179 pembentukan karakter yang luhur serta berupaya mengurangi pelanggaran tata tertib yang dilakukan oleh anak asuh, Oleh karenanya pengasuh panti asuhan hendaknya memperhatikan anak asuhnya dalam bertindak dan berbicara terutama memperhatikan sikap sopan santun yang harus ditanamkan kepada diri anak asuhnya. Panti Asuhan pada hakikatnya adalah lembaga sosial yang memiliki program pelayanan yang disediakan untuk menjawab kebutuhan masyarakat dalam rangka menangani permasalahan sosial terutama permasalahan kemiskinan, kebodohan dan permasalahan anak yatim piatu, anak terlantar yang berkembang di masyarakat. Dalam pasal 55 (3) UU RI No.23 Tahun 2002 dijelaskan bahwa kaitannya dengan penyelenggaraan pemeliharaan dan perawatan anak terlantar, lembaga pemerintah dan lembaga masyarakat, sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dapat mengadakan kerjasama dengan berbagai pihak yang terkait. Panti asuhan diartikan sebagai rumah, tempat atau kediaman yang digunakan untuk memelihara (mengasuh) anak yatim, piatu dan yatim piatu (W.J.S Poerwadarminta, 2002: 710). Tujuan Panti Asuhan adalah menjadikan anak mampu melaksanakan perintah agama, mengantarkan anak mulia dan mencapai kemandirian dalam hidup di bidang ilmu dan ekonomi, menjadikan anak mampu menghadapi masalah secara arif dan bijaksana dan memberikan pelayanan kesejahteraan kepada anak-anak yatim dan miskin dengan memenuhi kebutuhan fisik, mental dan sosial agar kelak mereka mampu hidup layak dan hidup mandiri di tengah-tengah masyarakat. Pelayanan dan pemenuhan kebutuhan anak di panti asuhan dimaksudkan agar anak dapat belajar dan berusaha mandiri serta tidak hanya menggantungkan diri tehadap orang lain setelah keluar dari panti asuhan. Maksud pendirian Panti Asuhan adalah untuk membantu dan sekaligus sebagai orang tua pengganti bagi anak yang terlantar maupun yang orang tuanya telah meninggal dunia untuk memberikan rasa aman secara lahir batin, memberikan kasih sayang, dan memberikan santunan bagi kehidupan mereka. Tujuannya adalah untuk mengantarkan mereka agar menjadi manusia yang dapat menolong dirinya sendiri, tidak bergantung pada orang lain dan bermanfaat bagi masyarakat. (Mochtar, 2006: 4) Seseorang yang menjadi penerima pelayanan dalam panti asuhan adalah anak yang tidak terpenuhi kebutuhan fisik, psikis dan sosialnya, karena: (a) Anak yatim atau piatu atau yatim piatu, (b) Anak dari keluarga miskin, (c) Anak dari keluarga pecah (broken home), (d) Anak dari keluarga bermasalah, (e) Anak yang lahir di luar nikah dan terlantar, (f) Anak yang terlantar karena ditinggal kerja oleh orang tuanya, (g) Anak yang mendapatkan perlakuan salah (Child Abuse). (Achmadi, 2003: 15) Berdasarkan pendapat diatas mengenai peranan panti asuhan dapat diambil suatu kesimpulan bahwa peranan panti asuhan adalah memberikan pelayanan berdasarkan pada profesi pekerjaan sosial kepada anak terlantar dengan cara membantu dan membimbing mereka kearah perkembangan pribadi yang wajar serta kemampuan keterampilan kerja, sehingga mereka menjadi anggota masyarakat yang hidup layak dan penuh tanggung jawab baik terhadap dirinya, keluarga maupun masyarakat. Pola pengasuhan adalah bentuk perlakuan atau tindakan pengasuh untuk memelihara, melindungi, mendampingi, mengajar dan membimbing anak selama masa perkembangan. Pengasuhan berasal dari kata asuh yang mempunyai makna menjaga, merawat dan mendidik anak yang masih kecil (Poerwadarminta, 1984). Menurut Wagnel dan Funk bahwa mengasuh itu meliputi menjaga serta memberi bimbingan menuju pertumbuhan kearah kedewasaan dengan memberikan pendidikan, makanan dan sebagainya terhadap mereka yang diasuh. Pengasuhan anak (Child Rearing) adalah salah satu bagian penting dalam proses sosialisasi. Pengasuhan anak dalam suatu masyarakat berarti suatu cara dalam mempersiapkan menjadi anggota masyarakat. Artinya mempersiapkan orang itu untuk dapat bertingkah laku sesuai dengan dan berpedoman pada kebudayaan yang didukungnya. Dengan demikian pengasuhan anak yang merupakan bagian dari sosialisasi pada dasarnya berfungsi untuk mempertahankan kebudayan dalam suatu masyarakat tertentu. Sejak kecil anak mulai belajar dari orang tua tentang norma-norma dan dilatih untuk berbuat sesuai dengan norma tersebut, maka langsung maupun tidak langsung ia sebenarnya belajar mengendalikan diri, ia belajar mengikuti aturan-aturan atau norma yang berlaku, dan belajar mengakui adanya sejumlah hak dan kewajiban yang ada dibalik aturan dan norma tersebut. Akhirnya ia belajar pula mengenai adanya sanksi-sanksi bagi yang melanggar aturan dan norma itu. Pemberian disiplin dalam arti mengajarkan aturan-aturan yang bertujuan supaya seseorang dapat menyesuaikan diri dalam lingkungannya sehingga menghasilkan sikap yang baik. (Sunarti dkk, 1989:3). Panti Asuhan ialah tempat dimana anak-anak yang terlahir kurang beruntung, yaitu dititipkan oleh orang tua mereka dengan berbagai macam latar belakang, mulai dari masalah ekonomi hingga anak hasil hubungan diluar nikah. Makin banyaknya anak yang dibuang oleh orang tua mereka membuat sebagaian orang tergerak hatinya untuk mendirikan tempat penampungan bagi anak-anak kurang beruntung tersebut. 166 Strategi pembentukan sikap sopan santun di panti asuhan Aisyiyah Sumberrejo Bojonegoro Di dalam Panti Asuhan sama halnya seperti dalam keluarga, anak yang tinggal di sana juga memiliki orangtua asuh yang berkewajiban mengurus segala kebutuhan dan mendidik anak dengan peraturanperaturan yang dibuat oleh Panti Asuhan. Pada umumnya Panti Asuhan dikelola oleh sebuah yayasan sosial dan memiliki struktur organisasi, tetapi meskipun begitu Panti Asuhan tetap harus memposisikan diri sebagai keluarga pengganti anak. Dalam penelitian Nurul (1997:9) tujuan Panti Asuhan antara lain: (a) Menyediakan pelayanan kepada anak dengan cara membantu dan membimbing anak agar menjadi anggota masyarakat yang dapat hidup layak dan penuh tanggung jawab, baik terhadap dirinya, keluarga maupun masyarakat, (b) memenuhi kebutuhan anak akan kelangsungan hidup, untuk menumbuh kembang dan memperoleh perlindungan, dengan menghindarkan anak dari kemungkinan ketelantaran pertumbuhan dan perkembangan jasmani, rohani, sosialnya sehingga memungkinkannya untuk tumbuh kembang secara wajar. (c) membantu anak dalam mempersiapkan perkembangan potensi dan kemampuannya secara memadai dalam rangka memberikan bekal untuk kehidupan dan penghidupannya di masa depan. (d) membantu keluarga dan orangtua untuk dapat memenuhi fungsi keluarga kecuali fungsi reproduksi. Berdasarkan fungsi dan tujuan tersebut maka Panti Asuhan berkewajiban untuk mengurus segala keperluan anak, selama anak tersebut merupakan anggota Panti Asuhan dan belum memenuhi syarat untuk menghidupi dirinya sendiri. Panti Asuhan harus menjalankan perannya dengan baik agar anak merasa nyaman berada di lingkungan panti sekalipun bukan merupakan keluarga kandung anak asuh. Disamping itu orangtua asuh yang ditunjuk merupakan orang terdekat dengan anak juga memiliki peran untuk menidik anak sesuai dengan program yang dirancang oleh pihak panti untuk mendidik anak asuh dengan baik. Khususnya anak-anak asuh di Panti Asuhan “Aisyiyah”, selain orang tua asuh harus mendidik sesuai dengan nilai moral yang diakui oleh masyarakat Indonesia, pihak Panti Asuhan bersama dengan orang tua asuh juga berperan dalam memberikan bekal kepada anak asuh berupa pengembangan keahlian untuk menjadi bekal saat mereka keluar dari Panti Asuhan dan masuk dalam lingkungan social. Menurut Hidayah (2009:16), pola asuh yang baik dan sikap positif lingkungan serta penrimaan masyarakat terhadap keberadaan anak akan menumbuhkan konsep diri positif bagi anak dalam menilai diri sendiri Pernyataan ini menunjukkan adanya pengaruh dari lingkungan dalam perkembangan anak. Untuk itu tugas Panti Asuhan sebagai pengganti keluarga merupakan tugas berat agar anak dapat menjadi pribadi yang baik dan berguna bagi bangsa dan negara sesuai dengan ajaran agama. Lingkungan anak bukan saja lingkungan keluarga yang bersifat mikro, maka semua pihak keluarga, sekolah, media massa, komunitas bisnis dan sebagainya turut andil dalam perkembangan karakter anak. Hidayah (2009:16-17) juga mengungkapkan, bahwa masyarakat jangan hanya memberi belas kasihan pada anak, tetapi yang terpenting adalah bagaimana kasih sayang orang tua kandung anak yang telah tiada bisa digantikan oleh orang lain yang benar – benar memiliki kepedulian kepada anak yatim dalam segala aspek, dan bukan saja pada kecukupan materi. Sopan santun menurut Osgood (dalam Azwar, 1988:33) mengungkapkan bahwa sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan. Sikap seseorang terhadap suatu objek adalah perasaan tidak mendukung atau tidak memihak obyek tersebut. Menurut Alipoet (dalam Azwar, 1988:3) sikap merupakan semacam kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan cara-cara tertentu. Dapat dikatakan juga bahwa kesiapan yang dimaksud merupakan kecederungan potensial untuk bereaksi dengan cara tertentu apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya respon. Sunarto (1995:170) mengungkapkan bahwa sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek dilingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek tersebut. Sikap sopan santun, tata krama dan sering juga disebut sebagai etika telah menjadi bagian dalam kehidupan manusia. Sopan santun sebaiknya diajarkan sejak kecil, misalnya dalam proses bersosialisasi yaitu jika seseorang memberikan kehendak diterima dengan tangan kanan dan mengucapkan terima kasih. Perwujudan dari sikap sopan santun di dalam perilaku yang menghormati orang lain melalui komunikasi menggunakan etika yang tidak meremehkan atau merendahkan orang lain. Menurut Ujiningsih (dalam Fitriana, 2011:19) dalam budaya Jawa sikap sopan santun salah satu ditandai dengan perilaku menghormati orang yang lebih tua, menggunakan bahasa yang sopan, tidak memiliki sikap yang sombong. Pengertian sikap sopan santun adalah peraturan hidup yang timbul dari hasil pergaulan sekelompok itu. Kesopanan bersifat relatif, artinya apa yang dianggap sebagai norma kesopanan berbeda-beda diberbagai tempat, lingkungan dan waktu. Contoh-contoh sikap sopan santun ialah: (1) menghormati orang yang lebih tua (2) menerima sesuatu selalu dengan tangan kanan. (3) tidak berkata-kata kotor, kasar dan sombong. (4) tidak meludah disembarang tempat. (http://id.wikipedia.org/wiki). 167 Kajian Moral dan Kewarganegaraan. Volume 01 Nomor 03 Tahun 2015, Hal 164-179 Orang tua mengajarkan sopan santun pada anaknya sejak mereka kecil, orang tua mengajarkan bagaimana cara minum yang baik, menyapa memberi hormat, berbicara, berpakaian, bersikap, bertingka laku dan lainlain. Hal ini yang tidak didapatkan oleh anak-anak yatim piatu oleh karenanya para pengasuh menjadi berperan dalam mebentuk sikap dan perilaku anak yatim piatu. Karena peran pengasuh menjadi pengganti orang tua para anak yatim piatu. Menurut Kamus Bahasa Indonesia, sopan santun sendiri terdiri dari dua kata yaitu kata sopan dan santun. Pengertian dari kata sopan yaitu hormat, menghormati dan tertib menurut adat yang baik. Sedangkan kata santun berarti budi pekerti yang baik yaitu tata krama, kesusilaan. Sikap sopan santun pada dasarnya sangat dibutuhkan baik pada masyarakat atau dalam pergaulan. Pembahasaan lain yang mendefinisikan sopan santun yaitu sebagai sikap perilaku seseorang yang merupakan kebiasaan yang disepakati dan diterima dalam lingkungan pergaulan. Bagi anak yatim piatu, sopan santun merupakan wujud budi pekerti luhur yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan dari berbagai orang dalam kedudukan masing-masing, seperti orang tua, penngajar, para pemuka agama, masyarakat dan tuliasan-tulisan karya para bijak (cerdik pandai) yang merupakan bagaian dari ajaran moral. (http//id. Wikipedia.org/wiki/Tata_Krama dan sopan_santun.) Sopan santun sendiri merupakan patokan pertama orang lain menilai kita, apabila kita memiliki sopan santun yang baik maka persepsi atau pandangan orang yang menilai kita juga akan sangat baik. Amir Rokhyatoko (dalam Departemen Pendidikan Kebudayaan, 1989:6) juga mendefinisikan mengenai sopan santun atau nilai kesopanan yaitu pada dasarnya ialah segala bentuk tindak-tanduk, adat istiadat tegur sapa, ucap dan cakap sesuai dengan kaidah norma tertentu. Sopan santun tersebut kemudian dibentuk dan dikembangkan oleh masyarakat. Sopan santun sendiri terdari dari aturan yang apabila dipatuhi diharapkan akan terpicu interaksi sosial yang tertib dan efektif di dalam masyarakat yang bersangkutan. Azwar (1988: 17) menyatakan bahwa struktur sikap terdiri dari tiga komponen, antara lain komponen kognitif (cognitive), komponen afektif (affective), dan komponen konatif (conative). Komponen kognitif merupakan representasi apa yang dipercayai oleh individu pemilik sikap, kemudian komponen afektif merupakan perasaan yang menyangkut aspek emosional. Kemudian komponen konatif merupakan aspek kecendrungan berperilaku tertentu sesuai dengan sikap yang dimiliki seseorang. Lain dengan Konthandapani (dalam Azwar, 1988:18) yang juga mengungkapkan mengenai struktur sikap manusia, dan merumuskan ketiga komponen tersebut sebagai komponen kognitif kepercayaan atau beliefs, komponen emosional (perasaan), dan komponen perilaku atau tindakan (tindakan). Maan (dalam Azwar, 1988:18) juga ikut merumuskan mengenai sikap manusia. Beliau menjelaskan bahwa komponen kognitif berisi presepsi, kepercayaan, dan stereotype yang dimiliki individu mengenai sesuatu. Sering kali komponen kognitif ini dapat disamakan dengan opini atau pendapat, terutama apabila menyangkut masalah atau problem yang kontraversional. Komponen afektif menurut Maan (dalam Azwar, 1988: 18) merupakan perasaan individu terhadap objek sikap dan menyangkut masalah emosi. Aspek emosional inilah bisanya berakar paling dalam sebagai komponen sikap dan merupakan aspek yang paling bertahan terhadap pengaruh-pengaruh yang mungkin akan mengubah sikap seseorang. Stuktur yang ketiga yaitu perilaku, dimana beliau menjelaskan bahwa di dalam komponen perilaku di dalamnya berisi tendensi atau kecendrungan untuk bertindak atau untuk bereaksi terhadap sesuatu dengan cara-cara tertentu. Dari ketiga pendapat mengenai struktur sikap memiliki kesamaan satu sama lain dan perbedaan. Kesamaanya yaitu dari cara mereka dalam menjelaskan, serta arti dari ketiga komponen tersebut cenderung memiliki makna yang sama. Sedangkan perbedaanya terletak pada istilah kata yang digunakan. Azwar (1988:24) menjelaskan bahwa pembentukan sikap terjadi pada saat seseorang atau individu melakukan interaksi sosial. Interaksi sosial itu mengandung arti lebih daripada sekedar adanya kontak sosial dan hubungan antar individu sebagai anggota kelompok sosial . Karena di dalam interaksi sosial terjadi saling berhubungan saling mempengaruhi satu sama lain, dan terjadi hubungan timbal balik yang turut mempengaruhi pola perilaku masing-masing individu. Dalam interaksi sosialnya, individu beraksi membentuk pola sikap tertentu terhadap berbagai objek psikologis yang dihadapinya. Selain interaksi sosial, ada pula beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap pada individu. Azwar (1988:24) pribadi, media massa, institusi atau lembaga pendidikan, lembaga agama, dan faktor emosi dalam diri individu. Mengetahui sikap seseorang dan perilaku seseorang dibutuhkan suatu pengukuran atau pengungkapan sikap seseorang tersebut. Untuk mengetahui hal tersebut terdapat berbagai macam cara untuk mengungkap atau mengukur sikap seseorang tersebut. Sama halnya dengan sikap sopan santun seseorang, akan dapat ditunjukkan dengan berbagai cara. Azwar, (1988: 9), menunjukkan beberapa karakteristik sikap yang meliputi arah, intensitas, kelulusan, konstitensi, dan spontanitasnya. Suatu sikap 168 Strategi pembentukan sikap sopan santun di panti asuhan Aisyiyah Sumberrejo Bojonegoro mempunyai arah, artinya sikap akan menunjukkan apakah seseorang akan menyutujui atau tidak menyetujui, apakah mendukung atau tidak mendukung atau tidak mendukung, apakah memihak atau tidak memilki terhadap suatu objek sikap. Karakteristik yang ke dua adalah intensitas. Intensitas atau kekuatan sikap pada setiap orang belum tentu sama. Dua orang yang sama-sama. Mempunyai sikap positif terhadap sesuatu, mungkin tidak sama intensitas dalam arti yang satu bersikap positif akan tetapi yang lain bersikap lebih positif lagi dari pada yang pertama. Demikian juga sikap negative mempunyai derajat kekuatan yang bertingkat-tingkat. Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak semua orang sama tidak sukanya pada sesuatu begitu pula tidak semua orang sama sukanya pada sesuatu. Berikutnya adalah karakteristik keluasan sikap. Pengertian keluasan sikap menunjukkan kepada luas tidaknya cakup aspek objek sikap yang disetujui seseorang. Karakteristik yang keempat adalah konsitensi sikap. Konsitensi sikap ditunjukkan oleh kesesuaian antara pernyataan sikap yang dikemukakan oleh subjek dengan respon terhadap objek sikap. Karakteristik sikap yang terakhir adalah spontanitasnya, yaitu sejauh mana kesiapan subjek untuk menyatakan sikapnya secara spontan. Suatu sikap dinyatakan mempunyai spontanitas yang tinggi apabila sikap dinyatakan tanpa perlu mengadakan pengungkapan atau desakan agar subjek menyatakan sikapnya Azwar (1988: 9). Pembinaan sikap sopan santun dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara preventif dan represif. Berikut adalah penjelasan mengenai pembinaan sikap sopan santun dimulai dengan secara preventif yaitu pada dasarnya langka-langka.Pembina sopan santun bagi siswa secara preventif meliputi seluruh upaya pembinaan yang berkelanjutan, tidak terputus-putus, konsisten, meningkatkan secara kualitas sesuai waktu mulai dari TK, SD, SMP, dan SMA/SMK. Pembinaan tersebut meliputi pendidikan latihan, pengembangan, pemunculan, dan pembiasaan sikap dan perilaku sesuai nilai-nilai sikap sopan santun yang pelaksanaanya tidak dapat dipisahkan dari agama dan budaya Bangsa Indonesia. (http://v2ir.blogspot.com/2009/11/tata-kramasiswa-dan-sopan-santun. html). Pembinaan sikap dan perilaku sesuai norma dan sopan santun terhadap siswa akan berjalan efektif dan efesien bila guru-guru dibina, dilatih, dan dibiasakan sebagai berikut: (a) Keterlibatan langsung, (b) menghindari kognisi sebanyak mungkin, (c) pendekatan psikomotor pembiasaan, (d) pendekatan filosofis, (e) penampilan fisik yang tepat dan benar. Sedangkan pembinaan sikap sopan santun secara preventif. Tindakan repreif dengan kualitas dan kuantitas penyimpangan sikap perilaku : (a) Teguran verbal ringansedang dan keras, (b) teguran tulisan ringan-sedang dan keras, (c) skorsing ringan, sedang dan berat, (d) strategi dalam pembentuk sikap sopan santun. Sopan santun sebagai perwujudan budi pekerti luhur yang diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan sejak seseorang lahir, terwujud dalam bentuk sikap dan perilaku yang selaras dan serasi dengan kodrat, tempat, waktu dan kondisi lingkungan. Bentuk sopan santun anak yang diinginkan dan diharapkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari sesuai dengan perwujudan dapat digolongkan menjadi (http://v2ir.blogspot.com/2009/11/tata-kramaanak-dan-sopan-santun.html): (a) Sikap motorik dari anak umur taman kanak-kanak sampai remaja dapat dikatakan berlaku pembinaan yang semakin lama semakin berkualitas dan terarah, berkelanjutan, bertahap dan meningkat. Baik tata cara bicara instruktif sampai kepada cara melatih akan mengingat sesuai dengan dorongan psikologi masing-masing dari balita ke remaja diantaranya sikap duduk, sikap berjalan, sikap berdiri, sikap dan cara berbicara. (b) Sikap dan cara menghormati, prinsip sikap dan tata cara penghormatan bermaksud dan bertujuan memberikan kebutuhan dasar bagi orang lain. Manusia pada hakikatnya menginginkan kebutuhan psikologis dasarnya terpenuhi, perasaan dimengerti, didengar, diayomi, dan adanya orang yang bertanggung jawab pada dirinya. Dalam penerapan penghormatan harus dilaksanakan secara berlanjut dan bertahap. Kualitasnya meningkat setelah dididik dan dilatih. (c) Sikap serta cara berpakaian dan berdandan, berpakaian menentukan sikap dan perilaku, watak, tabiat dan situasi kondisi internal manusia. Secara keseluruhan berpakaian dan berdandan, bersolek, menata rambut menentukan penampilan watak dan sikap dan perilaku manusia: apakah ia seseorang yang hanya memikirkan dirinya sendiri dan orang lain. (d) Sikap perilaku pergaulan, di dalam pergaulan dengan teman atau pada lingkungan sosial harus diperhatikan bagaimana perilaku kita, agar nantinya tidak menimbulkan ketidak nyamanan orang lain dan tidak menimbulkan suatu konflik yang disebabkan karena perilaku yang kurang dapat diterima orang lain. (e) Sikap dan tata cara makan dan minum, etika makan dan minum juga perlu diperhatikan, karena dari zaman dahulu sudah ada aturan bagaiman cara makan dan minum yang baik, dan disesuaikan dengan adat masing-masing, baik di berbagai Negara maupun di berbagai daerah di Indonesia. Hubungan antara kenyataan hukum atau tata tertib panti asuhan dan moralitas atau pendidikan moral efektif sangat intensif, pada hakikatnya karena hukum itu menjadi dasar pembentukan nilai-nilai moral. Gerakan dikekang oleh generalisasi dan penentuan kebutuhannya hukum itu berubah-ubah secara lebih langsung sebagai 169 Kajian Moral dan Kewarganegaraan. Volume 01 Nomor 03 Tahun 2015, Hal 164-179 suatu fungsi dari perubahan-perubahan moralitas (Johnson, 2006:286). Moral berkaitan dengan sikap dan kemajuan kualitas perasaan, emosi dan kecerendungan manusia; sedangkan aturan pelaksaannya merupakan aturan praktis tingkah laku yang tunduk pada sejumlah pertimbangan dan konversi lainnya. (Tim Dosen Administrasi Pendidikan FIP IKIP Malang. 1989:211). Piaget (Salam, 2000: 67) berpendapat bahwa pikiran manusia menjadi semakin hormat pada peraturan.Manusia mempunyai daya tahu (budi) dan daya memilih karena adanya dua macam daya inilah timbul penilaian etis atau moral terhadap tingka laku manusia. Dalam masyarakat yang hendak teratur dan tertib. Diadakanlah aturan-aturan yang semuannya justru untuk melindungi kemanusiaan, aturan untuk ketertiban hidup manusia dalam bermasyarakat. Seseorang dikatakan bermoral, bilamana orang tersebut bertingkah laku sesuai dengan norma-norma yang terdapat dalam masyarakat. Dengan demikian moral atau kesusilaan adalah keseluruhan norma yang mengatur tingka laku manusia di masyarakat untuk melaksanakan perbuatan baik dan benar. Perlu diingat baik dan benar menurut seseorang, tidak pasti baik dan benar bagi orang lain. karena itulah diperlukan adanya prinsip-prinsip kesusilaan atau moral yang dapat berlaku umum, yang telah diakui kebaikan dan kebenarannya oleh semua orang. Moral dipakai untuk memberikan penilaian atau predikat terhadap tingkah laku seseorang. Seseorang yang bermoral pasti memiliki sikap yang baik tertuma sikap sopan santun yang harus dimiliki oleh anak sejak dini dan selalu diasah dalam berbagai pergaulan, baik dalam pergaulan didalam keluarga, masyarakat maupun lingkungan sekolah. Bagi siswa maupun anak asuh sopan santun merupakan perwujudan budi pekerti yang luhur yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan dari berbagai orang dalam kedudukannya masing-masing, seperti orang tua dan guru, para pemuka agama dan masyarakat umum dan tulisan-tulisan dan hasilnya karya para bijak. Dari pendidikan dan latihan tersebut, diharapkan siswa mewujudkannya dalam bentuk sikap dan perilaku yang sehat dan serasi dengan kodrat, tempat waktu dan lingkungan dimana siswa berada sehari-hari. (Salam, 2000: 67) Perwujudan nilai sopan santun disesuaikan dengan kondisi dan situasi secara pribadi individu maupun secara kelompok dan kebiasaan tersebut harus disepakati dan diterima dalam lingkungan pergaulan.Oleh karena itu dibutuhkan aturan atau tata tertib dan memberi petunjuk pedoman aturan atau hukum tingkah laku siswa terhadap moral yang baik. Dalam membahas pembinaan disiplin santri melalui pelaksanaan tata tertib panti asuhan secara lebih ditail, sebagai acuhan peneliti menggunakan teori belajar kognitif Albert Bandura. Manusia belajar tingkah laku melalui peniruan dari tingkah laku seorang model yang dapat dijadikan panutan. Menurut Nursalim (2007:58) tingkah laku manusia lebih banyak dipelajari melalui modeling atau imitasi dari pada melalui pengajaran langsung. Dalam hal ini orang tua dan guru sebagai pengajar mempunyai peranan yang penting sebagai seorang model atau tokoh bagi anak-anak untuk meniruhkan tingkah laku dalam mentaati aturan. Peniruan dapat berlaku hanya melalui pengamatan terhadap perilaku model (orang yang ditiru) meskipun pengamatan itu tidak dilakukan secara terus menerus, proses belajar semacam ini disebut “observational learning” atau pembelajaran melalui pengamatan. Menurut Bandura (dalam Nursalim, 2007:57), secara rinci dasar kognitif dalam proses belajar ada 4 elemen penting yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran melalui pengamatan, keempat elemen itu adalah perhatian (attention), mengingat (retensi), produksi dan motivasi untuk mengulang perilaku yang dipelajari itu. Perhatian (attention), seorang harus menaruh perhatian, supaya dapat belajar melalui pengamatan. Seseorang khususnya menaruh perhatian kepada orang yang menarik, populer, kompeten atau dikagumi. Contohnya, seorang pemain musik terkenal sehingga tidak menunjukkan gayanya sendiri. Pembelajaran dapat dipelajari hanya dengan memperhatikan orang lain. Mengingat (retensi), agar dapat meniru perilaku suatu model seseorang siswa harus mengingat perilaku itu, pada fase retensi teori pembelajaran melalui pengamatan ini, latihan sangat membantu siswa untuk mengingat elemen-elemen perilaku yang dikehendaki sebagai misal urutan langkah-langkah suatu pekerjaan. Produksi, suatu proses pembelajaran dengan memberikan latihan-latihan agar membantu siswa lancar dan ahli dalam menguasai materi pelajaran. Pada fase ini dapat mempengaruhi terhadap motivasi siswa dalam menunjukkan kinerjanya, setelah mengetahui dan mempelajari suatu tingkah laku, subyek juga dapat menunjukkan kemampuannya atau menghasilkan apa yang disimpan dalam bentuk tingkah laku. Contohnya, mengendarai mobil, bermain tenis, dan lain-lain. Jadi setelah subyek memperhatikan model dan menyimpan informasi, sekarang saatnya untuk benar-benar melakukan perilaku yang diamatinya. Praktik lebih lanjut dari perilaku yang dipelajari mengarah pada kemajuan perbaikan dan keterampilan. Motivasi dan penguatan, suatu cara agar dapat mendorong kinerja dan mempertahankan tetap diperlakukannya keterampilan yang baru diperoleh dengan memberikan penguatan bisa berupa nilai dan 170 Strategi pembentukan sikap sopan santun di panti asuhan Aisyiyah Sumberrejo Bojonegoro penghargaan (insentif) jadi subyek harus termotivasi untuk meniru perilaku yang telah dimodelkan. tentang pembentukan sikap sopan santun di panti asuhan Aisyiyah dan hambatan yang ditemui ketika pembentukan sikap sopan santun di panti asuhan Aisyiyah, serta hasil yang dicapai oleh anak asuh dalam pembentukan sikap sopan santun. Dari wawancara mendalam ini diharapkan dapat memperoleh data yang lengkap sehingga dapat dijadikan sumber data dan dianalisa sebagai hasil penelitian. Dokumentasi. Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai benda-benda tertulis berupa surat, memorandum, pengumuman resmi, agenda, dokumendokumen administrator, laporan kemajuan, penelitian, kliping-kliping baru dan artikel-artikel lain yang muncul di media massa lain sebagainya. Yin (2002: 108-109). Metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh data tentang pembentukan sikap sopan santun anak yatim piatu. Sehingga akan diketahui peranan pengasuh panti asuhan Aisyiyah dalam pembentukan sikap sopan santun. Termasuk program panti asuhan yang dilakukan melalui kegiatan rutin, buku pribadi anak, catatan prestasi akademik dan non-akademik, slogan-slogan yang berupa himbauan dan buku tata tertib panti asuhan. juga menyertakan foto-foto hasil kegiatan lapangan, sehingga akan lebih memperkuat data yang dihasilkan. Teknik analisis data melalui empat tahap. Tahap pengumpulan data, tahap reduksi data, tahap penyajian data, dan tahap penarikan kesimpulan. Tahap pertama meliputi pengumpulan data dengan observasi dan wawancara. Tahap kedua adalah reduksi data dari hasil observasi dan wawancara.Tahap ketiga adalah penyajian data yang telah direduksi dengan teori yang sudah ada.Tahap terakhir adalah penarikan kesimpulan dari hasil penyajian data. METODE Penelitian yangdigunakan adalah metode pendekatan kualitatif deskriptif yaitu suatu metode yang digunakan untuk menemukan pengetahuan terhadap subjek penelitian pada suatu saat tertentu. Penelitian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi mengenai subjek penelitian dan prilaku subjek penelitian pada suatu saat tertentu dan juga berusaha untuk mendeskripsikan seluruh gejala atau keadaan yang ada, yaitu gejala menurut apa adanya pada saat penelitian dilakukan (Mukhtar :10). Penelitian kualitatif deskriptif tidak hanya mengemukakan berbagai tindakan yang tampak oleh kasat mata saja,sebagaimana dikatakan bailey (1982), penelitian kualitatif deskriptif selain mendiskusikan berbagai kasus yang sifatnya umum tentang berbagai fenomena sosial yang ditemukan, juga harus mendeskripsikan hal-hal yang bersifat spesifik yang dicermati dari realitas yang terjadi baik prilaku yang ditemukan dipermukaan sosial, juga bersembunyi dibalik sebuah prilaku yang ditunjukkan ( Mukhtar :11 ). Lokasi Penelitian ini dilakukan di panti asuhan Aisyiyah Sumberrejo Kabupaten Bojonegoro, waktu penelitian dilakukan saat observasi awal bulan juli 2014 sampai bulan januari 2015, dalam pemilihan informan antara lain adalah: (1) mengetahui tentang kondisi dan latar belakang Panti Asuhan AisyiyahDesa Sumberejo, Kabupaten Bojonegoro. (2) telah menjadi pendidik di Panti Asuhan AisyiyahDesa Sumberejo, Kabupaten Bojonegoro minimal tiga tahun (3) memahami karakterkarakter anak Panti Asuhan AisyiyahDesa Sumberejo, Kabupaten Bojonegoro. Informan dalam penelitian ini adalah: pengasuh, pengurus seksi tata tertib, anak asuh. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yakni:observasi dilakukan dengan pengamatan secara langsung terhadap aktivitas anak asuh dalam kegiatan sehari-hari selama di panti asuhan, misalnya kebiasaankebiasaan anak asuh yang mencerminkan nilai-nilai sopan santun melalui kegiatan sehari-hari seperti mencium tangan bapak atau ibu pengasuh terlebih dahulu sebelum melakukan kegiatan di panti asuhan sedangkan wawancara mendalam ini dilakukan kepada, pengasuh pengurus tata tertib dan anak asuh, untuk menggali informasi yang lengkap dan akurat tentang pembentukan sikap sopan santun di panti asuhan aisyiyah dan hambatan yang ditemui ketika pembentukan sikap sopan santun di panti asuhan aisyiyah, serta hasil yang dicapai oleh anak asuh dalam pembentukan sikap sopan santun. Wawancara Mendalam. Wawancara mendalam ini dilakukan kepada, pengasuh pengurus tata tertib dan anak asuh, untuk menggali informasi yang lengkap dan akurat HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Panti asuhan Aisyiyah Sumberrejo didirikan pada tahun 1987 dan perkembangan anak asuh (santunan keluarga) yang dikelola Pimpinan Cabang „Aisyiyah Sumberrejo dari tahun 1987 sampai dengan tahun 1995, dimana setiap tahun jumlah anak asuh selalu mengalami peningkatan. Mulai berdiri mengasuh 4 anak sampai dengan tahun 1995 jumlah anak asuh mencapai 97 anak. Diharapkan dengan adanya panti asuhan ini dapat memantau dan membimbing anak-anak kurang mampu, anak jalanan, serta anak yatim piatu dalam bidang pendidikan, pelajaran maupun ibadah. Agar bantuan yang disalurkan lebih tepat sasarannya dan anak bisa memperoleh pembinaan secara langsung dan lebih terarah, maka pada tanggal 5 Agustus 1995 diadakan rapat pengurus dengan keputusan merintis sebuah panti asuhan. Di panti asuhan Aisyiyah Sumberrejo 171 Kajian Moral dan Kewarganegaraan. Volume 01 Nomor 03 Tahun 2015, Hal 164-179 Bojonegoro terdapat 74 anak asuh yang terdiri dari 33 anak asuh laki-laki dan 41 anak asuh perempuan. sopan santun, hal ini diinformasikan bahwa dulu ketika mengikuti pengajian, mengaji Al-Qu‟ran anak asuh sering terlambat datang, selain itu ada santri yang tidak hadir dalam kegiatan ceramah agama dan ada anak asuh yang tidak memakai baju putih atau jubah dan berkopyah putih apabila sholat berjama‟ah. Hal ini menunjukkan bahwa dalam diri anak asuh masih belum tertanam kesadaran dari akan pentingnya mematuhi tata tertib panti asuhan, hal ini yang menuntut pihak panti asuhan berupaya keras memperbaiki perilaku anak asuhnya melalui berbagai cara yang dilakukan untuk menekan perilaku anak asuh sehingga dapat patuh terhadap aturan serta memiliki perilaku yang mulia dengan cara meningkatkan fasilitas pendukung di panti asuhan salah satunya majalah dinding (mading), menambah pengurus dan pengasuh di panti asuhan agar dapat mengkontrol perilaku anak asuh, meningkatkan komunikasi antara pengasuh dan anak asuh dengan memberikan nasihat, teguran, pemahaman mengenai tata tertib. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pelanggaran tata tertib terutama sikap sopan santun yang dilakukan anak asuh di panti asuhan Aisyiyah Sumberrejo Kabupaten Bojonegoro Panti asuhan Aisyiyah berupaya menegakkan tata tertib panti asuhan agar ditaati oleh seluruh warga panti asuhan terutama terhadap anak asuhnya segala bentuk larangan serta kewajiban di panti asuhan agar dipatuhi, namun segala bentuk tata tertib yang dibuat untuk ditaati tersebut masih saja ada yang melanggar tata tertib, tertutama anak asuh, bentuk larangan yang sering dilanggar adalah kesopanan baik dalam hal berbicara, berperilaku dan berpakaian. Ada beberapa faktor yang mempengarui terjadinya pelanggaran tata tertib yang dilakukan anak asuh terutama sikap sopan santun antara lain: kurangnya kesadaran pada diri anak asuh yaitu pengetahuan anak asuh terhadap tata tertib panti asuhan dan kurangnya hubungan interpersonal antara anak asuh dengan pengasuh panti asuhan terutama anak asuh yang bermasalah terhadap tata tertib baik dalam pengawasan dan bimbingan yang dilakukan. Pendapat yang sama tentang beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku anak asuh yang mengakibatkan seringnya larangan panti asuhan dilanggar disampaikan oleh Ibu Suyuthi, S.Ag selaku guru pendidikan agama, bahwa dalam diri anak asuh kurangnya kesadaran untuk berubah menjadi lebih baik terutama anak asuh setingkat Madrasah Diniyah dan Madrasah Tsanawiyah, dikarenakan terpengaruh teman pergaulan. “Saya rasa mas hal itu terletak dalam diri anak asuh sendiri kalau mereka sudah sadar aturan pasti mereka akan disiplin karena keduanya saling mempengarui dan kendala lain yaitu pengaruh teman pergaulan dilingkungan panti yang nakal, serta minimnya pengawasan dan bimbingan yang dilakukan pengasuh, karena kurangnya pengasuh dipanti asuhan ini namun seiring berjalanya waktu mas… baik pengasuh dan pengurus mulai di tambah oleh pihak panti asuhan, sehingga nantinya mereka dapat mengkontrol dan mengawasi anak-anak dan juga ada kakak-kakak senior yang ikut membantu membimbing adik-adiknya dipanti asuhan. Dalam hal ini pihak panti asuhan berupaya bagaimana dapat mengkontrol dan membina anak asuhnya patuh terhadap tata tertib terutama pada sikap sopan santun dengan adanya strategi yang dilakukan oleh para pengasuh untuk lebih membina perilaku anak-anak mas”. (Wawancara 26 November 2014/14.30) Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti bahwa masih terdapat anak terlihat bahwa masih terdapat anak asuh yang kurang sadar diri akan pentingnya sikap Strategi yang digunakan pengasuh dalam pembentukan sikap sopan santun anak asuh di panti asuhan Aisyiyah Sumberrejo Kota Bojonegoro Pembentukan sikap sopan santun pada anak asuh di panti asuhan Aisyiyah Sumberrejo Kabupaten Bojonegoro dilakukan dengan berbagai strategi, diantaranya yaitu: (1) keteladanan, (2) pembiasaan, (3) komunikasi, (4) nasehat atau teguran, (5) pemberian penghargaan (reward) dan hukuman (punishment) Penanaman sikap sopan santun kepada anak asuh melalui tata tertib diawali oleh keteladanan pengasuh dan pengurus panti asuhan dengan memberikan keteladanan dalam mematuhi dan melaksanakan tata tertib panti asuhan yang dilakukan pengasuh santri. Hal tersebut dilakukan karena pengasuh maupun pengurus merupakan panutan bagi anak asuh. Berikut pernyataan pengasuh, Bapak Ust. Kasram, S. Th saat wawancara: “Saya sebagai salah satu pengasuh anak-anak memberikan teladan yang baik, terutama kepada anak-anak di panti asuhan ini, misalnya saja dengan cara saling menghormati semua warga panti, berbicara dengan santun baik kepada pengurus, karyawan dan anak-anak yang ada disini, serta memberikan contoh berpakaian yang rapi.”(Wawancara, 24 November 2014/15.30). Keteladanan yang diberikan olehIbu Suyuthi, S.Ag, Selaku pengajar pendidikan agama Islam, sekaligus tim tata tertib yaitu berupa keteladanan berdasarkan ucapan dan berpakaian. Berikut penuturan beliau saat wawancara: “…Siswa diusahakan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik apabila tidak bisa menggunakan bahasa Indonesia, maka 172 Strategi pembentukan sikap sopan santun di panti asuhan Aisyiyah Sumberrejo Bojonegoro menggunakan bahasa jawa apabila menemui bapak/ibu pengurus dan pengasuh disini, terus saling menghormati antara teman yang lebih tua, lalu tau dia berbicara dengan siapa, misalnya berbicara dengan teman jangan sama dengan berbicara dengan bapak atau ibu pengasuh “aku pak” la ini bahasanya bintang film iya to”. Lebih jauh informan menjelaskan: “Iya……keteladanan itu penting untuk anakanak di panti asuhan ini, disini bapak atau ibu pengasuh dan pengurus yang tidak pakek baju koko atau baju muslim, baik dalam hal sholat, mengaji atau kegiatan-kegiatan lainnya baik di dalam lingkungan penti asuhan maupun diluar lingkungan panti asuhan, sehingga kebiasaan dalam berpakaian nantinya dapat di tiru oleh anak-anak yang berada di panti asuhan. Terus yang ke dua ya…ucapan bapak atau ibu pengasuh dan pengurus harus menjadikan panutan dari pada anak-anak.” (Wawancara, 26 November/14.30). Selanjutnya dalam pemberian keteladanan yang dilakukan oleh pihak pengasuh juga dipertegas oleh Imam Muhlisin. “iya….pengasuh disini itu berbicaranya dengan menggunakan bahasa Indonesia, tapi kadang-kadang juga dengan mengunakan bahasa Jawa, tapi Jawanya yang kromo itu lho mas... selain itu, pengasuh juga saling menghormati satu sama lain mas contohnya tadi pagi saya melihat pak Ridwan ketemu dengan pak Sholeh, mereka langsung bersalaman.” (Wawancara, 29 November 2014/16.30). Jadi berdasarkan penuturan pengasuh, pengajar pendidikan agama Islam dan pengurus tata tertib, dalam menanamkan sikap sopan santun yaitu dengan berbicara sopan menggunakan bahasa Indonesia yang baik, bila menggunakan bahasa Jawa harus bahasa Jawa krama, saling menghormati warga panti asuhan, datang tepat waktu apabila ada kegiatan di panti, mengucapkan salam baik sebelum masuk ruangan maupun keluar ruangan serta memakai pakaian dengan rapi. Sikap keteladanan tersebut harus selalu dilakukan secara terus menerus karena seorang anak cenderung belajar melalui pengamatan dan peniruan terhadap tingkah laku orangorang yang ada disekitarnya. Upaya yang dilakukan pengasuh dan pengurus panti asuhan Aisyiyah dalam membentuk sikap sopan santun anak asuh tidak lepas dari strategi yang diintegrasikan melalui pembiasaan yang ada di panti asuhan. Pembiasaan yang selalu diterapkan dan dilakukan di Panti asuhan Aisyiyah yaitu pembiasaan dengan cara senyum, sapa dan salam yang sudah menjadi keharusan bagi setiap pengghuni panti asuhan Aisyiyah sesuai dengan isi slogan di majalah dinding (mading) panti asuhan yang dibuat oleh pengurus bersama anak asuh yang isinya: biasakan untuk selalu tersenyum karena senyum adalah bagian dari ibadah, jadikan ucapan salam sebagai tanda orang beriman dan hendaklah menyapa ketika bertemu karena itu tanda menghormati seseorang. Kebiasaan tersebut diterapkan oleh semua warga panti asuhan baik dilakukan di dalam lingkungan panti asuhan maupun diluar lingkungan panti asuhan. Hal tersebut dilakukan oleh pihak panti asuhan dengan harapan anak asuh dapat membiasakan anak mempunyai sikap sopan santun yang baik. Berikut penjelasan pengasuh, bapak Ust. Kasram, S.Th saat wawancara: “Anak-anak disuruh untuk mengisi madingmading di panti asuhan karena bagian dari program yang dijalankan oleh panti mas misalkan mengisi mading dengan puisi, slogan dan pantun. Ada kebiasaaan yang diterapkan disini yaitu kebiasaan senyum, salam, dan sapa. Salam yang sudah menjadi keharusan bagi setiap pengguni panti asuhan Aisyiyah sesuai dengan isi slogan di madingmading panti asuhan, isinya: biasakan untuk selalu tersenyum karena senyum adalah bagian dari ibadah, jadikan ucapan salam sebagai tanda orang beriman dan hendaklah menyapa ketika bertemu karena itu tanda menghormati seseorang. Dengan menerapkan kebiasaan tersebut maka diharapkan anak asuh dapat membiasakan bersikap sopan santun dalam menaati tata tertib yang ada di panti asuhan, ”(Wawancara, 24 November 2014/ 16.00). Berdasakan penuturan beberapa informan dapat disimpulkan bahwa pembiasaan yang dilakukan oleh pengasuh dalam pembentukan sikap sopan santun pada anak asuh yaitu dengan cara bersikap yang baik,pihak pengasuh dan anak asuh bersama-sama membuat slogan di majalah dinding (mading) kamar panti asuhan yang isinya biasakan untuk selalu tersenyum karena senyum adalah bagian dari ibadah, jadikan ucapan salam sebagai tanda orang beriman dan hendaklah menyapa ketika bertemu karena itu tanda menghormati seseorang selain itu pihak pengasuh memberikan pemahaman dan pengajaran melalui pembelajaran agama Islam yang diajarkan. Pengurus menyuruh anak asuh untuk mengucap salam ketika masuk ruangan, menyuruh memakai pakaian sopan ketika berada di lingkungan panti asuhan maupun di luar panti asuhan terutama saat kegiatan sholat berjama‟ah maupun mengaji Al- Quran, pengurus memberikan pemahaman tentang tata krama yang baik melalui pendidikan yang diajarkan dan membuat slogan di majalah dinding (mading) kamar panti asuhan yang isinya “biasakan untuk selalu tersenyum karena senyum 173 Kajian Moral dan Kewarganegaraan. Volume 01 Nomor 03 Tahun 2015, Hal 164-179 “Pada saat ada kegiatan musyawarah anakanak di berikan arahan mas dan juga mempersilakan anak-anak memberikan saran baik dalam hal fasilitas atau yang lainya. Selain itu ada buku tata tertib juga yang diberikan pada kita yang tujuannya agar kita bisa mengikuti aturan dan jadwal kegiatan yang ada di panti asuhan ini..”(Wawancara, 27 November 2014/20.55). Berdasarkan hasil observasi di lapangan, sosialisasi terhadap tata tertib dilakukan dengan pemberian buku tata tertib kepada setiap anak asuh di panti asuhan Aisyiyah yang tujuannya agar dapat mengetahui dan dipahami oleh seluruh anak asuh, dan adanya kegiatan musyawarah yang dilakukan setiap hari setelah sholat isya‟ yang tujuannya menjalin komunikasi yang baik dengan berdiskusi kepada anak asuh yang dilakukan oleh pengasuh, mendengarkan saran yang diberikan oleh anak asuh baik dalam hal layanan fasilitas atau yang lain, mendengarkan keluan-keluan anak asuh dan juga memberikan pemahaman mengenai perilaku sopan santun juga. (Observasi bulan November-Desember) Anak asuh yang sering melanggar tata tertib oleh pengasuh panti dipanggil untuk diberi nasehat atau teguran dengan memanggil anak tersebut. Pemberian nasihat dan teguran bertujuan untuk menanamkan pengetahuan tentang pentingnya mematuhi tata tertib serta memberikan siraman rohani terhadap diri anak asuh, terutama bagi anak asuh yang melanggar tata tertib. Hal ini seperti yang disampaikan oleh informan Berikut penuturan pengasuh Ust. Kasram S.Th saat wawancara: “Saya selalu mewanti-wanti kepada anakanak agar lebih bersikap lebih sopan misalkan hendaknya mengucapkan salam ketika masuk ruangan, nasehat dan teguran juga saya berikan terhadap anak-anak untuk menjauhi perbuatan-perbuatan yang melanggar tata tertib, setiap ada kegiatan musyawarah serta Qutbah sholat jumat selalu memberikan siraman rohani agar santri bisa taat terhadap aturan sehingga tidak ada santri yang terkena hukuman karena melanggar aturan di panti asuhan dan pihak pengurus juga memanggil anak-anak yang melanggar tata tertib mas di tanya kenapa kok bersikap seperti itu, dan memberikan pemahaman tentang tata karma yang baik”. (Wawancara, 1 Desember 2014/20.30) Berdasarkan pendapat yang dikemukakan oleh pengasuh, pengajar agama Islam, dan pengurus seksi tata tertib, hasilnya akan dicocokkan kepada anak asuh saat wawancara dilakukan menurut pendapat M. Subhan salah satu kakak senior dipanti asuhan Aisyiyah. Bahwa pemberian nasehat dan teguran terhadap anak asuh yang dilakukan oleh pengasuh dan pengajar sangat diperlukan agar menghindarkan anak asuh dari perbuatan yang adalah bagian dari ibadah, jadikan ucapan salam sebagai tanda orang beriman dan hendaklah menyapa ketika bertemu karena itu tanda menghormati seseorang.” (Wawancara bulan November-Desember). Upaya lain yang dilakukan oleh pihak pengasuh dan pengurus panti asuhan dalam membentuk sikap sopan santun anak asuh yaitu melalui komunikasi. Komunikasi yang dilakukan yaitu dengan mensosialisasikan tata tertib panti asuhan kepada anak asuh melalui slogan- slogan di majalah dinding (mading), pemberian buku tata tertib dan adanya kegiatan musyawarah bersama.Berikut penuturan pengasuh Bapak Ust Kasram, S. Th saat wawancara: “Komunikasi yang dilakukan melalui kegiatan musyawarah yang dilakukan setelah sholat isya‟ mas seperti adanya kegiatan kultum atau ceramah setelah itu anak asuh di persilakan untuk bertanya apabila ada masalah selama di panti asuhan dan juga para pengasuh dan pengurus mendengarkan saran dan keluan para anak asuh juga, jadi tujuan adanya kegiatan ini seperti sering gitu mas tujuan adanya kegitan musyawarah selain bertujuan untuk mengadakan evaluasi harian juga bertujuan untuk menjalin ke akraban antara pengasuh dan anak asuh melakukan komunikasi dan pemberitahuan kegiatankegiatan yang baru”. (Wawancara, 24 November 2014/16.00) Komunikasi merupakan cara yang tepat untuk menjaga hubungan baik antara pengurus dan anak asuh dan juga dengan adanya komunikasi pengasuh dan pengurus dapat memberikan bimbingan dan pengetahuan bagaimana bersikap yang baik terutama bersikap sopan terhadap sesama teman maupun orang yang lebih tua. Hal tersebut seperti penuturan Ibu Santika, Selaku pengajar pendidikan agama Islam, sekaligus tim tata tertib: “Anak-anak disini masih kelihatan betul mas kurang memahami betul bagaimana membedakan cara berbicara dengan orang yang lebih tua seperti apa dan berbicara sesama teman-teman sebaya seperti apa, karena itu para pengasuh dan pengurus memperhatikan betul bagaimana perilaku anak-anak, menjalin komunikasi antara pengasuh dan anak asuh sangatlah penting mas, dengan demikian para pengasuh dapat memberikan suri tauladan pada anak-anak asuhnya dan juga pengasuh dapat mengetahui kenapa anak-anak melakukan perilaku kurang sopan tersebut.” Menurut beberapa anak asuh, beberapa pengasuh dan pengurus di panti asuhan Aisyiyah ini sudah melakukan komunikasi terhadap anak asuh mengenai tata tertib yang ada di panti asuhan.Komunikasi yang dilakukan oleh pihak panti asuhan yaitu dengan pemberian buku tata tertib dan melalui kegiatan musyawarah. Berikut adalah hasil wawancara dengan M. Subhan salah satu kakak senior di panti asuhan Aisyiyah: 174 Strategi pembentukan sikap sopan santun di panti asuhan Aisyiyah Sumberrejo Bojonegoro melanggar tata tertib dan salah satu upaya agar anak asuh yang melakukan pelanggaran tidak mengulangi perbuatannya. Berikut penuturan informan: “Setiap nasehat yang di berikan oleh pengasuh dan pengajar agar kita menghindari perbuatan jelek dan memberikan teguran bagi temanteman yang melanggar tata tertib agar tidak mengulangi perbuatannya, menurut saya ini juga merupakan cara untuk meningkatkan keimanan kitakepada Allah”. (Wawancara, 4 Desember 2014/14.00) Pendapat yang sama disampaikan Imam Muhlisin mengenai nasihat dan teguran yang diberikan pengasuh ketika anak asuh melakukan pelanggaran tata tertib terutama mengenai sikap sopan santun, berikut penuturan informan: Sering mas…. anak-anak di panti asuhan ini sering di nasehati terutama ketika melakukan kegiatan beribadah di panti asuhan ada saja anak yang berpakaian kurang sopan seperti memakai busana celana jeans ketika kegiatan mengaji Al-Quran, biasanya anak tersebut ketika kegiatan mengaji dinasehati mas… “mas kenapa kok pakai celana jeans besok pakai sarung ya agar terlihat lebih sopan enggeh” tetap namanya saja anak-anak mas kalau di nasihati belum ada keinginan berubah ya biasanya di beri teguran kedua, lalu diberi sanksi biar jera gitu” (Wawancara, 4 Desember 2014/20.15) Pemberian nasehat atau teguran anak asuh dilakukan melalui himbauan pada saat ada kegiatan pertemuan dengan para anak asuh misalnya kegiatan musyawarah dan memanggil anak asuh yang melanggar tata tertib agar diberi nasehat dan teguran serta diberi pemahaman, nasehat yang diberikan merupakan siraman rohani agar anak asuh menghindari perbuatan-perbuatan yang melanggar tata tertib di panti asuhan, terutama mengenai sikap sopan santun yang sering dianggap sepele oleh anak anak asuh, pemberian nasehat dan teguran merupakan perwujudan dalam hal mensosialisasikan pentingnya mematuhi tata tertib panti asuhan. Nasehat dan teguran selalu ditekankan oleh pengasuh dan pengajar pada saat kegiatan musyawarah tujuannya menghindarkan anak asuh dari perbuatan yang melanggar tata tertib sehingga segala kegiatan di panti asuhan menjadi lancar dan merupakan cara untuk mensosialisasikan pentingnya mematuhi tata tertib, memberikan nasehat terkait dengan kesopanan baik dalam berbicara, berpakaian dan bertindak dilakukan pada saat kegiatan musyawarah atau saat ada pertemuan dengan para anak asuh dengan begitu anak asuh lebih memahami cara bersikap sopan seperti apa terutama orang yang lebih tua. Penanaman sikap sopan santun anak asuh di panti asuhan Aisyiyah Kecamatan Sumberrejo Kabupaten Bojonegoro.juga dilakukan dengan pemberian reward (hadiah) dan punishment (hukuman). Hadiah atau penghargaan diberikan kepada anak asuh yang berprestasi baik secara akademis maupun non akademis. Berikut penuturan pengasuh Bapak Ust Kasram S. Th saat wawancara: “Hadiah di berikan oleh pengurus pada anak asuh yang berprestasi secara non akademik yaitu dalam bentuk pujian, sedangkan yang secara akademik seperti anak asuh berprestasi di sekolah maka pihak pengurus biasanya memberikan penghargaan mewujudkan dalam bentuk kelengkapan kamar tidur, tujuannya agar teman-temannya termotivasi mas untuk mengikuti temannya yang berprestasi tersebut (Wawancara, 2 Desember 2014/20.50). Pemberian hadiah juga dilakukan penuturan bapak Suyuhti, Selaku pengajar pendidikan agama Islam, membentuk sikap anak asuh yang baik maka diperlukan pemberian hadiah seperti pujian terhadap tingkah laku anak asuh. Berikut penuturan beliau saat wawancara: “Bagi anak asuh yang memiliki prestasi dan sikap sopan santun yang baik diberikan hadiah oleh pengurus panti, pengurus hanya memberikan untuk anak asuh yang berprestasi baik dalam pelajaran maupun membaca Al-Quran. Prestasi tidak hanya dinilai oleh kepandaian saja, tapi etika juga, pandai tapi bersikap sopan dalam berbicara terhadap pengajar, berpakaian sopan. Jika sering tidak sesuai dengan ketentuan maka tidak akan menerima hadiah dari. Jadi sementara ini hadiah semuanya difokuskan oleh panti asuhan Aisyiyah. “…… O…iya diberi pujian harus,diberikan kepada anak asuh, untuk memotifasi anak asuh yang lainnya untuk lebih semangat.” (Wawancara, 3 Desember 16.55). Selain pemberian penghargaan juga diberikan hukuman kepada anak asuh yang melanggar tata tertib panti asuhan terutama sikap sopan santun.Hukuman yang diberikan bukan hukuman fisik tetapi hukuman yang bersifat mendidik, karena hukuman dilakukan agar membuat anak asuh jera dan tidak menggulangi kesalahan yang sama. Hal ini seperti yang disampaikan oleh penuturan pengasuh Bapak Ust Kasram, S.Th saat wawancara: “Apabila ada yang bermasalah, saya selaku pengasuh akan memberikan hukuman agar anak tersebut jera, hukuman yang saya berikan yaitu seperti membuat surat pernyataan bahwa tidak akan mengulangi kesalahanya lagi, apabila mengulanginya lagi maka anak-anak siap mendapatkan sanksi yang lebih tegas. Selain itu apabila ada anakanak, ketika masuk ruangan tidak mengucap salam dan berpakaian kurang tepat saat sholat 175 Kajian Moral dan Kewarganegaraan. Volume 01 Nomor 03 Tahun 2015, Hal 164-179 berjama‟ah, saya akan menegur dan saya suruh untuk mengulangi kata-kata yang saya sampaikan, apabila anak asuh masih melanggar maka saya akan melaporkan kepada pengurus tata tertib agar anak-anak tersebut mendapat sanksi.”(Wawancara, 2 Desember 2014/ 21.45) Dalam penanaman sikap sopan santun dilakukan dengan memberikan reward (hadiah) dan punishment (hukuman). Reward atau hadiah diberikan dalam bentuk pujian dan kelengkapan kamar oleh pengurus dan pengasuh. Sedangkan pemberian punishment atau hukuman yaitu dengan memberikan peringatan, pembinaan, membuat surat pernyataan yang bermaterai bahwa anak asuh yang melanggar tata tertib tidak akan mengulangi kesalahannya lagi. Berdasarkan hasil observasi di lapangan menunjukkan bentuk pemberian reward atau hadiah dalam membentuk sikap sopan santun anak asuh bagi anak asuh yang berprestasi baik dalam akademis maupun non akademis. Misalnya pemberian hadiah berupa pujian kepada anak asuh yang mempunyai sikap yang baik dengan kata-kata “nah begitu kan sopan”, sedangkan pemberian hadiah bagi anak asuh yang berperstasi akademik baik pelajaran di sekolah maupun pelajaran agama seperti membaca AlQuran, tajwid. Pihak pengurus panti asuhan memberikan penghargaan berupa penambahan perlengkapan kamar dan mencantumkan nama anak tersebut dalam majalah dinding (mading) panti asuhan sehingga nantinya dapat menjadikan anak asuh lainnya untuk termotivasi. Pemberian punishment (hukuman) diberikan kepada anak asuh yang melanggar tata tertib panti asuhan, misalnya pengasuh memberikan peringatan dan pembinaan ketika ada anak yang berbicara kotor di panti asuhan, berperilaku kurang sopan saat duduk di bagian ruang pengurus, berpakaian kurang tepat saat kegiatan sholat berjama‟ah.anak asuh yang melanggar tata tertib dipanggil diberi arahan dan teguran apabila masih saja melakukan pelanggaran maka pihak pengurus menjatuhkan sanksi. Sanksi yang diberikan bersifat mendidik misalkan anak asuh disuruh menghafal ayatayat Al – Quran ketentuannya sesuai pelanggaran yang dibuat dan ditentukan pengurus, sanksinya berupa anak asuh disuruh membuat cerpen (cerita pendek) atau puisi yang intinya mengisi majalah dinding (mading) panti asuhan yang kosong dan ada juga sanksi yang sifatnya menghukum secara fisik misalkan anak asuh disuruh mengepel, menyapu, membersikan kamar mandi, ruang tamu, musholah, dan lain-lain. (Observasi bulan AprilJuni). sikap sopan santun yang dilakukan anak asuh yaitu kurangnya kesadaran pada diri anak asuh, pengaruh lingkungan pergaulan, kurangnya pengawasan dari pengasuh dan pengurus, minimnya pengetahuan anak asuh terhadap tata tertib dan kurangnya hubungan interpersonal antara pengurus pondok dengan anak asuh terutama anak asuh yang bermasalah terhadap tata tertib. Panti asuhan Aisyiyah berupaya menegakkan tata tertib panti asuhan agar ditaati oleh seluruh warga panti asuhan terutama terhadap anak asuhnya segala bentuk larangan serta kewajiban di panti asuhan agar dipatuhi, namun segala bentuk tata tertib yang dibuat untuk ditaati tersebut masih saja ada yang melanggar tata tertib, tertutama anak asuh, bentuk larangan yang sering dilanggar adalah kesopanan baik dalam hal berbicara, berperilaku dan berpakaian. Misalkan dalam hal perilaku hendaknya menyapa pada orang yang lebih tua ketika bertemu walaupun hanya menyapa dan ketika memasuki dan keluar ruangan harus mengucapkan salam. Pemahaman akan pentingnya mematuhi tata tertib di panti asuhan harus dilaksanakan terutama bagi anak asuh karena masih terdapat anak asuh yang kurang sadar diri akan pentingnya sikap sopan santun, hal ini diinformasikan bahwa dulu ketika mengikuti pengajian, mengaji Al-Qu‟ran anak asuh sering terlambat datang, selain itu ada santri yang tidak hadir dalam kegiatan ceramah agama dan ada anak asuh yang tidak memakai baju putih atau jubah dan berkopyah putih apabila sholat berjama‟ah. Hal ini menunjukkan bahwa dalam diri anak asuh masih belum tertanam kesadaran diri akan pentingnya mematuhi tata tertib panti asuhan hal ini yang menuntut pihak panti asuhan berupaya keras memperbaiki perilaku anak asuhnya melalui berbagai cara yang dilakukan untuk menekan perilaku anak asuh sehingga dapat patuh terhadap aturan serta memiliki perilaku yang mulia dengan cara meningkatkan fasilitas pendukung di panti asuhan salah satunya majalah dinding (mading), menambah pengurus dan pengasuh di panti asuhan agar dapat mengkontrol perilaku anak asuh, meningkatkan komunikasi antara pengasuh dan anak asuh dengan memberikan nasihat, teguran, pemahaman mengenai tata tertib. Berdasarkan data hasil penelitian, strategi yang digunakan pengasuh panti asuhan Aisyiyah Kecamatan Sumberrejo Kabupaten Bojonegoro dalam membentuk sikap sopan santun anak asuh dilakukan dengan memberikan keteladanan yaitu memberikan keteladanan yang baik terhadap anak yang ada di panti asuhan, komunikasi yaitu dilakukan pada saat musyawarah dan kegiatan kultum agar mengetahui masalah anak anak asuh, pembiasaan, nasihat dan teguran yaitu bertujuan untuk menanamkan pentingya tentang peraturan tata tertib dan pemberian hadiah serta hukuman kepada anak PEMBAHASAN Berdasarkan data hasil penelitian ada beberapa hal yang mengakibatkan pelanggaran tata tertib terutama 176 Strategi pembentukan sikap sopan santun di panti asuhan Aisyiyah Sumberrejo Bojonegoro asuh. Dalam upaya tersebut maka pengajar dan pengasuh panti asuhan akan menjadi model bagi anak asuh sehingga anak asuh dapat meniru tingkah laku pengasuh. Dalam teori belajar kognitif yang dikemukakan oleh Albert Bandura (dalam Nursalim, 2007:15) bahwa tingkah laku manusia banyak dipelajari melalui peniruan dari tingkah laku seorang model (modeling). Peniruan sendiri dapat berlaku hanya melalui pengamatan terhadap seorang model. Secara rinci dasar kognitif dalam proses belajar menurut Bandura ada 4 elemen penting yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran melalui pengamatan, keempat elemen itu adalah perhatian (attention), mengingat (retensi), produksi, dan motivasi untuk mengulangi perilaku yang dipelajari. Pada tahap attention atau perhatian dalam penanaman sikap sopan santun anak asuh maka diperlukan orang yang diangap lebih mampu untuk menjadi model yang akan digunakan sebagai contoh dalam mengubah sikap dan tingkah laku anak asuh. Anak asuh nantinya akan memperhatikan orang yang menarik, kompeten, populer dan orang yang dikaguminya. Dalam lingkungan panti asuhan Aisyiyah Sumberrejo Bojonegoro maka pengasuh yang akan dijadikan anak asuh dalam mencari perhatian. Pengurus panti asuhan harus mampu memberikan tauladan yang baik kepada semua warga panti asuhan dalam melaksanakan tata tertib panti asuhan. Pengurus dan pengasuh memberikan tauladan dalam bersikap dan berbicara yang baik, saling menghormati dan menghargai semua warga panti asuhan. Selain itu, pengurus dan pengasuh panti asuhan juga harus memberikan tauladan dalam hal berpakaian yang rapi ketika di lingkungan panti asuhan serta melakukan tugas-tugasnya dengan baik. Pengasuh selain membimbing dan mendidik anak asuh juga harus mampu memberikan keteladanan dalam segala hal kepada anak asuh baik keteladanan perilaku, sikap, maupun ucapan. Berdasarkan hasil observasi di lapangan, keteladanan yang dilakukan oleh seorang pengasuh dalam membentuk sikap sopan santun anak asuh adalah dengan mengucapkan salam ketika masuk dan keluar ruangan, berpakaian rapi dan sopan, berbicara dengan mengunakan bahasa Jawa yang halus. Setiap hari pengasuh berpakaian dengan rapi sehingga dapat diharapkan anak asuh bisa memperhatikan dan menirunya. Selain itu pengasuh juga memberikan tauladan dalam hal berbicara, pengasuh mengkondisikan anak asuh agar selalu berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan berbicara bahasa Jawa yang berlogat halus. Oleh karena itu seorang pengasuh harus mampu menjadi contoh yang baik untuk anak asuh dalam mematuhi tata tertib yang ada di lingkungan panti asuhan agar anak asuh melaksanakan tata tertib dengan baik sehinga dapat membentuk sikap sopan santun anak asuh. Tahap retensi atau mengingat, dalam tahap ini panti asuhan memberikan pembiasaan secara verbal karena perilaku ditangkap dengan baik dalam wadah kebiasaan yang diwujudkan dalam pembinaan sikap. Setelah anak asuh memperoleh pengetahuan mengenai tata tertib panti asuhan, anak asuh harus mengingat penjabaran perilaku tersebut. Pengetahuan tersebut tersimpan dalam memori, dan dimungkinkan dapat diperkuat dengan model yaitu pengasuh. Agar anak asuh dapat selalu mengingat pelaksanaan tata tertib dalam membentuk sikap sopan santun maka anak asuh harus mampu mengingat kebiasaan-kebiasaan yang dicontohkan seorang model yang diamati dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari secara berulangulang hingga menjadi kebiasaan yang baik. Pembiasaan di panti asuhan Aisyiyah Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro dilakukan oleh pihak panti asuhan melalui penerapan pembiasaan dengan cara senyum, sapa dan salam yang sudah menjadi keharusan bagi setiap pengghuni panti asuhan Aisyiyah sesuai dengan isi slogan di majalah dinding (mading) panti asuhan yang dibuat oleh pengurus bersama anak asuh yang isinya: “biasakan untuk selalu tersenyum karena senyum adalah bagian dari ibadah, jadikan ucapan salam sebagai tanda orang beriman dan hendaklah menyapa ketika bertemu karena itu tanda menghormati seseorang.” Anak asuh dilatih bertata krama yang bagus, berperilaku sopan melalui komunikasi baik di dalam ruangan maupun di luar kelas yang diberikan oleh pihak panti asuhan. Komunikasi itu perlu untuk dilakukan agar dapat membangun hubungan baik antara semua pihak dalam upaya penanaman dan pembentukan sikap sopan santun anak asuh. Komunikasi tersebut dapat dilakukan dengan cara mensosialisasikan tata tertib yang ada di panti asuhan, mendengar problem dan keluhan yang dihadapi anak asuh baik dalam hal kegiatan, fasilitas, dan lain lain dilakukan melalui berbagai cara agar anak asuh dapat memahami, mengerti dan melaksanakan tata tertib dalam upaya pembentukan sikap anak asuh yang baik. Berdasarkan observasi di lapangan, cara yang dilakukan oleh pihak panti asuhan terutama oleh pengurus dengan mensosialisasikan tata tertib panti asuhan pada saat kegiatan musyawarah. Pengurus menyampaikan dalam pidatonya akan pentingnya mematuhi tata tertib panti asuhan serta berupaya bersikap sopan baik dalam hal berbicara, berpakaian, dan bertindak. Dalam membentuk kedisiplinan dan sikap anak asuh dapat mengetahui aturan yang ada di lingkungan panti asuhan. Pengasuh dan pengurus juga mensosialisasikan tata tertib dengan memberikan buku tata tertib dan juga 177 Kajian Moral dan Kewarganegaraan. Volume 01 Nomor 03 Tahun 2015, Hal 164-179 berupaya mendengarkan keluhan serta problem yang dihadapi anak asuh melalui kegiatan musyawarah yang diadakan. Dalam membentuk sikap sopan santun harus mampu berkomunikasi dengan anak asuh dalam membicarakan sikap yang harus dimiliki anak asuh, terutama pada sikap sopan santun. Pengasuh dan pengurus berupaya menegur apabila kedapatan anak asuh bersikap kotor, berbicara keras di ruangan dan merokok di depan pengurus. Pihak panti asuhan dalam mengatasi anak asuh yang bermasalah dengan berkomunikasi kepada anak asuh yang bermasalah saja mendengarkan problem dan keluan yang dihadapi setiap anak asuh dan menayakan alasan anak asuh bersikap kurang sopan ketika berada dilingkungan panti asuhan dengan demikian pihak pengasuh dapat memberikan solusi serta mampu membimbing anak asuh agar lebih bersikap sopan ketika di lingkungan dan di luar panti asuhan. Selain itu pihak pengasuh berupaya memberikan nasehat dan teguran terhadap anak asuh yang sering berulah seperti bersikap kurang sopan di lingkungan panti asuhan, baik dalam hal berbicara, berpakaian dan berperilaku. Pihak pengasuh memberikan nasehat ketika ada anak asuh yang bersikap kurang sopan, contohnya ketika memasuki dan keluar ruangan tidak mengucapkan salam, pengasuh memberikan pemahaman serta nasihat pada anak asuh tersebut agar hendaknya mendahulukan salam ketika memasuki dan keluar ruangan dan ketika ada anak asuh yang berpakaian jins saat kegiatan sholat berjama‟ah pengasuh menyuruh anak asuh untuk segera ganti pakaian tersebut dengan pakaian yang lebih sopan dan sesuai seperti memakai sarung, songkok dan baju muslim. Sebelum memberikan sanksi pihak pengasuh terlebih dahulu memberikan teguran dan nasihat terlebih dahulu, ketika masih ada anak asuh yang melanggar kedua kalinya maka pengasuh memberikan sanksi. Dengan adanya nasihat dan teguran tersebut nantinya anak asuh dapat merubah perilaku yang lebih sopan. Tahap motivasi dan penguatan merupakan cara untuk mendorong anak asuh dalam melaksanakan tata tertib agar dapat membentuk sikap sopan santun yang dapat diterima oleh lingkungan sekitarnya. Motivasi dapat diberikan oleh pihak sekolah terutama pengasuh, pengajar, pengurus panti asuhandengan cara memberikan reward (hadiah) dan punishment (hukuman). Reward atau hadiah diberikan kepada anak asuh yang mempunyai prestasi baik di bidang akademik maupun non akademik. Pemberian hadiah diberikan kepada anak asuh yang berprestasi, prestasi tidak hanya dapat dinilai dari kepandaiannya saja, tapi juga dinilai dari etika anak asuh dalam bersikap dan bertingkah laku. Pemberian reward atau hadiah secara individu dapat diberikan dalam bentuk pujian secara langsung ketika anak asuh mempunyai sikap yang baik dalam melaksanakan tata tertib panti asuhan. Sedangkan pemberian reward (hadiah) secara kelompok diberikan oleh pihak panti asuhan dalam bentuk barang misalnya perlengkapan kamar yang dapat digunakan secara bersama-sama. Memberikan punishment atau hukuman kepada anak asuh yang melakukan pelanggaran atau kesalahan perlu dilakukan oleh pihak panti asuhan. Hukuman yang diberikan adalah hukuman yang bersifat mendidik anak asuh untuk menyadari kesalahannya dan berpikir tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Sesuai dengan kesepakatan pihak panti asuhan pada peraturan tata tertib panti asuhan yang berlaku untuk anak asuh terdapat bab mengenai sanki-sanksi. Sanksi diberikan kepada anak asuh apabila melanggar tata tertib yang sudah ditentukan oleh pihak panti asuhan yang terdapat dalam tata tertib panti asuhan. Pemberian sanksi atau hukuman diberikan oleh pengasuh dan pengurus sesuai ketentuan yang berlaku di dalam tata tertib panti asuhan. Sebelum memberikan sanksi bagi anak asuh yang melanggar tata tertib terutama bersikap kurang sopan pihak pengasuh dan pengurus memberikan teguran terlebih dahulu kepada anak asuh yang melanggar tata tertib apabila anak asuh melanggar kedua kalinya maka pihak pengasuh memberikan sanksi. Sanksi yang diberikan disesuaikan dengan pelanggaran yang dilakukan misalnya berbicara kotor ketika berada di lingkungan panti asuhan pihak pengasuh memberikan sanksi yang sifatnya mendidik yaitu menyuruh anak asuh untuk menghafalkan ayat-ayat Al-Quran yang ditentukan oleh pengasuh. Pemberian hukuman atau sanksi tidak ada yang terlalu memberatkan anak asuh adapun sanksi lain misalkan anak asuh disuruh membersikan mushola, kamar mandi, kamar. Hanya bertujuan untuk memberikan penegasan pada anak asuh sehingga tidak melanggar tata tertib berulang-ulang serta memberikan efek jera dan pembelajaran bagi anak asuh yang lain. Berkenaan dengan teori Bandura, dalam upaya pembentukan sikap sopan santun maka analisis langkah yang sebaiknya dilakukan dalam membiasakan anak asuh bersikap sopan santun adalah melalui pengasuh yang harus mampu menjadi model atau teladan atau contoh bagi anak asuh tanpa terkecuali sehingga memberikan pengalaman yang berarti bagi kognitif anak asuh. Selain itu, juga diberikan motivasi baik berupa penguat maupun hukuman untuk memperkuat perilaku anak asuh. Saran Berdasarkan simpulan di atas maka saran yang diberikan kepada pengasuh adalah: pertama, sosialisasi berkaitan dengan tata tertib perlu ditingkatkan melalui penempelan tata tertib di majalah dinding (mading) yang 178 Strategi pembentukan sikap sopan santun di panti asuhan Aisyiyah Sumberrejo Bojonegoro ada. Ini dimaksudkan agar para anak asuh terus mengingat dan mengindahkan tata tertib serta menambah wawasan dan pengetahuan tetang perilaku-perilaku yang sesuai dengan ajaran agama Islam. Selain itu pihak pengurus lebih meningkatkan pengawasan terhadap anak asuh, bukan hanya dilakukan di asrama, majelis dan lingkungan panti asuhan, tetapi juga diluar lingkungan panti asuhan. Kedua, pengurus seharusnya lebih memaksimalkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan anak asuh dalam proses pembinaan, terutama saran apa dan bagaimana untuk menjadikan anak asuh yang produktif. Hal ini juga bisa memberikan kesibukan aktivitas yang positif terhadap anak asuh sehingga mampu mengurangi atau meminimalisir kegiatankegiatan yang cenderung mengarah kurang disiplin. DAFTAR PUSTAKA Achmadi, Abu. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan Prektek). Jakarta: PT. Rineka Cipta Azwar, Saifuddin. 1988. Sikap Manusia. Yogyakarta: Liberty Hidayah, Rifa. 2009. Psikologi Pengasuhan Anak. Malang: UIN – Malang Press. Komaruddin.(1994). Distribusi Mempunyai Peranan yang Sangat Penting dalamKegiatan Pemasaran.Yogyakarta: BPFE. Nasution, S. 2006. Metode Research (Penelitian Imiah). Jakarta: PT Bumi Aksara. Nazir, Moh. 2003. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia. Nursalim, Mochamad, dkk. 2007. Psikologi Pendidikan. Surabaya: Unesa University Press. Mochtar Shochib. (2006). Pola Asuh Orang Tua.Jakarta: Rineka Cipta. Moleong, Lexy J. 2010. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT.Remaja Rosdakarya. Salam, Burhanuddin. 1997. Etika Sosial Asas Moral Dalam Kehidupan Manusia. Jakarta: PT Rineka Cipta Sugiyono. 2009. Metode Kuantitatif dan Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. Sunarti, dkk. 1989. Pola Pengasuhan Anak Secara Tradisional di Kelurahan Kebagusan Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta. Departemen P dan K.Jakarta. Soekanto, S. 2007. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta. PT Raja Grafindo Persada. Tim Dosen FIP IKIP. 1989. Tata Tertib Dalam Sekolah. Malang. IKIP Malang Press. W.J.S. Poerwadarminta. (2002). Kamus Besar Bahasa Indonesia.Jakarta: PTGramedia Pustaka Utama Yin, Robert K. 2002.Studi Kasus (desain & metode). Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Zuriah, Nurul. 2007. Pendidikan Moral & Budi Pekerti Dalam Prespektif Perubahan Jakarta: Bumi Aksara. 179

Judul: Strategi Pembentukan Sikap Sopan Santun Di Panti Asuhan Aisyiyah Sumberrejo Kabupaten Bojonegoro Listyaningsih

Oleh: Oga Anief


Ikuti kami