Income Smoothing Dan Implikasinya Terhadap Laporan Keuangan Perusahaan Dalam Etika Ekonomi Islam

Oleh Azharsyah Ibrahim

500,3 KB 10 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Income Smoothing Dan Implikasinya Terhadap Laporan Keuangan Perusahaan Dalam Etika Ekonomi Islam

Azharsyah Ibrahim Income Smoothing dan Implikasinya Income Smoothing dan Implikasinya terhadap Laporan Keuangan Perusahaan dalam Etika Ekonomi Islam Azharsyah Ibrahim Fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry Email: azharsyah@gmail.com Abstract Income smoothing is a form of income management that reflects economic results, not as they are, but rather as management wishes them to look. This results in lower earnings quality since net income does not representatively portray the economic performance of the business entity for the period. This study examines the implication of income smoothing practices toward corporates’ income statement and its legitimacy to incorporate into Islamic economic practice. The methodology used for this study is descriptive and content analysis. Findings show that the income smoothing practices are seen from two different perspectives. First, the practices are seen as legal activities as they rely not on falsehoods and distortions but on the wide leeway existing in alternatively accepted accounting principles and their interpretations. It is conducted within the structure of GAAP. Second perspective, however, sees it as an unethical conduct since companies indulge in this practice aims to “deceive” their investors who are generally willing to pay a premium for stocks with steady and predictable earnings streams, compared with stocks whose earnings are subject to wild fluctuations. Income smoothing (perataan laba) adalah suatu perilaku yang rasional yang didasarkan pada asumsi dalam positive accounting theory, dimana manajemen suatu perusahaan melakukan kebijakan tertentu untuk memaksimumkan kepentingannya. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji implikasi praktik income smoothing pada laporan keuangan perusahaan serta untuk melihat kepatutannya dalam sistem ekonomi Islam. Untuk mendapatkan jawabannya, kajian ini menggunakan metode analisis isi (content analysis) dan deskriptif analisis (descriptive analysis). Hasil kajian menunjukkan bahwa dari sudut pandang etika secara umum ada dua pendapat yang bertolak belakang; yang menganggap wajar; dan yang menganggap tidak etis. Akan tetapi pendapat yang kedua lebih kuat. Praktik tersebut juga mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap laporan keuangan perusahaan karena mempengaruhi jumlah laba yang dihasilkan oleh suatu perusahaan. Efeknya, hal itu akan “mengelabui” pendapat stakeholders terhadap kondisi keuangan perusahaan tersebut. Keywords: Income smooting, perataan laba, akuntansi A. Pendahuluan Kegiatan ekonomi merupakan salah satu dari aspek muamalah dalam sistem hukum Islam, sehingga kaidah fiqh yang digunakan dalam mengidentifikasi transaksi-transaksi ekonomi juga menggunakan kaidah fiqh muamalah. Kaidah fiqh muamalah adalah “al ashlu fil mua’malati al ibahah hatta yadullu ad dhalilu ‘ala tahrimiha” (hukum asal dalam urusan muamalah adalah boleh, kecuali ada dalil yang mengharamkannya).1 Ini berarti bahwa semua hal yang berhubungan dengan muamalah yang tidak ada ketentuan baik larangan maupun anjuran yang ada di dalam dalil Islam (Al-Qur’an maupun Al-Hadist), maka hal tersebut adalah diperbolehkan dalam Islam.2 Efek yang timbul dari kaidah fiqh muamalah di atas adalah adanya ruang lingkup Jurnal Media Syariah | Vol. XII | No. 24 | Jul - Des 2010 102 Azharsyah Ibrahim Income Smoothing dan Implikasinya yang sangat luas dalam penetapan hukum-hukum muamalah, termasuk juga hukum ekonomi. Ini berarti suatu transaksi baru yang muncul dalam fenomena kontemporer yang dalam sejarah Islam belum ada/dikenal, maka transaksi tersebut “dianggap” diperbolehkan, selama transaksi tersebut tidak melanggar prinsip-prinsip yang dilarang dalam Islam. Sedangkan transaksi-transaksi yang dilarang dalam Islam adalah transaksi yang disebabkan oleh faktor: haramnya zat (objek transaksinya), haram selain zatnya (cara bertransaksinya), dan tidak sah/lengkap akadnya.3 Salah satu bentuk pengembangan muamalah manusia adalah praktik akuntansi yang berhubungan dengan laba, yaitu praktik income smoothing (perataan laba). Perataan laba adalah tindakan normalisasi laba yang dilakukan oleh pihak manajemen untuk menolak risiko, menghindari pinjaman laba dan pemberian pinjaman di pasar modal. Demikian juga hubungannya dengan kreditor, manajer lebih menyukai alternatif yang menghasilkan perataan laba. Perataan laba merupakan salah satu bagian dari manajemen laba (earnings management). Definisi awal tentang perataan laba (income smoothing) adalah suatu perilaku yang rasional yang didasarkan pada asumsi dalam positive accounting theory, dimana manajemen suatu perusahaan melakukan kebijakan tertentu untuk memaksimumkan kepentingannya.4 Perataan laba adalah pengurangan fluktuasi laba dari tahun ke tahun dengan cara memindahkan pendapatan dari tahun yang tinggi pendapatannya ke periode-periode yang kurang menguntungkan. 5 B. Motivasi dibalik Praktik Income Smoothing Tindakan perataan laba yang dilakukan manajemen dapat dilihat dari dua cara. Pertama, tindakan perataan laba yang dipandang sebagai perilaku oportunistik manajemen untuk memaksimalkan utilitasnya dalam menghadapi kontrak kompensasi dan hutang. Jurnal Media Syariah | Vol. XII | No. 24 | Jul - Des 2010 103 Azharsyah Ibrahim Income Smoothing dan Implikasinya Kedua, prilaku perataan laba memberikan manajer suatu fleksibilitas untuk melindungi diri dari perusahaan dalam mengantisipasi kejadian yang tidak terduga demi kepentingan pihakpihak yang terlibat dalam kontrak.6 Oleh karena itu tindakan perataan laba yang dilakukan oleh manajemen perusahaan adalah sebuah metode untuk meningkatkan kesejahteraan pemegang saham dan kesejahteraan pribadinya. Dari berbagai isi laporan keuangan biasanya perhatian investor lebih banyak ditujukan pada informasi laba. Akibatnya, investor tidak memperhatikan prosedur yang digunakan oleh manajer untuk menghasilkan informasi laba tersebut.7 Oleh karena itu manajer berusaha memberikan informasi yang akan meningkatkan nilai perusahaan dimata investor yaitu dengan cara melakukan perataan laba (income smoothing). Tindakan manajemen untuk melakukan perataan laba umumnya didasarkan atas berbagai alasan. Antara lain untuk memuaskan kepentingan pemilik perusahaan, seperti menaikkan nilai dari perusahaan, sehingga muncul anggapan bahwa perusahaan yang bersangkutan memiliki risiko yang rendah. Alasan lainnya adalah untuk memuaskan kepentingan sendiri atau bonus purpose, yaitu manajer yang memiliki informasi laba bersih perusahaan akan bertindak secara oportunistik untuk melakukan manajemen laba dengan memaksimalkan laba saat ini. 8 Kemudian taxation motivation, yaitu upaya manajer dalam memanajemen laba yang dihasilkan perusahaan untuk melakukan penghematan terhadap pembayaran pajak. Pergantian CEO (Chief Executive Officer) juga menjadi motivasi dalam melakukan perataan laba dimana CEO yang mendekati masa pensiun cenderung akan menaikkan pendapatan untuk meningkatkan bonus mereka. Jika kinerja perusahaan buruk, mereka akan memaksimalkan pendapatan agar tidak diberhentikan. Adanya perubahan informasi atas laba bersih suatu perusahaan melalui berbagai cara Jurnal Media Syariah | Vol. XII | No. 24 | Jul - Des 2010 104 Azharsyah Ibrahim Income Smoothing dan Implikasinya akan memberikan dampak yang cukup berpengaruh terhadap tindak lanjut para pengguna informasi yang bersangkutan, tidak terkecuali penerapan perataan laba oleh suatu perusahaan. C. Etika dalam Praktik Income Smoothing Bila ditinjau dari sudut pandang etika, earnings management, dimana didalamnya termasuk tindakan income smoothing (perataan laba) merupakan tindakan yang dapat menyesatkan pemakai laporan keuangan dengan menyajikan informasi yang tidak akurat, dan bahkan kadang merupakan penyebab terjadinya tindakan illegal, misalnya penyajian laporan keuangan yang terdistorsi atau tidak sesuai dengan sebenarnya.9 Manajemen yang melakukan earnings management biasanya mempunyai keyakinan bahwa investor mempunyai keterbatasan informasi dalam membuat keputusan (information asymmetric). Jika investor semakin pintar dan punya akses terhadap informasi, akhirnya situasi yang sebenarnya akan terungkap juga dan keputusan yang dibuat akan berbeda, sehingga investor terhindar dari kerugian yang tak diinginkan. Perihal terjadinya tindakan perataan laba dapat dianalogikan bahwa pelaporan laporan keuangan melakukan tindakan tersebut agar laporan keuangan terlihat smooth (lembut), tidak fluktuatif sehingga akan membuat investor tertarik berinvestasi pada perusahaan tersebut. Fenomena earnings management dimana di dalamnya terkandung income smoothing bagaikan dua sisi mata uang yang berbeda. Pada satu sisi terang, earnings management merupakan tindakan yang legal, karena merupakan tindakan dalam membangun citra (image) akan kemampuan dalam usaha pengembangan perusahaan. Sedangkan di sisi lainnya dianggap tidak memiliki etika, sebab terkandung unsur penipuan di dalamnya. Sebagian kalangan malah menganggap sebagai judgement (pembenaran) yang menyesatkan (mislead) para stakeholders. D. Aplikasi Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Perusahaan Menurut Perspektif Islam Nilai pertanggungjawaban, keadilan dan kebenaran selalu melekat dalam sistem Jurnal Media Syariah | Vol. XII | No. 24 | Jul - Des 2010 105 Azharsyah Ibrahim Income Smoothing dan Implikasinya akuntansi syariah. Ketiga nilai tersebut tentu saja telah menjadi prinsip dasar yang universal dalam operasional akuntansi syariah. Berikut adalah makna yang terkandung dalam surat Al Baqarah 282 : 10 1. Prinsip pertanggungjawaban Prinsip pertanggungjawaban (accountability) merupakan konsep yang tidak asing lagi dikalangan masyarakat muslim. Pertanggungjawaban selalu berkaitan dengan konsep amanah.bagi kaum muslim, persoalan amanah merupakan hasil transaksi manusia dengan sang khaliq mulai dari alam kandungan. Manusia diciptakan oleh allah sebagai khalifah dimuka bumi. Manusia dibebani oleh Allah untuk menjalankan fungsi-fungsi kekhalifahannya. Inti kekhalifahan adalah menjalankan dan menunaikan amanah. Banyak ayat al-Qur’an yang menjelaskan tentang proses pertanggungjawaban manusia sebagai pelaku amanah allah di muka bumi. Implikasi dalam bisnis dan akuntansi adalah bahwa individu yang terlibat dalam praktik bisnis harus selalu melakukan pertanggungjawaban apa yang telah di amanatkan dan diperbuat kepada pihak-pihak yang terkait. Wujud pertanggungjawabannya biasanya dalam bentuk laporan akuntansi. 2. Prinsip kebenaran Jika ditafsirkan lebih lanjut, QS Al Baqarah 282 mengandung prinsip keadilan dalam melakukan transaksi. Prinsip keadilan ini tidak saja merupakan nilai yang sangat penting dalam etika kehidupan sosial dan bisnis, tetapi juga merupakan nilai yang secara inhern melekat dalam fitrah manusia. Hal ini berarti bahwa manusia itu pada dasarnya memiliki kapasitas dan energi untuk membuat adil dalam setiap aspek kehidupan. Dalam konteks akuntansi, menegaskan, bahwa setiap transaksi yang dilakukan oleh perusahaan mesti di catat dengan benar. Kata keadilan disini memiliki dua arti, yaitu : pertama, adalah berkaitan dengan praktik moral, yaitu kejujuran yang merupakan faktor yang dominan. Tanpa Jurnal Media Syariah | Vol. XII | No. 24 | Jul - Des 2010 106 Azharsyah Ibrahim Income Smoothing dan Implikasinya kejujuran, informasi akuntansi yang disajikan akan menyesatkan dan merugikan para pengguna informasi tersebut. Kedua, kata adil bersifat lebih fundamental (dan tetap berpijak pada nilai etika/syariah dan moral). Pengertian kedua inilah yang lebih merupakan sebagai pendorong untuk melakukan upaya-upaya dekonstruksi terhadap bangun akuntansi modern menuju pada bangun akuntansi (alternatif) lebih baik. Prinsip ini sebenarnya tidak dapat dilepaskan dengan prinsip keadilan. Sebagai contoh, dalam akuntansi kita akan selalu dihadapkan pada masalah pengakuan, pengukuran laporan. Aktivitas ini akan dapat dilakukan dengan baik apabila dilandaskan pada nilai kebenaran, kebenaran ini kan dapat menciptakan nilai keadilan dalam mengakui, mengukur, dan melaporkan tansaksi-transaksi dalam ekonomi. Dengan demikian pengembangan akuntansi Islam, nilai-nilai kebenaran, kejujuran dan keadilan harus diaktualisasikan dalam praktik akuntansi. Secara garis besar, bagaimana nilai-nilai kebenaran membentuk akuntansi syariah dapat diterangkan. Akuntan muslim harus meyakini bahwa Islam sebagai way of life (Q.S. 3 : 85). Akuntan harus memiliki karakter yang baik, jujur, adil, dan dapat dipercaya (Q.S. An-Nisa 135). Akuntan bertanggung jawab melaporkan semua transaksi yang terjadi (muamalah) dengan benar, jujur serta teliti, sesuai dengan syariah Islam (Q.S. Al-Baqarah : 7 - 8). Dalam penilaian kekayaan (asset), dapat digunakan harga pasar atau harga pokok. Keakuratan penilaiannya harus dipersaksikan pihak yang kompeten dan independen (Al-Baqarah 282). Standar akuntansi yang diterima umum dapat dilaksanakan sepanjang tidak bertentangan dengan syariah Islam. Transaksi yang tidak sesuai dengan ketentuan syariah, harus dihindari, sebab setiap aktivitas usaha harus dinilai halal dan haramnya. Faktor ekonomi bukan alasan tunggal untuk menentukan berlangsungnya kegiatan usaha. 3. Prinsip keadilan Prinsip kebenaran disini tidak dapat dipisahkan dari prinsip keadilan. Dimana al- Jurnal Media Syariah | Vol. XII | No. 24 | Jul - Des 2010 107 Azharsyah Ibrahim Income Smoothing dan Implikasinya Qur’an tidak memperbolehkan untuk mencampuradukkannya dengan kebatilan. Kebenaran pelaporan yang dimaksud hendaknya dapat diukur dan dapat diakui. Secara praktis, laporan keuangan yang berkualitas harus memenuhi kriteria berikut : 11 a) Dapat dipahami (understandable) informasi keuangan yang ditampilkan dalam laporan keuangan harus jelas sehingga mudah dimengerti dan dipahami oleh pihak-pihak yang berkepentingan. b) Relevan Data yang diolah serta informasi yang disajikan dalam laporan keuangan hanya ada kaitannya dengan transaksi yang dibutuhkan. c) Andal Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan juga harus memenuhi kualitas andal, yaitu bebas dari pengertian yang menyesatkan. Kesalahan material, dan dapat diandalkan pemakainya sebagai penyajian yang tulus dan jujur dari yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar diharapkan dapat disajikan. d) Dapat dibandingkan (comparability) Laporan keuangan yang disusun harus dapat dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya untuk mengikuti perkembangan posisi dan kinerja keuangan perusahaan yang bersangkutan. Selain itu juga dapat dibandingkan dengan perusahaan lain yang sejenis, untuk mengevaluasi posisi keuangan dan kinerja secara relatif. e) Dapat diuji kebenarannya (auditability) Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan harus dapat ditelusuri sampai ke bukti asalnya. Baik dalam bentuk dokumen dasar, fisik aktiva yang bersangkutan. Artinya, semua transaksi yang terjadi dapat dipertanggungjawabkan oleh pihak manajemen. E. Perspektif hukum Islam terhadap praktik perataan laba Jurnal Media Syariah | Vol. XII | No. 24 | Jul - Des 2010 108 Azharsyah Ibrahim Income Smoothing dan Implikasinya Dalam pandangan Islam, prilaku perataan laba ini sepertinya bertentangan dengan kaidah fiqh muamalah, dimana mengandung unsur penipuan (tadlis) dan ketidakjelasan (gharar) karena ada pihak yang menyembunyikan informasi terhadap pihak yang lain (unknown to one party) dengan maksud untuk menipu pihak lain atas ketidaktahuannya tentang informasi tersebut. Dan apabila tindakan ini terbukti, maka hal ini dilarang dalam Islam, karena melanggar prinsip “an taraaddin minkum” (sama-sama ridha). Ketidakjelasan (gharar) terjadi bila salah satu pihak yang bertransaksi merubah sesuatu yang seharusnya bersifat pasti menjadi tidak pasti. Informasi yang disembunyikan dan bersifat tidak pasti tersebut dapat berbentuk kuantitas (quantity), kualitas (quality), harga (price), ataupun waktu penyerahan (time of delivery) atas objek yang ditransaksikan. Adapun penjabaran dari konsep adil adalah dilarangnya gharar (ketidakjelasan) dan tadlis (penipuan). Namun, ketidakpastian dari hasil usaha tidak dapat dikatakan gharar. Ia merupakan konsekuensi logis dari suatu usaha. Bila usaha itu dilakukan oleh dua belah pihak atau lebih dengan menggabungkan sumber daya yang mereka miliki, maka usaha itu disebut dengan syirkah. Ketidakpastian dalam risiko (pure risk) terdiri dari dua kemungkinan, yaitu rugi atau tidak rugi. Risiko ini dapat ditanggung sendiri (take it yourself) atau risiko ditanggung bersama (risk sharing). Kedua cara ini dapat dilakukan dengan tidak melanggar syariat (halal).12 Penjabaran lain dari konsep adil adalah dilarangnya tadlis. Tadlis terjadi karena adanya penyembunyian (cacat) atas informasi yang tidak diketahui oleh salah satu pihak yang bertransaksi. Yang dilarang disini bukanlah menjual barang cacatnya, tetapi adalah menyembunyikan cacatnya barang tersebut, sehingga informasi yang dimiliki para pihak tidak simetris (asymmetric information). 13 Dari sisi ilmu pengetahuan, Akuntansi adalah ilmu informasi yang mencoba Jurnal Media Syariah | Vol. XII | No. 24 | Jul - Des 2010 109 Azharsyah Ibrahim Income Smoothing dan Implikasinya mengkonversi bukti dan data menjadi informasi dengan cara melakukan pengukuran atas berbagai transaksi dan akibatnya yang dikelompokkan dalam account, perkiraan atau pos keuangan seperti aktiva, utang, modal, hasil, biaya, dan laba (Dapat dilihat dalam Al-Qur’an surat A-Baqarah :282). 14 ”Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis diantara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya.” (Q. S. Al-Baqarah ayat 282) Perintah menulis dapat mencakup perintah kepada kedua orang bertransaksi, dalam arti salah seorang menulis, dan apa yang ditulisnya diserahkan kepada mitranya jika mitra pandai tulis baca, dan apabila tidak pandai, atau keduanya tidak pandai, maka mereka hendaknya mencari orang ketiga sebagaimana bunyi ayat lanjutan. Selanjutnya, Allah menegaskan : “dan hendaklah seorang penulis diantara kamu menulisnya dengan adil”, yakni dengan benar, tidak menyalahi juga merugikan salah satu pihak yang bermuamalah, sebagaimana dipahami dari kata adil dan diantara kamu. Dengan demikian, dibutuhkan tiga kriteria bagi penulis, yaitu kemampuan menulis, pengetahuan tentang aturan serta tatacara menulis perjanjian , dan kejujuran. Dalam Al Quran juga disampaikan bahwa kita harus mengukur secara adil, jangan dilebihkan dan jangan dikurangi. Kita dilarang untuk menuntut keadilan ukuran dan timbangan bagi kita, sedangkan bagi orang lain kita menguranginya.. Dalam hal ini, Al Quran menyatakan dalam berbagai ayat, antara lain dalam surah Asy-Syu’ara ayat 181-183 yang berbunyi: ”Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan...” (Q. S. Asy-Syu’ara ayat 181-183) Jurnal Media Syariah | Vol. XII | No. 24 | Jul - Des 2010 110 Azharsyah Ibrahim Kata Income Smoothing dan Implikasinya (‫)تبخسوا‬ kamu kurangi terambil dari kata bakhs yang berarti kekurangan akibat kecurangan. Ibnu Arabi sebagaimana dikutib oleh Ibnu ‘Asyhur, mendefinisikan kata ini dalam arti pengurangan dalam bentuk mencela, dan memperburuk sehingga tidak disenangi, atau penipuan dalam nilai dan kecurangan dalam timbangan dan takaran dengan melebihkan atau mengurangi. Jika seseorang berkata dimuka umum “barang anda buruk” untuk tujuan menurunkan harganya padahal kualitas barangnya tidak demikian, maka orang tersebut dinilai telah mengurangi hak orang lain dalam hal ini si penjual. Kata ( ‫ ) لقسطاس ا‬Al-Qisthas atau Al-Qusthas ada yang memahaminya dalam arti neraca ada juga dalam arti adil. Kata ini adalah salah satu kata asing – dalam hal ini Romawi – yang masuk beralkulturasi dalam bahasa arab yang digunakan Al-Quran. Demikian pendapat mujahid yang di temukan dalam shahih Bukhari. Kedua maknanya yang dikemukakan diatas dapat dipertemukan, karena untuk mewujudkan keadilan anda memerlukan tolok ukur yang pasti (neraca dan timbangan) dan sebaliknya bila anda menggunakan dengan baik timbangan yang benar, pasti akan lahir keadilan.15 Kebenaran dan keadilan dalam mengukur (menakar) tersebut, menurut Dr. Umer Chapra juga menyangkut pengukuran kekayaan, utang, modal pendapatan, biaya, dan laba perusahaan, sehingga seorang akuntan wajib mengukur kekayaan secara benar dan adil. Agar pengukuran tersebut dilakukan dengan benar, maka perlu adanya fungsi auditing. 16 Dalam Islam, fungsi auditing ini disebut “tabayyun” sebagaimana yang dijelaskan dalam Surah Al-Hujuraat ayat 6 yang berbunyi: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Q. S. Al Hujuraat ayat 6) Ayat diatas merupakan salah satu dasar yang ditetapkan agama dalam kehidupan Jurnal Media Syariah | Vol. XII | No. 24 | Jul - Des 2010 111 Azharsyah Ibrahim Income Smoothing dan Implikasinya sosial sekaligus merupakan tuntunan yang sangat logis bagi penerimaan dan pengamatan suatu berita. Kehidupan manusia dan interaksinya haruslah didasarkan pada hal-hal diketahui dan jelas. Manusia sendiri tidak dapat menjangkau informasi, karena hal itu ia membutuhkan pihak lain. Pihak lain itu ada yang jujur dan memiliki integritas sehingga menyampaikan halhal yang benar, dan ada pula sebaliknya. Karena itu pula harus disaring, khawatir jangan sampai seorang melangkah tidak jelas atau dalam bahasa ayat ini bi jahalah. Dengan kata lain ayat ini menuntut kita menjadikan langkah kita berdasarkan pengetahuan sebagai lawan dari jahalah yang berarti kebodohan, disamping melakukannya berdasarkan pertimbangan logis dan nilai-nilai yang ditetapkan Allah SWT. 17 Kemudian, sesuai dengan perintah Allah dalam Al Quran, kita harus menyempurnakan pengukuran di atas dalam bentuk pos-pos yang disajikan dalam Neraca, sebagaimana digambarkan dalam Surah Al-Israa’ ayat 35 yang berbunyi: “Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Q. S. Al-Isra’ ayat 35) Salah satu hal yang berkaitan dengan hak pemberian harta adalah menakar dengan sempurna, karena itu ayat ini melanjutkan dengan menyatakan bahwa dan sempurnakanlah secara sungguh-sungguh takaran apabila kamu menakar untuk pihak lain dan timbanglah dengan neraca yang lurus yakni benar dan adil. Itulah yang baik bagi kamu dan orang lain karena dengan demikian orang akan percaya kepada kamu sehingga semakin banyak yang berinteraksi dengan kamu dan melakukan hal itu juga lebih bagus akibatanya bagi kamu di akhirat nanti dan bagi seluruh masyarakat dalam kehidupan dunia ini. Penyempurnaan takaran dan timbangan oleh ayat diatas dinyatakan baik dan lebih bagus akibatnya. Ini karena penyempurnaan takaran/timbangan, melahirkan rasa aman, ketentraman dan kesejahteraan dalam hidup bermasyarakat.18 Dari paparan di atas, dapat kita tarik kesimpulan, bahwa kaidah akuntansi dalam Jurnal Media Syariah | Vol. XII | No. 24 | Jul - Des 2010 112 Azharsyah Ibrahim Income Smoothing dan Implikasinya konsep Islam dapat didefinisikan sebagai kumpulan dasar-dasar hukum yang baku dan permanen, yang disimpulkan dari sumber-sumber Syariah Islam dan dipergunakan sebagai aturan oleh seorang Akuntan dalam pekerjaannya, baik dalam pembukuan, analisis, pengukuran, pemaparan, maupun penjelasan, dan menjadi pijakan dalam menjelaskan suatu kejadian atau peristiwa. Dasar hukum dalam akuntansi syariah bersumber dari Al Quran, Sunah Nabawiyyah, Ijma (kesepakatan para ulama), Qiyas (persamaan suatu peristiwa tertentu), dan ”Urf (adat kebiasaan) yang tidak bertentangan dengan Syariah Islam. Kaidah-kaidah akuntansi dalam Islam, memiliki karakteristik khusus yang membedakan dari kaidah akuntansi konvensional. Kaidah-kaidah akuntansi syariah sesuai dengan norma-norma masyarakat Islami, dan termasuk disiplin ilmu sosial yang berfungsi sebagai pelayan masyarakat pada tempat penerapan akuntansi tersebut. Akuntansi barat (konvensional) memiliki sifat yang dibuat sendiri oleh kaum kapital dengan berpedoman pada filsafat kapitalisme, sedangkan dalam akuntansi Islam ada “meta rule” yang berasal diluar konsep akuntansi yang harus dipatuhi, yaitu hukum Syariah yang berasal dari Tuhan yang bukan ciptaan manusia, dan akuntansi Islam sesuai dengan kecenderungan manusia yaitu “hanief” yang menuntut agar perusahaan juga memiliki etika dan tanggung jawab sosial, bahkan ada pertanggungjawaban di akhirat, dimana setiap orang akan mempertanggungjawabkan tindakannya di hadapan Tuhan yang memiliki akuntan sendiri (Rakib dan Atid) yang mencatat semua tindakan manusia bukan saja di bidang ekonomi, tetapi juga bidang sosial-masyarakat dan pelaksanaan hukum syariah lainnya. Jadi, dapat kita simpulkan dari uraian di atas, bahwa konsep akuntansi dalam Islam jauh lebih dahulu dari konsep akuntansi konvensional, dan bahkan Islam telah membuat serangkaian kaidah yang belum terpikirkan oleh pakar-pakar akuntansi konvensional.19 Akuntansi modern tidak mungkin bebas dari nilai dan kepentingan apapun, karena Jurnal Media Syariah | Vol. XII | No. 24 | Jul - Des 2010 113 Azharsyah Ibrahim Income Smoothing dan Implikasinya dalam proses penciptaan akuntansi melibatkan manusia yang memiliki kepribadian dan penuh dengan kepentingan. Nilai utama yang melekat dalam diri akuntansi modern adalah nilai egoistik. Bila informasi yang dihasilkan oleh akuntansi egoistik dikonsumsi oleh para pengguna, maka dapat dipastikan bahwa pengguna tadi akan berpikir dan mengambil keputusan yang egoistik pula Nilai utama kedua yang melekat pada akuntansi modern adalah nilai materialistik, yang juga merupakan sifat yang melekat pada diri manusia. Dengan nilai ini akuntansi hanya akan memberikan perhatian pada dunia materi (uang). Sifat egoistik dan materialistik, diekspresikan dengan jelas pada laporan keuangan. Laporan rugi-laba misalnya, menunjukkan akomodasi akuntansi modern terhadap kepentingan (ego) stakeholders untuk mendapatkan informasi besarnya laba yang menjadi haknya. Setelah kedua nilai utama akuntansi modern itu, muncullah nilai utilitarianisme sebagai akibat dari menguatnya dua sifat sebelumnya. Sifat utilitarian adalah sifat yang menganggap bahwa nilai baik atau buruk dari sebuah perbuatan, diukur dengan ada tidaknya utilitas yang dihasilkan dari perbuatan yang dilakukan. Sehingga, sepanjang perbuatan itu menghasilkan utilitas, maka sepanjang itu pula sebuah perbuatan dikatakan baik tanpa melihat bagaimana prosesnya. Ketiga nilai yang dimiliki oleh akuntansi modern ini kemudian dikenal sebagai kapitalisme. Realitas akuntansi modern yang dibangun dengan nilai-nilai egoistik, materialistik dan utilitarian, menjadi belenggu bagi manusia modern untuk menemukan jati dirinya dan Tuhan. Menjadikan manusia modern terperangkap dalam dunia materi yang hedonis. Sehingga, akan mengakibatkan terjadinya dehumanisasi bagi diri manusia itu sendiri. Selain menjadikan manusia jauh dari penemuan jati dirinya bahkan menjauhkan manusia pada Tuhannya, karakter ini juga merusak hubungan antar manusia. Dimana relasi sosial menjadi terasuki oleh sifat egoistik, materialistik dan utilitarian. Bagi kalangan masyarakat muslim, Jurnal Media Syariah | Vol. XII | No. 24 | Jul - Des 2010 114 Azharsyah Ibrahim Income Smoothing dan Implikasinya Tuhan menjadi tujuan akhir dan menjadi tujuan puncak kehidupan manusia. Akuntansi syari’ah, hadir untuk melakukan dekonstruksi terhadap akuntansi modern. Melalui epistemologi berpasangan, akuntansi syari’ah berusaha memberikan kontribusi bagi akuntansi sebagai instrumen bisnis sekaligus menunjang penemuan hakikat diri dan tujuan hidup manusia. Pada versi pertama, akuntansi syari’ah memformulasikan tujuan dasar laporan keuangannya untuk memberikan informasi dan media untuk akuntabilitas. Informasi yang terdapat dalam akuntansi syari’ah merupakan informasi materi baik mengenai keuangan maupun non-keuangan, serta informasi nonmateri seperti aktiva mental dan aktiva spiritual. Contoh aktiva spiritual adalah ketakwaan, sementara aktiva mental adalah akhlak yang baik dari semua jajaran manajemen dan seluruh karyawan. Sebagai media untuk akuntabilitas, akuntansi syari’ah memiliki dua macam akuntabilitas yaitu akuntabilitas horizontal, dan akuntabilitas vertikal. Akuntabilitas horizontal berkaitan dengan akuntabilitas kepada manusia dan alam, sementara akuntabilitas vertikal adalah akuntabilitas kepada Sang Pencipta Alam Semesta. Pada versi kedua, tujuan dasar laporan keuangan syariah adalah memberikan informasi, memberikan rasa damai, kasih dan sayang, serta menstimulasi bangkitnya kesadaran ke-Tuhanan. Ketiga tujuan ini, merefleksikan secara berturut-turut dunia materi, mental, dan spiritual. Tujuan pertama secara khusus hanya menginformasikan dunia materi baik yang bersifat keuangan maupun non keuangan. Tujuan kedua membutuhkan bentuk laporan yang secara khusus menyajikan dunia mental yakni rasa damai, kasih dan sayang. Selanjutnya tujuan ketiga, disajikan dalam wadah laporan yang khusus menyajikan informasi kebangkitan kesadaran keTuhanan. Kinerja manajemen syari’ah memiliki tiga bentuk realitas yaitu fisik (materi) dengan perspektif kesalehan keuangan yang memiliki indikator seperti nilai tambah syari’ah (profit), Jurnal Media Syariah | Vol. XII | No. 24 | Jul - Des 2010 115 Azharsyah Ibrahim Income Smoothing dan Implikasinya dan zakat. Realitas berikutnya adalah psikis (mental) dengan perspektif kesalehan mental dan sosial, yang memiliki indikator seperti damai, kasih, sayang, adil, empati, dan peduli. Sementara realitas terakhir adalah spiritual dengan perspektif kesalehan spiritual, yang memiliki indikator seperti ikhsan, cinta, dan takwa. Akuntansi syari’ah dibangun dengan mengambil inspirasi dari syari’ah Islam. Secara ontologis, akuntansi syari’ah memahami realitas dalam pengertian yang majemuk. Sedangkan secara epistemologis, akuntasi syari’ah dibangun berdasarkan kombinasi antara akal yang rasional dengan rasa dan intuisi (kombinasi dunia fisik dengan dunia non fisik). Bila kita cermati surah Al-Baqarah ayat 282, Allah memerintahkan untuk melakukan penulisan secara benar atas segala transaksi yang pernah terjadi selama melakukan muamalah. Dari hasil penulisan tersebut dapat digunakan sebagai informasi untuk menentukan apa yang diperbuat oleh para pihak yang memiliki kepentingan. Jika kita kaitkan ayat tersebut dengan konteks ekonomi kontemporer, maka memiliki sistem akuntansi yang sistematis, transparan, dan bertanggungjawab, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ajaran Islam. Namun yang perlu diperhatikan, terutama pada tataran operasional, sistem akuntansi pada ekonomi syariah memiliki karakter tersendiri yang berbeda dengan sistem akuntansi perbankan konvensional, meski pada aspek-aspek tertentu keduanya memiliki persamaan. Diantara perbedaan yang sangat prinsipil adalah larangan penipuan dan ketidakjelasan dalam praktik akuntansi syariah dan perbedaan penyajian laporan keuangan syariah yang lebih variatif dan beragam bila dibandingkan dengan sistem perbankan konvensional. Sehingga konsep dan struktur dasar investasi dan keuangan pada sistem ekonomi syariah haruslah menjadi pertimbangan utama dalam membangun sistem akuntansi yang kredibel. Dengan demikian, lahirnya sistem ekonomi Islam secara langsung akan mempengaruhi bentuk sistem akuntansi yang akan diterapkan dalam suatu masyarakat. Yang membedakan ekonomi Islam Jurnal Media Syariah | Vol. XII | No. 24 | Jul - Des 2010 116 Azharsyah Ibrahim Income Smoothing dan Implikasinya dengan materialisme adalah Islam tidak pernah memisahkan ekonomi dengan etika, sebagaimana tidak pernah memisahkan ilmu dengan akhlak, politik dengan etika, perang dengan etika, dan kerabat sedarah sedaging dengan kehidupan Islam. Islam adalah risalah yang diturunkan Allah melalui rasul untuk membenahi akhlak manusia. Islam juga tidak memisahkan agama dengan negara dan materi dengan spiritual sebagaimana yang dilakukan bangsa barat dengan sekularismenya. Islam juga berbeda dengan konsep kapitalisme yang memisahkan akhlak dengan ekonomi. Ekonomi dalam pandangan Islam bukanlah tujuan akhir dari kehidupan ini tetapi suatu pelengkap kehidupan, sarana untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi, penunjang dan pelayanan bagi akidah dan bagi misi yang diembannya. Islam adalah agama yang mengatur tatanan hidup dengan sempurna, kehidupan individu dan masyarakat, baik aspek rasio, materi maupun spiritual, yang didampingi oleh ekonomi, sosial dan politik.20 Prinsip dasar yang telah ditetapkan dalam Islam mengenai usaha manusia dalam bermuamalah adalah tolok ukur dari kejujuran, kepercayaan dan ketulusan. Dewasa ini banyak ketidaksempurnaan pasar (transaksi ekonomi), yang seharusnya dapat dilenyapkan bila prinsip ini dapat diterima dan dijalankan oleh masyarakat. Prinsip Muamalah ini diantaranya telah ada dalam al-Qur’an dan Sunnah, seperti memberikan takaran yang benar dan menciptakan i’tikad baik dalam transaksi bisnis. Islam tidak hanya menekankan agar memberikan timbangan dan ukuran yang penuh, akan tetapi jika dalam menimbulkan i’tikad baik melalui transaksi bisnis, karena hal ini dianggap sebagai hakikat dari bisnis dewasa ini. Dari pengamatan yang teliti diketahui bahwa hubungan buruk dalam bisnis terutama karena kedua belah pihak tidak dapat menentukan secara tertulis syarat bisnis mereka dengan jelas dan jujur. Mengenai masalah ini terdapat perintah yang jelas dalam kitab suci al-Qur’an. Guna membina hubungan baik dalam usaha, semua perjanjian harus dinyatakan secara tertulis dan syarat-syaratnya, karena ”yang Jurnal Media Syariah | Vol. XII | No. 24 | Jul - Des 2010 117 Azharsyah Ibrahim Income Smoothing dan Implikasinya demikian itu lebih adil di sisi Allah, dan lebih menguatkan persaksian, dan lebih dapat mencegah timbulnya keragu-raguan”.21 Dalam perdagangan nilai timbangan dan ukuran yang tepat dan standar benar-benar harus diutamakan. Islam telah meletakkan penekanan penting dari faedah memberikan timbangan dan ukuran yang benar seribu empat ratus tahun yang lalu. Terdapat perintah tegas baik dalam al-Qur’an maupun Hadits mengenai timbangan dan ukuran yang sepenuhnya. Demikian al-Qur’an menyatakan : ”Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidakkah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam? Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin” (Q .S. Al Mutaffifin, ayat 17). Akhirnya Islam tidak hanya menekankan agar memberikan timbangan dan ukuran yang penuh, tapi juga dalam menimbulkan i’tikad baik dalam transaksi bisnis, karena hal ini dianggap sebagai hakikat dari bisnis dewasa ini. Dari pengamatan yang diteliti diketahui bahwa hubungan buruk dalam bisnis ini terutama timbul karena kedua pihak tidak dapat menentukan secara tertulis syarat bisnis mereka dengan jelas dan jujur. Dari analisis ini jelas bahwa setiap transaksi ekonomi dalam Islam secara pokok berbeda dengan pengertian modern tentang kegiatan ekonomi ini. Kegiatan ekonomi dalam Islam dihubungkan dengan nilai-nilai moral, sedangkan kegiatan ekonomi modern tidak demikian. Karena itu, semua transaksi bisnis yang bertentangan dengan kebajikan tidaklah bersifat Islami. Dalam Islam punya hak sepenuhnya untuk mengekang setiap transaksi atau praktik apa saja yang berusaha menarik keuntungan dari hal yang dilarang. Jurnal Media Syariah | Vol. XII | No. 24 | Jul - Des 2010 118 Azharsyah Ibrahim Income Smoothing dan Implikasinya CATATAN KAKI 1 Mukhtar Yahya, Dasar Fiqh, Bandung Al Ma’arif, 1986, hlm 500. 2 Muhammad Syafiie Antonio, Bank syariah (Dari Teori ke Praktik), Jakarta, Gema Insani, 2001, hlm. 12 3 Fudenberg, Drew dan Jean Tirole, A Theory of Income and Dividend Smoothing Based on Incumbency Rates, Journal of Political Economic, Februari, 1995, hlm.75-93 4 Imam Subekti, Asosiasiantara Praktik Perataan Laba dan Reaksi Pasar Modal di Indonesia, SNA VIII, Solo, 2005, hlm. 223-237 5 Ahmad Belkaoui, Teori Akuntansi, Terjemahan Herman Wibowo dan Marianus Sinaga, Jakarta, PT Salemba Empat, 2002, hlm. 57 6 Syukri Abdullah, Manajemen Laba Dalam Perspektif Teori Akuntansi Positif, Analisis Laporan Keuangan Dan Etika, Media Akuntansi, Jakarta; 1999, No. 3, hlm.11-17. 7 Beattie, V dan S. Brown, Extraordinary Items And Income Smoothing, A Positive Accounting Approach, Journal Of Business Finance And Accounting, 1994, hlm.791-811. 8 Juniarti dan Carolina, Analisis Faktor-faktor Yang Berpengaruh Terhadap Perataan Laba (Income Smoothing) Pada Perusahaan Go Public, Jurnal Akuntansi dan Keuangan, Jakarta, 2005, Vol. 7, No. 2, hlm.148-162. 9 Muhammad Wahyudin, Persepsi Akuntansi Publik Dan Mahasiswa Tentang Penerimaan Etika Terhadap Manajemen Laba. Surabaya: Simposium Nasional Akuntansi VI, 16-17 Oktober 2003, hlm. 806-819 10 Muhammad, Manajemen Bank Syariah Edisi Revisi, Yogyakarta, UPP AMP YKPN, 2005, hlm. 329-331 11 Hertanto Widodo, Panduan Praktis Operasional Baitul Mal Wattamwil, Bandung: Mizan, 1999, hlm. 54 12 Adiwarman A. Karim, Ekonomi Mikro Islam, Edisi Ketiga, Jakarta: PT. Raja Grafindo Perkasa, 2007, hlm. 36 13 Adiwarman A. Karim, Ekonomi Mikro Islam, Edisi Ketiga, Jakarta; Raja Grafindo Perkasa, 2007, hlm. 44 14 Sofyan Syafri Harahap, Akuntansi Perbankan Syariah, edisi revisi Jakarta, LPFE-Usakti, 2005.hlm. 15 Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Jakarta: Lentera Hati, Vol 10, 2002 hlm, 128-130 16 Umar Chapra, Islam And The Economic Challenge, United Kingdom: The Islamic Foundation, 1992, hlm. 161 17 Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Jakarta: Lentera Hati, Vol 13, 2002 hlm, 236 18 Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Jakarta: Lentera Hati, Vol 7, 2002 hlm, 462 19 Yusuf Abdurrahman dan Unti Ludigdo, Dekontruksi Nilai-Nilai Agency Theory Dengan Nilai Syariah: Suatu Upaya Membangun Prinsip-Prinsip Akuntansi Yang Bernafaskan Islam, Malang: PPBEI, Symposium Nasional Sistem Ekonomi Islami II, 28-29 Mai 2004, hlm. 249-263 20 Yusuf Qaradhawi, Norma Dan Etika Ekonomi Islam, Jakarta: Gema Insani, 2006, hlm. 33 21 Abul A’la Al Maududi, Asas Ekonomi Islam Al-Maududi, Surabaya: Bina Ilmu, 2005, hlm. 160 Jurnal Media Syariah | Vol. XII | No. 24 | Jul - Des 2010 119

Judul: Income Smoothing Dan Implikasinya Terhadap Laporan Keuangan Perusahaan Dalam Etika Ekonomi Islam

Oleh: Azharsyah Ibrahim


Ikuti kami