Program Pemberdayaan Sosial-ekonomi Masyarakat Melalui Pengembangan Desa Wisata Nelayan (dewiyan)

Oleh Kusmayadi Kusmayadi

266,4 KB 15 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Program Pemberdayaan Sosial-ekonomi Masyarakat Melalui Pengembangan Desa Wisata Nelayan (dewiyan)

PROPOSAL TEKNIS PROGRAM PEMBERDAYAAN SOSIAL-EKONOMI MASYARAKAT MELALUI PENGEMBANGAN DESA WISATA NELAYAN (MITRABINA DESA WISATA NELAYAN) PROPOSAL INI DIBUAT TAHUN 2001 KETIKA BATAM BARU SAJA MEMBENTUK PEMERINTAHAN SENDIRI. CATATAN! DOKUMEN INI BUKAN HAK CIPTA SAYA SENDIRI, TAPI SAAT ITU SAYA SEBAGAI KETUA TIM DAN MAS PRASETYO DARI UBAYA SEBAGAI SALAH SATU ANGGOTA SAYA UNGGAH DI SINI UNTUK MENAMBAH KHASANAN INFORMASI DAN INSPIRASI BAGI PARA PEGIAT PARIWIATA. SIAPA TAHU DAN SEMOGA BERMANFAAT. SALAM, KUSMAYADI KATA PENGANTAR Seiring dengan diberlakukannya Undang-undang No. 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah, maka tantangan yang dihadapi Pemerintah Daerah adalah bagaimana memberdayakan sumber daya yang dimilikinya, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Pengalaman telah membuktikan bahwa pengembangan sumber daya alam yang tidak sejalan dengan pengembangan sumber daya manusianya, telah menimbulkan dampak yang sangat merugikan. Oleh karena itu, Proposal teknis ini disampaikan dalam rangka pengembangan sumber daya alam dan sumber daya manusia secara terpadu dan berkesinambungan guna pemberdayaan masyarakat yang sebesar-besarnya. Proposal teknis ini disusun sebagai wujud kerjasama Perguruan Tinggi dengan Pemerintah di dalam mengembangkan Daerah Tujuan Wisata yang berbasiskan sumber daya alam dan budaya masyarakat setempat. Dengan terlaksananya program ini, diharapkan dapat dicapai suatu keadaan di mana desa-desa nelayan di Batam dapat memiliki daya tarik untuk dikunjungi wisatawan, yang pada gilirannya akan menjadi pusat kegiatan dan pertumbuhan ekonomi di pulau-pulau. Jakarta, Maret 2001 Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat 1 DAFTAR ISI BAB I. PENDAHULUAN.......................................................................................... 4 1.1 Latar Belakang .................................................................................................. 4 1.2 Permasalahan .................................................................................................... 7 1.2.1 Permasalahan Umum.............................................................................7 1.2.2 Permasalahan Umum Pada Desa-desa Nelayan di Batam ....................9 1.2.3 Permasalahan Khusus di Desa Nelayan di Batam ...............................10 1.3 Nama Program ................................................................................................ 12 1.4 Maksud/Tujuan Program................................................................................. 12 1.4.1 Tujuan Umum .....................................................................................12 1.4.2 Tujuan Khusus.....................................................................................13 1.5 Sasaran Program ............................................................................................. 14 1.6 Target Setiap Tahapan Program Kegiatan ...................................................... 15 1.7 Pemetik Manfaat Program .............................................................................. 17 BAB II. RUANG LINGKUP PROGRAM KEGIATAN ...................................... 18 2.1 Lingkup Kegiatan ............................................................................................ 18 2.2 Rincian Lingkup Kegiatan .............................................................................. 18 2.2.1 Identifikasi Potensi Objek Daya tarik dan Atraksi Wisata dan Pendataan Kondisi Sosial-Ekonomi Masyarakat ................................18 2.2.2 Persiapan Sosial...................................................................................20 2.2.3 Penyusunan Rencana Detail Kegiatan Pembinaan Sosial, Budaya Keagamaan dan Ekonomi....................................................................21 2.3 Pelaksanaan Pembinaan Sosial-Ekonomi ....................................................... 22 BAB III. DISAIN PELAKSANAAN PEMBINAAN SOSIALKEMASYARAKATAN DAN EKONOMI ............................................................. 24 3.1 Model/PolaPendekatan (Strategi) Pembinaan ................................................. 24 3.2 Tahapan Model Pembinaan Sosial-Ekonomi .................................................. 25 3.3 Bentuk/Model Pilihan (Jenis) Pembinaan Sosial- Kemasyarakata dan Ekonomi .......................................................................................................... 26 3.3.1 Pembinaan Sosial-Kemasyarakatan ....................................................26 3.3.2 Pembinaan Ekonomi ...........................................................................26 BAB IV. RINCIAN JENIS PEMBINAAN SOSIAL-KEMASYARAKATAN DAN EKONOMI....................................................................................................... 27 4.1 Pembinaan Sosial-kemasyarakatan ................................................................. 27 4.1.1 Sarasehan/Lokakarya ..........................................................................27 4.1.2 Pelatihan Ketrampilan Memulai Dan Mengelola Kelembagaan Sosial ...................................................................................................28 4.1.3 Pelatihan Teknik Kesehatan Masyarakat/Lingkungan/Pesisir ............29 2 4.2 Pembinaan Bidang Ekonomi ........................................................................... 30 4.2.1 Pelatihan Teknik Pengelolaan Akomodasi ..........................................30 4.2.2 Teknik Pengelolaan Rumah Makan ....................................................31 4.2.3 Pelatihan Ketrampilan/Produksi Jasa-Boga ........................................32 4.2.4 Pelatihan Budidaya Biota Laut dan Pemanfaatan Hutan Magrove .....34 4.2.5 Pelatihan Budidaya Tanaman Pertanian Dataran Rendah ...................35 4.2.6 Pelatihan Ketrampilan Kewiraniagaan (Memulai Dan Mengelola Usaha)..................................................................................................37 4.3 Pelatihan Merintis Dan Mengelola Lembaga Keuangan Masyarakat Baitul Maal Wattamwil (BMT) ................................................................................. 38 BAB V. ORGANISASI PELAKSANA .................................................................. 40 5.1 Struktur Organisasi Pelaksana ........................................................................ 40 5.2 Tugas dan Tanggungjawab Pokok Pelaksana Kegiatan .................................. 41 3 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang merupakan satu paket dengan UU No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah menuntut adanya perubahan orientasi pembangunan daerah. Peru- bahan tersebut pada prinsipnya menyangkut penyelenggaraan pemerintahan daerah yang lebih mengutamakan pelaksanaan asas desentralisasi, dan atau penyelenggaraan otonomi yang luas, nyata dan bertanggungjawab kepada daerah. Hal-hal mendasar dalam UU ini adalah mendorong untuk memberdayakan masyarakat, menumbuhkan prakarsa dan kreativitas, meningkatkan peran serta masyarakat, mengembangkan peran dan fungsi DPRD. Dengan demikian, pelaksanaan otonomi yang diatur dalam UU ini, diyakini akan mendorong daerah untuk lebih bersikap mandiri karena memiliki kewenangan penuh untuk mengurus dan mengontrol daerahnya sendiri. Kemandirian tersebut, bisa menciptakan pertumbuhan ekonomi lebih baik, termasuk pengelolaan pariwisata daerah yang lebih profesional dan tepat. Pariwisata merupakan salah satu potensi daerah dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi. Hal ini dapat ditinjau dari tingginya mobilitas manusia di dalam melakukan perjalanan wisata. Sebagai contoh, pada tahun 1999, sebanyak 664 juta orang manusia di dunia melakukan perjalanan wisata. Jumlah ini mengalami kenaikan 4,4 persen dari tahun sebelumnya. Perolehan devisa dari kunjungan 4 wisatawan internasional ini mengalami kenaikan 3,1 persen dari tahun sebelumnya yaitu mencapai US$455 milyar (WTO, 2000). Kunjungan wisatawan Internasional ke Asia Pasific mengalami pertumbuhan yang menakjubkan mencapai 11,1 persen dan menjadi rekor baru dalam menerima kedatangan wisatawan internasional yaitu 97,2 juta orang. Pertumbuhan kedatangan wisatawan antara tahun 1995-1999 yang besar terjadi di Laos (50%), Cambodja (24%), dan Vietnam (18%), di mana negara-negara tersebut merupakan negara-negara baru anggota ASEAN. Daerah Kota Batam merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi pengembangan pariwisata, baik potensi pasar maupun potensi produk. Potensi pasar pariwisata yang dimiliki antara lain letak geografis yang strategis bertetangga dengan empat negara ASEAN yang tingkat ekonominya relatif tinggi dan jalur pelayaran internasional Singapura. Potensi pasar wisatawan juga dapat dilihat dari kunjungan wisatawan mancanegara (Wisman) ke Batam yang terus meningkat dari tahun ke tahun. 1998 Kalau pada tahun Wisman yang berkunjung sebannyak 1,115,265 orang, maka pada tahun 1999 meningkat sebesar 13,49% menjadi 1,265,751 orang. Dari kunjungan tersebut wisman membelanjakan sebesar US$478,45 juta dengan rata-rata pengeluaran per hari per orang adalah US$180 dan rata-rata lama tinggal 2,1 hari. Pendeknya lama tinggal ini di duga karena masih sedikitnya objek daya tarik dan atraksi wisata yang ada Pulau Batam. Peluang pasar yang dapat kekembangkan atara lain menjadikan Batam sebagai pusat entertainment di Sijori, menciptakan tempat tinggal untuk yang 5 bekerja di Singapura, meningkatkan citra Batam menjadi daerah yang aman dan menyenangkan. Sedangkan potensi produk yang dapat dikembangkan Daerah Kota Batam antara lain dengan memanfaatkan gugusan pulau yang memiliki keanekaragaman hayati (flora dan fau- na) sebagai megabiodiversity, aktivitas penduduk lokal sebagai atraksi budaya, kesenian dan sejarah. Pulau-pulau di Daerah Kota Batam yang merupakan desa-desa nelayan, ditinjau dari sudut kepariwisataan, memiliki unsur keindahan (natural-beauty), keaslian (originality), kelangkaan (scarcity) dan keutuhan (wholesomeness). Ini merupakan Keunikan dan keunggulan dan keandalan pariwisata di Daerah Kota Batam. dan kekhasan seni-budaya keadaan ekosistem desa setempat merupakan arah selera wisatawan dunia masa kini. Oleh karena itu harus dilestarikan, dikembangkan dan dipromosikan. Namun, sampai saat ini, pengembangan desa yang diarahkan menjadi daerah tujuan wisata masih sangat sedikit. Hal ini disebabkan antara lain oleh (1) adanya orientasi pembangunan pariwisata yang masih berpegang pada paradigma lama kepariwisataan yaitu pariwisata untuk kemewahan, hura-hura, massal dan kesenangan, (2) masih kurangnya perhatian pemerintah dan masyarakat terhadap pembangunan pariwisata berkelanjutan dan (3) sedikitnya peranan kalangan akademisi di dalam mengembangkan parwisata berkelanjutan. Di samping itu rendahnya kualitas sumber daya manusia masyarakat di dalam mengelola sumber daya pariwisata yang ada, sangat berpengaruh terhadap perkembangan pariwisata. 6 Salah satu alternaif pengembagan desa menjadi Desa Wisata adalah dengan pendekatan community tourism yang merupakan pengembangan objek daya tarik wisata berbasiskan kekuatan special interest dan small business pada local community dan konsep pengembangan berkelanjutan (sus- tainability). Konsep sustainable development sebagai "development that meets the needs of the present without compromising the ability of future generations to meet their own needs" merupakan visi utama dalam mengembangkan desa wisata nelayan. Demikian pula Pariwisata berkelanjutan yang merupakan "seluruh bentuk dari pengembangan, pengelolaan dan kegiatan pariwisata yang berpedoman lingkungan, integritas sosial dan ekonomi, alam yang tertata dengan baik serta mengembangkan sumberdaya budaya secara terus menerus" akan benar-benar menjadi acuan. 1.2 PERMASALAHAN 1.2.1 Permasalahan Umum Berdasarkan uraian di atas, maka dapat tergambar bahwa pengembangan pariwisata sangat penting bagi berekonomian. Namun model pariwisata saat ini dan ke depan harus mempertimbangkan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal dan kelestarian sumber daya alam dan budaya sebagai daya tarik wisata. Oleh karena itu, model pariwisata harus dikembangkan bertolak dari kondisi lingkungan setempat. Dalam hubungan ini, masyarakat setempat tidak hanya berpartisipasi, tetapi menjadi penggerak dan sebagai subyek dalam pembangunan daerahnya sebagai daerah tujuan wisata. 7 Masyarakat lokal sebagai perencana, pelaksana, pengontrol dan evaluasi program-program mereka. Dari hasil tinjauan lapangan yang dilakukan terhadap kondisi beberapa desa pulau di Daerah Kota Batam dapat tergambar adanya beberapa hal yang perlu mendapat perhatian untuk diberdayakan yaitu; kesiapan masyarakat di dalam menerima kunjungan wisatawan, keterampilan untuk berusaha di bidang pariwisata, lingkungan pemukiman masyarakat desa yang berlum tertata. Tingkat pendidikan formal masyarakat sangat rendah. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah: (1) Kurang disadarinya pemeliharaan lingkungan/fisik (2) Masih terbatasnya keterampilan berusaha yang hanya mengandalkan pada kemampuan melaut yang sangat dipengaruhi oleh iklim dan musim (3) Masih terdapatnya kesenjangan sosial dan ekonomi antara masyarakat pulau dengan masyarakat industri di daratan kota Batam, (4) Rendahnya tingkat pendidikan serta ketrampilan berusaha sebagian besar masyarakat desa, baik kepala rumah tangganya, ibu rumah tangga maupun remaja putus sekolah. Untuk mengurangi permasalahan di atas, maka desa-desa nelayan di pulau-pulau perlu diberdayakan sesuai potensi sumber daya alam maupun sumber daya manusia yang ada, melalui Pembinaan Sosial-kemasyarakatan dan Pembinaan Ekonomi. Upaya pembinaan tersebut diantaranya dilakukan melalui penyelenggaraan Pendidikan Ketrampilan. Melalui pendidikan ini diharapkan memiliki 2 (dua) sisi pembinaan yaitu pertama, meningkatkan kemampuan ketrampilan dalam rangka menambah kemampuan berusaha atau membuka lapangan kerja baru, dan kedua, pembinaan sosial dalam 8 rangka meningkatkan kesadaran akan kewajiban dan tanggung jawab sebagai anggota masyarakat terhadap ekosistemnya wisatawan. serta di dalam menerima kunjungan Dengan demikian program pengembangan DESA WISATA NELAYAN saat ini menjadi alternatif pembangunan di pulaupulau. 1.2.2 Permasalahan Umum Pada Desa-desa Nelayan di Batam Dari hasil kunjungan awal terhadap kondisi wilayah beberapa desa di pulau-pulau, dapat diidentifikasi adanya beberapa hal kondisi sosial-budaya dan ekonomi yang masih menjadi faktor kelemahan dalam pengembangan desa wisata nelayan yaitu: 1. Tingkat adaptasi perilaku sosial dan perilaku budaya masyarakat belum tertata, dan pola tinggal di pemukiman padat dan kumuh/tidak tertata (horisontal). Hal ini dapat diamati dan gejala misalnya: pola pemukiman yang tida teratur, sampah-sampah dibuang ke kolong rumah panggung sehingga manjadi kotor dan bau. 2. Masih rendahnya tingkat rasa memiliki dan memelihara lingkungan. Hal ini dapat diindikasi antara lain dari: adanya sarana umum yang tidak terpelihara dan dibiarkan rusak. Jalan koridor serta tempat-tempat umum kotor, saluran pembuangan air limbah keluarga langsung dibuang ke laut sehingga pada saat air surut menjadi kotor dan hutan mangrove yang belum termanfaatkan. 3. Keorganisasian Masyarakat Desa belum berfungsi maksimal sebagai wadah peranserta warga dalam menata penghidupannya ke arah yang lebih baik. Hal ini dapat 9 dilihat dari indikasi antra lain: sedikitnya informasi tentang potensi desa, yang mencerminkan perkembangan keadaan desa. 4. Rendahnya daya tarik wisata desa sebagai objek daya tarik wisata; yang dicirikan dengan belum diketahuinya sisi positif kegiatan pariwisata; 5. Minimnya atraksi wisata yang dilaksanakan oleh nelayan; 6. Belum teridentifikasinya objek daya tarik dan atraksi wisata yang ada di desa-desa nelayan; 1.2.3 Permasalahan Khusus di Desa Nelayan di Batam 1. Masalah Objek Daya Tarik dan Atraksi Wisata § Belum tertatanya lingkungan, pemukiman dan pantai sekitar desa nelayan, dan belum tergalinya potensi budaya setempat sebagai atraksi wisata yang menarik untuk dikunjungi; § Belum tersedianya fasilitas umum untuk komunikasi, yang dapat dipergunakan secara umum sebagai salah satu sarana kontak (komunikasi) lisan ataupun untuk pemakaian ketika keadaan darurat. § Belum termanfaatkannya lahan-lahan yang cocok untuk lahan pertanian dataran rendah; § Belum termanfaatkannya kondisi pasang surut air laut dan hutan produktif; mangrove untuk kepentingan usaha 2. Masalah Sosial, Budaya dan Keagamaan 10 § Belum maksimalnya peranserta masyarakat desa, baik dalam cara pemanfaatan maupun pemeliharaan lingkungan dan fasilitas yang tersedia; § Belum berperannya kelembagaan masyarakat secara maksimal dalam pembinaan masyarakat ke arah kesadaran hidup bersama dalam menjaga keharmonisan masyarakat dengan lingkungan (ekosistem); § Belum tergalinya kreativitas seni dan budaya masyarakat setempat sebagai jati diri masyarakat nelayan setempat. § Belum tergalinya nilai-nilai seni, budaya dan aspek religius sebagai salah satu aspek antraksi dan daya tarik wisata; 3. Maslah Ekonomi § Belum tersusunnya rencanan pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan; § Belum terselenggaranya pendataan maupun pembinaan sektor ekonomi/usaha bagi masyarakat desa nelayan; § Belum belum tertatanya mekanisme pasar ikan yang dihasilkan nelayan; § Belum adanya usaha-usaha produktif yang dapat dijadikan sebagai penyedia bagi kunjungan wisatawan. Berdasarkan permasalahan di atas, maka perlu dikembangkan suatu program terintegrasi antara pengembangan fisik dan non fisik. 11 1.3 NAMA PROGRAM Program Pemberdayaan Sosial-Ekonomi Masyarakat melalui Pengembangan Desa Wisata Nelayan diberi nama MITRABINA DESA WISATA NELAYAN (MITRABINA DEWIYAN). Nama ini didasarkan atas sifat pemberdayaan yang merupakan kerjasama kemitraan dalam membina Masyarakat Desa Nelayan, antara Pemerintah Daerah Kota Batam dengan Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti. 1.4 MAKSUD/TUJUAN PROGRAM 1.4.1 Tujuan Umum Tujuan umum dari program ini adalah: § Memberdayakan sosial-ekonomi masyarakat melalui pengembangan Desa Wisata Nelayan (DeWiYan) guna meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat desa nelayan serta terjaganya kelestarian sumber daya alam dalam pengembangan wisata desa yang berkelanjutan. § Menciptakan desa di pulau-pulau menjadi desa nelayan yang menarik untuk dikunjungi wisatawan; § Mempersiapkan masyarakat untuk menerima kunjungan wisatawan melalui: penyelenggaraan pola pelatihan ketrampilan praktis dalam upaya menumbuhkan sentra industri rumah tangga di desa nelayan, yang secara langsung dapat meningkatkan kemampuan usaha produktif masyarakat/warga dan berdampak pada peningkatan penghasilan dan kesadaran akan kewajiban serta tanggungjawab pemeliharaan lingkungan wilayahnya. 12 1.4.2 Tujuan Khusus Sedangkan tujuan khusus dari program ini adalah: § Memberdayakan dan menata sumber daya melalui pengembangan Wisata Desa Nelayan berkelanjutan yang bertumpu pada potensi sumber daya dan akar budaya desa. § Mewujudkan pembangunan pariwisata desa yang direncanakan, dilaksanakan masyarakat setempat. dan dikendalikan oleh § Memberikan dan meningkatkan nilai tambah bagi usaha nelayan yang telah berjalan selama ini, melalui sentuhan pariwisata. § Membina dan menjaga kelangsungan ekosistem desa secara lestari dan berkelanjutan. § Meningkatkan upaya-upaya promosi melalui festival rakyat di desa nelayan. § Menciptakan peluang usaha dan kesempatan kerja baru di desa nelayan melalui kegiatan kepariwisataan. § Meningkatkan kemampuan masyarakat desa dalam bidang ketrampilan-ketrampilan praktis bidang pengelolaan rumah tinggal (akomodasi), restoran, makanan dan minuman, jasa pemanduan, dan pelayanan lainnya, serta kerajinan (cinderamata) yang secara langsung dapat menunjang tingkat pendapatan ekonomi, baik dengan mengembangkan usaha yang sudah dimiliki sebelumnya maupun dengan penciptaan usaha baru. 13 § Meningkatkan rasa kesadaran masyarakat masyarakat desa dalam hal memelihara lingkungan dan ekosistem pantai di sekitarnya. § Mengaktifkan dan menumbuhkan aktivitas untuk pemenuhan kebutuhan akan sarana pendidikan non formal untuk anak-anak, remaja maupun ibu rumah tangga warga masyarakat desa melalui berfungsinya kelembagaan sosial yang dikelola secara swadaya dari-oleh dan untuk warga masyarakat desa. § Menumbuhkan dan menyelenggarakan pembinaan usaha ekonomi melalui berfungsinya Lembaga Keuangan Masyarakat BMT/Koperasi yang pada tahap awal dikhususkan mengelola tabungan masyarakat serta menyalurkan kredit usaha kecil. 1.5 SASARAN PROGRAM Sasaran program ini adalah: § Terciptanya pengembangan desa dengan model desa wisata nelayan agroekosistem lokal; yang berbasiskan spesifikasi § Terbinanya masyarakat desa nelayan yang sadar pariwisata di mana sektor pariwisata sebagai sumber pendapatan bagi peningkatan kesejahteraannya dan desanya; § Terpeliharanya sumber daya alam dan lingkungan secara lestari sebagai daya tarik wisata desa; § Meningkatnya nilai tambah usaha pertanian yang telah berjalan selama ini dengan berkembangnya pariwisata di desa. 14 § Meningkatnya pendapatan masyarakat dari pemanfaatan peluang usaha sektor pariwisata. § Meningkatnya jumlah kunjungan wisata ke lokasi desa nelayan. § Meningkatnya jumlah peluang dan kesempatan berusaha di desa nelayan, sebagai dampak berkembangnya pariwisata desa. 1.6 TARGET SETIAP TAHAPAN PROGRAM KEGIATAN Secara umum program Pengembangan Desa Wisata Nelayan terdiri atas tiga komponen yaitu; (1) pengembangan objek daya tarik dan atraksi wisata, (2) pembinaan sosial, budaya dan keagamaan dan (3) pemberdayaan bidang ekonomi. Tahap dan target dari kegiatan seperti pada tabel berikut: 15 Tabel 1. Target Setiap Tahapan Kegiatan Bidang Pengembangan ODTAW, Pembinaan bidang Sosial dan Ekonomi Target Pengembangan Ob- Target Pembinaan Bidang jek Daya Tarik dan Atraski Sosial, budaya dan keaga- Wisata maan Target Pembinaan Bidang Ekonomi Tahap Pertama: Tahap Pertama: Tahap Pertama: 1. Teridentifikasinya po- 1. Terselenggaranya 1. Teridentifikasinya jenis- tensi objek daya tarik sarasehan masyarakat jenis pelatihan yang te- dan atraksi wisata yang desa nelayan pat untuk desa nelayan ada di wilayah desa ne- di wilayan mitrabina layan 2. Tersusunnya rencana 2. tersusunnya rancangan 2. tersusunnya rancangan model-model pengem- program pelatihan bi- program pelatihan bi- bangan kawasan dang sosial, budaya & dang ekonomi keagamaan 3. Tersusunnya rencana 3. Terselenggaranya 3. terseleksinya calon pe- penyuluhan sadar serta pelatihan bidang: spatial penataan ODTW wisata dan sadar lingkungan 4. Tersusunnya model Citra 4. Terseleksinya calon Desa Wisata Nelayan § akomodasi & rumah makan § pelatihan jasa boga peserta pelatihan untuk § budidaya ikan laut dan pelatihan bidang: pertanian dataran ren- Keterampilan memulai dah lembaga sosial § § § Pengelolaan kelestarian § kerajinan/industri kriya kelembagaan ekonomi sumber daya pantai dan hutan mangrove Tahap Kedua: Tahap Kedua: Tahap Kedua: 1. Terselenggaranya pena- Terselenggaranya pelati- Terselenggaranya pelati- taan objek daya tarik han social- budaya dan han-pelatihan bidang dan atraksi wisata keagamaan, ekologi/ling- ekonomi yang berkaitan kungan bagi masyarakat dengan pariwisata Tahap Ketiga: Tahap Ketiga: Tahap Ketiga: 1. terselenggaranya pro- terlaksananya pembukaan 1. terselenggaranya aktivi- 2. terciptanya desa nelayan sebagai daerah tujuan wisata 16 gram rintisan, kunjun- dan pencanangan desa tas ekonomi dari gang wisatawan wisata nelayan oleh Pemko masyarakat lokal 2. terlaksananya monitoring dan evaluasi pro- 2. terbentuknya lembaga keuangan BMT/Koperas gram 1.7 PEMETIK MANFAAT PROGRAM Pemetik manfaat dari program ini adalah masyarakat yang berada di wilayah pengembangan terutama yang terlibat di dalam pelatihan keterampilan dan penyuluhan. Pemetik manfaat lainnya adalah Pemerintah Daerah Kota Batam sebagai realisasi dari program pemberdayaan masyarakat nelayah kecil dan pelestarian alam di pesisir pantai. 17 BAB II RUANG LINGKUP PROGRAM KEGIATAN 2.1 LINGKUP KEGIATAN Program MITRABINA WISATA ini meliputi: § Identifikasi potensi objek Daya Tarik dan atraksi Wisata (ODTAW) § Identifikasi kondisi sosial-ekonomi masyarakat desa nelayan § Persiapan sosial § Penyusunan rencana penataan spatial desa wisata nelayan § Penyusunan rencana detail kegiatan pembinaan sosialekonomi § Pelaksanaan pembinaan sosial-ekonomi di tiga lokasi (Pemping, Setoko dan Batu Besar) 2.2 RINCIAN LINGKUP KEGIATAN 2.2.1 Identifikasi Potensi Objek Daya tarik dan Atraksi Wisata dan Pendataan Kondisi Sosial-Ekonomi Masyarakat a. Target: § Teridentifikasinya potensi sumber daya pariwisata di wilayah desa nelayan § Tersajinya data mutakhir tentang: − Jumlah kepala keluarga penduduk desa − Komposisi usia penduduk 18 − Komposisi pendidikan formal penduduk desa − Komposisi profesi/kegiatan usaha − Minat/motivasi terhadap pengembangan pari- wisata dan jenis pendidikan ketrampilan − Potensi dan peluang lingkungan terhadap kegiatan-kegiatan sosial-ekonomi § Dapat dirumuskan objek-objek daya tarik wisata yang dapat dikembangkan § Dapat dirumuskan skala prioritas jenis-jenis pembinaan sosial-ekonomi sesuai dengan minat/motivasi dan potensi lingkungan usaha, § Ditemukan metoda pendekatan yang sesuai untuk kegiatan-kegiatan pembinaan sosial-ekonomi di setiap lokasi desa mitrabina dalam rangka mencapai hasil yang semaksimal mungkin. b. Sub-pekerjaan: § Penetapan metoda pendataan § Penetapan dan penyiapan media pendataan § Penyusunan panduan pendataan § Try-out pendataan § Pelaksanaan pendataan § Pengolahan data § Perumusan hasil dan kesimpulan c. Media/alat: § Panduan pendataan § Lembar/formulir pendataan 19 § Lembar/formulir pengolahan data d. Waktu: 15 (lima belas) hari kerja 2.2.2 Persiapan Sosial a. Target: § Tersosialisasikannya program pembinaan sosial- ekonomi bagi masyarakat desa; aparat pemerintah setempat, tokoh masyarakat dan berbagai pihak yang dapat membantu kelancaran pembinaan. § Dapat dimobilisasikannya peranserta berbagai pihak dan warga masyarakat desa dalam mengoptimalkan pencapaian hasil pembinaan. § Dapat dipersiapkan calon-calon peserta setiap jenis pelatihan ketrampilan sesuai minat/motivasi. b. Sub-pekerjaan § Penyiapan dan penggandaan brosur informasi pembinaan sosial-ekonomi bagi masyarakat desa. § Kunjungan sosialisasi kepada aparat pemerintah setempat maupun tokoh-tokoh masyarakat. § Kunjungan sosialisasi kepada warga masyarakat desa § Rekruitment calon peserta pelatihan-pelatihan ketrampilan § Penjajagan dan penyiapan tempat pelaksanaan pelatihan-pelatihan ketrampilan c. Media: § Brosur informasi pembinaan sosial-ekonomi bagi masyarakat desa 20 § Formulir pendaftaran calon peserta pelatihan- pelatihan ketrampilan § Petunjuk tata-cara dan peraturan untuk calon peserta pelatihan ketrampilan. d. Waktu : 15 (lima belas) hari kerja 2.2.3 Penyusunan Rencana Detail Kegiatan Pembinaan Sosial, Budaya Keagamaan dan Ekonomi a. Target: § Tersusunnya Panduan Teknis setiap jenis pelatihan ketrampilan § Tersusunnya Rincian Jadwal/Waktu pelaksanaan Pembinaan Sosial-Ekonomi § Tersusunnya prosedur dan mekanisme penyelenggaraan setiap jenis pelatihan ketrampilan. b. Sub-Pekerjaan: § Konsultansi dengan pemerintah dan Tim Pendamping Teknis § Penyusunan dan penggandaan Panduan masingmasing jenis Masyarakat desa: Pembinaan Sosial-Ekonomi Bagi − Panduan pelatihan mengelola akomodasi dan rumah makan − Panduan pelatihan produksi jasa-boga − Panduan pelatihan mengelola ekosistem pesisir dan hutan mangrove − Panduan pelatihan budidaya biota laut 21 − Penduan pelatihan budiaya tanaman pertanian dataran rendah − Panduan pelatihan kewirausahaan (memulai usaha) − Panduan pelatihan merintis dan mengelola kelembagaan sosial − Panduan pelatihan merintis dan mengelola kelembagaan ekonomi (lembaga keuangan masyarakat/BMT) − Panduan pelatihan merintis dan mengelola balai kesehatan masyarakat § Konsolidasi calon-calon Pelatih dan penyusunan jadwal/waktu pelaksanaan setiap jenis pelatihan ketrampilan pada setiap Desa MITRABINA. c. Media: § Masukan pengarahan dari Pimpro dan Tim Pendamping Teknis § Hasil Pendataan Kondisi Masyarakat desa § Peralatan tulis dan Komputer d. Waktu: 7 (tujuh) hari 2.3 PELAKSANAAN PEMBINAAN SOSIAL-EKONOMI a. Target § Terselenggaranya setiap jenis pelatihan-pelatihan ketrampilan § Terbentuknya kelembagaan sosial yang berfungsi menyelenggarakan kegiatan-kegiatan sosial- 22 kemasyarakatan dari-oleh dan untuk warga masyarakat. § Terbentuknya kelembagaan ekonomi yang berfungsi menyelenggarakan kegiatan penghimpunan potensi ekonomi warga masyarakat desa dan mengelola kredit usaha skala kecil. b. Sub-Pekerjaan § Sarasehan pembinaan sosial-ekonomi; § Rekruitment peserta masing-masing jenis pelatihan ketrampilan; § Konsolidasi dan koordinasi tenaga-tenaga pelatih dan asisten pelatih untuk setiap jenis pelatihan ketrampilan; § Pelaksanaan pembinaan sosial dan ekonomi § Pelaporan. c. Waktu Pelaksanaan: 90 hari kerja 23 BAB III DISAIN PELAKSANAAN PEMBINAAN SOSIALKEMASYARAKATAN DAN EKONOMI 3.1 MODEL/POLAPENDEKATAN (STRATEGI) PEMBINAAN Pembinaan Sosial-kemasyarakatan dan Ekonomi bagi masyarakat desa memilih Pola Pendekatan (Strategi): INOVASI BERKELANJUTAN. Maksud pilihan strategi INOVASI (Pengembangan bentuk-bentuk baru) adalah: menyajikan pembinaan sosial maupun ekonomi yang berwawasan menjawab permasalahan warga masyarakat desa dengan berpijak pada potensi lokal yang ada. Inovasi tidak saja dalam metoda penyajian (proses) tetapi juga dalam pemberian Input (masukan) materi pembinaan. BERKELANJUTAN adalah: menggali, menghimpun dan mengelola kemampuan swadaya warga/masyarakat desa dalam upaya mamaksimalkan hasil yang dicapai untuk ditindaklanjuti oleh warga/masyarakat Desa Wisata Nelayan. Dengan demikian strategi INOVASI BERKELANJUTAN memiliki unsur pendekatan sbb: a. Proses maupun Input (masukan) yang diberikan selalu mempertimbangkan agar dapat dipergunakan sebagai dasar untuk memunculkan kreativitas warga Desa Ne- layan dalam rangka membenahi kondisi sosial maupun ekonomi yang menjadi masalah masyarakat. b. Pada setiap sisi Pembinaan Sosial, budaya maupun Ekonomi selalu mempertimbangkan untuk semaksimal mungkin menggali, menghimpun sekaligus mengelola potensi swadaya warga nelayan. 24 c. Melibatkan peranserta warga desa nelayan sedini mungkin dalam upaya menumbuhkan rasa memiliki terhadap kegiatan pembinaan sehingga diharapkan dapat memelihara dan menindaklanjuti hasil-hasil yang dicapai pada masa proyek. d. Mencari sekaligus membina peluang kerjasama dengan berbagai pihak dalam upaya pengembangan tindaklanjut. 3.2 TAHAPAN MODEL PEMBINAAN SOSIAL-EKONOMI Strategi/pendekatan dalam menyelenggarakan program MITRABINA DEWIYAN terdiri atas empat tahapan seperti digambarkan pada bagar berikut: Tahap I Tahap II Tahap III (Rekrutment Peserta (Pelaksanaan Pem- (Konsolidasi/ Peman- Pembinaan) binaan) tapan Hasil) 1. Sosialisasi 1. Pemberian Input 1. Penjajagan Ker- Pembinaan Tahap IV (Kemandirian) 1. Evaluasi jasama Intern maupun Ekstem 2. Seleksi 2. Penggalian Potensi 2. Pelaksanaan KeiSwadaya 2. Supervisi jasama Untuk Pengembangan Hasil 3. Perencanaan dan 3. Pengelolaan Hasil Pemantapan Pembinaan mau- Pelaksanaan Ber- pun Potensi sama Calon Pe- Swadaya 3. Pemeliharaan Hasil Kerjasama 3. Monitoring/ pendataan Wisatawan berkunjung serta. 25 3.3 BENTUK/MODEL PILIHAN (JENIS) PEMBINAAN SOSIAL- KEMASYARAKATA DAN EKONOMI 3.3.1 Pembinaan Sosial-Kemasyarakatan § Sarasehan masyarakat desa; § Pelatihan memulai dan mengelola kelembagaan sosial (taman pendidikan untuk anak dan lbu); § Pelatihan memulai dan mengelola balai kesehatan (kesehatan masyarakat dan lingkungan) § Pelatihan mengelola kelestarian sumber daya alam pesisir dan hutan mangrove 3.3.2 Pembinaan Ekonomi § Pelatihan mengelola akomodasi dan rumah makan; § Pelatihan industri rumah tangga jasa boga; § Pelatihan mengelola atraksi wisata; § Pelatihan budidaya biota laut (biota pesisir; ikan kerambamba, rumput laut) § Pelatihan budidaya tanaman pertanian dataran rendah; § Pelatihan memulai dan mengelola kelembagaan ekonomi (BMT/Koperasi); § Pelatihan Motivasi Kewiraswausahaan 26 BAB IV RINCIAN JENIS PEMBINAAN SOSIAL-KEMASYARAKATAN DAN EKONOMI 4.1 PEMBINAAN SOSIAL-KEMASYARAKATAN 4.1.1 Sarasehan/Lokakarya a. Target: § Tersosialisasikannya program pembinaan sosial- ekonomi bagi aparat pemerintahan setempat, tokoh masyarakat dan warga masyarakat desa setempat; § Diperolehnya masukan-masukan dalam rangka pencapaian hasil yang optimal. b. Jumlah Peserta: 30 orang utusan c. Langkah/Metoda: § Penyiapan materi saraseharl/lokakarya § Penyiapan peserta, waktu dan lokasi penyelenggaraan § Penyiapan nara-sumber § Masukan dan nara-sumber dan dialog dengan peserta d. Peralatan § Brosur Informasi Pembinaan Sosial-Ekonomi § Rancangan jadwal pelaksanaan pembinaan § Rancangan rincian teknis pelaksanaan pembinaan § Peralatan tulis 27 4.1.2 Pelatihan Ketrampilan Memulai Dan Mengelola Kelembagaan Sosial a. Target § Peserta menguasai teknis perintisan dan pengelolaan Kelembagaan Sosial § yang dapat menjawab kebutuhan akan kegiatan sosial-kemasyarakatan warga. § Peserta Menguasai pencatatatan administrasi pengelolaan Kelembagaan Sosial; § Peserta menguasai Teknis pembuatan Rencana Kerja; b. Jumlah peserta (pemetik manfaat) 40 (empat puluh) c. Materi: § Wawasan kelestarian sumber daya alam dan pariwisata § Penyuluhan peran dan tanggungjawab masyarakat desa § Peran dan fungsi lembaga sosial di lingkungan § Pengelolaan administrasi umum kelembagaan sosial § Pengelolaan administrasi keuangan kelembagaan sosial § Teknik menyusun rencana kerja § Praktek megelola lembaga sosial-kemasyarakatan secara magang. d. Metoda Penyampaian: § Pemberian teori di dalam kelas § Praktek di lokasi e. Waktu: 3 bulan 28 f. Peralatan/Media: § Buklet pengelolaanlingkungan pesisir dan hutan mangrove § Buklet penyuluhan masyarakat desa peran dan tanggungjawab § Bahan-bahan praktek admisnistrasi pengelolaan Lembaga Sosial § Panduan penyusunan Rencana Kerja 4.1.3 Pelatihan Teknik Kesehatan Masyarakat/Lingkungan/Pesisir a. Target § Terlatihnya 40 orang tenaga yang memahami teknik memulai dan mengelola klinik mandiri; § Setiap desa memiliki tenaga yang memahami tentang cara-cara penyuluhan kesehatan kat/lingkungan melalui peran klinik mandiri. masyara- b. Jumlah Peserta: 40 orang utusan c. Materi: § Wawasan kelestarian sumber daya alam dan pariwisata § Teknik penyuluhan kesehatan masyara- kat/lingkungan/pesisir § Pengenalan peran balai kesehatan dalam pelayanan kesehatan masyarakat dan lingkungan § Pengenalan peran dan fungsi organisasi pelaksana (pengelola) balai kesehatan § Teknik persiapan pendirian balai kesehatan § Teknik pengelolaan/ manajemen balai kesehatan 29 d. Metoda penyampaian: § Teori di dalam kelas § Praktek perintisan pendirian balai kesehatan § Studi banding balai kesehatan e. Waktu: 3 (tiga) bulan f. Peralatan/media: § Panduan pendirian balai kesehatan § Panduan pengelolaan/manajemen balai kesehatan § Panduan teknik kat/lingkungan penyuluhan kesehatan masyara- § Poster-poster kesehatan masyarakat/lingkungan 4.2 PEMBINAAN BIDANG EKONOMI 4.2.1 Pelatihan Teknik Pengelolaan Akomodasi a. Target § Terlatihnya masyarakat dalam mengelola rumah tinggal § Tersedianya rumah tinggal yang layak sebagai akomodasi bagi wisatawan; § Peserta menguasai penjualan kamar. pencatatan usaha dari hasil b. Jumlah Peserta: 40 orang c. Materi § Wawasan kelestarian sumber daya alam dan pariwisata § Kebersihan/kesehatan lingkungan rumah tinggal 30 § Pengetahuan dasar tatagraha § Pengetahuan dasar melayani tamu § Pengetahuan dasar pencatatan transaksi § Pengerahuan dasar menghitung untung rugi usaha d. Waktu: 2 (dua) Bulan e. Metoda Penyampaian: § Pembekalan teori § Simulasi f. Peralatan/Media § Buku panduan pengelolaan akomodasi/rumah tinggal § Buku panduan kebersihan lingkungan rumah tinggal § Buku panduan tatagraha § Buklet dan alat tulis 4.2.2 Teknik Pengelolaan Rumah Makan a. Target § Terlatihnya makan masyarakat dalam mengelola rumah § Tersedianya rumah makan yang memenuhi standard kesehatan bagi masyarakat dan wisatawan; § Peserta menguasai pencatatan penjualan makanan dan minuman. usaha dari hasil b. Jumlah Peserta: 40 orang c. Materi § Wawasan kelestarian sumber daya alam dan pariwisata 31 § Kebersihan/kesehatan lingkungan rumah makan § Pengetahuan dasar menu § Pengetahuan dasar melayani tamu § Pengetahuan dasar pencatatan transaksi § Pengetahuan dasar perhitungan untung rugi usaha d. Waktu: 2 (dua) Bulan e. Metoda Penyampaian: § Pembekalan teori § Simulasi f. Peralatan/Media § Buku panduan kebersihan lingkungan rumah makan § Buku panduan pengelolaan rumah makan § Buklet dan alat tulis 4.2.3 Pelatihan Ketrampilan/Produksi Jasa-Boga a. Tujuan Pelatihan § Peserta menguasai teknis pembuatan aneka makanan ringan yang layak jual dan memenuhi persyaratan kesehatan. § Peserta menguasai teknis penghitungan (kalkulasi) harga pokok penjualan setiap jenis makanan yang dibuat. § Peserta menguasai pencatatan usaha dari hasil penjualan makanan yang diproduksi. b. Jumlah peserta (pemetik manfaat): 140 (seratus empat puluh) orang warga masyarakat desa. 32 c. Materi: § Wawasan kelestarian sumber daya alam dan pariwisata § Penyuluhan peran dan tanggungjawab masyarakat desa; § Penjajagan pasar dan selera konsumen terhadap makanan ringan disekitar masyarakat; § Kalkulasi biaya produksi untuk setiap pembuatan jenis makanan ringan; § Praktek tingkat dasar; § Praktek Tingkat Mahir; § Praktek memasarkan; § Praktek menyusun buku harian usaha; § Pinjaman ujicoba modal usaha melalui LEMBAGA KEUANGAN/BMT § Supervisi angsuran pinjaman dan pencatatan buku penjualan d. Metoda Penyampaian: § Pembekalan teori § Pembekalan praktek mengolah jasa-boga § Praktek penjualan hasil jasa-boga e. Waktu : 3 bulan ( 25 kali pertemuan @ 4 jam ) f. Peralatan: § Buklet penyuluhan peran dan tanggungjawab masyarakat desa; § Bahan-bahan praktek pembuatan makanan ringan. 33 § Buku catatan penjualan § Buku angsuran pinjaman 4.2.4 Pelatihan Budidaya Biota Laut dan Pemanfaatan Hutan Magrove a. Tujuan Pelatihan § Peserta menguasai teknis budidaya ikan laut yang mempunyai nilai ekonomis tinggi; § Peserta menguasai teknis budidaya rumput laut dan teknologi pengolahannya; § Peserta menguasai teknis penghitungan (kalkulasi) harga pokok penjualan produksi ikan/budidaya dan rumput laut. § Peserta menguasai pencatatan usaha budiaya ikan dan rumput laut. b. Jumlah peserta (pemetik manfaat): 40 (empat puluh) orang warga masyarakat desa nelayan. c. Materi: § Wawasan kelestarian sumber daya alam dan pariwisata; § Penyuluhan peran dan tanggungjawab masyarakat desa; § Pengenalan karakteristik biota laut yang memiliki nilai ekonomi; § Teknik pembiakan ikan di keramba; § Teknik budidaya/pembesaran ikan di keramba; § Teknik budidaya dan pengolahan rumput laut § Pengendalian hama, penyakit ikan/rumput laut 34 § Kalkulasi biaya budidaya ikan, rumput laut; § Praktek menyusun buku harian usaha; § Pinjaman ujicoba modal usaha melalui LEMBAGA KEUANGAN/BMT § Supervisi angsuran pinjaman dan pencatatan buku penjualan d. Metoda Penyampaian: § Pembekalan teori; § Pembekalan praktek pembiakan ikan/rumput laut; § Pembekalan praktek budidaya ikan/rumput laut; e. Waktu : 3 bulan ( 25 kali pertemuan @ 4 jam ) f. Peralatan: § Buklet penyuluhan kelestarian sumber daya alam dan kepariwiataan § Buklet penyuluhan peran dan tanggungjawab masyarakat desa; § Bahan-bahan praktek budidaya ikan/rumbut laut; § Buku catatan pengelolaan; § Buku angsuran pinjaman; 4.2.5 Pelatihan Budidaya Tanaman Pertanian Dataran Rendah a. Tujuan Pelatihan § Peserta menguasai teknis budidaya tanaman pertanian dataran rendah; 35 § Peserta menguasai teknis penghitungan (kalkulasi) harga pokok penjualan produksi budaya tanaman pertanian dataran rendah. § Peserta menguasai pencatatan usaha budiaya pertanian dataran rendah. b. Jumlah peserta (pemetik manfaat): 40 (empat puluh) orang warga masyarakat desa nelayan. c. Materi: § Wawasan kelestarian sumber daya alam dan pariwisata; § Penyuluhan peran dan tanggungjawab masyarakat desa; § Pengenalan tanaman pertanian dataran rendah; § Pengenalan pengolahan tanah dan cara menanam; § Teknik perabukan, pengendaliah hama penyakit tanaman; § Teknik pembiayakan vegetatif/generatif; § Teknik membudidayakan sayuran; § Kalkulasi biaya budidaya tanaman pertanian; § Praktek menyusun buku harian usaha; § Pinjaman ujicoba modal usaha melalui LEMBAGA KEUANGAN/BMT § Supervisi angsuran pinjaman dan pencatatan buku penjualan; d. Metoda Penyampaian: § Pembekalan teori; 36 § Pembekalan praktek budidaya sayuran dataran rendah; § Pembekalan praktek budidaya tanaman buah-buahan; e. Waktu : 3 bulan (25 kali pertemuan @ 4 jam) f. Peralatan: § Buklet penyuluhan kelestarian sumber daya alam dan kepariwiataan § Buklet penyuluhan peran dan tanggungjawab masyarakat desa; § Bahan-bahan praktek budidaya tanaman pertanian dataran rendah; § Buku catatan pengelolaan; § Buku angsuran pinjaman; 4.2.6 Pelatihan Ketrampilan Kewiraniagaan (Memulai Dan Mengelola Usaha) a. Target: § Peserta menguasai teknis membaca peluang pasar sekaligus teknis porolehan dan cara memasarkan produk (barang). § Peserta menguasai teknis penghitungan (kalkulasi) harga pokok penjualan setiap barang yang akan ditawarkan kepada konsumen. § Peserta menguasai pencatatan usaha dari hasil penjualan barang yang dijual. b. Jumlah peserta (pemetik manfaat) 140 (seratus empat puluh) c. Materi: 37 § Penyuluhan peran dan tanggungjawab masyarakat desa. § Penjajagan pasar dan selera konsumen terhadap barang yang akan dijual § Kalkulasi Harga Pokok Pembelian dan Penjualan. § Praktek pemasaran barang tingkat dasar. § Praktek pemasaran barang tingkat lanjutan. § Praktek menyusun penjualan barang. buku harian pembelian dan § Pinjaman ujicoba modal usaha. § Supervisi angsuran pinjaman dan pencatatan buku hasil penjualan d. Waktu : I bulan ( 12 kali pertemuan @ 4 jam ) e. Media: § Buklet penyuluhan peran dan tanggungjawab masyarakat desa. § Pedoman tentang kewiraniagaan (Tehnik menjual barang). § Buku catatan hasil pembelian dan penjualan barang. § Buku angsuran pinjaman. 4.3 PELATIHAN MERINTIS DAN MENGELOLA LEMBAGA KEUANGAN MASYARAKAT BAITUL MAAL WATTAMWIL (BMT) a. Target § Menguasai teknis merintis, membentuk dan memantapkan Lembaga Keuangan Masyarakat masyarakat desa. 38 § Menguasai teknis penghitungan (kalkulasi) kredit untuk usaha skala kecil. § Menguasai pencatatatan administrasi keuangan b. Jumlah peserta (pemetik manfaat) 40 (empat puluh) orang c. Materi § Penyuluhan peran dan tanggungjawab masyarakat desa. § Pemahaman masyarakat konsep dasar lembaga keuangan § Praktek Administrasi keuangan § Praktek menyusun rencana kerja dalam cash flow § Pinjaman ujicoba untuk pendirian lembaga keuangan masyarakat. § Supervisi pemantapan administrasi keuangan dan penerapan rencana kerja cash flow. d. Waktu 3 bulan (reguler) e. Peralatan/Media § Buklet penyuluhan peran dan tanggungjawab masyarakat desa. § Bahan - bahan praktek tentang penyusunan admisnistrasi keuangan § Bahan-bahan studi kasus Lembaga Keuangan Masyarakat 39 BAB V ORGANISASI PELAKSANA 5.1 STRUKTUR ORGANISASI PELAKSANA Untuk memperlancar pelaksanaan kerja program MITRABINA WISATA, maka disusun organisasi pelaksana seperti pada gambar struktur organisasi berikut: PEMDA KOTA BATAM c.q. Dinas xxx MANPRO TEAM AHLI TEAM TEAM TEAM LEADER LEADER LEADER ↓ ↓ ↓ PELATIH PELATIH PELATIH ↓ ↓ ↓ MASYARAKAT DESA NELAYAN 40 5.2 TUGAS DAN TANGGUNGJAWAB POKOK PELAKSANA KEGIATAN 1. Manajer Proyek § Bertanggungjawab terhadap keberhasilan proyek secara keseluruhan kepada Pemda Kota c.q. Pimpro. § Mengkoordinasikan dengan semua tenaga ahli dan pelatih agar proyek berjalan sesuai dengan rencana yang ada di TOR. § Membuat laporan bulanan, tengah dan akhir untuk keseluruhan jalannya proyek. § Melakukan penagihan kepada Pemda Kota sesuai bobot pekerjaan yang telah dicapai. § Melakukan pendekatan kepada para tokoh masyarakat, lurah dan instansi terkait agar kegiatan berjalan lancar. 2. Team Leader § Bertanggungjawab terhadap terlaksananya kegiatankegiatan yang ada di dalam TOR sesuai dengan jadwalnya. 41 § Memotivasi para pelatih agar bekerja dengan bersungguh-sungguh. § Senantiasa memantau jalannya kegiatan sehingga tidak menyimpang dan TOR. § Mengadakan rapat bulanan untuk monitoring dan evaluasi jalannya kegiatan. § Meluruskan kembali, apabila ada kegiatan yang menyimpang dan TOR. § Bersama-sama dengan para pelatih merekrut para peserta pelatihan ketrampilan, serta mengadakan sosialisasi kegiatan kepada masyarakat. 3. Tenaga Ahli § Menyiapkan para pelatih yang akan diterjunkan di lapangan § Membuat modul pelatihan yang akan diterapkan di lapangan § Melakukan supervisi para pelatih agar pelaksanaan pelatihan berjalan sesuai dengan TOR § Memonitor jalannya pelatihan sehingga sesuai dengan modul yang telah dibuat, serta tepat waktu 4. Pelatih § Melatih para peserta sesuai dengan modul pelatihan yang ada. § Membuat berita acara kegiatan pelatihan. § Mengabsen para peserta. 42 § Membuat laporan bulanan pelaksanaan kegiatan, setelah disupervisi tenaga ahli diserahkan kepada Manajer Proyek sebagai bahan membuat laporan bulanan. § Selalu koordinasi dengan Tenaga Ahli dan Team Leader dalam mengadakan pelatihan baik menyangkut tempat, waktu dan biaya. § Memonitor perkembangan setiap peserta pelatihan, seperti: kehadiran, keseriusan dll. 5. Office Manajer § Mengelola sarana pendukung kegiatan. § Membantu tugas-tugas manajer proyek terutama masalah administrasi proyek. § Membantu mengelola sarana dan prasarana kegiatan selama masa proyek. § Membantu setiap ada kegiatan pelatihan. 6. Operator Komputer § Merawat dan memelihara komputer proyek. § Melaksanakan tugas-tugas pengetikan yang berhubungan dengan proyek 43

Judul: Program Pemberdayaan Sosial-ekonomi Masyarakat Melalui Pengembangan Desa Wisata Nelayan (dewiyan)

Oleh: Kusmayadi Kusmayadi


Ikuti kami