Satuan Acara Perkuliahan Asuhan Kebidanan Masa Nifas (proses Laktasi Dan Involusi

Oleh Nite Angel

435,6 KB 7 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Satuan Acara Perkuliahan Asuhan Kebidanan Masa Nifas (proses Laktasi Dan Involusi

SATUAN ACARA PERKULIAHAN ASUHAN KEBIDANAN MASA NIFAS (PROSES LAKTASI DAN INVOLUSI) Disusun oleh : Nita Rahman 201310104343 SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ‘AISYIYAH YOGYAKARTA PROGRAM STUDI BIDAN PENDIDIK JENJANG D IV TAHUN 2014 SATUAN ACARA PERKULIAHAN (SAP) I. IDENTITAS 1. Mata Kuliah : Asuhan Kebidanan Masa Nifas / 2. Program Studi : D III Kebidanan 3. Kode/Bobot SKS : 4. Semester : II ( dua ) 5. Elemen Kompetensi : MKB 6. Jenis Kompetensi : Utama 7. Waktu Kuliah : 1 x 50 Menit 8. Pokok Bahasan : Proses Laktasi dan Involusi II. STANDAR KOMPETENSI Mahasiswa memiliki wawasan dan pemahaman tentang asuhan kebidanan masa nifas, sehingga mampu memahami proses laktasi dan ivolusi pada masa nifas III. KOMPETENSI DASAR Mahasiswa mampu menjelaskan proses laktasi dan involusi pada masa nifas IV. INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI Mahasiswa dapat : 1. Mengetahui anatomi dan fisiologi payudara 2. Menjelaskan proses laktogenesis 3. Memahami proses involusio uteri 4. Mengetahui factor – factor yang mempengaruhi involusi uteri 5. Mengidentifikasi pengeluaran lochea V. TUJUAN PEMBELAJARAN Setelah mengikuti perkuliahan dengan metode interactive lecturing dan video coment mahasiswa mampu : 1. Mengetahui anatomi dan fisiologi payudara 2. Menjelaskan proses laktogenesis 3. Menjelaskan proses involusio 4. Mengetahui factor – factor yang mempengaruhi involusi uteri 5. Mengidentifikasi pengeluaran lochea VI. DESKRIPSI MATERI 1. Mengetahui anatomi dan fisiologi payudara 2. Menjelaskan proses laktogenesis 3. Menjelaskan proses involusio 4. Mengetahui factor – factor yang mempengaruhi involusi uteri 5. Mengidentifikasi pengeluaran lochea VII. METODE/STRATEGI PEMBELAJARAN Interactive Lecturing dan video coment VIII. MEDIA PEMBELAJARAN 1. LCD 2. Laptop/Power point 3. Vidio IX. KEGIATAN PEMBELAJARAN Komponen Uraian kegiatan langkah Estimasi Waktu 1. Memberikan salam pembuka 2. Memperkenalkan diri Pendahuluan 3. Apersepsi dan kontrak waktu 4. Menyampaikan tujuan pembelajaran 7 menit 5. Mengaitkan materi dengan Al-Qur’an (QS.AlLuqman : 14) 1. Memutarkan video tentang proses laktasi 30 2. Menjelaskan anatomi dan fisiologi payudara Inti 3. Menjelaskan proses involusi uteri 4. Menjelaskan factor – factor yang mempengaruhi involusio 5. Menjelaskan macam – macam lochea 1. Mengevaluasi hasil pembelajaran 2. Refleksi terhadap kegiatan pembelajaran dan nilai- Penutup nilai islam 3. Tindak lanjut 4. Menutup dengan doa dan salam X. PENILAIAN 1. Jenis Pos Test 2. Bentuk Kuis 3. Instrumen a. Soal : Terlampir 8 menit XI. SUMBER BELAJAR Anggraini, Yetti , 2010, Asuhan kebidanan masa Nifas, Yogyakarta : Pustaka Rihama Ambarwati, Eni. 2008. Asuhan Kebidanan Nifas, Yogyakarta : Mitra Cendikia Press Lampiran Materi Al- Qur’an Surat Al- Luqman Ayat 14 ‫ص ْينَا‬ َّ ‫سانَ َو َو‬ ُ ‫ص‬ َ ‫صالُهُ َو ْه ٍن‬ َ ‫ي َو ِل َوا ِلدَيْكَ ِلي ا ْش ُك ْر ِن َأ‬ ِ ‫ْال َم‬ َ ‫علَ ٰى َو ْهنًا ُأ ُّمهُ َح َملَتْهُ ِب َوا ِلدَ ْي ِه اِإْل ْن‬ َ ِ‫عا َمي ِْن فِي َوف‬ َّ َ‫ير ِإل‬ Artinya : “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu“ . A. Anatomi dan Fisiologi Payudara 1. Anatomi payudara Secara vertikal payudara terletak diantara kosta II dan IV, secara horizontal mulai dari pinggir sternum sampai linea aksilaris medialis. Kelenjar susu berada di jaringan sub kutan, tepatnya diantara jaringan sub kutan superficial dan profundus, yang menutupi muskulus pectoralis mayor. Ukuran normal 10-12 cm dengan beratnya pada wanita hamil adalah 200 gram, pada wanita hamil aterm 400-600 gram dan pada masa laktasi sekitar 600-800 gram. Bentuk dan ukuran payudara akan bervariasi menurut aktifitas fungsionalnya. Payudara menjadi besar saat hamil dan menyusui dan biasanya mengecil setelah menopause. Pembesaran ini terutama disebabkan oleh pertumbuhan struma jaringan penyangga dan penimbunan jaringan lemak. Ada 3 bagian utama payudara, Korpus (badan), Areola, Papila atau puting. Areola mamae (kalang payudara) letaknya mengelilingi puting susu dan berwarna kegelapan yang disebabkan oleh penipisan dan penimbunan pigmen pada kulitnya. Perubahan warna ini tergantung dari corak kulitnya, kuning langsat akan berwarna jingga kemerahan, bila kulitnya kehitaman maka warnanya akan lebih gelap dan kemudian menetap. Puting susu terletak setinggi interkosta IV, tetapi berhubung adanya variasi bentuk dan ukuran payudara maka letaknya pun akan bervariasi pula. Pada tempat ini terdapat lubang-lubang kecil yang merupakan muara dari duktus laktiferus, ujung-ujung serat otot polos yang tersusun secara sirkuler sehingga bila ada kontraksi maka duktus laktiferus akan memadat dan menyebabkan puting susu ereksi, sedangkan serat-serat otot yang longitudinal akan menarik kembali puting susu tersebut. Ada empat macam bentuk puting yaitu bentuk yang normal/umum, pendek/datar, panjang dan terbenam (inverted). Namun bentuk-bentuk puting ini tidak terlalu berpengaruh pada proses laktasi, yang penting adalah bahwa puting susu dan areola dapat ditarik sehingga membentuk tonjolan atau “dot” ke dalam mulut bayi. Kadang dapat terjadi puting tidak lentur terutama pada bentuk putting terbenam, sehingga butuh penanganan khusus agar bayi bisa menyusu dengan baik. Gambar1. Macam-macam bentuk puting Struktur payudara terdiri dari tiga bagian, yakni kulit, jaringan subkutan (jaringan bawah kulit), dan corpus mammae. Corpus mammae terdiri dari parenkim dan stroma. Parenkim merupakan suatu struktur yang terdiri dari Duktus Laktiferus (duktus), Duktulus (duktulli), Lobus dan Alveolus. Ada 15-20 duktus laktiferus. Tiap-tiap duktus bercabang menjadi 20-40 duktuli. Duktulus bercabang menjadi 10-100 alveolus dan masing-masing dihubungakan dengan saluran air susu (sistem duktus) sehingga merupakan suatu pohon. Bila diikuti pohon tersebut dari akarnya pada puting susu, akan didapatkan saluran air susu yang disebut duktus laktiferus. Di daerah kalang payudara duktus laktiferus ini melebar membentuk sinus laktiferus tempat penampungan air susu. Selanjutnya duktus laktiferus terus bercabang-cabang menjadi duktus dan duktulus, tapi duktulus yang pada perjalanan selanjutnya disusun pada sekelompok alveoli. Didalam alveoli terdiri dari duktulus yang terbuka, sel-sel kelenjar yang menghasilkan air susu dan mioepitelium yang berfungsi memeras air susu keluar dari alveoli. Gambar 2. Payudara tampak dari samping Gambar 3. Struktur payudara 2. Fisiologi payudara Selama kehamilan, hormon prolaktin dari plasenta meningkat tetapi ASI biasanya belum keluar karena masih dihambat oleh kadar estrogen yang tinggi. Pada hari kedua atau ketiga pasca persalinan, kadar estrogen dan progesteron turun drastis, sehingga pengaruh prolaktin lebih dominan dan pada saat inilah mulai terjadi sekresi ASI. Dengan menyusukan lebih dini terjadi perangsangan puting susu, terbentuklah prolaktin hipofisis, sehingga sekresi ASI semakin lancar. Dua reflek pada ibu yang sangat penting dalam proses laktasi yaitu reflek prolaktin dan reflek aliran timbul akibat perangsangan puting susu oleh hisapan bayi. a. Refleks Prolaktin Sewaktu bayi menyusu, ujunga saraf peraba yang terdapat pada puting susu terangsang. Rangsangan tersebut oleh serabut afferent dibawa ke hipotalamus di dasar otak, lalu memacu hipofise anterior untuk mengeluarkan hormone prolaktin ke dalam darah. Melalui sirkulasi prolaktin memacu sel kelenjar (alveoli) untuk memproduksi air susu. Jumlah prolaktin yang disekresi dan jumlah susu yang diproduksi berkaitan dengan stimulus isapan, yaitu frekuensi, intensitas dan lamanya bayi menghisap. b. Refleks Aliran (Let Down Reflex) Rangsangan yang ditimbulkan oleh bayi saat menyusu selain mempengaruhi hipofise anterior mengeluarkan hormone prolaktin juga mempengaruhi hipofise posterior mengeluarkan hormon oksitosin. Dimana setelah oksitosin dilepas kedalam darah mengacu otot-otot polos yang mengelilingi alveoli dan duktulus berkonsetraksi sehingga memeras air susu dari alveoli, duktulus, dan sinus menuju putting susu. Refleks let-down dapat dirasakan sebagai sensasi kesemutan atau dapat juga ibu merasakan sensasi apapun. Tanda-tanda lain let-down adalah tetesan pada payudara lain yang sedang dihisap oleh bayi. Refleks ini dipengaruhi oleh kejiwaan ibu. Gambar 4. Proses Produksi ASI (Refleks Prolaktin) 3. Proses Laktogenesis a. LaktogenesisTahap I Ini adalah tahap dimana seorang ibu mulai menghasilkan ASI. Produksinya dimulai sejak trimester kedua kehamilan, namun secara umum jumlahnya masih ditekan oleh hormone progesteron. Produksi ASI dalam fase ini tidak berawal dari prinsip supply dan demand. Selama masa kehamilan dan di dua hari pertama setelah kelahiran, produksi ASI masih dikontrol oleh hormon. Saat ibu melahirkan dan plasenta lepas dari rahim, kadar hormone progesterone menurun dan ini memicu meningkatnya hormone prolaktin yang bekerja untuk memproduksi ASI. Jadi sebetulnya kolostrum dihasilkan otomatis oleh tubuhibu, tanpaterpengaruholeh demand/kebutuhan bayi karena adanya control dari hormone ini. Inilah fase yang disebut sebagai Laktogenesis Tahap Pertama. Jadi, masih ada yang mengatakan kalau ASI tidak keluar di hari-hari pertama melahirkan? Itu tidak benar, karena hormone akan secara otomatis mengatur keluarnya kolostrum yang diperlukan bayi di hari-hari awal kehidupannya. Jumlah kolostrum memang sedikit, tetapi itulah jumlah yang diperlukan bayi pada hari-hari awal kehidupannya dan cukup untuk membuat kenyang perutnya yang hanya sebesar kelereng. b. LaktogenesisTahap II Setelah jam-jam awalmelahirkan, level hormone progesterone terus menurun dan hormone prolaktin terus meningkat naik. Kondisi inilah yang memicu keluarnya ASI lebih banyak. Fase ini disebut Laktogenesis Tahap Kedua. Laktogenesis tahap kedua mulai terjadi pada 30-40 jam setelah melahirkan atau umumnya sekitar hari ke-3 dan ke-4 setelah melahirkan. Di fase ini biasanya ibu mulai panic karena merasa di hari pertama dan kedua ASI “belum keluar”, tetapi tiba-tiba di hari ke-3 atau ke-4 payudara mulai membengkak. Fase ini adalah fase kritis dalam produksi ASI. Mengapa? Di dalam payudara terdapat yang namanya “penerima prolaktin”. Penerima prolaktin ini yang beredar agar prolaktin dapat memproduksi ASI. Jika ibu tidak menyusui sesering mungkin, maka penerima prolaktin ini tidak akan bekerja optimal sehingga hormone prolaktin-nya akan kembali menurun. Jika hormone prolaktin terus menurun, maka payudara secara perlahan dapat berhenti menghasilkan ASI matang (ASI yang keluar sesudah kolostrum) Jika prolaktin tidak bekerja optimal, maka tahap berikutnya akan terhambat. Tahap kedua ini biasanya terjadi hingga hari ke-8 setelah melahirkan. Tahapan ini sebetulnya juga masih dikontrol oleh hormon, tetapi jika ibu tidak menyusui sesering mungkin, kinerja hormone akan terhambat dan akan mengalami kesulitan ketika memasuki tahap yang berikutnya. c. LaktogenesisTahap III Tahap ini biasanya dimulai di hari ke-9 setelah melahirkan hingga bayi disapih. Produksi ASI mulai sepenuhnya mengandalkan skema supply dan demand seperti yang telah kita ketahui bersama. Semakin sering bayi menyusu, maka produksi ASI akan terus meningkat. 4. ASI Menurut Stadium Laktasi Pembagian ASI menurut stadium laktasi yaitu : a. Colostrum 1). Pengertian Colostrum adalah cairan yang pertama kali sisekresi oleh kelenjar payudara, mengandung tissue debris dan residual material yang terdapat dalam alveoli dari kelenjar payudara sebelum dan sesudah masa puerpurium. 2). Manfaat Merupakan suatu laanif yang ideal untuk membrsihkan meconium dari usus bayi baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan makanan yang akan datang. 3). Komposisi a) Lebih banyak mengandung protein dibandingkan ASI matur, tetapi berlainan dnegan ASI matur. Pada colostrums protrin yang utama adalah globulin (gamma globulin) b) Lebih banyak mengandung antibody dibandingkan dengan ASI yang matur, dapat memberikan perlindungan bagi bayi sampai umur 6 bulan. c) Kadar karbohidrat dan lemak rendah jika dinadingkan dengan ASI matur d) Mineral terutama natrium, kalium dan klorida lebih tinggi jika dibandingkan dengan ASI matur e) Total energi lebih rendah jika dibandingkan dengan susu matur, hanya 58 kal/100ml kolostrum f) Vitamin yang larut dalam lemak lebih tinggi jika dibandingkan dengan susu matur, sedangkan vitamin yang larut dalam air dapat lebih tinggi atau lebih rendah g) Lipidnya lebih banyak mengandung kolesterol dan lesitin dibandingan dengan ASI matur h) Terdapat tripsin inhibitor, sehingga hidrolisis protein didalam usus bayi menjadi kurang sempurna. Hal ini akan lebih banyak menambah antibodi pada bayi. i) Volume berkisar 150-300 ml/24 jam b. Air Susu Masa Peralihan 1) Pengertian Merupakan ASI peralihan dari kolostrum sampai menjadi ASI yang matur. Disekresi dari hari ke 4 sampai hari ke 10 dari masa laktasi (Soejiningsih,1997) 2) Komposisi a) Kadar protein makin rendah sedangkan karbohidrat dan lemak makin tinggi b) Volume juga meningkat c. Air Susu Matur 1) Pengertian Merupakan ASI yang disekresi pada hari ke 10 dan seterusnya, komposisi relatif konstan, tetapi ada juga yang mengatakan bahwa minggu keiga sampai kelima komposisinya baru konstan. Merupakan makanan satu-satunya yang paling baik dan cukup untuk bayi sampai umur 6 bulan, berupa cairan berwarna putih kekuningkuningan, karena mengandung caseinat, riboblaum dan karoten. Tidak menggumpal bila dipaskan, volume 300-850 ml/24 jam. Terdapat antimikro bacterial factor yaitu : antibody terhadap bakteri dan virus cell (phageocrye, granu locyle, macropage, lymphocyle tipe t), enzi, (lysozime, lactoperoxidese), protein, (laktoferin, B12 , dinding protein). Factor resisten terhadap stophylacocus, complecement (C3 dan C4). Siregar Arifin, (2004) pemberian asi ekslusif dan faktor-faktor yang mempengaruhinya B. Involusio Uterus 1. Pengertian Involusio atau pengecilan uterus merupakan suatu proses dimana uterus kembali ke kondisi sebelum hamil dengan berat sekitar 60 gram. Proses ini dimulai segera setelah plasenta lahir akibat kontraksi otot-otot polos uterus. 2. Fisiologi Involusi Uteri Pada ahir kala III persalinan, uterus berada di garis tengah, kira-kira 2 cm di bawah umbilicus dengan bagian fundus bersandar pada promontorium sakralis. Pada saat uterus kira – kira sama besar dengan besar uterus sewaktu kehamilan 16 minggu dengan berat 1000 gram. Peningkatan kadar esterogen dan progesterone bertanggung jawab untuk pertumbuhan massif uterus selama masa hamil. Pertumbuhan uterus pada masa prenatal tergantung pada hyperplasia, peningkatan jumlah sel – sel otot dan hipertropi, yaitu pembesaran sel – sel yang sudah ada. Pada masa postpartum penurunan kadar hormone – hormone ini menyebabkan terjadinya autolysis. Proses involusi uteri dapat dilihat pada tabel 2.1. Tabel 2.1 Proses Involusi Uteri Involusi Tinggi Fundus Plasenta lahir Sepusat 7 hari (1 minggu) Pertengahan pusat-simfisis Berat Uterus 1.000 gr 500 gr 14 hari (2 minggu) Tak terasa 350 gr 42 hari (6 minggu) Sebesar hamil 2 mgg 50 gr 56 hari (8 minggu) Normal 30 gr Gambar . Tinggi fundus Uteri pada masa nifas Involusi uteri melibatkan reorganisasi dan penanggalan deci dua/endometrium dan pengelupasan lapisan pada tempat implantasi plasenta sebagai tanda penurunan ukuran dan berat serta perubahan tempat uterus, warna dan jumlah lochea. Proses involusi uterus adalah sebagai berikut : a. Iskemia Miometrium Disebabkan oleh kontraksi dan retraksi yang terus menerus dari uterus setelah pengeluaran plasenta membuat uterus relative anemi dan menyebabkan serat otot atrofi. b. Autolysis Autolysis merupakan proses peghancuran diri sendiri yang terjadi di dalam otot uterine. Enzim proteolitik akan memendekkan jaringan otot yang telah sempat mengendur hingga 10 kali panjangnya dari semula dan lima kali lebar dari semula selama kehamilan atau dapat juga dikatakan sebagai pengrusak secara langsung jaringan hipertropi yang berlebihan, hal ini disebabkan karena penurunan hormone estrogen dan progesteron. c. Efek Oksitosin Oksitosin menyebabkan terjadinya kontraksi dan retraksi otot uterin sehingga akan menekan pembuluh darah yang mengakibatkan berkurangnya suplai darah ke uterus. Proses ini membantu untuk mengurangi situs atau tempat implantasi plasenta serta mengurangi perdarahan. (Yetti Anggraini, 2010). 3. Involusi Tempat Plasenta Uterus pada bekas implantasi plasenta merupakan luka yang kasar dan menonjol ke dalam kavum uteri. Segera setelah plasenta lahir, dengan cepat luka mengecil, pada akhir minggu ke-2 hanya sebesar 3-4 cm dan pada akhir nifas 1-2 cm. Penyembuhan luka bekas plasenta khas sekali. Pada permulaan nifas bekas plasenta mengandung banyak pembuluh darah besar yang tersumbat oleh thrombus. Luka bekas plasenta tidak meninggalkan parut. Hal ini disebabkan karena diikuti pertumbuhan endometrium baru di bawah permukaan luka. Regenerasi endometrium terjadi di tempat implantasi plasenta selama sekitar 6 minggu. Pertumbuhan kelenjar endometrium ini berlangsung di dalam decidua basalis. Pertumbuhan kelenjar ini mengikis pembuluh darah yang membeku pada tempat implantasi plasenta hingga terkelupas dan tak dipakai lagi pada pembuangan lokia. 4. Lochea Lochea adalah istilah untuk sekret dari uterus yang keluar melalui vagina selama puerperium (Varney, 2007; h.960). (1) Lochea Rubra Lochea ini muncul pada hari ke 1-3 masa post partum. Cairan yang keluar berwarna merah karena berisi darah segar, jaringan sisa – sisa plasenta, dinding rahim, lemak bayi, lanugo, dan mekonium. (2) Lochea Sanguinolenta. Cairan yang keluar berwarna merah kecoklatan dan berlendir. Berlangsung dari hari ke 4 sampai ke 7 post partum. (3) Lochea Serosa Lochea ini berwarna kuning kecoklatan karena mengandung serum, leukosit dan robekan/laserasi plasenta. Muncul pada hari ke 7 sampai ke 14 post partum. (4) Lochea Alba Mengandung leukosit, sel desidua, sel epitel, selaput lendir serviks dan serabut jaringan yang mati. Lochea ini berlangsung selama 2-6 minggu post partum. (Ambarwati, 2010; h.78-79). 6. Perubahan Pada Vulva, Vagina dan Perineum Selama proses persalinan vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan, setelah beberapa hari persalinan kedua organ ini kembali dalam keadaan kendor. Rugae timbul kembali pada minggu ke tiga. Himen tampak sebagai tonjolan kecil dan dalam proses pembentukan berubah menjadi karankulae mitiformis yang khas bagi wanita multipara. Ukuran vagina akan selalu lebih besar dibandingkan keadaan saat sebelum persalinan pertama. Perubahan pada perineum pasca melahirkan terjadi pada saat perineum mengalami robekan. Robekan jalan lahir dapat terjadi secara spontan ataupun dilakukan episiotomi dengan indikasi tertentu. Meskipun demikian, latihan otot perineum dapat mengembalikan tonus tersebut dan dapat mengencangkan vagina hingga tingkat tertentu. Hal ini dapat dilakukan pada akhir puerperium dengan latihan harian. 7. Perubahan pada Serviks Segera setelah melahirkan, serviks menjadi lembek, kendor, terkulai dan berbentuk seperti corong. Hal ini disebabkan korpus uteri berkontraksi, sedangkan serviks tidak berkontraksi, sehingga perbatasan antara korpus dan serviks uteri berbentuk cincin. Warna serviks merah kehitam-hitaman karena penuh pembuluh darah. Segera setelah bayi dilahirkan, tangan pemeriksa masih dapat dimasukan 2–3 jari dan setelah 1 minggu hanya 1 jari saja yang dapat masuk. Oleh karena hiperpalpasi dan retraksi serviks, robekan serviks dapat sembuh. Namun demikian, selesai involusi, ostium eksternum tidak sama waktu sebelum hamil. Pada umumnya ostium eksternum lebih besar, tetap ada retak-retak dan robekan-robekan pada pinggirnya, terutama pada pinggir sampingnya. 8. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Involusi Uterus a. Status gizi Menurut soediaoetama (2000) setelah di konsumsi didalam alat pencernaan, bahan makanan diuraikan menjadi berbagai zat makanan atau zat nutrien. Zat makanan inilah yang diserap melalui dinding usus dan masuk kedalam caian tubuh, didalam jaringan, zat-zat makanan memenuhi fungsinya masing-masing, adanya fungsi: 1. Sebagai sumber energi atau tenaga. 2. Menyokong pertumbuhan badan. 3. Memelihara jaringan tubuh, menggantikan yang rusak atau aus terpakai. 4. Mengatur metabolisme dan mengatur sebagai keseimbangan, misalnya keseimbangan air, keseimbangan asam basa, dan keseimbangan mineral didalam cairan tubuh. 5. Borndean didalam mekanisme mempertahankan tubuh terhadap berbagai penyakit misalnya sebagai antioksidan dan antibodi lainnya. Dan ibu yang menyesuaikan kembali alat –alat kandungan dan diantaranya menjadi bentuk normal seperti sebelum hamil, sedangkan mamme menyiapkan diri dan mulai berfungsi menghasilkan ASI dan melalui ASI zat-zat gizi yang diperlukan neonatus diberikan di tubuh ibunya dari persediaannya yang telah dipersiapkan terlebih dahulu. Untuk itu diperlukan zat yang mencukupi. Bila status gizinya kurang maka zat nutrisi yang terdapat pada ASI juga kurang akan mempengaruhi pemeliharaan jaringan terutama untuk menggantikan kerusakan sel-sel pada genetalia interna dan eksterna akibat proses kehamilan maupun persalinan yang mengalami gangguan, sehingga mengembalikan alat-alat kandungan terhambat (Sediaoetama, 2000). Menurut Reeder (1997) mengatakan dengan status gizi yang adekuat akan mempercepat pemulihan kesehatan ibu pasc salin dan mengembalikan kekuatan otot-ototnya menjadi lebih cepat serta akan meningkatkan kualitas maupun kuantitas ASI. Disamping itu juga ibu pasca salin akan lebih mampu menghadapi serangan kuman sehingga tidak infeksi dalam nifas. b. Paritas (jumlah anak) Menurut (Reeder, 1997) paitas mempengaruhi involusi uterus. Otototot yang selalu sering teregang maka elastisitasnya akan bekurang. Dengan demikian untuk mengembalikan kekuataan semula setelah tegang memerlukan waktu yang lama. c. Usia Ibu yang usianya lebih tua akan banyak dipengaruhi oleh proses penuaan. Pada proses penuaan akan terjadi perubahan metabolisme yaitu tejadi peningkatan jumlah l;emak, penurunan elastisitas otot dan penurunan penyerapan lemak, protein, dan karbohidrat (Sediaoetama, 1997). Dan yang didalam kelompok rentan gizi bagi manusia yang lanjut usia meskipun tidak ada hubungannya dengan pertumbuhan dan selselnya. Timbulnya kerentanan terhadap kondisi gizi disebabkan kondisi fisik baik anatomis maupun fungsionalnya (Sediaaoetama, 2000). d. Menyusui Christina (1996) menyatakan dengan adanya isapan bayi, air susu dikeluarkan, prosesnya adalah waktu bayi menghisap otot-otot polos pada puting susu terangsang, rangsangan ini oleh syaraf diteruskan ke otak, dan memerintahkan kelenjar hypophyse bagian belakang mengeluarkan hormon pituitine yang di bawa ke otot-otot polos pada buah dada, sehingga otototot p[olos mengeluarkan air susu, dan didalam lobulus terjadi produksi air susu lagi, seperti diterangkan diatas. Hormon pituitrine tersebut diatas bukan saja mempengaruhi otot-otot polos pada uterus sehingga uterus berkontraksi lebih baik lagi. Dengan demikian involusi uterus lebih cepat dan mengeluarkan lochea lebih lancar. Itulah sebabnya pada ibu yang menyusui biasanya involusi berlangsung lebih cepat dari pada yang tidak menyusui. Lampiran Soal Ny. Ani P1A0 umur 25 tahun post partum 2 jam yang lalu mengeluh mules-mules. Dari pemeriksaan fisik dihasilkan tekanan darah : 110/70 mmHg. Nadi : 80 x/menit, suhu 37,3 dejarat celcius, ASI keluar sedikit berwarna kekuningan, lochea berwarna merah, jahitan perineum baik. 1. Apa yang menyebabkan rasa mules pada Ny. Ani ?......... a. Proses laktasi b. Proses involusi c. Proses sub involusi d. Proses dari jalan lahir e. Luka pada perineum 2. Hormon apa yang berperan dalam hal terseut? a. Estrogen b. Progesteron c. Oksitosin d. Prolaktin e. HCG Ny. Ani 29 tahun p1A0 melahirkan 1 jam yang lalu, BB bayi 3500 gram. Ny. Ani sudah menyusui bayinya,ia senang bayinya dapat menghisap dengan baik. 3. Dengan hisapan bayi pada putting susu ibu maka akan menyebabkan….. a. Merangsang hipotalamus untuk memacu sekresi prolaktin b. Menghambat sekresi prolaktin c. Merangsang hipotalamus untuk memacu sekresi estrogen d. Menyebabkan ibu kelelahan e. Akan menyebabkan bayi tidur dengan pulas Ny. Eni umur 30 tahun P1A0 telah melahirkan bayi 3 hari yang lalu mengeluh nyeri jahitan, perineum dan payudara mulai tegang 4. Apa Jenis Lochea yang di keluarkan oleh Ny. Eni ? a. Alba b. Rubra c. Serosa d. Sanguinolenta e. Purulent 5. Pada gambar diatas, bagian a menunjukkan ? a. Corpus mammae b. Areola c. Papila mamae d. Corpus uterus e. Fundus uterus Ny. Nila 25 tahun nifas hari keempat, mengeluh nyeri pada payudara.Setelah dilakukan pemeriksaan didapatkan bahwa payudara bengkak, tekanan darah 110/70 mmhg, respirasi 18x/ menit, suhu 37,3o C. Kontraksi uterus baik.pengeluaran pervaginam berwarna merah. 6. Apakah yang menyebabkan terjadinya payudara bengkak pad any. Nila? a. Putting lecet b. Penyempitan duktus laktiferus c. Penyempitan alveolus d. Pelebaran duktus laktiferus e. Pelebaran alveolus

Judul: Satuan Acara Perkuliahan Asuhan Kebidanan Masa Nifas (proses Laktasi Dan Involusi

Oleh: Nite Angel


Ikuti kami