Asuhan Keperawatan Pada Bayi Dengan Prematuritas Dan Bayi Berat Lahir Rendah

Oleh Amira Qathrinnadaa

230,1 KB 9 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Asuhan Keperawatan Pada Bayi Dengan Prematuritas Dan Bayi Berat Lahir Rendah

ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI DENGAN PREMATURITAS DAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR) Oleh: Aida Alfina (18010004) Amira (18010006) Cut Intan Juwita (18010009) Fadhlina (18010011) Nurul Maghfirah Y (18010029) Pengasuh: Ns. Sri Intan Rahayuningsih, M.Kep., Sp.Kep.An STIKes Medika Nurul Islam Program Studi Ilmu Keperawatan 2019 KATA PENGANTAR Syukur alhamdulillah kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kesempatan kepada penulis dalam menyelesaikan “Asuhan Keperawatan Pada Bayi Dengan Prematuritas Dan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) ” ini dengan lancar tanpa halangan yang berarti. Makalah ini disusun dengan harapan mampu menambah dan meningkatkan wawasan penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya. Dalam penyusunan makalah ini, tidak lupa penulis sampaikan terima kasih kepada dosen mata kuliah Keperawatan Anak dan semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung yang telah membantu terselesaikannya makalah ini. Penulis sangat menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kesalahan dan kekurangan. Sehingga kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan untuk kebaikan di kemudian hari. Demikian, semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Sigli, Desember 2019 Penulis DAFTAR ISI Kata Pengantar............................................................................................... ii Daftar isi.......................................................................................................... iii BAB I PENDAHULUAN............................................................................... 1 1.1 Latar Belakang.................................................................................... 1 1.2 Tujuan.................................................................................................. 2 BAB II ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI PREMATUR ........... 3 2.1 Definisi Bayi Prematur ....................................................................... 3 2.2 Etiologi Bayi Prematur........................................................................ 3 2.3 Klasifikasi Bayi Prematur.................................................................... 4 2.4 Tanda dan Gejala Bayi Prematur......................................................... 5 2.5 Patofisiologi Bayi Prematur ................................................................ 5 2.6 Pemeriksaan Penunjang Bayi Prematur............................................... 6 2.7 Komplikasi Bayi Prematur.................................................................. 6 2.8 Penatalaksanaan medis Bayi Prematur................................................ 7 2.9 Rencana Asuhan keperawatan Bayi Prematur..................................... 8 BAB III ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI BBLR ...................... 13 2.1 Definisi BBLR..................................................................................... 13 2.2 Etiologi BBLR..................................................................................... 13 2.3 Klasifikasi BBLR................................................................................ 14 2.4 Tanda dan Gejala BBLR...................................................................... 14 2.5 Patofisiologi BBLR............................................................................. 14 2.6 Pemeriksaan Penunjang BBLR........................................................... 15 2.7 Komplikasi BBLR............................................................................... 16 2.8 Penatalaksanaan Medis BBLR............................................................ 16 2.9 Rencana Asuhan keperawatan BBLR.................................................. 18 BAB IV PENUTUP......................................................................................... 21 4.1 Kesimpulan.......................................................................................... 21 4.2 Saran............................................................................................................ 21 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 22 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Angka kematian bayi adalah jumlah bayi yang meninggal sebelum mencapai usia 1 tahun yang dinyatakan dalam 1.000 kelahiran hidup pada tahun yang sama. AKB menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan faktor penyebab kematian bayi, tingkat pelayanan antenatal, status gizi ibu hamil, tingkat keberhasilan program KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) dan KB (Keluarga Berencana), serta kondisi lingkungan dan sosial ekonomi. Apabila AKB di suatu wilayah tinggi, berarti status kesehatan di wilayah tersebut rendah (Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, 2012). Cakupan angka kematian bayi (AKB) di enam tahun terakhir mengalami fluktuatif. dari data yang bersumber pada dinas kesehatan kabupaten/kota, diketahui jumlah kematian bayi di Aceh sebanyak 943 kasus dan lahir hidup 103.931 jiwa. Dengan menggunakan definisi operasional yang telah ditetapkan untuk kedua indikator tersebut, maka AKB di Aceh tahun 2017 sebesar 9 per 1.000 kelahiran hidup. Pencapaian tahun 2017 dibandingkan dengan tiga tahun terakhir terus mengalami peningkatan. Angka kematian bayi merupakan indikator yang digunakan untuk menentukan derajat kesehatan masyarakat. Berbagai upaya kesehatan dilakukan dalam rangka menurunkan angka kematian bayi, diantaranya pemerataan pelayanan kesehatan berikut fasilitasnya. hal ini disebabkan AKB sangat sensitive terhadap perbaikan pelayanan kesehatan. Selain itu perbaikan kondisi perekonomian yang tercermin dengan pendapatan masyarakat yang meningkat juga dapat berkontribusi melalui perbaikan gizi yang berdampak pada daya tahan terhadap infeksi penyakit. (Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, 2017). Prematuritas merupakan salah satu penyebab utama mortalitas dan morbiditas bayi dan memiliki konsekuensi jangka panjang yang merugikan bagi kesehatan (Beck, Wojdyla, Say). Di Indonesia sendiri angka kejadian prematur belum dapat dipastikan jumlahnya, namun berdasarkan data Riskerdas Departemen Kesehatan tahun 2007, proporsi BBLR mencapai 11.5%, meskipun angka BBLR tidak mutlak mewakili angka kejadian persalinan prematur (Dirjen Bina Pelayanan Medik Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2010). Sejak tahun 1961 WHO mengganti istilah prematuritas dengan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR). Hal ini di karenakan tidak semua bayi yang berat kurang dari 2500 gram pada waktu lahir bayi prematur. Menurut WHO (World Health Organization, 2010) pravalensi BBLR dari seluruh kelahiran di dunia dengan batasan 3,3% - 3,8% dan lebih sering terjadi pada Negara - negara yang sering berkembang atau sosial ekonomi rendah, prevalensi BBLR tahun 2013 menurut WHO adalah sebesar 10,2% di dunia. 1.2 Tujuan Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui lebih dalam tentang BBLR dan bayi prematur serta untuk meningkatkan pengetahuan pembaca mengenai bayi prematur dan bayi berat badan lahir rendah (BBLR) agar pembaca mengetahui dan mampu mengaplikasikan bagaimana penatalaksanaan maupun rencana asuhan keperawatan yang dapat diberikan terhadap bayi berat badan lahir rendah (BBLR) BAB II ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI PREMATUR 2.1 Definisi Bayi Prematur Menurut WHO, bayi prematur adalah bayi lahir hidup sebelum usia kehamilan minggu ke-37 (dihitung dari hari pertama haid terakhir). The American Academy of Pediatric, mengambil batasan 38 minggu untuk menyebut prematur. Bayi prematur adalah bayi yang lahir dibawah 37 minggu atau berat bayi kurang dari 2.500 gram (Manuaba, 2008). Bayi prematur merupakan bayi yang lahir pada usia kehamilan kurang atau sama dengan 37 minggu, tanpa memperhatikan berat badan lahir (Wong, 2008). Bayi prematur adalah bayi yang lahir setelah 24 minggu dan sebelum 37 minggu kehamilan, dengan berat badan 2500 gram atau kurang saat lahir, terlepas dari usia kehamilan tepat atau di bawah 37 minggu (Broker, 2008). Secara patofisiologis menurut Nelson (2010), bayi BBLR ini berhubungan dengan usia kehamilan yang belum cukup bulan (prematur) disamping itu juga disebabkan dismaturitas. Bayi lahir cukup bulan (usia kehamilan 38 minggu), tapi berat badan (BB) lahirnya lebih kecil dari masa kehamilannya, yaitu tidak mencapai 2500 gram. Masalah ini terjadi karena adanya gangguan pertumbuhan bayi sewaktu dalam kandungan yang disebabkan oleh penyakit ibu seperti adanya kelainan plasenta, infeksi, hipertensi dan keadaan-keadaan lain yang menyebabkan suplai makanan ke bayi jadi berkurang. Prematuritas dan berat lahir rendah biasanya terjadi secara bersamaan, terutama diantara bayi dengan berat 1500 gr atau kurang saat lahir. Keduanya berkaitan dengan terjadinya peningkatan morbilitas dan mortalitas bayi. Problem klinis terjadi lebih sering pada bayi prematur dibandingkan dengan pada bayi lahir normal. Prematuritas menimbulkan imaturitas perkembangan dan fungsi sistem, membatasi kemampuan bayi untuk melakukan koping terhadap masalah penyakit. Bayi prematur dapat bertahan hidup tergantung pada berat badannya, umur kehamilan, dan penyakit atau abnormalitas. Prematur menyumbangkan 75% - 80% angka kesakitan dan kematian neonatus. 2.2 Etiologi Bayi Prematur Penyebab terbanyak terjadinya BBLR adalah kelahiran prematur. Faktor ibu yang lain adalah umur, paritas, dan lain-lain. Faktor plasenta seperti penyakit vaskuler, kehamilan kembar/ganda, serta faktor janin juga merupakan penyebab terjadinya BBLR yaitu : 1. Faktor ibu. a. Penyakit, seperti malaria, anaemia, sipilis, infeksi TORCH, dan lain-lain b. Komplikasi pada kehamilanyang tejadi pada kehamilan ibu seperti perdarahan antepartum, pre-eklamsia berat, eklamsia, dan kelahiran preterm. c. Usia Ibu dan paritas, angka kejadian BBLR tertinggi ditemukan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu-ibu dengan usia. d. Faktor kebiasaan ibu yang berpengaruh seperti ibu perokok, ibu pecandu alkohol dan ibu pengguna narkotika. 2. Faktor Janin Beberapa faktor yang mempengaruhi kejadian premature adalah hidramion, kehamilan kembar/ganda (gemeli), kelainan kromosom. 3. Faktor Lingkungan Yang dapat berpengaruh antara lain; tempat tinggal di daratan tinggi, radiasi, sosio-ekonomi dan paparan zat-zat racun. 2.3 Klasifikasi Bayi Prematur Menurut Rukiyah dan Yulianti (2012), bayi dengan kelahiran premature dapat dibagi menjadi dua, yaitu: 1. Bayi prematur sesuai masa kehamilan (SMK) Bayi prematur SMK adalah bayi yang lahir dengan masa gestasi kurang dari 37 minggu dan berat badannya sesuai dengan usia kehamilan. Derajat prematuritas dapat di golongkan menjadi 3 kelompok, yaitu bayi sangat prematur, yaitu usia gestasi bayi 24 - 30 minggu. Bayi prematur sedang, yaitu usia gestasi bayi 31 -36 minggu. Bayi prematur diambang batas, yaitu usia gestasi 37 – 38 minggu. 2. Bayi prematur kecil untuk masa kehamilan (KMK) Bayi prematur KMK adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa gestasi tersebut. Bayi KMK merupakan bayi yang mengalami gangguan dalam uterus, (intrauterine retardation = IUGR).IUGR dapat dibedakan menjadi 2, yaitu: 1. Proportinate IUGR, yaitu janin yang menderitas distress yang lama sebelum lahir, sehingga fisiknya berada dalam proporsi yang tidak seimbang. 2. Disproportinate IUGR, yang terjadi akibat distress akut yang terjadi beberapa minggu atau beberapa hari sebelum bayi lahir. 2.4 Tanda dan Gejala Bayi Prematur Menurut Proverawati & Sulistyorini (2010), bayi prematur menunjukkan belum sempurnanya fungsi organ tubuh dengan keadaan lemah, yaitu sebagai berikut: 1. Tanda-tanda bayi prematur sesuai masa kehamilan (SMK): a. Kulit tipis dan mengkilap. b. Tulang rawan telinga sangat lunak, karena belum terbentuk dengan sempurna. c. Lanugo (rambut halus atau lembut) masih banyak ditemukan terutama pada daerah punggung. d. Jaringan payudara belum terlihat, puting masih berupa titik. e. Pada bayi perempuan, labia mayora belum menutupi labia minora. f. Pada bayi laki-laki, skrotum belum banyak lipatan dan testis kadang belum turun. g. Garis telapak tangan kurang dari 1/3 bagian atau belum terbentuk. h. Kadang disertai dengan pernapasan yang tidak teratur. i. Aktivitas dan tangisan lemah. j. Reflek menghisap dan menelan tidak efektif atau lemah. 2. Tanda-tanda bayi prematur kecil untuk masa kehamilan (KMK): a. Umur bayi bisa cukup, kurang atau lebih bulan, tetapi beratnya kurang dari 2500 gram. b. Gerakannya cukup aktif dan tangisannya cukup kuat. c. Kulit keriput, lemak bawah kulit tipis. d. Pada bayi laki-laki testis mungkin sudah turun. e. Bila kurang bulan maka jaringan payudara dan puting kecil. 2.5 Patofisiologi Bayi Prematur Penyebab terjadinya kelahiran bayi prematur belum diketahui Secara jelas. Data statistik menunjukkan bahwa bayi lahir prematur terjadi pada ibu Yang memiliki sosial ekonomi rendah. Kejadian ini dengan kekurangan perawatan pada ibu hamil karena tidak melakukan antenatal care selama kehamilan. Asupan nutrisi yang tidak adekuat selama kehamila, infeksi pada uterus dan komplikasi obstetrik yang lain merupakan pencetus kelahiran bayi prematur. Ibu hamil dengan usia yang masih muda,mempunyai kebiasaan merokok dan mengkonsumsi alkohol juga menyebabkan terjadinya bayi prematur. Faktor tersebut bisa menyebabkan terganggunya fungsi plasenta menurun dan memaksa bayi untuk keluar sebelum waktunya.karena bayi lahir sebelum masa gestasi yang cukup maka organ tubuh bayi belum matur sehingga bayi lahir prematur memerlukan perawatan yang sangat khusus untuk memungkinkan bayi beradaptasi dengan lingkungan luar. Persalinan prematur dapat diperkirakan dengan mencari faktor resiko mayor atau minor. Faktor resiko minor ialah penyakit yang disertai demam, perdarahan pervaginam pada kehamilan lebih dari 12 minggu, riwayat pielonefritis, riwayat abortus pada trimester II, riwayat abortus pada trimester l lebih dari 2 kali. Faktor resiko mayor adalah kehamilan multiple, hidramnion, anomali uterus, serviks terbuka lebih dari 1cm pada kehamilan 32 minggu, serviks mendatar atau memendek kurang dari 1cm pada kehamilan 32 minggu, riwayat abortus pada trimester II lebih dari l kali, riwayat persalinan preterm sebelumnya, operasi abdominal pada kehamilan preterm, riwayat operasi konisasi, dan iritabilitas uterus. 2.6 Pemeriksaan Penunjang Bayi Prematur Menurut Nurarif & Kusuma (2015), pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada bayi prematur dan BBLR adalah sebagai berikut: 1. Jumlah sel darah putih: 18.000/mm3. Neutrofil meningkat hingga 23.000-24.000/mm3 hari pertama setelah lahir dan menurun bila ada sepsis. 2. Hematokrit (Ht): 43%-61%. Peningkatan hingga 65% atau lebih menandakan polisitemia, sedangkan penurunan kadar menunjukkan anemia atau hemoragic prenatal/perinatal. 3. Hemoglobin (Hb): 15-20 gr/dl. Kadar hemoglobin yang rendah berhubungan dengan anemia atau hemolisis yang berlebihan. 4. Bilirubin total: 6 mg/dl pada hari pertama kehidupan, 8 mg/dl pada 1-2 hari, dan 12 gr/dl pada 3-5 hari. 5. Destrosix: tetes glukosa pertama selama 4-6 jam pertama setelah kelahiran rata-rata 40-50 mg/dl dan meningkat 60-70 mg/dl pada hari ketiga. 6. Pemantauan elektrolit (Na, K, Cl): dalam batas normal pada awal kehidupan. 7. Pemeriksaan analisa gas darah. 2.7 Komplikasi Bayi Prematur Menurut Proverawati & Sulistyorini (2010), terdapat beberapa masalah yang dapat terjadi pada bayi prematur baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek. Masalah jangka pendeknya antara lain; gangguan metabolik, gangguan imunitas, gangguan pernafasan, gangguan system peredaran darah, serta gangguan cairan dan elektrolit. Sedangkan komplikasi jangka panjang sendiri antara lain, gangguan pertumbuhan dan perkembangan, gangguan neurologi dan kognisi, gangguan atensi dan hiperaktif, serta masalak fisik lainnya. 2.8 Penatalaksanaan Medis Bayi Prematur Menurut Rukiyah & Yulianti (2012), beberapa penatalaksanaan atau penanganan yang dapat diberikan pada bayi prematur adalah sebagai berikut: 1. Mempertahankan suhu tubuh dengan ketat. Bayi prematur mudah mengalami hipotermi, oleh sebab itu suhu tubuhnya harus dipertahankan dengan ketat. 2. Mencegah infeksi dengan ketat. Bayi prematur sangat rentan dengan infeksi, perhatikan prinsip-prinsip pencegahan infeksi termasuk mencuci tangan sebelum memegang bayi. 3. Pengawasan nutrisi. Reflek menelan bayi prematur belum sempurna, oleh sebab itu pemberian nutrisi harus dilakukan dengan cermat. 4. Penimbangan ketat. Perubahan berat badan mencerminkan kondisi gizi/nutrisi bayi dan erat kaitannya dengan daya tahan tubuh, oleh sebab itu penimbangan berat badan harus dilakukan dengan ketat. 5. Kain yang basah secepatnya diganti dengan kain yang kering dan bersih serta pertahankan suhu tetap hangat. 6. Kepala bayi ditutup topi dan beri oksigen bila perlu. 7. Tali pusat dalam keadaan bersih. 8. Beri minum dengan sonde/tetes dengan pemberian ASI. Sedangkan menurut Proverawati & Sulistyorini (2010), ada beberapa penatalaksanaan umum yang dapat dilakukan pada bayi prematur dan berat badan lahir rendah, yaitu sebagai berikut: 1. Mempertahankan suhu tubuh bayi Bayi prematur akan cepat mengalami kehilangan panas badan dan menjadi hipotermia, karena pusat pengaturan panas badannya belum berfungsi dengan baik, metabolismenya juga masih rendah, dan permukaan badan yang relatif luas. Oleh karena itu, bayi prematur harus dirawat dalam inkubator sehingga panas tubuhnya dapat sama atau mendekati dengan panas dalam rahim. 2. Pengaturan dan pengawasan intake nutrisi Pengaturan dan pengawasan intake nutrisi dalam hal ini adalah menentukan pilihan susu, cara pemberian, dan jadwal pemberian yang sesuai dengan kebutuhan bayi. 3. Pencegahan infeksi Bayi prematur sangat mudah terserang infeksi, terutama disebabkan oleh infeksi nosokomial. Hal ini karena kadar immunoglobulin serum bayi prematur masih rendah, aktivitas bakterisidal neotrofil dan efek sitotoksik limfosit juga masih rendah serta fungsi imun yang belum berpengalaman. Oleh karena itu bayi prematur tidak boleh kontak dengan penderita infeksi dalam bentuk apapun. 4. Penimbangan berat badan untuk melihat kondisi gizi atau nutrisi bayi yang erat kaitannya dengan daya tahan tubuh. 5. Pemberian oksigen Ekspansi paru yang buruk merupakan masalah serius bagi bayi prematur dan BBLR akibat tidak adanya alveoli dan surfaktan. Konsentrasi O2 yang diberikan sekitar 30%-35% dengan menggunakan head box, karena konsentrasi O2 yang tinggi dalam waktu lama akan menyebabkan kerusakan pada jaringan retina bayi dan dapat menimbulkan kebutaan. 6. Pengawasan jalan nafas Terhambatnya jalan nafas dapat mengakibatkan asfiksia dan hipoksia yang akan berakhir dengan kematian. Bayi prematur dapat berisiko mengalami serangan apneu dan defisiensi surfaktan, sehingga tidak dapat memperoleh oksigen yang cukup yang sebelumnya diperoleh dari plasenta. Oleh karena itu, perlu pembersihan jalan nafas segera setelah bayi lahir. 2.9 Asuhan Keperawatan Bayi Prematur 1. Pengkajian a. Biodata a) Identitas bayi: Nama, jenis kelamin, BB, TB, LK, LD. b) Identitas orang tua: Nama, umur, pekerjaan, pendidikan, alamat. c) Keluhan utama: BB < 45 cm, LD < 30 cm, LK < 33 cm, hipotermi. d) Riwayat penyakit sekarang. e) Riwayat penyakit keluarga. f) Riwayat penyakit dahulu. b. Pemeriksaan Fisik Ibu a) Riwayat kehamilan dan umur kehamilan. b) Riwayat persalinan dan proses pertolongan persalinan yang dahulu dan sekarang. c) Riwayat fisik dan kesehatan ibu saat pengkajian. d) Riwayat penyakit ibu. e) Psikososial dan spiritual ibu. f) Riwayat perkawinan. c. Pemeriksaan Fisik Bayi a) Keadaan bayi saat lahir; BB < 2500 gr, PB < 45 cm, LK 33 cm, LD < 30 cm. b) Inspeksi 1) Kepala lebih besar daripada badan, ubun-ubun dan sutura lebar. 2) Lanugo banyak terdapat pada dahi, pelipis, telinga dan tangan. 3) Kulit tipis, transparan dan mengkilap. 4) Rambut halus, tipis dan alis tidak ada. 5) Garis telapak kaki sedikit. 6) Retraksi sternum dengan iga 7) Kulit menggantung dalam lipatan (tidak ada lemak sub kutan). c) Palpasi 1) Hati mudah dipalpasi. 2) Tulang teraba lunak. 3) Limpa mudah teraba ujungnya. 4) Ginjal dapat dipalpasi. 5) Daya isap lemah. 6) Retraksi tonus – leher lemah, refleks Moro (+). d) Perkusi e) Auskultasi 1) Nadi lemah. 2) Denyut jantung 140 – 150 x/menit, respirasi 60 x/menit. 2. Diagnosa Keperawatan a. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan imaturitas otot -otot pernafasan dan penurunan ekspansi paru. b. Ketidakadekuatan pemberian ASI b/d prematuritas. c. Disfungsi motalitas gastrointestinal b/d ketidakadekuatan aktivitas peristaltik di dalam sistem gastrointestinal. d. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d ketidakmampuan menerima nutrisi. e. Resiko ketidakseimbangan suhu tubuh b/d penurunan jaringan lemak subkutan. 3. Intervensi Keperawatan NO 1. TUJUAN Setelah dilakukan INTERVENSI asuhan 1) Pertahankan jalan nafas yang keperawatan selama 1x24 jam jalan paten. nafas dalam kondisi bebas atau 2) Monitor aliran oksigen. paten dan pola nafas mejadi efektif. Observasi adanya tanda-tanda 3) Kriteria Hasil : distres respirasi seperti retraksi, 1) Suara nafas bersih, tidak ada takipneu, apneu, sianosis. sianosis, tidak ada dispneu, bayi 4) Monitor tekanan darah, nadi, mampu suhu, dan pernafasan. bernapas dengan mudah. 5) 2) Irama nafas teratur, frekuensi Monitor frekuensi dan kualitas nadi. pernafasan dalam batas normal 6) Monitor frekuensi dan irama (30-40 kali/menit pada bayi), pernafasan. tidak ada suara nafas abnormal. 7) 3) Tanda-tanda vital dalam batas normal. Monitor pola pernapasan abnormal. 8) Monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit. 9) Monitor adanya sianosis perifer. 10) Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign. 2. Setelah dilakukan asuhan 1) Letakkan pentil dot di atas lidah keperawatan selama 1x24 jam bayi bayi. dapat diberikan minum ASI dengan 2) Monitor atau eveluasi reflek efektif. menelan sebelum memberikan Kriteria Hasil: susu. 1) Tetap mempertahankan laktasi. 2) Perkembangan dan 3) Tentukan sumber air yang digunakan untuk mengencerkan pertumbuhan bayi dalam batas susu formula yang kental atau normal. dalam bentuk bubuk. 3) Kemampuan penyedia 4) Pantau berat badan bayi setiap perawatan dalam melakukan hari. penghangatkan, pencairan, dan 5) Bersihkan mulut bayi setelah penyimpanan ASI secara aman. 4) Berat badan bayi bertambah 20-30 gram/hari. 5) Tidak ada respon bayi diberikan susu. 6) Fasilitasi alergi sistemik pada bayi. 6) Status respirasi seperti jalan proses interaktif bantuan untuk membantu mempertahanan keberhasilan proses pemberian ASI. napas, pertukaran gas, dan 7) Sediakan informasi tentang ventilasi napas bayi adekuat. laktasi dan teknik memompa ASI 7) Tanda-tanda vital bayi dalam (secara manual atau elektrik), batas normal. cara mengumpulkan dan menyimpan ASI. 3. Setelah dilakukan asuhan 1) Monitor tanda-tanda vital. keperawatan selama 1x24 jam 2) Monitor fungsi pencernaan dapat berfungsi status cairan dan elektrolit. secara efektif. 3) Monitor bising usus. Kriteria Hasil: 4) Catat intake dan output secara 1) Tidak ada distensi abdomen. 2) Peristaltik usus dalam batas akurat. 5) Kaji tanda-tanda normal (3-5 kali/menit pada keseimbangan bayi). elektrolit 3) Frekuensi, warna, konsistensi, dan banyaknya feses dalam gangguan cairan (membran dan mukosa kering, sianosis, jaundice). 6) Kolaborasi dengan ahli gizi batas normal (frekuensi BAB tentang jumlah zat gizi yang normal pada bayi 3-4 kali dibutuhkan. dengan warna feses kekuningan 7) Pasang OGT jika diperlukan. dan ukuran ampas minimal 2,5 8) Monitor warna dan konsistensi cm, konsistensi lunak, tidak dari naso gastric output atau oral keras dan tidak kering). gastric output. 4) Tidak ada darah di feses. 5) Tidak terjadi diare dan tidak muntah. 9) Monitor terjadinya diare. 4. Setelah dilakukan asuhan 1) Kaji adanya alergi. keperawatan selama 1x24 jam 2) Kaji asupan nutrisi berupa makanan dan cairan dalam keadaan seimbang dan tidak ada penurunan berat badan. bayi untuk menyusu langsung pada ibu. 3) Berikan nutrisi secara parenteral jika diperlukan. 4) Kolaborasi dengan ahli gizi Kriteria Hasil: untuk menentukan jumlah kalori 1) Adanya peningkatan berat dan nutrisi yang dibutuhkan bayi. badan sesuai dengan tujuan (berat badan bertambah 20-30 gram/hari). 2) Tidak ada tanda-tanda malnutrisi (pada usia 2 minggu kebutuhan nutrisi mencapai 150 cc/kgbb/hari) 3) Menunjukkan peningkatan fungsi mengisap dan menelan. 4) Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti. 5. kesiapan Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1x24 jam 5) Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori. 6) Monitor adanya penurunan berat badan. 7) Monitor terjadiya kulit kering dan perubahan pigmentasi. 8) Monitor kadar albumin, total protein, Hb, dan kadar Ht. 9) Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik papila lidah dan cavitas oral. 1) Pertahankan suhu tubuh dalam batas normal termoregulasi bayi menjadi 2) Pantau suhu tubuh sampai stabil. seimbang. 3) Pantau warna dan suhu kulit. Kriteria Hasil: 4) Pantau dan laporkan adanya 1) Tanda-tanda vital normal. 2) Hidrasi adekuat dan tidak menggigil. tanda hipotermi dan hipertermi. 5) Tingkatkan keadekuatan masukan cairan dan nutrisi. 3) Gula darah dalam batas normal 6) Tempatkan bayi pada inkubator 4) Kadar bilirubin dalam batas 7) Monitor suhu minimal tiap 2 normal jam. BAB III ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI BBLR 3.1 Definisi Bayi BBLR Bayi berat badan lahir rendah (BBLR) ialah bayi baru lahir yang BB < 2.500 gram (sampai dengan 2.499 gram). BBLR dapt dibagi menjadi 2 golongan : 1. Prematur murni Masa gestasi kurang dari 37 minggu dan BB sesuai dengan berat badan untuk masa gestasi itu atau biasa disebut neonatus kurang bulan sesuai untuk masa kehamilan. 2. Dismaturitas Bayi lahir dengan BB kurang dari BB seharusnya untuk masa gestasi itu, berarti bayi mengalami retardasi pertumbuhan intra uterin dan merupakan bayi yang kecil untuk masa kehamilannya.(Indrasanto, 2008) 3.2 Etiologi Bayi BBLR 1. Faktor Ibu a. Penyakit, penyakit yang berhubungan langsung dengan pasien misalnya perdarahan antepartum, trauma fisik dan psikologis, DM, toksemia gravidarum, dan nefritis akut. b. Usia ibu, angka kejadian prematuritas tertinggi ialah pada usia < 20 tahun, dan multi gravida yang jarak kelahiran terlalu dekat. Kejadian terendah ialah pada usia antara 26-35 tahun. c. Keadaan sosial ekonomi, keadaan ini sangat berperan terhadap timbulnya prematuritas. Kejadian tertinggi teradapat pada golongan social ekonomi rendah. Hal ini disebabkan oleh keadaan gizi yang kurang baik dan pengawasan antenatal yang kurang. Demikian pula kejadian prematuritas pada bayi yang lahir dari perkawinan yang tidak sah, ternyata lebih tinggi bila dibandingakan dengan bayi yang lahir perkawinan yang sah. d. Sebab lain, karena ibu merokok, ibu peminum alkohol dan pecandu obat narkotik. 2. Faktor Janin Faktor janin diantaranya hidramnion, kehamilan ganda dan kelainan kromosom 3. Faktor Lingkungan Faktor lingkungan di antaranya tempat tinggal di dataran tinggi radiasi dan zatzat tertentu.(Suryadi dan Yuliani, 2006 ) 3.3 Klasifikasi BBLR Menurut Ribek dkk. (2011), ada 3 klasifikasi dari berat badan lahir rendah, yakni:  Berat badan lahir rendah sedang yaitu bayi lahir dengan berat badan 1501 sampai 2500 gram.  Berat badan lahir sangat rendah yaitu bayi lahir dengan berat badan kurang dari 1500 gram.  Berat badan lahir sangat rendah sekali yaitu bayi lahir dengan berat badan kurang dari 1000 gram. 3.4 Tanda dan Gejala BBLR Selain memiliki berat badan lahir yang lebih rendah dari bayi normal, bayi BBLR juga akan tampak:  Lebih kurus.  Memiliki lemak tubuh yang lebih sedikit.  Memiliki ukuran kepala yang besar dibanding ukuran tubuh lainnya. Bayi BBLR juga sering dilahirkan secara prematur. Masalah yang umum ditemui pada bayi seperti ini adalah:  Memiliki kadar gula dalam darah yang rendah (hipoglikemia).  Memiliki masalah dalam menyusu.  Memiliki hambatan dalam menaikkan berat badan.  Kesulitan untuk mempertahankan suhu tubuh agar tetap hangat pada temperatur yang normal.  Memiliki terlalu banyak sel darah merah yang membuat darah terlalu kental (polisitemia). 3.5 Patofisiologi BBLR Secara umum bayi BBLR ini berhubungan dengan usia kehamilan yang belum cukup bulan (prematur) disamping itu juga disebabkan dismaturitas. Artinya bayi lahir cukup bulan (usia kehamilan 38 minggu), tapi berat badan (BB) lahirnya lebih kecil ketimbang masa kehamilannya, yaitu tidak mencapai 2.500 gram. Biasanya hal ini terjadi karena adanya gangguan pertumbuhan bayi sewaktu dalam kandungan yang disebabkan oleh penyakit ibu seperti adanya kelainan plasenta, infeksi, hipertensi dan keadaan-keadaan lain yang menyebabkan suplai makanan ke bayi jadi berkurang. Gizi yang baik diperlukan seorang ibu hamil agar pertumbuhan janin tidak mengalami hambatan, dan selanjutnya akan melahirkan bayi dengan berat normal. Dengan kondisi kesehatan yang baik, sistem reproduksi normal, tidak menderita sakit, dan tidak ada gangguan gizi pada masa pra hamil maupun saat hamil, ibu akan melahirkan bayi lebih besar dan lebih sehat daripada ibu dengan kondisi kehamilan yang sebaliknya. Ibu dengan kondisi kurang gizi kronis pada masa hamil sering melahirkan bayi BBLR, vitalitas yang rendah dan kematian yang tinggi, terlebih lagi bila ibu menderita anemia. Sistem pernapasan pada dasarnya cenderung kurang berkembang pada bayi prematur. Kapasitas vital dan kapasitas residual fungsional paru-paru pada dasarnyakecil berkaitan dengan ukuran bayi. Sebagai akibatnya sindrom gawat napas sering merupakan penyebab umum kematian. Masalah besar lainnya pada bayi premature adalah pencernaan dan absorpsi makanan yang inadekuat. Bila prematuritas bayi lebih dari dua bulan, system pencernaan dan absorpsi hampir selalu inadekuat. Absorpsi lemak juga sangat buruk sehingga bayi premature harus menjalani diet rendah lemak. Lebih jauh lagi, bayi premature memiliki kesulitan dalam absorpsi kalsium yang tidak lazim dan oleh karena itu dapat mengalami rikets yang berat sebelum kesulitan tersebut dikenali. Imaturitas organ lain yang sering menyebabkan kesulitan yang berat pada bayi premature meliputi system imun yang menyebabkan daya tahan tubuh terhadap infeksi berkurang karena rendahnya kadar IgG gamma globulin, serta bayi premature relatif belum sanggup membentuk antibody dan daya fagositosis serta reaksi terhadap peradangan masih belum baik sehingga bayi premature beresiko mengalami infeksi, system integumen dimana jaringan kulit masih tipis dan rawan terjadinya lecet, system termoregulasi dimana bayi premature belum mampu mempertahankan suhu tubuh yang normal akibat penguapan yang bertambah karena kurangnya jaringan lemak di bawah kulit dan pusat pengaturan suhu yang belum berfungsi sebagaimana mestinya sehingga beresiko mengalami hipotermi atau kehilangan panas dalam tubuh .(Ngastiyah, 2005) 3.6 Pemeriksaan Penunjang BBLR 1. Pemeriksaan glucose darah terhadap hipoglikemia 2. Pemantauan gas darah sesuai kebutuhan 3. Titer Torch sesuai indikasi 4. Pemeriksaan kromosom sesuai indikasi 5. Pemantauan elektrolit 6. Pemeriksaan sinar X sesuai kebutuhan ( missal : foto thorax ). (Ngastiyah, 2005) 3.7 Komplikasi BBLR Menurut (Potter, 2005) komplikasi pada masa awal bayi berat lahir rendah antara lain Hipotermia, hipoglikemia, gangguan cairan dan elektrolit, hiperbilirubinemia, sindroma gawat nafas (asfiksia), paten suktus arteriosus, infeksi, perdarahan intraventrikuler, apnea of prematuruty dan anemia Adapun komplikasi yang timbul pada masa berikutnya yaitu: gangguan perkembangan, gangguan pertumbuhan, gangguan penglihatan (retionopati), gangguan pendengaran, penyakit paru kronis, kenaikan angka kesakitan dan sering masuk rumah sakit, dan kenaikan frekuensi kelainan bawaan. 3.8 Penatalaksanaan BBLR Menurut Prawirohardjo (2005), penanganan bayi dengan berat badan lahir rendah adalah sebagai berikut : 1. Inkubator Bayi dengan berat badan lahir rendah, dirawat didalam incubator. Prosedur perawatan dapat dilakukan melalui “jendela“ atau “lengan baju“. Sebelum memasukkan bayi kedalam incubator, incubator terlebih dahulu dihangatkan, sampai sekitar 29,4 0 C, untuk bayi dengan berat 1,7 kg dan 32,2 0C untuk bayi yang lebih kecil. Bayi dirawat dalam keadaan telanjang, hal ini memungkinkan pernafasan yang adekuat, bayi dapat bergerak tanpa dibatasi pakaian, observasi terhadap pernafasan lebih mudah. 2. Penanganan bayi Semakin kecil bayi dan semakin premature bayi, maka semakin besar perawatan yang diperlukan, karena kemungkinan terjadi serangan sianosis lebih besar. Semua perawatan bayi harus dilakukan didalam incubator 3. Pelestarian suhu tubuh Bayi dengan berat lahir rendah, mempunyai kesulitan dalam mempertahankan suhu tubuh. Bayi berat rendah harus diasuh dalam suatu suhu lingkungan dimana suhu normal tubuhnya dipertahankan dengan usaha metabolic yang minimal. Bayi berat rendah yang dirawat dalam suatu tempat tidur terbuka, juga memerlukan pengendalian lingkungan secara seksama. Suhu perawatan harus diatas 25 0 C, bagi bayi yang berat sekitar 2000 gram, dan sampai 300 C untuk bayi dengan berat kurang dari 2000 gram 4. Pemberian oksigen Ekspansi paru yang buruk merupakan masalah serius bagi bayi preterm BBLR, akibat tidak adanya alveoli dan surfaktan. Konsentrasi O 2yang diberikan sekitar 3035 % dengan menggunakan head box, konsentrasi o2 yang tinggi dalam masa yang panjang akan menyebabkan kerusakan pada jaringan retina bayi yang dapat menimbulkan kebutaan 5. Pencegahan infeksi Bayi preterm dengan berat rendah, mempunyai system imunologi yang kurang berkembang, ia mempunyai sedikit atau tidak memiliki ketahanan terhadap infeksi. Untuk mencegah infeksi, perawat harus menggunakan gaun khusus, cuci tangan sebelum dan sesudah merawat bayi, memakai masker, gunakan gaun/jas, lepaskan semua asessoris dan tidak boleh masuk kekamar bayi dalam keadaan infeksi dan sakit kulit. 6. Pemberian makanan Pemberian makanan secara dini dianjurkan untuk membantu mencegah terjadinya hipoglikemia dan hiperbillirubin. ASI merupakan pilihan pertama, dapat diberikan melalui kateter ( sonde ), terutama pada bayi yang reflek hisap dan menelannya lemah. Bayi berat lahir rendah secara relative memerlukan lebih banyak kalori, dibandingkan dengan bayi preterm. 7. Petunjuk untuk volume susu yang diperlukan Umur/hari Jmlh ml/kg BB 1 50- 65 2 100 3 125 4 150 5 160 6 175 7 200 14 225 21 175 28 150 3.9 Asuhan Keperawatan Pada Bayi BBLR 1. Pengkajian Fokus a. Sirkulasi : Nadi apikal mungkin cepat dan atau tidak teratur dalam batas normal (120-160 dpm). Mur-mur jantung yang dapat didengar dapat menandakan duktusarteriosus paten (PDA). b. Makanan/cairan Berat badan kurang 2500 (5lb 8 oz). c. Neuroensori Refleks tergantung pada usia gestasi ; rooting terjadi dengan baik pada gestasi minggu 32; koordinasi refleks untuk menghisap, menelan, dan bernafas biasanya terbentuk pada gestasi minggu ke 32; komponen pertama dari refleks Moro(ekstensi lateral dari ekstremitas atas dengan membuka tangan)tampak pada gestasi minggu ke 28; komponen keduaa(fleksi anterior dan menangis yang dapat didengar) tampak pada gestasi minggu ke 32.Pemeriksaan Dubowitz menandakan usia gestasi antara minggu 24 dan 37. d. Pernafasan Skor apgar mungkin rendah. Pernafasan mungkin dangkal, tidak teratur; pernafasan diafragmatik intermiten atau periodic (40-60x/mt). Mengorok, pernafasan cuping hidung, retraksi suprasternal dan substernal, atau berbagai derajat sianosis mungkin ada. Adanya bunyi “ampelas” pada auskultasi, menandakan adaya sindrom distress pernafasan (RDS). e. Keamanan Suhu berfluktuasi dengan mudah. Menangis mungkin lemah. Wajah mungkin memar, mungkin ada kaput suksedoneum. Kulit kemerahan atau tembus pandang, warna mungkin merah. muda/kebiruan, akrosianosis, atau sianosis/pucat. Lanugo terdistribusi secara luas diseluruh tubuh. Ekstremitas mungkin tampak edema. Garis telapak kaki mungkin tidak ada pada semua atau sebagian telapak. Kuku m`ungkin pendek. f. Seksualitas Genetalia : Labia minora wanita mungkin lebih besar dari labia mayora, dengan klitoris menonjol ; testis pria mungkin tidak turun, rugae mungkin banyak atau tidak ada pada skrotum.(IDAI, 2004) 2. Diagnosa Keperawatan a. Ketidakefektifan jalan napas berhubungan dengan penumpukan cairan di rongga paru b. Resiko hipotermi berhubungan dengan jaringan lemak subkotis tipis c. Resiko tinggi infeksi sekunder berhubungan dengan immaturitas fungsi imunologik. d. Resiko tinggi gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan lemahnya daya cerna dan absorbsi makanan.(Ngastiyah, 2005) 3. Intervensi Keperawatan No TUJUAN INTERVENSI . 1. Setelah mendapat tindakan a. Monitor pernafasan (kedalaman, keparawatan 3x24 jam tidak terjadi irama, frekuensi ) gangguan jalan nafas(nafas efektif). b. Atur posisi kepala lebih tinggi Kriteria Hasil : a. Akral hangat b. Tidak ada sianosis c. Tangisan aktif dan kuat d. RR : 30-40x/mt c. Monitor keefektifan jalan nafas, kalau kerlu lakukan suction. d. Lakukan auskultasi bunyi nafas tiap 4 jam e. Perthankan pemberian O2 e. Tidak ada retraksi otot f. Pertahankan bayi pada inkubator pernafasan dengan penghangat g. Kolaborasii untuk X foto thorax 2. Setelah mendapatkan tindakan a. Pertahankan bayi pada inkubator keperawatan 3x24 jam tidak terjadi gangguan hipotermi dengan kehangatan 37oC b. Beri popok dan selimut sesuai Kriteria Hasil : kondisi a. Badan hangat c. Ganti segera popok yang basah b. Suhu : 36,5-37oC oleh urine atau faeces d. Hindarkan untuk sering membuka penutup karena akan menyebabkan fluktuasi suhu dan peningkatan laju metabolisme e. Atur suhu ruangan dengan panas yang stabil 3. Setelah mendapat tindakan a. Monitor tanda-tanda infeksi keperawatan 3x24 jam tidak terjadi (tumor, dolor, rubor, calor, infeksi fungsiolaesa) Kriteria Hasil : b. a. Tidak ada tanda-tanda infeksi (tumor, dolor, rubor, dan sesudah kontak dengan calor, fungsiolaesa) Lakukan cuci tangan sebelum bayi c. b. Suhu tubuh normal (36,5-37oC) Anjurkan kepada ibu bayi untuk memakai jas saat masuk ruang bayi dan sebelum dan/sesudah kontak cuci tangan d. Barikan gizi (ASI/PASI) secara adekuat e. Pastikan alat yang kontak dengan bayi bersih/steril f. Berikan antibiotika sesuai program g. Lakukan perawatan tali pusat setiap hari 4. Setelah tindakan keperawatan 3x24 jam tidak terjadi gangguan nutrisi Kriteria Hasil : a. Diet yang diberikan habis tidak ada residu b. Reflek menghisap dan menelan kuat c. BB meningkat 100 gr/3hr. a. Kaji refleks menghisap dan menelan b. Monitor input dan output c. Berikan minum sesuai program lewat sonde/spin d. Sendawakan bayi sehabis minum e. Timbang BB tiap hari. BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan Prematuritas dan berat lahir rendah biasanya terjadi secara bersamaan, terutama diantara bayi dengan berat 1500 gr atau kurang saat lahir. Keduanya berkaitan dengan terjadinya peningkatan morbilitas dan mortalitas bayi. Problem klinis terjadi lebih sering pada bayi prematur dibandingkan dengan pada bayi lahir normal. Prematuritas menimbulkan imaturitas perkembangan dan fungsi sistem, membatasi kemampuan bayi untuk melakukan koping terhadap masalah penyakit. Bayi prematur dapat bertahan hidup tergantung pada berat badannya, umur kehamilan, dan penyakit atau abnormalitas. Prematur menyumbangkan 75% - 80% angka kesakitan dan kematian neonatus. Bayi prematur adalah bayi yang lahir setelah 24 minggu dan sebelum 37 minggu kehamilan, dengan berat badan 2500 gram atau kurang saat lahir, terlepas dari usia kehamilan tepat atau di bawah 37 minggu (Broker, 2008). Secara patofisiologis menurut Nelson (2010), bayi BBLR ini berhubungan dengan usia kehamilan yang belum cukup bulan (prematur) disamping itu juga disebabkan dismaturitas. Gizi yang baik diperlukan seorang ibu hamil agar pertumbuhan janin tidak mengalami hambatan, dan selanjutnya akan melahirkan bayi dengan berat normal. Dengan kondisi kesehatan yang baik, sistem reproduksi normal, tidak menderita sakit, dan tidak ada gangguan gizi pada masa pra hamil maupun saat hamil, ibu akan melahirkan bayi lebih besar dan lebih sehat daripada ibu dengan kondisi kehamilan yang sebaliknya. Ibu dengan kondisi kurang gizi kronis pada masa hamil sering melahirkan bayi BBLR, vitalitas yang rendah dan kematian yang tinggi, terlebih lagi bila ibu menderita anemia. 4.1 Saran a. Tenaga kesehatan Sebagai tim kesehatan agar lebih bisa meningkatkan pengetahuan tentang BBLR dan bayi prematur dan problem solving yang efektif dan juga sebaiknya kita memberikan informasi atau health education mengenai BBLR dan bayi prematur kepada para orang tua anak yang paling utama. b. Masyarakat Masyarakat sebaiknya mengindari hal-hal yang dapat memicu terjadinya BBLR dan bayi prematur dan meningkatkan pola hidup yang sehat. DAFTAR PUSTAKA Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit (Edisi 2). Jakarta : EGC. Nurarif dan Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan. Diagnosa Medis & Nanda Nic-Noc. Mediaction: Yogyakarta Potter, P. A, Perry, A. G. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses, dan Praktik. Ed.4 Vol.2. Jakarta : EGC. Proverawati, A & Sulistyorini, 2010. BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) Dilengkapi Dengan Asuhan Pada Bblr Dan Pijat Bayi. Nuha Medika: Yogyakarta Rukiyah, Yulianti. 2012. Neonatus Bayi dan Anak Balita. Jakarta: CV. Trans Info MediA. Surasmi, dkk. 2003. Perawatan Bayi Resiko Tinggi. Jakarta: EGC. Suriyadi, Yuliani. 2006. Buku Pegangan Praktik Asuhan Keperawatan Pada Anak (Ed.2) Jakarta : CV. Agung Seto.

Judul: Asuhan Keperawatan Pada Bayi Dengan Prematuritas Dan Bayi Berat Lahir Rendah

Oleh: Amira Qathrinnadaa


Ikuti kami