Analisis Kerjasama Asean China Free Trade Area ( Acfta) Terhadap Perkembangan Ekonomi

Oleh Mita Noer Alvianti

80,4 KB 7 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Analisis Kerjasama Asean China Free Trade Area ( Acfta) Terhadap Perkembangan Ekonomi

Analisis Kerjasama ASEAN China Free Trade Area ( ACFTA) terhadap perkembangan ekonomi Indonesia : Perspektif Liberalisme dalam Hubungan Internasional Mita Noer Alvianti 071811233006 Departemen Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga Esai ini ditulis sebagai tugas akhir mata kuliah Teori Hubungan Internasional (SOH201) ASEAN China Free Trade Area (ACFTA) merupakan kerjasama perdagangan bebas antara negaranegara di kawasan ASEAN dengan China. Pembentukan perdagangan bebas sendiri merupakan akibat dari liberalisasi perdagangan yang tidak dapat dihindari oleh setiap negara-negara di dunia. Negara-negara yang tergabung di dalam kerjasama ini pada umumnya akan saling memberikan prefential treatment atau perlakuan khusus yang lebih menguntungkan dibandingkan dengan perlakuan yang diberikan kepada negara mitra dagang lain yang bukan merupakan anggota. Kerjasama ACFTA dibentuk dengan tujuan agar memberikan kemudahan untuk negara-negara yang tergabung dalam organisasi ini dengan diberlakukanya pengurangan dan penghapusan tarif bead an cukai yang ditandai dengan percepatan aliran barang, jasa, dan investasi. Dalam proses membentuk ACFTA, para kepala negara anggota ASEAN dan China sepakat untuk menandatangani ASEAN - China Comprehensive Economic Cooperation pada tanggal 6 November 2001 di Bandar Sri Begawan, Brunei Darussalam. Sebagai titik awal dari proses pembentukan ACFTA para kepala negara dari kedua pihak yakni China dan Brunai menandatangani Framework Agreement on Comprehensive Economic Cooperation between the ASEAN and People’s Republic of China di Phnom Penh, Kamboja pada tanggal 4 November 2002. Protokol perubahan pertama Framework Agreement kemudian ditandatangani pada tanggal 6 Oktober 2003, di Bali, Indonesia. Kemudian protokol perubahan kedua Framework Agreement ditandatangani pada tanggal 8 Desember 2006. Sebagai salah satu anggota ACFTA Indonesia telah meratifikasi Framework Agreement ASEAN-China FTA melalui Keputusan Presiden Nomor 48 Tahun 2004 tanggal 15 Juni 2004. Setelah negosiasi tuntas, secara formal ACFTA pertama kali diresmikan sejak ditandatanganinya Trade in Goods Agreement dan Dispute Settlement Mechanism Agreement pada tanggal 29 November 2004 di Vientiane, Laos. Kemudian persetujuan Jasa ACFTA ditandatangani pada pertemuan ke-12 KTT ASEAN di Cebu, Filipina, pada bulan Januari 2007. Sedangkan penandatanganan Persetujuan Investasi ASEAN China dilaksanakan pada saat pertemuan ke-41 Tingkat Menteri Ekonomi ASEAN tanggal 15 Agustus 2009 di Bangkok, Thailand. Dalam perjanjian kerjasama ACFTA telah disepakati untuk dilakukan penurunan tarif bead an cukai secara penuh pada tahun 2010 bagi 6 negara anggota ASEAN (Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina, dan Brunei Darussalam) bersama China. Kemudian pada tahun 2015 dilaksanakan pula penurunan tarif bea dan cukai secara penuh untuk negara Kamboja, Laos, Myanmar, dan Vietnam. Kerjasama ACFTA memberikan dampak diantaranya adalah dampak positif maupun negatif. Dampak positif dari kerjasama ini adalah adanya pemberian kemudahan kepada Indonesia untuk meningkatkan nilai ekspor karena adanya pengurangan dan penghapusan tarif bead an cukai. Namun dampak negatif lainnya adalah banyaknya produk impor yang sejenis dengan produk lokal yang mulai beredar di pasar domestik yang kemudian justru menarik minat dari warga lokal karena kualitas dan harga yang ditawarkan jauh berbeda dengan yang ditawarkan oleh produsen dalam negeri salah satu contohnya adalah produk tekstil bermotif batik dari China. Salah satu produk tekstil yang menjadi produk unggulan Indonesia adalah batik. Batik diakui sebagai warisan budaya Indonesia oleh The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada tanggal 2 Oktober 2009. Pengakuan dari UNESCO mengenai batik sebagai warisan budaya Indonesia menjadikan salah satu langkah yang strategis untuk mempromosikan batik hingga dunia internasional sebagai ciri khas dan budaya indonesia. Selain itu batik memiliki fungsi ekonomi yang sangat penting bagi Indonesia terutama bagi para perajin batik dimana batik bisa menjadi sumber mata pencaharian, serta dapat menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia, dan batik yang diekspor ke berbagai negara juga akan menambah devisa negara. Dari data Kemenperin, ekspor batik pada tahun 2015 sebesar USD 156 juta atau setara dengan Rp. 2,1 triliun, naik 10 % dari tahun 2014. Pada tahun 2010 nilai ekspor batik hanya berkisar USD 22 juta. Namun, berbagai produk dari China kini mulai banyak beredar di pasar Indonesia dengan harga yang relatif lebih murah dibanding dengan produk lokal. Harga yang murah juga akan lebih disukai oleh masyarakat Indonesia yang kurang memperhatikan kualitas produk karena lebih mementingkan harga produk yang lebih murah. Hal ini secara perlahan membuat produk lokal akan terus disaingi produk dari China. Hal ini dapat mengakibatkan tergesernya produk-produk lokal oleh adanya produk china yang semakin banyak dan menyebar luas. Dari segi teknologi memang Indonesia sangat jauh jika dibandingkan dengan china. Indonesia menilai bahwa adanya kerjasama dengan china ini dapat memperoleh keuntungan yang sangat banyak akan tetapi, sebenarnya justru kerugian yang dirasakan oleh masyarakat Indonesia lebih besar seiring berjalanya kerjasama ini. Kerugian-kerugian tersebut adalah seperti para pekerja batik kehilangan pekerjaanya dikarenakan produk yang dijual kalah saing dengan produk yang ditawarkan oleh china. Bahkan tidak sedikit toko-toko batik yang gulung tikar karena sepi peminat. Kerjasama ASEAN China Free Trade Area akan memberikan dampak yang buruk terhadap produk batik Indonesia. Namun setelah dilakukan analisis dengan data yang didapatkan, kerjasama ACFTA ini memberikan tidak hanya memberikna kerugian bag bangsa Indonesia tetapi juga memberikan manfaat bagi Indonesia yakni dengan meningkatnya nilai ekspor batik Indonesia ke negara ASEAN maupun ke negara China. Untuk itu Indonesia harus terus dapat memanfaatkan kerjasama ini agar dapat memperoleh keuntungan yang maksimal. Setelah batik secara resmi diakui sebagai salah satu warisan budaya Indonesia oleh The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada 2 Oktober 2009 tentunya kini menjadi nilai lebih bagi kepercayaan diri produsen batik Indonesia untuk bersaing dengan negara-negara yang juga mampu memproduksi batik yang sebenarnya tidak lebih baik dari buatan indonesia. Hal ini dikarenakan batik sendiri memang berasal pertama kali dan dibuat di Indonesia sehingga kualitas batik dari Indonesia akan sangat mudah menyaingi produk batik lain meskipun harga yang ditawarkan oleh produsen Indonesia cenderung tinggi. Dalam mempertahankan daya saing batik Indonesia berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah Indonesia yaitu, kebijakan pembatasan impor batik dari negara-negara luar supaya masyarakat Indonesia lebih mencintai dan menggunakan batik produksi dalam negeri. Melakukan penguatan identitas batik Indonesia melalui Batikmark serta pemberdayaan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang diharapkan bisa menjadi bekal bagi sumber daya manusia Indonesikedepan untuk terus mengembangkan dan memproduksi batik sehingga warisan budaya dapat dilestarikan dan menjadi nilai tambah ekonomi. Perspektif yang digunakan dalam analisis ini adalah perspektif liberalisme. Perspektif liberalisme didasarkan pada asumsi bahwa manusia pada hakikatnya merupakan makhluk yang tidak suka konflik, mau bekerja sama, dan rasional. Kaum liberal menganggap pasar sebagai mekanisme paling tepat dalam pemenuhan kebutuhan manusia, karena disana manusia bebas untuk berinteraksi (membeli dan menjual) atas inisiatif mereka sendiri. Asumsi-asumsi dasar yang mendasari perspektif ini adalah (1) pandangan positif tentang sifat manusia; (2) keyakinan bahwa hubungan internasional dapat bersifat kooperatif daripada konfliktual; (3) percaya terhadap kemajuan (Jackson & Sorensen, 1999). Dengan demikian dalam aktivitas perdagangan bebas yang lintas batas, setiap negara akan memperoleh keuntungan yang maksimal melalui efisiensi, dan kesejahteraan global akan meningkat(Jackson & Sorenson, 1999). Dalam analisis ini konsep yang digunakan adalah unit analisa nation-state (negara-bangsa). Tingkat analisa ini memiliki asumsi bahwa semua pembuat keputusan, dimanapun berada, pada dasarnya akan berperilaku sama apabila menghadapi situasi yang sama. Sehingga, dalam hubungan internasional lebih dicerminkan oleh perilaku negara-bangsa( Steans et all, 2009). Level analisis ini berkaitan dengan judul penelitian karena aktor yang bertindak adalah negara dan kelompok negara-negara yang bergabung di dalama kerjasama ACFTA. Daftar pustaka Buku : Jackson, Robert. Sorensen, Georg. 1999. Introduction to International Relations. Oxford University Press. Stean, Jill. Lioyd Pettiford. 2009. Hubungan Internasional: Perspektif dan Tema. [terj.]. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Jurnal : Sigit Setiawan. 2012. ASEAN-China FTA: The Impacts on The Exports of Indonesia and China. Vol 6. No. 2. Website : “ASEAN-China Free Trade Area” https://www.google.co.id/url?s a=t&rct=j&q=&esrc=s&source =web&cd=9&cad=rja&uact=8 &ved=0ahUKEwiv0uP0gNfTA hULLY8KHWzvDpIQFghiMA g&url=http %3A%2F%2Fwww .kemendag.go.id%2Ffiles%2Fp df%2F2012%2F12%2F21%2F asean-china-fta-id01356076310.pdf&usg=AFQjC NGVqTPvlBd0eo4RVvo6Gqc v1iJnLw&sig2=XvyaveptYnrv XGCHXXq9Eg.pdf http://kemenperin.go.id/jawaban/php?i d=30020-84636 Daniel E Syauta dan Asniar. “Pengaruh ASEAN- China Free Trade Area ( ACFTA ) Terhadap Bisnis Indonesia dan Internasional”. Tersedia di https://www.google.co.id/url?s a=t&rct=j&q=&esrc=s&source =web&cd=8&cad=rja&uact=8 &ved=0ahUKEwiY0vT_5NbR AhWGro8KHfoNA6QQFghJM Ac&url=http %3A%2F%2Fdan iel36e.blogstudent.mb.ipb.ac.id terhadapIndonesia-danInternasional.pdf&usg=AFQjC %2Ffiles%2F2011%2F08%2F Pengarug-ACFTA- NEC1r4UWGOBTCsj96VmcA _HPIYdHw&sig2=OljBvIfFX Wk9QSjlrOmEnw&bvm=bv.1 44224172,d.c2I

Judul: Analisis Kerjasama Asean China Free Trade Area ( Acfta) Terhadap Perkembangan Ekonomi

Oleh: Mita Noer Alvianti


Ikuti kami