Paper Sosiologi Pertanian " Rintangan-rintangan Mental Dalam Pembangunan Ekonomi Di Indonesia "

Oleh Dyah Arum Purwaningtyas

196,7 KB 7 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Paper Sosiologi Pertanian " Rintangan-rintangan Mental Dalam Pembangunan Ekonomi Di Indonesia "

PAPER SOSIOLOGI PERTANIAN “RINTANGAN-RINTANGAN MENTAL DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI DI INDONESIA” Disusun oleh : KELOMPOK 2 Restu Nurwanto Hamida Dwi Andini Mohammad Jauharul Azmi Dyah Arum Purwaningtyas Indah Nur Adviani Berliananda Maranditya 135040201111006 155040200111040 155040201111001 155040201111168 155040201111286 155040207111122 UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS PERTANIAN MALANG 2016 Pendahuluan Sistem Nilai Budaya itu merupakan suatu rangkaian dari konsepsi-konsepsi abstrak yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar dari warga suatu masyarakat, mengenai apa yang harus dianggap penting dan berharga, tetapi juga mengenai apa yang dianggap remeh dan tak berharga dalam hidup. Dengan demikian sistem nilai budaya itu juga berfungsi sebagai suatu pedoman tapi juga sebagai pendorong kelakuan manusia dalam hidup, sehingga berfungsi juga sebagai suatu sistem tata kelakuan; malahan sebagai salah satu sistem tata kelakuan yang tertinggi di antara yang lain, seperti hukum adat, aturan sopan santun dan sebagainya. Biasanya suatu sistem nilai budaya yang tertentu telah berkembang sejak lama, mencapai suatu kemantapan dan hidup langsung dari angkatan ke angkatan. Di dalam fungsinya sebagai pedoman kelakuan dan tata kelakuan, maka sama halnya dengan hukum misalnya, suatu sistem nilai budaya itu seolah-olah berada di luar dan di atas diri individu dalam masyarakat yang bersangkutan. Pada individu sejak kecil telah diresapi dengan nilainilai budaya dari masyarakatnya, sehingga konsepsi-konsepsi itu telah menjadi berakar dalam mentalitet mereka dan sukar untuk diganti dengan nilai-nilai budaya yang lain dalam waktu yang singkat. Sedangkan sikap merupakan kecondongan yang berasal dari dalam diri si individu untuk berkelakuan dengan suatu pola tertentu, terhadap suatu obyek berupa manusia, hewan atau benda, akibat pendirian dan perasaannya terhadap obyek tersebut. Berbeda dengan nilaibudaya yang seolah-olah berada di luar dan di atas si individu itu sendiri. Suatu sikap terhadap suatu obyek itu, bisa juga dipengaruhi oleh unsur-unsur nilai budaya, artinya pendirian dan perasaan orang terhadap suatu pekerjaan, terhadap manusia lain, terhadap hewan atau benda yang dihadapinya itu, bisa ditentukan oleh cara pandangan umum dalam masyarakatnya menilai obyek tersebut. Suatu contoh dari sikap yang bisa merintangi pembangunan ekonomi adalah misalnya sikap segan terhadap tiap-tiap tugas yang membutuhkan bekerja dengan tangan, oleh mudamudi yang sudah mendapat pendidikan sekolah; dan karena itu lebih suka untuk bekerja sebagai pegawai di belakang meja tulis saja. Mendefinisikan Faktor-Faktor Mental 1. Sistem Nilai Budaya dan Sikap Faktor-faktor mental adalah pengetahuan mengenai sistem nilai budaya atau cultural value system dan mengenai sikap atau attitudes. Kedua hal itu menyebabkan timbulnya pola-pola cara berfikir tertentu pada warga suatu masyarakat dan sebaliknya pola-pola cara berpikir inilah yang mempengaruhi tindakan-tindakan dan kelakuan mereka, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam hal membuat keputusan-keputusan yang penting dalam hidup. 2. Kerangka untuk Menuju Sistem Nilai Budaya Kluckhohn dalam Pelly (1994) mengemukakan bahwa nilai budaya merupakan sebuah konsep beruanglingkup luas yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar warga suatu masyarakat, mengenai apa yang paling berharga dalam hidup. Rangkaian konsep itu satu sama lain saling berkaitan dan merupakan sebuah sistem nilai – nilai budaya. Secara fungsional sistem nilai ini mendorong individu untuk berperilaku seperti apa yang ditentukan. Mereka percaya, bahwa hanya dengan berperilaku seperti itu mereka akan berhasil (Kahl, dalam Pelly:1994). Sistem nilai itu menjadi pedoman yang melekat erat secara emosional pada diri seseorang atau sekumpulan orang, malah merupakan tujuan hidup yang diperjuangkan. Oleh karena itu, merubah sistem nilai manusia tidaklah mudah, dibutuhkan waktu. Sebab, nilai–nilai tersebut merupakan wujud ideal dari lingkungan sosialnya. Dapat pula dikatakan bahwa sistem nilai budaya suatu masyarakat merupakan wujud konsepsional dari kebudayaan mereka, yang seolah – olah berada diluar dan di atas para individu warga masyarakat itu. Menurut F.R. Kluckhon dan ahli sosiologi F.L. Strodtbeck dalam buku Variation in Value Orientation (1961) kerangka untuk menuju sistem nilai budaya berpangkal kepada lima masalah pokok dalam kehidupan manusia yang bersifat universal, yakni : 1. Masalah mengenai hakikat dan sifat hidup manusia 2. Masalah mengenai hakikat dari karya manusia 3. Masalah mengenai hakikat dari kedudukan manusia daiam ruang waktu. 4. Masalah mengenai hakikat dari hubungan manusia dengan alam sekitarnya. 5. Masalah mengenai hakikat dari hubungan manusia dengan sesamanya. Berbagai kebudayaan mengkonsepsikan masalah universal ini dengan berbagai variasi yang berbeda – beda. Inti permasalahan disini seperti yang dikemukakan oleh Manan dalam Pelly (1994) adalah siapa yang harus mengambil keputusan. Sebaiknya dalam system hubungan vertikal keputusan dibuat oleh atasan (senior) untuk semua orang. Tetapi dalam masyarakat yang mementingkan kemandirian individual, maka keputusan dibuat dan diarahkan kepada masing – masing individu. Pola orientasi nilai budaya yang hitam putih tersebut di atas merupakan pola yang ideal untuk masing – masing pihak. Dalam kenyataannya terdapat nuansa atau variasi antara kedua pola yang ekstrim itu yang dapat disebut sebagai pola transisional. Kerangka Kluckhohn mengenai lima masalah dasar dalam hidup yang menentukan orientasi nilai budaya manusia dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Skema Kluckhohn: Lima Masalah Dasar Yang Menentukan Orientasi Nilai Budaya Manusia Masalah Dasar Dalam Hidup Orientasi Nilai Budaya Konservatif Transisi Progresif Hakekat dan sifat hidup Hidup itu Hidup itu baik Hidup itu sukar buruk tetapi harus Hidup itu buruk diperbaiki Hakekat karya Hakekat kedudukan dalam ruang Hakekat hubungan dengan alam Hakekat hubungan dengan manusia Karya itu Karya itu untuk Karya itu untuk untuk hidup kedudukan menambah karya manusia Masa lalu Masa kini Masa depan manusia Tunduk terhadap alam manusia Memandang tikoh-tokoh atasan Mencari keselaras dengan alam Mementingkan rasa ketergantungan kepada sesamanya (berjiwa gotong royong) Menguasai alam Mementingkan tidak tergantung kepada sesamanya (berjiwa individualis) Meskipun cara mengkonsepsikan lima masalah pokok dalam kehidupan manusia yang universal itu sebagaimana yang tersebut diatas berbeda – beda untuk tiap masyarakat dan kebudayaan, namun dalam tiap lingkungan masyarakat dan kebudayaan tersebut lima hal tersebut di atas selalu ada. Kerangka Kluckhohn itu juga telah dipergunakan dalam penelitian dengan kuesioner untuk mengetahui secara objektif cara berfikir dan bertindak suku – suku di Indonesia umumnya yang menguntungkan dan merugikan pembangunan. Selain itu juga, penelitian variasi orientasi nilai budaya tersebut dimaksudkan disamping untuk mendapatkan gambaran sistem nilai budaya kelompok – kelompok etnik di Indonesia, tetapi juga untuk menelusuri sejauhmana kelompok masyarakat itu memiliki system orientasi nilai budaya yang sesuai dan menopang pelaksanaan pembangunan nasional. 3. Ciri-ciri Mental Manusia Indonesia Asli Karena sebagian besar dari rakyat Indonesia adalah rakyat petani sejak berabad-abad lamanya, maka tak mengherankan bahwa cara berpikir yang paling asli itu adalah seperti cara berpikir rakyat petani. Serupa beberapa ahli antropologi, terutama R. Redfield, kami mengganggap petani atau peasant itu, rakyat pedesaan, yang hidup dari pertanian dengan teknologi lama, tetapi yang merasakan diri bagian bawah dari suatu kebudayaan yang lebih besar, dengan suatu bagian atas yang dianggap lebih halus dan beradab di dalam masyarakat kota. Sistem ekonomi dalam masyarakat petani itu berdasarkan pertanian (bercocok tanam, peternakan, atau perikanan) yang menghasilkan pangan dengan teknologi yang sederhana dan dengan kesatuan-kesatuan produksi yang tidak berspesialisasi. Adapun watak dari petani yang hidup dalam masyarakat pedesaan itu, menurut para ahli dari abad ke-19 yang lalu, dijiwai oleh maksud serba rela, atau wesenwille dalam pergaulan (Tonnies, 1887); sedangkan menurut ahli seperti Boeke, orang petani tidak suka bekerja, bersifat statis, tak mempunyai inisiatif, dan hanya suka membebek saja kepada orang-orang tinggi dari kota. Sementara itu Menurut Koentjaraningrat (1994) Faktor mental bangsa sangat mempengaruhi keberhasilan pembangunan, ciri mental manusia Indonesia dapat dibagi dalam 3 golongan, yaitu: 1. Ciri mental Asli (ciri mental petani) 2. Ciri mental yang berkembang sejak zaman penjajahan ( cirri mental priyayi) 3. Ciri mental yang berkembang sejak Perang Dunia II Menurut sarjana tersebut mentalitas bangsa Indonesia belum memiliki mentalitas yang cocok untuk pembangunan. Oleh karena itu tiga ciri mentalitas di atas harus ditinggalkan dan diganti ciri mental baru yang dikemukakan oleh J. Tinbergen. Bangsa yang ingin maju harus memiliki sifat-sifat: 1. Menaruh perhatian besar dan menilai suatu benda 2. Menilai tinggi tekonologi dan berusaha untuk menguasainya 3. Berorientasi ke masa depan yang lebih cerah 4. Berani mengambil resiko 5. Mempunyai jiwa yang tabah dalam usaha 6. Mampu bekerjasama dengan sesamanya secara berdisiplin dan bertanggung jawab. Dengan memperhatikan kedua sarjana tersebut, maka dapat disimpulkan jika bangsa Indonesia ingin maju maka ciri mental yang lama harus ditinggalkan dan diganti dengan cirri mental yang cocok namun tatap memiliki kepribadian bangsa telah menerapkan kerangka Kluckhohn di atas untuk menganalisis masalah nilai budaya bangsa Indonesia, dan menunjukkan titik-titik kelemahan dari kebudayaan Indonesia yang menghambat pembangunan nasional (Lemhanas, 1988: 101). Kelemahan utama antara lain mentalitas meremehkan mutu, mentalitas suka menerabas, sifat tidak percaya kepada diri sendiri, sifat tidak berdisiplin murni, mentalitas suka mengabaikan tanggung jawab. Hakikat hidup Mentalitas yang beranggapan bahwa hidup pada hakikatnya buruk tetapi untuk di ikhtiarkan menjadi hal yang menyenangkan, adalah hal yang cocok untuk pembangunan. Karena pandangan seperti itu merupakan sendi-sendi penting dalam segala aktivitas berproduksi dan membangun. Contoh dalam masalah pertama, yaitu mengenai hakekat dan sifat hidup dalam banyak kebudayaan yang dipengaruhi oleh agama Budha misalnya, menganggap hidup itu buruk dan menyedihkan. Oleh karena itu pola kehidupan masyarakatnya berusaha untuk memadamkan hidup itu guna mendapatkan nirwana, dan mengenyampingkan segala tindakan yang dapat menambah rangkaian hidup kembali (Koentjaraningrat, 1986). Pandangan seperti ini sangat mempengaruhi wawasan dan makna kehidupan itu secara keseluruhan. Sebaliknya banyak kebudayaan yang berpendapat bahwa hidup itu baik. Tentu konsep – konsep kebudayaan yang berbeda ini berpengaruh pula pada sikap dan wawasan mereka. Hakikat karya Nilai budaya yang menganggap bahwa manusia hidup hanya untuk bekerja saja, tidak cocok untuk pembangunan ekonomi. Karena orang dengan pandangan seperti itu akan bekerja keras sampai mendapatkan hasil yang dibutuhkannya untuk hidup. Sementara kebutuhan untuk kerja lebih lanjut untuk bisa menghasilkan lebih banyak lagi, tidak akan ada. Mentalitas yang cocok untuk pembangunan harus mengandung pandangan yang menilai tinggi karya untuk mencapai kedudukan yang dapat menghasilkan lebih banyak kerja lagi. Suatu pan dangan serupa itu, akan memberi dorongan kepada individu untuk selalu mengembangkan karyanya tanpa batas. Contoh dalam masalah kedua mengenai hakekat karya ada kebudayaan yang memandang bahwa kerja itu sebagai usaha untuk kelangsungan hidup (survive) semata. Kelompok ini kurang tertarik kepada kerja keras. Akan tetapi ada juga yang menganggap kerja untuk mendapatkan status, jabatan dan kehormatan. Namun, ada yang berpendapat bahwa kerja untuk mempertinggi prestasi. Mereka ini berorientasi kepada prestasi bukan kepada status. Hakikat kedudukan manusia dalam ruang dan waktu Mentalitas yang hanya berorientasi pada hari sekarang tidak cocok untuk pembangunan. Karena pembangunan hendak berhasil baik dan sebenranya tiap usaha ekonomi membutuhkan kemampuan untuk merencanakan itu, tidak lain dari suatu kemampuan untuk melihat setajam mungkin. Orientasi hari kedepan juga memberikan pandangan luas, yang merupakan salah satu motif dan silkap suka menghemat, mememlihara dan berhati-hati pada peralatan. Contohnya pada masalah ketiga yang mengenai hakekat kedudukan manusia dalam ruang. Ada budaya yang memandang penting masa lampau, tetapi ada yang melihat masa kini sebagai fokus usaha dalam perjuangannya. Sebaliknya ada yang jauh melihat kedepan. Pandangan yang berbeda dalam dimensi waktu ini sangat mempengaruhi perencanaan hidup masyarakatnya. Hakikat hubungan manusia dengan alam Mentalitas yang mencari keselarasan dengan alam, secara tidak langsung menghambat pembangunan ekonomi, maka memerlukan perubahan mendesak. Mentalitas yang paling cocoka dalah mentalitas yang berusaha menguasai alam karena mentalitas ini mereupakan pangkal dari semua inovasi dan kemajuan teknologi. Contoh pada masalah keempat berkaitan dengan hakekat hubungan manusia dengan alam ialah ada kepercaya bahwa alam itu dahsyat dan mengenai kehidupan manusia. Sebaliknya ada yang menganggap alam sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa untuk dikuasai manusia. Akan tetapi, ada juga kebudayaan ingin mencari harmoni dan keselarasan dengan alam. Cara pandang ini akan berpengaruh terhadap pola aktivitas masyarakatnya. Hakikat hubungan manusia dengan sesamanya Hakikat ini mengandung 3 pokok pikiran utama, yaitu: 1. Saling membutuhkan orang lain. Tema pemikiran yang pertama tidak bersifat menghambat pembangunan. Mereka dapat bekerjasama dalam pembangunan. 2. Siap membantu sesama. Pandangan ini memiliki paling sedikit dua macam dalam pranata sosial yaitu sistem tolong menolong dan kerja bakti. Sistem kerjabakti dalam hubungan dengan pembangunan ekonomi dapat dikatakan bahwa sistem itu dapat berguna dalam tahaptahap pendahuluan. Namun jika dalam bidang pertanian, tolong menolong akan menghambat pembangunan ekonomi karena adanya metode pengerahan tenaga yang mempunyai banyak segi negatif dengan tingkat pertambahan penduduk yang tinggi. 3.Orang tersebut harus bersifat conform. Pemikiran ini tidak cocok untuk pembangunan karena tidak memberikan perangsang untuk kemajuan. Karena orang yang bisa menghasilkan prestasi yang lebih dari yang lain, malah dicela. Padahal prestasi yang besar merupakan sendi dari pembangunan dan kemajuan. Contoh pada masalah kelima menyangkut hakekat hubungan manusia dengan manusia. Dalam banyak kebudayaan hubungan ini tampak dalam bentuk orientasi berfikir, cara bermusyawarah, mengambil keputusan dan bertindak. Kebudayaan yang menekankan hubungan horizontal (koleteral) antar individu, cenderung untuk mementingkan hak azasi, kemerdekaan dan kemandirian seperti terlihat dalam masyarakat – masyarakat eligaterian. Sebaliknya kebudayaan yang menekankan hubungan vertical cenderung untuk mengembangkan orientasi keatas (kepada senioritas, penguasa atau pemimpin). Orientasi ini banyak terdapat dalam masyarakat paternalistic (kebapaan). Tentu saja pandangan ini sangat mempengaruhi proses dinamika dan mobilitas social masyarakatnya. Kesimpulan Sistem nilai budaya merupakan serangkaian dari konsepsi-konsepsi abstrak yang hidup dalam alam pikiran manusia. Nilai budaya ini akan menjadi pedoman bagi manusia untuk menjalankan kegiatannnya sehari-hari. Nilai budaya mempunyai peran dalam pembangunan ekonomi di Indonesia. Dalam hal ini, perilaku dan sifat manusia akan menghasilkan pemikiran-pemikiran yang mempengaruhi pembangunan ekonomi. Terdapat lima masalah hidup yang menentukan orientasi nilai budaya manusia, antara lain hakikat dan sifat hidup manusia, hakikat karya, hakikat kedudukan manusia dalam ruang, hakikat hubungan manusia dengan alam, dan hakikat hubungan manusia dengan manusia. Hal-hal tersebut yang dapat menciptakan nilai budaya sehingga mempengaruhi keseluruhan sistem sosial termasuk aspek ekonomi. DAFTAR PUSTAKA Koentjaraningrat. 1994. Kebudayaan, Mentalitas dan Peembangunan. Jakarta : PT.Gramedia. Kluckhohn,C. 1961. Universal Categories of Culture Antropology Today, AL. Chichago : University Press. Lemhanas. 1988. Pengembangan Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: UGM Press. Pelly, Usman. 1994. Teori-Teori Sosial Budaya, Proyek Pembinaan dan Peningkatan Mutu Tenaga Kependidikan. Jakarta : Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dan Kebudayaan. Tonnies , Jerman Ferdinand.1887.Community and Society.Jerman:University of Kiel Press.

Judul: Paper Sosiologi Pertanian " Rintangan-rintangan Mental Dalam Pembangunan Ekonomi Di Indonesia "

Oleh: Dyah Arum Purwaningtyas


Ikuti kami