Asuhan Keperawatan Lanjut Usia Gangguan Sistem Respirasi (ppok) Di Era Pandemi Covid-

Oleh Lilik Pranata

532,7 KB 9 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Asuhan Keperawatan Lanjut Usia Gangguan Sistem Respirasi (ppok) Di Era Pandemi Covid-

ASUHAN KEPERAWATAN LANJUT USIA GANGGUAN SISTEM RESPIRASI “PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK” DENGAN INTERVENSI “PURSHED LIP BREATHING” DI ERA PANDEMI COVID-19 Oleh : NOPITA SARI PANJAITAN 1935007 PEMBIMBING : NS. LILIK PRANATA, S.KEP.,M.KES PROGRAM STUDI PROFESI NERS FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS KATOLIK MUSI CHARITAS PALEMBANG 2020 KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan dengan judul Asuhan Keperawatan Lanjut Usia Gangguan Sistem Respirasi “Penyakit Paru Obstruktif Kronik” Dengan Intervensi “Purshed Lip Breathing” di Era Pandemi COVID-19. Adapun tujuan dari penulisan Asuhan Keperawatan Gerontik ini adalah sebagai laporan praktik profesi ners melalui perkuliahan daring dikarenakan COVID-19. Untuk itu penulis mengucapkan terimakasih kepada yang terhormat: 1. Slamet Santoso Sarwono, MBA., DBA., selaku Rektor Universitas Katolik Musi Charitas Palembang. 2. Maria Nur Aeni, S.K.M., M.Kes selaku Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Musi Charitas Palembang. 3. Ns. Bangun Dwi Hardika, S.Kep., M.K.M., selaku Ketua Prodi Ilmu Keperawatan dan Ners Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Musi Charitas Palembang. 4. Ns. Lilik Pranata, M.Kes., selaku Pembimbing pada Stase Keperawatan Gerontik yang sabar membimbing, membantu, mendidik, meluangkan waktu, tenaga serta pikiran untuk memberikan saran yang membangun kepada penulis dalam menyelesaikan laporan Asuhan Keperawatan Gerontik ini. 5. Teman-teman angkatan 2019 Program Studi Profesi Ners Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Musi Charitas Palembang. Dalam penyusunan Laporan Asuhan Keperawatan Gerontik ini, Penulis menyadari masih terdapat banyak kekurangan, baik dari segi isi maupun cara penulisan. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk perbaikan dimasa mendatang. Akhir kata, penulis mengharapkan semoga Laporan Asuhan Keperawatan Gerontik ini dapat bermanfaat bagi pembaca, khususnya mahasiwa/i Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Musi Charitas Palembang. Palembang, Juni 2020 Penulis i DAFTAR ISI Cover Luar ....................................................................................................... Kata Pengantar ................................................................................................. Daftar Isi........................................................................................................... i ii iii BAB I PENDAHULUAN ............................................................................. A. Latar Belakang .............................................................................. B. Tujuan Penulisan ........................................................................... C. Manfaat Penulisan ......................................................................... 1 1 3 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................... A. Konsep Dasar Lanjut Usia............................................................. 1. Pengertian Lanjut Usia ............................................................. 2. Proses Menua............................................................................ 3. Batasan Lansia .......................................................................... 4. Perubahan Pada Lansia ............................................................. 5. Tugas Perkembangan Lansia .................................................... 6. Peran Perawat Gerontik ............................................................ 5 5 5 6 7 8 9 15 B. Korelasi Lansia dengan Penyakit Covid-19 .................................. 1. Korelasi..................................................................................... 2. Penatalaksanaan ........................................................................ 22 22 23 C. Konsep Asuhan Keperawatan Penyakit Paru Obstruksi Kronik ... 1. Pengertian PPOK ...................................................................... 2. pengkajian................................................................................. 3. Diagnosis .................................................................................. 4. Intervensi .................................................................................. 5. Implementasi ............................................................................ 6. Evaluasi .................................................................................... 24 24 25 25 26 27 27 BAB III PENUTUP ........................................................................................ A. Kesimpulan.................................................................................... B. Saran .............................................................................................. 28 28 28 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 29 ii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Proses menua (Aging Process) merupakan proses alamiah yang berlanjut atau terus-menerus dimulai sejak lahir yang dialami oleh setiap makhluk hidup (Muhith and Siyoto, 2016, p. 17). Menua atau menjadi tua bukanlah suatu penyakit, melainkan proses berkurangnya daya tahan dalam menghadapi rangsangan dari dalam maupun luar tubuh (Azizah, 2011, p. 7). Proses menua menyebabkan terjadinya perubahan struktural pada tubuh salah satunya pada sistem respirasi yang berpengaruh terhadap jumlah aliran udara yang mengalir dari dan kedalam paru, otot abdomen yang melemah menurunkan usaha nafas saat inspirasi dan ekspirasi (Dewi, 2014, p. 38). Pada lansia terjadi perubahan fisiologis pada sistem pernapasan yang menyebabkan frekuensi pernapasannya menjadi meningkat. Menurunnya kapasitas vital paru, recoil paru dan kekuatan otot dinding dada yang menjadi penyebab meningkatnya frekuensi napas normal menjadi 1624 kali permenit (Miller, 2012). Kasus gangguan pernapasan yang paling banyak ditemui pada lansia adalah Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) dengan penyebab utama rokok dan polutan lainnya. Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) dapat menyebabkan batuk disertai wheezing/mengi yang berkepanjangan. Wheezing merupakan bunyi siulan bernada tinggi akibat aliran udara yang melalui saluran nafas yang sempit, yang terjadi saat ekspirasi. Wheezing sering ditemukan saat latihan pada pasien PPOK dan juga muncul ketika terbangun dipagi hari. Lansia laki-laki lebih berisiko mengalami PPOK karena laki-laki sebanyak 64% merupakan perokok sedangkan perempuan 4,5%. PPOK ini merupakan salah satu gejala dari penyakit pernapasan yang tinggi di Indonesia (Kemenkes RI, 2013, p. 96). 1 2 Penduduk lansia di Indonesia menduduki peringkat ke -4 terbesar setelah Cina, India dan Amerika Serikat (Muhith and Siyoto, 2016, p. 42). Pada tahun 2017 mencapai 23,66 juta jiwa (9,03%), diprediksi tahun 2020 Indonesia memasuki ageing population ditandai dengan persentase lansia yang akan mencapai 10% (Kemenkes, RI, 20) akan meningkat menjadi 27,08 juta jiwa dan pada tahun 2025 diprediksi mencapai 33,69 juta jiwa (Kemenkes RI, 2013, p. 1). Provinsi Sumatera Selatan menduduki peringkat ke 14 dengan jumlah penduduk mencapai 7,47% (Pusdatin, 2015, p. 3). Pravalensi PPOK terus meningkat setiap tahunnya. Menurut Permenkes RI, 2016 PPOK dialami pada usia >60 tahun yaitu sebanyak 1.809 lansia di Indonesia.PPOK yang terjadi pada lansia jika tidak mendapat penanganan dengan tepat akan mempengaruhi pernapasan pada lansia yaitu mengakibatkan perubahan fisiologi pernapasan pada lansia dan mengakibatkan kerusakan pada alveolar sehingga menyebabkan gangguan pada proses oksigenisasi anggota seluruh tubuh pada lansia. Penanganan PPOK yang dialami lansia dapat dilakukan dengan terapi farmakologi ataupun dengan non farmakologi (Potter and Perry, 2010, p. 245). Terapi farmakologi adalah tindakan pemberian terapi nebulizer yang merupakan pemberian obat secara langsung kedalam saluran nafas melalui penghisapan untuk meningkatkan saturasi oksigen dalam darah dan penurunan frekuensi pernapasan serta perubahan pola nafas dari rhonci/wheezing menjadi vesikuler. Salah satu upaya pencegahan dan mengurangi gejala yang timbul pada PPOK yaitu dengan pengobatan nonfarmakologis melalui edukasi dan latihan pernapasan salah satunya yaitu Pursed Lip Breathing Exercise. Teknik latihan pernapasan ini sangat mudah untuk dipraktekan khususnya dalam keseharian pada lansia. Teknik Pursed Lip Breathing terbukti efektif menurunkan frekuensi pernapasan dan meningkatkan pemenuhan oksigen dalam tubuh, ini dibuktikan dengan hasil penelitian Pamungkas, Ismonah and Arif (2016) bahwa terdapat perbedaan efektivitas antara pursed lip breathing dan deep breathing terhadap penurunan frekuensi pernafasan pada pasien PPOK. 3 studi lain yang dilakukan oleh Qamila et al (2019) dengan efektivitas teknik pursed lips breathing pada pasien penyakit paru obstruksi kronik (PPOK) dilaporkan hasil penelitiannya teknik PLB efektif menurunkan frekuensi pernapasan dan meningkatkan pemenuhan oksigenisasi dalam tubuh dan dalam penelitiannya pemberian latihan dilakukan sebanyak 3x sehari setiap pagi, siang, dan sore dengan waktu 6-30 menit selama 3 hari berturut-turut. Berdasarkan uraian diatas lansia yang mengalami PPOK belum melakukan teknik Pursed Lip Breathing untuk mengurangi gejala pernapasan khususnya yang sering dialami oleh lansia adalah sesak napas. Oleh sebab itu peneliti tertarik untuk melakukan asuhan keperawatan pada lansia PPOK dengan melakukan intervensi pemberian edukasi dan latihan pernapasan dengan melakukan teknik Pursed Lip Breathing. B. Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum Mampu menerapkan asuhan keperawatan gerontik pada lansia dengan gangguan sistem pernafasan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). 2. Tujuan Khusus a. Mampu melaksanakan pengkajian secara menyeluruh dan mengelompokkan data-data serta menganalisa data yang didapat dari pengkajian pada lansia dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). b. Mampu menganalisa dan menentukan masalah keperawatan pada lansia dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). c. Mampu menyusun perencanaan dan implementasi untuk mengatasi masalah keperawatan yang timbul pada lansia dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). d. Mampu mengevaluasi tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan pada lansia dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). 4 C. Manfaat Penulisan 1. Bagi Lansia Asuhan keperawatan gerontik ini dapat memberi informasi terkait lansia dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Pada lansia dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) dapat memberikan manajemen non farmakologi seperti Pursed Lip Breathing untuk mengurangi gejala dan meningkatkan pemenuhan oksigen dalam tubuh pada lansia dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). 2. Pendidikan Keperawatan Asuhan Keperawatan Gerontik ini memberikan informasi pravalensi, konsep teori dan asuhan keperawatan terkait lansia yang mengalami Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) dan juga Covid-19 dan diharapkan dapat menjadi bahan diskusi baik dalam proses belajar mengajar ataupun diluarnya, guna pengembangan dalam melakukan asuhan keperawatan gerontik. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Dasar Lanjut Usia 1. Pengertian Lansia Lansia merupakan tahap akhir perkembangan pada fase kehidupan manusia, yang ditandai dengan kemunduran fisik, mental dan sosial secara bertahap (Dewi, 2014, p. 4; Azizah, 2011, p. 1). Menurut UU No. 13/ Tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia menyatakan bahwa lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih dari 60 tahun. 2. Proses Menua Proses menua adalah proses dari kemampuan jaringan yang secara perlahan hilang untuk mengganti diri atau memperbaiki serta mempertahankan struktur dan fungsi normalnya, sehingga tidak mampu bertahan terhadap penyakit (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Kemenkes RI, 2013, p. 12). 3. Batasan Lansia Menurut World Health Organization (WHO), batasan usia lansia sebagai berikut : a. Middle age (usia pertengahan) : 45-59 tahun b. Elderly (lanjut usia) : 60-74 tahun c. Old (lanjut usia tua) : 75-90 tahun d. Very old (usia sangat tua) : > 90 tahun 5 6 4. Perubahan Pada Lansia Menurut Dewi, (2014, pp. 15–16) perubahan fisik pada sistem respirasi atau pernafasan pada lansia adalah sebagai berikut : a. Cavum Thorak 1) Seiring dengan proses kalsifikasi kartilago, cavum thorak menjadi kaku. 2) Osteoporosis mengakibatkan postur tubuh bungkuk sehingga menurunkan ekspansi paru dan membatasi pergerakan thorak. Selain itu vertebrae thorakalis mengalami pemendekan. b. Otot bantu Pernafasan Otot abdomen melemah sehingga menurunkan usaha nafas baik inspirasi maupun ekspirasi. c. Perubahan Intrapulmonal 1) Daya recoil paru semakin menurun seiring pertambahan usia 2) Alveoli melebar dan menjadi lebih tipis, dan walaupun jumlahnya konstan, jumlah alveoli-kapiler, menurunkan area permukaan fungsional untuk terjadinya pertukaran gas. Perubahan struktural pada sistem respirasi berpengaruh terhadap jumlah aliran udara yang mengalir dari dan kedalam paru serta pertukaran gas ditingkat alveolar. Penurunan daya elastisitas recoil mengakibatkan volume residu meningkat sehingga basis paru terjadi respirasi minimal yang menyebabkan peningkatan sisa udara dan sekresi yang tertinggal diparu. Pola nafas lansia yang dalam, sekunder akibat perubahan postur, berkontribusi terhadap penurunan aliran udara. Penurunan kekuatan otot dada berkontirbusi terhadap menurunnya kemampuan batuk efektif sehingga lansia semakin berisiko mengalami pneumonia. Pola nafas dalam juga berpengaruh 7 terhadap pertukaran gas, saturasi oksigen menurun. Penurunan fungsi ini juga menyebabkan penurunan toleransi saat beraktivitas. 5. Tugas Perkembangan Lansia Lansia memerlukan kesiapan untuk menyesuaikan diri atau beradaptasi terhadap perkembangan usia lanjut yang dipengaruhi dengan proses tumbuh kembang pada tahap sebelumnya. Lansia pada tahap tumbuh kembang sebelumnya apabila melakukan aktivitas sehari-harinya dengan baik dan teratur serta mampu membina hubungan serasi dengan orang-orang sekitarnya maka pada usia lanjut, lansia tersebut akan tetap melakukan kegiatan yang biasa lansia lakukan pada tahap perkembangan sebelumnya (Dewi, 2014, pp. 6–7). Menurut Azizah (2011, pp. 2–3) terdapat tugas perkembangan lansia yang harus dilaksanakan sebagai berikut. a. Menyesuaikan terhadap penurunan kekuatan fisik dan kesehatan Lansia akan mengalami perubahan fisik seiring terjadinya penuaan sistem tubuh, perubahan penampilan dan fungsi tubuh. Penurunan fungsi tubuh yang terjadi pada lansia merupakan hal yang normal dan bukanlah suatu penyakit. Lansia harus dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan fisik yang terjadi yaitu dengan cara mencegah penyakit dengan pola hidup sehat dalam meningkatkan kesehatan pada lansia. b. Menyesuaikan terhadap masa pensiun dan penurunan pendapatan. Lansia perlu menyesuaikan diri dan membuat perubahan setelah berhenti bekerja atau pensiun dari pekerjaannya. Hilangnya peran dalam bekerja pada lansia, dapat membuat lansia mengalami ketergantungan sosial, kewibawaan, finansial dan peran sosial yang dapat mengakibatkan stress bagi lansia. Dampak dari pensiun ini lansia harus mengantisipasi dengan cara 8 memiliki rencana kedepan untuk berpartisipasi dalam konsultasi atau aktivitas sukarela yaitu dengan mencari hobi atau minat baru dan melanjutkan pendidikannya. c. Menyesuaikan terhadap kematian pasangan Lansia menggantungkan hidupnya dari seorang yang sangat berarti bagi dirinya. Kehilangan atau kematian pasangan, anak, dan teman merupakan keadaan yang sulit diselesaikan bagi lansia. Melalui proses berduka tersebut, dapat membantu lansia untuk menyesuaikan diri terhadap kehilangan dan lingkungannya. d. Menerima diri sendiri sebagai lanjut usia Proses penuaan yang mengakibatkan terjadinya penurunan fungsi tubuh pada lansia, membuat beberapa lansia mengalami kesulitan untuk menerima diri sendiri. Lansia dapat menyangkal penurunan fungsi tersebut dengan memperlihatkan ketidakmampuannya sebagai koping yaitu dengan cara menolak meminta bantuan dalam tugas yang menempatkan keamanan lansia pada resiko yang besar. e. Mempertahankan kepuasan pengaturan hidup Beberapa masalah kesehatan mengharuskan lansia untuk tinggal bersama keluarga atau temannya. Lansia dapat merubah rencana kehidupannya. Perubahan rencana kehidupan bagi lansia membutuhkan waktu yang lama untuk penyesuaian selama lansia memerlukan bantuan dan dukungan profesional keperawatan kesehatan dan keluarga. f. Mendefinisikan ulang berhubungan dengan anak yang dewasa Masalah keterbalikan peran, ketergantungan, konflik, perasaan bersalah dan kehilangan memerlukan pengenalan dan penetapan hubungan kembali bagi lansia dengan anak-anaknya yang telah dewasa. 9 g. Menentukan cara untuk mempertahankan kualitas hidup Lansia yang pada tahap sebelumnya aktif secara sosial sepanjang hidupnya merasa relatif mudah untuk bertemu dengan orang baru dan mendapat minat baru. Lansia harus belajar dalam menerima aktivitas dan minat baru untuk mempertahankan kualitas hidupnya. 6. Peran Perawat Gerontik Menurut Miller dalam Sunaryo et al. (2015, pp. 17–18) Perawat gerontik melakukan peran dan fungsi dalam praktiknya sebagai berikut: a. Care Provider Perawat berperan sebagai care provider diharapkan mampu memberikan asuhan keperawatan kepada lansia yang meliputi pengkajian, intervensi atau tindakan keperawatan, pendidikan kesehatan dan menjalankan tindakan medis sesuai dengan tugas yang telah diberikan. b. Educator Perawat yang berperan sebagai educator diharapkan mampu memberikan pengetahuan dan pendidikan kesehatan yang tepat terkait dengan tindakan medik kepada lansia untuk membantu dalam meningkatkan kesehatannya. c. Advocat Perawat yang berperan sebagai advocat diharapkan dapat menjadi penghubung antara lansia dan tim kesehatan lain sebagai upaya dalam pemenuhan kebutuhan lansia yang diberikan dalam pelayanan kesehatan serta melindungi hak lansia dalam pelayanan kesehatan, hak privasi, hak informasi atas penyakitnya dan hak untuk mendapat ganti rugi akibat kelalaian. 10 d. Counselor Perawat berperan sebagai counselor diharapkan mampu sebagai pemberi konseling atau bimbingan tentang masalah kesehatan yang dialaminya untuk mengidentifikasi perubahan pola interaksi lansia terhadap keadaan sehat dan sakitnya. e. Motivator Perawat berperan sebagai motivator diharapkan mampu memberikan motivasi kepada lansia. f. Case manager Perawat berperan sebagai case manager diharapkan mampu mengkoordinasi atau mengatur aktivitas anggota tim kesehatan lain, dalam memberikan perawatan pada lansia. g. Consultant Perawat berperan sebagai consultan diharapkan dapat menjadi tempat untuk konsultasi terhadap masalah atau tindakan keperawatan yang tepat untuk diberikan dan sesuai dengan tujuan pelayanan kesehatan. h. Collaborator Perawat sebagai collaborator diharapkan mampu bekerjasama dengan tim kesehatan lainnya dan keluarga dalam menentukan rencana ataupun pelaksanaan asuhan keperawatan untuk memberikan perawatan yang efektif serta memenuhi kebutuhan bagi lansia. B. Konsep Korelasi Lansia dengan Corona Virus Disease (COVID-19) Pada lansia, seiring bertambahnya usia, dinding dada dan kekuatan otot pernafasan akan menurun, hal ini menyebabkan sendi tulang iga kaku dan mempengaruhi penurunan laju ekspirasi. Selain itu menurunnya sistem imun pada lansia maka leukosit, antibody dan reflex batuk pun akan menurun sehingga lansia akan sulit dalam bernapas. Lansia dengan riwayat penyakit seperti hipertensi, diabetes mellitus, PPOK, kanker sangat rentan 11 terhadap infeksi khususnya infeksi yang disebabkan oleh adanya Corona Virus Disease- 19 yang menjadi pandemi saat ini. Menurut Kemenkes, RI (2020) tips bagi lansia dalam pencegahan Covid-19, sebagai berikut: a. Tidak melakukan perjalanan keluar rumah untuk sementara, tetaplah berada dirumah/panti werda dengan melakukan kegiatan rutin. b. Jauhi keramaian, perkumpulan, kegiatan sosial seperti rekreasi, pergi berbelanja atau reuni, dll. c. Tidak menerima kunjungan saudara atau cucu. Karena dapat saudara atau cucu dapat menjadi sebagai carrier tanpa tanda apapun. d. Jaga jarak (1 meter) Penatalaksanaan PPOK Pada Lansia Menurut penatalaksanaan PPOK, sebagai berikut: a. Penatalaksanaan Non Farmakologis 1) Terapi komplementer (Pursed Lip Breathing) Pursed Lip Breathing merupakan latihan pernapasan melalui bibir yang dikerucutkan guna meningkatkan pola pernapsan yang normal. Menurut Qamila et al (2019) Pursed Lip Breathing efektif menurunkan frekuensi pernapasan dan meningkatkan pemenuhan oksigen dalam tubuh. Teknik Pursed Lip Breathing ini dilakukan sebanyak 3x sehari setiap pagi, siang dan sore dengan waktu 6-30 menit secara berturut-turut. Pada saat inspirasi paru-paru mengembang dan diafragma akan melengkung dan bergerak ke bawah. Otot perut akan mengalami kontraksi saat ekspirasi. Diafragma mengalami pergerakan keatas dan membantu proses pengosongan udara dalam paru-paru, sehingga hal ini akan membantu lansia dalam bernafas secara lebih efisien. 12 C. Konsep Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) 1. Pengertian Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan kondisi patologis akibat terpajan pada iritan seperti asap rokok yang ditandai dengan batuk dan nafas pendek. Paru-paru mengalami hiperinflasi dan diafragma menjadi datar sehingga lansia menggunakan otot abdomen dan otot intercostalis unutk bernafas. Penggunaan otot bantu nafas membutuhkan energi lebih banyak dibandingkan penggunaan diafragma (Dewi, 2014, p. 86). Menurut Black and Hawks (2014, p. 287) PPOK merupakan terganggunya pergerakan udara masuk dan keluar paru. Menurut (Mufidaturrohmah, 2017) Lansia dengan PPOK memiliki dada dengan bentuk barrel cheset. Hal ini terjadi karena adanya retensi volume udara didalam paru-paru karena rusaknya dinding alveoli. Bila ini terjadi, maka darah fungsional paru akan menjadi berkurang sehingga lansia akan memiliki postur kifosis. Ketika lansia mengalami PPOK maka lansia harus melakukan penyesuaian dalam gaya hidup, kebiasaan dan pekerjaan. Tujuan utama perawatan lansia dengan PPOK adalah mencegah komplikasi. Klien maupun keluarga harus memiliki pengetahuan tentang proses penyakit dan bagaimana merawt diri. Pendidikan kesehatan yang harus diberikan meliputi : 1. Cara mencegah infeksi dengan diet seimbang, keseimbangan aktivitas dan istirahat, mencegah penularan infeksi, dan pemberian imunisasi influenza. 2. Bagaimana cara mengenali tanda-tanda infeksi, seperti batuk yang meningkat, perubahan konsistensi sputum dan penurunan toleransi aktivitas. 3. Instruksi medikasi mandiri, seperti cara penggunaan oksigen, tujuan pengobatan dan efe samping yang mungkin timbul. 13 4. Bagaimana mematuhi jadwal medikasi dan obat apa saja yang harus dihindari seperti supressan batuk. 5. Jelaskan pentingnya hidrasi yang adekuat (2000 ml/hari) kecuali dikontraindikasikan, seperti pada kondisi gagal jantung. 6. Bagaimana cara mengatasi obstruksi pernaasan 7. Bagaimana cara mengembangkan dukungan kelompok. Asuhan Keperawatan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) A. Pengkajian Keperawatan Pada lansia perlu dilakukan observasi pada kedalaman napas, penggunaan otot bantu napas (klavicula, cuping hidung, retraksi dinding dada) dan frekuensi napas (Miller, 2012). Pemeriksaan diagnostic rontgen paru dilakukan untuk mengetahui adanya infeksi atau seberapa luas permukaan paru yang terganggu. Pengkajian Fisik Menurut (Dewi, 2014, pp. 37–38) Perubahan yang terjadi pada otot dan organ pernafasan menyebabkan lansia menjadi lebih rentan mengalami gangguan pernafasan. Sementara tanda dan gejala dari gangguan pernafasan yang Nampak tidak sejelas pada individu yang lebih muda. Oleh karena itu pemeriksaan sistem respirasi harus lebih sering dilakukan terutama pada lansia yang rentan mengalami gangguan pernafasan akibat penyakit maupun cedera. Lansia dengan mobilitas terbatas ataupun lansia dengan kondisi bedrest lebih beresiko mengalami gangguan pernafasan dan komplikasinya. Pengkajian pada sistem respirasi harus menanyakan riwayat pengobatan (baik obat yang diresepkan, obat bebas maupun obat herbal yang dikonsumsi), dan kaji riwayat merokok serta pemajanan terhadap polutan selama hidup. Pengkajian lain yang dilkakuan meliputi pemeriksaan tanda-tanda kesulitan bernafas, penurunan energy unutk melakukan aktifitas sehari-hari, batuk yang sering dan produksi secret berlebih. Pemeriksaan fisik yang dilakukan meliputi observasi postur dan usaha untuk bernafas 14 serta mengauskultasi suara nafas. Protocol pemeriksaan lain meliputi pemeriksaan darah dan pemeriksaan fungsi paru, pencitraan paru da pemeriksaan sputum. Hasil pemeriksaan ini sangat membantu perawat dalam melaukan pengkajian total sistem respirasi. B. Diagnosa Keperawatan Gangguan pola nafas adalah diagnosis yang paling sering ditemui paa lansia dengan keluhan pernapasan baik pada kondisi fisiologis maupun patologis. Dikeluarga masalah pernapasan dapat diberikan diagnosis gangguan perilaku kesehatan beresiko dan ketidakefektifan gangguan perilaku kesehatan berisiko dan ketidakefektifan manajemen kesehatan (Herdman & Kamitsuru, 2018). C. Intervensi Keperawatan Perawat dapat memberikan latihan pernapasan dengan pursed lip breathing untuk meningkatkan asupan oksigen dan kapasitas paru. Selain itu batuk efektif, suction, fisioterapi dada, manajemen jalan napas dan pemberian oksigen merupakan intervensi keperawatan yang dapat diberikan pada lansia dengan masalah pernapasan (Bulechek, 2013). No 1 Diagnosis Luaran Keperawatan Gangguan Pertukaran Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x Gas b.d Perubahan 24 jam maka Pertukaran Gas meningkat dengan membran alveoluskriteria hasil/ indikator : kapiler 1. Dyspnea dari sedang (3) menjadi cukup menurun (4). DS : 2. Gelisah dari sedang (3) menjadi cukup menurun - Pasien mengeluh (4). sesak napas 3. PCO2 dari cukup memburuk (2) menjadi cukup membaik (4). DO : 4. Pola napas dari cukup memburuk (2) menjadi - Frekuensi napas : cukup membaik (4). 27 x/mnt - Ph : 7,47 (SLKI DPP PPNI, 2018, p. 94) (meningkat) PaCO2 : 32 Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x mmHg 24 jam maka Keseimbangan Asam-Basa (menurun) meningkat dengan kriteria hasil/ indikator : (Alkalosis 1. Frekuensi napas dari sedang (3) menjadi cukup Respiratorik membaik (4). terkompensasi 2. pH dari sedang (3) menjadi cukup membaik (4). sebagian) 3. CO2 dari cukup memburuk (2) menjadi cukup BE +3. membaik (4). - Retraksi dinding 4. HCO3 dari cukup memburuk (2) menjadi cukup dada membaik (4). - Gelisah - Batuk berdahak (SLKI DPP PPNI, 2018, p. 40) Intervensi Manajemen Asam-Basa (Alkalosis Respiratorik) Monitor a. Identifikasi penyebab terjadinya alkalosis respiratorik (mis: hiperventilasi, ansietas, sepsis, demam, overventilasi mekanik). b. Monitor terjdinya hiperventilasi c. Monitor intake dan output cairan d. Monitor gejala perburukan (dyspnea, peningkatan ansietas) e. Monitor hasil analisa gas darah. Teraupetik a. Pertahankan kepatenan jalan napas b. Pertahankan posisi untuk ventilasi adekuat c. Pertahankan akses intravena d. Anjurkan istirahat ditempat tidur e. Pertahankan hidrasi sesuai dengan kebutuhan f. Berikan oksigen dengan RM g. Hindari koreksi PCO2 dalam waktu terlalu cepat karena dapat terjadi asidosis metabolik Edukasi a. Jelaskan penyebab dan mekanisme terjadinya alkalosis respiratorik b. Ajarkan latihan napas No - Diagnosis Keperawatan Retraksi dinding dada (SDKI DPP PPNI, 2017, p. 22) Luaran Intervensi Kolaborasi a. Kolaborasi pemberian sedatif (SIKI DPP PPNI, 2018, p. 154) Pemantauan Respirasi Monitor a. Monitor frekuensi, irama, kedalaman dan upaya napas b. Monitor pola napas c. Monitor kemampuan batuk efektif d. Monitor adanya produksi sputum e. Monitor adanya sumbatan jalan napas f. Auskultasi bunyi napas g. Monitor saturasi oksigen dan nilai AGD Teraupetik a. Atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien b. Dokumentasikan hasil pemantauan Edukasi a. Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan b. Informasikan hasil pemantauan No Diagnosis Keperawatan Luaran Intervensi (SIKI DPP PPNI, 2018, pp. 247) Terapi Oksigen Monitor a. Monitor kecepatan aliran oksigen dan posisi alat terapi oksigen b. Monitor efektifitas terapi oksigen (oksimetri, analisa gas darah) c. Monitor tingkat kecemasan akibat terapi oksigen d. Monitor integritas mukosa hidung akibat pemasangan oksigen e. Monitor tanda dan gejala toksikasi oksigen dan atelectasis dan tanda tanda hipoventilasi Teraupetik a. Pertahankan kepatenan jalan napas b. Siapkan dan atur peralatan pemberian oksigen c. Berikan oksigen tambahan Kolaborasi a. Kolaborasi penentuan dosis oksigen b. Kolaborasi penggunaan oksigen saat aktivitas dan atau tidur. No Diagnosis Keperawatan Luaran Intervensi (SIKI DPP PPNI, 2018, pp. 431) Dukungan Ventilasi Monitor a. Identifikasi adanya kelelahan otot bantu napas b. Identifikasi efek perubahan posisi terhadap status pernapasan c. Monitor status respirasi dan oksigenasi (frekuensi dan kedalaman napas, penggunaan otot bantu napas, bunyi napas tambahan, saturasi oksigen) Teraupetik a. Pertahankan kepatenan jalan napas b. Berikan posisi semi fowler atau fowler c. Fasilitasi mengubah posisi senyaman mungkin d. Berikan oksigenasi sesuai kebutuhan Edukasi a. Ajarkan melakukan teknik relaksasi nafas dalam b. Ajarkan mengubah posisi secara mandiri c. Ajarkan teknik batuk efektif (SIKI DPP PPNI, 2018, pp. 49) No 3 Diagnosis Keperawatan Ketidakefektifan pola napas b.d Hambatan upaya napas, Kecemasan DS : - Pasien mengeluh sesak napas Luaran Intervensi Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam maka Pola Napas membaik dengan kriteria hasil : 1. Dyspnea dari sedang (3) menjadi cukup menurun (4). 2. Frekuensi napas dari sedang (3) menjadi cukup membaik (4). 3. Kedalaman napas dari sedang (3) menjadi cukup membaik (4). Manajemen Jalan Napas Monitor a. Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas) b. Monitor bunyi napas tambahan c. Monitor sputum (jumlah, warna, aroma) DO : - Frekuensi napas : 27x/mnt (SLKI DPP PPNI, 2018, p. 95) - Retraksi dinding dada Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x - Gelisah 24 jam maka Tingkat Ansietas menurunt dengan - Batuk berdahak kriteria hasil : - Retraksi dinding 1. Perilaku gelisah dari sedang (3) menjadi menurun dada (5). 2. Frekuensi pernapasan dari sedang (3) menjadi cukup menurun (4). (SDKI DPP PPNI, (SLKI DPP PPNI, 2018, p. 132) 2017, p. 26) Teraupetik a. Pertahankan kepatenan jalan napas b. Posisikan semi fowler atau fowler c. Berikan minum hangat d. Lakukan latihan pernafasan (Purshed Lip Breathing) atau fisioterapi dada e. Berikan oksigen Edukasi a. Anjurkan asupan cairan 2000 ml/hari b. Ajarkan teknik batuk efektif Kolaborasi d. Kolaborasi pemberian bronkodilator (SIKI DPP PPNI, 2018, pp. 186–187) Manajemen Ventilasi Mekanik No Diagnosis Keperawatan Luaran Intervensi Monitor a. Periksa indikasi ventilator mekanik (kelelahan otot napas) b. Monitor efek ventilator terhadap status oksigenasi c. Monitor kriteria perlunya penyapihan ventilator d. Monitor gejala peningkatan pernapasan Teraupetik a. Atur posisi kepala 45-60° untuk mencegah aspirasi b. Reposisi pasien setiap 2 jam c. Dokumentasikan respon terhadap ventilator d. Gunakan produk berbahan ringan/alami dan hipoalergik pada kulit sensitive. Kolaborasi a. Kolaborasi pemilihan mode ventilator b. Kolaborasi penggunaan PEEP untuk meminimalkan hipoventilasi alveolus. (SIKI DPP PPNI, 2018, pp. 231) D. Implementasi Keperawatan 1. Edukasi dan motivasi untuk berhenti merokok 2. Farmakoterapi : Bronkodilator, steroid, mukolitik, antioksidan 3. Terapi Non Farmakologis : Latihan fisik, Latihan Pernapasan (Purshed Lips Breathing) 4. Terapi oksigen 5. Nutrisi 6. Pembedahan pada PPOK berat E. Evaluasi Keperawatan Evaluasi yang diharapkan dari kondisi ini adalah frekuensi napas dalam batas normal dan tidak adanya suara napas abnormal (wheezing, cracles, ronchi). BAB III PENUTUP A. Kesimpulan PPOK merupakan terganggunya pergerakan udara masuk dan keluar paru (Black and Hawks, 2014, p. 287). Lansia dapat melakukan pencegahan dan mengurangi gejala yang timbul dengan melakukan latihan pernafasan yaitu dengan melakukan teknik Pursed Lip Breathing. Teknik Pursed Lip Breathing merupakan salah satu pengobatan nonfarmakologi yang dapat dilakukan oleh lansia. Lansia dengan gangguan pernapasan dapat mempengaruhi adanya penyakit covid-19 yang terjadi saat ini, oleh karena itu perlu dilakukan pencegahan dengan menerapakan PHBS yaitu diantaranya dengan rajin mencuci tangan, menggunakan masker, menerapkan Physical distancing serta tetap dirumah saja. B. Saran Bagi Lansia setelah mengetahui dan memahami terkait PPOK diharapkan dapat menerapkan teknik Pursed Lip Breathing ini untuk mengurangi gejala dan meningkatkan pemenuhan oksigen dalam tubuh pada lansia dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Bagi pendidikan dan penelitian keperawatan diharapkan asuhan keperawatan gerontik ini dapat memberikan informasi terkait konsep teori dan asuhan keperawatan pada lansia yang mengalami Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) dan juga Covid-19 dan diharapkan dapat menjadi bahan diskusi baik dalam proses belajar mengajar ataupun diluarnya, guna pengembangan dalam melakukan asuhan keperawatan gerontik serta penerapan intervensi mandiri perawat. sebagai DAFTAR PUSTAKA Azizah, L. M. (2011) Keperawatan Lanjut Usia. 1st edn. Yogyakarta: Graha Ilmu. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (2013) RISKESDAS. Barbour, K. E. et al. (2016) ‘Pravalence of Severe Joint Pain Among Adults With DoctorDiagnosed Arthritis- United States, 2002-2014’, Morbity and Mortality Weekly Report. United States, Vol 65/ No. doi: 10.15585/mmwr.mm6539a2. Black, J. M. and Hawks, J. H. (2014) Keperawatan Medikal Bedah. 8 Buku 1. Edited by A. Suslia and P. P. Lestari. Singapore: Elsevier. Dewi, S. R. (2014) Buku Ajar Keperawatan Gerontik. 1st edn. Yogyakarta: DEEPUBLISH. Kemenkes RI (2013) Riset Kesehatan Dasar. Available at: https://www.depkes.go.id (Accessed: 9 April 2019). Mufidaturrohmah (2017) Dasar-Dasar Keperawatan (Buku Referensi Ilmu Dasar Keperawatan). Yogyakarta: Gava Media. Muhith, A. and Siyoto, S. (2016) Pendidikan Keperawatan Gerontik. Edited by P. Christian. Yogyakarta: ANDI. Nurmayanti et al. (2019) ‘Pengaruh Fisioterapi Dada, Batuk Efektif dan Nebulizer Terhadap Peningkatan Saturasi Oksigen Dalam Darah Pada Pasien PPOK’, Jurnal Keperawatan Silampari, Vol 3 No (. Pamungkas, R., Ismonah and Arif, S. (2016) ‘Efektivitas Pursed Lip Breathing dan Deep Breathing Terhadap Penurunan Frekuensi Pernafasan Pada Pasien PPOK Di RSUD Ambarawa’, Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan (JIKK), Vol :, No. Potter, P. A. and Perry, A. G. (2010) Fundamental Keperawatan. 7th edn. Jakarta: Salemba Medika. Pusdatin (2015) Pusat Data dan Informasi. Qamila, B. et al. (2019) ‘Efektivitas Teknik Pursed Lips Breathing Pada Pasien Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK)’, Jurnal Kesehatan, Vol 12, No. RI, K. (2020) Hindari Lansia dari COVID-19. Available at: http://www.padk.kemkes.go.id/article/read/2020/04/23/21/hindari-lansia-dari-covid-19.html. Riskesdas (2018) Prevalensi Penyakit Sendi Menurut Provinsi 2013-2018. Sunaryo et al. (2016) Asuhan Keperawatan Gerontik. 1st edn. Edited by P. Christian. Yogyakarta: CV. Andi Offset. http://bppsdmk.kemkes.go.id/pusdiksdmk/wp-content/uploads/2017/08/KeperawatanGerontik-Komprehensif.pdf https://www.kemkes.go.id/folder/view/01/structure-publikasi-pusdatin-info-datin.html https://www.kemkes.go.id/article/view/20012900002/Kesiapsiagaan-menghadapi-InfeksiNovel-Coronavirus.html https://www.kemkes.go.id/resources/download/info-terkini/COVID19/TENTANG%20NOVEL%20CORONAVIRUS.pdf https://www.kemkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin-lansia.pdf http://yankes.kemkes.go.id/read-masalah-kesehatan-pada-lansia-4884.html https://www.kemkes.go.id/article/view/19070500004/indonesia-masuki-periode-agingpopulation.html

Judul: Asuhan Keperawatan Lanjut Usia Gangguan Sistem Respirasi (ppok) Di Era Pandemi Covid-

Oleh: Lilik Pranata


Ikuti kami