Asuhan Keperawatan Lansia Dengan Fraktur Femur Oleh: Agnes Suci Ayuning Tias

Oleh Lilik Pranata

372,7 KB 10 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Asuhan Keperawatan Lansia Dengan Fraktur Femur Oleh: Agnes Suci Ayuning Tias

ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK ASUHAN KEPERAWATAN LANSIA DENGAN FRAKTUR FEMUR Oleh: Agnes Suci Ayuning Tias (1733018) Dosen Pengampu: Ns. Lilik Pranata, M. Kes PRODI ILMU KEPERAWATAN DAN NERS FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS KATOLIK MUSI CHARITAS 2020 KONSEP MEDIK Fraktur merupakan hilangnya kontinuitas tulang, baitk tulang rawan, baik itu yang bersifat total maupun sebagainya (Muttaqin, 2008, p. 69). Sedangkan menurut (Black and Hawks, 2014, p. 643) trauma merupakan salah satu penyebab utama kematian di Amerika serikat, fraktur merupakan gangguan dari kontinuitas yang normal dari suatu tulang. Jika terjadi fraktur, maka jaringan lunak disekitarnya juga sering kali mengalami gangguan. Menifestasi pada fraktur terdapat beberapa seperti; deformitas yang merupakan pembengkakan dari perdarahan local dapat menyebabkan deformotas pada lokasi fraktur, pembengkakan yang terjadi karena edema dapat muncul segera sebagai akibat dari akumulasi cairan serosa pada lokasi fraktur serta ekstravasasi darah ke jaringan sekitar, memar (ekimosis), spasme otot sering mengiringi faktur, spasme otot involuntary sebentarnya berfungsi sebagai bidai alami untuk mengurangi gerakan lebih lanjut dari fragmen fraktur, nyeri merupakan tanda yang selalu terlihat pada pasien dengan fraktur, ketegangan, kehilangan fungsi, gerakan abnormal dan ekspansi, perubahan neurovaskuler, dan dapat juga terlihat tanda dan gejala syok (Black and Hawks, 2014, pp. 644–645). Untuk pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan pada pasien dengan fraktur yaitu pemeriksaan radiologi. Sinar-X dan scan tulang yang digunakan mengidentifikasi fraktur, lalu pemeriksaan kimia darah, hitung darah lengkap (complete blood count, CBC), dan pemeriksaan koagulan dapat digunakan untuk mengkaji perdarahan, fungsi ginjal, kerusakan otot, dan juga risiko perdarahan pembekuan berlebihan (LeMone, Burke and Gerene Bauldoff, 2015, p. 1631). Medikasi pada fraktur yang awal merupakan pemberian analgesik yang bertujuan untuk meredakan nyeri. Pada kasus fraktur multiple atau pada fraktur tulang panjang, opioid diberikan pada awalnya. NSAID diprogramkan untuk mengurangi inflamasi dan suplemen analgesia. Antibiotic dapat diberikan secara profilaksis, antikoagulan dapat diprogramkan untuk mencegah DVT (LeMone, Burke and Gerene Bauldoff, 2015, p. 1631). Terapi yang diberikan sebelum tulang menglami fraktur distabilitasi untuk penyembuhan, fraktur direduksi atau dikembalikan kesajaran normal. pada reduksi tertutup, tulang diposisikan kembali mengunakan manipulasi eksternal. Fraktur kemudian diimobilisasi dengan bebat, gips, atau reduksi. Untuk reduksi terbuka dilakukan pada pembedahan(LeMone, Burke and Gerene Bauldoff, 2015, p. 1631). Pada fraktur juga dapat dilakukan traksi yang mana trakdi sendiri terbagi menjadi beberapa seperti taksi manual, traksi kulit, traksi keseimbangan, traksi skeletal (LeMone, Burke and Gerene Bauldoff, 2015, pp. 1631–1632) KONSEP KEPERAWATAN (TEORI) 1. Pengkajian: a. Riwayat kesehatan: usia, riwayat kejadian traumatis, riwayat cedera muskulosleketal sebelumnya, kesakitan kronik, medikasi (minta lansia menyebutkan scara spesifik mengenai antikoagulan dan suplemen kalsium) b. Pemeriksaan fiskik: nyeri saat bergerak, nadi, edema, warna kulit dan suhu, deformitas, rentang gerak, sentuhan. Pada pengkajian neurovaskuler lakukan pengkajian 5 P sebagai berikut: 1) Nyeri (pain). Kaji lakukan pengkajian nyeri pada ekstremitas yang mengalami cedera dengan miminta pasien untuk membuat tingkat pada skala 0-10, dengan skala 10 merupakan nyeri yang sangat hebat. 2) Nadi (pulse). Pengkajian nadi distal yang dimulai dengan ekstremitas yang tidak terkena, kemudian bandingakan kualitas nadi di ekstremitas yang terkena dan yang tidak terkena 3) Kepucatan (Palor). Observasi kepucatan dan warna kulit pada ektremitas yang cedera. 4) Paralisis/ Paresis. Kaji kemapuan untuk memindahkan bagian tubuh distal ketempat fraktur. 5) Parestrsia. Tanyakan pada pasien ada atau tidak perubahan dalam sensasi seperti terbakar, baal, perasaan berduri, atau menyengat. 2. Analisa & Diagnosis Keperawatan: a. Nyeri akut disebabkan kerusakan jaringan lunak dan dipersulit dengan spasme otot dan pembengkakan b. Resiko disfungsi neurovaskuler perifer c. Resiko infeksi d. Hambatam mobilitas fisik 3. Intervensi : a. Nyeri akut 1) Monitor tanda-tanda vita 2) Meminta pasien untuk membuat skala nyeri pada skal 0-10 3) Pada pasien dengan raktur pinggul, berikan traksi buck sesuai dengan instruksi dokter. Jaga beban traksi agar tergantung secara bebas 4) Pindah pasien secara perlahan dan lambat 5) Tinggikan ektremitas yang terkena diatas tingkat jantung 6) Anjurkan distensi untuk metode tambahan lainnya untuk meredakan nyeri, seperti napas dalam dan relaksasi 7) Berikan NSAID dan edikasi nyeri sesuai program b. Resiko disfungsi neurovaskuler 1) Sokong ekstremitas yang mengalami cedera diatas dan dibawah tempat fraktur ketika memindahkan pasien 2) Kaji 5 P setiap 1 hingga 2 jam 3) Kaji bantalan kuku untk capillary refill 4) Monitor ektemitas untuk edema dan juga pembengkakan 5) Kaji nyeri dalam, denyut, tidak berhenti 6) Kaji kemampuan untuk membedakan antara sentuhan tajan dan tajan serta adanya parastesia dan paralisis c. Resiko infeksi 1) Untuk pasien yang terpasang pin skeletal, ikuti panduan yang ditetapkan untuk merawat pasien 2) Monitor tanda-tanda vital dan lab WBC 3) Gunakan teknik steril untuk mengganti balutan 4) Berian antibiotok sesuai dengan intruksi dokter d. Hambatan mobilitas fisisk 1) anjurkan atau bantu pasien dengan melakukan latiha ROM pada ekstremitas yang terkena 2) Ajarkan latihan isometric, dan anjurkan pasien untuk melakukan setiap 4 jam 3) Anjurkan ambulasi saat pasien mampu; berikan bantuan sesuai dengan kebutuhan pasien 4) Ganti posisi pasien ditempat tidur setiap 2 jam sekali 4. Implementasi: a. Lakukan pengkajian nyeri pada skala 0-10 sebelum dan sesudan tindakan implementasi untuk meredakan nyeri b. Beri analgesic sesuai dengan intruksi dari dokter c. Lakukan pengkajian neurovaskuker setiap 2-4 jam, dan dokumentasi trauma d. Anjurkan napas dalam dan relaksasi e. Ajarkan teknik traksi dan pembedahan 5. Evaluasi Setelah semua tindakan yang dilakukan lakukan penilaian SOAP a. S : keluahan yang tidak lagi dirasakan dan juga keluahna yang masih dirasakan pasien b. O : sesuaikan apa yang dikeluahkan pasien dan yang tidak lagi dikeluhkan (sesuai atau tidak) c. A : intervensi apa saja yang perlu di hentikan dan dilanjutkan sesuai dengan data yang ada d. P: intervensi dihentikan/ atau dilanjutkan FORMAT PENGKAJIAN GERONTIK I. II. Identitas Nama : Elishabet Sumiati Jenis kelamin : Prempuan Umur : 60 Tahun Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia Alamat : Sumber Agung. Ulak Agung Ilir. Palembang Agama : Katolik Pendidikan : SD Status Perkawinan : Sudah Menikah Tanggal Pengkajian : 25-09-2020 Pengkaji : Agnes Suci Ayuning Tias Riwayat Kesehatan 1. Keluhan kesehatan utama saat ini : Pasien mengeluh nyeri pada kaki bagian kirinya setelah jatuh ketika di bonceng sepeda motor anaknya dan kaki kirinya terbentur jalan dan terlihat memar. Pasien mengeluh kaki kirinya nyeri skala 7, jika digerakan nyeri bertambah pada kaki kiri tampak luka mengeluarkan darah. Pasien lalu di bawa ke IGD RS Antonio Baturaja, saat ini sedang dirawat diruangan bedah, Hasil pemeriksaan TTV: TD: 140/100 mmHg, N: 103x/m, RR: 23x/m, S: 36oC, Hb : 10, Leu : 12000, Tr : 175000, HbsAg : -, anti HIV : -. 2. Riwayat kesehatan yang lalu : a. Pasien mengatakan memiliki riwayat sakit hipertensi. b. Anak pasien menyatakan pasien belum pernah dirawat. 3. Riwayat kesehatan keluarga Dari pihak keluarga pasein mengatakan pasien ada riwayat kesehatan yaitu hipertensi. III. AKTIVITAS/ LATIHAN 1. Sebelum Sakit a. Keadaan aktivitas sehari-hari Dalam melakukan kegiatan sehari-hari meliputi mandi, makan, BAB/ BAK dan berpakaian pasien melakukannya secara mandiri dan tidak menggunakan alat bantu. Pasien bekerja sebagai petani kebun kopi, dan dipagi hari sebelum berangkat kerja pasien biasanya menyapu halaman rumahnya. b. Keadaan pernafasan Pasien tidak mengalami gangguan pernafasan saat sebelum dan sesudah beraktivitas sebagai petani dan menyapu halaman rumah. c. Keadaan kardiovaskuler Pasien mengatakan mempunyai riwayat hipertensi. 2. Selama Sakit a. Kondisi Aktivitas Sehari-hari KATZ ADL Indeks Pertanyaan : 1) Mandi (kekamar mandi, menggosok bagian tubuh) Samasekali tanpa bantuan √ Dengan menggunakan tetapi hanya untuk satu bagian tubuh (misalnya: untuk menggosok bagian punggung atau kaki) Dengan bantuan lebih dari satu bagian tubuh 2) Berpakaian (memakai dan melepaskan pakaian, dan melakukannya dengan cepat) Memakai pakaian dengan komplit tanpa bantuan sama sekali √ Memakai pakaian tanpa bantuan tetapi untuk kegiatan tertentu memerlukan asisten seperti memakai/ mengikat tali sepatu Memakai pakaian komplit dengan bantuan 3) Toilet (pergike toilet, untuk BAB dan BAK, membersihkan sendiri serta memakai baju/celana sendiri) Dapat pergike toilet, membersihkan sendiri, dan menata baju/celana tanpa bantuan sama sekali √ Membutuhkan bantuan untuk pergike toilet, membersihkannya, memakai pakaian setelah eliminasi Tidak bisa pergike toilet sendiri 4) Pergerakan Bergerak dari dan ketempat tidur/ kursi tanpa bantuan/ assisten (mungkin bisa juga dengan pegangan/ tongkat penyangga) √ Bergerak dari dan ketempat tidur/ kursi dengan bantuan/ dengan asisten Tidak dapat keluar dari tempat tidur sama sekali 5) Continence Dapat mengontrol saat BAK dan BAB dengan sendiri Kadang tidak dapat mengontrol BAK dan BAB sendiri Membutuhkan bantuan serta supervise untuk mengontrol BAK dan BAB, atau dengan penggunaan kateter 6) Makan √ Makan sendiri tanpa bantuan Makan sendiri tetapi membutuhkan untuk memotong makanan seperti daging, sayur, atau buah. Makan dengan bantuan atau makan dengan melalui IV Fluids/ tubes Kategori: Pasien termasuk dalam KATZ ADL F, karena dalam kemandirian melakukan semua aktivitas sehari-hari, kecuali melakukan mandi, berpakaian, kekamar kecil, berpindah dan satu fungsi tambahan b. Keadaan pernafasan Pasien bernafas menggunakan hidung, dengan RR: 23x/menit. c. Keadaan kardiovaskuler Pasien mengatakan berdebar-debar setelah melakukan aktivitas karena takut. IV. NUTRISI 1. Sebelum Sakit Pasien makan 3x sehari, 1 porsi habis. Makanan yang dikonsumsi pasien berupa nasi sayur dan lauk. Kemudian pasien minum 8-10 gelas perhari(1500-2000cc) berupa air putih. 2. Selama Sakit Pasien mengatakan pasien makan 3x sehari, namun dalam 1x makan hanya mengahabiskan seperempat dari porsi makan1 karena pasien mengatakan lebih berfokus pada nyerinya saja. Sedangkan untuk minum pasien mengatakan habis 6-7 gelas/ haring (1000-1500cc). V. ELIMINASI 1. Sebelum Sakit BAB teratur setiap hari pada pagi hari. Bentuk dan warna feses lunak berwarnakuning kecoklatan. BAK lancar kurang lebih sebanyak 5-6 kali. 2. Selama Sakit Selama sakit Selama dirumah sakit pasien BAB 2 hari sekali dengan bantuan saat kekamar mandi. Untuk BAK pasien lancar sehari 4-5 kali dengan bantuan saat akan ke kamar mandi. Urine berwarna kuning jernih. VI. ISTIRAHAT/ TIDUR 1. Sebelum Sakit Sebelum sakit kebutuhan istirahat-tidur pasien tercukupi, pasien biasanya dalam sehari tidur 6-8 jam. 2. Selama Sakit Selama sakit anak pasien mengatakan pasin sulit untuk tidur jika tidur malam anak pasien mengatakan sering terbangun jadi untuk tidur malam kurang lebih pasien hanya tidur 3 jam dan untuk tidur disiang hari pasien hanya tidur kurang lebih 2 jam. VII. PENGKAJIAN 1. Keadaan umum a. Kesadaran : Composmentis b. Status Gizi : TB = 155cm BB = 60 kg IMT = 24,97 kg/m Dari hasil IMT tersebut pasien dalam kategori gemuk c. Tanda Vital: TD: 140/100 mmHg N: 103x/m RR: 23x/m S: 36oC d. Skala Nyeri: Pasien mengatakan skala nyerinya 7. Lau dilakukan pengkajian lebih lanjut mengunakan PQRST: P Q R S T : Pasien mengatakan nyeri pada kaki kirinya, dan saat digerakkan nyeri akan bertambah, pasien juga mengakatakan nyeri akan berkurang jika tidak terlalu banyak digerakkan. : Pasien mengatakan nyeri kadang hilang dan kadang timbul (saat digerakkan), rasa panas dirasakan pada sekitar nyeri : Pasien mengatakan nyeri yang dirasakan hanya pada kaki yang mengalami fraktur saja : Saat dilakukan pengkajian nyeri dengan mengunakan skala numerik dari rentang 1-10 pasien mengatakan nyeri berada pada skala 7 : Nyeri akan terasa jika kaki digerakkan dengan lama sekitar 25 menit VIII. PSIKOSOSIAL DAN SPIRITUAL Anak pasien mengatakan pasien memeluk agama katolik, setiap hari minggu pasien selalu mengikuti ibadat dan setiap hari kamis pasien mengikuti misa, selain itu pasien juga selalu ikut doa lingkungan pada hari selasa malam. Pasien juga memahami nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat, pasien memahami hal-hal yang baik dan yang benar. IX. No 1. ANALISA DATA Data Subyektif Data Obyektif (PF dan Penunjang) Data Subyektif Data Obyektif Etiologi a. Pasien a. Kaki tampak Agen cedera fisik mengatakan memar. (trauma) nyeri pada kaki b. Pasien tampak nyeri skala 7. terlihat hanya b. Jika digerakan menghabiskan nyeri makannya ¼ dari bertambah. 1 porsi makan c. anak pasien yang diberikan mengatakan c. TTV: pasin sulit TD:140/100 untuk tidur dan mmHg sering N: 103x/m terbangun, RR: 23x/m pasien hanya S: 36oC tidur (5 jam) d. pasien mengatakan makan 3x sehari, dan mengahabiskan ¼ dari 1 porsi makan yang diberikan e. pasien mengakatakan lebig berfokus pada nyerinya saja f. Pasien mengatakan nyeri kadang hilang dan kadang timbul (saat digerakkan), dan rasa panas Masala Keperawatan Trauma langsung Fraktur Pergeseran tulang fragment Nyeri Akut dirasakan pada sekitar fraktur g. Pasien mengatakan nyeri sekitar 25 menit 2. Supresi Respon Inflamasi Trauma langsung Fraktur Pergeseran tulang fragment Pelepasan mediator komia (Prostaglandin dan Histamine) Arteri yang mengedarkan darah ke daerah tersebut mengalami vasodilatasi Tekanan osmotik cairan interstisial↑ Penimbunan cairan kaya protein (eksudat) Edema Resiko Infeksi 3. a. Pasien a. Terlihat memar mengatakan pada kaki kiri nyeri pada pasien kaki nyeri b. Pada kaki kiri skala 7. tampak luka b. Jika digerakan mengeluarkan nyeri darah bertambah. c. TTV: TD:140/100 mmHg N: 103x/m RR: 23x/m Faktor mekanis (gesekan tulang) Diskontinuitas tulang Perubahan jaringan sekitar Laserasi kulit: vena dan arteri terputus Gangguan Integritas Kulit/ Jaringan S: 36oC X. DIAGNOSIA KEPERAWATAN Nama Pasien (inisial) : Ny. E Usia/ JK : 60th/ P Tgl MRS/ Tgl Pengkajian :25-09-20/25-09-20 Diagnosa Medik : Fraktur Cruris No. Diagnosa Keperawatan Nama Jelas 1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik (trauma) Agnes DS: a. Pasien mengatakan nyeri pada kaki nyeri skala 7. b. Jika digerakan nyeri bertambah. c. anak pasien mengatakan pasien sulit untuk tidur dan sering terbangun, pasien hanya tidur (5 jam) d. pasien mengatakan makan 3x sehari, dan mengahabiskan ¼ dari 1 porsi makan yang diberikan e. pasien mengakatakan lebih berfokus pada nyerinya saja f. Pasien mengatakan nyeri kadang hilang dan kadang timbul (saat digerakkan), dan rasa panas dirasakan pada sekitar fraktur g. Pasien mengatakan nyeri sekitar 2-5 menit DO: a. Kaki tampak memar. b. Pasien tampak terlihat hanya menghabiskan makannya ¼ dari 1 porsi makan yang diberikan c. TTV: TD:140/100 mmHg N: 103x/m RR: 23x/m S: 36oC 2. Resiko Infeksi Resiko infeksi dibuktikan dengan supresi Agnes respon infalamasi 3. Gangguan integritas kulit/ jaringan berhubungan dengan faktor mekanis (gesekan tulang) Agnes DS: a. Pasien mengatakan nyeri pada kaki nyeri skala 7. b. Jika digerakan nyeri bertambah. DO: a. Terlihat memar pada kaki kiri pasien b. Pada kaki kiri tampak luka mengeluarkan darah c. TTV: TD:140/100 mmHg N: 103x/m RR: 23x/m S: 36oC XI. INTERVENSI KEPERAWATAN Nama Pasien (inisial) : Ny. E Tgl MRS/ Tgl Pengkajian :25-09-20/25-09-20 Usia/ JK : 60th/ P Diagnosa Medik : Fraktur Cruris Masalah Keperawatan No 1. Nyeri Akut berhubungan dengan Agen cedera fisik (trauma) yang ditandai dengan: Rencana Keperawatan (NIC) Tujuan/ Out Come setelah dilakukan intervensi selama 2X24 jam maka hasil yang diharapkan tingakat nyeri: L.08066 a. Keluhan nyeri dalam waktu 2X24 jam dari 2 (cukup meningkat) ke a. Pasien mengatakan 4(cukup menurun) nyeri pada kaki nyeri skala 7. b. Kesulitan tidur dalam b. Jika digerakan nyeri waktu 2X24 jam dari 2 bertambah. (cukup meningkat) ke c. anak pasien 4(cukup menurun) mengatakan pasin sulit untuk tidur dan c. Tekanan darah dalam waktu 2X24 jam dari 3 sering terbangun, (sedang) ke 4 (membaik) pasien hanya tidur (5 jam) Kontrol Nyeri: L 08063 d. pasien mengatakan a. Kemampuan mengunakan makan 3x sehari, teknik non-farmakologi dan mengahabiskan dalam waktu 2X24 jam ¼ dari 1 porsi dari 3 (sedang) ke 5 makan yang (meningkat) diberikan e. pasien b. Kemampuan mengenali mengakatakan lebig penyebab nyeri dalam berfokus pada waktu 2X24 jam dari 3 nyerinya saja DS: Intervensi Manajemen Nyeri: I.08238 Observasi: a. Identifikasi sekala nyeri b. Identifikasi respon non-verbal c. Identifikasi faktor yang memebuat memperberat dan memperingan nyeri d. Monitor efek samping pengunaan analgesik Terapetik: a. Memberikan teknik nonfamarologi napas dalam untuk mengurangi focus pada nyeri b. Fasilitasi istirahat dan tidur Edukasi : a. Anjurkan pengunaan analgesic yang tepat b. Menganjurkan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri Kolaborasi: a. Pemberian analgesik Pemberian Analgesik: I.08243 f. Pasien mengatakan (sedang) ke 5 (meningkat) nyeri kadang hilang dan kadang timbul c. Keluhan nyeri dalam waktu 2X24 jam dari 2 (saat digerakkan), (cukup meningkat) ke dan rasa panas 4(cukup menurun) dirasakan pada sekitar fraktur d. Pengunaan analgesik g. Pasien mengatakan dalam waktu 2X24 jam nyeri sekitar 2-5 dari 2 (cukup meningkat) menit ke 4 (cukup menurun) DO: a. Kaki tampak memar. b. Pasien tampak terlihat hanya menghabiskan makannya ¼ dari 1 porsi makan yang diberikan c. TTV: TD:140/100 mmHg N: 103x/m RR: 23x/m S: 36oC 2. Resiko infeksi Setelah dilakukan intervensi selama 3X24 jam maka hasil dibuktikan dengan yang diharapkan Kontrol Resiko: L.14128 a. Kemampuan mengidentifikasi faktor reiko waktu 3X24 jam dari 2 (cukup menurun) ke 4 (cukup meningkat) b. Kemampuan melakukan strategi kontrol resiko waktu 3X24 jam dari 2 (cukup menurun) ke 4 (cukup meningkat) c. Kemampuan menghindari faktor resiko waktu 3X24 jam dari 2 (cukup menurun) ke 4 (cukup meningkat) d. Imunitas waktu 3X24 jam dari 3 (sedang) ke 4 (meningkat) Obserfasi: a. Identifikasi riwayat alergi paien b. Identifikai kesesuaian analgesic dengan keparahan nyeri b. Monitor TTV sebelum dan sesudah pemberian analgesic c. Monitor efektifitas analgesic Terapeutik: a. Tetapkan target efektifitas untuk mengoptimalkan respon pasien Edukasi: a. Jelaskan pada pasien efek samping dari obat Kolaborasi: a. Lakukan kolaborasi dosis dan jenis analgesic Pencegahan Infeksi: I.14539 Observasi: a. Monitor tanda dan gejala infeksi dan sistemik Terapetik: a. Berikan perawatan kulit pada area edema b. Cici tangan sebelun dan sesudah kontak dengan pasien dan lingkungan pasien Edukasi: a. Jelaskan tanda dan gejala infeksi b. Ajarkan cara mencuci tangan dengan benar c. Ajarkan meningkatkan asupan nutrisi d. Ajarkan meningkatkan cairan Gangguan integritas kulit/ jaringan berhubungan dengan faktor mekanis (gesekan tulang) yang ditandai dengan: 3. DS: a. Pasien mengatakan nyeri pada kaki nyeri skala 7. b. Jika digerakan nyeri bertambah. DO: a. Terlihat memar pada kaki kiri pasien b. Pada kaki kiri tampak luka mengeluarkan darah c. TTV: TD:140/100 mmHg N: 103x/m RR: 23x/m S: 36oC XII. setelah dilakukan intervensi selama 3X24 jam maka hasil yang diharapkan Intergritas Kulit dan Jaringan: L. 14125 a. Elastisitas waktu 3X24 jam dari 2 (cukup menurun) ke 4(cukup meningkat) b. Perfusi jaringan waktu 3X24 jam dari 3 (sedang) ke 5 (meningkat) c. Nyeri waktu 3X24 jam dari 2 (cukup meningkat) ke 4 (cukup menurun) d. Perdarahan waktu 3X24 jam dari 2 (cukup meningkat) ke 4(cukup menurun) Perawatan Integritas Kulit: I.11353 Obserfasi: a. Identifikasi penyebab gangguan integritas kulit Terapeutik: a. Ubah posisi tiap 2 jam b. Gunakan bahan ringan dan alami Edukasi: a. Anjurkan minum yang cukup b. Anjurkan nutrisi meningkatkan c. Anjurkan menghindari perubahan suhu yang ekstrim IMPLEMENTASI KEPERAWATAN Nama Pasien (inisial) : Ny. E Tgl MRS/ Tgl Pengkajian :25-09-20/25-09-20 Usia/ JK : 60th/ P Diagnosa Medik : Fraktur Cruris Hari/Tanggal Waktu 25 September 07.00 2020 07.30 08.00 08.30 08.45 09.00 No.DP 1 Pelaksanaan Keperawatan a. Mengidentifikasi sekala nyeri pasien mengunakana skala nyeri numeric b. Mengidentifikasi respon non-verbal c. Mengidentifikasi faktor yang memebuat memperberat dan memperingan nyeri d. Memonitor efek samping pengunaan analgesic e. Memberikan teknik nonfamarologi napas dalam untuk mengurangi focus pada nyeri f. Memfasilitasi istirahat dan tidur g. Nama Jelas Agens 09.15 h. Mengjurkan pengunaan analgesic yang tepat 09.30 09.45 i. Menganjurkan teknik mengurangi nyeri j. Memberian analgesik 10.00 k. Mengidentifikasi riwayat alergi paien 10.30 l. Mengidentifikai kesesuaian analgesic dengan keparahan nyeri m. Memonitor TTV sebelum dan sesudah pemberian analgesic n. Memonitor efektifitas analgesic 11.00 11.30 12.30 q. Melakukan kolaborasi dosis dan jenis analgesic 13.00 2020 2 a. Memonitor tanda dan gejala infeksi dan sistemik 08.30 b. Memrikan perawatan kulit pada area edema 09.00 10.00 c. Menyuici tangan sebelun dan sesudah kontak dengan pasien dan lingkungan pasien d. Menjelaskan tanda dan gejala infeksi 11.00 e. Menjelaskan cara mencuci tangan dengan benar 11.30 f. Mengajarkan meningkatkan asupan nutrisi 25 September 07.30 08.30 3 a. Mengidentifikasi penyebab gangguan integritas kulit b. Mengubah posisi tiap 2 jam 09.30 c. Mengunakan bahan ringan dan alami 10.30 d. Menganjurkan minum yang cukup e. Menganjurkan meningkatkan nutrisi 11.30 12.30 Agnes g. Mengajarkan meningkatkan cairan 12.00 2020 untuk o. Menetapkan target efektifitas untuk mengoptimalkan respon pasien p. Menjelaskan pada pasien efek samping dari obat 12.00 25 September 08.00 nonfarmakologi f. menganjurkan menghindari perubahan suhu yang ekstrim Agnes XIII. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN Nama Pasien (inisial) : Ny. E Tgl MRS/ Tgl Pengkajian :25-09-20/25-09-20 Usia/ JK : 60th/ P Diagnosa Medik : Fraktur Cruris Hari/Tanggal Waktu No.DP Evaluasi Keperawatan Nama Jelas S : Pasien mengatakan bahwa saat beristirahat pada malam hari tidak lagi terbangaun, saat nyeri terasa pasien mengatakan sudah mengunakan teknik relaksasi 26 September 2020 13.00 1 O : TD : 110/80 mmHg Agnes A : Masalah belum teratasi P : Intervensi 1, 5,6 dan 7dilanjutkan 26 September S : Pasien mengatakan sudah dapat mengontrol resiko 2020 infeksi, dan mampumengi dentifikasi faktor reiko infeksi Agnes O : Pasien tapak mencuci tangan sebelum membuka 12.00 2 balutan A : Masalah belum teratasi P : Intervensi 3 dan 4 diteruskan 26 September S : Pasien mengatakan perdarahan sudah tidak keluar lagi 2020 O : Tiadak terdapat perdarahan 12.30 3 A : Masalah belum teratasi P : Intervensi 2 dan 3 diteruskan Agnes DAFTAR PUSTAKA Black, Joyce M & Hawks, Jane Hokansone. 2013. Keperawatan Medikal Bedah. ELSEVIER: Singapore. Brunner dan Suddarth. 2008.Keperawatan Medikal Bedah Edisi 3.Jakarta: EGC. LeMone, Priscilla, Karen M. Burke, & Gerene Bauldoff. 2016. Keperawatan Medikal Bedah. EGC : Jakarta Nurarif & Hardhi. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & Nanda Nic-Noc Panduan penyusunan Asuhan Keperawatan Profesional. Yogyakarta : Mediaction Jogja. Muttaqin, A. (2008) Asuhan Keperawatn Klien Gangguan Sistem Muskuloskeletal. Edited by P. E. Karyuni. Jakarta: EGC. Smeltzer, S. C., & Bare B. G. 2009. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &Suddarth( Edisi 8 Volume 1). Jakarta: EGC.

Judul: Asuhan Keperawatan Lansia Dengan Fraktur Femur Oleh: Agnes Suci Ayuning Tias

Oleh: Lilik Pranata


Ikuti kami