Penerapan Standar Asuhan Persalinan Normal (apn) Oleh Bidan Di Rumah Sakit Umum

Oleh Emi Kusumawardani

247,2 KB 7 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Penerapan Standar Asuhan Persalinan Normal (apn) Oleh Bidan Di Rumah Sakit Umum

PENERAPAN STANDAR ASUHAN PERSALINAN NORMAL (APN) OLEH BIDAN DI RUMAH SAKIT UMUM A. Pendahuluan Masalah kematian ibu dan bayi di Indonesia masih merupakan masalah besar bagi bangsa. Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 1994menunjukkan Angka Kematian Ibu (AKI) 390 per 100.000 kelahiran hidup, padatahun 1995 menjadi 373 per 100.000 kelahiran hidup dan pada tahun 2002/2003 penurunan AKI tersebut lambat yaitu menjadi 307 per 100.000 kelahiran hidup, sementara pada tahun 2010 ditargetkan menjadi 125 per 100.000 kelahiran hidup. Menurut data SKRT tahun 2001(1), penyebab kematian ibu di Indonesia adalah sebagai berikut; perdarahan (28%), eklamsia (24%), infeksi (11%), komplikasi puerperium (8%), persalinan macet (5%),abortus (5%),trauma obstetric (3%) emboli obstetric (3%) dan penyebab lain (11%).Sedangkan Angka Kematian Bayi Baru Lahir (MMR) menurut SDKI tahun 1997 25 per 1000 kelahiran hidup. Adapun penyebab kematian adalah BBLR (29%),asfiksia (27%), masalah pemberian minum (10%),tetanus (10%), gangguan hematologik (6%), infeksi (5%) dan penyebab lain (13%). Kira-kira 90% kematian ibu terjadi disaat persalinan dan kira-kira 95% penyebab kematian ibu adalah komplikasi obstetric yang sering tidak dapat diperkirakan sebelumnya, maka kebijaksanaan Departemen Kesehatan untuk mempercepat penurunan AKI adalah mengupayakan agar setiap persalinan ditolong atau minimal didampingi oleh bidan dan pelayanan obstetric sedekat mungkin kepada semua ibu hamil. Mengingat pentingnya peningkatan kesehatan ibu dan bayi baru lahir maka pada tanggal 12 Oktober 2000 pemerintah telah mencanangkan Gerakan Nasional Kehamilan dan Persalinan Yang Aman atau Making Pregnancy Safer (MPS) yang merupakan bagian dari program Safe Motherhood. Sebagai Strategi Pembangunan Kesehatan Masyarakat menuju Indonesia sehat 2010, MPS bertujuan melindungi hak reproduksi dan hak asasi manusia dengan cara mengurangi beban kesakitan ,kecacatan dan kematian yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Sejalan dengan Visi MPS yaitu semua perempuan di Indonesia dapat menjalani kehamilan dan persalinan dengan aman serta bayi yang dilahirkan hidup dan sehat dan Misi yang merupakan penjabaran dari Visi di atas adalah menurunkan angka kesakitan dan kematian maternal dan neonatal melalui system kesehatan untuk menjamin akses terhadap intervensi yang Cost Effective. Untuk melaksanakan hal di atas, sesuai dengan rekomendasi Safe Motherhood Technical Consultation di Srilangka tahun 1997, intervensi yang sangat kritis adalah tersedianya tenaga penolong persalinan yang terlatih. Agar tenaga penolong yang terlatih tersebut (bidan atau dokter) dapat memberikan pelayanan yang bermutu, maka diperlukan adanya standar pelayanan, karena dengan standar pelayanan para petugas kesehatan mengetahui kinerja apa yang diharapkan dari mereka, apa yang harus mereka lakukan pada setiap tingkat pelayanan serta kompetensi apa yang diperlukan. Dengan adanya standar pelayanan berguna dalam penerapan norma dan tingkat kinerja yang diinginkan.10 Adapun pelayanan kebidanan ini terdiri dari 25 standar, terbagi dalam 5 (lima) kelompok pelayanan; Standar pelayanan Umum yang terdiri dari 2 standar , Standar Pelayanan Ante Natal yang terdiri 6 standar, Standar Pelayanan Ante Natal yang terdiri dari 6 standar, Standar Pertolongan Persalinan yang terdiri dari 4 standar , Standar Pelayanan Nifas yang terdiri dari 3 standar, Standar Penanganan Kegawatan Obstetri dan Neonatal yang terdiri dari 10 standar Standar pelayanan / asuhan kebidanan di atas merupakan pedoman bagi bidan di Indonesia dalam melaksanakan tugas, peran dan fungsinya sesuai dengan kompetensi dan kewenangan yang diberikan. Standar ini dilaksanakan oleh bidan di setiap tingkat pelayanan kesehatan baik di Rumah Sakit, Puskesmas maupun tatanan pelayanan kesehatan lain di masyarakat. Standar Asuhan Persalinan Normal ( APN ) merupakan bagian dari Standar Pelayanan /Asuhan Kebidanan.6 Dalam pelaksanaan Standar Pelayanan kebidanan bidan mengacu pada standar Praktek kebidanan yang telah ada dengan menggunakan pendekatan Manajeman Kebidanan secara sistematis dalam menerapkan metode pemecahan masalah mulai dari pengkajian, analisa data, diagnosa kebidanan, perencanaan dan evaluasi. Bidan adalah seorang perempuan yang telah menyelesaikan Program Pendidikan Bidan, diakui oleh Negara serta memperoleh kualifikasi dan diberi izin untuk menjalankan praktek kebidanan. Bidan dalam menjalankan fungsi dan tugasnya didasarkan pada kompetensi dan kewenangan yang diberikan yang diatur melalui Peraturan Menteri Kesehatan (PERMENKES) No.900/MENKES/SK/VIII/2000. Bidan sebagai suatu profesi disiapkan melalui pendidikan formal agar lulusannya dapat melaksanakan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya secara professional. Keberadaan bidan di Indonesia sangat diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan bayinya. Seiring dengan kemajuan teknologi dan dinamika masyarakat, maka tuntutan kebutuhan masyarakat akan peningkatan pelayanan kesehatan ibu dan anak merupakan suatu tantangan yang cukup berat. Di era otonomi daerah dan kemandirian yang sekarang ini sedang gencar dilaksanakan ,jasa pelayanan kesehatan termasuk Rumah Sakit telah mempunyai kewenangan untuk mengatur dan mengurus segala sesuatu tentang mutu pelayanan kesehatan termasuk efektifitas dan efisiensi SDM. Suatu hal yang makin disadari pada dasa warsa ini adalah sumber daya manusia merupakan aset organisasi yang paling tinggi dibanding dengan sumber daya lainnya. B. Konsep Penerapan Asuhan Persalinan Normal oleh Bidan di Rumah Sakit Umum Rumah sakit adalah suatu yang melalui tenaga medis professional yang terorganisir serta sarana kedokteran yang permanen menyelenggarakan pelayanan kedokteran, asuhan keperawatan yang berkesinambungan diagnosis serta pengobatan penyakit yang diderita oleh pasien. Rumah sakit adalah tempat dimana orang mencari dan menerima pelayanan kedokteran serta tempat dimana pendidikan klinik untuk mahasiswa kedokteran, perawat dan berbagai tenaga profesi kesehatan lainnya diselenggarakan Perlunya rumah sakit merencanakan SDM biasanya didahulu oleh adanya rencana perubahan pelyanan atau adanya gejala yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan itu sendiri. Dari data empirik kebutuhan perencanaan SDM rumah sakit didahului hal-hal sebagai berikut : a. Rumah Sakit ingin mengubah jumlah tempat tidur. b. Mengubah pelayanan dan fasilitas rumah sakit. c. Gejala penurunan motivasi, prestasi dan kepuasan kerja. d. Keluhan pasien. Perencanaan tenaga kesehatan atau rumah sakit dapat dilakukan bila manajemen mengobservasi terjadinya penurunan motivasi kerja personel. Salah satu factor yang dapat menimbulkan penurunan kerja personel adalah keluhan tingginya beban kerja personel. Hala ini bisa tampak bila terjadinya kenaikan jumlah kunjungan pasien dan meningkatnya Bed Ocupancy Rate ( BOR ),sedangkan jumlah personel tetap dalam periode waktu yang lama. Tingginya beban personel kesehatan atau rumah sakit dapat berefek terhadap penurunan prestasi kerja. Hal ini dapat terjadi terutama bila naiknya beban kerja tanpa diikuti dengan peningkatan imbalan. Artinya produktifitas meningkat tidak berefek secara financial terhadap personel, kalau demikian buat apa rajin-rajin, bila rajin atau tetap pada prestasi sebelumnya tidak berpngaruh kepada penghasilan. Penurunan motivasi kerja dan prestasi berakibat terhadap tingkat kepuasan kerja personel. Perlu juga dilkukan bila terjadinya penurunan prestasi kerja personel. Artinya sejumlah factor yang mempengaruhi motivasi dan prestasi juga dapat berefek langsung maupun tidak langsung terhadap kepuasan kerja. Gejala penurunan motivasi, prestasi kerja dan kepuasan kerja merupakan tanda alarming bagi manajemen organisasi atau rumah sakit untuk mengkaji ulang dan merencanakan SDM. Bagaimana kondisi jumlah dan mutu personel saat ini dan bagaimana perubahannya dimasa mendatang , untuk menjawab tantangan yang sedang dan akan dihadapi di kemudian hari. Perencanaan tenaga kesehatan atau rumah sakit dapat distimulasi karena adanya keluhan terhadap kualitas pelayanan oleh pasien. Keluhan pasien merupakan indikator terhadap adanya masalah kualitas tenaga rumah sakit. Menurunnya kualitas pelayanan bukan hanya karena faktor mutu tenaga, tetapi dapat juga karena tingginya beban kerja berakibat personel menjadi letih secara fisik dan mental. Bidan sebagai suatu profesi disiapkan melalui pendidikan formal agar lulusannya dapat melaksanakan/ mengerjakan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya secara profesional. Keberadaan bidan di Indonesia sangat diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan janinnya. Pelayanan kebidanan berada di manamana dan kapan saja selama ada proses reproduksi manusia. Bidan dalam melaksanakan peran, fungsi dan tugasnya didasarkan pada kompetensi dan kewenangan yang diberikan, yang diatur melalui Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes). Sesuai Permenkes No. 900/Menkes/SK/VIII/2002 wewenang bidan mencakup: 1) pelayanan kebidanan yang meliputi pelayanan ibu dan anak, 2)pelayanan Keluarga Berencana, 3) pelayanan Kesehatan masyarakat.Bidan merupakan profesi yang khusus atau orang yang pertama melakukan penyelamatan kelahiran sehingga ibu dan bayinyalahir dengan selamat, juga merupakan profesi yang sudah diakui baik secara nasional maupun internasional dengan jumlah pratisi di seluruh dunia. Bidan harus mampu memberi supervisi, asuhan dan memberikan nasihat yang dibutuhkan kepada wanita selama masa hamil, persalinan, dan masa pasca persalinan (post partum period), memimpin persalinan atas taggung jawab sendiri serta asuhan bayi baru lahir dan anak. Asuhan ini merupakan tindakan preventif, pendeteksian kondisi abnormal pada ibu dan bayi, dan mengupayakan bantuan medis serta melakukan tindakan pertolongan gawat darurat pada saat tidak hadirnya tenaga medis lainnya. Bidan mempunyai tugas penting dalam konsultasi dan pendidikan kesehatan, tidak hanya untuk wanita tersebut, tetapi jiga temasuk keluarga dan komunitasnya. Pekerjaan itu termasuk pendidikan antenatal, dan persiapan untuk menjadi orang tua, dan meluas ke bidang tertentu dari ginekologi, keluarga berencana dan auhan anak. Bidan bisa berpraktik di rumah sakit, klinik, unit kesehatan, rumah perawatan atau tempat-tempat pelayanan lainnya. Bidan sesuai dengan fungsinya dalam melaksanakan seluruh aktivitasnya baik sebagai tenaga fungsional yang secara langsung memberikan pelayanan kesehatan kepada ibu dan anak, maupun sebagai tenaga struktural dituntut bekerja secara professional yaitu bekerja sesuai dengan standar yang ada.Keselamatan dan kesejahteraan ibu secara menyeluruhmerupakan perhatian yang paling utama bagi bidan, dan dalammemberikan pelayanan kesehatan bertanggung jawab dan mempertanggungjawabkan praktiknya.Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri) yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau jalan lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan sendiri). Menurut Saifuddin, persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin. a).Pengertian Definisi persalinan normal menurut WHO adalah persalinanyang dimulai secara spontan, beresiko rendah pada awal persalinan dan tetap demikian selama proses persalinan. Bayi dilahirkan secara spontan dalam presentasi belakang kepala pada usia kehamilan antara 37 hingga 42 minggu lengkap. Setelah persalinan ibu maupun bayi berada dalam kondisi sehat b).T ujuan Asuhan Persalinan Normal Tujuan asuhan persalinan normal adalah tercapainya kelangsungan hidup dan kesehatan yang tinggi bagi ibu serta bayinya, melalui upaya yang terintegrasi dan lengkap namun menggunakan intervensi seminimal mungkin sehingga prinsip keamanan dan kualitas layanan dapat terjaga pada tingkat yang seoptimal mungkin. pendekatan seperti ini berarti bahwa: dalam asuhan persalinan normal harus ada alasan yang kuat dan bukti manfaat apabila akan melakukan intervensi terhadap jalannya proses persalinan yang fisiologis/alamiah. c).Tugas Penolong Persalinan pada Auhan Persalinan Normal. Tugas penolong persalinan pada asuhan persalinan normal yaitu: 1).Memberikan dukungan pada ibu, suami dan keluarganya selama proses persalinan, saat akan melahirkan bayi dan pada masa sesudahnya. 2).Melakukan pemantauan terhadap ibu dan janin dalam proses persalinan dan setelah persalinan; menilai adanya faktor risiko; melakukan deteksi dini terhadap komplikasi persalinan yang mungkin muncul. 3).Melakukan intervensi minor bila diperlukan seperti melakukan amniotommi; episotomi pada kasus gawat janin; melakukan penatalaksanaan pada bayi baru melahirkan dengan asfiksi ringan. 4).Melakukan rujukan pada fasilitas yang lebih lengkap sesuai dengan masalah kasus yang dirujuk bila didapatkan adanya faktor risiko atau terdeteksi adanya komplikasi selama proses persalinan. Selain tugas-tugas di atas, seorang penolong persalinan harus mendapatkan kualifikasi sebagai tenaga pelaksana penolong persalinan melalui serangkaian latihan, bimbingan langsung dan kesempatan untuk mempraktekkan keterampilannya pada suasana sesungguhnya. Dalam kualifikasi tersebut, penolong persalinan dapat melakukan penilaian terhadap factor risiko, mendeteksi secara dini terjadinya komplikasi persalinan, melakukan pemantauan terhadap ibu maupun janin, dan juga bayi setelah dilahirkan. Penolong persalinan harus mampu melakukan penatalaksanaan awal terhadap komplikasi terhadap bayi baru lahir. Ia juga harus mampu untuk melakukan rujukan baik ibu maupun bayi bila komplikasi yang terjadi memerlukan penatalaksanaan lebihlanjut yang membutuhkan keterampilan di luar kompetensi yang dimilikinya. Tidak kalah pentingnya adalah seorang penolong persalinan harus memiliki kesabaran, kemampuan untuk berempati dimana hal ini amat diperlukan dalam memberikan dukungan bagi ibu dan keluarganya. d) Lima Benang Merah Dalam Asuhan Persalinan Normal3,41 Di dalam asuhan Persalinan terdapat 5 (lima) aspek disebut jugasebagai 5 (lima) benang merah yang perlu mendapatkan perhatian, ke5 aspek tersebut yaitu: 1)..Aspek Pemecahan Masalah yang diperlukan untuk menentukan Pengambilan Keputusan Klinik (Clinical Decision Making). Dalam keperawatan dikenal dengan Proses Keperawatan, para bidan menggunakan proses serupa yang disebut sebagai proses penatalaksanaan kebidanan atau proses pengambilan keputusan klinik (clinical decision making). Proses ini memiliki beberapa tahapan mulai dari pengumpulan data, diagnosis, perencanaan dan penatalaksanaan, serta evaluasi, yang merupakan pola pikir yang sistematis bagi para bidan selama memberikan Asuhan Kebidanan khususnya dalam Asuhan Persalinan Normal. 2).Aspek Sayang Ibu yang Berarti sayang Bayi Asuhan sayang ibu dalam proses persalinan yang harus diperhatikannpara Bidan adalah: a). Suami, saudara atau keluarga lainnya harus diperkenankan untuk mendampingi ibu selama proses persalinan bila ibu menginginkannya. b)..Standar untuk persalinan yang bersih harus selalu dipertahankan c)..Kontak segera antara ibu dan bayi serta pemberian Air Susu Ibu harus dianjurkan untuk dikerjakan. d)..Penolong persalinan harus bersikap sopan dan penuh pengertian. e).Penolong persalinan harus menerangkan pada ibu maupun keluarga mengenai seluruh proses persalinan. f)..Penolong persalinan harus mau mendengarkan dan memberi jawaban atas keluhan maupun kebutuhan ibu. g).Penolong persalinan harus cukup mempunyai fleksibilitas dalam menentukan pilihan mengenai hal-hal yang biasa dilakukan selama proses persalinan maupun pemilihan posisi saat melahirkan. h).Tindakan-tindakan yang secara tradisional sering dilakukan dan sudah terbukti tidak berbahaya harus diperbolehkan bila dilakukan. h).Ibu harus diberi privasi bila ibu menginginkan. i).Tindakan-tindakan medik yang rutin dikerjakan dan ternyata tidak perlu dan harus dihindari (episiotomi, pencukuran dan klisma). 3).)Aspek Pencegahan Infeksi Cara efektif untuk mencegah penyebaran penyakit dari orang ke orang dan atau dari peralatan/sarana kesehatan ke orang dapat dilakukan dengan meletakkan penghalang diantara mikroorganisme dan individu (klien atau petugas kesehatan). Penghalang ini dapat berupa proses secara fisik, mekanik ataupun kimia yang meliputi: a)Cuci tangan Secara praktis, mencuci tangan secara benar merupakan salah satu tindakan pencegahan infeksi paling penting untuk mengurangi penyebaran penyakit dan menjaga lingkungan bebas dari infeksi. Cuci tangan dilakukan sesuai dengan Standar dan prosedur yang ada. b)Pakai sarung tangan Untuk tindakan pencegahan, sarung tangan harus digunakan oleh semua penolong persalinan sebelum kontak dengan darah atau cairan tubuh dari klien. Sepasang sarung tangan dipakai hanya untuk seorang klien guna mencegah kontaminasi silang. Jika mungkin, gunakanlah sarung tangan sekai pakai, namun jika tidak mungkin sebelum dipakai ulang sarung taangan dapat dicuci dan disteril dengan otoklaf, atau dicuci dan didesinfektan tingkat tinggi dengan cara mengkukus. c)Penggunaan Cairan Antiseptik Penggunaan antiseptik hanya dapat menurunkan jumlah mikroorganisme yang dapat mengkontaminaasi luka dan dapat menyebabkan infeksi. Untuk mencapai manfaat yang optimal,penggunaan antiseptik seperti alkohol dan lodofor (Betadin) membutuhkan waktu beberapa menit untuk bekerja secara aktif. Karena tiu, untuk suatu tindakan kecil yang membutuhkan waktu segera seperti penyuntikan oksitosin IM saat penatalaksanaan aktif kala III dan pemotongan tali pusat saat bayi baru lahir, penggunaan antiseptik semacam ini tidak diperlukan sepanjang alat-alat yang digunakan steril atau DTT. d)Pemrosesan alat bekas Proses dasar pencegahan infeksi yang biasa digunakan untuk mencegah penyebaran penyakit dari peralatan, sarung tangan dan bahan-bahan lain yang terkontaminasi adalah dengan : 1).Pencucian dan pembilasan Pencucian penting karena: merupakan cara yang paling efektif untuk menghilangkan sejumlah besar mikroorganisme pada peralatan kotor atau bekas di pakai. Tanpa pencucian, prosedur terilisasi ataupun desinfeksi tingkat tinggi tidak akan terjadi secara efektif. Jika alat sterilisasi tidak teredia, pencucian yang seksama merupakan cara mekanik satu-satunya untuk menghilangkan sejumlah endospora. 2).Dekontaminasi, yaitu segera setelah alat-alat itu digunakan, tempatkan benda-benda tersebut dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit, yang akan secara cepat mematikan virus Hepatitis B dan virus HIV. Larutan klorin cepat sekali berubah keadaannya, oleh sebab itu setiap hari harus diganti atau dibuat baru apabila larutan tersebut tampak kotor (keruh). 3).Sterilisasi atau Desinfeksi Tingkat Tinggi Di beberapa tempat pelayanan yang tidak memungkinkan untuk melakukan sterilisasi dengan otoklaf atau oven/jenis alat yang tidak memungkinkan untuk dilakukan sterilisasi dengan cara diatas, maka Deinfeksi Tingkat Tinggi merupakan pilihan satu-satunya yang masih bisa diterima. DTT ini bisa dengan cara merebus, menggunakan uap, menggunakan bahan kimia, dengan langkah-langkah sesuai prosedur yang sudah ada. e).Pembuangan sampah Tujuan pembuangan sampah klinik seccara benar adalah: mencegah penyebaran infeksi kepada petugas klinik yang menangani sampah dan masyarakat yang sekaligus dapat melindunginya dari luka karena tidak terkena benda-benda tajam yang sudah terkontaminasi. Jadi dengan penanganan sampah yang benar tersebut akan mengurangi penyebaran infeksi baik kepada petugas klinik maupun kepada masyarakat setempat 4)..Aspek Pencatatan (Dokumentasi) Dokumentaaai dalam manajemen kebidanan merupakan bagian yang sangat penting. Hal ini karena: a) Dokumentasi menyediakan catatan permanen tentang manajemen pasien. b) Memungkinkan terjadinya pertukaran informasi diantara petugas kesehatan. c) Kelanjutan dari perawatan dipermudah, dari kunjungan ke kunjungan berikutnya, dari petugas ke petugas yang lain, atau petugas ke fasilitas. d) Informasi dapat digunakan untuk evaluasi, untuk melihat apakah perawatan sudah dilakukan dengan tepat, mengidentifikasi kesenjangan yang ada, dan membuat perubahan dan perbaikan peningkatan manajemen perawatan pasien. e) Memperkuat keberhasilan manajemen, sehingga metode-metode dapat dilanjutkan dan disosialisasikan kepada yang lain. f) Data yang ada dapat digunakan untuk penelitian atau studi kasus. g) Dapat digunakan sebagai data tatitik, untuk catatan nasional. h) Sebagai data statitik yang berkaitan dengan kesakitan dan kematin ibu dan bayi. Dalam Asuhan Persalinan Normal, sistem pencatatan yang digunakan adalah partograf, hasil pemeriksaan yang tidak dicatat pada partograf dapat diartikan bahwa pemeriksan tersebut tidak dilakukan 5)Aspek Rujukan Jika ditemukan uatu masalahdalam persalinan, sering kali ulit untuk melakukan upaya rujukan dengan cepat, hal ini karena banyak factor yang mempengaruhi. Penundaan dalam membuat keputusan dan pengiriman ibu ke tempat rujukan akan menyebabkan tertundanya ibu mendapatkan penatalaksanaan yang memadai, sehingga akhirnya dapat menyebabkan tingginya angka kematian ibu. Rujukan tepat waktu merupakan bagian dari asuhan sayang ibu dan menunjang terwujudnya program Safe Motherhood. e).Kebijakan Pelayanan Asuhan Persalinan Sebagai kebijakan pemerintah tentang pelayanan asuhan persalinan adalah: 1). Semua persalinan harus dihadiri dan dipantau oleh petugas kesehatan terlatih. 2). Rumah Bersalin dan tempat rujukan dengan fasilitaas memadai untuk menangani kegawatdaruratan obstetri dan neonatal harus tersedia 24 jam. 3). Obat-obat esensial, bahan dan perlengkapan harus tersedia bagi seluruh petugas terlatih. f). Rekomendasi kebijakan tehnis asuhan persalinan dan kelahiran Untuk mendukung dilaksanakannya kebijakan tentang pelayanan asuhan persalinan, maka selanjutnya pemerintah merekomendasikan tentang kebijakan terebut. Adapun rekomendasi yang dimaksud adalah: 1). Asuhan Sayang Ibu dan Sayang Bayi harus dimasukkan sebagai bagian dari persalinan bersih dan aman, termasuk hadirnya keluarga atau orang-orang yang memberi dukungan bagi ibu. 2). Partograf harus digunakan untuk memantau persalinan dan berfungsi sebagai suatu catatan/rekam medik untuk persalinan. 3). Selama persalinan normal, intevensi hanya dilaksanakan jika benarbenar dibutuhkan. Prosedur ini hanya dilakukan jika ada indikasi atau penyulit. 4).Manajemen aktif kala III, termasuk penjepitan danpemotongan tali pusat secara dini, memberikan suntikan oksitosin IM, melakukan penegangan tali pusat terkendali (PTT) dan segera melakukan massase fundus, harus dilakukan pada semua persalinan normal. .5). Penolong persalinan harus tetap tinggal bersama ibu dan bayi setidaktidaknya 2 jam pertama setelah kelahiran, atau sampai ibu sudah dalam keadaan stabil. Fundus harus diperiksa setiap 15 menit selama 1 jam pertama dan setiap 30 menit pada jam ke dua. Massase fundus harus dilakukan sesuai kebutuhan untuk memastikan tonus uterus tetap baik, pendarahan minimal dan mencegah pendarahan. 6). Selama 24 jam pertama setelah persalinan, fundus harus sering diperiksa dan dimassase sampai tonus baik. ibu atau anggita keluarga dapat diajrkan melakukan hal ini. 7). Segera setelah lahir, seluruh tubuh terutama kepala bayi harus segera diselimuti dan bayi segera dikeringkan serta dijaga kehangatannya untuk mencegah terjadinya hipotermi. 8). Obat-obat esensial, bahan dan perlengkapan harus disediakan oleh petugas dan keluarga. C. Kesimpulan Bidan sebagai suatu profesi disiapkan melalui pendidikan formal agar lulusannya dapat melaksanakan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya secara professional. Keberadaan bidan di Indonesia sangat diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan bayinya. Standar pelayanan / asuhan kebidanan di atas merupakan pedoman bagi bidan di Indonesia dalam melaksanakan tugas, peran dan fungsinya sesuai dengan kompetensi dan kewenangan yang diberikan. Standar ini dilaksanakan oleh bidan di setiap tingkat pelayanan kesehatan baik di Rumah Sakit, Puskesmas maupun tatanan pelayanan kesehatan lain di masyarakat. Standar Asuhan Persalinan Normal ( APN ) merupakan bagian dari Standar Pelayanan /Asuhan Kebidanan.Dalam pelaksanaan Standar Pelayanan kebidanan bidan mengacu pada standar Praktek kebidanan yang telah ada dengan menggunakan pendekatan Manajeman Kebidanan secara sistematis dalam menerapkan metode pemecahan masalah mulai dari pengkajian, analisa data, diagnosa kebidanan, perencanaan dan evaluasi. DAFTAR PUSTAKA Depkes RI. Kesehatan Reproduksi , Jakarta, 2005. Dep Kes RI. Rencana Strategis Nasional Making Pregnancy Safer (MPS) di Indonesia 20012010, Jakarta, 2001. Zein A. Y. dan Wahyuningsih H. P. Etika Profesi Kebidanan Cetakan Kedua, PT Ftramaya, Juli, 2005. Profil RSUD Kabupaten Sorong, 2006. Depkes RI, Pelatihan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Dasar, Jakarta, 2004. Depkes RI, Standar pelayanan Kebidanan, Jakarta, 2000. Lawlar & Peka, Manual Peningkatan Produktivitas SIUP Gower Publising Company Limited Binaman Teknika, Jakarta, 1998. Azwar, A. Pengantar Administrasi Kesehatan, Binarupa Aksara, Jakarta, 1996. Robin, P. S, Perilaku Organisasi, Jilid I, PT. Prenhalindo, Jakarta, 2001. Saifuddin, AB. Buku Panduan Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Edisi I, Yayasan Bina Pustaka Sarworo Prawiroharjo, Jakarta, 2001. Gibson, J. L, at al. Organisasi Perilaku, Struktur, Proses, Jilid I, Edisi VIII, Andriani, N (Alih Bahasa) Bina Rupa Aksara, Jakarta, 2003. Malahayu, Manajemen: Dasar Pengertian dan Masalah, Bumi Aksara, Jakarta, 2001. Notoatmodjo S, Pendidikan Dan Perilaku Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta, 2001. Mahmudi, Manajemen Kinerja Sektor Publik, Akademi Manajemen Perusahaan YKPN, Yogyakarta, 2005. Departemen Kesehatan RI, Pengembangan Manajemen Kinerja Klinik, Jakarta,2006. Sastrohadiwiryo. S, Manajemen Tenaga Kerja Indonesia, Pendekatan Administratif dan Operasional, Bumi Aksara, Jakarta, 2005. Simon. A & Shcuster, Manajeman Sumber Daya Manusia Jilid 2, Alih Bahasa Benyamin Molan, PT. Dadi Karyana Abadi, Jakarta, 1998. Pangabean, MS. Sumber Daya Manusia, Ghalia Indonesia, Jakarta, 2004. Timple, Kinerja Seri Manajemen Sumber Daya Manusia, Cetakan ke 4, PT. Gramedia Asri Media, Jakarta, 1990. Mushlas. M, Organisasi I, Organizational Behavior, UGM, Yogyakarta, 1999. Arikunto, S. Evaluasi Program Pendidikan, Bumi Aksara, Jakarta, 2004. Bacal, Performance Management, cetakan ke II, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2002. Robbins, S.P, Perilaku Organisasi, Edisi Indonesia, Indeks Kelompok Gramedia, 2003. Notoatmodjo, Soekidjo, Pengantar Pendidikan dan Ilmu Perilaku Kesehatan, Andi Offset, Jakarta, 1993. Solita, Stanton, W.J, Prinsip Pemasaran Edisi Ke 7 Jilid 2, Penerbit Erlangga, Jakarta, 1993. Azwar, S, Sikap Manusia, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2000. Zimbardo, Leippe, Leonadrd, L. Valarie Zeithami & Pasuraman,Marketing Service: Competing Through Quality, New York: Free Press, 1991. Kartono, K, Pengantar Metodologi Riset Sosial, Mandar Maju, Bandung, 1990. Robins, Stephen P dan Mary Coulter, Manajemen (terjemahan) jilid i, Edisi VI, Jakarta, PT. Prenhalindo, 1999. Timpe, A.D, Seri Manajemen Sumber Daya Manusia: Kinerja, Elex Media Komputindo, Jakarta, 1992. Miarso. Y, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, Prenada Media, Jakarta, 2005. TUGAS MATA KULIAH METODOLOGI PENELITIAN PENERAPAN STANDAR ASUHAN PERSALINAN NORMAL (APN) OLEH BIDAN DI RUMAH SAKIT UMUM Dosen : Oedojo Soedirham, dr., MPH., MA., Ph.D Oleh: EMI KUSUMAWARDANI 101417087310 PROGRAM DOKTOR PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA 2014

Judul: Penerapan Standar Asuhan Persalinan Normal (apn) Oleh Bidan Di Rumah Sakit Umum

Oleh: Emi Kusumawardani


Ikuti kami