Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi Inflasi Dan Pengangguran Terhadap Kemiskinan Di Sumatera Utara

Oleh Patricia Intan Karonesia

174,2 KB 16 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi Inflasi Dan Pengangguran Terhadap Kemiskinan Di Sumatera Utara

PENGARUH PERTUMBUHAN EKONOMI INFLASI DAN PENGANGGURAN TERHADAP KEMISKINAN DI SUMATERA UTARA Adam Muharam 1, Dwi Wulandari 2, Fila Destia Dinanti 3 Patricia Intan Karonesia Br. Tarigan 4, Siti Fatimah Nasution 5 Jurusan Pendidikan Ekonomi , Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Medan (UNIMED) Clawadam46@gmail.com Siti13006@gmail.com Keywords: pertumbuhan ekonomi, inflasi, pegangguran dan kemiskinan ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan pengangguran terhadap kemiskinan di Sumatera Utara. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data sekunder periode tahun 2001-2019. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif, dengan melakukan analisis pengaruh variabel pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan pengangguran terhadap kemiskinan di Sumatera Utara. Metode analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Uji Asumsi Klasik, Uji Simultan (uji F), Uji Parsial (uji t), dan Uji R2 (uji koefisien determinasi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama periode 2001-2019 variabel pertumbuhan ekonomi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kemiskinan di Sumatera Utara. Jadi apabila kemiskinan meningkat maka akan menyebabkan pertumbuhan ekonomi terdepresiasi, variabel inflasi berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap kemiskinan di Sumatera Utara. Jadi adanya kenaikan inflasi tidak akan menyebabkan pengurangan tingkat kemiskinan, variabel pengangguran berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemiskinan di Sumatera Utara. Jadi ketika terjadi kenaikan pengangguran maka akan menyebabkan tingkat kemiskinan meningkat di Sumatera Utara. Hasil pengujian F menunjukkan bahwa secara silmultan pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan pengangguran berpengaruh signifikan terhadap kemiskinan di Sumatera Utara pada taraf alpha 5%. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel pertumbuhan ekonomi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kemiskinan di Sumatera Utara, variabel inflasi berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap kemiskinan di Sumatera Utara, variabel pengangguran berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemiskinan di Sumatera Utara. ABSTRACT This study aims to analyze the effect of economic growth, inflation, and unemployment on poverty in North Sumatra. This research was conducted using secondary data for the period 2001-2019. The research method used in this study is a quantitative approach, by analyzing the effect of economic growth, inflation and unemployment variables on poverty in North Sumatra. Data analysis methods used in this study are the Classic Assumption Test, Simultaneous Test (F test), Partial Test (t test), and R2 Test (determination coefficient test). The results showed that during the 2001-2019 economic growth variable had a negative and significant effect on poverty in North Sumatra. So if poverty increases then it will cause economic growth to depreciate, the inflation variable has a positive and not significant effect on poverty in North Sumatra. So an increase in inflation will not cause a reduction in poverty levels, the unemployment variable has a positive and significant effect on poverty in North Sumatra. So when there is an increase in unemployment it will cause poverty levels to rise in North Sumatra. F test results show that simultaneous economic growth, inflation, and unemployment have a significant effect on poverty in North Sumatra at an alpha level of 5%. The conclusion from this study shows that the variable of economic growth has a negative and significant effect on poverty in North Sumatra, the inflation variable has a positive and not significant effect on poverty in North Sumatra, the unemployment variable has a positive and significant effect on poverty in North Sumatra. PENDAHULUAN Kemiskinan merupakan kondisi absolut atau relatif, yaitu keadaan seseorang atau kelompok masyarakat dalam suatu wilayah karena sebab-sebab natural, kultural, atau struktural menyebabkan seseorang atau kelompok tersebut tidak mempunyai kemampuan untuk mencukupi kebutuhan dasarnya sesuai tata nilai atau norma tertentu yang berlaku dalam masyarakat (Nugroho dan Dahuri, 2012: 180). Dengan kata lain, seseorang atau kelompok masyarakat dikatakan miskin jika dan hanya jika tingkat pendapatannya tidak memungkinkan seseorang atau kelompok tersebut untuk mentaati tata nilai dan norma-norma dalam masyarakatnya. Jadi seseorang berada dalam kemiskinan bila penghasilannya, termasuk kekayaannya yang dinilai sekarang, lebih kecil daripada jumlah yang masyarakat pandang sebagai cukup. Cukup itu relatif karena pandangan masyarakat berubahubah. Permasalahan kemiskinan merupakan permasalahan yang cukup penting dan sangat perlu untuk dientaskan. Keberhasilan atau kegagalan pembangunan ekonomi suatu negara atau daerah bisa dilihat dari perkembangan tingkat kemiskinannya. Hasil studi empiris yang dilakukan oleh Mills dan Pernia (1993) dengan metode analisis lintas negara menunjukkan bahwa kemiskinan di suatu negara akan semakin rendah jika pertumbuhan ekonominya pada tahun-tahun sebelumnya tinggi dan semakin tinggi laju pertumbuhan PDB semakin cepat turunnya tingkat kemiskinan (Tambunan, 2011). Mengacu pada definisi kemiskinan, besarnya kemiskinan sebenarnya dapat diukur dengan tanpa mengacu pada garis kemiskinan (pover line). Dengan demikian, korelasi antara pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan tidak berbeda dengan kasus pertumbuhan ekonomidengan ketimpangan pendapatan. Mengikuti hipotesis Kuznets, pada tahap awal proses pembangunan tingkat kemiskinan cenderung meningkat dan pada saat mendekati tahap akhir pembangunan ekonomi, jumlah orang miskin berangsur-angsur berkurang. Namun banyak faktor lain selain pertumbuhan ekonomi yang juga mempengaruhi kemiskinan di suatu wilayah/Negara seperti struktur pendidikan tenaga kerja dan struktur ekonomi. Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah untuk menanggulangi masalah kemiskinan, salah satunya adalah pengendalian laju inflasi. Inflasi merupakan kenaikan harga barang secara keseluruhan dan terus menerus. Jika yang naik hanya satu barang saja tidak bisa disebut inflasi kecuali kenaikan harga barang tersebut mempengaruhi harga barang lain. Dengan meningkatnya tingkat inflasi menyebabkan kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya menurun, akibatnya tingkat kemiskinan semakin tinggi. Serta pemerintah juga harus memperhatikan aspek- aspek lainnya seperti pertumbuhan ekonomi dan juga banyak nya pengangguran yang ada menyebabkan tingginnya tingkat kemiskinan yang terjadi di Sumatera Utara. KAJIAN PUSTAKA Pertumbuhan Ekonomi Menurut (Sukirno, 2008) pertumbuhan ekonomi adalah pertumbuhan produksi baik berupa barang dan jasa yang berlaku di suatu Negara. Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator untuk melakukan penilaian terhadap kinerja pemerintah dalam melakukan pembangunan. Pertumbuhan ekonomi mempunyai pengaruh yang sangat penting seperti (Asfia, 2006). Kesejahteraan masyarakat dapat meningkat paling tidak dengan meningkatkan pendapatan nasional perkapita. Dan untuk membuat masyarakat lebih sejahtera maka ekonomi harus mempunyai pertumbuhan lebih besar dari pada petumbuhan jumlah penduduk. 1. Kesempatan Kerja Pertumbuhan ekonomi dapat dilihat pada petumbuhan GNP riel dan dengan meningkatnya GNP riil maka terjadi pengingkatan penggunaan factor produksi dan berarti juga meningkatnya kesempatan kerja bagi penduduk karena penduduk atau masyarakat merupakan bagian dari factor produksi. 2. Distribusi pendapatan Pertumbuhan ekonomi diharapkan dapat menciptakan distribusi pendapatan lebih baik karena penyebaran pertumbuhan ekonomi dapat: a. Memberi lebih banyak kesempatan kerja, menaikkan pertumbuhan ekonomi dan implementasi kebijakan moneter dan fiscal dapat pula memberi dorongan dan berdampak pada pembelian. b. Menaikkan produktifitas. c. Memperluas kesempatan kerja. Menurut (Sukirno, 2008) faktorfaktor penting yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi adalah tanah dan kekayaan alam. Jumlah dan mutu dari penduduk dan tenaga kerja , barangbarang modal dan tingkat teknologi, sistem sosial, serta sikap masyarakat luas pasar sebagai sumber pertumbuhan. Berdasarkan pernyataan tersebut maka dapat dikatakan bahwa tanah dan kekayaan kekayaan alam lainya mempunyai pengaruh yang penting terhadap pertumbuhan ekonomi. Karena dengan keberadaan tanah dan kekayaan alam dapat meningkatkan pendapatan mereka. Selain itu dikatakan pula bahwa jumlah dan mutu tenaga kerja juga berpengaruh. Dalam hal ini, seseorang yang memiliki kualitas sumberdaya yang baik dapat meningkatkan produktifitas kerjanya, sehingga berpengaruh terhadap pendapatanya. Definisi Kemiskinan Kemiskinan merupakan ketidakmampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan dan ini bisa terjadi karena adanya kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, dan sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan, dll. (Wikipedia, 2013). Menurut (Smith, 2011) kemiskinan adalah seseorang atau sekelompok orang dengan kondisi kesehatan sering kali buruk, diantara mereka banyak sekali yang tidak bisa membaca dan menulis, banyak sekali yang menganggur, dan kesempatan untuk mendapat taraf hidup yang lebih baik sangat sulit dan suram. Dalam jurnal (Siregar and Wahyuni, 2007) dikatakan secara umum, kemiskinan adalah ketidakmampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan dasar standar atas setiap aspek kehidupan. Menurut (Sen, 1999) kemiskinan lebih banyak berhubungan pada ketidakmampuan untuk mencapai standar hidup tersebut dari pada apakah standar hidup tersebut tercapai atau tidak. Menurut (Jain.T. & Khanna. O, 2009). Indikator lain dikembangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Physical Quality of Life Index (PQLI), bahwa kemiskinan merupakan kurangnya kebutuhan 80 % untuk memenuhi kesejahteraan, sisanya 10-20 % adalah garis kemiskinan absolut (Jain & Khanna, 2009). Pengertian tentang kemiskinan sudah semakin meluas, masalah kemiskinan tidak hanya menyangkut masalah ekonomi keuangan yang berkaitan dengan kemampuan untuk memperoleh pendapatan, maupun kemampuan untuk memperoleh barang dan jasa (pengeluaran), tetapi juga menyangkut dimensi lain seperi dimensi sosial, dimensi kesehatan, dimensi politik, dan dimensi pendidikan. Inflasi Inflasi merupakan keadaan ekonomi yang terjadi di semua Negara, dan semua Negara berusaha untuk menekan laju inflasi serendah mungkin karena efek inflasi yang bisa menurunkan daya beli masyarkat. Menurut (Bramantyo Djohanputro, MBA, 2008) inflasi merupakan kecenderungan kenaikan harga harga secara umum dimana kecenderungan dimaksudkan adalah kenaikan harga yang bukan terjadi sesaat, misal pada saat menjelang lebaran dimana harga barang cenderung naik namun harga akan kembali normal setelah lebaran usai maka kenaikan harga tersebut tidak bisa dimasukkan dalam kategori inflasi. Menurut Samuelson dan Nordhaus dalam (Bramantyo Djohanputro, MBA, 2008) inflasi di golongkan dalam tiga kategori : 1. Low Inflation atau disebut inflasi satu digit yatu inflasi yang ada dibawah 10%. Inflasi ini dianggap normal dan mayarakat masih percaya pada uang dan masih mau memegang uang. 2. Galloping inflation atau double digit bahkan triple digit inflation. Dimana inflasi ini ada dikisaran antara 20% sampai 200% per tahun. Inflasi ini bisa terjadi karena pemerintahan yang ada tidak kredible dimata masyarakat, terjadi perang atau revolusi yang menyebabkan terjadi kekurangan barang dilain pihak ketersediaan uang melimpah dan pada akhirnya hal ini bias menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap uang. 3. Hyperinflation yaitu inflasi yang ada dikisaran diatas 200% per tahun. Kondisi ini masuk dalam kategori inflasi yang sangat parah, orang sudah tidak percaya lagi dengan uang dan pada kondisi ini lebih baik orang membelanjakan uangnya dan menyimpan dalam bentuk barang. Menurut (Bramantyo Djohanputro, MBA, 2008) sumber inflasi ada dua : 1. Inflasi karena tarikan permintaan (demand pull inflation) yaitu inflasi yang terjadi karena terjadi kenaikan harga karena jumlah permintaan yang tinggi melebihi ketersediaan barang. 2. Inflasi dorongan biaya (cost push inflation) yaitu inflasi yang terjadi karena naikkan harga-harga factor produksi seperti upah buruh sehingga produsen harus menaikkan harga jual supaya bias menutup kenaikan biaya tersebut. Pengangguran Menurut Sukirno (2013) terdapat 3 kelompok angkatan kerja berdasarkan Pendekatan pemanfaatan tenaga kerja (labour utilization approch), antara lain: 1. Menganggur (Unemployed), yaitu mereka yang sama sekali tidak bekerja atau sedang mencari pekerjaan. 2. Setengah menganggur (Underemployed), yaitu mereka yang bekerja tetapi belum dimanfaatkan secara penuh. 3. Bekerja Penuh (Employed), yaitu orang-orang yang bekerja penuh atau jam kerjanya mencapai 35 jam per minggu. Dalam membicarakan mengenai pengangguran yang selalu diperhatikan bukanlah mengenai jumlah pengangguran, tetapi mengenai tingkat pengangguran yang dinyatakan sebagai persentasi dari angkatan kerja. Untuk melihat keterjangkauan pekerja (kesempatan bekerja), maka digunakan rumus Tingkat Pengangguran Terbuka. Definisi dari tingkat pengangguran terbuka ialah persentase penduduk yang mencari pekerjaan, yang mempersiapkan usaha, yang tidak mencari pekerjaan, karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan, yang sudah mempunyai pekerjaan tetapi belum mulai bekerja dari sejumlah angkatan kerja yang ada (BPS). Hubungan Pertumbuhan Ekonomi dan Tingkat Kemiskinan Menurut Kuznets (1955), pada tahap awal pembangunan akan ditandai adanya pertumbuhan yang tinggi dengan disertai tingkat ketimpangan pendapatan dan kemiskinan yang tinggi pula. Kondisi tersebut akan berlangsung sampai pada titik kritis tertentu, di mana tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan diikuti oleh semakin menurunnya tingkat ketimpangan pendapatan dan kemiskinan (Subandi, 2011). Hubungan Inflasi Kemiskinan dan Tingkat Badan Pusat Statistik (2013) mencatat tingginya laju inflasi bisa menaikkan ukuran garis kemiskinan. Pasalnya, harga barang dan jasa menjadi salah satu penentu tolok ukur garis kemiskinan. Kenaikan inflasi pasti akan menaikkan garis kemiskinan. Ketika laju inflasi bergulir dan nilai mata uang riil berfluktuasi sangat besar maka inflasi yang meningkat pada gilirannya akan diikuti oleh peningkatan batas garis kemiskinan sebagai akibat dari peningkatan laju inflasi akan mendorong terjadinya peningkatan jumlah penduduk miskin bila tidak diikuti oleh peningkatan daya beli atau peningkatan pendapatan masyarakat terutama kelompok masyarakat yang berpendapatan rendah (Mankiw, 2003). Hubungan Tingkat Pengangguran dan Tingkat Kemiskinan Arsyad (2010) menyatakan bahwa ada hubungan yang erat sekali antara tingginya tingkat pengangguran dan kemiskinan. Bagi sebagian besar masyarakat, yang tidak mempunyai pekerjaan tetap atau hanya part-time selalu berada diantara kelompok masyarakat yang sangat miskin. Tinjauan literatur mewakili inti teoretis dari sebuah artikel. Pada bagian ini, kita akan membahas tujuan tinjauan literatur. Kami juga akan mempertimbangkan bagaimana seseorang harus mencari literatur yang sesuai yang menjadi dasar tinjauan literatur dan bagaimana informasi ini harus dikelola. Akhirnya, menjawab pertanyaan yang sering dilawan oleh para peneliti pertama kali ketika menyusun tinjauan literatur. METODOLOGI Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif, dengan melakukan analisis pengaruh variabel pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan pengangguran terhadap kemiskinan. Desain penelitian yang dipakai adalah kausalitas yaitu menjelaskan kemungkinan adanya hubungan sebab akibat antara variabelvariabel dengan melalui pengujian hipotesis. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik. Dimana peneliti bermaksud untuk menganalisis pengaruh pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan pengangguran terhadap kemiskinan di Sumatera Utara tahun 2001-2019. Metode analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Uji Asumsi Klasik, Uji Simultan (uji F), Uji Parsial (uji t), dan Uji R2 (uji koefisien determinasi). HASIL DAN PEMBAHASAN Uji Asumsi Klasik Uji asumsi klasik pada model regresi perlu dilakukan agar dapat mengetahui layak tidaknya suatu model, Adapun asumsi dasar yang harus dipenuhi meliputi pengujian normalitas, multikolinieritas, heterokedastisitas, dan autokorelasi. a. Uji Normalitas Uji normalitas dilakukan untuk menguji apakah model regresi, baik variabel dependen maupun independen, memiliki distribusi data yang normal atau tidak. 5 Series: Residuals Sample 2001 2019 Observations 19 4 3 2 1 0 -0.75 -0.50 -0.25 0.00 0.25 0.50 Dari output hasil uji diperoleh nilai Probability 0,559 > 0,05. Yang artinya adalah model regresi yang diolah tidak ada permasalahan normalitas. b. Uji Heterokodastisitas 0.75 Mean Median Maximum Minimum Std. Dev. Skewness Kurtosis -2.58e-15 0.008650 0.771732 -0.707209 0.485076 0.008390 1.788145 Jarque-Bera Probability 1.162859 0.559099 1.00 Uji Heterokedastisitas bertujuan untuk menilai apakah ada ketidaksamaan varian dari residual untuk semua pengamatan pada model regresi. Cara memprediksi ada tidaknya Heterokedestisitas dapat dilihat dari nilai Probability Chi-Square. Heteroskedasticity Test: White F-statistic Obs*R-squared Scaled explained SS 0.862331 8.797733 2.160838 Dari hasil uji diperoleh nilai Probability Chi-Square 0,988 > 0,05. Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi gejala heteroskedastisitas pada model regresi, sehingga model regresi layak dipakai untuk memprediksi kemiskinan berdasarkan masukan variabel bebas pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan pengangguran. Prob. F(9,9) Prob. Chi-Square(9) Prob. Chi-Square(9) 0.5855 0.4562 0.9887 c. Uji Autokorelasi Uji Autokolerasi bertujuan menguji apakah ada korelasi yang terjadi antara residual pada satu pengamatan dengan pengamatan lain pada model regresi. Untuk menguji keberadaan autokolerasi dalam penelitian ini digunakan metode LM test. Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic Obs*R-squared 2.549863 5.353385 Prob. F(2,13) Prob. Chi-Square(2) Dari hasil uji diperoleh nilai Probability Chi-Square 0,0688 > 0,05. Berdasarkan kriteria yang telah ditentukan, maka tidak terjadi Autokorelasi sehingga kesimpulannya adalah uji autokorelasi terpenuhi. 0.1163 0.0688 Uji Multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya kolerasi antara variabel independen. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi kolerasi diantara variabel independen. d. Uji Multikolinearitas Variable Coefficient Variance Uncentered VIF Centered VIF C LPERT_EKONOMI LINFLASI LPENGANGGURAN 59.42638 0.741425 0.035663 0.420677 3998.819 143.7542 8.309272 4800.776 NA 1.356628 1.126165 1.448237 Berdasarkan tabel hasil perhitungan diatas diperoleh hasil perhitungan nilai VIF berada dibawah 10. Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi gejala multikolinearitas antara variabel independen dalam model regresi yang digunakan. Uji Signifikansi Dependent Variable: LKEMISKINAN Method: Least Squares Date: 05/12/20 Time: 22:24 Sample: 2001 2019 Included observations: 19 Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. C LPERT_EKONOMI LINFLASI LPENGANGGURAN -18.11088 -2.909336 0.260592 2.780117 7.708851 0.861061 0.188847 0.648597 -2.349362 -3.378782 1.379911 4.286359 0.0329 0.0041 0.1878 0.0006 R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statistic) 0.663710 0.596452 0.531374 4.235380 -12.70066 9.868131 0.000767 Berdasarkan estimasi yang telah dilakukan didapat model persamaan kemiskinan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: LogKemiskinan= -18,11088 – 2,909336LogPE + 0,260592LogINF + 2,780117LogPNG + e Berdasarkan koefisien diatas, maka dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Konstanta sebesar -18,11088 menunjukkan bahwa jika variabel bebas seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan Mean dependent var S.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion Hannan-Quinn criter. Durbin-Watson stat 13.62432 0.836475 1.757964 1.956793 1.791614 0.999835 pengangguran adalah konstan, maka kemiskinan akan tetap sebanyak -18,11088 persen. b. Setiap kenaikan pertumbuhan ekonomi sebesar 1 persen, maka akan mengurangi besaran kemiskinan sebesar 2,909336 persen. c. Setiap kenaikan inflasi sebesar 1 persen, maka akan menambah besaran kemiskinan sebesar 0,260592 persen. d. Setiap kenaikan pengangguran sebesar 1 persen, maka akan menurunkan besaran kemiskinan sebesar 2,780117 persen. 1. Uji Simultan (F-test) Berdasarkan tabel ouput diatas diketahui bahwa nilai Fhit sebesar 9.868131 > Ftab 3.29 dan perolehan nilai sig.sebesar 0,000 < 0,05, yang artinya secara silmultan pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan pengangguran berpengaruh signifikan terhadap kemiskinan di Sumatera Utara pada taraf alpha 5%. dan perolehan nilai sig 0.0006 > 0,05 pada taraf alpha 5%. 3. Uji Koefisien Determinan (R2) Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa nilai R2 sebesar 0.663710. Hal ini menunjukkan bahwa variable pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan pengangguran mampu menjelaskan model kemiskinan di Sumatera Utara sebesar 66,37%, sedangkan sisanya dipengaruhi variable lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. 2. Uji Parsial (T-test) Berdasarkan tabel diatas, dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1.75305 a. Variabel pertumbuhan ekonomi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kemiskinan di Sumatera Utara dengan perolehan thit sebesar -3.378782 > ttab 1.75305 dan perolehan nilai sig 0.0041 < 0,05 pada taraf alpha 5%. b. Variabel inflasi berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap kemiskinan di Sumatera Utara dengan perolehan thit sebesar 1.379911 < ttab1.75305 dan perolehan nilai sig 0.1878 > 0,05 pada taraf alpha 5%. c. Variabel pengangguran berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemiskinan di Sumatera Utara dengan perolehan thit 4.286359 sebesar < ttab 1.75305 Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Kemiskinan Tingkat pertumbuhan ekonomi di Indonesia mempunyai hubungan yang negatif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan. Nilai koefisien pertumbuhan ekonomi sebesar 2,909336 yang mempunyai arti bahwa setiap peningkatan pertumbuhan ekonomi sebesar 1% maka akan menurunkan tingkat kemiskinan sebesar 2,909336%. Maka secara teoritis hubungan pergerakan tingkat pertumbuhan ekonomi dengan pergerakan tingkat kemiskinan tersebut berbanding terbalik. Artinya apabila tingkat kemiskinan mengalami kenaikan maka pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan. Temuan ini sejalan dengan penelitian Anggara (2017) yang juga mendapatkan hasil penelitian pertumbuhan ekonomi memiliki pengaruh yang negtif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan. Pengaruh Inflasi terhadap Kemiskinan Tingkat inflasi di Indonesia mempunyai hubungan yang positif dan tidak signifikan terhadap kemiskinan. Maka secara teoritis hubungan pergerakan tingkat Inflasi dengan pergerakan inflasi tersebut tidak memiliki hubungan yang kuat, dimana dapat dilihat dalam koefisien inflasi yang mempengaruhi tingkat kemiskinan hanya sebesar 0,260592%. Artinya apabila tingkat Inflasi mengalami kenaikan maka tidak terjadi pengurangan ataupun penambahan pada tingkat kemiskinan. Temuan ini sejalan dengan penelitian Imelia (2012) yang juga mendapatkan hasil penelitian inflasi memiliki pengaruh yang positif dan tidak signifikan terhadap kemiskinan. KESIMPULAN Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, dapat disimpulkan berbagai hal sebagai berikut: 1. Hasil pengujian menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kemiskinan di Sumatera Utara. Jadi apabila kemiskinan meningkat maka akan Pengaruh Pengangguran Terhadap Kemiskinan Tingkat pengangguran mempunyai hubungan yang positif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan. Nilai koefisien pengangguran sebesar 2,780117 yang mempunyai arti bahwa setiap peningkatan pengangguran sebesar 1% maka akan menaikkan tingkat kemiskinan sebesar 2,780117 %. Maka secara teoritis hubungan pergerakan tingkat pertumbuhan ekonomi dengan pergerakan tingkat kemiskinan tersebut sejalan. Artinya apabila tingkat pengangguran mengalami kenaikan maka tingkat kemiskinan mengalami kenaikan juga. Temuan ini sejalan dengan penelitian Anggara (2017) yang juga mendapatkan hasil penelitian pengangguran memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan. menyebabkan pertumbuhan ekonomi terdepresiasi. 2. Hasil pengujian menunjukkan bahwa inflasi berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap kemiskinan di Sumatera Utara. Jadi adanya kenaikan inflasi tidak akan menyebabkan pengurangan tingkat kemiskinan. 3. Hasil pengujian menunjukkan bahwa pengangguran berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemiskinan di Sumatera Utara. Jadi ketika terjadi kenaikan pengangguran maka akan menyebabkan tingkat kemiskinan meningkat di Sumatera Utara. 4. Hasil pengujian F menunjukkan bahwa secara silmultan pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan pengangguran berpengaruh signifikan terhadap kemiskinan di Sumatera Utara pada taraf alpha 5%. SARAN Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang diperoleh, maka saran yang diajukan dalam penelitian ini yaitu: 1. Pemerintah harus lebih giat dalam memacu pertumbuhan ekonomi dengan membuat suatu kebijakan dan mengambil peran yang cukup besar untuk dapat mendorong pencapaian pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dan dapat menurunkan tingkat kemiskinan. 2. Pemerintah harus mendorong konsumsi masyarakat serta mendorong penyediaan produksi pangan dengan menjaga kestabilan inflasi, dengan itu diharapkan dapat menekan laju angka kemiskinan. 3. Dalam menekan laju angka pengangguran, hendaknya pemerintah maupun masyarakat dapat saling membantu dalam menciptakan lapangan pekerjaan sehingga diharapkan dapat mengurangi tingkat kemiskinan. DAFTAR PUSTAKA Imelia. (2011). Pengaruh Inflasi Terhadap Kemiskinan Di Propinsi Jambi. Jurnal Paradigma Ekonomika, 1(4), 48–61. Anggara, G, P. (2017). Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi dan Tingkat Pengangguran Terhadap Tingkat Kemiskinan di Provinsi Sumatera Utara. Jurnal Ekonomi Pembangunan, 7(11), 2461–2489. Arsyad, Lincolin. 2010. Ekonomi pembangunan. Edisi 5 .Yogyakarta: STIM YKP. Kuznets, Simon. (1955). Economic Growth and Income Inequality. The American Economic Review. 45(1), 1-28. Mankiw, N. Gregory. 2003. Teori Makro Ekonomi Terjemahan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Sukirno, Sadono. 2013. Makro Ekonomi, Teori Pengantar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Subandi. 2011. Ekonomi Pembangunan. Bandung: Alfabeta. Sharp, Ansel,. Charles, Register., & Grimes, Paul. 2012. Economics of Social Issues (20th Edition). Asfia, M. 2006. Ekonomi Makro. Jakarta : Gramedia. Bramantyo Djohanputro, MBA, P (2008) Prinsip-Prinsip Ekonomi Makro. Kedua. Jakarta : PPM Manajemen. Smith, M. P. T. dan S. C. (2011) Pembangunan Ekonomi. 11th edn. Jakarta: Erlangga. Jain.T. & Khanna. O (2009) Basic Economics. New Delhi: VK Piblication. Soleh, A. (2013). Pertumbuhan Ekonomi Dan Kemiskinan Di Indonesia. Ekombis Review pp. 197–209. Nurwati, N. (2008). Kemiskinan : Model Pengukuran , Permasalahan dan Alternatif Kebijakan. Jurnal Kependudukan Padjadjaran, 10(1), pp. 1–11. Sugiyono (2013) Statistika Penelitian. Alfabeta. Retnowati, D. (1969) ‘TENGAH Oleh ’:, 20(1), pp. 36–51. Retnowati, D. D., Si, M. and Harsuti, S. E. (no date) ‘Pengaruh Pengangguran Terhadap Tingkat Kemiskinan Di Jawa Tengah’, pp. 608–618. Available at. Siregar, H. and Wahyuni, D. (2007). Dampak Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Penurunan Jumlah Penduduk Miskin. Economics development, (pertumbuhan ekonomi dan penduduk miskin), pp. 1–28. Untuk Sukirno, S. (2008) Makroekonomi. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada. Wikipedia (2013) ‘Kemiskinan Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas’. Available at: http://id.wikipedia.org/wiki/Kemiski nan Wulandari, F. H. (2012). Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, Inflasi, Pengangguran, Dan Pendidikan terhadap Kemiskinan Provinsi Di Indonesia Tahun 2008-2012.Jurnal Ekonomi Pembangunan.

Judul: Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi Inflasi Dan Pengangguran Terhadap Kemiskinan Di Sumatera Utara

Oleh: Patricia Intan Karonesia


Ikuti kami