Makalah Menjelaskan Asuhan Bayi Baru Lahir Di Komunitas Dan Kunjungan Rumah

Oleh Karissa Yudanti

478,5 KB 9 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Menjelaskan Asuhan Bayi Baru Lahir Di Komunitas Dan Kunjungan Rumah

MAKALAH MENJELASKAN ASUHAN BAYI BARU LAHIR DI KOMUNITAS DAN KUNJUNGAN RUMAH MATA KULIAH ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS Disusun oleh: Kelompok 5 (Kelas IIB) 1) Karisa Wilwatikta Yudanti (P3.73.24.2.18.058) 2) Lingkan Angelica Sulu (P3.73.24.2.18.059) 3) Mutiah Elfiana (P3.73.24.2.18.063) 4) Sisca Pandan Sari (P3.73.24.2.18.075) POLTEKKES KEMENKES JAKARTA III PROGRAM STUDI D-III KEBIDANAN TAHUN 2020/2021 KATA PENGANTAR Segala puji kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Kesehatan Reproduksi. Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah Kesehatan Reproduksi tentang “Evidence Based Dalam Asuhan KB”. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing karena dengan adanya tugas ini dapat menambah pengetahuan kami. Demikianlah makalah ini kami susun. Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dari makalah ini, oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan untuk kesempurnaan penyusunan makalah ini kedepannya. Bekasi, Februari 2020 Kelompok 5 1 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR...................................................................................................................................1 DAFTAR ISI...............................................................................................................................................2 BAB I........................................................................................................................................................3 PENDAHULUAN.......................................................................................................................................3 1. Latar Belakang.....................................................................................................................................3 2. Rumusan Masalah...............................................................................................................................3 3. Tujuan..................................................................................................................................................3 BAB II.......................................................................................................................................................4 PEMBAHASAN.........................................................................................................................................4 A. Konsep Dasar Asuhan Bayi Baru Lahir..............................................................................................4 B. Manajemen Pada Bayi Baru Lahir dan Neonatus.............................................................................8 C. Pelayanan Kesehatan Pada Bayi dan Balita, Pemantauan Tumbuh Kembang Bayi dan Balita, Deteksi Dini............................................................................................................................................15 D. Imunisasi di Komunitas..................................................................................................................24 BAB III....................................................................................................................................................29 PENUTUP...............................................................................................................................................29 1. Kesimpulan........................................................................................................................................29 DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................................................30 2 BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Bidan komunitas adalah bidan yang bekerja melayani keluarga dan masyarakat di wilayah tertentu. Kebidanan komunitas adalah bagian dari kebidanan yang berupa serangkaian ilmu dan keterampilan untuk memberikan pelayanan kebidanan pada ibu dan anak yang berada dalam masyarakat di wilayah tertentu. Sasaran kebidanan komunitas adalah ibu dan anak balita yang berada di dalam keluarga dan masyarakat .Bidan memandang pasiennya sebagai makhluk sosial yang memiliki budaya tertentu dan dipengaruhi oleh kondisi ekonomi ,politik, sosial, budaya dan lingkungan sekitarnya Setiap petugas kesehatan yang bekerja dimasyarakat perlu memahami masyarakat yang di layaninya ,baik keadaan budaya maupun tradisi setempat sangat menentukan pendekatan yang di tempuh. Pendekatan yang akan digunakan oleh bidan harus memperhatikan strategi pelayanan kebidanan dan tugas dan tanggung jawab bidan agar masyarakat mau membuka hatinya untuk bekerja sama dengan bidan sehingga tercipta pelayanan kesehatan yang bermutu di masyarakat. Pelayanan kebidanan merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk mewujudkan kesehatan keluarga yang berkualitas. Pelayanan kebidanan adalah pelayanan yang diberikan oleh bidan sesuai dengan kewenangannya untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak di keluarga maupun di masyarakat. Dalam rangka pemberian pelayanan kebidanan pada ibu dan anak di komunitas diperlukan bidan komunitas yaitu bidan yang bekerja melayani ibu dan anak di suatu wilayah tertentu. Perkembangan nasional dibidang kesehatan bertujuan untuk mencapai kemampuan untuk hidup sehat, bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Untuk mewujudkan kesehatan masyarakat secara optimal diperlukan peran serta masyarakat dan sumber daya masyarakat sebagai modal dasar dalam pembangunan nasioal, termasuk keluarga sebagai unit terkecil dari masyarakat. 2. Rumusan Masalah 1. 2. 3. 4. Apa saja konsep dasar asuhan bayi baru lahir di komunitas? Bagaimana manajemen pada bayi baru lahir dan neonates di komunitas? Bagaimana pelayanan kesehatan pada bayi dan balita, pemantauan tumbuh kembang? Apa saja dan bagaimana caranya melakukan imunisasi di komunitas? 3. Tujuan 1. 2. 3. 4. Memahami konsep dasar asuhan bayi baru lahir di komunitas Mengetahui manajemen pada bayi baru lahir dan neonates di komunitas Mengetahui pelayanan kesehatan pada bayi dan balita, pemantauan tumbuh kembang Mengetahui apa saja dan bagaimana caranya melakukan imunisasi di komunitas 3 BAB II PEMBAHASAN A. Konsep Dasar Asuhan Bayi Baru Lahir 1. Definisi Bayi baru lahir atau neonatus adalah bayi yang berusia 0-28 hari. Kehidupan pada masa neonatus ini sangat rawan karena memerlukan penyesuaian fisiologis agar bayi di luar kandungan dapat hidup sebaik-baiknya. Hal ini dapat dilihat dari tingginya angka kesakitan dan angka kematian neonatus. 2. Ciri-ciri a. Lahir aterm antara 37-40 minggu. b. Berat badan 2.500-4000 gram. c. Panjang badan 48-52 cm. d. Lingkar dada 30-38 cm. e. Lingkar kepala 33-35 cm. f. Lingkar lengan 11-12 cm. g. Frekuensi denyut jantung 120-16 x/menit. h. Pernafasan 40-60 x/menit. i. Kulit kemerah-kemerahan dan licin karena jaringan subkutan yang cukup j. Rambut lanugo tidak terlihat dan rambut kepala biasanya telah sempurna. k. Kuku agak panjang dan lemas. l. Menangis kuat, gerakan aktif, kulit kemerahan m. Gerak aktif. n. Bayi lahir langsung menangis kuat. o. Refleks rooting, (mencari puting susu dengan rangsangan taktil pada pipidan daerah mulut) sudah terbentuk dengan baik p. Refleks sucking dan swallowing, (isap dan menelan) sudah terbentukdengan baik. q. Refleks morro, (gerakan memeluk bila dikagetkan) sudah terbentukdengan baik. r. Refleks grapsing, (menggenggam) sudah baik. 4 s. Genetalia Pada laki-laki kematangan ditandai dengan testis yang berada padaskrotum dan penis yang berlubang. Pada perempuan kematangan ditandai dengan vagina dan uretra yang berlubang, serta adanya labia minora dan mayora. Eliminasi baik yang ditandai dengan keluarnya mekonium dalam 24 jam pertama dan berwarna hitam kecoklatan. 3. Klasifikasi Bayi baru lahir atau neonatus di bagi dalam beberapa kasifikasi menurut, yaitu : a. Neonatus menurut masa gestasinya : 1) Kurang bulan (preterm infant) : < 259 hari (37 minggu) 2) Cukup bulan (term infant) : 259-294 hari (37-42 minggu) 3) Lebih bulan (postterm infant) : > 294 hari (42 minggu atau lebih) b. Neonatus menurut berat badan lahir : 1) Berat lahir rendah : < 2500 gram 2) Berat lahir cukup : 2500-4000 gram 3) Berat lahir lebih : > 4000 gram c. Neonatus menurut berat lahir terhadap masa gestasi (masa gestasi dan ukuran berat lahir yang sesuai untuk masa kehamilan) : 1) Nenonatus cukup/kurang/lebih bulan (NCB/NKB/NLB) 2) Sesuai/kecil/besar untuk masa kehamilan (SMK/KMK/BMK) 4. Asuhan Pada Bayi Baru Lahir a. Penilaian Segera setelah lahir, letakan bayi diatas kain yang bersih dan kering yang sudahdisiapkan diatas perut ibu. Apabila tali pusat pendek, maka letakan bayi diantarakedua kaki ibu, pastikan bahwa tempat tersebut dalam keadaan bersih dan kering.Segara lakukan penilaian awal pada bayi baru lahir. 1. Apakah bayi bernafas atau menangis kuat tanpa kesulitan ? 5 2. Apakah bayi bergerak aktif ? 3. Bagiamana warna kulit, apakah berwarna kemerahan atau kah ada sianosis ? Bayi yang dikatakan lahir normal adalah bayi yang menangis kuat, bergerakaktif, dan warna kulit kemerahan. Apabila salah satu penilaian tidak ada pada bayi, bayi tidak dikatakan lahir normal/fisiologis. b. Penanganan Penanganan utama untuk bayi baru lahir normal adalah melakukan penilaian,menjaga bayi agar tetap hangat, membersihkan saluran nafas (jika perlu),mengeringkan tubuh bayi (kecuali telapak tangan), memantau tanda bahaya, memotong tali pusat, melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD), memberikansuntik vitamin K1 secara IM (Intramuskular), dengan dosis tunggal 1 mg pada setiap bayi baru lahir, memberikan salep mata antibiotic tetrasiklin 1% padakedua mata, melakukan pemeriksaan fisik memberikan imunisasi Hepatitis B00,5 ml secara IM (intramuskular) di paha kanan anteroleteral, diberi kira-kira 1-2 jam setelah pemberian vitamin K1. c. Mekanisme kehilangan panas Bayi dapat kehilangan panas tubuhnya melalui : 1) Evaporasi, yaitu penguapan cairan ketuban pada tubuh bayi sendiri karenasetelah lahir tidak segera dikeringkan dan diselimuti. 2) Konduksi, yaitu melalui kontak langsung antara tubuh bayi dan permukaanyang dingin. 3) Konveksi, yaitu pada saat bayi terpapar udara yang lebih dingin (misalnya melalui kipas angina, hembusan udara, atau pendingin ruangan). 4) Radiasi, yaitu ketika bayi ditempatkan di dekat benda-benda yang mempunyai suhu lebih rendah dari suhu tubuh bayi (walaupun tidak bersentuhan secara langsung). d. Pencegahan kehilangan panas 6 Mekanisme pengaturan temperature bayi baru lahir belum sempurna. Olehkarena itu, jika tidak dilakukan pencegahan kehilangan panas maka bayi akan mengalami hipotermia. Bayi dengan hipotermi sangat beresiko mengalamikesakitan berat atau bahkan kematian. Hipotermi sangat mudah terjadi pada bayi yang tubuhnya dalam keadaan basah atau tidak segera dikeringkan dandiselimuti walaupun dalam keadaan basah atau tidak segera dikeringkan dan diselimuti walaupun berasa dalam rungan yang sangat hangat. e. Pencegahan infeksi Pencegahan infeksi merupakan penatalaksanaan awal yang harus dilakukan pada bayi baru lahir karena bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi. Padasaat bayi baru lahir, pastikan penolong untuk melakukan tindakan pencegahan infeksi. Tindakan pencegahan infeksi pada bayi baru lahir adalah sebagai berikut: 1) Beri salep mata segera setelah lahir 2) Beri imunisasi hepatitis B sebelum bayi berumur 7 hari ( 0,5 ml/10 mcg) 3) Jaga agar tali pusat tetap kering dan bersih 4) Jangan bubuhi tali pusat dengan ramuan atau bahan lain 5) Peluk bayi dengan kasih sayang 6) Mencuci tangan secara seksama sebelum dan setelah melakukan kontak dengan bayi. 7) Memakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi yang belum dimandikan. 8) Memastikan satung tangan peralatan, termasuk klem gunting, dan benangtali pusat telah di desinfeksi tingkat tinggi atau steril. Jika menggunakan bola karet penghisap, pakai yang bersih dan baru. Jangan pernah menggunakan bola kakret penghisap untuk lebih dari satu bayi. 9) Memastikan bahwa semua pakaian, handuk, selimut serta kain yang digunakan untuk bayi, telah dalam keadaan bersih. 7 10) Memastikan bahwa timbangan, pita pengukur, thermometer, stetoskop dan benda-benda lainnya yang akan bersentuhan dengan bayi dalam keadaan bersih (dekontaminasi dan cuci setiap kali digunakan). 11) Menganjurkan ibu menjaga kebersihan diri, terutama payudara denganmandi setiap hari (putting susu tidak boleh disabun). 12) Membersihkan muka, pantat, dan tali pusat bayi baru lahir dengan air bersih, hangat dan sabun setiap hari. 13) Menjaga bayi dari orang-orang yang menderita infeksi dan memastikan orang-orang yang memegang bayi sudah cuci tangan sebelumnya B. Manajemen Pada Bayi Baru Lahir dan Neonatus 1. Penilaian a. Apakah bayi cukup bulan ? b. Apakah air ketuban jernih, tidak bercampur mekonium ? c. Apakah bayi menangis atau bernapas ? d. Apakah tonus otot bayi baik ? Manajemen bayi baru lahir normal a. Bayi cukup bulan b. Air ketuban jernih c. Menangis atau bernapas, tonus otot baik Manajemen asfiksia bayi baru lahir a. Bayi tidak cukup bulan b. Tidak menangis atau bernapas atau megap-megap dan atau c. Tonus otot tidak baik Manajemen air ketuban bercampur mekonium a. Air ketuban bercampur meconium 8 2. Manajemen Bayi Baru Lahir Normal PENILAIAN : 1. Bayi cukup bulan 2. Air ketuban jernih, tidak bercampur meconium 3. Bayi menangis atau bernapas 4. Tonus otot bayi baik Asuhan Bayi Baru Lahir 1. Jaga kehangatan 2. Bersihkan jalan napas (bila perlu) 3. Keringkan dan tetap jaga kehangatan 4. Potong dan ikat tali pusat tanpa membubuhi apapun, kira-kira 2 menit setelah lahir 5. Lakukan inisiasi menyusui dini dengan cara kontak kulit bayi dengan kulit ibu 6. Beri salep mata antibiotika tetrasiklin 1% pada kedua mata 7. Beri suntikan vitamin K 1 mg intramuscular, di paha kiri anterolateral setelah Inisiasi Menyusui Dini 8. Beri imunisasi Hepatitis B 0,5 ml intramuscular di paha kanan anterolateral, diberikan kira-kira 1-2 jam setelah pemberian vitamin K1 *Pemotongan dan pengikatan tali pusat pada bayi normal, dilakukan sekitar 2 menit setelah bayi lahir (atau setelah bidan menyuntikkan oksitosin kepada ibu), untuk memberi cukup waktu bagi tali pusat mengalirkan darah kaya akan zat besi kepada bayi 9 3. Manajemen Asfiksia Baru Lahir 10 11 4. Pelaksanaan Kesehatan Bayi Baru Lahir a. Kunjungan neonatal hari ke-1 ( KN 1) 1) Untuk bayi yang lahir di fasilitas kesehatan pelayanan dapat dilaksanakan sebelum bayi pulang dari fasilitas kesehatan (≥24 jam) 2) Untuk bayi yang lahir di rumah, bila bidan meninggalkan bayi sebelum 24 jam, maka pelayanan dilaksanakan pada 6-24 jam setelah lahir. Hal yang dilaksanakan : a) Jaga kehangatan tubuh bayi b) Berikan ASI eksklusif c) Cegah infeksi d) Rawat tali pusat 3) Komunikasikan kepada orangtua bayi bagaimana caranya merawat tali pusat. 4) Pemeriksaan fisik dan reflek bayi Pengukuran berat badan, panjang tubuh dan lingkar kepala. Ratarata peningkatan berat badan bayi dalam tiga bulan pertama adalah 1 ons per hari sedangkan bayi yang disusui, peningkatan berat badannya kurang lebih 1 ons per hari. Selama 3-5 hari pertama, BB bayi akan hilang 5-10%, penurunan BB tsb harus dicapai kembali pada hari ke 10. Tingkat kesadaran, bunyi pernafasan dan irama jantung b. Kunjungan neonatal hari ke-2 ( KN 2) 1) Jaga kehangatan tubuh bayi 2) Berikan ASI eksklusif 3) Cegah infeksi 4) Rawat tali pusat 5) Menjelaskan rangkaian imunisasi 6) Mengukur kembali BB dan TB 12 c. Kunjungan neonatal minggu ke-1 1) Timbang berat badan bayi. Bandingkan dengan berat badan saatinidengan berat badan saat bayi lahir. Catat penurunan dan penambahanulang BB bayinya. 2) Perhatikan intake dan output bayi baru lahir. 3) Lihat keadaan suhu tubuh bayi 4) Kaji keadekuatan suplai ASI 4 minggu setelah kelahiran 5) Ukur tinggi dan berat badan bayi dan bandingkan dengan pengukuran pada kelahiran dan pada usia 6 minggu. 6) Perhatikan nutrisi bayi8) 7) Perhatikan keadaan penyakit pada bayi d. Kunjungan neonatal minggu ke-3 ( KN 3 ) 1) Periksa ada/tidak tanda bahaya dan/atau gejala sakit 2) Lakukan; jaga kehangatan, beri ASI eksklusif, rawat tali pusat Kunjungan neonatal bertujuan untuk meningkatkan akses neonatus terhadap pelayanan kesehatan dasar, mengetahui sedini mungkin bila terdapat kelainan atau masalah kesehatan pada neonatus. Resiko kematian pada neonatus terjadi pada saat 24 jam pertama kehidupan, minggu pertama dan bulan pertama kehidupannya. Sehingga jika bayi dilahirkan di tempat fasilitas kesehatan dianjurkan untuk tetap tinggal di tempat fasilitas kesehatan selama 24 jam pertama. Pelayanan kesehatan neonatal dasar dilakukan secara komprehensif dengan melakukan pemeriksaan dan perawatan bayi baru lahir dan pemeriksaan menggunakan pendekatan Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM). Pelayanan ini termasuk ASI eksklusif dengan konseling dengan ibu dan keluarganya, pencegahan infeksi berupa perawatan mata, perawatan tali pusat, penyuntikan vitamin K1 dan imunisasi HB-0 yang diberikan pada saat kunjungan rumah sampai bayi berumur 7 hari (bila tidak langsung diberikan pada saat lahir), dan penangan rujukan kasus. 13 5. Hal yang dilakukan dalam Pemeriksaan Kunjungan Neonatus a. Lakukan pengamatan tanda-tanda bayi sehat b. Setiap bulan BB anak bertambah mengikuti pita hijau pada KMS c. Perkembangan dan kepandaian anak bertambah sesuai usia d. Anak jarang sakit e. Anak ceria, gembira, aktif, lincah, dan cerdas 6. Tatalaksana Bayi Baru Lahir a. Asuhan bayi baru lahir pada 0 – 6 jam: 1) Asuhan bayi baru lahir normal, dilaksanakan segera setelah lahir, dan diletakkan di dekat ibunya dalam ruangan yang sama. 2) Asuhan bayi baru lahir dengan komplikasi dilaksanakan satu ruangan dengan ibunya atau di ruangan khusus. 3) Pada proses persalinan, ibu dapat didampingi suami. b. Asuhan bayi baru lahir pada 6 jam sampai 28 hari: 1) Pemeriksaan neonatus pada periode ini dapat dilaksanakan di puskesmas/ pustu/ polindes/ poskesdes dan/atau melalui kunjungan rumah oleh tenaga kesehatan. 2) Pemeriksaan neonatus dilaksanakan di dekat ibu, bayi didampingi ibu atau keluarga pada saat diperiksa atau diberikan pelayanan kesehatan. 3) Pelaksanaan asuhan bayi baru lahir dilaksanakan dalam ruangan yang sama dengan ibunya atau rawat gabung (ibu dan bayi dirawat dalam satu kamar bayi berada dalam jangkauan ibu selama 24 jam). 4) Ibu dan bayi dirawat dalam satu kamar, berada dalam jangkauan ibu selama 24 jam. Berikan hanya ASI saja tanpa minuman atau makanan lain kecuali atas indikasi medis. Tidak diberi dot atau kempeng. 7. Konseling pada saat melakukan asuhan neonatal di rumah a. Pemberian ASI segera setelah persalinan b. Berikan ASI sesering mungkin dan setiap bayi mengiginkan c. Jaga bayi agar suhunya tetap hangat 14 d. Tunda memandikan bayi sekurangnya 6 jam setelah lahir e. Pakaian bayi harus kering, ganti bila kain basah f. Jangan tidurkan bayi ditempat dingin atau banyak angin g. Jika berat lahir kurang dari 2500 gr, agar sering melakukan metode kangguru h. Ajak bayi tersenyum, bicara serta mendengarkan musik i. Berikan nasehat pada ibu j. Ajarkan cara pemberian ASI Eksklusif k. Menjaga bayi tetap hangat l. Merawat tali pusat m. Ajarkan cara merangsang perkembangan bayi. C. Pelayanan Kesehatan Pada Bayi dan Balita, Pemantauan Tumbuh Kembang Bayi dan Balita, Deteksi Dini 1. Pelayanan Kesehatan pada Bayi Pelayanan kesehatan bayi adalah pelayanan kesehatan sesuai standar yang diberikan oleh tenaga kesehatan kepada bayi sedikitnya 4 kali, selama periode 29 hari sampai dengan 11 bulan setelah lahir. Pelaksana pelayanan kesehatan bayi : a. Kunjungan bayi satu kali pada umur 29 hari – 2 bulan b. Kunjungan bayi satu kali pada umur 3 – 5 bulan c. Kunjungan bayi satu kali pada umur 6 – 8 bulan d. Kunjungan bayi satu kali pada umur 9 – 11 bulan Kunjungan bayi bertujuan untuk meningkatkan akses bayi terhadap pelayanan kesehatan dasar, mengetahui sedini mungkin bila terdapat kelainan pada bayi sehingga cepat mendapat pertolongan, pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit melalui pemantauan pertumbuhan, imunisasi, serta peningkatan kualitas hidup bayi dengan stimulusi tumbuh kembang. Dengan demikian hak anak mendapatkan pelayanan kesehatan terpenuhi. Pelayanan kesehatan tersebut meliputi : 15 a. Pemberian imunisasi dasar lengkap (BCG, Polio 1, 2,3, 4, DPT/HB 1, 2, 3, Campak) sebelum bayi berusia 1 tahun b. Stimulasi deteksi intervensi dini tumbuh kembang bayi (SDIDDTK) c. Pemberian vitamin A 100.000 IU (6 – 11 bulan) d. Konseling ASI ekskulusif, pemberian makanan pendamping ASI, tanda – tanda sakit dan perawatan kesehatan bayi di rumah menggunakan Buku KIA e. Penanaganan dan rujukan kasus bila di perlukan 2. Pelayanan Kesehatan pada Balita Anak balita (bawah lima tahun) usia 1-5 tahun, merupakan kelompok tersendiri yang dalam perkembangan dan pertumbuhannya memerlukan perhatian yang lebih khusus. Bila perkembangan dan pertumbuhan pada masa BALITA ini mengalami gangguan, hal ini akan berakibat terganggunya persiapan terhadap pembentukan anak yang berkualitas. Untuk mencapai hal diatas, maka tujuan pembinaan kesejahteraan anak adalah dengan menjamin kebutuhan dasar anak secara wajar, yang mencakup segi-segi kelangsungan hidup, pertumbuhan dan perkembangan dan perlindungan terhadap hak anak yang menjadi haknya. Pelayanan kesehatan anak balita meliputi pelayanan pada anak balita sakit dan sehat. Pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan sesuai standar yang meliputi : a. Pelayanan pemantauan pertumbuhan minimal 8 kali setahun yang tercatat dalam Buku KIA/KMS. Pemantauan pertumbuhan adalah pengukuran berat badan anak balita setiap bulan yang tercatat pada Buku KIA/KMS. Bila berat badan tidak naik dalam 2 bulan berturut-turut atau berat badan anak balita dibawah garis merah dirujuk ke sarana pelayanan kesehatan. b. Stimulasi Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) minimal 2 kali dalam setahun. Pelayanan SDIDTK meliputi pemantauan perkembangan motorik kasar, motorik halus, bahasa, sosialisasi dan kemandirian minimal 2 kali setahun (setiap 6 bulan). Pelayanan SDIDTK 16 diberikan di dalam gedung (sarana pelayanan kesehatan) maupun di luar gedung. c. Pemberian Vitamin A dosis tinggi (200.000 IU), 2 kali dalam setahun. d. Kepemilikan dan pemantauan buku KIA oleh setiap anak balita e. Pelayanan anak balita sakit sesuai standar dengan menggunakan pendekatan MTBS. Jenis Pelayanan Kesehatan Pada Balita a. Pemantauan pertumbuhan balita dengan KMS KMS (Kartu Menuju Sehat) untuk balita adalah alat yang dapat digunakan untuk memantau kesehatan dan pertumbuhan anak. Oleh karenanya KMS harus selalu dibawa setiap kali mengunjungi posyandu atau fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk bidan dan dokter. KMS juga dapat dipakai sebagai bahan penunjang bagi petugas kesehatan untuk menentukan jenis tindakan yang tepat sesuai dengan kondisi kesehatan dan gizi anak untuk mempertahankan, meningkatkan atau memulihkan kesehatannya. Manfaat KMS adalah : 1) Sebagai media untuk mencatat dan memantau riwayat kesehatan balita secara lengkap, meliputi : pertumbuhan, perkembangan, pelaksanaan imunisasi, penanggulangan diare, pemberian kapsul vitamin A, kondisi kesehatan pemberian ASI eksklusif, dan Makanan Pendamping ASI. 2) Sebagai media edukasi bagi orang tua balita tentang kesehatan anak 3) Sebagai sarana komunikasi yang dapat digunakan oleh petugas untuk menentukan penyuluhan dan tindakan pelayanan kesehatan dan gizi. b. Pemberian Kapsul Vitamin A Vitamin A adalah salah satu zat gizi dari golongan vitamin yang sangat diperlukan oleh tubuh yang berguna untuk kesehatan mata ( agar dapat 17 melihat dengan baik ) dan untuk kesehatan tubuh yaitu meningkatkan daya tahan tubuh, jaringan epitel, untuk melawan penyakit misalnya campak, diare dan infeksi lain. Upaya perbaikan gizi masyarakat dilakukan pada beberapa sasaran yang diperkirakan banyak mengalami kekurangan terhadap Vitamin A, yang dilakukan melalui pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi pada bayi dan balita yang diberikan sebanyak 2 kali dalam satu tahun. Vitamin A terdiri dari 2 jenis : 1) Kapsul vitamin A biru ( 100.000 IU ) diberikan pada bayi yang berusia 6-11 bulan satu kali dalam satu tahun 2) Kapsul vitamin A merah ( 200.000 IU ) diberikan kepada balita c. Pelayanan Posyandu Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi. Adapun jenis pelayanan yang diselenggarakan Posyandu untuk balita mencakup : 1) Penimbangan berat badan 2) Penentuan status pertumbuhan 3) Penyuluhan 4) Jika ada tenaga kesehatan Puskesmas dilakukan pemeriksaan kesehatan, imunisasi dan deteksi dini tumbuh kembang, apabila ditemukan kelainan, segera ditunjuk ke Puskesmas. d. Manajemen Terpadu Balita Sakit Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) atau Integrated Management of Childhood Illness (IMCI) adalah suatu pendekatan yang terintegrasi/terpadu dalam tatalaksana balita sakit dengan fokus kepada 18 kesehatan anak usia 0-59 bulan (balita) secara menyeluruh. Kegiatan MTBS merupakan upaya pelayanan kesehatan yang ditujukan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di unit rawat jalan kesehatan dasar (Puskesmas dan jaringannya termasuk Pustu, Polindes, Poskesdes, dll). Kegiatan MTBS memliliki 3 komponen khas yang menguntungkan, yaitu: 1) Meningkatkan ketrampilan petugas kesehatan dalam tatalaksana kasus balita sakit (selain dokter, petugas kesehatan non-dokter dapat pula memeriksa dan menangani pasien asalkan sudah dilatih). 2) Memperbaiki sistem kesehatan (perwujudan terintegrasinya banyak program kesehatan dalam 1 kali pemeriksaan MTBS). 3) Memperbaiki praktek keluarga dan masyarakat dalam perawatan di rumah dan upaya pencarian pertolongan kasus balita sakit (meningkatkan pemberdayaan masyarakat dalam pelayanan kesehatan). Dalam pelaksanaannya, MTBS ini dibedakan dalam 2 kategori, yaitu : 1) Manajemen Terpadu Bayi Muda ( Usia 1 hari sampai 2 bulan )Pengelolaan bayi sakit pada usia 1 hari sampai 2 bulan ini, meliputi penilaian tanda dan gejala, penentuan klasifikasi dan tingkat kegawatan, penentuan tindakan dan pengobatan, pemberian konseling, pemberian pelayanan dan tindak lanjut. Dalam manajemen terpadu bayi muda ini, dilakukan pengelolaan terhadap penyakit-penyakit yang lazim terjadi pada bayi muda, antara lain adanya kejang, gangguan nafas, hipotermi, kemungkinan infeksi bakteri, ikterus, gangguan saluran cerna, diare serta kemungkinan berat badan rendah dan masalah pemberian ASI. 2) Manajemen Terpadu Balita Sakit Umur 2 Bulan sampai 5 Tahun Tahapan pelaksanaan manajemen terpadu balita sakit pada usia 2 bulan sampai 5 tahun ini sama seperti manajemen terpadu bayi muda, yaitu penilaian tanda dan gejala, penentuan klasifikasi dan 19 tingkat kegawatan, penentuan tindakan dan pengobatan, pemberian konseling, pemberian pelayanan dan tindak lanjut. Dalam MTBS usia 2 bulan sampai 5 tahun ini, dilaksanakan pengelolaan terhadap beberapa penyakit pada anak usia 2 bulan sampai 5 tahun. Beberapa penyakit yang lazim terjadi pada anak usia 2 bulan sampai 5 tahun, aantara lain adanya tanda bahaya umum ( tidak bias minum atau menetek, muntah, kejang, letargis, atau tidak sadar ), batuk dan sukar bernafas, diare, demam, masalah telinga, status gizi buruk ( malnutrisi dan anemia ). 3. Pemantauan Tumbuh Kembang Bayi dan Balita / Deteksi Dini Anak selalu tumbuh dan berkembang sejak konsepsi sampai berakhirnya masa remaja, hal ini yang membedakan anak dengan dewasa. Anak menunjukkan ciri – ciri pertumbuhan dan perkembangan yang sesuai dengan usianya. Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan interseluler, yang berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh sebagian atau keseluruhan sehingga dapat diukur dengan satuan panjang dan berat. Perkembangan adalah struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara, bahasa, bersosialisasi, dan kemandirian. Ciri- ciri tumbuh kembang anak : a. Perkembangan dan pertumbuhan menimbulkan perubahan b. Perkembangan dan pertumbuhan pada tahap awal akan menentukan perkembangan selanjutnya c. Perkembangan dan pertumbuhan mempunyai kecepatan yang berbeda d. Perkembanagan berkolerasi dengan pertumbuhan e. Perkembangan mempunyai pola tetap f. Perkembangan memiliki tahap yang berurutan Faktor –faktor yang mempengaruhi kualitas tumbuh kembang anak : a. Faktor dalam ( internal) : Ras etnik / bangsa, keluarga, usia, jenis kelamin, genetik, kelainan kromosom. 20 b. Faktor luar ( eksternal ) 1) Faktor prenatal : mekanis/ posisi dalam kandungan, gizi, toksin/ zat kimia, endokrin ( ibu dengan diabetes melitus ), radiasi, infeksi, kelainan imunologi/ perbedaan golongan darah, anoksia embrio/ gangguan fungsi plasenta, psikologi ibu. 2) Faktor persalinan : adanya komplikasi dan penyulit saat persalinan 3) Faktor pasca persalinan : gizi, lingkungan fisik dan kimia, psikologis, endokrin, sosio ekonomi, lingkungan pengasuhan, stimulasi, obat – obatan. Aspek perkembangan yang dipantau, yaitu sebagai berikut : a. Gerak kasar / motorik kasar ( duduk, berdiri, dll) b. Gerak halu / motorik halus ( menulis, menjimpit, dll) c. Kemampuan bicara dan bahasa d. Sosialisasi dan kemandirian Tumbuh kembang anak berlangsung secara teratur, saling berkaiatan, dan berkesinambungan yang dimulai sejak konsepsi sampai dewasa. a. Masa prenata atau intrauterin ( masa janin dalm kandungan) 1) Masa zigot saat konsepsi sampai usia kehamilan 2 minggu 2) Masa embrio saat usia kehamilan 2 minggu sampai 8 atau 12 minggu, terbentuk organ – organ janin 3) Masa janin / fetus dimulai sejak kehamilan 16 minggu sampai akhir masa kehamilan. Fetus dini dimulai sejak usia kehamilan 12 minggu sampai trimester kedua, pertumbuhan cepat, dan terjadi pembentukan sebagai manusia yang lengkap. Fetus lanjut, yakni trimester akhir kehamilan. b. Masa bayi ( 0 – 11 bulan ) 1) Masa neonatal ( 0 – 28 hari ), pada masa ini terjadi adaptasi terhadap lingkungan, perubahan sirkulasi darah, dan mulai berfungsinya organ – organ. Ada dua periode, yaitu masa neonatal dini/perinatal (0-7 hari) dan masa neonatal lanjut (8-28 hari). 21 2) Masa pasca-neonatal (29hari – 11 bulan ), pada masa ini, pertumbuhan yang pesat dan proses pematangan berlanjut secara terus- menerus, terutama meningkatnya fungsi saraf. Kontak erat antara ibu dan bayi terjalin sehingga dalam masa ini pengaruh ibu dalam mendidik anak sangat besar. c. Masa balita (12-59 bulan) 1) Pada masa ini kecepatan pertumbuhan mulai menurun, namun terdapat kemajuan dalam perkembangan motorik (gerak kasar dan gerak halus) 2) Pada usia 3 tahun pertama kehidupan, pertumbuhan dan perkembangan sel-sel otak masih berlangsung dan terjadi pertumbuhan serabut saraf dan cabang-cabangnya sehingga terbentuk jaringan saraf yang akan mempengaruhi segala kinerja otak, mulai dari kemampuan belajar, berjalan, mengenal huruf, bersosialisasi/ kesadaran sosial dan emosional, kemampuan berbicara dan bahasa, kreativitas dan inteligensi. 3) Masa ini mulai dipersiapkan untuk bersosialisasi dengan teman sebaya melalui kegitan ditaman bermain atau playgroup d. Masa anak prasekolah (60-72 bulan) 1) Pada masi ini pertumbuhan berlangsung stabil 2) Perkembangan aktivitas jasmani yang bertambah dan meningkatnya keterampilan dan proses berpikir 3) Anak mulai senang bermain di luar rumah, mulai berteman atau bersahabat dengan anak kecil 4) Anak mulai dipersiapkan masuk sekolah ( TK/SD) Dalam upaya menurunkan masalah tumbuh kembang seorang anak harus dilakukan upaya pencegahan sedini mungkin, yakni sejak pembuahan, janin di dalam kandungan Ibu, pada saat persalinan sampai dengan masa-masa kritis proses tumbuh kembang manusia yaitu masa dibawah usia lima tahun. Proses tumbuh kembang berlangsung secara bersamaan dan berkesinambungan yang mencakup aspek motorik, bahasa, kognitif, sosialisasi, dan kemandirian. 22 Deteksi dini tumbuh kembang bayi, balita dan anak prasekolah adalah kegiatan pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang pada balita dan anak prasekolah. Ada tiga jenis deteksi dini tubuh kembang yang dapat dikerjakan oleh tenaga kesehatan di tingkat puskesmas dan jaringannya, berupa: a. Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan, meliputi: 1) Pengukuran berat badan terhadap tinggi badan (BB/TB) 2) Pengukuran lingkar kepala b. Deteksi dini penyimpangan perkembangan, meliputi: 1) Skrining / pemeriksaan perkembangan anak menggunakan kuesioner pra skrining perkembangan (KPSP) 2) Tes daya dengar 3) Tes daya lihat c. Deteksi dini penyimpangan mental emosional Deteksi dini penyimpangan mental emosional adalah kegiatan / pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya masalah mental emosional, autism dan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas pada anak, agar dapat segera dilakukan tindakan intervensi. Bila penyimpangan mental emosional terlambat diketahui, maka intervensinya akan lebih sulit dan hal ini akan berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Deteksi dini penyimpangan mental emosional meliputi : 1) Masalah mental emosional pada anak prasekolah (usia 36 – 72 bulan). Masalah ini dideteksi dengan menggunakan kuisioner masalah mental emosional (KMME) 2) Autisme pada anak prasekolah ( usia 18-36 bulan). Deteksi dini pada masalah ini menggunakan CHAT ( daftar tilik deteksi dini autisme pada anak [ checklist for autism in toddlers]) 3) Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GGPH). Deteksi dini ini dilakukan untuk mengetahui seara dini adanya 23 gangguan hiperaktivitas pada anak usia 36 bulan keatas. Alat yang digunakkan adalah formulir deteksi dini GPPH. Jadwal Kegiatan Deteksi Dini No 1 Kelompok Jadwal Deteksi Dini Umur Bayi Pada bayi umur 0 – 28 hari Pada bayi 1 – 11 bulan, deteksi dini dilakukan saat umur 3 bulan, 6 bulan dan 9 bulan 2 Anak balita Deteksi dini dilakukan setiap 6 bulan, yaitu umur 12 bulan, 18 bulan, 24 bulan, 30 bulan, 36 bulan, 42 bulan, 48 bulan, dan 54 bulan 3 Anak prasekolah Deteksi dini dilakukan setiap 6 bulan, yaitu umur 48 bulan, 54 bulan, 60 bulan, 66 bulan dan 72 bulan D. Imunisasi di Komunitas Imunisasi berasal dari kata imun, kebal, atau resisten. Imunisasi berarti kekebalan atau resisten terhadap suatu penyakit tertentu , tetapi tidak kebal terhadap penyakit yang lain. Macam kekebalan ada dua, yaitu kekebalan tidak spesifik dam kekebalan spesifik. Kekebalan tidak spesifik, yaitu pertahanan tubuh pada manusia yang secara alamiah dapat melindungi tubuh dari suatu penyakit. Kekebalan spesifik adalah kekebalan yang diperoleh dari dua sumber : 1. Genetik Kekebalan yang berasal dari genetik yang berhubungan dengan ras ( warna kulit dan kelompok etnis) cenderung lebih resisten terhadap penyakit. Misalnya, orang Negro resisten terhadap penyakit Malaria vivax. 2. Kekebalan yang diperoleh Kekebalan ini diperoleh dari luar tubu anak seseorang, ada dua kekebalan yang diperoleh : 24 Kekebalan aktif, adalah kekebalan yang diperoleh dari luar tubuh anak atau seseorang sembuh dari penyakit tertentu., misalnya sakit campak. Kekebalan aktif yang diperoleh setelah diberi imunisasi, berarti tubuh diberikan organisme yang dilehkan atau dimatikan Kekebalan pasif, yaitu kekbalan yang diperoleh dai ibu mealui plasenta, yakni ibu yang diperoleh dari ibu melalui plasenta, yakni ibu yang telah memperoleh kekebalan terhadap penyakit tertentu, misalnya : campak, tetanus, malaria. Faktor yang mempengaruhi kekebalan, yaitu sebagai berikut : 1. Usia Bayi, anak balita, orang tua lebih mudah terserang penyakit tertentu.dengan kata lain usia sangat muda atau usia tua lebh rentan dan kurang kebal terhadap penyakit tertentu. 2. Jenis kelamin Penyakit tertentu seperti polio dan difteri lebih parah terjadi pada anak perempuan dari pada anak laki- laki. 3. Kehamilan Ibu hamil lebih rentan terhadap penyakit menular, mialnya polio, pneumonia, malaria. Akan tetapi, penyakit tifoid dan meningitis jarang terjadi pada kehamilan. 4. Gizi Gizi yang baik akan meningkatkan resistensi tubuh terhadap penyakit infeksi, namun sebaliknya kekurangan gizi akan menimbulkan kerentanan terhadap penyakit tertentu 5. Trauma Stress merupakan salah satu bentuk trauma yang menimbulakan kerentanan seseorang terhadap penyakit infeksi tertentu. 25 Kekebalan yang terjadi pada tingkat komunitas disebut heard immunity. Jika heard immunity dimasyarakat rendah, pada masyarakat tersebut akan mudah terjadi wabah, dan sebaliknya jika heard immunity tinggi, wabah jarang terjadi pada masyarakat tersebut. Tujuan dari imunisasi adalah untuk menguranggi angka penderitaan suatu penyakit yang sangat membahayakan kesehatan bahkan bisa menyebabkan kematian pada penderitanya. Beberapa penyakit yang dapat di hindari dengan imunisasi yaitu: Hepatitis, Campak, Polio, Difteri,Tetanus, Batuk Rejan, Gondongan, Cacar air, TBC. Macam – Macam Imunisasi 1. Imunisasi Aktif Adalah kekebalan tubuh yang di dapat seorang karena tubuh yang secara aktif membentuk zat antibodi, contohnya: imunisasi polio atau campak . Imunisasi aktif juga dapat di bagi 2 macam: a. Imunisasi aktif alamiah Adalah kekebalan tubuh yang secara ototmatis di peroleh sembuhdari suatu penyakit. b. Imunisasi aktif buatan Adalah kekebalan tubuh yang di dapat dari vaksinasi yang diberikan untuk mendapatkan perlindungan dari suatu penyakit. 2. Imunisasi Pasif Adalah kekebalan tubuh yang di dapat seseorang yang zat kekebalan tubuhnya di dapat dari luar. Contohnya Penyuntikan ATC (Anti tetanus Serum). Pada orang yang mengalami luka kecelakaan. Contah lain adalah:Terdapat pada bayi yang baru lahir dimana bayi tersebut menerima berbagi jenis antibodi dari ibunya melalui darah placenta selama masa kandungan. misalnya antibodi terhadap campak. Imunisasi pasif ini dibagi yaitu: a. Imunisai pasif alamiah adalah antibodi yang di dapat seorang karena di turunkan oleh ibu yang merupakan orang tua kandung langsung ketika berada dalam kandungan. b. Imunisasi pasif buatan Adalah kekebalan tubuh yang di peroleh karena suntikan serum untuk mencegah penyakit tertentu c. Jenis – Jenis Imunisasi 26 1) BCG (Bacillus Calmatte Guerin) Dosis pemberian 1 kali pada usia 0-2 bulan pada bahu kanan. Setelah penyuntikan imunisasi ini, akan timbul benjolan putih pada lengan bekas suntikan yang akan membentuk luka serta reaksi panas. Jangan dipecahkan. 2) DPT Dosis pemberian 3 kali pada usia 2-11 bulan pada paha. Anak akan mengalami panas dan nyeri pada tempat yang diimunisasi. Beri obat penurun panas ¼ tablet dan jangan membungkus bayi dengan selimut tebal. 3) Polio Dosis pemberian 4 kali melalui tetes mulut (2 tetes) pada usia 4-6 bulan Setelah imunisasi, tidak ada efek samping. Jika anak menderita kelumpuhan setelah imunisasi polio, kemungkinan sebelum di vaksin sudah terkena virus polio. 4) Campak Dosis pemberian 1 kali usia 9 bulan pada bahu kiri. Setelah 1 minggu imunisasi, terkadang bayi akan panas dan muncul kemerahan. Cukup beri ¼ tablet penurun panas. Program imunisasi dilaksanakn untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi tersebut, seperti difteri, tetanus, pertusis, hepatitis B, polio dan tuberkulosis. Sasaran program imunisasi, adalah sebagai berikut : 1. Bayi yang berusia kurang dari 1 tahun (0-11 bulan) 2. Ibu hamil (awal kehamilan -8 bulan) 3. Wanita usia subur (calon pengantin wanita) 4. Anak sekolah dasar (SD) kelas I dan kelas VI Pokok- pokok kegiatan program imunisasi , yaitu sebagai berikut : 1. Pencegahan pada bayi (imunisasi lengkap) a. Imunisasi BCG dosis 0,5 cc disuntukan pada lengan kanan atas melalui intrakutan mulai usuia 0—1 bulan dan diberikan satu kali 27 b. Imunisasi Hb uninjek diberikan pada bayi baru lahir melalui intramuskular pada paha kanan/kiri c. Imunisasi DPT/HB Combo dosis 0,5 cc disuntikan pada paha kanan/kiri melalui intramuskular dengan interval 4 minggu dan diberikan 3 kali mulai usia 2-11 bulan d. Imunisasi polio dengan dosis 2 tetesdiberikan per oral dengan interval 4 minggu dan diberikan 4 kali mulai usia 0-11 bulan e. Imunisasi campak dosis 0,5 cc disuntikan melalui intrakutan pada lengan kiri atas dan diberika cukup sekali pada usia 9 bulan 2. Imunisasi pada anak sekolah dasa (SD) a. Imunisasi DT ( difteri tetanus ) dosis 0,5 cc disuntikan melalui intramuskular atau ubkutan pada lengan kiri dan diberikan 1 kali pada anak SD kelas 1 b. Imunisasi TT 9 Toksoid Tetanus) dosis 0,5 cc disuntikan melalui intramuskular atau subkutan pada lengan kiri dan diberikan 1 kali pada anak SD kelas VI 28 BAB III PENUTUP 1. Kesimpulan Bayi baru lahir atau neonatus adalah bayi yang berusia 0-28 hari. Kehidupan pada masa neonatus ini sangat rawan karena memerlukan penyesuaian fisiologis agar bayi di luar kandungan dapat hidup sebaik-baiknya. Hal ini dapat dilihat dari tingginya angka kesakitan dan angka kematian neonatus. Melakukan penilaian Segera setelah lahir, letakan bayi diatas kain yang bersih dan kering yang sudahdisiapkan diatas perut ibu. Apabila tali pusat pendek, maka letakan bayi diantarakedua kaki ibu, pastikan bahwa tempat tersebut dalam keadaan bersih dan kering.Segara lakukan penilaian awal pada bayi baru lahir. 1. Apakah bayi bernafas atau menangis kuat tanpa kesulitan ? 2. Apakah bayi bergerak aktif ? 3. Bagiamana warna kulit, apakah berwarna kemerahan atau kah ada sianosis ? Bayi yang dikatakan lahir normal adalah bayi yang menangis kuat, bergerakaktif, dan warna kulit kemerahan. Apabila salah satu penilaian tidak ada pada bayi, bayi tidak dikatakan lahir normal/fisiologis. 29 DAFTAR PUSTAKA Dewi, Vivian N.L. 2013. Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita. Jakarta : Salemba Medika Walyani, Elisabeth S. 2014. Materi Ajar Lengkap Kebidanan Komunitas. Yogyakarta : Pustaka Baru Press Maternity, D, Ratna D.P dan Devy L.N.A. 2017. Asuhan Kebidanan Komunitas. Yogyakarta : Andi. Wahyuni, Elly D. 2018. Asuhan Kebidanan Komunitas. Jakarta : Kementrian Kesehatan Republik Indonesia Pusat Pendidikan Sumber Daya Manusia Kesehatan Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan. Sulani, Fathi. 2010. Panduan Pelayanan Kesehatan Bayi Baru Lahir Berbasis Perlindungan Anak. Direktorat Kesehatan Anak Khusus. Dwi, Sutjiati. 2011. Kebidanan Komunitas : Konsep & Manajemen Asuhan. Jakarta :EGC Fitria, Ika. 2015. Asuhan Kebidanan Neonatus Bayi, Balita dan Anak Pra Sekolah. Jakarta : Trans Info Media 30

Judul: Makalah Menjelaskan Asuhan Bayi Baru Lahir Di Komunitas Dan Kunjungan Rumah

Oleh: Karissa Yudanti


Ikuti kami