Asuhan Keperawatan Gangguan Komunikasi Verbal Pada Klien Dengan Diagnosa Medis Stroke

Oleh Asmelya Dini

98,6 KB 7 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Asuhan Keperawatan Gangguan Komunikasi Verbal Pada Klien Dengan Diagnosa Medis Stroke

Asuhan Keperawatan Gangguan Komunikasi Verbal pada Klien dengan Diagnosa Medis Stroke Oleh Asmelya Dini Nurjannah, 1806139916, FG 1, KMB III Kelas A Stroke merupakan salah satu gangguan dalam sistem persarafan. Stroke atau cedera serebrovaskuler adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh terhentinya suplai darah ke bagian otak. Stroke terjadi karena adanya gangguan perfusi ke bagian otak (Ignatavicius & Workman, 2013). Penyebab stroke kemungkinan besar adalah kombinasi faktor risiko genetik dan lingkungan (Ignatavicius & Workman, 2013). Perawat merupakan agen penting dalam merawat pasien penyakit stroke. Salah satu hal yang harus dilakukan perawat adalah merencanakan asuhan keperawatan. Berikut ini penjelasan mengenai pengkajian, diagnosis, dan intervensi keperawatan dengan diagnosa medis stroke. Pengkajian adalah langkah awal dalam merencanakan asuhan keperawatan. Menurut Ignatavicius & Workman (2013), terdapat beberapa hal yang perlu dikaji secara umum pada klien dengan diagnosa medis stroke. Pertama, kaji riwayat kesehatan seperti riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, dan riwayat penyakit keluarga. Selanjutnya adalah melakukan pemeriksaan fisik untuk menentukan manifestasi klinis yang terdiri dari perubahan kognitif, perubahan motorik, perubahan sensorik, fungsi saraf kranial, dan kardiovaskular (Ignatavicius & Workman, 2013). Pasien mungkin memiliki berbagai masalah kognitif selain perubahan tingkat kesadaran. Perawat perlu mengkaji terkait penolakan penyakit, disfungsi spasial dan proprioseptif (kesadaran akan posisi tubuh dalam ruang), penurunan daya ingat, penilaian, atau kemampuan memecahkan masalah dan pengambilan keputusan, serta penurunan kemampuan untuk berkonsentrasi dan mengerjakan tugas (Ignatavicius & Workman, 2013). Pemeriksaan motorik memberikan informasi tentang bagian otak mana yang terlibat. Hemiplegia kanan (kelumpuhan di satu sisi tubuh) atau hemiparesis (kelemahan di satu sisi tubuh) menunjukkan stroke yang melibatkan belahan otak kiri karena serabut saraf motorik melintas di medula sebelum memasuki sumsum tulang belakang (Ignatavicius & Workman, 2013). Pemeriksaan sensorik mengevaluasi respons pasien terhadap rangsangan sentuhan dan nyeri. Kaji juga kemampuan mengunyah pasien yang mencerminkan fungsi saraf kranial. Pada pemeriksaan kardiovaskular, pasien dengan stroke emboli mungkin mengalami murmur jantung, disritmia (paling sering fibrilasi atrium), atau hipertensi. Hal yang perlu dikaji selanjutnya adalah pengkajian psikososial. Defisit bahasa dan kognitif, serta gangguan perilaku dan memori dapat terjadi pada pasien stroke. Selain itu, perlu juga dilakukan pemeriksaan laboratorium. Kadar hematokrit dan hemoglobin yang meningkat sering dikaitkan dengan stroke berat karena tubuh berusaha mengkompensasi kekurangan oksigen ke otak. Jumlah sel darah putih yang meningkat (WBC) dapat mengindikasikan adanya infeksi, endokarditis bakterial subakut, respons terhadap stres fisiologis atau peradangan (Ignatavicius & Workman, 2013). Berdasarkan kasus yang diberikan, dapat dianalisis data pengkajian dengan mengelompokkan data objektif dan data subjektif. Data objektifnya antara lain: seorang perempuan berusia 59 tahun dirawat dengan keluhan kelemahan lengan kanan, hasil pemeriksaan menunjukkan frekuensi napas 14 kali/menit, TD 148/97 mmHg, frekuensi nadi 81 kali/menit, suhu 36,7 C, GCS E4M6V5, bibir tampak mencong ke sisi kanan, facial drop yang tampak terutama saat pasien tersenyum, respons pupil positif, dan genggaman tangan kiri lebih lemah dibandingkan dengan kanan. Sedangkan data subjektifnya antara lain: pasien merasakan mati rasa pada pipi kanan dan tangan kanan, pasien menyangkal adanya sakit kepala, mual, muntah, nyeri dada, diaforesis dan gangguan penglihatan. Selain itu, pasien mampu menelan tanpa mengalami kesulitan. Berdasarkan data pengkajian tersebut, dapat ditegakkan diagnosis keperawatan yaitu gangguan komunikasi verbal yang disebabkan oleh gangguan neuromuskular berkaitan dengan kondisi klinis stroke. Data objektif yang menunjukan yaitu bibir pasien yang tampak mencong ke sisi kanan dan facial drop. Gangguan komunikasi verbal adalah berkurang, tertunda, atau tidak ada kemampuan untuk menerima, memproses, mentransmisikan, dan menggunakan sistem simbol (Herdman & Kamitsuru, 2018). Batasan karakteristiknya meliputi: kesulitan menyuarakan kata-kata, kesulitan membedakan dan mempertahankan pola komunikasi yang biasa, gangguan dalam asosiasi kognitif, ketidakmampuan untuk menemukan, mengenali, atau memahami kata-kata, ketidakmampuan mengingat kata, frasa, atau nama orang, objek, dan tempat yang dikenal, dan verbalisasi yang tidak tepat (Herdman & Kamitsuru, 2018). Setelah menegakkan diagnosis keperawatan, langkah selanjutnya dalam asuhan keperawatan adalah merencanakan intervensi keperawatan. Menurut Tim Pokja SLKI DPP PPNI (2017), Outcome yang diharapkan antara lain: 1) Komunikasi: penerimaan, intrepretasi dan ekspresi pesan lisan, tulisan, dan non verbal meningkat; 2) Komunikasi ekspresif (kesulitan berbicara): ekspresi pesan verbal dan atau non verbal yang bermakna; 3) Komunikasi reseptif (kesutitan mendengar): penerimaan komunikasi dan intrepretasi pesan verbal dan/atau non verbal; 4) Gerakan Terkoordinasi: mampu mengkoordinasi gerakan dalam menggunakan isyarat; 5) Pengolahan informasi: klien mampu untuk memperoleh, mengatur, dan menggunakan informasi; 6) Mampu mengontrol respon ketakutan dan kecemasan terhadap ketidakmampuan berbicara. Intervensi yang sesuai berdasarkan diagnosis gangguan komunikasi verbal adalah peningkatan komunikasi: defisit bicara, yaitu menggunakan teknik komunikasi tambahan pada individu dengan gangguan bicara (PPNI, 2018). Berikut adalah tabel intervensi keperawatan pada diagnosis gangguan komunikasi verbal: Diagnosis Keperawatan Hambatan Intervensi Komunikasi Observasi Verbal berhubungan dengan  gangguan neuromuskular Monitor kecepatan, tekanan, kuantitas, volume dan diksi bicara  Monitor proses kognitif, anatomis, dan fisiologis yang berkaitan dengan bicara  Monitor frustrasi, marah, depresi atau hal lain yang menganggu bicara  Identifikasi prilaku emosional dan fisik sebagai bentuk komunikasi Terapeutik  Gunakan metode komunikasi alternative (mis: menulis, berkedip, papan komunikasi dengan gambar dan huruf, isyarat tangan)  Sesuaikan gaya komunikasi dengan kebutuhan (mis: berdiri di depan pasien, dengarkan dengan seksama, tunjukkan satu gagasan atau pemikiran sekaligus, bicaralah dengan perlahan sambil menghindari teriakan, gunakan komunikasi tertulis).  Modifikasi lingkungan untuk meminimalkan bantuan  Ulangi apa yang disampaikan pasien  Berikan dukungan psikologis  Gunakan juru bicara, jika perlu Edukasi  Anjurkan berbicara perlahan  Ajarkan pasien dan keluarga proses kognitif, anatomis dan fisiologis yang berhubungan dengan kemampuan berbicara Kolaborasi  Rujuk ke ahli patologi bicara atau terapis Daftar Pustaka Herdman, T. H., & Kamitsuru, S. (2018). Diagnósticos de Enfermagem da NANDA-I: Definições e classificação 2018-2020. In The British Journal of Psychiatry. Ignatavicius, D. D., & Workman, M. L. (2013). Medical surgical nursing: Patient-centered collaborative care. In Journal of Chemical Information and Modeling. https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004 PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (I). Jakarta. In Practice Nurse. Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2017). Standar Luaran Keperawatan Indonesia. In DPP PPNI.

Judul: Asuhan Keperawatan Gangguan Komunikasi Verbal Pada Klien Dengan Diagnosa Medis Stroke

Oleh: Asmelya Dini


Ikuti kami