Laporan Asuhan Keperawatan Pemenuhan Kebutuhan Oksigenasi Pada Pasien Dengan Gangguan Asma Bronkhial

Oleh Arin Widiastuti

11 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Laporan Asuhan Keperawatan Pemenuhan Kebutuhan Oksigenasi Pada Pasien Dengan Gangguan Asma Bronkhial

LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN PEMENUHAN KEBUTUHAN
OKSIGENASI PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN ASMA
BRONKHIAL
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Metodologi Keperawatan
Dosen pengampu : Martono, S.Kep., Ns., MPd.

Disusun Oleh :
1.
2.
3.
4.
5.

Arin Widiastuti
Choyrun Nisa F
Fiqi Makrifah
Meliana Krisnandiar
Taris Sekar Pramesthi S

( P27220018049 )
( P27220018051 )
( P27220018057 )
( P27220018066 )
( P27220018079 )


POLITEKNIK KEMENTRIAN KESEHATAN SURAKARTA
JURUSAN KEPERAWATAN
Tahun Akademik 2018/2019

i

KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan
rahmatNya, kami dapat menyelesaikan Asuhan Keperawatan Pemenuhan
Kebutuhan Oksigenasi pada Pasien dengan Gangguan Asma Bronkhial.
Pembuatan Asuhan Keperawatan ini bertujuan untuk memenuhi tugas metodelogi
keperawatan.
Kami menyadari bahwa dalam pembuatan

Asuhan Keperawatan

ini

masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, saran dan kritikan yang sifatnya
untuk perbaikan sangat diharapkan untuk penyempurnaan Asuhan Keperawatan
ini.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dan memberi masukan sehingga Asuhan Keperawatan ini dapat
diselesaikan. Ucapan terima kasih juga saya berikan kepada Bapak Martono
S.Kep.,Ns.,MPd yang telah membimbing kami dalam penyusunan Asuhan
Keperawatan ini. Semoga Asuhan Keperawatan ini dapat dipergunakan sebagai
salah satu petunjuk maupun pedoman dan juga berguna untuk menambah
pengetahuan bagi para pembaca. Semoga isi yang disajikan dalam Asuhan
Keperawatan dapat bermanfaat bagi pembaca.

DAFTAR ISI

ii

Cover
..........................................................................................................................
i
Kata
Pengantar
..........................................................................................................................
ii
Daftar
Isi
..........................................................................................................................
iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
.................................................................................................................
1
B. Tujuan
1. Tujuan
Umum
............................................................................................................
3
2. Tujuan
Khusus
............................................................................................................
3
C. Manfaat
.................................................................................................................
3
D. Sistematika
Penulisan
.................................................................................................................
5
BAB II KAJIAN TEORI
A. Konsep Dasar Asma
1. Pengertian
............................................................................................................
7
2. Klasifikasi
............................................................................................................
7

iii

3. Etiologi
............................................................................................................
8
4. Patofisiologi
............................................................................................................
9
5. Manifestasi
Klinis
............................................................................................................
10
6. Pemeriksaan
Penunjang
............................................................................................................
11
7. Penatalaksanaan
............................................................................................................
13
8. Diagnosa
Banding
............................................................................................................
14
9. Komplikasi
............................................................................................................
15
B. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Asma
1. Pengkajian
Keperawatan
............................................................................................................
15
2. Pemeriksaan
Fisik
............................................................................................................
16
3. Diagnosa
dan
Intervensi
............................................................................................................
20
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
.................................................................................................................
23
iv

B. Riwayat
Kesehatan
.................................................................................................................
24
C. Pemeriksaan
Fisik
.................................................................................................................
29
D. Pemeriksaan
Penunjang
.................................................................................................................
33
E. Terapi
Yang
Diberikan
.................................................................................................................
33
F. Data
Fokus
.................................................................................................................
34
G. Rumusan
Masalah
.................................................................................................................
35
H. Diagnosa
Keperawatan
.................................................................................................................
35
I. Intervensi
.................................................................................................................
36
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan
.................................................................................................................
38
B. Saran
.................................................................................................................
39

v

vi

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Padatnya aktivitas lalu lintas yang hilir mudik menjadi penyebab
tingginya polusi udara, terutama pada kendaraan bermotor. Hal ini
menyebabkan

kondisi

udara

terpapar

oleh

polutan,

sehingga

dapat

menimbulkan efek buruk pada kesehatan. Indonesia, khususnya Jakarta
menurut WHO merupakan negara yang memiliki kurang lebih 12,5 juta
penderita asma, secara ironis juga tercatat sebagai salah satu kota dengan
polusi terburuk di dunia, yang 70%-nya disebabkan oleh kendaraan bermotor.
Asma merupakan suatu penyakit dimana terjadi serangan sesak napas
yang terjadi secara tiba-tiba, dimana seseorang mengalami kesulitan untuk
bernapas, seperti dada terikat tali yang begitu kuat dan disertai suara mengi.
Putra et al (2018), menjelaskan asma adalah suatu penyakit inflamasi kronik
yang biasanya menginfeksi saluran pernapasan, dan dapat mengakibatkan
hiperresponsif jalan pernapasan yang biasa ditandai dengan suatu gejala
episodik berulang berupa batuk, sesak nafas, mengi dan rasa berat di dada
terutama pada waktu malam hari dan dini hari yang pada umumnya bersifat
revesible baik dengan maupun tanpa pengobatan.
Penyakit asma merupakan penyakit kronis yang menyerang semua umur,
baik anak-anak sampai orang dewasa yang disebabkan karena faktor bawaan
(genetik) maupun faktor lingkungan yang terdapat polusi udara dan adanya
hewan peliharaan. Bulu hewan peliharaan dapat menjadi sarang hidupnya

1

tungau, debu, jamur dan alergen lainnya . Serangan asma yang mendadak dan
keterlambatannya dilakukan penanganan medis menyebabkan tingginya angka
kematian asma. Berdasarkan data dari WHO (2002) dan GINA (Global
Initiative for Asthma) (2011), di seluruh dunia diperkirakan terdapat 300 juta
orang menderita Asma dan tahun 2025 diperkirakan jumlah pasien Asma
mencapai 400 juta. Jumlah ini dapat saja lebih besar mengingat asma
merupakan penyakit yang underdiagnosed. Buruknya kualitas udara dan
berubahnya

pola

hidup

masyarakat

diperkirakan

menjadi

penyebab

meningkatnya penderita Asma. Data dari berbagai negara menunjukkan bahwa
prevelensi penyakit Asma berkisar antar 1-18% (GINA, 2011).
Berdasarkan data AstraZeneca pada 2017, Indonesia menempati posisi
ke-5 di antara negara-negara Asia untuk tingkat kematian tertinggi akibat asma.
Karena asma pula, 3,1—5,5 hari kerja/sekolah hilang per kapita setiap tahun
akibat adanya korelasi antara polusi udara dan biaya penyakit pernapasan.
Seseorang yang mengalami serangan asma akan kesulitan untuk menarik
napas, dada terasa seperti diikat dengan tali, terasa sesak dan berat. Disertai
dengan adanya suara mengi. Novarin et al (2015) menjelaskan pada klien asma
aliran udara selama inspirasi dan ekspirasi terhambat, sehingga ventilasi paru
tidak optimal. Keadaan tersebut mengakibatkan klien asma memiliki
ketidakmampuan mendasar dalam mencapai angka aliran udara normal selama
pernapasan terutama ketika ekspirasi.
Asma merupakan penyakit obstruksi jalan. Adanya hambatan saluran
pernapasan mengakibatkan menyempitnya saluran pernapasan bagian bawah

2

sehingga kesulitan untuk bernapas. Sudiro et al (2019) menjelaskan tingkat
keparahan obstruksi jalan napas diukur melalui nilai-nilai FVC (Forced Vital
Capacity/Kapasitas Vital Paksa) dan FEV1 (Volume Pernapasan Paksa Dalam
Satu Detik) menggunakan Spirometri. Model pengukuran untuk nilai cucal
FVC (Forced Vital Capacity/Kapasitas Vital Paksa) dan FEV1 (Volume
Pernapasan Paksa Dalam Satu Detik) mampu memprediksi tingkat keparahan
ostruksi jalan napas.
Salah satu peran perawat dalam penanganan penyakit asma yaitu
pemenuhan akan kebutuhan oksigenasi dan memberikan asuhan keperawatan
yang profesional dan komprehensif. Di dalam asuhan keperawatan klien
dengan gangguan asma dilakukan penatalaksanaan asma meliputi pengobatan
baik secara nonfarmakologi maupun pengobatan farmakologi. Bhaskara, et al
(2018) menjelaskan tujuan terpenting penatalaksanaan asma adalah untuk
mencapai dan mempertahankan kontrol asma. Tingkat kontrol asma adalah
tingkatan dimana manifestasi asma dapat diamati pada pasien atau telah
berkurang maupun menghilang dengan pengobatan
Oleh karena latar belakang tersebut, kelompok kami membuat makalah
dengan judul "Asuhan Keperawatan Pemenuhan Kebutuhan Oksigenasi Pada
Pasien dengan Gangguan Asma Bronkhial".
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk menjelaskan gambaran Asuhan Keperawatan Pemenuhan Kebutuhan
Oksigenasi Pada Pasien Asma Bronkhial

3

2. Tujuan Khusus
a. Mampu mendiskripsikan pengkajian pada pasien dengan gangguan
pemenuhan kebutuhan oksigenasi pada pasien asma.
b. Mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada pasien dengan
gangguan pemenuhan kebutuhan oksigenasi pada pasien asma.
c. Mampu menyusun rencana tindakan keperawatan pada pasien dengan
gangguan pemenuhan kebutuhan oksigenasi pada pasien asma bronkhial.

C. Manfaat
1. Bagi Institusi Penddikan
Diharapkan memberikan referensi, serta menambah wawasan dan informasi
kepada institusi pendidikan terutama mahasiswa keperawatan untuk
membekali mahasiswa tentang Asuhan Keperawatan Pemenuhan Kebutuhan
Oksigenasi Pada Pasien Dengan Gangguan Asma Bronkhial.
2. Bagi Penelitian
Diharapkan dapat menambah wawasan ilmu penelitian keperawatan
khususnya tentang Asuhan Keperawatan Pemenuhan Kebutuhan Oksigenasi
Pada Pasien Dengan Gangguan Asma Bronkhial.
3. Bagi Masyarakat
Diharapkan menambah informasi dan pengetahuan kepada masyarakat
tentang Asuhan Keperawatan Pemenuhan Kebutuhan Oksigenasi Pada
Pasien Dengan Gangguan Asma Bronkhial.

4

4. Bagi Pelayanan Kesehatan
Diharapkan akan memberi masukkan agar dapat memberikan tindakan
keperawatan yang tepat terhadap klien yang mengalami gangguan
Pemenuhan Oksigenasi Pada Pasien Asma Bronkhial.

D. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan asuhan keperawatan pemenuhan oksigenasi pada
pasien dengan gangguan asma bronkhial, terdiri dari:
1. Bagian Pembuka
Bagian pembuka merupakan awal dari penulisan penulisan asuhan
keperawatan pemenuhan oksigenasi pada pasien dengan gangguan asma
bronkhial yang mencakup halaman judul, kata pengantar, dan daftar isi.
2. Bagian Inti
a. BAB I Pendahuluan
Bab ini memaparkan dan menjelaskan secara keseluruhan tentang
gambaran asuhan keperawatan yang mencakup latar belakang,
tujuan, manfaat, dan sistematika penulisan.
b. BAB II Tinjauan Teori
Bab ini memaparkan dan menjelaskan tentang tinjauan teori yang
mendukung

asuhan

keperawatan,

mulai

dari

konsep

dasar

(pengertian, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinik, pemeriksaan
penunjang, dan penatalaksanaan) serta konsep asuhan keperawatan
(pangkajian dan intervensi).

5

c.

BAB III Asuhan Keperawatan
BAB III berisi tentang gambaran asuhan keperawatan pemenuhan
oksigenasi pada pasien dengan gangguan asma bronkhial dari
pengkajian sampai dengan intervensi

d.

BAB IV Bagian Penutup
Penutup

berisi

kesimpulan

dan

saran

menjelaskan

tentang

kesimpulan gambaran asuhan keperawatan pemenuhan kebutuhan
oksigenasi pada pasien dengan ganggsuan asma bronkhial.

6

BAB II
KAJIAN TEORI
A. Konsep Dasar Asma Bronkhial
1. Pengertian
Asma adalah suatu gangguan pada saluran bronkial yang mempunyai
ciri bronkopasme periodik (kontraksi spasme pada saluran napas) terutama
percabangan trakeobronial yang dapat diakibatkan oleh berbagai stimulus
seperti oleh faktor biokemikal, endokrin, infeksi, otonomik, dan psikologi
Soemantri & Irman, (2009).
Black dan Hawks, (2014) menjelaskan asma adalah gangguan pada
bronkus yang ditandai adanya bronkospasme periodik yang reversibel
(kontraksi berkepanjangan saluran napas bronkus).
Sedangkan menurut Nurarif dan Kusuma, (2015) gangguan asma
bronkhial juga bisa muncul lantaran adanya radang yang mengakibatkan
penyempitan saluran pernapasan bagian bawah. Penyempitan ini akibat
berkerutnya otot polos saluran pernapasan, pembengkakan selaput lendir,
dan pembentukan timbunan lendir yang berlebihan.
Dapat dijelaskan bahwa asma merupakan penyakit sistem pernapasan
yang ditandai adanya kontraksi berkepanjangan saluran napas bronkus.

7

2. Klasifikasi
Klasifikasi asma berdasarkan etiologi
a. Asma Bronkhial Tipe Atopik (Ekstrinsik)
Asma timbul karena seseorang yang mengalami atopi akibat pemaparan
alergen. Alergen yang masuk tubuh melalui saluran pernapasan, kulit,
saluran pencernaan, dan lain-lain akan ditangkap oleh makrofag yang
bekerja sebagai antigen presenting cells (APC).
b. Asma Bronkhial Tipe Non-atopik (Intrinsik)
Asma nonalergenik (asma intrinsik) terjadi bukan karena pernapasan
alergen tetapi terjadi akibat beberapa faktor pencetus seperti infeksi
saluran pernapasan bagian atas, olahraga atau kegiatan jasmani yang
berat, dan tekanan jiwa atau stres psikologis (Mutaqqin, 2014).

3. Etiologi
Asma terjadi dalam keluarga yang menunjukkan bbahwa asma
merupakan gangguan yang diturunkan. Tampaknya, faktor lingkungan
(misal, infeksi virus, alergen, polutan) berinteraksi dengan faktor keturunan
mengakibatkan penyakit asma. Faktor lain yang memicu termasuk keadaan
pemicu (stres, tertawa, menangis), olahraga, perubahan suhu, dan bau-bau
yang menyengat. Asma termasuk sebagai komponen dari triad penyakit
yaitu, asma, polip nasal, dan alergi aspirin (Black dan Hawks, 2014).

8

4. Patofisiologi
Black dan Hawks (2014) menjelaskan patofiologi asma ketika seorang
klien terpapar sebuah alergen, immunoglobulin E (IgE) akan diproduksi
oleh limfosit B. Antibodi IgE akan melekat pada sel mast dan basofil di
dinding bronkus. Sel mast akan mengosongkan dirinya melepaskan
mediator peradangan kimia, seperti histamin, bradikidin, prostaglandin, dan
substansi reaksi lambat (slow-reacting substance/SRS-A). Zat-zat tersebut
menginduksi dilatasi kapiler yang menyebabkan edema saluran napas dalam
usaha untuk menyingkirkan alergen. Mereka juga menginduksi kontriksi
saluran napas untuk menutupnya sehingga tidak menghirup alergen lebih
banyak lagi.
Sekitar setengah hari dari seluruh klien asma mengalami reaksi fase
lambat (late-phase). Meskipun manifestasi klinis yang dihasilkan sama
dengan fase awal, reaksi fase lambat akan dimulai 4-8 jam setelah paparan
dan dapat bertahan selama beerapa jam atau hari.
Pada fase kedua, pelepasan mediator kimia menghasilkan respons
pada saluran napas. Pada respons fase lamat, mediator menarik sel-sel
radang lainnya dan memuat siklus ostruksi, serta inflamasi yang terusmenerus. Peradangan kronis ini menyebabkan saluran napas menjadi
hippersponsif. Saluran napas yang hipperesponsif ini menyebabkan episode
erikutnya berespon tidak hanya pada antigen spesifik, tetapi pada ransangan
seperti kelelahan fisik dan menghirup udara dingin. Frekuensi dan
keparahan dari gejala klinis yang ada dapat meningkat.

9

Resep alfa-adrenergik dan beta-adrenergik dari sistem paraf simpatis
dapat ditemukan pada bronkus. Rangsangan terhadap reseptor alfaadrenergik menyebabkan kontriksi bronkus, sebaliknya ransangan terhadap
beta-adrenergik menyebabkan dilatasi bronkus. Adenosisn monofosfat siklik
(cAMP) merupakan penyeimbang antara kedua reseptor tersebut.

5. Manifestasi Klinis
Black dan Hawks (2014) menjelaskan klien yang mengalami asma
akan mengalami kesulitan bernapas dan memerukan usaha untuk bernapas.
Tanda usaha untuk bernapas antara lain napas cuping hidung, bernapas
melalui mulut, dan penggunaan otot bantu pernaapsan. Sianosis merupakan
gejala lanjutan.
Smetlzer, S.C (2018) juga menjelaskan manifestasi klinis asma
meliputi
a. Gejala asma paling umum adalah batuk (dengan atau tanpa disertai
produksi mukus), dispnea, dan mengi (pertama-tama pada ekspirasi,
kemudian bisa juga terjadi selama inspirasi)
b. Serangan asma paling sering terjadi pada malam hari atau pagi hari
c. Eksaserbasi asma sering kali didahului oleh peningkatan gejala selama
berhari-hari, namun dapat pula terjadi secara mendadak
d. Sesak dada dan dispnea
e. Diperlukan usaha untuk melakukan ekspirasi dan ekspirasi memanjang

10

f. Sering proses eksaserbasi, sianosis sentral sekunder akibat hipoksia berat
dapat terjadi
g. Gejala tambahan, seperti diaforesis, takikardia, dan pelebaran tekanan
nadi mungkin dijumpai pada pasien asma
h. Asma yang disebabkan oleh latihan fisik : gejala maksimal selama
menjalani latihan fidik, tidak terdapat gejala pada malam hari, dan
terkadang hanya muncul gambaran sensasi seperti "tercekik" selama
menjalani latihan fisik
i. Reaksi yang parah dan berlangsung terus-menerus, yakni status
asmatikus, bisa saja terjadi
j. Eksema, ruam, dan edema temporer merupakan reaksi alergi yang
biasanya menyertai asma

6. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan

penunjang

menurut

(Mutaqqin,

2014)

meliputi

pemeriksaan diagnostik, pemeriksaan kulit, pemeriksaan laboratorium, dan
pemeriksaan radiologi.
a. Pemeriksaan Diagnostik
1) Pengukuran Fungsi Paru (Spiromeri)
Pengukuran ini dilakukan sebelum dan pemberian bronkodilator
aerosol golongan adrenargik. Peningkatan FEV atau FVC sebanyak
lebih dari 20% menunjjukan diagnosis asma.

11

2) Tes Provokasi Bronkhus
Dilakukan pada Spirometri internal. Penurunan FEV sebesar 20% atau
lebih setelah tes provakasi dan denyut jantung 80-90% dari
maksimum dianggap bermakna bila menimbulkan penurunan PEFR
10% atau lebih.
b. Pemeriksaan Kulit
Untuk menunjukkan adanya antibodi IgE hipersensitif yang spesifik
dalam tubuh
c. Pemeriksaan Laboratorium
1) Analisis Gas Darah (AGD/Astrup)
Hanya dilakukan pada serangan asma berat karena terdapat
hipoksemia, hiperkapnea, dan asidosis respiratorik
2) Sputum
Adanya badan kreola adalah karakteristik untuk serangan asma yang
ebrat, karena hanya reaksi yang hebat saja yang menyebabkan
transudasi dari edema mukosa, sehingga terlepaskan sekelompok selsel epitel dari perlekatannya.
3) Sel eosinofil
Sel eosofil pada klien dengan status asmatikus dapat mencapai 10001500/mm³ baik asma intrinsik ataupun ekstrinsik, sedangkan hitung
sel eosinofil normal antara 100-200/mm³.
4) Pemeriksaan darah rutin dan kimia

12

d. Pemeriksaan Radiologi
Hasil pemeriksaan radiologi pada klien dengan asma bronkhial biasanya
normal, tetapi prosedur ini harus dilakukan untuk menyingkirkan
kemungkinan adanya proses patologi di paru atau komplikasi asma
sepertidiatinum, atelektasis, dan lain-lain.

7. Penatalaksanaan
Black dan Hawks (2014) menjelaskan manajemen asma diberikan
sesuai tingkat keparahannya dan ditujukan untuk meredakan spasme saluran
napas. Tujuan umum terapi asma adalah mencegah asma kronis dan
eksaserasi asma, menjaga aktivitas tetap normal, menjaga fungsi paru
mendekati normal, pengobatan optimal dengan efek samping atau tanpa
efek samping, dan kepuasan klien terhadap perawatan asma.
Manajemen kegawatdaruratan pada klien dimulai dengan inhalasi
agen agonis beta2. Agonis beta2 akan menstimulasi reseptor beta adrenergik
dan mendilatasi saluran napas. Bila spasme tidak berkurang (misalnya
FEV1 masih <50% di bawah perkiraan), atropin sulit dapat diberikan baik
melalui nebulisasi maupun intravena (IV). Atropin merupakan agen
antikolinergik yang bekerja dengan cara menghambat efek sistem
parasimpatis. Tonus otot polos pada bronkus akan meningkat bila nervus
vagus terangsang. Bila terapi ini tidak mengurangi manifestasi klinis, klien
harus dibawa ke rumah sakit untuk terapi lebih lanjut.

13

Suplementasi oksigen dibutuhkan bila PaO2 turun hingga di bwah 60
mm Hg. Intubasi enditrakin dan ventilasi mekanik mungkin dibutuhkan.
Sedasi hingga obat paralitik kadang diutuhkan untuk menghambbat usaha
respirasi klien sehingga mencegah udara terjebak lebih banyak dan tekanan
udara meningkat di paru. Status asmatikus ditangani dengan penggunaan
kprtikosteroid IV secara agresif dan pemberian obat beta-adrenergik hirup
untuk mencegah intubasi dan ventilasi mekanik.
Inflamasi mukosa dikontrol melalui penggunaan kortikosteroid hirup.
Strerod mencegah pengosongan sel mast, sehingga dapat mengurangi edema
dan spasme.

8. Diagnosa Banding
menurut Muttaqin (2014)
a. Ketidakefektifan bersihan jalan napas yang berhubungan dengan adanya
bronkhokonstriksi, bronkhopasme, edema mukosa dan dinding bronkus,
serta sekresi mukus yang kental
b. Risiko tinggi ketidakefektifan pola napas yang berhuungan dengan
peningkatan kerja pernapasan, hipoksemia, dan ancaman gagal napas
c. Gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan serangan assma
menetap
d. Gangguan pemenuhan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh erhubungan
dengan penurunan nafsu makan

14

e. Gangguan ADL yang berhubungan dengan kelemahan fisik umum,
keletihan
f. Cemas yang berhubungan dengan adanya ancaman kematian yang
dibayangkan (ketidakmampuan untuk bernapas)
g. Kurangnya pengetahuan yang berhuungan dengan informasi yang tidak
adekuat mengenai proses penyakit dan pengobatan

9. Komplikasi
Status asmatikus adalah komplikasi dari asma yang berat dan
mengancam jiwa. Episode akut spasme bronkus yang terjadi cenderung
meningkat. Dengan spasme bronkus berat, beban untuk bernapas meningkat
menjadi 5-10 kali lebih berat, sehingga dapat menyebabkan pulmonal akut
(gagal jantung kanan yang dikarenakan penyakit paru). Bila status
asmatikus berlanjut, hipoksemia akan semakin memburuk dan akan terjadi
asidosis. Bila kondisi tersebut tidak titangani dan diperbaiki, dapat terjadi
henti napas maupun henti jantung (Black dan Hawks, 2014).

B. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Asma
1. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Asma menurut
Muttaqin (2014)

15

a. Anamnesis
Keluhan utama meliputi sesak napas, bernapas terasa berat pada dada,
dan adanya keluhan sulit bernapas.
b. Riwayat Penyakit Saat Ini
Klien dengan serangan asma datang mencari pertolongan terutama
dengan keluhan sesak napas yang hebat dan mendadak, kemudian diikuti
dengan gejala-gejala lain seperti wheezing, penggunaan otot bantu
pernapasan, kelelahan, gangguan kesadaran, sianosis, dan perubahan
tekanan darah.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Penyakit yang pernah diderita pada masa-masa dahulu seperti adanya
inspeksi saluran pernapasan atas, sakit tenggorokan, amandel, sinusitis,
dan polip hidung. Riwayat serangan asma, frekuensi, waktu dan alergenalergen yang dicurigai sebagai pencetus serangan, serta riwayat
pengobatan yang dilakukan untuk meringankan gejala asma
d. Riwayat Penyakit Keluarga
Kaji tentang riwayat penyakit asma atau penyakit alergi lain pada
anggota keluarganya
e. Pengkajian Psiko-sosio-kultural
Kecemasan dan koping yang tidak efektif sering didapatkan pada klien
dengan asma bronkhial

16

f. Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat
Klien dengan asma harus mengubah gaya hidupnya sesuai kondisi yang
tidak akan menimbulkan serangan asma
g. Pola Hubungan dan Peran
Gejala asma sangat membatasi klien untuk menjalani kehidupannya
secara normal. Klien perlu menyesuaikan kondisinya dengan hubungan
dan peran klien, baik dilingkungan rumah tangga, masyarakat, ataupun
lingkungan kerja serta peran yang terjadi setelah klien mengalami
serangan asma.
h. Pola Persepsi dan Konsep Diri
Kaji tentang persepsi klien terhadap penyakitnya
i. Pola Penanggulangan Stres
Stres dan ketenggangan emosional merupakan faktor intrinsik pencetus
serangan asma. Kaji penyeab terjadinya stres.
j. Pola Sensorik dan Kognitif
Kelainan pada pola persepsi dan kognitif akan mempengaruhi konsep diri
klien dan akhirnya mempengaruhi jumlah stesor yang dialami klien
sehingga kemungkinan terjadi serangan asma berulang pun semakin akan
tinggi.
k. Pola Tata Nilai dan Kepercayaan
Keyakinan klien terhadap Tuhan dan mendekatkan diri kepada-Nya
merupakan metode penanggualangan stres yag konstruktif.

17

2. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum
Kaji kesadaran klien, kecemasan, kegelisahan, kelemahan suara bicara,
denyut nadi, frekuensi pernapasan yang meningkat, penggunaan otot-oto
bantu pernapasan, sianosis, batuk dengan lendir lengket, dan posisi
istirahat klien.
1) B1 (Breathing)
a) Inspeksi, inspeksi dada terutama untuk melihat postur bentuk dan
kesimetrisan, adanya peningkatan diameter anteroposterior, retraksi
otot-otot interkostalis, sifat dan irama pernapasan, frekuensi
pernapasan.
b) Palpasi kesimetrisan, ekspansi, dan taktil fremitus normal
c) Perkusi, didapatkan suara normal sampai hipersonor sedangkan
diafragma menjadi datar dan rendah
d) Auskultasi, terdapat suara vesikuler yang meningkat disertai
dengan ekspirasi lebih dari 4 detik atau lebih dari 3 kali inspirasi,
dengan unyi napas tambahan utamaa wheezing pada akhir ekspirasi
2) B2 (Blood)
Memonitor dampak asma pada pada status kardiovaskular meliputi
keadaan hemodinamik seperti nadi, tekanan darah, dan CRT.
3) B3 (Brain)
Diperlukan pemeriksaan GCS untuk menentukan tingkat kesadaran

18

klien.
4) B4 (Bladder)
Pengukuran volume output urine. Perawat perlu memonitor ada
tidaknya oliguria, karena hal tersebut merupakan tanda awal syok.
5) B5 (Bowel)
Kaji tentang bentuk, turgor, nyeri, dan tanda-tanda infeksi. Pengkajian
tentang status nutrisi klien meliputi jumlah, frekuensi, dan kesulitankesulitan dalam memenuhi kebutuhannya.
6) B6 (Bone)
Kaji adanya edema ekstermitas, tremor, dan tanda-tanda infeksi pada
ekstremitas karena dapat merangsang serangan asma. Pada integumen
kaji adanya permukaan yang kasar, kering, kelainan pigmentasi,
turgor kulit, kelembapan, mengelupas atau bersisik, perdarahan,
pruritus, eksim, dan adanya bekas atau tanda urtikaria atau dermatitis.
Pada rambut, kaji warna rambut, kelemabapan, dan kusam. Kaji
tentang bagaimana tidur dan istirahat klien, serta berapa besar akibat
kelelahan yang dialami klien. Kaji adanya wheezing, sesak, dan
optopnea dapat mempengaruhi pola tidur dan istirahat klien. Kaji
aktivitas keseharian klien seperti olahraga, bekerja dan aktivitas
lainnya.

19

3. Diagnosa dan Intervensi
Diagnosa dan intervensi menurut Muttaqin (2014)
a. Ketidakefektifan bersihan jalan napas yang berhubungan dengan
bronkospasme
Tujuan

: Dalam waktu 3 x 24 jam setelah diberikan intervensi

kebersihan jalan napas kembali efektif
Kriteria hasil :

Dapat

mendemonstrasikan

batuk

efektif,

dapat

menyatakan strategi untuk menurunkan kekentalan sekresi, tidak ada
suara napas tambahan dan wheezing (-), pernapasan klien normal (16-20
x/menit) tanpa ada penggunaan otot bantu napas.
Intervensi
1) Kaji warna, kekentalan, dan jumlah sputum
Rasional : Karakteristik sputum dapat menunjukkan berat ringannya
obstruksi
2) Atur posisi semifowler
Rasional : Meningkatkan ekspansi dada
3) Ajarkan cara batuk efektif
Rasional : Batuk yang terkontrol dan efektif dapat mempermudah
pengeluaran sekret yang melekat di jalan napas
4) Bantu klien latihan napas dalam

20

Rasional : Ventilasi maksimal membuka lumen jalan napas dan
meningkatkan gerakan sekret ke dalam jalan napas besar untuk
dikeluarkan
5) Kolaborasi dalam pemberian obat
Bronkodilator golongan B2
Nebulizer (via inhalasi) dengan golongan terbutaline 0,25 mg.
Fenoterol HBr 0,1 % Solution, orciprenaline sulfur 0,75 mg
Intravena dengan golongan theophyline ethilenediamine (Aminofilin)
bolus IV 5-6 mg/kg BB
Rasional : Pemberian bronkodilator via inhalasi akan langsung
menuju area ronkus yang mengalami spasme sehingga lebih cepat
berdilatasi.

Pemberian

secara

intravena

merupakan

usaha

pemeliharaan agar dilatasi jalan napas dapat optimal

b. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan retensi CO2, peningkatan
pernapasan, dan proses penyakit
Tujuan : dalam waktu 3x24 jam setelah diberikan intervensi pertukaran
gas membaik
Kriteria evaluasi: Dapat mendemonstrasikan batuk efekti, frekuensi
napas 16-20 x/menit, frekuensi nadi 60-120 x/meni, warna kulit normal,
tidak ada dipnea, dan gas darah arteri (GDA) dalam batas normal
Rencana Intervensi
1) Pantau status pernapasan tiap 4 jam, hasil GDA, intake, dan output

21

Rasional : untuk mengidentifikasi indikasi ke arah kemajuan atau
penyimpangan dari hasil hasil klien
2) Tempatkan klien pada posisi semi fowler
Rasional : posisi tegak memungkinkan ekspansi paru lebih baik
3) Berikan terapi intravena sesuai anjuran
Rasional : untuk memungkinkan rehidrasi yang cepat dan dapat
mengkaji keadaan vaskular untuk pemberian obat-obat darurat
4) Berikan oksigen melalui kanula nasal 4 l/menit selanjutnyasesuaikan
dengan hasil PaO2
Rasional : pemberian oksigen mengurangi beban otot-oto pernapasan
5) Berikan pengobatan yang telah ditentukan serta amati bila ada tandatanda toksisitas
Rasional : pengobatan untuk mengembalikan kondisi bronkhus seperti
kondisi sebelumnya

22

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. K
DENGAN ASMA BRONKHIAL
A. Pengkajian
Identitas Klien
Nama

: Ny. K

Jenis Kelamin

: Perempuan

Umur

: 56 Tahun

Status Perkawinan

: Sudah Menikah

Agama

: Islam

Suku / Bangsa

: Jawa / Indonesia

Pendidikan

: SMA

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Alamat

: Sidorejo, kopen, teras boyolali

No. Rm

: 052980

Diagnosa medis

: Asma Bronkhial

Penanggung Jawab
Nama

: Tn. I

Umur

: 58 Tahun

23

Pendidikan terakhir

: SMA

Pekerjaan

: Karyawan Swasta

Alamat

: Sidorejo, kopen, teras boyolali

Hubungan dengan pasien

: Suami

B. Riwayat Kesehatan
1. Riwayat Kesehatan Sekarang
Klien datang ke UGD RSUD Boyolali dengan keluhan nafas terasa
sesak sekali, batuk, sudah berobat tetapi tidak berkurang. Di UGD
klien dilakukan tindakan nebulizer dengan combifent, pemasangan O2
3 liter/ menit, injeksi amonipillin ½ ampul intravena dan IVFD Dex
5% drip aminopilin ½ ampul, 20 tetes/menit.
Klien mengeluh nafas terasa sesak, batuk, banyak mengeluarkan
dahak, karena faktor pencetus kehujanan dan terpapar debu, timbulnya
keluhan mendadak dengan lamanya terus menerus, semenjak sakit
tidak bisa tidur karena sesak nafas, tidak ada nafsu makan, perut terasa
mual, jika makan muntah, tidak dapat beraktifitas seperti biasanya, jika
banyak bergerak nafas bertambah sesak.
2. Riwayat Kesehatan Masa Lalu
Klien mengatakan memiliki penyakit asma sejak masih kecil. Klien
tidak pernah menderita sakit yang parah. Klien pernah dirawat di
RSUD dengan penyakit yang sama pada tahun 2016. Klien tidak ada
alergi obat , makanan, tetapi klien tidak tahan terhadap cuaca yang
dingin dan debu.

24

3. Riwayat Keluarga

: Perempuan

: Pasien

: laki – laki

: Keturunan

: Menikah

: Serumah

Keluarga pasien mengatakan pasien tinggal serumah dengan suami dan
anaknya
Keluarga pasien mengatakan tidak ada penyakit menurun ataupu menular

25

4. Riwayat Psikologis dan Spiritual
a. Orang yang terdekat dengan klien adalah suaminya
b. Interaksi dengan keluarga:
Pola komunikasi klien terbuka sedangkan yang membuat
keputusan dalam keluarha adalah suaminya, untuk kegiatan
kemasyarakatan jarang dilakukan, karena klien lebih sering
menghabiskan waktunya bersama keluarga.
c. Dampak penyakit klien terhadap keluarga
Keluarga klien mengatakan cemas jika penyakit asma klien
kambuh dan takut terjadi sesuatu dengan klien.
d. Mekanisme koping terhadap stress :
Jika ada masalah klien selalu tidur dan mencari pertolongan
dengan bercerita dengan suaminya.
e. Persepsi klien terhadap penyakitnya:
1) Hal yang dipikirkan saat ini adalah klien mengatakan ingin
cepat sembuh dan akan berusaha agar penyakitnya tidak
kambuh lagi
2) Perubahan yang dirasakan setelah jatuh sakit yaitu klien tidak
dapat melakukan kegiatan sperti biasanya
f. Tugas perkembangan menurut usia saat ini adalah sebagai ibu
rumah tangga
g. Sistem nilai kepercayaan nilai –nilai yang bertentangan dengan
kesehatan tidak ada, klien percaya dengan penanganan dokter

26

sedangkan aktivitas keagamaan atau kepercayaan yang dilakukan
adalah klien shalat lima waktu dan klien percaya dengan Tuhan
YME, tapi semenjak sakit klien jarang shalat.
5. Lingkungan
Klien tinggal bersama suami dan anak juga cucunya, klien mengatakan
lingkungan rumahnya berdebu, jarang membersihkan rumah karena
sibuk mengurus cucunya.
6. Kebiasaan sehari – hari
a. Nutrisi
Sebelum sakit : sebelum sakit frekuensi makan klien 3x / hari,
selera makan klien baik, jenis makanan nasi, sayur dan lauk pauk.
Tidak ada makanan pantangan, tidak ada alergi makanan dan klien
menyukai semua jenis makanan. Klien minum 7 – 8 gelas/hari.
Tidak ada kebiasaan sebelum yang dilakukan sebelum makan BB :
47 kg, TB : 150 cm.
Selama sakit : semenjak sakit sampai dirawat nafsu makan klien
menurun. Klien mengatakan perutnya terasa mual jika makan.
Klien tidak pernah menghabiskan porsi makanan yang disajikan
( hanya 3 sendok makan ). Diit yang diberikan adalah bubur 2500
kalori, BB 46 kg, TB 150 cm.
b. Eliminasi
Sebelum sakit : BAB normal, 1 x/hari tetapi waktunya tidak tentu,
konsistensi lembek, warna kuning kecoklatan, tidak ada keluhan

27

saat BAB dan tidak menggunakan obat pencahar. BAK normal 5 -6
x/hari , warna kuning jernih.
Selama sakit : sejak dirawat klien baru sakit sekali da tidak
menggunakan obat pencahar. BAK normal 4- 5 x/hari. Warna
kuning teh, hanya jika BAK klien dibantu oleh keluarga dan
perawat menggunakan pispot.
c. Kebersihan diri
Sebelum sakit : klien mandi 2 x/hari dengan menggunakan sabun,
sikat gigi 3 x/hari denganmenggunakan pasta gigi, cuci rambut
setiap mandi dengan menggunakan shampo dan mengganti pakaian
setiap selesai mandi.
Selama sakit : klien mandi dengan cara dilap dibantu oleh
anaknya menggunakan sabun, sikat gigi 2 x/hari menggunakan
pasta gigi, cuci rambut belum pernah, mengganti pakaian setiap
selesai mandi. Sejak dirawat klien mandi dibantu oleh anaknya dan
dirawat dengan cara dilap.
d. Istirahat dan tidur
Sebelum sakit : klien tidur 7 jam/hari, dari jam 22.00 wib s/d jam
05.00 wib. Klien jarang tidur siang, hanya sesekali saja. Sebelum
tidur klien menonton TV dan klien tidak pernah mengalami
gangguan saat tidur.
Selama sakit : semenjak sakit klien susah tidur. Sudah 2 malam
klien tidak dapat tidur, klien hanya bisa tidur 3 jam/hari, dan klien

28

selalu terbangun jika tidur. Klien mengatakan tidak bisa tidur
karena nafasnya sesak.
e. Aktivitas dan latihan
Sebelum sakit : klien ibu rumah tangga dan menjaga cucunya di
rumah. Olahraga jarang dilakukan, apabila ada waktu luang klien
lebih senang bersantai bersama keluarganya. Selama ini jika
beratifitas terlalu berat, nafas terlalu sesak.
Selama sakit : semenjak sakit aktivitas klien dibantu oleh
keluarga dan perawat.
7. Pola Kebiasaan Yang Mempengaruhi Kesehatan
Klien tidak merokok, klien tidak pernah meminum minuman keras dan
tidak ada ketergantungan obat.

C. Pemeriksaan Fisik
1.

Keadaran umum
Kesadaran

: Compos mentis

Tanda- tanda Vital

: TD

: 130/80 mmHg

RR

: 32 ×/menit

N

: 92 × /menit

S

: 37°C

29

2.

Sistem Penglihatan
Inspeksi : Posisi mata simetris, kelopak mata normal, pergerakan
bola mata normal. Konjungtiva ananemis, kornea jernih, sklera tidak
ikterik tapi tampak merah, pupil isohor, tidak ada strabismus, fungsi
penglihatan baik, tidak ada tanda – tanda peradangan , tidak memakai
kaca mata, tidak memakai lensa kontak, reaksi terhadap cahaya kanan
dan kri positif, tampak warna hitam pada kelopak mata bawah skitar
mata, mata tampak sayu, tidak ada hematoma.

3.

Sistem Pendengaran
Palpasi

: daun telinga simetris dan tidak sakit bila digerakkan, tidak

bengkak. Tidak ada serumen dan juga nanah, tidak ada lesi, tidak ada
tinitus, tidak ada perasaan penuh di telinga, fungsi pendengaran baik,
pada pemeriksaan garputala hasil positif kanan dan kiri, tidak
menggunakan alat bantu pendengaran.
4.

Sistem Wicara
Inspeksi : Tidak ada kesulitan dan gangguan berbicara, tidak
memakai ETT dan trakeostomi.

5.

Sistem Penciuman
Bentuk hidung simestris, septum terletak ditengah, tidak ada secret,
tidak terdapat sinusitis, tidak ada polip, tidak ada epitaksis, fungsi
penciuman baik

6.

Sistem Pernafasan

30

Frekuensi 30 x/menit , irama tidak teratur, menggunakan alat bantu
pernafasan yang terpasang O2 3liter/menit, jalan nafas tidak bersih,
tampak retraksi costal, adanya pernafasan cuping hidung, adanya
batuk yang produktif, tidak ronkhi, adanya wheezing, rales tidak ada,
hemaptoe tidak ada.
7.

Sistem Kardiovaskuler
Sirkulasi perifer yaitu nadi 100 x/menit, irama teratur, denyut kuat,
TD 130/80 mmHg, tidak terdapat distensi vena jugularis, palpasi kulit
teraba dingin, tidak adaoedema, adanya sianosis, pengisian kapiler
2/detik. Sirkulasi jantung yaitu Heart Rate 100 x/menit , irama teratur,
tidak ada bunyi jantung tambahan gallop dan murmur, tidak ada nyeri
dada saat aktivitas maupun tidak beraktivitas.

8.

Sistem Hematologi
Tidak adanya keluhan kesakitan. Tidak adanya splenomegali, mimisan
dan ekimosis juga tidak ada, tidak ada perdarahan, ptechiae dan
purpura tidak ada, tidak ada hematomoegali dan gusi tidak mudah
berdarah.

9.

Sistem Saraf Pusat
Tingakt kesadaran yaitu composmentis, Glasgow Coma Scale ( GCS )
yaitu 15 ( Motorik 6, Verbal 5, Mata 4 ) tidak ada peningkatan
Tekanan Intra Kranial ( TIK ), tidak ada kejang, tidak ada
kelumpuhan, mulut tidak miring, bicara tidak pelo, orientasi orang,
tempat dan waktu baik, tidak ditemukan reflek patologik babinski.

31

10. Sistem Pencernaan
Tidak ada nyeri tekan pada epigastrium, tidak ada nyeri tekan pada
titik MC, Burney, tidak konstipasi, tidak diare, peristaltik usus 15
x/menit. Tidak ada pembesaran pada hepar, tidak ada acites, umbilicus
tidak meninjol, tidak ada bayangan bendungan pembuluh darah vena
pada kulit abdomen, tidak ada luka bekas operasi.
11. Sistem endokrin
Gula darah 107, nafas tidak berbau keton, tidak ada poliura, tidak ada
polidipsi, tidak ada poliphagia.
12. Sistem Urogenital
Tidak ada retensi urine, tidak inkontenesia, tidak ada nuctoria,
kebiasaan BAK 6 – 7 x/menit dan terkontrol, dalam jumlah 80 cc/jam,
warna kuning teh, tidak terdapat distensi kandung kemih, tidak ada
sakit pinggang, tidak ada penyakit kelamin.
13. Sistem Integumen
Turgor kulit elastis, kulit kering , keadaan kulit bersih, tidak ada lesi,
tidak ada ulkus, tidak ada ptechiae, tidak gatal, tidak ada insisi
operasi, tidak ada luka bakar, tidak ada decubitus, tidak ikterik.
14. Sistem ekstremitas
Pada ekstremitas atas terpasang IV line RL di tangan sebelah kiri 20
tetes / menit, ekstremitas bawah tidak ada oedema, tidak ada jejas
dikaki. Kekuatan ektremitas atas dan bawah baik.

32

D. Pemeriksaan Penunjang
1.

Haemoglobin

: 13 gr%

2.

Leukosit

: 5600 mmᶾ

3.

Trombosit

: 220.000 mmᶾ

4.

Hematokrit

: 40%

5.

Gula Darah Sewaktu

: 107 mg/dl

6.

SGOT

: 85 mg/d

7.

SGPT

: 89 mg/dl

8.

Ureum

: 28,0 mg/dl

9.

Cretinin

: 1,17 mg/dl

E. Terapi Yang Diberikan
Combifent
Pemasangan O2 3 liter/ menit
Injeksi amonipillin ½ ampul intravena
IVFD Dex 5% drip aminopilin ½ ampul, 20 tetes/menit

33

F. DATA FOKUS
Data Subjektif :
1.

Klien mengeluh nafas terasa sesak

2.

Klien mengatakan banyak mengeluarkan banyak dahak yang berwarna
keputihan

3.

Klien mengatakan ketika bangun tidur terasa sesak napas

4.

Klien mengatakan memiliki riwayat asma sejak kecil

5.

Klien mengatakan tidak dapat beraktivitas seperti biasanya karena jika
banyak bergerak nafas bertambah sesak

6.

Klien mengatakan alergi terhadap cuaca dingin

7.

Klien mengatakan badannya terasa lemah

Data Objektif :
1.

Klien tampak mual – mual

2.

Klien tampak lemah

3.

Adanya perubahan jam tidur dari 7 jam/hari menjadi 3 jam/hari

4.

TD 130/80 mmHg, Nadi 92 x/menit, RR 32 x/menit

5.

Irama nafas tidak teratur

6.

Menggunakan alat bantu pernapasan yaitu 02 3 liter/menit

7.

Adanya pernafasan cuping hidung

8.

Adanya whezing

9.

Jalan napas tidak bersih, terdapat sputum berwarna keputihan

10. Klien tampak sesak napas
11. Adanya batuk yang produktif

34

G. RUMUSAN MASALAH
Mukus berlebihan b.d Tidak efektifnya bersihan jalan napas d.d
DS :
a.

Klien mengatakan batuk berdahak dengan dahak berwarna putih

b.

Klien mengatakan sesak napas

c.

Klien mengatakan batuk

a.

Klien tampak sesak napas disertai batuk berdahak berwarna

DO :

putih kental
b.

Suara napas klien terdengar wheezing

c.

Jalan napas tampak tidak bersih terdapat sputum berwarna
keputihan

d.

TD : 130/80 mmHg
RR : 32 x/menit
N : 92 X/menit

H. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Mukus berlebihan berhubungan dengan tidak efektifnya bersihan jalan
napas

35

I. INTERVENSI
Diagnosa Mukus berlebihan berhubungan dengan tidak efektifnya bersihan
jalan napas
Setelah dilakaukan tindakan selama 2x24 jam diharapkan masalah klien
dapat teratasi dengan kriteria hasil

:

Dapat mendemonstrasikan batuk efektif
Dapat menyatakan strategi untuk menurunkan kekentalan sekresi
Tidak ada suara napas tambahan dan wheezing (-)
Pernapasan klien normal (16-20 x/menit) tanpa ada penggunaan otot bantu
napas.
Intervensi
6) Kaji warna, kekentalan, dan jumlah sputum
Rasional

: Karakteristik sputum dapat menunjukkan berat ringannya

obstruksi
7) Atur posisi semifowler
Rasional

: Meningkatkan ekspansi dada

8) Ajarkan cara batuk efektif
Rasional

: Batuk yang terkontrol dan efektif dapat mempermudah

pengeluaran sekret yang melekat di jalan napas
9) Bantu klien latihan napas dalam
Rasional

: Ventilasi maksimal membuka lumen jalan napas dan

meningkatkan gerakan sekret ke dalam jalan napas besar untuk
dikeluarkan

36

10)

Kolaborasi dalam pemberian obat

Bronkodilator golongan B2
Nebulizer (via inhalasi) dengan golongan terbutaline 0,25 mg.
Intravena dengan golongan theophyline ethilenediamine (Aminofilin)
bolus IV 5-6 mg/kg BB
Rasional

: Pemberian bronkodilator via inhalasi akan langsung

menuju area ronkus yang mengalami spasme sehingga lebih cepat
berdilatasi. Pemberian secara intravena merupakan usaha pemeliharaan
agar dilatasi jalan napas dapat optimal

37

A. Kesimpulan
1. Dari pengkajian dan pemeriksaan fisik yang dilakukan kepada pasien
dengan pemenuhan kebutuhan oksigenasi pada pasien dengan
gangguan asma bronkhial didapatkan beberapa diagnosa yaitu :
a. Ketidakefektifan bersihan jalan napas yang berhubungan dengan
adanya bronkhokonstriksi, bronkhopasme, edema mukosa dan
dinding bronkus, serta sekresi mukus yang kental
b. Risiko tinggi ketidakefektifan pola napas yang berhuungan dengan
peningkatan kerja pernapasan, hipoksemia, dan ancaman gagal
napas
c. Gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan serangan
assma menetap
d. Gangguan pemenuhan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh
erhubungan dengan penurunan nafsu makan
e. Gangguan ADL yang berhubungan dengan kelemahan fisik umum,
keletihan
f. Cemas yang berhubungan dengan adanya ancaman kematian yang
dibayangkan (ketidakmampuan untuk bernapas)
g. Kurangnya pengetahuan yang berhuungan dengan informasi yang
tidak adekuat mengenai proses penyakit dan pengobatan
2. Intervensi keperawatan pada pasien dengan pemenuhan kebutuhan
oksigenasi pada pasien dengan gangguan asma bronkhial pada
umumnya sudah sesuai teori menurut Muttaqin (2014), tetapi masih

38

ada beberapa intervensi yang tidak diterapkan dalam kasus Ny. K
karena kondisi pasien.

B. Saran
1. Pada saat merumuskan diagnosa, sebaiknya lebih memperhatikan dan
teliti dalam data yang akan dirumuskan sebagai diagnosa. Jangan
sampai ada diagnosa yang bisa dirumuskan pada kasus tetapi tidak
dirumuskan karena keterbatasan data, kurang cermat dan teliti.
2. Intervensi sebaiknya disusun menurut diagnosa yang dirumuskan dan
disesuaikan dengan kondisi pasien maupun kenyataan yang ada di
tempat pasien dilakukan perawatan. Sehingga dapat menghindari
intervensi yang tidak bisa dilakukan karena kondisi pasien yang tidak
memungkinkan dilakukan intervensi.

39

DAFTAR PUSTAKA
Bhaskara, Y., Bakhtiar, R., & Moerad, E. B. (2017). Hubungan tingkat kontrol asma
dengan kualitas hidup pasien asma di klinik paru rsud abdul wahab sjahranie
samarinda, 000(2), 2–10.
Black, J., & Hawks, J. (2014). Keperawatan Medikal Bedah : Manjemen Klinis untuk Hasil
yang Diharapkan. Jakarta: Salemba Emban Patria.
Mangguang, M. D. (2016). FAKTOR RISIKO KEJADIAN ASMA PADA ANAK DI KOTA
PADANG, 3(1), 1–7.
Muttaqin, A. (2014). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem
Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika.
Novarin, C., & Widayati, N. (2015). Pengaruh Progressive Muscle Relaxation terhadap
Aliran Puncak Ekspirasi Klien dengan Asma Bronkial di Poli Spesialis Paru B Rumah
Sakit Paru Kabupaten Jember, 3(2).
Nurarif, A. H., & Kusuma, H. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa
Medis dan NANDA NIC NOC. Yogyakarta: Media Action.
Putra, Y. A., Udiyono, A., & Yuliawati, S. (2018). GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN DAN
DERAJAT SERANGAN ASMA PADA PENDERITA DEWASA ASMA BRONKIAL, 6.
Smeltzer, S. C. (2018). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner dan Suddarth
(Edisi 8). Jakarta: EGC.
Soemantri, & Irman. (2009). Keperawatan Medikal Bedah : Asuhan Keperawatan Pasien
Dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika.
Sudiro, S., Martono, M., Nursalam, N., & Efendi, F. (2019). Early Detection of Risk Factors
and Severity of Airway Obstruction Through Early Detection of Risk Factors and
Severity of Airway Obstruction Through Measurement of Critical Values of FVC and
FEV 1 on Bus Terminal Officers, (January). https://doi.org/10.5958/09765506.2019.00126.8

40

Judul: Laporan Asuhan Keperawatan Pemenuhan Kebutuhan Oksigenasi Pada Pasien Dengan Gangguan Asma Bronkhial

Oleh: Arin Widiastuti


Ikuti kami