Strategi Pengembangan Ekonomi Daerah Istimewa Yogyakarta Dalam Menghadapi Pandemi Covid- 19

Oleh Aden Muflih

3,6 MB 7 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Strategi Pengembangan Ekonomi Daerah Istimewa Yogyakarta Dalam Menghadapi Pandemi Covid- 19

2021 EKONOMI WILAYAH Strategi Pengembangan Ekonomi Daerah Istimewa Yogyakarta dalam menghadapi Pandemi Covid19 Dosen Pembimbing Adjie Pamungkas, ST, M. Dev.Plg., Ph.D disusun oleh: Dio Astya Firmansyah 08211840000075 Billie Aldero Surya Saputra 08211840000095 Aden Mufllih Khaitami 08211840000097 Pendahuluan Pandemi Covid-19 bermula ketika suatu jenis pneumonia baru dengan penyebab yang saat itu tidak diketahui muncul di Kota Wuhan pada bulan Desember 2019. Kasus ini lalu dilaporkan mengalami banyak peningkatan baik di skala lokal, maupun global. Mayoritas kematian akibat penyakit ini disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan dan kegagalan organ. Pada Selasa, 11 Februari 2020, WHO mengumumkan penyakit yang disebabkan oleh SARSCoV-2 disebut coronavirus disease-2019 (COVID-19) (El Zowalaty & JΓ€rhult, 2020). Covid19 merupakan penyakit yang sangat mudah menyebar. Penyakit ini bahkan bisa menyebar dari orang yang memiliki gejala ringan. Seseorang yang mengidap penyakit ini rata-rata akan menyebarkan ke 2-3 orang di sekitarnya (Gates, 2020). Dikarenakan keefektifan penyebarannya, masyarakat dituntut untuk melakukan perubahan perilaku agar tidak tertular virus ini. Penerapan pembatan sosial, pencegahan kerumunan, dan lockdown yang dilakukan sebagai langkah pencegahan penuluran Covid-19 ternyata menimbulkan efek yang besar terhadap perekonomian. Secara global, ekonomi dunia sangat tertekan akibat Pandemi Covid-19. Pandemi ini menyebabkan efek negatif terhadap beberapa bagian penting dari kondisi makro ekonomi negara. Pandemi ini akan mengakibatkan penurunan persediaan buruh dengan angka kematian yang diperkiran mencapai 15 juta orang, penurunan konsumsi dan investasi yang akan menyebabkan kemerosotan pasar saham, kerugian terhadap produk domestik bruto (PDB) diperkirakan sebesar US$ 2 Triliun, serta larinya pemodalan asing terhadap negara-negara dengan ekonomi berkembang, seperti Indonesia (McKibbin & Fernando, 2020). Sektor jasa menjadi sektor yang paling dirugikan akibat menurunnya mobilitas masyarakat. Pariwisata sebagai sektor yang menjadi tulang punggung beberapa negara, salah satunya Yunani dan Indonesia, menjadi sektor yang terdampak signifikan akibat adanya larangan berpergian ke luar negeri sehingga pendapatan negara menjadi berkurang. Selain itu, kegiatan ekspor dan impor juga terganggu sehingga berdampak kepada kenaikan ongkos operasional dan terganggunya rantai pasok barang. Akibat dampak tersebut, tentu akan menghambat pertumbuhan PDB (Fernandes, 2020). Di Indonesia sendiri, pandemi Covid-19 telah banyak menimbulkan guncangan terhadap perekonomian nasional. PHK telah banyak terjadi yang diperkirakan mencapai angka lebih dari 1,5 juta pekerja. Fenomena PHK ini memiliki efek berantai di mana produksi barang dan jasa akan menurun sehingga akan menyebabkan defisit perdagangan. Daya beli masyarakat juga akan menurun seiring banyaknya pekerja yang menganggur. Di sisi lain, kegiatan impor juga berkurang 3,7%. Sektor penerbangan juga mengalami kerugian mencapai Rp 207 miliar. Sektor pariwisata juga sangat tertekan. Hal ini dapat dilihat dengan penurunan tingkat okupansi hotel mencapai 50% (Yamali & Putri, 2020). Tekanan ekonomi serupa juga dialami oleh Daerah Istimewa Yogyakarta. Berbagai sektor mengalami pertumbuhan negatif akibat adanya pandemi ini. Beberapa sektor bahkan mendapat dampak negatif hingga di atas 10%. Di antara sektor yang mengalaminya antara lain, sektor jasa lainnya (-24,29%), sektor akomodasi dan makan minum (-23,42%), sektor 1 konstruksi (-20,54%), sektor transportasi dan pergudangan (-18,19%), dan sektor jasa perusahaan (-16,93%) (BPS DIY, 2020). Berdasarkan permasalahan tersebut, diperlukan adanya suatu strategi untuk meningkatkan perekonomian wilayah DIY ditengah Pandemi Covid-19. Analisis LQ dan Shift Share digunakan untuk melihat sektor yang unggul di provinsi ini. Selain itu, analisis inputoutput berupa forward linkage, backward linkage, daya penyebaran, derajat kepekaan digunakan untuk melihat sektor mana saja yang memiliki keterkaitan yang kuat dengan sektor lain. Setelah itu sektor-sektor tersebut dievaluasi berdasarkan pertumbuhannya selama masa Pandemi. Lalu, perumusan strategi akan dilakukan menggunakan analisis SWOT. Review Literatur 2.1 Ekonomi wilayah Ekonomi wilayah merupakan suatu disiplin ilmu yang menekankan kepada pengaruh analisis ruang terhadap ekonomi. Tidak hanya itu, ilmu ekonomi wilayah juga dipandang sebagai ilmu yang membahas masalah perekonomian dalam ruang lingkup wilayah (Sjafrizal, 2008). Dalam melihat pertumbuhan ekonomi suatu wilayah, data PDRB merupakan data yang bisa menggambarkan hal tersebut. Hal ini dikarenakan pertumbuhan ekonomi lebih melihat pada perubahan kuantitatif dan fokus pada perekonomian saja. PDRB dapat memberitahukan output dari sektor tertentu pada tingkat wilayah (provinsi, kabupaten, kota). Data PDRB dapat dimanfaatkan untuk bisa mengetahui sektor unggulan pada suatu wilayah dengan berbagai pendekatan. Dengan mengetahui adanya sektor unggulan, hal tersebut dapat memicu proses pertumbuhan ekonomi (Flammang, 1979). 2.2 Sektor Unggulan Menurut Sambodo (2002) dalam Usya (2006), sektor unggulan merupakan sektor yang menjadi tumpuan ekonomi dikarenakan adanya sebuah faktor bawaan yang selanjutnya dikembangakan oleh suatu instrumen investasi. Terdapat beberapa kriteria dalam penentuan sektor unggulan, yaitu: 1. 2. 3. 4. Memiliki laju pertumbuhan yang tinggi Memiliki penyerapan tenaga kerja yang besar Memiliki keterkaitan antar sektor yang kuat baik ke depan maupun ke belakang Memiliki kemampuan untuk menciptakan nilai tambah yang tinggi 2.3 Teori Basis Ekonomi Teori ini mengatakan bahwa kunci utama pertumbuhan ekonomi wilayah adalah performa ekspor. Hal ini berarti permintaan eksternal terhadap sumber daya dari suatu sektor dapat memacu pertumbuhan ekonomi suatu wilayah. Pendapatan dari ekspor akan meningkatkan laju investasi dan buruh, mengembangkan aktivitas masyarakat, dan akan memajukan suatu wilayah di masa depan (Glasson & Marshall, 2007). Sektor yang memiliki kemampuan untuk melakukan ekspor disebut sektor basis. Penentuan sektor basis dapat 2 dilakukan menggunakan analisis location quotient. Teknik LQ yang digunakan beruapa LQ Static location quotient (SLQ) dinyatakan dengan rumus berikut: 𝑃𝑖𝑅 /𝑃𝑅 𝑆𝐿𝑄 = 𝑁 𝑁 𝑃𝑖 /𝑃 Keterangan: SLQ : static location quotient PiR : pendapatan regional pada sektor i R P : total pendapatan regional N Pi : pendapatan nasional pada sektor i N P : total pendapatan nasional 2.4 Analisis Shift Share Analisis Shift Share adalah suatu teknik yang digunakan untuk menganalisa data statistik regional baik berupa pendapatan perkapita, output, tenaga kerja maupun data lainnya. Dalam analisis ini akan diperlihatkan bagaimana keadaan pertumbuhan di daerah dengan dibandingkan pada pertumbuhan nasional. Tujuan dari analisis Shift Share adalah untuk melihat dan menentukan kinerja atau produktivitas kerjaperekonomian daerah dengan membandingkan dengan wilayah yang lebih luas (wilayah referensi). Dalam analisis shift share dipengaruhi tiga komponen, yaitu Komponen Pertumbuhan Nasional (KPN), Komponen Pertumbuhan Proporsional (KPP), dan Komponen Pertumbuhan Pangsa Wilayah (KPPW). KPN adalah perubahan produksi atau kesempatan kerja suatu wilayah yang disebabkan oleh perubahan produksi, kebijakan ekonomi nasional, dan kebijakan lain yang mampu mempengaruhi sektor perekonomian dalam suatu wilayah. KPP adalah perubahan produksi atau kesempatan kerja suatu wilayah yang disebabkan oleh komposisi sektor dalam permintaan produk akhir, serta perbedaan dalamstruktur dan keragaman pasar. KPPW adalah perubahan produksi atau kesempatan kerja suatu wilayah yang disebabkan oleh keunggulan komparatif wilayah tersebut. Model dari analisis shift share adalah sebagai berikut: PE = KPN +KPP + KPPW Dimana PE merupakan Yt Yit Yt yit Yit PE = ( βˆ’ 1) + ( βˆ’ ) + ( βˆ’ ) Yo Yio Yo yio Yio PE = (π‘…π‘Ž βˆ’ 1) + (𝑅𝑖 βˆ’ 1) + (π‘Ÿπ‘– βˆ’ Ri) dan PB adalah PB = KPP + KPPW Keterangan: PE : Pertumbuhan ekonomi 3 KPN : Komponen pertumbuhan nasional KPP : Komponen pertumbuhan proporsional KPPW : Komponen pertumbuhan pangsa wilayah Yt : Indikator ekonomi wilayah nasional (akhir tahun analisis) Yo : Indikator ekonomi wilayah nasional (awal tahun analisis) Yit : Indikator ekonomi wilayah nasional sektor i (akhir tahun analisis) Yio : Indikator ekonomi wilayah nasional sektor i (awal tahun analisis Yit : Indikator ekonomi wilayah lokal sektor i (akhir tahun analisis) Yio : Indikator ekonomi wilayah lokal sektor i (awal tahun analisis) Jika PB β‰₯ 0 maka sektor tersebut progresif. Jika PB < 0 maka sektor mundur 2.5 Analisis Input Output Input output merupakan teknik yang diperkenalkan oleh Profesor Wassily W Leontief pada akhir 1930-an. Analisis input output juga dapat disebut leontief model atau interindustry analysis karena tujuan utamanya untuk menganalisis ketergantungan antar industri (Miller & Blair, 2009). Beberapa analisis yang digunakan dalam analisis input output, antara lain analisis keterkaitan ke depan, analisis keterkaitan ke belakang, analisis daya penyebaran, dan analisis derajat kepekaan. Analisis keterkaitan ke depan berfungsi untuk melihat jumlah peningkatan output sektor lain akibat adanya peningkatan permintaan pada sektor tertentu sedangkan analisis keterkaitan ke belakang berfungsi untuk melihat peningkatan kebutuhan sektor tertentu terhadap sektor lainnya akibat peningkatan permintaan sektor tersebut. Analisis daya penyebaran berfungsi untuk menilai kemampuan suatu sektor dalam menyerap input dari sektor lainnya sedangkan analisis daya penyebaran berfungsi untuk melihat kemampuan suatu sektor dalam mendorong peningkatan output di sektor lainnya. Analisis keterkaitan ke depan dinyatakan dengan rumus. 𝑛 βˆ‘ 𝛼𝑖𝑗 𝑗=1 Sedangkan analisis keterkaitan ke belakang dinyatakan dengan rumus. 𝑛 βˆ‘ 𝛼𝑖𝑗 𝑖=1 Analisis daya penyebaran dinyatakan oleh rumus. 𝑛 βˆ‘π‘›π‘–=1 𝛼𝑖𝑗 𝑃𝑑𝑗 = 𝑛 βˆ‘π‘–=1 βˆ‘π‘›π‘—=1 𝛼𝑖𝑗 Sedangkan analisis derajat kepekaan dinyatakan oleh rumus. 𝑛 βˆ‘π‘›π‘—=1 𝛼𝑖𝑗 𝑆𝑑𝑖 = 𝑛 βˆ‘π‘–=1 βˆ‘π‘›π‘—=1 𝛼𝑖𝑗 Keterangan Pdj : daya penyebaran 4 Sdi Ξ± n : derajat kepekaan : unsur matriks invers Leontief : jumlah sektor sektor yang memiliki daya penyebaran dan derajat kepekaan >1 adalah sektor unggulan. 2.6 Analisis SWOT Analisis SWOT merupakan salah satu alat yang dapat memecahkan masalah kompleks dan strategis dengan mereduksi jumlah informasi untuk bisa meningkatkan kefektivan pembuatan keputusan. Pada awalnya, analisis ini digunakan untuk melihat celah dan kecocokan antara sumber daya dan kompetensi perusahaan dengan lingkungan bisnisnya, tetapi saat ini, penggunaan analisis SWOT sudah banyak digunakan untuk berbagai kepentingan akademik dimsegala bidang. Dalam melakukan analisis SWOT, digunakan sebuah kotak 2x2 yang diberi keterangan berdasarkan komponen internal dan eksternal, yaitu strengths, weaknesses, opportunities, dan threats. SWOT dapat membantu memperlihatkan hubungan-hubungan yang ada dalam suatu lingkungan baik itu perusahaan, negara, atau entitas lain. Dari hubunganhubungan itu, diharapkan dapat muncul suatu pemecahan masalah dan langkah awal dalam perencanaan strategis (Helms & Nixon, 2010). Analisis Persoalan Ekonomi Wilayah 3.1 Analisis LQ Untuk mengetahui sektor basis di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, digunakan perhitungan LQ. 3.1.1 SLQ (Static Location Quotient) Adapun data yang digunakan dalam melakukan analisis ini yaitu PDRB Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Atas Dasar Harga Konstan Triwulan I-III (Milyar Rupiah) dan PDB Nasional Atas Dasar Harga Konstan Triwulan I-III (Milyar Rupiah) yang didapatkan dari Badan Pusat Statistika Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Indonesia. Tabel 3.1 PDRB Provinsi DIY Atas Dasar Konstan Triwulan I – III 2020 (Miliar Rupiah) Lapangan Usaha Tahun Triwulan-I Triwulan-II Triwulan-III 2.373 2.136 2.320 126 119 127 3.209 3.023 3.158 Pengadaan Listrik, Gas 43 39 40 Pengadaan Air 23 26 27 Konstruksi 2.304 2.128 2.478 Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil 2.065 1.962 2.120 Transportasi dan Pergudangan 1.248 883 1.087 Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 2.380 1.489 2.146 Informasi dan Komunikasi 3.078 3.440 3.535 Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan 5 Jasa Keuangan 961 925 930 1.908 1.882 2.004 266 217 278 Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial 1.688 1.925 1.821 Jasa Pendidikan 2.331 2.331 2.444 Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 738 805 847 Jasa lainnya 681 401 564 25421,97 23731,64 25926,56 Real Estate Jasa Perusahaan PDRB Sumber: BPS, 2020 (Diolah) Berdasarkan pemaparan data diatas dapat diketahui bahwa, sektor Informasi dan Komunikasi memiliki kontribusi terbesar terhadap PDRB Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Atas Dasar Harga Konstan Triwulan III 2020 dengan total Rp. 3.535 Miliar. Tabel 3.2 PDB Nasional Atas Dasar Harga Konstan Triwulan I – III 2020 (Miliar Rupiah) Lapangan Usaha Tahun (Miliar) Triwulan-I Triwulan-II Triwulan-III Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 322600 375000 378700 Pertambangan dan Penggalian 200800 193300 196600 Industri Pengolahan 566700 530000 557800 Pengadaan Listrik, Gas 27700 25500 27700 Pengadaan Air 2300 2300 2400 Konstruksi 273600 253500 268000 Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil 356100 332200 351000 Transportasi dan Pergudangan 112000 79300 98600 Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 82800 64300 73800 Informasi dan Komunikasi 156000 161300 166300 Jasa Keuangan 120700 108200 111100 Real Estate 80800 80600 81400 Jasa Perusahaan 52400 45000 48500 Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial 90500 88100 89500 Jasa Pendidikan 84000 83400 88100 Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 33900 32500 36900 Jasa lainnya PDB 52400 44500 49300 2615300 2499000 2625700 Sumber: BPS, 2020 (Diolah) Setelah mendapatkan kedua data tersebut, kemudian dapat dilakukan analisis SLQ menggunakan rumus yang terdapat pada pembahasan sebelumnya. Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan rumus tersebut, maka didapatkan hasil yang dituangkan didalam tabel seperti berikut. 6 Tabel 3.3 Hasil Analisis SLQ Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Triwulan I – III 2020 Lapangan Usaha Tahun (Miliar) Triwulan-I Triwulan-II Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 0,7567738 0,5998748 TriwulanIII 0,6205058 Pertambangan dan Penggalian 0,0645647 0,0648512 0,06532464 Industri Pengolahan 0,5825631 0,6006519 0,57331327 Pengadaan Listrik, Gas 0,1580607 0,1605925 0,14740378 Pengadaan Air 1,0411902 1,2008145 1,14431767 Konstruksi 0,8662051 0,8841262 0,93656446 Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil 0,596548 0,6218672 0,61174917 Transportasi dan Pergudangan 1,146573 1,1724813 1,11699632 Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 2,9575098 2,4376982 2,94488737 Informasi dan Komunikasi 2,0299902 2,245904 2,1529757 Jasa Keuangan 0,8191461 0,8998583 0,84730857 Real Estate 2,4297108 2,4590336 2,49354911 0,52164 0,5074526 0,58053269 Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial 1,9184156 2,3014089 2,06054381 Jasa Pendidikan 2,8542202 2,94354 2,80931148 Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 2,2391338 2,6080377 2,3237507 Jasa lainnya 1,3374904 0,9484866 1,15789643 Jasa Perusahaan Sumber: Analisa Penulis, 2021 Pada tabel analisis tersebut dapat diketahui bahwa, untuk nilai SLQ > 1 berarti sektor tersebut merupakan sektor basis dan untuk nilai SLQ < 1 merupakan sektor yang tidak basis di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Sektor basis yang ada pada Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menurut klasifikasinya dapat dilihat pada tabel sebagai berikut. Tabel 3.4 Klasifikasi Sektor Unggulan di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2020 Sektor Basis Stabil Pengadaan Air Transportasi dan Pergudangan Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum Informasi dan Komunikasi Real Estate Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Jasa Pendidikan Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial Sektor Basis Tidak Stabil Sumber: Analisa Penulis, 2021 7 Jasa lainnya 3.2 Analisis Shift-Share Analisis shift-share dilakukan untuk mengetahui perubahan struktur ekonomi di suatu wilayah dalam periode tertentu. Analisis shift-share dilakukan menggunakan tiga komponen yang terdiri dari Komponen Pertumbuhan Nasional (KPN), Komponen Perubahan Proporsional (KPP), dan Komponen Pertumbuhan Pangsa Wilayah (KPPW). Hasil analisis shift-share yang telah diolah kedalam bentuk tabel dapat dilihat sebagai berikut Tabel 3.5 Hasil Analisis Shift-Share Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta KPN Lapangan Usaha KPP KPPW Milyar % Milyar Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 9,436915 0,39766 403,2462 16,9923 -465,512 -19,6161 -62,2659 -2,62381 Pertambangan dan Penggalian 0,501139 0,39766 -3,13706 -2,48929 3,425918 2,718508 0,288861 0,229215 Industri Pengolahan 12,76132 0,39766 -63,1602 -1,96816 -1,01014 -0,03148 -64,1703 -1,99963 0,16924 0,39766 -0,16924 -0,39766 -2,242 -5,26798 -2,41124 -5,66564 Pengadaan Air 0,092567 0,39766 0,91952 3,950166 2,827913 12,14844 3,747433 16,0986 Konstruksi 9,160864 0,39766 -56,3125 -2,44444 221,8636 9,63078 165,5511 7,186337 Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil 8,211395 0,39766 -37,7849 -1,82984 84,86154 4,109659 47,0766 2,279817 Transportasi dan Pergudangan 4,963858 0,39766 -154,31 -12,3619 -11,4228 -0,91509 -165,733 -13,277 Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 9,465774 0,39766 -268,202 -11,2672 24,34276 1,022647 -243,859 -10,2446 Informasi dan Komunikasi 12,24103 0,39766 191,0035 6,204904 253,8284 8,245823 444,832 14,45073 Jasa Keuangan 3,821802 0,39766 -80,2617 -8,35126 44,87994 4,669774 -35,3818 -3,68149 Real Estate 7,588668 0,39766 6,582107 0,344914 81,70323 4,281397 88,28533 4,626311 Jasa Perusahaan 1,056578 0,39766 -20,8319 -7,84041 32,09131 12,07807 11,25942 4,23766 Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Pengadaan Listrik, Gas % Milyar PB % Milyar % 6,711056 0,39766 -25,359 -1,50263 151,9889 9,00602 126,6299 7,503388 Jasa Pendidikan 9,26758 0,39766 104,4844 4,483292 -0,42501 -0,01824 104,0594 4,465056 Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 2,93413 0,39766 62,36224 8,451898 43,52763 5,89926 105,8899 14,35116 2,709078 0,39766 -43,0123 -6,31369 -77,2927 -11,3456 -120,305 -17,6593 Jasa lainnya Sumber: Analisa Penulis, 2021 8 3.2.1 Komponen Pertumbuhan Nasional (KPN) Berdasarkan nilai diatas dapat diketahui bahwa Sektor Industri Pengolahan merupakan sektor yang mendapatkan efek terbesar dari adanya pertumbuhan di skala nasional dengan nilai sebesar 12,76132 Miliar. 3.2.2 Komponen Pertumbuhan Proposional (KPP) Berdasarkan nilai diatas dapat diketahui bahwa Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan merupakan sektor yang memiliki pertumbuhan tercepat di Provinsi DIY jika dibandingkan dengan pertumbuhan di sektor nasionalnya dengan nilai sebesar 403,2462 Miliar, dan Sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum merupakan sektor yang memiliki pertumbuhan terlamban di Provinsi DIY jika dibandingkan dengan pertumbuhan di sektor nasionalnya dengan nilai sebesar -268,202 Miliar. 3.2.3 Komponen Pertumbuhan Proposional Wilayah (KPPW) Berdasarkan nilai diatas dapat diketahui bahwa Sektor Informasi dan Komunikasi merupakan sektor yang memiliki tingkat daya saing tertinggi di Provinsi DIY dengan nilai sebesar 253,8284 Miliar, sedangkan Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan merupakan sektor yang memiliki tingkat daya saing terendah di Provinsi DIY dengan nilai sebesar 465,512 Miliar. 3.2.4 Pergeseran Bersih (PB) Berdasarkan nilai diatas dapat diketahui bahwa sektor yang memiliki sektor yang memiliki kemajuan/progresif tertinggi yaitu Sektor Informasi dan Komunikasi dengan nilai sebesar 444,832 Miliar. 3.2.5 Penggabungan LQ & Shift-Share Tabel 3.6 Penggabungan LQ & Shift-Share 4. LQ < 1 & PB > 0 (Sektor Berkembang) Pertambangan dan Penggalian Konstruksi Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil Jasa Perusahaan 1. 2. 3. 4. LQ < 1 & PB < 0 (Sektor Terbelakang) Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Industri Pengolahan Pengadaan Listrik, Gas Jasa Keuangan 1. 2. 3. 1. 2. 3. 4. 5. 1. 2. 3. LQ > 1 & PB > 0 (Sektor Unggulan) Informasi dan Komunikasi Real Estate Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Jasa Pendidikan Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial LQ > 1 & PB < 0 (Sektor Lamban Potensial) Transportasi dan Pergudangan Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum Jasa lainnya Sumber: Analisa Penulis, 2021 9 3.3 Analisis Input-Output Beranjak dari pemikiran bahwa aktivitas perekonomian suatu daerah tentu saling memiliki keterkaitan antar sektor dan sangat mustahil suatu sektor berdiri sendiri tanpa dipengaruhi ataupun mempengaruhi sektor lain, maka dari itu pemerintah daerah harus mampu menangkap peluang sektor-sektor yang menjadi Leading yang salah satunya untuk dapat menciptakan trickle down effect (efek menetes kebawah) atau suatu sektor unggulan dapat mempengaruhi sektor-saktor lain untuk berkembang sehingga dapat menciptakan kemerataan pertumbuhan ekonomi (begitupun sebaliknya). Keunggulan tersebut tidak hanya terlihat dari proporsi yang dihasilkan terhadap perekonomian suatu daerah tetapi tentu keunggulan tersebut menunjukan tingkat keterkaitan sektor tersebut dengan sektor lainnya, dalam artian jika sektor tersebut dikembangkan tentunya harus memiliki dampak yang besar terhadap sektor-sektor lainnya. Disisi lain, untuk dapat mengetahui suatu potensi ekonomi dapat melihat dari keterkaitan antar sektor baik keterkaitan ke belakan maupun keterkaitan ke depan. Keterkaitan ke belakang menunjukkan bahwa suatu sektor membutuhkan output sektor lain untuk digunakan sebagai input produksi sedangkan keterkaitan ke dapan menunjukkan bahwa output suatu sektor akan dibutuhkan sektor lain yang digunakan sebagai input produksinya. Setiap keterkaitan dapat dibedakan menjadi keterkaitan langsung dan keterkaitan tidak langsung. Keterkaitan langsung melihat pada sektor itu sendiri sedangkan keterkaitan tidak langsung melihat sektor lain. 3.3.1 Forward Linkage Tabel 3.7 menunjukkan 10 besar sektor yang mempunyai keterkaitan langsung ke depan tertinggi. Angka tebu sebesar 0,9997 berarti jika ada tambahan input primer tebu sebesar Rp 1 maka akan meningkatkan jumlah output yang dapat digunakan untuk tebu sendiri sebagai input sebesar Rp 0,9997. Tabel 3.7 Keterkaitan Langsung ke Depan (KLD) Tahun 2010, Klasifikasi 83 Sektor No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Kode 9 43 17 56 5 75 1 78 77 72 Uraian Sektor Tebu Industri Pupuk dan Pestisida Jasa Pertanian dan Perburuan Jasa Reparasi Mesin Kedele Jasa Hukum, Akuntan, Konsultan, Arsitek, Penelitian Padi Jasa Perusahaan Lainnya Jasa Agen Perjalanan, Penyelenggara Tur & Jasa Reservasi Lainnya Jasa Keuangan Lainnya KLD 0,9997 0,9940 0,9594 0,8739 0,8241 0,8125 0,8081 0,7987 0,7642 0,7604 Sumber: Bappeda DIY (2012) diolah Tabel 3.8 menunjukkan 10 besar sektor yang mempunyai keterkaitan tidak langsung ke depan tertinggi. Angka jasa pertanian dan perburuan sebesar 2,0145 berarti jika ada tambahan input primer jasa pertanian dan perburuan sebesar Rp 1 maka akan meningkatkan jumlah output yang dapat digunakan untuk sektor di luar jasa pertanian dan perburuan sebagai input sebesar Rp 2,0145. 10 Tabel 3.8 Keterkaitan Tidak Langsung ke Depan (KTLD) Tahun 2010, Klasifikasi 83 Sektor No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Kode 17 43 9 72 1 57 56 45 73 76 Uraian Sektor Jasa Pertanian dan Perburuan Industri Pupuk dan Pestisida Tebu Jasa Keuangan Lainnya Padi Listrik Jasa Reparasi Mesin Industri Ban & Barang Lainnya dari Karet Jasa Penunjang Keuangan Jasa Periklanan KTLD 2,0145 1,9083 1,7165 1,5662 1,4779 1,4761 1,4599 1,3910 1,3455 1,3232 Sumber: Bappeda DIY, diolah 3.3.2 Derajat Kepekaan Tabel 3.9 menunjukkan 10 besar sektor yang mempunyai total keterkaitan depan yang juga dikenal dengan indeks derajat kepekaan tertinggi. Angka jasa pertanian dan perburuan sebsar 2,9739 berarti jika ada tambahan input primer jasa pertanian dan perburuan sebesar Rp 1 maka akan meningkatkan jumlah output yang dapat digunakan sebagai input baik oleh jasa pertanian dan perburuan maupun sektor di luar jasa pertanian dan perburuan sebesar Rp 2,9739.Jika melihat Tabel 9, 10, dan 11 terlihat bahwa jika ada tambahan pada input antara maka mayoritas dampaknya lebih dirasakan oleh sektor di luar sektor itu sendiri. Semakin tinggi angka total keterkaitan ke depan makan semakin penting memprioritaskan penambahan input antara karena outputnya sangat diperlukan oleh semua sektor. Tabel 3.9 Total Keterkaitan ke Depan (TKD)/Indeks Derajat Kepekaan Tahun 2010, Klasifikasi 83 Sektor No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Kode 17 43 9 56 72 1 57 78 45 5 Uraian Sektor Jasa Pertanian dan Perburuan Industri Pupuk dan Pestisida Tebu Jasa Reparasi Mesin Jasa Keuangan Lainnya Padi Listrik Jasa Perusahaan Lainnya Industri Ban & Barang Lainnya dari Karet Kedele DK 2,9739 2,9024 2,7161 2,3338 2,3267 2,2860 2,2004 2,1181 2,1132 2,0980 Sumber: Bappeda DIY, diolah 3.3.3 Backward Linkage Tabel 3.10 menunjukkan 10 besar sektor yang mempunyai keterkaitan langsung ke belakang tertinggi. Angka industri beras sebesar 0,7143 berarti jika ada tambahan permintaan 11 akhir industri beras sebesar Rp 1 maka akan meningkatkan penggunaan input dari industri beras sendiri sebesar Rp 0,7143. Tabel 3.10 Keterkaitan Langsung ke Belakang (KLB) Tahun 2010, Klasifikasi 83 Sektor No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Kode 24 26 71 81 44 30 40 60 45 33 Uraian Sektor Industri Beras Industri Tepung terigu & tepung lainnya Asuransi dan dana pensiun Jasa kesehatan dan kegiatan sosial Industri Kilang Minyak, LPG, Barang Kimia kecuali Pupuk & Pestisida Industri Biji-bijian kupasan, coklat & kembang gula Industri Kayu gergajian dan awetan Konstruksi khusus Industri Ban & barang lainnya dari karet Industri Makanan & minuman lainnya KLB 0,7143 0,5971 0,5487 0,5004 0,4904 0,4799 0,4290 0,4245 0,4201 0,4189 Sumber: Bappeda DIY, diolah Tabel 3.11 menunjukkan 10 besar sektor yang mempunyai keterkaitan tidak langsung ke belakang tertinggi. Angka jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 1,2388 berarti jika ada tambahan permintaan akhir jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar Rp 1 maka akan meningkatkan penggunaan input di luar jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar Rp 1,2388. Tabel 3.11 Keterkaitan Tidak Langsung ke Belakang (KTLB) Tahun 2010, Klasifikasi 83 Sektor No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Kode 81 71 44 72 24 60 45 65 43 63 Uraian Sektor Jasa kesehatan dan kegiatan sosial Asuransi dan dana pensiun Industri Kilang Minyak, LPG, Barang Kimia kecuali Pupuk & Pestisida Jasa Keuangan Lainnya Industri Beras Konstruksi khusus Industri Ban & barang lainnya dari karet Angkutan udara Industri Pupuk dan Pestisida Angkutan Rel KTLB 1,2388 1,2325 1,1964 1,1801 1,1709 1,1698 1,1681 1,1677 1,1663 1,1660 Sumber: Bappeda DIY, diolah 3.3.4 Daya Penyebaran Tabel 3.12 menunjukkan 10 besar sektor yang mempunyai total keterkaitan ke belakang yang juga dikenal dengan istilah indeks daya penyebaran atau angka pengganda output tertinggi. Angka industri beras sebesar 1,8852 berarti jika ada tambahan permintaan akhir industri beras sebesar Rp 1 maka akan meningkatkan penggunaan input secara keseluruhan (di dalam dan di luar industri beras) sebesar Rp 1,8852. Tidak seperti pada keterkaitan ke depan, hal yang sebaliknya terjadi pada keterkaitan ke belakang. Terlihat bahwa jika ada tambahan pada permintaan akhir maka mayoritas dampaknya lebih dirasakan oleh sektor itu sendiri. Semakin tinggi angka pengganda output maka semakin besar pengaruh permintaan akhir suatu sektor terhadap kebutuhan input produksi pada semua sektor. 12 Tabel 3.12 Keterkaitan ke Belakang (KLB)/Indeks Daya Penyebaran/Angka Pengganda Output Tahun 2010, Klasifikasi 83 Sektor No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Kode 24 71 26 81 44 60 45 30 72 64 Uraian Sektor Industri Beras Asuransi dan dana pensiun Industri Tepung terigu & tepung lainnya Jasa kesehatan dan kegiatan sosial Industri Kilang Minyak, LPG, Barang Kimia kecuali Pupuk & Pestisida Konstruksi khusus Industri Ban & barang lainnya dari karet Industri Biji-bijian kupasan, coklat & kembang gula Jasa Keuangan Lainnya Angkutan Darat, Laut, Sungai, Danau & Penyeberangan DP 1,8852 1,7811 1,7405 1,7392 1,6868 1,5943 1,5882 1,5714 1,5644 1,5618 Sumber: Bappeda DIY, diolah 3.4 Sektor Unggulan Berdasarkan analisis LQ dan Shift-Share, terdapat beberapa sektor yang menjadi sektor unggulan pada Provinsi DIY pada tahun 2020, antara lain yaitu sektor Informasi dan Komunikasi, Real Estate, Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial, Jasa Pendidikan, serta Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 13 Strategi Penanganan 4.1 Matriks SWOT Hasil analisis LQ, shift share, dan tabel IO, serta kondisi eksternal yang relevan dimasukkan dalam sebuah tabel SWOT untuk dijadikan beberapa strategi. Adapun daftar input yang dimasukkan dalam tabel SWOT dijelaskan melalui tabel di bawah ini. Tabel 4.1 Tabel Input SWOT Strengths (S) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. Weaknesses (W) Sektor Informasi dan Komunikasi merupakan sektor unggulan Sektor Real Estate merupakan sektor unggulan Sektor Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Sektor Jasa Pendidikan merupakan sektor unggulan Sektor Kesehatan dan Kegiatan Sosial merupakan sektor unggulan Sektor Pertambangan dan Penggalian merupakan sektor berkembang Sektor Konstruksi merupakan sektor berkembang Sektor Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil merupakan sektor berkembang Sektor Jasa Perusahaan merupakan sektor berkembang Tebu dan beberapa sektor pertanian serta industri pupuk merupakan sektor yang memiliki keterkaitan ke depan terhadap sektor lain yang menjadi output yang juga memiliki derajat kepekaan tertinggi terhadap sektor lain tersebut. Industri beras, tepung-tepungan dan asuransi serta dana pensiun merupakan sektor yang memiliki keterkaitan ke belakang terbesar terhadap sektor lain yang menjadi input yang juga memiliki daya kepekaan tertinggi terhadap sektor lain tersebut. Sektor Informasi dan Komunikasi merupakan sektor yang masih positif pada triwulan I & II 2020 saat covid-19. Jasa Pendidikan merupakan sektor yang masih positif pada triwulan I 2020 saat covid-19. Real Estate merupakan sektor yang masih positif pada triwulan I 2020 saat covid-19. Jasa Kesehatan merupakan sektor yang masih positif pada triwulan I & II 2020 saat covid-19. Pertanian dan Kehutanan merupakan sektor yang masih positif pada triwulan II 2020 saat covid19. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 14 Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan merupakan sektor terbelakang Sektor Industri Pengolahan merupakan sektor terbelakang Sektor Pengadaan Listrik, Gas merupakan sektor terbelakang Sektor Jasa Keuangan merupakan sektor terbelakang Sektor Transportasi dan Pergudangan merupakan sektor lamban potensial Sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum merupakan sektor lamban potensial Sektor Jasa Lainnya merupakan sektor lamban potensial Kemerosotan ekonomi akibat covid-19 pada 2020 saat triwulan I & II menurun 12% & 19%. Sektor Konstruksi merupakan sektor yang mengakibatkan kontraksinya perekonomian pada triwulan I & II 2020 saat covid-19. Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan merupakan sektor yang mengakibatkan kontraksinya perekonomian pada triwulan I 2020 saat covid-19. Sektor Industri Pengolahan merupakan sektor yang mengakibatkan kontraksinya perekonomian pada triwulan I 2020 saat covid19. Sektor Jasa Lainnya merupakan sektor yang mengakibatkan kontraksinya perekonomian pada triwulan II 2020 saat covid-19. Sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum merupakan sektor yang mengakibatkan kontraksinya perekonomian pada triwulan II 2020 saat covid-19. Sektor Konstruksi merupakan sektor yang mengakibatkan kontraksinya perekonomian pada triwulan II 2020 saat covid-19. Sektor Transportasi dan Pergudangan merupakan sektor yang mengakibatkan kontraksinya perekonomian pada triwulan II 2020 saat covid-19. 16. Sektor Jasa Perusahaan merupakan sektor yang mengakibatkan kontraksinya perekonomian pada triwulan II 2020 saat covid-19. Opportunities (O) 1. 2. 3. 4. Threats (T) Sektor Informal mendominasi perekonomian Indonesia. Terdapat keringanan pajak bagi beberapa sektor usaha. Revolusi teknologi informasi dan komunikasi. Stimulus dana dari pemerintah pusat. 1. 2. 3. Adanya pembatasan berpergian dan berkerumun. Rantai pasok barang dan logistik antar daerah dan antar negara terhambat. Terus menurunnya perekonomian nasional. Sumber: Analisis Penulis, 2021 4.2 Matriks Strategi Berdasarkan input yang didapatkan, maka, dapan disusun beberapa strategi. Adapun strategi-strategi tersebut dijelaskan dalam tabel di bawah ini. Tabel 4.2 Matriks Strategi SWOT 1. 2. 3. 4. 1. 2. Strategi SO (Strengths/Opportunities) Pengoptimalan revolusi industri 4.0 dalam mendorong sektor informal dengan memanfaatkan stimulus dana dari pemerintah (S1, S12, O1, O3, O4) Peningkatan output usaha di sektor berkembang dengan memanfaatkan keringanan pajak dan insentif keuangan pemerintah (S6, S7, S8, S9, O2, O4) Peningkatan output sektor tebu, beberapa sektor pertanian serta industri pupuk dengan memanfaatkan revolusi teknologi informasi dan komunikasi serta stimulus dana dari pemerintah pusat untuk mendorong sektor lain agar mempunyai output yang lebih dengan pengaruh keterkaitan ke depan (S10, O3, O4) Peningkatan output sektor industri beras, tepungtepungan dan asuransi serta dana pensiun dengan memanfaatkan revolusi teknologi informasi dan komunikasi serta stimulus dana dari pemerintah pusat untuk menarik sektor lain agar mempunyai output yang lebih dengan pengaruh keterkaitan ke belakang (S10, O3, O4) Strategi ST (Strengths/Threats) Pemanfaatan sektor unggulan dan pertumbuhan positif selama masa pandemi untuk pemenuhan permintaan domestik secara optimal (S1, S2, S3, S4, S5, T2) Peningkatan penyediaan layanan teknologi informasi dalam mendukung sektor pendidikan dan kesehatan selama pemberlakuan pembatasan kegiatan (S1, S4, S5, S12, S13, S15, T1) Strategi WO (Weakness/Opportunities) Peningkatan pertumbuhan sektor lamban potensial dengan memanfaatkan bantuan finansial pemerintah serta teknologi informasi (W5, W6, W7, W12, W13, W15, O2, O3, O4) Strategi WT (Weakness/Threats) Realokasi sumber daya dari sektor terbelakang dan sektor terdampak Covid-19 untuk mendorong sektor lain yang mendukung ekonomi (W1, W2, W10, W11, T3) 15 Sumber: Analisis Penulis, 2021 Kesimpulan dan Lesson Learned 5.1 Kesimpulan 1. Menurut analisis SLQ, sektor basis yang sifatnya stabil pada tahun 2020 adalah sektor pengadaan air, transportasi dan pergudangan, penyediaan akomodasi dan makan minum, informasi dan komunikasi, real estate, administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial, jasa pendidikan, serta jasa kesehatan dan kegiatan sosial sedangkan sektor yang sifatnya tidak stabil namun masih menjadi sektor basis adalah sektor jasa lainnya. 2. Menurut analisis Shift Share, sektor yang progresif antara lain yaitu sektor pertambangan dan penggalian, pengadaan air, konstruksi, perdagangan besar dan eceran, dan reparasi mobil, informasi dan komunikasi, real estate, jasa perusahaan, administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial, jasa pendidikan, serta jasa kesehatan dan kegiatan sosial. 3. Menurut analisis SLQ dan Shift Share, sektor yang menjadi sektor unggulan pada Provinsi DIY pada tahun 2020 antara lain yaitu sektor Informasi dan Komunikasi, Real Estate, Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial, Jasa Pendidikan, serta Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial. 4. Sektor dengan keterkaitan langsung ke depan terbesar antara lain tebu, industri pupuk dan pestisida, jasa pertanian dan perburuan, jasa reparasi mesin, kedele, jasa hukum, akuntan, konsultan, arsitek, penelitian, padi, jasa perusahaan lainnya, jasa agen perjalanan, penyelenggara tur & jasa reservasi lainnya, serta jasa keuangan lainnya 5. Sektor dengan keterkaitan tidak langsung ke depan terbesar adalah jasa pertanian dan perburuan, industri pupuk dan pestisida, tebu, jasa keuangan lainnya, padi, listrik, jasa reparasi mesin, industri ban & barang lainnya dari karet, jasa penunjang, keuangan, serta jasa periklanan. 6. Sektor dengan keterkaitan langsung ke belakang terbesar adalah industri beras, industri tepung terigu & tepung lainnya, asuransi dan dana pension, jasa kesehatan dan kegiatan social, industri kilang minyak, lpg, barang kimia kecuali pupuk & pestisida, industri biji-bijian kupasan, coklat & kembang gula, industri kayu gergajian dan awetan, konstruksi khusus, industri ban & barang lainnya dari karet, serta industri makanan & minuman lainnya. 7. Sektor dengan keterkaitan tidak langsung ke belakang adalah jasa kesehatan dan kegiatan social, asuransi dan dana pension, industri kilang minyak, lpg, barang kimia kecuali pupuk & pestisida, jasa keuangan lainnya, industri beras, konstruksi khusus, industri ban & barang lainnya dari karet, angkutan udara, industri pupuk dan pestisida, serta angkutan rel. 8. Dirumuskannya strategi pengoptimalan revolusi industri 4.0 dalam mendorong sektor informal dengan memanfaatkan stimulus dana dari pemerintah. 9. Dirumuskan strategi peningkatan output usaha di sektor berkembang dengan memanfaatkan keringanan pajak dan insentif keuangan pemerintah. 10. Dirumuskan strategi peningkatan output sektor tebu, beberapa sektor pertanian serta industri pupuk dengan memanfaatkan revolusi teknologi informasi dan komunikasi 16 serta stimulus dana dari pemerintah pusat untuk mendorong sektor lain agar mempunyai output yang lebih dengan pengaruh keterkaitan ke depan 11. Dirumuskan strategi peningkatan output sektor industri beras, tepung-tepungan dan asuransi serta dana pensiun dengan memanfaatkan revolusi teknologi informasi dan komunikasi serta stimulus dana dari pemerintah pusat untuk menarik sektor lain agar mempunyai output yang lebih dengan pengaruh keterkaitan ke belakang. 12. Dirumuskan strategi peningkatan pertumbuhan sektor lamban potensial dengan memanfaatkan bantuan finansial pemerintah serta teknologi informasi. 13. Dirumuskan strategi pemanfaatan sektor unggulan dan pertumbuhan positif selama masa pandemi untuk pemenuhan permintaan domestik secara optimal. 14. Dirumuskan strategi peningkatan penyediaan layanan teknologi informasi dalam mendukung sektor pendidikan dan kesehatan selama pemberlakuan pembatasan kegiatan. 15. Dirumuskan strategi realokasi sumber daya dari sektor terbelakang dan sektor terdampak Covid-19 untuk mendorong sektor lain yang mendukung ekonomi 5.2 Lesson Learned 1. Pandemi covid-19 sangat memukul keras kondisi perekonomian suatu daerah terutama Provinsi DIY. Dimana pada triwulan I dan II tahun 2020, kondisi perekonomiannya secara progresif menurun. Hal tersebut diakibatkan adanya pembatasan dan interaksi antar daerah yang diputus sehingga pemasaran hasil produksi sangat terbatas. 2. Dalam mencari sektor unggulan pada suatu daerah, perhitungan menggunakan analisis LQ dapat menggambarkan secara pandangan sekunder tanpa melihat kondisi fisik/nyata di lapangan. 3. Melakukan analisis untuk mencari keterkaitan antar sektor sangat perlu untuk dilakukan karena pada kondisi yang sebenarnya, antar sektor pasti dipengaruhi oleh sektor yang lain entah itu keterkaitan ke depan atau keterkaitan ke belakang. Dari mengetahui keterkaitan tersebut dapat dikembangkan sektor mana saja yang mungkin bisa dioptimalkan, sebagai penguat alasan selain sektor tersebut unggulan maupun memiliki pertumbuhan yang baik ataupun memiliki kondisi yang masih positif dengan adanya pandemi covid-19. 4. Analisis SWOT juga menentukan sektor-sektor mana saja yang paling mungkin untuk dikembangkan dalam kondisi yang tidak biasa (pandemi covid-19). Dengan penurunan pertumbuhan ekonomi yang sangat berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat, perlu dirumuskan strategi yang baik untuk mengoptimalkan sektor unggulan, sektor yang prograsif, maupun sektor yang memiliki kondisi yang masih positif dalam pandemi covid-19. Hal tersebut bertujuan untuk menemukan kebijakan yang baik yang seharusnya diterapkan oleh pemerintah daerah untuk menyelamatkan ekonomi di tengah-tengah pandemi. 17 DAFTAR PUSTAKA Bappeda DIY. (2012). Analisis Tabel Input Output Tahun Dasar 2010 DIY. BPS. (2020a). Analisis Produk Domestik Regional Bruto Daerah Istimewa Yogyakarta 20152019. Badan Pusat Statistik Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. BPS. (2020b). Pendapatan Nasional Indonesia 2015-2019. Badan Pusat Statistik. https://www.bps.go.id/publication/2020/06/12/7fe8d749c43bad46b1601662/pendapatannasional-indonesia-2015-2019.html El Zowalaty, M. E., & JΓ€rhult, J. D. (2020). From SARS to COVID-19: A previously unknown SARS- related coronavirus (SARS-CoV-2) of pandemic potential infecting humans – Call for a One Health approach. One Health, 9(February), 100124. https://doi.org/10.1016/j.onehlt.2020.100124 Fernandes, N. (2020). Economic Effects of Coronavirus Outbreak (COVID-19) on the World Economy. SSRN Electronic Journal. https://doi.org/10.2139/ssrn.3557504 Flammang, R. A. (1979). Economic Growth and Economic Development: Counterparts or Competitors? Economic Development and Cultural Change, 28(1), 47–61. https://doi.org/10.1086/451152 Gates, B. (2020). Responding to Covid-19 β€” A Once-in-a-Century Pandemic? New England Journal of Medicine, 382(18), 1677–1679. https://doi.org/10.1056/NEJMp2003762 Glasson, J., & Marshall, T. (2007). Regional Planning. Routledge. https://doi.org/10.4324/9780203938935 Helms, M. M., & Nixon, J. (2010). Exploring SWOT analysis – where are we now?: A review of academic research from the last decade. Journal of Strategy and Management, 3(3), 215–251. https://doi.org/10.1108/17554251011064837 McKibbin, W. J., & Fernando, R. (2020). The Global Macroeconomic Impacts of COVID19: Seven Scenarios. SSRN Electronic Journal. https://doi.org/10.2139/ssrn.3547729 Miller, R. E., & Blair, P. D. (2009). Input-output analysis: foundations and extensions. Cambridge university press. Sjafrizal. (2008). Ekonomi Regional: Teori dan Aplikasi. Baduose Media. Usya, N. (2006). Analisis struktur ekonomi dan identifikasi sektor unggulan di kabupaten subang [Skripsi]. Institut Pertanian Bogor. Yamali, F. R., & Putri, R. N. (2020). Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Ekonomi Indonesia. Ekonomis: Journal of Economics and Business, 4(2), 384–388. https://doi.org/10.33087/ekonomis.v4i2.17 18 LAMPIRAN Laju Pertumbuhan Ekonomi Sektoral DIY Triwulanan I dan II 2020 (y-on-y) Triwulan I 2020 Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Tanpa Covid (1) Saat ini Triwulan II 2020 Dampak covid (2) Tanpa Covid (1) Saat ini Dampak Covid (2) 3,93 -8,92 -12,85 4,44 10,06 5,62 10,62 -6,91 -17,53 -4,55 -11,73 -7,18 Industri Pengolahan 5,86 -1,47 -7,33 -1,17 -7,50 -6,33 Pengadaan Listrik, Gas 3,96 7,26 3,31 0,06 -4,74 -4,80 Pengadaan Air 3,44 -1,84 -5,28 5,93 3,16 -2,77 Pertambangan dan Penggalian Konstruksi 13,85 -9,75 -23,59 -1,63 -22,18 -20,54 Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil 5,35 -0,05 -5,40 -2,08 -9,43 -7,35 Transportasi dan Pergudangan 5,35 -3,23 -8,58 -16,11 -34,30 -18,19 Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 6,82 -1,28 -8,10 -15,92 -39,34 -23,42 Informasi dan Komunikasi 6,67 11,24 4,58 14,04 20,74 6,71 Jasa Keuangan 9,74 -2,03 -11,77 4,04 0,25 -3,79 Real Estate 5,68 4,31 -1,37 3,89 2,75 -1,14 Jasa Perusahaan 4,32 -7,48 -11,80 -10,55 -27,48 -16,93 Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial 3,46 2,24 -1,21 6,90 5,02 -1,88 Jasa Pendidikan 5,78 5,99 0,21 5,64 5,13 -0,51 Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 6,37 9,55 3,18 12,51 17,91 5,40 Jasa lainnya 6,37 -2,18 -8,55 -18,46 -42,75 -24,29 TOTAL 6,46 -0,17 -6,63 0,02 -6,74 -6,75 Keterangan: Sumber: BPS DIY 2015 – 2019 (Diolah) 1) Rata-rata pertumbuhan triwulanan I/II 2018 dan 2019 (y-on-y) 2) Selisih pertumbuhan triwulanan I/II 2020 dengan rata-rata pertumbuhan triwulan I/II 2018 dan 2019 19 Laju Pertumbuhan Ekonomi Pengeluaran DIY Triwulanan I dan II 2020 (y-on-y) Triwulan I 2020 Komponen Pengeluaran Tanpa Covid (1) Saat ini Triwulan II 2020 Dampak covid (2) Tanpa Covid (1) Saat ini Dampak Covid (2) PKRT 4,60 2,54 -2,06 4,54 -5,62 -10,16 PKLNPRT 7,96 -8,80 -16,76 7,58 -15,71 -23,29 PKP 3,19 1,33 -1,86 4,68 -0,83 -5,51 11,37 -7,23 -18,60 12,16 -19,26 -31,42 Perubahan Inventori 2,04 0,54 -1,51 2,19 7,97 5,78 Ekspor LN 6,96 5,25 -1,72 7,25 -34,24 -41,49 Impor LN 2,50 2,01 -0.49 0,43 -5,67 -6,10 Net Ekspor Antardaerah 3,07 -17,93 -21,00 14,60 -66,21 -80,81 PDRB 6,46 -0,17 --6,63 6,35 -6,74 -13,08 PMTB Keterangan: Sumber: BPS DIY 2015 – 2019 (Diolah) 1) Rata-rata pertumbuhan triwulanan I/II 2018 dan 2019 (y-on-y) 2) Selisih pertumbuhan triwulanan I/II 2020 dengan rata-rata pertumbuhan triwulan I/II 2018 dan 2019 20 Perhitungan Proses Analisis LQ (𝑃𝑖𝑅 /𝑃𝑅 ) dan (𝑃𝑖𝑁 /𝑃𝑁 ) Triwulan-I π‘·π‘Ήπ’Š /𝑷𝑹 Triwulan-II Triwulan-I 𝑡 𝑷𝑡 π’Š /𝑷 Triwulan-II Triwulan-III Triwulan-III Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 0,0933 0,0900 Pertambangan dan Penggalian 0,0050 0,0050 0,0895 0,1234 0,1501 0,1442 0,0049 0,0768 0,0774 0,0749 Industri Pengolahan 0,1262 0,1274 0,1218 0,2167 0,2121 0,2124 Pengadaan Listrik, Gas 0,0017 0,0016 0,0016 0,0106 0,0102 0,0105 Pengadaan Air 0,0009 0,0011 0,0010 0,0009 0,0009 0,0009 Konstruksi 0,0906 0,0897 0,0956 0,1046 0,1014 0,1021 Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil 0,0812 0,0827 0,0818 0,1362 0,1329 0,1337 Transportasi dan Pergudangan 0,0491 0,0372 0,0419 0,0428 0,0317 0,0376 Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 0,0936 0,0627 0,0828 0,0317 0,0257 0,0281 Informasi dan Komunikasi 0,1211 0,1450 0,1364 0,0596 0,0645 0,0633 Jasa Keuangan 0,0378 0,0390 0,0359 0,0462 0,0433 0,0423 Real Estate 0,0751 0,0793 0,0773 0,0309 0,0323 0,0310 Jasa Perusahaan 0,0105 0,0091 0,0107 0,0200 0,0180 0,0185 Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial 0,0664 0,0811 0,0702 0,0346 0,0353 0,0341 Jasa Pendidikan 0,0917 0,0982 0,0943 0,0321 0,0334 0,0336 Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 0,0290 0,0339 0,0327 0,0130 0,0130 0,0141 Jasa lainnya 0,0268 0,0169 0,0217 0,0200 0,0178 0,0188 Lapangan Usaha Sumber: Analisa Penulis, 2021 21 Perhitungan Proses Analisis Shift – Share Lapangan Usaha PDRB PDB Ra Ri ri (Ri-Ra) (ri-Ri) 378700 0,0039766 0,174 -0,02226 0,170 -0,196 200800 196600 0,0039766 -0,021 0,006269 -0,025 0,027 3.158 566700 557800 0,0039766 -0,016 -0,01602 -0,020 0,000 43 40 27700 27700 0,0039766 0,000 -0,05268 -0,004 -0,053 23 27 2300 2400 0,0039766 0,043 0,164963 0,040 0,121 Konstruksi 2.304 2.478 273600 268000 0,0039766 -0,020 0,07584 -0,024 0,096 Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil 2.065 2.120 356100 351000 0,0039766 -0,014 0,026775 -0,018 0,041 Transportasi dan Pergudangan 1.248 1.087 112000 98600 0,0039766 -0,120 -0,12879 -0,124 -0,009 Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 2.380 2.146 82800 73800 0,0039766 -0,109 -0,09847 -0,113 0,010 Informasi dan Komunikasi 3.078 3.535 156000 166300 0,0039766 0,066 0,148484 0,062 0,082 961 930 120700 111100 0,0039766 -0,080 -0,03284 -0,084 0,047 1.908 2.004 80800 81400 0,0039766 0,007 0,05024 0,003 0,043 266 278 52400 48500 0,0039766 -0,074 0,046353 -0,078 0,121 Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial 1.688 1.821 90500 89500 0,0039766 -0,011 0,07901 -0,015 0,090 Jasa Pendidikan Triwulan-I Triwulan-III Triwulan-I Triwulan-III 2.373 2.320 322600 126 127 3.209 Pengadaan Listrik, Gas Pengadaan Air Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Jasa Keuangan Real Estate Jasa Perusahaan 2.331 2.444 84000 88100 0,0039766 0,049 0,048627 0,045 0,000 Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 738 847 33900 36900 0,0039766 0,088 0,147488 0,085 0,059 Jasa lainnya 681 564 52400 49300 0,0039766 -0,059 -0,17262 -0,063 -0,113 Sumber: Analisa Penulis, 2021 22

Judul: Strategi Pengembangan Ekonomi Daerah Istimewa Yogyakarta Dalam Menghadapi Pandemi Covid- 19

Oleh: Aden Muflih


Ikuti kami