Asuhan Keperawatan Lansia Dengan Bph Oleh Winda Christiana Br Regar

Oleh Lilik Pranata

455,5 KB 7 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Asuhan Keperawatan Lansia Dengan Bph Oleh Winda Christiana Br Regar

ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK Oleh: Asuhan keperawatan lansia dengan BPH DISUSUN OLEH : Winda Christiana Br. Regar ( 1733056) Dosen pembimbing: Ns. Lilik Pranata, M.Kes PRODI ILMU KEPERAWATAN DAN NERS FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS KATOLIK MUSI CHARITAS 2020 KONSEP MEDIK Kelenjer prosfat terletak tepat di bawah leher kandung kemih, kelenjer ini akan mengelilingi uretra dan di potong melintsn oleh duktus ejakulatorius yang merupakan kelanjutan dari vas deferen, fungsi postat adalah untuk menambahkan cairan alkanis pada cairan seminaris yang berguna untuk melindungi spermatozoa terhadap sifat asam yang terapat pada uretra dan vagina (Andra, 2017, p. 96). Benigna prostate hyperplansia( BPH ) merupakan kondisi patologis yang paling umum pada lansia dan penyebab keduanya itu paling sering untuk intervensi medis pada pria yang berusia 60 tahun untuk secara pastinya penyebab benigna prostate hyperplansia belum diketahui akan tetapi beberapa hipotesis yang menyebutkan bahwa hyperplansia prostate erat kaitannya dengan peningkatan kadar dihidrostoteron ( DHT ) dan proses menjadi tua ( aging ) yaitu pembesaran prostat, peningkatan usia akan membuat keseimbangan rasio antara estrogen dan testrosteron, meningkatnya masa hidup sel-sel prostate dimana untuk mempertahankan homeostasis kelenje prostate. Gangguan ini terjadi setelah usia pertengahan akibat perubahan hormonal dimana pada bagian postat akan membesar dengan terbentuknya adenoma yang tersebar dan pembesaran adenoma ini akan menekan jaringan postat yang normal ke kapsula sejati yang menghasilkan kapsula bedah dimana ini untuk menahan perluasan dan adenoma akan cenderung tumbuh ke dalam menuju lumennya yang akan membatasi pengeluaran urin sehingga akhirnya di perlukan destrusor berespon hipertropi yang akan menghasilkan trabekulasi di dalam kandung kemih (Mitchel, 2020, p. 20) . Pembesaran prostate yang menyebabkan penyempitan lumen uretra prostatika dan menghambat aliran urine dimana keadaan ini akan menyebabkan peningkatan tekanan intravesikal untuk mengeluarkan urine dan buli-buli harus berkontraksi lebih kuat gula untuk melawan tahanan itu, tanda dan gejala yang tampak pada pasien ini dengan BPH ialah retensi urin, kurangnya atau lemahnya pancarab kencing, miksi yang tidak puas,frekuensi kencing akan bertambah terutama malam hari, pada malam hari miksi harus mengejan, terasa panas, nyeri sewaktu miksi, berat badan menurun, anemia dan pasien sama sekali tidak dapat berkemih sehingga dikeluarkan dengan kateter karena urin selalu terisi dalam kandung kemih dan selaputnya akan merusak ginjal. Komplikasi yang dapat terjadinya yaitu retensi kronik yang dapat menyebabkan refluks vesiko ureter, gagal ginjal, hernia, hematuria dan karena selalu terdapat sisa urin sehingga menyebabkan terbentuknya batu(Andra, 2017, pp. 99–102). KONSEP KEPERAWATAN (TEORI) A. Pengkajian Keperawatan Pengkajian keperawatan merupakan proses pengumpulan data untuk mengidentifikasi masalah keperawatan dengan melakukan observasi, wawancara meliputi (Sunaryo, 2015, p. 35) : 1. Data biografi meliputi : a. Identitas pasien yaitu nama pasien, umur, jenis kelamin, agama, suku atau bangsa, status perkawainan, pendidikan, pekerjaan, alamat, tanggal pengkajian dan catat kedatangan pasien. b. Keluarga terdekat yang dapat di hubungin yaitu nama, umurr, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, alamat dan sumber informasi beserta nomor telepon. 2. Riwayat kesehatan atau perawatan a. Keluhan utama atau alasan masuk rumah sakit, biasanya dengan keluhan nyeri pada saat miksi, pasien juga mengeluh sering BAK berulang, terbangun untuk miksi. b. Riwayat kesehatan sekarang, biasanya pasien mengeluh tidak dapat melakukan hubungan seksual, pasien mengatakan saat baung air kecil tidak terasa. c. Riwayat kesehatan dahulu, tanyakan apakah pasien pernah menderita BPH dan pernah di rawat di rumah sakit. d. Riwayat kesehatan keluarga, mungkin di antara keluarga pasien sebelumnya ada yang menderita penyakit yang sama dengan pasien. 3. Pola fungsi kesehatan meliputi, pola presepsi dam pemeliharaan kesehatan, pola nutrisi metabolisme, pola eliminasi, pola aktivitas dan tidur, pola kognitif dan presepsi, persepsi diri dan konsep diri, pola peran hubungan. 4. Pemeriksaan fisik meliputi inspeksi keadaan umum pasien yang mengalami tandatanda penurunan mental seperti neuropati perifer dan pada saat palpasi adanya pada kandung kemih. - Data dasar pengkajian pasien : 1) Sirkulasi Pada kasus BPH sering dijumpai adanya gangguan sirkulasi; pada kasus preoperasi dapat dijumpai adanya peningkatan tekanan darah yang disebabkan olehkarena efek pembesaran ginjal. Penurunan tekanan darah; peningkatan nadi seringdijumpai pada. kasus postoperasi BPH yang terjadi karena kekurangan volumecairan. 2) Integritas Ego Pasien dengan kasus penyakit BPH seringkali terganggu integritas egonyakarena memikirkan bagaimana akan menghadapi pengobatan yang dapat dilihat daritanda-tanda seperti kegelisahan, kacau mental, perubahan perilaku. 3) Eliminasi Gangguan eliminasi merupakan gejala utama yang seringkali dialami oleh pasien dengan preoperasi, perlu dikaji keragu-raguan dalam memulai aliran urin,aliran urin berkurang, pengosongan kandung kemih inkomplit, frekuensi berkemih,nokturia, disuria dan hematuria. Sedangkan pada postoperasi BPH yang terjadikarena tindakan invasif serta prosedur pembedahan sehingga perlu adanya obervasidrainase kateter untuk mengetahui adanya perdarahan dengan mengevaluasi warnaurin. Evaluasi warna urin, contoh : merah terang dengan bekuan darah, perdarahandengan tidak ada bekuan, peningkatan viskositas, warna keruh, gelap dengan bekuan. Selain terjadi gangguan eliminasi urin, juga ada kemugkinan terjadinyakonstipasi. Pada preoperasi BPH hal tersebut terjadi karena protrusi prostat ke dalamrektum, sedangkan pada postoperasi BPH, karena perubahan pola makan danmakanan. 4) Makanan dan cairan Terganggunya sistem pemasukan makan dan cairan yaitu karena efek penekanan/nyeri pada abomen (pada preoperasi), maupun efek dari anastesi pada postoperasi BPH, sehingga terjadi gejala: anoreksia, mual, muntah, penurunan berat badan, tindakan yang perlu dikaji adalah awasi masukan dan pengeluaran baik cairanmaupun nutrisinya. 5) Nyeri dan kenyamanan Menurut hierarki Maslow, kebutuhan rasa nyaman adalah kebutuhan dasar yangutama. Karena menghindari nyeri merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi. Pada pasien postoperasi biasanya ditemukan adanya nyeri suprapubik, pinggul tajam dankuat, nyeri punggung bawah. 6) Keselamatan/ keamanan Pada kasus operasi terutama pada kasus penyakit BPH faktor keselamatan tidakluput dari pengkajian perawat karena hal ini sangat penting untuk menghindarisegala jenis tuntutan akibat kelalaian paramedik, tindakan yang perlu dilakukanadalah kaji adanya tanda-tanda infeksi saluran perkemihan seperti adanya demam(pada preoperasi), sedang pada postoperasi perlu adanya inspeksi balutan dan jugaadanya tanda-tanda infeksi baik pada luka bedah maupun pada saluran perkemihannya. 7) Seksualitas Pada pasien BPH baik preoperasi maupun postoperasi terkadang mengalamimasalah tentang seksualnya, inkontinensia/menetes takut efek kondisi/terapi selama pada kemampuan hubungan intim, penurunan kekuatan kontraksi saatejakulasi, dan pembesaran atau nyeri tekan pada prostat. 8) Laboratorium Pemeriksaan laboratorium diperlukan pada pasien preoperasi maupun postoperasi BPH. Pada preoperasi perlu dikaji, antara lain urin analisa, kultur urin,urologi., urin, BUN/kreatinin, asam fosfat serum, SDP/sel darah putih. Sedangkan pada postoperasinya perlu dikaji kadar hemoglobin dan hematokrit karena imbasdari perdarahan. Dan kadar leukosit untuk mengetahui ada tidaknya infeksi. B. Diagnosis Keperawatan Diagnosis keperawatan adalah suatu kesimpulan mengenai hasil dari analisa data yang diambil dari penilaian pada klinik mengenai respon setiap individu, keluarga dan komunitas mengenai masalah kesehatan yang sedang di alami dengan proses kehidupan klien yang aktual atau potensial. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien dengan kasus Benign Prostatic Hyperplasia (BPH )adalah sebagai berikut (Muhith, 2016, p. 151) : 1. Nyeri akut b/d spasmus kandung kemih dan insisi sekunder pada TUR. 2. Resiko infeksi b/d prosedur inovasif pembedahan. C. Intervensi Keperawatan 1. Nyeri akut b/d spasmus kandung kemih dan insisi sekunder pada TURP Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam rasa nyeri berkurang atau hilang, dengan kriteria hasil : a. Klien mengatakan nyeri berkurang atau hilang b. Ekspresi wajah klien tenang c. Tanda-tanda vital dalam batas normal Intervensi : a. Kaji skala nyeri b. Jelaskan pada klien tentang gejala dini spasmus kandung kemih. c. Pemantauan klien pada interval yang teratur selama 48 jam, untuk mengenal gejala-gejala dini dari spasmus kandung kemih. Rasional : a. Mengetahui skala nyeri. b. klien dapat mendeteksi gejala dini spasmus kandung kemih. 2. Resiko infeksi b/d prosedur inovasif pembedahan. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam tidak terjadi adanya tanda-tanda infeksi, dengan kriteria hasil: a. Klien tidak mengalami infeksi. b. Dapat mencapai waktu penyembuhan. c. Tanda-tanda vital dalam batas normal dan tidak ada tanda-tanda shock. Intervensi : a. Monitor tanda dan gejala infeksi . b. Ajarkan intake cairan yang cukup sehingga dapat menurunkan potensial infeksi. c. Kolaborasi dengan dokter untuk memberikan antibiotik . Rasional : a. Memberikan informasi untuk mengetahuia tanda dan gejala infeksi. b. Meningkatkan output urine sehingga resiko terjadi isk dikurangi dan mempertahankan fungsi ginjal . c. Mencegah terjadinya infeksi. D. Implementasi Keperawatan Implementasi keperawatan merupakan suatu pelaksanaan tindakan keperawatan terhadap klien yang didasarkan pada rencana keperawatan yang telah disusun dengan baik untuk mencapai tujuan yang diinginkan meliputi peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pemilihan kesehatan, dan memfasilitasi koping. Implementasi keperawatan akan dapat dilaksanakan dengan baik apabila klien mempunyai keinginan untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan asuhan keperawatan. Selama tahap implementasi keperawatan, perawat terus melakukan pengumpulan data yang lengkap dan memilih asuahan keperawatan yang paling sesuai dengan kebutuhan klien (Nuari, 2017, p. 109). E. Evaluasi Keperawatan Evaluasi keperawatan adalah tahap yang menentukan apakah tujuan yang telah disusun dan direncanakan tercapai atau tidak. Evaluasi didasarkan pada bagaimana efektifnya intervensi-intervensi yang dilakukan oleh keluarga, perawat dan yang lainnya. Ada beberapa metode evaluasi yang dipakai dalam perawatan. Faktor yang paling utama dan penting adalah bahwa metode tersebut harus disesuaikan dengan tujuan dan intervensi yang sedang di evaluasi (S. Maryam, 2008, p. 79). FORMAT PENGKAJIAN GERONTIK I. IDENTITAS Nama : TN. E Jenis kelamin : Laki- laki Umur : 70 tahun Suku : Melayu Alamat : Sukajadi Agama : Islam Pendidikan : SD Status Perkawinan : Menikah Tanggal Pengkajian : 28-09-2020 Pengkaji : Winda Christiana II. RIWAYAT KESEHATAN  Keluhan kesehatan utama saat ini : Pasien mengeluh nyeri pada luka operasi pada perut bagian bawah dan nyeri saat BAK, nyerinya seperti tertusuk-tusuk dengan skala 6 dan nyerinya terasa terus menerus.  Riwayat kesehatan masa lalu : Pasien mengatakan sudah 1 minggu mengeluh nyeri pada saat BAK, pada tanggal 10-12-2017 pasien di bawa oleh keluarga ke RS Mohammad Hoesin di UGD didiagnosa BPH dan harus di lakukan operasi dan pada tanggal 12-07-2017 di lakukan operasi oleh dokter.  Riwayat kesehatan keluarga : Keluarga pasien sebelumnya tidak ada yang menderita penyakit yang sama dengan penyakit pasien sekarang. III. AKTIVITAS/LATIHAN :  Sebelum sakit : Pasien mengatakan saat melakukan aktivitas sehari-hari dapat di lakukan dengan mandiri seperti makan, minum, mandi, berpakaian dan ke toilet.  Selama sakit : Pasien mengatakan saat melakukan aktivitas pasien di bantu oleh keluarganya seperti makan, berpakaian, mobilitas dan ROM , pasien tidak dapat melakukan aktivitas secara mandiri. IV. NUTRISI :  Sebelum sakit : Pasien mengatakan bahwa biasanya makan 3x dalam sehari yaitu pagi, siang dan malam dengan menu yang bervariasi dan untuk minumnya pasien 1-2 liter perharinya.  Selama sakit : selama masuk rumah sakit pasien mengatakan makan 3xkali sehari dengan makanan yang seadanya di sediakan dan menghabiskan 4-5 sendok makan karena pasien tidak nafsu makan dan pasien minum hanya 800 ml perharinya. V. ELIMINASI :  Sebelum sakit Pasien mengatakan biasanya pasien BAB 1-2x/hari dan BAK 10-15x/hari dengan keluhan urin keluar sedikit-sedikit.  Selama sakit : Pasien mengatakan ragu-ragu untuk berkemih awal, ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung kemih dengan lengkap dorongan dan frekuensi berkemih, pasien BAB 1 kali setelah operasi pasien terpasang kateter triway no.22 dengan karakteristik warna kuning jernih, 500ml/hari dan kadang-kadang terasa nyeri saat BAK. VI. ISTIRAHAT/TIDUR :  Sebelum sakit Pasien biasanya tidur dengan waktu 6-8 jam.  Sesudah sakit Pasien mengatakan tidurnya 4-5 jam, pasien sulit tidur karena cemas dengan penyakit yang di derita. VII.PENGKAJIAN: Keadaan umum :  keadaan umum pasien lemah. Pengkajian fisik secara umum :  Tanda- tanda vital : - TD : 140/100 mmHg. -N : 76x/menit. -S : 36,8 oC. - RR : 18x/menit.  Pada pemeriksaan PQRST: - P : saat ditekan dan beraktivitas. - Q : seperti ditusuk jarum. - R : dibagian abdomen bawah (kandung kemih) luka operasi. - S : 5-6 - T : intermitten  Kepala : bentuk kepala, agak kotor, sedikit bau, rambut beruban dan tidak ada lesi.  Mata : isokor, reflek pupil simetris, konjungtiva tidak anemis.  Hidung dan telinga : hidung simetris, bersih dan tidak ada polip lalu telinga simetris, bersih dan tidak adanya kotoran di dalam telinga, reflek suara baik dan tidak berdengung.  Mulut dan tenggorokan : mukosa mulut kering.  Leher : simetris dan tidak ada pembesaran getah bening saat di raba.  Dada : bentuknya simetris dan tidak ada retraksi dinding dada.  Paru- paru : -Inspeksi : Bentuk simetris. -Palpasi : Taktil fremitus sama . -Perkusi : Sonor. -Auskultasi : Vesikuler.  Abdomen : - Inspeksi : Simetris, tidak ada lesi, terdapat luka inisisi bedah tanggal 12-12 2017 di abdomen inguinalisis kanan dengan karakteristik panjang luka 10 cm jumlah hecting 7 jahitan,luka bersih, tidak ada pus, tidak bengkak, tampak warna kemerahan, tidak ada edema dan terpasang drain dengan poduksi 50 cc warna merah muda. - Palpasi :Adanya nyeri tekan di sekitar luka post operatif di abdomen inguinalis kanan, skala nyeri sedang ( 6), teraba hangat di daerah sekitar luka. - Perkusi : Timpani . - Auskultasi : Bising usus 10 x/menit.  Genetalia : Pasien terpasang kateter. VIII. PSIKOSOSIAL DAN SPIRITUAL : Pasien mampu berinteraksi dengan baik dengan anggota keluarganya karena pasien satu rumah dengan anak-anaknya dan cucungnya, pasien berinteraksi dengan masyarakat di sekitar rumahnya sebelum sakit pasien sering untuk berkumpul bersama orang di sekitar nya, dalam hal spritual pasien rutin melakukan ibadah walaupun hanya membaca doa. IX. PENGKAJIAN FUNGSIONAL KLIEN : 1. Tabel Barthel Indeks No Aktifitas 1. Dengan Tanpa Skor bantuan bantuan 5 (√) 10 5 5-10 (√) 15 10 0(√) 5 5 (√) 10 5 0 (√) 5 0 0 (√ ) 5 5 (√) 10 5 5(√) 10 10 5 (√ ) 10 Makan (jika makan harus dipotong terlebih dahulu berati memerlukan bantuan). Bergerak dari kursi roda ketempat tidur dan 2. kembali (termasuk duduk tegak ditempat tidur) 3. Personal toilet (mencuci muka, menyisir rambut, bercukur, membersihkan gigi) 5 Duduk dan berdiri dari toilet (cara 4. memegang pakaian, menggelap, menyiram WC 5. 6. 7. Mandi sendiri Berjalan dipermukaan yang berbeda (jika tidak bisa berjalan, penggunaan kursi roda) Naik turun tangga 0 Berpakaian (termasuk didalamnya mengikat 8. tali sepatu, mengencangkan dan mengendorkan) 9. Mengontrol BAB 5 10. Mengontrol BAK 5 (√) 10 5 Kesimpulan : Jadi pentotalan pengkajian fungsional pada pasien adalah 40 , setelah di lakukan pemeriksaan artinya pasien dalam kategori pasien ketergantungan berat. 3. DIAGNOSA KEPERAWATAN : No. 1. Diagnosa Keperawatan Nyeri akut b.d agen cedera fisik ( Prosedur operasi ) Data subjektif :  Pasien mengeluh nyeri pada luka operasi pada perut bagian bawah dan nyeri saat BAK.  Pasien mengatakan nyeri seperti tertusuk-tusuk.  Pasien mengatakan sulit tidur. Data objektif :  Pada pemeriksaan PQRS: - P : saat ditekan dan beraktivitas - Q : seperti ditusuk jarum - R : dibagian abdomen bawah (kandung kemih) luka operasi. - S : 5-6. - T : intermitten.  TTV : - TD : 160/100 mmHg. - N : 90 x/menit. Nama Jelas Winda Christiana - S : 37oC. - RR : 22x/menit. 2. Resiko infeksi ditandai dengan ketidakadekuatan pertahanan tubuh sekunder : supresi respon inflamasi. Winda Christiana Data yang ada pada pasien :  Nyeri pada luka operasi pada perut bagian bawah.  Tampak luka insisi post operasi 12-12-2017 abdomen inguinalisis kanan.  Karakteristik panjang luka 10 cm.  jumlah hecting 7 jahitan. 3. Intoleransi aktivitas b.d imobilitas Winda Christiana Data subjektif :  Pasien mengatakan tidak dapat beraktivitas secara mandiri. Data objektif :  Pasien tampak lemah.  Pasien terpasang kateter triway no.22 4. INTERVENSI KEPERAWATAN N Diagnosis o Keperawatan 1. Nyeri akut b.d Tujuan Setalah agen cedera fisik ( dilakukan Prosedur operasi ) tindakan Intervensi Manajemen Nyeri Observasi  Identifikasi lokasi, Rasional Nama  Mengetahui Winda skala nyeri.  Mengetahui Data subjektif :  Pasien mengeluh nyeri pada luka operasi pada perut bagian bawah dan nyeri saat BAK.  Pasien keperawatan karakteristik, keadaan 3x24 jam durasi,frekuensi,ku umum diharapkan alitas dan pasien. nyeri dapat intensitas nyeri. menurun dengan kriteria hasil : Tingkat nyeri  Identifikasi skala nyeri.  Identifikasi respon nyeri non verbal.  Monitor : 1. Keluhan keberhasilan terapi  Memberikan rasa nyamann bagi pasien.  Mengalihkan perhatian nyeri.  Memberi mengatakan nyeri komplementer nyerinya seperti menurun yang sudah di suasana tertusuk-tusuk. pada skala berikan. nyaman bagi  Pasien mengatakan sulit tidur. Data objektif :  Pada pemeriksaan PQRS: - P : saat ditekan dan beraktivitas. - Q : seperti ditusuk jarum. 5. 2. Pola tidur  Monitor efek samping - S : 5-6  Analgetik membaik penggunaan mengurangi pada skala anaglesik. rasa nyeri. 5. 3. Nafsu Teraupetik :  Berikan teknik makan nonfarmakologis membaik untuk mengurangi pada skala nyeri ( misalnnya 5. terapi musik, terapi pijat, aromaterapi,teknik imajinasi terbimbing, - R : dibagian abdomen bawah (kandung kemih) luka operasi. pasien. kompres hangat atau dingin, terapi bermain).  Kontrol lingkungan yang memberatkan nyeri -T: intermitten ( misalnya suhu ruangan,  Nafsu makan pencahayaan, kebisingan ). pasien  Fasilitas istirahat berubah. dan tidur.  TTV :  Pertimbangkan - TD : jenis dan sumber 160/100 nyeri dalam mmHg. pemilihan strategi meredakan nyeri. - N : 90 Edukasi : x/menit.  Jelaskan o - S : 37 C. penyebab, priode, dan pemicu nyeri. - RR : Kolaborasi : 22x/menit.  Kolaborasi pemberian analgetik, jika di perlukan. 2.  Mengetahui Resiko infeksi Setelah di Pencegahan infeksi ditandai dengan lakukan Observasi ketidakadekuatan intervensi pertahanan tubuh selama 3x24 dan gejala infeksi sekunder : supresi jam, tingkat lokal dan keadaan respon inflamasi. infeksi sistemik. umum. Data yang ada pada pasien :  Nyeri pada luka operasi pada perut membaik dengan kriteria hasil : Tingkat infeksi  Nyeri menurun  Monitor tanda Teraupetik : adanya tanda infeksi.  Mengetahui  Mencegah  Batasin jumlah adanya penunjung. infeksi.  Cuci tangan  Mengajarkan sebelum dan pasien untuk sesudah kontak mempertahan dengan pasien kan kondisi Winda bagian bawah.  Tampak luka insisi post pada skala dan lingkungan 5. pasien.  Kultur operasi 12-12 2017 abdomen inguinalisis area luka teknik aseptik membaik pada pasien pada skala beresiko tinggi. 5. kanan.  Pertahankan Edukasi :  Jelaskan tanda  Karakteristik dan gejala panjang luka infeksi. 10 cm. Kolaborasi  Kolaborasi  Jumlah pemberian hecting 7 balutan luka.  Mencegah terjadnya infeksi.  Mempercepa t penyembuha n luka.  Protein mempercepat proses penyembuha n luka. imunisasi, jika jahitan. di perlukan. 3. Intoleransi Setelah Terapi aktivitas aktivitas b.d dilakukan Observasi imobilitas tindakan 3x24 Data subjektif :  Pasien  Identifikasi jam defisit tingkat diharapkan aktivitas.  Mengetahui keadaan umum pasien  Mengetahui tingkat toleransi  Identifikasi mengatakan aktivitas strategi tidak dapat dengan kriteria meningkatkan beraktivitas hasil : partisipasi kenyamanan dalam aktivitas. pada pasien.  Monitor respon  Memberikan secara mandiri.  Kemudahan dalam ketergantung an pasien.  Memberikan melakukan emosional, kenyamanan aktivitas fisik, sosial dan pada pasien. sehari-hari spritual tampak meningkat terhadap kelemahan lemah. pada skala aktivitas. otot dan Data objektif :  Pasien  Pasien 5.  Perasaan Teraupetik  Fasilitasi fokus  Mencegah merangsang mobilisasi. winda  Memberikan terpasang lelah pada kateter menurun kemampuan, kenyamanan triway no.22 pada skala bukan defisit pada pasien. 5. yang di alami.  Memberikan  Fasilitasi terapi yang aktivitas fisik tepat untuk rutin ( misal pasien. ambulasi, mobilisasi dan perawatan diri).  Fasilitasi pasien dan keluarga dalam menyesuaikan lingkungan untuk mengakomoda si aktivitas yang dipilih.  Fasilitas motorik untuk merelaksasi otot. Edukasi :  Jelaskan metode aktivitas fisik sehari-hari, jika diperlukan.  Ajarkan cara melakukan aktivitas yang di pilih.  Anjurkan melakukan aktivitas fisik, sosial, spritual dan kognitif dalam menjaga fungsi dan kesehatan. Kolaborasi :  Kolaborasi dengan terapis okupasi dalam merencanakan dan memonitor program aktivitas, jika sesuai.  Rujuk pada pusat program aktivitas komunitas, jika di perlukan. 5. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN Hari/T Waktu No.DP Pelaksanaan Keperawatan anggal Senin/2 Jelas 07.30 wib D.0077  Mengkaji TTV : TD : 130/80, N : 78 x/m, RR: 17x/m, S : 36,6oC. 8-092020 Nama 08.00 wib  Mengidentifikasi lokasi, karakteristik, winda durasi,frekuensi,kualitas dan intensitas nyeri : - P : saat ditekan dan beraktivitas. - Q : nyerinya seperti ditusuk jarum - R : dibagian abdomen bawah (kandung kemih) luka operasi. - S : 4-5 ( nyeri sedang) - T : kadang-kadang.  Identifikasi skala nyeri : skala nyeri 4-5 08.30 wib ( sedang) .  Menjelaskan penyebab, priode, dan 09.00 wib pemicu nyeri.  Mertimbangkan jenis dan sumber nyeri 09.30 wib dalam pemilihan strategi meredakan nyeri. 10.00 wib  Mengontrol lingkungan yang memberatkan nyeri.  Memerikan teknik nonfarmakologis 10.30 wib untuk mengurangi nyeri dengan kompres hangat atau dingin.  Memonitor keberhasilan terapi 11.00 wib komplementer yang sudah di berikan : mengajarkan teknik relaksasi napas dalam dan pasien dapat mengikuti dengan baik. 12.00 wib  Memberikan analgesik untuk mengurangi rasa nyeri.  Memonitor efek samping penggunaan 13.00 wib anaglesik.  Memfasilitas istirahat dan tidur. 13.30 wib Senin / 08.00 wib D.0142 28-092020  Monitor tanda dan gejala infeksi lokal Winda dan sistemik .  Menjelaskan tanda dan gejala infeksi : 09.00 wib tidak ada tanda-tanda infeksi (rubor, dolor, kalor, tumor).  Mempertahankan teknik aseptik pada 10.00 wib pasien beresiko tinggi : memberikan penkes kepada pasien dalam menjaga kebersihan luka bekas operasi.  Membatasi jumlah pengunjung. 11.00 wib Senin 09.00 wib /28-092020 D.0056  Mengidentifikasi defisit tingkat aktivitas pada pasien : sebagian aktifitas 09.30 wib pasien sudah dapat dilakukan sendiri.  Mengidentifikasi strategi meningkatkan 10.00 wib partisipasi dalam aktivitas.  Memonitor respon emosional, fisik, sosial dan spritual terhadap aktivitas. 10.30 wib  Memfasilitasi fokus pada kemampuan, bukan defisit yang di alami. 11.00 wib  Memfasilitasi aktivitas fisik rutin dengan mobilisasi. 11.30 wib  Memfasilitasi pasien dan keluarga dalam menyesuaikan lingkungan untuk mengakomodasi aktivitas yang dipilih. 12.00 wib  Menjelaskan metode aktivitas fisik sehari-hari. 13.00 wib  Mengajarkan cara melakukan aktivitas yang di pilih : latihan fisik aktif dan pasif. Winda 6. EVALUASI KEPERAWATAN Hari/Tanggal Waktu No.DP Evaluasi Keperawatan Nama Jelas S : Pasien mengatakan nyerinya sedikit berkurang. Senin/28-09- 14.00 2020 wib O : Pasien tampak lebih tenang. D.0077 A : Masalah teratasi sebagian. Winda P : Intervensi 1, 2 dan 3 dilanjutkan. S: Pasien mengatakan tidak ada rasa gatal, panas, dan sakit. Senin/28-09- 12.00 2020 wib O : Pasien tampak adanya tanda-tanda D.0142 infeksi dan pasien terlihat sedikit Winda tenang. A : Masalahnya masih ada resiko. P : Intervensi 1 dan 3 dilanjutkan. S : Pasien mengatakan sebagian aktifitas sudah bisa dilakukan sendiri. Senin / 28-09- 14.00 2020 wib D.0056 O : Pasien tampak lebih bersemangat dalam melakukan aktifitas. A : Masalah teratasi sebagian . P : Intervensi 1 dan 2 dilanjutkan. winda DAFTAR PUSTAKA Andra, S. W. (2017) KMB 1 KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH. Yogyakarta: Nuha Medika. Mitchel, L. (2020) Benign Prostatic Hyperplansia : Clinical Urology. singapore: HAYLE MEDICAL. Muhith, A. (2016) Pendidikan Keperawatan gerontik. Yogyakarta: ANDI.t Sunaryo (2015) Asuhan Keperawatan gerontik. Yogyakarta: ANDI.

Judul: Asuhan Keperawatan Lansia Dengan Bph Oleh Winda Christiana Br Regar

Oleh: Lilik Pranata


Ikuti kami