Jurnal Ekonomi Moneter, Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kebijakan Suku Bunga Sbi

Oleh Ayu Andini

579,1 KB 8 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Jurnal Ekonomi Moneter, Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kebijakan Suku Bunga Sbi

FAKTOR – FAKTOR KEBIJAKAN PENERAPAN TINGKAT SUKU BUNGA SERTIFIKAT BANK INDONESIA (SBI) AYU ANDINI Mahasiswi jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Email: ayuandini.uinjkt@yahoo.co.id Pembimbing: Tony S. Chendrawan, ST., SE., M.Si Abstrak The aims of this study is to analyze the effect of macro-economic variables (money supply, inflation rate, and interest rate) to the 9 month Bank Indonesia Certificates (SBI) interest rate periode august 2010 – may 2013. In this reserach the writer use secondary data that are quantitative. Data obtained from the ministry of trade and the official website of Bank Indonesia. Data are analyzed using multiplier linear regression. The result of this research indicates that BI Rate variable significantly influence the SBI interest rate, while other variables ( money supply, and inflation rate) have no significantly influence on SBI interest rate. Keywords: inflation rate, money supply, SBI I. PENDAHULUAN Kebijakan moneter adalah bagian terpenting dari kebijakan makro. Bagaimana pada umumnya dilakukan dengan mempertimbangkan situasi politik, ekonomi, sosial, dalam mengambil sebuah keputusan. Dalam pelaksanaannya, kebijakan moneter berbeda-beda dari strategi dilakukan suatu negara dengan negara lain, sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dan mekanisme transmisi yang diyakini berlaku pada perekonomian yang bersangkutan. Di indonesia sendiri pun, ada pelaksana yang mengatur kebijakan moneter tersebut yaitu Bank Indonesia. Salah satu tugas Bank Indonesia ialah menetapkan tingkat suku bunga yang merupakan instrumen kebijakan moneter dalam memberikan sinyal positif terhadap perekonomian. Fluktuasi yang terjadi pada tingkat suku bunga SBI sangat tergantung pada situasi sosial, politik dan ekonomi. Suku bunga SBI dinilai kalangan perbankan relatif tinggi, karena belum bisa menggerakkan kegiatan sektor ekonomi keseluruhan. Tingkat ditentukan mekanisme secara suku SBI pasar, sehingga BI tak dapat menentukan besarnya tingkat suku bunga. Oleh karena itu, pemulihan faktor-faktor nonekonomis menjadi penentu untuk menekan tingkat suku bunga. Pada saat ini banyak tuntutan dari para pelaku bisnis dan juga ahli ekonomi yang menuntut penguasa agar moneter BI selaku mempengaruhi suku bunga karena dengan turunnya SBI dapat meningkatkan dan mengembangkan sektor riil. Sejak awal Juli 2005, BI menggunakan mekanisme "BI rate" (suku bunga BI), yaitu BI mengumumkan target suku bunga SBI yang diinginkan pelelangan pada BI untuk masa periode tertentu. BI rate ini kemudian yang digunakan sebagai acuan para pelaku pasar dalam mengikuti pelelangan. Kenaikan suku bunga yang dilakukan oleh bank Sentral, maka akan direspon oleh para pelaku pasar dan para penanam modal untuk memanfaatkan moment tersebut guna meningkatkan produksi menanamkan investasinya. dan Seiring dengan itu, akan berdampak Apabila jumlah produksi berkurang, juga pada jumlah produksi yang maka akan melemahkan mata uang bertambah dan tenaga kerja yang tersebut. juga Kenaikan akan semakin bertambah. suku bunga Akibatnya ekspor bertambah dan sangatlah dikhawatirkan oleh para jumlah kreditur pengangguran menurun, dan tingkat penjualan sehingga devisa yang masuk ke perumahan yang semakin menurun negara tersebut semakin menguatkan karena membuat pajak pinjaman dollar terhadap mata uang lain. modal dan kredit perumahan semakin Demikian pula sebaliknya, bila saja meningkat, tanpa didukung dalam suku produksi kelancaran produksi dan bisnis yang karena menunjang, akan berimbas pada bunga industri menurun, akan berkurang produsen akan membatasi kerugian. II. macet. KERANGKA TEORITIS TINJAUAN DAN PUSTAKA maka nilai uang akan merosot dan ini 2.1. Inflasi Inflasi kredit menurut A.P. sama dengan kenaikan harga. Jadi keadaan menurut Klasik, inflasi berarti terlalu dimana terjadi kelebihan permintaan banyak uang beredar atau terlalu (Excess Demand) terhadap barang- banyak kredit dibandingkan dengan barang dalam perekonomian secara volume transaksi keseluruhan. adalah membatasi Lehnerinflasi adalah Menurut Teori klasik inflasi maka obatnya jumlah uang beredar dan kredit. merupakan tingkat harga terutama Menurut Teori ditentukan oleh jumlah uang beredar, Keynes diasumsikan bahwa yang perekonomian sudah berada pada dapat dijelaskan melalui hubungan antara nilai uang dengan tingkat full employment. Menurut jumlah uang, serta nilai uang dan Keynes harga. Bila jumlah uang bertambah berpengaruh lebih cepat dari pertambahan barang permintaan kuantitas uang terhadap total, karena tidak tingkat suatu perekonomian dapat mengalami Menurut golongan moneteris, inflasi inflasi walaupun tingkat kuantitas dapat uang tetap konstan. Jika uang beredar menahan dan bertambah kelebihan permintaan naik. maka harga akan Kenaikan harga ini akan menyebabkan bertambahnya diturunkan dengan cara menghilangkan melalui kebijakan moneter dan fiskal yang bersifat kontraktif, atau melalui permintaan uang untuk transaksi, kontrol terhadap peningkatan upah dengan demikian akan menaikkan serta penghapusan terhadap subsidi suku bunga. Hal ini akan mencegah atas nilai tukar valuta asing. pertambahan 2.2. BI Rate investasi permintaan dan akan untuk melunakkan tekanan inflasi. yangmencerminkan sikap atau stance Analisa Keynes mengenai inflasi BI Rate adalah suku bunga kebijakan permintaan kebijakan moneteryang ditetapkan dirumuskan oleh bank Indonesia dan berdasarkan konsep inflationary gap. diumumkankepada publik. Secara Menurut Keynes, inflasi permintaan operasional, stance yang benar-benar penting adalah moneter dicerminkan oleh penetapan yang ditimbulkan oleh pengeluran suku bunga kebijakan (BI Rate) yang pemerintah, terutama yang berkaitan diharapkan akan mempengaruhi suku dengan bunga pasar uang dan suku bunga peperangan, program investasi yang besar-besaran dalam deposito kapital sosial. perbankan. Perubahan suku bunga ini Menurut Teori Moneterisme in dan kebijakan suku bunga kredit pada akhirnya akan memengaruhi flasi disebabkan oleh kebijaksanaan output dan inflasi. moneter dan fiskal yang ekspansif, 2.3. Jumlah Uang Yang Beredar sehingga jumlah uang beredar di Menurut paham klasik, uang tidak masyarakat memiliki pengaruh terhadap sektor sangat berlebihan. Kelebihan uang beredar di riil, tidak ada pengaruhnya terhadap masyarakat akan menyebabkan tingkat bunga, kesempatan kerja atau terjadinya kelebihan permintaan barang dan jasa di sektor riil. pendapatan nasional. Pendapatan nasional ditentukan oleh jumlah dan kualitas tenaga kerja, jumlah yang Uang hanya merupakan suatu tudung dipakai saja dalam perekonomian. serta perubahan tehnologi. dari Tanpa faktor-faktor Menurut Teori kuantitas produksi maka pendapatan tidak Recardo kuat dan lemahnya nilai akan berubah. Teori ini sebenarnya uang sangat tergantung dari pada adalah teori mengenai permintaan jumlah uang yang beredar. Jika sekaligus uang jumlah uang berubah menjadi 2 kali beserta interaksi antara keduanya. lipat maka nilai uang akan menurun Fokus dari teori tersebut adalah pada setengah kali dari semula, sebaliknya hubungan antara penawaran uang jika jumlah uang kurang hingga (jumlah uang yang bereda) dengan setengah, maka nilai uang akan nilai uang(dengan tingkat harga). menjadi dua kali lipat. Hal itu terjadi, Hubungan antara kedua varianel karena tersebut dijabarkan lewat konsepsi menjadi 2 kali lipat maka akan (teori) mengenai permintaan akan berpengaruh terhadap harga yang uang. Perubahan akan jumlah uang naik menjadi dua kali lipat dan yang beredar berinteraksi dengan otomatis nilai akan menurun menjadi permintaan akan setengahnya. selanjutnya menentukan penawaran akan uang dan akan bila Menurut jumlah uang Teori naik preferensi permintaan nilai uang. liquiditas Keynes menyatakan Uang,pengaruhnya hanyalah terhada bahwa permintaan uang dalam arti p harga harga barang. Bertambahnya Md/P tergantung pada pendapatan Y uang beredar akan mengakibatkan (Output kenaikan harga saja. Jumlah output bunga i. Permintaan yang dihasilkan tidak berubah. Inilah berhubungan yang pendapatan karena dua alasan : disebut dengan classical dichotomy, merupakan pemisahan Agregat) dan uang positif 1. Kenaikan suku dengan pendapatan sector moneter dengan sector riil. meningkatkan Sektor dalam perekonomian, yang moneter tidak ada hubungannya dengan sector riil. selanjutnya transaksi meningkatkan permintaan atas uang karena pendapatan digunakan untuk melakukan transaksi- transaksi ini. pendapat meningkatkan permintaan karena berharga jangka diterbitkan oleh pendek Bank yang Indonesia kenaikan (www.bi.go.id). Dalam hal ini Bank meningkatkan Indonesia menggunakan mekanisme kekayaan individu yang ingin BIrate (suku bunga Bank Indonesia), memegang lebih banyak aset, yaitu Bank Indonesia mengumumkan salah satunya adalah uang. target pendapatan Biaya nilai yang harus dibayar oleh Bank Indonesia kepada investor atas surat 2. Kenaikan uang Tingkat Suku Bunga SBI adalah peluang memegang uang suku bunga SBI yang diinginkan Bank Indonesia untuk adalah suku bunga. Sejalan dengan pelelangan kenaikan suku bunga, biaya peluang tertentu. pada masa periode dari memegang uang meningkat, dan Menurut permintaan uang menurun. Menurut Manurung, teori preferensi liquiditas, permintaan Bank Indonesia adalah surat berharga uang berhubungan positif dengan atas unjuk dalam Rupiah yang output agregat dan berhubungan diterbitkan oleh negatif dengan suku bunga. sebagai pengakuan utang berjangka 2.4. Suku Bunga SBI waktu SBI merupakan salah satu mekanisme yang digunakan Bank Indonesia kestabilan untuk mengontrol nilai Rupiah. Dengan menjual SBI, Bank Indonesia dapat menyerap kelebihanuang primer yang beredar.Tingkat suku bunga yang berlaku pada setiap penjualan SBI ditentukan oleh mekanisme pasar berdasarkan sistem lelang. Adler Haymans (2003:19) “Sertifikat pendek Bank dengan Indonesia sistem dikonto”. 2.5. Kerangka Pemikiran Dalam kerangka pemikiran ini, penulis mengambil acuan pada teori Keynes. Teori penentuan tingkat suku bunga Keynes dikenal dengan teori liquidity prefence. Keynes mengatakan bahwa bunga adalah gejala moneter, bunga adalah pembayaran dengan menggunakan uang. Berdasarkan digunakan untuk mempengaruhi pendapat tersebut, ada pengaruh jumlah uang beredar di masyarakat uang terhadap sistem perekonomian yang seluruhnya. Dalam buku klasiknya mempengaruhi inflasi. Ketika Bank The Keynes Sentral ingin meredam laju inflasi, pandangannya maka bisa menaikkan tingkat bunga mengenai penentuan tingkat bunga SBI untuk menarik dana masyarakat dalam untuk General Theory, menjabarkan jangka pendek. Dalam pada akhirnya membeli SBI akan melalui teorinya ia mengemukakan bahwa mekanisme operasi pasar terbuka tingkat bunga menyesuaikan untuk (OPT). Dengan demikian jumlah menyeimbangkan dan uang beredar akan turun dan inflasi asset akan juga turun. (Primawan Wisda perekonomian yang paling likuid, Nugroho, Maruto Umar Basuki, yaitu 2012). permintaan penawaran untuk uang (Boediono, 1985; Mankiw, 2000; Mishkin, 2001). Bank Indonesia melakukan Variabel tingkat suku bunga SBI berpengaruh peningkatan suku bunga SBI yang Rate. bertujuan rate atau untuk mengendalikan BI positif Rate suku terhadap sebagai bunga BI policy kebijakan pertumbuhan uang beredar, yang memang lekat dengan tingkat suku kemudian untuk mengendalikan laju bunga inflasi. operasinya. Yang satu sebagai sinyal, Kemudian, setelah SBI sebagai mengalami peningkatan secara terus sementara menerus, akhirnya suku bunga SBI pelaksanaannya. Mekanisme mulai penggunaan BI rate dalam operasi mengalami Penurunan suku penurunan. bunga yang instrumen satu sebagai tersebut moneter adalah untuk mengarahkan dilakukan di tengah inflasi yang agar suku bunga Sertifikat Bank masih relatif tinggi. (Friska Sari Indonesia (SBI) bulan yang dilelang Ronadiba, 2004) di Operasi Pasar Terbuka (OPT) oleh Variabel tingkat suku bunga Bank Indonesia berada di sekitar BI SBI berpengaruh negatif terhadap rate. Dengan demikian diharapkan inflasi. satu instrumen yang bisa selanjutnya BI rate tersebut akan mempengaruhi suku bunga Pasar pula mengikuti jumlah uang beredar. Uang Antar Bank (PUAB), suku Meningkatnya tingkat suku bunga bunga simpanan dan suku bunga SBI lainnya termasuk suku bunga kredit. pengurangan jumlah uang beredar di Umumnya masyarakat, tujuan bank sentral dapat mengatasi serta BI dalam mekanisme melakukan penyesuaian suku bunga penggunanaan rate untuk acuan adalah untuk mencapai tujuan mengarahkan agar auku bunga SBI inflasi yang diharapkan.( Fitria Irmi berada disekitar BI rate sebagai Triswati, Ika Akbar Wati, 2011) policy rate dengan begitu kenaikan Berdasarkan kondisi tersebut, harga yang terus – menerus pun akun apabila suku bunga SBI naik maka menurun. Sehingga perekonomian jumlah uang beredar pun akan Indonesia dapat dikatakan membaik. menurun dan inflasi pun dapat turun Gambar 2.0 Kerangka Pemikiran Inflasi (X1) Suku Bunga SBI BI Rate (Y) (X2) Jumlah Uang Beredar (M1) (X3) III. METODOLOGI PENELITIAN menggunakan alat analisis regresi. Untuk memudahkan pemahaman A. Ruang Lingkup Penelitian dalam penelitian perlu ditegaskan Penelitian tentang model ini statistika menggunakan dengan variabel-variabel yang digunakan. Dalam penelitian ini menggunakan satu variabel Metode analisis data yang digunakan dependen (terikat) dan tiga variabel adalah independen Variabel berganda dengan bantuan software dependen yang digunakan dalam SPSS versi 17 for Windows. Untuk penelitian ini adalah tingkat suku menghasilkan suatu model yang bunga Sertifikat Bank Indonesia, baik, analisis regresi memerlukan sedangkan variabel independen yang pengujian asumsi klasik sebelum digunakan adalah Inflasi, BI rate, dan melakukan Jumlah uang yang beredar (M1). Pengujian asumsi klasik tersebut Periode meliputi (bebas). yang digunakan dalam model analisis pengujian uji multikolinearitas, 2010 – Mei 2013. Untuk mendukung heteroskedastisitas, variabel autokorelasi. ini, penulis memperoleh data yang bersumber hipotesis. normalitas, penelitian ini selama periode Agustus penelitian regresi uji uji dan uji a. Uji Normalitas dari Kemeterian Perdagangan dan Menurut Ghozali (2005 : 110) “ uji Website Bank Indonesia. normalitas bertujuan untuk menguji B. Metode yang Digunakan apakah dalam model regresi, variabel Metode yang pengganggu atau residual memiliki ini distribusi normal”. Cara yang dapat adalah menggunakan analisis regresi digunakan untuk menguji apakah linear dengan variabel pengganggu atau residual Ordinary memiliki distribusi normal adalah yang dengan melakukan uji Kolmogorov- menggunakan data time series pada Smirnov terhadap model yang diuji. variabel yang diteliti periode Agustus Kriteria 2010 Penulis adalah apabila nilai signifikansi atau menggunakan alat bantu SPSS 22.0 probabilitas > 0.05, maka residual (software) for windows. memiliki digunakan analisis dalam data penelitian berganda menggunakan Least metode Square - Mei (OLS) 2013. C. Metode Analisis Data 1. Pengujian Klasik Asumsi apabila pengambilan distribusi nilai keputusan normal signifikansi dan atau probabilitas < 0.05, maka residual tidak memiliki distribusi normal. Selain itu, uji normalitas juga dapat cut off yang umum dipakai untuk dilakukan dengan melakukan analisis menunjukkan grafik normal probability plot dan multikolinearitas grafik histogram. Dasar pengambilan tolerance <0.10 atau sama dengan keputusan nilai VIF >10 (Ghozali, 2005 : 92). menurut dalam Ghozali uji normalitas (2005 : 110) adanya adalah nilai c. Uji Heteroskedastisitas sebagai berikut: Menurut Ghozali (2005 : 105) “uji 1) jika data menyebar disekitar garis heteroskedastisitas bertujuan menguji diagonal dan mengikuti arah garis apakah dalam model regresi terjadi diagonal atau grafik histogramnya ketidaksamaan variance dari residual menunjukkan pola distribusi normal, satu pengamatan ke pengamatan maka yang lain”. Model regresi yang baik model regresi memenuhi asumsi normalitas dan adalah 2) jika data menyebar jauh dari heteroskedastisitas. Cara mendeteksi diagonal dan / atau tidak mengikuti ada atau tidaknya heteroskedastisitas arah garis diagonal atau grafik adalah dengan melihat grafik plot histogram tidak menunjukkan pola antara distribusi regresi normal, tidak tidak nilai terjadi prediksi variabel maka model dependen. Menurut Ghozali (2005 : memenuhi asumsi 105) normalitas. dasar menentukan b. Uji Multikolinearitas analisis ada atau untuk tidaknya heteroskedastisitas yaitu: Uji multikolinearitas bertujuan untuk 1) jika ada pola tertentu, seperti titik- menguji regresi titik yang ada membentuk pola ditemukan adanya korelasi antar tertentu yang teratur (bergelombang, variabel bebas (independen). Model melebar regresi yang baik seharusnya tidak maka mengindikasikan telah terjadi terjadi korelasi di antara variabel heteroskedastisitas, independen (Ghozali, 2005 : 91). 2) jika tidak ada pola yang jelas, Multikolinearitas dideteksi serta titik-titik menyebar di atas dan dengan melihat nilai tolerance dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, apakah model dapat variance inflation factor (VIF).Nilai kemudian menyempit), maka tidak terjadi heteroskedastisitas. 2. H0 : ᵦ1 ≠ ᵦ2 ≠ 0 = ada pengaruh tingkat inflasi, BI rate, dan jumlah uang beredar d. Uji Autokorelasi Menurut Ghozali (2005 : 95) “uji terhadap tingkat suku bunga autokorelasi SBI. bertujuan menguji apakah dalam model regresi linear Hipotesis penelitian diuji dengan ada menggunakan analisis regresi linear korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan berganda. kesalahan pengganggu pada periode menguji t-1 (sebelumnya)”. Cara yang dapat dinyatakan dalam dilakukan untuk mendeteksi ada atau secara matematis bentuk persamaan tidaknya autokorelasi adalah dengan tersebut adalah sebagai berikut: melakukan uji Durbin Watson. Kriteria untuk penilaian terjadinya autokorelasi yaitu: 1) nilai D-W lebih kecil dari -2 berarti ada korelasi positif, 2) nilai D-W di antara -2 sampai +2 berarti tidak ada autokorelasi, 3) nilai D-W lebih besar dari +2 berarti ada autokorelasi negatif. 2. Pengujian Hipotesis Pada penelitian ini terdapat dua macam hipotesis yang diajukan, yaitu: 1. H0 : ᵦ1 = ᵦ2 = 0 = tidak ada pengaruh tingkat inflasi, BI rate, dan jumlah uang beredar terhadap tingkat suku bunga SBI Model regresi hipotesis untuk tersebut bentuk fungsi Ŷt = β0 + β1X1t-1 + β2X2t-1+ β3X3t-1 + ε Dimana : Ŷt = suku bunga SBI 9 bulan β0 = konstanta β1, β2, β3, = koefisien regresi X1 = Inflasi X2 = BI Rate X3 = Jumlah Uang Beredar ε = residual (error) a. Uji signifikansi simultan Secara simultan, pengujian hipotesis dilakukan dengan uji F-test. Menurut Ghozali (2005 : 84) “uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel independen atau bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel penjelas/ independen dependen/ terikat”. Uji ini dilakukan individual dalam dengan membandingkan signifikansi variabel dependen”. Uji ini dilakukan Fhitung dengan ketentuan: dengan membandingkan signifikansi 1) jika Fhitung < Ftabel pada α secara menerangkan thitung dengan ketentuan: 0.05, maka H1 ditolak dan 2) jika Fhitung > Ftabel pada α 0.05, maka H1 diterima. b. Uji signifikansi parsial Secara parsial, pengujian hipotesis 1) jika thitung < ttabel pada α 0.05, maka Hi ditolak dan 2) jika thitung > ttabel pada α 0.05, maka Hi diterima. dilakukan dengan uji t-test. Menurut Ghozali (2005 : 84) “uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel D. Operasional Variabel No Nama Variabel Konsep / Teori Skala 1 Suku Bunga SBI (Y) Menurut Tajul Khalwaty suku bunga adalah Ratio instrument konvensional untuk mengendalikan atau menekan laju pertumbuhan tingkat inflasi. 2 Inflasi (X1) Menurut teori Keynes, inflasiberdasarkan Ratio konsep inflationary gap. inflasi permintaan yang benar-benar penting adalah yang ditimbulkan oleh pengeluran pemerintah, terutama yang berkaitan dengan peperangan, program investasi yang besar-besaran dalam kapital sosial 3 BI Rate (X2) Teori penentuan tingkat suku bunga Keynes Ratio dikenal dengan teori liquidity prefence. Keynes mengatakan bahwa tingkat bunga semata-mata merupakan fenomena moneter yang mana pembentukannya terjadi di pasar uang. Artinya tingkat suku bunga ditentukan oleh penawaran dan permintaan akan uang. 4 Jumlah Uang Yang Beredar (M1) (X3) IV. Teori preferensi liquiditasKeynes jumlah uang Ratio beredar adalah permintaan uang dalam arti Md/P tergantung pada pendapatan dan suku bunga. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Data Penelitian menguji apakah residual berdistribusi Sebelum mengenai pembahasan data normal adalah uji statitstik non statistik, maka terlebih dahulu parametrik Kolmogorov-Smirnov (K- ditentukan banayaknya sampel yang S) dengan membuat hipotesis: ingin diteliti. Sampel yang diteliti H0 : data residual berdistribusi pada penelitian ini ialah sebanyak 34 normal, sampel. Ha : data residual tidak berdistribusi B. Analisis Data Penelitian normal. 1. Pengujian Asumsi Klasik a. Uji Normalitas Data Apabila nilai siginifikansi lebih besar dari 0,025 maka H0 diterima dan Ha Uji normalitas data bertujuan untuk ditolak, sebaliknya jika nilai menguji apakah variabel residual signifikansi lebih kecil dari 0,025 berdistribusi normal atau tidak. Uji maka H0 ditolak dan Ha diterima. statistik yang dapat digunakan untuk Tabel 4.0 Sumber: Output SPSS, diolah penulis, 2015 Dari hasil pengolahan data pada Tabel 1.0 diperoleh besarnya nilai signifikansi pada 0,149. Nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 maka H0 diterima yang berarti data residual berdistribusi normal. Data yang berdistribusi normal tersebut juga dapat dilihat melalui grafik histrogram dan grafik normal p-plot data. Gambar 4.0 Sumber: Output SPSS, diolah penulis, 2015 Grafik histogram pada Gambar 4.0 menunjukkan pola distribusi normal karena grafik tidak miring ke kiri maupun miring ke kanan. Demikian pula hasil uji normalitas dengan menggunakan grafik Gambar 4.1 di bawah ini. Gambar 4.1 Sumber: Output SPSS, diolah penulis, 2015 Dari gambar didapatkan menyebar 4.1 bahwa di telah titik-titik sekitar garis diagonal, walaupun ada sedikit sebaran “belok”. data Ini yang tampak menunjukkan bahwa sebaran data tidak sangat normal, tetapi data masih bisa dikategorikan memenuhi standard normalitas. p-plot pada b. Uji Multikolonieritas Tabel 4.1 Hasil dari uji multikolinieritas dapat dilihat pada gejala tabel berikut multikolinearitas variabel ini: antara independen yang diindikasikan dari nilai tolerance setiap variabel independen lebih besar atau sama dengan 0,1 dan nilai VIF lebih kecil atau sama dengan dari 10. Maka dapat disimpulkan Sumber: Output SPSS, diolah penulis, 2015 bahwa analisis lebih lanjut dapat dilakukan Dari data pada Tabel 4.1, dapat dengan menggunakan model regresi berganda. disimpulkan bahwa tidak terjadi c. Uji Heteroskedastisitas Uji heteroskedastisitas bertujuan residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Model regresi menguji apakah dalam model regresi yang baik adalah terjadi ketidaksamaan variance dari heteroskedastisitas. tidak terjadi Gambar 4.2 Sumber: Output SPSS, diolah penulis, 2015 Berdasarkan grafik scatterplot ini, dapat diketahui bahwa tidak terjadi permasalahan heteroskedastisitas karena telah memenuhi kriteria yang telah disebutkan di atas. Gambar menunjukkan bahwa: 1) sebaran data berada ada di atas dan di bawah angka nol; 2) sebaran data tidak mengumpul hanya di bawah atau di atas angka nol saja; 3) sebaran data tidak membentuk pola bergelombang yaitu melebar kemudian menyempit data hasil penelitian ini data tidak dan melebar lagi serta dan sebaran berpola. pengganggu d. Uji Autokorelasi Pengujian untuk autokorelasi menguji korelasi bertujuan apakah antara terdapat kesalahan dengan pada suatu kesalahan periode pengganggu periode sebelumnya dalam model regresi. Tabel 4.2 Dari hasil tabel di atas diketahui bahwa nilai D-W yang didapat sebesar 1,441. Dan DL0,025 variabel Inflasi, BI rate, Jumlah uang 2) jika F-hitung > F-tabel, maka H0 beredar ditolak dan Ha diterima untuk α = (M1) tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap 2,5%. Atau signifikansi <0,025 tingkat suku bunga SBI. Berdasarkan hasil pengolahan data H1: a ≠ b1 ≠ b2 ≠ b3 ≠ 0, artinya dengan program SPSS Versi 22.0, variabel Inflasi, BI rate, Jumlah uang maka diperoleh hasil sebagai berikut: Tabel 4.4 Uji Simultan (Uji-F) Sumber: Output SPSS, diolah penulis, 2015. Dari uji ANOVA (Analysis of Variance) pada Tabel .5 di atas didapat F-hitung sebesar 91,368 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,000. Sedangkan F-tabel diketahui sebesar Jadi, dapat disimpulkan bahwa 2,891. Berdasarkan hasil tersebut Inflasi, BI rate, Jumlah uang beredar dapat diketahui bahwa F-hitung > F- (M1) berpengaruh secara simultan tabel (91,368 > 3,542) maka H0 terhadap tingkat suku bunga SBI. ditolak dan Ha diterima. Tabel 4.5 Tabel Coeficient HasilAnalisis Regresi Linear Berganda Sertifikat Bank Indonesia Sumber: Output SPSS, diolah penulis, 2015 Ŷt = -11,567 + 0,039X1t-1 + 4,168X2t-1+ + 0,422X3t-1 ε terjadi kenaikan satu satuan inflasi akan berdampak pada meningkatnya suku bunga Dari persamaan regresi di atas, dapat SBI sebesar 0.039 satuan. dilihat bahwa, Inflasi, BI rate, dan Sebaliknya, Jumlah penurunan satu satuan inflasi Uang Beredar (M1) jika terjadi mempunyai korelasi positif dengan akan tingkat suku bunga SBI. Dari hasil menurunnya suku bunga SBI regresi sebesar 0,039 satuan dengan tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa: pada asumsi variabel lain tetap. 1. Besarnya suku bunga SBI 9 bulan berdampak apabila 3. Angka β2 = 4,168 tidak menunjukkan bahwa setiap dipengaruhi sama sekali oleh terjadi kenaikan satu satuan ketiga BI rate akan berdampak pada variabel yang dimasukkan dalam persamaan meningkatnya regresi (β1, β2, β3 = 0) SBI sebesar 4,168 satuan. adalah -11,567. Sebaliknya, 2. Angka β1 = 0,039 menunjukkan bahwa setiap suku jika bunga terjadi penurunan satu satuan BI rate akan berdampak pada Dalam uji-t digunakan hipotesis menurunnya suku bunga SBI sebagai berikut: sebesar 4,168 satuan dengan H0: a = b1 = b2 = b3 = 0, artinya asusmsi variabel lain tetap. variabel Inflasi, BI rate, Jumlah 4. Angka β3 = 0,422 uang beredar (M1) tidak pengaruh yang menunjukkan bahwa setiap mempunyai terjadi kenaikan satu satuan signifikan terhadap tingkat suku Jumlah uang beredar (M1) bunga SBI. akan pada H1: a ≠ b1 ≠ b2 ≠ b3 ≠ 0, artinya bunga variabel Inflasi, BI rate, Jumlah SBI sebesar 0,422 satuan. uang beredar (M1) mempunyai Sebaliknya, pengaruh berdampak meningkatnya suku jika terjadi yang signifikan penurunan satu satuan jumlah terhadap tingkat suku bunga SBI. uang Uji beredar (M1) ini dilakukan dengan berdampak pada menurunnya membandingkan signifikansi t- suku hitung dengan t-tabel dengan bunga SBI sebesar 0,422 satuan dengan asumsi ketentuan: variabel lain tetap. 1) jika t-hitung < t-tabel, maka H0 diterima dan Ha ditolak b. Uji Signifikansi Parsial untuk (Uji-t) Uji-t dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh suatu variabel independen α = 2,5% atau signifikansi > 0,025, 2) jika t-hitung > t-tabel, maka terhadap H0 ditolak dan Ha diterima untuk variabel dependen secara parsial. α = 2,5% signifikansi < 0,025. Tabel 4.6 Uji Parsial (Uji-t) atau Sumber: Output SPSS, diolah berpengaruh secara signifikan penulis, 2015 terhadap tingkat suku bunga Hasil pengujian statistik t pada Tabel 4.6 dapat dijelaskan sebagai berikut: 1) Pengaruh inflasi SBI. 3) Pengaruh bunga SBI. Nilai t-hitung untuk variabel Jumlah Uang hitung untuk variabel inflasi Beredar (M1) adalah sebesar adalah sebesar 0,499 dan tdengan diketahui α = sebesar 1,989 dan t-tabel dengan α = 2,5% 2,5% diketahui sebesar 2,348. 2,348. Dengan demikian t-hitung < Dengan demikian t-hitung < t-tabel dan nilai signifikansi t-tabel dan nilai signifikansi sebesar 0,056. Artinya, H0 sebesar 0,621. Artinya, H0 diterima dan H1 diterima ditolak. berpengaruh H1 ditolak. (M1) secara parsial tidak secara berpengaruh secara signifikan signifikan terhadap tingkat terhadap tingkat suku bunga suku bunga SBI. 2) Pengaruh BI rate terhadap dan Bahwa Jumlah Uang Beredar Bahwa inflasi secara parsial tidak Uang Beredar (M1) terhadap suku terhadap suku bunga SBI. Nilai t- tabel Jumlah SBI. hitung untuk variabel BI rate c. Pembahasan Hasil Analisis Penelitian Dari hasil pengujian hipotesis adalah sebesar 8,438 dan t- secara simultan, dapat diketahui tabel bahwa inflasi, BI rate, jumlah uang suku bunga SBI. Nilai t- dengan diketahui α sebesar = 2,5% 2,348. yang beredar (M1) berpengaruh Dengan demikian t-hitung > secara signifikan terhadap tingkat t-tabel dan nilai signifikansi suku bunga SBI. Dari hasil pengujian sebesar 0,000. Artinya, H0 hipotesis ditolak diterima. diketahui bahwa BI rate berpengaruh Bahwa BI rate secara parsial secara signifikan terhadap tingkat dan H1 secara parsial, dapat suku bunga SBI. Sementara inflasi dijelaskan oleh Inflasi, BI Rate, dan dan jumlah uang yang beredar (M1) JUB (M1) (variabel independen) tidak berpengaruh secara signifikan sebesar 89,4%, sedangkan selebihnya terhadap tingkat suku bunga SBI. sebesar 10,6% dijelaskan oleh faktor Hasil ini mendukung hasil penelitian – faktor lain diluar penelitian ini. terdahulu Kemudian standard error of the yang berjudul “PENGARUH KONSUMSI, adalah sebesar 0,6939 UANG dimana semakin kecil angka ini akan INFLASI membuat model regresi semakin PENENTUAN tepat dalam memprediksi tingkat INVESTASI, JUMLAH BEREDAR DAN TERHADAP estimate KEBIJAKAN SUKU BUNGA SBI suku bunga SBI. ”. Hasil penelitian tersebut adalah, Variabel Inflasi sebesar 0,039 variabel Investasi berpengaruh secara menunjukkan bahwa setiap terjadi signifikan terhadap suku bunga SBI, kenaikan satu satuan inflasi akan sementara itu variabel Konsumsi, berdampak pada meningkatnya suku JUB, dan Inflasi tidak berpengaruh bunga SBI sebesar 0.039 satuan. secara signifikan terhadap perubahan Sebaliknya, jika terjadi penurunan suku bunga SBI. satu satuan inflasi akan berdampak Nilai R sebesar 0,951 pada menurunnya suku bunga SBI menunjukkan bahwa korelasi atau sebesar 0,039 satuan dengan asumsi hubungan variabel lain tetap. SBI (variabel mempunyai tingkat Variabel BI rate sebesar 4,168 hubungan yang sangat kuat, yaitu menunjukkan bahwa setiap terjadi sebesar 95,1%. Nilai R yang sangat kenaikan satu satuan BI rate akan kuat ini dapat dilihat dari tabel berdampak pada meningkatnya suku sebagai interpretasi dari koefisien bunga SBI sebesar 4,168 satuan. korelasi. Nilai Adjusted R Square Sebaliknya, jika terjadi penurunan atau koefisien determinasi adalah satu satuan BI rate akan berdampak sebesar dependen) antara 0,894. mengidentifikasikan (variabel Angka ini pada menurunnya suku bunga SBI bahwa SBI sebesar 4,168 satuan dengan asusmsi dependen) mampu variabel lain tetap. Variabel Jumlah uang beredar satuan. Sebaliknya, jika terjadi (M1) sebesar 0,422 menunjukkan penurunan satu satuan jumlah uang bahwa setiap terjadi kenaikan satu beredar satuan Jumlah uang beredar (M1) menurunnya suku bunga SBI sebesar akan berdampak pada meningkatnya 0,422 satuan dengan asumsi variabel suku bunga SBI sebesar 0,422 lain tetap. V. (M1) berdampak pada KESIMPULAN DAN SARAN sebesar A. KESIMPULAN Berdasarkan 0,039 analisis menunjukkan bahwa setiap dan pembahasan yang telah terjadi kenaikan satu satuan dipaparkan sebelumnya, inflasi akan berdampak pada penulis memperoleh meningkatnya kesimpulan diambil hasil 0,499. yang dari dapat penelitian suku bunga SBI sebesar 0.039 satuan. Sebaliknya, jika terjadi mengenai Faktor – Faktor penurunan satu satuan inflasi Yang akan Mempengaruhi Kebijakan Tingkat berdampak pada Suku menurunnya suku bunga SBI Bunga SBI periode Agustus sebesar 0,039 satuan dengan 2010 – Mei 2013 adalah asumsi variabel lain tetap. sebagai berikut : 1. Berdasarkan hasil 2. Berdasarkan regresi hasil regresi linier berganda dengan OLS linier berganda dengan OLS dijelaskan dijelaskan secara parsial BI Rate berpengaruh tidak signifikan terhadap tingkat berpengaruh secara signifikan Suku Bunga SBI dengan nilai terhadap tingkat Suku Bunga signifikansi sebesar 0,000. SBI dengan nilai signifikansi Variabel parsial bahwa Inflasi bahwa BI rate secara sebesar 4,168 menunjukkan bahwa uang setiap terjadi kenaikan satu berdampak pada menurunnya satuan akan suku pada 0,422 satuan dengan asumsi BI rate berdampak meningkatnya suku bunga SBI sebesar 4,168 satuan. Sebaliknya, jika terjadi beredar bunga sebesar 4. Secara simultan, dari hasil regresi linier berganda yang dilakukan akan bahwa pada SBI variabel lain tetap. penurunan satu satuan BI rate berdampak (M1) diperoleh Inflasi, BI hasil Rate, menurunnya suku bunga SBI Jumlah Uang Yang Beredar sebesar 4,168 satuan dengan (M1) asusmsi variabel lain tetap. signifikan. 3. Berdasarkan hasil regresi berpengaruh secara Dengan nilai signifikansi sebesar 0,000. linier berganda dengan OLS Berdasarkan hasil dijelaskan secara dapat diketahui bahwa F- parsial Jumlah Uang Beredar hitung > F-tabel (91,368 > (M1) 3,542) maka H0 ditolak dan bahwa tidak berpengaruh seacara signifikan terhadap Ha tingkat Suku SBI disimpulkan bahwa Inflasi, dengan nilai signifikansi BI rate, Jumlah uang beredar sebesar 0,056. Bunga Variabel diterima. tersebut (M1) Jadi, berpengaruh Jumlah uang beredar (M1) simultan sebesar 0,422 menunjukkan suku bunga SBI. dapat secara terhadap tingkat bahwa setiap terjadi kenaikan B. IMPLIASI DAN SARAN satu 1. Pada penelitian ini, variabel satuan beredar Jumlah (M1) berdampak meningkatnya suku uang akan Inflasi tidak pada secara signifikan bunga berpengaruh terhadap Suku Bunga SBI. Ketika SBI sebesar 0,422 satuan. infasi Sebaliknya, terjadi Indonesia dapat melakukan penurunan satu satuan jumlah Operasi Pasar Terbuka (OPT) jika naik, maka Bank dengan membeli SBI dari mekanisme penggunaan BI masyarakat uang Rate untuk mengarahkan agar yang beredar di masayarakat suku bunga SBI berada di dapat ditarik oleh BI dan sekitar BI rate sebagai policy dapat meredam laju inflasi rate dengan begitu kenaikan 2. Ketika terjadi inflasi, Bank harga yang terus – menerus sehingga Indonesia dapat pun akun menurun. Sehingga meningkatkan tingkat suku perekonomian bunga dapat dikatakan membaik. SBI mengatasi yang dapat jumlah uang beredar di masyarakat, serta DAFTAR PUSTAKA Khalwaty, Tajul, 2000, Inflasi dan Solusinya, PT. Gramedia Pustaka Utama Mankiw, G. 2000. Teori Makro Ekonomi. Edisi 4. Erlangga. Jakarta. Mishkin, F.S. 2001. The Economics of Money, Banking, and Financial Markets. Edisi 6. Columbia University. New York. http://www.rmol.co/read/2011/10/07/4 1691/BI-Rate-Versus-SBI-Rate http://vinarefriana.blogspot.com/2013/ 06/faktor-faktor-kebijakanpenerapan.html https://www.academia.edu/8345843/Pe ngaruh_Kebijakan_BI_Rate_terhada p_Kondisi_Perekonomian_Indonesia Indonesia

Judul: Jurnal Ekonomi Moneter, Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kebijakan Suku Bunga Sbi

Oleh: Ayu Andini


Ikuti kami