Asuhan Keperawatan Konstipasi Dengan Pendekatan 3s (sdki, Slki Dan Siki

Oleh Wiwit D Nurbadriyah

1,2 MB 10 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Asuhan Keperawatan Konstipasi Dengan Pendekatan 3s (sdki, Slki Dan Siki

ASUHAN KEPERAWATAN KONSTIPASI DENGAN PENDEKATAN 3S (SDKI, SLKI DAN SIKI) Penulis : Wiwit Dwi Nurbadriyah, M.Kep. ISBN : 978-623-7743-71-2 Copyright © April 2020 Ukuran: 17.5 cm X 25 cm; Hal: vi + 76 Hak Cipta dilindungi oleh undang-undang. Pertama kali diterbitkan di Indonesia dalam Bahasa Indonesia oleh Literasi Nusantara. Dilarang mengutip atau memperbanyak baik sebagian ataupun keseluruhan isi buku dengan cara apa pun tanpa izin tertulis dari penerbit. Penata Isi Desainer Sampul : M. Rosyiful Aqli : Ahmad Ariyanto Cetakan I, April 2020 Diterbitkan pertama kali oleh Literasi Nusantara Perum Paradiso Kav. A1 Junrejo - Batu Telp : +6285887254603, +6285841411519 Email: penerbitlitnus@gmail.com Web: www.penerbitlitnus.co.id Anggota IKAPI No. 209/JTI/2018 Didistribusikan oleh CV. Literasi Nusantara Abadi Jl. Sumedang No. 319, Cepokomulyo, Kepanjen, Malang. 65163 Telp : +6282233992061 Email: redaksiliterasinusantara@gmail.com KATA PENGANTAR Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena telah dapat menyelesaikan Buku “Asuhan Keperawatan Konstipasi dengan Pendekatan 3S (SDKI, SLKI dan SIKI)” ini. Kami ucapkan terimakasih kepada STIKes Kepanjen yang telah memberikan kesempatan kepada penulis dan Mahasiswa Prodi Keperawatan Program Sarjana angkatan 2018 yang telah membantu terselesaikanya buku ini. Buku “Asuhan Keperawatan Konstipasi dengan Pendekatan 3S (SDKI, SLKI dan SIKI)” merupakan bagian dari ilmu asuhan keperawatan sistem pencernaan dengan pendekatan 3S yaitu SDKI (Standart Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standart Luaran keperawatan Indonesia) dan SIKI (Standart Intervensi Keperawatan Indonesia). Buku ini diharapkan dapat menambah referensi untuk meningkatkan mutu pelayanan dalam melakukan asuhan keperawatan pada klien, khususnya yang menderita gangguan sistem pencernaan. Malang, April 2020 Penulis iii iv DAFTAR ISI Kata Pengantar Daftar Isi  Pengertian Konstipasi  Anatomi Fisiologi Defekasi  Etiologi dan Patofisiologi Konstipasi  Penyebab Konstipasi  Tanda dan Gejala Konstipasi  Pencegahan Konstipasi  Komplikasi Konstipasi  Penatalaksanaan Konstipasi  Teori Asuhan Keperawatan  SLKI (Standart Luaran Keperawatan Indonesia)  SIKI (Standart Intervensi Keperawatan Indonesia) ii v 1 7 15 23 29 37 45 49 59 65 69 Tentang Penulis 75 v vi PENGERTIAN KONSTIPASI K onstipasi didefinisikan sebagai istilah dari suatu gejala (kebalikan dari diare yang didefinisikan saat berat feses >200gram). Tersirat dalam hal ini, fakta bahwa konstipasi adalah suatu gejala, bukan diagnosis. Konstipasi dibedakan dari irritable bowel syndrome (IBS) dimana nyeri abdomen tidak harus berhubungan dengan disfungsi usus. Hal ini didefinisikan sebagi jumlah frekuensi feses yang jarang (<3 kali per minggu), pengeluaran feses yang keras (>25% dalam satu waktu), mengedan untuk mengosongkan rectum (>25% dalam satu waktu), atau sensasi pengosongan yang tidak tuntas (>25% dalam satu waktu). Dalam buku Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) konstipasi diartikan dengan penurunan defekasi normal yang disertai pengeluaran feses sulit dan tidak tuntas serta feses kering dan banyak. Konstipasi merupakan salah satu gejala yang paling sering dari keluhan gastrointestinal. Diderita sekitar 25% dari populasi dalam satu waktu, lebih sering terjadi pada wanita dan orang lanjut usia. Pada awalnya penyebab konstipasi mungkin sederhana saja, misalnya kurangnya konsumsi serat, tetapi karena tidak ditangani secara memadai perjalanan kliniknya menjadi kronis, yang membuat frustasi anak, orangtua dan juga dokter yang merawatnya. Di lain pihak, terdapat kasus-kasus konstipasi akut yang memerlukan diagnosis etiologi segera karena memerlukan tindakan yang segera pula. Ringkasnya, ada kasus 1 konstipasi ringan tetapi memerlukan penanganan yang adekuat, ada kasus yang memerlukan diagnosis etiologi dan tindakan segera dan ada pula kasus konstipasi kronis yang memerlukan kesabaran dan penanganan yang cermat. Pada anak pola defekasi yang normal umumnya dipandang sebagai pertanda anak sehat. Terutama pada bulan-bulan pertama kehidupan bayi, orang tua sangat menaruh perhatiannya pada frekuensi defekasi dan karakteristik tinjanya. Adanya penyimpangan dari yang dianggap normal pada anak, merangsang orang tua untuk membawa anaknya ke dokter. Pada umunya orang tua khawatir bahwa tinja anaknya terlalu besar, terlalu keras, nyeri waktu berhajat atau defekasinya terlalu jarang. Kenyataanya konstipasi memang merupakan masalah yang biasa ditemukan pada anak. Dalam kepustakaan belum ada kesepakatan mengenai batasan konstipasi. Rogers mendefinisikan konstipasi sebagai kesulitan melakukan defekasi atau berkurangnya frekuensi defekasi atau melihat apakah tinjanya keras atau tidak. Lewis dan Munir menambahkan bahwa kesulitan defekasi terjadi menimbulkan nyeri dan distress pada anak, sedangkan Abel mengatakan konstipasi sebagai perubahan dalam frekuensi dan konsistensi dibandingkan dengan pola defekasi individu yang bersangkutan, yaitu frekuensi berhajat lebih jarang dan konsistensi tinja lebih keras dari biasanya. Definisi lain adalah frekuensi defekasi kurang dari tiga kali perminggu. Steffen dan Loening Baucke mengatakan konstipasi sebagi buang air besar kurang dari 3 kali per minggu atau riwayat buang air besar dengan tinja yang banyak dan keras. Ketidakmampuan melakukan evakuasi tinja secara sempurna, yang tercermin dari 3 aspek yaitu berkurangnya frekuensi berhajat dari biasanya, tinja yang lebih keras dari sebelumnya dan pada palpasi abdomen teraba masa tinja (skibala) dengan atau tidak disertai enkoptesis (kecepirit). Salah satu yang harus diperhatikan pada usia lanjut adalah konsumsi serat dan intake cairan setiap hari. Ini bertujuan agar lansia terhindar dari terjadinya kanker kolon, wasir, hemoroid, dan konstipasi. Insiden konstipasi puncaknya pada usia 60-70 tahun. Konstipasi merupakan kondisi dimana feses mengeras sehingga susah dikeluarkan melalui anus, dan menimbulkan rasa terganggu atau tidak nyaman pada rektum. 2 Konstipasi dapat terjadi pada semua lapisan usia, yang pada umumnya ditandai dengan frekuensi BAB yang rendah (kurang dari 3 kali dalan satu minggu) (Lilik, 2011). Konstipasi masih dianggap remeh oleh masyarakat, mereka menganggap kesulitan BAB bukan masalah besar, hanya akibat dari salah makan atau kurang minum air sehingga disepelekan dan dianggap akan sembuh dengan sendirinya. Angka kecukupan air untuk usia di atas 50 tahun keatas menurut AKG, tahun 2004 dalam Devi (2010) adalah 1,5-2 liter/hari. Konstipasi dapat disebabkan oleh berbagai hal, seperti kurang asupan serat, kurang asupan air, pengaruh obat yang dikonsumsi, pengaruh dari penyakit yang diderita, hingga akibat kurang aktivitas fisik (Brown, 2011). Konstipasi dapat menyebabkan kanker usus besar (colon cancer) yang dapat berujung pada kematian (Brown. 2011). Prevelentif konstipasi di Amerika Serikat tercatat 2-27% dengan 2,5 juta kunjungan ke dokter, sementara di Beijing ditemukan kejadian konstipasi sebanyak 6,07%. Prevelensi konstipasi pada lansia di Indonesia adalah sebesar 3,8% untuk usia 60-69 tahun dan 6,3% pada lansia diatas usia 70 tahun (Kemenkes RI, 2013). Lansia yang memakan makanan tinggi serat biasanya lebih jarang yang mengalami konstipasi. Diet rendah serat juga memegang peranan yang sangat penting untuk timbulnya konstipasi pada usia lanjut. Emosi yang kuat dapat menyebabkan konstipasi dengan menghambat gerak peristaltik usus melalui kerja dari epinefrin dan system syaraf simpatis. Stress juga dapat menyebabkan usus spastik (spastik/konstipasi hipertonik atau iritasi colon). Usia lanjut yang dapat mempengaruhi proses pengosongan lambung. Diantaranya adalah atony (berkurangnya tonus otot yang normal) dari otot-otot polos colon yang dapat berakibat pada melambatnya peristaltik dan mengerasnya feses sehingga memungkinkan terjadinya konstipasi. Rendah konsumsi gandum, serat, sayuran, buah-buahan, beras, dan kalori dapat menjadi faktor resiko menuju konstipasi. Penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa konsumsi buah, sayuran, dan roti telah meningkatkan kejadian konstipasi. Telah diusulkan bahwa kejadian konstipasi meningkat karena pengolahan makanan secara modern yaitu makanan cepat saji dengan serat yang rendah. Dalam survei epidemiologi 3 rendahnya asupan cairan pada orang dewasa juga diperkirakan berhubungan dengan gejala konstipasi. Transit makanan yang yang terganggu juga berhubungan dengan munculnya gejala konstipasi. Pada hipokalemia terjadi disfungsi neuron yang dapat menurunkan stimulasi asetilkolin pada otot usus halus sehingga transit feses yang melalui usus yang menjadi lebih lama. Depresi, gangguan fisiologis, dan kecemasan juga merupakan beberapa hal yang berhubungan dengan kejadian konstipasi. Hiperkalsemia juga merupakan penyebab terjadinya keterlambatan konduksi pada persarafan ekstrinsik dan intrinsik usus. Hal ini terlihat pada kuesioner penelitian di Jepang, 63% pasien hemodialisis mengeluh konstipasi. Konstipasi yang terjadi sesekali, mungkin tidak berdampak pada gangguan sistem tubuh, namun bila konstipasi ini terjadi berulang dan dalam jangka waktu yang lama dapat menimbulkan beberapa komplikasi, antara lain: hipertensi arterial, impaksi fekal, hemoroid, fisura ani serta megakolon. Melihat banyaknya komplikasi yang dapat terjadi akibat konstipasi, maka setiap individu harus menjaga keteraturan pola defekasinya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah masalah konstipasi adalah dengan mengkonsumsi serat sesuai kebutuhan. Secara fisiologis serat makanan didefenisikan sebagai karbohidrat yang resisten terhadap hidrolisis oleh enzim pencernaan manusia (karena serat tidak dapat dicerna) dan lignin. Kejadian konstipasi meningkat seiring dengan peningkatan usia, wanita dilaporkan lebih sering mengalami konstipasi dari pada laki-laki. Amerika Serikat pada tahun 2006 lebih dari 4 juta penduduk mempunyai keluhan sering konstipasi, hingga prevalensinya mencapai sekitar 2%, dimana kebanyakan penderitanya adalah wanita, anak-anak dan orang dewasa di atas usia 65 tahun. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Higgins dan Johanson, perhitungan prevalensi konstipasi di Amerika Utara berkisar antara 1,9% - 27,2% dengan perbandingan antara wanita dan pria sebesar 2,2:1.11 Studi di Beijing melaporkan angka kejadian konstipasi pada kelompok usia 18-70 tahun sekitar 6,07% dengan rasio antara pria dengan wanita 1:4.12 Berdasarkan data International US Census Bereau pada tahun 2003 seperti yang dikutip oleh Sari (2009), terdapat sebanyak 3.857.327 jiwa yang mengalami konstipasi di Indonesia. 4 Prevalensi konstipasi pada wanita lebih tinggi dibandingkan pada pria, meskipun tidak terpaut jauh. Perbandingan prevalensi konstipasi pada wanita dan pria di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) yaitu sekitar 60:40, di RSCM dari sebanyak 2397 pasien dengan gangguan saluran cerna, terdapat 216 orang yang mengalami konstipasi, 87 di antaranya adalah pria, dan 129 wanita.14 Jika dikonversikan 7,2% pria mengalami konstipasi, sementara pada wanita yaitu 10,8%. Berdasarkan patofisiologis, konstipasi dapat diklasifikasikan menjadi konstipasi akibat kelainan struktural dan konstipasi fungsional. Konstipasi akibat kelainan struktural terjadi melalui proses obstruksi aliran tinja, sedangkan konstipasi fungsional berhubungan dengan gangguan motilitas kolon atau anorektal. Konstipasi yang dikeluhkan oleh sebagian besar pasien umumnya merupakan konstipasi fungsional. Pada awalnya beberapa istilah pernah digunakan untuk menerangkan konstipasi fungsional, seperti retensi tinja fungsional, konstipasi retentif atau megakolon psikogenik. Istilah tersebut diberikan karena adanya usaha anak untuk menahan buang air besar akibat adanya rasa takut untuk berdefekasi. Retensi tinja fungsional umumnya mempunyai dua puncak kejadian, yaitu pada saat latihan berhajat dan pada saat anak mulai bersekolah. Konstipasi fungsional dapat dikelompokkan menjadi bentuk primer atau sekunder bergantung pada ada tidaknya penyebab yang mendasarinya. Konstipasi fungsional primer ditegakkan bila penyebab dasar konstipasi tidak dapat ditentukan. Keadaan ini ditemukan pada sebagian besar pasien dengan konstipasi. Konstipasi fungsional sekunder ditegakkan bila kita dapat menentukan penyebab dasar keluhan tersebut. Penyakit sistemik dan efek samping pemakaian beberapa obat tertentu merupakan penyebab konstipasi fungsional yang sering dilaporkan. Klasifikasi lain yang perlu dibedakan pula adalah apakah keluhan tersebut bersifat akut atau kronis. Konstipasi akut bila kejadian baru berlangsung selama 1-4 minggu, sedangkan konstipasi kronis bila keluhan telah berlangsung lebih dari 4 minggu. 5 DAFTAR PUSTAKA Agus, Asih Nila. Pengaruh Asupan Tinggi Serat dan Cairan Terhadap Terjadinya Konstipasi pada Lansia. Cirebon, STIKes Cirebon Bernie, Badriul. (2004). Konstipasi Fungsional, Vol. 6, No. 2. Eva, Floria. (2015). Prevalensi Konstipasi dan Faktor Resiko Konstipasi Pada Anak. Denpasar: Universitas Udayana Bali Indah, Arina, Masrul. (2016), Jurnal Kesehatan Andalas : Hubungan Konsumsi Serat dengan Pola Defekasi pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran. Padang, Universitas Andalas Padang Juffrie, Mohammad, et all. (2010). Buku Ajar Gastroentrologi-Hepatologi. Jakarta: Badan Penerbit IDAI Mirna. (2018), Skripsi : Hubungan Konsumsi Air Putih dengan Kejadian Konstipasi pada Lansia di Dusun Sidorejo Desa Karas. Madiun, STIKes Bhakti Husada Mulia Madiun Oktavia Intan. (2014), Chronic Constipation With Hemorrhoid at Single Man Because of Unhealthy Lifestyle, vol. 3 No. 1. Lampung, Universitas Lampung. Pokja, Tim. (2017). Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia. Jakarta Selatan: Dewan pengurus pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia. 6 ANATOMI FISIOLOGI DEFEKASI D efekasi adalah proses pembuangan atau pengeluaran sisa metabolisme berupa feses dan flatus yang berasal dari saluran pencernaan melalui anus. Terdapat dua pusat yang menguasai refleks untuk defekasi, yaitu terletak di medula dan sumsum tulang belakang. (Hidayat, 2006) dengan kata lain defekasi adalah suatu tindakan atau proses makluk hidup utnuk membuang kotoran atau tinja yang berasal dari sistem pencernaan. Frekuensi defekasi pada setiap orang sangat bervariasi dari beberapa kali perhari sampai 2 atau 3 kali perminggu, banyaknya feses juga bervariasi setiap orang. Ketika dorongan paristaltik mendorong feses ke dalam kolon sigmoid dan rektum, saraf sensori dalam rektum dirangsang dan individu menjadi sadar terhadap kebutuhan untuk defekasi. Defekasi biasanya dimulai oleh dua refleks yaitu : 1. Reflek defekasi instristik Ketika feses masuk kedalam rektum, pengembangan dinding rektum memberi suatu signal yang menyebar melalui pleksus mesentrikus untuk memulai gelombang peristaltik pada kolon desenden, kolon sigmoid, dan didalam rektum. Gelombang ini menekan feses ke arah anus, begitu gelombang paristaltik mendekati anus spingter anal interna tidak menutup dan bila spingter eksternal tenang maka feses keluar. 7 2. Refleks defekasi parasimpatis Ketika serat saraf dalam rektum dirangsang, signal diteruskan ke spinal cord (sacral 2-4) dan kemudian kembali ke kolon desenden, kolon sigmoid dan rectum. Sinyal–sinyal parasimpatis ini meningkatkan gelombang peristaltik, melemaskan spingter anus internal dan meningkatkan refleks defekasi instrinsik. Spingter anus individu duduk ditoilet atau bedpan, spingter anus eksternal tenang dengan sendirinya. Pengeluaran feses dibantu oleh kontraksi otatotot perut dan diafragma yang akan meningkatkan abdominal oleh kontraksi muskulus levator pada dasar panggul yang menggerakan feses melalui saluran anus. Defekasi normal dipermudah dengan refleksi paha yang meningkatkan tekanan didalam perut dan posisi duduk yang meningkatkan tekanan kebawah kearah rektum. Gambar 2.1 Anatomi saluran cerna bawah dan anorectal (Purba, 2017) 8 Gambar 1.2 Anatomi Korektal (Kurniawan L, 2009) Kolon sebagai tempat penghancuran makanan, absorpsi nutrien oleh pembuluh darah yang akan digunakan oleh tubuh & membuang bahan-bahan yang tidak dibutuhkan oleh tubuh. Kolon dimulai dari sekum bagian dari pangkal kolon yang membentuk kantung buntu dibawah taut antara usus halus dan kolon yang dikatup velva ileocalis. Dan tonjolan kecil di dasar sekum adalah appendix veriformis, memiliki jaringan limfoid yang mengandung limfosit, sekum berdekatan dengan dinding abdomen bagian anterior dan bersambung dengan kolon asenden pada bagian superior. Bagian luar kolon memiliki lapisan otot polos longistudinal yang tidak menutupi bagian usus dan lapisan ini hanya terdiri dari tiga pita otot yang longistudinal, jelas, dan terpisah yaitu taenia coli, yang berjalan sepanjang usus besar (Waugh et al, 2011,. Mescher, 2010,. Ross and Wilson, 2011). 9 Gambar 2.3. Ganglion Mesentreika inferior Gambar 2.2.Peredaran darah kolon (Nurul A. ) 10 Peredaran darah di organ kolon dimulai dari pembuluh arteri menuju serum, kolon ascending dan kolon transversa yang berasal dari cabang arteri mesentrika superior, kolon descenden, rektum dan anus menuju cabang arteri mesentrika inferior. Gambar 2.3. Anatomi Anorektal (Risanto E, 2019)  Terdapat dua otot sphinkter anal (disebelah dalam dan luar) yang berfungsi dalam membantu menahan feses saat defekasi.  Saat rektum penuh terjadi peningkatan tekanan di dalamnya dan memaksa dinding dari saluran rektum sampai feses masuk ke saluran rektum. Gambar 2.4. Anatomi Rectum (Risanto E, 2019) 11     Rektum memiliki 3 buah valvula yaitu : superior kiri, medial kanan dan inferior kiri 2/3 bagian distal rektum terletak di rongga pelvik dan terfiksir 1/3 bagian proksimal terletak dirongga abdomen dan relatif mobile Kedua bagian ini dipisahkan oleh peritoneum reflektum dimana bagian anterior lebih panjang dibanding bagian posterior. Menurut Pearce (2002) proses dari defekasi yaitu : Jenis gelombang peristaltik yang terlihat dalam usus halus jarang timbul pada sebagian kolon, sebaliknya hampir semua dorongan ditimbulkan oleh pergerakan lambat kearah anus oleh kontraksi haustrae dan gerakan massa. Dorongan di dalam sekum dan kolon asenden dihasilkan oleh kontraksi haustrae yang lambat tetapi berlangsung persisten yang membutuhkan waktu 8 sampai 15 jam untuk menggerakkan kimus hanya dari katup ileosekal ke kolon transversum, sementara kimusnya sendiri menjadi berkualitas feses dan menjadi lumpur setengah padat bukan setengah cair. Pergerakan massa adalah jenis pristaltik yang termodifikasi yang ditandai timbulnya sebuah cincin konstriksi pada titik yang teregang di kolon transversum, kemudian dengan cepat kolon distal sepanjang 20 cm atau lebih hingga ke tempat konstriksi tadi akan kehilangan haustrasinya dan berkontraksi sebagai satu unit, mendorong materi feses dalam segmen itu untuk menuruni kolon. Kontraksi secara progresif menimbulkan tekanan yang lebih besar selama kira-kira 30 detik, kemudian terjadi relaksasi selama 2 sampai 3 menit berikutnya sebelum terjadi pergerakan massa yang lain dan berjalan lebih jauh sepanjang kolon. Seluruh rangkaian pergerakan massa biasanya menetap hanya selama 10 sampai 30 menit, dan mungkin timbul kembali setengah hari lagi atau bahkan satu hari berikutnya. Bila pergerakan sudah mendorong massa feses ke dalam rektum, akan timbul keinginan untuk defekasi. 12 DAFTAR PUSTAKA Anisanovia, N. (2008). Anatomi Fisiologi Eliminasi Fekal. Retrieved From Anatomi Fisiologi Eliminasi Fekal: www.Academia.Edu L, Kurniawan. (2009). Kolorektal. Bab Ii Tinjauan Pustaka . Purba, M. A. (2017). Hubungan Tingkat Pengetahuan Dan Konsumsi Serat. Fakultas Kedokteran Universitas Hassanudin. Makassar. Pearce, Evelyn C. (2002). Anatomi Dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta: Pt. Gramedia Sherwood, L. (2011). Fisiologi Manusia: Dari Sel Ke Sistem. Edisi 2. Jakarta : EGC. 13 14 ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI KONSTIPASI P ada orang dewasa normal, defekasi terjadi antara tiga kali per hari sampai tiga kali per minggu. Frekuensi defekasi pada anak bervariasi menurut umur. Bayi yang minum ASI pada awalnya lebih sering defekasi dibandingkan bayi yang minum formula. Namun mendekati usia 4 bulan, apapun susu yang diminumnya, rerata buang defekasi adalah dua kali per hari. Pada umur 2 tahun, frekuensi rerata defekasi menurun menjadi dua kali per hari, Tabel 3.1 Frekuensi defekasi normal pada anak Umur 0-3 bulan ASI Formula 6-12 bulan 1-3 tahun >3 tahun Defekasi / minggu 5-40 5-20 5-28 4-21 3-14 Defekasi/ hari 2,9 2,0 1,8 1,4 1,0 15 Proses normal defekasi diawali dengan teregangnya dinding rectum. Regangnya tersebut menimbulkan reflek relaksasi dari sfingter anus interna yang akan diproses dengan kontraksi sfingter anus eksterna. Upaya menahan tinja tetap dipertahankan sampai inividu mencapai toilet. Untuk proses defekasi, sfingter eksterna dan muskulus puborektalis mengadakan relaksasi sedemikian rupa sengga sudut antara kanal anus dan rectum terbuka, membentu jalan lurus bagi tinja untuk keluar melalui anus. Kemudian dengan mengejan, yaitu meningkatnya tekanan abdomen dan kontraksi rectum, akan mendorong tinja keluar melalui anus. Pada keadaan normal, epitel sensorik di daerah anus-rektum memberitahu individu mengenai sifat tinja, apakah padat, cair, gas atau kombinasi ketiganya. Kolon berfungsi menyimpan dan mengeringkan tinja cair yang diterimanya dari ileum. Makan atau minum merupakan stimulus terjadinya kontraksi kolon (reflek gastrokolik) yang diperantarai oleh neuropeptida pada sistem syaraf usus dan koneksi saraf visera. Kandungan nutrisi tinja cair dari ileum yang masuk ke kolon akan menentukan frekuensi dan konsistensi tinja. Kurangnya asupan serat (dietary fiber) sebagai kerangka tinja (stool bulking), kurang mnum dan meningkatnya kehilangan cairan merupakan faktor penyebab konstipasi. Berat tinja berkaitan denan asupan serat makanan. Tinja yang besar akan dievakuasi lebih sering. Waktu singgah melalui saluran pecernaan lebih cepat bila mengkonsumsi banyak serat. Waktu singgah pada bayi berusia 1-2 bulan adalah 8,5 jam. Waktu singgah meningkat dengan bertambahnya usia, dan pada dewasa berkisar antara 30-48 jam. Berkurangnya aktivitas fisik pada individu yang sebelumnya aktif merupakan presdisposisi konstipasi, misalnya pada keadaan sakit, pascabedah, kecelakaan atau gaya hidup bermalas- malasan. Stress dan perubahan aktivitas rutin sehari-hari dapat mengubah frekuensi defekasi, seperti liburan, berkemah, masuk sekolah kembali setelah liburan, ketersediaan toilet dan masalah psikososial, dapat menyebabkan konstipasi. Penyebab tersering konstipasi pada anak adalah menahan defekasi akibat penalaman nyeri pada defekasi sebelumnya, biasanya disertai fisura ani. Orang tua sering memberi tahu adanya riwayat darah dalam tinja, popok atau toilet. Pengalaman nyeri defekasi ini dipercaya menimbulkan penambahan tinja ketika ada hasrat untuk defekasi. Kebiasaan menahan 16 tinja (retensi tinja) yang berulang akan meregangkan rectum dan kemudian kolon sigmoid yang menampung bolus tinja berikutnya. Tinja yang berada di kolon terus mengalami reabsorbsi air dan elektrolit dan membentuk skibala. Seluruh proses akan berulang dengan sendirinya, yaitu tinja yang keras dan besar menjadi lebih sulit dikeluarkan melalui kanal anus, menimbulkan rasa sakit dan kemudian retensi tinja selanjutnya. Bila konstipasi menjadi kronik, massa tinja berda di rectum, kolon sigmoid, dan kolon desenden dan bahkan di seluruh kolon. Enkopresis atau kebocoran (tidak disengaja: involuntary) tinja cair atau lembek di sekitar massa tinja merupakan masalah yan mendorong orangtua membawa anak berobat. Distensi tinja kronis sebagai akibat retensi tinja menyebabkan menurunya kemampuan sensor terhadap volume tinja yang sebetulnya merupakan panggilan atau rangsangan untuk defekasi. Temuan terbanyak pada pemeriksaan manometri anak dengan konstipasi adalah meningkatnya ambang rangsang sensasi rektum. Dengan pengobatan jangka panjang, sensasi rectum dapat menjadi normal kembali. Namun pada sebagian kasus yang sembuh, sensasi rectum tetap abnormal dan hal ini menjelaskan mengapa konstipasi dan enkopresis mudah kambuh. Kontraksi puborektalis paradoksal merupakan temuan yang biasa pada pemeriksaan manometri anorektum pada anak dengan konstipasi kronis. Kontraksi puborektalis paradoksal didefinisikan sebagai kurangnya kontraksi sfingter ani eksterna dan muskulus puborektalis selama upaya defekasi, bahkan sebaliknya terjadi relaksasi. Anak dengan kontraksi abnormal sfingter ani eksterna dan muskulus puborektalis selama latihan defekasi (toilet training) juga mengalami kesulitan mengevakuasi balon berisi air (model tinja tiruan) dan lebih sering mengalami kegagalan terapi. Pada sekitar 5%-10% bayi dan anak, konstipasi dapat disebabkan kelainan anatomis, neurologis, atau penyebab lain. 17 Tabel 3.2 Penyebab konstipasi pada anak Patologi Primer Contoh Kondisi endokrin  Hipotiroid yaitu kekurangan hormon akibat kelenjar tiroid tidak dapat memproduksi dalam jumlah yang cukup.  Hiperparatiroid yaitu kondisi yang muncul akibat kelenjar partiroid terlalu aktif.  Diabetes mellitus yaitu penyakit yang mengakibatkan terlalu banyak kadar gula dalam darah.  Glukogonoma yaitu tumor yang ada pada pankreas yang menghasilakn kelebihan hormon glukagon. Kondisi neurologis  Multipel sklerosis yaitu gangguan pada syaraf otak, mata, tulang belakang.  Europati otonom yaitu kondisi yang muncul akibat kerusakan pada sistem saraf involunter.  Penyakit Parkinson yaitu gangguan atau kelainan yang terjadi pada sistem saraf  Cedera spinal yaitu cidera kepala Kondisi psikogenik  Gangguan afektif yaitu gangguan ringan atau depresi normal  Gangguan makan yaitu tidak berselera makan  Demensia atau kesulitan mengingat 18 Metabolik       Kolon     Anal    Fisiologis   Obat- obatan (masing-   masin g menyebabkan pemajangan transit )       Hiperkalsemia yaitu keadaan dimana konsentrasi kalium darah yang tinggi. Uremia yaitu retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah. Hipokalemia yaitu kondisi dimana kadar kalium dalam peredaran darah dalam tubuh lebih rendah dari normal. Porfiria yaitu metozoa yang sederhana Amiloidosis yaitu kelainan turunan yang berefek pada hati, saraf, jantung, dan ginjal. Keracunan timbal Striktur Tumor yaitu benjolan tidak normal Iskemia yaitu kematian jaringan otak Penyakit divertikel Fisura Polip Tumor Kehamilan Usia lanjut Opiat Antikolinergik Antikonvulsan Antidepresan trisklik Antasida (yang mengandung aluminium dan kalsium) OAINS Zat besi Antihipertensi PATOFISIOLOGI Konstipasi fungsional berhubungan dengan kebiasaan menahan defekasi, kebiasaan manahan tinja yang berulang akan meregangkan rektu, dan kemudian kolon sigmoid yang menampung tinja berikutnya. Statis 19 tinja di kolon akan terus mengalami reabsorbsi air dan elektrolit yang menyebabkan proses pengeringan tinja yang berlebihan, membentuk skibala dan kegagalan untuk memulai reflek dari rektum, yang normalnya memicu evakuasi. Pengosogan rektum melalui evakuasi spontan tergantung pada reflek defekasi yang di cetuskan oleh reseptor otot-otot rektum. Seluruh proses akan berulang dengan sendirinya, tinja yang keras dan besar menjadi lebih sulit di keluarkan melalui kanal anus, menimbulkan rasa sakit dan kemudian menimbulkan retensi tinja selanjutnya. Dalam proses defekasi terjadi tekanan yang berlebihn dalam usus besar. Tekanan tinggi ini dapat memaksa bagian dari dinding usus besar (kolon) keluar dari sekitar otot membentuk kantong kecil yang disebut divertikula. Hemoroid juga bisa sebagai akibat dari tekanan yang berlebihan saat defekasi. Terdapat pengaruh makanan yang di konsumsi terhadap konstipasi, ketika serat cukup di konsumsi, kotoran/feses akan menjadi besar dan lunak karena serat-serat tumbuhan dapat menarik air, kemudian akan menstimulasi otot pencernaan dan akhirnya tekanan yang digunakan untuk pengeluaran feses menjadi berkurang. Ketika serat yang di konsumsi sedikit, kotoran akan menjadi kecil dan keras. Retensi tinja juga dapat disebabkan oleh lesi yang melibatkan otototot rektum, serabut-serabut aferen dan eferen dari tulang belakang bagian sakrum atau otot-otot perut dan dasar panggul. Kelainan pada relaksasi sfingter anus bisa juga menyebabkan retensi tinja. Pengisian rektum yang tidak sempurna terjadi bila peristaltik kolon tidak efektif, misalnya pada kasus-kasus hipotirodisme atau pemakaian opium, dan bila ada obstruksi besar yang disebabkan oleh kelainan struktur atau karena penyakit Hirschprung. 20 PATOFISIOLOGI KONSTIPASI 21 DAFTAR PUSTAKA Juffrie, Mohammad dkk. 2010. Buku Ajar Gastroenterologi-Hepatologi. Jakarta: Badan Penerbit IDAI. Emmanuel, Anton Dan Stephen Inns. Lecture Notes: Gastroenterologi Dan Hepatologi. Jakarta: Penerbit Erlangga. Primayani, Vio A. 2013. Patofisiologi Konstipasi https://Id.Scribd.Com/Document/131793532/PatofisiologiKonstipa si. Di Akses Pada 22 Maret 2020 Pukul 13.30. 22 PENYEBAB KONSTIPASI PENYEBAB SECARA UMUM Konstipasi atau disebut juga sembelit adalah tertahannya tinja (feses) di dalam usus besar dalam waktu yang cukup lama karena sulit untuk dikeluarkan. Biasanya disebabkan oleh tidak adanya gerakan peristaltik pada usus besar yang mendorong terjadinya ketidak-teraturan buang air besar serta menimbulkan perut terasa tidak nyaman (Indah & Rohmania, 2017). Pada umumnya, konstipasi lebih sering terjadi pada wanita disbanding pria. Faktor risiko untuk konstipasi adalah kurangnya aktivitas fisik, kurangnya perhatian diri terhadap gejala konstipasi pada permulaan penyakit, rendahnya konsumsi gandum, sayuran, buah-buahan, beras, dan kalori. Selain itu, konstipasi juga dapat meningkat karena pengolahan makanan cepat saji dengan serat yang cenderung rendah. Sedangkan dalam hal psikologis, konstipasi dapat disebabkan karena depresi, gangguan fisiologis, dan kecemasan (Kasus, 2014). Konstipasi juga dapat dihubungkan dengan kekurangan cairan dan kekurangan aktifitas fisik. Selain itu, penyebabnya juga dapat disebabkan oleh obat-obatan. Di negara barat, konstipasi lebih dominan terjadi pada orang non kulit putih daripada kulit putih. Kehamilan juga merupakan salah satu faktor penyebab sistemik terjadinya konstipasi (Sembiring, 2017). 23 Penyebab konstipasi fungsional masih belum jelas. Diduga ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya konstipasi fungsional seperti faktor herediter, faktor psikologis, gangguan hormon, dan gangguan pola bakteri di usus. Faktor risiko asupan serat yang rendah merupakan penyebab tersering konstipasi karena asupan serat yang rendah dapat menyebabkan masa feses berkurang sehingga sulit dibuang (Mulyani, 2019). PENYEBAB KONSTIPASI PADA WANITA HAMIL Menurut (Ana, 2010), pada usia kehamilan trimester I dan III akan mengalami kesulitan buang air besar yang disebabkan oleh tingginya tingkat hormon yang ada dalam tubuh ibu hamil sehingga memperlambat kerja otot pada usus halus. Masalah konstipasi ini disinyalir akibat menurunnya peristaltik yang muncul karena relaksasi otot polos saat terjadi peningkatan progesterone pada usus besar. Selain itu, konstipasi juga dapat disebabkan oleh pembesaran uterus yang mengakibatkan terjadinya pergeseran dan tekanan pada usus. Kondisi tersebut berdampak pada saluran gastro intestinal, yaitu penurunan motilitas (Verney, dkk 2007). Diperkirakan 11-38% wanita hamil pernah mengalami konstipasi. Keluhan yang paling umum adalah mengedan terlalu kuat, tinja yang keras, dan rasa pengeluaran tinja yang tidak komplit. Resiko konstipasi pada wanita hamil semakin besar jika sudah mempunyai riwayat konstipasi sebelumnya dan riwayat konsumsi suplemen besi. Prevalensi konstipasi hampir sama antara trimester pertama, kedua dan ketiga selama kehamilan (Sembiring, 2017). Penyebab konstipasi pada ibu hamil diantaranya karena asupan cairan yang tidak adekuat, suplemen zat besi, peningkatan hormon progesterone, kebiasaan defekasi yang buruk, diet serat tidak cukup, dan jarang berolahraga. Menurut Bradley, C. S 2007, menemukan 24% wanita hamil trimester pertama penderita konstipasi, 26% mengalami konstipasi selama trimester kedua, dan 26% mengalami konstipasi pada trimester ketiga (Mu’alimah, 2019). Pada masa kehamilan, peningkatan hormon progesteron menyebabkan relaksasi otot-otot usus sehingga menurunkan motilitas usus. Selama kehamilan, tubuh cenderung menahan cairan dan absorbsi cairan di usus meningkat sehingga masa feses cenderung kering 24 dan keras yang memudahkan terjadinya konstipasi. Uterus yang makin membesar seiring perkembangan janin juga memberi tekanan usus besar sehingga evakuasi feses terhambat (Kunci & Konstipasi, 2019). PENYEBAB KONSTIPASI PADA ANAK DAN BAYI Pada pasien anak, kelainan organik sebagai konstipasi jarang terjadi. Walaupun demikian, tetap harus dipertimbangkan sebagai suatu kelainan yang mendasari kejadian konstipasi. Beberapa kelainan organik yang sering dilaporkan sebagai penyebab konstipasi pada anak antara lain kelainan neurologis (Penyakit Parkinson, multiple sclerosis, spinal cord lesions, distrofia muscular, neuropati), endokrin (hipotiroid, diabetes), psikologis (depresi, kesulitan makan), obat-obatan (narkotik, antikolinergik, antipsikosis, calcium channel blockers, anti-parkinson, antikonvulsan, tricyclic antidepressants, besi, calcium, aluminium antacid, sucralfate) dan metabolic (hiperkalsemia, hipokalemia). Selain itu, gangguan pada kolon dan dasar pelvis seperti kelainan struktur dan obstruksi juga perlu dipertimbangkan (Endyarni & Syarif, 2016). Konstipasi ditemukan pada 3% anak usia prasekolah dan 1- 2% anak usia sekolah. Semasa usia prasekolah, angka kejadian konstipasi pada anak perempuan dan laki-laki seimbang. Namun pada usia sekolah, konstipasi lebih sering ditemukan pada anak laki-laki (Endyarni & Syarif, 2016). Faktor penyebab konstipasi pada bayi adalah pengetahuan, pendidikan, pekerjaan, dan informasi. Pemberian makanan pada bayi yang tidak sesuai dengan usia bayi dapat mengakibatkan perut bayi sulit mencerna makanan yang diberikan. Dampak dari pemberian makanan tersebut adalah dapat menyebabkan bayi mengalami konstipasi (Konstipasi et al., 2008). PENYEBAB KONSTIPASI PADA LANSIA Konstipasi juga dapat terjadi pada lansia. Beberapa penyebabnya diantaranya adalah kurangnya asupan serat, kurangnya asupan cairan, pengaruh obat yang dikonsumsi, pengaruh dari penyakit yang diderita, dan kurangnya aktifitas fisik (Brown, 2011). Menurut Pratiwi, et al. (2013), sebagian besar lansia di Indonesia menghabiskan waktunya dengan melakukan kegiatan ringan seperti menonton TV dan bersantai dengan 25 keluarga. Sebagian lainnya melakukan aktivitas yang bersifat sedang seperti membersihkan rumah, pergi ke pasar, mengikuti perkumpulan lansia, dan sebagainya. Akan tetapi, hanya sekitar 10% dari total lansia di Indonesia yang masih aktif dan rutin melakukan olahraga untuk menjaga kebugaran tubuh. Sedangkan beberapa lainnya hanya pernah melakukan sekali atau dua kali dalam sebulan, itupun karena ada kegiatan tertentu seperti acara jalan sehat (Kartika Sari & Wirjatmadi, 2017). Penyebab konstipasi pada lansia bukan hanya dari penurunan fungsi organ tubuh seperti sistem gastrointestinal, tetapi dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain diet rendah serat, kurang minum, kebiasaan buang air besar yang tidak teratur, kurang olahraga, dan penggunaan obat-obatan. Selain itu, konstipasi juga dapat disebabkan oleh asupan serat, asupan cairan, aktivitas fisik, stress, konsumsi kopi, konsumsi minuman probiotik, dan posisi saat buang air besar. Asupan serat yang kurang dapat menimbulkan konstipasi. Semakin tercukupi asupan serat, maka frekuensi defekasi semakin normal yaitu diatas 3 kali dalam seminggu. Tetapi sebaliknya. Jika tidak tercukupi asupan serat, maka frekuensi defekasi akan semakin berkurang. Hasil riset Puslitbang Gizi Depkes RI tahun 2001, rata-rata asupan serat masyarakat Indonesia hanya 10,5 gram per hari. Hal itu menunjukkan bahwa asupan serat masyarakat Indonesia hanya sekitar 1/3 dari kebutuhan total (Masyarakat, 2016). 26 DAFTAR PUSTAKA Brown, J. E., Isaacs, J.S., Krinke, U.B., Lechtenberg, E., Murtaugh, M.A., Sharbaugh, C., Splett, P.L., Stang, J., Wooldridge, N.H.(2011). Nutrition Through the Life Cycle. 4th edition. USA: Wadsworth Cengage Learning Endyarni, B., & Syarif, B. H. (2016). Konstipasi Fungsional. Sari Pediatri, 6(2), 75. https://doi.org/10.14238/sp6.2.2004.75-80 Indah, S., & Rohmania, anis zuni. (2017). pengaruh konsumsi buah pisang raja, minum air mineral dan jalan pagi terhadap kejadian konstipasi pada ibu hamil trimester III di BPS Sunarsih Yudhawati. 5, 13–17. file:///C:/Users/LRNOVO/Downloads/848-2944-1-PB (1).pdf Kartika Sari, A. D., & Wirjatmadi, B. (2017). Hubungan Aktivitas Fisik Dengan Kejadian Konstipasi Pada Lansia Di Kota Madiun. Media Gizi Indonesia, 11(1), 40. https://doi.org/10.20473/mgi.v11i1.40-47 Kasus, L. (2014). Chronic Constipation With Hemorrhoid At Single Man. J Medula Unila, 3(September), 46–55. Konstipasi, K., Bayi, P., & Bulan, U. (2008). 73 Hubungan Antara Pemilihan Bahan Makanan Dengan Kejadian Konstipasi Pada Bayi Usia 6 – 12 Bulan Siti Saidah 1. Kunci, K., & Konstipasi, P. (2019). Analisis Penyebab Konstipasi Pada Ibu Hamil Di Wilayah Kerja Puskesmas Payung Sekaki Pekanbaru. Masyarakat, J. K. (2016). Hubungan Asupan Serat, Lemak, Dan Posisi Buang Air Besar Dengan Kejadian Konstipasi Pada Lansi. Jurnal Kesehatan Masyarakat (e-Journal), 3(3), 257–265. Mu’alimah, M. (2019). Hubungan Antara Asupan Cairan Dan Konsumsi Tabletfe Dengan Kejadian Konstipasi Pada Ibu Hamil Trimester Iii Di Puskesmas Tanjunganom Kabupaten Nganjuk Tahun 2018. JHESTECH (Journal Of Health Educational Science And Technology), 2(1), 25. https://doi.org/10.25139/htc.v2i1.1502 Mulyani, N. S. (2019). Asupan Serat Dan Air Sebagai Faktor Risiko Konstipasi Di Kota Banda Aceh. Majalah Kesehatan Masyarakat Aceh (MaKMA), 2(1), 75. https://doi.org/10.32672/makma.v2i1.884 Sembiring, L. P. (2017). Konstipasi pada Kehamilan. Jurnal Ilmu Kedokteran, 9(1), 7. https://doi.org/10.26891/jik.v9i1.2015.7-10. 27 28 TANDA DAN GEJALA KONSTIPASI M enurut Akmal, dkk (2010), ada beberapa tanda dan gejala yang umum ditemukan pada sebagian besar atau terkadang beberapa penderita konstipasi sebagai berikut: a. Perut terasa begah, penuh dan kaku. b. Tubuh tidak fit, terasa tidak nyaman, lesu, cepat lelah sehingga malas mengerjakan sesuatu bahkan terkadang sering mengantuk. c. Sering berdebar-debar sehingga memicu untuk cepat emosi, mengakibatkan stress, rentan sakit kepala bahkan demam d. Aktivitas sehari-hari terganggu karena menjadi kurang percaya diri, tidak bersemangat, tubuh terasa terbebani, memicu penurunan kualitas, dan produktivitas kerja. e. Feses lebih keras, panas, berwarna lebih gelap, dan lebih sedikit daripada biasanya. f. Feses sulit dikeluarkan atau dibuang ketika air besar, pada saat bersamaan tubuh berkeringat dingin, dan terkadang harus mengejan atupun menekan-nekan perut terlebih dahulu supaya dapat mengeluarkan dan membuang feses (bahkan sampai mengalami ambeien/wasir). g. Bagian anus atau dubur terasa penuh, tidak plong, dan bagai terganjal sesuatu disertai rasa sakit akibat bergesekan dengan feses 29 h. i. j. yang kering dan keras atau karena mengalami wasir sehingga pada saat duduk tersa tidak nyaman. Lebih sering buang angin yang berbau lebih busuk daripada biasanya. Usus kurang elastis (biasanya karena mengalami kehamilan atau usia lanjut), ada bunyi saat air diserap usus, terasa seperti ada yang mengganjal, dan gerakannya lebih lambat daripada biasanya. Terjadi penurunan frekuensi buang air besar. Adapun untuk sembelit kronis (obstipasi), gejalanya tidak terlalu berbeda hanya sedikit lebih parah, diantaranya: (Salindri, 2018) a. Perut terlihat seperti sedang hamil dan terasa sangat mulas. b. Feses sangat keras dan berbentuk bulat-bulat kecil. c. Frekuensi buang air besar dapat mencapai berminggu-minggu. d. Tubuh sering terasa panas, lemas, dan berat. e. Percaya diri turun dan terkadang ingin menyendiri. f. Tetap merasa lapar, tetapi ketika makan akan lebih cepat kenyang (apalagi ketika hamil perut akan tersa mulas) karena ruang dalam perut berkurang dan mengalami mual bahkan muntah. TANDA GEJALA KONSTIPASI PADA ANAK Gejala utama konstipasi adalah kesulitan buang air besar dengan frekuensi yang lebih jarang dari biasanya. Secara umum berikut sejumlah ciri-ciri konstipasi pada anak : (Endyarni & Syarif, 2016) 1. Tidak BAB selama beberapa hari Tidak BAB bisa juga di sebabkan karena anak mungkin mengabaikan keinginan untuk BAB karena asyik bermain atau takut pergi ke toilet. Ketika jauh dari rumah, sebagian anak mungkin akan menahan BAB karena merasa tidak nyaman menggunakan toilet umum. Pergerakan usus menyakitkan disebabkan oleh feses besar dan keras dapat menyebabkan menunda BAB. Jika sakit saat BAB, anak mungkin merasa enggan untuk pergi ke toilet. 2. Feses keras menyebabkan bab menyakitkan Feses yang keras bisa karena fisura ani yang umumnya timbul karena dipicu oleh tinja berukuran besar dan keras ketika anak buang air besar (BAB). Tinja tersebut mengikis dinding anus yang menyebabkan rasa sakit, perdarahan, ketengan pada otot yang 30 3. 4. 5. berfungsi membuka dan menutup lubang anus (otot sfingter ani). Bisa juga di sebabkan karena tidak cukup serat dan sayuran atau cairan. Salah satu penyebab konstipasi pada anak sering terjadi adalah ketika anak beralih dari makanan serba cair ke makanan padat seiring bertambahnya usia. Ketika anak kekurangan serat itu akan menyebabkan feses mengeras karena kurangnya asupan cairan. (Jannah et al., 2017) Demam Demam bisa terjadi karena kurangnya asupan cairan dan kurangnya konsumsi serat. Banyak mengkonsumsi buah-buahan, sayuran, sereal berserat tinggi, roti gandum (minimal 3-5 gram serat per porsi), dan berbagai kacang-kacangan. Selain itu, makanan yang mengandung probiotik seperti yogurt, juga dapat meningkatkan kesehatan pencernaan yang baik. Perlu dicatat, jika anak banyak makan-makanan kaya serat tetapi tidak mendapat cukup cairan, anak harus minum banyak air sepanjang hari, bersama dengan beberapa gelas susu, dan batasi minuman manis. Perut kembung Perut kambung adalah kondisi ketika gas atau udara menumpuk di saluran pencernaan. Perut kembung dapat membuat anak sulit istirahat dan malas makan. Meski umum terjadi dan dapat sembuh sendiri, kondisi ini tidak bisa diabaikan, karena bisa saja menandakan penyakit yang berbahaya misalnya konstipasi. Perut kembung bisa disebabkan karena menelan udara terlalu banyak ketika sedang makan. Hal ini bisa terjadi pada anak-anak yang makan sambil bermain, menonton televisi, atau berlari di ruangan, mengunyah makan terlalu cepat, menkonsumsi makanan yang dapat memicu produksi gas dalam perut , seperti kubis, lobak, brokoli, kembang kol, bawang dan kacang-kacangan. Mengalami penyakit tertentu, seperti konstipasi, sumbatan pada usus. Penurunan berat badan Karena konstipasi menyebabkan rasa yang tidak nyaman di perut. Itu akan membuat anak untuk susah makan. Jika anak sudah susah makan maka penurunan berat badan akan terjadi. Maka dari itu orang tua mau tidak mau harus memaksakan anaknya untuk makan-makanan yang bergizi untuk penyembuhan konstipasi anak. 31 6. 7. 8. 9. 32 Konstipasi sendiri bisa di sebabkan kurangnya mengkonsumsi serat dan kebiasaan minum air yang sedikit. Nyeri perut ( seperti sakit perut, kram dan mual ) Nyeri perut bisa di karenakan alergi pada suatu makanan atua alergi pada susu sapi (Panduan Awal Seputar Alergi Susu Sapi) merupakan reaksi sisitem pertahanan tubuh terhadap faktor (fraksi protein) yang terkandung dalam susu. Alergi susu sapi berbeda dengan intoleransi laktosa. Intoleransi laktosa adalah reaksi nonalergi yang disebabkan oleh kurangnya lactase (enzim yang bertugas mencerna laktosa, suatu jenis gula di dalam susu). Hal ini yang menimbulkan konstipasi pada anak yang menimbulkan mual, nyeri dan kram pada anak. Nafsu makan anak yang memburuk Nasu makan yang buruk menyebabkan pergerakan usus tidak teratur atau adanya konstipasi pada anak bisa menyebabkan hilangnya nafsu makan. Anda tentu merasa tak nyaman bila tidak bisa buang air besar (BAB) selama 2-3 hari berturut-turut. Hal yang sama juga akan dirasakan oleh anak saat ia mengalami sembelit. Perut anak tentunya tidak terasa enak, sehingga menyebabkan nafsu makan pun berkurang. Kabar baiknya, nafsu makan anak akan kembali secara perlahan ketika kondisi ini teratasi. Pendarahan pada dubur akibat luka (fisura) Fisura adalah kondisi luka terbuka atau robekan ada jaringan kulit dan mukosa yang emalpisi saluran anus serta lubang anus. Saluran anus merupakan bagian paling akhir dari susu besar, terletak di antara tempat penyimpanan tinja (rectum) dan lubang tempat keluarnya kotoran (anus) . fisura ani umunya timbul karena dipicu oleh tinja berukuran besar dan keras ketika anak buang air besar (BAB). Tinja tersebut mengikis dinding anus yang menyebabkan rasa sakit, perdarahan, ketengan pada otot yang berfungsi membuka dan menutup lubang anus (otot sfingter ani). Bagian usus yang keluar dari anus (prolaps rektum) Prolaps rectum adalah kondisi dimana adanya dinding rectum keluar dari anus. ketika tidak ditangani, kondisi ini dapat mengakibatkan buang air besar tidak terkontrol secara permanen. 10. 11. 12. Rectum ada di bagian bawah saluran pencernaan. Letaknya berada di ujung usus besar dan sebelum lubang anus. Bagian rectum terhubung langsung dengan kolon sigmoid, bagian terakhir dari usus besar. Panjang rectum dapat mencapai 10-15 cm dengan diameter sama dengan kolon sigmoid. Namun, bagian yang terdekat dengan anus berukuran lebih besar, dan merupakan bagian dari lingkarang rectum. Rectum berperan sebagai tempat penyimpanan feses sementara. Sebagai bagian dari proses pembuangan kotoran yang biasanya tercampur dengan air agar mudah dibuang, bergerak dari usus besar sampai ke rectum, sebelum akhirnya keluar melalui anus. Dalam dinding rectum, ada beberapa saraf sensitive dengan pembesaran dinding rectum. Saat kotoran memenuhi dinding rektum, saraf akan mengirim signyal yang memberikan sensai agar kotoran segera dibuang. Namun, ketika tubuh atau anak menunda prosesnya, kotoran akan bergerak kembali ke usus, dan kandungan air akan diserap kembali. Makin lama kotoran tertahan di dalam usus, semakin besar kemungkinan terjadi konstipasi. Tinja atau kentut berbau busuk Saat anak mengalami konstipasi, feses yang seharusnya dikeluarkan justru akan tetap bertahan di usus besar. Kondisi tersebut bisa membuat bakteri penyebab bau busuk berkembang degan mudah sehingga kentut yang di keluarkan memiliki aroma tak sedap. Lemas Konstipasi pada bayi juga sering dialami dengan gejala yang mirip pada orang dewasa. Tetapi ada beberapa gejala konstipasi lain yang mungkin akan dialami oleh anak-anak dan bayi, seperti sering mengeluarkan bercak-bercak di celana karena tinja menumpul di rectum, tinja uang menumpuk di rectum, tinja atau kentut berbau busuk, serta cenderung terlihat lemas, rewel atau murung. (Bandura et al., 2008) Rewel atau murung Konstipasi pada bayi juga sering dialami dengan gejala yang mirip pada orang dewasa. Tetapi ada beberapa gejala konstipasi lain yang mungkin akan dialami oleh anak-anak dan bayi, seperti sering mengeluarkan bercak-bercak di celana karena tinja menumpuk di 33 rectum, tinja yang menumpuk d rectum, tinja atau kentut berbau busuk, serta cenderung terlihat lemas, rewel atau murung. GEJALA DAN TANDA KLINIS KONSTIPASI KRONIS 1. Nyeri Nyeri pada perut dan rectum, serta enkoporesis merupakan komplikasi primer pada konstipasi pada anak. Akibat dilatasi kolon distal dapat meningkatkan kolonisasi bakteri sehigga berperan dalam meningkatkan frekuensi infeksi saluran kemih dan obstruksi ureter kiri. Dilatasi kolon distal juga dapat menyebabkan kurangnya tonus kolon yang dapat menimbulkan invaginasi, sehingga biasa bermanifestasi menjadi prolaps rekti setelah defekasi. Prolaps kolon ringan yang berlangsung lama dapat meciptakan suatu ulkus sistemik pada dinding mukosa rectum (ulkus soliter). 2. Distensi abdomen Distensi abdomen adalah istilah medis yang menggambarkan kejadian yang terjadi ketika ada zat (gas atau cairan) menumpuk di dalam perut atau pinggang menggembung melebihi normal. Kejadian ini biasanya merupakan gejala dari suatu penyakit atau adanya pengurangan fungsi anggota tubuh. Misalnya pada konstipasi kronis, orang yang mengalami kondisi ini sering menggambarkan sebagai “merasa kembung”. Penderita sering mengalami sensasi kenyang, tekanan perut dan mungkin mual, rasa sakit, atau kram. (Sma et al., 2018) 3. Tinja keras atau tinja yang sangat besar yang mungkin menyumbat Feses yang keras bisa karena fisura ani yang umumnya timbul karena dipicu oleh tinja berukuran besar dan keras ketika anak buang air besar (BAB). Tinja tersebut mengikis dinding anus yang menyebabkan rasa sakit, perdarahan, ketegangan pada otot yang berfungsi membuka dan menutup lubang anus (otot sfingter ani). Bisa juga di sebabkan karena tidak cukup serat dan sayuran atau cairan. Salah satu penyebab konstipasi pada anak sering terjadi adalah ketika anak beralih dari makanan serba cair ke makanan padat seiring bertambahnya usia. Ketika anak kekurangan serat itu akan menyebabkan feses mengeras karena kurangnya asupan cairan. 34 4. 5. 6. Anoreksia Keluhan mengenai berkurangnya frekuensi defekasi pada anak dengan atau tanpa disertai dengan gejala akibat retensi feses seperti nyeri dan distensi perut, yang sering hilang setelah defekasi. Juga terdapat keluhan riwayat feses yang keras atau feses yang sangat besar yang memungkinkan menyumbat. Anak yang mengalami konstipasi biasanya mengalami anoreksia dan kurangnya kenaikan berat badan, yang akan membaik jika konstipasi diobati. Masa abdomen teraba di daerah kiri dan kanan bawah dan daerah supra pubis Pada pemeriksaan fisik akan dijumpai keadaan perut yang distensi, dengan bising usus yang normal, meningkat atau berkurang, teraba massa perut pada perabaan perut sebelah kanan ataupun kiri bawah dan di daerah supra pubis. Biasanya terdapat distensi rectum dan ampula. Pada kasus erat, massa dapat teraba hingga epigastrum. (Ruang et al., 2014) Fissure ani serta ampularekti yang besar dan lebar Konstipasi atau pengerasan tinja merupakan penyebab umum fisura ani. Tinja yang keras dan besar dapat keluar dan menyobek saluran anus. 35 DAFTAR PUSTAKA Mohammad, Juffri, S Sri Supar yati soenarto, Hanifah Oeswari, Sjam Arief, Ina, Rosalina, 2010, Buku ajar gastroenterology-hepatologi etjk kota Jakarta halaman 204-205. ASKEP_Konstipasi_Sistem_Pencernaan (1). (n.d.). Bandura, A., Barbaranelli, C., Caprara, G. V, & Pastorelli, C. (2008). Sembelit Atau Konstipasi Pada Anak. Child Development, 72(1), 187– 206. https://doi.org/10.1007/s13398-014-0173-7.2 Endyarni, B., & Syarif, B. H. (2016). Konstipasi Fungsional. Sari Pediatri, 6(2), 75. https://doi.org/10.14238/sp6.2.2004.75-80 Jannah, I. N., Mustika, A., & Puruhito, E. F. (2017). Prevalence of constipation in women aged 18-25 years old. Journal of Vocational Health Studies, 01(02), 58–62. Ruang, D. I., Rsud, B., & Kartini, R. A. (2014). Resiko Konstipasi. 16–21. Salindri, A. (2018). BAB II Tinjauan Pustaka Anemia. Universitas Pasundan, 11–29. http://repository.unpas.ac.id/37105/1/BAB II.pdf Sma, D. I., Semarang, K., Claudina, I., P, D. R., & Kartini, A. (2018). Hubungan Asupan Serat Makanan Dan Cairan Dengan Kejadian Konstipasi Fungsional Pada Remaja Di Sma Kesatrian 1 Semarang. Jurnal Kesehatan Masyarakat (e-Journal), 6(1), 486–495. 36 PENCEGAHAN KONSTIPASI K onstipasi merupakan masalah kesehatan yang umum dialami manusia dan berpengaruh terhadap kesejahteraan dan kualitas hidup seseorang dalam praktik klinis. Hal ini ditunjukan dengan seperlima populasi mengalami sembelit kronis. 26% wanita berusia 65 tahun atau lebih dan pria 16% pria menganggap dirinya menderita sembelit (Baran&Ates,2019), dan 26%-34% pada usia 84 tahun keatas. Prevelensi konstipasi meningkat signifikan seiring dengan bertambahnya usia yakni mencapai 50%, angka ini mencapai 74% pada pasien yang berada di nursing home dan 2/3 dari penderita konstipasi terseut adalah wanita usia >60 tahun (Okuyan&Bilgili,2019). Konstipasi dipengaruhi oleh diet rendah serat,efek samping medikasi, kelainan neurologis, kurang beraktivitas atau kurang olahraga (McClurg et al.,2017). Konstipasi dapat juga terjadi karena perubahan pola latihan/olahraga, perubahan medikasi, tindakan bedah, proses penyakit (Turan&Asti,2016). Gejala Konstipasi antara lain scyballum (massa feses keras), nyeri abdomen, nyeri rectal, peningkatan bising usus, adanya tekanan pada rectum, penurunan nafsu makan, sakit kepala, fatique, prolaps rectal dan hemoroid. Konstipasi berdampak signifikan pada kualitas hidup, mulai dari sakit kepala, fatigue hingga rasa kembung, penurunan nafsu makan, mual,muntah, disfungsi kandung kemih. (Okuyan & Bilgili, 2019; Turan & 37 Asti, 2016). Berdasarkan patofisiologis, konstipasi dapat diklasifikasikan menjadi konstipasi akibat kelainan struktural dan konstipasi fungsional. Konstipasi yang dikeluhkan oleh sebagian besar pasien umumnya konstipasi fungsional yang dihubungkan dengan adanya gangguan motilitas kolon atau anorektal. Konstipasi kronis yaitu konstipasi yang telah berlangsung lebih dari 4 minggu. Dalam menentukan adanya konstipasi terdapat 3 aspek yang perlu diperhatikan, yaitu frekuensi buang air besar, konsistensi tinja, dan temuan pada pemeriksaan fisik. Para ahli gastroenterologi di Eropa dan Amerika telah membuat satu kriteria untuk yang menentukan adanya konstipasi fungsional, yang dikenal dengan kriteria Roma. Pada dasarnya, terapi konstipasi terdiri dari dua fase, yaitu fase pengeluaran masa tinja dan fase pemeliharaan. Catatan harian tentang defekasi, latihan defekasi (toilet training), makan makanan berserat, terapi laksatif, serta pendekatan secara psikiatri/psikologi merupakan upaya yang perlu dilaksanakan untuk memperoleh hasil yang optimal. Konstipasi juga diartikan sebagai perubahan frekuensi defekasi, volume, dan konsistensi feses. Konstipasi bukan penyakit, melainkan gejala penurunan frekuensi defekasi (>3 hari sekali atau <2 kali seminggu) yang diikuti dengan pengeluaran feses yang lama dengan konsistensi keras dan kering. Penyebab utama terjadinya konstipasi adalah kurangnya aktivitas fisik, konsumsi makanan berserat dan asupan cairan (Arnaud, 2003). Gerak tubuh yang kurang, baik disengaja maupun tidak disengaja menyebabkan penurunan peristaltic usus sebagai pemicu terjadinya konstipasi (Harrington dan Haskvitz,2006). Konstipasi terjadi akibat penurunan motilitas kolon sehingga memperpanjang waktu transit feses di kolon dan berakibat kandungan air tetap terus diabsorpsi dari massa feses sehingga menjadi kering, keras, dan sukar dikeluarkan dalam proses defekasi. Kejadian konstipasi diakibatkan oleh kurang atau tidak adanya konstraksi propagasi dengan amplitudo besar High Amplitudo Propagated Contaction (HAPCs) di kolon. Kontraksi ini akan memperpendek waktu feses transit di kolon sehingga penyerapan air berkurang dan terjadi konstipasi.sebagian besar (90%) - (95%). Konstipasi pada anak merupakan konstipasi fungsional, hanya (5% - 10%) yang mempunyai penyebab organik. 38 Konstipasi merupakan keadaan yang sering ditemukan pada anak dan dapat menimbulkan masalah sosial maupun psikologis. Konstipasi ditemukan pada 3% anak usia prasekolah dan 1-2% anak usia sekolah. Semasa usia prasekolah,angka kejadian konstipasi pada anak perempuan dan laki-laki seimbang. Namun pada usia sekolah, konstipasi lebih sering ditemukan pada anak laki-laki. Dari seluruh kasus anak yang dirujuk dengan konstipasi, 95% kasus merupakan konstipasi fungsional. Pada orang dewasa normal, defekasi terjadi tiga kali per hari sampai tiga kali per minggu. Frekuensi pada anak bervariasi menurut umur. Bayi yang minum ASI pada awalnya lebih sering defekasi dibandingkan bayi yang minum formula.namun mendekati usia 4 bulan, apapun susu yang di minumnya, rata – rata buang air besar adalah dua kali perhari. Pada usia 2 tahun frekuensi defekasi menurun menjadi dua kali per hari. Kondisi imobilisasi menyebabkan latihan fisik sulit untuk dilakukan, sehingga perlu dilakukan hal lain untuk menstimulasi kontraksi intestinal untuk mencegah terjadinya konstipasi (Lemone dan Burke,2011). Berikut ada beberapa cara dalam proses pencegahan konstipasi diantaranya: 1. Terapi air (Volume minimal 500 ml) Air putih merupakan pilihan yang cocok untuk mengisi volume lambung karena derajat fluiditas kimus di lambung mempengaruhi pengosongan lambung. Selain itu air putih sudah berbentuk cair merata tanpa harus dicerna lagi sebelum disalurkan ke duodenum (Sherwood,2011). Air secara kimiawi tidak mempengaruhi sekresi hormon oleh kelenjar endokrin disaluran pencernaan (Corvin,2009). Terapi air adalah system penyembuhan alami, menggunakan kebutuhan tubuh terhadap air, dan respons tubuh secara fisiologis terhadap air untuk mencegah, mengoreksi, dan meningkatkan rentang sehat manusia. Dengan minum 500 ml air putih Lower Maximum Volume (LMV) yaitu volume minimal yang dimasukkan ke dalam lambung yang mampu menyebabkan gerakan peristaltik pada lambung (Lunding et al.,2011), maka rangsangan dari regangan lambung ini melalui saraf otonom ekstrinsik menjadi pemicu utama gerakan masa di kolon melalui reflex gastrokolik. Reflex gastrokolik mampu menstimulasi otot polos kolon sehingga meningkatkan motilitas kolon dan mencegah terjadinya konstipasi (Bassoti & Villanaci,2006). 39 2. Asupan Serat Makanan Serat memiliki kemampuan mengikat air didalam usus besar yang membuat volume feses menjadi lebih besar dan merangsang syaraf rectum sehingga menimbulkan rasa ingin defekasi. Asupan serat yang rendah dapat menyebabkan masa feses berkurang dan sulit untuk buang air besar. Hal ini lah yang disebut dengan konstipasi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah konstipasi adalah dengan mengkonsumsi serat sesuai dengan kebutuhan. Sayur dan buah merupakan sumber serat pangan yang mudah ditemukan dalam makanan. Asupan serat makanan yang memenuhi kecukupan asupan serat perhari dapat mengurangi resiko konstipasi fungsional. Konstipasi fungsional berhubungan dengan gangguan motilitas kolon atau anorektal dan dikenal sebagai konstipasi idiopatik atau adanya tahanan feses, dimana konstipasi fungsional ini umumnya dengan perubahan kebiasaan diet dan kurangnya mengonsumsi makanan yang mengandung serat. 3. Teknik Swedish Massage dan Teknik Effleurage Terapi komplementer yang dapat digunakan untuk mencegah konstipasi yaitu dengan melakukan abdominal massage. Mekanisme kerja abdominal massage adalah menurunkan kontraksi dan tegangan pada otot abdomen, meningkatkan motilitas pada system pencernaan, meningkatkan sekresi pada system intestinal serta memberikan efek pada relaksasi sfingter sehingga mekanisme kerja tersebut akan mempermudah dan memperlancar pengeluaran feses (Sinclair,2010). Teknik abdominal massage yang sering digunakan adalah teknik Swedish massage. Teknik Swedish massages selama 15 menit terbukti efektif dalam pelaksanaan abdominal massage serta bermanfaat dalam mengatasi gangguan system gastrointestinal (Sinclair,2010). Teknik yang berbeda dilakukan oleh Lamas et al.(2010) yang menggunakan teknik effleurage selama 7 menit, dilakukan satu kali sehari selama 5 hari pada pasien yang mengalami konstipasi dan distensi abdomen. Hasil menunjukkan bahwa abdominal massage dengan teknik effleurage selama 7 menit terbukti efektif mengatasi konstipasi dan distensi abdomen. Perbedaan teknik abdominal massage antara teknik Swedish massage dan teknik effleurage terletak pada lamanya waktu yang dibutuhkan dan gerakan massage yang dilakukan. Teknik Swedish massage dengan 40 melakukan pemijatan dari ujung kaki hingga kepala, dengan posisi awal telungkup kemudian telentang, sedangkan teknik effleurage dengan cara pengusapan dengan telapak tangan. Kedua teknik abdominal massage tersebut mempunyai manfaat yang sama untuk mencegah konstipasi, namun demikian belum ada penelitian lanjutan yang menunjukkan teknik yang paling efektif diantara keduanya. 4. Massage Abdomen Massase abdomen dilakukan untuk merangsang peristaltik usus melalui kegiatan menepuk dan memberi pijatan lembut pada abdomen searah jarum jam (Turan&Asti,2016). Massase abdomen berefek meningkatkan fungsi pencernaan dengan baik, tidak seperti penggunaan laksatif yang disertai efek samping negatif. Massase abdomen mengurangi keparahan gejala gastrointestinal (konstipasi, nyeri abdomen, bowel movement). Abdominal massage yang diterapkan dalam pengelolaan sembelit pada orang tua adalah metode yang efektif karena tidak ada efek samping dari abdominal massage dan dapat meningkatkan kualitas hidup yang memainkan peran penting dalam asuhan keperawatan. Pemberian massase abdomen ini dapat menstimulkan aktivitas parasimpatis sehingga meningkatkan motilitas otot pencernaan, meningkatkan sekresi digestif dan merelaksasi spinkter saluran gastrointestinal. Tujuan dari manajemen pasien dengan sembelit tidak hanya untuk menghilangkan sembelit tetapi juga untuk membantu mengadopsi kebiasaan buang air besar yang sehat dan mencegah timbulnya kembali sembelit. 5. Ambulasi Dini Ambulasi dini adalah suatu pergerakan dan posisi untuk melakukan suatu aktivitas atau kegiatan ke tahap mobilisasi sebelumnya untuk mencegah komplikasi pasca bedah. Ambulasi dini yang merupakan pengembalian secara berangsur-angsur ke tahap mobilisasi sebelumnya untuk mencegah komplikasi. Ambulasi juga diartikan sebagai peningkatan dari pemberian bantuan dengan cara berjalan untuk mempertahankan fungsi tubuh selama pasien dirawat dan selama fase penyembuhan. Seperti ambulasi dini pada ibu postpartum, masa nifas (puerperium) dimulai setelah kelahiran placenta dan berakhir ketika alat- alat 41 kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil (Prawirohardjo,2005). Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6-8 minggu, untuk itu sangat diperlukan latihan-latihan ringan guna memfasilitasi penyembuhan otototot, terutama otot rahim yang telah meregang selama kehamilan. Asuhan pada ibu postpartum yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah konstipasi yaitu dengan cara menfasilitasi ibu untuk membicarakan masalah yang dihadapi pada ibu nifas dengan bersikap proaktif menanyakan pada ibu mengenai masalah yang terjadi termasuk biasanya kontrol defekasi. Hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi konstipasi adalah dengan sesegera mungkin melakukan mobilisasi dini setelah melahirkan Dengan latihan fisik sederhana secara bertahap dan terus-menerus akan mengantarkan ibu dalam proses pemulihan yang membantu memperoleh kembali kebugaran ibu secara sempurna. Setelah persalinan ibu postpartum harus menghadapi berbagai masalah. Salah satunya masalah pencernaan yang harus dihadapi adalah kesulitan buang air besar atau konstipasi (Saleha,2009). Karena terbaring yang terlalu lama mengakibatkan konstipasi (pola eliminasi), dan otot sangat lemah sehingga proses penyembuhan terganggu. Untuk membantu pencegahan adanya konstipasi saat pengeluaran BAB dapat dilakukan dengan ambulasi dini. 6. Mengonsumsi Minuman Probiotik Probiotik didefinisikan sebagai suatu mikroba yang berfungsi untuk menstimulasi pertumbuhan organism yang lain (World Gastroenterology Organisation, 2008). Probiotik dapat meningkatkan motilitas usus, hal ini berdampak pada waktu transit makanan di colon menjadi pendek sehingga mempermudah defekasi (Emmanuel,et al.,2009). Selain itu, mikroorganisme yang terkandung dalam probiotik berpotensi untuk merubah flora normal yang ada didalam system pencernaan sehingga dapat menjaga keseimbangan flora intestinal, dengan kondisi flora intestinal yang seimbang dapat mencegah terjadinya kostipasi (Oberoi, Agrawal, & Singh,2007; Weichselbaum,2009). Probiotik sangat bermanfaat untuk menjaga flora normal di dalam usus, sehingga dapat digunakan untuk mengatasi atau mencegah masalah pada system pencernaan, salah satunya adalah konstipasi. 42 DAFTAR PUSTAKA Arimbi, K. E., Sari, F., & Ayu, P. (2016). Perbandingan Abdominal Massage Dengan Teknik Swedihs Massage Dan Teknik Effeurage Terhadap Kejadian Konstipasi Pada Pasien Yang Terpasang Ventilasi Mekanik Di Icu. Jkp , 4, 3. Bernie, E., & Badriul, H. S. (2004). Sari Pediatri. Kostipasi Fungsional , 6, 2. Buku Ajar Gastroenterologi Hepatologi - Hepatologi. (2012). Jakarta : Ikatan Dokter Anak Indonesia 2010. Deni, Y., Dewi, I., & I, M. K. (2013). Konsumsi Air Putih Pagi Hari Terhadap Konstipasi Pada Pasien Imobilitas . Jurnal Ners , 8, 1. Fransisca, A. R., Elly, N., & Yusron, N. (N.D.). Dampak Minuman Probiotik Dalam Upaya Pencegahan Kostipasi Pada Pasien Infarc Myocard Di Rspad Gatot Soebroto Jakarta . Hasmi, Agung, W., & Usman, B. O. Indonesia Contemporary Nursing Joural. The Benefecial Effects Of Abdomial Massage On Constipasi And Quality Off Life: A Literatur Review , 4, 2. Intan, C., Dina, R. P., & Apoina, K. Hubungan Asupan Serat Makanan Dan Cairan Dengan Kejadian Konstipasi Fungsional Pada Remaja Di Sma Kesatria1 Semarang . (2018, Ed.) Jurnal Kesehatan Masyarakat (1). Rizki, L. K. (2017). Jurnal Ners Dan Kebidanan. Pengaruh Ambulasi Dini Terhadap Kejadian Konstipasi Pada Ibu Post Partum , 4, 2. 43 44 KOMPLIKASI KONSTIPASI T he North American Society of Pediatric Gastroenterology and Nutrition mendefinisikan konstipasi sebagai terhambatnya atau sulitnya defekasi yang dialami 2 minggu atau lebih, dan cukup untuk menyebabkan masalah yang signifikan pada pasien. Konstipasi dikatakan idiopatik (disebut juga fungsional) ketika tidak bisa dijelaskan adanya abnormalitas anatomi, fisiologi, radiologi atau histopatologi. Hal ini yang membedakannya dengan konstipasi sekunder akibat penyebab organik. Evaluasi awal konstipasi dilakukan berdasarkan riwayat dan pemeriksaan fisik. Abdomen dapat tampak seperti mengalami distensi, dan bising usus dapat berkurang. Jika terjadi sumbatan, pemeriksaan dapat menggunakan jari pada rectum akan mengungkapkan adanya masa fase yang terpalpasi keras atau seperti dempul. MANIFESTASI DAN KOMPLIKASI Manifestasi komplikasi mencangkup defekasi yang kurang sering dibanding pola normal, sering flatus, ketidaknyamanan abdomen, anoreksia, mengejan saan defekasi. Pada konstipasi signifikan atau ketergantungan jangka panjang terhadap laktasi atau enema, sumbatan feses dapat terjadi. Sumbatan dapat terjadi juga setelah pemberian barium untuk pemeriksaan radiologi. Sumbatan akan terasa keras seperti batu atau seperti dempul pada rektum. Kram abdomen dan sensasi penuh pada area rektal merupakan manifestasi konstipasi. 45 KOMPLIKASI DAN PROGNOSIS Tingginya proporsi kekambuhan telah dilaporkan setelah keberhasilan penatalaksanaan awal. Kekambuhan ini dilaporkan lebih sering pada laki-laki dibandingkan perempuan. Meskipun demikian, anak dengan konstipasi dibawah usia 5 tahun memiliki prognosis yang baik, dengan kostipasi dapat diatasi pada 88% anak pada kelompok usia ini. Konstipasi fungsional biasanya dapat diatasi dengan penatalaksanaan rutin walaupun kegagalan dilaporkan pada 20% anak. Anak yang tidak mengalami perbaikan datang dari keluarga dengan masalah psikososial, dimana diduga akibat menurunnya tingkat kepatuhan mengonsumsi obat. Prognosis sembuh total yang di definisikan sebagai tidak adanya inkontensia fekal dan konstipasi, telah dilaporkan sebanyak 45% pada follow up 5 tahun. Pada 50% anak umumnya dengan konstipasi kronik akan sembuh setelah 1 tahun dan 65% sampai 70% setelah 2 tahun, dengan angka keberhasilan lebih tinggi pada keluarga yang termotivasi dan patuh. Dua penelitian menunjukkan 34% sampai 47% kasus menetap 3-12 tahun setelah memulai pengobatan. Durasi konstipasi yang panjang sebelum didiagnosis berkaitan dengan hasil yang telah lebih buruk. Selain itu Onset gejala yang lebih awal pada tahun pertama, riwayat konstipasi pada keluarga berkaitan dengan prognosis. Diagnosis yang cepat dan penatalaksanaan yang efektif dapat memberikan hasil yang lebih baik. Jika konstipasi terus berlanjut maka beberapa komplikasi yang dapat terjadi adalah inkontinensia fekal dan urin, hemoroid, fisura anus, impakasi fekal, perdarahan rektum, infeksi saluran kemih, obstruksi atau perforasi usus, prolapse rektum. Meningkatnya tekanan intratoraks akibat usaha mengedan saat defekasi dapat mereduksi aliran arteri coroner, serebral serta parifer dan dapat menyebabkan terjadinya hernia, perburukan refluks gatroesofageal, serangan iskemik transien dan sinkop pada pasien lebih tua. KOMPLIKASI DARI KONSTIPASI  Hemoroid atau Wasir Pembengkakan dinding anus akibat pelebaran pembuluh darah yang biasanya disebabkan oleh proses mengejan yang terlalu lama. 46  Fisura Ani Mengejan terlalu lama dan tinja yang keras atau besar dapat mengakibatkan fisura atau robeknya kulit pada dinding anus.  Impaksi Fases Menumpuknya tinja yang keringdan kosntipasi yang berlarut-larut.  keras direktum akibat Ploraps Rektum Pada posisi ini, rektum pindah dari posisinya di dalam tubuh dan menonjol keluar dari anus akibat terlalu lama mengejan. 47 DAFTAR PUSTAKA Priscilla LeMone, Karen M. Burke, Gerene Bauldoff: alih bahasa, Bhetsy Angelina .[et al,]. 2016.Buku ajar keperawatan medical bedah: gangguan gastrointestinal Ed. 5. Jakarta: EGC Octavuani, Intan. 2014. Cronic Constipation With Hemorrhoid At Single Man Because Of Unhealthy Lifestyle. Diakses Pada Tanggal 15 Maret 2020. 48 PENATALAKSANAAN KONSTIPASI PRINSIP PENANGANAN KONSTIPASI (UTARA, N.D.): 1. Menentukan akumulasi feses (fecal impaction) Akumulasi feses ditentukan dengan dilakukannya pemeriksaan fisik atau pemeriksaan penunjang. 2. Evakuasi feses (fecal disimpaction) Evakuasi feses dapat dilakukan dengan menggunakan terapi per oral atau rektal, namun lebih disarankan per oral karena kurang invasive dan traumatik. 3. Pencegahan berulangnya akumulasi feses Tindakan yang dilakukan agar tidak terjadi pengulangan akumulasi feses yang nantinya menyebabkan feses yang keras, salah satu caranya yaitu dengan membiasakan buang air besar secara teratur dan jangan suka menahan buang air besar. Bisa juga dengan dilakukan terapi rumatan. 4. Menjaga pola defekasi menjadi teratur dengan terap rumatan oral Contoh obat rumatan yaitu :  Laktulosa (70%), dapat diberikan pada dosis 1-3 ml/kg/hari dalam 2× pemberian  Sorbitol (70%), dapat diberikan dengan dosis 1-3 ml/kg/hari juga dalan 2× pemberian  Mineral oil (paraffin liquid), dapat diberikan dengan dosis 1-3 49 ml/kgBB/hari tetapi tidak dianjurkan untuk anak-anak <1 tahun  Larutan Magnesium hidroksida (400mg/5 ml), diberikan 1-3 ml/kgBB/hari tetapi tidak untuk anak dengan gangguan ginjal, bila tidak ada respon bisa ditambah cisapride dengan dosis 0,2mg/kgBB/kali untuk 3-4×/hari selama 4-5 minggu Obat rumatan mungkin perlu beberapa bulan dan bila defekasi telah normal, terapi rumatan dapat dikurangi, kemudian dapat dihentikan. Terapi rumatan dilakukan dalam jangka waktu yang lebih lama yaitu beberapa bulan hingga tahun, untuk mencegah berulangnya konstipasi. Prinsip yang terpenting adalah menciptakan pola defekasi yang teratur dengan berbagai cara, antara lain :  Modifikasi perilaku dan toilet training Dilakukan setelah makan pagi dan malam, anak dianjurkan untuk BAB, beri waktu 10-15 menit agar tidak terburu-buru dan membuat anak menjadi tertekan  Pemberian diet serat Anak dianjurkan minum yang banyak dan menkonsumsi karbohidrat dan banyak serat misalnya pepaya, semangka, bengkoang, melon. Makanan berserat berfungsi untuk meningkatkan frekuensi BAB dan melunakkan tinja.  5. Laksatif dan pendekatan psikologis Bagi orang tua diperlukan kesabaran dalam kasus ini, dukungan dan jalinan kerjasama yang baik antara dokter, orang tua, dan pasien. Bila hal ini teratasi, tentunya akan memberikan efek yang baik terhadap tumbuh kembang anak pada tahap berikutnya. Edukasi pada orang tua dan evaluasi hasil terapi Perlu dijelaskan kepada orang tua mengenai lamanya tatalaksana konstipasi fungsional dan meyakinkan orang tua dan pasien bahwa tidak ada solusi yang cepat dalam hal ini. STRATEGI PENGOBATAN 1. Pengobatan non farmakologis a. Latihan usus besar, dianjurkan waktu l5-10 menit setelah 50 2. makan untuk mereflekkan gastrokolik ketika defekasi. b. Diet, untuk mengatasi konstipasi terutama pada lansia c. Olahraga, seperti jalan kaki atau lari – lari kecil sesuai kemampuan untuk menggiatkan sirkulasi dan perut agar otot dinding perut kuat terutama penderita atoni pada otot perut. d. Konsumsi serat, makanan berserat biasanya didapatkan dari sayur-sayuran dan buah-buahan. Peningkatan makanan beserat hingga 25 gram/hari dan minum air yang cukup (sekitar1,5-2,0L/hari). e. Konsumsi prebiotik, bukti ilmiah menerangkan bahwa prebiotic bermanfaat dalam mengurangi konstipasi, diare, dan mencegah irritable bowel syndrome. f. Kebiasaan defekasi, diedukasi agar tidak menahan buang air besar, menghindari mengejan, membiasakan buang air besar setelah makan, atau saat yang dianggap sesuai, dan menghindari obat-obatan yang dapat menyebabkan konstipasi Pengobatan farmakologis Ada empat tipe golongan obat pencahar: a. Memperbesar dan melunakkan massa feses, anatara lain: cereal methyl selulose, psilium. b. Melunakkan dan melicinkan feses, obat ini bekerja dengan menurunkan tegangan permukaan feses, sehingga mempermudah penyerapan air. Contohnya: minyak kastor, golongan doc husate c. Golongan osmotic yang tidak diserap, sehingga cukup aman untuk digunakan, misalnya pada penderita gagal ginjal, antara lain : sorbitol, lactulose, griseril. d. Merangsang peristaltic sehingga meningkatkan motilitas usus besar. Golongan ini yang banyak digunakan. Perlu diperhatikan bahwa pencahar golongan ini bisa dipakai jangka panjang, dapat merusak Pleksus mesentrikus dan berakibat dismotilitas colon. Contohnya : Bisakodil, fenolplatein. 51 Bila dijumpai konstipasi kronis yang berat dan tidak dapat diatasi dengan cara cara tersebut, kemungkinan dibutuhkan tindakan pembedahan. Selain empat strategi diatas penatalaksaan konstipasi farmakologis dengan pemberian obat pencahar, yaitu : a. Bulk Forming Agent (Psyllium dan methylselulosa) Golongan ini bekerja dengan menyerap cairan intestinal, sehingga konsistensi feses menjadi lunak dan lebih mudah dikeluarkan b. Stool Softener (Docusate) Golongan ini direkomendasikan sebagai profilaksis atau pada pasien yang harus menghindari mengejan saat defekasi c. Laksatif Lubrikan (Parrafin pil yang dimasukkan dalam anus) Laksatif berupa lubrikan berperan dalam tatalaksana konstipasi dengan cara melubrikasi usus dan mencegah absorpsi air di usus d. Agen osmotic (laktulosa, sorbitol, polyethylene glycol) Golongan ini direkomendasikan untuk terapi jangka panjang pasien konstipasi dengan waktu transit kolon yang lambat dan keluhan yang berulang walaupun sudah diberikan suplemen serat. e. Laksatis stimulant (tegaserod, bisacodyl, sennoside) Golongan yang lebih sering digunakan dan termasuk obat-obat prokinetik yang meningkatkan motilitas usus. PENATALAKSAAN KONSTIPASI SEBAGIAN TERGANTUNG PADA PANDANGAN PASIEN MENGENAI MASALAHNYA 1. Kepastian Jika kekhawatiran utama adalah kanker kolorektal, periksakan penunjang yang biasa saja sudah cukup. 2. Diet dan hidrasi Pada pasien dengan gejala yang mengganggu, langkah pertama penatalaksanaan adalah mengoptimalkan asupan serat dan cairan. 52 3. 4. Laksatif Laksatif osmotic, (misalnya laktulosa) memiliki manfaat terbatas dan bias menyebabkan kolik dan rasa melilit yang tidak mengenakkan. Laksatif pembentukan – massa, (misalnya vybogel, isogel). Laksatif stimulant penggunaan secara umum harus dibatasi walaupun ada sebagian pasien yang membutuhkannya Tindakan bedah Pada kasus yang sering kambuh mungkin dibutuhkan intervensi bedah (kolektomi subtotal) untuk memperbaiki kualitas hidup pasien. PERUBAHAN KEBIASAAN BUANG AIR BESAR PADA MANULA Pada pasien manula perubahan kebiasaan BAB yang biasanya stabil merupakan sumber kekhawatiran adanya kanker kolorektal. Gambaran khas dari anamnesis yang mengarah ke dugaan tersebut adalah :  Anoreksia dan penurunan berat badan  Diare noktural atau nyeri yang menggangu tidur  Perdarahan rektal 1. Pemeriksaan fisis Walaupun seringkali tidak ditemukan apa-apa, pemeriksaan fisik lengkap harus tetap dilakukan. 2. Penatalaksanaan Bukti adanya kelainan yang serius diketahui dari pemeriksaan hitung darah lengkap, LED, Fe, tes fungsi hati, fungsi tiroid setiap kelainan yang ditemukan harus ditindaklanjuti. Barium enema atau Kolonoskopi sering digunakan untuk menyingkirkan dugaan kanker kolorektal pada pasien manula. Pendekatan umum Frekuensi defekasi tiap orang berbeda-beda dan tergantung dari makanan serta perubahan lingkungan lainnya. Pada populasi 53 manula, pasien juga dirujuk untuk menyingkirkan dugaan keganasan kolon pada perubahan kebiasaan buang air besar. Konstipasi Kronis Pendekatan umum Yang penting adalah memastikan apa yang dianggap masalah bagi pasien. Adakah kecurigaan kanker atau hanya mempermasalahkan gejala yang mengganggu? Gambaran klinis Tentukan persepsi pasien mengenai masalahnya, dan tanyakan halhal yang dapat mengarahkan diagnosis. Pertanyaan yang harus diajukan antaranya :  Sejak kapan terjadi konstipasi? Gejala ini biasanya telah berlangsung bertahun-tahun dan berbagai jenis obat bebas telah dicoba.  Tepatnya apa masalah anda? Apakah ada gejala lain atau apakah gejala konstipasi mulai mengganggu, misalnya membutuhkan evakuasi manual?  Apakah telah terjadi pendarahan rektal? Pendarahan bisa terjadi tanpa gejala namun menimbulkan kecemasan yang besar.  Riwayat makanan sangat penting. Pasien sering terlalu sedikit minum dan makan makanan berserat (seperti gandum). Pemeriksaan fisis Mungkin tidak akan menemukan apa-apa namun pemeriksaan fisis lengkap termasuk pemeriksaan rektal dan sigmoidoskopi penting untuk memastikan tidak ada kelainan. Pemeriksaan penunjang  Tes darah : hitung darah lengkap, laju endap darah (LED), fungsi tiroid, kalsium. 54  Barium enema : mungkin lebih bermanfaat daripada kolonoskopi karena dapat menyingkirkan keganasan kolorektal dan megakolon sekaligus.   Fisiologi anorektal. Program defeksi Penatalaksanaan konstipasi pada ibu hamil 1. Non Farmakologi Meningkatkan asupan serat yang cukup (25-35 gram), dan aktifitas fisik Hindari makanan porsi besar tetapi makanlah dengan porsi kecil tapi sering Hindari ketegangan psikis seperti stress dan cemas Jangan menahan rasa ingin buang air besar karena akan memperbesar resiko konstipasi Pemberian prebiotic pada wanita hamil dianjurkan karena dapat memperbaiki keseimbangan flora kolon dan memperbaiki fungsi pencernaan (Sembiring, 2017) 2. Farmakologi Terapi farmakologi diberikan apabila terapi non farmakologi tidak tercapai. Penggunaan obat pencahar (Laksatif) sebagai terapi lini kedua diberikan hanya bila benar-benar diperlukan dan tidak untuk penggunaan jangka panjang. (Sembiring, 2017) Penatalaksanaan konstipasi pada anak Edukasi merupakan langkah awal terapi, konstipasi pada anak sering berlangsung lama, sehingga orang tua perlu memahami penyebab, gejala, program terapi, patofisiologi, dan prognosis, anak perlu dilibatkan dalam program terapi (Purnamasari, 2018). Prinsip terapi konstipasi fungsional, yaitu : 1. Terapi disimpaksi Impaksi berarti ada masa tinja besar di rectum. Dilakukan dengan pemeriksaan perut bagian bawah. Bila ada impaksi tinja, dilakukan 55 2. 3. terapi evakuasi tinja (disimpaksi), terapi pemeliharaan secara oral ataupun rektal. Dosisnya (1-1,5 g/kg/hari max 6 hari). Terapi pemeliharaan Terapi ini berfungsi untuk mencegah penumpukan tinja kembali dan mempertahankan pergerakan usus regular. Terapi ini dilakukan melalui modifikasi diet, toilet training, dan pencahar. Terapi penyapihan (weaning) Weaning dipertimbangkan saat gejala stabil dalam terapi pemeliharaan, dalam arti anak defekasi rutin lebih dari 3 kali/minggu dan tidak memenuhi lagi kriteria Rome III. Tergantung beratnya gejala, efek terapi dievaluasi 1-2 minggu setelah pengobatan dan dilanjutkan hingga minimal 2 bulan, dan gejala sembelit harus hilang 1 bulan sebelum mulai weaning. TREN DAN ISSUE SAAT INI TENTANG PENANGANAN KONSTIPASI Salah satu penelitian yang kami baca untuk menangani kasus konstipasi yaitu dengan massage abdomen, merupakan salah satu teknik massage yang bertujuan untuk mengatasi berbagai penyakit khusus serta menjada sirkulasi yang baik pada organ visceral. Inovasi Abdominal massage ini dengan teknik Swedish dengan memberikan pijatan, remasan dan vibrasi pada daerah perut yakni kolon. Intervensi ini dilakukan sebanyak 2 kali dalam sehari. Analisis intrvensi inovasi abdominsl massage dengan teknik Swedish massage untuk mencegah dan mengatasi konstipasi pada pasien CHF. Dan diperoleh hasil menunjukkan bahwa pasien dapat defekasi pada hari ke tiga setelah intervensi dilakukan, saat diganti pempers terdapat feses bentuk bulat-bulat kecil, konsistensi lunak, warna kuning, dan pasien juga mengatakan bahwa merasakan nyaman setelah dilakukan massage (Teknik Swedish Massage, 2017). 56 DAFTAR PUSTAKA Purnamasari, L. (2018). Tanda Bahaya , Evaluasi , Dan Tatalaksana Sembelit Pada Anak. 45(12), 902–907. Sembiring, L. P. (2017). Konstipasi Pada Kehamilan. Jurnal Ilmu Kedokteran, 9(1), 7. Https://Doi.Org/10.26891/Jik.V9i1.2015.7-10 Teknik Swedish Massage. (2017). Utara, U. S. (N.D.). Bab 2 Tinjauan Pustaka 2.1. Definisi Konstipasi Definisi Yang Berbeda Mengenai Konstipasi Telah Dijelaskan Oleh Berbagai Literatur. 19–36. Davey, P. (2002). At A Glance Medicine. Erlangga. 57 58 TEORI ASUHAN KEPERAWATAN PENGKAJIAN 1. Identitas pasien ( Nama, jenis kelamin, alamat ) 2. Riwayat kesehatan  Keluhan utama Didapat dengan menanyakan tentang gangguan terpenting yang dirasakan pasien sampai perlu pertolongan. (misal Nyeri, diare, mual, muntah, kembung, ketidaknyamanan abdomen, konstipasi)  Riwayat kesehatan sekarang Pengkajian riwayat kesehatan dilakukan dengan anamnesis atau wawancara untuk menggali masalah keperawatan lainnya sesuai dengan keluhan utama dari pasiennya. Perawat memperoleh data subyektif dari pasien mengenai awitan masalahnya dan bagaimana penanganan yang sudah dilakukan. Persepsi dan harapan pasien sehubungan dengan masalah kesehatan dapat mempengaruhi masalah kesehatan. Yang perlu dikaji dalam sistem gastrointestinal: Pengkajian rongga mulut, Pengkajian esofagus, Pengkajian lambung, Pengkajian intestinal, Pengkajian anus dan feses, Pengkajian organ aksesori 59  3. 60 Riwayat kesehatan dahulu Pengkajian kesehatan masa lalu bertujuan untuk menggali berbagai kondisi yang memberikan berbagai kondisi saat ini. Perawat mengkaji riwayat MRS (masuk rumah sakit) dan penyakit berat yang pernah diderita, penggunaan obat2 dan adanya alergi.  Riwayat kesehatan keluarga Pengkajian ini dilakukan karena ada beberapa faktor jika ada keturunan yang memiliki riwayat yang sama Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik keperawatan pada sistem GI dimulai dari survei umum terhadap setiap kelainan yang terlihat atau mengklarifikasi dari hasil pengkajian anamnesis.  Bibir Keadaan kulit; warnanya (ikterus, pucat, coklat, kehitaman), elastisitasnya (menurun pada orang tua dan dehidrasi), kering (dehidrasi), lembab (asites), dan adanya bekas-bekas garukan (penyakit ginjal kronik, ikterus obstruktif), jaringan parut (tentukan lokasinya), striae (gravidarum/ cushing syndrome), pelebaran pembuluh darah vena (obstruksi vena kava inferior & kolateral pada hipertensi portal).  Rongga mulut menggunakan senter dan spatel lidah atau kasa tunggal segi empat.  Abdomen Inpeksi : pembesaran abdomen Palpasi : perut terasa keras, ada impaksi feses Perkusi : redup Auskultasi : bising usus tidak terdengar Hasil pemeriksaan umum : a. Keadaan umum : b. TTV : (Nadi, BB. TD ) ANALISA DATA NO DATA 1 DS : pasien mengatakan sudah beberapa hari tidak bisa BAB , dan merasa nyeri abdomen, pada saat BAB terakhir feses berbentuk keras, dan terasa nyeri. DO : Turgor kulit menurun, distensi abdomen. Inpeksi : pembesaran abdomen. Palpasi : perut terasa keras, ada impaksi feses. Perkusi : redup Auskultasi : bising usus tidak terdengar ETIOLOGI    Pola bab tidak teratur Eliminasi tidak teratur Konstipasi MASALAH Konstipasi DIAGNOSA KEPERAWATAN NO SDKI 1 1) Konstipasi (D.0049) KONSTIPASI Diagnosis Domain Definisi Penyebab Konstipasi 0149 Penurunan defekasi normal yang disertai pengeluaran feses sulit dan tidak tuntas serta feses kering dan banyak A. Fisiologis 1. Penurunan motilitas gastrointestinal 2. Ketidakadekuatan pertumbuhan gigi 3. Ketidakcukupan diet 61 4. Ketidakcukupan asupan serat 5. Ketidakcukupan asupan cairan 6. Aganglionik (mis. Penyakit Hircsprung) 7. Kelemahan otot abdomen B. Psikologis 1. Konfusi 2. Depresi 3. Gangguan emoosional C. Situasional 1. Perubahan kebiasaan makan (mis. Jenis makanan, jadwal makan) 2. Ketidakadekuatan toileting 3. Aktivitas fisik harian kurang dari yang dianjurkan 4. Penyalahgunaan laksatif 5. Efek agen farmakologis 6. Ketidakaturan kebiasaan defekasi 7. Kebiasaan menahan dorongan defekasi 8. Perubahan lingkungan Gejala dan Subjektif Tanda Mayor 1. Defekasi kurang dari 2 kali seminggu 2. Pengeluaran feses lama dan sulit Objektif 1. Feses keras 2. Peristaltik usus menurun Gejala dan Subjektif Tanda Minor 1. Mengejan saan defekasi Objektif 1. Distensi abdomen 2. Kelemahan umum 3. Teraba massa pada rektal Kondisi Klinis 1. Lesi / cedera pada menula spinalis Terkait 2. Spina bifida 3. Stroke 4. Skelorosis multipel 5. Penyakit perikson 62 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. Demensia Hiperparatiroidisme Hipoparatiroidisme Ketidakseimbangan elektrolit Hemoroid Obesitas Pasca operasi obstruksi bowel Kehamilan Pembesaran prostat Abses rektal Fisura anorektal Striktura anorektal Prolaps rektal Ulkus rektal Rektorel Tumor Penyakit hurscpung Impaksi feses 63 DAFTAR PUSTAKA Ackley, B. J., Ladwig, G, B., & Makic, M. B. F. (2017). Nursing Diagnosis Handbook, An Evidence – Based Guide to Planning Care. 11th Ed. St. Louis: Elsevier Carpenito-Moyet, L. J. (2013). Nursing Diagnosis Application to Clinical Practice. 14th Ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins Doenges, M. E., Moorhouse, M. F., & Murr, A. C. (2013). Nursing Diagnosis Manual Planning, Individualizing and Documenting Client Care. 4th Ed. Philadelphia: F. A. Davis Company Herdman, T. H., & Kamitsuru, S. (2014). Nursing Diagnosis Definitions and Classification 2015- 2017. 10th Ed. Oxford: Wiley Blackwell Kyle, G. (2011). Risk Assessment and management tools for constipation. British Journal of Community Nursing Standart, 26(8), 41 – 48 Newfield, S. A ., Hinz, M. D., Tiley, D. S., Sridaromont, K. L., Maramba, P. J. (2012). Cox’s Clinical Applications of Nursing Diagnosis Adult, Child, Women’s, Mental Health, Gerontic, and Home Health Considerations. 6th Ed. Philadephia : F. A. Davis Company Tim Pokja SDKI DPP PPNI.2016. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia Defisit Dan Indikator Diagnostik. Jakarta Selatan : Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia. 64 SLKI (STANDART LUARAN KEPERAWATAN INDONESIA) DEFINISI LUARAN KEPERAWATAN Luaran (outcome) keperawatan merupakan aspek yang dapat diobservasi dan diukur meliputi kondisi: perilaku atau dari persepsi pasien keluarga atau komunitas sebagai respon terhadap intervensi keperawatan. JENIS LUARAN KEPERAWATAN Luaran negatif menunjukan kondisi, perilaku atau persepsi yang tidak sehat sehingga penetapan luaran ini mengarahkan pemberian intervensi keperawatan yang bertujuan untuk menurunkan. Luaran positif menunjukan kondisi, perilaku atau persepsi yang tidak sehat sehingga penetapan luaran ini mengarahkan pemberian intervensi keperawatan yang bertujuan untuk meningkatkan atau memperbaiki. Kriteria Hasil: Kriteria hasil merupakan karakteristik pasien yang dapat diamati atau diukur oleh perawat dan dijadikan sebagai dasar untuk menilai pencapaian hasil intervensi keperawatan. Luaran utama Eliminasi fekal Luaran Tambahan Fungsi gastrointestinal Keseimbangan cairan 65 Keseimbangan elektrolit Kontinensia fekal Mobilitas fisik Tingkat nyeri Luaran Utama Eliminasi fekal Ekspektasi Membaik Definisi proses defekasi normal yang disertai dengan pengeluaran feses mudah dan kosistensi, frekuensi serta bentuk feses normal. kriteria hasil 1. Control pengeluara n feses 2. Keluhan defekasi lama dan sulit 3. Mengejan saat defekasi 4. Distensi abdomen 5. Terasa massa pada rektal 6. Urgency 7. Nyeri abdomen 8. Kram abdomen 9. Konsistensi feses 10. Frekuensi defekasi 11. Peristaltic usus menurun 1 meningkat Sedang 3 Sedang 1 1 Cukup Meningkat 2 2 1 Cukup Meningkat 4 Meningkat 5 Menurun 3 3 Cukup Menurun 4 4 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 1 1 1 2 2 2 2 3 3 3 3 4 4 4 4 5 5 5 5 memburu k Cukup memburuk 2 Sedang Membaik 3 Cukup Membaik 4 2 3 4 5 2 3 4 5 5 5 5 1 1 1 66 Cukup Menurun 2 DAFTAR PUSTAKA Tim Pokja SLKI DPP PPNI.2016. Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Jakarta Selatan: Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia. 67 68 SIKI (STANDART INTERVENSI KEPERAWATAN INDONESIA) DEFINISI INTERVENSI DAN TINDAKAN KEPERAWATAN Intervensi keperawatan adalah segala treatment yang dikerjakan oleh perawat yang didasarkan pada pengetahuan dan penilaian klinis untuk mencapai luaran (outcome) yang diharapkan. Tindakan keperawatan adalah: perilaku atau aktivitas spesifik yang dikerjakan oleh perawat untuk mengimplementasikan intervensi keperawatan. INTERVENSI KEPERAWATAN PADA KONSTIPASI Intervensi Utama Manajemen konstipasi Manajemen eliminasi fekal Intervensi Pendukung Dukungan perawatan diri: BAB Edukasi diet Edukasi toilet training Manajemen nutrisi Pemantauan cairan Pemberian enema Promosi latihan fisik Promosi eliminasi fekal 69 TINDAKAN KEPERAWATAN PADA KONSTIPASI Intervensi Tindakan Manajemen Definisi konstipasi Mengidentifikasi dan mengelola pencegahan dan mengatasi sembelit atau impaksi. Tindakan Observasi  Periksa tanda dan gejala konstipasi  Periksa pergerakan usus, karakteristik feses (konsistensi, bentuk, volume dan warna)  Identifikasi faktor resiko konstipasi (obat-obatan, tirah baring dan diet rendah serat)  Monitor tanda dan gejala ruptur usus dan atau peritonitis Terapeutik  Anjurkan diet tinggi serat  Lakukan massase abdomen, jika perlu  Berikan enema atau irigasi, jika perlu Edukasi  Jelaskan etiologi masalah dan alsan tindakan  Anjurkan peningkatan asupan cairan, jika tidak ada kontraindikasi  Latih buang air besar secara teratur  Ajarkan cara mengatasi konstipasi / impaksi Kolaborasi  Konsultasi dengan tim medis tentang penurunan peningkatan frekuensi 70 Manajemen eliminasi fekal (1.04151) suara usus  Kolaborasi penggunaan obat pencahar, jika perlu Definisi: Mengidentifikasi dan mengelola gangguan pola eliminasi fekal Tindakan: Observasi:  Identifikasi masalah usus dan penggunaan obat pencahar  Identifikasi pengobatan yang berefek pada kondisi gastrointestinal  monitor BAB (warna, frekuensi, konsistensi, volume)  monitor tanda gejala konstipasi atau impaksi Terapeutik:  berikan air hangat setelah makan  jadwalkan waktu defekasi  sediakan makanan tinggi serat Edukasi:  jelaskan jenis makanan yang membantu meningkatkan keteraturan peristaltic usus  anjurkan meningkatkan aktivitas fisik sesuai toleransi  anjurkan pengurangan asupan makanan yang meningkatkan pembentukan gas  anjurkan makanan yang tinggi serat  anjurkan meningkatkan asupan cairan jika tidak ada kontraindikasi 71 Kolaborasi:  kolaborasi pemberian obat suposutorial anal jika perlu 72 DAFTAR PUSTAKA Tim pokja SIKI DPP PPNI. 2016, Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Jakarta Selatan : Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia. 73 74 TENTANG PENULIS Wiwit Dwi Nurbadriyah, M.Kep, lahir di Malang 15 Juni 1984. Menyelesaikan pendidikan di MINU Jatirejoyoso Kepanjen tahun 1996, SMPN 4 Kepanjen Malang tahun 1999, SMUN 1 Kepanjen Malang 2002, Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran UNAIR Surabaya 2007, Magister Keperawatan UNAIR Surabaya 2015. Riwayat bekerja sebagai perawat di RS swasta Surabaya (2007-2009) dan sejak tahun 2009 sampai saat ini penulis aktif sebagai dosen tetap di STIKes Kepanjen Malang. 75 76

Judul: Asuhan Keperawatan Konstipasi Dengan Pendekatan 3s (sdki, Slki Dan Siki

Oleh: Wiwit D Nurbadriyah


Ikuti kami