Laporan Dan Soap Kebidanan: Asuhan Kebidanan Persalinan Normal Di Bpm Jawiriyah

Oleh Cut Putri Balkis

549,9 KB 11 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Laporan Dan Soap Kebidanan: Asuhan Kebidanan Persalinan Normal Di Bpm Jawiriyah

ASUHAN KEBIDANAN PERSALINAN NORMAL DI BPM JAWIRIYAH Dosen Pembimbing: Yusnaini, SST, M. Kes Nurdahliana, SKM, M. Kes Preseptor Lahan: Jawiriyah, SST Disusun Oleh Cut Putri Balkis Nadhya Hidayatul Ulva P07124415004 P07124415022 KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES ACEH JURUSAN PRODI D-IV KEBIDANAN BANDA ACEH 2016/2017 i KATA PENGANTAR Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan Laporan tentang “Asuhan Kebidanan Persalinan Normal pada Ny. R G1 P0 A0 di BPM Jawiriyah” dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih pada Ibu Yusnaini, SST, M. Kes dan ibu Nurdahliana, SKM, M. Kes selaku Dosen pembimbing laporan kami, dan ibu Jawiriyah SST selaku Preseptor lahan yang sangat banyak membantu hingga kami dapat menyelesaikan laporan ini. Kami sangat berharap laporan ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam laporan ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan laporan yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun. Semoga laporan sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun dari Anda demi perbaikan laporan ini di waktu yang akan datang. Banda Aceh, Januari 2017 Penyusun ii DAFTAR ISI SURAT PENGESAHAN ....................................................................................................... i KATA PENGANTAR............................................................................................................ ii DAFTAR ISI........................................................................................................................... ii BAB I : PENDAHULUAN .................................................................................................... 1 1.1 Latar Belakang .................................................................................................. 1 1.2 Tujuan Penulisan .............................................................................................. 2 BAB II : TINJAUAN TEORI ............................................................................................. 3 2.1 Konsep Dasar Teori ....................................................................................................... 3 a. Pengertian ....................................................................................................... 3 b. Etiologi ........................................................................................................... 3 c. Fisiologis persalinan ....................................................................................... 3 d. Tahap-tahap persalinan .................................................................................. 4 e. Faktor-faktor yang mempengaruhi persalinan ............................................... 8 f. Mekanisme persalinan .................................................................................... 8 g. Tanda dan gejala............................................................................................. 10 h. Prosedur diagnostik ........................................................................................ 10 i. Asuhan dalam persalinan ............................................................................... 11 j. Kebutuhan dasar ibu ....................................................................................... 14 k. Rujukan .......................................................................................................... 15 BAB III : ASUHAN KEBIDANAN (SOAP) .................................................... 16 PARTOGRAF..................................................................................................... 16 BAB IV : PENUTUP .......................................................................................... 23 DAFTAR ISI ....................................................................................................... 24 iii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di Indonesia angka kematian maternal dan perinatal masih cukup tinggi. Padahal jumlah pelayanan kesehatan dan tenaga kesehatan di Indonesia cukup banyak. Asuhan Persalinan Normal (APN ) diperlukan dalam periode ini karena merupakan masa kritis ibu maupun bayinya. Diperkirakan bahwa 60% kematian ibu akibat kehamilan terjadi setelah persalinan dan 50% kematian pada masa nifas 24 jam pertama (Saiffudin, 2002). Kehamilan merupakan proses yang fisiologis dan alamiah. Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir (Sarwono P, 2003). Menurut Sarwono, 2002 kehamilan melibatkan berbagai perubahan fisiologi antara lain perubahan fisik, perubahan sistem pencernaan, respirasi, sirkulasi, darah, metabolisme, traktus urinarus serta perubahan psikologis. Pada umumnya kehamilan berkembang dengan normal namun kadang tidak sesuai yang diharapkan. Sulit diprediksi apakah ibu hamil akan bermasalah selama kehamilannya. Oleh karena itu asuhan antenatal merupakan cara penting untuk memonitor dan mendukung kesehatan ibu hamil normal dan mendeteksi ibu dengan kehamilan normal. Mortalitas dan mordibitas pada wanita bersalin adalah masalah besar di negara berkembang. Kematian saat melahirkan biasanya menjadi faktor utama mortalitas wanita muda pada puncak produktifitasnya. Tahun 1996 WHO memperkirakan lebih dari 585.000 ribu ibu per tahunnya meninggal saat hamil atau bersalin (Saiffudin, 2002). Pada saat ini angka kematian ibu dan angka kematian perinatal masih sangat tinggi. Menurut survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (2005) angka kematian kematian perinatal adalah 307 /10.000 kelahiran hidup. Lima benang merah dalam asuhan persalinan dasar adalah : 1. Aspek pemecahan yang diperlukan untuk menentukan pengambilan keputusan klinik (clinical decicion making), 2. Aspek sayang ibu yang berarti sayang anak, 3. Aspek pencegahan infeksi, 4. Aspek pencatatan, 5. Aspek rujukan. 1 Persalinan yang aman yaitu memastikan bahwa semua penolong mempunyai pengetahuan, keterampilan dan alat untuk memberikan pertolongan yang aman dan bersih, serta memberikan pelayanan nifas kepada ibu dan bayi (Saiffudin, 2002). Dari uraian diatas, penulis tertarik untuk menulis tentang asuhan kepada ibu bersalin normal. 1.2 Tujuan Penulisan 1.1.1 Tujuan Umum Mahasiswa mampu memberikan asuhan kebidanan pada ibu inpartu dan pendokumentasian dengan langkah SOAP 1.1.2 Tujuan Khusus a. Untuk mendapatkan data Subjektif pada ibu inpartu b. Untuk mendapatkan data Objektif pada ibu inpartu c. Untuk dapat menegakkan Assesment (diagnosa, masalah, dan kebutuhan) d. Dapat melakukan planning dan asuhan pada ibu inpartu 2 BAB II TINJAUAN TEORI 2.1 Konsep Dasar Teori a. Pengertian 1. Persalinan normal menurut WHO adalah persalinan yang dimulai secara spontan, beresiko rendah pada awal persalinan dan tetap demikian selama proses persalinan, bayi lahir secara spontan dalam presentasi belakang kepala pada usia kehamilan 37-42 minggu lengkap dan setelah persalinan ibu maupun bayi berada dalam kondisi sehat. 2. Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya servik, dan janin turun kedalam jalan lahir. Kelahiran adalah proses dimana janin dan ketuban di dorong keluar melalui jalan lahir (Saifuddin, AB, 2002). 3. Persalinan adalah proses pengluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus melelui vagina ke dunia luar (Wiknjosastro, 2006) 4. Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi (janin + plasenta), yang dapat hidup ke dunia luar, dari rahim melalui jalan lahir atau dengan jalan lain. (Muchtar, R, 1998) b. Etiologi Menurut Muchtar (1998) beberapa teori mengemukakan etiologi dari persalinan adalah meliputi: 1. Teori penurunan hormon Pada 1-2 minggu sebelum proses persalinan mulai terjadi penurunan kadar hormone estrogen dan progesterone. Progesteron bekerja sebagai penenang otot-otot polos rahim dan akan menyebabkan kekejangan pembuluh darah sehingga timbul kontraksi otot rahim bila kadar progesterone menurun. 2. Teori placenta menjadi tua Dengan semakin tuanya plasenta akan menyebabkan turunnya kadar estrogen dan progesterone yang menyebabkan kekejangan pembuluh darah, hal ini akan menimbulkan kontraksi rahim 3. Teori distensi rahim Rahim yang menjadi besar dan meregang menyebabkan iskemia otot-otot rahim, sehingga mengganggu sirkulasi utero plasenter. 3 4. Teori iritasi mekanik Di belakang serviks terletak ganglion servikale (fleksus frankenhauser). Bila ganglion ini di geser dan di tekan misalnya oleh kepala janin, akan timbul kontraksi rahim. 5. Induksi partus. Dengan jalan gagang laminaria, aniotomi, oksitosin drip dan sexio caesarea. c. Fisiologis persalinan Sebab-sebab terjadinya persalinan masih merupakan teori yang komplek. Perubahanperubahan dalam biokimia dan biofisika telah banyak mengungkapkan mulai dari berlangsungnya partus antara lain penurunan kadar hormon progesterone dan estrogen. Progesteron merupakan penenang bagi otot – otot uterus. Menurunnya kadar hormon ini terjadi 1-2 minggu sebelum persalinan. Kadar prostaglandin meningkat menimbulkan kontraksi myometrium. Keadaan uterus yang membesar menjadi tegang mengakibatkan iskemi otot – otot uterus yang mengganggu sirkulasi uteroplasenter sehingga plasenta berdegenerasi. Tekanan pada ganglion servikale dari fleksus frankenhauser di belakang servik menyebabbkan uterus berkontraksi (Wiknjosastro, 2005). d. Tahap-Tahap Persalinan Berlangsungnya persalinan dibagi dalam 4 kala yaitu: 1. Kala I Disebut juga kala pembukaan dimulai dengan pembukaan serviks sampai terjadi pembukaan 10 cm. Proses membukanya serviks disebabkan oleh his pesalinan/kontraksi. Tanda dan gejala kala I : a) His sudah teratur, frekuensi minimal 2 kali dalam 10 menit b) Penipisan dan pembukaan serviks c) Keluar cairan dari vagina dalam bentuk lendir bercampur darah Kala I dibagi dalam 2 fase: 1) Fase laten Dimulai sejak awal kontraksi yang menyebabkan penipisan dan pembukaan servik secara bertahap, pembukaan servik kurang dari 4 cm, biasanya berlangsung hingga 8 jam. 2) Fase aktif 4 Frekuensi dan lamanya kontraksi uterus umumnya meningkat (kontraksi dianggap adekuat jika terjadi tiga kali atau lebih), serviks membuka dari 4 cm ke 10 cm, biasanya kecepatan 1 cm atau lebih per jam hingga pembukaan lengkap ( 10 cm ) dan terjadi penurunan bagian terbawah janin. Pemantauan kala 1 fase aktif persalinan : 1. Penggunaan Partograf Partograf adalah alat bantu yang digunakan selama fase aktif persalinan. Tujuan utama dari penggunaan partograf adalah untuk : a. Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan menilai pembukaan serviks melalui pemeriksaan dalam. b. Mendeteksi apakah proses persalinan berjalan secara normal . Dengan demikian , juga dapat melakukan deteksi secara dini setiap kemungkinan terjadinya partus lama. Halaman depan partograf untuk mencatat atau memantau : a) Kesejahteraan janin Denyut jantung janin (setiap ½ jam), warna air ketuban (setiap pemeriksaan dalam), penyusupan sutura (setiap pemeriksaan dalam). b) Kemajuan persalinan Frekuensi dan lamanya kontraksi uterus (setiap ½ jam), pembukaan serviks (setiap 4 jam), penurunan kepala (setiap 4 jam). c) Kesejahteraan ibu Nadi (setiap ½ jam), tekanan darah dan temperatur tubuh (setiap 4 jam), produksi urin, aseton dan protein ( setiap 2 sampai 4 jam), makan dan minum. 2. Kala II (Kala Pengeluaran) Kala II persalinan dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap (10 cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi. Wanita merasa hendak buang air besar karena tekanan pada rektum. Perinium menonjol dan menjadi besar karena anus membuka. Labia menjadi membuka dan tidak lama kemudian kepala janin tampak pada vulva pada waktu his. Pada primigravida kala II berlangsung 1,5-2 jam, pada multi 0,5-1 jam. 5 Tanda dan gejala kala II : a. Ibu merasakan ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi. b. Perineum terlihat menonjol. c. Ibu merasakan makin meningkatnya tekanan pada rectum dan atau vaginanya. d. Ibu merasakan makin meningkatnya tekanan pada rectum dan atau vaginanya. e. Vulva-vagina dan sfingkter ani terlihat emmbuka. f. Peningkatan pengeluaran lendir dan darah. 3. Kala III (Kala uri) Kala III persalinan dimulai setelah lahirnya bayi dan berakhir dengan lahirnya plasenta dan selaput ketuban (Wiknjosastro, H, 2002). Dimulai segera setelah bayi lahir sampai dengan lahirnya placenta (30 menit). Setelah bayi lahir, uterus teraba keras dan fundus uteri sepusat. Beberapa menit kemudian uterus berkontraksi lagi untuk melepaskan plasenta dari dindingnya. Biasanya plasenta lepas dalam 6-15 menit setelah bayi lahir dan plasenta keluar spontan atau dengan tekanan pada fundus uteri (dorsokranial). Penatalaksanaan aktif pada kala III (pengeluaran aktif plasenta) membantu menghindarkan terjadinya perdarahan pascapersalinan. Tanda – tanda pelepasan plasenta : a. Perubahan bentuk dan tinggi fundus. b. Tali pusat memanjang c. Semburan darah tiba – tiba. 4. Manajemen aktif kala III : Tujuannya adalah untuk menghasilkan kontraksi uterus yang lebih efektif sehingga dapat memperpendek waktu kala III dan mengurangi kehilangan darah dibandingkan dengan penatalaksanaan fisiologis, serta mencegah terjadinya retensio plasenta.Tiga langkah manajemen aktif kala III : 6 a. Berikan oksitosin 10 unit IM dalam waktu dua menit setelah bayi lahir, dan setelah dipastikan kehamilan tunggal. b. Lakukan peregangan tali pusat terkendali. c. Segera lakukan massage pada fundus uteri setelah plasenta lahir. 5. Kala IV (2 jam post partum) Setelah plasenta lahir, kontraksi rahim tetap kuat dengan amplitudo 60 sampai 80 mmHg, kekuatan kontraksi ini tidak diikuti oleh interval pembuluh darah tertutup rapat dan terjadi kesempatan membentuk trombus. Melalui kontraksi yang kuat dan pembentukan trombus terjadi penghentian pengeluaran darah post partum. Kekuatan his dapat dirasakan ibu saat menyusui bayinya karena pengeluaran oksitosin oleh kelenjar hipofise posterior. Tanda dan gejala kala IV : bayi dan plasenta telah lahir, tinggi fundus uteri 2 jari bawah pusat. 2 jam pertama pascapersalinan : Pantau tekanan darah, nadi, tinggi fundus, kandung kemih dan perdarahan yang terjadi setiap 15 menit dalam satu jam pertama dan setiap 30 menit dalam satu jam kedua kala IV. Jika ada temuan yang tidak normal, lakukan observasi dan penilaian secara lebih sering. Lamanya persalinan pada primigravida dan multigravida : Primigravida Multigravida Kala I 10 – 12 jam 6-8 jam Kala II 1-1,5 jam 0,5-1 jam Kala III 10 menit 10 menit Kala IV 2 jam 2 jam Jumlah (tanpa memasukkan kala IV yang bersifat observasi) 12-14 jam 8-10 jam e. Faktor – faktor yang mempengaruhi persalinan 1. Power 7 His dan tenaga mengejan. 2. Passage Ukuran panggul dan otot-otot persalinan. 3. Passenger Terdiri dari janin, plasenta dan air ketuban. 4. Personality (kepribadian) Yang diperhatikan kesiapan ibu dalam menghadapi persalinan dan sanggup berpartisipasi selama proses persalinan. 5. Provider (penolong) Dokter atau bidan yang merupakan tenaga terlatih dalam bidang kesehatan (Wiknjosastro, H, 2005). f. Mekanisme persalinan 1) Pengertian Mekanisme persalinan merupakan serangkaian perubahan posisi dari bagian presentasi janin yang merupakan suatu bentuk adaptasi atau akomodasi bagian kepala janin lahir. Presentasi janin paling umum dipastikan dengan palpasi abdomen dan kadangkala diperkuat sebelum atau pada saat awal persalinan dengan pemeriksaan vagina 2) Mekanisme persalinan letak belakang kepala a. Engagement (fiksasi) / masuk Ialah masuknya kepala dengan lingkaran terbesar (diameter Biparietal) melalui PAP. Pada primigravida kepala janin mulai turun pada umur kehamilan kira – kira 36 minggu, sedangkan pada multigravida pada kira – kira 38 minggu, kadang – kadang baru pada permulaan partus. (Wiknjosastro, 2005). Engagement lengkap terjadi bila kepala sudah mencapai Hodge III. Bila engagement sudah terjadi maka kepala tidak dapat berubah posisi lagi, sehingga posisinya seolah – olah terfixer di dalam panggul, oleh karena itu engagement sering juga disebut fiksasi. Pada kepala masuk PAP, maka kepala dalam posisi melintang dengan sutura sagitalis melintang sesuai dengan bentuk yang bulat lonjong. Seharusnya pada waktu kepala masuk PAP, sutura sagitalis akan tetap berada di tengah yang disebut Synclitismus. Tetapi kenyataannya, sutura sagitalis dapat bergeser kedepan atau kebelakang disebut Asynclitismus. Asynclitismus dibagi 2 jenis : 8 a) Asynclitismus anterior : naegele obliquity yaitu bila sutura sagitalis bergeser mendekati promontorium. b) Asynclitismus posterior : litzman obliquity yaitu bila sutura sagitalis mendekati symphisis. b. Descensus / penurunan Ialah penurunan kepala lebih lanjut kedalam panggul. Faktor – factor yang mempengaruhi descensus : tekanan air ketuban, dorongan langsung fundus uteri pada bokong janin, kontraksi otot – otot abdomen, ekstensi badan janin. c. Fleksi Ialah menekannya kepala dimana dagu mendekati sternum sehingga lingkaran kepala menjadi mengecil / suboksipito bregmatikus ( 9,5 cm). Fleksi terjadi pada waktu kepala terdorong His kebawah kemudian menemui jalan lahir. Pada waktu kepala tertahan jalan lahir, sedangkan dari atas mendapat dorongan, maka kepala bergerak menekan kebawah. d. Putaran Paksi Dalam (internal rotation) Ialah berputarnya oksiput ke arah depan, sehingga ubun -ubun kecil berada di bawah symphisis (HIII). Faktor-faktor yang mempengaruhi : perubahan arah bidang PAP dan PBP, bentuk jalan lahir yang melengkung, kepala yang bulat dan lonjong. e. Defleksi Ialah mekanisme lahirnya kepala lewat perineum. Faktor yang menyebabkan terjadinya hal ini ialah : lengkungan panggul sebelah depan lebih pendek dari pada yang belakang. Pada waktu defleksi, maka kepala akan berputar ke atas dengan suboksiput sebagai titik putar (hypomochlion) dibawah symphisis sehingga berturut – turut lahir ubun – ubun besar, dahi, muka dan akhirnya dagu. f. Putaran paksi luar (external rotation) Ialah berputarnya kepala menyesuaikan kembali dengan sumbu badan (arahnya sesuai dengan punggung bayi). g. Expulsi : lahirnya seluruh badan bayi. g. Tanda dan Gejala Tanda dan gejala persalinan yaitu : 9 Kala I 1) His sudah teratur dan frekuensi minimal 2 kali dalam 10 menit 2) Penipisan dan pembukaan servik 3) Keluar cairan dari vagina dalam bentuk lendir bercampur darah. Kala II 1) Ibu ingin meneran/mengejan 2) Perineum menonjol 3) Vulva dan anus membuka 4) Meningkatnya pengeluaran lendir 5) Kepala telah turun pada dasar panggul Kala III 1) Tali pusat memanjang, terasa adanya pelepasan plasenta 2) Semburan darah tiba-tiba Kala IV Tingginya fundus uteri sepusat atau 2 jari dibawah pusat (Wiknjosastro, 2007) h. Prosedur Diagnostik Untuk menentukan persalinan sudah pada waktunya adalah : (Saifuddin, AB. 2002) 1. Tanyakan : a. Permulaan timbulnya kontraksi b. Pengeluaran pervaginam seperti lendir, darah, dan atau cairan ketuban c. Riwayat kehamilan d. Riwayat medik e. Riwayat sosial f. Terakhir kali makan dan minum g. Masalah yang pernah ada 2. Pemeriksaan Umum : a. Tanda vital, BB, TB. Oedema b. Kondisi puting susu c. Kandung kemih 10 3. Pemeriksaan Abdomen : a. Bekas luka operasi b. Tinggi Fundus Uteri c. Kontraksi d. Penurunan Kepala e. Letak janin f. Besar janin g. Denyut jantung janin 4. Pemeriksaan vagina : a. Pembukaan dan penipisan servik b. Selaput ketuban penurunan dan molase c. Anggota tubuh janin yang sudah teraba 5. Pemeriksaan Penunjang : a. Urine : warna, kejernihan, bau, protein, BJ, dan lain-lain b. Darah : Hb, BT/CT, dan lain-lain. i. Asuhan dalam persalinan Tujuan Asuhan Persalinan : Mengupayakan kelangsungan hidup dan mencapai derajat kesehatan yang tinggi bagi ibu dan bayinya, melalui berbagai upaya yang terintegrasi dan lengkap serta intervensi minimal sehingga prinsip keamanan dan kualitas pelayanan dapat terjaga pada tingkat yang optimal (Wiknjosastro, GH, dkk, 2007). Kala I 1) Pendamping Pendamping persalinan bisa dilakukan oleh suami, anggota keuarga atau seseoranng pilihan ibu yang sudah berpengalaman dalam proses persalinan. 2) Membantu pengaturan posisi Anjurkan suami dan pendamping lainnya untuk membantu ibu berganti posisi. Ibu boleh berdiri, berjalan-jalan, duduk, jongkok, berbaring miring, merangkak dapat membantu turunnya kepala bayi dan sering juga mempersingkat waktu 3) Memberikan cairan / nutrisi Makanan ringan dan cairan yang cukup selama persalinan memberikan lebih banyak energi dan mencegah 11 dehidrasi. Apabila dehidrasi terjadi dapat memperlambat atau membuat kontraksi menjadi tidak teratur dan kurang efektif. 4) Keleluasaan ke kamar mandi secara teratur Ibu harus berkemih paling sedikit setiap 2 jam atau lebih sering jika ibu ingin berkemih. Jika kandung kemih penuh dapat mengakibatkan : a. Memperlambat penurunan bagian terendah janin dan mungkin menyebabkan partus macet b. Menyebabkan ibu merasa tidak nyaman c. Meningkatkan resiko perdarahan pasca persalinan yang disebabkan oleh atonia uteri d. Mengganggu penatalaksanaan distosia bahu e. Meningkatkan resiko infeksi saluran kemih pasca persalinan 5) Pencegahan infeksi Pencegahan infeksi sangat penting dalam penurunan kesakitan dan kematian ibu dan bayi baru lahir. Upaya dan ketrampilan menjelaskan prosedur pencegahan infeksi yang baik melindungi penolong persalinan terhadap resiko infeksi. 6) Pantau kesejahteraan ibu dan janin serta kemajuan persalinan sesuai partograf. Kala II 1) Lanjutkan dukungan pada ibu 2) Menjaga kebersihan ibu 3) Memberikan dukungan mental untuk mengurangi kecemasan atau ketakutan ibu 4) Mengatur posisi ibu 5) Menjaga kandung kemih tetap kosong, anjurkan ibu untuk berkemih 6) Berikan cukup minum terutama minuman yang manis 7) Ibu dibimbing mengedan selama his dan anjurkan ibu untuk mengambil nafas diantara kontraksi, Periksa DJJ setiap selesai kontraksi 8) Minta ibu mengedan saat kepala bayi nampak divulva 9) Letakkan satu tangan dikepala bayi agar defleksi tidak terlalu cepat 10) Tahan perineum dengan satu tangan yang lain 11) Jika kepala telah lahir, usap dengan kasa dari lendir dan darah 12) Periksa adanya lilitan tali pusat 13) Biarkan kepala bayi mengadakan putaran paksi luar dengan sendirinya 12 14) Tempatkan kedua tangan pada posisi biperietal bayi 15) Lakukan tarikan lembut kepala bayi kebawah untuk melahirkan bahu anterior lalu keatas untuk melahirkan bahu posterior. 16) Sanggah kepala dan leher bayi dengan satu tangan kemudian dengan tangan yang lain menyusuri badan bayi sampai seluruhnya lahir. Lakakukan penilaian selintas meliputi: apakah bayi menangis/ bernafas tanpa kesulitan, warna kulit dan bergerak aktif atau tidak. 17) Letakkan bayi diatas perut ibu, keringkan sambil nilai pernafasannya APGAR) dalam menit pertama 18) Lakukan jepit, potong, ikat tali pusat 19) Pastikan bayi tetap hangat Kala III 1) Pastikan tidak ada bayi yang kedua 2) Berikan oksitosin 10 IU dalam 2 menit pertama segera setelah bayi lahir. 3) Lalukan penegangan tali pusat terkendali, tangan kanan menegangkan tali pusat sementara tangan kiri dengan arah dorsokranial mencengkram uterus. 4) Jika plasenta telah lepas dari insersinya, tangan kanan menarik tali pusat kebawah lalu keatas sesuai dengan kurve jalan lahir sampai plasenta nampak divulva lalu tangan kanan menerima plasenta kemudian memutar kesatu arah dengan hati-hati sehingga tidak ada selaput plasenta yang tertinggal dalam jalan lahir. 5) Segera setelah plasenta lahir tangan kiri melakukan massase fundus uteri untuk menimbulkan kontraksi 6) Lakukan pemeriksaan plasenta, pastikan kelengkapannya 7) Periksa jalan lahir dengan seksama, mulai dari servik, vagina hingga perineum. Lakukan perbaikan/penjahitan jika diperlukan Kala IV 1) Bersihkan ibu sampai ibu merasa nyaman 2) Anjurkan ibu untuk makan dan minum untuk mencegah dehidrasi 3) Berikan bayinya pada ibu untuk disusui 4) Periksa kontraksi uterus dan tanda vital ibu setiap 15 menit pada jam pertama dan setiap 30 menit pada jam kedua. 13 5) Ajarkan ibu dan keluarganya tentang : a. Bagaimana memeriksa fundus uteri dan menimbulkan kontraksi b. Tanda bahaya bagi ibu dan bayi. 6) Pastikan ibu sudah buang air kecil dalam 3 jam pertama j. Kebutuhan dasar ibu 1) Pendamping Pendamping persalinan bisa dilakukan oleh suami, anggota keuarga atau seseoranng pilihan ibu yang sudah berpengalaman dalam proses persalinan 2) Pengaturan posisi Membantu ibu berganti posisi. Ibu boleh berdiri, berjalan-jalan, duduk, jongkok, berbaring miring, merangkak dapat membantu turunnya kepala bayi. juga mempersingkat waktu 3) Cairan / nutrisi Anjurkan ibu makan dan minum selama persalinan dan kelahiran bayi, anjurkan keluarga selalu menawarkan makanan ringan dan sering minum pada ibu selama persalinan. Makanan dan cairan yang cukup selama persalinan memberikan lebih banyak energi dan mencegah dehidrasi. Apabila dehidrasi terjadi dapat memperlambat atau membuat kontraksi menjadi tidak teratur dan kurang efektif. 4) Eliminasi Ibu harus berkemih paling sedikit setiap 2 jam atau lebih sering jika ibu ingin berkemih. Jika kandung kemih penuh dapat mengakibatkan : f. Memperlambat penurunan bagian terendah janin dan mungkin menyebabkan partus macet g. Menyebabkan ibu merasa tidak nyaman h. Meningkatkan resiko perdarahan pasca persalinan yang disebabkan oleh atonia uteri i. Mengganggu penatalaksanaan distosia bahu j. Meningkatkan resiko infeksi saluran kemih pasca persalinan 5) Pencegahan infeksi Pencegahan infeksi sangat penting dalam penurunan kesakitan dan kematian ibu dan bayi baru lahir. Upaya dan ketrampilan menjelaskan prosedur pencegahan infeksi yang baik melindungi penolong persalinan terhadap resiko infeksi. 14 k. Rujukan Rujukan dalam kondisi optimal dan tepat waktu ke fasilitas kesehatan rujukan atau yang memiliki saran lebih lengkap diharapkan mampu menyellamatkan jiwa para ibu dan BBL (Menurut Depkes RI 2002) Setiap tenaga penolong /fasilitas pelayanan kesehatan harus mengetahui lokasi fasilitas rujukan terdekat yang mampu melayani kegawatdaruratan obstetric dan BBL seperti : 1. Pembedahan termasuk bedah Caesar 2. Transfuse darah 3. Persalinan menggunakan ekstraksi vacuum dan cunam 4. Antibiotic IV 5. Resusitasi bayi baru lahir dan asuhan lanjutan bagi BBL. Persiapan-persiapan dan informasi dalam rencana rujukan 1) Siapa yang menemani ibu dan BBL 2) Tempat-tempat mana yang lebih disukai ibu dan keluarga 3) Sarana transportasi yang akan digunakan dan siapa yang akan mengendarainya (Ingat bahwa transportasi harus tersedia segera baik siang maupun malam) 4) Orang yang ditunjuk menjadi donor darah jika transfuse darah diperlukan 5) Uang yang disisihkan untuk asuhan medis,transportasi,obat-obatan dan bahanbahan. 15 BAB III ASUHAH KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN NY. R UMUR 28 TAHUN G1 P0 A0 DI BPM JAWIRIYAH Tanggal Masuk : 3 Januari 2017 Ruangan : BPM Jawiriyah I. Pukul : 20.00 WIB PENGUMPULAN DATA A. IDENTITAS Nama ibu : Ny. R Nama Suami : Ny. D Umur : 28 tahun Umur Suku/bangsa : Aceh/Indonesia Suku/bangsa : Aceh/Indonesia Agama : Islam Agama : Islam Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Wiraswasta Alamat rumah : Punge Jurong Alamat rumah : Punge Jurong Telp : 085277956510 Telp : 36 tahun : 085277956510 HARI 1 SOAP 1 S : Ibu G1 P0 A0 datang ke BPM Jawiriyah, ibu mengatakan keluar lendir bercampur darah dari jalan lahir, mules, dan sakit perut dari pinggang menjalar ke simfisis, sebelumnya ibu melakukan pemeriksaan ANC sebanyak 2 kali pada trimester I dan II. ini merupakan kehamilan yang pertama. HPHT tanggal 04 – 04 – 2016. O : K/U : Baik TTV : Tekanan darah : 110/80 mmHg Denyut nadi : 84 x / menit Pernafasan : 25 x / menit Suhu tubuh : 36,8 C Konjungtiva : tidak pucat TFU : 34 cm TBJ : 3.565 gram DJJ : 150 x / menit 16 Portio : lunak Pembukaan : 4 cm Palpasi : L1 : pertengahan pusat dan px (34 cm) L2 : PUKI L3 : kepala L4 : divergen A : Ibu G1 P0 A0 aterm kala I fase aktif keadaan umum ibu dan janin baik. P : 1. Memberitahukan hasil Pemeriksaan kepada ibu dan keluarga bahwa ibu sudah masuk masa persalinan. 2. Menganjurkan ibu agar tetap miring ke kiri, pada saat mules/kontraksi anjurkan ibu untuk beristirahat. 3. Memperhatikan kebutuhan nutrisi ibu dengan menganjurkan ibu agar minum. 4. Melakukan pemantauan pada kandung kemih agar tetap kosong dengan menganjurkan ibu untuk BAK. 5. Menganjurkan suami dan keluarga agar tetap mendampingi ibu selama proses persalinan. 6. Mengajarkan ibu tekhnik mengatur nafas dan tekhnik relaksasi yang baik dan benar untuk mengurangi rasa nyeri 7. Melantau DJJ, kontraksi, nadi, suhu, tekanan darah, pembukaan, dan kemajuan persalinan setiap 30 menit sekali 8. Mengisi Parograf. Tekanan darah 110/80 mmHg, Nadi 84 x/menit, pernafasan 25 x/menit, suhu tubuh 36,8 C, pembukaan 4 cm, Keadaan ibu dan janin baik. SOAP II S : O : ibu mengatakan keluar air-air dan lendir bercampur darah dari jalan lahir, mules, dan sakit perut dari pinggang menjalar ke simfisis K/U : baik TTV : kesadaran : komposmentis Tekanan darah : 110/80 mmHg Denyut nadi : 80 x/menit Pernafasan : 25 x/menit Suhu tubuh : 36,8 C 17 Pembukaan : 7 cm Kontraksi : 4x 10’ 43” Ketuban : jernih Penyusupan :1 DJJ : 158 x/menit A : Ibu G1 P0 A0 aterm kala I fase aktif keadaan umum ibu dan janin baik P : 1. Memberitahukan hasil Pemeriksaan kepada ibu dan keluarga bahwa ibu dan jain dalam keadaan baik 2. Melantau DJJ, kontraksi, nadi, suhu, tekanan darah, pembukaan, dan kemajuan persalinan setiap 30 menit sekali 3. Mengisi Parograf. Tekanan darah 110/80 mmHg, denyut nadi 80 x/menit, pernafasan 25 x/menit, suhu tubuh 6,8 C, pembukaan 7 cm, kontraksi 4x 10’ 43”, Ketuban jernih, Penyusupan 1, DJJ 158 x/menit, keadaan ibu dan janin baik. Kala II (Pukul 01.45 WIB) S : Ibu mengatakan perutnya semakin mules dan ada rasa ingin meneran O : K/U : Baik TD : 120/80 mmHg Pembukaan : 10 cm Kontraksi : 4X 10’ 50” Ketuban : Jernih DJJ : 158 x / menit kesadaran : composmentis Adanya tanda dan gejala kala II (Dorongan ingin meneran, tekanan pada anus, perenium menonjol, dan vulva membuka) A : Ibu kala II persalinan keadaan 18 : ibu dan janin baik P : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan Mengatur posisi ibu senyaman mungkin Mempersiapkan alat dan bahan, dan memakai APD Memimpin persalinan Melakukan APN Melakukan IMD Membuat laporan persalinan Bayi lahir spontan pukul 01.45 wib, jenis kelamin laki-laki, berat badan 3400 gram, panjang badan 50 cm, segera menangis, kondisi ibu dan bayi baik. KALA III (Pukul 02.11 WIB) S : Ibu merasa senang atas kelahiran bayinya dan masih merasa mules dan merasakan adanya kontraksi ringan di perut. O : Sudah ada tanda-tanda pelepasan plasenta 1. Uterus membulat 2. Tali pusat memanjang 3. Semburan darah tiba-tiba Kontraksi : Baik Perdarahan : Normal TFU : Setinggi pusat Kandung Kemih : Kosong A : Ibu kala III persalinan Keadaan P : 1. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan bahwa ibu masuk kala III (kala pelepasan plasenta) 2. Memberi minum ibu apabila ibu ingin minum 3. Melakukan manajemen aktif kala III 4. Melakukan massase uterus selama 15 detik 5. Mengajarkan ibu dan keluarga cara massase uterus 6. Memeriksa kelengkapan plasenta 7. Memeriksa laserasi jalan lahir 8. Penjahitan perineum. 19 : ibu baik Plasenta lahir lengkap pukul 02.11 WIB, jumlah kotiledon 19 buah, selaput ketuban utuh, ruptur tingkat II, perdarahan ± 150 cc (normal), kondisi ibu baik. KALA IV (Pukul 02.45 WIB) Ibu merasa senang namun ibu merasa sedikit lelah atas kelahiran bayinya, S : ibu merasa perih di pereniumnya. O : A : P : TTV : TD : 110/80 mmHg N : 74 x / menit R : 22 x / menit T : 36,5 C TFU : 2 jari di bawah pusat Kandung Kemih : kosong Perdarahan : normal Ruptur : tingkat II Ibu kala IV Persalinan 1. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan 2. Memantau TTV, TFU, Kontraksi, perdarahan, dan kandung kemih ibu setiap 15 menit dalam 1 jam pertama, 30 menit dalam jam ke dua 3. Menganjurkan keluarga untuk tetap massase uterus setiap kali merasakan kontraksi melemah 4. Menganjurkan kepada ibu untuk tidak menahan BAB dan BAK 5. Menganjurkan ibu untuk makan dan minum 6. Menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya sesering mungkin 7. Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup 8. Menganjurkan ibu untuk melakukan mobilisasi pasca 2 jam persalinan 9. Melengkapi partograf. Tekanan darah 110/80 mmHg, Nadi 74 x/menit, respirasi 22 x/menit, suhu 36,5 C, TFU 2 jari dibawah pusat, perdarahan normal, ruptur tingkat II, kontaksi ade kuat, ibu sudah BAB dan BAK, ibu sudah makan dan minum, ibu sudah menyusui bayinya, ibu sudah melakukan mobilisasi (duduk) pasca 2 jam persalinan. 20 SOAP BAYI BARU LAHIR S : Bayi lahir spontan pukul 01.45 wib, ditolong oleh bidan, kondisi bayi sehat. O : K/U : baik BB : 3400 gram PB : 50 cm Denyut jantung : 140x/menit Warna kulit : kemerahan Respon reflek : meringis Tonus otot : bergerak aktif Pernafasan : teratur A : Bayi Ny. R usia 4 jam keadaan bayi baik P : 1. Memberitahu hasil pemeriksaan bahwa bayi dalam keadaan baik 2. Mempertahankan suhu tubuh bayi dengan membungkus bayi dengan kain kering, bersih dan hangat agar terhindar dari hipotermi, dan memandikan bayi ± 6 jam setelah lahir 3. Menganjurkan ibu untuk memberikan ASI sesering mungkin, minimal 2 jam sekali 4. Menjaga dan merawat kebersihan tali pusat bayi 5. Melakukan penyuntikkan imunisasi Hb 0 6. Memberikan salap mata pada kedua mata bayi agar terhindar dari infeksi. 7. Memberitahu ibu untuk immunisasi BCG dan polio I pada tanggal 12 – 01 - 2017 Keadaan umum bayi baik, BB 3400 gram, PB 50 cm, denyut jantung 140x/menit, warna kulit kemerahan, refleks bayi meringis, bayi bergerak aktif, Pernafasan teratur, bayi sudah disuntik Hb 0 dan di berikan salap mata, ibu akan kembali pada tanggal 12 – 01 – 2017 untuk melakukan immunisasi BCG dan polio I. 21 HARI II SOAP RAWATAN S : O : A : P : Ibu mengeluh masih merasa mules pada perut dan merasa perih pada luka bekas jahitan. K/U : baik TTV : kesadaran TD : 110/80 mmHg R : 24 x / menit N : 80 x / menit T : 36,5 C TFU : 2 jari di bawah pusat : komposmentis Ibu P1 A0 nifas hari pertama 1. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan bahwa ibu dalam keadaan baik 2. Memberikan terapy obat pada ibu nifas 3. Memeriksa TFU dan memastikan kembali uterus berkontraksi dengan baik 4. Memastikan kandung kemih dalam keadaan kosong dan mendeteksi adanya perdarahan primer 5. Menganjurkan ibu untuk meminum vitamin A 6. Menganjurkan ibu untuk melakukan mobilisasi 7. Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup 8. Melakukan konseling tentang tanda-tanda bahaya masa nifas 9. Melakukan konseling tentang perawatan luka jahitan pada perineum 10. Melakukan konseling tentang diet ibu nifas 11. Melakukan konseling cara merawat payudara 12. Melakukan konseling KB 13. Melakukan konseling immunisasi pada bayi 14. Melakukan konseling tentang tanda-tanda bahaya pada bayi baru lahir 15. Melakukan konseling perawatan bayi sehari-hari 16. Melakukan konseling cara menyusui yang baik dan benar 17. Menganjurkan ibu untuk memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan 18. Memberitahukan kepada ibu bahwa akan dilakukan kunjungan rumah pada tanggal 09 – 01 – 2017 19. Ibu diperbolehkan pulang. Ibu pulang pukul 16.00 WIB, diberikan terapy etafenin, omegavit, dan pharma mox 500 mg diminum 3 x 1, kunjungan rumah tanggal 09 – 01 - 2017 22 BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan persalinan normal adalah pengeluaran hasil konsepsi yang dikandung selama 37 – 42 minggu, presentasi belakang kepala / ubun-ubun kecil di bawah sympisis melalui jalan lahir biasa, keluar dengan tenaga ibu sendiri, disusul dengan pengeluaran plasenta dan berlangsung kurang dari 24 jam. Setelah persalinan ibu maupun bayi dalam kondisi baik. Kelahiran bayi merupakan pristiwa penting bagi kehidupan seorang pasien dan keluarganya. Sangat penting untuk diingat bahwa persalinan adalah proses yang normal dan merupakan kejadian yang sehat. Namun demikian, potensi terjadinya komplikasi yang mengancam nyawa selalu ada sehingga bidan harus mengamati dengan ketat pasien dan bayi sepanjang proses melahirkan. Dukungan yang terus menerus dan penatalaksanaan yang trampil dari bidan dapat menyumbangkan suatu pengalaman melahirkan yang menyenagkan dengan hasil persalinan yang sehat dan memuaskan. (APN Revisi tahun 2010). 23 DAFTAR PUSTAKA Buku Panduan Praktik Klinik Kebidanan I STIKES BALI JNPK-KR. 2008. Asuhan Persalinan Normal. Jakarta: Depkes RI Nurasiah, Ai. 2012. Asuhan Persalinan Normal Bagi Bidan. Bandung: PT Refika Aditama Prawirohardjo, Sarwono. 2008. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo 24

Judul: Laporan Dan Soap Kebidanan: Asuhan Kebidanan Persalinan Normal Di Bpm Jawiriyah

Oleh: Cut Putri Balkis


Ikuti kami