Observasi Sistem Pelayanan Sosial Bidang Anak Di Panti Sosial Asuhan Anak Albarr

Oleh Dewani Prita

1,2 MB 8 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Observasi Sistem Pelayanan Sosial Bidang Anak Di Panti Sosial Asuhan Anak Albarr

SISTEM PELAYANAN SOSIAL “ Observasi Sistem Pelayanan Sosial Bidang Anak di Panti Sosial Asuhan Anak Albarr ” Dibuat Sebagai Tugas Pengganti Ujian Akhir Semester Tiga Mata Kulaih Sistem Pelayanan Sosial Dosen Pengajar : 1. 2. Dra. Endah Dwi Winarni, M. Si Dra. Nenden Rainy Sundary, M. P Disusun Oleh : Dewani Prita Sumbadra (13.04.418) 2E Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung Jalan Ir. H. Juanda No.367 Bandung 40135 2014 KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah s.w.t yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Obsevasi Sistem Pelayanan di Panti Sosial Asuhan Anak Albarr Bandung”. Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas Sistem Pelayanan Sosial dalam Pekerjaan Sosial dan sebagai bentuk aplikasi dari materi Fungsi dan Tujuan dari Sistem Pelayanan Sosial khususnya pada pekerjaan sosial. Dalam penulisan makalah ini penulis mengucapkan terimakasih kepada Dra. Endah Dwi Winami, M.Si dan Dra. Nenden Rainy Sundari, M. P selaku dosen Sistem Pelayanan Sosial dalam Pekerjaan Soail dan teman-teman kelas 2E yang telah memberikan informasi-informasi mengenai materi-materi yang berkaitan dengan Sistem Pelayanan Sosial. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini belum sempurna dan masih terdapat kelemahan dan kekurangan dalam teknis penulisan. Untuk itu kritik dan saran dari pembaca kami harapkan demi penyempurnaan makalah ini karena tak ada gading yang tak retak, tak ada sesuatu yang sempurna. Bandung, Desember 2014 Penulis DAFTAR ISI Judul......................................................................................................... Kata Pengantar........................................................................................ ii Daftar Isi.................................................................................................. iii Bab I Pendahuluan 1 Bab II Tinjauan Pustaka 3 Bab III Unsur-Unsur Pelayanan Sosial 14 Bab IV Penutup 32 Daftar Pustaka 34 BAB I PENDAHULUAN Anak merupakan anugrah dari Tuhan Yang Maha Esa. Menurut para ahli perkembangan pada masa anak-anak merupakan periode keemasan atau yang sering disebut dengan “Golden Age”. Menurut Undang-undang No. 23 Tahun 2002 Pasal 1 ayat (1), anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Sebagai awal dari proses perkembangan dalam kehidupannya maka keluarga sebagai media utama dan pertama dalam permberian sosialisasi terhadap anak. Keluarga dijadikan segai model dalam setiap anak bertindak. Keluarga mempunyai peranan penting dalam menunjang tumbuh kembang anak. Apabila anak tidak mendapat dukungan penuh dari keluarga maka anak akan mengalami ketidakberfungsian sosial. Keberfungsian sosial yang dialami oleh anak tidak hanya kebutuha akan fisik saja sandang, pangan, dan papan namun juga menyangkut kebutuhan psikis seperti kasih sayang dan perhatian dari keluarga khususnya orang tua. Akan tetapi dalam kehidupannya anak sebagai generasi penerus bangsa harus mempunyai ketrampilan dan kemampuan yang bagus sehingga dapat membawa perubahan terhadap diri sendiri, keluarga, bahkan masyarakat luas. Pendidikan akan usia dini diperlukan agar anak mampu bersaing dan bersosialisasi yaitu mengadakan interaksi yang positif terhadap masyarakat. Indonesia merupakan negara berkembang dengan jumlah penduduk menurut Badan Pusat Statistik tahun 2010 sebanyak 237.641.326 jiwa yang berada dari sabang sampai merauke. Dengan banyaknya penduduk maka tidaklah heran jika Indonesia memiliki berbagai masalah seperti permasalahan anak, khususnya anak terlantar. Menurut data dari Kementrian Sosial RI tahun 2009 Jumlah Anak di Indonesia sebanyak 3.488.309 yang terdiri dari Balita Terlantar sebanyak 1.178.824, Anak Rawan Terlantar sebanyak 10.322.674, dan lainnya terdiri dari anak nakal dan anak disabilitas. Melihat data tersebut sangatlah prihatin, anak yang di harapkan sebagai generasi penerus bangsa harus diterlantarkan karena faktor-faktor tertentu seperti eksploitasi, kemiskinan, ketidakinganan dari orang tua yang melahirkan. Usaha kesejahteraan sosial merupakan suatu usaha yang terornaisir, terarah, dan berkeinambungan. Dalam menangani ketelantaran anak usaha kesejahteraan merupakan primary setting dimana harus bertanggung jawab penuh dalam pengentasan anak terlantar. Untuk itu melalui lembaga kesejahteraan sosial yaitu adanya Panti Sosial Asuhan Anak setidaknya dapat meminimalisir terjadinya keterlantaran anak. Menurut hasil observasi kelompok kami, Panti Sosial Asuhan Anak Albarr Bandung salah satu panti asuhan yang berlandaskan usaha kesejahteraan sosial dalam menangani anak terlantar baik anak dari keluarga miskin, yatim, piatu, yatim piatu, maupun anak korban bencana alam. Dalam pemberian pelayanannya panti asuhan Albarr bekerjasama baik dengan pemerintah, swasta, maupun masyarakat luas dalam pengentasan anak terlantar. Melalui usaha pemerintah yaitu dari Kemenrian Sosial adanyan PKSA (Program Kesejahteraan Sosial Anak) yang memberikan santunan atau bantuan setiap tahunnya yang selanjutnya dikelola sendiri oleh pihak panti. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian A. Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial 1. Kesejahteraan Sosial Kesejahteraan berasal dari kata “sejahtera”. Sejahtera ini mengandung pengertian dari bahasa Sansekerta “Catera” yang berarti payung. Dalam konteks ini, kesejahteraan yang terkandung dalam arti “catera” (payung) adalah orang yang sejahtera yaitu orang yang dalam hidupnya bebas dari kemiskinan, kebodohan, ketakutan, atau kekhawatiran sehingga hidupnya aman, tentram, baik lahir maupun batin. Sedangkan Sosial berasal dari kata “Socius” yang berarti kawan, teman, dan kerja sama. Orang yang sosial adalah orang dapat berelasi dengan orang lain dan lingkungannya dengan baik. Jadi kesejahteraan sosial dapat diartikan sebagai suatu kondisi dimana orang dapat memenuhi kebutuhannya dan dapat berelasi dengan lingkungannya secara baik. Dalam pekerjaan sosial seringkali tingkat kesejahteraan sosial dibagi menjadi sebagai berikut : a. Social security b. Social well being c. Ideal status of social welfare Konsep maupun pengertian mengenai kesejahteraan sosial banyak dikemukakan oleh para ahli, seperti : a. Menurut Friedlander (1980) Kesejahteraan sosial adalah sistem yang terorganisir dari pelayanan-pelayanan sosial dan institusi-institusi yang dirancang untuk membantu individu-individu dan kelompokkelompok guna mencapai standar hidup dan kesehatan yang memadai dan relasi-relasi personal dan sosial sehingga memungkinkan mereka dapat mengembangkan kemampuan dan kesejahteraan sepenuhnya selaras dengan kebutuhankebutuhan keluarga dan masyarakatnya. b. Menurut Perserikatan Bangsa-bangsa Kesejahteraan sosial merupakan suatu kegiatan yang terorganisir dengan tujuan membantu penyesuaian timbal balik antara individu-individu dengan lingkungan sosial mereka. c. Menurut UU No. 6 Tahun 1974 Pasal 2 ayat (1) Kesejateraan sosial ialah suatu tata kehidupan dan penghidupan sosial, meteriil ataupun spiritual yang diliputi oleh rasa keselamatan, kesusilaan, dan ketentraman lahir batin, yang memungkinkan bagi setiap warga negara untuk mengadakan usaha pemenuhan kebutuhan-kebutuhan jasmaniah, rohaniah, dan sosial yang sebaik-baiknya bagi diri, keluarga serta masyarakat dengan menjunjung tinggi hak-hak asasi serta kewajiban manusia sesuai dengan Pancasila. d. Menurut UU No. 11 Tahun 2009 Kesejahteraan sosial adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual, dan sosial warga negara agar dapat hidup dengan layak dan mampu mengembangkan diri, sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya. Menurut pengertian dari beberapa ahli maka dapat disimpulkan bahwa kesejahteraan sosial merupakan suatu usaha yang terorganisir 2. Pekerjaan Sosial Pekerjaan sosial sebagai profesi tidak sama dengan pengertian pekerjaan sosial secara awam. Menurut awam pekerjaan sosial yaitu semua usaha yang baik untuk membantu orang lain sudah barang tentu disebut sebagai pekerjaan sosial. Se B. Sistem Pelayananan Sosial Sebelum mengetahui pengertian dari Sistem Pelayanan Sosial perlu diketahui terlebih dahulu bahwa Sistem Pelayanan Sosial terdiri dari dua Sistem dan Pelayanan Sosial. Pengertian dari Sistem itu sendiri menurut para ahli, sebagai berikut : 1. Menurut Awad, 1974 Sistem merupakan sehimpunan komponen atau sub sistem yang terorganisasi dan berkaitan sesuai dengan rencana untuk mencapai suatu tujuan tertentu. 2. Menurut Campbell, 1979 Sistem merupakan himpunan komponen atau bagian yang saling berkaitan yang bersama-sama berfungsi untuk mencapai tujuan. 3. Menurut Sharode dan Voich, 1979 Suatu keseluruhan yang tersusun dari sekian banyak bagian. Sedangkan pengertian dari pelayanan sosial yaitu sebagai suatu aktivitas yang terorganisir yang bertujuan untuk menolong orang-orang agar terdapat suatu penyesuaian secara timbal balik dengan lingkungannya. Berdasarkan pengertian Sistem dan Pelayanan Sosial diatas maka dapat disimpulkan bawa Sistem Pelayanan Sosial adalah suatu sistem kegiatan yang terstruktur dari berbagai pelayanan maupun program yang ditujukan untuk memperbaiki kelompok, mencegah, maupun komunitas menyembuhkan, mengembangkan, maupun bagi masyarakat, memuluhkan individu, sehingga atau keluarga, mampu melaksanakan fungsi dan peran sosialnya. Sitem Pelayanan Sosial mempunyai beberapa tujuan yaitu System Maintanance, System Control, dan System Change. Dari ketiga tujuan tersebut maka pencapaian tujuannya adalah untuk mencapai penyesuaian diri yang baik, menggali sumber-sumber daya, meningkatkan dan mengembangkan taraf hidup yang memuasakan, dan mampu melaksanakan fungsi dan peranan sosial. Terdapat tiga jenis sistem pelayanan sosial yaitu Lembaga Pelayanan Kesejahteraan Sosial (Panti Asuhan Sosial Anak Albarr, Panti Sosial Tresna Werdha, Panti Sosial Bina Karya, dan sebagainya), Program Pengembangan atau Pemberdayaan Kesejahteraan Sosial (BLT, BOS, dan lain-lain), Program Jaminan Kesejahteraan Sosial yang terdiri dari Asuransi Sosial (Askesos, BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan, Askesin) dan Bantuan Sosial (PKH, BOS, BLT, dan sebagainya). Penyelenggaraan Sistem Pelayanan Sosial khususnya di Lembaga pelayanan sosial dalam melaksanakan programnya tidak terlepas dari beberapa unsur-unsur sistem pelayanan sosial. Unsur-unsur tersebut antara lain : 1. Landasan atau Dasar Hukum Berupa peraturan tertulis atau peraturan perundangundangan kesejahteraan sosial yang berfungsi sebagai landasan hukum dan pedoman dasar gerak operasional segenap upaya pelayanan atau program kesejahteraan sosial. Selain itu juga bisa berupa segenap nilai atau kaidah-kaidah yang dijunjung tinggi. Contohnya : UUD 1945, pasal 34 tentang “Fakir Miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara”, UU No. 6 Tahun 1974 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial, pasal 2 ayat 2 bahwa “Usaha Kesejahteraan Sosial adalah.........”, Al-Qur’an QS Al-Hujurat tentang masyarakat multikultur, dan lain-lain. 2. Sasaran atau Pemerlu Sistem Pelayanan Sosial a. Perorangan, penyandang keluarga, masalah kelompok, kesejahteraan dan masyarakat sosial (PMKS). Misalnya : Anak jalanan, anak terlantar, anak penyandang cacat, lanjut usia terlantar, pengemis, wanita tuna susiala, WRSE, korban bencana alam, dan lain-lain. b. Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS), misalnya pemberdayaan karang taruna, pemberdayaan wahana kesejahteraan sosial berbasis masyarakat (WKSBM), dan lain-lain. 3. Azas dan Tujuan a. Azas Misalnya keimanan, manfaat, adil dan merata, kesetiakawanan, kemandirian, dan sebagaunya. b. Tujuan Misalnya terjaminnya kelangsungan hidup, tumbuh kembang dan perlindungan anak, khususnya anak terlantar, sehingga anak tumbuh kembang secara wajar; terciptanya pemulihan kembali harga diri, kepercayaan serta kemauan melaksanakan fungsi sosialnya secara wajar; dan lain-lain. 4. Fungsi a. Pencegahan, membatasi mengandung tumbuh makna menghambat dan kembangnya diartikan sebagai atau masalah kesejahteraan sosial. b. Rehabilitasi, yang refungsionalisme untuk memungkinkan suatu proses penyandang masalah mampu melaksanakan fungsi sosialnya. c. Pengembangan, yang diartikan sebagai peningkatan taraf kesejahteraan para penyandang masalah berikut lingkungannya, untuk berperan akif dalam kehidupan bermasyarakat. d. Perlindungan, yang diartikan sebagai wujud jaminan dan pemeliharaan setiap warga dari tindak kekerasan dan atau perlakuan salah sesuai harkat martabat manusia. e. dan sebagainya...... 5. Pendekatan Dalam sistem pelayanan sosial pendekatan yang dilakukan bias bermacam-macam seperti pendekatan pekerjaan sosial, medis, psychologis, ekonomi, budaya, agama, dan sebagainya. 6. Program Program yang dilakukan disesuaikan dengan tujuan yang akan dicapai, seperti program Pelayanan Sosial Anak Terlantar, Pelayanan Sosial Lanjut Usia, Bantuan Sosial, Bencana Alam, Pemberdayan Sosial Komunitas Adat Terpencil, dan sebagainya. 7. Metode Metode dan teknik yang digunakan berlandaskan metode pokok, yaitu metode Pekerjaan Sosial. Metode yang digunakan dalam pemberian pelayanan sosial terhadap lanjut usia : a. Pekerjaan Sosial dengan Individu (Social Case Work) b. Pekerjaan Sosial degan Kelompok (Social Group Work) Metode yang digunakan dalam pemberdayaan komunitas adat terpencil, misalnya Pengembangan dan Pengorganisasian Masyarakat (Community Organization and Community Development). 8. Mekanisme Pelayanan atau Program a. Tahap Pendekatan Awal b. Tahap Pengungkapan dan Pemahaman (Assesment) c. Tahap Perencanaan Pelayanan atau Program Masalah d. Tahap Pelaksanaan Pelayanan atau Program e. Tahap Pasca Pelayanan atau Program 9. Organisasi atau Tim Kerja Pelaksana a. Kedudukan : Pemerintah pusat, daerah, milik swasta atau masayarakat nasional maupun daerah. b. Fungsi tiap sekbid c. Struktur Organisasi 10. Tenaga Profesional dan Penunjang a. Tenaga kesejahteraan sosial sebagai satu kelompok dominan dalam mewujudkan tujuan pelayanan atau program kesejahteraan yang merubah sasaran pelayanan menjadi hasil pelayanan atau program. b. Tenaga Profesional, adalah profesi Pekerjaan Sosial sebagai tenaga utama dalam kegiatan Usaha Kesejahteraan Sosial, disamping tenaga profesi lainnya. c. Tenaga Penunjang, adalah tenaga administrasi yang menunjang seluruh pelaksanaan kegiatan pelayanan atau program kesejahteraan sosial. 11. Dana atau Anggrana atau Sumber Pembiayaan Misalnya : a. Dana Pemerintah : APBN, APBD b. Dana Masyarakat : Perorangan dan atau Organisasi Sosial c. Dana Swasta atau Dunia Usaha : CSR d. Dana Kerjasama atau Bantuan Luar Negeri : PBB, Bank Dunia, Jeika (Jepang) 12. Sarana dan Prasarana Sarana dan prasarana menyangkut perlengkapan pelayanan atau program kesejahteraan sosial, seperti : a. Ruang atau bangunan b. Peralatan : kantor, alat bantu pelayanan, transportasi, komunikasi, dan informasi. C. Anak Anak adalah tunas, potensi dan generasi penerus cita-cita perjuangan bangsa, oleh karena itu anak memiliki peran strategis bagi kelangsungan eksistensi bangsa dan negara di masa depan. Agar setiap anak kelak mampu memikul tanggung jawab tersebut, maka ia perlu mendapat kesempatan seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, baik fisik, mental maupun sosial, berakhlak mulia, serta memperoleh perlindungan untuk menjamin kesejahteraannya, untuk itu uapaya yang harus dilakukan adalah memberikan jaminan terhadap pemenuhan hak-haknya serta adanya perlakuan tanpa diskriminasi. Menurut Undang-undang No. 23 Tahun 2002 Pasal 1 ayat (1), anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Menurut Permensos RI No. 8 Tahun 2012 tentang Pedoman Pendataan dan Pengelolaan Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial dan Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial khususnya anak balita terlantar dan anak terlantar adalah sebagai berikut : 1. Anak Balita Terlantar Anak Balita Terlantar adalah seorang anak berusia 5 (lima) tahun ke bawah yang ditelantarkan orang tuanya dan/atau berada di dalam keluarga tidak mampu oleh orang tua/keluarga yang tidak memberikan pengasuhan, perawatan, pembinaan dan perlindungan bagi anak sehingga hak-hak dasarnya semakin tidak terpenuhi serta anak dieksploitasi untuk tujuan tertentu. Kriteria: a. Terlantar/ tanpa asuhan yang layak; b. Berasal dari keluarga sangat miskin / miskin; c. Kehilangan hak asuh dari orangtua/ keluarga; d. Anak balita yang mengalami perlakuan salah dan diterlantarkan oleh orang tua/keluarga; e. Anak balita yang dieksploitasi secara ekonomi seperti anak balita yang disalahgunakan orang tua menjadi pengemis di jalanan; dan f. Anak balita yang menderita gizi buruk atau kurang. 2. Anak terlantar Anak terlantar adalah seorang anak berusia 6 (enam) tahun sampai dengan 18 (delapan belas) tahun, meliputi anak yang mengalami perlakuan salah dan ditelantarkan oleh orang tua/keluarga atau anak kehilangan hak asuh dari orang tua/keluarga. Kriteria : a. Berasal dari keluarga fakir miskin; b. Anak yang dilalaikan oleh orang tuanya; dan c. Anak yang tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya. D. Anak Korban Musibah Bencana Alam Menurut Permensos No. 8 Tahun 2012 yang dimaksud Korban bencana alam adalah orang atau sekelompok orang yang menderita atau meninggal dunia akibat bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor terganggu fungsi sosialnya. Kriteria : 1. Seseorang atau sekelompok orang yang mengalami: 2. Korban terluka atau meninggal; 3. Kerugian harta benda; 4. Dampak psikologis; dan 5. Terganggu dalam melaksanakan fungsi sosialnya. E. Karakteristik Anak Terlantar Menurut Keputusan Menteri Sosial RI. No. 27 Tahun 1984 terdapat beberapa karakteristik atau ciri-ciri anak terlantar yaitu: 1. Anak (laki-laki/perempuan) usia 5-18 tahun 2. Tidak memiliki ayah, karena meninggal (yatim), atau ibu karena meninggal tanpa dibekali secara ekonomis untuk belajar, atau melanjutkan pelajaran pada pendidikan dasar. 3. Orang tua sakit-sakitan dan tidak memiliki tempat tinggal dan pekerjaan yang tetap. Penghasilan tidak tetap dan sangat kecil serta tidak mampu membiayai sekolah anaknya. 4. Orang tua yang tidak memiliki tempat tinggal yang tetap baik itu rumah sendiri maupun rumah sewaan. 5. Tidak memiliki ibu dan bapak (yatim piatu), dan saudara, serta belum ada orang lain yang menjamin kelangsungan pendidikan pada tingkatan dasar dalam kehidupan anak. 6. Tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya. 7. Anak yang lahir karena tindak perkosaan, tidak ada yang mengurus dan tidak mendapat pendidikan. F. Pengertian Panti Asuhan Panti Asuhan pada hakikatnya adalah lembaga sosial yang memiliki program pelayanan yang disediakan untuk menjawab kebutuhan masyarakat dalam rangka menangani permasalahan sosial terutama permasalahan kemiskinan, kebodohan dan permasalahan anak yatim piatu, anak terlantar yang berkembang di masyarakat. Dalam pasal 55 (3) UU RI No.23 Tahun. 2002 dijelaskan bahwa kaitannya dengan penyelenggaraan pemeliharaan dan perawatan anak terlantar, lembaga pemerintah dan lembaga masyarakat, sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dapat mengadakan kerjasama dengan berbagai pihak yang terkait. Panti asuhan diartikan sebagai rumah, tempat atau kediaman yang digunakan untuk memelihara (mengasuh) anak yatim, piatu dan yatim piatu (W.J.S Poerwadarminta, 2002: 710). Maksud dari pendirian Panti Asuhan adalah untuk membantu dan sekaligus sebagai orang tua pengganti bagi anak yang terlantar maupun yang orang tuanya telah meninggal dunia untuk memberikan rasa aman secara lahir batin, memberikan kasih sayang, dan memberikan santunan bagi kehidupan mereka. Tujuannya adalah untuk mengantarkan mereka agar menjadi manusia yang dapat menolong dirinya sendiri, tidak bergantung pada orang lain dan bermanfaat bagi masyarakat (Mochtar Shochib, 2006: 4). Tujuan Panti Asuhan adalah menjadikan anak mampu melaksanakan perintah agama, mengantarkan anak mulia dan mencapai kemandirian dalam hidup dibidang ilmu dan ekonomi, menjadikan anak mampu menghadapi masalah secara arif dan bijaksana dan memberikan pelayanan kesejahteraan kepada anak-anak yatim dan miskin dengan memenuhi kebutuhan fisik, mental dan sosial agar kelak mereka mampu hidup layak dan hidup mandiri di tengah-tengah masyarakat. Pelayanan dan pemenuhan kebutuhan anak di panti asuhan dimaksudkan agar anak dapat belajar dan berusaha mandiri serta tidak hanya menggantungkan diri tehadap orang lain setelah keluar dari panti asuhan. BAB III UNSUR-UNSUR SISTEM PELAYANAN SOSIAL 3.1 Landasan atau Dasar Hukum Panti Asuhan Sosial Anak Albarr dalam menyelenggarakan pelayanan sosial terhadap anak, awalnya dilandasi hanya dengan charity saja namun mengingat sistem panti menurut standar pemerintah dari tahun ke tahun harus memenuhi beberapa kriteria maka Panti Asuhan Sosial Anak Albar berlandaskan hukum menurut pasal 34 UUD 1945 bahwa “ Fakir miskin dan anak terlantar dilindungi oleh negara”. Selain itu fokus dari didirikannya panti asuhan ini awalnya yaitu sebagai bentuk untuk membantu anak-anak yatim, piatu, yatimpiatu terlantar dan anak-anak terlantar (dluafa) yang berada di lingkungan sekitar panti. Awalnya sebelum didirikan panti asuhan ini merupakan rumah dari keluarga almarhum Bapak Letkol (pur) H. Sutjipto Sastroprawiro, dulu beliau juga bersama keluarganya sering melakukan kegiatan bakti sosial hal tersebut akhirnya diwarisi oleh putrinya yang sekarang sudah berkeluarga dan memiliki ide untuk membuat panti asuhan, dan keluarga almarhum menghibahkan sebagian rumahnya untuk dujadikan sebagai pusat kegiatan pengasuhan dan pembinaan bagi anak-anak asuh yang tinggal di dalam panti. Alasan pendiri mendirikan panti yaitu lebih ke bentuk charity yang bersifat keagamaan yaitu seperti yang telah di terangkan dalam Quran Surah 107: 1-3 yang artinya bahwa “Tahukan kamu (orang) yang mendustakan Agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin”. Selain itu juga berdasarkan atas Hadist Riwayat Bukhori yang mengatakan bahwasannya Rasulullah s.a.w bersabda “Saya dan orang yang memelihara anak yatim dengan baik, kelak disurga bagaikan jari telunjuk dengan jari tengah”. Menjelang tahun ke-tiga yaitu Oktober 2000 yayasan mendirikan nama Panti Sosial Asuhan Anak Albarr ini mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak, baik masyarakat sekitar panti, pemerintah, dan bantuan dari donatur baik moril maupun materiil. Untuk sekarang sistem panti yang semaik bagus maka landasan utamanya bukanlah pada charity, namun lebih ke bantuan kesejahteraan sosial anak bagaimana anak mendapatkan kebutuhan pokok baik psikis maupun fisik yang selayaknya yang berlandaskan atas UU No. 6 Tahun 1974 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial yang sekarang diperbaharui menjadi UU No. 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial. UU No. 6 Tahun 1974 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial, pasal 2 ayat 1 “ Kesejahteraan Sosial ialah suatu tata kehidupan dan penghidupan sosial, materiil ataupun spiritual yang diliputi oleh rasa keselamatan, kesusilaan, dan ketentraman lahir batin, yang memungkinkan bagi setiap warga negara untuk mengadakan usaha pemenuhan kebutuhan-kebutuhan jasmaniah, rohaniah, dan sosial yang sebaik-baiknya bagi diri, keluarga serta masyarakat dengan menjunjung tinggi hak-hak asasi serta kewajiban manusia sesuai dengan Pancasila”. Sedangkan pasal 2 ayat 2 disebutkan bahwa “ Usaha kesejahteraan sosial adalah semua upaya, program, dan kegiatan yang ditujukan untuk mewujudkan, membina, memelihara, memulihkan dan mengembangkan kesejahteraan sosial. Kemudian diperbaharui dengan UU No.11 Tahun 2009 Tentang Kesejateraan Sosial menyatakan bahwa kesejahteraan sosial adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual, dan sosial warga negara agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri, sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya. Sedangkan Usaha Kesejahteraan Sosialnya dinyatakan bahwa usaha kesejahteraan sosial merupakan penyelenggaraan kesejahteraan sosial yaitu upaya yang terarah, terpadu, dan berkelanjutan yang dilakukan Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam bentuk pelayanan sosial guna memenuhi kebutuhan dasar setiap warga negara, yang meliputi rehabilitasi sosial, jaminan sosial, pemberdayaan sosial, dan perlindungan sosial. Dalam penyelenggaraan pelayanan panti sosial terhadap anak Panti Asuhan Sosial Anak Albarr mengacu pada peraturan tentang yayasan yang diatur dalam Undang-undang No. 16 Tahun 2002 yaitu Yayasan adalah badan hukum yang terdiri atas kekayaan yang dipisahkan dan diperuntukkan untuk mencapai tujuan tertentu di bidang sosial, keagamaan, dan kemanusiaan, yang tidak mempunyai anggota. 3.2 Sasaran atau Pemerlu Sistem Pelayanan Sosial Sasaran dari Panti Sosial Asuhan Anak Albarr awalnya hanya memberikan santunan keluarga kepada bebeapa orang anak yatim, piatu, yaitm-piatu terlantar dan anak-anak (dluafa) yang terlantar berada di lingkungan sekitar. Namun karena panti asuhan Albarr mendapatkan dukungan dari berbagai pihak maka panti asuhan Albarr memberikan sasaran yang lebih luas dan lebih terperinci yaitu bahwa pelayanan sosial panti diutamakan antara lain untuk : A. Anak-anak yatim, yayimpiatu terlantar B. Anak dari keluarga tidak mampu atau miskin C. Anak-anak yang terlantar dluafa D. Anak-anak korban musibah bencana alam Sasaran tersebut untuk saat ini tidak hanya diberikan kepada keluarga atau pun masayarakat yang berada di sekitar panti saja, namun juga diberikan kepada masyarakat luas di seluruh Indonesia mulai dari Sabang sampai Merauke. Seperti hasil observasi kelompok kami bahwa anak-anak yang berada di dalam panti tidak hanya berasal dari daerah sekitar saja namun juga ada beberapa anak yang berasal dari Papua, Sumatra, Garut, dan sebagainya. Selain itu sasaran panti tidak hanya untuk anak-anak yang tinggal di dalam panti saja namun juga untuk anak-anak yang tinggal diluar panti maksudnya yaitu untuk anak-anak yang berasal dari keluarga sekitar panti yang tidak mampu dan mendaftarkan diri untuk mendapatkan pelayanan dari panti melalui tahapan seleksi dari panti bahwa keluarga tersebut berhak mendapat pelayanan dari panti atau tidak. Untuk saat ini jumlah anak yang tinggal di dalam panti sejumlah sepuluh anak, sedangkan anak yang tinggal di luar panti sebanyak empat puluh anak yang terdiri dari anak yang masih menempuh pendidikan SD hingga SMA. 3.3 Asas dan Tujuan Dalam melaksanakan Pelaksanaan pelayanan panti asuhan sosial anak Albarr mempunyai beberapa tujuan utama antara lain yaitu : A. Untuk memberikan pelayanan kesejahteraan sosial B. Untuk mencegah putus sekolah dan keterlantaran serta menjadi orang tua pengganti bagi anak asuh C. Mengatasi dan menangani keadaan yang sangat membutuhkan pertolongan akibat kehidupan yang serba kekurangan. Dalam pelaksanaannya panti asuhan Albarr dalam memberikan pelayanan memang ditujukan agar setiap anak mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan dan hak-hak anak yang seharusnya didapatkan. Berdasarkan observasi kelompok kami bahwa tujuan awal dari didirikan panti asuhan Albarr yaitu untuk memberikan santunan keluarga kepada beberapa anak yatim, piatu, yatim piatu terlantar dan anak-anak terlantar (dluafa) yang berada di lingkungan panti. Selain membantu mereka agar berfungsi sosial juga agar hak-hak mereka akan pendidikan terpenuhi. Untuk anak-anak terlantar agar mereka mempunyai keluarga asuh atau keluarga pengganti yang mempunyai peranan yang sama seperti keluarga lainnya. Maka dengan didirikannya panti asuhan Albarr memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar khususnya untuk para keluarga yang kurang mampu dalam memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Mengingat pemberian dukungan dari berbagai pihak maka panti asuhan Albarr dapat meningkatkan pemberian bantuan tidak hanya untuk masyarakat sekitar saja namun juga masyarakat luas, seperti masyarakat Indonesia dari Sabang hingga Merauke, yang mempunyai latar belakang berbeda-beda yang berada dalam garis kemiskinan dan pastinya dalam mendapatkan pelayanan harus mengikuti beberapa tahapan dan seleksi dari panti. 3.4 Fungsi Panti Asuhan Sosial Albarr mempunyai beberapa fungsi dalam menyelenggarakan pelayanan sosial terhadap anak, antara lain : A. Pengganti orang tua Fungsi sebagai pengganti orang tua yaitu bahwa anak-anak panti yaitu terutama anak-anak yang tinggal di asrama panti mereka mendapatkan keluarga pengganti yaitu keluarga panti. Keluarga pengganti disini dalam artian bahwa keluarga panti mempunyai tanggung jawab dan berperan seperti layaknya keluarga mereka yang sebenarnya. Keluarga yang dimaksud dalam hal ini bukanlah seseorang yang mempunyai hubungan satu darah dengan anak, tetapi seseorang atau beberapa orang yang dipercaya dan mempunyai ikatan yang sangat lekat seperti layaknya keluarga. B. Pemulihan Kondisi fisik, mental dan sosial anak asuh pada kondisi yang semestinya dimiliki oleh anak-anak pada umumnya. Pemulihan kondisi fisik, mental dan sosial dalam hal ini yaitu bahwa seseorang anak dalam masa perkembangannya merupakan masamasa bermain. Kadang kita temui dalam berinteraksi dengan temantemannya ada beberapa anak menjadi bahan bullyan, dari sini maka pihak panti memberikan pengarahan-pengarahan terhadap beberapa anak yang membully ataupun anak yang dibully agar mereka tetap mempunyai kekuatan mental dan percaya diri layaknya anak-anak yang lain. Di panti asuhan Albarr juga terdapat beberapa anak yang mempunyai klasifikasi gangguan mental dan itu memang sudah diperiksa ke ahli psikolog, untuk itu pihak panti tidak hanya pengasuh dan pekerja sosial saja yang menangani dan melakukan pendekatan-pendekatan terhadap anak tersebut. Tetapi perlu juga dukungan dari berbagai pihak panti baik pengurus ataupun anak-anak yang berada di dalam panti serta para relawan-relawan panti dalam proses penyembuhan anak tersebut. Hal tersebut dilakukan agar anak tidak merasa bahwa dirinya sama dengan anak yang lainnya yang normal. Pihak panti tidak melakukan refferal ke ahli atau profesi lain karena pihak panti khususnya pekerja sosial menunturkan bahwa pihak panti masih bisa memberikan pelayanan untuk penyembuhannya, apabila keadaan anak semakin parah dan pemberian pelayanan di panti tidak mempunyai dampak terhadap perkembangan anak, maka pihak panti baru merefferal ke pihak yang seharusnya. C. Perlindungan bagi anak asuh dari gangguan fisik, mental dan sosial dari pengaruh luar. Perlindungan yang diberikan oleh panti asuhan Albarr menurut hasil pengamatan kami dapat dicontohkan melalui pemberian bekal untuk sekolah setiap harinya. Bahwa dalam kesehariannya untuk anak-anak SD terutama yang tinggal di asrama panti dberikan bekal makanan baik makanan berat ataupun makanan ringan, bukan berupa uang saku. Hal tersebut diterapkan agar pola makan mereka dapat dikontrol oleh pihak panti, dan mereka perkembangan mereka dapat terkendali. Apabila terjadi semisalnya sakit, maka pihak panti khususnya pengasuh yang memberikan pengasuhan salah satunya dalam menyediakan makanan untuk anak-anak dapat di pantau asupan gizi yang dimakan oleh anakanak. Anak-anak merupakan masa dimana mereka berada dalam masa bermain, kadang terdapat anak yang dikatakan “nakal” terhadap anakanak lain di lingkungannya baik di lingkungan keluarga, peer group, maupun di sekolahnya. Di Albarr sendiri pernah terjadi ada beberapa anak yang jahil atau nakal terhadap temannya yang berada di sekolah. Pihak panti pengasuh atau pun pekerja sosial dari Albarr kadang di panggil dan diberi nasehat oleh pihak sekolah. Menurut pemaparan dari pekerja sosial yang berada di Albarr bahwa anak tersebut memang berasal dari keluarga timur yaitu dari Papua, dan wajar jika dia berperilaku nakal terhadap teman-temannya. Selain itu memang dalam dunia anak tidak ada kata anak memiliki cap atau label “nakal” apabila perilaku anak masih dikategorikan masih dalam batasan. Anak dikategorikan nakal apabila ia sudah berada dalam batasan yang tidak wajar, misalnya menyalahguanakan obat-obatan terlarang. Namun dalam kasus ini anak masih dalam batasan bandel atau jahil, disisi lain anak tersebut termasuk anak yang cerdas. Maka tugas sebagai keluarga pengganti yaitu pihak panti memberikan pengarahan terhadap anak meluruskan apa yang dilakukan oleh anak baik atau tidak yaitu dimaksudkan agar anak berlatih untuk berpikir dan bertindak yang sesuai dengan aturan yang ada. D. Pembinaan anak asuh sesuai dengan tujuan dari pelayanan panti asuhan. Pembinaan yang dilakukan di panti asuhan Albarr yaitu terdiri dari pembinaan tentang pendidikan, kegamaan, dan pembinaan diri masingmasing anak atau pembinaan pribadi. Pembinaan pendidikan dilakukan setiap hari yaitu adanya volunteer atau kakak damping dari mahasiswamahasiswa STKS. Kakak damping merupakan relawan dari mahasiswa STKS sebagai relawan untuk mendampingi anak-anak panti asuhan Albarr dalam hal belajar tentang materi-materi yang didapatkan dari sekolah. Sebenarnya tidak hanya sebagai pendamping dalam belajar anakanak tapi diharapkan setiap kakak damping dapat mengetahui celah kehidupan masing-masing anak sehingga dapat mengetahui permasalahan dari anak-anak dengan kata lain pendampingan belajar sebagai media pendekatan dalam mengetahui lebih jauh permasalahan dan dunia anak. Pembinaan keagamaan dilakukan setiap hari minggu atau yang disebut dengan acara keputrian yang didampingi atau diisi pemateri dari relawan mahasiswa STKS. Sedangkan pembinaan pribadi maksudnya yaitu apabila ada anak yang melakukan kesalahan atau melakukan hal yang salah yang tidak sesuai maka pengasuh ataupun warga panti perlu memberikan didikan agar anak dapat sesuai dengan harapan. Pembinaan pribadi misalnya dilakukan secara kolektif yaitu anak diajarkan untuk membersihkan panti setiap hari mulai dari menyapu, mencuci piring, dan mengenai hal-hal mendasar. Tugas membersihkan panti dilakukakan secara bersama-sama oleh anak-anak dan pengasuh panti. Hal tersebut dimaksudkan agar anak dilatih untuk disiplin dan mempunyai ketrampilan mendasar mengenai tugas-tugas anak membantu orang tua. Sistem yang diterapkan yaitu sistem piket yang sudah di bagi oleh panti. E. Pengembangan sumber daya yang ada pada anak asuh dalam pemahaman Dienul Islam, intelektualitas dan bekal bagi kehidupannya kelak. Pengembangan sumber daya yang ada pada anak yaitu lebih ke potensi anak dalam mengembangkan minat dan bakatnya. Penyaluran minat dan pengasahan minat dan bakat dilakukan melalui kegiatan yang dipimpin oleh kakak damping dari mahasiswa STKS. Biasanya ada hari anak-anak belajar mengenai ketrampilan yang diberikan kakak damping mulai dari kesenian berlatih gitar, menyanyi, drumer, ataupun ke bidang olah raga futsal. Untuk olah raga futsal dilakukan setiap hari Minggu pagi mereka dilatih bagaimana untuk futsal yang baik dan teknik-teknik futsal yang benar. Sedangkan untuk ketrampilan dalam hal kesenian dilakukan setiap Sabtu malam. Untuk pengembangan mengenai keislaman dilakukan setiap hari yaitu adanya kegiatan mengaji secara rutin setiap sore dan ba’da maghrib. Sedangkan setiap hari Minggu sore yaitu untuk acara keislamaan namun yang lebih bersifat intensif dan mendalam seperti menthoring. F. Pencegahan dari sebab-sebab yang dapat membawa anak asuh melakukan perbuatannya yang negatif dan tercela. Pencegahan yang dilakuakan lebih bersifat ke sosialisasi yaitu melalui kegiatan menthoring misalnya dapat dilakukan pemberian nasehat-nasehat dan pengertian-pengertian mengenai sesuatu yang baik dan buruk serta akibat-akibat yang dapat terjadi. Bisa juga dilakukan melalui pemberian nasehat oleh pekerja sosial ataupun pengasuh panti langsung kepada anak-anak. 3.5 Pendekatan Hasil pengamatan dari kelompok kami bahwa di panti sosial asuhan Albarr sebagian besar menerapkan pendekatan keagamaan, karena dalam pemberian pelayanan dikemas dalam bentuk pola pendidikan pesantren. Dapat dilihat melalui kegiatan-kegiatan yang dilakukan sehari-hari yaitu kebanyakan bersifat keagamaan seperti hafalan doa-doa, pendidikan fiqih, tajwid, anak dilatih sebagai muadzin maupun imam, dan sebagainya. Namun kadang juga melibatkan pendekatan seperti seni digunakan ketika menyangkut pengasahan minat dan bakat anak-anak. Pendekatan pola pendidikan pesantren dimaksudkan sebagai bekal ketika anak-anak kelak tidak buta akan agama, dan sebagai bekal ketika dewasa nanti. Selain itu juga terdapat pola pendekatan melalui proses pendampingan belajar, melalui pendampingan belajar yang dilakukan oleh para relawan atau volunteer dari mahasiswa paling tidak mahasiswa dapat mengetahui kehidupan kecil anak-anak yang didampinginya. Fokus utama dari adanya pendekatan pendampingan belajar yaitu selain membantu prestasi akademik anak juga dapat membantu anak dalam pengubahan perilaku apabila tidak sesuai. Pendekatan terdiri dari pendekatan awal sejak anak mulai menetap di panti hingga anak selesai mendapatkan pelayanan dari panti kemudian di terminasi. Pendekatan awal misalnya adanya sosisalisasi terhadap teman-temannya dan orang-orang yang berada di panti. Pendekatan yang dilakukan di panti sebagai suaru pendekatan terhadap anak dimana panti menggantikan peran fungsi keluarga yaitu sebagai media pertama dan utama dalam mendidik anak. 3.6 Program atau Kegiatan Program yang dilaksanakan di panti asuhan Albarr yaitu membina dan menyantuni anak asuh baik di dalam panti maupun di luar panti yang saat ini berjumlah lima puluh orang, dimana sepuluh orang tinggal di asrama panti dan empat puluh orang tinggal di luar panti. Untuk mencapai hasil pendidikan seperti yang direncanakan, maka program pendidikan yang diberikan antara lain : A. Pendidikan Formal : TK, SD, SMP, dan SMA/SMK B. Pendidikan Non Formal : Ketrampilan, kursus, dll C. Pendidikan In Formal : Menerapkan pola pendidikan pesantren Program pendidikan formal yang ada di panti asuhan Albarr diikuti oleh semua anak yang berada di dalam panti. Semua anak yang berada di dalam panti memperoleh pelayanan mulai dari pendidikan formal, non formal, hingga in formal. Sedangkan untuk anak-anak yang berada di luar panti hanya mendapatkan pelayanan sosial menyangkut sebatas pendidikan formal dan mengikuti pelayanan panti pendampingan belajar yang diadakan rutin setiap harinya. Panti asuhan Albarr menerapkan pola pendidikan pesantren karena selain sebagai latar belakang berdirinya panti asuhan tersebut tetapi juga sebagai bekal ketika anakanak menjani kehidupannya kelak. Pendidikan formal ditempuh oleh setiap anak berbeda-beda, mulai dari TK, SD, SMP/MTs, hingga SMA/SMK. Setiap anak dalam menentukan dirinya akan melanjutkan pendidikan ke mana, diberikan partisipasi atau dengan kata lain anak-anak bebas memilih. Namun ketika anak menyerahkan atau berkata terserah, maka panti asuhan Albarr yang menentukan anak akan melanjutkan pendidikan ke mana. Biasanya untuk SMP/SMA sendiri, panti asuhan Albarr sudah mempunyai kerjasama yang baik dengan MTs/MA Yasfi. Untuk sekolah dasar, anak-anak panti asuhan Albarr bersekolah di SD Negeri Jatayu yang berjarak seratus meter dari panti. Selain pendidikan formal anak-anak baik dalam panti maupun luar panti mendapatkan pendidikan in formal seperti pola pendidikan pesantren yang diterpakan dalam kegiatan sehari-hari. Bentuk kegiatan yang dilakukan seperti kegiatan belajar mengajar tentang materi keagamaan seperti halnya yang ada di pesantren contohnya ada materi mengenai fiqih, tajwid, aqidah, dll. Ada pula kegiatan yasin dan tahlil, jadwal anak sebagai imam dan muadzin, serta kegiatan bimbingan belajar baca Alquran dan doa-doa harian yang memimpin dan membimbing yaitu dari anak-anak panti sendiri. Kegiatan mengenai keagamaan dilaksanakan sore pukul 17.30 WIB hingga pukul 20.00 WIB. Namun untuk kegiatan yasin dan tahlil diadakan setiap seminggu sekali yaitu setiap Kamis malam yaitu mulai pukul 18.15 WIB hingga pukul 19.30 WIB, ada pula kegiatan kesenian keagamaan seperti nasyid yaitu dilakukan setiap hari Sabtu malam mulai pukul 18.15 WIB hingga pukul 19.30 WIB. Kegiatan selain keagamaan yaitu ada kegiatan piket harian yang dilakukan pukul 15.30-17.15. Kegiatan piket harian sudah dibagi ke dalam kelompok setiap harinya dan diberi alur atau ruangan mana saja yang perlu dibersihkan oleh anak. Untuk jadwal piket harian dilakukan oleh anak-anak yang tinggal di asrama panti saja, namun untuk kegiatan lain seperti kegiatan keagamaan lainnya diikuti oleh semua anak panti baik anak yang berada di asrama panti maupun berada di luar panti. Untuk kegiatan ketika liburan dari sekolah, baik tanggal merah ataupun ada libur dari sekolah karena sesuatu hal, anak-anak dalam panti melakukan kegiatan layaknya anak-anak di rumah masing-masing. Untuk hari Minggu pagi juga diadakan kerja bakti mulai dari pukul 08.00 hingga pukul 09.00. 3.7 Metode dan Teknik Meode yang dilakukan di panti asuhan Albarr menurut observasi kelompok kami, berdasarkan hasil wawancara kami dengan pekerja sosial dan relawan yang ada di sana bahwa metode yang dilakukan lebih ke arah case work maupun group work. Metode case work misalnya yaitu dengan pembinaan atau penanganan permasalahan lebih ke individu-individunya, sedangkan metode case work lebih ke pembinaan bagaimana seorang individu dapat berperan aktif didalam kelompok dan memiliki peran seperti teman-teman sepermainnya, selain itu juga bagaimana kelompok mempengaruhi tingkah laku individu atau anak dalam bertindak. Untuk metode case work lebih ke teknik pengubahan perilaku, yaitu dalam hal ini anak-anak dituntut agar mereka mempunyai perilaku yang baik dan dapat diharapakan. Mislanya di panto asuhan Albarr setiap hari diadakannya jadwal piket untuk membersihkan panti, hal tersebut dimaksudkan supaya anak memiliki ketrampilan-ketrampilan yang mendasar untuk bekal kehidupannya kelak. Selain itu anak dituntut agar dapat bertanggung jawab ataus tugas yang diberikan dan mempunyai perilaku disiplin. Selain itu adanya pemberian bekal makan kepada anak setiap berangkat sekolah, yaitu diharapkan dengan adanya pola pemberian bekal makanan kepada anak-anak agar anak tidak sembarangan dalam membeli makanan dan melatih agar anak dapat mengontrol kebiasaan membeli barang atau makanan yang tidak baik atau kurang bermanfaat untuk dirinya. Dalam hal pendampingan yang dilakukan oleh relawan mahasiswa misalnya dalam pendampingan belajar anak, bahwa anak tidak dilatih atau dituntun atau diberikan jawaban langsung apabila ada tugas dan PR, namun anak dilatih atau dibimbing bagaimana mereka dapat memecakan masalah atau PR mereka sendiri terlebih dahulu, baru mereka bertanya kepada kakak pendamping apabila mereka mempunyai kesulitan dalam mengerjakannya. Untuk pengubahan perilaku sendiri apabila seorang anak mempunyai kebiasaan atau permasalahan dengan keluarganya memang sudah dalam batas yang tidak wajar, maka pekerja sosial yang berada di panti melakukan kunjungan atau home visit ke rumah keluarga anak yang bersangkutan. Diharapkan dengan adanya kunjungan ke rumah anak yang bersangkutan pekerja sosial dapat mengetahui dan mengasesmen lebih dalam mengeai penyebab dari permasalahan yang dihadapi anak tersebut, karena fokus utama dari metode case work sendiri yaitu selain berfokus terhadap anak yang bersangkutan juga fokus pada significant other yaitu orang-orang yang berhubungan dengan anak tersebut seperti keluarga, teman sepermainan, dan lingkungan dimana anak tersebut berinteraksi dalam kehidupan sehari-harinya. Metode group work misalnya dilakukan ketika ada kegiatan atau refreshing atau out bond. Dalam kegiatan tersebut diharapkan setiap individu dalam kelompoknya dapat berinteraksi dan mengekspresikan dirinya sebebabasnya, dan bagaimana kelompok yang ada mempengaruhi perilaku individu. Misalnya adanya kerjasama dalam setiap permainan-permainan yang diberikan oleh pekerja sosial maupun pemimpin permainan. Contoh lainnya yaitu pada saat pendampingan belajar dimana individu-individu yang menempuh pendidikan dengan kelas yang sama dijadikan satu dan membentuk kelompok belajar. Selain mempermudah kakak pendamping dalam membing belajar juga agar setiap individu dapat membantu teman-temanya dalam mengerjakan atau menyelesaikan tugas atau PR yang ada, sehingga dapat memperngaruhi anggota yang lain dalam kelompok tersebut untuk dapat mengekspresikan jati dirinya. Pada intinya metode dan teknik di panti asuhan Albarr tidak jauh beda dengan apa yang ada dalam teori, karena di panti asuhan Albarr terdapat sakti peksos yang memang lulusan dari STKS. Misalnya menggunakan teknik dalam metode group work seperti kelompok bantu diri, kelompok rekreasi, kelompok ketrampilan, dan lain-lain. 3.8 Mekanisme Pelayanan Program Mekanisme pelayanan yang diberikan oleh lembaga panti yaitu mulai dari proses intake hingga pembinaan lebih lanjut. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa sasaran dari panti asuhan Albarr yaitu anak yati, piatu, yatim-piatu terlantar, anak terlantar, dan anak korban bencana alam. Anak yang bersangkutan atau kita dapat menyebutnya sebagai anak di asuh bawa calon ke kandinsoso, organisasi sosial, masyarakat, dan panti sosial. Selanjutnya panti akan menerima atau mengadakan proses pengenalan yang terdiri dari proses intake yang meliputi permohonan, case studi, dan home visit. Dalam hal ini pihak dari klien atau seseorang yang memerlukan pertolongan melakukan kunjungan ke panti, atau pihak panti juga dapat melakukan home visit untuk lebih jauh melihat kehidupan atau membuktikan kebenaran layak tidaknya anak diterima di panti. Kemudian anak disleksi maksudnya yaitu anak dari keluarga yang bersangkutan pantas atau tidaknya mendapatkan pelayanan dari panti dan kemudian di tempatkan dan resmi menjadi anak asuh. Setelah melakukan tahap penerimaan maka selanjutnya pihak panti melakukan tahap atau proses pengasuhan yang terdiri dari pemberian kebutuhan fisik meliputi kebutuhan sandang, pangan, papan. Pemberian kebutuhan rohani, kesehatan, pendidikan, emosional, serta ketrampilan- ketrampilan sepeeti menjahit, montir, dan sebagainya diberikan ketika anak sudah ditetapkan menjadi anak asuh panti dan mendapatkan pelayanan tersebut setiap harinya seperti yang telah dijelaskan pada pembahasan program dan kegiatan panti. Apabila seorang anak sudah dapat melaksanakan peran dan fungsi sosialnya terhadap pelayanan yang diberikan oleh panti maka selanjutnya anak di berikan kesempatan untuk bekerja sendiri, atau dikembalikan ke orang tua, lembaga pengirim, dll sesuai dengan penilain dari superviser. Sebelumnya apabila dalam proses seleksi anak apabila tidak layak atau tidak memenuhi kriteria maka anak akan diserahkan kepada pihak lain atau direfferal sebelumnya, atau apabila pihak panti sudah memberikan pelayanan namun tidak membuahkan perubahan terhadap pribadi anak maka anak dapat dikembalikan atau diserahkan kepada pihak yang berweng, Namun berbeda apabila pihak panti sudah selesai memberikan pelayanan maka pihak panti akan melakukan terminasi atau pemutusan hubungan bahwa pihak panti sudah tidak ada hubungan dalam pemberian pelayanan lagi. Beberapa bulan yang lalu panti sosial asuhan anak albar diundang untuk mengikuti seleksi akreditasi panti yang ada di Bandung. Menurut pekerja sosial yaitu teh Tifa hal tersebut merupakan suatu prestasi yang baik dan awal yang baik untuk perkembangan panti, karena tidak setiap panti dapat mengikuti seleksi akreditasi, dari sekian banyak panti yang ada di Bandung hanya beberapa saja yang mengikuti. 3.9 Organisasi Pelaksana atau Kerja Tim Ketua Suryadi Dinas sosial provinsi Jabar Dinas sosial kota Bandung Satuan Bakti Peksos Kemensos RI Bendahara Julia Budhi Aviany,SSi Sekretaris Ilham Lahia Bidang-bidang Pengasuh & rumah tangga S.Sopiah Wahyuningsih, SST Kebersihan & kesehatan Siti nurwendah.SHJ Pendidikan & Ketrampilan Achadi Putra Keamanan & ketertiban Asep Sanjaya Dapur Dede Sukmana Antara koordinasi saling berhubungan dan mempunyai hubungan yang sangat inten. Selain susunan di atas juga terdapat beberapa struktur yang tidak dicantumkan di dalam bagan, seperti pekerja sosial dan pengasuh yang ada di panti asuhan Albarr. Semuanya saling bekerjasama dan saling berkoordinasi antara satu sama lain dalam menjalankan pelayanan sosial. 3.10 Tenaga Profesional dan Penunjang Tenaga Profesional yang berada di panti sosial asuhan Albarr yaitu Adnin Nur Lathifa sebagai tenaga utama dalam kesejahteraan sosial yaitu sebagai pekerja sosial tepatnya sebagai sakti peksos. Sedangkan tenaga penunjangnya yaitu ada beberapa volunteer yang di bimbing oleh Uda Leo mahasiswa SP 1 STKS Bandung yang mengkoordinasi para mahasiswa STKS sebagai volunteer di panti asuhan sosial Albarr termasuk saya. Dalam menjalankan volunteer mahasiswa STKS sebagai kakak damping atau kakak pendamping yang sudah dijadwal oleh panti setiap harinya. Dalam memberikan pelayanan kepada anakanak bukan saja dalam hal pelajaran saja, namun juga keagamaan, kesenian, dan juga kebugaran jasmani atau olah raga. Dalam pengasuhan anak, panti sosial asuhan anak albarr juga mempunyai pengasuh yaitu Teh Sofi yang juga lulusan dari STKS Bandung. 3.11 Dana atau Anggaran atau Sumber Pembiayaan Dana atau anggaran kesejahteraan sosial yang ada di panti sosial asuhan anak Albarr yaitu berasal dari pemerintah yang diberikan setiap tahunnya. Selain itu juga mendapatkan bantuan atau sumber anggaran dari berbagai donatur, walaupun panti asuhan Albarr belum mempunyai donatur tetap tetapi setidaknya setiap harinya pasti ada pemberian bantuan kepada panti, baik berupa sumbangan uang maupun makanan. Dalam pemberian bantuan biasanya juga dapat dalam bentuk infak, sodaqoh, maupun zakat. Donatur biasanya berasal dari masyarakat sekitar baik sebagai perorangan maupun berasal dari perusahaan-perusahaan seperti Bank Mandiri, PT. Astra, BCA, PR. Dirgantara Indonesia, Biofarma, dan sebagainya. Melalui dana atau sumbangan-sumbangan tersebut, maka dari pihak panti membagi untuk masing-masing anak mendapatkan jatah yang sama. Misalnya dana dari pemerintah dalam wujud bantan PKSA atau Program Kesejahteraan Sosial Anak yang diberikan ke panti setiap tahunnya yang setiap anak memperoleh kurang lebih satu juta rupiah. Dana tersebut dibagikan hanya untuk anak-anak yang tinggal dalam asrama panti dan diberikan dalam bentuk tabungan. Untuk anak-anak yang tinggal di luar panti biasanya mereka hanya mendapat bantuan dalam bentuk bantuan pendidikan mulai dari perlengkapan pendidikan seperti pakaian seragam, alat tulis, hingga biaya pendidikan anak tersebut di sekolahnya. 3.12 Sarana dan Prasarana Sarana dan prasarana yang terdapat di panti sosial asuhan Albarr menurut hasil observasi kelompok kami cukup lengkap. Panti sosial asuhan anak Albarr di bawah yayasan sosial Dharma Kitri selain terdiri dari asrama panti asuhan juga teriri dari PAUD yang masih satu lingkup dengan asrama. Panti sosial Albarr mempunyai tiga ruang kelas untuk pembelajaran pendampingan media baik belajar untu anak-anak panti maupun sebagai media pembelajaraan pendidikan PAUD yang berlangsung setiap hari mulai dari pukul 08.00 hingga pukul 12.00 WIB. Sealain juga terdapat aula yang biasanya digunakan untuk sholat maupun mengaji ataupun untuk kegiatan yang sifatnya mencakup banyak orang. Panti sosial asuhan Albarr selain menyediakan fasilitas kamar untu anak-anak yang ada di dalam panti juga menyediakan kamar untuk para pengunjung panti apabila berkenan menginap di panti. Gedung ataupun bangunan yang ada layaknya panti asuhan yang lainnya terdapat juga dapur, kamar mandi, kamar pengasuh, anak-anak, dan pengunjung, ruang tamu sekaligus kantor, aula, kelas, ruang musik, dan tempat bermain anakanak. Sarana rekreasi atau sarana hiburan yang ada seperti televisi, radio, komputer, dan peralatan kesenian. BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan Usaha kesejahteraan sosial merupakan suatu usaha yang terorganisir dimana terdapat suatu wadah sebagai tempa penyelenggaraan kesejahteraan sosial. Salah satu usaha kesejahteraan sosial diwujudkan dalam lembaga kesejahteraan sosial seperti Panti Sosial Asuhan Anak. Kelompok kami melakukan observasi ke lembaga Panti Sosial Asuhan Anak Albarr yang berada di Jalan Abdurrahman Saleh Blk. No. 49 Bandung. Bahwa menurut hasil observasi kelompok kami pelayanan sosial yang diterapkan di panti asuhan Albarr sudah cukup sesuai dengan teori. Hal tersebut sudah dapat dilihat melalui unsur-unsur dari pelayanan sosial bahwa panti asuhan Albarr sudah mempunyai kriteria sebagai lembaga kesejahteraan sosial yang tepat sesuai dengan unsur-unsur pelayanan sosial yang seharusnya. Selain itu terdapat tenaga baik tenaga profesional maupun tenaga penunjang yang tepat dalam usaha kesejahteraan sosial adanay pekerja sosial atau sakti peksos maka usaha kesejahteraan sosial dapat terlaksana secara terarah dan terstruktur. Pola pengasuhan yang menggunakan model pendekatan berbasis keagamaan yaitu pola pendidikan pesantren merupakan salah satu model pendekatan secara agama dalam praktek pekerjaan sosial. Proses pemberian pelayanan yang berawal dari tahap-tahap pertolongan yaitu intake hingga terminasi menunjukkan bahwa usaha kesejateraan sosial terlaksana sesuai dengan praktek pekerjaan sosial. 4.2 Saran Kegiatan pelayanana sosial terhadap anak yang merupakan salah satu usaha kesejahteraan sosial anak yang diterapkan di panti sosial asuhan anak sudah cukup baik dalam pelaksanaannya. Pengurus panti, pengasuh, maupun pekerja sosial yang ada di panti saling bekerja sama dan mereka ramah dan disiplin dalam mendidik anak. Walaupun sebagai peran pengganti orang tua, tetapi panti asuhan Albarr juga menerapkan perilaku disiplin terhadap anak, dan juga pola pendidikan pesntren yang sangat diperlukan dalam perkembangan anak khususnya dalam kehidupan anak akan agama kelak. DAFTAR PUSTAKA Adi Fahrudin, Ph. D. 2012. Pengantar Kesejateraan Sosial. Bandung. PT Refika Aditama. http://eprints.uny.ac.id/8072/3/bab%202%20-%2007102241007.pdf http://www.kemsos.go.id/modules.php?name=News&file=print&sid=1101 LAMPIRAN DOKUMENTASI PADA SAAT OBSERVASI

Judul: Observasi Sistem Pelayanan Sosial Bidang Anak Di Panti Sosial Asuhan Anak Albarr

Oleh: Dewani Prita


Ikuti kami