Peluang, Tantangan, Dan Risiko Bagi Indonesia Dengan Adanya Masyarakat Ekonomi Asean

Oleh Yulian Shofiandi Rochmat

120,7 KB 9 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Peluang, Tantangan, Dan Risiko Bagi Indonesia Dengan Adanya Masyarakat Ekonomi Asean

NAMA NIM Mata Kuliah : Yulian Shofiandi Rochmat : 11 12 00405 : Perdagangan Internasional PELUANG, TANTANGAN, DAN RISIKO BAGI INDONESIA DENGAN ADANYA MASYARAKAT EKONOMI ASEAN Siapkah anda menghadapi persaingan di tahun 2015? Sudah seharusnya kita bersiap menghadapi ketatnya persaingan di tahun 2015 mendatang. Indonesia dan negara-negara di wilayah Asia Tenggara akan membentuk sebuah kawasan yang terintegrasi yang dikenal sebagai Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). MEA merupakan bentuk realisasi dari tujuan akhir integrasi ekonomi di kawasan Asia Tenggara. Terdapat empat hal yang akan menjadi fokus MEA pada tahun 2015 yang dapat dijadikan suatu momentum yang baik untuk Indonesia. Pertama, negara-negara di kawasan Asia Tenggara ini akan dijadikan sebuah wilayah kesatuan pasar dan basis produksi. Dengan terciptanya kesatuan pasar dan basis produksi maka akan membuat arus barang, jasa, investasi, modal dalam jumlah yang besar, dan skilled labour menjadi tidak ada hambatan dari satu negara ke negara lainnya di kawasan Asia Tenggara. Kedua, MEA akan dibentuk sebagai kawasan ekonomi dengan tingkat kompetisi yang tinggi, yang memerlukan suatu kebijakan yang meliputi competition policy, consumer protection, Intellectual Property Rights (IPR), taxation, dan E-Commerce. Dengan demikian, dapat tercipta iklim persaingan yang adil; terdapat perlindungan berupa sistem jaringan dari agen-agen perlindungan konsumen; mencegah terjadinya pelanggaran hak cipta; menciptakan jaringan transportasi yang efisien, aman, dan terintegrasi; menghilangkan sistem Double Taxation, dan; meningkatkan perdagangan dengan media elektronik berbasis online. Ketiga, MEA pun akan dijadikan sebagai kawasan yang memiliki perkembangan ekonomi yang merata, dengan memprioritaskan pada Usaha Kecil Menengah (UKM). Kemampuan daya saing dan dinamisme UKM akan ditingkatkan dengan memfasilitasi akses mereka terhadap informasi terkini, kondisi pasar, pengembangan sumber daya manusia dalam hal peningkatan kemampuan, keuangan, serta teknologi. Keempat, MEA akan diintegrasikan secara penuh terhadap perekonomian global. Dengan dengan membangun sebuah sistem untuk meningkatkan koordinasi terhadap negaranegara anggota. Selain itu, akan ditingkatkan partisipasi negara-negara di kawasan Asia Tenggara pada jaringan pasokan global melalui pengembangkan paket bantuan teknis kepada negara-negara Anggota ASEAN yang kurang berkembang. Hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan kemampuan industri dan produktivitas sehingga tidak hanya terjadi peningkatkan partisipasi mereka pada skala regional namun juga memunculkan inisiatif untuk terintegrasi secara global. Berdasarkan ASEAN Economic Blueprint, MEA menjadi sangat dibutuhkan untuk memperkecil kesenjangan antara negara-negara ASEAN dalam hal pertumbuhan perekonomian dengan meningkatkan ketergantungan anggota-anggota didalamnya. MEA dapat mengembangkan konsep meta-nasional dalam rantai suplai makanan, dan menghasilkan blok perdagangan tunggal yang dapat menangani dan bernegosiasi dengan eksportir dan importir non-ASEAN. Bagi Indonesia sendiri, MEA akan menjadi kesempatan yang baik karena hambatan perdagangan akan cenderung berkurang bahkan menjadi tidak ada. Hal tersebut akan berdampak pada peningkatan eskpor yang pada akhirnya akan meningkatkan GDP Indonesia. Di sisi lain, muncul tantangan baru bagi Indonesia berupa permasalahan homogenitas komoditas yang diperjualbelikan, contohnya untuk komoditas pertanian, karet, produk kayu, tekstil, dan barang elektronik (Santoso, 2008). Dalam hal ini competition risk akan muncul dengan banyaknya barang impor yang akan mengalir dalam jumlah banyak ke Indonesia yang akan mengancam industri lokal dalam bersaing dengan produk-produk luar negri yang jauh lebih berkualitas. Hal ini pada akhirnya akan meningkatkan defisit neraca perdagangan bagi Negara Indonesia sendiri. Pada sisi investasi, kondisi ini dapat menciptakan iklim yang mendukung masuknya Foreign Direct Investment (FDI) yang dapat menstimulus pertumbuhan ekonomi melalui perkembangan teknologi, penciptaan lapangan kerja, pengembangan sumber daya manusia (human capital) dan akses yang lebih mudah kepada pasar dunia. Meskipun begitu, kondisi tersebut dapat memunculkan exploitation risk. Indonesia masih memiliki tingkat regulasi yang kurang mengikat sehingga dapat menimbulkan tindakan eksploitasi dalam skala besar terhadap ketersediaan sumber daya alam oleh perusahaan asing yang masuk ke Indonesia sebagai negara yang memiliki jumlah sumber daya alam melimpah dibandingkan negara-negara lainnya. Tidak tertutup kemungkinan juga eksploitasi yang dilakukan perusahaan asing dapat merusak ekosistem di Indonesia, sedangkan regulasi investasi yang ada di Indonesia belum cukup kuat untuk menjaga kondisi alam termasuk ketersediaan sumber daya alam yang terkandung. Dari aspek ketenagakerjaan, terdapat kesempatan yang sangat besar bagi para pencari kerja karena dapat banyak tersedia lapangan kerja dengan berbagai kebutuhan akan keahlian yang beraneka ragam. Selain itu, akses untuk pergi keluar negeri dalam rangka mencari pekerjaan menjadi lebih mudah bahkan bisa jadi tanpa ada hambatan tertentu. MEA juga menjadi kesempatan yang bagus bagi para wirausahawan untuk mencari pekerja terbaik sesuai dengan kriteria yang diinginkan. Dalam hal ini dapat memunculkan risiko ketenagakarejaan bagi Indonesia. Dilihat dari sisi pendidikan dan produktivitas Indonesia masih kalah bersaing dengan tenaga kerja yang berasal dari Malaysia, Singapura, dan Thailand serta fondasi industri yang bagi Indonesia sendiri membuat Indonesia berada pada peringkat keempat di ASEAN (Republika Online, 2013). Dengan hadirnya ajang MEA ini, Indonesia memiliki peluang untuk memanfaatkan keunggulan skala ekonomi dalam negeri sebagai basis memperoleh keuntungan. Namun demikian, Indonesia masih memiliki banyak tantangan dan risiko-risiko yang akan muncul bila MEA telah diimplementasikan. Oleh karena itu, para risk professional diharapkan dapat lebih peka terhadap fluktuasi yang akan terjadi agar dapat mengantisipasi risiko-risiko yang muncul dengan tepat. Selain itu, kolaborasi yang apik antara otoritas negara dan para pelaku usaha diperlukan, infrastrukur baik secara fisik dan sosial(hukum dan kebijakan) perlu dibenahi, serta perlu adanya peningkatan kemampuan serta daya saing tenaga kerja dan perusahaan di Indonesia. Jangan sampai Indonesia hanya menjadi penonton di negara sendiri di tahun 2015 mendatang. Tantangan dari MEA 2015 Tantangan yang mungkin dihadapi bangsa Indonesia dalam menghadapi MEA 2015, antara lain: 1. Daya Saing Masyarakat Indonesia yang mayoritas penduduknya 60% bekerja di sektor pertanian serta sebagian lainnya berprofesi sebagai buruh manufaktur membuat Indonesia harus menghadapi tantangan berat ketika MEA ini diterapkan. Ada beberapa hal penting dalam penerapan MEA yang perlu dikaji lebih jauh yaitu adanya pasar tenaga kerja bebas yang mengindentifikasi terjadinya liberalisasi bukan hanya pada bidang perdagangan namun terjadi juga pada transfer tenaga lintas negara di ASEAN. Hal ini didukung oleh pemberlakuan sertifikasi atau identitas pekerja ASEAN, sehingga seluruh orang memiliki kesempatan yang sama untuk bekerja di seluruh negara anggota ASEAN. MEA merupakan suatu gagasan yang sangat baik dalam mendorong terciptanya regionalism development dikawasan ASEAN. Namun, beberapa tantangan seperti jumlah lapangan pekerjaan yang ada di Indonesia hanya akan menaikan angka pengangguran itu sendiri, karena tidak berdampak pada peningkatan taraf hidup masyarakat Indonesia, khususnya buruh yang tidak memiliki sertifikasi pendidikan seperti buruh-buruh yang didatangkan dari China, bahkan Vietnam yang tidak lebih baik tingkat kesejahteraan pekerjanya dari Indonesia. Akibatnya secara struktural Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang tidak dipersiapkan secara matang justru akan menjadi tantangan berat bagi pengambil kebijakan maupun bagi tenaga kerja Indonesia. Pada akhirnya, lowongan tenaga kerja yang tersedia hanyalah buruh kontrak tanpa kejelasan jenjang karir dan jaminan sosial. Untuk itu diperlukan tindakan proaktif dari masyarakat juga pemerintah dalam meningkatkan kualitas serta profesionalisme masyarakat Indonesia agar menjadi masyarakat yang berdaya saing tinggi, misalnya melalui kursus bahasa asing atau ketrampilan khusus tertentu. Masyarakat Indonesia harus optimis dengan segala sumber daya yang dimiliki oleh Indonesia, negara Indonesia akan bisa menjadi negara paling produktif di ASEAN dan bukan lagi menjadi negara konsumtif yang hanya dijadikan pasar oleh negara-negara ASEAN yang lain. 2. Kualitas Produk dalam Negeri Tidak dapat dipungkiri bahwa Indonesia merupakan salah satu negara di ASEAN yang memiliki hasil produksi terbaik bahkan sudah terkenal hingga ke seluruh dunia. Hanya saja daya beli masyarakat dalam negeri masih sangat kurang. Masyarakat Indonesia cenderung lebih percaya diri bila memakai produk dari luar negeri, yang secara tidak langsung telah merugikan produsen dalam negeri. Berbagai kebijakan seperti pembebasan pajak ekspor sedikit tidaknya telah membantu para pemilik Usaha Kecil dan Menengah (UKM) untuk bangkit dan bersaing dengan produk internasional. Dengan adanya MEA ini diharapkan persaingan produk-produk Indonesia akan lebih mudah untuk dipasarkan khusunya di negaranegara ASEAN. Sertifikasi dan persamaan standar dengan produk-produk ASEAN lainnya niscaya juga akan mempermudah produk dalam negeri untuk bersaing di kancah internasional. 3. Pemerintah Sebagai Pengambil Keputusan Dibukanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan mendorong banyaknya investor asing yang menanamkan modalnya di Indonesia. Seperti yang diketahui Indonesia merupakan lahan investasi yang paling potensial di Asia Tenggara dan disusul oleh Singapore di urutan kedua. Berdasarkan data World Economic Forum, Indonesia masih menjadi negara yang diminati investor asing untuk berinvestasi namun, Singapura selalu berada di posisi kedua, dari data 2010 dan 2011, porsi investasi asing yang masuk ke Indonesia tahun 2010 dan 2011 adalah 15,2% dan 16,3% sedangkan porsi investasi asing yang masuk ke Singapura tahun 2010 dan 2011 adalah 10,1% dan 7,01%. Meskipun demikian pemerintah Indonesia tidak boleh begitu saja menerima setiap bentuk investasi dari negara lain, harus diperhitungkan dampak jangka panjangnya agar tidak merugikan bangsa dan negara itu sendiri. Kebebasan menanamkan modal juga harus bisa dinikmati oleh masyarakat Indonesia, akan lebih baik kalau Indonesia bisa menguasai pasar modal ASEAN apalagi bila dilihat belakangan ini tingkat perekonomian Indonesia relatif stabil. Hal tersebut hanya akan terwujud dengan pemerintahan yang proaktif dalam mendukung gerakan pro-job dan pro-poor untuk kesejahteraan bersama. Solusi dari Semua Tantangan MEA 2015 Beberapa solusi yang dapat dikemukakan untuk mensiasati semua tatangan dari dibukanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015, antara lain: 1. Membuat Standar Ketenagakerjaan Sebagai salah satu stakeholder dalam ketatanegaraan, pemerintah memegang peran penting dalam menentukan setiap kebijakan demi kemajuan bangsa dan negaranya. Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) memang akan membuka peluang sebesar-besarnya bagi negara lain di kawasan ASEAN untuk mengeksplorasi negara Indonesia, namun kesempatan yang sama juga dimiliki bangsa Indonesia. Maka dari itu, peran serta pemerintah utamanya dalam memberikan dukungan dalam hal permodalan dan pendidikan juga sangat penting. Bebas juga bukan berarti tanpa syarat, pemerintah juga harus membuat proteksi untuk melindungi masyarakatnya, jangan sampai masyarakat Indonesia justru menjadi “penonton” di ngaranya sendiri. Salah satu cara untuk memproteksi kemungkinan tersebut adalah dengan membuat sebuah standar ketenagakerjaan bagi warga negara asing. Masyarakat Indonesia pasti sudah tidak asing lagi dengan Test of English as a Foreign Language (TOEFL) yaitu test bahasa Inggris sebagai bahasa asing bagi warga negara lain yang ingin melanjutkan pendidikan ataupun berkerja di luar negeri khususnya Eropa, Australia atau Amerika. Bila pemerintah mmenerapkan standar yang serupa untuk warga negara asing yang hendak berkerja di Indonesia, tentu akan mempermudah komunikasi dengan masyarakat umum selain untuk proteksi diri. Persamaan standar ketenagakerjaan di kawasan ASEAN juga perlu dipikirkan agar masyarakat bisa benar-benar menikmati kemudahan dari dibukanya Masyarakat Ekonomi ASEAN ini, bukan malah merasa terbebani. 2. Mendorong Semangat Berwirausaha Yang tidak kalah menarik sekaligus sangat efektif dan efisien adalah dengan menumbuhkembangkan jiwa wirausahawan para generasi muda Indonesia. Dengan berwirausaha, masyarakat indoonesia tidak perlu takut lagi akan kalah saing dengan masyarakat ASEAN lainnya, yang terpenting bagaimana untuk selalu mengupayakan produk yang berkualitas, kreatif dan inovatif. Dengan pangsa pasar yang lebih luas (ASEAN) tentu akan menjadi motivasi dan peluang tersendiri. Prosedur bea dan cukai yang lebih sederhana juga merupakan kesempatan emas bagi pengusaha-pengusaha muda Indonesia yang ingin mencoba pasar global. Bukan tidak mungkin Indonesia kedepannya akan mengalahkan produk China yang selama ini telah merajai pasar dalam negeri. 3. Meningkatkan Geliat Pariwisata Salah satu kegiatan ekonomi yang multidimensi dan multisektoral adalah pariwisata. Indonesia merupakan Negara yang kaya dengan potensi wisata, baik itu potensi wisata alam, wisata budaya maupun wisata buatan manusia. Indonesia dianugrahi pemandangan alam yang cantik dari Sabang sampai Merauke, bahkan dua dari keajaiban dunia ada di Indonesia. Budaya hospitality yang kental juga menjadi daya tarik yang ampuh untuk menarik minat wisatawan. Tinggal bagaimana merubah citra daerah-daerah terpencil di Indonesia bukan lagi sebagai daerah tertinggal tetapi daerah wisata minat khusus yang layak untuk dikunjungi. Tren wisatawan yang semakin berubah membuat wisata ke tempat-tempat ekstrim dan menantang (adventure) menjadibooming. Beberapa ahli juga mengatakan bahwa industri pariwisata merupakan industri yang tidak akan pernah mati. Selama manusia masih ingin bersenang-senang, selama rutinitas keseharian melahirkan kebosanan maka disanalah “nafas” pariwisata akan terus berhembus dan peluang Indonesia di sektor pariwisata sangat amat besar.

Judul: Peluang, Tantangan, Dan Risiko Bagi Indonesia Dengan Adanya Masyarakat Ekonomi Asean

Oleh: Yulian Shofiandi Rochmat


Ikuti kami