Tugas Asuhan Gawatdaruratan Kardiovaskuler Disusun Oleh Kelompok 2 : Nama Kelompok

Oleh Ayu Sari

1,5 MB 7 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Tugas Asuhan Gawatdaruratan Kardiovaskuler Disusun Oleh Kelompok 2 : Nama Kelompok

TUGAS ASUHAN GAWATDARURATAN KARDIOVASKULER Disusun Oleh kelompok 2 : Nama kelompok 1. Eni Suci Pehtawati Simanjuntak 1833008 2. Clementina Sasavia Nugroho 1833044 3. Ayu Sari 1833030 Dosen Pembimbing : Ns. Dheni Koerniawan, M.Kep PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN DAN NERS FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS KATOLIK MUSI CHARITAS PALEMBANG KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas penyertaan dan limpahan rahmatNya penyusunan tugas asuhan kegawatdaruratan kardiovaskuler dapat terselesaikan dengan baik. Makalah ini dibuat sebagai tugas Mata Kuliah Keperawatan gawat darurat. Tak lupa penyusun mengucapkan banyak terima kasih kepada dosen pembimbing Ns. Dheni Koerniawan, M.Kep dan memberikan kontribusi dalam penyelesaian semua pihak yang telah tugas asuhan gawatdaruratan kardiovakuler ini. Berbagai bentuk kritik dan saran yang membantu sangat diharapkan untuk perbaikan serta penyempurnaan tugas asuhan kegawatdaruratan kardiovaskuler ini. Demikian yang dapat penyusun sampaikan, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Palembang, 12 september 2020 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I : PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG B. TUJUAN C. MANFAAT BAB II : PEMBAHASAN A. DEFINISI KARDIOVASKULER B. PENYAKIT-PENYAKIT PADA KARDIVASKULER C. MANISFESTASI KLINIS D. KOMPLIKASI E. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK F. PATOFLOW BAB III : ASUHAN KEPERAWATAN KARDIOVASKULER A. PENGKAJIAN B. PEMERIKSAAN FISIK C. PEMERIKSAAN PENUNJANG D. DIAGNOSA E. INTERVENSI F. IMPLEMENTASI G. EVALUASI BAB IV : PENUTUP A. KESIMPULAN B. DAFTAR PUSTAKA C. CEK PLAGIAT BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keadaan gawat darurat yang menyumbangkan tingginya korban jiwa salah satunya adalah kegawatdaruratan kardiovaskuler dan respirasi. Kegawatdaruratan kardiovaskuler adalah keadaan dimana terjadi gangguan irama jantung tidak dan jantung dapat memompa tidak berdenyut seperti darah Henti jantung biasanya ditandai secara optimal dengan dan kesadaran. Dalam hal ini biasanya biasa, ke seluruh hilangnya henti jantung sehingga tubuh. pulsasi, respirasi menimbulkan gangguan respirasi. Apabila aliran darah yang mengandung oksigen ke otak terhenti lebih dari 8-10 menit, maka kerusakan menjadi irreversibel. Penanganan yang kurang cepat dan tepat dapat menimbulkan kematian. Resusitasi merupakan sebuah upaya menyediakan oksigen ke otak, jantung dan organ-organ vital lainnya melalui sebuah tindakan yang meliputi pemijatan jantung dan menjamin ventilasi yang adekuat (Adam, 2013), (Idriyawati et al., 2016). B. Tujuan 1. Mengetahui definisi kardiovaskuler 2. Mengetahui penyakit-penyakit kardiovaskuler 3. Mengetahui asuhan kegawatdaruratan kardiovaskuler C. Manfaat 1. Menambah pengetahuan dan wawasan bagi pembaca 2. Menambah pengetahuan dan keterampilan dalam keperawatan BAB II PEMBAHASAN A. DEFINISI Sistem kardiovaskular pada prinsipnya terdiri dari jantung, pembuluh darah dan saluran limfe. Sistem ini berfungsi untuk mengangkut oksigen, nutrisi dan zat-zat lain untuk didistribusikan ke seluruh tubuh serta membawa bahan-bahan hasil metabolisme untuk dikeluarkan dari tubuh.(fikriana, 2018) B. PENYAKIT KEGAWATDARURATAN KARDIOVASKULER a. Serangan jantung Istilah serangan jantung merupakan sekumpulan gejala klinik yang disebabkan oleh ketidak seimbangan atau gangguan aliran darah yang membawa oksigen dan makanan untuk jantung secara tiba-tiba akibat pecahnya dinding pembuluh darah koroner, disertai penggumpalan darah, serangan jantung merupakan masalah kegawatdaruratan dari penyakit jantung coroner yang bersifat mendadak (wita, 2016)  faktor risiko yang tidak dapat diubah a. umur karena usia merupakan salah satu faktor untuk terjadinya gangguan fungsi dinding pelindung (endotel) pembuluh darah, yang merupakan awal terjadinya proses pengerasan dinding pembuluh darah. Usia tua penurunan juga zat berpengaruh yang berfungsi terhadap untuk melebarkan pembuluh darah, meningkatkan kekakuan maupun menurunkan elastisitas dari dinding pembuluh darah.(wita, 2016) b. Jenis kelamin Pria mempunyai resiko lebih besar untuk mendapatkan serangan jantung dibandingkan dengan perempuan yang belum mengalami henti haid ( menoupause) dan sesudah terjadinya henti haid resiko pria dan wanita sama. Faktor hormon estrogen pada wanita sebelum henti haid merupakan pertahanan terhadap serangan jantung . hormon estrogen akan dapat meningkatkan kolestrol baik dan menurunkan kolestrol jahat selain itu hormon estrogen mempunyai kemampuan sebagai antioksidan, mencegah terbentuknya pebekuan darah dan memiliki efek dalam melebarkan pembuluhan darah (wita, 2016)  Faktor risiko yang dapat diubah c. Hipertensi Setiap peningkatan tekanan darah 20/10mmHg kematian akan akibat menngkatkan penyakit resiko jantung dan pembuluh darah 2x lipat d. Merokok gas karbon monoksida yang dihasilkan dari pembakaran rokok akan menghambat membawa kemampuan oksigen ke darah untuk jaringan tubuh, meningkatkan denyut jantung, menyebabkan penyakiy jantung coroner, stroke dan penyakit paru kronik. e. Kolestrol tinggi peningkatan kolestrol total > 240 mg/dl akan meningkatkan resiko penyakit jantung 2 kali lipat dibanding kadar kolestrol total 200 mg/dl. Semakin semakin tinggi kadar kolestrol jahat dan semakin rendahnya kadar kolestro baik akan meningkatkan risiko serangan jantung. Setiap peningkatan tekanan darah 20/10mmHg kematian akan akibat menngkatkan penyakit resiko jantung dan pembuluh darah 2x lipat(wita, 2016) b. Henti jantung Cardiac arrest atau henti jantung merupakan Salah satu bentuk kasus kegawatdaruratan. Cardiac arrest merupakan suatu kondisi hilangnya fungsi jantung pada seseorang secara tiba-tiba yang mungkin atau tidak telah terdiagnosis penyakit jantung. American Heart Association (2014) mengkaji lebih dari 420.000 cardiac arrest terjadi di luar rumah sakit di Amerika Serikat. Sementara itu, menurut Indonesian Heart Association (2015) angka kejadian henti jantung ini berkisar 10 dari 100.000 orang normal yang berusia di bawah 35 tahun dan pertahunnya mencapai sekitar 300.000-350.000 kejadian. 4 5 6 Henti jantung merupakan salah satu bentuk kasus gawat darurat.. Kondisi gawat darurat dapat terjadi pada siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Oleh karena itu, penanganan pasien gawat darurat harus dapat dilakukan oleh orang yang terdekat dengan korban seperti masyarakat awam, awam khusus, serta petugas kesehatan sesuai kompetensinya.(Oktarina, 2019)  etiologi Penyebab cardiac arrest yang paling umum adalah gangguan listrik pada jantung. Masalah dengan konduksi dapat menyebabkan irama jantung abnormal atau yang disebut juga dengan aritmia. Ketika terjadi aritmia, jantung memompa sedikit atau bahkan tidak ada darah ke dalam sirkulasi.(astiwara, 2018) C. MANIFESTASI KLINIS a. Gejala Prodromal 1. Gejala tersebut dapat terasa hingga 24 jam dan beberapa minggu sebelum serangan. 2. Terdapat sumbatan yang berupa angin pektoris, palpitasi serta lelah dan nyeri pada kepala. 3. Serangan infrak sangat sering terjadi pada angin pectoris (dapat disertai dengan penigkatan suhu, meningkatnya jumlah leukosit) yang berupa : a) Frekuensi terjadi lebih sering dan lebih lama b) Sering timbut disaat istirahat b. Gejala Pada Saat Serangan 1. Terdapat nyeri Substerna, dapat pula prekordial atau epigastrial: sifat yang berakibat seperti ditekan benda berat, di iris-iris, ditusuk, atau rasa panas, dapat berdampak pada lengan kiri serta leher, dan rasa nyeri dapat timbul mendadak saat kerja dan waktu istirahat. 2. Disertai muntah 3. Pada hasil pemeriksaan didapatkan a) Pasien merasa kesakitan dan keringat dingin b) Nadi yang mula-mula lambat kemudian cepat c) Tekanan darah menurun d) Sering terjadi aritmia e) Bunyi jantng terdengar lemah dan jauh.(Krisanty dkk, 2016) D. KOMPLIKASI 1. Gagal Jantung Gagal jantung disebabkan karena ketidakmampuan jantung dalam memenuhi kebutuhan aliran darah kedalam tubuh. Hal ini terjadi dikareakan otot jantung tidak mampu untuk memompa darah. Beberapa hal yang menjadi gejalanya, antara lain : kesulitan bernafas, pusing, serta terjadi penumpkan cairan pada bagian tertentu sehingga membuat tampak bengkak. 2. Aneurisma Gejala ini ditunjukan karena pembengkakan arteri yang dapat terjadi pada bagian tubuh manapun. Apabila Aneurisma pecah, kondisi ini akan menyebabkan kondisi fatal karena adanya pendarahan internal. 3. Emboli Paru Kondisi disaat ateri pulmonalis terjadi penyumbtan. Akibatnya sumbatan tersebut tubuh mengalami kekurangn oksigen dengan cepat. Sehingga gejala lain akan muncul seperti kesulitan bernafas, kulit membiru dan sakit pada dada. Kondisi ini berbahaya dan harus diwaspadai karna dapat menyebabkan kematian 4. Henti jantung Komlikasi terjadi akibat jantung berhenti berdetk secara tiba-tiba akibatnya gangguan ada irama jantung ini menyebabkan gangguan pernafasan serta kehilangan kesadaran. 5. Serangan jantung Seragan jantung merupakan akibat dari kematian sel jantung, karena jantung kurang mendapatkan/tidak mendapatkan cukup asupan darah selain itu serangan jantung apat terjadi karena arteri pada jantung megalami penyempitan akibat penumpukkan kolesterol/aterosklerosis. 6. Penyakit Arteri Perifer Kodisi ini dapat berdampak buruk terhadap bagian ujung-uung tubuh karena bagian tersebut, tidak mendpatkan aliran yang cukup, sehingga rasa nyeri akan muncul terutama pada kaki ketika sedang berjalan. 7. Stroke Stroke dapat terjadi karena adanya gumpalan darah yang menghambat aliran darah untuk menuju ke otak. Gumpalan tersebut dapat muncul karen dari kerja jantung tidak bekerja dengan baik. Akibatnya menyebabkan beberapa gangguan seperti mengingat, berbicara, dan koordinasi. Dsisi lain stroke menyebabkan mati rasa pada salah satu sisi tubuh. Dikarenkan menyerang sel otak kondisi ini hars diwapadai karna dapat menyebabkn kerusakan dengan cepat dan bersifat permanen.(Gonce morton, 2011) E. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Pemeriksaan fisik pada kardiovaskuler dilakukan pada seseorang dengan atau tanpa keluhan kardiovaskuler, dan ada pun tujuan pemeriksaan fisik adalah:  Mencari adanya kelainan kardiovaskuler primer  Menemukan penyakit sistemik yang mengakibatkan kelainan kardiovaskuler  Menemukan penyakit dengan gejalah mirip gejalah kelainan kardiovaskuler  Skrining kelainan kardiovaskuler Ada pun juga pemeriksaan fisik pada umunya yang harus dilakukan secara telitih dan menyeluruh, beberapa hal penting untuk mencapai tujuan di atas perlu diperhatikan, yaitu keadaan umum pasien dan tanda-tanda vital, fundus okuli, keadaan kulit, dada, jantung, abdomen, tunkai dan arteri perifer. Berikut ini pemeriksaan fisik sistem kardiovaskuler :  Pemeriksaan kepalah –leher ( melakukan dan pemeriksaan palpasi arteri karotis)  Vital sign( teknik pengukuran tekanan darah,penentuan sistolik dan diastolic serta pemeriksaan nadi) pemeriksaan diagnostik mengunakan mesin EKG selain pemeriksaan fisik pemeriksaan penunjanga lain adalah dengan mengunakan mesin ekg , pemeriksaan jangtung melalui ekg ( pemeriksaan elektrokardiogram) adalah pemeriksaan jantung untuk mendeteksi kelainan dengan mengukur aktivitas listrik jantung yang di hasilkan oleh jantung, pemeriksaan jantung dengan mengunakan mesin ekg dapat membantu mendiagnosis berbagai kondisi penyakit jantung seperti ( ganguan irama jantung) (niniek, 2019) F. WOC/ PATOFLOW HENTI JANTUNG MEROKOK gas karbon monoksida yang dihasilkan dari pembakaran rokok menghambat kemampuan darah untuk membawa oksigen ke jaringan tubuh aritmia MK : penurunan curah jantung henti jantung suplai o2 MK : gangguan perfusi jaringan hipoksia serebral MK: resiko jalan nafas tidak efektif penurunan kesadaran upnue (henti nafas) jantung mati mendadak akan terjadi kematian jika tidak ditangani MK: pola nafas tidak efektif BAB III ASUHAN KEPERAWATAN KARDIOVASKULER A. PENGKAJIAN Dalam pelaksanaannya pengkajian merupakan proses yang berkelanjutan dimana pada fase tersebut data objektif dan subjektif dikumpulkan. Di seting gawat darurat, pengkajian ditunjukan untuk dapat mengedintifikasi kondisi pasien dan resiko yang dapat mengancam nyawa pasien. Di area gawat darurat dilakukan melalui primary survey dan secondary survey. (B Hammond, 2017)  Primary survey : Gawat darurat dilakukan dengan pendekatan pengkajian melalui :  Inspeksi  Auskultasi  Palpasi  Perkusi  Pupi/ refleks pupil : isikor, refleks cahaya, dilatasi, lakukan stabilisasi  Exposure/ environmental control : kaji pasien dari kepala sampai kaki, lepaskan pakaian pasien agar dapat mengkaji lebih baik untuk mencari trauma di tempat lain.(B Hammond, 2017) Primary survey dilakukan dengan menerapkan langkah-langkah DRABC a. Danger : Pemeriksaan situasi dalam kondisi bahaya, pastikan lingkungan aman bagi pasien dan perawat sebelum memberikan pertolongan b. Response : Kaji respon pasien apakah pasien berespon ketika ditanya  Untuk menentukan kesadaran pasien gunakan skala AVPU ( alert, verbal, pain, unresponsive) c. Airway Kaji apakah airway paten dan tidak ada sumbatan  Jika ya ada sumbatan dan pasien responsif : berikan pertolongan untuk pembebasan jalan nafas  Jika ada sumbatan jalan nafas dan pasien tidak responsif lakukan head tilt dan chin lift (untuk membuka jalan nafas d. Breathing Cek pernafasan dan cek apakah ventilasinya adekuat e. Circulation Kaji denyut nadi (pols) pasien apakah nadi positif, adanya perdarahan dan kondisi perfusi. f. Disability : kaji singkat trauma neurologi, cek kemampuan gerak ekstremitas, cek gcs, lateralis  Secondary survery : pengkajian yang terstruktur dan sistematis, bertujuan untuk mengedintifikasi kondisi pasien lebih detail yang berfokus pada :  Riwayat kesehatan  Vital sign  Pemeriksaan fisik (B Hammond, 2017) 1. Keluhan utama Tanyakan keluhan utama yang dialami pasien. Tentukan frekuensi, durasi dan tingkat keparahan gejala, faktor yang mencetuskan serta faktor yang meringankan. Perhatikan adakah terjadi sesak nafas, nyeri dada atau nyeri tungkai bawah yang baru terjadi .(fikriana, 2018) Perhatikan apakah pasien mengalami palpitasi, kelelahan berlebihan, edema kaki, sianosis, pingsan atau ortopnea.tanyakan apakah gejala muncul saat pasien istirahat dan olahraga. (fikriana, 2018) 2. Riwayat penyakit dahulu Tanyakan pada pasien riwayat penyakit yang pernah diderita sebelumnya misalnya riwayat pernah mengalami demam rematik atau bising jantung selama masa anak-anak serta penyakit lain yang berhubungan seperti hipertensi, diabetes militus, dan penyakit ginjal(fikriana, 2018) 3. Riwayat obat-obatan Tanyakan riwayat penggunaan obat-obatan tertentu yang digunakan oleh pasien. Penggunaan obat-obbatan tertentu dapat menyebabkan atau memperberat gejala pada gangguan sistem kardivaskuler seperti sesak nafas, nyeri dada, edema, palpitasi, atau sinkop. Tanyakan apakah pasien sedang mengkonsumsi obat-obatan kardiovaskuler seperti antidistritmia, antihipertensi serta tanyakan apakah pasien mengerti tujuan, dosis dan efek samping penggunaan obat tersebut. (fikriana, 2018) Bagi seorang petugas kesehatan, mengkaji pengetahuan pasien tentang penggunaan obat-obatan memungkinkan untuk mengetahui kepatuhan penggunaan obat-obatan maupun kemungkinan bahwa obatobatan yang dikunsumsi mempengaruhi tanda-tanda vital pada pasien. (fikriana, 2018) 4. Riwayat penyakit keluarga Tanyakan riwayat penyakit keluarga yang ada.banyak penyakit jantung mempunyai komponen genetik yang dapat diturunkan kepada anggota keluarganya. Tanyakan apakah didalam keluarganya mempunyai riwayat penyakit jantung diabetes, kolestrol tinggi, hipertensi, stroke atau penyakit jantung rematik.(fikriana, 2018) 5. Riwayat sosial Pada pengkajian riwayat sosial perlu dikaji tentang kebiasaan gaya hidup pasien seperti merokok, penggunaan alkohol maupun penggunaan obat-obatan tertentu. Kebiasaan merokok merupakan salah satu faktor resiko yang dapat menyebabkan terjadinya penyakit jantung koroner. Konsumsi alkohol berlebih serta makanan buruk juga turut berperan menyebabkan penyakit tersebut.(fikriana, 2018) 6. Riwayat pekerjaan Pengkajian riwayat pekerjaan diperlukan untuk mendapatkan data pekerjaan yang beresiko menyebabkan gangguan kardiovaskuler, misalnya pasien dengan riwayat pekerjaan yang terpapar dengan penggunaan getaran selama pekerjaannya melalui penggunaan alat bertenaga angin dapat mengalami sindrom vibrasi tangan-tangan yang muncul sebagai gejala vasopastik, gejala neurosensorik yaitu rasa kesemutan. (fikriana, 2018) B. PEMERISAAN FISIK Pemeriksaan fisik pada gangguan kardiovaskuler tergantung pada kondisi pasien. Jika pasien dalam kondisi gawat darurat seperti mengalami henti jantung atau nafas, maka segera tangani dulu masalah kegawatannya setelah itu lakukan pemeriksaan lebih rinci. (fikriana, 2018) Pemeriksaan umum Perhatikan penampilan umum pasien. Apakah pasien tanpak tidak sehat ? sesak nafas atau sianosis ? ketakutan atau tertekan ? ukurlah temperature pasien. (fikriana, 2018) tangan dan kulit carilah tanda- tanda pewarnaan tembakau, adakah sianosis perifer rasakan temperaturenya, spliter hemorrhages pada kuku, lihat bagian telapak tangan untuk mencari lesi janeway ( bercak merah, tidak nyeri yang akan memutih bila ditekan)lihat seluruh kulit untuk untuk melihat ptekie.(fikriana, 2018) Wajah dan mata Lihat adakah sianosis sentral, adakah xantelasma pada kelopak mata, lihat arkuskornea pada iris, lihat pteki pada konjungtiva. Xantelasma merupakan prediksi resiko terjadinya infrark miokard, penyakit jantung koroner dan kematian. (fikriana, 2018) Tekanan darah Lakukan pengukuran tekanan darah pasien. Lakukan penilaian apakah tekanan darah pasien pada rentan normal atau mengalami penurunan dan meningkatan. Tekanan darah merupakan petunjuk yang sangat penting untuk mengetahui gangguan kardivaskuler seorang pasien. (fikriana, 2018) Inspeksi dan palpasi Pastikan pasien dalam kondisi rileks saat akan dilakukan pemeriksaan. Gunakan inpeksi bersamaan dengan palpasi. Ataur posis pasien supinasi atau elevasi tubuh atas derajat 45 derajat. Hal ini dikarnakan pasien jantung sering kalu merasakan sesak saat posisi supinasi (fikriana, 2018) Auskultasi Auskultasi jantung diperlukan untuk mendeteksi suara jantung normal, suara tambahan dan murmur. Murmur adalah suara meniup terus-menerus yang terdengar diawal pertengahan atau akhir sistole atau diastole. Hal ini diakibatkan oleh peningkatan aliran darah melalui katup normal, aliran melalui katub stenotik atau kedalam pembuluh darah atau ruang jantung yang berdilatasi atau aliran balik melalui katup yang gagal menutup. Suara murmur dapat bernada rendah, menengah atau tinggi tergantung kecepatan aliran darah melalui katup.(fikriana, 2018) Ekstermitas bawah Pemeriksaan ekstermitas bawah diperlukan untuk mengetahui Kemungkinan terjadinya penyakit arteri perifer. Penyakit ini umumnya terjadi akibat ateroskerosis yang mengenai pembuluh darah berukuran besar dan sedang. (fikriana, 2018) C. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Darah a) Peninggian LED b) Hiperglikemia Ringan c) 2. Leukosit Ringan Enzim Darah a) Creatinne Phosphokinase (CPK) akan mengalami perubahan, meningkat kurang lebih 6 jam saat setelah serangan dan akan normal kembali pada hari ketiga. b) Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase (SGOT) akan naik pada 12 hingga 48 jam saat sesudah serangan dan kemudian kembali norma pada hari 4-7. c) Lactic Dehydrogenese (LDH) akan naik setelah 48 jam dan akan kembali normal dihari ke 7-12(Krisanty dkk, 2016) D. DIAGNOSA 1. Risiko Penurunan Curah Jantung 2. Risiko Perubahan Perfusi Jaringan 3. Risiko Nnyeri 4. Risiko Ansietas 5. Risiko Gangguan Pertukaran Gas 6. Risiko Intolerani Aktifitas 7. Risiko Kelebihan Volume cairan 8. Risiko Kerusakan Integritas Kulit 9. Risiko Ketidakpatuhan(s.kidd, 2010) E. INTERVENSI a. Penurunan Curah jantung Tervokus pada upaya peningkatan kontraktilitas dengan melakukan medikasi serta penurunan kebutuhan oksigen miokardium dengan cara menurukan aferload dan preload dengan menggunakan dieuretik, penatalaksanaan nyeri, dan vasodilator. b. Perubahan Perfusi Jaringan a) Berfokus oleh peningkatan kontraktilitas melalui medikasi serta peningkatan volume darah sirkulasi dengan menggunaan cairan b) Menghilangkan obstruksi pembuluh darahdengan menggunakan vasodilator, antikoagulan, serta terapi trombolitik c. Nyeri Terfokus oleh peredaan nyeri dengan mengunaan medikasi dan atau pengaturan posisi d. Ansietas Berfokus terhadap perbedaan ansietas dengan medikasi dan memberikan penenangan e. Gangguan Pertukara gas a) Pasien diberikan oksigen b) Saat yang tepat untuk memulai diuresis bertujuan untuk menguangi beberapa volume yang berlebihan f. Intoleransi Ktivitas Mempertahankan posisi pasien pada posisi tirah baring ketat selama fase akut penyakit g. Kelebihan Volume Cairan Meredakan kelebihan yang terjadi ada cairaan dengan cara diuretik dan redukasi afterload.(s.kidd, 2010) F. IMPLENTASI Pada diagnose pertama penurunan curah jantung berhubungan dengan malformasi jantung. Tidakan keperawatan berupa memonitor tanda-tanda vital, perawat melakukan pemeriksaan mesin EKG, melihat kualitas dan denyut jantung (Gonce morton, 2011) G. EVALUASI Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk menghadapi proses keperawatan yang bisa mendakan keberhasilan dari diagnose keperawat, rencana tindakan keperawatan dan implentasinya ( wong,2008) Tindakan yang di berikan oleh kita adalah memberikan posisi semi fowler, ajarkan nafas dalam.kaloborasikan dengan dokter mengenai pemberian terapi obat (muttaqin,2009) BAB IV PENUTUP A. KESIMPULAN Sistem kardiovaskular pada prinsipnya terdiri dari jantung, pembuluh darah dan saluran limfe. Sistem ini berfungsi untuk mengangkut oksigen, nutrisi dan zat-zat lain untuk didistribusikan ke seluruh tubuh serta membawa bahan-bahan hasil metabolisme untuk dikeluarkan dari tubuh. (fikriana, 2018) Menurut World Health Organization (2014), penyakit kardiovaskular dan stroke merupakan penyebab kematian utama di dunia sebanyak 17,3 juta orang tiap tahun yang menyumbangkan tingginya korban jiwa salah satunya adalah Kegawatdaruratan kegawatdaruratan kardiovaskuler kardiovaskuler adalah keadaan dan respirasi. dimana terjadi gangguan irama jantung dan jantung tidak berdenyut seperti sehingga tidak dapat memompa darah secara optimal biasa, ke seluruh tubuh. Pemeriksaan fisik pada gangguan kardiovaskuler tergantung pada kondisi pasien. Jika pasien dalam kondisi gawat darurat seperti mengalami henti jantung atau nafas, maka segera tangani dulu masalah kegawatannya setelah itu lakukan pemeriksaan lebih rinci. (fikriana, 2018) DAFTAR PUSTAKA astiwara, endy. (2018). Fikih Kedokteran Kontemporer. Pustaka Al-Kautsar. B Hammond, belinda. (2017). Sheehy’s Emergency and Disaster Nursing—1st Indonesian Edition. Elsevier Health Sciences. fikriana, riza. (2018). Sistem kardiovaskuler (1st ed.). Deepublish. Gonce morton, patricia. (2011). Keperawatan kritis (Vol. 1). EGC. Idriyawati, N. S., Prastiwi, S., & Sutriningsih, A. (2016). HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN SIKAP MAHASISWA PSIK-UNITRI DALAM MEMBERIKAN TINDAKAN PERTOLONGAN PERTAMA GAWAT DARURAT (PPGD) PADA KASUS KARDIOVASKULER DAN RESPIRASI. Nursing News, 1, 6. Krisanty dkk, paula. (2016). Asuhan Keperawatan Gawat Darurat. cv. trans info media. Oktarina, Y. (2019). PELATIHAN PENANGANAN KEGAWATDARURATAN HENTI JANTUNG BAGI KADER DAN MASYARAKAT. 2, 7. s.kidd, pamela. (2010). Pedoman Keperawatan Emergensi. EGC. wita, I. W. (2016). Cintailah jantung kita: Mencegah serangan jantung. Bhuvana Saraswati Foundation. CEK PLAGIAT Latar belakang DEFINISI Penyakit-penyakit kardiovaskular Pemeriksaan diagnostik Asuhan keperawatan 1. Pengkajian Manifestasi Klinis dan Komplikasi Pemeriksaan Penunjang, Diagnosa Dan Intervensi Implementasi dan evaluasi

Judul: Tugas Asuhan Gawatdaruratan Kardiovaskuler Disusun Oleh Kelompok 2 : Nama Kelompok

Oleh: Ayu Sari


Ikuti kami