Dukungan Sosial Di Panti Asuhan Al- Husna Dalam Ruang Lingkup Komunitas.pdf

Oleh Rachmania Tatsa

1,7 MB 8 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Dukungan Sosial Di Panti Asuhan Al- Husna Dalam Ruang Lingkup Komunitas.pdf

i i KATA PENGANTAR Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan tugas mata kuliah teori dan teknik intrvensi komunitas. Kami menyadari bahwa mini riset ini tidak dapat kami selesaikan tanpa bantuan dari dosen pengampu dan asisten dosen, maka dari itu tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada Ibu Alifah Nabila Masturah. S.Psi, M.A selaku dosen mata kuliah metodologi penelitian kualitatif dan para asisten dosen pembimbing. Serta subjek penelitian yang turut berpartisipasi dalam kegiatan wawancara untuk memenuhi tugas akhir ini. Kami berharap Rancangan Intervensi dalam penelitian ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan baik untuk kami dan seluruh pembaca terkait dengan Intervensi Komunitas. Tujuannya untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang di hadapi oleh komunitas. Kami menyadari bahwa di dalam rancangan ini terdapat banyak kekurangan. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, dan saran guna perbaikan laporan-laporan yang telah kami susun di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa adanya saran yang membangun. Malang, November 2016 Penyusun ii Daftar Isi KATA PENGANTAR ........................................................................................................................................ i Daftar Isi........................................................................................................................................................... ii Daftar Gambar.............................................................................................................................................. iii IDENTIFIKASI MASALAH.......................................................................................................................... 5 1. METODE ASESSMEN ...................................................................................................................... 5 2. DESKRIPSI DATA............................................................................................................................. 6 LANDASAN MASALAH ................................................................................................................................ 9 1. Landasan Teori ................................................................................................................................ 9 2. Pembahasan masalah ................................................................................................................ 10 iii Daftar Gambar Gambar 1 ............................................................................................. Error! Bookmark not defined. Gambar 2 ............................................................................................. Error! Bookmark not defined. Gambar 3 ............................................................................................. Error! Bookmark not defined. Gambar 4 ............................................................................................. Error! Bookmark not defined. Gambar 5 ............................................................................................. Error! Bookmark not defined. Gambar 6 ............................................................................................. Error! Bookmark not defined. Gambar 7 ............................................................................................. Error! Bookmark not defined. Gambar 8 ............................................................................................. Error! Bookmark not defined. 4 Tidak setiap anak beruntung dalam menapaki hidupnya. Beberapa anak dihadapkan pada pilihan bahwa anak harus berpisah dari keluarganya karena sesuatu alasan, seperti menjadi yatim, piatu atau bahkan yatim piatu, tidak memiliki sanak keluarga yang mau atau mampu mengasuh, serta berasal dari keluarga yang kekurangan. Hal ini mengakibatkan kebutuhan psikologis anak menjadi kurang dapat terpenuhi dengan baik, terutama jika tidak adanya orang yang dapat dijadikan panutan atau untuk diajak berbagi, bertukar pikiran dalam menyelesaikan masalah. Anak-anak ini kemudian dirawat oleh pemerintah maupun swasta dalam suatu lembaga yang disebut panti asuhan. Panti asuhan menurut Rahmah (2011) merupakan suatu lembaga yang bertujuan untuk membantu perkembangan anak-anak yang tidak memiliki keluarga ataupun yang tidak dapat tinggal dengan keluarganya. Data yang diperoleh dari pengurus Panti Asuhan AL-Husnah, menyebutkan bahwa alasan utama anak-anak tinggal di Panti Asuhan adalah karena faktor ketidakmampuan ekonomi keluarga. Listyaningsih (dalam Rahmah 2011) mengartikan kemiskinan sebagai kondisi serba kekurangan dalam pemenuhan kebutuhan dasar manusia yang meliputi kebutuhan sandang, pangan, papan, kebutuhan hidup sehat, kebutuhan akan pendidikan dasar, kebutuhan memperoleh penghargaan. Latar belakang keluarga miskin ini dapat menyebabkan terjadinya gangguan psikologis pada remaja panti asuhan. Menurut De Panfilis (dalam Rahmah 2011), kondisi permasalahan ekonomi keluarga yang kompleks dapat berakibat pada kecenderungan orangtua melakukan pengabaian (fisik, pendidikan, dan emosional) karena perhatian dan waktu lebih berfokus pada pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Panti asuhan pada akhirnya menjadi salah satu solusi untuk meminimalisir dampak stres yang diakibatkan kemiskinan, terutama dalam pelayanan kesejahteraan anak dan pemenuhan kebutuhan. Anak-anak yang berada pada lingkup panti asuhan cenderung kurang mampu mengungkpkan dirinya dalam artian kurang mampu mengungkapkan pendapat, perasaan serta mengaktualisasikan dirinya, hal tersebut berkaitan dnegan dukungan sosial yang diterimanya baik dari teman atau sesama anggota panti atau dari pengurus panti. Seperti penelitian yang telah dilakukan sebelumnya oleh Priyatama dan Makmuroch (2010) yang berjudul ‘Hubungan Antara Secure Attachment Dan Dukungan Sosial Dengan Self Disclosure Pada Santri Pondok Pesantren Al-Muayyad Surakarta’ dengan hasil bahwa ada hubungan antara dukungan sosial dengan Self Disclosure, semakin tinggi dukungan sosial yang diterima oleh anak, maka semakin tinggi pula pengungkapan dirinya. Dukungan sosial sangatlah dibutuhkan oleh anak panti asuhan agar mereka tidak merasa sendiri dan terasingkan ataupun merasa terisolasi. Dukungan yang terpenting adalah berasal dari pengasuh yang mana pengasuh panti disini adalah bertindak sebagai orang tua pengganti bagi anak-anak panti asuhan, hal tersebut yang dirasakan oleh anakanak panti asuhan Al – Husnah bahwa mereka tidak mangaggap pengasuhnya sebagai seorang ibu atau ayah pengganti bagi mereka. Mereka terkadang merasa takut dan cenderung menghindar dari pengasuh. Hal tersebut merupakan permasalahan yang peneliti temukan dalam proses asemen, yaitu kurangnya dukungan sosial pengasuh yang ditampilkan sehingga akan berpengaruh pada proses pengungkapan diri seorang anak atau Self Disclosure yang rendah Tujuan dilakukannya asesmen pada panti asuhan Al- Husnah adalah untuk mengetahui bagaimana sejaran dari panti asuhan tersebut, yang melatar belakangi berdirinya panti asuhan, mengetahui tatanan atau struktur dalam komunitas atau panti 5 asuhan itu sendiri dan yang paling penting adalah untuk menggali informasi terkait dengan hambatan atau kendala maupun permasalahan yang dihadapai panti asuhan Al – Husnah. Manfaat dari dilakukannya asesmen tersebut adalah peneliti atau intervensionist dapat mengetahui pokok permasalahan yang dihadapai oleh panti asuhan Al – Husnah, sehingga peneliti atau intervensionist dapat membuat sutau rancangan intervensi guna melalukan penangan terkait permasalahan yang dihadapi. Intervensi yang dilakukan nantinya bertujuan untuk membantu menyadarkan anggota komunitas atau panti asuhan yang meliputi pengasuh dan anak-anak panti terkait dengan permasalahan yang ditemukan selama proses asesmen, selanjutnya membantu menyelesaikan permasalahan sebagai pihak penengah antara pengasuh dan anak-anak panti melalui teknik intervensi yang sudah ditentukan. Adapun tujuan asesmen lainnya adalah untuk meningkatkan kemampuan anggota dari komunitas atau panti asuhan tersebut dalam menghadapi permasalahan, meningkatkan kemampuan coping stress, dukungan dan ikatan dengan komunitas agar terjalin semakin erat. IDENTIFIKASI MASALAH 1. METODE ASESSMEN Dalam pelaksanaan asesmen, peneliti menggunakan beberapa metode asesmen yang dianggap relevan untuk digunakan, diantara lain: interview, observasi dan FGD (Focus Group Discussion). a. Interview Interview atau sering kali disebut dengan wawancara adalah suatu bentuk komunikasi verbal, semacam percakapan, untuk memperoleh sebuah informasi. Dalam wawancara tanya jawab antara pewawancara dan narasumber dilakukan secara verbal. Interview atau wawancara menurut Aditya (2013) merupakan pertemuan antara dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu, wawancara digunakan oleh peneliti untuk menilai keadaan seseorang, misalnya untuk mencari data tentang variabel latar belakang tertentu, pendidikan, perhatian, sikap terhadap sesuatu. Wawancara yang peneliti gunakan adalah wawancara tak terstruktur, menurut Sugiyono (dalam Sunyono, 2011), wawancara tak struktur adalah wawancara yang bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Pedoman yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan. b. Observasi Observasi atau bisa disebut pengamatan adalah proses mengamati dan mencatat gejala-gejala atau suatu fenomena yang diteliti. Observasi merupakan proses yang kompleks yang terdiri dari proses-proses psikologis dan biologis dan dicatat secara sistematis. Dalam observasi hal yang terpenting adalah kepekaan peneliti terhadap apa yang diamati dan ingatan yang tajam. Observasi menjadi salah satu teknik yang paling sering digunakan oleh seorang peneliti dalam sebuah penelitian. Dalam asesmen ini peneliti menggunakan observasi partisipasi pasif. Observasi partisipasi pasif Menurut Ruhyah (2013) yaitu peneliti datang ke tempat 6 kegiatan orang yang diamati tetapi tidak terlibat dalam kegiatan tersebut. Alasan penggunaan teknik observasi partisipasi pasif dalam asesmen ini adalah peneliti dapat menggambarkan fenomena yang diteliti dalam bentuk diskriptif dan berhubungan langsung dengan objek tanpa perlu menerka-nerka. c. FGD (Focus Group Discussion) FGD (Focus Group Discussion) sesuai namanya metode ini bukan wawancara ataupun obrolan dua arah antara pewawancara dengan narasumber. FGD merupakan salah satu strategi untuk mengumpulkan data yang melibatkan interaksi sosial diantara para individu dalam suatu diskusi berseri (Afiyanti, 2008). Sederhananya FGD adalah proses pengumpulan data mengenai suatu masalah tertentu melalui diskusi kolompok. Walaupun pada hakikatnya FGD adalah wawancara namun diskusi disini dilakukan dengan tujuan mencapai sebuah kesepatan inti permasalah yang terjadi pada kelompok FGD. Alasan penggunaan teknik FGD dalam asesmen ini adalah mengambil inti permasalahan dengan efektif dan efisien. 2. DESKRIPSI DATA Dalam melakukan rancangan intervensi komunitas, peneliti memilih Panti Asuhan Al- Husna sebagai sebuah komunitas. Panti Asuhan Al- Husna berdiri pada tanggal 2 Oktober Tahun 2001. Pada awalnya Panti Asuhan Al- Husna bertempat di Jalan Tlogojoyo no 8, Tlogomas, Lowokwaru, Malang dengan status sewa rumah, namun pada tahun 2004 Panti Asuhan Al- Husna pindah tempat di Perumahan Landungsari Permai B14, Landungsari, Dau, Malang untuk anak panti putra dan di Jalan Perum Pondok Lestari Indah, Landungsari, Dau, Malang untuk anak panti putri. Saat ini Panti Asuhan Al- Husna memiliki 27 anak panti putra dan 20 anak panti putri. Dalam kesehariannya, anak-anak panti memiliki beberapa kegiatan rutin dari panti, seperti sholat berjama’ah, mengaji bersama setelah sholat maghrib, membersihkan panti sesuai dengan jadual piket yang sudah ditentukan, serta mengerjakan tugas sekolah. Pada setiap tempat putra dan putri, Panti Al-Husna memiliki 2 orang pengasuh yaitu sepasang suami istri yang mendedikasikan kehidupannya untuk mengurus anak-anak panti. Dalam proses asesmen ini terdapat 3 sumber yang diwawancarai, yaitu ketua panti sekaligus menjadi pengasuh anak panti putra, pengasuh putri, dan anak-anak panti putra maupun putri. 1. SUBJEK 1 ‘’Pengurus Panti Putra’’ Setelah dilakukan wawancara dengan pengasuh putra, didapatkan bahwa hanya terdapat 2 pengasuh yang secara langsung berhubungan dengan anak-anak dalam kesehariannya merupakan sebuah pekerjaan yang tidak mudah sebagaimana pemaparan dari sumber “ya kalau dirasakan ya berat mbak, tapi saya cuma ingat ini sebagai bentuk pengabdian saya untuk Allah, istri juga selalu mendukung dengan keputusan saya merawat anak-anak ini”. Mengasuh 27 anak yang tinggal bersama dalam sebuah rumah dengan berbagai latar belakang keluarga dan sosial, serta karakter pada setiap individu yang sudah pasti berbeda merupakan sebuah tantangan khusus. Banyaknya anak di dalam panti tersebut, membuat tidak 7 meratanya perhatian yang diberikan pengasuh kepada anak-anak panti. Belum lagi pengasuh panti baru saja memiliki anak lelaki, sedangkan anak pertama juga masih kecil yang harus membutuhkan perhatian ekstra agar tumbuh kembang dengan baik. Ketika pengasuh dihadapkan kepada anak-anak yang sudah lama di panti, pengasuh sudah paham akan sikap yang harus diberikan seperti apa, namun berbeda kepada anak-anak panti yang baru. Tantangan terbesar menurut beliau yaitu ketika dihadapkan oleh anak yang tertutup atau minder dengan teman-teman lainnya. Anak-anak seperti itu cenderung tidak akan menceritakan masalah yang dihadapinya kepada orang lain, meskipun orang tersebut sudah dekat padanya. Ketika diberikan kedekatan ekstra, terkadang perhatian pada anak-anak yang lain juga menurun. Dengan tidak meratanya perhatian pengasuh kepada anak-anak panti, memunculkan sikap iri kepada anak-anak yang sering diperhatikan. Sikap iri ini ditunjukkan dengan mengucilkan atau mengolok-olok anak-anak yang diberi perhatian lebih. Para pengasuh sudah mencoba memberikan pengertian kepada anak-anak yang iri tersebut dengan pendekatan hati ke hati. Namun upaya tersebut ternyata hanya berhasil untuk sementara. Dalam panti tersebut terdiri dari berbagai tingkatan pendidikan, mulai dari SD, SMP, SMA/SMK, hingga perkuliahan. Anak-anak yang sudah menempuh bangku perkuliahan biasanya juga membantu pengasuh untuk mengurus adik-adik lainnya. Namun anak-anak juga biasanya masih pilih-pilih dalam membantu mengasuh adikadiknya. Karena hal ini, pernah seorang anak kabur dari panti karena merasa tidak punya teman dan tidak bebas. Anak tersebut memiliki latar belakang keluarga dhu’afa yang kesehariannya berada di jalanan. Sehingga ketika di dalam panti dengan situasi yang sangat berbeda dengan kehidupan sehari-harinya membuat dia tidak nyaman meskipun di dalam panti dia tidak lagi memikirkan akan makan apa nantinya. 2. SUBJEK 2 ‘’Pengurus Panti Perempuan’’ Setelah dilakukannya wawancara atau interview kepada pengurus panti perempuan diketahui bahwa dalam panti perempuan terdapat 20 anak yang rentang usia serta pendidikan yang berbeda juga dengan latar belakang yang berbeda pula. Perbedaan tingkat pendidikan pada panti perempuan ini tidak jauh berbeda dengan panti laki-lak yaitu SD, SMP, SMA/SMK dan yang sedang menempuh perkuliahan dengan jurusan yang berbeda pula seperti jurusan bahasa arab dan tafsir di salah satu perguruan negeri di Malang. Sistem kepengurusan pada panti perempuan ini adalah anak-anak panti asuhan tersebut di asuh oleh satu keluarga. Ibu pengasuhlah yang sering bersentuhan atau lebih sering terlibat dalam kepengurusan anak-anak dalam panti tersebut. Ibu pengasuh mempersiapkan segala keperluan anak-anak panti seorang diri dan terkadang dibantu oleh suaminya. Ibu pengasuh menuturkan bahwa pada awalnya beliau merasa kesusahan untuk mengurus 20 anak yang berlatar belakang yang berbeda. Ibu pengasuh harus dapat mengetahui kepribadian anak masingmasing namun sampai sekarang belum sepenuhnya diketahui. Menurut penuturan pengasuhnya sebagai berikut: “ya, bagaimana ya mbak, awalnya memang kuwalahan ya. Tapi makin kesini ya makin biasa. Caranya biar tau 8 anak-anak itu gimana ya biasanya dideketin satu-satu. Kalau yang masih anak-anak kayak SD gitu ya biasanya dideketin sambil main-main. Kalau sama yang udah agak gede gitu ya biasanya waktu lagi masak bareng gitu. Tapi ya gabisa semuanya mbak. Yang kelihatannya pendiem gitu baru dideketin” Penuturan ibu pengasuh menjelaskan bahwa beliau tidak bisa memfokuskan perhatiannya secara maksimal dengan anak-anak yang ada di panti asuhan tersebut karena memang terlampau banyak anak yang harus ibu Anna perhatikan seorang diri. Pengasuh mencoba untuk memahami anak-anak panti dengan baik namun disini perbedaan latar belakang dan karakter tentunya tidak mudah untuk dapat mengetahui kemauan dari anak-anak panti dengan baik merupakan suatu permasalahan tersendiri bagi pengasuh untuk bagimana memahami caranya agar pengasuh dapat lebih dekat dengan anak-anak panti. Ibu pengasuh juga biasanya dibantu oleh anak panti yang sudah dewasa atau yang sudah berkuliah untuk membantu mengasuh anak-anak yang masih kecil. Namun karena kesibukannya di bangku perkuliahan dengan banyaknya tugas yang harus dikerjakan maka mereka juga tidak dapat membantu pengasuh secara maksimal untuk megasuh adik-adiknya di panti asuhan. 3. SUBJEK 3 ‘’Anak-Anak Panti Asuhan’’ Wawancara pada anak panti ini dilakukan terhadap 7 Orang, yaitu S, C, I, W, F, P, dan A dengan menggunakan teknik pengumpulan data FGD guna menggali permasalahan yang ada. Ke-7 anak tersebut memiliki latar belakang yang berbeda namun kebanyakan dari mereka berasal dari Daerah Kalimantan. Pertama ketika wawancara berlangsung anak-anak didampingi oleh pengasuh. Anak-anak terlihat sangat canggung yaitu dimana ketika menjawab pertanyaan dari peneliti dengan saling melempar pandangan kepada teman-temannya atau ragu untuk mengungkapkan pendapatnya. Pada awalnya anak-anak menjawab singkat dan mengatakan bahwa semuanya dipanti berjalan dengan baik, dan berjalan sesuai dengan yang seharusnya. C mengungkapkan bahwa “yah nggak ada masalah kak, seneng disini banyak temenya’’. Begitu juga dengan anak-anak lainnya yang mengutarakan hal yang sama. Anak-anak tersebut juga mengatakan bahwa mereka dekat dengan sesama anak-anak panti Al-Husna. Mereka saling bercerita dan saling membantu, namun jika untuk masalah pribadi anak-anak panti lebih cenderung untuk bercerita kepada temannya yang sangat mereka percaya atau tidak terlalu terbuka dengan anak atau anggota panti lainnya termasuk juga dengan pengasuhnya. Anak-anak panti menuturkan “nggak cerita sama ibu pengurus, ke teman-teman aja’’ ketika ditanya kenapa alasannya mereka hanya diam dan tidak menjawab, dan yang menjawab adalah pengasuh yang menuturkan bahwa mereka kadang malu untuk bercerita kepadanya. Selama berlangsungnya FGD, pengasuh meninggalkan forum karena harus mengurus hal lain sehingga tidak bisa mendampingi anak-anak panti. Setelah pengasuhnya meninggalkan forum, penelliti atau intervensionist mencoba menggali informasi kembali terkait dengan kendala, hambatan, keluhan bahkan permasalahan yang dihadapi oleh anak-anak selama tinggal dipanti. Jawaban dari anak-anak panti tersebut berubah menjadi keterbalikan dari pernyataan sebelumnya. Pada awal FGD 9 berlangsung dengan didampingi oleh pengasuh, anak-anak panti mengatakan bahwa semuanya berjalan degan baik, namun setelah tidak didampingi oleh pengasuhnya, anak-anak mulai menyuarakan pendapatnya. Dari pernyataan salah satu anak tesebut terlihat bahwa mereka merasa ketakutan dan tidak dapat terbuka dengan ibu pengasuh dikarenakan ibu pengasuhnya yang kurang memberikan dukungan sosial, emosional dan moral kepada anak sehingga anak panti tidak mengaggap ibu pengasuhnya sebagai ibunya sendiri dan tidak dapat terbuka dengan ibu panti. Anak panti juga menuturkan bahwa mereka juga sering merasa tidak nyaman atau tidak betah untuk tinggal dipanti karena perlakukan dari ibu pengasuh. Seluruh anak panti yang mengikuti FGD mengutarakan bahwa mereka juga merasakan hal yang sama namun tidak mempunyai keberanian untuk mengutrakannya. LANDASAN MASALAH 1. Landasan Teori Dukungan Sosial Dukungan sosial merupakan unsur penting dalam kehidupan di panti asuhan, dimana dalam sebuah jurnal milik Kumalasari (2012) yang berjudul ‘‘Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Penyesuaian Diri Remaja Di Panti Asuhan’’, dimana diketahui bahwa dukungan sosial berkolerasi positif dengan penyesuaian diri. Artinya bahwa dukungan sosial memang menjadi salah satu faktor yang dapat membuat anak-anak atau anggota panti asuhan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan panti asuhan, yaitu tempat dimana mereka tinggal. Selain itu terdapat juga skripsi yang disusun oleh Priyataman (2010) yang berjudul “Hubungan Antara Secure Attachment dan Dukungan Sosial Dengan Self Disclosure Pada Santri Pondok Pesantren Al-Muayyad Surakarta” dengan hasil bahwa terdapat korelasi positif antara dukungan sosial dengan self disclosure. Artinya bahwa ketika anak panti memiliki dukungan sosial yang tinggi maka akan berpengaruh pula pada kerterbukaan dirinya atau self disclosure terhadap lingkungan sekitar. Adapula penelitian milik septiyan (2014) yang berjudul ‘‘Metode Intervensi Sosial Dalam Mengatasi Kenakalan Remaja Di Panti Asuhan Anak Yogyakarta, Unit Bimomartani’’ dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa kenalakan remaja panti disebabkan oleh kurangnya dukungan sosial dari lingkungan dimana ia tinggal, dan juga dari kepribadian anak panti yang kurang baik. Penelitian deskriptif kualitatif tersebut menggunakan metode intervensi individu sebagai bentuk intervensi atau penanganan masalah. Dalam penelitian tersebut peneliti menerangkan bahwa dengan menggunakan metode intervensi individu dapat mengurangi bentuk kenakalan dari remaja seperti merokok, membolos sekolah, berpacaran berkelahhi dan lain-lain dengan menumbuhkan dukungan sosial lingkungan dimana anak-anak panti tinggal dan melakukan pendampingan kepada anak-anak panti. Rook (dalam Kumalasari, 2012) Dukungan sosial merupakan salah satu fungsi dari ikatan sosial, dan ikatan-ikatan sosial tersebut menggambarkan tingkat kualitas umum dari hubungan interpersonal. Ikatan dan persahabatan dengan orang lain dianggap sebagai aspek yang memberikan kepuasan secara emosional dalam kehidupan individu. Saat seseorang didukung oleh lingkungan maka segalanya akan terasa lebih mudah. Dukungan sosial menunjukkan pada hubungan interpersonal yang melindungi individu terhadap konsekuensi negatif dari stres. Dukungan sosial yang 10 diterima dapat membuat individu merasa tenang, diperhatikan, dicintai, timbul rasa percaya diri dan kompeten. Sarason (dalam Kumalasari, 2012) mengatakan bahwa dukungan sosial adalah keberadaan, kesediaan, kepedulian dari orang-orang yang dapat diandalkan, menghargai dan menyayangi kita. Sarason berpendapat bahwa dukungan sosial itu selalu mencakup dua hal yaitu : a. Jumlah sumber dukungan sosial yang tersedia, merupakan persepsi individu terhadap sejumlah orang yang dapat diandalkan saat individu membutuhkan bantuan (pendekatan berdasarkan kuantitas). b. Tingkatan kepuasan akan dukungan sosial yang diterima, berkaitan dengan persepsi individu bahwa kebutuhannya akan terpenuhi (pendekatan berdasarkan kualitas). Hal di atas penting dipahami oleh individu yang ingin memberikan dukungan sosial karena menyangkut persepsi tentang keberadaan (availability) dan ketepatan (adequancy) dukungan sosial bagi seseorang. Dukungan sosial bukan sekedar pemberian bantuan, tetapi yang penting adalah bagaimana persepsi si penerima terhadap makna dari bantuan tersebut. Hal itu erat hubungannya dengan ketepatan dukungan sosial yang diberikan, dalam arti bahwa orang yang menerima sangat merasakan manfaat bantuan bagi dirinya karena sesuatu yang aktual dan memberikan kepuasan. Jenis Dukungan Sosial Menurut Sarafino (dalam Kumalasari, 2012) dukungan sosial terdiri dari empat jenis yaitu:  Dukungan emosional. Dukungan ini melibatkan ekspresi rasa empati dan perhatian terhadap individu, sehingga individu tersebut merasa nyaman, dicintai dan diperhatikan. Dukungan ini meliputi perilaku seperti memberikan perhatian dan afeksi seta bersedia mendengarkan keluh kesah orang lain.  Dukungan penghargaan. Dukungan ini melibatkan ekspresi yang berupa pernyataan setuju dan penilaian positif terhadap ide-ide, perasaan dan performa orang lain.  Dukungan instrumental. Bentuk dukungan ini melibatkan bantuan langsung, misalnya yang berupa bantuan finansial atau bantuan dalam mengerjakan tugastugas tertentu.  Dukungan informasi. Dukungan yang bersifat informasi ini dapat berupa saran, pengarahan dan umpan balik tentang bagaimana cara memecahkan persoalan. 2. Pembahasan masalah Setelah dilakukannya wawancara terhadap pengurus panti dan anak-anak panti asuhan maka diketahui sebuah masalah yang terdapat dalam komunitas atau panti asuhan tersebut yaitu kurangnya dukungan sosial yang membuat terbentuknya kepribadian anak panti yang tertutup dengan lingkungan sosial. Hal ini membuat anakanak panti tersebut menjadi seseorang yang tertutup untuk mengungkapkan pendapatnya maupun mencoba hal-hal yang baru. Sebab di dalam panti, anak-anak 11 tidak diperbolehkan untuk pulang telat untuk bermain dengan teman-temannya meskipun hanya telat beberapa menit saja. Terdapat pula pernyataan anak panti yang mengungkapkan bahwa ketika anak-anak tersebut ada yang pulang lebih dari 2 jam dari jadwal pulang seharusnya maka mereka akan diberi hukuman dengan tidak akan diberikan uang saku dan tidak akan diantar menuju sekolahnya sehingga mereka harus jalan kaki untuk berangkat ke sekolah. Sedangkan sekolah dari anak-anak tersebut relatif jauh. Hal ini membuat anak menjadi tidak merasakan dukungan untuk berkembang dari pengasuh pantinya. Tidak hanya itu, permasalahan tersebut juga dirasakan oleh pengurus panti, dimana pengurus panti merasa kesusahan untuk mengurus panti asuhan seorang diri. Pengurus merasa bahwa tidak mampu menjangkau dan mengenal karakter anak-anak dengan baik sebab terlalu banyak anak yang memang harus diperhatikan. Hal ini didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Aditya N Priyatama dan Makmuroch (2010) yang berjudul Hubungan Antara Secure Attachment dan Dukungan Sosial Dengan Self Disclosure Pada Santri Pondok Pesantren Al-Muayyad Surakarta. Dalam penelitian tersebut, membuktikan bahwa dukungan sosial yang dimiliki atau diterima oleh anak-anak panti tersebut mampu mempengaruhi keterbukaan mereka dengan lingkungan sekitarnya. Karena dengan dikekangnya anak oleh pengasuh membuat munculnya rasa kurang nyaman dan kepercayaannya kepada pengasuh yang mampu membuat anak menjadi pribadi yang tertutup. Berdasarkan penuturan dari pengasuh mengatakan bahwa mereka kurang mampu memberikan perhatian secara merata. Hal tersebut terjadi dimungkinkan karena pengasuh dari panti asuhan ini juga harus mengurus anak-anaknya dan keluarganya, diketahui juga dari kedua pengasuh di Panti Asuhan Al-Husna tersebut memiliki anak yang masih kecil atau masa anak-anak yang sangat membutuhkan kasih sayang dari orangtuanya. Sesuai dengan teori mengenai dukungan sosial, dalam Panti Asuhan Al-Husna menunjukkan belum terpenuhinya 2 aspek yang ada. Jumlah dukungan yang ada dalam panti asuhan memang tidak terlalu sedikit apabila dihitung bersama dengan jumlah anak pantinya, namun untuk dukungan yang seharusnya selalu dirasakan oleh anak yaitu dukungan dari orangtua belum terpenuhi. Di panti sendiri, mereka memiliki orangtua asuh yang seharusnya memberikan dukungan berupa emosional, penghargaan, instrumental, dan informasi guna membuat anak-anak memiliki kepribadian terbuka dengan pengasuhnya sehingga memiliki keterikatan batin. Sedangkan keadaan sebenarnya, di panti asuhan tersebut anak-anak panti lebih merasa takut dan kurang percaya untuk menyampaikan ataupun menceritakan segala perasaannya maupun kejadian-kejadian yang dialami kepada pengasuhnya. Sehingga terbentuklah anak-anak yang tertutup kepada pengasuhnya terlebih kepada orang yang kurang dikenalnya. Daftar Pustaka Aditya, D. (2013). Data dan Metode Pengumpulan Data Penelitian. Surakarta: Poltekes Kemenkes. Afiyanti, Y. (2008). Focus Group Discussion (Diskusi Kelompok Terfokus) Sebagai Metode Data Pengumpulan Data Penelitian Kualitatif. Jurnal Keperawatan Indonesia, 58-62. 12 Kumalasari , F., & Ahyani, L. N. (2012). Hubungan Antara Dukungan Sosial dengan Penyesuaian Diri Remaja di Panti Asuhan. Jurnal Psikologi Pitutur. Nurmalikha. (2010). Skripsi Perbedaan Prestasi Belajar Antara Metode Ceramah dan Metode Hafalan dalam Pembelajaran PAI di SMAI HI Pondok WInang Jakarta Selatan . Jakarta: Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Priyatama, A. N., & Makmuroch. (2010). Skripsi Hubungan Antara Secure Attachement dan Dukungan Sosial dengan Self Disclosure pada Santri Pondok Pesantren Al-Muayyad Surakarta. Surakarta: Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret. Rahayu, D. A. (2011). Tesis Pengaruh Psikoedukasi Keluarga Terhadap Dukungan Psikososial Keluarga pada Anggota Keluarga dengan Penyakit Kusta di Kabupaten Pekalongan. Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Program Magister Keperawatan Kekhususan Keperawatan JIwa Depok. Ruhyah, H. (2013). Resume Buku Penelitian Kualitatif Prof. Sugiono. Cirebon: Alfabeta Bandung. Saputri, M. A., & Indrawati, E. S. (2011). Hubungan Antara Dukungan Sosial dengan Depresi pada Lanjurt Usia yanga Tinggal di Panti Wreda Wening Wardoyo Jawa Tengah. Jurnal Psikologi Undip. Septiyan, F. (2014). Skripsi Metode Intervensi Sosial dalam Mengatasi Kenakalan Remaja di Panti Asuhan Anak Yogyakarta. Yogyakarta: Prodi Ilmu Kesehjateraan Sosial Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Soep. (2009). Tesis Pengaruh Intervensi Psikoedukasi dalam Mengatasi Depresi Postpartum di RSU Dr. Pirngadi Medan . Medan: Universitas Sumatra Utara. Sunyono. (2011). Teknik Wawancara (Interview) Dalam Penelitian Kualitatif . Surabaya: Program Studi S3 Pendidikan Sains Fakkultas Negeri Surabaya.

Judul: Dukungan Sosial Di Panti Asuhan Al- Husna Dalam Ruang Lingkup Komunitas.pdf

Oleh: Rachmania Tatsa


Ikuti kami