Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Penglihatan (buta Warna

Oleh Azlinda Kurniati

184,7 KB 8 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Penglihatan (buta Warna

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM PENGLIHATAN (BUTA WARNA) BAB I KONSEP DASAR I. ANATOMI Retina adalah suatu membran yang tipis dan bening, terdiri atas penyebaran serabut saraf optik. Letaknya antara badan kaca dan koroid. Di bagian retina yang letaknya sesuai dengan sumbu penglihatan, terdapat makula lutea yang berperan penting untuk tajam penglihatan. Di tengah makula terdapat bercak mengkilap yang merupakan reflex fuvea kira-kira 3 mm ke arah nasal kutub belakang bola mata, terdapat daerah putih kemerahan disebut papil saraf optik. Arteri sentral bersama venanya masuk ke dalam bola mata di tengah papil saraf optik merupakan pembuluh darah. Terminal retina terdiri dari 10 lapisan dan memiliki 3 lapisan sel saraf yaitu: 1. Lapisan sel kerucut (cellula optica caniformis) dan sel batang (cellula optica bacilliformis) 2. Lapisan sel-sel (neuron) bipolar 3. Lapisan sel-sel ganglion • Lapisan sel kerucut dan sel batang Merupakan sel reseptor yang peka terhadap rangsangan cahaya, sehingga disebut fotoreseptor. Fotoreseptor terdiri atas 3 bagian: 1. Segmen luar, paling dekat dengan eksterior mata, menghadap ke koroid dan mendeteksi rangsangan cahaya. 2. Segmen dalam, terletak di pertengahan panjang fotoreseptor dan mengandung perangkat metabolik sel. 3. Terminal sinaps, paling dekat dengan interior mata menghadap ke neuron bipolar dan menyalurkan sinyal yang dihasilkan fotoreseptor setelah mendapat rangsangan cahaya yang bermacam-macam warna sel-sel berikutnya pada jalur penglihatan. • Lapisan sel-sel bipolar Axon-axon dari sel-sel batang dan kerucut mengadakan hubungan sinaptik dengan dendrite-dendrite di sel bipolar terutama di daerah sentral retina. 1 sel kerucut mengadakan hubungan sinaptik dengan satu sel bipolar, sejumlah sel batang mengadakan hubungan sinaptik dengan satu sel bipolar. Hubungan 1 sel kerucut dengan 1 sel bipolar tersebut memungkinkan penghantaran impuls-impuls yang timbul di dalam satu sel kerucut secara terpisah melalui serat nervus opticus. Oleh karena itu impuls-impuls tersebut pada akhirnya dapat diterima secara terpisah pula di dalam cortex area penglihatan, sehingga memungkinkan suatu penglihatan yang amat tajam. • Lapisan sel-sel ganglion Axon-axon dari sel-sel bipolar mengadakan hubungan sinaptik dengan dendrite-dendrite dari sel-sel ganglion. Selanjutnya axon-axon dari sel ganglion berkumpul pada permukaan sebelah dalam retina untuk membentuk suatu lapisan retina paling dalam. Stratum neurofibriarum nervus opticus, untuk selanjutnya meninggalkan retina dan keluar dari dinding dorsal bulbus oculi sebagai nervus opucus. II. FISIOLOGI Retina dilengkapi dengan suatu bahan kimia yang disebut rhodopsin atau zat warna penglihat yang berwarna merah-ungu. Cahaya yang jatuh pada retina menyebabkan adanya perubahan kimiawi di dalam rhodopsin serta bahan-bahan lain yang terdapat di dalam sel kerucut dan sel batang. Rhodopsin, fotopigmen sel batang tidak dapat membedakan berbagai panjang gelombang spektrum cahaya. Pigmen tersebut menyerap semua panjang gelombang cahaya tampak, sehingga sel batang hanya memberi gambaran bayangan abu-abu apabila mendeteksi berbagai intensitas cahaya, tidak memberi warna. Foto pigmen di tiga jenis sel kerucut (sel kerucut merah, hijau dan biru) berespon secara selektif terhadap berbagai panjang gelombang cahaya, sehingga penglihatan warna dapat terjadi. Sensasi dari setiap warna tertentu ditentukan oleh frekuensi relatif impuls dari ketiga sistem sel kerucut tersebut. Pigmen peka biru/gelombang pendek menyerap warna maksimum dari bagian biru-ungu spektrum. Pigmen peka hijau atau gelombang menengah menyerap warna maksimum di bagian hijau, dan pigmen peka merah atau gelombang panjang menyerap warna maksimum di bagian kuning, biru, merah, hijau adalah warna primer, tapi sel kerucut yang memiliki penyerapan maksimum di bagian kuning. Spektrum cukup peka pada bagian merah sehingga berespon terhadap cahaya merah dan ambang yang lebih rendah daripada cahaya hijau. III. PENGERTIAN Buta warna/kekurangan penglihatan warna adalah kemampuan penglihatan warna-warna yang tidak sempurna, di mana seseorang tidak atau kurang dapat membedakan beberapa warna dengan baik, dapat terjadi secara kongenital maupun didapat akibat penyakit tertentu. IV. PENYEBAB a. Kongenital, bersifat resesif terkait dengan kromosom X b. Didapat, bila ada kelainan pada makula dan saraf optik. V. PATOFISIOLOGI Mata yang sehat mempunyai beribu-ribu sel kerucut yang peka terhadap warna, sel kerucut ini kemudian menghantarkan rangsangan pada saraf optik yang seterusnya menyampaikan ke otak. Pada penderita buta warna beberapa sel kerucut tidak dapat menghantar isyarat warna dengan sempurna sehingga ia tidak mampu membedakan beberapa warna tertentu. Defek penglihatan dapat bersifat kongenital herediter maupun didapat: • Defek penglihatan kongenital hampir selalu “merah-hijau” mengenai 8 % laki-laki dan 0,5 % perempuan, mengenai kedua mata dan tingkat keparahannya setara atau sama antara kedua mata. Defek penglihatan kongenital bersifat resesif terkait kromosom X, tipe keparahannya konstan. • Defek penglihatan didapat Lebih sering pada warna biru-hijau dan mengenai semua jenis kelamin dengan insiden yang sama. Sering mengenai salah satu mata, di mana tipe dan keparahannya bervariasi, tergantung pada letak dan gambar patologi okuler yang biasanya dapat dilihat secara oftalmoskop. Defek penglihatan warna/buta warna dapat terjadi dalam bentuk: • Trikromat Keadaan pasien punya 3 pigmen kerucut yang mengatur fungsi penglihatan. Pasien buta warna dapat melihat berbagai warna tapi dengan interpretasi berbeda daripada normal, bentuk yang paling sering ditemukan: a) Protanomali (defisiensi warna merah) b) Deutranomali (defisiensi warna hijau) c) Tritanomali (defisiensi warna biru) • Dikromat Hanya memiliki 2 pigmen kerucut dan mengakibatkan sukar membedakan warna tertentu. a) Protanopia: keadaan yang paling sering ditemukan dengan cacat pada warna merah, hijau. b) Dentranopia: tidak memiliki warna hijau. c) Tritanopia: kesukaran membedakan warna biru dari kuning. • Monokromat/akromatopia Hanya terdapat 1 pigmen kerucut VI. TANDA DAN GEJALA Tergantung dari jenis buta warna yang diderita, biasanya seseorang yang mengalami kekurangan penglihatan warna sering keliru dalam membedakan warnawarna tertentu dan juga mungkin tidak dapat melihat suatu warna dengan terang seperti orang normal. 1. Dikromatik a. Protanopia: penderita tidak dapat membedakan warna merah dan hijau karena pigmen merah tidak ada. b. Dentranopia: penderita tidak dapat membedakan warna merah hijau karena pigmen hijau tidak ada. c. Tritanopia: penderita tidak dapat membedakan warna biru-kuning karena pigmen biru hilang. 2. Trikromatik Penderita memiliki 3 macam sel kerucut tapi salah satunya tidak berfungsi secara normal. Gejala analog dengan defek pada dikromatik. 3. Monokromatik Terdiri dari 2 bentuk walaupun keduanya tidak memiliki diskriminasi warna sama sekali. a. Monokromatik batang Pengidap lahir tanpa sel kerucut yang berfungsi pada retina dengan gejala: penurunan ketajaman penglihatan, tidak ada penglihatan warna, fotofobia dan nistagmus. b. Monokromatik kerucut Tidak memiliki diskriminasi cacat warna tapi ketajaman penglihatan normal, tidak terdapat fotofobia dan nistagmus. Monokromatik kerucut memiliki fotoreseptor kerucut tapi semua sel kerucut mengandung pigmen penglihatan yang sama. VII. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Oftalmoskop Suatu alat dengan sistem pencahayaan khusus untuk melihat bagian dalam mata, terutama retina dan struktur terkaitnya. 2. Tes penglihatan warna a. Uji ishihara Dengan memakai sejumlah lempeng polikromatik yang berbintik, warna primer dicetak di atas latar belakang mosaik bintik-bintik serupa dengan aneka warna sekunder yang membingungkan, bintik-bintik primer disusun menurut pola (angka atau bentuk geometrik) yang tidak dapat dikenali oleh pasien yang kurang persepsi warna. b. Uji pencocokan benang Pasien diberi sebuah gelendong benang dan diminta untuk mengambil gelendong yang warnanya cocok dari setumpuk gelendong yang berwarnawarni. 3. Tes sensitivitas kontras Adalah kesanggupan mata melihat perbedaan kontras yang halus, di mana pada pasien dengan gangguan pada retina, nervus optikus atau kekeruhan media mata tidak sanggup melihat perbedaan kontras tersebut. 4. Tes elektrofisiologik a. Elektroretingrafi (ERG) Untuk mengukur respon listrik retina terhadap kilatan cahaya bagian awal respon flash ERG mencerminkan fungsi fotoreseptor sel kerucut dan sel batang. b. Elektro okulografi (EOG) Untuk mengukur potensial korneoretina tetap. Kelainan EOG terutama terjadi pada penyakit secara dipus mempengaruhi epitel pigmen retina dan fotoreseptor. VIII. TERAPI BUTA WARNA Hingga kini belum ada obat yang dapat menyembuhkan buta warna, tapi bagaimanapun pengidap boleh diajar untuk menyesuaikan diri dalam mengatasi kelemahannya dalam membedakan warna, seperti dengan menghafal bentuk, ukuran. Untuk mengurangi gejala dapat digunakan kacamata yang berlensa dengan filter warna khusus yang memungkinkan pasien melakukan interpretasi kembali warna. BAB II ASKEP PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM PENGLIHATAN (BUTA WARNA) I. PENGKAJIAN 1. Riwayat Kesehatan a. Kapan keluhan dirasakan. b. Apakah gangguan penglihatannya ini mempengaruhi ketajaman penglihatan. c. Bagaimana gangguan penglihatan itu terjadi. d. Apakah pasien merasakan adanya perubahan dalam matanya (massa tumor). e. Apakah pasien merasa ketajaman penglihatannya berkurang. f. Apakah ada keluhan lain yang menyertai (misalnya: gatal, pusing, keluar pus dan darah pada mata). g. Apakah pasien sering minum obat-obat tertentu (nama obatnya dan lama penggunaannya). h. Apakah pasien sebelumnya pernah menderita penyakit yang sama. i. Apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit mata yang sama. 2. Riwayat Sossial a. Tanyakan usia pasien dan bandingkan dengan perkembangan yang normal dari matanya b. Tanyakan tentang hobby dan kegiatan yang dilakukan pasien. 3. Riwayat Psikologis a. Bagaimana perilaku dan reaksi pasien serta keluarganya terhadap gangguan penglihatan yang dialami pasien. b. Mekanisme kopinlg yang biasa digunakan pasien dalam menghadapi dan mengatasi masalahnya. 4. Pengkajian Fisik a. Tes penglihatan warna: uji ishihara b. Pemeriksaan tajam penglihatan (visus dasar) - Visus OD - Visus OS (tidak dapat diukur karena ada massa tumor) c. Pemeriksaan anatomik dilakukan dengan cara objektif - Inspeksi: perhatikan tanda-tanda nyata (adanya pembengkakan, kemerahan dan tumor) - Palpasi: untuk menentukan adanya tumor, rasa sakit (nyeri tekan), keadaan dan tahanan intra okuler. 5. Pemeriksaan Diagnostik - ERG: defisiensi salah satu sel kerucut - Oftalmoskop Retina berwarna kuning-merah dengan bercak-bercak hitam-coklat. Pengumpulan Data DS: - Keluhan tidak dapat membedakan warna tertentu - Keluhan atau pada cahaya terang - Merasa malu dengan orang lain DO: - Interpretasi warna rendah/kurang - Tidak dapat menyebutkan angka dalam buku ishihara - Tampak murung - Menarik diri - Perasaan terhadap tubuh Prioritas Masalah 1. Gangguan persepsi warna 2. Gangguan konsep diri 3. Resiko terhadap cedera II. DIAGNOSA KEPERAWATAN No. 1. DS: Data Penyebab Defek Masalah Gangguan persepsi - Keluhan tidak dapat membedakan warna tertentu - Keluhan silau pada cahaya terang DO: - Interpretasi warna rendah - Tidak dapat menyebutkan angka dalam buku ishihara penglihatan 2. DS: - Merasa malu dengan orang lain DO: - Tampak murung - Menarik diri - Perasaan (-) terhadap tubuh Harga diri rendah diri Gangguan konsep III. RENCANA KEPERAWATAN Interpretasi warna kurang Resiko terhadap cedera 1. Gangguan persepsi warna berhubungan dengan defek penglihatan warna ditandai dengan: - Keluhan tidak dapat membedakan warna tertentu. - Keluhan silau pada cahaya terang - Interpretasi warna kurang - Tidak dapat menyebutkan angka dalam buku ishihara Tujuan: Gangguan persepsi warna teratasi dengan kriteria: - Klien dapat membedakan warna dengan benar - Tidak merasa silau pada cahaya terang Intervensi: a. Kaji bentuk defisiensi buta warna. Tentukan apakah salah satu atau kedua mata yang rusak: Rasional: Menentukan kriteria buta warna yang diderita. b. Lakukan tindakan untuk membantu klien mengurangi keterbatasan penglihatan pada cahaya terang, contoh: perbaikan sinar/warna yang terang. Rasional: Menurunkan rasa silau pada mata. c. Anjurkan klien menggunakan teknik khusus dalam menginterpretasi warna, misalnya: dengan menghafal bentuk, ukuran, ukuran/susunan dll suatu benda. Rasional: Memudahkan klien menentukan warna yang dimaksud oleh suatu benda. d. Kolaborasi dengan dokter untuk penggunaan kacamata. Rasional: Kacamata dengan lensa yang memiliki filter warna khusus memungkinkan klien untuk menginterpretasi warna dengan benar. 2. Gangguan konsep diri berhubungan dengan harga diri rendah ditandai dengan: - Klien merasa malu - Perasaan (-) terhadap tubuh - Klien tampak murung - Menarik diri dari lingkungan Tujuan: Gangguan konsep diri teratasi dengan kriteria: - Klien tampak cerah - Merasa optimis - Dapat bergaul dengan lingkungan - Menerima diri apa adanya. Intervensi: a. Beri kesempatan klien untuk mengekspresikan perasaannya. Rasional: Memvalidasi perasaan dan persepsi klien meningkatkan kesadaran diri dan mempertinggi konsep diri. b. Beri dukungan psikologis Rasional: Dapat bersikap realistis dan menerima keadaannya. c. Beri informasi yang akurat tentang penyakitnya Rasional: Meningkatkan pemahaman klien tentang proses penyakitnya sehingga ansietasnya dapat berkurang dan dapat menerima dirinya apa adanya. 3. Resiko terhadap cedera berhubungan dengan kurangnya interpretasi warna. Tujuan: cedera tidak terasjadi dengan kriteria: - Klien dapat menginterpretasikan warna - Klien dapat melindungi diri dari cedera Intervensi: a. Anjurkan untuk tetap menggunakan teknik-teknik khusus dalam menginterpretasi warna Rasional: Klien dapat mengidentifikasi warna dari suatu benda yang dapat menurunkan resiko cedera. b. Anjurkan orang terdekat untuk selalu bersama klien. Rasional: Menurunkan kebingungan klien, di mana ia dapat ditanya pada orang terdekatnya bila ia tidak bisa menginterpretasikan suatu benda. c. Ingatkan klien untuk tetap menggunakan kacamata Rasional: Penggunaan kacamata dengan lensa yang berfilter warna khusus memungkinkan klien untuk menginterpretasikan warna dengan baik yang dapat menghindari dirinya dari cedera. IV. IMPLEMENTASI Dilaksanakan sesuai dengan rencana tindakan, menjelaskan setiap tindakan yang akan dilakukan sesuai prosedur yang telah ditentukan. V. EVALUASI KEPERAWATAN Evaluasi hasil menggunakan kriteria evaluasi yang telah ditentukan pada tahap perencanaan keperawatan. Dilakukan secara periodik, sistematis dan terencana. Hasil evaluasi segera dicatat dan didokumentasikan. DAFTAR PUSTAKA • Anderson, CR, Petunjuk Modern Kepada Kesehatan, Indonesia, Publishing House, Bandung, 1975. • Ganong, WF, Fisiologi kedokteran, EGC, Jakarta, 195. • Ilyas, HS, Ilmu Penyakit Mata. FKUI, Jakarta, 2002. • Sherwood, L., Fisiologi Manusia, EGC, Jakarta, 1996. • Sukardi, E. Neuroanatomia Medica, UI-Press, Jakarta, 1985. • Vaughan, DE, Asburg, T., Rior dan Eva, P., Oftalmologi Umum, Widya Medika, Jakarta, 1996. BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Tak ada seorang pun manusia yang menghendaki dirinya buta warna, namun tidak bisa di pungkiri dalam kehidupan nyata penderita buta warna memiliki keterbatasan untuk menempuh karir di bidang tertentu. Misalnya saja saat masuk fakultas keperawatan atau dalam pekerjaan tertentu seperti analis kimia dan sebagainya.Mereka memerlukan ketajaman pembedaan warna untuk menekuni ilmunya, yang tidak dapat dibedakan oleh orang yang menderita buta warna. Buta warna itu sendiri adalah ketidak mampuan seseorang untuk membedakan warna tertentu. Orang tersebut biasanya tidak buta semua warna melainkan hanya pada warna tertentu saja, meskipun demikian ada juga seseorang yang sama sekali tidak bisa melihat warna jadi hanya tampak hitam, putih dan abu-abu saja. Penyakit buta warna merupakan kelainan genetik atau turunan, tanda dan gejala seseorang menderita buta warna bisa diketahui saat dia masih balita. Penyebabnya adalah kerusakan pada sel kerucut di dalam retina, sehingga tidak mampu menangkap spektrum warna tertentu. Sehingga bisa dilakukan deteksi dini pada balita untuk mengetahui apakah dia menderita buta warna atau tidak. Sampai saat ini cara mengatasi buta warna belum berhasil ditemukan. Di Jepang saat ini masih terus dilakukan beberapa penelitian untuk dapat mengganti sel-sel kerucut pada retina yang mengalami kelainan bentuk atau kerusakan dengan sel-sel kerucut yang normal. 2. Tujuan Tujuan dibuatnya makalah ini adalah guna memenuhi tugas mata kuliah Biologi tentang penyakit genetika khususnya “Buta Warna”. BAB II PEMBAHASAN 1. 2. a. b. c. d. e. f. g. h. i. Pengertian Buta warna adalah penglihatan warna-warna yang tidak sempurna. Buta warna juga dapat diartikan sebagai suatu kelainan penglihatan yangdisebabkan ketidak mampuan sel-sel kerucut (cone cell) pada retina matauntuk menangkap suatu spektrum warna tertentu sehingga objek yangterlihat bukan warna yang sesungguhnya. Buta warna merupakan suatu kelainan yang diakibatkan oleh sel-sel kerucut mata yang tidak mampu dalam menangkap suatu spektrum warna-warna tertentu. Anatomi Retina adalah selembar tipis jaringan saraf yang semitransparan, dan multilapis yang melapisi bagian dalam dua per tiga posterior dinding bola mata, mengandung reseptor yang menerima rangsangan cahaya (Ilyas, 2008) . Menurut Guyton & Hall (1997), retina merupakan bagian mata yang peka terhadap cahaya mengandung sel-sel kerucut yang berfungsi untuk penglihatan warna dan sel-sel batang yang terutama berfungsi untukpenglihatan dalam gelap. Retina terdiri atas pars pigmentosa disebelah luar dan pars nervosa di sebelah dalam. Permukaan luar retina sensorik bertumpuk dengan lapisan epitel berpigmen retina, sehingga bertumpuk dengan membrane B ruch, khoroid, dan sclera, dan permukaan dalam berhubungan dengan corpus vitreum (Snell, 2006). Lapisan-lapisan retina, mulai dari sisi dalamnya, adalah sebagai berikut: Membrana limitans interna Lapisan serat saraf, yang mengandung akson-akson sel ganglion yangberjalan menuju ke nervus optikus Lapisan sel ganglion Lapisan pleksiformis dalam, yang mengandung sambungan-sambungan sel ganglion dengan sel amakrin dansel bipolar Lapisan inti dalam badan sel bipolar, amakrin dan sel horizontal Lapisan pleksiformis luar, yang mengandung sambungan-sambungansel bipolar dan sel horizontal dengan fotoreseptor Lapisan inti luar sel fotoreseptor Mambrana limitans eksterna Lapisan fotoreseptor segmen dalam dan luar sel kerucut j. Epithelium pigmen retina. Lapisan dalam membrane Bruch Sebenarnya adalah membrane basalis epithelium pigmen retina (Vaughan, 2000). 3. Patofisiologi Penglihatan bergantung pada stimulasi fotoreseptor retina oleh cahaya. Benda-benda tertentu di lingkungan, misalnya matahari, api, dan bola lampu, memancarkan cahaya. Pigmen-pigmen di berbagai benda secara selektif menyerap panjang gelombang tertentu cahaya yang datang dari sumber-sumber cahaya, dan panjang gelombang yang tidak diserap dipantulkan dari permukaan benda. Berkas-berkas cahaya yang dipantulkan inilah yang memungkinkan kita melihat benda tersebut. Suatu benda yang tampak biru menyerap panjang gelombang cahaya merah dan hijau yang lebih panjang dan memantulkan panjang gelombang biru yanglebih pendek, yang dapat diserap oleh fotopigmen di sel-sel kerucut biru mata, sehingga terjadi pengaktifan sel-sel tersebut (Sherwood, 2001). Penglihatan warna diperankan oleh sel kerucut yang mempunyai pigmen terutama cis aldehida A2. Penglihatan warna merupakan kemampuan membedakan gelombang sinar yang berbeda. Warna ini terlihat akibat gelombang elektromagnetnya mempunyai panjang gelombang yang terletak antara 440-700 (Ilyas, 2008). Warna primer yaitu warna dasar yang dapat memberikan jenis warna yang terlihat dengan campuran ukuran tertentu. Pada sel kerucut terdapat 3 macam pigmen yang dapat membedakan warna dasar merah, hijau dan biru. a. Sel kerucut yang menyerap long-wavelength light (red) b. Sel kerucut yang menyerap middle-wavelength light (green) c. Sel kerucut yang menyerap short-wavelength light (blue) Ketiga macam pigmen tersebut membuat kita dapat membedakan warna mulai dari ungu sampai merah. Untuk dapat melihat normal, ketiga pigmen sel kerucut harus bekerja dengan baik. Jika salah satu pigmen mengalami kelainan atau tidak ada, maka terjadi buta warna. Warna komplemen ialah warna yang bila dicampur dengan warna primer akan berwarna putih. Putih adalah campuran semua panjang gelombang cahaya, sedangkan hitam tidak ada cahaya (Ilyas, 2008). Gelombang elektromagnit yang diterima pigmen akan diteruskan rangsangannya pada korteks pusat penglihatan warna di otak. Bila panjang gelombang terletak di antara kedua pigmen maka akan terjadi penggabungan warna (Ilyas, 2008). Seseorang yang mampu membedakan ketiga macam warna, disebut sebagai trikromat. Dikromat adalah orang yang dapat membedakan 2 komponen warna dan mengalami kerusakan pada 1 jenis pigmen kerucut. Kerusakan pada 2 pigmen sel kerucut akan menyebabkan orang hanya mampu melihat satu komponen yang disebut monokromat. Pada keadaan tertentu dapat terjadi seluruh komponen pigmen warna kerucut tidak normal sehingga pasien tidak dapat mengenal warna sama sekali yang disebut sebaga iakromatopsia (Ilyas, 2008). 4. Etiologi Buta warna itu sendiri adalah ketidak mampuan seseorang untuk membedakan warna tertentu. Orang tersebut biasanya tidak buta semua warna melainkan hanya pada warna tertentu saja, meskipun demikian ada juga seseorang yang sama sekali tidak bisa melihat warna jadi hanya tampak hitam, putih dan abu-abu saja. Normalnya sel kerucut (cone) di retina mata mempunyai spectrum terhadap tiga warna dasar, yaitu merah, hijau dan biru. Pada orang yang mempunyai sel-sel kerucut yang sensitive untuk tiga jenis warna ini, maka ia dikatakan normal. Buta warna karena herediter dibagi menjadi tiga: monokromasi (buta warna total), dikromasi (hanya dua sel kerucut yang berfungsi), dan anomalus trikromasi (tiga sel kerucut berfungsi, salah satunya kurang baik). Dari semua jenis buta warna, kasus yang paling umum adalah anomalus trikromasi, khususnya deutranomali, yang mencapai angka 5% dari pria. Sebenarnya, penyebab buta warna tidak hanya karena adakelainan pada kromosom X, namun dapat mempunyai kaitan dengan 19 kromosom dan gen-gen lain yang berbeda. Beberapa penyakit yang diturunkan seperti distrofi sel kerucut dan akromatopsia juga dapat menyebabkan seseorang menjadi buta warna (Anonim, 2008). Gen buta warna terkait dengan dengan kromosom X (X-linked genes). Jadi kemungkinan seorang pria yang memiliki genotif XY untuk terkena buta warna secara turunan lebih besar di bandingkan wanita yang bergenotif XX untuk terkena buta warna. Jika hanya terkait pada salah satu kromosom X nya saja, wanita disebut carrier atau pembawa, yang bias menurunkan gen buta warna pada anak-anaknya. Menurut salah satu riset 5-8% pria dan 0,5% wanita dilahirkan buta warna. Dan 99% penderita buta warna termasuk dikromasi, protanopia, dan deuteranopia. Dua gen yang berhubungan dengan munculnya buta warna adalah OPN1LW (Opsin 1 Long Wave), yang menyandi pigmen merah dan OPN1MW (Opsin 1 Middle Wave), yang menyandi pigmen hijau (SamiS.Deeb dan Arno G. Motulsky, 2005). Buta warna dapat juga ditemukan pada penyakit macula saraf optik, sedang pada kelainan retina ditemukan cacat relative penglihatan warna biru dan kuning sedang kelainan saraf optik memberikan kelainan melihat warna merah dan hijau (Ilyas, 2008). 5. Klasifikasi Buta Warna Buta warna sendiri dapat di klasifikasikan menjadi tiga jenis, yaitu : a. Trikromasi Buta warna jenis ini adalah perubahan sensitifitas warna dari satu jenis atau lebih sel kerucut.Jenis buta warna inilah yang sering dialami oleh manusia. Buta warna trikromasi digolongkan atas : Protanomali yang merupakan kelemahan warna merah Deutromali merupakan kelemahan warna hijau Tritanomali yaitu kelmahan terhadap warna biru b. Dikromasi Merupakan tidak adanya satu dari tiga jenis sel kerucut, terdiri dari : Protanopia yaitu tidak adanya sel kerucut warna merah sehingga kecerahan warna merah dan perpaduannya kurang. Deuteranopia yaitu tidak adanya sel kerucut yang peka terhadap warna hijau Tritanopia untuk warna biru. c. Monokromasi Ditandai dengan hilangnya atau berkurangnya semua penglihatan warna, sehingga yang terlihat hanya putih dan hitam pada jenis typical dan sedikit warna pada jenis atypical. Jenis buta warna ini prevalensi nya sangat jarang. 6. Pemeriksaan Uji Ishihara Merupakan uji untuk mengetahui adanya defek penglihatan warna, didasarkan pada menentukan angka atau pola yang ada pada kartu dengan berbagai ragam warna (Ilyas, 2008). Menurut Guyton (1997) Metode Ishihara yaitu metode yang dapat di pakai untuk menentukan dengan cepat suatu kelainan buta warna di dasarkan pada pengunaan kartu bertitik-titik. Kartu ini disusun dengan menyatukan titik-titik yang mempunyai bermacam-macam warna. Merupakan pemeriksaan untuk penglihatan warna dengan memakai satu seri gambar titik bola kecil dengan warna dan besar berbeda (gambarmpseudokromatik), sehingga dalam keseluruhan terlihat warna pucat dan menyukarkan pasien dengan kelainan penglihatan warna melihatnya. Penderita buta warna atau dengan kelainan penglihatan warna dapat melihat sebagian ataupun sama sekali tidak dapat melihat gambaran yang diperlihatkan. Pada pemeriksaan pasien diminta melihat dan mengenali tanda gambar yang diperlihatkan dalam waktu 10 detik (Ilyas, 2008). Penyakit tertentu dapat terjadi ganguan penglihatan warna seperti buta warna merah dan hijau pada atrofi saraf optik, optik neuropati toksik dengan pengecualian neuropati iskemik, glaukoma dengan atrofi optic yang memberikan ganguan penglihatan biru kuning (Ilyas, 2008). 7. Pengobatan Tidak ada pengobatan atau tindakan yang dapat dilakukan untuk mengobati masalah gangguan persepsi warna. Namun penderita buta warna ringan dapat belajar mengasosiasikan warna dengan objek tertentu. Untuk mengurangi gejala dapat digunakan kacamata berlensa dengan filter warna khusus yang memungkinkan pasien melakukan interpretasi kembali warna. 8. Hal-hal yang perlu diketahui tentang buta warna a. Sifatnya genetik Buta warna biasanya bersifat genetik, tetapi juga bisa disebabkan oleh luka traumatik atau paparan bahan kimia. b. Ada tiga jenis buta warna Jenis pertama adalah kondisi dimana sulit untuk membedakan antara warna merah dan hijau. Jenis kedua sulit untuk membedakan antara warna biru dan kuning, dan jenis yang ketiga adalah buta warna lengkap di mana mata tidak dapat mendeteksi warna sama sekali. c. Orang yang buta warna tidak dapat membedakan warna merah dan hijau Buta warna pada warna merah dan hijau mempengaruhi 10% dari laki-laki di Amerika Serikat, sementara hanya 0,5% dari wanita yang terpengaruh. 99% dari semua orang dengan buta warna, tidak dapat membedakan warna merah dan hijau. d. Buta warna biru dan kuning adalah hal yang langka Buta warna terhadap warna biru dan kuning adalah hal yang langka dan mempengaruhi antara 1 diantara 15.000 orang dan 1 di antara 50.000 orang. Baik pria maupun wanita sama-sama terpengaruh. e. Monochromacy = buta warna total Monochromacy adalah nama untuk buta warna total. Ini mempengaruhi sekitar 1 dari 30.000 orang. Tidak seperti orang-orang yang ‘buta’ dengan warna merah-hijau atau biru-kuning, orangorang dengan monochromacy tidak dapat melihat warna sama sekali, hanya berbagai nuansa hitam, putih, dan abu-abu. f. Penerbitan makalah ilmiah pertama tentang buta warna di tahun 1798 Seorang ahli kimia Inggris bernama John Dalton, yang dirinya juga buta warna, menerbitkan makalah ilmiah pertama tentang buta warna pada tahun 1798. g. Buta warna tidak selamanya menjadi sebuah kekurangan Buta warna bisa menjadi keuntungan.Jenis monyet capuchin yang buta warna mampu menangkap serangga lebih banyak daripada monyet capuchin yang tidak buta warna. Di sisi lain, tentara AS telah menemukan bahwa orang yang buta warna dapat melihat benda-benda yang disamarkan jauh lebih baik daripada mereka yang tidak buta warna. h. Ibu yang buta warna merah-hijau akan menurun ke anak laki-lakinya Seorang wanita yang buta warna merah-hijau akan selalu memiliki anak laki-laki yang buta warna merah-hijau. i. Sebagian orang Eropa melarang orang yang buta warna untuk mengemudi Perbedaan antara warna lampu lalu lintas yakni merah, hijau, dan kuning akan sulit dibedakan oleh pengemudi yang buta warna. Di Bulgaria, Rumania, dan Turki orang yang buta warna dilarang mengemudi. j. Orang yang buta warna cenderung mengalami kesulitan dengan makanan Mereka mengalami kesulitan untuk mengatakan jika sepotong daging merah sudah matang atau masih mentah, mereka tidak dapat mengatakan apakah pisang berwarna kuning atau hijau, dan mereka tidak ank melihat perbedaan antara tomat hijau mentah atau tomat berwarna merah yang sudah masak. k. Buta warna berhubungan dengan kanker usus besar Satu teori mengapa laki-laki lebih meninggal akibat kanker usus besar dibandingkan perempuan adalah dikarenakan laki-laki lebih banyak yang buta warna, ank arena itu mereka tidak dapat mendeteksi darah saat membilas baik dengan air atau kertas toilet sehabis buang air besar. l. Tes Ishihara, tes buta warna Tes Ishihara, banyak digunakan untuk menguji orang yang buta warna, diciptakan oleh Shinobu Ishihara, seorang opthalmologist asal Jepang. Tes Ishihara terdiri dari 38 piring penuh dengan titik-titik berwarna. Di tengah-tengah piring yang penuh dengan titik berwarna tersebut, terdapat titik-titik lagi yang berbeda corak dan warna berbentuk angka, dimana orang yang buta warna tidak bisa melihat angka tersebut. BAB III KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan Buta warna merupakan suatu kelainan yang diakibatkan oleh sel-sel kerucut mata yang tidak mampu dalam menangkap suatu spektrum warna-warna tertentu. Selayang pandang tentang buta warna.Buta warna biasanya bersifat genetik, tetapi juga bisa disebabkan oleh luka traumatik atau paparan bahan kimia.Ada tiga jenis buta warna ,jenis pertama adalah kondisi dimana sulit untuk membedakan antara warna merah dan hijau. Jenis kedua sulit untuk membedakan antara warna biru dan kuning, dan jenis yang ketiga adalah buta warna lengkap di mana mata tidak dapat mendeteksi warna sama sekali. Untuk mengetahui seseorang menderita buta warna dilakukan sebuah test yaitu tes Ishihara. Tes Ishihara, banyak digunakan untuk menguji orang yang buta warna, diciptakan oleh Shinobu Ishihara, seorang opthalmologist asal Jepang. Tes Ishihara terdiri dari 38 piring penuh dengan titik-titik berwarna.Di tengah-tengah piring yang penuh dengan titik berwarna tersebut, terdapat titik-titik lagi yang berbeda corak dan warna berbentuk angka, dimana orang yang buta warna tidak bisa melihat angka tersebut. Sampai saat ini belum ada tindakan atau pengobatan yang dapat mengatasi gangguan persepsi warna ini.Namun penderita buta warna ringan dapat belajar mengasosiasikan warna dengan objek tertentu. 2. Saran Bagi siapa saja yang membaca makalah ini penulis berharap bias memberikan kritik dan saran yang membangun untuk kesempurnaan makalah ini. Mudah-mudahan makalah ini bermanfaat bagi kita semua. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Buta warna adalah penglihatan warna-warna yang tidak sempurna. Biasanya seseorang buta warna akan merasa penglihatannya telah betul. Adalah sangat tepat bila seseorang dengan buta warna disebut sebagai cacat atau lemah warna, karena seseorang dengan buta warna masih dapat mengenal warna. Cacat penglihatan yang paling dikenal adalah buta warna bawaan (kongenital). Cacat penglihatan warna dapat juga didapatkan, yang kadang-kadang merupakan gejala dini kerusakan mata. (Ilyas,2004). Gangguan penglihatan mata herediter, seperti buta warna mempengaruhi sejumlah signifikan orang, proporsi yang pasti jumlahnya bervariasi. Di Australia yang terjadi pada 8% laki-laki dan 0,4% wanita. Komunitas yang terisolasi dengan populasi gen yang terbatas, biasanya memiliki prevalensi yang cukup tinggi, contohnya di pedesaan Finlandia, Hongaria, dan Skotlandia. Di Amerika serikat sekitar 7% dari populasi laki-laki, atau sekitar 10,5 juta laki-laki dan 0,4% populasi wanita tidak bisa membedakan antar warna merah dan hijau. Jarang dilaporkan laki-laki ataupun wanita mengalami buta warna biru.(Richard,1995). Hasil studi populasi terhadap defek penglihatan warna atau buta warna pada anak umur 12-14 di Teheran melaporkan, dari total 2058 siswa yang terdiri dari 1136 laki-laki dan 922 perempuan mendapatkan 97 anak yang mengalami defek penglihatan warna yang terdiri dari 93 laki-laki dan 4 anak perempuan. Siswa Universitas Sumatera Utara yang mengalami defek penglihatan warna di periksa menggunakan Ishihara pseudoisochromatic color plates, tidak terdapat riwayat penyakit sistemik, penyakit mata, dan riwayat penggunaan obat yang kronis, pada pemeriksaan mata didapatkan visus 20/20 (emmetropia) dan tidak tampak kelainan fundus. (.Modarres,1996). Abnormalitas penglihatan warna tidak banyak mempengaruhi kehidupan awal manusia seperti pada masa kanak-kanak, karena tidak disertai oleh kelainan tajam penglihatan , abnormalitas penglihatan warna mulai mempengaruhi ketika anak dihadapkan pada persyaratan untuk masuk jurusan tertentu yang buta warna menjadi salah satu kriteria seperti kedokteran, teknik, design grafis,dan lain-lain. Oleh karena hal tersebut, identifikasi dini kelainan buta warna perlu dilakukan untuk membimbing anak dalam menentukan jenjang pendidikannya kelak. (Ilyas,2004). Dengan mengetahui genetik sebagai salah satu penyebabnya, kita dapat mencegah peningkatan kasus buta warna seperti misalnya dengan melakukan konseling pranikah. Tidak terbukti bahwa penderita defek penglihatan warna dapat melihat pada keadaan gelap karena tidak terbukti sel batang akan menggantikan posisi sel kerucut yang hilang. Kejadian Buta Warna meningkat pada pool genetik dengan perkawinan diantara satu komunitas terisolir. Hal ini berpeluang untuk terjadinya peningkatan prevalensi penderita buta warna yang memiliki kecenderungan herediter. Prevalensi Buta Warna menunjukkan jumlah penderita buta warna dalam satu populasi dalam satu periode tertentu. (Daniel,2002). Buta warna atau dikenal cacat penglihatan warna kongenital bersifat tetap, terdapat sejak lahir, dan biasanya mengenai sama pada kedua mata .Sedangkan sebab buta warna yang didapat yaitu tidak terlihat waktu lahir,biasanya berjalan progresif, dan mengenai satu mata lebih dari mata sebelahnya.(Ilyas,2004). Dari data latar belakang masalah diatas tersebut,maka peneliti tertarik meneliti prevalensi buta warna pada siswa-siswi SMA di Kecamatan Medan Helvetia. 2. Pertanyaan Penelitian Pertanyaan yang akan diajukan dalam penelitian ini adalah berapakah prevalensi buta warna pada siswa-siswi SMA di Kecamatan Medan Helvetia. 3. Tujuan Penelitian 3. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi buta warna pada siswasiswi SMA di Kecamatan Medan Helvetia 4. Manfaat Penelitian Pelayanan Keperawatan Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan bagi Sekolah Menengah Atas agar siswa dapat mengetahui apakah terdapat beberapa aspek buta warna yang akan mengakibatkan gangguan pada kegiatan tertentu di tempat Universitas Sumatera Utara tertentu dan untuk mengetahui adanya kelainan cacat penglihatan warna bawaan atau didapat Penelitian Keperawatan Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai data dasar penelitian berikutnya terutama yang menyangkut prevalensi defek penglihatan warna pada siswasiswi SMA. Pendidikan Keperawatan Dengan diketahuinya prevalensi atau tingkat perkembangan defek penglihatan warna pada siswa-siswi SMA, dapat digunakan sebagai masukan evaluasi bagi pendidikan keperawatan, selain itu dapat juga di gunakan sebagai data dasar bagi institusi pendidikan dan pelayanan yang telah berkerja sama untuk berbagai pengalaman pada mahasiswa dan perawat pendidikan. 2. Mengapa butawarna banyak terdapat pada laki-laki?Jawaban : Karena buta warna merupakan sifat yang terpaut kelamin, dan dibawaoleh genosom. Buta warna merupakan salah satu sifat resesif yang menempel pada kromosom X. Karena laki-laki hanya memiliki satu kromosom X, maka bilaseorang laki-laki memiliki kromosom X yang resesif, ia akan menunjukkan sifat buta warna. Berbeda dengan perempuan yang mempunyai dua kromosom X. Bilasalah satunya memiliki sifat resesif, maka akan ditutupi oleh kromosom Xlainnya.3. Dapatkah suami isteri yang normal menghasilkan keturunan yang butawarna?Jawaban : Suami istri yang normal masih mungkin menghasilkan keturunan yang buta warna karena mungkin saja salah satu orang tuanya normal tetapi bersifatcarier (pembawa) dan jika keturunan tersebut berjenis kelamin laki-laki.Keturunan yang berjenis kelamin perempuan tidak mungkin menderita butawarna karena memiliki dua buah sepasang kromosom X.4. Apabila dua anak bersaudara kandung, laki-laki dan perempuan semuanya butawarna. Bagaimanakah fenotip dan genotip kedua orang tuanya?Jawaban : Kemungkinan kedua orang tuanya menderita buta warnaP ♀ XcXc X ♂ XcY Buta warna Buta warnaGamet XC, Xc Xc, YF XcXc (♀), buta warna XcXc (♀), buta warna XcY (♂), buta warna XcY (♂), buta warna atauAyah menderita buta warna sedangkan ibu adalah carier (pembawa) sifat butawarna.P ♀ XCXc X ♂ XcY Normal, carier Buta warnaGamet XC, Xc Xc, YF XCXc (♀), normal carier XcXc (♀), buta warna XCY (♂), normal XcY (♂), buta warna 5. Ciri khas pewarisan gen terangkai pada kromosom X adalah Criss-crossinheritance . Apa maksudnya?Jawaban : Maksudnya adalah perkawinan yang menyilangkan sifat yang dibawaoleh suatu individu jantan atau betina ke keturunan yang berjenis kelamin yang berbeda. Misal suatu sifat yang dibawa oleh individu betina akan diturunkankepada keturunannya yang berjenis kelamin jantan, atau sebaliknya. DAFTAR PUSTAKACummings, Michael R. 20

Judul: Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Penglihatan (buta Warna

Oleh: Azlinda Kurniati


Ikuti kami