Asuhan Keperawatan Lansia Gangguan Sistem Penghidu Di Era Pandemi Covid

Oleh Lilik Pranata

306,3 KB 10 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Asuhan Keperawatan Lansia Gangguan Sistem Penghidu Di Era Pandemi Covid

ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK: GANGGUAN SISTEM PENGHIDU DENGAN INTERVENSI PROMOSI KESEHATAN DAN TES PENGHIDU PADA LANSIA DENGAN PRESBYOSMIA DISUSUN OLEH : Putri Zulaika Aristawidya 1935021 PEMBIMBING : Ns. Lilik Prantana, M. Kep. UNIVERSITAS KATOLIK MUSI CHARITAS FAKULTAS ILMU KESEHATAN TAHUN AJARAN 2019/2020 KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena ats berkah dan rahmatNya lah penulis dapat menyelesaikan Asuhan Keperawatan Gerontik: Gangguan Sistem Penghidu dengan Intervensi Promosi Kesehatan dan Tes Penghidu pada Lansia Presbyosmia. Dalam penulisan laporan ini penulis menyadari bahwa laporan ini masih banyak kekurangan, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar penulisan laporan pada minggu berikutnya dapat lebih baik lagi. Akhir kata penulis sangat mengharapkan semoga laporan ini dapat bermanfaat dan dapat menambah wawasan pembaca mengenai Asuhan Keperawatan Gerontik: Gangguan Sistem Penghidu dengan Intervensi Promosi Kesehatan dan Tes Penghidu pada Lansia Presbyosmia. . Palembang, Juni 2020 Penulis ii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR .......................................................................................................... ii DAFTAR ISI........................................................................................................................ iii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ............................................................................................................ 1 B. Tujuan Penulisan ......................................................................................................... 3 C. Manfaat Penulisan ....................................................................................................... 3 BAB II TINJAUAN TEORI A. Konsep Dasar Lansia ................................................................................................ 47 1. Pengertian Lansia .............................................................................................. 47 2. Proses Menua (Ageing Process) ....................................................................... 47 3. Teori Menua ...................................................................................................... 47 4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penuaan pada Lansia ................................ 50 5. Klasifikasi Lansia .............................................................................................. 50 6. Tugas Perkembangan Lansia ............................................................................ 51 7. Perubahan Akibat Proses Penuaan pada Sistem Penghidu ............................... 51 B. Konsep Presbyosmia ................................................................................................. 52 C. Korelasi Lansia dengan Covid 19 ............................................................................. 56 D. Asuhan Keperawatan pada Lansia dengan Gangguan Sistem Penghidu Presbyosmia58 1. Pengakajian ....................................................................................................... 58 2. Diagnosis Keperawatan, Intervensi dan Implementasi ..................................... 60 3. Evaluasi ............................................................................................................. 63 4. Kerangka Konsep Teori .................................................................................... 64 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan ............................................................................................................... 48 B. Saran ......................................................................................................................... 48 DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................... 50 iii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gerontologi merupakan suatu ilmu yang memepelajari proses penuaan dan permasalahan yang terjadi pada lansia. Geriatri yang juga merupakan cabang ilmu kedokteran yang mempelajari mengenai penyakit dan permasalahan yang terjadi pada lansia dengan tujuan pelayanan yang diberikan dapat meningkatkan derajat kesehatan lansia agar terhindar dari berbagai macam penyakit, memelihara kesehatan dna aktivitas fisik lansia agar menjadi lebih produktif, mendiagnosis dan melakukan pengobatan yang sesuai dan tepat sertta dapat memandirikan lansia dengan tetap memperhatikan kebutuhannya sampai akhir masa hidupnya (Muhith and Siyoto, 2016, p. 6). Keperawatan juga mempelajari ilmu gerontologi yang dikenal dengan keperawatan gerontik yang merupakan suatu ilmu keperawatan, mempelajari bagaimana memberikan pelayanan keperawatan pada lansia secara biopsikososial dan spiritual baik dalam kondisi sehat ataupun sakit (Dewi, 2014, p. 1). Keerawatan gerontik umumnya bersifat independen, interindependen, humanistik dan holistik yang membutuhkan peran perawat dalam pelaksanannya. Menurut Maryam (2008) dalam Muhith and Siyoto (2016, pp. 9–10) keperawatan gerontik memiliki beberapa model pelayanan, yakni : pelayanan promotif yang merupakan upaya pencegahan penyakit, upaya preventif yang merupakan model pencegahan yang dapat dilakukan dengan tiga tahap yakni tahap pencegahan primer, sekunder dan tersier, upaya disability limination atau pembatasan kecacatan dengan melakukan pemeriksaan, identifikasi masalah, perencanaan, pelaksanaan dan penilaian serta upaya rehabilitation dengan upaya pemulihan oleh petugas kesehatan yang bersifat independent, interindependent, humanistic dan holistic. Perawat yang juga merupakan petugas kesehatan memiliki peranan untuk memberi motivasi dan inovasi dalam setiap pelayanan kesehatan yang diberikan pada pasien, mewujudkan tujuan keperawatan gerontik untuk mempertahankan fungsi tubuh, memberikan kenyamanan dengan menjadi konselor kesehatan bagi pasien dengan usia lanjut (Dewi, 2014, p. 2). Data proyeksi penduduk lansia pada tahun 2015-2020 mengalami peningkatan yang cukup signifikan mulai dari tahun 2015 populasi lansia di Indonesia sebanyak 1 8,1 %, pada tahun 2017 mencapai angka 9,03 %, pada tahun 2020 mencapai angka 9,05% dan akan terus meningkat dengan prediksi peningkatan angka penduduk lansia sebanyak 11,1 % pada tahun 2025 (33,69 juta jiwa) dan pada tahun 2030 diperkirakan akan mencapai 12,9% (40,95 juta jiwa) (Pusat Data Informasi, 2017, p. 3). Semakin meningkatnya angka penduduk lansia dari tahun ketahun ini menunjukkan bahwa lansia akan mulai mendominasi di Indonesia. Pasien lansia merupakan pasien yang berusia lebih dari 60 tahun yang mengalami proses penuaan fungsi tubuh dengan masalah kesehatan yang bervariasi naik dalam kondisi sehat ataupun sakit, dari kondisi adaptif hingga maladaptif yang tinggal dalam tempat tinggal yang berbeda (Dewi, 2014, p. 5). Proses penuaan pada lansia dapat terjadi pada berbagai macam sistem tubuh mulai dari sistem kardiovaskuler, pernapasan, muskuloskeletal, integumen, gastrointestinal, genitoutinaria, persepsi sensori (penglihatan, penghidu, pendengaran dan perasa), neurologi dan endokrin yang terjadi secara bertahap (Nugroho, 2017, pp. 27–33) Proses penuaan yang terjadi pada lansia salah satunya adalah proses penurunan fungsi persepsi sensori penghidu. Sistem penghidu manusia umumnya terdiri dari hidung dan saraf olfaktorius yang berasal dari kemoreseptor pada membran mukosa atas rongga nasal diatas konka nasal superior. Setiap septum nasal pada serat saraf yang melalui lamina kribriformid tulang etmoid ke bulbus olfaktorius saling berhubungan dan bersinaps, dari bulbus olfaktorius berkas saraf akan membentuk traktur olfaktorius yang melewati bulbus temporal sehingga implus akan diinterprestasikan menjadi bau yang dirasa oleh manusia. Indra penciuman dapat mempengaruhi selera makan seseorang, semakin banyak bau yang menyenangkan maka semakin meningkat pula selera makan seseorang (Waugh and Grant, 2017, p. 113-114). Penurunan pada sistem penghidu umunya terjadi karena beberapa faktor seperti usia, obat-obatan, penyakit neurodegeneratif, pajanan lingkungan yang bising dan tindakan pembedahan (Nair and Sabbagh, 2014, p. 397). Penurunan sistem penghidu pada lansia yang tidak peka terhadap rangsangan bau akan bedampak juga terhadap sistem pengecapan yang dimana indra penciuman dapat mempengaruhi selera makan lansia sehingga terjadi penurunan nafsu makan akibat tidak bisanya lansia menghirup aroma makanan yang dimakannya. Berdasarkan fenomena diatas penulis tertarik untuk membahas dan mengulas asuhan keperawatan pada lansia dengan gangguan penghidu presbyosmia. B. Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum Memahami dan melakukan asuhan keperawatan gerontik pada lansia dengan gangguan system penghidu presbyosmia. 2. Tujuan Khusus a. Mampu memahami dan melakukan pengkajian asuhan keperawatan gerontik pada lansia dengan gangguan system penghidu presbyosmia. b. Mampu memahami dan melakukan penegakkan diagnosis keperawatan pada lansia dengan gangguan system penghidu presbyosmia. c. Mampu memahami dan menyusun rencana tindakan keperawatan pada lansia dengan gangguan system penghidu presbyosmia. d. Mampu memahami dan melakukan implementasi keperawatan gerontik pada lansia dengan gangguan system penghidu presbyosmia. e. Mampu memahami dan melakukan evaluasi keprawatan pada lansia dengan gangguan system penghidu presbyosmia. C. Manfaat Penulisan 1. Bagi Perawat Memberikan gambaran mengenai asuhan keperawatan pada lansia dengan gangguan sistem penghidu presbyosmia dengan terapi yang diberikan. 2. Bagi Lansia Lansia mampu melakukan perawatan mandiri dan beradaptasi dengan baik terhadap penurunan fungsi sistem penghidu sehingga status kesehatan lansia tetap terjaga dengan baik. 3. Bagi Institusi Pendidikan Memberikan gambaran mengenai bagaimana perubahan yang terjadi pada lansia yang mengalami gangguan penghidu dan menjadi bahan refrensi intervensi yang dapat dilakukan pada pasien presbyosmia. BAB II TINJAUAN TEORI A. Konsep Dasar Lansia 1. Pengertian Lansia Lansia merupakan seseorang yang sudah mencapai usia lebih dari 60 tahun yang diikuti dengan penurunan fungsi tubuh secara berangsur-angsur (Kholifah, 2016, p. 3). Lansia adalah seseorang yang telah mencapai tahap akhir dari proses perkembangan manusia yang berusia 60 tahun keatas (Dewi, 2014, p. 5). Lansia atau lanjut usia merupakan suatu kelompok individu yang berusia 60 tahun keatas yang mengalami proses penuaan pada jaringan untuk dapat mempertahankan fungsi normalnya (Sunaryo et al., 2015, p. 52). 2. Proses Menua (Ageing Process) Menua merupakan proses yang alami terjadi pada setiap manusia yang dimulai pada usia 60 tahun keatas diikuti dengan penurunan fungsi tubuh baik secara fisik dan psikologis. Undang-Undang Nomor 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia pada Bab 1 Pasal 1 Ayat 2 menyebutkan bahwa lanjut usia dimulai dari 60 tahun. Agening process atau proses menua merupakan suatu proses yang wajar dialami ketika berada dalam fase kehidupan akhir sebagai manusia. Proses menua pada manusia akan terjadi secara terus menerus sepanjang kehidupan yang terdiri dari beberapa teori yakni teori biologis dan teori sosiologis. 3. Teori Menua a. Teori Biologis Teori biologi merupakan teori yang membahas mengenai kehidupan, struktur tubuh, fungsi, pertumbuhan, evolusi dan organisme kehidupan manusia, teori biologi terdiri dari beberapa teori lain yakni : 1) Teori Genetik Teori ini menjelaskan mengenai bagaimana terjadinya proses menua secara biologis terjadi dalam tubuh manusia yang terjadi dengan sendirinya (terprogram). Proses menua dalam teori ini terjadi karena 47 adanya perubahan biokimia oleh molekul (DNA) yang mengalami mutasi seperti terjadinya penurunan fungsional sel (Muhith and Siyoto, 2016, p. 19). 2) Teori Nongenetik Teori nongenetik ini terdiri dari teori penurunan sistem imun tubuh dan teori kerusakkan akibat radikal bebas. Teori penurunan sistem imun terjadi akibat adanya mutasi yang merusak membran sel sehingga sistem imun tidak mengenalinya dan merusaknya, hal ini yang mendasari lanjut usia sering kali mengalami penyakit autoimun. Teori kerusakkan akibat radikal bebas merupakan teori yang membahas mengenai proses radikal bebas yang dapat terbentuk di alam bebas dan di dalam tubuh manusia karena adanya proses metabolisme tubuh. Radikal bebas merupakan penyebab terjadinya kerusakkan fungsi sel yang dapat terjadi akibat asap kendaraan bermotor, asap rokok, zat pengawet makanan, radiasi dan sinar ultraviolet sebagai contohnya perubahan pigmentasi pada kulit manusia (Nugroho, 2017, pp. 14–17). 3) Teori Menua akibat Metabolisme Bahri dan Alem dalam Nugroho (2017, p. 15) mengemukakan bahwa teori menua akibat metabolisme dapat terjadi karena berkurangnya asupan kalori yang dapat menghambat pertumbuhan dan memperpanjang umur. 4) Teori Rantai Silang Teori rantai silang ini mejelaskan bahwa proses menua dapat disebabkan oleh protein, karbohidrat, lemak dan asam nukleat yang bereaksi dengan zat kimia dan radiasi yang mengubah fungsi jaringan dan mengakibatkan jaringan menjadi kurang elastis, kaku, penurunan fungsi hingga hilangnya fungsi tubuh (Nugroho, 2017, p. 15). 5) Teori Fisiologis Teori fisiologis merupakan teori yang membahas mengenai oksidasi stres pada manusia. Stres yang dialami manusia dapat menyebabkan sel tubuh lelah terpakai (Nugroho, 2017, p. 15). b. Teori Sosiologis Nugroho (2017, pp. 15–18) mengemukakakn bahwa teori sosiologis mengenai proses menua terdiri dari : 1) Teori Interaksi Sosial Teori interaksi sosial membahas mengenai bagaimana lansia berinteraksi dengan lingkungan sosial, bagaimana lansia tetep berinteraksi aktif dengan kemampuan bersosialisasi yang dimilikinya. 2) Teori Aktivitas Teori aktivitas merupakan teori yang membahas mengenai lansia dengan aktivitas yang daat dijalaninya. Lansia dengan penurunan fungsi akan mengalami penurunan aktivitas merupakan lansia yang pasif. Teori aktivitas ini mengemukakan bahwa lansia yang masih dapat melakukan aktivitas secara aktif dan masih mampu ikut serta dalam kegiatan sosial merupakan lansia yang aktif sehingga lansia akan mendapatkan kepuasan tersendiri karena masih dapat produktif dan mampu mempertahankan hubungan sosialnya. 3) Teori Kepribadian Berlanjut Teori ini membahas mengenai kepribadian setiap individu tidak dapat berubah pada lanjut usia. Teori ini mengemukakan bahwa perubahan pada lansia dapat terjadi akibat personal lansia itu sendiri yang artinya kepribadian lansia pada waktu muda akan sama dengan kepribadiannya ketika mengalami proses penuaan yang didasari dengan pengalaman hidupnya yang dapat dilihat gaya hidup, harapan dan perilaku lansia. 4) Teori Pembebasan Teori ini membahas mengenai teputusnya hubungan lansia dengan lingkungan masyarakat yang dapat terjadi akibat kehilangan peran, hambatan kontak sosial dan berkurangnya komitmen dalam kehidupan yang menjadikan lansia menarik diri dari lingkungan sosial dan hanya fokus pada persoalan pribadi dirinya sendiri seperti mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian. 4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penuaan pada Lansia Muhith and Siyoto (2016, p. 18) mengemukakan bahwa faktor yang dapat mempengaruhi proses penuaan pada lansia antara lain : a. Hereditas atau genetik akibat kematian sel yang berkaitan dengan DNA seseorang memegang peranan penting dalam mekanisme pengendalian fungsi sel pada manusia. b. Nutrisi yang didapatkan dari makanan juga dapat mempengaruhi proses penuaan karena berlebihnya atau kurangnya nutrisi dapat mengganggu keseimbangan kekebalan tubuh seseorang. c. Status kesehatan lansia juga dapat mempengaruhi proses penuaan lansia akibat adanya riwayat penyakit sebelumnya yang dialami oleh lansia secara berkepanjangan. d. Stres akibat tekanan hidup yang berlebih dapat membuat lansia cepat menua karena tekanan berlebih terhadap pekerjaan ataupun lingkungan rumah. e. Pengalaman hidup yang dialami oleh lansia ada masa lalu juga dapat memepengaruhi proses penuaan, lansia yang lebih sering terpapar sinar matahari akan mudah mengalami penuaan pada kulit sehingga kulit mudah mejadi kusam, bernoda (flek) dan mengalami kerutan dan lansia yang kurang olahraga juga akan mengalami penuaan yang lebih cepat karena sirkulasi darah yang kurang lancar. f. Lingkungan 5. Klasifikasi Lansia Burnside (1979) dalam Nugroho (2017, p. 25) mengemukakan bahwa lansia dikategorikan menjadi beberapa tahapan umur, yakni : a. Young old : usia 60-69 tahun b. Middle age old : usia 70-79 tahun c. Old-old : usia 80-89 tahun d. Very old-old : usia 90 tahun keatas WHO mengemukakan klasifikasi lansia yakni : a. Middle age : 45-59 tahun b. Elderly : 60-74 tahun c. Old : 75-89 tahun d. Very Old : lebih dari 90 tahun 6. Tugas Perkembangan Lansia Erickson dalam Dewi (2014, pp. 8–9) mengemukakan bahwa kesiapan lansia untuk beradaptasi dengan masa tuanya dipengaruhi oleh proses tumbuh kembang pada sebelumnya, adapun tugas perkembangan pada lansia antara lain : a. Mempersiapkan diri untuk kondisi fungsi tubuh yang akan mengalami penurunan b. Mempersiapkan diri untuk pensiun c. Mempersiapkan penyusuaian terhadap kehidupan bermasyarakat dengan baik d. Mempersiapkan diri untuk kematian diri dan pasangan e. Mempersiapkan hubungan baik dengan orang seusianya f. Mempersiapkan kehidupan baru 7. Perubahan Akibat Proses Penuaan pada Sistem Penghidu Perubahan lansia pada sistem penghidu dapat terjadi akibat penurunan fungsi saraf panca indera yang mengecil dan kurang sensitifnya fungsi penghidu terhadap rangsangan. Indera penciuman yang dipersyarafi oleh saraf olfaktorius. Rangsangan dan serat sensoris saraf olfaktorius berasal dari bagian atas membran mukosa rongga hidung yang menjalar ke atas melalui lamina kribriformis tulang etmoid dan berlanjut ke bulbus olfakrotius yang kemudian diteruskan ke traktus olfaktorius dan dihantarkan ke area persepsi penciuman di lobus temporal serebrum yang kemudian menghasilkan bau yang dapat dikenal oleh manusia, namun pada lansia semua proses penghidu tersebut mengalami penurunan fungsi hingga hilangnya sensitivitas fungsi penghidu (Waugh and Grant, 2017, pp. 113– 114). Penurunan fungsi penghidu pada lansia dapat terjadi karena berkurangnya sensitivitas reseptor terhadap rangsangan dari luar (bau-bauan). Pada pasien dengan gangguan penghidu umumnya melaporkan hilangnya sensasi penciuman atau yang biasa dikenal dengan hyposmia (penurunan kemampuan penghidu) dan anosmia (hilangnya kemampuan menghidu), selain itu pasien juga mengeluhkan adanya gangguan rasa seiring dengan hilangnya dan menurunnya fungsi penciuman karena sebagian besar rasa makanan berasal dari rangsangan penciuman. Kemampuan menghidu seiring bertambahnya usia akan semakin menurun, banyak teori yang menerangkan bahwa penyebab gangguan penghidu pada usia tua disebabkan oleh perubahan anatomi pada area saraf olfaktorius, pengurangan jumlah sel mitral pada bulbus olfaktorius dan penurunan aktifasi kortex olfaktorius. Pada pasien lansia kasus penurunan fungsi penghidu kerap kali dikenal dengan presbyosmia (gangguan penghidu karena umur tua) (Huriyati and Nelvia, 2014, p. 3) (Nair and Sabbagh, 2014, p. 339). B. Konsep Presbyosmia 1. Pengertian Presbyosmia merupakan gangguan penghidu yang terjadi pada lanjut usia akibat penurunan sistem penghidu terhadap rangsangan bau (Goncalves and Goldstein, 2016, p. 4). Presbyosmia adalah gangguan fungsi penghidu yang umumnya terjadi pada lansia dengan terjadinya penurunan kepekaan terhadap bau-bauan sehingga lansia tidak mampu mencium bau dengan baik (Davidson and Husseman, 2013, p. 103). Presbyosmia merupakan penurunan fungsi penghidu yang terjadi akibat proses penuaan yang terjadi pada sistem saraf olfaktorius akibat hilangnya sensitivitas fungsi penghidu yang mengakibatkan lansia tidak mampunya mendeteksi bau (Nair and Sabbagh, 2014, p. 439). 2. Anatomi Fisiologi Indra penghidu tediri dari hidung dan sistem saraf olfaktorius yang merupakan saram sensori penciuman manusia. Saraf olfaktorius manusia tediri dari bulbus olfaktorius, neuroepitel olfaktorius dan korteks yang menjadi satu kesatuan fungsi penghidu. Bulbus olfaktorius merupakan sepasang masa yang terletak di bawah lobus frontalis cerebrum. Akson yang berasal dari neuron bulbus olfaktorius akan panjang membentang ke bagian posterior dan kemudian akan membentuk taktus olfaktorius. Traktur olfaktorius kemudian akan melanjutkan aliran tersebut ke sistem limbik dan lobus piriformis dan akan menghasilkan persepsi bau (Chung and Chung, 2012, p. 239). 3. Penyebab Presbyosmia umumnya terjadi karena hasil dari proses penuaan normal pada lansia namun dapat juga terjadi akibat paparan lingkungan sebelumnya seperti pajanan terhadap asap beracun. Presbyosmia terjadi karena adanya penurunan sistem saraf olfaktorius yang tidak peka lagi terhadap rangsangan yang diterima dari luar namun dapat juga terjadi akibat kebiasaan merokok, obat-obatan, terpaparnya zat beracun, trauma kepada, infeksi saluran nafas atas seperti sinusitis, penyakit neurodegeneratif dan penyakit cerebrovaskular (Nair and Sabbagh, 2014, pp. 439). 4. Patofisiologi Sistem penghidu normalnya dapat menangkap bau yang teruap diudara dan diinhalasi oleh hidung masuk kedalam rongga hidung dan terlarut dengan mukus yang kemudian menstimulasi kemoreseptor indra penciuman. Udara yang masuk kedalam rongga hidung kemudian akan dihangatkan yang kemudian dibawa oleh aliran konveksi ke ujung saraf olfaktorius menjalar ke atas melalui lamina kribriformis tulang etmoid dihantarkan ke bulbus olfaktorius dan kemudian dialirkan ke traktur olfaktorius dan ditangkap oleh saraf olfaktori pada lobus temporal serebrum yang kemudian menghasilkan presepsi sensori (Waugh and Grant, 2017, p. 114). Pada pasien dengan gangguan penghidu presbyosmia sistem ini tidak berjalan dengan baik karena adanya penurunan kepekaan, perubahan anatomi pada area saraf olfaktorius, pengurangan jumlah sel mitral pada bulbus olfaktorius dan penurunan aktifasi kortex olfaktorius yang menjadikan penderita tidak mampu untuk mengidentifikasi bau. Penurunan identifikasi bau akan mempengaruhi selera makan seseorang karena pada saat terjadi persepsi bau yang diterima keinginan makan seseorang pun akan semakin baik dan dapat memicu peningkatan saliva serta menstimulasi pencernaan, namun pada saat terjadinya penurunan ketajaman bau maka nafsu makan pun akan berkurang. 5. Tanda dan Gejala Banyak lansia yang mengeluhkan kehilangan penghidu berdampak dengan pengurangan nafsu makan karena lansia tidak mampu untuk merasakan bau makanan yang disantapnya. Selain itu, lansia juga mengeluhkan kurang mampu membedakan bau, mengenali dan mengidentifikasi bau yang dihirupnya (Nair and Sabbagh, 2014, pp. 339–340). 6. Pemeriksaan Penunjang Presbyosmia pada lansia dapat di identifikasi dengan pemeriksaan kemosensori penghidu dengan menggunakan odoran tertentu untuk merangsang sistem penghidu yang dikenal dengan test sniffin sticks (Tekeli et al., 2013, p. 1222) . Test sniffin sticks dilakukan untuk menilai kemosensori penghidu dengan alat yang berupa pena. Panjang pena yang digunakan sekitar 14 cm dengan diameter 1,3 cm yang berisi 4 ml odoran dalam bentuk tampon dengan pelarut propylene glycol yang kemudian dilengkapi dengan tutup mata, sarung tangan bersih, dan pena untuk test identifikasi. Pengujian test sniffin sticks dilakukan dengan membuka tutup pena selama 3 detik kemudian pena diletakan 2 cm di depan hidung pasien yang dilakukan pada hidung kanan dan kiri secara bergantian (Huriyati and Nelvia, 2014, p. 4). Pemeriksa melakukan test ini dengan menggunakan tiga pena secara acak yang dimana dua pena berisi odoran yang sama dan satu pena berisi odoran yang berbeda, kemudian pasien diminta untuk menentukan odoran yang berbeda dari ketiga pena. Hasil pemeriksaan yang telah dilakukan pada pasien presbyosmia dapat dijadikan kesimpulan untuk menentukan terapi yang tepat. Pemeriksaan lainnya yang dapat mendukung diagnosis pasien presbyosmia yakni : a. Magnetic Resonance Imaging (MRI) Pemeriksaan MRI adalah pemeriksaan yang dapat dilakukan pada pasien dengan gangguan penghidu yang dimana pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat apakah ada jaringan lunak yang mengalami kelainan seperti kecurigaan terhadap tumor (Huriyati and Nelvia, 2014, p. 4). b. Pemeriksaan Elektrofisiologis Penghidu Menurut Huriyati and Nelvia (2014, p. 4-5) pemeriksaan penghidu ini terdiri dari pemeriksaan Olfactory Event-Related Potentials (ERPs) dan Elektro-Olfaktogram (EOG). 1) Olfactory Event-Related Potentials (ERPs) tes ini dilakukan dengan memberikan rangsangan odoran intranasal yang diberikan antara 1-20 mili detik dengan menggunakan vanili, phenylethyl alkohol dan H2S. 2) Elektro-Olfaktogram (EOG) tes ini dilakukan dengan meletakkan elektroda pada permukaan epitel penghidu dengan bantuan endoskopi. c. Pemeriksaan Kemosensoris Penghidu Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat kepekaan sistem penghidu terhadap odoran. Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan beberapa metode tes yang tediri dari tes University of Pennsylvania Smell Identification (UPSIT), tes The Connectitut Chemosensory Clinical Research Center (CCCRC), tes Odor Stick, tes Sniffin Stick, dari keempat pemeriksaan kemosensoris yang dapat dilakukan pada pasien dengan gangguan penghidu, tes yang paling banyak dilakukan dan efektif dilakukan oleh para peneliti yakni tes sniffin stick karena tes ini dapat menentukan ambang penghidu yang telah dipakai oleh 100 penelitian yang telah terpublikasi di negara Asia dan lainnya. d. Pemeriksaan Biopsi Neuroepitel Olfaktorius dengan mengambil jaringan septum nasi superior yang kemudian dianalisis secara histologi untuk melihat adanya kerusakkan sistem penghidu. 7. Penatalaksanaan Penatalaksaan untuk pasien presbyosmia lebih banyak berfokus untuk memberikan edukasi mengenai penurunan normal fungsi penghidu, belum banyak terapi yang efektif untuk pasien presbyosmia karena presbyosmia ini sendiri terjadi akibat dari penurunan fungsi penghidu karena degeneratif saraf olfaktorius, namun sangat penting untuk memberikan pengertian ataupun edukasi pada pasien presbyosmia mengenai penurunan fungsi penghidu yang umum terjadi pada usia lanjut. Metode dapat dilakukan oleh seorang perawat ketika berhadapan dengan pasien persbyosmia yakni dengan memberikan pengetahuan edukasi mengenai penyakitnya dan memberikan srategi untuk meningkatkan nafsu makan dengan menambah cita rasa dalam makanan karena pasien prebyosmia terkadang mengalami penurunan nafsu makan karena tidak dapat menghirup bau makanan yang dapat dilakukan dengan menambah cita rasa dengan memasukkan rempah-rempah yang kuat pada rasa makanan lansia agar dapat memicu peningkatan nafsu makan pada lansia (Huriyati and Nelvia, 2014, p. 5) C. Korelasi Lansia dengan Covid 19 Lansia dengan penurunan fungsi tubuh dan sistem imunitas akan lebih cepat terjangkit berbagai penyakit salah satunya penyakit yang sedang menjadi wabah di dunia bahkan Indonesia yakni pandemi Covid-19. Covid-19 atau coronavirus merupakan penyakit yang menyerang sistem pernafasan pada manusia yang berasal dari hewan (kelalawar dan ular) dapat menyerang sistem pernafasan manusia yang penyebarannya dapat melalui cairan tubuh atau kontak langsung dengan penderita (bersin, batuk ataupun percikkan air liur saat berbicara) yang menimbulkan tanda gejala seperti demam > 38oC, batuk dan flu, sesak nafas, sakit tenggorokkan, letih dan lesu (Soedarto, 2010, p. 63-64). Pandemi covid-19 yang sedang terjadi di dunia seiring berjalannya waktu selal bertambah kasus disetiap harinya hingga pada tanggal 05 July 2020 mencapai angka 6.737,691 kasus dengan angka kematian 393,782 kasus. Angka kejadian coronavirus di Indonesia sendiri pada tanggal 05 July 2020 mencapai angka 29, 521 kasus dengan angka kematian 1,770 kasus (Coronavirus Update, 2020, p. 1). Peningkatan jumlah kasus coronavirus dari waktu ke waktu ini banyak mengambil korban jiwa dengan tingkat angka kematian lansia yang cukup tinggi. Sekitar 311 orang lansia yang meninggal akibat kasus covid 19 di Indonesia pada usia 60-79 tahun (cnn). Tingginya angka kematian lansia di Indonesia meruapakan salah satu hal yang harus diperhatikan karena seiring dengan berjalannya waktu kasus covid 19 akan terus terjadi. Lansia yang mengalami proses penuaan dengan penurunan sistem imunitas akan lebih rentan terhadap penyakit yang sedang mewabah di Indonesia. Lansia yang memiliki riwayat penyakit lain seperti penyakit jantung, diabetes, kanker dan asma dapat meningkatkan resiko terjadinya komplikasi penyakit yang diderita jika lansia terpapar dengan covid 19. Covid 19 yang sudah terpapar pada lansia yang memiliki riwayat lain dapat mengakibatkan penyakit yang diderita bertambah parah mengingat covid 19 merupakan penyakit infeksi sistem pernafasan yang juga menyerang sistem imunitas tubuh manusia dan dapat menyebabkan kematian, maka dari itu diperlukan pemantauan dan pencegahan yang tepat pada lansia terhadap covid 19 (Nareza, 2020, p. 1). Lansia dengan penurunan sistem imunitas karena proses penuaan yang memiliki riwayat penyakit degeneratif dan terjadinya penurunan fungsi penghidu yang mengakibatkan lansia mengalami penurunan nafsu makan jika terjadi dengan terus menerus akan berdampak buruk bagi kesehatan. Kesehatan lansia akan semakin menurun jika tidak terpenuhinya asupan nutrisi dengan baik akibat penurunan nafsu makan yang terjadi pada lansia, maka dari itu perlu dilakukannya pemantauan nutrisi lansia pada usia tua karena lansia akan lebih mudah terpapar dengan berbagai macam penyakit seperti covid 19. Nareza (2020, p. 1) mengemukakan bahwa pencegahan covid 19 yang dapat dilakukan oleh lansia hampir sama dengan pencegahan yang dapat dilakukan oleh usia muda hingga dewasa, namun pada lansia perlu dilakukan pemantauan khusus terhadap penyakit lain yang diderita. Pencegahan covid 19 yang dapat dilakukan pada lansia antara lain : 1. Mencuci tangan secara teratur dengan air mengalir dan sabun antiseptik atau cairan berbasis alkohol. 2. Menggunakan masker ketika berpergian dan ketika sedang sakit 3. Menghindari kontak dengan pasien yang sedang sakit dan pasien tersangka covid 19 4. Melakukan social distancing dan isolasi mandiri dirumah dengan tidak berpergian ketempat yang ramai seperti statisun, terminal dan pusat perbelanjaan 5. Tidak menyentuh hidung, mata dan mulut sebelum mencuci tangan 6. Mengkonsumsi obat penyakit yang dideritas secara teratur 7. Mengunjungi dokter untuk melakukan kontrol rutin terhadap perkembangan penyakit yang diderita sesuai jadwal 8. Mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi sesuai kebutuhan D. Asuhan Keperawatan pada Lansia dengan Gangguan Sistem Penghidu Presbyosmia 1. Pengakajian Pengakajian keperawatan yang dapat dilakukan pada lansia dengan gangguan sistem penghidu, antara lain : a. Anamnesa Anamnesa dapat dilakukan dengan mengakaji permasalahan kesehatan yang dialami, menanyakan tanda gejala yang dirasakan, keluhan yang dirasakan untuk mendukung penegakkan diagnosis gangguan penghidu, antara lain : 1) Keluhan utama : Pasien dengan gangguan penghidu biasanya mengeluh tidak mampu mencium bau dengan baik, penurunan nafsu makan dan cemas karena tidak mampu mencium bau-bauan. 2) Riwayat penyakit : Pasien yang mengalami gangguan penghidu dapat juga didukung dengan adanya riwayat trauma kepala, penyakit sinonasal (sinusitis dan polip), penyakit neurodegeneratif, kebiasaan merokok, mengkonsumsi obat-obatan, infeks saluran nafas atas atau penyakit sistemik (Huriyati and Nelvia, 2014, p. 4). b. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan pada pasien dengan gangguan penghidu yakni pemeriksaan hidung dengan rinoskopi anterior, posterior dan nasoendoskopi untuk mengetahui dan menilai apakah ada sumbatan pada hidung seperti polip, inflamasi hidung, hipertrofii konka, septum deviasi, penebalan mukosa hidung dan adanya massa seperti tumor yang mengganggu sehigga dapat mempengaruhi transport odoran ke area olfaktorius (Huriyati and Nelvia, 2014, p. 4). c. Pemeriksaan Penunjang e. Magnetic Resonance Imaging (MRI) Pemeriksaan MRI adalah pemeriksaan yang dapat dilakukan pada pasien dengan gangguan penghidu yang dimana pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat apakah ada jaringan lunak yang mengalami kelainan seperti kecurigaan terhadap tumor (Huriyati and Nelvia, 2014, p. 4). f. Pemeriksaan Elektrofisiologis Penghidu Pemeriksaan ini terdiri dari pemeriksaan Olfactory Event-Related Potentials (ERPs) dan Elektro-Olfaktogram (EOG). 3) Olfactory Event-Related Potentials (ERPs) tes ini dilakukan dengan memberikan rangsangan odoran intranasal yang diberikan antara 120 mili detik dengan menggunakan vanili, phenylethyl alkohol dan H2S (Huriyati and Nelvia, 2014, p. 5). 4) Elektro-Olfaktogram (EOG) tes ini dilakukan dengan meletakkan elektroda pada permukaan epitel penghidu dengan bantuan endoskopi (Huriyati and Nelvia, 2014, p. 5). g. Pemeriksaan Kemosensoris Penghidu Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat kepekaan sistem penghidu terhadap odoran. Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan beberapa metode tes yang tediri dari tes University of Pennsylvania Smell Identification (UPSIT), tes The Connectitut Chemosensory Clinical Research Center (CCCRC), tes Odor Stick, tes Sniffin Stick, dari keempat pemeriksaan kemosensoris yang dapat dilakukan pada pasien dengan gangguan penghidu, tes yang paling banyak dilakukan dan efektif dilakukan oleh para peneliti yakni tes Sniffin Stick karena tes ini dapat menentukan ambang penghidu yang telah dipakai oleh 100 penelitian yang telah terpublikasi di negara Asia dan lainnya (Huriyati and Nelvia, 2014, p. 4). h. Pemeriksaan Biopsi Neuroepitel Olfaktorius dengan mengambil jaringan septum nasi superior yang kemudian dianalisis secara histologi untuk melihat adanya kerusakkan sistem penghdu (Huriyati and Nelvia, 2014, p. 4). d. Status Fungsional Status fungsional lansia menggambarkan bagaimana dirinya memandang dan mengggambarkan sikap tentang dirinya sendiri secara utuh, menggambarkan dirinya sendiri, harga diri, peran dan bagaimana lansia tersebut menghadapi stres (Reny, 2014, p. 351). Perawat dapat mengkaji gambaran diri pasien, harga dirinya, peran, adanya penyakit kronis, adanya gangguan pada panca indera akibat penurunan fungsi tubuh serta hilangnya kekuatan yang dapat mengakibatka terjadinya perubahan konsep diri dan gambaran diri serta bagaimana cara lansia menghadapi stres (Nugroho, 2017, p. 36). e. Aspek Spiritual Aspek spiritual yang perlu diperhatikan pada lansia yakni dengan melihat intergrasi kepercayaan yang semakin bertambah dalam kehidupan. Lansia yang semakin tua akan semakin matang dalam pengalaman spiritualnya yang dapat tercermin dari pola hidupnya (Nugroho, 2017, p. 36). f. Fungsi Sosial Fungsi sosial pada lansia dapat dikaji mengenai bagaimana lanisa menggambarkan hubungannya dengan anggota keluarga, masyarakat tempat tinggal, pekerjaan dan masalah keuangannya (Reny, 2014, p. 350). Fungsi sosial pada lansia dapat berpengaruh terhadap nilai individu masing-masing yang sering kali dilihat dari tingkat produktivitas yang dikaitkan dengan pekerjaan dan peran lansia dalam kehidupannya. Pada pengakjian status fungsional perawat dapat mengkaji bagaimana respon atau tanggapan lansia ketika pendapatan finansial berkurang secara bertahap, kehilangan status, kehilangan teman, dan pekerjaan (Nugroho, 2017, p. 36). 2. Diagnosis Keperawatan, Intervensi dan Implementasi NO Diagnosis Intervensi Implemetasi Keperawatan 1 Gangguan persepsi Setelah dilakukan Terapi Koginitif sensori b.d gangguan intervensi Perilaku : penghiduan ditandai keperawatan...x.... 1. Identifkasi faktor dengan : fungsi sensori membaik biologis dan gejala - Pasien mengatakan dengan kreteria hasil: penurunan fungsi tidak mampu 1. Perbedaan rasa penghidu mencium wewangian meningkat 2. Identifikasi asumsi makanan 2. Perbedaan bau dan pola pikir positif meningkat terhadap perubahan (PPNI, 2019b, p. 28). fungsi penghidu - Pasien tampak tidak mencium bau sesuatu ketika dilakukan tes penghidu 3. Ciptakan hubungan Setelah dilakukan terupetik perawatn dan intervensi pasien pengujian tes tidak keperawatan...x.... 4. Arahkan pikiran sesuai dengan status orientasi keliru menjadi hasilnya membaik dengan sistematis (PPNI, 2018, p. 190). kreteria hasil: 5. Jelaskan masalah 1. Perilaku sesuai yang dialami realita meningkat 6. Diskusikan rencana 2. Kemampuan terkait terapi yang mengambil keputusan diberikan meningkat (PPNI, 2019a, p. 426) - Tampak respon 3. Perawatan diri meningkat Minimalisasi (PPNI, 2019b, p. 123) Rangsangan : 1. Periksa status sensori 2. Diskusikan tingkat toleransi 3. Kombinasikan prosedur sesuai kebutuhan (PPNI, 2019a, p. 233). 2 Resiko defisit nutrisi Setelah dilakukan Identifikasi resiko : dibuktikan dengan intervensi 1. Identifikasi resiko faktor psikologis keperawatan...x.... penurunan fungsi (keengganan untuk nafsu makan meningkat penghidu secara berkala makan karena tidak dengan kriteria hasil : 2. Tentukan metode mampu mencium 1. Keinginan makan pengelolaan resiko aroma makanan) meningkat 3. Lakukan pengelolaan (PPNI, 2018, p. 81). 2. Asupan makan resiko secara efektif meningkat 4. Buat perencanaan 3. Kemampuan tindakan merasakan makanan (PPNI, 2019a, p. 120). meningkat 4. Stimulus untuk makan meningkat (PPNI, 2019b, p. 68) 3 Ansietas b.d kurang Setelah dilakukan Reduksi Ansietas : terpapar informasi, intervensi 1. Identifikasi tingkat ancaman terhadap keperawatan...x.... ansietas terhadap konsep diri, krisis tingkat pengetahuan stresor situasional dibuktikan meningkat dengan 2. Identifikasi dengan : indikator : kemampuan - Pasien mengatakan 1. Kemampuan pengambian keputusan bingung dengan menjelaskan tentang 3. Ciptakan suasana perubahan fungsi suatu topik meningkat terupetik yang terjadi pada 2. Perilaku sesuai 4. Temani pasien dan indera penciumannya dengan pengetahuan dengarkan dengan meningkat penuh perhatian 3. Persepsi yang keliru 5. Informasikan secara terhadap masalah faktual diagnosis dan menurun pengobatan 4. Pertanyaan tentang 6. Anjurkan keluarga masalah yang dihadapi untuk tetap bersama menurun klien (PPNI, 2019b, p. 146). 7. Latih kegiatan - Pasien tampak gelisah - Pasien tampak tegang (PPNI, 2018, p. 180) pengalihan untuk Setelah dilakukan mengurangi ketegangan intervensi (PPNI, 2019a, p. 387). keperawatan...x.... tingkat ansietas menurun dengan kriteria hasil : 1. Perilaku gelisah menurun 2. Verbalisasi kebingungan menurun (PPNI, 2019b, p. 132). Setelah dilakukan intervensi keperawatan...x.... status kognitif dengan kriteria hasil : 1. Kemampuan membuat keputusan meningkat 2. Proses informasi meningkat. (PPNI, 2019b, p. 144). 3. Evaluasi Evaluasi yang diharapkan dari asuhan keperawatan yang telah diberikan pada pasien dengan gangguan sistem penghidu presbyosmia yakni : a. Gangguan persepsi sensori b.d gangguan penghiduan teratasi. b. Resiko defisit nutrisi dengan faktor psikologis (keengganan untuk makan karena tidak mampu mencium aroma makanan) dapat dikontrol. c. Ansietas b.d terpapar informasi, ancaman terhadap konsep diri, krisis situasional dapat diatasi. 4. Kerangka Konsep Teori Lansia dengan gangguan penghidu presbyosmia Pengkajian (anamnesa faktor penyebab dan faktor pendukung Analisa data dan klasifikasi data Penegakkan diagnosis keperawatan : Resiko defisit nutrisi Penyusunan rencana tindakan dengan pembuatan template edukasi gangguan penghidu Implementasi edukasi penurunan sistem penghidu dan metode peningkatan fungsi status fisiologis Evaluasi perubahan resiko defisit nutrisi Terminasi Teratasi BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Perubahan lansia pada sistem penghidu dapat terjadi akibat penurunan fungsi saraf panca indera yang mengecil dan kurang sensitifnya fungsi penghidu terhadap rangsangan. Pada pasien dengan gangguan penghidu umumnya melaporkan hilangnya sensasi penciuman atau yang biasa dikenal dengan hyposmia (penurunan kemampuan penghidu) dan anosmia (hilangnya kemampuan menghidu), selain itu pasien juga mengeluhkan adanya gangguan rasa seiring dengan hilangnya dan menurunnya fungsi penciuman karena sebagian besar rasa makanan berasal dari rangsangan penciuman. Pada pasien lansia kasus penurunan fungsi penghidu kerap kali dikenal dengan presbyosmia (gangguan penghidu karena umur tua). Presbyosmia umumnya terjadi karena hasil dari proses penuan normal pada lansia, namun dapat juga terjadi akibat penyakit tertentu (sinusitis, epilepsi, penyakit selebrofaskular dan neurodegeneratif), obat-obatan (golongan anti jamur, ACE Inhibitor, proton pump inhibitor dan protein kinase inhibitor), pembedahan, dan paparan lingkungan sebelumnya seperti pajanan terhadap asap beracun. Keluhan yang dirasakan dari kehilangan penghidu juga berdampak dengan pengurangan nafsu makan. Presbyosmia pada lansia dapat di identifikasi dengan pemeriksaan kemosensori penghidu dengan menggunakan odoran tertentu untuk merangsang sistem penghidu yang dikenal dengan test sniffin sticks. Metode dapat dilakukan oleh seorang perawat ketika berhadapan dengan pasien persbyosmia yakni dengan memberikan pengetahuan edukasi mengenai penyakitnya dan memberikan srategi untuk meningkatkan nafsu makan dengan menambah cita rasa dalam makanan karena pasien prebyosmia terkadang mengalami penurunan nafsu makan karena tidak dapat menghirup bau makanan. B. Saran Diharapkan untuk petugas kesehatan dapat lebih memperhatikan kebutuhan pasien dengan gangguan sistem penghidu yang dimana pasien dengan gangguan sistem penghidu dapa mengalami kesulitan untuk mengidentifikasi dan mengenali bau. Kesulitan lansia untuk mengenali bau dapat berdampak terhadap penurunan 48 nafsu makan yang akhirnya menjadikan lansia untuk enggan makan dan penurunan pendeteksian bau yang dapat mengancam jiwa lansia jika lansia ditempatkan di tempat yang berpotensi terbakar karena lansia tidak mampu mendeteksi bau gas ataupun asap. Maka dari itu sangat dibutuhkan peran petugas kesehatan dan keluarga untuk memantau dan memperhatikan kebutuhan lansia dengan mengedukasi bahwa penurunan fungsi yang dialaminya merupakan hal yang normal terjadi pada usia lanjut. Petugas kesehatan dapat mengedukasi keluarga dan lansia untuk melakukan metode lain agar nafsu makan lansia dapat meningkat dengan menambahkan cita rasa yang beragam pada makanan dan mengedukasi keluarga untuk memasang alat pendetektor asap atau gas agar lansia dapat aman karena mengetahui adanya bahaya dari luar dengan alat pendektektor asap dan gas tersebut. DAFTAR PUSTAKA Chung, K. and Chung, H. (2012) Gross Anatomy. 7th ed. Baltimore: Lippincott Williams & Wilkins. Coronavirus Update (2020). Available at: https://www.worldometers.info/coronavirus/. Davidson, T. M. and Husseman, J. (2013) Clinical Manual of Otolaryngology (Head and Neck Surgery). California: Jaypee Brothers Medical Publisher. Dewi, S. R. (2014) Keperawatan Gerontik. Yogyakarta: Deepublish. Goncalves, S. and Goldstein, B. J. (2016) “Pathophysiology of Olfactory Disorder and Potential Treatment Strategies,” Departement of Otolaryngology and Interdisciplinary Stem Cell Institute, 4. Huriyati, E. and Nelvia, T. (2014) “Gangguan Fungsi Penghidu dan Pemeriksaannya,” Jurnal Kesehatan Andalas, 3. Kholifah, N. S. (2016) Keperawatan Gerontik. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Muhith, A. and Siyoto, S. (2016) Pendidikan Keperawatan Gerontik. Yogyakarta: ANDI. Nair, A. K. and Sabbagh, M. N. (2014) Geriatric Neurology. USA: John Wiley & Sons. Nareza, M. (2020) “Alasan Mengapa Lansia Lebih Rentan Terhadap Virus Corona,” ALODOKTER. Jakarta: ALODOKTER. Available at: https://www.alodokter.com/alasan-mengapa-lansia-lebih-rentan-terhadap-virus-corona. Nugroho, W. (2017) Keperawatan Gerontik dan Geriatrik. Jakarta: EGC. PPNI (2018) Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPW PPNI. PPNI (2019a) Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPW PPNI. PPNI (2019b) Standar Luara Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPW PPNI. Pusat Data Informasi (2017) “Analisis Lansia di Indonesia,” Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Available at: https://pusdatin.kemkes.go.id/resources/download/pusdatin/lain-lain/Analisis Lansia Indonesia 2017.pdf. Reny, Y. (2014) Buku Ajar Asuhan Keperawatan Gerontik, Aplikasi NANDA, NIC, NOC. Jakarta: Trans Info Media. Soedarto (2010) Virologi Klinik. Jakarta: Sagung Seto. Sunaryo et al. (2015) Asuhan Keperawatan Gerontik. Yogyakarta: ANDI. Tekeli, H. et al. (2013) “The Applicability of the Sniffin Sticks Olfactory Test in a Turkish Population,” Medical Science. Waugh, A. and Grant, A. (2017) Dasar-dasar Anatomi dan Fisiologi. Elly Nurac. Edited by E. Nurachmah. Singapore: Elsevier.

Judul: Asuhan Keperawatan Lansia Gangguan Sistem Penghidu Di Era Pandemi Covid

Oleh: Lilik Pranata


Ikuti kami