Karinding Attack Dan Pengaruhnya Terhadap Ekonomi Kreatif Di Kota Bandung

Oleh Hinhin A Daryana

1,3 MB 8 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Karinding Attack Dan Pengaruhnya Terhadap Ekonomi Kreatif Di Kota Bandung

JURNAL KARYA ILMIAH MUSIK BAMBU Vol 2 no 2 Desember 2015 AWILARAS Instrumen bambu dan masa depan PRODI MUSIK BAMBU Isbi BANDUNG 2015 JURNAL AWILARAS Vol 2 No2 2015 i JURNAL ILMIAH SENI AWILARAS Vol 2, No.2 November 2015 Serumpun bambu sejuta karya merupakan perumpamaan yang kami sitir untuk dijadikan sumber inspirasi dalam penyusunan Jurnal Musik Bambu ISBI Bandung yang kemudian diberi nama Awilaras. Awilaras melalui proses penyelarasan antara “cipta dan rasa, diharapkan melahirkan berbagai karya tulis maupun karya pertunjukannya. Ada sebersit harapan dari jurnal ini, selain sebagai media informasi dan publikasi di lingkungan ISBI Bandung, juga di kalangan masyarakat seni sesuai visi dan misi untuk mengembangkan budaya-musik bambu, baik dalam konteks lokal, nasional, maupun global. Pelindung Rektor ISBI Bandung *** Penanggungjawab Iyon Supiono *** Pimpinan Redaktur Abun Somawijaya *** Kesekretariatan Cici Suwarna Neni Anggraeni Whayan Cristiana Dody SE Ami Rahmiami Asep Jujun *** Reviewer Substansi Tulisan Panca Pertiwi Hidayati *** Reviewer Mitra Bestari Kiki Sukanta *** Fotografer Dyah Murwaningrum *** Desain Sampul Herman Efendi *** Layouter Moch. Firman 1. Karinding Attack dan Pengaruhnya Terhadap Ekonomi Kreatif di Kota Bandung oleh Hinhin Agung ... (hal 105120) 2. Perjalanan Inovasi Posisi Instrumen Angklung di Bandung 1930-2010 oleh Dyah Murwaningrum … (hal 17-36) 3. Paberik Bambu Untuk Nusantara: Sebuah Perjalanan oleh Bunga Dessri…(37-51) 4. Gamelan Jegog, Fungsi, Instrumentasi dan Musikalitasnya oleh I Made Sudana…(52-67) 5. Makna Simbolik Suling Bambu Kerinci Jambi oleh Hudaepah…(68-81). Alamat Redaksi Jurnal Seni Awilaras Prodi Musik Bambu ISBI Bandung Jalan Buabhatu 212 Bandung 40265 Telepon 022-7314982 dan Fax. 0227303021 Laman: www.isbi.ac.id JURNAL AWILARAS Vol 2 No2 2015 i Karinding Attack dan Pengaruhnya Terhadap Ekonomi Kreatif Di Kota Bandung Hinhin Agung Daryana Institut Seni Budaya Bandung Jl. Buahbatu 212 hinhin_agung@isbi.ac.id Abstract The music industry is one sector of creative economic activity which evolved in Bandung. Birth of Karinding Attack as a new entity adequate of giving a new color and development of traditional music. Various attempts have been made by Karinding Attack and proven their success to influenced the economic development of the creative people of Bandung. To understand the focus of the study, the authors used a qualitative method includes collecting data from oral and written sources. Approach to social sciences such as sociology and anthropology are considered most relevant in order to prevent the widening of the discussion. Various creative effort such as shows, concerts, album sales, galleries, distribution, and store merchandise the impact of the popularity karinding attack in Bandung. Their success is influenced by patterns of diffusion that conducted since 2008. The movement karinding music is further strengthening its presence as a traditional art that interested many people at once increasingly expanding wider network. Keywords: Karinding Attack, Bandung, and the creative economy. Abstrak Industri musik merupakan satu sektor kegiatan ekonomi kreatif yang tumbuh dengan subur di Kota Bandung. Lahirnya Karinding Attack sebagai entitas baru mampu memberi warna baru dan perkembangan musik tradisional. Beragam upaya telah dilakukan Karinding Attack dan terbukti berhasil mempengaruhi perkembangan ekonomi kreatif masyarakat Bandung. Untuk memahami fokus penelitian, penulis menggunakan metode kualitatif yang meliputi pengumpulan data dari sumber lisan dan tulisan. Pendekatan ilmu sosial seperti sosiologi dan antropologi dianggap paling relevan guna mencegah melebarnya pembahasan. Beragam usaha kreatif seperti pertunjukan, konser, penjualan album, galeri, distro, dan toko merchandise merupakan dampak pengaruh populernya Karinding Attack di Kota Bandung. Keberhasilan mereka dipengaruhi oleh pola-pola difusi yang dilakukan sejak tahun 2008. Pergerakan musik karinding ini semakin memperkuat eksistensinya sebagai sebuah kesenian tradisional yang diminati banyak orang sekaligus semakin memperluas jaringan yang lebih luas. Kata kunci: Karinding Attack, Bandung, dan Ekonomi kreatif JURNAL AWILARAS Vol 2 No 2 2015 1 A. PENDAHULUAN Perkembangan zaman yang ditandai lahirnya penemuan baru di bidang teknologi telah menggiring peradaban manusia ke dalam suatu arena interaksi sosial baru. Kita semua tahu bahwa industrialisasi telah menciptakan pola kerja, pola produksi, dan pola distribusi yang lebih murah dan efisien. Era Globalisasi inipun berdampak terhadap perubahan karakter, gaya hidup, dan perilaku masyarakat yang menjadi lebih kritis terhadap segala sesuatu. Dampak yang terlihat adalah kompetisi yang semakin keras, pasar semakin luas, dan semakin global. Fenomena itu mengharuskan setiap individu dan institusi mencari cara agar dapat menekan biaya semurah dan se‐efisien mungkin. Negara‐negara maju mulai menyadari bahwa saat ini mereka tidak bisa mengandalkan supremasi dibidang industri tetapi harus lebih mengandalkan sumber daya manusia yang kreatif. Pada tahun 1990‐an telah dimulai era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas yang populer disebut ekonomi kreatif. Pesan besar yang ditawarkan ekonomi kreatif adalah pemanfaatan cadangan sumber daya yang bukan hanya terbarukan, bahkan tak terbatas, yaitu ide, talenta dan kreativitas. Terdapat beberapa arah dari pengembangan industri kreatif ini, seperti pengembangan yang lebih menitikberatkan pada industri berbasis: (1) lapangan usaha kreatif dan budaya (creative cultural industry); (2) lapangan usaha kreatif (creative industry), atau (3) Hak Kekayaan Intelektual seperti hak cipta. Pengembangan ekonomi kreatif dapat diraih dengan prasyarat adanya kolaborasi antara berbagai aktor yang berperan dalam industri kreatif yaitu cendekiawan (Intellectuals), bisnis (Business), dan pemerintah (Government) (Departemen Perdagangan RI, 2008: 3). Kolaborasi tersebut diharapkan akan berperan di dalam pengembangan 15 subsektor industri kreatif nasional, termasuk musik dan seni Pertunjukan di dalamnya. Berdasarkan literatur, industri kreatif dapat diartikan sebagai Industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan melalui penciptaan dan pemanfaatan daya kreasi dan daya cipta individu tersebut (Departemen Perdagangan RI, 2008: 4). JURNAL AWILARAS Vol 2 No 2 2015 2 Masyarakat Kota Bandung yang terbuka, dinamis, dan toleran dalam mengadaptasi perubahan zaman, ditambah lagi keunikan-keunikannya disinyalir mendorong masyarakatnya dalam membangun sebuah kreativitas. Dari aspek budaya, terjadi sebuah akulturasi antara budaya Sunda dengan berbagai budaya yang masuk ke Kota Bandung melalui warga pendatang dan ragam teknologi informasi terjadi sangat cepat yang mewujud menjadi sebuah produk budaya khas. Kondisi geografis kota Bandung sangat memungkinkan warganya untuk bergerak dan berinteraksi dengan lebih leluasa. Kreativitas yang terbangun oleh masyarakat kota Bandung tersebut akhirnya mendukung berkembangnya ekonomi kreatif sebagai sektor ekonomi lokal yang berpotensi yang luar biasa. Statistik menyebutkan jika kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDRB Kota Bandung sebesar 11% dari tahun 2008 dan memiliki tren yang membaik menggeser potensi lainnya. Ekonomi kreatif berbasis inovasi dan kreativitas, meliputi fashion, desain, dan musik yang sebagian besar dikelola oleh generasi muda berusia 15-25 tahun menyerap 344.244 tenaga kerja. Walaupun tanpa dukungan Pemerintah, ekonomi kreatif dapat berkembang pesat dan ditingkat global tidak resisten dengan krisis keuangan global (Bappeda Kota Bandung, 2008). British Council pernah menyelenggarakan sebuah even internasional se-Asia Pasifik pada tahun 2008 dan memberikan penghargaan kepada kota Bandung sebagai projek percontohan kota kreatif. Salah satu yang menonjol adalah pada sektor fashion yaitu distro yang cukup marak berkembang di Kota Bandung. Usaha distro berawal dari hobi atau kegemaran anak muda Kota Bandung kemudian dapat menghasilkan nilai ekonomi dan mampu bertahan ditengah krisis ekonomi global yang pada saat itu terjadi (Kamil dalam Fitriyana dan Sofhani,tanpa tahun: 13). Terdapat sebuah fenomena terkait dengan musik dan hubungannya dengan industri kreatif yang menarik dijadikan sebuah objek penelitian. Sejak tahun 2008, kesenian karinding muncul ke permukaan dan memberikan dampak cukup signifikan terhadap masyarakat sekitarnya. Kesenian yang dipercaya telah ada sejak beberapa ratus tahun yang lalu tersebut telah mengalami berbagai perubahan, termasuk fungsi dan pengaruhnya terhadap masyarakat Bandung. Dari sekian banyak pergeseran fungsi yang dialami karinding, kini instrumen ini tidak lagi dimainkan oleh masyarakat yang tinggal di pedesaan melainkan hidup dan berkembang di daerah perkotaan yang sarat akan kemajemukan dan segala kerumitan di dalamnya. Di tangan masyarakat kota (urban) yang tergabung dalam JURNAL AWILARAS Vol 2 No 2 2015 3 sebuah kelompok musik yang bernama Karinding Attack saat ini instrumen karinding berubah menjadi sebuah kesenian populer dan memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi kreatif di Kota Bandung. Buktinya dapat terlihat dari menyebarnya jejaring komunitas yang berpengaruh terhadap penjualan instrumen karinding, seni pertunjukan, dan pengolahan merchandise yang didistribusikan melalui distribution store (distro). Mengingat akan hal itu maka, penelitian ini akan mengacu kepada dua pertanyaan penelitian utama yang akan berusaha dijawab, yakni bagaimana pola penyebaran kesenian karinding yang dilakukan oleh Karinding attack dan sejauhmana pengaruh penyebaran musik Karinding attack terhadap perkembangan kegiatan ekonomi kreatif di kota Bandung. B. METODE Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif yang pada intinya merupakan sebuah metode kholistik yang memadukan analisis data dengan aspek-aspek terkait dengan tujuan untuk menghasilkan sebuah deskripsi atau gambaran secara sistematik, faktual, dan akurat mengenai fakta-faktaserta hubungan antar fenomena yang sedang diamati. Penelitian ini meliputi aktivitas observasi dan wawancara dilaksanakan di Bandung, khususnya kepada anggota kelompok musik Karinding Attack dan pelaku seni karinding lainnya yang berkaitan dengan data yang diperlukan dalam penelitian ini. Pengumpulan data dilakukan dengan mengutamakan pandangan informan (emik). Penulis memerankan diri sebagai instrumen utama yang terjun langsung ke lapangan untuk melakukan pengumpulan data secara mendalam. Data yang digunakan dalam penulisan ini adalah data kualitatif yang diperoleh dari pengumpulan data lapangan menggunakan tiga teknik, yaitu observasi, wawancara, dan studi literatur. Wawancara mendalam dilakukan terlebih dahulu dengan menentukan sejumlah informan, sesuai dengan kompetensinya dalam rangka memperoleh data terkait penulisan ini. Penelitian ini terfokus pada eksistensi Karinding Attack dan pola penyebaran yang dilakukan dalam kancah dunia musik tradisional dan dunia musik indie dan pengaruhya terhadap pertumbuhan ekonomi kreatif di kota Bandung. Secara garis besar informan dibedakan menjadi tiga kelompok di antaranya informan kunci yang mencakup penikmat, pengrajin, pemain karinding, media massa, dan pemerintah. Melalui informan kunci inilah JURNAL AWILARAS Vol 2 No 2 2015 4 diharapkan dapat diperoleh berbagai informasi tambahan yang menunjuk informan lain, sebagai teknik bola salju (Snow ball). C. PEMBAHASAN 1. Keberadaan Karinding Attack di Kota Bandung Karinding (baik sebagai instrumen ataupun sebuah ensambel) kini berubah menjadi sebuah entitas yang tidak hanya berperan dalam dunia musik tradisional. Perjalanan sebuah kelompok musik yang bernama Karinding Attack membawa instrumen karinding sebagai seni tradisional yang tengah menuju sebuah industri musik baru. Torehan sejumlah penghargaan yang diperoleh kelompok ini cukup mempengaruhi masyarakat musik Bandung dalam dalam hal motivasi, fashion, gaya hidup, musik, dan ekonomi kreatif. Latar belakang kultur metal yang kuat dari anggotanya membawa pengaruh besar terhadap konsep musik yang diusung oleh karinding attack. Beberapa ketukan (beat) yang tidak lazim digunakan dalam seni tradisi menjadi ciri khas tersendiri yang membedakan karinding attack dengan kelompok lainnya. Aktifitas tersebut dapat diasumsikan sebagai representasi mereka sebagai kelompok musik tradisional yang membawa pesan baru agar anak-anak muda lebih antusias dalam menilai dan memahami sebuah kesenian tradisional. Tidak hanya tingkatan sosial para anggotanya yang menjadi trend setter di komunitas metal Bandung, tetapi terbiasanya mereka menjalankan kelompok musik dengan gaya indie yang lekat dengan slogan DIY (do it your self) menjadikan musik karinding yang diusung oleh karinding attack mudah diterima komunitas dan cenderung banyak diikuti oleh individuindividu dalam komunitas tersebut yang kemudian melakukan penyebaran kembali di masyarakat. Terkait dengan perekonomian, Fukayama dalam Rini dan Czafrani (2010: 18) memandang kearifan lokal sebagai modal sosial yang dipandang sebagai bumbu vital bagi perkembangan pemberdayaan perekonomian masyarakat. Wilayah perkotaan menjadi habitat baru bagi perkembangan karinding. Hasil penelitian Kimung (seorang peneliti karinding asal Bandung) tercatat kurang lebih telah lahir 250 kelompok musik karinding di tatar Priangan pasca lahirnya Karinding attack. Pola kehidupan kota yang fleksibel menerima perubahan merubah karinding menjadi sebuah musik yang semakin dekat dengan anak muda Bandung. Kemunculan kembali karinding hari JURNAL AWILARAS Vol 2 No 2 2015 5 ini dapat diasumsikan sebagai bentuk keinginan sebagian masyarakat urban (sebagai korban utama dari modernitas) untuk kembali terhubung dengan sejarahnya sendiri. Karinding Attack-- disingkat Karat--berdiri 12 Maret 2009. Awalnya adalah perkenalan sebuah sindikat kerja Bandoong Sindekeit yang merupakan sayap kerja komunitas metal Ujungberung Rebels (dipercaya sebagai komunitas musik metal tertua di Indonesia) yang menggarap proses produksi dan distribusi rokok Morbid Nixcotine. Persinggungan kemudian direalisasikan dengan digelarnya sebuah acara peluncuran pada tanggal 13 Desember 2008 yang diberi nama Karinding Attack. Pada saat itu kelompok karinding yang ditampilkan adalah karinding Bah Olot (sesepuh karinding asal Desa Sindang Pakuwon Sumedang). Setelah acara tersebut, secara berkala mereka mempelajari karinding di sebuah tempat bernama Common Room1. Pada awal penggarapannya kelompok ini terdiri dari Engkus, Utun, Amenk, Man Jasad, Kimung, Okid, Wisnu, Hendra, Iman Zimbot, Gustaff, Ranti, Kimo, Ari, Kiki, dan Diki. Namun demikian personil yang memutuskan untuk bergabung membentuk kelompok musik hanya Engkus, Utun, Amenk, Man Jasad, Kimung, Okid, Wisnu, Hendra, dan Iman Zimbot. Awalnya, kelompok ini banyak bermain papalidan2, tetapi kemudian mereka sepakat menamai kelompoknya “Karinding attack”. Latar belakang kultur musik Metal yang kuat dari para anggotanya maka, lagu-lagu yang kemudian diciptakan Karat lebih kental dengan nuansa punk dan metal. Hampir setiap anggota Karat mempunyai pemahaman bahwa musik sejak awal diciptakan satu, hanya ekspresi musikalitas yang berbeda. Oleh karena itu Karat memandang karinding sebagai satu instrumen musik yang sangat mungkin melebur dengan musik lainnya. Karat menilai bahwa mengapa karinding sempat digosipkan punah adalah kurang luwesnya seniman karinding pada masa lalu dalam upaya mengembangkan karinding yang sesuai dengan perkembangan zaman. Eksperimen dalam pengolahan suara karinding juga dilakukan dengan menggunakan perangkat berupa efek gitar, mulai dari stompbox seperti digital delay, phaser, metal zone, big muff, bass Equalizer, hingga efek-efek canggih dari software ataupun efek digital lainnya. Berbagai upaya konservasi juga dilakukan oleh Karat dan kawan-kawan lain di komunitas Ujung Berung Rebels dengan cara pendokumentasian data-data sejarah karinding, baik secara lisan, tulisan, visual, maupun audio visual untuk tujuan kemudahan akses informasi. JURNAL AWILARAS Vol 2 No 2 2015 6 Upaya lainnya ialah menjadikan karinding sebagai alat musik pendidikan yang diajarkan di sekolah-sekolah atau kelas yang digelar secara berkala. Jika ditelaah karinding ternyata memiliki nilai pendidikan yang baik. Kebersamaan, kerja sama, dan sensitifitas berkarya merupakan nilai-nilai yang dapat kita ambil dalam memainkan karinding secara ensambel. ENGKUS Band oong Sindi Ujun kiet gber BAH OLOT UTUN KARIND ING ATTAC K ung Rebe l Tabel 1: Peta penyebaran Karinding ke Kota Bandung Sejak lahir sampai hari ini Karat telah merekam dan merilis album “Gerbang Kerajaan Serigala” yang dirilis 20 Februari 2012. Konser tunggal Karatpun digelar dengan tajuk “Gerbang Kerajaan Serigala” atas dukungan sebuah perusahaan rokok ternama. Sepanjang tahun 2012, Karat juga terlibat dalam penggarapan album terbaru Peterpan bertajuk Suara Lainnya, di lagu “Sahabat” dan “Di Belakangku”. Formasi terkini Karinding attack adalah Kimung (karinding dan celempung), Man (vokal dan karinding), Amenk (karinding), Wisnu (karinding), Hendra (celempung), Papay (celempung renteng) dan, Ekek (suling). 2. Pola Penyebaran Kesenian Karinding Proses penyebaran karinding dapat dikatakan terjadi melalui interaksi antar individu dengan beberapa kelompok atau individu lainnya. Pola penyebaran karinding yang dianggap paling efektif dalam penyampaikan ide baru atau hasil inovasi kepada calon pengadopsi adalah komunikasi langsung. Hal tersebut dilakukan melalui pelatihan, pertunjukan, dan workshop. Untuk memperkuat pemahaman para penerima inovasi maka salah satu anggota Karat yaitu Kimung berencana menuliskannya ke dalam bentuk buku. Berdasarkan hasil studi pustaka dan penelusuran di lapangan, dapat dikatakan jika penyebaran karinding JURNAL AWILARAS Vol 2 No 2 2015 7 dimulai dari tempat dimana karat berkumpul yaitu Common Room menuju titik-titik lain di sekitar Bandung seperti Soreang dan Lembang. Penyebaran itu ternyata mampu mempengaruhi beberapa generasi muda untuk membuat kelompok karinding baru dan secara tidak sadar semakin mendongkrak popularitas Karinding secara umum. a. Proses Difusi Sesuai dengan pemikiran Rogers (1971: 5) pada dasarnya proses penyebaran karinding yang terjadi di Kota Bandung dapat kelompokkan ke dalam 4 tahapan antara lain: 1) Inovasi Ide dan tindakan yang dilakukan Karinding Attack sejak tahun 2008 dengan memperkenalkan kesenian yang dianggap lama namun dikemas dengan konsep baru (baik bentuk maupun musik) memperoleh respon yang begitu tinggi dari masyarakat musik Kota Bandung dan sekitarnya. 2) Saluran komunikasi Saluran komunikasi yang digunakan dalam menyebarkan karinding dapat dibagi ke dalam tiga jenis diantaranya: (1) media massa (cetak dan elektronik); (2) internet (media sosial); dan (3) komunikasi interpersonal. Untuk menyebarkan karinding beserta inovasinya karinding attack menggunakan media massa dan internet untuk menyasar khalayak yang lebih luas (termasuk masyarakat awam), sedangkan untuk menjaga sikap dan perilaku penerima inovasi dalam hal pemahaman karinding, karinding attack memilih komunikasi interpersonal melalui diskusi dan pelatihan karinding. 3) Jangka waktu Sejak mulai dikembangkan dari tahun 2008, kini kesenian karinding mengalami masa keemasan. Bertambahnya jumlah pelaku dan peneliti karinding adalah bukti nyata keberhasilan tersebut. Rentang waktu selama 8 tahun adalah waktu yang cukup singkat dengan segala pencapaiannya. 4) Sistem sosial Kesamaan pola pemikiran para inovator dalam upaya penyebaran karinding mendorong mereka melakukan serangkaian penetrasi yang awalnya tidak mungkin menjadi mungkin. Masalah-masalah berhasil dipecahkan dan tujuanpun dapat dicapai. Jika ditelaah JURNAL AWILARAS Vol 2 No 2 2015 8 serangkaian proses pengambilan keputusan inovasi yang dilakukan oleh adopter (pengadopsi) mencakup beberapa tahapan diantaranya: a) Tahap Munculnya Pengetahuan (Knowledge) Serangkaian pola penyebaran yang berbeda dan lebih dekat dengan dunia anak muda sekarang mampu mengarahkan para adopter (remaja kota Bandung) untuk semakin memahami eksistensi dan manfaat populernya kesenian karinding. b) Tahap Persuasi (Persuasion) Sikap gampang bergaul yang diterapkan oleh inovator dengan selalu terbuka dengan segala pertanyaan dari para calon adopter semakin meyakinkan mereka untuk memainkan kesenian karinding. c) Tahap Keputusan (Decisions) Ketika para calon adopter mulai terlibat dalam aktivitas yang diciptakan inovator dengan menyelenggarakan pendidikan, pelatihan, pertunjukan, dan penyebaran album maka, banyak sekali remaja Bandung yang mengadopsi kesenian karinding ini dan semakin lama mengarah pada pemahaman yang lebih positif. d) Tahapan Implementasi (Implementation) Para remaja yang secara sadar mengambil keputusan untuk mengadopsi kesenian karinding dan akhirnya membentuk sebuah kelompok musik karinding yang diyakini bahwa tahapan ini merupakan kunci dalam penyebaran karinding. e) Tahapan Konfirmasi (Confirmation) Penguatan terhadap keputusan penerimaan atau penolakan inovasi yang sudah dibuat sebelumnya, mereka lalukan dengan selalu meningkatkan pemahaman tentang karinding melalui workshop atau diskusi yang dilakukan dari, oleh, dan untuk komunitas karinding di Kota Bandung. 3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Proses Difusi a. Tingkatan Sosial Elemen penting dalam berhasilnya penyebaran karinding di Kota Bandung adalah latar belakang anggota Karinding Attack yang sebelumnya merupakan individu-individu yang populer di kalangan masyarakat musik metal kota Bandung. Cepatnya karinding dikenal oleh banyak kalangan dipengaruhi oleh pembangunan jaringan yang masif menggunakan kanal JURNAL AWILARAS Vol 2 No 2 2015 9 jejaring komunitas musik metal. Para penggemar tidak ragu-ragu untuk mengikuti apa yang idola mereka lalukan termasuk musik dan fesyen. Akhirnya pergerakan sosial budaya melalui karinding ini menjadi akses para pengadopsi inovasi ini untuk mengenal kebudayaan Sunda lebih jauh. b. Lokasi Strategis Titik pusat utama penyebaran informasi (Common Room) yang terbilang strategis (Bandung Tengah) menjadi penentu berhasilnya penyebaran informasi karinding ke daerah lainnya seperti Bandung Timur, Barat, Selatan, dan Utara. Sampai saat ini kelompok musik karinding yang dianggap aktif paling banyak ditemukan di wilayah Bandung Utara (lembang) dan selatan (Soreang). c. Karakteristik Pengadopsi Penerimaan masing-masing individu dianggap sebagai salah satu faktor yang paling mempengaruhi proses penyebaran karinding di Kota Bandung. Karakteristik yang dimaksud diantaranya: 1) Kesamaan Selera Musik Dari sekian banyak pelaku musik karinding di kota Bandung, banyak diantaranya merupakan individu-individu pemerhati kondisi komunitas metal Bandung. Terlihat dari gaya berpakaian serta atribut lainnya yang digunakan saat kelompok karindingnya melakukan pertunjukan.Tingginya saling menghargai antargenre, sehingga jalinan pertemanan dengan para musisi di luar genrenya sangat membantu penyebaran musik karinding. 2) Keterbukaan Pikiran Komunitas Ujungberung Rebels yang merupakan tempat tumbuhnya anggota Karat, sangat terbuka dalam menerima musik di luar hasrat mereka. Oleh karena itu keterbukaan pikiran tersebut sanagat memeperlancar perjalanan musik Karat dalam menjelajahi industri musik indie di Indonesia. 3) Atmosfer Musik Kota Bandung Sejak lama Kota Bandung dikenal sebagai barometer perkembangan musik di Indonesia, bahkan ada juga yang menjuluki “gudang”nya musisi dan seniman berbakat yang sanggup berkiprah, di tingkat lokal, nasional, maupun internasional. secara tidak sadar atmosfer tersebut telah membangun sebuah kompetisi yang positif antara seniman, mereka JURNAL AWILARAS Vol 2 No 2 2015 10 berlomba untuk bekerja keras untuk menciptakan hal-hal baru dalam upaya untuk mengejar kemapanan bermusik. Dampak dari itu semua para seniman Bandung seolaholah berkompetisi untuk selalu menciptakan atau mengembangkan sebuah seni pertunjukan yang terbaik (termasuk karinding di dalamnya). 4) Daerah Asal Dominasi orang yang berdomisili di daerah Jawa Barat yang notabene menggunakan bahasa daerah yang sama yaitu bahasa Sunda mempermudah para inovator dalam penyampaian informasi tentang karinding. 4. Pengaruh Penyebaran Karinding terhadap Ekonomi Kreatif Kota Bandung Menyebarnya karinding sedikit banyak telah melahirkan pergerakan baru berupa aktivitas ekonomi kreatif. Keuntungan secara ekonomis mulai dirasakan para pengrajin dan pemain karinding yang serius menjalankan kelompoknya. Penjualan instrumen karinding, album, dan pengolahan merchandise menjadi tanda bagaimana kesenian karinding member pengaruh terhadap industri kerajinan dan fesyen. Lebih jauh lagi, produk-produk kreatif mereka kemudian didistribusikan melalui kanal-kanal komunitas musik metal Bandung seperti distro atau saat pertunjukan musik tradisional dan musik metal di Bandung. a. Penjualan Instrumen dan Merchandise Karinding Permintaan konsumen yang semakin meningkat mendorong sebuah konsep musik yang terpengaruh dan bergeser untuk memenuhi selera konsumen (komoditas). Pada kenyataannya peristiwa itu merupakan peristiwa budaya dengan aktivitas sosial yang menyenangkan kedua belah pihak, baik produsen maupun konsumen seni. Sejak karinding menjadi sesuatu yang mengalihkan atensi masyarakat di tengah invasi budaya barat, sejak itu pula karinding berubah menjadi sebuah komoditas yang membangun basis ekonomi para pemain dan pembuat karinding, pengrajin bambu umumnya. Pembangunan basis perekonomian yang bervisi menyejahterakan para pengrajin bambu menjadi wacana yang sering digulirkan oleh kalangan kelompok Sunda underground sampai sekarang, mereka menolak terhadap maraknya praktik percaloan di kalangan para pengrajin. Diakui oleh Okid sebagai penggiat perekonomian Kreatif di Bandung bahwa para pengrajin karinding tidak mendapat harga yang layak3 ditambah lagi pola pikir para pengrajin yang sangat menghargai budi seseorang juga menyebabkan praktik percaloan JURNAL AWILARAS Vol 2 No 2 2015 11 tetap ada. Seiring berkembangnya Karat dengan segala popularitasnya berdampak pada meningkatnya pesanan karinding. Dari titik itulah Okid menganggap bahwa praktek percaloan akan terputus. Kini pemesanan karinding dapat diarahakan langsung ke Bah Olot sebagai pengrajin tanpa melalui perantara4. Data di lapangan menunjukan bahwa kini instrumen karinding telah bergeser menjadi sebuah komoditas dan memberi pengaruh cukup besar terhadap ekonomi kreatif di kota Bandung. karinding menjadi mata pencaharian beberapa senimannya, baik dari penjualan, pertunjukan, dan merchandise (kaos yang bertuliskan nama kelompoknya) karinding. Pembangunan karinding menjadi komoditas dianggap penting dalam konteks perkembangannya, karena karinding senantiasa harus disesuaikan dengan kemajuan zamannya. Jika aspek tersebut terjalani, maka posisi dan peranan karinding dalam ranah musik independen lebih luasnya dunia musik tradisional akan semakin kuat. b. Pertunjukan Karinding Pembangunan ekonomi kreatif merupakan salah satu faktor yang sangat penting dan tidak dapat dipisahkan dari pembangunan kondisi karinding secara utuh maka, sudah seharusnya ketika karinding bergeser menjadi sebuah komoditas itu berarti keuntungan secara ekonomi dapat diperoleh para pelaku karinding (kelompok musik dan pengrajin), tambahnya lagi komoditas tidak hanya berbicara mendagangkan karinding tetapi dalam hal pengemasan musik (produksi Album CD). Karinding Attack merupakan satu-satunya kelompok yang mampu melakukan penetrasi ke arah sana, dikarenakan mempunyai jaringan yang kuat dan stabil 6. Karya berbentuk album yang kemudian didistribusikan secara masal oleh Karat mempunyai peranan penting dalam usaha penetrasi ke arah industri musik yang lebih luas. Sampai hari ini Karat hanya mendistribusikan dalam komunitas musik metal, didukung oleh jaringan musik metal yang sangat militan maka sampai sekarang Karat dapat menjadi sebuah kelompok yang di apresiasi nasional melainkan internasional 7. Dalam tataran musik, banyaknya kendala dalam usaha memperluas distribusi Album atau merchandise ke lingkungan musik yang lebih luas selalu terganjal beberapa kendala, yaitu: 1) Manajemen yang belum siap dalam melayani permintaan pihak distributor (record company). JURNAL AWILARAS Vol 2 No 2 2015 12 2) Belum adanya karya yang bersahabat dengan telinga pendengar, dalam kasus Karat bahasa merupakan faktor terpenting, masyarakat masih belum mengerti pesan-pesan yang berusaha dikomunikasikan dalam karya tersebut. Dalam albumnya “Gerbang Kerajaan Serigala” Karat hanya mempunyai dua lagu yang berbahasa indonesia. Karat yang berperan sebagai inspirator dan inovator bagi banyak kelompok musik karinding lainnya kemudian dapat menumbuhkan pola pikir baru bagi kelompok-kelompok karinding baru bahwa kesenian tradisi tidak selalu dipandang sebelah mata, terutama dari segi finansial, bukan untuk mengomersilkan seni tradisi tetapi untuk menumbuhkan apresiasi lebih untuk sebuah seni pertunjukan seni tradisional. D. PENUTUP Menyebarnya musik karinding metal dari Kota Bandung ke beberapa daerah sekitarnya telah memberikan pengaruh terhadap perkembangan industri musik sebagai salah satu sektor industri kreatif Kota Bandung dan bidang industri kreatif lain seperti usaha distro, merchandise, kerajinan tangan, dan pembuatan alat musik tradisional. Pola penyebaran karinding di Kota Bandung dapat disimpulkan terbilang masif dengan penentuan yang awalnya random (acak) sangat ditentukan oleh interaksi inovator dengan penerima informasi (adopter). Proses penyebarannya dapat dikelompokkan ke dalam empat tahapan diantaranya Inovasi, Saluran komunikasi, Jangka waktu, dan Sistem sosial. inovasi yang dilakukan oleh adopter mencakup beberapa tahapan yaitu: (1)Tahap Munculnya Pengetahuan (Knowledge); (2) Tahap Persuasi (Persuasion); (3) Tahap Keputusan (Decisions); (4) Tahapan Implementasi (Implementation); dan (5) Tahapan Konfirmasi (Confirmation). Dalam perjalanannya latar belakang anggota Karinding Attack yang sebelumnya merupakan sosok-sosok individu yang populer di kalangan masyarakat musik metal kota Bandung mempengaruhi cepatnya karinding dikenal oleh banyak kalangan. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa jejaring komunitas metal dengan segala karakternya sangat membantu penyebaran (difusi) kesenian karinding. Posisi strategis tempat lahirnya inovasi-inovasi yang dilahirkan oleh karinding Attack membawa karinding lebih mudah dijangkau oleh para calon adopter, di samping itu penerimaan masing-masing individu yang ditinjau dari kesamaan selera musik, keterbukaan JURNAL AWILARAS Vol 2 No 2 2015 13 pikiran, atmosfer kota Bandung, daerah asal tentunya semakin menegaskan mereka untuk mengadopsi kesenian karinding kemudian mengimplementasikannya dalam sebuah kelompok musik yang kemudian menyebar seperti virus. Akhirnya menyebarnya karinding sedikit banyak telah melahirkan pergerakan baru berupa aktivitas ekonomi kreatif. Keuntungan ekonomis dirasakan para pengrajin dan pemain karinding melalui penjualan instrumen, pertunjukan, penjualan album, dan pengolahan merchandise sebagai bagian dari industri kerajinan, musik, dan fashion yang didistribusikan melalui kanal-kanal komunitas musik metal Bandung. Daftar Pustaka Departemen Perdagangan RI 2008 Ekonomi Kreatif Indonesia 2025. STUDI INDUSTRI KREATIF INDONESIA. Kelompok Kerja Indonesia Design Power Departemen Perdagangan. Fitriyana. Freska dan Sofhani. Tubagus Furqon Tanpa Tahun Kimung 2011 2011 Pengembangan Bandung Kota Kreatif Melalui Kekuatan. Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V1N1. Komunitas Jurnal Jurnal Karat karinding attacks Ujung berung Rebels. Bandung. Minor books. Memoar melawan Lupa. Bandung: Minor books. Komsan Suriya 2012 The creative economy: How people makes money from ideas. The Empirical Econometrics and Quantitative Economics Letters Volume 1, Number 4 (September 2012), pp.180–182. Kutha Ratna, Nyoman 2010 Metodologi Penelitian Kajian Budaya dan Ilmu Sosial Humaniora Pada Umumnya. Yogyakarta. Pustaka Pelajar. Levickaitė. Rasa 2011 Four Approaches To The Creative Economy: General Overview. Vilnius Gediminas Technical University, Saulėtekio al. 11, LT-10223 Vilnius, Lithuania. Rini. Puspa dan Czafrani. Siti JURNAL AWILARAS Vol 2 No 2 2015 14 2010 Pengembangan Ekonomi Kreatif Berbasis Kearifan Lokal Oleh Pemuda Dalam Rangka Menjawab Tantangan Ekonomi Global. Jurnal UI Untuk Bangsa Seri Sosial dan Humaniora. P. 12-24 Rogers, M Everett 1983 Diffusion of Innovations. United States Of America. Macmillan Publishing. Syarbaini, Syahrial dan Rusdiyana 2009 Dasar-Dasar sosiologi. Yogyakarta. Graham Ilmu. Yuniarti. Nisa Vidya Tanpa Tahun Pengaruh Difusi Inovasi Musik Karinding Terhadap Perkembangan Ekonomi Kreatif di Kota Bandung Studi Kasus Grup Musik Karinding attack. Universitas Indonesia. Rujukan Elektronik https://wsmulyana.wordpress.com/tag/everett-m-rogers/ diakses tanggal 7 agustus 2016 Jam 12.58. http://www.jyoungeconomist.com/images/stories/EEQEL_V1_N4_December_2012_pp_180 _182_Book_Review(1).pdf tanggal: 9 September 2016. CATATAN 1. Common Room adalah tempat yang menjadi wadah dari beragam aktivitas yang digalang oleh Bandung Center for New Media Arts. Sejak didirikannya pada tahun 2003, aktivitas dan pengembangan seni tetap menjadi fokus dalam kegiatannya. Kegiatan-kegiatan yang berbau budaya mulai dari diskusi hingga workshop sering dilaksanakan. Forum ini awalnya adalah forum evaluasi counter opini media pasca Insiden AACC 9 Februari 2008, namun pada perkembangannya lalu dijadikan tempat berkumpul para pemain karinding untuk belajar dan bermain karinding. 2. Bermain karinding hingga mencapai titik trans di antara personilnya, Tahapan ini banyak membantu antara personil untuk saling memahami rasa yang diciptakan satu sama lainnya. 3. Dulunya karinding hanya dihargai 15 ribu rupiah. Selintas dengan harga 15 ribu dapat dikatakan layak untuk ukuran alat musik kecil yang terbuat dari bambu. Tetapi, jika diukur dengan proses pembuatan karinding butuh cukup ketelitian dan banyak tahapan yang mesti dilalui dalam pengeringan bambu, maka sangat miris memang melihat usaha yang ditempuh oleh seorang pengrajin dalam membuat karinding tetapi hanya nominal yang di dapat tidak sebanding, sementara di kota karinding dapat dijual 10 kali lipat oleh calo. JURNAL AWILARAS Vol 2 No 2 2015 15 4. Dengan kata lain perhitungan keuntungan yang lebih menguntungkan pengrajin mulai diterapkan agar kesejahteraan para pengrajin tetap terjaga. 5. Beberapa pertunjukan yang ditayangkan pada televisi nasional bersama Noah Band atau pertunjukan dalam sebuah kompetisi bakat berskala nasional, serta award sebagai best world music versi Indonesia Cutting Edge Music Awards (ICEMA) memberi kans untuk menerobos industry musik yang lebih luas, tidak untuk menguasai tapi cukup untuk menjejakan diri di dalam ranah musik nasional (tidak hanya komunitas) Beberapa media cetak dan eletronik seperti televisi lokal irlandia juga majalah Metal Hammer inggris merupakan bentuk konkret dimana jaringan komunitas musik metal dimana Karinding attack itu lahir dan berkembang merupakan fenomena yang tidak bisa dipandang sebelah mata. JURNAL AWILARAS Vol 2 No 2 2015 16

Judul: Karinding Attack Dan Pengaruhnya Terhadap Ekonomi Kreatif Di Kota Bandung

Oleh: Hinhin A Daryana


Ikuti kami