Critical Book Review Ekonomi Industri Struktur Pasar, Kondisi, Dan Kinerja Perusahaan

Oleh Rahmad Khadafi

198,1 KB 8 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Critical Book Review Ekonomi Industri Struktur Pasar, Kondisi, Dan Kinerja Perusahaan

CRITICAL BOOK REVIEW EKONOMI INDUSTRI Struktur Pasar, Kondisi, dan Kinerja Perusahaan (Structure, Conduct, and Performance) OLEH RAHMAT KHADAFI 187018014 PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU EKONOMI (S2) FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS 1. Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Sebuah buku pada umumnya memiliki kelebihan dan kekurangan. Dalam Critical Book Review ini penulis membahas buku yang berjudul Ekonomi Industri, dengan pengarang Dr. Ahmad Albar Tanjung M.Si. dan Dr. Dede Ruslan, M.Si. Dengan adanya CBR ini tentunya sangat bermanfaat, guna lebih dapat memperoleh kajian yang menambah wawasan dan ilmu pengetahuan. Selain membahas kelebihan ataupun kekurangannya, makalah ini juga sebagai pemenuhan tugas Ekonomi Industri. Hal yang menjadi utama dalam sebuah Critical Book Report ini tidak sebatas pada isi atau materi pada buku tersebut saja, melainkan sistematika, penyajian, gaya bahasa, kecermatan ejaan, diksi, di mana hal tersebut tidak berhubungan secara langsung dengan aspek ini. Bahkan ilustrasi, contoh, atau hal-hal yang berkenaan dengan teknik percetakan pun bisa menjadi bahan kritikan selain menilai kelebihan dan kekurangannya. Disini penulis tidak membandingkan keseluruhan isi buku, namun hanya membandingkan atau mengkritik salah satu topik atau pembahasan yang ada di buku utama yaitu mengenai “Structure, Conduct, and Perfomance (SCP)” 1.2. Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan dari kedua buku tersebut? 1.3. Tujuan Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk membandingkan buku Ekonomi Industri: Teori dan Kebijakan karangan Dr. Ahmad Albar Tanjung, M.Si. dan Dr. Dede Ruslan, M.Si. 2. IDENTITAS BUKU Judul Buku : Ekonomi Industri (Teori dan Kebijakan) Pengarang : Dr. Ahmad Albar Tanjung, M.Si. dan Dr. Dede Ruslan, M.Si. Penerbit : Prenadamedia Group Tahun Terbit : 2019 Kota Terbit : Medan Edisi : Pertama Jumlah Halaman : 192 Jumlah Bab : 12 3. RINGKASAN MATERI BUKU Bab 2 (SCP Structure – Conduct – Performance) Awal perkembangan ekonomika industri didominasi oleh paradigma struktur-perilakukinerja (structure-conduct-performance atau SCP paradigm). Pembangunan paradigma SCP dimotori oleh E. S. Mason pada tahun 1930 hingga 1940-an, lalu dilanjutkan oleh muridnya, Joe S. Bain pada tahun 1950 hingga 1960-an(Clarke, 2003) Struktur suatu industri mencakup faktor-faktor seperti ukuran relatif dan absolut dari perusahaan yang terlibat, kemudahan masuk ke dalam industri, dan elastisitas permintaan untuk output industri itu. Perilaku perusahaan mencakup tujuan perusahaan, perilaku penetapan harga, dan sikap motivasi (actual dan potensial). Perilaku perusahaan, yang diharapkan sangat dikondisikan oleh struktur industri mereka, menghasilkan hasil kinerja untuk industri. Dengan demikian kinerja industri berarti bahwa penekanan ditempatkan pada sifat industri daripada sifat perusahaan industri. Hubungan paling sederhana dari ketiga variabel tersebut adalah linier dimana struktru mempengaruhi perilaku, kemudian perilaku mempengaruhi kinerja. Dalam SCP hubungan ketiga komponen tersebut saling mempengaruhi termasuk adanya faktor lain seperti teknologi, progresivitas, strategi dan usaha-usaha untuk mendorong penjualan (Martin, 1994). Teori ekonomi industri selalu menekankan pada studi empiris dari faktor-faktor yang mempengaruhi struktur, kinerja, dan perilaku pasar. Semuanya itu bertujuan untuk mencapai tingkat efisiensi baik di tingkat perusahaan, industri,(Jaya, 2019) Pendekatan subsektor didasar-kan pada adaptasi dari teori organisasi industri (Bain, 1959, Scherer, 1980). Teori ini menyatakan bahwa struktur (Structure) S, dari sebuah industri akan berpengaruh kuat terhadap perilaku perusahaan dalam suatu industri (Market Conduct) C, dan selanjutnya perilaku pasar dari perusahaan akan mempengaruhi kinerja pasar (Market Performance) P (Burhan, Suman, Pudjiharto, & Soetjipto, 2011) Aspek yang diperlajari dalam kaitan dengan SCP industri : 1. Aspek kebebasan memilih dan berusaha 2. Aspek peluang yang sama 3. Aspek keadilan dan kewajaran 4. Aspek kesejahteraan 5. Aspek kemajuan Paradigma mengemukakan Struktur-Perilaku-kinerja hubungan dan kinerja pasar (performance) keterkaitan (Dina, (Structure-Conduct-Performance) antara struktur pasar (structure) 2019). Secara spesifik, struktur pasar memengaruhi perilaku (conduct) perusahaan-perusahaan yang ada di pasar, dan selanjutnya memengaruhi kinerja (performance) perusahaan-perusahaan yang ada di pasar tersebut (Lipczynski, Wilson, O.S., & Goddard, 2009) Paradigma SCP bukan hanya satu arah, namun dapat dilakukan dua arah, yaitu kinerja ke perilaku; selanjutnya perilaku ke struktur; dan dari kinerja ke struktur.(Clarke, 2003; Philips, 1976) A. Struktur Struktur adalah sifat permintaan barang dan penawaran barang dan jasa yang dipengaruhi oleh jenis barang yang dihasilkan, jumlah dan ukuran distribusi penjual dalam industri, jumlah dan ukuran distribusi pembeli, difrensiasi produk dan hambatan masuk pasar. Struktur pasar menunjukan atribut pasar yang mempengaruhi persaingan. Menurut Clarke (2003) struktur pasar merupakan suatu pola ketika elemenelemen pasar saling berinteraksi, baik antara penjual, antara pembeli, antara penjual dan pembeli, maupun antara penjual yang sudah ada dengan calon pesaing yang akan masuk ke pasar. Dalam struktur pasar terdapat empat elemen pokok yaitu : 1. Distribusi ukuran dan jumlah penjual dan pembeli merupakan faktor penentu utama dari kekuatan pasar yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan terkemuka di industri, dan kebijaksanaan penjual ini menggunakan harga mereka sendiri. Variabel ini merupakan penentu utama dari kekuatan pasar yang dimiliki oleh pelaku-pelaku utama yang ada di pasar dan kemampuan pelaku-pelaku utama tersebut untuk mengendalikan harga pasar berdasarkan harga yang mereka terapkan.(Dina, 2019) 2. Hambatan-hambatan untuk masuk pasar (barrier to entry), dapat didefenisikan berupa apa pun yang menempatkan perusahaan potensial pada kerugian kompetitif relatif terhadap sebuah perusahaan petahana. Hambatan pasar dapat diartikan sebagai kondisi ketika perusahaan potensial yang akan masuk ke pasar mengalami kesulitan karena tidak memiliki keunggulan kompetitif sebagaimana yang dimiliki oleh perusahaan yang sudah ada di pasar maupun karena sejumlah sebab, seperti karakteristik teknologi yang digunakan dalam proses produksi, struktur biaya, kebijakan perusahaan yang dirancang untuk mempersulit perusahaan lain untuk masuk ke pasar, dan kebijakan pemerintah.(Dina, 2019) 3. Diferensiasi produk mengacu pada karekteristik produk. Seberapa miripkah masing masing produk perusahaan dengan yang dimiliki perusahaan pesaing? Sejauh mana produk masing-masing perusahaan unik? Setiap perubahan dalam karakterisrik produk dipasok oleh satu perusahaan, baik nyata maupun yang bayangan, dapat mempengaruhi pangsa total permintaan pasar yang setiap perussahaan dapat memerintahkan. 4. Integrasi dan diversifikasi vertikal. Integrasi vertikal mengacu pada sejauh mana perusahaan terlibat dalam berbagai tahapan proses produksi yang sama. Perusahaan yang terdiversifikasi menghasilkan berbagai barang atau jasa untuk beberapa pasar yang berbeda. Sejauh mana suatu perusahaan terintegrasi secara vertikal atau terdiversifikasi cenderung memiliki implikasi untuk perilaku dan kinerja. B. Perilaku Perilaku diartikan cara yang dilakukan oleh perusahaan untuk mendapatkan pasar. Perilaku merupakan pola tanggapan dan penyesuaian berbagai perusahaan untuk mencapai tujuan dan menghadapi persaingan. Shy (1995) menerangkan pada struktur pasar yang semakin terkonsentrasi para produsen akan bertindak sama, yaitu bermain melalui strategi harga, strategi produk, riset dan inovasi, dan periklanan. Menurut Hasibuan (1994), perilaku adalah tanggapan dan penyesuaian suatu industri didalam pasar dalam mencapai tujuannya. Dari kedua pernyataan tersebut dapat diartikan bahwa conduct adalah perilaku suatu perusahaan dalam menghadapi persaingan dalam harga, tingkat produksi, kualitas produk dan promosi. Perilaku dalam pasar atau industri berkenaan dengan sekumpulan strategi kompetitif yang dijalankan oleh perusahaan atau sekelompok pedagang guna untuk menjalankan aktivitas usahanya. Strategi kompetitif itu meliputi: i) Penetapan Harga, ii) Penetapan kebijakan non-harga (promosi, produksi dan strategi distribusi) dan iii) Pencarian strategi yang unggul dan strategi menghalangi pelaku baru (Burhan et al., 2011). Berikut beberapa uraian indicator perilaku : 1. Tujuan Bisnis (business objectives). Tujuan yang dikejar perusahaan sering kali berasal dari karakteristik structural industri, khususnya distribusi ukuran perusahaan. Teori neoklasik perusahaan mengasumsikan maksimalisasi laba; sementara teori manajerial, dikembangkan terutama dengan perusahaan-perusahaan besar dalam pikiran, menekankan maksimalisasi tujuan nirlaba seperti pendapatan penjualan, pertumbuhan atau manajerial utilitas. 2. Kebijakan penetapan harga (pricing policies). Tingkat kebijaksanaan perusahaan untuk menetukan harganya sendiri tergantung sebagian besar pada karakteristik struktural industri. 3. Desain Produk, branding, iklan, dan pemasaran. Karakteristik alami atau inheren dari produk dasar perusahaan cenderung mempengaruhi ruang lingkup persaingan nirharga yang berpusat pada desain produk, branding, iklan, dan pemasaran. 4. Penelitian dan Pengembangan. Bersama dengan periklanan dan pemasaran, investasi dalam penelitian dan pengembangan memberikan jalan keluar yang jelas untuk persaingan nontarif antara perusahaan pesaing. 5. Kolusi. Pilihan lain yang tersedia bagi perusahaan yang ingin menghindari bentuk harga langsung atau persaingan nonharga adalah berkolusi satu sama lain, sehingga mencapai keputusan kolektif terkait harga, tingkat ouput, iklan atau anggaran penelitian dan pengembangan. 6. Penggabungan (Merger). Merger adalah penyerapan dari suatu perusahaan oleh perusahaan lain. Merger merupakan penggabungan usaha pada suatu nama perusahaan di mana salah satu perusahaan harus berbentuk PT. Setelah merger, perusahaan yang dibeli akan kehilangan atau berhenti beroperasi dengan hasilnya adalah sebuah entitas yang lebih besar. (Putra, 2008) Merger horinzontal (antara perusahaan yang memproduksi produk yang sama atau serupa) memiliki implikasi langsung untuk konsentrasi penjual di industri yang bersangkutan. Merger vertikal (antara perusahaan pada tahapan proses produksi yang berurutan) mempengaruhi tingkat integrasi vertikal. Merger konglomerat (antara perusahaan yang memproduksi produk yang berbeda) mempengaruhi tingkat diversifikasi. C. Kinerja Kinerja (performance) merupakan hasil akhir dari keseluruhan bentuk struktur pasar dan dampak dari perilaku industri berdasarkan SCP. Kinerja perusahaan dalam industri berarti kemampuan produsen atau perusahaan dalam suatu industri dalam menciptakan tingkat keuntungan, efisiensi, pertumbuhan ekonomi, kemampuan dalam menciptakan peluang kerja, dan kemampuan dalam menciptakan pendapatan. Kinerja pasar menurut Teguh (2006), merupakan hasil kerja atau prestasi yang muncul sebagai reaksi akibat terjadinya tindakan-tindakan para pesaing pasar yang menjalankan strategi perusahaannya guna bersaing dan menguasai pasar. Kinerja dapat diukur melalui berbagai bentuk pencapaian yang diraih perusahaan, beberapa diantaranya adalah keuntungan dan efisiensi. Pada pendekatan SCP, untuk bentuk struktur pasar tertentu, perusahaan memiliki cara yang berbeda dalam menetapkan strategi persaingannya. Perilaku ini berdampak pada tingkat keuntungan yang diperoleh perusahaan dan peningkatan efisiensi serta pertumbuhan perusahaan. Dasar analisis industri adalah efisiensi. Dimensi kinerja pasar menganalisa organisasi industri yang membahas efisiensi, keadilan, dan kemajuan.Efisiensi menjelaskan seberapa baik pasar dalam menggunakan sumber daya yangterbatas. Keadilan menjelaskan seberapa adil pasar mendistribusikan keuntungan dari aktivitas ekonomi kepada pelaku ekonomi.(Mahesa, 2010) Kinerja tercermin dalam efsiensi alokatif, efisiensi teknis, efek inflasi, pemerataan, kemajuan teknologi, kualitas produk, kesempatan kerja dan laba. 1. Profitabilitas. Teori neoklasik mengasumsikan laba tinggi atau normal adalah hasil dari penyalahgunaan kekuatan pasar oleh perusahaan lama. Di sisi lain, juga telah diperdebatkan oleh “Sekolah Chicago” bahwa laba abnormal mungkin merupakan konsekuensi dari keuntungan biaya atau efisiensi produktif yang superior pada bagian dari perusahaan tertentu, yang akibatnya memapu mencapai monopoly status dengan memotong harga dan mengusir saingan keluar dari bisnis. 2. Pertumbuhan (Growth). Profitabilitas adalah indicator kinerja yang cocok untuk perusahaan yang memaksimalkan laba, tetapi mungkin kurang relevan untuk perusahaan yang mengejar tujuan lain. Pertumbuhan penjualan, aset atau pekerjaan mungkin merupakan indicator kinerja alternatif yang berguna, yang dengannya kinerja selama periode perusahaan mana pun yang tidak sama ukurannya pada awal periode dapat dibandingkan. 3. Kualitas produk dan layanan dapat dianggap sebagai indikator kinerja yang penting oleh konsumen individu atau kelompok konsumen, regulator atau pemerintah. 4. Kemajuan teknologi (technological progress) adalah konsekuensi dari tingkat investasi dalam penelitian dan pengembanga, dan laju kemajuan teknologi yang dapat dianggap sebagai indikator kinerja yang relevan. 5. Efisiensi produktif dan alokatif. Efisiensi produktif mengacu pada sejauh mana perusahaan mencapai output layak secara teknologi maksimum dari kombinasi input yang diberikan dan apakah perusahaan memilih kombinasi input yang paling efektif untuk menghasilkan level output tertentu. Efisiensi alokatif mengacu pada apakah kesejahteraan sosial dimaksimalkan pada keseimbangan pasar. Kebijakan pemerintah dapat beroperasi pada variabel struktur, prilaku dan kinerja. Beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh pemerintah adalah : 1. Persaingan dapat dipromosikan dengan mencegah terjadinya merger horizontal yang melibatkan dua perusahaan besar, atau dengan mengharuskan pemecahan produsen lama menjadi dua atau lebih perusahaan kecil. 2. Intervensi dapat ditargetkan secara langsung untuk mempengaruhi perilaku. 3. Singkatnya, berbagai langkah kebijakan pemerintah dapat memiliki implikasi terhadap kinerja perusahaan, diukur dengan menggunakan indikator seperti profitabilitas, pertumbuhan, efisiensi produktif dan alokasi. Berbeda dengan kaum strukturalis, pengikut pandangan “Chicago School” ini mengatakan bahwa campur tangan pemerintahan yang menyebabkan perilaku anti kompetisi. Oleh sebab itu, pandangan ini lebih meyakini bahwa dengan lepas tangannya pemerintah dan membiarkan perekonomian menurut mekanisme pasar, akan lebih bisa mengatasi distorsi yang terdapat dalam pasar tersebut. (Pidada, 2012) D. KELEMAHAN PARADIGMA SCP Beberapa kelemahan paradigm SCP, yaitu : 1. Paradigma SCP banyak didasarkan pada teori ekonomi mikro dan teori neoklasik perusahaan. 2. Acap kali Sulit untuk memutuskan variabel mana yang termasuk struktur, mana yang masuk dalam perilaku, mana yang masuk dalam kinerja. 3. Perbedaan antara tujuan dari perusahaan yang berbeda dapat membuat hubungan SCP lemah. 4. Banyak variabel dalam ketiga kategori struktur-perilaku-kinerja sulit untuk diukur. 5. Paradigma SCP sering menemukan hubungan dalam arah yang diantisipasi antara variabel SCP. Namun hubungan demikian seringkali sangat lemah dalam hal signifikasi statistiknya. 6. Paradigma SCP telah dikritik karena terlalu menekankan model statis dari shortrun equilibrium (Sawyer, 1985). Paradigma SCP hanya memberikan gambaran singkat tetang industri dan perusahaan-perusahaan pendukungnya pada suatu titik waktu tertentu. 7. Sebagian besar studi empiris awal yang didasarkan pada paradigm SCP berfokus pada hubungan antara konsentrasi penjual dan profitabilitas. Daftar Pustaka Burhan, M. U., Suman, A., Pudjiharto, M., & Soetjipto, N. (2011). PASAR PUPUK DI JAWA TIMUR ( Kasus di Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Ngawi ). Journal of Indonesian Applied Economics, 5(1), 68–92. Clarke, R. (2003). Industrial economics. Oxford: Blackwell Publishers. Dina. (2019). Apa yang dimaksud dengan Paradigma Stuktur Perilaku Kinerja (StructureConduct-Performance (S-C-P) paradigm)? Retrieved from www.dictio.id website: https://www.dictio.id/t/apa-yang-dimaksud-dengan-paradigma-stuktur-perilaku-kinerjastructure-conduct-performance-s-c-p-paradigm/120538 Hasibuan, N. (1994). Ekonomi industri: persaingan, monopoli dan regulasi. Jakarta: LP3ES. Jaya, W. K. (2019). Ekonomi Industri (1st ed.). Gajah Mada University Press. Lipczynski, J., Wilson, O.S., J., & Goddard, J. (2009). Industrial Organization: Competition, Strategy, Policy. In Pearson Education Limited. Harlow. Mahesa, B. (2010). Analisis struktur, perilaku dan kinerja industri minuman di indonesia periode 2006 – 2009. Media Ekonomi, 18(3), 1–18. Martin, S. (1994). Industrial Economics: Economic Analysis and Public Policy (2nd ed.). New York: Macmillan Publishing Company. Philips, A. (1976). A Critique of Empirical Studies of Relations between Market Structure and Profitability. Journal of Industrial Economics, 24, 241–249. Pidada, I. N. A. P. (2012). ANALISIS STRUKTUR PASAR, PERILAKU DAN KINERJA INDUSTRI MASKAPAI PENERBANGAN DI INDONESIA TAHUN 2007-2011. Media Ekonomi, 20(1), 1–27. Putra, W. (2008). Ekonomi Industri (1st ed.). Pontianak. Teguh, M. (2006). Ekonomi Industri. Jakarta: Raja Graffindo.

Judul: Critical Book Review Ekonomi Industri Struktur Pasar, Kondisi, Dan Kinerja Perusahaan

Oleh: Rahmad Khadafi


Ikuti kami