Ekonomi Kreatif Indonesia Melalui Diplomasi Publik: Wirausaha Kerajinan Berbahan Baku Kulit

Oleh Deden Habibi Ali Alfathimy

411,6 KB 8 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Ekonomi Kreatif Indonesia Melalui Diplomasi Publik: Wirausaha Kerajinan Berbahan Baku Kulit

PRAKTIKUM PROFESI HUBUNGAN INTERNASIONAL SEMESTER VII “EKONOMI KREATIF INDONESIA MELALUI DIPLOMASI PUBLIK : WIRAUSAHA KERAJINAN BERBAHAN BAKU KULIT” Disusun Oleh : Florensia Lantang 170210100007 Renata Eka Marsha 170210100022 Rio Rian Asmoro 170210100024 Nadia Tifani 170210100030 Nurfarah Nidatya 170210100038 Shellby Amalia Septana 170210100054 Gina Dira Putri 170210100060 Nike Ariesti 170210100062 Denna Estianti 170210100063 Rahma Deviany Putri 170210100076 Aghnia Chasya 170210100097 Deden Habibi 170210100122 PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK UNIVERSITAS PADJADJARAN 2013 KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa selama penyelesaian tugas makalah dari Praktikum Profesi Hubungan Internasional semester tujuh ini yang berjudul “Ekonomi Kreatif Indoneseia Melalui Diplomasi Publik: Wirausaha Kerajinan Berbahan Baku Kulit”. Dalam makalah ini dibahas mengenai diplomasi publik indonesia dalam ranah ekonomi kreatif terutama melalui wirausaha kerajinan berbahan baku kulit, serta mengangkat nilai-nilai budaya, kearifan lokal, dan meningkatkan minat pariwisata Indonesia melalui produk-produk kerajinan berbahan baku kulit sebagai nilai tawar Indonesia yang akan berdampak pada peningkatan jumlah kunjungan turis/wisatawan ke Indonesia. Terima kasih kepada dosen kami dalam membimbing, serta para pihak yang telah membantu kelompok kami dalam menyelesaikan proyek ini dengan usaha semaksimal mungkin. Namun, apabila terdapat kekurangan serta ketidaksempurnaan informasi dalam makalah ini, kamai mengucapkan maaf dan kami memohon bimbingan lebih lanjut untuk membimbing kami kearah yang lebih baik. Terima Kasih. Jatinangor, 26 Desember 2013 Penyusun Makalah i DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ................................................................................................... i DAFTAR ISI ................................................................................................................ ii BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................ 1 1.1. Latar Belakang ................................................................................................... 1 1.2. Rumusan Masalah .............................................................................................. 3 1.3. Tujuan dan Manfaat............................................................................................ 3 1.3.1. Tujuan ......................................................................................................... 3 1.3.2. Manfaat ....................................................................................................... 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA .................................................................................. 4 2.1. New Public Diplomacy ....................................................................................... 4 2.2. New Media ......................................................................................................... 5 2.3. Information Society ............................................................................................ 6 2.4. Enterpreneurship ................................................................................................ 7 BAB III FORMULASI PROYEKSI ............................................................................ 10 3.1. Sentra Indsutri Sepatu Cibaduyut Sebagai Salah Satu Potensi Ekonomi Kreatif Daerah .................................................................................................................... 10 3.2. Motif Pembuatan Proyek .................................................................................. 11 3.3. Momentum Pembuatan Proyek ......................................................................... 13 3.2. Rekomendasi Ide dan Konten Video ................................................................. 13 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 16 ii BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang memiliki posisi strategis dari segi kawasan geografis dan sumber daya alam yang dimiliknya. Sebagai negara kepulauan yang terbentang dari Pulau Sumatera hingga Papua di ujung timur, Indonesia memiliki potensi yang besar dalam sektor ekonomi terutama didukung dengan sumber daya yang memadai dan kreativitas penduduk Indonesia yang dilatarbelakangi oleh identitas budaya. Salah satu sumber daya yang digunakan adalah kulit hewan dan kulit tumbuhan. Pada awalnya kulit hanya menjadi raw materials yang langsung di ekspor oleh Indonesia ke negara-negara maju, tetapi kemudian mulailah bermunculan sejumlah wirausaha-wirausaha kreatif yang menggunakan kulit sebagai bahan dasar pembuatan kerajinan sehingga meningkatkan nilai jual dari produk yang diciptakan. Sebelum kemudian muncul gagasan ekonomi kreatif, penduduk di Indonesia bahkan telah mempunyai budaya yang beberapa diantaranya menggunakan kulit hewan (ular, buaya, sapi, lembu) maupun kulit tumbuhan dalam membendakan sebuah budaya. Indonesia hingga saat ini kebanyakan dikenal sebagai negara yang menjadi tujuan pariwisata terutama Bali dan beberapa tempat lainnya seperti Jogja, Toraja, dan Raja Ampat. Sektor pariwisata memang memberikan kontribusi besar bagi pendapatan negara, tetapi diperlukan sektor-sektor lain yang harus dikenalkan Indonesia ke luar negeri agar dapat meningkatkan posisi Indonesia sebagai negara berkembang. Pertumbuhan ekonomi Indonesia memunculkan peluang bagi negara-negara lain untuk melihat Indonesia sebagai komsumen atau pasar, sedangkan dari dalam negeri sendiri, Indonesia sedang menggalakan program kecintaan terhadap produk-produk asli Indonesia. Hal ini berarti bahwa terdapat perbedaan persepsi bagaimana negara-negara lain memandang indonesia sebagai pasar atau konsumen; di dalam negeri sendiri, fenomena konsumeristis memang masih terlihat seiring globalisasi dan interdependensi. Namun, hal ini akan berdampak buruk bagi penguatan ekonomi nasional sehingga Indonesia kemudian memunculkan “ekonomi kreatif” sebagai kekuatan indonesia yang ditunjang oleh kreativitas para wirausaha-wirausaha yang bergerak untuk menciptakan 1 produk-produk Indonesia yang mempunyai nilai jual yang tinggi sehingga dapat dijual ke luar negeri maupun menarik datangnya turis/wisatawan ke Indonesia. Pertumbuhan sektor ekonomi kreatif Indonesia telah mencapai 5,76%, sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan nasional yakni sebesar 5,74%. Hal ini ditunjang oleh kinerja Kemenparekraf melalui upaya strategis untuk mempromosikan daya tarik pariwisata dan industri kreatif guna mendatangkan turis. Pemerintah pun telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 27 tahun 2013 tentang Pengembangan Inkubator Wirausaha yang telah diundangkan pada April 2013. Tujuannya untuk menciptakan dan mengembangkan usaha baru yang mempunyai nilai ekonomi dan berdaya saing tinggi. Selain itu juga untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya manusia terdidik dalam menggerakkan perekonomian dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi (Warta Ekonomi 2013). Adapun data dari Kementerian Koperasi dan UKM mencatat hingga saat ini jumlah wirausaha di Tanah Air telah mencapai 1,56 persen dari total jumlah penduduk. Sementara Asosiasi Inkubator Bisnis Indonesia (AIBI) menyebutkan bahwa jumlah wirausaha Indonesia baru 0,18 persen atau 400.000 orang, padahal jumlah idealnya mesti di atas 4,4 juta orang. Sebagai perbandingan, Amerika Serikat memiliki wirausaha mencapai 11,5 persen dari jumlah penduduk, China 10 persen, Jepang 8 persen, Singapura 7,2 persen dan Malaysia 4 persen (Warta Ekonomi 2013). Instrumen yang kemudian digunakan untuk mencapai kepentingan nasional Indonesia dalam hal ini yaitu mengenai upaya meningkatkan sektor ekonomi kreatif indonesia adalah diplomasi publik. Potensi Indonesia dalam sektor ekonomi kreatif terutama melalui produk-produk yang dihasilkan oleh para wirausaha adalah bentuk soft power yang dapat menarik perhatian publik di luar negeri. Selain karena uniknya kerajinan kulit ini, juga karena kekayaan budaya, kearifan lokal, dan pariwisata Indonesia yang menjadi ide-ide dibalik pembuatan kerajinan tersebut. Diplomasi publik bertujuan untuk menjembatani persepsi domestik dan internasional, serta mempengaruhi perilaku dari negara bersangkutan dan memfasilitasinya. Pembentukan citra Indonesia di luar negeri adalah penting seiring dengan globalisasi dan sejumlah agenda internasional yang kemudian akan menjadi ancaman atau bahkan peluang bagi indonesia misalnya saja ASEAN Community pada tahun 2015 2 nanti. Membentuk persepsi bagi masyarakat Internasional bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia bukan berarti Indonesia dianggap lemah karena semakin tingginya tingkat konsumsi, tetapi disisi lain tingkat produksi pun meningkat dengan adanya “ekonomi kreatif”. Hal ini penting karena secara internal akan ada penguatan produk-produk lokal baik dari masyarakat dan pemerintah untuk mendukung kerajinan tersebut, dan secara eksternal maka akan memunculkan kekuatan Indonesia melalui nila-nilai budaya, kearifan lokal, dan pariwisata yang dikemas dalam hasil produksi kerajinan kulit tersebut. 1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang kemudian muncul adalah : “Mengapa wirausaha kerajinan berbahan baku kulit dianggap merupakan „ekonomi kreatif‟ Indonesia yang mampu membentuk persepsi kekuatan perekonomian Indonesia di luar negeri melalui diplomasi publik?” 1.3. Tujuan dan Manfaat 1.3.1. Tujuan a. Makalah ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana diplomasi publik indonesia dalam ranah ekonomi kreatif terutama melalui wirausaha kerajinan berbahan baku kulit b. Mengangkat nilai-nilai budaya, kearifan lokal, dan pariwisata Indonesia melalui produk-produk kerajinan berbahan baku kulit sebagai nilai tawar Indonesia yang akan berdampak pada peningkatan jumlah kunjungan turis/wisatawan ke Indonesia 1.3.1. Manfaat a. Memberikan wawasan teoritis dan aplikatif dari diplomasi publik dan ekonomi kreatif bagi penstudi hubungan internasional terutama bagaimana Indonesia menyikapi perkembangan ekonomi internasional saat ini b. Menumbuhkan rasa cinta tanah air melalui produk-produk lokal Indonesia atas ide-ide budaya, kearifan lokal, dan pariwisata Indonesia. 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. New Public Diplomacy Konsep diplomasi publik (public diplomacy) tidak memiliki pengertian yang sama sekali baru. Melissen (2005) menyebutnya sebagai „old wines in new bottle‟. Pengertian ini bisa disebut demikian karena Pemerintah sebenarnya telah lama menyadari kebutuhan untuk mempengaruhi opini publik di negara-negara asing, bahkan sejak jaman Abad Pertengahan (Melisen, 2005: 3). Ada banyak ide yang terikat dalam konsep diplomasi publik. Melissen (2005) meneliti tiga konsep: propaganda, nation branding dan hubungan budaya asing/luar negeri (foreign cultures relations), dengan catatan bahwa dua konsep pertama merupakan "tentang komunikasi informasi dan ide-ide untuk publik asing/luar negeri dengan maksud untuk mengubah sikap mereka terhadap negara mereka sendiri agar nantinya memperkuat keyakinan yang sudah ada" dan satu terakhir "secara tradisional dekat dengan diplomasi, meskipun jelas berbeda, tetapi perkembangan terakhir di kedua bidang mengungkapkan ketumpangtindihan di antara keduanya" (Melissen, 2005: 16). Meskipun begitu, tampaknya diplomasi publik baru (new public diplomacy) bergerak lebih dekat dengan gagasan hubungan budaya (cultural relations) dan jauh dari peran propaganda dan nation branding sehingga organisasi-organisasi internasional dan pemerintah nasional harus mengakui dan memahami perubahan ini jika mereka untuk secara efektif mempengaruhi publik asing (Brown, 2007). Apa itu diplomasi publik baru yang dimaksud? Berbeda dengan pemikiran diplomasi publik permulaan, diplomasi publik baru telah memperluas peran publik dari yang pada mulanya bersifat pasif atau sebagai target menjadi juga bersifat aktif atau sebagai pelaku. Praktisi diplomasi publik lama biasanya adalah wartawan dan atau atase kebudayaan dalam misi diplomatik (McClellan, 2004). Untuk selanjutnya, kita akan mengacu kedua kalangan tersebut sebagai "diplomat publik." Dia harus memanfaatkan sumber daya manusia dan keuangan yang terbatas untuk memenuhi tujuan diplomasi 4 publik dari misi diplomatik. Pemikiran McClellan (2004) ini memperlihatkan hubungan antara tujuan (objectives) kebijakan luar negeri dengan diplomasi publik secara hierarkis. Diplomat publik maka harus mempertimbangkan tujuan kebijakan luar negeri negara yang ia wakili di negara target di mana dia ditugaskan, mengevaluasi sumber daya manusia, teknis, dan keuangan yang tersedia baginya, dan kemudian mengembangkan strategi diplomasi publik yang terbaik akan menciptakan lingkungan pendapat masyarakat di negara target yang akan memungkinkan para pemimpin negara itu untuk membuat keputusan yang diinginkan oleh pemerintah yang diwakili sendiri. Jelas, praktik diplomasi publik edisi lama ini masih didominasi oleh peran aktor-aktor pemerintahan. Diplomasi publik baru (new public diplomacy) menurut Brian Hocking (2005) ditandai dengan adanya dua model diplomasi publik: tradisional-pendekatan hirarkis (hierarchial approach) dan baru- pendekatan berbasis jaringan (network-based approach). Pendekatan berbasis jaringan inilah yang menjadikan konsep cultural relations lebih relevan karena pendekatan ini bersifat "jalan dua arah" atau two-way street (Melissen, 2005: 18): tidak seperti propaganda yang bersifat satu arah. Meskipun begitu, sinergitas di antara para pelaku dari aktor negara dan aktor non-negara harus tetap mengarah pada tujuan kebijakan luar negeri merupakan syarat utama. Tampaknya ada lebih dan lebih banyak dukungan untuk gagasan bahwa masa depan kerja sama internasional untuk perdamaian dan pembangunan dapat hanya benarbenar dapat dicapai melalui kerjasama murni dan nilai-nilai bersama dan ini tidak pernah dapat ditegakkan dengan sukses dalam cara hirarkis (Brown, 2007). Kinerja hubungan budaya (cultural relations) sering dianggap sebagai metode yang bersifat „soft‟ dalam memengaruhi publik, berbeda dengan tindakan militer yang bersifat „hard‟. Ini perkembangan baru dalam diplomasi publik, di satu sisi, tampaknya membuat „soft power‟ bahkan lebih soft (Brown, 2007). 2.2. New Media New media berkembang pertama kali sejak tahun 1980-an yang diawali oleh peralihan dari media komunikasi sebelumnya yang menggunakan media cetak seperti koran serta media elektronik seperti radio dan televisi. New media sendiri didefinisikan sebagai “the forms of communicating in digital world, which includes publishing on 5 CDs, DVDs and most significantly, over the internet. It implies that the user obtains the material via desktop and laptop computers, smartphones and tablets” (PCMAG, 2013). Dalam hal ini, new media juga disebut sebagai media digital di mana bentuk penyampaian pesan serta informasi dengan menggunakan kemajuan teknologi pada bidang komunikasi yang mengedepankan komunikasi tipe digital seperti internet. Globalisasi merangsang intensitas komunikasi dan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, di mana hal tersebut turut mendorong terjadinya revolusi media, from the old to the new one. Perbedaan antara traditional media dengan new media terletak pada penggunaan medium sebagai alat penyampai pesan maupun informasi kepada publik atau masyarakat luas, di mana medium new media lebih kepada produk teknologi yang bersifat digital. Sedangkan new media theory dikembangkan pada tahun 1990-an, berkenaan semakin meningkatnya kualitas dan kuantitas penggunaan medium dari new media serta turut didukung dengan munculnya pemahaman bahwa adanya keterkaitan antara interactivity dengan new media, di mana interactivity merupakan karakteristik deskriptif dari new media. Dalam hal ini, definisi interactivity itu sendiri merupakan “an expression of the extent that in a given series of communication exchanges, any third (or later) transmission (or message) is related to the degree to which previous exchanges referred to even earlier transmissions” (Kiousis, 2002). Interacitivy dilihat sebagai suatu bentuk interaksi maupun komunikasi antara manusia dengan mesin (between humans and machines) atau antara manusia dengan manusia melalui mesin (humans and humans via machines) (Rice, 1984). 2.3. Information Society Information Society adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan tahap terbaru dari sejarah sosial. Pada abad ke-20 negara yang paling berkembang secara bertahap memasuki keadaan masyarakat informasi dan diharapkan bahwa dalam hitungan beberapa dekade mayoritas populasi dunia akan hidup dan bekerja dalam ranah information society secara global (Karvalics,2008:45). Theories of the Information Society berkaitan dengan perkembangan serta inovasi teknologi informasi dan komunikasi, di mana media informasi dan komunikasi berbentuk digital. Hal tersebut pada akhirnya mengalihkan bentuk informasi dan komunikasi kepada computer 6 communications yang berkaitan dengan e-mail, data dan text communications, maupun pertukaran informasi secara online (Webster, 2006). Frank Webster dalam bukunya Theory of Information Society mengatakan bahwa salah satu kriteria yang dapat menggambarkan information society adalah teknologi (Webster,2006:8). Teknologi yang terus berevolusi merupakan salah satu indikator yang paling terlihat dari kemunculan era baru, dan juga sebagai penanda eksistensi dari masyarakat informasi. Revolusi teknologi informasi menyebabkan tersebarnya teknologi komunikasi secara signifikan dan hal tersebutlah yang kemudian menginsiprasi terciptanya masyarakat baru (Webster, 2006: 10). Dalam hal ini maka tidak ada batasan satu individu dengan individu lain dalam mengakses informasi maupun melakukan komunikasi. Teori ini juga berbicara tentang bagaimana inovasi dalam media teknologi berdampak pada masyarakat, selain itu perkembangan media teknologi dianggap membawa pengaruh sosial yang lebih kuat kepada masyarakat dibandingkan dengan eksistensi budaya dalam suatu masyarakat. Teori ini menekankan bahwa media teknologi yang semakin berkembang, dan dalam hal ini perkembangan media teknologi mengacu pada inovasi teknologi informasi dan komunikasi digital membawa pengaruh serta dampak positif kepada masyarakat (Audenhove, 2004). Atas inovasi dan bentuk media teknologi digital dianggap memperluas jaringan dan meningkatkan intensitas aktivitas masyarakat tanpa harus berbenturan dengan batasan-batasan tertentu. Sehingga masyarakat dapat disebut sebagai network society (Pendit, 2006). Terbukanya akses informasi dan komunikasi pada akhirnya lah yang membentuk inti theory information society. Menurut Marshall McLuhan (1964) teori ini berfungsi untuk menganalisis dampak media teknologi pada suatu masyarakat. Dia mengatakan bahwa dari segi konteks historical, media teknologi memiliki efek sosial yang lebih pada berbagai budaya dan masyarakat yang berbeda. 2.4. Enterpreneurship Pengertian Kewirausahaan berasal dari kata enterpteneur yang berarti orang yang membeli barang dengan harga pasti meskipun orang itu belum mengetahui berapa harga barang yang akan dijual. Wirausaha sering juga disebut wiraswasta yang artinya sifat-sifat keberanian, keutamaan, keteladanan dalam mengambil resiko yang bersumber pada kemampuan sendiri. Meski demikian wirausaha dan wiraswasta sebenarnya 7 memiliki arti yang berbeda. Wiraswasta tidak memiliki visi pengembangan usaha sedangkan wirausaha mampu terus berkembang dan mencoba usaha lainnya. Sedangkan menurut Robin, kewirausahaan adalah suatu proses seseorang guna mengejar peluangpeluang memenuhi kebutuhan dan keinginan melalui inovasi tanpa memperhatikan sumber daya yang mereka kendalikan. Wirausahawan atau entrepreneur juga diartikan sebagai seorang penemu bisnis yang sama sekali baru dan mampu mengembangkan menjadi perusahaan yang mencapai kesuksesan. Richard Cantillon, orang pertama yang menggunakan istilah entrepreneur di awal abad ke-18, mengatakan bahwa wirausahawan adalah seseorang yang menanggung risiko. Wirausaha dalam mengambil tindakan hendaknya tidak didasari oleh spekulasi, melainkan perhitungan yang matang. Ia berani mengambil resiko terhadap pekerjaannya karena sudah diperhitungkan. Oleh sebab itu, wirausaha selalu berani mengambil resiko yang moderat, arti nya resiko yang di ambil tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Keberanian menghadapi resiko yang didukung komitmen yang kuat, mendorong wirausahawan untuk terus berjuang mencari peluang sampai memperoleh hasil. Hasilhasil itu harus nyata/jelas dan objektif, dan merupakan umpan balik (feedback) bagi kelancaran kegiatannya (Winardi, 2008). Kewirausahaan diihat sebagai sebuah institusi kemasyarakatan yang mengandung nilai-nilai dan dinyatakan dalam perilaku. Nilai dan perilaku ini yang menjadi dasar, sumber daya, tenaga, tujuan, siasat, kiat, proses dan hasil wirausaha. Pendekatan makro diambil dari faktor lingkungan dan sosiologis seperti yang dijabarkan oleh model Carol Moore bahwa kebijakan sebuah pemerintah dapat bertujuan untuk membina dan mengembangkan budaya kewirausahaan dan ketersediaan serta kesiapan sumber daya di masyarakat sendiri yang mana dalam arti fisik dan mental akan menentukan ruang lingkup, intensitas dan profil perilaku kewirausahaan. Nilai kewirausahaan terjadi dalam konteks masyarakat dan budaya. Berbagai lingkungan yang mengikutsertakan berbagai entitas dan berbagai jaringan sosial-ekonomi, sosialpolitik, dan sosial-budaya. Nilai tersebut merepresentasikan beragam kepentingan dan banyak pihak terlibat di dalamnya baik yang berisfat intrinsik ataupun instrumental (Pinayani, 2006:5). 8 Global Enterpreneurship Monitor (GEM) merupakan sebuah media yang telah menemukan bukti konkrit adanya korelasi antara kewirausahaan dan pembangunan ekonomi yang mampu menciptakan negara sejahtera. Wirausaha memiliki peran dalam membentuk keunggulan kualitas, mengorganisasikan sumber daya yang diperlukan dalam menciptakan nilai lebih yang mengunutngkan. Wirausaha berupaya mengurangi tingkat kebergantungan terhadap orang lain, meningkatkan kepercayaan diri, dan meningkatkan daya beli pelakunya. Jika dilihat sebagai entitas dari sub-sektor daari sebuah negara, wirausaha menjadi inisiator dalam penyedian lapangan kerja bagi warga warga negara sebuah negara. Dengan optimalisasi labour extensive menjadikan tenaga kerja berpeluang mengurangi pengganguran yang berafeksi pada naiknya pendapatan perkapita dan daya beli masyarakat serta tumbuhnya perekonomian bangsa yang menggambarkan korelasi instrumen kebijakan ekonomi dengan kapabilitas sebuah negara, dimana kewirausahaan dapat meningkatkan Gross Domestic Product (GDP) dan peningkatan kualitas masyarakat (Quality of civil society) (Affandi, 2013). 9 BAB III FORMULASI PROYEKSI 3.1. Sentra Indsutri Sepatu Cibaduyut Sebagai Salah Satu Potensi Ekonomi Kreatif Daerah Menghadapi ASEAN Economic Community 2015, Indonesia harus segera bersiap-siap. Salah satunya dengan cara mengambangkan sektor ekonomi kreatif. Sektor ekonomi kreatif memiliki nilai yang strategis bagi Indonesia. Dari Laporan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di tahun 2012, ekonomi kreatif telah berkontribusi menciptakan devisa melalui net trade hingga mencapai 6,91% dari total nasionalnya, atau senilai Rp. 115 triliun (. Ekonomi kreatif sangat diandalkan dalam upaya meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB), penciptaan iklim bisnis yang positif, mengangkat citra dan identitas bangsa, mendorong terciptanya inovasi dan memberikan dampak sosial yang positif. Dalam pengembangannya, ekonomi kreatif nasional tidak dapat dilepaskan dari peran serta ekonomi kreatif di daerah. Oleh karena itu, perkembangan ekonomi kreatif yang ada di daerah sangat penting untuk dilakukan demi mensukseskan sektor ekonomi kreatif nasional. Namun dalam perkembangannya, ekonomi kreatif daerah terhalang oleh masalah promosi dan pemasaran (Sindonews, 2013). Padahal promosi dan pemasaran adalah bagian yang sangat penting untuk mendorong perluasan target pasar. Persoalan ini bukan hanya menjadi permasalahan pemerintah, namun dukungan masyarakat juga sangat diharapkan di sini. Atas dasar itulah melalui makalah ini kami mencoba menyusun strategi komunikasi guna membantu pemerintah dalam mempromosikan sektor ekonomi kreatif daerah. Dalam project ini kami mengangkat salah satu ekonomi kreatif daerah yang sangat potensial yakni sentra industri Cibaduyut. Sepatu Cibaduyut merupakan salah satu produk dalam negeri yang sudah secara turun temurun berkembang sejak awal tahun 1920an. Sentral penghasil sepatu Cibaduyut berada di lokasi selatan kota kembang, Bandung, Jawa Barat. Sepatu Cibaduyut memiliki potensi yang dapat dijadikan daya tarik untuk mejadi salah satu sektor ekonomi kreatif daerah unggulan bagi Indonesia. Pendapat ini di-amini pula oleh benyak public figure seperti Jusuf Kalla dan Ridwan Kamil. Potensi yang dimiliki sepatu Cibaduyut adalah menggunakan kulit asli sebagai bahan dasar pembuatan sepatu, alas sepatu menggunakan busa karet asli, empuk dan tidak mudah rusak, pengerjaan dilakukan dengan cara handmade dengan 10 jaminan kerapihan jahitan dan daya rekat lem yang lebih terkontrol karena sebelum dilakukan pemasaran dilakukan quality control yang sangat teliti. Pendapatan produksi sepatu Cibaduyut juga terbilang cukup tinggi. Dalam setahunnya sepatu Cibaduyut memiliki omzet hingga Rp. 23 miliar (Budiana, 2011). Namun sayangnya promosi dan pemasaran sentra industri Cibaduyut ini masih sangat minim dan terbatas pada dalam negri. Padahal jika promosi dan pemasaran sentra industri Cibaduyut ditingkatkan, maka tidak menutup kemungkinan omzet yang dihasilkan akan jauh lebih besar. Masalah ini kemudian menggerakkan kami untuk ikut membantu sentra industri Cibaduyut dalam mempromosikan produknya bukan hanya ke dalam negeri tapi juga ke luar. Salah satu instrumen yang kami pergunakan adalah new media berupa pemanfaatan media sosial. Saat ini efektivitas media sosial tidak dapat diragukan lagi. Selain mudah mengaksesnya, media sosial juga tidak memerlukan biaya besar. Di antara berbagai media sosial yang populer di masyarakat, kami memilih Youtube untuk menjalankan project kami. Youtube dipilih dalam project ini karena memiliki kelebihan jika dibandingkan dengan media sosial lainnya. Youtube menyajikan informasi secara visual dan audio mengenai produk yang hendak dipromosikan dan Youtube juga merupakan jalan pintas menuju media sosial lain yang memudahkan promosi lintas media. 3.2. Motif Pembuatan Proyek New media merupakan sarana yang tepat untuk menyampaikan pesan dan informasi melalui media digital. Karakternya yang merupakan bentuk digital tentu memudahkan dalam bertukar informasi dan berbagai kegiatan lainnya. New media menjadi sebuah solusi baru bagi pertukaran informasi di era modern saat ini, berkenaan dengan semakin berkembangnya globalisasi yang meningkatkan intensitas aktivitas pertukaran informasi melalui media digital dibandingkan dengan media tradisional yang terdiri dari media cetak (koran, majalah) dan media elektronik (televisi, radio). Motif dari pembuatan proyek melalui video atau film pendek ini berupaya mencapai dua tujuan yang berkenaan dengan upaya pertukaran informasi dan penyampaian pesan dibalik informasi yang diberikan kepada publik. Pertama adalah menginformasikan mengenai home industry Cibaduyut, Bandung, Indonesia, di mana produk yang dihasilkan bersifat potensial dan siap untuk bersaing dengan produk asing. Melalui media video ini, informasi mengenai home industry Cibaduyut akan lebih 11 mudah tersampaikan karena menampilkan audio visual yang akan lebih mudah dikonsumsi oleh masyarakat. Video ini dibuat dalam rangka menggambarkan salah satu bentuk wiraswasta khususnya di bidang sepatu dimana sebenarnya memiliki daya saing yang baik, baik denga produk lokal maupun dengan produk luar negeri. Home industry Cibaduyut ini diharapkan dapat menjadi produk yang unggul bila didukung dan mendapat perhatian lebih baik dari masyarakat luas maupun pemerintah setempat. Berkaitan dengan hal tersebut, maka penyampaian pesan melalui media video singkat dalam project ini pun menjadi pilihan yang tepat. Dengan adanya tampilan visual yang menarik, tentu saja pesan-pesan dan promosi yang menjadi tujuan utama project ini akan lebih mudah tersampaikan. Kedua adalah berupaya menyampaikan pesan melalui media digital yang berkenaan dengan upaya pencapaian sasaran dari diplomasi publik, yaitu menciptakan suatu persepsi di mana Indonesia merupakan negara yang berpotensi dan mandiri secara perekonomian melalui adanya home industry yang berkualitas. Melalui video yang nantinya akan diunggah kedalam situs berbagi video terbesar, masyarakat Indonesia dan internasional akan mendapatkan preferensi baru mengenai Indonesia yang berpotensi dan mandiri secara perekonomian. Pada akhirnya kedua tujuan tersebut mengerucut pada tujuan di manaIndonesia berupaya membangun negaranya sebagai negara yang mandiri secara perekonomian dan pemenuhan kebutuhan melalui produk yang dihasilkan dari home industry, dan berupaya meruntuhkan persepsi dependensi Indonesia terhadap produk asing. Persepsi atas individu atau negara akan dengan mudah ditentukan oleh transaksi informasi. Karen aitulah, disini new media diharapkan dapat menjawab tantangan bagi diplomasi publik Indonesia untuk lebih kreatif dan inovatif dalam melakukan transaksi informasi, dalam hal ini yakni penginformasian mengenai home industry Cibaduyut yang merupakan bentuk ekonomi kreatif yang sangat potensial di Indonesia. Mengingat tidak sedikit negara yang juga berupaya merebut perhatian publik dunia. Dalam hal ini, diplomasi publik melalui new media dianggaps ebagai langkah yang tepat untuk mencapai dua aspek penting, yaitu menyebarkan informasi dan menyampaikan pesan dibalik informasi tersebut. 12 3.3. Momentum Pembuatan Proyek Di mata dunia internasional, kapabilitas ekonomi Indonesia seringkali dipandang sebelah mata. Ketidakselarasan jumlah lapangan pekerjaan, jumlah penduduk yang terus berkembang, serta kualitas sumber daya manusia menjadikan tingginya tingkat pengangguran dan kemiskinan. Masalah yang dimiliki oleh Indonesia ini sebenarnya dapat ditanggulangi melalui pengembangan bidang ekonomi kreatif, khususnya kewirausahaan. Kewirausahaan (entrepreneurship) memungkinkan seseorang untuk menciptakan pekerjaan bagi dirinya sendiri dan bahkan membuka lapangan kerja bagi yang lain sehingga solutif untuk mengatasi masalah pengangguran dan kemiskinan. Ada suatu pernyataan menarik dari David Mclelland mengenai jumlah wirausaha dan pengaruhnya terhadap tingkat kemajuan suatu negara. Dia mengatakan bahwa negara dapat dikatakan maju apabila 2% dari jumlah penduduknya merupakan wirausahawan. (Saragih, 2012) Namun, pada saat ini jumlah wirausaha di Indonesia hanya berkisar pada 570.339 orang atau 0,24% dari total penduduk (237,64 juta jiwa) (STIE Ekuitas, 2013). Padahal berdasarkan survei Bank Dunia pada 2008, jumlah wirausahawan di Malaysia sudah mencapai 4 persen, Thailand 4,1 persen, dan Singapura 7,2 persen (Aini, 2012). Jumlah survei tersebut bila dikaitkan dengan pendapat David Mclellan, maka dapat disimpulkan bahwa Indonesia belum dapat dikatakan sebagai negara maju karena rendahnya angka wirausaha. Hal yang menyebabkan Indonesia tertinggal jauh dibandingkan dengan negaranegara lainnya adalah kurangnya semangat dan motivasi yang dimiliki oleh penduduk Indonesia untuk berinovasi dalam ide menciptakan lapangan kerja yang baru. Sebagian besar penduduk memilih untuk memanfaatkan lapangan kerja yang ada. Namun, hal ini justru menyebabkan jumlah pengangguran semakin meningkat karena kecepatan pertumbuhan penduduk dan lapangan kerja tidak seimbang. Sebenarnya bila diperhitungkan mungkin jumlah penduduk Indonesia yang mencoba untuk berwirausaha sudah mencapai 2%. Namun, pada kenyataannya yang bertahan menjadi wirausaha hanya sekitar 0,24%. Hal ini menunjukan ketidak konsistenan dan kurangnya daya juang dari para calon wirausahawan. Saat ini adalah saat yang tepat bagi Indonesia untuk mulai memperlebar sayap di bidang entrepreneurship. Hal ini dikarenakan di masa globalisasi ini, dimana teknologi informasi dan komunikasi berkembang dengan pesat dan canggih, memperkenalkan dan 13 memasarkan produk-produk hasil kewirausahaan anak negeri bukanlah hal yang sulit lagi, Apalagi dengan adanyaASEAN Economic Community (AEC) pada tahun 2015. AEC merupakan momentum yang akan sangat menguntungkan para entrepreneur Indonesia, khususnya untuk memperkenalkan produk-produk lokal hasil karya anak negeri ke negara-negara tetangga kita sendiri. ASEAN yang memiliki populasi lebih dari 600 juta lebih, merupakan pasar yang sangat potensial bagi barang-barang produksi Indonesia. Dengan adanya AEC, tentu sistem informasi di antara negara ASEAN akan bersifat lebih terbuka, yang berdampak pada peningkatan pengetahuan dan kerja sama strategis di antara negara-negara ASEAN. Hal ini akan didukung oleh perluasan jaringan teknologi hingga daerah yang terpencil, dan tentunya meningkatkan kesempatan berbisnis dan perluasan networking parawirausahawan. Di samping itu, AEC juga mempermudah akses perdagangan antarnegara ASEAN dengan adanya penghapusan bea masuk untuk mewujudkan sebuah single market. Semua ini adalah peluang bagi para wirausahawan Indonesia untuk mulai berani mempromosikan dan memasarkan produk-produk lokal ke kawasan Asia Tenggara. Para wirausahawan Indonesia hanya tinggal berusaha mencari dan menemukan ide-ide baru yang dapat dijadikan komoditas dan bermanfaat bagi masyarakat banyak. Tidak perlu jauh-jauh, Indonesia sangat kaya akan keragaman budayanya, dan hal itu dapat dimanfaatkan sebagai salah satu inspirasi usaha yang akan dilakukan. Salah satu contohnya adalah komoditas-komoditas fashion berbahan kulit yang dibuat dan diproduksi oleh Indonesia, khususnya produk yang ada di dalam proyek kami ini. Potensinya sangat besar, namun sayangnya Indonesia belum begitu intens dalam mempromosikan komoditas kulit hasil karya anak negeri, padahal kualitasnya pun tidak kalah dengan produk-produk luar. Karena itulah, memanfaatkan momentum ini, kami berusaha untuk membangun kesadaran mengenai potensi besar produk lokal Indonesia, khususnya produksi fashion kuli tdalam negeri yang dimiliki oleh Indonesia kepada masyarakat Indonesia dan masyarakat internasional melalui salah satu instrumen kebijakan luar negeri yaitu diplomasi publik dengan memanfaatkan new media yang saat ini telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat internasional, seperti Youtube dan media sosial lainnya. Melalui proyek yang merupakan salah satu implementasi dari diplomasi publik ini, diharapkan masyarakat Indonesia menjadi termotivasi untuk melakukan wirausaha 14 dan tidak takut untuk berkreasi dan menuangkan ide-ide nya untuk membentuk sesuatu yang baru, memiliki kualitas, serta nilai jual yang tinggi. Selain itu, kami berharap masyarakat internasional mulai membuka mata nya terhadap kewirausahaan Indonesia dan menyadari bahwa produk-produk hasil kreasi wirausahawan Indonesia memiliki nilai kreatif serta layak untuk menjadikomoditaskomersil. Pada akhirnya kami pun berharap bahwa proyek ini dapat meningkatkan reputasi ekonomi Indonesia di mata internasional, khususnya di bidang ekonomi kreatif. 3.2. Rekomendasi Ide dan Konten Video  Ide Karena praktikum profesi yang akan dijalankan mengenai diplomasi publik, maka video menjadi instrumen yang efektif untuk menginformasikan produk yang akan diangkat dan dikenalkan ke masyarakat luas. Video berdurasi maksimal lima menit. Untuk itu, maka yang ingin diangkat dalam video ini adalah produk lokal karya anak bangsa.  Konten Memperlihatkan produk mulai dari proses pembuatan, wawancara singkat dengan narasumber, serta mengupas potensi yang dapat digali dari produk yang diangkat. Latar tempat berada di pusat tempat produk itu sendiri dibuat. Namun jika memungkinkan dicari tempat yang strategis sekaligus memungkinkan untuk mengenalkan produk.  Rekomendasi Video 1. Motif awal-awalnya/pembukaannya, seperti : http://www.youtube.com/watch?v=XryBe2NXoOY 2. Diperlihatkan terlebih dahulu peragaan busana dari inovasi batik misalnya sumbernya seperti Zainal Songket, Dian Pelangi, atau narasumber sesuai. http://www.youtube.com/watch?v=K8Iggg_nQYY 3. Baru masuk ke wawancara narasumber Sumber-sumber rekomendasi video lainnya : http://www.youtube.com/watch?v=IegoC4LhXbA 15 DAFTAR PUSTAKA Books and Papers: Brown, Eleanor (2007) Education, Training and the New Public Diplomacy [Accessed 29/11/2013] Hocking, Brian (2005) Rethinking the „New‟ Public Diplomacy dalam Melissen, Jan (Ed) The New Public Diplomacy New York: Palgrave Macmillan, 28 – 43. Karvalics,Z Laszlo (2008) Information Society – what is it exactly?DalamInformation Society From Theory to Political Practice (2008) GondolatKiadó: ÚjMandátum Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Tahun 2012. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI. Levine, Donald N. (1984) The Liberal Arts and the Martial Arts, Liberal Education, 1984, Vol. 70, No. 3. McClellah, Michael (2004) “Public Diplomacy in the Context of Traditional Diplomacy” accessed 29 November 2013. Melissen, Jan (2005) (Ed) The New Public Diplomacy New York: Palgrave Macmillan. Webster, Frank (2006) Theories of the Information Society, Third edition. NewYork: Routledge. Video: MAIRIZKI, DIO. (2013) Film Dokumenter (Trailer): Sisi Lain Batik “Kampoeng Laweyan, Solo [online video]. Available at: http://www.youtube.com/watch?v=IegoC4LhXbA [Accessed 18/12/2013] UFOENTERTAINMENT. (2013) Worldwide Culinary Motion Graphic [online video]. Available from: http://www.youtube.com/watch?v=XryBe2NXoOY [Accessed 18/12/2013] SEKRETARIATINDFASHIONWEEK. (2013) Indonesia Fashion Week 2013 – Fashion Parade Stylopedia part 2 [online video]. Available http://www.youtube.com/watch?v=K8Iggg_nQYY [Accessed 18/12/2013] 16 from: Internet: ABOUT THE EVENT (2011) The McLuhan centenary in Hungary. Mcluhan [WWW] Available from: http://mcluhan100.kibu.hu/?lang=en [Accessed 17/12/13] AFFANDI, D.Y. (2010) Kesiapan Usaha Kecil Menengah Di Indonesia DalamMenghadapi ACFTA Dan Pasar Tunggal Asean 2015.Jurnal demokrasi dan Ekonomi.Vol. 9, III.2010 [WWW] Available from: http://www.habibiecenter.or.id/download/JURNAL%20DEMOKRASI%20DAN %20HAM_Vol9_No1_2011.pdf [Accessed 17/12/2013] AINI, NUR (2012) Indonesia Krisis Wirausaha, Kalah dari Negara Tetangga [WWW] Available from: : http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/11/12/mdd8sl-indonesiakrisis-wirausaha-kalah-dari-negara-tetangga [Accessed 18/12/2013] ANGGODO, DITO (2010) Tantangan Indonesia [WWW] Available from: http://deeto88.wordpress.com/category/entrepreneurship/ [Accessed 18/12/2013] AUDENHOVE, LEO VAN (2004) Information Society Theory and the Developing World. Available from: http://guyberger.ru.ac.za/fulltext/Leo_IS_Theory.pdf [Accessed 17/12/13] BUDIANA, RISWAN (2011) omzet Sepatu Cibaduyut Capai Rp 23 Miliar Setahun [WWW] Detiknews. Available from: http://news.detik.com/bandung/read/2011/06/09/175640/1657063/486/omzetsepatu-cibaduyut-capai-rp-23-miliar-setahun. [Accessed 17/12/13]. ENCYCLOPEDIA OF COMMUNICATION THEORY (2012) New Media Theory [WWW] SAGE Publication. Available from: http://www.sagepub.com/edwards/study/materials/reference/77593_10.2ref.pdf [Accessed 18/12/13] IHSAN (2013) “Indonesia masih berupaya tingkatkan jumlah wirausaha. [WWW] Wartaekonomi. Available at: http://wartaekonomi.co.id/berita16992/indonesiamasih-berupaya-tingkatkan-jumlah wirausaha.html [Accessed 19/12/2013] 17 PENDIT, PUTU LAXMAN (2006). RagamTeoriInformasi. Eprints. Available from: http://eprints.rclis.org/10294/1/Ragam_Teori_Informasi.pdf [Accessed 17/12/13] PINAYANI, ANI (2006) ProspekMasaDepanKewirausahaan di Indonesia. Jurnal UPI. Available from: http://file.upi.edu/Direktori/FPEB/PRODI._EKONOMI_DAN_KOPERASI/196 20612198803ANI_PINAYANI/Jurnal/Jurnal_Ekop_Vol_1_No_1,_Januari_200 6.pdf [Accessed 17/12/2013] SARAGIH, ARION EUODIA (2012) Entrepreneur, Pengembangan Ekonomi [WWW] Available from :http://ekonomi.kompasiana.com/wirausaha/2012/10/10/entrepreneurpengembangan-ekonomi-494456.html [Accessed 18/12/2013] STIE EKUITAS (2012) Perkembangan Kewirausahaan di Indonesia [WWW] STIE Ekuitas.blog. Available from :http://stieekuitas.wordpress.com/2013/07/15/perkembangan-kewirausahaan-diindonesia/ [Accessed 18/12/2013] WINARDI, JAYA. (2008). EnterpreneurdanEnterpreneurship.[WWW]. Ejournal. Available from: http://repository.library.uksw.edu/bitstream/handle/123456789/2613/T1_212008 057_BAB%20II.pdf?sequence=3 [Accessed 17/12/2013] 18

Judul: Ekonomi Kreatif Indonesia Melalui Diplomasi Publik: Wirausaha Kerajinan Berbahan Baku Kulit

Oleh: Deden Habibi Ali Alfathimy


Ikuti kami