Asuhan Keperawatan Kritis Pada Pasien Dengan Ards (acute Respiratory Distress Syndrome

Oleh Maiza Dwi Lestari

8 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Asuhan Keperawatan Kritis Pada Pasien Dengan Ards (acute Respiratory Distress Syndrome

ASUHAN KEPERAWATAN KRITIS PADA PASIEN DENGAN ARDS (ACUTE
RESPIRATORY DISTRESS SYNDROME)
Maiza Dwi Lestari
2020
Abstrak
ARDS merupakan suatu gangguan sistem pernapasan pada seseorang yang dimana memiliki
mobiditas dan mortalitas yang sangat tinggi, dimana seseorang dengan ARDS ini sering
ditandai dengan adanya edema paru non-jantung yang dapat disebabkan oleh peningkatan
permaebilitas kapiler paru. Pada keperawatan kritis penting untuk mengetahui faktor resiko,
alat pengkajian dan protokol strategi apa yang digunakan untuk pencegahan ARDS ini .
Pembahasan
ARDS atau sindrom distress pernapasan merupakan gambaran sindrom klinis yang kompleks
dan menimbulkan resiko yang tinggi mortalitas. Keparahan proses klinis, ketidakpastian
hasil, dan ketergantungan pada spectrum lengkap sumber perawatan kritis untuk pengobatan
menjadi tantangan bagi seluruh tim perawatan kesehatan dan peran penting perawat dalam
keperawatan kritis ialah untuk deteksi dini dan pencegahan ARDS, oleh karena ini terkait
dengan ARDS maka penting bagi perawat keperawatan kritis untuk mengetahui faktor resiko,
alat pengkajian dan protokol serta srategi pencegahan (Morton et al., 2011, p. 770)
Dalam buku (M. Burns S, 2014, p. 275) menyebutkan bahwa ARDS memiliki morbiditas dan
mortalitas yang sangat tinggi, hal ini ditandai dengan adanya edema paru non-jantung yang
disebabkan oleh peningkatan permaebilitas kapiler alveolar. ARDS ini mempengaruhi paruparu dan hipoksemia yang refrakter terhadap oksigenasi yang menjadi ciri khas dari kondisi
ini.
Patofisiologi ARDS
Penyebab ARDS ini banyak dan bermacam-macam dimana sindrom ini disebabkan oleh
cedera paru yang langsung maupun tidak langsung yang bisa terjadi pada individu yang
sebelumnya kondisinya sehat dan berubah mengalami cedera. Cedera langsung pada ARDS
ini bisanya terjadi melalui aspirasi, infeksi paru, trauma toraks dan inhalasi toksik sedangkan
pada cedera tidak langsung yang menyebabkan ARDS ini ialah sindrom sepsis, luka bakar,
trauma, transfusi darah multiple, bypass jantung-paru, pankreatitis dan emboli lemak.
Kebanyakan pasien yang menderita ARDS ini memerlukan ventilasi mekanik untuk bernapas
(Morton et al., 2011, p. 771)

Proses patologi dari ARDS ini tidak terbatas pada endotelium paru saha tetapi hal ini
merupakan hasil perubahan epitelium paru dan jaringan vascular, serta perkembangan
membran hialin, peningkatan edema paru, dan gangguan pertukaran gas yang merupaak tanda
utama adanya ARDS, perubaha patologis ARDS ini secara langsung berghubungan dengan
kaskade kejadian yang disebabkan oleh pelepadsan mediator sel dan biokimia yang dimana
aktivitasi, interaksi dan kerja multisystem dari mediator biologis yang sangat kompleks
(Morton et al., 2011, p. 772)
Faktor Resiko ARDS
a. Cedera paru tidak langsung
-

Syok dengan berbagai etiologi

-

Sepsis

-

Hipotermia

-

Hipertermia

-

Overdosis obat

-

Koagulasi intravascular diseminata (disseminated intravascular coagulation, DIC)

-

Transfuse multiple

-

Bypass jantung-paru

-

Eklamsia

-

Luka bakar

-

Pankreatitis

-

Trauma nontoraks berat

b. Cedera paru langsung
-

Infeksi paru

-

Inhalasi toksik

-

Aspirasi (cairan lambung, hampir tenggelam)

-

Pneumonitis

Kriteria Sindrom Respons Inflamasi Sistemik (Systemic Inflammatory Response
Syndrome, SIRS)
SIRS ditandai dengan dua atau lebih hal berikut ini :
-

Suhu lebih dari 38

-

Frekuensi jantung lebih dari 90 kali/menit

-

Frekuensi pernapasan lebihd ari 20kali/menit atau tekanan karbon dioksida arteri
(PaCO2) kurang dari 32 mmHg

-

Hitung sel darah putih lebih dari 12.000 sel/mm 3 atau kurang dari 4000 sel/mm3
atau lebih dari 10% bentuk imatur (pita) (Morton et al., 2011, p. 771; Urden,
Stacy and Lough, 2018)

Pemeriksaan Yang Dilakukan Pada Pasien ARDS
1. Pemeriksaan diagnostik
Pada seluruh tahap ARDS ketergantungan pada pemeriksaan diagnostic adalah
hal yang paling penting, dimana pada tahap awal kebutuhan untuk menetapkan
penyebab harus membutuhkan pemeriksaan yang spesifik seperti kultur darah,
kultur lavase bronkoalveolar, dan CT Scan untuk abses (abses abdomen). Dan
pada tahap akhir, kewaspadaan lebih lanjut sangat dibutuhkan utnuk
melakukan interventi tatalaksana dini pada setiap infeksi nasokomial.
Pemantauan yang sacara berulang pada kimi darah rutin dan hematologi
dilakukan utnuk memastikan stabilitas dalam parameter metabolic dan
optimisasi fungsi yang ada.
2. Analisis gas darah
Perburukan pada gas darah arteri (AGD) dapat terjadi walaupun telah
dilakukan intervensi karena hal ini merupakan tanda utama dari ARDS, pada
awalnya hipoksemia (tekanan oksigen arteri atau PaO2 < 60 mmHg) dan dapat
membaik dengan adanya oksigen tambahan tetapi jika pada hipoksemia
refraktori ini tidak ada perbaikan pada PaO2 dengan oksigen tambahan dan
SaO2 yang rendah secara perssten dan pada akhirnya hal ini akan terjadi.
Penemuan pH arteri pada ARDS biasanya lebih rendah karena terjadi gagal
napas dan gagal ventilasi serta hipoksia jaringan, metabolism anaerobic dan
asidosis metabolik selanjutnya, dan kelebihan serta defisit basa mengikuti
kecenderungan yang sama, begantung pada tingkat hipoksia jaringan dan
organ.
3. Pemeriksaan radiografik
Pada fase awal ARDS perubahan radiografik dada biasanya sering diabaikan,
dan dalam beberapa hari temuan sinar-x dada juga menunjukkan bercak
infiltrate alveolar bilateral, yang biasanya pada lapang paru yang dependen,
karena itu hal ini sering disalah artikan sebaga edema paru kardiogenik.
Sejalan dengan waktu, infiltrate bercak berkembang menjadi infiltrate difus,
konsolidadi dan bronkogram udara. Pada pemeriksaan CT scan dada juga

menunjukkan area infiltrat dan konsolidasi jaringan paru dan juga sinar-x dada
setiap

hari

penting

dilakukan

untuk

mengevaluasi

secara

continue

perkembangan dan resolusi ARDS dan untuk pengkajian continue komplikasi
potensial terutama pada pneumotoraks.
4. Pengukuran pirau intrapulmonal
Pirau intrapulmonal ini merupakan tipe ketidakseimbangan ventilasi-perfusi. Pirau
intrapulomonal ini biasanya 3% sampai 5% ada pada semua individu tetapi pada
pasien dengan gagal napas yangparah dan ARDS berkaitan dengan pirau 15% atau
lebih karena telah terjadi perubahan perubahan patologis aliran darah, gangguan
endotel, dan kolaps alveolar. Dan ketika pirau intrapulmonal meningkat sampai
15% dan lebih maka intervensi yang dilakukan lebih agresif, termasuk juga
ventilasi mekanis dan diperlukan karena level pirau ini berkaitan dengan
hipoksemia berat dan dapat mengancam jiwa.

Asuhan Keperawatan Kritis Pada Pasien ARDS
1. Pengkajian
a. Identitas pasien (nama, jenis kelamin, usia)
b. Riwayat pada pendertia ARDS ini merupakan hal sangat penting dikarenankan
agar perawat dapat memberi informasi untuk menghilangkan penyebab presipitasi
yang dapat mengganggu respons mediator yang terjadi. Riwayat yang menyeluruh
juga mungkin tidak dapat seluruhnya karena penyebab dapat terjadi sebelum
pasien masuk ruang perawatan. Hal ini merupakan sindrom akan gambaran hasil
yang tidak pasti dan sering kali adanya perawatan yang lama di unit perawatan
kritis dan oleh karena itu, tim perawatan kesehatan berperan penting dalam
memberi dukungan kepada pasien dan keluarga dan harus dapat membina
hubungan secara dini mungkin dengan meluangkan waktu kepada keluarga untuk
mendapatkan riwayat kesehatan secara menyeluruh karena hal ini berperan
penting dalam proses keperawatan
c. Pemeriksaan fisik
Pada pasien dengan gagal napas akut awalnya dapat terjadi dalam beberapa jam
sampai beberapa hari karena hal ini tergantung pada cedera awal dan tidak selalu
berkembang menjadi ARDS
d. Pemeriksaan Klinis

1) Pasien mengalami dispnea, takipnea (frekuesni sering >40 x/menit)
2) Retraksi interkostal
3) Sekresi berlebihan
4) Panic
5) Takut akan kematian yang akan datang
6) Mengi
7) Pemeriksaan diagnostic rontgen menunjukkan infiltral paru bilateral yang
menyebar tanpa peningkatan ukuran jantung, Pao/FiO kurang dari atau sama
dengan 300 mmHg, kepatuhan statis (volume tidal/tekanan dataran tinggi
inspirasi PEEP) <40 mL/cm H2O (M. Burns S, 2014, p. 276)
e. Penatalaksanaan untuk pasien ARDS
Tindakan keperawatan yang biasanya dilakukan untuk pasien ARDS adanya
oksigenasi dan ventilasi mekanik
f. Diagnosa keperawtaan
1) Gangguan pertukaran gas
2) Penurunan curah jantug
3) Hipovolemia
4) Hambtan mobilitas fisik
5) Gangguan integritas kulit
6) Defisit nutrisi
7) Nyeri akut
g. Intervensi Keperawatan
Diagnosa

Output

Intervensi

Keperawata
n
Gangguan

-

Kepatenan

jalan

pertukaran

napas

akan

gas

dipatenkan
-

Strategi

-

suara

napas setiap 2-4 jam
-

ventilasi

Auskultasi
Lakukan

intubasi

untuk

proteksi

mempertahankan

-

Risiko alektasis

oksigenasi

dan

-

Memaksimalkan

ventilasi

dan

oksigen

mengurangi

jalan

napas
-

Lakukan pengisapan
jalan

napas

endotrakeal
-

Pantau tekaan jalan
napas

-

Berikan
bronkodilator

-

Lakukan

posisi

miring setiap 2 jam
-

Lakukan fisioterapi
dada selama 4 jam

-

Pertimbangkan
hiperkapnea

Penurunan

-

Tekanan darah

curah

-

jantung

-

Kaji

efek

Curah jantung

hemodinamik

dari

-

Tekanan vena sentral

ventilasi mekanik

-

Tekanan

arteri

pulmonalis

-

Pantuk EKG

-

Kaji efek perubahan
setting

ventilator

pada curah jantung
dan

pengiriman

oksigen
-

Berikan

volume

intravskular

untuk

mempertahankan
preload
Hipovolemi

-

Pasien euvolemia

a

-

Haluran

urin

-

Kaji TTV

-

Pantau status hidrasi

lebih

untuk

dari 30 ml/jam
-

Tidak

ada

mengurangi

viskositas
tanda

ketidakseimbangan

sekret

paru
-

Pantau asupan dan

elektrolit

haluaran
-

Hindari penggunaan
zat dan penggunaan
diuretic

yang

berlebih
-

Berikan

diuretic

untuk
mempertahankan
volume
intravascular

dan

fungsi ginjal
-

Ganti

elektrolit

sesuai program
-

Pantau

BUN,

kreatinin,
osmolaritas

serum

dan elektrolit urin
Hambatan

-

Tidak ada komplikasi

-

Mulai

profilaksis

mobilitas

berhubungan dengan

thrombosis

fisik

tirah-baring

profunda

dan

imobilisasi
-

-

Perubahan fisiologis
dideteksi dan diatasi

-

Ubah posisi secara
sering

-

Mobilisasi ke kursi

tanpa penundaan

ketika

Tidak

berlalu

infeksi

ada

vena

tanda
-

fase

akut

Konsultasikan

ke

ahli fisioterapi
-

Pantau alarm dan
setting

ventilator

mekanis

dan

parameter pasien
-

Pastikan
yang

setting
tepat

dan

persempit

batas

untuk hemodinamik,
frekuensi

jantung

dan alrm oksimetri
nadi
-

Pantai kriteria SIRS

-

Gunakan

teknik

antiseptik

ketat

selama prosedur dan
pantau yang lain
-

Pertahankan
sterilisasi

kateter

invasive dan slang
-

Ganting slang dada
dan

balutan

serta

lain
kateter

invasive
Gangguan

-

Kulit akan tetap utuh

-

Kaji kulit setiap 4

integritas

jam dan setiap kali

kulit/jaringa

pasien

n

posisi
-

berubah

Ubah posisi setiap 2
jam

-

Pertimbangkan
matras
reduksi/perekduksi
tekanan

-

Gunakan

skala

Braden

untuk

mengkaji

resiko

kerusakan kulit
Defisit
nutrisi

-

Asupan kalori dan zat
gizi akan memenuhi

-

Berikan
enteral

nutrisi
dalam

24

kebutuhan metabolic
per kalkulasi

jam
-

Konsultasikan
dengan ahli diet atau
layanan

dukungan

nutrisi
-

Pertimbangkan
slang

pemberian

makanan usus halus
jika

motilitas

gastrointestinal
-

Pantau

albumin,

prealbumin,
transferin,
kolesterol,
trigliserida

dan

glukosa
Nyeri akut

Kontrol nyeri

-

Kaji

kenyamanan

nyeri secara objektif
dengan
menggunakan skala
nyeri
-

Berikan
dan

analgesic

sedasi

yang

diindikasikan
berdasarkan
pengkajian
-

Pantau jantung-paru
pasien dan respons
nyeri terhadap obat

REFERENSI
M. Burns S (2014) AACN : Essentials Of Critical Care Nursing. 3rd edn. China: McGraw
Hill Medical.
Morton, P. G. et al. (2011) Keperawatan Kritis : Pendekatan Asuhan Holistik. Jakarta: EGC.
Urden, L. D., Stacy, K. M. and Lough, M. E. (2018) Critical Care Nursing : Diagnosis and
Management. 8th edn. Singapore: Elsevier.

Judul: Asuhan Keperawatan Kritis Pada Pasien Dengan Ards (acute Respiratory Distress Syndrome

Oleh: Maiza Dwi Lestari


Ikuti kami