Pengaruh Variabel Makro Ekonomi Terhadap Pembiayaan Pada Perbankan Syariah Di Indonesia

Oleh Ahmad Ripai Saragih

1,2 MB 8 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Pengaruh Variabel Makro Ekonomi Terhadap Pembiayaan Pada Perbankan Syariah Di Indonesia

Laporan Penelitian Mandiri PENGARUH VARIABEL MAKRO EKONOMI TERHADAP PEMBIAYAAN PADA PERBANKAN SYARIAH DI INDONESIA Karya Ilmiah untuk Melengkapi Syarat Pengajuan Edukatif pada Program Studi Asuransi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sumatera Utara PENELITI KETUA MUHAMMAD SYAHBUDI, SE.I, MA NIB : 1100000094 ANGGOTA AHMAD RIPAI SARAGIH NIM : 51143056 PRODI ASURANSI SYARIAH FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA MEDAN 2018 KATA PENGATAR Bismillahirrahmaanirrahiim Puji syukur penulis sampaikan ke hadirat Allah SWT, atas izinNya, penulis dapat menyelesaikan penyusunan penelitian mandiri dengan judul Pengaruh Variabel Makro Ekonomi Terhadap Pembiayaan Pada Perbankan Syariah Di Indonesia. Oleh karena itu pada kesempatan ini izinkan penulis menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu penyelesaian penelitian ini,. peneliti mengucapkan terima kasih kepada Keluarga dan rekan dosen yang senantiasa memberikan dorongan dan mahaiswa atas motivasinya dan kepada para pengajar di UIN Sumatera Utara untuk selalu membuat karya Ilmiah sebagai salah satu tugas pengajar / dosen. Semoga penelitian ini dapat memberikan kontribusi kepada para pembaca dalam menambah referensinya. Tentunya tidak ada karya yang sempurna, maka penelitian ini pun kemungkinan memiliki banyak kekurangan dan kesalahan, maka besar harapan penulis masukan dan kritiknya dari semua pihak dalam penyempurnaan penelitian ini. Medan, Mei 2018 Peneliti ABSTRAK Penelitian ini meiliki tujuan tujuan sebagai berikut : 1. Untuk menganalisis pengaruh inflasi terhadap pembiayaan perbankan syariah di Indonesia.2 Untuk menganalisis pengaruh BI rate terhadap pembiayaan perbankan syariah di Indonesia.3. Untuk menganalisis pengaruh kurs terhadap pembiayaan perbankan syariah di Indonesia. 4.Untuk menganalisis pengaruh PDB terhadap pembiayaan perbankan syariah di Indonesia.dan 5. Untuk menganalisis pengaruh Inflasi , BI rate, PDB, dan Kurs secara bersama-sama terhadap pembiayaan perbankan syariah di Indonesia . Penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda karena data time series. Hasil analisis data bahwa hasil analisis dengan metode regresi berganda pada alpha 5% dengan bantuan program Eviews 4,Hasil penelitiain bahwa secara simultan 97,0% variabel inflasi, bunga, kurs dan PDB berpengaruh terhadap pembiayaan pada perbankan syariah di Indonesia tahun 2010-2016 dan sisanya 3,0% yang tidak dimasukkan ke dalam model penelitian ini.dan Nilai F-hitung > F-tabel atau 56,46 > 2,36, atau nilai p-value adalah 0,017 < 5% maka terdapat pengaruh secara simultan antara inflasi, bunga, kurs dan PDB terhadap pembiayaan pada perbankan syariah di Indonesia tahun 2010-2016 atau Ho ditolak. Nilai koofesien Inflasi 0,5295 artinya, jika Inflasi meningkat 1% maka pembiayaan perbankan syariah di Indonesia periode 2010-2016 akan meningkat sebesar Rp. 529,5 juta. Inflasi untuk jangka pendek merespon positif terhadap pembiayaan dengan guncangan sampai dengan periode ke15, dan merespon negatif pada perode ke-3. Kemudian respon positif cenderung menurun (divergen) sampai periode ke-18 dan stabil pada period ke-19 sampai selesai akhir periode (periode 35).Nilai koofesien Bunga -12,902 artinya, jika suku bunga naik 1% maka pembiayaan perbankan syariah di Indonesia periode 2010-2016 akan turun sebesar Rp.12,902 Milyar. Suku Bunga untuk jangka pendek merespon positif terhadap pembiayaan dengan guncangan sampai dengan periode ke-11. Kemudian respon positif cenderung menurun (divergen) sampai periode ke-14 dan stabil pada period ke-15 sampai selesai akhir periode (periode 35).Nilai koofesien Kurs -0,063 artinya, jika kurs Indonesia meningkat Rp.1 maka pembiayaan perbankan syariah di Indonesia periode 2010-2016 akan turun sebesar Rp. 63 juta. Kurs untuk jangka pendek merespon negatif terhadap pembiayaan dengan guncangan sampai dengan periode ke-21, dan merespon positif pada perode ke-2. Kemudian respon negatif cenderung meningkat (konvergen) sampai periode ke-25 dan stabil pada period ke-26 sampai selesai akhir periode (periode 35). Nilai koofesien PDB 3,342 artinya jika PDB periode 2010-2016 naik Rp.1 Milyar maka pembiayaan perbankan syariah di Indonesia periode 2010-2016 akan meningkat sebesar Rp. 3,342 Milyar. PDB untuk jangka pendek merespon positif terhadap pembiayaan dengan guncangan sampai dengan periode ke-17 dan merespon negatif pada periode ke-4. Kemudian respon positif cenderung menurun (divergen) sampai periode ke-19 dan stabil pada period ke-20 sampai selesai akhir periode (periode 35). iii DAFTAR ISI ABSTRAK ............................................................................................... KATA PENGANTAR .............................................................................. DAFTAR ISI ............................................................................................ i ii iii BAB I PENDAHULUAN ....................................................................... A. Latar Belakang Masalah ..................................................... B. Identifikasi Masalah ............................................................ C. Rumusan Masalah ............................................................... D. Batasan Masalah .................................................................. E. Tujuan Penelitian ................................................................. F. Manfaat Penelitian ............................................................... 1 1 6 6 7 7 7 BAB II LANDASAN TEORITIS .......................................................... A. Pembiayaan .......................................................................... B. Inflasi..................................................................................... C. Suku Bunga (BI-Rate).......................................................... D. Produk Domestik Bruto (PDB)............................................ E. Kurs........................................................................................ F. Penelitiah Terdahulu............................................................ G. Kerangka Teoritis................................................................. H. Hipotesa................................................................................. 8 8 12 15 16 18 20 23 24 BAB III METODOLOGI PENELITIAN ............................................. A. Pendekatan Penelitian ......................................................... B. Lokasi dan Waktu Penelitian .............................................. C. Sumber Data.......................................................................... D. Populasi dan Sampel ............................................................ E. Definisi Operasional ............................................................ F. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data ....................... G. Model Analisis Data ............................................................. 25 25 25 25 25 26 27 27 BABIV HASIL PENELITIAN ............................................................... A. Gambaran Umum Objek Penelitian................................... B. Analisa Data Statistik .......................................................... C. Pembahasan .......................................................................... 30 30 39 44 iii iv BAB V SIMPULAN DASARAN............................................................ A. Kesimpulan ........................................................................... B. Saran ..................................................................................... DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN iv 47 47 48 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Saat ini, perbankan Islam berkembang pesat dan tumbuh tersebar di seluruh dunia, baik di negara Muslim maupun non-Muslim .1 Pertumbuhan industri perbankan syariah terbilang sangat baik, dengan pertumbuhan rata-rata 30% - 40%, jauh lebih tinggi daripada pertumbuhan perbankan konvensional yang hanya sekitar 12%.2 Pertumbuhan perbankan syariah dapat dilihat antara lain melalui pertumbuhan DPK, Dana pihak ketiga bagi perbankan adalah ibarat darah, tanpanya lembaga perbankan akan lesu dan tidak bergairah. Untuk itu perbankan syariah perlu memperkuat struktur dana untuk menunjang ekspansi pembiayaan melalui peningkatan customer based secara massif dan mengembangkan kapasitas bisnis dan pengembangan layanan transaksional untuk seluruh segment baik massa individual maupun institusi perusahaan.3 Tabel 1.1 Jumlah DPK Bank Syariah (BUS dan UUS) JUMLAH DANA PIHAK KETIGA (Milyar) 2011 2012 2013 2014 2015 2016 115.41 147.51 183.53 217.85 231.17 279.33 5 2 4 8 5 5 Sumber : Otoritas Jasa Keuangan-Statistik Perbankan Indonesia, 2018. Dalam pidato Dewan Deputi Gubernur Bank Indonesia oleh Halim Alamsyah dalam isi pidatonya menyampaikan bahwa “DPK perbankan dari sektor perseorangan masih cukup dominan. Pada akhir semester II 2014, pangsa DPK perseorangan mencapai 56,81%, sedikit meningkat dibandingkan posisi tahun sebelumnya sebesar 56,41% (Desember 2013). Secara umum, pada semester II 2014 total DPK tumbuh melambat dibandingkan tahun sebelumnya dan semester I 2014. Namun DPK perseorangan mengalami pertumbuhan 13,09% relatif tinggi dibandingkan dengan DPK bukan perseorangan 11,27%. Pertumbuhan DPK 1 Pada era 1970-an, usaha-usaha untuk mendirikan bank islam menyebar kebanyak negara. Beberapa Negara seperti Pakistan, Iran dan Sudan, bahkan mengubah sistem keuangan Negara itu menjadi sstem non bunga. Di Negara islam lainnya seperti Malaysia dan Indonesia,bank syariah beroprasi berdampingan dengan perbankan konvensional. Perbankan syariah telah mengalami perkembangan yang pesat dan menyebar ke banyak Negara, bahkan ke negara-negara Non Muslim. The Islamic Bank international of Denmark tercatat sebagai bank syariah pertama yang beroprasi di Eropa, yakni pada tahun 1983 di Denmark. Kini, bank-bank besar dari Negara-negara Barat, seperti Citibank,ardin Fleming, Chase Manhattan Bank, Jardine Fleming dan ANZ Bank telah membuka Islamic Window agar dapat memberikan jasa-jasa layanan perbankan yang sesua dengan syariat Islam. 2 Muhammad Surya, Prospek, Faktor Pendukung, Faktor Penghambat dan Strategi Perkembangan Bank Syariah di Indonesia, www.muhammadsurya.wordpress.com diakses tanggal 21 Desember 2017 3 http://www.agustiantocentre.com/?p=2052 1 2 perseorangan tersebut juga lebih tinggi jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yaitu sebesar 12,22% (semester II 2013).4 Dan dana pihak ketiga yang dihimpun BUS dan UUS pada semester pertama tahun 2015 tercatat tumbuh sebesar 12,4%.5 Pembiayaan merupakan indikator lain dari pertumbuhan perbankan syariah. Investasi yang dilakukan oleh berbagai pihak banyak mengandalkan pembiayaan dari perbankan syariah. Demi tercapainya visi dan misi usaha, pelaku ekonomi di sektor riil memanfaatkan pembiayaan dengan berbagai jenis akad dan produk yang ditawarkan bank syariah.6 Tabel 1.2 Jumlah Pembiayaan Bank Syariah Berdasarkan jenis Akad JENIS Jumlah Pembiayaan (UUS dan BUS) Dengan Jenis Akad AKAD (Milyar) Mudharaba 2011 10.229 2012 12.023 2013 13.625 2014 14.354 2015 14.820 2016 15.296 Musyarakah 18.960 27.667 39.874 49.387 60.713 78.421 Murabahah 56.365 88.004 110.565 117.371 122.111 139.536 Salam 0 0 0 0 0 0 Isthisna 326 376 582 633 770 878 Ijarah 3.839 7.345 10.481 11.620 10.631 9.150 Qardh 12.937 12.090 8.995 5.965 3.951 4.731 Lainnya 0 0 0 0 0 0 Total 102.655 147.505 184.122 199.330 212.996 244.466 Sumber : Otoritas Jasa Keuangan RI-Statistik Perbankan Syariah,2018. Dari data yang disajikan statistik perbankan syariah Indonesia (Tabel 1.2), pembiayaan bank syariah sejak tahun 2011-2016 terlihat terus mengalami peningkatan. Dalam kurun waktu 2003-2014 pembiayaan tumbuh sekitar 8-107%. Namun demikian, pertumbuhan tersebut ternyata jauh lebih baik dibandingkan pertumbuhan kredit yang terjadi pada bank konvensional yang hanya mencapai 1323%. Krisis ekonomi, moneter dan stabilitas politik yang berujung pada perubahan 4 Bank Sentral Republik Indonesia, Pidato Dewan Gubernur, www.bi.go.id diakses tanggal 21 Desember 2017 5 Amirus Sodiq .2015.,pengaruh variabel makro Ekonomi terhadap profitabilitas Bank syariah di indonesia periode 2009 – 2014, Jurnal Bisnis dan Manajemen Islam Vol. 3, No. 2, h.345. 6 Adiwarman A. Karim, Bank Islam: Analisis Fiqh dan Keuangan,( Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2014), h.97. 2 3 suku bunga perbankan pada periode 2008-2009, 2012 dan 2014 menjadi factor utama terjadinya fluktuasi kredit dan pembiayaan perbankan. Dari pertumbuhan tersebut secara factual pembiayaan pada bank syariah ternyata sekitar 60% terkonsentrasi pada pembiayaan murabaha, yaitu pembiayaan yang dengan konsep jual beli atau berbasis piutang yang secara praktis orang awam menilai pembiayaan ini memiliki kemiripan dengan kredit pada bank konvensional. Sementara pembiayaan yang berbasis bagi hasil seperti mudharabah dan musyarakah yang merupakan ruh dari transaksi ekonomi syariah masih jauh tertinggal.7 Faktor-faktor makro ekonomi yang diperkirakan dapat mempengaruhi pembiayaan adalah variable makro ekonomi seperti Inflasi, suku Bunga (BI rate), Produk Domestik Bruto (PDB) dan Nilai Tukar (Kurs). Tabel 1.3 komposisi Inflasi, BI Rate, KURS dan PDB Periode 2011-2016 TAHUN INFLASI (%) BI RATE KURS (RP) PDB (%) (TRILIUN RP) 2011 3.79 6.00 9.023 7.832 2012 4.30 5.75 9.622 8.616 2013 8.38 7.50 12.128 9.546 2014 8.36 7.75 12.378 10.566 2015 3.35 7.50 13.726 11.541 2016 3.02 6.50 13.369 12.406 Sumber: BPS, BI go.id, 2018. Dari data (tabel 1.3) di atas menggambarkan perkembangan inflasi dari tahun 2011 terus mengalami kenaikan hingga akhirnya mengalami penurunan pada tahun 2015. Laju inflasi merupakan gambaran harga-harga. Inflasi adalah salah satu peristiwa moneter yang sangat penting dan hampir semua negara mengalaminya baik negara miskin, berkembang atau bahkan negara maju sekalipun tidak dapat lepas dari masalah ini. Secara sederhana inflasi diartikan sebagai meningkatnya harga-harga secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan harga) pada barang lainnya. Kebalikan dari inflasi disebut deflasi.8 Herman Darmawi, menyatakan Dengan meningkatnya inflasi, pemerintah akan mengambil kebijakan dengan menaikan BI rate yang berdampak pada kenaikan suku bunga simpanan maupun suku bunga kredit bank umum. Hal ini akan Toni, Idqan dan Rifki, “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembiayaan Berbasis Bagi Hasil (equity financing) Pada Bank Syariah” dalam Jurnal Aplikasi Bisnis dan Manajemen, vol.2 No. 3, 2016. h.282. 8 Bank Sentral Republik Indonesia, Pengenalan Inflasi, www.bi.go.id diakses tanggal 24 Desember 2017. 7 3 4 berpengaruh pada besaran pendapatan yang akan diperoleh oleh bank dan kemampuan nasabah dalam membayar pinjamannya. Oleh karena itu bank akan lebih berhati-hati dalam menyalurkan pembiayaannya.9 Apabila terjadi inflasi maka terjadi ketidakpastian kondisi makroekonomi suatu negara yang mengakibatkan masyarakat lebih menggunakan dananya untuk konsumsi. Tingginya harga dan pendapatan yang tetap atau pendapatan meningkat sesuai dengan besarnya inflasi membuat masyarakat tidak mempunyai kelebihan dana untuk disimpan dalam bentuk tabungan atau diinvestasikan. Dengan karakteristik perbankan syariah yang memiliki hubungan sangat erat dengan sektor ekonomi riil produktif, maka secara konseptual perkembangan perbankan syariah akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan kondisi perekonomian nasional yang pada gilirannya akan berpengaruh pada perbankan syariah. Kecenderungan penurunan inflasi mendorong peningkatan aset perbankan syariah begitu pula sebaliknya kenaikan inflasi dapat menurunkan aset perbankan syariah sehingga hal ini tentuny akan mempengaruhi penyaluran pembiayaan pembiayaan bank syariah. BI rate adalah suku bunga kebijakan yang mencerminkan sikap atau stance kebijakan moneter yang ditetapkan oleh bank Indonesia dan diumumkan kepada publik. BI rate diumumkan oleh Dewan Gubernur Bank Indonesia setiap Rapat Dewan Gubernur bulanan dan diimplementasikan pada operasi moneter yang dilakukan Bank Indonesia melalui pengelolaan likuiditas (liquidity management) di pasar uang untuk mencapai sasaran operasional kebijakan moneter. Sasaran operasional kebijakan moneter dicerminkan pada perkembangan suku bunga Pasar Uang Antar Bank Overnight (PUAB O/N). Pergerakan di suku bunga PUAB ini diharapkan akan diikuti oleh perkembangan di suku suku bunga kredit perbankan. Dengan mempertimbangkan pula faktor-faktor lain dalam perekonomian, Bank Indonesia pada umumnya akan menaikkan BI rate apabila inflasi kedepan diperkirakan melampaui sasaran yang telah ditetapkan, sebaliknya Bank Indonesia akan menurunkan BI rate apabila inflasi ke depan diperkirakan berada di bawah sasaran yang telah ditetapkan. Sebagaimana penelitian yang diperlihatkan oleh Toni Priyanto, dkk. Menyatakan BI rate menjadi faktor eksternal yang paling cepat mempengaruhi pembiayaan bagi hasil. Besarnya pengaruh BI rate menunjukan secara pragmatis bank syariah masih bergantung pada suku bunga pasar konvensional.10 Namun demikian, dalam prekteknya, bank sebagai lembaga intermediasi terkadang mengalami kekurangan atau kelebihan dana atau mengalami permasalahan likuiditas. Hal ini diantara lain disebabkan oleh perbedaan waktu (time lag) antara penerimaan dan penanaman atau mismatch dimana dana yang diterima tidak bisa langsung dapat digunakan dalam bentuk pembiayaan. Apabila terdapat akses likuiditas, salah satu 9 Harman Dermawi, Manajemen Perbankan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2012), h. 17. Toni, Idqan dan Rifki . “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembiayaan Berbasis Bagi Hasil (equity financing) Pada Bank Syariah” h.289. 10 4 5 alternatif penyaluran dana yang dapat dilakukan bank syariah adalah menempatkan di Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS). Bagi Bank Indonesia, SBIS merupakan instrumen stabilitasator likuiditas dari industri perbankan syariah. Selain itu, bersama dengan SBI, SBIS juga diharapkan dapat membantu menjaga nilai rupiah dan menjaga kestabilan makro ekonomi. Nilai tukar rupiah tahun 2011 melemah secara perlahan hingga tahun 2016 di atas Rp 13.000 ( Tabel 1.3) . Depresiasi Rupiah terhadap mata uang asing, terutama Dollar Amerika Serikat (Dollar AS), dapat menyebabkan capital outflow atau pelarian modal masyarakat keluar negeri karena jika dibandingkan dengan mata uang negara lain maka ekspektasi return investasi di Indonesia lebih rendah. Semakin meningkat nilai tukar Dollar AS akan menaikkan permintaan Dollar, sebaliknya permintaan uang domestik akan turun. Secara umum, apabila sesuatu barang ditukar dengan barang lain tentu didalamnya terdapat perbandingan nilai tukar antara keduanya. Nilai tukar itu sebenarnya merupakan semacam harga didalam pertukaran tersebut. Demikian pula pertukaran antara dua mata uang yang berbeda, maka akan terdapat perbandingan nilai atau harga antara kedua mata uang tersebut. Perbandingan nilai inilah yang sering disebut dengan kurs (exchange rate). Exchange Rate atau nilai tukar uang adalah catatan (quotation) harga pasar dari mata uang asing (foreign currency) dalam harga mata uang domestik (domestic currency), yaitu harga mata uang domestik dalam mata uang asing.11 Abida Muttaqiena, dalam penelitiannya menyatakan perbankan syariah rentan terhadap perubahan nilai tukar Rupiah. Jika nilai tukar Rupian melemah, DPK perbankan syariah juga akan menurun dan otomatis berpengaruh pada jumlah pembiayaan. Ini sesuai dengan teori, baik nasabah individu maupun nasabah korporasi akan cenderung menarik dana-dananya dari perbankan syariah jika nilai rupiah melemah.12 Menurut pandangan modern, yaitu pandangan sesudah masa klasik, tabungan tergantung kepada pendapatan nasional. Pada tingkat pendapatan nasional yang rendah tabungan adalah negatif, yaitu konsumsi masyarakat lebih tinggi dari pendapatan nasional. Semakin tinggi pendapatan nasional, semakin tinggi tabungan masyarakat . PDB merupakan salah satu instrumen penting untuk dapat menghitung pendapatan nasional. PDB merupakan nilai dari akhir keseluruhan barang/jasa yang dihasilkan oleh semua unit ekonomi dalam suatu negara, termasuk barang dan jasa yang dihasilkan warga negara lain yang tinggal di negara tersebut. 13 Berdasarkan tuliasan Davis dan Zhu dalam Rizal Nur Firdaus antara lain mengemukakan bahwa pertumbuhan PDB mempunyai dampak terhadap kualitas 11 Douglas Greenwald, Encyclopedia of Economics, McGraw-Hill, In, 1982, h.430 dalam Adiwaman A.Karim,Ekonomi Makro Islam,(Jakarta: Rajawali Pers, 2006),h.157. 12 Abida Muttaqiena, “ Analisis Pengaruh PDB, Inflasi, Tingkat Bunga, Dan Nilai Tukar Terhadap Dana Pihak Ketiga Perbankan Syariah di Indonesia 2008-2012”, Skripsi, 2013. 13 Boediono, Ekonomi Makro, Edisi Empat, Jilid 2, (Yogyakarta: BPFE, 2001), h. 53. 5 6 pembiayaan yang diberikan oleh perbankan.14 Ketika PDB meningkat secara teori terjadi peningkatan transaksi ekonomi, dunia bisnis menggeliat. pertumbuhan PDB mempunyai dampak terhadap kualitas pinjaman yang diberikan oleh perbankan. Dari beberapa uraian di atas, maka penulis merasa perlu mengangkat permasalahan tersebut ke dalam sebuah penelitian yang berjudul “PENGARUH VARIABEL MAKRO EKONOMI TERHADAP PEMBIAYAAN PADA PERBANKAN SYARIAH DI INDONESIA” B. Identifikasi Masalah Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah tersebut, dapat dikemukakan identifikasi masalah pada penelitian ini, yaitu : 1. Terdapat pengaruh inflasi yang secara langsung dapat mempengaruhi pembiayaan pada perbankan syariah di Indonesia. 2. Adanya dampak yang ditimbulkan dengan meningkatnya BI rate secara langsung terhadap pembiayaan pada perbankan syariah di Indonesia 3. Apabila Kurs melemah maka akan mengakibatkan Rupiah terdepresiasi yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi pembiayaan pada perbankan syariah di Indonesia. 4. Peningkatan dan pertumbuhan PDB mempengaruhi kualitas pembiayaan yang disalurkan oleh perbankan syriah di Indonesia 5. Pembiayaan memiliki peran yang cukup penting dalam membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. C. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang dan penjelasan di atas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut, yaitu: 1. Apakah inflasi berpengaruh terhadap pembiayaan perbankan syariah di Indonesia periode 2010-2016 ? 2. Apakah suku bunga berpengaruh terhadap pembiayaan perbankan syariah di Indonesia periode 2010-2016 ? 3. Apakah kurs berpengaruh terhadap pembiayaan perbankan syariah di Indonesia periode 2010-2016? 4. Apakah PDB berpengaruh terhadap pembiayaan perbankan syariah di Indonesia periode 2010-2016? 5. Apakah Inflasi , BI rate ,PDB, dan Kurs secara bersama-sama berpengaruh terhadap pembiayaan perbankan syariah di Indonesia periode 2010-2016? 14 Rizal Nur Firdaus, pengaruh faktor internal dan eksternal Yang mempempengaruhi pembiayaan Bermasalah pada bank umum syariah Di indonesia, dalam jurnal El-Dinar, Vol. 3, No 1, Januari 2015, h. 83. 6 7 D. Batasan Masalah Dalam membahas judul di atas tentunya penulis dihadapkan pada beberapa kendala seperti waktu, biaya dan juga keahlian dalam menyusun suatu karya ilmiah. Dan agar pembahasan menjadi fokus dan tepat sasaran, maka pembahasan skripsi ini difokuskan yang terdiri dari lima variabel bebas (independent variable) yaitu inflasi, BI rate, PDB, dan Kurs, serta satu variabel terikat (dependent variable) yaitu pembiayaan perbankan syariah. E. Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk: 1. Untuk menganalisis pengaruh inflasi terhadap pembiayaan perbankan syariah di Indonesia periode 2010-2016. 2. Untuk menganalisis pengaruh BI rate , terhadap pembiayaan perbankan syariah di Indonesia periode 2010-2016. 3. Untuk menganalisis pengaruh kurs terhadap pembiayaan perbankan syariah di Indonesia periode 2010-2016. 4. Untuk menganalisis pengaruh PDB terhadap pembiayaan perbankan syariah di Indonesia periode 2010-2016. 5. Untuk menganalisis pengaruh Inflasi , BI rate, PDB, dan Kurs secara bersama-sama terhadap pembiayaan perbankan syariah di Indonesia periode 2010-2016. F. Manfaat Penelitian Adapun manfaat dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Bagi Pemerintah Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil kebijakan, khususnya kebijakan yang berhubungan dengan kegiatan moneter. Sebagai bahan pertimbangan pemerintah dalam menjalankan fungsi sebagai lembaga intermediasi. 2. Bagi Masyarakat Memberikan informasi kepada masyarakat khususnya pihak manajemen bank syariah mengenai apa saja factor eksternal yang mempengaruh pembiayaan pada perbankan syariah. 3. Bagi Akademisi Bagi para akademisi penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan referensi ataupun bahan perbandingan dalam pengembangan untuk penelitian selanjutnya dan untuk para pembaca dapat menambah wawasan mengenai pengaruh variable makro ekonomi terhadap pembiayan pada perbankan syariah di Indonesia. 7 8 BAB II KAJIAN TEORITIS A. Pembiayaan 1. Pengertian Pembiayaan Pembiayaan dipakai untuk mendefinisikan pendanaan yang dilakukan oleh lembaga pembiayaan seperti bank kepada syariah nasabah. Pembiayaan secara luas berarti financing atau pembelanjaan yaitu pendanaan yang dikeluarkan untuk mendukung investasi yang telah direncanakan, baik dilakukan sendiri maupun dikerjakan oleh orang lain. Firman Allah SWT tentang perintah untuk saling tolong menolong dalam per buatan positif merupakan tolak ukur pentingnya pembiayaan yang di berikan, “dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam perbuatan dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”.15 Menurut UUno. 21 tahun 2008 tentang perbankan syariah pasal 1 poin ke 25 menjelasakan bahwa: Pembiayaan adalah penyediaan dana atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berupa: (a) transaksi bagi hasil dalam bentuk mudharabah dan musyarakah ; (b) transaksi sewa-menyewa dalam bentuk ijarah atau sewa beli dalam bentuk ijarah muntahiya bittamlik; (c) transaksi jual beli dalam bentuk piutangmurabahah, salam, dan isthisna’. (d) transaksi pinjam meminjam dalam bentuk piutang ; dan qardh (e) transaksi sewa-menyewa jasa dalam bentuk ijarah untuk transaksi multijasa.16 2. Jenis – Jenis Pembiayaan Bank Syariah a. Pembiayaan Modal Kerja Syariah Modal kerja adalah modal lancar yang dipergunakan untuk mendukung operasional perusahaan sehari-hari sehingga perusahaan dapat beroprasi secara secara normal dan lancer. Beberapa penggunaan modal kerja antara lain adalah untuk pembayaran persekot pembelian bahan baku, pembayaran upah buruh, dan lain-lain. Pembiayaan Modal kerja (PMK) Syariah adalah pembiayaan jangka pendek yang diberikan kepada perusahaan untuk membiayai modal kerja usahanya Al-qur’an, Qs. Al-Baqarah/5:2. Rizal Nur Firdaus, Pengaruh Faktor Internal Dan Eksternal Yang Mempempengaruhi Pembiayaan Bermasalah Pada Bank Umum Syariah Di Indonesia, dalam jurnal El-Dinar, Vol. 3, No 1, Januari 2015, h. 85. 15 16 8 9 berdasarkan prinsip-prinsip syariah. Jangka waktu pembiaaan modal kerja maksimum 1 (satu) tahun dandapat diperpanjang sesuai denga kebutuhan. Perpanjangan fasilitas PMK dilakukan atas dasar hasil analisis terhadap debitur dan pembiayaan secara keseluruhan. Berdasarkan pengunaannya, modal kerja dapat diklasifikasikan menjadi 2 (dua) golongan, yaitu: a. Modal kerja permanen Modal kerja permanen berasal dari modal sendiri atau dari pebiayaan jangka panjang. Sumber pelunasaan modal kerja permanen berasal dari labah bersih setela pajak ditambah dengan penyusutan. b. Modal Kerja Seasional Modal kerja seasional bersumber dari modal jangka pendek dengan sumber pelunasan dari hasil penjualan barang dagangan, penerimaan hasil tagihan termin, atau dari penjualan hasil produksi. Berdasarkan akad yang digunakan dalam produk pembiayaan syariah, jenis pembiayaan Modal kerja (PMK) dapat dibagi menjadi 5 macam, yakni a. PMK Mudharabah b. PMK Istishna’ c. PMK Murabhah d. PMK Ijarah.17 b. Pembiayaan Investasi Syariah. Yang dimaksud dengan investasi adalah penananman dana dengan maksud untuk memperoleh imbalan /manfaat/ keuntungan di kemudian hari, mecakup hal-hal antara lain. 1. Imbalan yang diharapkan dari investasi adalah berupa keuntungan dalam bentuk finansial atau uang (financial benefit) 2. Badan usaha umumnya bertujuan untuk memperoleh keuntungan berupa uang, sedangkan social dan badan-badan pemerintah lainnya bertujuan untuk memberikan manfaat social (social benefit) dibandingkan dengan keuntungan finansialnya 3. Badan–badan usaha yang mendapat pembiaya investasi dari Bank harus mampu memperoleh keuntungan finansial (financial benefit) agar dapat hidup dan berkembang serta memenuhi kewajibannya kepada Bank . Berdasarkan akad yang digunakan dalam produk pembiayaan syariah, Pembiayaan Investasi dapat dibagi menjadi tiga (3) bagian, yaitu: 1. PI Murabaha 2. PI IMBT 3. PI Salam 4. PI Istishna’ 17 Adiwaraman A. Karim, Islamic Banking: Fiqh and Fainancial Analsyis, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2008), h.45 9 10 c. Pembiayaan Konsumtif Syariah Secara definitive, konsumsi aalah kebutuhan individual meliputi kebutuhan baik barang maupun jasa yang tidak dipergunakan utuk tujuan usaha. Dengan demikian yang dimaksud dengan pembiayaan konsumtif adalah jenis pemiayaan yang diberikan untuk tujuan luar usaha dan umumnya bersifat perorangan.pembiayaan jenis ini terus mengalami peningkatan secara cepat.18 Menurut jenin akadnya dalam produk pemayaan syariah, pembiayaan konsumtif dapat dibagi menjadi lima (5) bagian , yaitu: 1. Pembiayaan Konsumen Akad Murabaha 2. Pembiayaan Konsumen Akad IMBT 3. Pembiayaan Konsumen Akad Ijarah 4. Pembiayaan Konsumen Akad Istishna’ 5. Pembiayaan Konsumen Akad Qard + Ijarah. d. Pembiayaan Sindikasi Secara defenitif, yang dimaksud dengan pembiayaan sindikasi adalah pembiayaan yang diberikan oleh lebih dari satu lembaga keuangan bank untuk satu objek pembiayaan tertentu. Pada umumnya, pembiayaan ini diberikan bank kepada nasabah korporasi yang memiiki nilai transaksi yang sangat besar. Sindikasi ini mempunyai tiga bentuk, yakni: a. Lead Syindication, yakni sekelompok bank secara bersama-sama membiayai suatu proyek dan dipimpin oleh satu bank yang bertindak sebaai leader. Modal yang diberikan oleh masing-masing bank dilebur menjadi satu kesatuan, sehingga keuntungan dan erugian menjadi hak dan tanggunagan bersama, sesuai dengan proporsi modal masing-masing. b. Club Deal, yakni sekelompok bank yang secara bersama-sama membiayai suatu proyek, tapi antar bank yang satu dngan yang lain tidak mempunyai hubungan kerj sama bisnis dalam arti penyatuan modal. Masing –masing bank membiayai suatu bidang yang berbeda dalam proyek tersebut. Dengan demikian, masing-masing akkan memperoleh keuntungan sesuai dengan bidang yang dibiayainya alam proyek tersebut. Jelasnya, hubungan antarpeserta sindikasi ini hanya sebatas hubungan koordinatif. c. Sub Syndication, yakni bentuk sindikasi yang terjadi antara suatu bank dngan salah satu bank peserta sindikasi lain dan kerja sama bisnis yang dilakukan keduanya tidak berhubungan secara langsung dengan peserta sindikasi lainnya. e. Pembiayaan Berdasarkan Take Over Salah satu bentuk jasa pelayanan keuangan bank syariah adalah membantu masyarakat untuk mengalihka transksi nonsyariah yang telah berjalan menjadi transaksi sesuai dengan syariah. Dalam hal ini, atas permintaan nasabah, bank syariah 18 P3EI, Islam dan Ekonomi, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2008), h.417 10 11 melakukan pengambilalihan hutang nasabah di bank konvensioanl cara memberikan jasa hiwalah atau dapat juga menggunakan qard, disesuaikan dengan ada atau tidaknya unsur bunga dalam hutang nasabah kepada bank konvensional. Setelah nasabah melunasi kewajibannya kepada bank konvensioanal, transaksi yang terjadi adalah transaksi anatara nasabah dengan bank syariah. Dengan demikian, yang dimaksud dengan pembiayaan berdasarkan take over adalah pembiayaan yang timbul akibat dari take over terhadap transaksi nonsyariah yang telah berjalan yang dilakukan oleh bank syariah atas permintaan nasabah. Dalam pembiayaan berdasarkan take over, bank syariah mengklasifikasikan hutang nasabah menjadi dua macam, yakni: 1. Hutang pokok plus bunga, dan 2. Hutang pokok saja Dalam menangani hutang nasabah yang berbentuk hutang pokok plus bunga, bank syariah memberikan jasa qardh Karena alokasi penggunaan qardh tidak terbatas, termasuk untuk mealangi hutang yang berbasis bunga. Sedangkan terhadap hutang nasabah yang berbentu hutang pokok saja, bank syariah memberikan jasa hiwalah atau pengalihan hutang karena hiwalah tidak biasa untuk menalangi hutang yang berbasis bunga. f. Pembiayaan Letter Of Credit (L/C) Secara defenitf, yang dimaksud dengan Pembiayaan Letter Of Credit (L/C) adalah pembiayaaan yang diberikan dalam rangka memfasilitasi transaks impor atau ekspor nasabah. Pada umumnya, pembiayaan L/C dapat menggunakan beberapa akad, yaitu: 1. Pembiayan L/C Impor Berdasarkan Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 34/DSNMUI/IX/2002, akad yang dapat digunakan untuk pembiyaan L/C Impor adalah:19 1. Wakalah bil ujrah 2. Wakalah bil ujrah dengan qardh 3. Murabaha 4. Salam atau istishna’ dan murabaha 5. Musyarakah; dan 6. Wakalah bil ujrah dan hawalah. 2. Pembiayaan L/C Ekspor Berdasarkan Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 35/DSNMUI/IX/2002, akad yang dapat digunakan untuk pembiyaan L/C Ekspor adalah: 1. Wakalah bil ujrah 2. Wakalah bil ujrah dan qardh 19 Adiwarman A. Karim, Bank Islam: Analisis Fiqh dan Keuangan,( Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2014), h.231-253. 11 12 3. Wakalah bil ujrah dan mudharabah 4. Musyarakah; dan 5. Ba’I dan wakalah. B. Inflasi Inflasi adalah gejala kenaikan harga barang-barang yang bersifat umum dan terus-menerus.20 Inflasi biasanya menunjuk pada harga-harga konsumen, tapi bisa juga menggunakan harga-harga lain (harga perdagangan besar, upah, harga, aset dan sebagainya). Biasanya diekspresikan sebagai persentase perubahan angka indeks. Inflasi juga dapat dipahami sebagai suatu keadaan perekonomian yang ditandai oleh kenaikan harga secara cepat sehingga berdampak pada menurunnya daya beli, sering pula diikuti dengan menurunnya tingkat tabungan dan atau investasi karena meningkatnya konsumsi masyarakat dan hanya sedikit untuk tabungan jangka panjang.21 Berdasarkan alasan penyebabnya, inflasi dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu:22 1. Demand full inflation (Inflasi akibat dari tarikan permintaan) Kenaikan permintaan masyarakat akan barang konsumsi yang mendorong pemerintah dan pengusaa untuk menambah investasi melalui kredit. Apabila permintaan tersebut terus meningkat sedangkan seluruh faktor produksi sudah digunakan secara full, maka hal ini akan menyebabkan terjadinya kenaikan harga. Kenaikan harga yang berlangsung terusmenerus akan mengakibatkan terjadinya inflasi. 2. Cost push inflation (Inflasi akibat dari desakan biaya) Cost push inflation merupakan inflasi yang disebabkan oleh adanya kenaikan biaya produksi. Harga dan upah naik sebelum tercapainya tingkat penggunaan sumber daya secara penuh walaupun tingkat pengangguran tinggi dan tingkat penggunaan kapasitas produksi rendah. 3. Inflasi akibat pemerintah banyak mencetak uang Inflasi dapat juga terjadi akibat pemerintah melalui bank sentral terlalu banyak mencetak uang, karena ingin melayani permintaan kredit masyarakat umum dan dari dunia usaha pada khususnya. Pertambahan jumlah uang yang beredar jika tidak diikuti atau diimbangi dengan peningkatan jumlah barang dan jasa di pasar, maka harga barang dan jasa tersebut akan naik. Dan jika berlangsung secara terus-menerus akan mengakibatkan terjadinya inflasi. 20 Prathama Rahardja dan Mandala Manurung, Teori Ekonomi Makro Suatu Pengantar Edisi Kedua, (Jakarta: FE.UI, 2004), h. 155. 21 Ahmad Ifham Sholihin, Buku Pintar Ekonomi Syariah, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2010), h. 351. 22 Junaiddin Zakaria, Pengantar Teori Ekonomi Makro, (Jakarta: Gaung Persada, 2009), h. 62. 12 13 Di bidang moneter, laju inflasi yang tinggi dan tidak terkendali dapat mengganggu upaya perbankan dalam pengerahan dana masyarakat. Karena tingkat inflasi yang tinggi menyebabkan tingkat suku bunga riil menjadi menurun. Fakta demikian akan mengurangi hasrat masyarakat untuk menabung sehingga pertumbuhan dana perbankan yang bersumber dari masyarakat akan menurun. Inflasi merupakan variabel penghubung antara tingkat bunga dan nilai tukar efektif, di mana dua variabel ini merupakan variabel penting dalam menentukan pertumbuhan dalam sektor produksi. Inflasi atau kenaikan harga-harga yang tinggi dan terus-menerus telah menimbulkan beberapa dampak buruk kepada individu dan masyarakat, para penabung, investor, kreditor/debitor dan produsen, ataupun pada kegiatan perekonomian secara keseluruhan. Adapun dampak inflasi terhadap individu dan masyarakat, antara lain:23 1. Menurunnya tingkat kesejahteraan masyarakat Inflasi menyebabkan daya beli masyarakat menjadi berkurang atau malah akan semakin rendah apalagi bagi orang-orang yang berpendapatan tetap, kenaikan upah tidak secepat kenaikan harga-harga, maka inflasi ini akan menurunkan upah riil setiap individu yang berpendapatan tetap. 2. Memperburuk distribusi pendapatan Bagi masyarakat yang berpendapatan tetap akan menghadapi kemerosotan nilai riil dari pendapatannya dan pemilik kekayaan dalam bentukuang juga akan mengalami penurunan. Akan tetapi, bagi pemilik kekayaan tetap seperti tanah atau bangunan dapat mempertahankan atau justru menambah nilai riil kekayaannya. Dampak lain juga dirasakan pula oleh para penabung, kreditur atau debitur dan oleh produsen. Dampak inflasi bagi para penabung ini menyebabkan orang enggan untuk menabung karena nilai mata uang semakin menurun. Bila orang enggan menabung maka dunia usaha dan investasi akan sulit berkembang. Dampak inflasi bagi debitur, justru menguntungkan pada saat pembayaran utang kepada kreditur. Akan tetapi bagi kreditur akan mengalami kerugian pada saat debitur membayar utang karena nilai uang pengembalian lebih rendah dibandingkan pada saat peminjaman. Bagi produsen, inflasi bisa menguntungkan bila pendapatan yang diperoleh lebih tinggi daripada kenaikan biaya produksi. Namun, bila inflasi menyebabkan naiknya biaya produksi hingga pada akhirnya merugikan produsen. Sedangkan dampak inflasi bagi perekonomian secara keseluruhan akan menyebabkan prospek pembangunan ekonomi jangka panjang akan semakin memburuk, mengganggu stabilitas ekonomi dengan merusak rencana jangka panjang pelaku ekonomi. Jika inflasi tidak cepat ditangani maka akan sulit untuk dikendalikan dan cenderung akan bertambah cepat. 23 Prathama Rahardja dan Mandala Manurung, Teori Ekonomi Makro Suatu Pengantar Edisi Kedua..., h. 169. 13 14 Untuk menjaga kestabilan ekonomi, pemerintah perlu menjalankan kebijakan menurunkan tingkat inflasi karena bagaimanapun pemerintah mempunyai peranan yang penting dalam mengendalikan laju inflasi sebab terjadi atau tidaknya inflasi tergantung dari kebijakan-kebijakan pemerintah dalam menjalankan roda perekonomian. Kebijakan yang digunakan untuk mengatasi masalah inflasi, yaitu:24 1. Kebijakan fiskal, adalah kebijakan yang dilaksanakan dalam bentuk mengurangi pengeluaran pemerintah sehingga menimbulkan efek yang cepat dalam mengurangi pengeluaran dalam perekonomian. 2. Kebijakan moneter, adalah peraturan dan ketentuan yang dikeluarkan oleh otoritas moneter (bank sentral) untuk mengendalikan jumlah uang yang beredar. Melalui langkah kebijakan yang diambil pemerintah, diharapkan mampu menjaga agar tingkat inflasi berada pada tingkat yang sangat rendah. Dengan demikian tujuan kebijakan pemerintah untuk menyediakan lowongan pekerjaa, meningkatkan taraf kemakmuran masyarakat, memperbaiki pendapatan, serta mewujudkan kestabilan politik dapat tercapai.25 Peristiwa inflasi mengakibatkan sebuah ketidakpastian bagi masyarakat, oleh karena itu tidak sedikit masyarakat yang mengubah assetnya menjadi aset riil, atau aset yang cenderung tidak mengalami penurunan yang tajam seperti misalnya emas, maupun property. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga nilai suatu benda agar tidak mengalami penurunan yang tajam di waktu yang akan datang. Dalam Islam tidak dikenal dengan inflasi, karena mata uang yang dipakai adalah dinar dan dirham, yang mana mempunyai nilai yang stabil dan dibenarkan dalam islam. Penurunan dinar atau dirham dapat mungkin terjadi yaitu ketika nilai emas yang menopang nilai nominal dinar itu mengalami penurunan. Diantaranya akibat ditemukannya emas dalam jumlah yang besar, tapi keadaan ini kecil sekali kemungkinannya. Salah seorang ekonom muslim (Al-Maqrizi) membuat klasifikasi inflasi berdasarkan faktor penyebabnya ke dalam dua jenis, yaitu inflasi yang disebabkan oleh faktor alamiah dan yang disebabkan oleh faktor kesalahan manusia. Menurut al-Maqrizi inflasi karena faktor alamiah terjadi ketika suatu bencana alam terjadi, berbagai bahan makanan dan hasil bumi lainnya mengalami gagal panen, sehingga persediaan barang-barang tersebut mengalami penurunan yang sangat drastis dan terjadi kelangkaan. Di lain pihak, karena sifatnya yang sangat signifikan dalam kehidupan permintaan terhadap barang itu mengalami peningkatan. Harga-harga membumbung tinggi dan jauh dari daya beli masyarakat. Hal ini sangat berimplikasi terhadap kenaikan harga barang dan jasa lainnya. Sedangkan inflasi karena kesalahan manusia dapat terjadi akibat tiga hal yaitu korupsi dan kesalahan 24 Nurul Huda, Ekonomi Makro Islam, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013), h. 25 Hal Hill, Ekonomi Indonesa ,(Jakarta: Kencana,2001) h.45 182. 14 15 administrasi yang buruk, pajak yang berlebihan, dan peningkatan sirkulasi mata uang.26 C. Suku Bunga (BI rate) Suku bunga adalah pembayaran bunga tahunan. Dari suatu pinjaman, dalam bentuk persentase dari pinjaman yang diperoleh dari jumlah bunga yang diterima tiap tahun dibagi dengan jumlah pinjaman.27 Pengertian suku bunga lainnya, adalah harga dari pinjaman. Suku bunga dinyatakan sebagai persentase uang pokok per unit waktu.28 Tingkat suku bunga Bank Indonesia (SBI) atau BI-Rate adalah suku bunga instrumen sinyaling Bank Indonesia (BI) merupakan suku bunga kebijakan moneter (policy rate) yang digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan operasi pengendalian moneter untuk mengarahkan agar rata-rata tertimbang suku bunga SBI satu bulan hasil lelang Operasi Pasar Terbuka (OPT) yaitu suku bunga instrumen liquidity adjustment berada di sekitar BI-Rate.29 BI-Rate diimplementasikan melalui OPT untuk SBI dengan tenor satu bulan. Level BI-Rate ditetapkan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) triwulanan yang berlaku selama triwulan berjalan, kecuali ditetapkan berbeda oleh RDG bulanan dalam triwulan yang sama. Bank Indonesia secara periodik untuk jangka waktu tertentu mengumumkan BI-Rate kepada publik segera setelah ditetapkan dalam RDG sebagai sinyal stance kebijakan moneter yang lebih tegas dalam merespon prospek pencapaian sasaran inflasi ke depan. Sebagai pemegang otoritas moneter tertinggi, BI mempunyai tugas menjaga stabilitas ekonomi, diantaranya ada dua aspek penting yaitu BI-rate yang berkaitan langsung atau tidak langsung dengan inflasi dan stabilitas nilai tukar rupiah. Suatu perekonomian dapat dikatakan stabil apabila kedua indikator ini dapat dikendalikan dalam sistem yang moderat. Sasaran operasional kebijakan moneter dicerminkan pada perkembangan suku bunga Pasar Uang Antar Bank Overnight (PUAB O/N). Pergerakan di suku bunga PUAB ini diharapkan akan diikuti oleh perkembangan di suku bunga deposito, dan pada gilirannya suku bunga kredit perbankan. Dengan mempertimbangkan pula faktor-faktor lain dalam perekonomian, Bank Indonesia pada umumnya akan menaikkan BI-Rate apabila inflasi ke depan diperkirakan melampaui sasaran yang telah ditetapkan, sebaliknya Bank Indonesia akan menurunkan BI-Rate apabila inflasi ke depan diperkirakan berada di bawah 26 Adiwarman A. Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, ed,3 (Jakarta : Rajawali Pers, 2010), h. 425. 27 Karl dan Fair. Pembayaran Bunga Tahunan Dari Suatu Pinjaman, Dalam Bentuk Persentase Dari Pinjaman yang Diperoleh (Yogjakarta: YKPN, 2001), h. 52. 28 Sunariyah. Pengantar Pengetahuan Pasar Modal (Yogyakarta: AMP YKPN, 2004), hal. 17. 29 Bank Sentral Republik Indonesia, Laporan Moneter, BI-Rate, www.bi.go.id diakses tanggal 23 Desember 2017. 15 16 sasaran yang telah ditetapkan. Suku bunga adalah biaya untuk meminjam uang dan diukur dalam dolar per tahun untuk setiap satu dolar yang dipinjamnya, jika diterapakan dalam kondisi Indonesia maka suku bunga merupakan jasa peminjaman uang dari bank kepada nasabah.30 Jika BI rate dinaikkan, yang akan terjadi adalah investor akan memilih alternatif investasi yang memberikan pendapatan yang lebih tinggi. Akibatnya instrumen-instrumen pasar modal seperti saham tidak diminati bahkan dijual dan beralih ke perbankan. Hal tersebut menyebabkan harga saham menurun sehingga keuntungan reksa dana saham juga mengalami penurunan. Dan begitu pula sebaliknya. Tingkat suku bunga merupakan harga dari penggunaan uang atau bisa juga dipandang sebagai sewa atas penggunaan uang untuk jangka waktu tertentu seperti halnya dengan barang-barang lain. Pada bank umum kebijakan bunga akan sangat tergantung dengan kebijakan bunga dari Bank Sentral. Apabila tingkat suku bunga pada bank konvensional lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat bagi hasil yang ditawarkan bank syariah, maka tidak menutup kemungkinan nasabah yang semula merupakan nasabah bank syariah akan beralih menjadi nasabah bank konvensional. Sebaliknya, jika tingkat bagi hasil yang ditawarkan bank syariah lebih tinggi dibandingkan tingkat suku bunga di bank konvensional, maka tidak menutup kemungkinan nasabah yang semula merupakan nasabah bank konvensional akan beralih menjadi nasabah bank syariah.31 D. Produk Domestik Bruto (PDB) Pendapatan Nasional Bruto (PDB) merupakan nilai pasar dari semua barang dan jasa final yang diproduksi dalam sebuah Negara pada suatu priode, meliputu factor produksi milik warga negaranya sendiri maupun mulik warga Negara asing yang melakukan produksi di dalam Negara tersebut. PDB merupakan salah satu instrumen penting untuk dapat menghitung pendapatan nasional. PDB diyakini sebgai indikator ekonomi terbaik dalam menilai perkembangan ekonomi sutau Negara walaupun memiliki banyak kelemahan hanya menghitung output yang masuk kepasar, tidak menghitung nilai leisure, dan lainnya. Namun pehitungan pendapatan nasional ini mempunyai ukuran makro utama tentang kondisi suatu negara. Defenisi pendapatan nasional dapat ditinjau dari tiga pendekatan, meliputi pendekatan produksi, pendekatan pendapatan, dan pendekatan pengeluaran: 1. Pendekatan produksi (PDB) (Production Approach) Berdasarkan metode ini pendapatan nasional adalah barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu Negara dalam priode tertentu. Den gan metode in, pendapatan 30 Samuelson, Paul A. dan William D. Nordhaus. Ilmu Makroekonomi. Edisi Ketujuh belas (Jakarta: Media Global Edukasi, 2004), h. 197. 31 Evi, Natalia, dkk. “Pengaruh Tingkat Bagi Hasil Deposito Bank Syariah Dan Suku Bunga Deposito Bank Umum Terhadap Jumlah Simpanan Deposito Mudharabah (Pada PT Bank Syariah Mandiri Periode 2009-2012)”. JAB Vol.9 No.1 April 2014, h. 7. 16 17 nasional dihitung dengan menjumlahkan setiap nilai tambah (value added) proses produksi di dalam masyarakat (warga Negara asing dan penduduk) dari berbagai lapangan usaha suatu Negara dalam kurun waktu satu priode (biasanya satu tahun). Di dalam suatu perekonomian, di Negara-negara berkembng, barang dan jasa diproduksikan bukan saja oleh perusahaan milik penduduk Negara tersebut, melainkan oleh penduduk Negara lain selalu didapati produk nasional diciptakan oleh factor-faktor produksi yang berasal dari luar negeri. Perusahaan multinasional beroprasi diberbagai Negara dan membantu menaikan nilai barang dan jasa yang dihasilkan oleh Negara-negar tersebut. Perusahan multinasional tersebut menyediakn modal, teknologi, dan tenaga ahli kepada negara tempat perusahaan itu beroprasi. Dengan demikian, produk domestic bruto (PDB) adalah nilai barang dan jasa dalam sutu negara yng diproduksikan oleh factor-faktor produksi milik Negara tersebut dan asing Komponen-komponen pendapatan nasional yang termasuk dalam penghitungan dengan metode produksi di antaranya, adalah sebagai erikut: a. Pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan b. Pertambangan dan penggalian c. Industry pengolahan d. Listrik, gas, dan air minum e. Bangunan f. Perdagangan, hotel, restoran g. Pengangkuta dan komunikasi h. Bank dan lembaga keuangan lainnya i. Sewa rumah j. Pemerintahan dan pertahanan k. Dalam Jasa-jasa Hasil produksi dari setiap lapangan usaha tersebut dijumlahkn dalam satu tahun lalu dikalikan harga satuan masing-masing. 2. Pendekatan pengeluaran (PNB) (Expendature Approach) Pendekatan nasional dengan pendekatan pengeluarandapat diartikan sebagai jumlah pengeluaran secara nasiona untuk membeli barang dan jasa dalam satu periode, biasanya satu tahun. Berdasarkan metode pengeluaran, pendapatan nsional adalah penjumlahan seluruh pengeluaran yang dilakukan seluruh pelaku ekonomi (rumah tangga, perusahaan, pemerintah, masyarakat luar negeri) di dalam suatu negara periode tertentu (satu tahun). Dalam pengitungan PNB, nilai barang dan jasa yang dihitung dalam pendapatan nasioanal hanyalah barang dan jasa yang diproduksikan oleh faktor-faktor produksi yang dimliki oleh warga negara dari negara yang pendapatan nasionalnya dihitung. Karena oleh faktor-faktor produksi yang dimliki oleh warga negara suatu negara terdapat di negara itu sendiri atau luar negeri, nilai produksi yang diwuudkan oleh faktor-faktor yang digunakan di luar negeri juga di hitung dalam PNB. Sebaliknya, dalam PNB tidak dihitung produksi ang diujudkan oleh faktor-faktr 17 18 produksi milik penduduk atau perusahaan negara lain yang digunakan di negara tersebut. Perhitungan pendapatan nasional dengan cara pengeluaran memiliki empat komponen penting yaitu, konsumsi rumah tangga, pengeluaran pemerintah, pembentukan modal sektor swasta dan ekspor neto: Y = AE = C + I + G + (X-M) 3. Pendekatan Pendapatan (Income Approach) Pendapatan nasional menurut pendekatan ni adalah jumlah pendapatan yang diterima oleh pemilik faktor-faktor produksi (rumah tangga) yang digunakan untuk memproduksikan barang dan jasa dalam satu tahun tertentu. Lebih jelasnya dapat diliha komponn-komponen pendpatan nsional menurut pendapatan berikut: 1. Alam dengan sewa (rent/r) sebagai balas jasa 2. Tenaga kerja dengan upah/gaji (wage/w) sebagi balas jasa 3. Modal dengan bunga (interest/i) sebagai balas jasa 4. Skill kewirausahaan dengan laba (profit/w). Dengan rumus: Y= Yw + Yi + Yr + Yp.32 E. Kurs Definisi nilai tukar atau kurs (foreign exchange rate) merupakan harga mata uang suatu negara terhadap mata uang negara lain.33 Dalam hal ini adalah mata uang rupiah terhadap mata uang asing. Karena nilai tukar ini mencakup dua mata uang, maka titik keseimbangannya ditentukan oleh sisi penawaran dan permintaan dari kedua mata uang tersebut. Perubahan persentase dalam kurs nominal antara mata uang dari kedua Negara sama dengan persentase perubahan dalam kurs rill ditambah selisi tingkat inflasinya. Jika suatu Negara memiliki tingkat inflasi yang relaif tinggi terhadap Amerika Serikat, satu dolar akan membeli jumlah mata uang asing yang semakin lama semakin banyak sepanjang waktu. Jika suatu Negara memiliki tingkat inflasi yang relatif rendah terhadap Amerika Serikat, satu dolar akan membeli jumlah mata uang asing yang semakin lama semakin sediki sepanjang waktu. Nilai tukar mata uang merupakan perbandingan nilai dua mata uang yang berbeda atau dikenal dengan sebutan kurs. Nilai tukar didasari dua konsep, pertama, konsep nominal, merupakan konsep untuk mengukur perbedaan harga mata uang yang menyatakan berapa jumlah mata uang suatu negara yang diperlukan guna memperoleh sejumlah mata uang dari negara lain. Kedua, konsep riil yang dipergunakan untuk mengukur daya saing komoditi ekspor suatu negara di pasaran 32 Naf’an, Ekonomi Makro: Tinjauan Ekonomi Syariah , (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2014), h.197-200 33 Pilbeam keith, International Finance3rd Edition. (New York: Palgrave MacMillan, 2006), h. 72 18 19 internasional.34 Berdasarkan sejarah dan perkembangannya, sistem kurs yang pernah ada dan sedang dipraktekkan adalah: a. Sistem Kurs Tetap (FIER) adalah sistem kurs yang mematok nilai kurs mata uang asing terhadap mata uang negara yang bersangkutan dengan nilai tertentu yang selalu sama dalam periode tertentu. Sistem kurs tetap sangat bergantung pada ketentuan yang diberlakukan oleh pemerintah atau bank sentral. Dalam hal ini nilai mata uang dibiarkan konstan dan hanya berfluktuasi pada batasan yang lebih sempit. Jika kurs berubah terlalu tajam, pemerintah akan melakukan intervensi untuk mengendalikannya. Pemerintah dan bank sentral ikut serta secara aktif dalam pasar valuta asing dengan cara membeli atau menjual valuta asing jika nilai kurs menyimpang dari standar yang telah ditetapkan. b. Sistem Kurs Mengambang (Floating Exchange Rate) adalah sistem kurs menentukan bahwa nilai mata uang suatu negara ditentukan oleh kekuatan permintaan dan penawaran pada pasar uang. Sistem ini terbagi dua macam yaitu, Clean float (mengambang murni) yaitu apabila penentuan nilai kurs tanpa adanya campur tangan pemerintah. Sistem kurs ini ditentukan sepenuhnya oleh mekanisme pasar. Sistem ini bergantung pada penawaran dan permintaan terhadap kurs mata uang sehingga nilai kurs selalu berubah tergantung permintaan dan penawaran. Nilai mata uang menjadi berharga jika permintaan lebih besar daripada cadangan yang tersedia. Sebaliknhya, nilai mata uang menjadi berkurang jika permintaannya juga berkurang. Sedangkan bila pemerintah turut serta mempengaruhi nilai kurs disebut Dirty Float atau kurs mengambang terkendali. Dalam sistem ini kurs juga ditentuka oleh mekanisme pasar namun pemerintah dan bank sentral ikut serta dalam mempengaruhinya, yaitu melalui intervensi pasar berupa berbagai kebijakan di bidang moneter, fiskal, investasi, ekspor dan lain-lain. Campur tangan pemerintah dalam mempengaruhi kurs bisa secara langsung maupun tidak langsung. c. Sistem Kurs Terkait (Pegged Exchange Rate) adalah nilai tukar yang dikaitkan dengan nilai mata uang negara lain, atau sejumlah mata uang tertentu.35Permintaan dan penawaran akan valuta asing akan membentuk tingkat nilai tukar suatu mata uang domestik terhadap mata uang negara lain. Penawaran dan permintaan valuta asing timbul karena adanya hubungan internasional dalam perdagangan barang, jasa, maupun modal, sehingga untuk menyelesaikan transaksi perlu menukarkan suatu mata uang domestik dengan valuta asing, dan sebaliknya. 34 Halwani, Hendra. Ekonomi Internasional dan Globalisasi, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2005), h. 23. 35 Irham Fahmi, Pengantar Perbankan “teori dan aplikasi”, (Bandung : Alfabeta, 2014). h.155. 19 20 F. Kajian Terdahulu No Penelitian dan Tahun Penelitian 1. Toni Priyanti, Idqan Fahmi, dan Rifki Ismail.36 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembiayaan Berbasi Bagi Hasil (Equity Financing) Pada Bank Syariah X Jurnal Aplikasi Bisnis dan Manajemen, Vol. 2 No. 3, September 2016 Hasil Penelitian Perbedaan Penelitian Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi pembiayaan berbasis bagi hasil pada Bank Syariah yang meliputi pembiayaan mudharabah dan musyarakah secara kuantitatif dan merumuskan kebijakankebijakan yang dapat dilakukan manajemen dalam menjaga pertumbuhan pembiayaannya. Penelitian dilakukan menggunakan Autoregressive Distributed Lag (ARDL) Model dengan variabel yang digunakan meliputi BI Rate dan inflasi sebagai faktor eksternal. Hasil pengujian kedua faktor eksternal memberikan pengaruh negatif terhadap kedua pembiayaan tersebut. BI Rate sebagai indikator kebijakan pemerintah menjadi variabel yang paling cepat memengaruhi pembiayaan berbasis bagi hasil yaitu pada lag 1. Berikutnya diikuti oleh inflasi sebagai indikator makroekonomi pada lag 2, 9 dan 10. Seluruh faktor internal memberikan pengaruh negatif terhadap kedua jenis pembiayaan kecuali biaya pendidikan dan pelatihan dan variabel autoregressive. Variabel penelitian, pendekatan penelitian dan analisis data Toni, Idqan dan Rifki “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembiayaan Berbasis Bagi Hasil (equity financing) Pada Bank Syariah” dalam Jurnal Aplikasi Bisnis dan Manajemen, vol.2 No. 3, 2016 h.282. 36 20 21 2. Fadla Nurmala37 Analisis Faktor Internal dan Faktor Eksternal Yang Mempengaruhi Penyaluran Pembiayaan Pada Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) di Indonesia 3. Secara simultan DPK, NPF, CAR, Biaya Promosi, Inflasi dan Suku Bunga mampu menjelaskan serta mempunyai pengaruh signifikan terhadap penyaluran pembiayan BPRS di Indonesia. Secara simultan factor eksternal (inflasi dan equivalen rate) mempunyai pengaruh terhadap penyaluran pembiayaan pada BPRS di Indonesia dengan kekuatan 67%. Skripsi: UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2016. Abida analisis data menggunakan metode Muttaqiena38 Regresi Linier Berganda. Hasil penelitiannya menyimpulkan PDB Analisis Harga Konstan berpengaruh Pengaruh PDB, signifikan negative terhadap DPK Inflasi, Tingkat Perbankan Syariah; inflasi IHK Bunga, Dan berpengaruh signifikan terhadap Nilai Tukar DPK Perbankan Syariah; Suku Terhadap Dana Bunga Deposito 1 Bulan Bank Pihak Ketiga Umum berpengaruh signifikan Perbankan positif terhadap DPK Perbankan Syariah di Syariah , sedangkan Kurs Tengah Indonesia 2008- Dollar AS berpengaruh signifikan 2012 positif terhadap DPK Perbankan Syariah. Skripsi, 2013 37 Variabel penelitian, pendekatan penelitian dan analisis data Variabel penelitian, pendekatan penelitian dan analisis data Fadla Nurmala, Analisis Faktor Internal dan Faktor Eksternal Yang Mempengaruhi Penyaluran Pembiayaan Pada Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) di Indonesia, Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2016 38 Abida Muttaqiena, “ Analisis Pengaruh PDB, Inflasi, Tingkat Bunga, Dan Nilai Tukar Terhadap Dana Pihak Ketiga Perbankan Syariah di Indonesia 2008-2012”, Skripsi, 2013. 21 22 4. Rizal Nur Firdaus39 Pengaruh Faktor Internal dan Eksternal yang mempengaruhi pembiayaan bermasalah pada bank umum syariah di Indonesia 5. analisis data menggunakan metode Regresi Linier Berganda. Hasil penelitiannya menyimpulkan secara simultan factor internal dan variable eksternal berpengaruh secara signifikan. jurnal El-Dinar, Vol. 3, No 1, Januari 2015 Isnaini Harahap40 Penelitian ini menggunakan dua model penelitian yaitu model analisis regresi linear berganda Analisis serta model VAR. Hasil penelitian Penerapan ini menunjukan bahwa Perbankan pembiayaan syariah, bagi hasil Syariah syariah, tingkat pendidikan dan Terhadap tenaga kerja serta religuitas Sektor UMKM berpengaruh positif dan signifikan di Sumatera terhadap UMKM di Sumatera Utara Utara. Berdasarkan analisis VECM ditemukan bahwa guncangan pada Disertasi, UIN variabel ekonomi syariah seperti Sumatera investasi syariahdan MI syariah Utara, 2016. lebih cepat mengalai stabilitas dibandingkan dengan kredit konvensional. 39 Variabel penelitian, pendekatan penelitian dan analisis data Variabel penelitian, pendekatan penelitian. Rizal Nur Firdaus, pengaruh faktor internal dan eksternal Yang mempempengaruhi pembiayaan Bermasalah pada bank umum syariah Di indonesia, dalam jurnal El-Dinar, Vol. 3, No 1, Januari 2015, h. 83. 40 Isnaini Harahap, ”Analisis Dampak Penerapan Perbankan Syariah Terhadap Sektor UMKM Di Sumatera Utara”, (Disertasi: Program Studi S-3 Ekonomi Syariah UIN SU, 2016), h. 230. 22 23 G. Kerangka Teoritis Kerangka Teoritis adalah kerangka penalaran yang terdiri dari konsep konsep atau teori yang menjadi acuan penelitian. Biasanya kerangka teori disusun dalam bentuk matriks, bagan atau gambar sederhana.Adapun yang merupakan variabel independen dalam penelitian ini adalah inflasi (X1), suku bunga (BI-Rate) (X2), PDB(X3), Kurs (X4). Sedangkan yang menjadi variabel dependennya adalah pembiayaan pada perbankan syariah di Indonesia 2011-2016 (Y). Inflasi BI rate (Suku Bunga) Pembiayaan Pada Perbankan Syariah PDB Kurs H. Hipotesa Hipotesis adalah dugaan yang bersifat sementara mengenai sesuatu objek/subjek yang akan dibuktikan kebenarannya melalui suatu penelitian41. Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah hipotesis statistik atau hipotesis nol yang bertujuan untuk memeriksa ketidakbenaran sebuah dalil atau teori yang selanjutnya akan ditolak melalui bukti-bukti yang sah. Adapun alasan dalam menggunakan hipotesis ini karena penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang menggunakan alat-alat statistik, karakteristik ini sama dengan yang dimiliki hipotesis statistik yang juga menggunakan alat-alat analisis dalam membuktikan dugaan objek-objek yang diteliti. Berdasarkan teori dan kerangka pemikiran tersebut, maka hipotesis di bawah ini pada dasarnya merupakan jawaban sementara terhadap suatu masalah yang harus dibuktikan kebenarannya, adapun hipotesis yang dirumuskan dalam penulisan ini adalah sebagai berikut: Ho : Tidak ada pengaruh inflasi, suku bunga (BI-Rate), PDB, Kurs secara parsial maupun secara bersama-sama (simultan) terhadap Pembiayaan. Ha : Ada pengaruh inflasi, suku bunga (BI-Rate), PDB, Kurs secara parsial maupun secara bersama-sama (simultan) terhadap Pembiayaan. 41 Hamid Darmadi, Metode Penelitian Pendidikan dan Sosial, (Bandung: Alfabeta, 2013), h. 46. 23 24 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Pendekatan Penelitian Penelitian ini merupakan jenis penelitian Kuantitatif dengan pendekatan penelitian kausalitas, yaitu menganalisis kausalitas antara variabel penelitian sesuai dengan hipotesis yang disusun. Jenis penelitian ini dipilih mengingat tujuan penelitian adalah untuk menjelaskan hubungan antar variabel. Rancangan penelitian disusun berdasarkan laporan keuangan Bank syariah di Indonesia. Variabel yang digunakan dalam penelitian terdiri dari pembiayaan, Inflasi, PDB, tingkat suku bunga (BI Rate), dan Kurs. B. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilakukan di Medan Sumatera Utara, objek penelitian seluruh bank syariah di Indonesia (BUS dan UUS). Lokasi Penelitian yaitu, Bank Indonesia Sumatera Utara, Otoritas Jasa Keuangan Sumatera Utara dan Badan Pusat Statistik Sumatera Utara. C. Sumber Data Berdasarkan sumbernya, data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder adalah data yang diperoleh peneliti secara tidak langsung, yaitu data yang diperoleh dalam bentuk sudah jadi, telah dikumpulkan oleh pihak lain. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh berdasarkan runtun waktu (time series) dengan periode penelitian tahun 2010 sampai dengan tahun 2016. Data tersebut yang diperoleh dari statistik Perbankan Syariah Indonesia yang telah dipublikasikan oleh Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). D. Populasi dan Sampel Populasi adalah sekelompok elemen yang lengkap, berupa orang, objek, transaksi atau kejadian dimana kita tertarik untuk mempelajarinya atau menjadikannya objek penelitian. Sedangkan sampel adalah bagian yang menjadi objek sesungguhnya dari penelitian tersebut.42 Populasi dari penelitian ini adalah keseluruhan persentase pertumbuhan masing-masing variabel dari taun 2010-2016 pada pembiayaan UUS dan BUS. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh pembiayaan perbankan syariah (UUS dan BUS) di Indonesia dari tahun 2010 sampai tahun 2016. 42 Soeratno dan Lincolin Arsyad, Metodologi Penelitian untuk Ekonomi dan Bisnis (Yogyakarta: UPP AMP YKPN, 1995), h. 69. 24 25 E. Defenisi operasional Operasionalisasi variabel diperlukan untuk jenis, indikator, serta skala dari variabel-variabel yang terkait dalam penelitian, sehingga pengujian hipotesis dengan alat bantu statistik dapat dilakukan sesuai dengan judul penelitian mengenai “Pengaruh Variabel Makro Ekonomi Terhadap Pembiayaan Pada Perbankan Syariah di Indonesia”, maka variabel yang terkait dengan penelitian ini adalah: Variabel dependen (Y), yaitu variabel terikat atau identik dengan variabel yang dijelaskan. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah pembiayaan pada perbankan syariah di Indonesia tahun 2010-2016. Variabel independen (X), yaitu variabel bebas atau identik dengan variabel penjelas. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah tingkat Inflasi (X1), Suku Bunga (BI Rate) (X2), PDB (X3) dan Kurs (X4). Definisi operasional variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut: Variabel pembiayaan adalah pendanaan yang dilakukan oleh lembaga pembiayaan seperti bank kepada syariah nasabah. Adapun data pembiayaan didapat dari situs Bank indonesia, statistik perbankan syariah Indonesia dalam bentuk miliyaran . Variabel Inflasi yaitu suatu keadaan perekonomian yang ditandai oleh kenaikan harga secara cepat sehingga berdampak pada menurunnya daya beli, sering pula diikuti dengan menurunnya tingkat tabungan dan atau investasi karena meningkatnya konsumsi masyarakat dan hanya sedikit untuk tabungan jangka panjang . Variabel Tingkat suku bunga Bank Indonesia (SBI) atau BI-Rate yaitu suku bunga instrumen sinyaling Bank Indonesia (BI) merupakan suku bunga kebijakan moneter (policy rate) yang digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan operasi pengendalian moneter untuk mengarahkan agar rata-rata tertimbang suku bunga SBI satu bulan hasil lelang Operasi Pasar Terbuka (OPT) yaitu suku bunga instrumen liquidity adjustment berada di sekitar BIRate. Variable kurs yaitu adalah Pembanding harga satuan mata uang terhadap mata uang negara lain dalam bentuk nyata (riil) seperti barang. Kurs adalah Pembanding harga satuan mata uang terhadap mata uang negara lain dalam bentuk nyata (riil) seperti barang. PDB adalah nilai barang dan jasa yang diukur dengan harga konstan (tanpa memperhatikan faktor inflasi). PDB merupakan nilai dari akhir keseluruhan barang/jasa yang dihasilkan oleh semua unit ekonomi dalam suatu negara, termasuk barang dan jasa yang dihasilkan warga negara lain yang tinggal di negara tersebut. 25 26 F. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data Penelitian ini dilakukan pada perbankan syariah di Indonesia dengan menggunakan metode electronic research library research guna mendapatkan tambahan informasi lainnya melalui akses internet ke website Bank Indonesia (BI), OJK dan link lainnya yang relevan. Library Research dilakukan dengan cara membuat kategori dan klasifikasi bahan-bahan tertulis yang berhubungan dengan masalah penelitian. Data-data yang dikumpulkan adalah pembiayaan, Inflasi, PDB, tingkat suku bunga (BI Rate), dan Kurs. Dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data dari dokumendokumen, seperti laporan keuangan, buku-buku ilmiah, arsip, majalah, peraturan-peraturan dan catatan harian atau solicited. Penelitian ini mengambil data dari data Statistik Perbankan Syariah di Indonesia periode 2011-2016. G. Model Analisis Data Setelah menyelesaikan seluruh kuisioner, penulis melakukan editing dan kemudian membuat kategori sesuai dengan variabel yang akan diukur. Kategori tersebut kemudian decoding untuk masuk dalam pengolahan data. Untuk mendukung hasil penelitian, data penelitian yang diperoleh akan dianalisis dengan alat statistik melalui bantuan program E-Views versi 4,0 for windows. Adapun pengujian-pengujian yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah : 1. Uji Deskriptif Yaitu mengumpulkan dan menganalisa serta menafsirkan data, sehingga data tersebut dapat memberikan gambaran mengenai keadaaan yang diteliti. tekhnik analisis yang digunakan untuk menggambarkan secara detail mengenai suatu variabel dengan menganalisis perkembangan variabel. 2. Uji Asumsi Klasik Uji Asumsi Klasik, yaitu dalam penggunaan regresi, terdapat dua asumsi dasar yang terpenting sebagai syarat penggunaan metode regresi. Dengan terpenuhinya asumsi tersebut, maka hasil yang diperoleh dapat lebih akurat dan mendekati atau sama dengan kenyataan. Asumsi tersebut adalah asumsi tentang normalitas, multikolinearitas dan autokorelasi : a. Uji Normalitas Uji normalitas data dilakukan untuk mengetahui apakah model regresi, uji data dalam variabel regresi yang digunakan bertujuan untuk mengetahui bahwa distribusi data dalam variabel yang akan digunakan telah terdistribusi normal. Data yang baik dan layak digunakan dalam penelitian adalah data yang memiliki distribusi normal. Normalitas data dalam penelitian ini dilihat dari normalitas nilai residual dengan menggunakan uji statistik berdasarkan nilai Jaquie Bera (J-B) dengan pedoman data dikatakan normal jika nilai probability-value > 0,05. 26 27 b. Uji Multikoleniaritas Uji multikoleniaritas dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah pada model regresi ditemukan korelasi antara variabel independen. Model regresi yang baik adalah jika tidak ditemukannya korelasi antara variabel independen dengan asumsi jika rhitung < R-Square maka data tersebut berarti tidak terjadi multikolinieritas. c. Uji Autokorelasi Autokorelasi adalah varian residual yang tidak konstan pada regresi sehingga akurasi hasil prediksi menjadi meragukan. Model yang digunkan adalah dengan menggunakan uji Breusch-Godfrey LM Test. Model regresi linier berganda dikatakan tidak terdapat Autokorelasi jika tidak ada satupun variebel bebas yang signifikan secara statistik mempengaruhi variabel terikat dari periode sebelumnya. Nilai dari probabilitas F-Square pada signifikansinya yang berada diatas tingkat kepercayaan 5% atau nilai probability-value > 0,05. 3. Uji Regresi Berganda Untuk mengetahui pengaruh antara inflasi, bunga, kurs dan PDB secara parsial dan simultan berpengaruh terhadap pembiayaan pada perbankan syariah di Indonesia tahun 2010-2016 maka analisa ststistik yang digunakan adalah dengan menggunaka regresi linier berganda. Maka model persamaannya adalah sebagi berikut : Y =α0 + α1 X1+α2 X2+α3 X3+α4 X4+ε Dimana : Y = pembiayaan pada perbankan syariah di Indonesia α0 = Konstanta α1, α2 = Koefisien Regresi X1 = Inflasi X2 = Suku Bunga X3 = Kurs X4 = PDB ε = variabel penganggu 4. Uji Hipotesis Metode yang digunakan untuk menguji hipotesis satu sampai tiga dengan analisis regresi berganda. Hipotesis pertama sampai lima diuji dengan menentukan tingkat signifikansi dengan uji simultan (Uji Ftest dan R2) dan U j i p a r s i a l ( u j i t t e s t ) s e b a gi b e r i k u t : 1) Uji Determinasi (R2) digunakan untuk mengukur sejauh mana kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah di antara nol dan satu. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen. Dari penelitian di atas dengan menggunakan lebi h dari 2 variabel maka digunakan 27 28 adjusted R square karena lebih akurat dibandingkan dengan R2. Dan untuk mengevaluasi mana model regresi terbaik dengan perhitungan : Adjusted R Square = 1-(1- R2 )  n −1  n − k    Dimana : n= jumlah sampel dan k = jumlah parameter. 2) Uji F-test untuk menguji pengaruh simultan pada inflasi, bunga, kurs dan PDB terhadap pembiayaan pada perbankan syariah di Indonesia tahun 2010-2016. Pedoman yang digunakan untuk menerima atau menolak hipotesis yaitu: Ha diterima jika F-hitung > F-tabel , atau nilai p-value pada kolom sig. < level of significant (α) 5%. Ho diterima jika F-hitung < F-tabel, atau nilai p-value pada kolom sig. > level of significant (α) 5%. 3) Uji t-test digunakan untuk menguji pengaruh parsial variabel independen terhadap variabel dependen yaitu inflasi, bunga, kurs dan PDB secara parsial zberpengaruh terhadap pembiayaan pada perbankan syariah di Indonesia tahun 2010-2016. Pedoman yang digunakan untuk menerima atau menolak hipotesis yaitu Ha diterima jika t-hitung > t-tabel atau nilai p-value pada kolom sig. < level of significant (α) 5%. Ho diterima jika t-hitung < t-tabel atau nilai p-value pada kolom sig. > level of significant (α) 5%. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 28 29 A. Gambaran Umum Objek Penelitian 1. Perkembangan Perbankan Syariah Pada Era Modren Pengembangan industri keuangan syaraiah di Indonesia secara informal telah dimulai sebelum dikeluarkannya kerangka hokum formal sebagai landasan operasionalnya. Sebelum tahun 1992, telah berdiri beberapa badan usaha pembiayaan-non-bank yang telah menerapkan komsep bagi hasil. Kebutuhan masyarakat akan hadirnya institusi-institusi keuagan yang dapat memberikan jasa keuangan syaraiahkemudian ditunjuk dalam bentuk rekomendasi kepada pemerintah untuk dapat mengijinkan beroprasinya suatu lembaga perbankan syariah.43 Produk-produk keuangan /perbankan syariah dirmuskan sebagai kristalisasi dari tujuan ekonomi syriah, yaitu kesejahteraan kemanusiaan (well-being of all humanity). Produk-produk perbankan syarih secara garis besar dibagi dua yaitu yang bersifat profite motive dan yang bersifat social motive. Keduanya memiliki keterkaitan dan saling mendukung. Dalam operasionalnya perbankan syriah selain mengelola dana-dana yag bersifat investasi dan titipan juga mengeloladana social seperti dana ZISWAF (zakat, infaq, sedekah, waqaf). Dana-dana tersebut disalurkan sesuai dengan prinsip syariah yang formal dan memenuhi standart fatwa yang berlaku. Dengan demikian, perbankan syariah seara prinsip keuangan menjalankan fungsinya sebagai lembaga intermediasi keuangan dalam menunjang proses pembangunan dengan dimensi pencapaianyang lebih luas karena berpotensi menjangkau golongan masyarakat yang selam ini dikatagorikan sebagai “unbankable”. Dari tahun ke tahun, jumlah bank yang melaksanakan kegitan usaha berdasarkan prinsip syariah terus bertambah. Dalam 10 tahun terakhir, jumlah bank umum syariah telah meningkat dari 11 BUS, 23 UUS dan 150 BPRS pada akhir tahun 2010, meningkat menjadi 12 BUS, 22 UUS dan 163 BPRS pada akhir tahun 2014. Pada tahun 2005 Jaringan kantor BUS sebanyak 304, UUS sebanyak 154 kantor dan BPRS sebanyak 92 kantor. Jadi total layanan kantor Bank syariah sebanyak 550 kantor. Jumlah jaringan kantor ini meningkat pada tahun 2009 menjadi 711 kantor BUS, 262 kantor UUS dan 225 kantor BPRS. Total layanan kantor 1.223. Peningkatan selanjutya pada tahun 2010, yaitu terdapat 1.215 jaringan kantor BUS menjadi 2.145 kantor BUS pada tahun 2014. Jaringan kantor UUS turun menjadi 262 pada tahun 2010 karena beralih menjadi BUS dan pada Des 2016 berjumlah 2.654 kantor. Dari sisi BPRS juga tumbuh dari 286 kantor pada tahun 2010 menjadi 453 kantor pada Desember 2016.44 Tabel dibawah ini menunjukkan pertumbuhan Bank Syariah sejak tahun 2010 sampai dengan Desember 2016. Tabel 4.1 Jariangan Kantor Perbankan Syariah 43 44 P3EI, Islam dan Ekonomi, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2008), h.415 www.ojk.co.id 29 30 INDIKATOR 2010 2011 Bank Umum Syariah -Jumlah Bank 11 11 -Jumlah Kantor 1.215 1.401 Unit Usaha Syariah -Jumlah UUS 23 24 -jumlah Kantor 262 336 BPRS -Jumlah Bank 150 155 -Jumlah Kantor Total Kantor 286 364 1.763 2.101 2012 2013 2014 2015 2016 11 1.745 11 1.998 12 2.163 12 1990 13 1.869 24 517 23 590 22 320 22 311 21 332 158 163 163 163 166 401 403 439 446 453 2.663 2.991 2.919 2.747 2.654 Sumber: Statistik Perbankan Syariah,2018. Penghimpunan Dana Masyarakat juga mengalami pertumbuhan yang seimbang dengan pertumbuhan pembiayaan, yaitu rata-rata 36 persen selama kurun waktu 10 tahun terakhir. Jumlah dana masyarakat pada akhir tahun 2005 sebesar Rp 15,91 Triliun telah tumbuh menjadi Rp 187,20 Triliun pada akhir tahun 2013. Dari sisi asset, kegiatan usaha perbankan syariah telah mengalami pertumbuhan yang cukup pesat yaitu peningkatan asset sebesar rata-rata 36 persen selama 10 tahun terakhir sampai dengan 2013. Total asset perbankan syariah Rp 250.14 Triliun pada Desember 2014. Suatu hal yang istimewa pada pertumbuhan bank syariah di Indonesia adalah ketahanannya dalam krisis keuangan, hal ini terlihat selama masa krisis moneter, dimana pada tahun 2007 dan 2008 Dana Masyarakat masing-masing tetap tumbuh sebesar 37 persen, demikian pula pada tahun 2009 masih tumbuh 23 persen dan pada tahun 2010 bahkan tumbuh 45 persen. Jadi dalam masa krisis maupun pasca krisis Bank Syariah di Indonesia mampu tetap tumbuh. Keadaannya ternyata berbeda dengan perbankan syariah di Malaysia, yaitu Perbankan Syariah di Malaysia relatif tidak setahan Bank Syariah di Indonesia dalam situasi krisis. Penelitian Ahmad Kaleem terhadap data Bank Syariah periode Jan 2014-Des 1999 (sebelum dan sesudah krisis global) membuktikan penolakannya terhadap hipotesis bahwa Bank Islam lebih stabil dan lebih tahan terhadap goncangan.45 Saparuddin, ”Standar Akuntansi Bank Syariah Di Indonesia (Analisis Terhadap Konsistensi Penerapan Prinsip Bagi Hasil)”, (Disertasi: Program Studi S-3 Ekonomi Syariah UIN SU, 2015), h. 71-73. 45 30 31 B. Analisis Data Statistik 1. Analisis Deskriptif Pengolahan data pada penelitian ini menggunakan software statistic Eviews 8 dan Microsoft Excel 2010. Data-data yang digunakan untuk variabel dependen yaitu jumlah pembiayaan perbankan syariah, sedangkan variabel independennya yaitu inflasi, tingkat suku bunga (BI Rate), kurs dan PDB. a. Perkembangan Pembiayaan Perbankan Syariah di Indonesia Data yang digunakan dalam pembiayaan perbankan syariah di bawah ini merupakan pembiayaan dalam milyar Rupiah. Data yang digunakan dari bulan Januari 2010 sampai dengan Desember 2016 maka dapat dilihat Tabel perkembangan pembiayaan, yaitu dibawah ini sebagai berikut. Tabel. 4.2 Perkembangan Pembiayan Perbankan Syariah di Indonesia Perbankan Syariah Di Indonesia (Dalam Milyar Rupiah) Periode 2010-2016 Periode 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 Januari 47,140 69,724 101,689 149,672 181,398 197,279 211,221 Februari 48,479 71,449 103,713 154,072 181,772 197,543 211,571 Maret 50,206 74,253 104,239 161,081 184,964 200,752 213,482 April 51,651 75,726 108,767 163,407 187,885 201,526 213,482 Mei 53,223 78,619 112,844 167,259 189,690 203,894 217,858 Juni 55,801 81,616 117,592 171,227 193,136 206,056 222,175 Juli 57,633 84,556 120,910 174,486 194,079 204,843 220,143 Agustus 60,275 90,540 124,946 174,537 193,983 208,143 220,452 September 60,970 92,839 130,357 177,320 196,563 205,874 235,005 Oktober 62,995 96,805 135,581 179,284 196,491 207,768 237,024 Nopember 65,942 99,427 140,318 180,833 198,376 209,124 240,381 Desember 68,181 102,655 147,505 184,122 199,330 212,996 248,007 Sumber : Statistik Perbankan Syariah, Bank Indonesia dan OJK ,2018. Berdasarkan table 4.2 pembiayaan bank syariah terus meningkat pada setiap priodenya. Sebagai lembaga intermediasi dalam periode penelitiannya cenderung mengalai trend peningkatan pada awal priode tercatat sebesar Rp 47, 140 milyar dan pada akhir periode tercatat sebesar Rp 248,007 milyar. Jumlah rata-rata tertinggi tercatat pada tahun 2016 dan terendah pada tahun 2010. Pembiayan yang terus meningkt sepanjang periode penelitian disebabkan oleh beberap faktor diantaranya, semakin meningkatnya minat dan kepercayaan public 31 32 untuk menitipkan uangnya di bank syariah dan semakin bertambahnya jumlah bank umum syariah sepanjang periode penelitian. Gambar 4.1 Pembiayaan perbankan Syariah di Indonesia Berdasarkan gambar 4.1 selama periode penelitian jumlah pembiayaan yang disalurkan menunjukan tren kecenderungan naik. Hal ini mengindikasi pembiayaan yang terus meningkat selama periode penelitian bank syariah telah menunjukan tugasnya sebagai lembaga intermediasi antara pihak yang memiliki kelebihan dan dengan pihak yang membutuhkan dana. Selain itu minat masyarakat untuk menabung di perbankan syariah juga terus meningkat jika dilihat dari grafik diatas. Meskipun besarnya pembiayaan masi didominasi oleh pembiaayaan Murabaha daripada pembiayaan mudharabah, musyarakah dan lainnya karena besarnya resiko yang ditanggung mengingat bank syariah masih terus mengalami berbagai bentuk penyesuaian-penyesuaian. Akan tetapi, hal ini dapat dijadikan sebagai pelajaran untuk memperbaiki perannya sebagai lembaga intermediasi, hal ini tentunya turut peran serta pemerntah dan masyarakat sebagai faktor pendukung. b. Perkembangan Inflasi Data yang digunakan pada Inflasi di bawah ini merupakan dalam bentuk persen. Data yang digunakan dari bulan Januari 2010 sampai dengan Desember 2016 maka dapat dilihat Tabel perkembangan inflasi , yaitu dibawah ini sebagai berikut. Tabel. 4.3 Perkembangan Tingkat Inflasi di Indonesia Periode 2010-2016 Periode 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 Januari 3.72% 7.02% 3.65% 4.57% 8.22% 6.96% 4.14% Februari 3.81% 6.84% 3.56% 5.31% 7.75% 6.29% 4.42% Maret 3.43% 6.65% 3.97% 5.90% 7.32% 6.38% 4.45% 32 33 April 3.91% 6.16% 4.50% 5.57% 7.25% 7.16% 3.60% Mei 4.16% 5.98% 4.45% 5.47% 7.32% 7.20% 3.33% Juni 5.05% 5.54% 4.53% 5.90% 6.70% 7.26% 3.45% Juli 6.22% 4.61% 4.56% 8.61% 4.53% 7.26% 3.21% Agustus 6.44% 4.79% 4.58% 8.79% 3.99% 7.18% 2.79% September 5.80% 4.61% 4.31% 8.40% 4.53% 6.83% 3.07% Oktober 5.67% 4.42% 4.61% 8.32% 4.83% 6.25% 3.31% Nopember 6.33% 4.15% 4.32% 8.37% 6.23% 4.89% 3.01% Desember 6.96% 3.79% 4.30% 8.38% Sumber: www.bi.go.id (Data Diolah), 2018. 8.36% 3.35% 3.02% Dari tabel 4.3 di atas dapat menjelaskan fluktasi pada tingkat inflasi ,terlihat pada bulan januari 2010 sampai desember 2016 selalu mengalami penurunan dan kenaikan yang selalu berubah pada setiap bulannya. Namun penurunan inflasi paling rendah pada periode penelitian terlihat pada bulan Nopember 2016 sebesar 3,02% dan kenaikan atau peningkatan inflasi tertinggi pada bulan agustus tahun 2013 sebesar 8,79%. Gambar 4.2 perkembangan tingkat inflasi di Indonesia Berdasar gambar 4.2 secara keseluruhan inflasi menurun tajam pada periode akhir penelitian 2016. Penurunan tekanan inflasi ini tidak lepas dari penurunan harga minyak internasional, sehingga harga bahan bakar minyak (BBM) di indonesia relatif murah. kenaikan inflasi secara tajam terjadi pada periode tahun 2013 , meningkatnya tekanan inflasi tersebut terutama terjadi pada kelompok bahan makanan, yang diakibatkan oleh kenaikan harga pangan secara global seperti (jagung, cabai, gandum, dan kedelai). Pada tahun 2015 pada bulan 33 34 januari- bulan mei 2015, inflasi mengalami peningkatan. Tekanan inflasi ini terjadi pada kelompok harga barang yang dikendalikan pemerintah, seperti kenaikan tarif listrik dan tarif angkutan udara. c. Perkembangan Tingkat Suku Bunga (BI rate) Suku Bunga yang digunakan dalam penelitian ini berbentuk persentase. dan berdasarkan data yang diperoleh, dapat dilihat perkembangan BI rate periode Januari 2010 sampai dengan Desember 2016 dibawah ini sebagai berikut. Tabel. 4.4 Perkembangan Tingkat Suku Bunga di Indonesia Periode 2010-2016 Periode 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 Januari 6.50% 6.50% 6.00% 5.75% 7.50% 7.75% 7.25% Februari 6.50% 6.75% 5.75% 5.75% 7.50% 7.50% 7.00% Maret 6.50% 6.75% 5.75% 5.75% 7.50% 7.50% 6.75% April 6.50% 6.75% 5.75% 5.75% 7.50% 7.50% 6.75% Mei 6.50% 6.75% 5.75% 5.75% 7.50% 7.50% 6.75% Juni 6.50% 6.75% 5.75% 6.00% 7.50% 7.50% 6.50% Juli 6.50% 6.75% 5.75% 6.50% 7.50% 7.50% 6.50% Agustus 6.50% 6.75% 5.75% 7.00% 7.50% 7.50% 6.50% September 6.50% 6.75% 5.75% 7.25% 7.50% 7.50% 6.50% Oktober 6.50% 6.50% 5.75% 7.25% 7.50% 7.50% 6.50% Nopember 6.50% 6.00% 5.75% 7.50% 7.75% 7.50% 6.50% Desember 6.50% 6.00% 5.75% 7.50% 7.75% 7.50% 6.50% Sumber: www.bi.go.id (Data Diolah), 2018. Dari tabel 4.4 di atas menjelaskan bahwa perkembangan tingkat BI Rate perbankan syariah di Indonesia sejak bulan januari tahun 2010 sampai dengan januari tahun 2011 tidak mengalami peningkatan maupun penurunan sama sekali yaitu terlihat sebesar 0%, pada februari tahun 2011 mengalami peningkatan sebesar 0,25%, serta dari bulan maret sampai September tidak mengalami perubahan sebesar 0%. pada bulan november 2014 mengalami kenaikan sebesar 0,25%, bulan desember 2014 sampai bulan januari 2015 tidak mengalami perubahan sama sekali, pada bulan februari 2015 mengalami penurunan sebesar -0,25% dan bulan maret sampai bulan desember 2015 tidak mengalami perubahan sama sekali lagi. Pada januari 2016 tidak mengalami perubahan, pada akhir periode penilitian Desember 2016 tingkat suku bunga sebesar 6.50%. 34 35 Gambar 4.3 Pembiayaan perbankan Syariah di Indonesia Berdasarkan gambar 4.3 dapat diketahui bahwa perkembangan tingkat suku bunga tertinggi terjadi pada periode 2014 dan 2015 sebesar 7.75% dan terendah terjadi pada periode tahun 2010 dengan rata-rata sebesar 6.50 %. Dapat disimpulkan bahwa ratarata kenaikan dan penurunan tingkat Suku bunga di Indonesia dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2016 selalu berfluktuasi sesuai dengan perubahan setiap bulan. Pada agustus 2014, suku bunga mengalami peningkatan, hal ini dikarenakan ada kecenderungan yang terjadi dari persaingan (pencarian) dana dan (penyaluran) kredit yang terjadi. Pada april 2016 , keputusan Bank Indonesia untuk memangkas atau menurunkan acuan suku bunga, dengan harapan diikuti dengan pengurangan suku bunga kredit perbankan serta likuiditas menyebar ke sector rill guna mendorong pertumbuhan ekonomi. d. Perkembangan Nilai Tukar Data Nilai Tukar Rupiah yang digunakan dalam penelitian ini adalah antar harga jual dan harga beli dollar AS yang dinyatakan dalam satuan unit rupiah. Berdasarkan data yang digunakan dari bulan Januari 2010 sampai dengan Desember 2016 maka dapat dilihat Tabel perkembangan Nilai Tukar Rupiah (KURS), yaitu dibawah ini sebagai berikut. Tabel. 4.5 Perkembangan Nilai Tukar di Indonesia Periode 2010-2016 Periode 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 Januari 9,365 9,057 9,000 9,698 12,226 12,625 13,846 Februari 9,335 8,823 9,085 9,667 11,634 12,863 13,395 Maret April 9,115 9,012 8,709 8,574 9,180 9,190 9,719 9,722 11,404 13,084 13,276 11,532 12,937 13,204 Mei 9,180 8,537 9,565 9,802 11,611 13,211 13,615 Juni 9,083 8,597 9,480 9,929 11,969 13,332 13,180 35 36 Juli 8,952 8,508 9,485 10,278 11,591 13,481 13,094 Agustus September 9,041 8,924 8,578 8,823 9,560 9,588 10,924 11,717 14,027 13,300 11,613 12,212 14,657 12,998 Oktober 8,928 8,835 9,615 11,234 12,082 13,639 13,051 Nopember 9,013 9,170 9,605 11,977 12,196 13,840 13,563 Desember 8,991 9,068 9,670 12,189 12,440 13,795 13,436 Sumber: www.bi.go.id (Data Diolah), 2018. Pada table 4.5 dapat diketahui bahwa perkembangan kurs tertinggi terjadi pada bulan September 2015 sebesar Rp. 14,657 dan terendah terjadi di bulan Juli 2011 sebesar Rp. 8.508. Selama tahun 2011 rupiah cenderung bergerak menguat sejalan dengan mulai pulihnya kondisi perekonomian Global. Gambar 4.4 Perkembangan Kurs di Indonesia Pergerakan rupiah selama Desember 2010 relatif stabil dengan kecenderungan melemah. Dan selama tahun 2015, nilai tukar rupiah mengalami depresiasi yang disebabkan oleh ketidakpastian ekonomi global dan devaluasi mata uang yuan. Devaluasi yuan mengakibatkan terjadi perubhan structural (tectonic shift) dalam pasar finansial global. Rupiah pun terpengaruh oleh perubhan ini. Hingga pada akhir desember 2016 periode penelitian, Rupiah cenderung masih melemah seiring dengan penurunan harga minyak mentah dunia. e. Perkembangan PDB Data yang digunakan dalam PDB di bawah ini merupakan PDB dalam milyar Rupiah. Data yang digunakan dari bulan Januari 2010 sampai dengan Desember 36 37 2016 maka dapat dilihat Tabel perkembangan pembiayaan, yaitu dibawah ini sebagai berikut. Tabel 4.6 Tabel Perkembangan PDB Indonesia Periode 2010-2016 Periode 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 523,877 602,821 679,303 735,021 825,863 899,736 909,424 534,494 611,091 686,436 743,646 832,262 907,560 909,424 Maret 545,399 620,441 695,597 753,810 841,752 919,181 909,424 April 557,917 630,751 711,420 765,524 857,806 941,202 956,288 568,405 642,353 721,161 778,753 870,874 956,422 956,288 578,187 655,128 729,454 793,511 884,427 971,241 956,288 591,173 678,728 740,124 819,777 907,786 994,177 999,540 596,611 686,604 742,652 830,106 915,323 1,001,8 999,540 598,411 688,412 740,863 834,479 916,356 1,002,6 999,540 587,710 671,896 723,138 822,778 897,996 996,68 981,676 588,881 670,756 721,429 822,824 895,691 983,939 981,676 593,061 672,739 724,119 824,502 896,553 964,403 981,676 Januari Februari Mei Juni Juli Agustus Septembe r Oktober Nopembe r Desember Sumber: BPS (Data Diolah),2018. Dari tabel 4.6 PDB Indonesia relatif stabil dan mengalami puncak rata-rata tertinggi pada Tahun 2015 dan Tahun 2016. Dalam deskriptif data (Tabel 4.6) terlihat bahwa PDB Terendah adalah 523,877.80 pada januari 2010 dan PDB tertinggi sebesar 1,002,640.21 terjadi pada bulan September 2015. 37 38 Gambar 4.5 Perkembangan PDB di Indonesia Dari gambar 4.5 selama periode penelitian, rata-rata pertumbuhan PDB dari tahun 2010-2016 cenderung terus mengalami peningkatan, puncak tertinggi pada tahun 2015 sampai dengan periode 2016. Pada November 2015 mengalami sedikit penurunan, hal ini dikarenakan pada sector pertambangan dan penggalian tidak mengalami pertumbuhan, hingga pada 2016 PDB mengalami peningkatan kembali. Hal ini dapat disimpulkan bahwa perkemangan PDB Indonesia tumbuh dengan baik. 2. Analisis Pengujian Statistik a. Hasil Uji Asumsi Klasik Uji Asumsi Klasik, yaitu dalam penggunaan regresi panel, terdapat empat asumsi dasar yang terpenting sebagai syarat penggunaan metode regresi. Dengan terpenuhinya asumsi tersebut, maka hasil yang diperoleh dapat lebih akurat dan mendekati atau sama dengan kenyataan. Asumsi tersebut adalah asumsi normalitas, multikolinearitas dan autokorelasi: 1) Uji Normalitas Menurut Sugiyono pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan statistik parametris. Karena akan menggunakan statistik parametris, maka data pada setiap variabel harus terlebih dahulu diuji normalitasnya. Bila data pada tiap variabel tidak normal, maka pengujian hipotesis tidak bisa menggunakan statistik parametris. Uji normalitas dilakukan dengan uji Jarque Bera dengan melihat probalilitas atau 0,556 > 0,50 maka distribusi data pada variabel penelitian adalah normal. 38 39 3 Series: Residuals Sample 2010 2016 Observations 7 2 1 0 -0.10 -0.05 0.00 Mean Median Maximum Minimum Std. Dev. Skewness Kurtosis -4.06e-15 0.020953 0.059803 -0.077394 0.048363 -0.424162 1.909849 Jarque-Bera Probability 0.556524 0.757098 0.05 Sumber : Data diolah, 2018 Gambar 4.6 Uji Normalitas 2) Uji Multikolineritas Multikolinieritas adalah hubungan yang terjadi diantara variabel-variabel independen atau variabel independen yang satu fungsi dari variabel independen yang lain. Dari hasil estimasi data independent (lampiran) bahwa data tidak mengalami multikolinieritas yaitu Tabel 4.7 Uji Multikolinieritas Variance Inflation Factors Date: 05/27/18 Time: 03:57 Sample: 2010 2016 Included observations: 7 Variable INFLASI BUNGA KURS LN_PDB_ C Coefficient Uncentered Centered Variance VIF VIF 16.41613 120.5779 0.004813 0.331804 54.16248 Sumber : Data diolah, 2018 39 50.66486 547.7512 589.6592 60910.47 54032.26 2.227990 4.030057 16.15880 11.21507 NA 40 Dari data di atas bahwa semua variabel independent bebas dari asumsi klasik tentang multikolinieritas, artinya dari semua data Inflasi dan Suku Bunga tidak ada VIF yang lebih besar dari 10 kecuali Kurs dan PDB . Artinya beberapa data bebas dari multikolineritas. 3) Uji Autokorelasi Heterokedastisitas adalah varian residual yang tidak konstan pada regresi sehingga akurasi hasil prediksi menjadi meragukan. Model regresi yang baik adalah model regresi yang memiliki persamaan variance residual suatu periode pengamatan dengan pengamatan yang lain dari periode 2010-2016. Model regresi linier berganda dikatakan tidak terdapat heterokedastisitas jika tidak ada satupun variebel bebas yang signifikan secara statistik mempengaruhi variabel terikat. Nilai absolute residual (Abs. Res.) dapat dilihat dari probabilitas signifikansinya yang berada diatas tingkat kepercayaan 5% dengan uji BG LM Test dan dapat digambarkan pada tabel di bawah ini : Tabel 4.8 Uji Heterokedastisitas Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic Obs*R-squared 5.247917 5.879627 Prob. F(1,1) Prob. Chi-Square(1) 0.2620 0.0153 Sumber : Data diolah, 2018 Pada hasil uji BG LM Test di atas, bahwa hasil probabilitas dari Obs* R Square adalah 5,879 atau 5,879 > 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa data tidak mengalami Autokorelasi. b. Hasil Uji Regresi Berganda Dalam penelitian ini ada beberapa faktor yaitu inflasi, bunga, kurs dan PDB berpengaruh terhadap pembiayaan pada perbankan syariah di Indonesia tahun 20102016 dengan hasil output regresi berganda pada tabel di bawah ini : Tabel 4.9 Koefisien Regresi Berganda Dependent Variable: LN_VPPS_ Method: Least Squares Date: 05/27/18 Time: 03:55 Sample: 2010 2016 Included observations: 7 Variable Coefficient Std. Error 40 t-Statistic Prob. 41 INFLASI BUNGA KURS LN_PDB_ C 4.565513 -12.90189 -0.063692 3.342385 -32.20281 R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statistic) 0.991222 0.973666 0.083767 0.014034 11.81013 56.46068 0.017479 4.051682 1.126819 10.98080 -1.174951 0.069374 -0.918089 0.576025 5.802502 7.359516 -4.375670 Mean dependent var S.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion Hannan-Quinn criter. Durbin-Watson stat 0.3768 0.3610 0.4555 0.0284 0.0485 11.81804 0.516195 -1.945753 -1.984388 -2.423281 2.697644 Sumber : Data diolah, 2018 Hasil Regresi adalah Y =α0 + α1 X1+α2 X2+α3 X3+α4 X4+ε Y = –32,202 – 12,901 X1 – 12,901 X2 – 0,063 X3+3,342 X4+ε Artinya dari hasil regresi adalah 1. Nilai konstanta -32,20 artinya jika inflasi, bunga, kurs dan PDB sama dengan nol maka pembiayaan perbankan syariah di Indonesia periode 2010-2016 turun Rp, 32,20 Milyar. 2. Nilai koofesien Inflasi 0,5295 artinya, jika Inflasi meningkat 1% maka pembiayaan perbankan syariah di Indonesia periode 2010-2016 akan meningkat sebesar Rp. 529,5 juta 3. Nilai koofesien Bunga -12,902 artinya, jika suku bunga naik 1% maka pembiayaan perbankan syariah di Indonesia periode 2010-2016 akan turun sebesar Rp.12,902 Milyar 4. Nilai koofesien Kurs -0,063 artinya, jika kurs Indonesia meningkat Rp.1 maka pembiayaan perbankan syariah di Indonesia periode 2010-2016 akan turun sebesar Rp. 63 juta 5. Nilai koofesien PDB 3,342 artinya jika PDB periode 2010-2016 naik Rp.1 Milyar maka pembiayaan perbankan syariah di Indonesia periode 2010-2016 akan meningkat sebesar Rp. 3,342 Milyar c. Hasil Uji Hipotesis Untuk menetukan diterima atau ditolak hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini, peneliti menggunakan uji hipotesis yang terdiri dari uji R2 dan uji Ftest adalah sebagai berikut : 41 42 a. Uji Determinasi Uji Determinasi (R2) digunakan untuk mengukur sejauh mana kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah di antara nol dan satu. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi ynag dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen. Dari penelitian di atas dengan menggunakan lebih dari 2 variabel maka digunakan adjusted R square. Data adjusted R square adalah 0,97 atau 97,0% variabel inflasi, bunga, kurs dan PDB berpengaruh terhadap pembiayaan pada perbankan syariah di Indonesia tahun 2010-2016 dan sisanya 3,0% yang tidak dimasukkan ke dalam model penelitian ini. b. Uji F-Statistik Uji F digunakan untuk menguji pengaruh simultan pada variabel independen terhadap variabel dependen yaitu variabel independen yaitu inflasi, bunga, kurs dan PDB secara simultan berpengaruh terhadap pembiayaan pada perbankan syariah di Indonesia tahun 2010-2016.Nilai F-hitung adalah 56,46 dan F-tabel adalah n-k-1 = 84-4-1 = 79 dan p = 0,05 adalah 2,36 atau Fhitung > F-tabel atau 56,46 > 2,36, atau nilai p-value adalah 0,017 pada kolom sig. < level of significant (α) 5% maka terdapat pengaruh secara simultan antara inflasi, bunga, kurs dan PDB terhadap pembiayaan pada perbankan syariah di Indonesia tahun 2010-2016 atau Ho ditolak. c. Uji t-Statistik Uji t-test digunakan untuk melihat hubungan atau pengaruh antara variabel independen secara individual (parsial) terhadap variabel dependen. yaitu variabel independen yaitu inflasi, bunga, kurs dan PDB secara parsial berpengaruh terhadap pembiayaan pada perbankan syariah di Indonesia tahun 2010-2016. Hasil uji t-test dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya pengaruh masing-masing variabel independen secara parsial (individual) terhadap variabel dependen. Dalam hal ini, dasar pengambilan keputusan adalah dengan membandingkan t tabel dengan t hitung. Data di atas diketahui dk (derajat kebebasan) = 44-6 =38 dengan taraf kepercayaan α = 0,05 maka t-tabel sebesar 2,0423, hasil parsialnya adalah sebagai berikut : a. Variabel Inflasi Thitung Inflasi = 1,126 maka diperoleh t hitung < t tabel atau 1,126 < 2,0423 Dari hasil uji t tersebut, diperoleh bahwa Ho diterima b. Variabel Suku Bunga Thitung Suku Bunga = -1,174 maka diperoleh -t hitung > -t tabel atau -1,174 > -2,04234 Dari hasil uji t tersebut, diperoleh bahwa Ho diterima c. Variabel Kurs Thitung Kurs = - 0,802 maka diperoleh - t hitung > -t tabel atau - 0,802 > 2,0423 Dari hasil uji t tersebut, diperoleh bahwa Ho diterima 42 43 d. Variabel PDB Thitung PDB = 5,802 maka diperoleh t hitung > t tabel atau 5,802 >2,0423 Dari hasil uji t tersebut, diperoleh bahwa Ho ditolak C. Pembahasan Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah terdapat pengaruh inflasi, suku bunga, kurs dan PDB terhadap pembiayaan, berdasarkan hasil uji yang dilakukan menggunakan program eviews 4 hasil regresi berganda menunjukkan bahwa semua variabel independent yakni inflasi, suku bunga Bagi Hasil, kurs dan PDB memiliki varian dalam mempengaruhi variabel pembiayaan, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hipotesis dalam penelitian ini diterima. 1. Kemampuan Inflasi Mempengaruhi Pembiayaan Berdasarkan pengujian yang dilakukan dengan alat uji regresi berganda membuktikan bahwa inflasi memiliki kemampuan dalam mempengaruhi pembiayaan dari awal hingga akhir pengamatan namun secara parsial hipotesis ditolak atau inflasi tidak berpengaruh terhadap pembiayaan perbankan syariah di Indonesia periode 2010-2016. kontribusi inflasi dalam mempengaruhi pembiayaan cenderung meningkat sampai akhir pengamatan ,yang dimulai dari periode kedua sebesar 2.088% yang kemudian meningkat sampai akhir periode sebesar 4.32%. Hal ini membuktikan bahwa peran inflasi dalam mempengaruhi pembiayaan cukup dominan dalam jangka panjang. Hal ini sejalan dengan hasil uji kausalitas granger dimana inflasi memiliki hubungan kausalitas dengan pembiayaan. Artinya ada hubungan sebab akibat antara inflasi dengan pembiayaan. Sedangkan dari hasil uji Impulse Response Function terlihat bahwa pembiayaan merespon positif guncangan pada inflasi dan seimbang pada periode ke-19. Dampak inflasi bagi debitur, justru menguntungkan pada saat pembayaran utang kepada kreditur. Akan tetapi bagi kreditur akan mengalami kerugian pada saat debitur membayar utang karena nilai uang pengembalian lebih rendah dibandingkan pada saat peminjaman. Bagi produsen, inflasi bisa menguntungkan bila pendapatan yang diperoleh lebih tinggi daripada kenaikan biaya produksi. Namun, bila inflasi menyebabkan naiknya biaya produksi hingga pada akhirnya merugikan produsen 2. Kemampuan Bunga Mempengaruhi Pembiayaan Berdasarkan pengujian yang dilakukan dengan alat uji regresi berganda secara parsial hipotesis ditolakdan ini membuktikan bahwa bunga memiliki kemampuan dalam mempengaruhi pembiayaan dari awal hingga akhir pengamatan. kontribusi bunga dalam mempengaruhi pembiayaan cenderung menurun sampai akhir pengamatan ,yang dimulai dari periode kedua sebesar 0.5016% yang kemudian menurun sampai akhir periode sebesar 0.4591%. Hal ini membuktikan bahwa peran bunga dalam mempengaruhi pembiayaan cukup dominan dalam jangka panjang. Hal ini sejalan dengan hasil uji 43 44 kausalitas granger dimana bunga memiliki hubungan kausalitas dengan pembiayaan. Artinya ada hubungan sebab akibat antara bunga dengan pembiayaan. Sedangkan dari hasil uji Impulse Response Function terlihat bahwa pembiayaan merespon positif guncangan pada bunga dan seimbang pada periode ke-15. Dalam hasil estimasi VECM bunga mempunyai pengaruh negatif terhadap pembiayaan yaitu sebesar -58.16027%. Menurut teori klasik, suku bunga adalah premi yang akan diterima karena menunda konsumsi pada masa yang akan datang. Adapun tabungan menurut teori klasik adalah fungsi suku bunga, makin tinggi suku bunga maka makin besar keinginan masyarakat untuk menabung. Artinya masyarakat lebih suka menabung dalam kondisi tingkat suku bunga yang tinggi daripada mengambil pembiayaan. 3. Kemampuan Kurs Mempengaruhi Pembiayaan Berdasarkan pengujian yang dilakukan dengan alat uji regresi berganda secara parsial hipotesis ditolak ini membuktikan bahwa kurs memiliki kemampuan dalam mempengaruhi pembiayaan dari awal hingga akhir pengamatan. kontribusu kurs dalam mempengaruhi pembiayaan cenderung meningkat sampai akhir pengamatan ,yang dimulai dari periode kedua sebesar 0.15% yang kemudian meningkat sampai akhir periode sebesar 4.71%. Hal ini membuktikan bahwa peran kurs dalam mempengaruhi pembiayaan cukup dominan dalam jangka panjang. Hal ini sejalan dengan hasil uji kausalitas granger dimana kurs memiliki hubungan kausalitas dengan pembiayaan. Artinya ada hubungan sebab akibat antara inflasi dengan pembiayaan. Sedangkan dari hasil uji Impulse Response Function terlihat bahwa pembiayaan merespon negatif guncangan pada kurs dan seimbang pada periode ke-29. Dalam hasil estimasi VECM kurs mempunyai pengaruh positif terhadap pembiayaan yaitu sebesar 0.514691%. jumlah uang beredar yang tinggi menyebabkan inflasi yang tinggi. Salah satu konsekuensi dari inflasi yang tinggi adalah mata uang yang terdepresiasi. Dengan kata lain, bila pertumbuhan jumlah mata uang meningkat harga barang yang diukur dengan uang, pertumbuhan itu cenderung meningkatkan mata uang asing yang diukur dalam kurs mata uang domestik. Perubahan pergerakan nilai tukar akan sebanding dengan perubahan selisi tingkat inflasi domestik dan asing. apabila nilai tukar rupiah terapresiasi masyarakat akan cenderung berivestasi di dalam negeri, besarnya investasi di dalam negeri akan memperbanyak penyaluran pembiayaan kepada masyarakat. 4. Kemampuan PDB Mempengaruhi Pembiayaan Berdasarkan pengujian yang dilakukan dengan alat uji regresi berganda secara parsial hipotesis diterima ini membuktikan bahwa PDB memiliki kemampuan dalam mempengaruhi pembiayaan dari awal hingga akhir pengamatan. kontribusu PDB dalam mempengaruhi pembiayaan cenderung meningkat sampai akhir pengamatan ,yang dimulai dari periode kedua sebesar 44 45 0.016% yang kemudian meningkat sampai akhir periode sebesar 1.16%. Hal ini membuktikan bahwa peran PDB dalam mempengaruhi pembiayaan cukup dominan dalam jangka panjang. Hal ini sejalan dengan hasil uji kausalitas granger dimana PDB memiliki hubungan kausalitas dengan pembiayaan. Artinya ada hubungan sebab akibat antara inflasi dengan pembiayaan. Sedangkan dari hasil uji Impulse Response Function terlihat bahwa pembiayaan merespon positif guncangan pada PDB dan seimbang pada periode ke-33. PDB merupakan indikator ekonomi dalam menilai bagaimana perkembangan ekonomi suatu Negara , perhitungan pendapatan nasional ini mempunyai ukuran makro utama tentang kondisi suatunegara. Dalam penelitian ini di temukan bahwa pembiayaan merespon positif guncangan pada variabel PDB, hal ini sesuai dengan temuan Isnaini Harahap ditemukan bahwa guncangan pada variabel ekonomi syariah seperti bagi hasil dan investasi syariah, direspon secara positif oleh PDB.46 Wallahu a’lam Isnaini Harahap, ”Analisis Dampak Penerapan Perbankan Syariah Terhadap Sektor UMKM Di Sumatera Utara”, (Disertasi: Program Studi S-3 Ekonomi Syariah UIN SU, 2016), h. 230. 46 45 46 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis data yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya, dapat diambil kesimpulan bahwa hasil analisis dengan metode VAR yaitu uji regresi berganda pada alpha 5% dengan bantuan program Eviews 8, menunjukkan bahwa variabel Inflasi, Suku Bunga, Kurs dan PDB memiliki varian dalam mempengaruhi Deposito, hal ini terlihat dari hasil pengamatan di periode pertama sampai dengan akhir Periode. Terkait dengan stabilitas perekonomian yang bias dilihat melalui stabilitas tingkat inflasi, suku bunga, kurs dan PDB akibat adanya guncangan yang terjadi pembiayaan dengan menggunakan uji regresi berganda. Untuk menjawab masalah yang telah dikemukakan di awal maka penulis membuat hasil penelitiain dengan rincian sebagai berikut : 1. Nilai koofesien Inflasi 0,5295 artinya, jika Inflasi meningkat 1% maka pembiayaan perbankan syariah di Indonesia periode 2010-2016 akan meningkat sebesar Rp. 529,5 juta. Inflasi untuk jangka pendek merespon positif terhadap pembiayaan dengan guncangan sampai dengan periode ke-15, dan merespon negatif pada perode ke-3. Kemudian respon positif cenderung menurun (divergen) sampai periode ke-18 dan stabil pada period ke-19 sampai selesai akhir periode (periode 35). 2. Nilai koofesien Bunga -12,902 artinya, jika suku bunga naik 1% maka pembiayaan perbankan syariah di Indonesia periode 2010-2016 akan turun sebesar Rp.12,902 Milyar. Suku Bunga untuk jangka pendek merespon positif terhadap pembiayaan dengan guncangan sampai dengan periode ke-11. Kemudian respon positif cenderung menurun (divergen) sampai periode ke-14 dan stabil pada period ke-15 sampai selesai akhir periode (periode 35). 3. Nilai koofesien Kurs -0,063 artinya, jika kurs Indonesia meningkat Rp.1 maka pembiayaan perbankan syariah di Indonesia periode 2010-2016 akan turun sebesar Rp. 63 juta. Kurs untuk jangka pendek merespon negatif terhadap pembiayaan dengan guncangan sampai dengan periode ke-21, dan merespon positif pada perode ke-2. Kemudian respon negatif cenderung meningkat (konvergen) sampai periode ke-25 dan stabil pada period ke-26 sampai selesai akhir periode (periode 35). 4. Nilai koofesien PDB 3,342 artinya jika PDB periode 2010-2016 naik Rp.1 Milyar maka pembiayaan perbankan syariah di Indonesia periode 20102016 akan meningkat sebesar Rp. 3,342 Milyar. PDB untuk jangka pendek merespon positif terhadap pembiayaan dengan guncangan sampai dengan periode ke-17 dan merespon negatif pada periode ke-4. Kemudian respon positif cenderung menurun (divergen) sampai periode ke-19 dan stabil pada period ke-20 sampai selesai akhir periode (periode 35). 46 47 B. Saran Berdasarkan temuan penelitian di atas, penelitian ini merekomendassikan beberapa saran sebagai berikut: 1. Bagi Perbankan Syariah Penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai bahan pertimbangan dalam pengelolaan likuiditasnya serta pengambilan keputusan dalam melakukan pembiayaan dan memanfaatkan instrumen moneter yang dikeluarkan Bank Indonesia dengan baik. 2. Bagi Lingkungan Akadimisi Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan rujukan bagi penelitian selanjutnya di bidang perbankan syariah, khususnya penelitian mengenai variabel eksternal makroekonomi dan pengaruhnya terhadap kinerja perbankan syariah. 3. Bagi Masyarakat Penelitian ini diharapkan berguna bagi masyarakat sebagai salah satu sumber pengetahuan mengenai analsisis variabel makroekonomi dan kontribusi yang diberikan variabel makroekonomi terhadap kinerja perbankan syariah. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan menggunakan variabel yang lebih banyak sebagai variabel dependent yang mempengaruhi pembiayaan Perbankan Syariah di Indonesia. 47 1 DAFTAR PUSTAKA Buku Adiwarman, Karim. Bank islam: Analisis Fiqih dan Keuangan, Jakarta: Rajawali Press, 2011. Adiwarman A. Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, ed,3 Jakarta : Rajawali Pers, 2010. Bank Sentral Republik Indonesia, Pidato Dewan Gubernur, www.bi.go.id diakses tanggal 21 Desember 2017 Bank Sentral Republik Indonesia, Laporan Moneter, BI-Rate, www.bi.go.id diakses tanggal 23 Desember 2017. Boediono, Ekonomi Makro, Edisi Empat, Jilid 2, Yogyakarta: BPFE, 2001. Darmadi, Hamid. Metode Penelitian Pendidikan dan Sosial, Bandung: Alfabeta, 2013. Departemen Agama, Alquran dan Terjemah, Bandung: J-Art, 2000. Fahmi ,Irham, Pengantar Perbankan “teori dan aplikasi”,Bandung : Alfabeta, 2014. Halwani, Hendra. Ekonomi Internasional dan Globalisasi, Bogor: Ghalia Indonesia, 2005. Hasibuan, Malayu S.P., Dasar-Dasar Perbankan, Jakarta: Bumi Aksara, 2009. Huda ,Nurul, Ekonomi Makro Islam, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013. Karl dan Fair. Pembayaran Bunga Tahunan Dari Suatu Pinjaman, Dalam Bentuk Persentase Dari Pinjaman yang Diperoleh, Yogjakarta: YKPN. Kasmir, Dasar-dasar Perbankan, Jakarta: Rajawali Pers, 2012. Keith, Pilbeam. International Finance3rd Edition. New York: Palgrave MacMillan, 2006. Kuncoro, Mudrajat. Metode Riset: Untuk Bisnis dan Ekonomi, Jakarta: Erlangga, 2002. 1 2 Naf’an, Ekonomi Makro: Tinjauan Ekonomi Syariah , yogyakarta: GRAHA ILMU, 2014. Prathama Rahardja dan Mandala Manurung, Teori Ekonomi Makro Suatu Pengantar Edisi Kedua, Jakarta: Lembaga Penerbit FE.UI, 2004. Remy Sjahdeini, Sutan. Perbankan Syariah, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2014. Samuelson, Paul A. dan William D. Nordhaus. Ilmu Makroekonomi. Edisi Ketujuh belas Jakarta: Media Global Edukasi, 2004. Sholihin, Ahmad Ifham, Buku Pintar Ekonomi Syariah, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2010. Soeratno dan Lincolin Arsyad, Metodologi Penelitian untuk Ekonomi dan Bisnis Yogyakarta: UPP AMP YKPN, 1995.Ariefianto, Moch Doddy, Ekonometrika : Esensi dan Aplikasi Menggunakan Eviews Jakarta : Erlangga, 2012. Sunariyah, Pengantar Pengetahuan Pasar Modal, Edisi Kelima, Jogyakarta: UPP STIM YKPN, 2006. Zakaria, Junaiddin, Pengantar Teori Ekonomi Makro, Jakarta: Gaung Persada, 2009. Jurnal Evi, Natalia, dkk. “Pengaruh Tingkat Bagi Hasil Deposito Bank Syariah Dan Suku Bunga Deposito Bank Umum Terhadap Jumlah Simpanan Deposito Mudharabah (Pada PT Bank Syariah Mandiri Periode 2009-2012)”. JAB Vol.9 No.1 April 2014. Firdaus ,Rizal Nur, pengaruh faktor internal dan eksternal Yang mempempengaruhi pembiayaan Bermasalah pada bank umum syariah Di indonesia, dalam jurnal El-Dinar, Vol. 3, No 1, Januari 2015. Sodiq ,Amirus.,pengaruh variabel makro Ekonomi terhadap profitabilitas Bank syariah di indonesia periode 2009 – 2014, Jurnal Bisnis dan Manajemen Islam Vol. 3, No. 2. 2015. Sucahyo, Indra Budi, “Analisis Hubungan Suku Bunga SBI, Pertumbuhan Ekonomi, dan Financial Deepening di Indonesia.” Skripsi. Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga, Surabaya. 2008. 2 3 Website Surya, Muhammad. Prospek, Faktor Pendukung, Faktor Penghambat dan Strategi Perkembangan Bank Syariah di Indonesia, www.muhammad surya.wordpress.com diakses tanggal 21 Desember 2017. www.bi.go.id www.ojk.go.id 3 1 LAMPIRAN 1 BULAN BULAN Jan 2010 Feb 2010 Mar 2010 Apr 2010 May 2010 Jun 2010 Jul 2010 Aug 2010 Sep 2010 Oct 2010 Nov 2010 Dec 2010 Jan 2011 Feb 2011 Mar 2011 Apr 2011 May 2011 Jun 2011 Jul 2011 V.PEBIAYAAN PERBANKAN SYARIAH (Rp.Milyar) VPPS 47,140 48,479 50,206 51,651 53,223 55,801 57,633 60,275 60,970 62,995 65,942 68,181 69,724 71,449 74,253 75,726 78,619 81,616 84,556 INFLASI SUKU BUNGA KURS PDB PERSEN INF 3.72% 3.81% 3.43% 3.91% 4.16% 5.05% 6.22% 6.44% 5.80% 5.67% 6.33% 6.96% 7.02% 6.84% 6.65% 6.16% 5.98% 5.54% 4.61% PERSEN BI RATE 6.50% 6.50% 6.50% 6.50% 6.50% 6.50% 6.50% 6.50% 6.50% 6.50% 6.50% 6.50% 6.50% 6.75% 6.75% 6.75% 6.75% 6.75% 6.75% RUPIAH KURS 9,365 9,335 9,115 9,012 9,180 9,083 8,952 9,041 8,924 8,928 9,013 8,991 9,057 8,823 8,709 8,574 8,537 8,597 8,508 (Rp.Milyar) PDB 523,877.80 534,494.60 545,399.50 557,917.70 568,405.20 578,187.10 591,173.40 596,611.60 598,411.70 587,710.90 588,881.90 593,061.90 602,821.90 611,091.50 620,441.70 630,751.30 642,353.80 655,128.00 678,728.10 1 2 Aug 2011 Sep 2011 Oct 2011 Nov 2011 Dec 2011 Jan 2012 Feb 2012 Mar 2012 Apr 2012 May 2012 Jun 2012 Jul 2012 Aug 2012 Sep 2012 Oct 2012 Nov 2012 Dec 2012 Jan 2013 Feb 2013 Mar 2013 Apr 2013 May 2013 Jun 2013 Jul 2013 Aug 2013 Sep 2013 Oct 2013 Nov 2013 Dec 2013 Jan 2014 Feb 2014 Mar 2014 Apr 2014 May 2014 Jun 2014 Jul 2014 Aug 2014 90,540 92,839 96,805 99,427 102,655 101,689 103,713 104,239 108,767 112,844 117,592 120,910 124,946 130,357 135,581 140,318 147,505 149,672 154,072 161,081 163,407 167,259 171,227 174,486 174,537 177,320 179,284 180,833 184,122 181,398 181,772 184,964 187,885 189,690 193,136 194,079 193,983 4.79% 4.61% 4.42% 4.15% 3.79% 3.65% 3.56% 3.97% 4.50% 4.45% 4.53% 4.56% 4.58% 4.31% 4.61% 4.32% 4.30% 4.57% 5.31% 5.90% 5.57% 5.47% 5.90% 8.61% 8.79% 8.40% 8.32% 8.37% 8.38% 8.22% 7.75% 7.32% 7.25% 7.32% 6.70% 4.53% 3.99% 2 6.75% 6.75% 6.50% 6.00% 6.00% 6.00% 5.75% 5.75% 5.75% 5.75% 5.75% 5.75% 5.75% 5.75% 5.75% 5.75% 5.75% 5.75% 5.75% 5.75% 5.75% 5.75% 6.00% 6.50% 7.00% 7.25% 7.25% 7.50% 7.50% 7.50% 7.50% 7.50% 7.50% 7.50% 7.50% 7.50% 7.50% 8,578 8,823 8,835 9,170 9,068 9,000 9,085 9,180 9,190 9,565 9,480 9,485 9,560 9,588 9,615 9,605 9,670 9,698 9,667 9,719 9,722 9,802 9,929 10,278 10,924 11,613 11,234 11,977 12,189 12,226 11,634 11,404 11,532 11,611 11,969 11,591 11,717 686,604.80 688,412.50 671,896.00 670,756.80 672,739.70 679,303.80 686,436.80 695,597.70 711,420.80 721,161.60 729,454.50 740,124.90 742,652.90 740,863.90 723,138.00 721,429.90 724,119.80 735,021.20 743,646.90 753,810.30 765,524.10 778,753.60 793,511.40 819,777.60 830,106.90 834,479.40 822,778.30 822,824.80 824,502.00 825,863.10 832,262.20 841,752.30 857,806.70 870,874.10 884,427.70 907,786.50 915,323.20 3 Sep 2014 Oct 2014 Nov 2014 Dec 2014 Jan 2015 Feb 2015 Mar 2015 Apr 2015 May 2015 Jun 2015 Jul 2015 Aug 2015 Sep 2015 Oct 2015 Nov 2015 Dec 2015 Jan 2016 Feb 2016 Mar 2016 Apr 2016 May 2016 Jun 2016 Jul 2016 Aug 2016 196,563 196,491 198,376 199,330 197,279 197,543 200,752 4.53% 4.83% 6.23% 8.36% 6.96% 6.29% 6.38% 7.50% 7.50% 7.75% 7.75% 7.75% 7.50% 7.50% 201,526 7.16% 7.50% 203,894 7.20% 7.50% 206,056 7.26% 7.50% 204,843 7.26% 7.50% 208,143 7.18% 7.50% 205,874 6.83% 7.50% 207,768 6.25% 7.50% 209,124 4.89% 7.50% 212,996 3.35% 7.50% 211,221 4.14% 211,571 4.42% 213,482 4.45% 213,482 3.60% 217,858 3.33% 222,175 3.45% 220,143 3.21% 220,452 2.79% 3 12,212 12,082 12,196 12,440 12,625 12,863 13,084 12,937 13,211 13,332 13,481 14,027 14,657 13,639 13,840 13,795 7.25% 13,846 7.00% 13,395 6.75% 13,276 6.75% 13,204 6.75% 13,615 6.50% 13,180 6.50% 13,094 6.50% 13,300 916,356.70 897,996.00 895,691.90 896,553.00 899,736.80 907,560.70 919,181.80 941,20 2.59 956,42 2.79 971,24 1.52 994,17 7.81 1,001,8 04.37 1,002,6 40.21 996,68 5.34 983,93 9.74 964,40 3.42 909,424. 00 909,424. 00 909,424. 00 956,288. 97 956,288. 97 956,288. 97 999,540. 80 999,540. 80 4 Sep 2016 Oct 2016 Nov 2016 Dec 2016 6.50% 12,998 6.50% 13,051 6.50% 13,563 6.50% 3.02% (DATA TIME SERIES) 13,436 235,005 3.07% 237,024 3.31% 240,381 3.01% 248,007 HASIL ESTIMASI Dependent Variable: LN_VPPS_ Method: Least Squares Date: 05/27/18 Time: 03:55 Sample: 2010 2016 Included observations: 7 Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. INFLASI BUNGA KURS LN_PDB_ C 4.565513 -12.90189 -0.063692 3.342385 -32.20281 4.051682 10.98080 0.069374 0.576025 7.359516 1.126819 -1.174951 -0.918089 5.802502 -4.375670 0.3768 0.3610 0.4555 0.0284 0.0485 R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statistic) 0.991222 0.973666 0.083767 0.014034 11.81013 56.46068 0.017479 Mean dependent var S.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion Hannan-Quinn criter. Durbin-Watson stat UJI ASUMSI KLASIK 1. MULTIKOLINIARITAS Variance Inflation Factors Date: 05/27/18 Time: 03:57 Sample: 2010 2016 Included observations: 7 Variable Coefficient Variance Uncentered VIF Centered VIF INFLASI 16.41613 50.66486 2.227990 4 11.81804 0.516195 -1.945753 -1.984388 -2.423281 2.697644 999,540. 80 981,676. 17 981,676. 17 981,676. 17 5 BUNGA KURS LN_PDB_ C 120.5779 0.004813 0.331804 54.16248 547.7512 589.6592 60910.47 54032.26 4.030057 16.15880 11.21507 NA 2. UJI AUTOKORELASI Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic Obs*R-squared 5.247917 5.879627 Prob. F(1,1) Prob. Chi-Square(1) 0.2620 0.0153 Test Equation: Dependent Variable: RESID Method: Least Squares Date: 05/27/18 Time: 04:00 Sample: 2010 2016 Included observations: 7 Presample missing value lagged residuals set to zero. Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. INFLASI BUNGA KURS LN_PDB_ C RESID(-1) 1.990018 15.08839 -0.026230 -0.039387 -0.310221 -2.143687 2.451435 9.054211 0.040887 0.326356 4.166066 0.935767 0.811777 1.666450 -0.641534 -0.120686 -0.074464 -2.290833 0.5659 0.3441 0.6369 0.9235 0.9527 0.2620 R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statistic) 0.839947 0.039680 0.047394 0.002246 18.22300 1.049583 0.626153 Mean dependent var S.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion Hannan-Quinn criter. Durbin-Watson stat 3. UJI NORMALITAS 5 -4.06E-15 0.048363 -3.492286 -3.538649 -4.065321 3.148397 6 3 Series: Residuals Sample 2010 2016 Observations 7 2 1 0 -0.10 -0.05 0.00 Mean Median Maximum Minimum Std. Dev. Skewness Kurtosis -4.06e-15 0.020953 0.059803 -0.077394 0.048363 -0.424162 1.909849 Jarque-Bera Probability 0.556524 0.757098 0.05 4. UJI HETEROSKEDASTISITAS Heteroskedasticity Test: Breusch-Pagan-Godfrey F-statistic Obs*R-squared Scaled explained SS 1.622286 5.350835 0.198712 Prob. F(4,2) Prob. Chi-Square(4) Prob. Chi-Square(4) 0.4157 0.2532 0.9954 Test Equation: Dependent Variable: RESID^2 Method: Least Squares Date: 05/27/18 Time: 04:09 Sample: 2010 2016 Included observations: 7 Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. C INFLASI BUNGA KURS LN_PDB_ -0.055720 0.028061 0.225434 -0.000147 0.003144 0.152565 0.083993 0.227635 0.001438 0.011941 -0.365220 0.334092 0.990330 -0.101880 0.263280 0.7500 0.7701 0.4264 0.9281 0.8170 R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statistic) 0.764405 0.293215 0.001737 6.03E-06 38.94325 1.622286 0.415685 Mean dependent var S.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion Hannan-Quinn criter. Durbin-Watson stat 6 0.002005 0.002066 -9.698071 -9.736707 -10.17560 2.751711 7 7

Judul: Pengaruh Variabel Makro Ekonomi Terhadap Pembiayaan Pada Perbankan Syariah Di Indonesia

Oleh: Ahmad Ripai Saragih


Ikuti kami