Asuhan Keperawatan Kritis Pada Pasien Dengan Hyperglycemic Hyperosmolar Syndrome Hhs

Oleh I Wayan Antoni

113,3 KB 8 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Asuhan Keperawatan Kritis Pada Pasien Dengan Hyperglycemic Hyperosmolar Syndrome Hhs

ASUHAN KEPERAWATAN KRITIS PADA PASIEN DENGAN HYPERGLYCEMIC HYPEROSMOLAR SYNDROME (HHS) I WAYAN ANTONI 2020 Abstrack Hyperglycemic Hyperosmolar Syndrome atau HHS adalah komplikasi serius dan berpotensi fatal dari penyakit diabetes tipe 2, dimana ciri dari HHS ini sendiri ialah kadar glukosa plasma yang sangat tinggi dengan hasil peningkatan serum atau ringan. Ketidakmampuan untuk mengganti cairan yang hilang melalui dieresis dapat menyebabkan dehidrasi yang parah dan perubahan tingkat kesadaran. Tingkat kematian dari HHS bisa lebih tinggi 20% sekitar 10x lebih tinggi dari Ketoasidosis. Beberapa faktor yang yang akan menentukan prognosis pada HHS adalah usia, derajat dehidrasi dan penyakit penyerta lainnya.. HHS ini terjadi ketika pankreas menghasilkan insulin dalam jumlah yang relatif tidak mencukupi untuk kadar glukosa tinggi dan membanjiri aliran darah, pada orang dewasa yang lebih tua dengan diabetes tipe 2 dan kondisi kardiovaskuler berada pada resiko ringgi maka infeksi biasanya menjadi pemicu berkembangnya HHS, infeksi yang paling umum ialah pneumonia dan infeksi saluran kemih (ISK). Penyebab lain dari HHS ini sendiri ialah stroke, infark miokard, trauma, pembedahan besar dan stress fisiologis penyakit kritis. Pengertian Hyperglycemic Hyperosmolar Syndrome (HHS) adalah penyakit diabetes militus tipe 2, yang dapat menyebabkan komplikasi serius dan berpotensi fatal, dimana ciri dari HHS ini sendiri ialah kadar glukosa plasma yang sangat tinggi dengan hasil peningkatan serum atau ringan. Ketidakmampuan untuk mengganti cairan yang hilang melalui dieresis dapat menyebabkan dehidrasi yang parah dan perubahan tingkat kesadaran (Burns, 2014, pp. 404–405). Etiologi Pada HHS memiliki karakteristik, yaitu : - Glukosa yang lebih bedar dari 600 mg/dL - pH arteri lebih besar dari 7,3 - Serum bikarbonat lebih besar dari 18 mEq/L - Osmolalitas serum lebih besar dari 320 mOsm/kg H, O (320mmol/kg) Penyebab lain dari HHS ini sendiri ialah stroke, infark miokard, trauma, pembedahan besar dan stress fisiologis penyakit kritis (Urden, Stacy and Lough, 2018, p. 743). Manifestasi Klinis Tanda dan gejala dari HHS tidak ada yang spesifik yitu poliuria, polidipsia, kelemahan, kebingungan dan koma. Pemeriksaan diagnostic yang dilakukan adalah pemeriksaan glukosa serum (600mg/dL atau > 1000 mg/dL), osmolalitas serum >> 350 mOsm/kg/H2O, ketoasidosis, pH >7,30, HCO3 > 15 mEq/L, keton serum dibawah 2+, keton urin minimal, Variabel anion gap, dehidrasi, deplesi volume yang parah (intraseluler dan ekstraseluler), fungsi ginjal, BUN meningkat, kreatinin rasio, GFR menurun, elektrolit menurun, kalium, magnesium, fosfat, sodium (Burns, 2014, p. 406). Patofisiologi HHS terjadi ketika pankreas menghasilkan zat yang relatif jumlah insulin nya tidak efesien untuk kadar glukoa yang tinggi, orang dewasa yang lebih tua dengan dm tipe 2 dan dengan penyakit kardiovaskuler akan lebih berisiko tinggi. Infeksi bisa juga menjadi faktor perkembangan dari HHS seperti infeksi pneumonia dan infeksi saluran kemih. Kadar insulin yang kurang akan mengakibatkan glukosa tidak sampai ke dalam sel ini akan mengakibatkan glukosa menumpuk di olasam, insulin menurun memicu pelepasan glucagon hati dan glukosa hati diuangkan kedalam sirkulasi, ketika jumlah glukosa meningkat maka terjadi hiperosmolalitas serum meningkat. Untuk menurunkan osmolalitas maka cairan di ambil dari intraseluler (di dalam sel) ke dalam vaskluer. Penurunan volume intraseluler akan membuat pasien sensasi cepat haus dan tidak berkurang. Filtrasi glumerulus dan eliminasi glukosa oleh tubulus ginjal tidak efektif unutk menurunkan kadar glukosa. Hiperosmolalitas dan volume darah yang bekurang akan merangsang pelepasan ADH untuk meningkatkan reabsorpsi air di tubular. Volume cairan yang hilang berlebihan di tubulus ginjal akan membuat serantak hilang nya kalium, natrium dan fostas di urin ini akan memperburuk hipovolemia. Hipovolemia akan menurunkan perfusi ke ginjal dan oliguria ini akan meningkatkan molalitas (Urden, Stacy and Lough, 2018, p. 743). Pemeriksaan Diagnostik - Glukosa darah, elektrolit, BUN, hitung sel darah lengkap, osmolalitas serum, dan gas darah arteri (Brunner and Suddarth, 2013). Konsep Asuhan Keperawatan Teori A. Asuhan Keperawatan 1. Pengkajian a. Keluhan Utama - Perubahan kepribadian dan status mental - Kekeringan pada kulit dan rambut - Perubahan distribusi rambut - Perubahan berat badan dan nafsu makan - Mual dan muntah - Polidipsia - Peningkatan atau penurunan keluaran urin - Diare - Konstipasi - Menstruasi tidak teratur - Tidak toleransi terhadap panas atau dingin - Disfungsi seksual - Gangguan tidur - Anak-anak : perubahan abnormal b. Riwayat Medik - Riwayat sebelum mengalami penyakit (diabetes mellitus, diabetes insipidus, goiter) - Penurunan dan peningkatan berat badan yang tidak jelas - Stress fisik atau emosional c. Riwayat Keluarga - Obesitas - Diabetes mellitus - Diabetes insipidus - Penyakit autoimun - Hipertensi atau hipotensi - Gangguan tiroid - Pubertas terlambat atau perkembangan terlalu cepat d. Riwayat Sosial - Stresor fisik atau emosional - Penyalahgunaan obat atau alkohol - Pola diet e. Riwayat Lingkungan atau Pekerjaan - Stresor yang berhubungan dengan pekerjaan - Lingkungan lokal : kekurangan yodium yang ada di dalam air atau makanan - Iradiasi f. Riwayat - Kelemahan - Letargi - Peningkatan berat badan - Sakit kepala - Mual dan muntah - Kekacauan mental - Kejang - Penurunan keluaran urin (berat jenis > 1.020) g. Hasil Pemeriksaan Diagnostik - Tes fungsi ginjal, adrenal, dan tiroid normal - Pengawasan di tempat tidur : peningkatan tekanan darah - Pemeriksaan laboratorium : penurunan osmolalitas serum, hiponatremia, hipokloremia, hipokalemia, peningkatan natrium urin, osmolalitas dan berat jenis h. Pengkajian Fisik Inspeksi : - Tinggi Perhatikan perubahan yang tidak jelas pada tinggi atau berat badan, disproporsional tangan dan kaki (akromegali), pertumbuhan berlebihan yang cepat (gigantisme), pertumbuhan terlambat atau kerdil (hipotiroidisme) - Distribusi lemak Perhatikan lemak yang didistribusikan di atas muka, leher, batang tubuh atau daerah lingkar perut (sindrom Cushing’s) - Inspeksi warna kulit Pigmentasi yang tidak biasa seperti kemerahan wajah (hipertiroidisme) atau hiperpigmentasi lokal atau umum - Distribusi rambut Perhatikan perubahan dalam pertumbuhan atau distribusi rambut, adanya hirsutisme pada wanita, kulit kering, tipis, dan rambut hilang pada batang tubuh dan ekstremitas - Periksa kuku : o Warna Perhatikan kelainan warna pada kuku o Bentuk Lengkungan cekung (kuku sendok), kuku tabuh (sudut > 180°), dan tekanan pada dasar kuku o Kualitas Kuku tebal, keras dan rapuh - Perhatikan posisi eksternal dan kesejajaran mata Teliti adanya periorbita, mata cekung, eksoftalmus (mata menonjol) dan hilangnya alis mata Palpasi : - Leher o Ukuran, bentuk Nyeri dan pembengkakan leher terlihat pada hipertiroidisme o Konfigurasi Palpasi kelenjar tiroid dan perhatikan pembesaran atau nodul o Konsistensi o Nyeri tekan Perhatikan getaran yang teraba diatas tiroid Perkusi : - Evaluasi refleks dalam Krisis hipertiroid normal sampai refleks hiperaktif Auskultasi : - Auskultasi tiroid Desiran vaskular diatas kelenjar tiroid dapat terjadi dengan peningkatan vaskularitas i. Pemeriksaan Diagnostik Pemeriksaan urin : - Tes urin 24 jam untuk asam vanilil-mandelik (VMA) dan katekolamin, digunakan untuk mendiagnosa feokromositoma. - Berat jenis urin. Peningkatan berat jenis akibat kelebihan ADH atau glukosuria, penurunan berat jenis ada pada diabetes insipidus (Talbot & Mary, 2010, pp. 264–276). 2. Diagnosa Keperawatan a. Pola napas tidak efektif atau gangguan pertukaran gas b.d asidosis (DKA), penurunan tingkat kesadaran b. Defisiensi volume cairan b.d diuresis osmotik dan kehialngan cairan tubuh total, ketosis dan peningkatan lipolisis, muntah c. Ketidakseimbangan elektrolit b.d kekurangan insulin, perpindahan cairan d. Proses berpikir yang terganggu terkait hiperglikemi, asidosis, e. Pengetahuan yang kurang b.d proses penyakit DAFTAR PUSTAKA Burns, S. M. (2014) AACN Essentials of Critical Care Nursing. 3rd edn. America: McGraw Hill Education. Brunner and Suddarth (2013) Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth. Talbot, L. A. and Meyers-Marquardt, M. (2010) PENGKAJIAN KEPERAWATAN KRITIS. Jakarta: EGC. Urden, L. D., Stacy, K. M. and Lough, M. E. (2018) Critical Care Nursing : Diagnosis and Management. 8th edn. Singapore: Elsevier.

Judul: Asuhan Keperawatan Kritis Pada Pasien Dengan Hyperglycemic Hyperosmolar Syndrome Hhs

Oleh: I Wayan Antoni


Ikuti kami