Asuhan Keperawatan Kritis Pasien Dengan Gagal Jantung Kongestif (chf

Oleh Theresia Cipta

10 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Asuhan Keperawatan Kritis Pasien Dengan Gagal Jantung Kongestif (chf

ASUHAN KEPERAWATAN KRITIS PASIEN DENGAN GAGAL JANTUNG
KONGESTIF (CHF)
Theresia Cipta Nugraheni
9 November 2020

Abstrak
Gagal jantung kongsetif merupakan jantung yang tidak mampu memompa darah dalam
jumlah cukup untuk menjaga lancarnya sirkulasi. Akibatnya terjadi penumpukan darah dan
tekanan ekstra dapat menyebabkan akumulasi cairan ke dalam paru-paru gagal jantung ini
berkaitan dengan masalah-masalah pemompaan otot jantung di bilik jantung, yang mungkin
disebabkan penyakit-penyakit farktus oto jantung (serangan jantung). Meningkatnya volume
intravaskuler Kongestif jaringan akibat tekanan arteri dan vena meningkat akibat penurunan
curah jantung. Manifestasi kongesti berbeda tergantung pada kegagalan ventrikel mana yang
terjadi. Jantung yang normal dapat berespon terhadap peningkatan kebutuhan metabolisme
dengan menggunakan mekanisme kompensasi yang bervariasi untuk mempertahankan
kardiak output, yaitu meliputi :respon system saraf simpatis terhadap barroreseptor atau
kemoreseptor Pengencangan dan pelebaran otot jantung untuk menyesuaikan terhadap
peningkatan volume Vaskontriksi arterirenal dan aktivasi system rennin angiotensin.
(Prabatini, 2014, p. 33)
Pengertian CHF
Chronic Heart Failur (CHF) adalah ketidakmampuan jantung dalam mempertahankan aliran
darah yang memadai didalam sistem sirkulasi sehingga terjadi penurunan aliran darah ke
ginjal, retensi cairan dan natrium yang berlebihan, edema perifer dan paru dan akhirnya
jantung yang keletihan akan segera membengkak. (Hartono, 2004, p. 157)
Tanda dan Gejala:
1. Suara jantung ekstra (suara jantung normal dijelaskan di awal)
1. S3: Suara lembut disebabkan oleh vibrasi dinding bilik jantung karena pengisian
yang cepat. Ini terdengar setelah S2 jantung terdengar. Terdengar pada bilik

jantung kiri, ruanhg rongga ke empat sepanjang garis mid-clavicular. Terdengar
baik jika pasien berbaring miring ke kiri. Biasanya mengindikasikan gagal
jantung.
2. S4: Vibrasi katup dan dinding bilik jantung selama fase kedua pengisian bilik
jantung ketika serambi jantung kontraksi. Terdengar jika sebelum S1, di lokasi
yang sama dengan S3, biasanya karena stiff heart
3. Mendesis: suara pergolakan disebabkan oleh aliran darah. Terdengar dimanapun
di sekitar jantung.
4. Batuk
5. Mudah lelah, Terjadi karena curah jantung yang kurang yang menghambat
jaringan dan sirkulasi normal dan oksigen serta menurunnya pembuangan sisa
hasil katabolisme. Juga terjadi
6. karena meningkatnya energi yang digunakan untuk bernafas dan insomnia yang
terjadi karena distress pernafasan dan batuk
7. Kegelisahan atau kecemasan, Terjadi karena akibat gangguan oksigenasi jaringan,
stress akibat kesakitan bernafas dan pengetahuan bahwa jantung tidak berfungsi
dengan baik
8. Syncope (pingsan)
9. Sakit dada
Patofisiologi
Patofisilogi gagal jantung kongestif yang normal dapat berespon jika adanya peningkatan
terhadap kebutuhan metabolisme dengan menggunakan mekanisme kompensasi yang
bervariasi untuk mempertahankan kardiak output, yaitu meliputi :
A. Respon system saraf simpatis terhadap barroreseptor atau kemoreseptor
B. Pengencangan dan pelebaran otot jantung untuk menyesuaikan terhadap peningkatan
volum
C. Vaskontriksi arterirenal dan aktivasi system rennin angiotensin
D. Respon terhadap serum sodium dan regulasi ADH dan reabsorbsi terhadap cairan
Kegagalan mekanisme kompensasi dapat dipercepat oleh adanya volume darah

sirkulasi yang dipompakan untuk melawan peningkatan resistensi vaskuler oleh
pengencangan jantung. Kecepatan jantung memperpendek waktu pengisian ventrikel
dari arteri coronaria. Menurunnya COP dan menyebabkan oksigenasi yang tidak
adekuat ke miokardium. Peningkatan dinding akibat dilatasi menyebabkan
peningkatan tuntutan oksigen dan pembesaran jantung (hipertrophi) terutama pada
jantung iskemik atau kerusakan yang menyebabkan kegagalan mekanisme
pemompaan.
Pemeriksaan Diagnostik
a. Foto torax
b. EKG
c. Pemeriksaan Lab
Asuhan keperawatan pasien CHF :
a. Pengkajian
1. Pengkajian Primer
a. Airway :
Melihat jalan napas pada pasien CHf dengan cara batuk dengan atau tanpa
sputum, penggunaan bantuan otot pernafasan, oksigen, dll
b. Breathing :
Melihat adanya dyspnea saat melakukan aktivitas, tidur sambil duduk atau dengan
menggunakan bantal
c. Circulation :
Riwayat HT IM akut, GJK sebelumnya, penyakit katub jantung, anemia, syok dll.
Tekanan darah, nadi, frekuensi jantung, irama jantung, nadi apical, bunyi
jantung S3, gallop, nadi perifer berkurang, perubahan dalam denyutan nadi
juguralis, warna kulit, kebiruan punggung, kuku pucat atau sianosis, hepar ada
pembesaran, bunyi nafas krakles atau ronchi, oedema (Suddarth et al., 2001)

b. Diagnosa Keperawatan
1. Penurunan perfusi b.d menurunnya curah jantung.
2. Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d penumpukan sekret

Daftar Pustaka
Hartono, A. (2004). Terapi Gizi Diet & Rumah Sakit (M. Ester (ed.); Edisi 2, p. 167). EGC.
Prabatini, D. (2014). Keperawatan Medikal Bedah (A. Prabantini & Meidyna (eds.)).
Suddarth, B. &, Smeltzer, & Bare. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah (8th ed.).
EGC.

Judul: Asuhan Keperawatan Kritis Pasien Dengan Gagal Jantung Kongestif (chf

Oleh: Theresia Cipta


Ikuti kami