Ekososialisme Mengungkap Kembali Pemikiran Ekonomi Politik Lingkungan E.f. Schumacher [ab. Widyanta]

Oleh Ab. Widyanta

734,1 KB 8 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Ekososialisme Mengungkap Kembali Pemikiran Ekonomi Politik Lingkungan E.f. Schumacher [ab. Widyanta]

NASKAH PUBLIKASI EKOSOSIALISME Mengungkap Kembali Pemikiran Ekonomi-Politik Lingkungan Ernst Friedrich Schumacher Disusun Oleh: Andreas Budi Widyanta 10/308629/PSP/03994 PASCA SARJANA SOSIOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2013 i ii DAFTAR ISI Halaman Judul i Persetujuan ii Daftar Isi iii Abstrak iv A. Pengantar: Kembalinya Pemikiran Schumacher 1 B. Minoritas Kreatif: Biografi Intelektual E.F. Schumacher 2 C. Ilmu Ekonomi “Alter-Native” dan Gerakan Ilmu Ekonomi Baru 4 D. Ekososialisme: Pemikiran Ekonomi Politik Lingkungan E.F. Schumacher 8 E. Epilog: Beberapa Catatan Kritis 11 F. Daftar Pusaka 14 iii ABSTRAKSI Krisis multidimensional yang diakibatkan oleh globalisasi ekonomi neoliberalisme telah mengarah pada genocide, etnocide, dan ecocide sekaligus. Situasi gawat ini tentu saja semakin menyedot keprihatinan banyak kalangan. Beberapa tahun belakangan, transnasional korporasi sebagai leviathan baru masih terus melakukan ekploitasi sumberdaya, penggundulan hutan, dan menggusur masyarakat lokal dari tanah mereka. Persoalan globalisasi neoliberalisme yang despotis dan hegemonik secara tidak langsung memicu “kembalinya pemikiran Schumacher” di kancah dunia intelektual. Selama hampir empat dasawarsa, pemikiran E.F. Schumacher absen dalam diskursus akademik di Indonesia. Kendati pernah sangat kesohor dengan karyanya Small Is Beautiful, namun pemikiran kritisnya terhadap kapitalisme belum pernah dieksplorasi secara khusus dan rinci oleh kalangan akademik di Indonesia. Secara garis besar, riset pustaka ini memuat dua tujuan pokok: pertama, riset ini bertujuan mengungkap kembali kedalaman gagasan ekonomi politik lingkungan Schumacher sebagai kontributor sentral pada paradigma dan praksis ekososialisme, secara lebih khusus lagi ekolokalisme. Kedua, untuk konteks Indonesia, tulisan akan memaparkan sumbangan pemikiran Schumacher pada disiplin sosiologi dan model pembangunan alternatif di Indonesia. Studi ini berupaya mengungkap kembali (reinventing) signifikansi pemikiran ekonomi politik lingkungan Schumacher yang berkontribusi pada upaya mencari solusi alternatif bagi krisis multidimensional tersebut. Kritik radikal Schumacher terhadap paradigma ilmu ekonomi modern dan segenap praktik-praktik yang menglorifikasikan gigantisme ekonomi pertumbuhan—yang dikonsepsikan sebagai economism—berikut dampak-dampak destruktifnya pada berbagai aspek kehidupan, telah mendorong lahirnya “ilmu ekonomi baru” yang memprioritaskan rakyat kecil dan lingkungan. Schumacher menyebutnya: “ilmu ekonomi kelestarian”. Gagasan “ilmu ekonomi kelestarian”—yang termaktub di dalam karya Small is Beautiful—telah menyumbangkan pengaruh yang signifikan pada paradigma gerakan ekososialisme. Sebagai paham-besar gerakan penentang gigantisme kekuasaan rezim fundamentalisme pasar (korporasi global), ekososialisme memiliki banyak aliran di dalamnya, salah satunya yang paling banyak mendapat sorotan adalah ekolokalisme. Persis di dalam ekolokalisme itulah gagasan “ilmu ekonomi kelestarian” Schumacher memiliki pengaruh yang sentral. Kendati demikian, masih diperlukan eksplorasi yang lebih mendalam untuk menemukan contoh riil dan pengalaman praksis di tingkat akar rumput. Terlepas dari keterbatasannya di tataran praktis, ekolokalisme sebagai sebuah sistem gagasan alternatif tetap menarik dan penting untuk dikaji dan dijadikan sebagai pisau analisis atas beragam praktik penjarahan dan penghisapan oleh rezim fundamentalisme pasar/neoliberalisme. Kata kunci: ekososialisme, ekolokalisme, ilmu ekonomi kelestarian. iv EKOSOSIALISME: MENGUNGKAP KEMBALI PEMIKIRAN EKONOMI POLITIK LINGKUNGAN ERNST FRIEDRICH SCHUMACHER A. Pengantar: Kembalinya Pemikiran Schumacher Iklim perekonomian dunia, khususnya Eropa, belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang berarti sejak terjadinya gebalau finansial yang melanda salah satu dedengkot globalisasi neoliberalisme—Amerika Serikat—enam tahun silam (Juli 2007). Simptom malaise perekonomian dunia bukan saja menjadi penanda atas akumulasi dan eskalasi krisis perekonomian global tetapi juga penanda dari senjakala kapitalisme yang butuh dikaji kembali. Tepat di jantung kapitalisme dunia (Eropa dan Amerika), berbagai praktik kebijakan ekonomi pro pasar ala laissez-faire dan bubble economic menjumpai antiklimak dan delegitimasinya. Bermesin penggerak mentalitas loba, sistem perekonomian-global-tunggal pro korporasi semakin memutilasi kehidupan dengan cara menyingkirkan rakyat miskin dari pernaungan ekologinya. Selain telah memicu pengangguran besar-besaran, disparitas sosial yang semakin menganga lebar, rezim fundamentalisme pasar yang eksploitatif juga berkontribusi besar pada krisis ekologi global: climate change. Fenomena krisis ekonomi dan krisis ekologi itu memicu kembalinya pemikiran tokoh yang selama beberapa dekade tersingkir dari kancah diskursus arus utama. Selain Karl Marx dan John Maynard Keynes, tokoh yang pemikirannya kembali mengemuka adalah seorang filsuf dan ekonom Inggris kelahiran kontinental Jerman: Ernst Friedrich Schumacher. Daya tarik Schumacher terletak pada pemikirannya yang holistik tentang masyarakat, ekonomi, dan ekologi. Berangkat dari sudut pandang filsafat, Schumacher mengobrak-abrik sesat pikir masyarakat Barat tentang ―agama ilmu ekonomi modern‖ (economism) yang bias pada paham materialisme, hingga mengabaikan basis spiritual dan moralitas sosialnya. Sesat pikir itu telah melahirkan generasi manusia satu dimensi: homo economicus. Schumacher menawarkan ilmu ekonomi alternatif yang lebih memprioritaskan rakyat kecil dan ekologi. Gagasan alternatif itu ternyata melahirkan dua gerakan sekaligus: pertama gerakan pemikiran baru (New 1 Economics); dan kedua, gerakan pro rakyat miskin dan ekologi (ecosocialism). Kedua gerakan itu berkembang sejak tahun 1970-an hingga saat ini. Latar belakang pemikiran itulah mendorong penulis untuk melakukan pelacakan gagasan Schumacher melalui studi pustaka ini. Karenanya, studi ini berupaya mengungkap empat substansi berikut: pertama, kritik Schumacher atas ilmu ekonomi modern; kedua, konstruksi ilmu ekonomi alternatif yang ditawarkannya; ketiga, kontribusi gagasan ilmu ekonomi alternatif terhadap gerakan pro rakyat miskin dan ekologi (ekososialisme); dan keempat, kontribusi gagasan kritis Schumacher untuk disiplin sosiologi (relevansi akademik) dan model alternatif pembangunan di Indonesia (relevansi sosial). B. Minoritas Kreatif: Biografi Intelektual E.F. Schumacher Kepopuleran E.F. Schumacher di seluruh dunia bermula sejak terbitnya magnum opus bertitel Small is Beautiful: Economics as if People Mattered (1973), dan kemudian disusul karyanya A Guide for the Perplexed (1977). Schumacher tumbuh dan berkembang dalam gemblengan pendidikan yang keras dari sang ayah, seorang profesor ekonomi yang cukup ternama di Jerman. Senasib dengan warga Jerman lainnya, masa kecil dan remaja Schumacher jauh dari hidup berkecukupan meskipun ia terlahir di lingkungan kelas menengah. Hidupnya berlangsung dalam himpitan krisis ekonomi-politik nasional, regional, dan internasional. Krisis demi krisis bertubi dialaminya: mulai dari multi-krisis karena pecah Perang Dunia I, krisis pangan, kelaparan, kemiskinan, hiper-inflasi, depresi ekonomi dunia, hingga krisis akibat Perang Dunia II. Perca peradaban Eropa turut membentuk karakter Schumacher sebagai ―sosok intelektualitas pengembara yang cemas‖, ―merindui perdamaian‖ (pacifism), dan antikekerasan (non-violance) terhadap humanitas dan ekologi. Dalam konteks itulah basis nilai, moral, dan idealisme intelektual Schumacher tumbuh dan berakar. Sebagai intelektual organik, berbekal kecerdasan dan kepekaan sosial, Schumacher mengabsorpsi persilangan arus pemikiran besar dunia dan merumuskannya ke dalam cara pandang alternatif atas beragam persoalan sosial, ekonomi, dan politik baik di tingkat nasional, regional, dan internasional. Pemikir besar seperti Thomas Aquinas, Mahadma Gandhi, John Maynard Keynes adalah tiga dari sekian tokoh yang membentuk pemikirannya. 2 Sebagai sosok intelektual yang besar di luar kampus, Schumacher tidak memiliki karakter seorang teoretisi yang memiliki tradisi dan tertib “school of thought” yang keras dan eksklusif. Kekhasan intelektualnya terbangun dari persilangan gagasan dari lingkup komunitas epistemik yang heterogen: intelektual kampus, aparatus negara, jurnalis, dan tanpa kecuali warga kelompok kaum miskin di sejumlah negara. Pemikirannya tumbuh dalam tradisi dialektis yang sirkular antara teori-praktik–teori. Peran multi-tasking baik sebagai aparatus negara (Dewan Batubara Nasional), direktur pada Scott Bader Commonwealth (perusahaan milik bersama yang dikelola secara demokratis oleh para buruh), kepala pada Intermediate Technology Group Development (ITGD) dan The Soil Assosiation, memberikan laboratorium sosial yang memadai bagi uji dialektika teori dan praktik. Sehingga gagasannya bisa merespon kebutuhan akademis (pengetahuan ilmiah) dan kebutuhan praktis di masyarakat. Selain sebagai praktisi handal, Schumacher juga produktif dalam menuangkan praksis kekaryaannya itu melalui artikel-artikel di sejumlah jurnal dan majalah. Munculnya karya Small is Beautiful: Economics as if People Mattered paska purna-tugasnya sebagai pejabat publik bisa dibaca sebagai sintesis yang terkonstruksi dari pengalaman panjang seorang intelektual cum praktisi yang berspektif holistik. Dalam magnum opus itulah, Schumacher memformulasikan ilmu ekonomi kelestarian, yaitu ilmu ekonomi yang memprioritaskan rakyat kecil dan kelestarian ekologi. Sering saja, ilmu berskala manusia dan lingkungan. Secara tekstual maupun kontekstual, diksi ―kecil‖ (small) secara sadar dipilih dan diposisikan oleh Schumacher sebagai kritik-radikal atas kebudayaan masyarakat modern yang gandrung terhadap aktivitas ekonomi yang serba ―raksasa‖ (the idolatory of economism). Opsi keberpihakannya tertuju pada beragam aktivitas ekonomi yang berskala kecil keseharian (survival economics) yang jauh dari hasrat menggilai kuantifikasi ekonomi pertumbuhan (growth), sehingga ramah bagi rakyat kecil dan ekologi sebagai pertaruhan terakhir hidup mereka. Dari biografi intelektualnya, kita bisa menarik pemahaman bahwa Schumacher adalah sosok minoritas kreatif yang senantiasa mengambil posisi kritis terhadap multifaset ideologi (sains dan teknologi) arus utama yang dominatif. Ilmu ekonomi baru yang ditawarkannya memberikan cara pandang alternatif atas paradigma dan praktik ―agama ilmu 3 ekonomi‖ modern sebagai, meminjam terminologi postmodern, sebuah narasi besar peradaban masyarakat. Di dalam narasi-narasi kecil, alternatif itu ada. Gagasan Schumacher berpengaruh luas mulai dari kaum intelektual, aktivis, dan praktisi seperti: McRobie, Kumar, Narayan, Hoda, Chamber, Stewart, Sen, ul Haq, Korten, Hobson, May, dan tentu saja para proponen Schumacher Circle. Berkat mereka ―ilmu ekonomi alternatif‖ berevolusi menjadi gagasan baru yang semakin beragam. C. Ilmu Ekonomi “Alter-Native” dan Gerakan Ilmu Ekonomi Baru Memposisikan diri sebagai seorang filsuf, Schumacher melontarkan pokok gugatan pertama-tama dan terutama untuk membongkar sesat pikir dan glorifikasi atas paradigma dan doktrin-doktrin pencerahan warisan abad ke-19 (sejak Revolusi Cartesian). Fenomena itu diilustrasikan Schumacher sebagai authoritarian megalomania yaitu sebuah kuasa ilmu pengetahuan dominan yang memberlakukan hukum yang bersifat universal dan bisa berlaku sama dimana pun tanpa perlu mempertimbangkan konteks sosio-kultural masyarakat. Kritik Schumacher bisa dipilah dalam tiga catatan mendasar berikut.  Pertama, kritik radikal dekonstruktif Schumacher tertuju pada peradaban Barat (occidental) beserta paradigma dan praktik politik kebudayaan yang memposisikan sains dan teknologi Barat sebagai ideologi dominan-mondial.  Kedua, paradigma modern dalam peradaban Barat (occidental) itu mengandung sesat pikir yang fatal berkaitan dengan relasi antara manusia dan alam. Etos peradaban masyarakat Kristen Barat yang terejawantahkan dalam dominannya sains dan teknologi itu jelas memposisikan manusia sebagai pusat semesta (anthropocentric) yang lebih superior dari alam. Ekosentrisme (ecocentrism)—paham yang meyakini alam sebagai pusat semesta—dianggap irasional bagi ilmu modern Barat dan bidaah bagi Kristianitas.  Ketiga, kepesatan dan keluasan perkembangan ilmu-ilmu alam dengan model pendekatan positivistik turut memperluas paham antroposentris itu ke seluruh penjuru dunia. Dominannya pemahaman tentang manusia sebagai pusat semesta dianggap sebagai bagian dari proses alami sesuai paradigma positivistik. 4 Lebih jauh, Schumacher mendekonstruksi perspektif ilmu-ilmu sosial humaniora Barat yang juga tidak steril dari pengaruh paradigma positivistik. Kritik Schumacher menyasar pada enam sesat pikir warisan Revolusi Cartesian berikut ini:  Pertama, gagasan tentang evolusi (teori Darwin);  Kedua, gagasan tentang kompetisi dan seleksi alam (the survival of the fittest) sebagai penjelas dari proses evolusi dan perkembangan alamiah yang otomatis (teori Hobbes);  Ketiga, gagasan tentang materialisme-historis yang bias determinisme ekonomi dan teori perjuangan kelas (teori Marx);  Keempat, gagasan yang menganggap semua bentuk-betuk adalah getaran gelap dari bawah sadar, sebagai akibat dari keinginan yang tak terpenuhi di masa kanak-kanak dan awal masa remaja (teori Freud);  Kelima, gagasan umum tentang relativisme (teori Einstein);  Keenam, gagasan positivisme (sering disebut filsafat non-metafisik yang menegasikan filsafat spekulatif atau filsafat tradisional) yang mendasarkan teori pada fakta-fakta yang bisa diamati saja. Tak terelakkan, gelombang Revolusi Cartesian juga menjalar dan menularkan epidemi saintisme-materialistik berparadigma positivistik itu pada ilmu ekonomi modern Barat hingga bermutasi menjadi ―agama ilmu ekonomi‖ (economics religion/economism). Schumacher menengarai ―agama ilmu ekonomi‖ memuat setidaknya enam dalil pokok berikut ini: bertindak ―ekonomis‖; bersikap individualis/egois; pemuliaan atas mekanisme pasar (laissez-faire); penundukan dan kepatuhan pada kekuatan teknologi modern; kepercayaan mutlak pada kemahakuasaan uang, dan penaklukan atas lingkungan alam. Keenam dalil yang terperagakan secara sempurna dalam peradaban modern itulah yang dikonsepsikan Schumacher sebagai the frenzy of economism, the thraldom of economism, atau the idolatory of economism yang secara eksistensial tak mampu menjawab soal kebertujuan dan kebermaknaan manusia, kecuali sebagai Homo Economicus semata. Secara lebih spesifik, kritik Schumacher atas ilmu ekonomi modern bisa diperinci dalam beberapa poin kunci berikut ini: 5  Pertama, secara inheren, metodologi ilmu ekonomi modern telah mengabaikan ketergantungan manusia pada alam;  Kedua, metode ―analisis biaya-keuntungan‖ dalam ilmu ekonomi modern berikut kecenderungannya untuk menempelkan harga pada segala sesuatu yang sejatinya tak ternilai, pada dasarnya telah merusak kualitas kehidupan modern itu sendiri;  Ketiga, ilmu ekonomi modern yang pro-pertumbuhan (pro growth) pada dasarnya memuja individualisme dengan cara pandang materialistik yang semakin bertambah subur dalam sistem pasar;  Keempat, sistem ekonomi pasar modern telah bekerja efektif dalam mendorong dominasi nilai kuantitatif atas nilai kualitatif segala sesuatu;  Kelima, teknologi canggih produk peradaban modern yang telah mendeprivasi kehidupan sosial masyarakat dan lingkungan, sehingga memicu munculnya kebutuhan terhadap teknologi madya, teknologi tepat guna, atau teknologi berwajah manusia. Upaya mendekonstruksi ilmu ekonomi modern Barat itu diawali Schumacher dengan melakukan penataan ulang atas sistem filsafat. Hal itu diorientasikan untuk memformulasikan ilmu ekonomi dengan subyek kajian yang lebih eksistensial: kesejahteraan manusia dan kelestarian lingkungan. Untuk kepentingan itu, Schumacher mengajukan agenda ―rekonstruksi metafisis‖ (metaphysical reconstruction) baik dalam sistem pengetahuan maupun dalam praktik kehidupan sosial. Rekonstruksi yang dimaksudkan Schumacher itu merujuk pada upaya memulihkan atau menghidupkan kembali metafisika yang telah terpinggirkan dalam sistem pengetahuan ilmiah modern (paska Revolusi Cartesian). Metafisika sebagai jantung filsafat merupakan suatu kajian menyeluruh, koheren, dan konsisten dengan realitas (keberadaan, alam semesta/kosmos). Menurut Schumacher, kehadiran metafisika sangat dibutuhkan untuk mengembalikan keutuhan cara pandang manusia modern yang selama satu setengah abad terlalu ekstrim mengagungkan rasionalitas (antroposentris): instrumen paling sempurna untuk mengeksploitasi alam. 6 Untuk tidak terperangkap pada kontroversi romantisisme, Schumacher mengantisipasi dengan menggeser kebutuhan atas metafisika itu dengan konsep metaekonomi yang secara konseptual merujuk pada nilai-nilai dasar dari seluruh tindakan ekonomi dalam bingkai kehidupan sosial manusia. Schumacher menyodorkan metode ―Jalan Tengah‖ sebagai praksis kearifan yang senantiasa berupaya mengakomodir ―divergenitas‖ kehidupan sosial masyarakat yang kompleks dan multidimensional. Konsep meta-ekonomi mengindikasikan kuatnya hasrat Schumacher untuk ―menanam kembali ekonomi‖ (reembedded) atau mengembalikan makna ekonomi ke khitahnya, seperti digagas Aristoteles, yaitu sebagai cabang dari moralitas sosial. Secara etimologis, Oikonomia berarti ―manajemen rumah tangga‖ (the management of the household). Oikonomia berperan untuk meningkatkan nilai gunanya demi pemenuhan kebutuhan seluruh anggota keluarga untuk jangka panjang. Dari diskursus itulah, Schumacher mengajukan sintesis ―ilmu ekonomi baru‖ (yang berperan sebagai anti-tesis atas ilmu ekonomi modern Barat). Terkait diskursus itu, dengan menggunakan perspektif post-modernis, penulis secara khusus menyodorkan pilihan semantik ―ilmu ekonomi alter-native” untuk memberikan tekanan pemaknaan bahwa ilmu ekonomi baru yang ditawarkan oleh Schumacher sangat terbuka terhadap keberagaman liyan (other atau alter) yang ada, hidup, dan berkembang di dalam lingkup ―kelokalan‖ tertentu (native). Ia begitu terbuka pada pluralitas sistem ekonomi. Dalam hal ini, komunitas-komunitas yang hidup dalam sistem-sistem ekonomi lokal yang beragam (berpiritkan nilai-nilai agama Buddha dan Islam) seperti yang diteorisasikan Schumacher bisa dibaca sebagai “role model” perlawanan subaltern group terhadap dominasi tunggal sistem ekonomi Barat yang hegemonik. Artikel monumental bertitel Buddhist Economics mengartikulasikan dengan sangat gamblang counter-discourse maupun counter-culture atas paradigma dan praktik ilmu ekonomi Barat. Secara politis, Buddhist Economics pada intinya mengadvokasi spirit ―Penghidupan yang Benar‖ (Right Livelihood) dari sub-altern group yang memperagakan praksis pencaharian penghidupan (ekonomi) yang humanis dan ekologis. Tawaran Schumacher tentang ―ilmu ekonomi alter-native” menunjukkan cara pandang yang ―lintas-batas‖, integral, dan holisitik. Perpaduan antara economic well-being dan 7 ecological and spiritual well-being di dalam ―ilmu ekonomi alter-native‖ itu berhasil memicu lahirnya gerakan Ilmu Ekonomi Baru. Dielaborasikan dengan mazhab ilmu ekonomi anti pertumbuhan (no-growth economics), gagasan kritis Schumacher dikembangkan ke dalam berbagai varian ilmu ekonomi baru dengan pola pendekatannya masing-masing. Dalam beragam label, gerakan Ilmu Ekonomi Baru itu meliputi: Ekonomi Humanistik (Humanistic Economics), Ekonomi Sosial (Social Economics), Ekonomi Kehidupan (Real-Life Economics/Living Economics), Ekonomi Ekologis (Ecological Economics), Ekonomi Hijau (Green Economics), Ekonomi Pluralis (Pluralist Economics) atau sering disebut Ekonomi Heterodoks (Heterodox Economics), dan Ekonomi Integral (Integral Economics). D. Ekososialisme: Pemikiran Ekonomi Politik Lingkungan E.F. Schumacher Pada dasarnya, gerakan Ilmu Ekonomi Baru (New Econonomics) berupaya memperkuat posisi tawar mereka terhadap ilmu ekonomi arus utama. Sejalan dengan gagasan Schumacher, mereka mengkaji sistem-sistem kompleks masyarakat sebagai basis pijakan bagi terbangunnya ekonomi kelestarian yang memprioritaskan rakyat kecil dan lingkungan. Dari seluruh paparan di atas, bisa dipertegas lagi di sini bahwa gagasan ―ilmu ekonomi alter-native‖ Schumacher selain telah melahirkan gerakan keilmuan juga menstimulasi berbagai praksis gerakan sosial dan/atau gerakan lingkungan di komunitaskomunitas lokal yang tersebar di berbagai belahan dunia, terutama ―Dunia Ketiga.‖ Bertolak dari latar sejarah munculnya gerakan ―ilmu ekonomi alter-native‖ itulah proyek pelacakan kembali pemikiran ekonomi-politik lingkungan Schumacher ini menemukan titik simpulnya. Kontribusi signifikan Schumacher pada ekososialisme bisa dilacak dari awal sejarah formasi konsep Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development) bertepatan dengan merebaknya gerakan lingkungan yang diprakarsai oleh kaum sosialis di tahun 1970an. Dalam pengertian sederhana, ekososialisme merupakan ―ideologi perpaduan‖ yang mengelaborasikan berbagai paham ideologi seperti Marxisme, sosialisme, ekologisme, green politics dan alternatif globalisasi. Berakar dalam tradisi pemikiran tokoh-tokoh abad ke-19 seperti Karl Marx, Peter Kropotkin, dan William Morris, ekososialisme memiliki visi besar terwujudnya masyarakat sosialis yang memiliki komitmen pada prinsip-prinsip dan praktik 8 kelestarian ekologis (ecological sustainability). Visi ekososialisme itu diturunkan dari kritik mendasar atas sistem kapitalisme yang secara inheren tidak memiliki visi kelestarian. Untuk mendapatkan pemahaman yang memadai tentang ekososialisme ini, kita bisa mendapatkan dari beberapa definisi berikut. Ditinjau dari peta besar ideologi politik lingkungan, ekososialisme bisa didefinisikan sebagai suatu aliansi dua paham antara ideologi kelestarian ekologis dan ideologi sosialis (the “red–green alliance”). Ekososialisme merupakan kombinasi antara ―ideologi hijau‖ (ekologisme) dan ―ideologi merah‖ (sosialisme) (Whitehead; 2007) Ekososialisme bisa juga dimaknai sebagai sebuah ideologi politik kaum sosialis yang menganut paham antroposentris (meskipun bukan dalam pengertian paham kapitalisteknokratis) dan humanis yang menolak mistifikasi alam dan bioetika dan segala antihumanisme turunannya (Pepper, 1993). Secara kategorial, ekososialisme ini tergolong dalam ecocentrism–communalism, yaitu paham yang mempercayai kemampuan masyarakat untuk saling bekerjasama dalam membangun kemandirian komunitas yang berbasis pada pemanfaatan sumber-sumber terbarukan dan teknologi-teknologi tepat guna (O’Riordan, 1989). Sangat identik dengan penjelasan di atas, ekososialisme terkategorikan dalam paham communalist ecocentrism, yaitu suatu paham yang mengambil posisi sebagai preservasionis yang menekankan prioritas kebutuhan pada keterbatasan-keterbatasan lingkungan makro ketimbang pertumbuhan ekonomi dan memilih mewujudkan suatu sistem sosio-ekonomi yang terdesentralisasi (Turner, 1988). Secara garis besar, praksis-praksis ekososialisme selalu terkait dengan upaya mendesakkan beragam proses regenerasi komunitas-komunitas kecil yang dikelola dengan prinsip kemandirian yang dibangun dari setidaknya enam prinsip berikut:  Pertama, revolusi tanpa kekerasan atas kapitalisme maupun negara;  Kedua, kebijakan ekonomi untuk pemenuhan berbagai kebutuhan sosial dan lingkungan yang malampaui kriteria non-moneter;  Ketiga, adanya kepemilikan alat produksi dan infrastrukturnya oleh kaum buruh dan kepemilikan ―barang-barang milik bersama‖ (the common); 9  Keempat, terwujudnya emansipasi perempuan yang cenderung menjadi korban dari dominasi dan degradasi kapitalisme;  Kelima, terwujudnya transformasi masyarakat yang malampaui batas-batas kelas dan status;  Keenam, melakukan perubahan-perubahan radikal dalam berbagai sistem ekonomi, energi, transfportasi dan pola konsumsi, dll. Kontribusi Schumacher pada ekososialisme bisa ditelusuri dari artikel-artikel yang terkompilasi di dalam magnum opus-nya: Small is Beautiful. Beberapa artikel seperti: restrukturisasi skala, penggunaan tanah, teknologi tepat guna, organisasi berskala besar, sosialisme, kepemilikan; dan kerja bermartabat merepresentasikan konsolodasi gagasan Schumacher yang turut memformulasikan bangunan ideologi politik lingkungan dalam ekososialisme. Dari perspektif mikro, karya-karya Schumacher itu relevan dengan gagasan desentralisasi politik di unit komunitas lokal di tingkat akar rumput atau sering dikonsepsikan sebagai ekolokalisme (eco-localism). Secara definitif, ekolokalisme merupakan sebuah ideologi politik yang mengkritisi berbagai persoalan korporasi dan hilangnya kedaulatan lokal, dan menggalang kepedulian pada proyek pengembangan ekonomi lokal berbasis pada unit-unit berskala kecil (Hess, 2009). Sebagai ideologi politik, ekolokalisme (eco-localism) ini biasanya mengacu pada paham politik desentralisasi (baca: lokalisasi) yang dilengkapi dengan prinsip-prinsip subsidiaritas sebagai prasyarat dasar bagi implementasi kebijakan ekonomi politik yang mengartikulasikan nilai-nilai dwi-tunggal: kesejahteran rakyat dan kelestarian lingkungan di komunitas akar rumput tersebut. Makna terpenting dari ekolokalisme ini adalah bahwa lokalitas tetap merupakan arena politik yang sangat vital dalam menentukan keberakaran demokrasi. Komunitas menjadi entitas sekaligus momentum yang penting bagi tumbuhnya keterlibatan sosialpolitik (socio-political engagement) yang mengarah pada perbaikan kehidupan sosio-ekonomi masyarakat di tingkat akar rumput. Agenda politik itu terarah pada terwujudnya komunitas yang dikelola dengan prinsip-prinsip kemandirian (self-sufficiency) sebagai eksemplar riil dari demokratisasi ekonomi. 10 Persis di dalam konsepsi demokrasi ekonomi inilah karya-karya Schumacher mengaksentuasikan suatu praktik politik yang memposisikan rakyat dengan segenap dayaupayanya mewujudkan kesejahteraan sebagai prioritas pelayanan publik terpenting yang harus selalu diperagakan oleh the servil state. Komunitas lokal sebagai suatu arena politik musti diintensifikasi menjadi lahan subur bagi tumbuhnya praktik-praktik ekonomi kelestarian (economics of permanence)—dwi-tunggal ekonomi kerakyatan dan lingkungan. Dalam entitas komunitas lokal inilah demokrasi yang substantif mendapati arena pertarungan dan pertaruhannya sekaligus. E. Epilog: Beberapa Catatan Kritis Dari seluruh rangkuman di atas, kita akan terkesan dengan sistem gagasan Schumacher yang luas, integral, holistik, dan multidisipliner. Gagasannya mencerminkan kosmopolitanisme. Dari basis filsafat, ia menjungkirbalikkan logika ilmu ekonomi modern Barat yang dianggapnya sebagai musuh yang buas dan bengis bagi kehidupan. Secara menakjubkan, kompleksitas problem sosial ekonomi masyarakat ia jinakkan dalam narasi filosofis. Hal itu nampak ketika gagasannya terlalu dominan diposisikan di dalam basis moral dan etika yang begitu kokoh. Sebagai sebuah gagasan perlu disadari bahwa gagasan Schumacher tentang ilmu ekonomi baru, ekososialisme, dan ekolokalisme memang bukanlah panacea yang mampu mengobati komplikasi patologi pembangunan di bawah kekuatan sentral, rezim globalisasi neoliberalisme. Secara garis besar, kelemahan paham ini terletak pada kecenderungan yang isolasionis (bias batasan geografis), tak bisa dipungkiri, menegasikan cara kerja kapitalisme yang sudah lintas batas waktu dan ruang, proteksionis, romantisme, apatisme politik, lemahnya sumbangan pada proses demokratisasi, ilusi dematerialisasi (bias nilai-nilai moral), dimensi perubahan sosial yang sangat terbatas, terbatasnya perubahan organisasional, ketidakefektifan perumusan regulasi berbasis-kewilayahan, terbatasnya perubahan organisasional dan teknis, kegagalan koordinasi antar alternatif ekonomi berbasis komunitas dan bioregional, pembagian kerja secara spasial memiliki banyak kelemahan, dan kurangnya visi strategis. 11 Dari catatan kekurangan tersebut, penulis akan memaparkan sebagian di antaranya ke dalam beberapa catatan kritis berikut ini. Pertama, terkait dengan gagasan ilmu ekonomi baru tersebut, Schumacher jelas menunjukkan dirinya sebagai seorang filsuf ketimbang ekonom. Gagasannya mengindikasikan suatu tendensi ilusi dematerialisasi, yaitu cenderung bias nilai-nilai moral. Tanpa bermaksud mengecilkan arti moralitas dan etika, gagasan yang sarat dengan muatan moral dan etika semacam itu pada tataran tertentu—terlebih jika kita kurang terampil menggunakannya—berkencenderungan membuat kita mudah terjebak dalam kategori-kategori normatif ketimbang mengaplikasikan perangkat analisis kritis untuk membaca realitas sosial secara lebih kontekstual, menganalisisnya, dan mensolusikan berbagai persoalan riil di masyarakat. Kedua, ketika meletakkan basis moral dan etika pada ranah agama, gagasan Schumacher ini sebenarnya memasuk dalam tradisi Weberian. Asumsi dasarnya bahwa akar moralitas dan etika agama akan mempengaruhi dan membentuk perilaku ekonomi. Bila Weber berfokus pada narasi besar Etika Protestan, Schumacher lebih berfokus pada narasinarasi kecil lainnya seperti Etika Buddhis, Etika Islam, dan Etika Khatolik. Meskipun sedikit banyak mengartikulasikan subyek yang sama dengan Weber, namun Schumacher belum menunjukkan suatu realitas empiris perihal bagaimana etika yang muncul dari ajaran agama itu bisa menjadi bagian dari upaya memecahkan persoalan sosial secara terinstitusionalisasi. Jika toh ada institusionalisasinya biasanya relatif kecil atau terbatas. Ketiga, terkait pola tindakan ekonomi yang didasarkan pada etika agama, Schumacher tidak secara khusus memberikan eksemplar riil dalam masyarakat yang plural dan heterogen, yang banyak dijumpai di banyak negara ―Dunia Ketiga‖. Lebih jauh, Schumacher juga tidak memberikan catatan tentang kerentanan konflik yang berpotensi terjadi di masyarakat yang plural. Terbatasnya sumber-sumber ekonomi produktif dalam konteks masyarakat plural tentu saja akan berkonsekuensi pada munculnya berbagai macam konflik multidimensional (konflik ekonomi, sektarianisme, etnis, dll). Dalam latar masyarakat yang plural dan heterogen, konstruksi community welfarism tentu saja akan menemukan persoalan yang kekomplekannya mungkin belum pernah dikaji secara khusus oleh Schumacher. Community welfarism ini merujuk pada pengertian tentang kesejahteraan yang didasarkan pada 12 kepentingan komunitas dengan cara meningkatkan kemampuan dan kesepakatan akses terhadap sumberdaya produktif secara setara. Keempat, terkait dengan ekososialisme dan ekolokalisme, catatan kritis yang perlu dipaparkan di sini adalah bahwa ekososialisme sebagai suatu alternatif ideologi politik lingkungan belum menunjukkkan suatu bentuk perkembangan organisasi yang konkrit dan terinstitusionalisasi secara memadai. Jika proses pelembagaan dan bentuk organisasi itu belum terbentuk maka tidak akan ada lembaga yang mampu menggerakkan kekuatan ekonomi politik. Dengan kata lain, ekososialisme sebagai sebuah konstruksi gagasan tentu saja bisa diterima. Namun dalam realitas praktis, ekososialisme bisa dikatakan belum terinstitusionalisasi. Hanya ada sejumlah kecil komunitas yang mempraktikkan hal itu. Itu pun belum bisa menjamin terjadinya sebuah gerakan yang lebih besar sebagai pengejawantahan dari sosialisme atau kerjasama antar warga di dalam komunitas. Tidak jarang lingkup di dalam komunitas itu sendiri sangat eksklusif dan cenderung bias elit. Kelima, catatan terakhir yang menurut penulis cukup penting untuk terpapar di sini adalah hal yang terkait dengan gerakan yang dilakukan oleh Schumacherian Society dan New Economics Foundation. Bagaimanapun juga gerakan yang mereka lakukan adalah gerakan kaum intelektual yang mature secara ideologis, setidaknya well-educated dan wellinformed. Itu berarti gerakan masih bertumpu pada kendali kaum elite (kelas menengah intelektual). Kondisi semacam itu tentu tak cukup memberikan basis argumen tentang kekuatan sesungguhnya dari ekososialisme ataupun ekolokalisme sebagaimana tercermin dalam prinsip-prinsip dasar keduanya. Dalam lingkup terbatas itu, muncul beberapa gugatan mendasar berikut ini: seberapa besar peluang untuk melahirkan gerakan alternatif (ekonomi, sosial, politik, dan lingkungan) yang cukup mampu menandingi kapitalisme? Untuk konteks yang agak berbeda, sejauh mana komunitas-komunitas kecil yang fragmented di tingkat akar rumput itu memiliki daya tahan (reseliance) terhadap gerusan kekuatan ekonomi arus utama yang selalu memutakhirkan gerak penetrasi kapital melalui modus yang boleh jadi nampak sangat humanis? Itulah beberapa kritik empiris atas pemikiran-pemikiran Schumacher. Gagasan radikalnya memang sangat rasional dan brilian, namun kurang didukung oleh sebuah perjalanan empiris yang cukup kuat.[abw] 13 F. Daftar Pustaka 1. Karya Schumacher Schumacher. E.F. 1974. Small is Beautiful. A Study of Economics as if People Mattered. London: Abacus. _____. 1974. Es geht auch anders Jenseits des Wachtums. Technik und wirtschaft nach Menschenmaβ. Muenchen: Verlag Kurt Desch. _____. 1975. The Age of Plenty. MANAS. Volume XXVIII. No. 5 January 29. _____. 1978. A Guide for The Perplexed. London: Abacus. _____. 1980. Good Work. London: Abacus. _____. 1980.The Schumacher Lectures. London: Abacus. _____. 1988 (1981). Keluar dari Kemelut. Sebuah Peta Pemikiran Baru. Jakarta: LP3ES. _____. 1995. The Age of Plenty: A Christian View. Rajaram Krishnan. Jonathan M. Harris. and Neva R. Goodwin. ed. ―A Survey of Ecological Economics‖. Washington: Island Press. _____. 2008. Kerja Bermartabat. Yogyakarta: Kreasi Wacana. _____. 2011. This I Believe and Others Essays. Devon: Green Books. 2. Scumacher Briefings Cook, David. 2004. The Natural Step Toward A Sustainable Society (Schumacher Briefings 11). London: Green Books. Dawson, Jonathan. 2006. Ecovollages. New Frontier for Sustainability (Schumacher Briefings 12). London: Green Books. Desai, Pooran & Sue Riddlestone. 2002. Bioregional Solutions For Living in One Planet (Schumacher Briefings 8). London: Green Books. Douthwaite, Richard. 2000. The Ecology of Money (Schumacher Briefings 4). London: Green Books. Elliot, David.2003. A Solar World. Climate Change and the Green Energy Revolution (Schumacher Briefings 10). London: Green Books. 14 Fraser, Romy & Sandra Hill. 2001. The Roots of Health. Realizing the Potential of Complementary Medicine (Schumacher Briefings 7). London: Green Books. Girardet, Herbert.1999. Creating Sustainable Cities (Schumacher Briefings 2). London: Green Books. Madron, Roy & John Jopling.2003. Gaian Democracies. Redefining Globalization & People-Power (Schumacher Briefings 9). London: Green Books. Mayer, Aubrey. 2000. Contraction & Convergence. The Global Solution to Climate Change (Schumacher Briefings 5). London: Green Books. Pontin, John & Ian Roderick. 2007. Converging World. Connecting Communities in Global Change (Schumacher Briefings 13). London: Green Books. Robertson, James. 1998.Transforming Economic Life. A Millennial Challenge (Schumacher Briefings 1). London: Green Books. Sterling, Stephen. 2001. Sustainable Education. Re-visioning Learning and Change (Schumacher Briefings 6). London: Green Books. Stott, Robin. 2000. The Ecology of Health (Schumacher Briefings 3). London: Green Books. Wooldcombe, David. 2007. Youth-Led Development. Harnessing the Energy of Youth to Make Poverty History (Schumacher Briefings 14). London: Green Books. 3. Buku Tentang Schumacher Wood, Barbara.1989. E.F.Schumacher. His Life and Thought. New York: Harper & Row Publisher. Wood, Barbara. 2011.―Alias Papa: A Life of Fritz Schumacher‖ Devon: Green Books. 15

Judul: Ekososialisme Mengungkap Kembali Pemikiran Ekonomi Politik Lingkungan E.f. Schumacher [ab. Widyanta]

Oleh: Ab. Widyanta


Ikuti kami