Makalah Personality Management Fakultas Ekonomi-manajemen Universitas Satya Negara Indonesia 2018

Oleh Gilang Fauzan

277,4 KB 8 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Personality Management Fakultas Ekonomi-manajemen Universitas Satya Negara Indonesia 2018

MAKALAH PERSONALITY MANAGEMENT DOSEN : Dr GUSTON SITORUS SE, MM DISUSUN OLEH :  GILANG FAUZAN : 180400138  SEPTIYANA PRASTYA :180400135 FAKULTAS EKONOMI-MANAJEMEN UNIVERSITAS SATYA NEGARA INDONESIA 2018 KATA PENGANTAR Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Puja dan Puji syukur kami panjatkan kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan Rahmat, Hidayah, dan Inayah-Nya sehingga kami dapat merampungkan penyusunan makalah Pengembangan Kepribadian dengan judul "Interpersonal Skill ( Kemampuan Berinteraksi Antar Individu )" tepat pada waktunya. Penulisan makalah ini telah semaksimal mungkin kami upayakan dan didukung bantuan berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar dalam penyusunannya. Untuk itu tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam pembuatan makalah ini. Namun tidak lepas dari semua itu, penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih terdapat kekurangan baik dari segi penyusunan bahasa dan aspek lainnya. Oleh karena itu, dengan lapang dada penulis membuka selebar-lebarnya pintu bagi para pembaca yang ingin memberi saran maupun kritik demi memperbaiki makalah ini. Akhirnya penyusun sangat mengharapkan semoga dari makalah sederhana ini dapat diambil manfaatnya dan besar keinginan penulis dapat menginspirasi para pembaca untuk mengangkat permasalah lain yang berkaitan pada makalah-makalah selanjutnya. DAFTAR ISI COVER.............................................................................................................i KATA PENGANTAR......................................................................................ii DAFTAR ISI ...................................................................................................iii BAB I PENDAHULUAN.............................................................................. BAB II PEMBAHASAN................................................................................ A. Pengertian personality mangement.............................................................. B. Pembentukan Kepribadian ......................................................................... C. Pengukuran-Pengukuran Kepribadian................................................................... D. sifat dan ciri ciri personality mangement.......................................................... E. Manfaat Penerapan Manajemen Diri dalam Psikologi.......................................... F. karakteristik kepribadian yang sehat (healthy personality) dan karakteristik kepribadian yang tidak sehat ?....................................................................................................... BAB III PENUTUP......................................................................................... Kesimpulan..................................................................................................... DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... BAB I PENDAHULUAN Seandainya dalam semua segi, setiap orang sama seperti kebanyakan atau bahkan semua orang lain, kita bisa tahu apa yang diperbuat seseorang dalam situasi tertentu berdasarkan pengalaman diri kita sendiri. Kenyataannya, dalam banyak segi, setiap orang adalah unik, khas. Akibatnya yang lebih sering terjadi adalah kita mengalami salah paham dengan teman di kampus, sejawat di kantor tetangga atau bahkan dengan suami/istri dan anak-anak dirumah. Kita terkejut oleh tindakan di luar batas yang dilakukan oleh seseorang yang biasa dikenal alim dan saleh, dan masih banyak lagi. Memang manusia didunia diciptakan beragam bentuk, sifat, watak dan tingkahlakunya. Karena tiaptiap kepribadian adalah unik, maka sukar sekali dibuat gambaran yang umum tentang kepribadian. Yang dapat kita lakukan adalah mencoba mengenal seseorang dengan mengetahui struktur kepribadiannya. Struktur kepribadian ini dapat diketahui melalui pemeriksaan terhadap sejarah hidup, cita-cita, dan persoalan-persoalan yang dihadapi seseorang Oleh karena itu, kita membutuhkan sejenis kerangka acuan untuk memahami dan menjelaskan tingkah laku diri sendiri dan orang lain.kita harus memahami defenisi dari kepribadian itu, bagaimana kepribadan itu terbentuk. Selain itu kita membutuhkan teori-teori tentang tingkah laku, teori tentang kepribadian agar tembentuk suatu kepribadian yang baik. Sehingga gangguangangguan yang biasa muncul pada kepribadian setiap individu dapat dihindari. BAB II PEMBAHASAN A. Defenisi personality Kata “kepribadian” (personality) sesungguhnya sesungguhnya berasal dari kata latin: pesona. Pada mulanya kata personaini menunjuk pada topeng yang biasa digunakan oleh pemain sandiwara di zaman romawi dalam memainkan perannya. Lambat laun, kata persona (personality) berubah menjai satu istilah yang mengacu pada gambaran sosial tertentu yang diterima oleh individu dari kelompok masyarakat, kemudian individu tersebut diharapkan bertingkah laku berdasarkan atau sesuai dengan gambaran sosial yang diterimanya. Kepribadian (Allport, 1971) adalah organisasi-organisasi dinamis dari sistem-sistem psikofisik dalam individu yang turut menentukan cara-caranya yang unik/khas dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Karena tiap-tiap kepribadian adalah unik, maka sukar sekali dibuat gambaran yang umum tentang kepribadian. Yang dapat kita lakukan adalah mencoba mengenal seseorang dengan mengetahui struktur kepribadiannya. Struktur kepribadian ini dapat diketahui melalui pemeriksaan terhadap sejarah hidup, cita-cita, dan persoalan-persoalan yang dihadapi seseorang. Personality manajemen menurut para ahli: Roucek dan Warren, didalam buku “Sociology an Introduction”, Roucek serta Warren mendefinisikan kepribadian ialah sebagai organisasi faktor-faktor biologis, psikologis, serta juga sosiologis yang mendasari perilaku individu. Faktor-faktor biologis tersebut meliputi keadaan fisik, watak, seksual, sistem saraf, proses pendewasaan individu yang bersangkutan, dan juga kelainan-kelainan biologis lainnya. Koentjaraningrat, didalam bukunya yang berjudul “Pengantar Antropologi I”, menyatakan bahwa kepribadian tersebut tersusunan dari unsur-unsur akal serta juga jiwa yang menentukan tingkah laku atau juga tindakan seseorang. inger, mengatakan bahwa kepribadian adalah keseluruhan dari perilaku seseorang dengan sistem kecenderungan tertentu yang berinteraksi atau berhubungan dengan serangkaian situasi. Jadi, bisa disimpulkan bahwa kepribadian adalah suatu perpaduan yang utuh antara sifat, sikap, pola pikir, emosi, serta juga nilai-nilai yang mempengaruhi individu tersebut agar berbuat sesuatu yang benar sesuai dengan lingkungannya. JADI ,personality management adalah proses pembentukan unsur-unsur akal serta juga jiwa untuk menentukan tingkah laku atau tindakan seseorang. B. Pembentukan Kepribadian Faktor yang Membentuk Kepribadian 1) Warisan Biologis (Heredity) Warisan biologis berpengaruh pada perilaku kehidupan manusia, misalnya pada pembentukan sifat kepemimpinan, pengendalian diri, sikap, dan minat. Setiap manusia memiliki sifat biologis yang berbeda antara satu dengan yang lainnya, walaupun pada dua orang lahir kembar identik. Adanya perbedaan jenis kelamin, kecerdasan, kekuatan jasmani, kecantikan, dan sebagainya akan dapat berpengaruh pada perbedaan kepribadian orang-orang yang memilikinya. Banyak ilmuwan berpendapat bahwa perkembangan potensi warisan biologis dipengaruhi oleh pengalaman seseorang. Bakat yang dimiliki seseorang memerlukan anjuran, pengarahan, dan latihan untuk mengembangkan diri melalui kehidupan bersama dengan manusia lain. 2) Warisan Lingkungan Alam (Natural Environment) Perbedaan iklim, topografi, dan sumber daya alam menyebabkan manusia harus mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan alam di mana ia tinggal. Proses penyesuaian diri pada lingkungan alam mampu mengubah pola perilaku masyarakat secara keseluruhan. Contoh: Nelayan yang hidup di sekitar pantai, logat bicaranyaakan lebih keras dibandingkan dengan logat bicara petani di pegunungan tinggi. Karena nelayan harus menyamai suara debur ombak untuk dapat berkomunikasi. Suasana ini terbawa dalam kehidupan sehari-hari. Demikian juga orang Eskimo yang hidup di daerah kutub memiliki kemampuan beradaptasi terhadap cuaca dingin. 3) Warisan Sosial (Social Herritage) atau kebudayaan Manusia, alam, dan kebuadayaan mempunyai hubungan yang sangat erat dan saling memengaruhi. Sementara itu, kebudayaan sangat berpengaruh pada perilaku individu dalam pembentukan kepribadiannya. Manusia sebagai makhluk yang berpikir akan senantiasa menghasilkan kebudayaan sebagai manifestasi kehidupannya. Manusia berusaha untuk mengubah alam sesuai dengan kebudayaannya guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Selain itu, manusia dapat mengubah pegunungan menjadi lahan pemukiman. 4) Pengalaman hidup dalam kelompok Sebagai makhluk sosial, manusia senatiasa hidup dalam kelompok-kelompok, seperti keluarga, RT, dan sekolah. Dengan demikian, kehidupannya akan dipengaruhi oleh kelompok tersebut. Hal ini mengingat setiap kelompok pasti memiliki norma, nilai, dan aturan sendiri yang berbeda dengan kelompok lain. Setiap kelompok pasti memengaruhi anggota-anggotanya. Setiap kelompok pasti mewariskan pengalaman khas yang tidak diberikan kelompok lain, sehingga akan muncul kepribadian khas anggota kelompok tersebut. Kelompok yang menjadi acuan pertama seorang anak adalah keluarga. Pengalaman hidup dalam keluarga sangat menentukan perkembangan kepribadian seorang anak. Seorang anak yang hidup dalam keluarga yang demokratis, akan tumbuh menjadi orang dengan kepribadian baik dan percaya diri. C .Pengukuran-Pengukuran Kepribadian Sifat kepribadian biasa diukur melalui angka rata-rata pelaporan dari (self-report)kuesioner kepribadian (untuk sifat khusus) atau penelusuran kepribadian seutuhnya (personality inventory, serangkaian instrumen yang menyingkap sejumlah sifat). Ada beberapa macam cara untuk mengukur atau menyelidiki kepribadian. Berikut ini adalah beberapa diantaranya : 1. Observasi Direct Observasi direk berbeda dengan observasi biasa. Observasi direk mempunyai sasaran yang khusus , sedangkan observasi biasa mengamati seluruh tingkah laku subjek. Observasi direk memilih situasi tertentu, yaitu saat dapat diperkirakan munculnya indikator dari ciri-ciri yang hendak diteliti, sedangkan observasi biasa mungkin tidak merencanakan untuk memilih waktu. Observasi direct diadakan dalam situasi terkontrol, dapat diulang atau dapat dibuat replikasinya. Misalnya, pada saat berpidato, sibuk bekerja, dan sebagainya.Ada tiga tipe metode dalam observasi direk 2. Wawancara (Interview) Menilai kepribadian dengan wawancara (interview) berarti mengadakan tatap muka dan berbicara dari hati ke hati dengan orang yang dinilai. Dalam psikologi kepribadian, orang mulai mengembangkan dua jenis wawancara 3. Tes proyektif Cara lain untuk mengatur atau menilai kepribadian adalah dengan menggunakan tes proyektif. Orang yang dinilai akan memprediksikan dirinya melalui gambar atau hal-hal lain yang dilakukannya. Tes proyektif pada dasarnya memberi peluang kepada testee (orang yang dites) untuk memberikan makna atau arti atas hal yang disajikan; tidak ada pemaknaan yang dianggap benar atau salah. Jika kepada subjek diberikan tugas yang menunut penggunaan imajinasi, kita dapat menganalisis hasil fantasinya untuk menguur cara dia merasa dan berpikir. Jika melakukan kegiatan yang bebas, orang cenderung menunjukkan dirinya, memantulkan (proyeksi) kepribadiannya untuk melakukan tugas yang kreatif. Jenis yang termasuk tes proyektif 4. Inventori Kepribadian Inventori kepribadian adalah kuesioner yang mendorong individu untuk melaporkan reaksi atau perasaannya dalam situasi tertentu. Kuesioner ini mirip wawancara terstruktur dan ia menanyakan pertanyaan yang sama untuk setiap orang, dan jawaban biasanya diberikan dalam bentuk yang mudah dinilai, seringkali dengan bantuan komputer. Menurut Atkinson dan kawan-kawan, investori kepribadian mungkin dirancang untuk menilai dimensi tunggal kepribadian (misalnya, tingkat kecemasan) atau beberapa sifat kepribadian secara keseluruhan. D. SIFAT DAN CIRI CIRI PERSONALITY MANGEMENT sifat adalah ciri ciri dari tingkah laku atau perbuatan yang bisa dipengaruhi karena banyak alasan dari dalam diri sendiri seperti minat, pembawaan, konstitusi tubuh dan juga bersifat tetap atau stabil. Masing masing manusia juga memiliki sifat yang berbeda beda yang secara lengkap akan kami ulas pada kesempatan kali ini dalam artikel jenis sifat dalam psikologi yang paling utama berikut ini. 1. Penolong [Helper] Seseorang dengan sifat penolong atau helper selalu peduli dengan sesama, memiliki hati yang lembut, tulus, ikhlas dan juga selalu berempati dengan orang lain. Bahkan seseorang dengan sifat penolong ini tidak hanya bisa memberikan waktu namun juga harta yang dimiliki hanya untuk membantu orang lain. Selain itu, seseorang dengan sifat penolong seringkali merasa malu jika harus memperlihatkan keperluan atau ingin meminta bantuan meski orang tersebut pernah ia bantu sebelumnya yang terkadang juga terlalu sentimentil atau terbawa dengan perasaan. Umumnya, seseorang dengan sifat penolong ini berasal dari golongan mapan dan juga relawan. 2. Perfeksionis [Reformer] Seseorang dengan sifat perfeksionis biasanya sangat rasional dan idealis. Ia sangat suka dengan keteraturan dan lebih taat pada aturan. Orang perfeksionis mempunyai jiwa yang sangat kuat dalam menentukan mana yang baik dan mana yang salah dan selalu berusaha untuk merubah sekaligus memperbaiki pola salah yang dimiliki orang lain dan mengerti akan cara membangun sifat kritis. Terkadang, orang dengan sifat perfeksionis juga terlalu kritis dan umumnya akan bekerja dalam bidang pemerintahan atau pendidikan. 3. Motivator [Achiever] Seseorang dengan sifat motivator, achiever atau performance selalu akan berorientasi pada prestasi. Umumnya mereka adalah orang yang energik, selalu bersemangat, memiliki rasa percaya diri tinggi, mempunyai ambisi untuk terus maju dan hanya memikirkan orang lain yang juga memikirkan tentang dirinya. Terkadang mereka merupakan orang yang selalu bekerja dengan keras, memiliki macam macam kecerdasan dan pantang menyerah. Apabila mengalami kegagalan, ia akan terus mencoba hingga hasilnya bisa berhasil sehingga akan lebih sesuai jika bekerja sebagai pengusaha atau atlet. 4. Roamntic, Individualist atau Artist Seseorang dengan sifat romantic sangat sensitif, kreatif, selalu bisa mengekspresikan dirinya sendiri, lebih penyendiri dan mempunyai jiwa seni yang tinggi. Terkadang, seseorang dengan sifat ini juga selalu tertutup dengan orang lain dan merasa kurang nyaman jika harus bertemu dengan orang lain sehingga sangat tepat jika memilih pekerjaan dalam bidang seni. 5. Investigator, Observer atau Thinker Seseorang dengan sifat investigator, observer atau thinker selalu memiliki rasa penasaran tinggi, bisa berkonsentrasi bahkan untuk hal sulit, mempunyai cara pandang yang berbeda dengan orang lain, inovatif, mandiri dan inventif atau bisa menciptakan sesuatu dan selalu mengerti untuk menemukan cara yang positif. 6. Loyalist atau Pessimist Seseorang dengan sifat loyalist atau pessimist selalu sangat bertanggung jawab, merupakan orang pekerja keras, lebih senang melakukan sesuatu yang aman, tidak terlalu percaya diri, kurang inovatif, tidak bisa mengambil sebuah keputusan dan juga pesimis. Terkadang seseorang dengan sifat ini juga terlalu takut dengan sebuah perubahan sehingga cocok jika bekerja dalam bidang formal atau menjadi seorang asisten. 7. Adventure atau Generalist Seseorang dengan sifat adventure, generalist atau optimist selalu bersemangat dalam segala hal, terbuka, menyenangi kesibukan, memiliki jiwa spontan, optimis, senang akan sesuatu hal yang baru, memiliki macam macam bakat sekaligus memiliki rasa percaya diri yang sangat tinggi. Namun kekurangan dari individu dengan sifat seperti ini adalah terkadang kurang disiplin, tidak sabar dalam menghadapi sesuatu dan tidak terlalu fokus. Seseorang dengan sifat seperti ini sangat cocok menjadi fotografer, petualang atau pembawa acara sebuah petualangan. 8. Leader atau Intimidator Seseorang dengan sifat leader, intimidator, challenger, protector atau boss selalu suka memimpin, sangat berani menghadapi tantangan, suka memberi perintah, selalu melindungi bawahan, bicara tidak bertele tele dan langsung ke inti, memiliki rasa percaya diri dan dominan. Terkadang, seseorang dengan sifat ini juga sedikit egois, terlalu mendominasi, merasa harus selalu bisa mengendalikan segala sesuatu dan mudah emosi dalam psikologi atau marah. Seseorang dengan kepribadian ini sangat tepat menjadi perwira, pemimpin atau manajer. 9. Mediator atau Peacemaker Seseorang dengan sifat mediator, peacemaker atau accomodator selalu senang melerai sebuah permasalahan, menyenangi perdamaian, sabar, selalu menghindari konflik, mengerti cara meredam emosi menurut psikologi, tidak senang berselisih, mudah percaya dengan orang lain dan juga toleran sehingga menjadi orang yang kreatif dan optimis meskipun terkadang juga keras kepala. 10. Introvert Introvert merupakan sifat yang lebih cenderung fokus pada dunia dalam pikiran manusia. Seseorang dengan sifat introvert ini lebih senang akan dunianya sendiri dan tertutup dengan orang lain. 11.ekstrovert Faktor eksternal ialah tempat tinggal dan lingkungan sosial ekonomi dimana manusia itu dilahirkan ,dibesarlan dan bermasyarakat , yang berfungsi mempengaruhi dan membentuk pengembangan faktor internal SDM itu sendiri . Faktor eksternal manusia antara lain 1. Lingkungan fisik ialah kondisi daerah tempat tinggal mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan fisik dan pengembangan mental manusia . 2. Lingkungan sosial adalah lingkungan yang terdiri dari lingkungan rumah tangga/keluarga, masyarakat . Lingkungan sosial sangat berperan dalam mempengaruhi pembentukan dan pengembangan kepribadian seseorang , karena manusia pada dasarnya mempunyai tabiat meniru ,mencontoh dan mencoba terhadap apa yang baru didengar dan apa yang baru dilihat. 3. Lingkungan media ialah semua sumber informasi , seperti media tradisionala maupun modern . Lingkungan media mempunyai pengaruh besar pula terhadap pembentukan karakter baik positif maupun negatif Ketiga faktor ini masing-masingnya mempunyai fungsi penting dalam mempengaruhi pembentukan pertumbuhan dan pengembangan potensi internal SDM . Iklan E. Manfaat Penerapan Manajemen Diri dalam Psikologi Sudah disebutkan sebelumnya bahwa manajemen diri adalah sebuah proses untuk merubah diri menjadi lebih baik. Apabila mereka mau merubah diri dengan menerapkan manajemen diri, maka akan mendapatkan beberapa manfaat sebagai berikut :  Lebih menghargai waktu Seperti kita ketahui, waktu adalah sesuatu yang tidak dapat kembali. Sehingga seseorang harus memiliki manajemen yang baik agar dapat memanfaat waktu dengann sebaik-baiknya. Jika kita dapat memanfaatkan waktu dengan baik, maka akan banyak hal yang bisa kita lakukan untuk merubah hidup kita.  Memperluas jaringan Dengan manajemen diri yang baik, maka seseorang akan lebih mudah untuk berinteraksi dengan orang lain sehingga ia memiliki pergaulan yang luas dan memiliki banyak relasi.  Mengarahkan kita mencapai cita-cita Ketika seseorang dapat mengatur menajemen dirinya dengan baik, maka ia akan lebih mudah mempunyai motivasi berperestasi dan meningkatkan produktivitas kerja. Motivasi dan produktivitas kerja akan mendorong manusia untuk lebih bersemangat dalam meraih cita-cita. manfaat dari manajemen diri, sudah dapat dipastikan bahwa manajemen diri sangatlah penting sebab dengan adanya manajemen diri tersebut, kita dapat bersikap untuk lebih waspada, sesuatu yang direncanakan jelas dan selalu mengotrol dirinya sendiri. Menurut Maxwell, (Prijoksono, 2001) aspekaspek yang terdapat dalam manajemen diri adalah sebagai berikut : 1. Mengelola waktu Waktu adalah hal yang penting dalam manajemen diri. Ketika kita dapat mengelola waktu, itu berarti kita telah mengelola kehidupan. Ini berarti bahwa dengan kita dapat mengatur waktu dengan sebaikbaiknya, maka sudah dipastikan bahwa kita akan lebih efektif dan efisien dalam mengatur tujuan kehidupan. 2. Hubungan antar manusia Selain waktu, adalah sesuatu yang sangat penting. Sebab hubungan sesama manusia menjadi sumber kekuatan dan kunci pembaharuan sepanjang masa. Keefektifan dan keaktifan hubungan individu dengan sesama akan berpengaruh pada pencapaian-pencapaian dalam hidup. Dalam menjalankan kehidupan, kita sangat membutuhkan seseorang yang dapat menemani kita dalam melakukan kegiatan sehari-hari seperti pasangan hidup, teman kerja, sahabat, teman ataupun mitra bisnis. Orang-orang seperti inilah yang kita butuhkan untuk membagi keceriaan, kesedihan, ketakutan, kegagalan dan keberhasilan yang kita rasakan dalam kehidupan kita. 3. Prespektif diri Prespektif muncul pada diri seorang individu, ketika ia melihat dirinya sama seperti apa yang dilihat dari orang lain. Seseorang yang dapat melihat dan memikirkan dirinya sama dengan apa yang dilihat dan difirkan oleh orang lain, sangat bisa dikatakan bahwa dirnya sangat jujur dalam menilai dirinya sendiri. Seseorang dengan perilaku seperti ini sangat mampu memiliki penerimaan diri yang sangat luas sehingga individu tersebut lebih mudah untuk melakukan manajemen pada dirinya sendiri. Akan tetapi, jika dirinya sudah terbiasa untuk tidak brkata jujur, maka dia akan cenderung untuk membuat kebohongan bukan hanya pada orang lain, melainkan juga pada dirinya sendiri. Langkahlangkah dalam membuat manajemen diri menurut John C. Maxwell adalah:        Berjanji untuk terus mendewasa setiap hari Menghargai proses yang terjadi Tidak menunda waktu untuk mendapatkan inspirasi Mengambil setiap kesempatan yang datang Memiliki ambisi dan impian besar Mengurutkan prioritas Berkorban demi maju untuk masa depan Manajemen diri sangat diketahui sangat berguna bagi segala peristiwa yang terjadi pada kehidupan masing-masing individu. Untuk itu sangat dibutuhkan kedisplinan yang tinggi dalam membangun suatu manajemen diri. Berikut adalah beberapa sikap yang harus Anda miliki untuk membangun manajemen diri :  Bertanggung jawab Hal pertama yang harus Anda miliki untuk membentuk manajemen diri adalah bertanggung jawab. Bertanggung jawab adalah salah satu sikap yang harus dimiliki seseorang terutama jika ia adalah seorang pemimpin. Pemimpin yang baik dan bertanggug jawab adalah mereka yang mampu melalukan yang terbaik apapun hambatannya, namun pemimpin yang gagal adalah mereka yang tidak mau bertanggung jawab dan malah melimpahkan kesalahannya pada anggota-anggotanya.  Selalu berpikiran positif Sikap selanjutnya yang harus dimiliki adalah selalu berpikiran positif. Dengan berpikir positif, maka segala sesuatu yang kita lakukan pun menjadi lebih positif. Hal ini bisa kita upayakan dengan cara menghilangkan kalimat-kalimat buruk kemudian menggantinya dengan kalimat-kalimat baik.  Membaca potensi diri Usahakan untuk giat dalam menggali dan mengeksplorasi segala bentuk potensi yang ada pada diri kita. Misalnya dengan mendatangi orang-orang terdekat, psikolog, atau mengikuti psikotes untuk mengetahui beberapa potensi yang ada pada diri kita. Setelah mengetahuinya, barukah melakukan pengoptimalan pada potensi dan kemampuan yang telah Anda gali.  Siap mengambil resiko Hindari untuk menyerah pada rasa takut kemudian berlajarlah mengambil resiko. Terima tantangan sebanyak-banyaknya dan jangan takut dengan resikonya. Kita dapat mencari dukungan sebanyak-banyaknya sehingga akan banyak peluang yang kita dapatkan nantinya. Apapun hasilnya nanti, berarti memang itulah yang terbaik menurut Allah. Jangan takut gagal dan berproses sebab kegagalan adalah awal dari kesuksesan.  Menolak hal-hal negatif Setiap orang di sekitar kita tidak akan selalu memiliki niat yang baik. Ada beberapa orang yang memberikan dukungan, dorongan serta bersikap baik kepada kita, namun ada pula yang memiliki pikiran negatif. Pikiran negatif yang seperti ini akan membuat rasa percaya diri kita menjadi luntur sehingga akan menjadi salah satu penyumbang gagalnya kita dalam membentuk manajemen diri. Untuk itu, memilih teman yang mampu mengajari kita dalam manajemen diri  Mengikuti saran positif Sungguh sangat beruntung jika kita memiliki seseorang di sekitar kita yang memiliki kemampuan berpikir positif dan cara pandang yang selalu optimis. Sebab kita akan selalu ingin meniru perilaku tersebut. Pikiran yang positif tersebut akan membantu kita dalam mengatur manajemen diri sendiri. Oleh sebab itulah, memilih lingkungan yang baik sangat dibutuhkan oleh seseorang dalam mengatur manajemen diri. Kita harus mulai membiasakan diri untuk bergaul dengan setiap orang yang memiliki kemampuan tinggi untuk maju. Demikian manfaat manajemen diri di dalam ilmu psikologi. Betapa manajemen sangatlah dibutuhkan seseorang untuk membangun masa depan yang lebih baik. Berikut adalah macam-macam psikologi lainnya seperti psikologi perkembangan anak usia dini, psikologi agama, psikologi olahraga, psikologi komparatif, psikologi eksperimen, psikologi warna, psikologi diagnostik, psikologi cinta, psikologi perkembangan, psikologi industri dan organisasi dan masih banyak lagi Adapun pembentukan kepribadian tersebut, apda umumnya tidaklah lepas dari faktor psikologi individu tersebut. Segala sesuatu yang berhubungan dengan pembentukan kepribadian seseorang, sangatlah erat kaitannya dengan faktor psikologisnya. Adapun faktor psikologi yang berpengaruh dalam pembentukan kepribadian tersebut antara lain sebagai berikut ; 1. Faktor Psikologi dari Segi Prenatal Kesehatan bayi yang baru lahir tentunya sangatlah tergantung pada kesehatan ibunya sejak dia hamil sampai melahirkan bayinya. Hal ini tentu benar adanya ya sobat, termasuk faktor soal psikologis dari proses pembentukan kepribadian bisa diturunkan sejak anak masih berada dalam kandungan. Oleh karena itu, sangatlah disarankan untuk ibu hamil agar menjaga kehamilan dan pertumbuhan si jabang bagi dengan cara menjaga kesehatannya sendiri dan memperhatikan tingkat stress. Nah sobat, buat anda yang sedang hamil, perhatikan hal ini ya sobat karena akan berpengaruh terhadap pembentukan keribadiannya kelak. Baca juga mengenai kepribadian koleris. 2. Faktor Psikologi dari Segi Faktor Keturunan Jika diatas kita membahas mengenai prenatal yang memang cenderung kepada faktor yang diturunkan pada saat kehamilan, maka faktor keturunan merupakan gen bawaan yang memang ada dalam sebuah keluarga yang melahirkan anak tersebut. Inteligensi, temperamental, watak, dan cara berbicara merupakan bagian dari faktor keturunan atau biologis. Namun demikian hal ini tidaklah bsia berkembang 100 % ya sobat, karena adanya pertimbangan beberapa hal yang lainnya. Baca juga mengenai gangguan kepribadian dalam psikologi klinis. 3. Faktor Psikologi dari Segi Naluri Faktor naluri ini adalah dorongan dari dalam diri sendiri untuk tumbuh dan berkembang menjadi sesuai dengan apa yang diinginkan. Dari faktor naluri seseorang tersebutlah maka akan tergeraklah nalurinya untuk bergaul dan memilih tipe orang seperti apa yang mereka sukai sesuai dengan nalurinya. 4. Faktor Psikologi dari Segi Lingkungan Sosial Kebudayaan yang ada dalam suatu lingkungan, secara tidak langsung merupakan faktor psikologi dari proses pembentukan kepribadian seseorang. Baca juga mengenai gangguan kepribadian dalam psikologi klinis. . 5. Faktor Psikologi dari Segi Keberhasilan dan kegagalan Kepribadian yang diinginkan dapat diraih dengan adanya pencapaian keberhasilan dalam diri setap individu. Keberhasilan ini sering kali mempengaruhi pembentukan kepribaidan seseorang. Kebayang ya sobat apabla seseorang selalu mengahadapai kegagalan, pastinya dia juga akan mempunyai kepribadian yang pemurung atau kurang percaya diri. 6. Faktor Psikologi dari Keadaan Fisik Sering kali orang menilai seseorang hanya dari penampilannya saja. Dan pada umumnya keadaan fisik ini secara umum akna berpengaurh kepada pembentukan kepribadian seseorang. 7. Faktor Psikologi dari Tuntunan Orang Tua Karena pembentukan kepribadian tidaklah dibawa sejak lahir, maka tuntunan orang tua juga sangat berperan penting dalam pembentukan kepribadian anaknya. Jika dari kecil orang tua sudah menanamkan norma – norma dan aturan yang baik dalam keluarga, maka kemungkinan besar norma atau aturan tersebut akan selalu menjadi pedoman bagi anaknya kelak. Nah hal inilah yang akan membentuk kepribadian si anak tersebut, ajdi bisa dikatakan peran orang tua merupakan peran utama dalam pembentukan kepribadian ini. karakteristik kepribadian yang sehat (healthy personality) dan karakteristik kepribadian yang tidak sehat F. a. b. c. d. e. f. g. Menurut E. B. Hurlock (1986) karakteristik kepribadian yang sehat ditandai dengan ciriciri sebagai berikut : Mampu menilai diri secara realistic. Individu yang kepribadiannya sehat mampu menilai diri apa adanya, baik kelebihan maupun kelemahannya, menyangkut fisik (postur tubuh, wajah, keutuhan dan kesehatan) dan kemampuan (kecerdasan dan keterampilan). Mampu menilai situasi realistic. Individu dapat menghadapi situasi atau kondisi kehidupan yang dialaminya secara realistic dan mau menerima secara wajar. Dia tidak mengharapkan kondisi kehidupan itu sebagai suatu yang harus sempurna. Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistic. Individu dapat menilai prestasinya (keberhasilan yang diperolehnya) secara realistic dan mereaksinya secara rasional. Dia tidak menjadi sombong, angkuh atu mengalami “Superiority complex”, apabila memperoleh prestasi yang tinggi, atau kesuksesan dalam hidupnya. Apabila mengalami kegagalan, dia tiak mereaksinya dengan frustasi, tetapi dengan sikap optimistic (penuh harapan). Menerima tanggung jawab. Individu yang sehat adalah individu yang bertanggung jawab. Dia mempunyai keyakinan terhadap kemampuannya untuk mengatasi masalah-masalah kehidupan yang dihadapinya. Kemandirian (autonomy). Individu memiliki sifat mandiri dalam cara berfikir dan bertindak, mampu mengambil keputusan, mengarahkan dan mengembangkan diri serta menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku di lingkungannya. Dapat mengontrol emosi. Individu merasa nyaman dengan emosinya. Dia dapat menghadapi situasi frustasi, depresi atau stress secara positif atau konstruktif, tidak deskruptif (merusak) Berorientasi tujuan. Setiap orang mempunyai tujuan yang ingin dicapainya. Namun, merumuskan tujuan itu ada yang realistic dan ada yang tidak realistic. Individu yang sehat kepribadiannya dapat merumuskan tujuannya berdasarkan pertimbangan secara matang (rasional), tidak atas dasar paksaan dari luar. Dia berupaya untuk mencapai tujuan tersebut dengan cara mengembangkan kepribadian (wawasan) dan keterampilan. h. Berorientasi keluar. Individu yang sehat memiliki orientasi keluar (ekstrovert). Dia bersifat respek (hormat), empati terhadap orang lain mempunyai kepedulian terhadap situasi atau masalah-masalah lingkungannya dengan sifat-sifat individu yang berorientasi keluar, yaitu :       Menghargai dan menilai orang lain seperti dirinya sendiri Merasa nyaman dan terbuka terhadap orang lain Tidak membiarkan dirinya dimanfaatkan untuk menjadi korban orang lain dan tidak mengorbankan orang lain karena kekecewaan dirinya Penerimaan social. Individu dinilai positif oleh orang lain, mau berpartisipasi aktif dalam kegiatan social, dan memiliki sikap bersahabat dalam berhubungan dengan orang lain Memiliki filsafat hidup. Dia mengarahkan hidupnya berdasarkan filsafat hidup yang berakar dari keyakinan agama yang dianutnya. Berbahagia. Individu yang sehat, situasi kehidupannya diwarnai kebahagiaan. Kebahagiaan ini didukung oleh factor-faktor achievement (pencapaian prestasi), acceptance (penerimaan dari orang lain), dan affection (perasaan dicintai atau disayangi orang lain). Adapun karakteristik kepribadian yang tidak sehat, ditandai dengan: a. Mudah marah (tersinggung) b. Menunjukan kekhawatiran dan kecemasan c. Sering merasa tertekan (stress atau depresi) d. Bersikap kejam atau senang mengganggu orang lain yang usianya lebih muda atau terhadap binatang e. Ketidakmampuan untuk menghindar dari perilaku menyimpang meskipun sudah diperingati atau dihukum f. Mempunyai kebiasaan berbohong g. Hiperaktif h. Bersikap memusuhi semua bentuk otoritas i. Senang mengkritik/mencemooh orang lain j. Sulit tidur k. Kurang memiliki tanggung jawab l. Sering mengalami pusing kepala (meskipun penyebabnya bukan bersifat organis) m. Kurang memiliki kesadaran untuk mentaati ajaran agama n. Bersikap psimis dalam menghadapi kehidupan o. Kurang bergairah (bermuram durja) dalam menjalani kehidupan. BAB III PENUTUP Kesimpulan Kepribadian setiap individu berbeda satu sama lain. Untuk mengetahui kepribadian seseorang kita perlu mempelajari struktur kepribadiannya. Ada beberapa hal yang mempengaruhi pembentukan kepribadian yaitu pengetahuan umum dan pengetahuan khusus. Sehingga terbentuklah beberapa jenis kepribadian unik dari setiap individu. Penggolongan ini ada yang berdasarkan faktor eksternal dan internal. Individu yang tidak dapat menghadapi masalah pribadi dan sosial yang timbul saat ia masih kanakkanak sampai dewasa dapat menimbulkan gangguan kepribadian. Oleh kerena itu sejak dini kepribadian harus dibentuk dengan baik sehingga tidak mengalami gangguan kepribadian pada masing-masing individu. DAFTAR PUSTAKA Gibson, Ivancevich. 1996. Organisasi dan Manajemen. Jakarta: Erlangga. Goble, Frank G. 1998. Psikologi Humanistik Abraham Maslow. Penterjemah Supratiknya. Yogyakarta: Kanisius. Jackson, Terence. 2001. Organizational Behaviour in International Management. London: Butterworth-Heinemann. Koswara. 1998. Teori-teori Kepribadian. Bandung: PT Eresco Lidcy, Calvin Hall. 1998. Teori-teori Sifat dan Behavioristis. Yogyakarta: Kanisius. Robbins, Stephen P. 1999. Perilaku Organisasi. Jakarta: PT Prenhalindo. Thoha, Miftah. 2005. Perilaku Organisasi Konsep Dasar dan Aplikasinya. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Judul: Makalah Personality Management Fakultas Ekonomi-manajemen Universitas Satya Negara Indonesia 2018

Oleh: Gilang Fauzan


Ikuti kami