Asuhan Keperawatan Klien Dengan Angina Pektoris Oleh: Sunardi (residensi Sp.kmb

Oleh Hikmah Wahyu

8 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Asuhan Keperawatan Klien Dengan Angina Pektoris Oleh: Sunardi (residensi Sp.kmb

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN ANGINA PEKTORIS
Oleh: Sunardi (Residensi Sp.KMB)
I. Pendahuluan
Walaupun telah banyak kemajuan dalam penatalaksanaannya, penyakit
jantung koroner ( PJK ) sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan
masyarakat yang cukup penting. Di Negara-negara maju dan beberapa Negara
berkembang seperti Indonesia, PJK merupakan penyebab kematian utama.
Di Amerika Serikat didapatkan bahwa kurang lebih 50 % dari penderita
PJK mempunyai manifestasi awal Angina Pectoris Stabil ( APS ). Jumlah pasti
penderita angita pectoris ini sulit diketahui. Dilaporkan bahwa insidens angina
pectoris pertahun pada penderita diatas usia 30 tahun sebesar 213 penderita per
100.000 penduduk. Asosiasi jantung Amerika memperkirakan ada 6.200.000
penderita APS ini di Amerika serikat. Tapi data ini nampaknya sangat kecil bila
dibandingkan dengan laporan dari dua studi besar dari Olmsted Country dan
Framingham, yang mendapatkan bahwa kejadian infark miokard akut sebesar 3%
sampai 3.5% dari penderita APS pertahun, atau kurang lebih 30 penderita APS
untuk setiap penderita infark miokard akut
Mengingat banyaknya jumlah penderita APS dan kerugian yang
ditimbulkannya terutama secara ekonomi, diperlukan penatalaksanaan yang lebih
komprehensif. Tetapi APS terutama ditujukan untuk menghindarkan terjadinya
infark miokard akut dan kematian sehingga meningkatkan harapan hidup, serta
mengurangi symptom dengan harapan

meningkatnya kualitas hidup. Pada

penderita yang berdasarkan riwayat penyakit dan pemeriksaan awal didapatkan
kemungkinan sedang atau tinggi untuk menderita suatau PJK perlu dilakukan test
secara non invasif

maupun invasive

untuk memastikan

diagnosa serta

menentukan stratifikasi resiko. Penderita APS dengan resiko tinggi atau resiko
sedang yang kurang berhasil dengan terapi standart, perlu dilakukan tindakan
revaskularisasi, terutama bila penderita memang menghendaki.
Makalah ini disusun dengan tujuan untuk mengetahui dan mampu
menerapkan keperawatan pada klien dengan angina pectoris.

1

II. Tinjauan Pustaka
a. Definisi
Angina pectoris adalah suatu syndrome yang ditandai dengan rasa tidak
enak yang berulang di dada dan daerah lain sekitarnya yang berkaitan yang
disebabkan oleh ischemia miokard tetapi tidak sampai terjadi nekrosis. Rasa tidak
enak tersebut sering kali digambarkan sebagai rasa tertekan, rasa terjerat, rasa
kemeng, rasa penuh, rasa terbakar, rasa bengkak dan rasa seperti sakit gigi. Rasa
tidak enak tersebut biasanya berkisar 1 – 15 menit di daerah retrosternal, tetapi
dapat juga menjalar ke rahang, leher, bahu, punggung dan lengan kiri. Walaupun
jarang, kadang-kadang juga menjalar ke lengan kanan. Kadang-kadang
keluhannya dapat berupa cepat capai, sesak nafas pada saat aktivitas, yang
disebabkan oleh gangguan fungsi akibat ischemia miokard.
b. Penyebab
Penyebab dari angina pectoris antara lain : ateroskelerosis, spasme
pembulu koroner, latihan fisik, pajanan terhadap dingin, makan makanan berat
dan stress.
c. Tipe Angina Pectoris
-

Angina Stabil
Dapat diramal, konsisten, terjadi saat latihan dan hilang dengan istirahat.
Dibedakan antara lain :


Angina Nokturnal
Nyeri terjadi saat malam hari, biasanya saat tidur, dapat dikurangi dengan
duduk tegak. Biasanya akibat gagal ventrikel kiri.



Angina Dekubitus : Angina saat berbaring



Iskemia tersamar
Terdapat bukti obyektif ischemia ( seperti tes pada stress tetapi pasien tidak
menunjukkan gejala

-

Angina Non stabil ( angina prainfark, angina kresendo )
Frekwensi, intensitas, dan durasi serangan angina meningkat secara progresif.
Angina non stabil di bedakan antara lain :

2



Angina Refrakter atau intraktabel
Angina yang sangat berat sampai tidak tertahan

-

Varian angina


Angina Prinzmetal
Nyeri angina yang bersifat spontan disertai elevasi segmen ST pada EKG,
di duga disebabkan oleh spasme arteri koroner

d. Patofisiologi
-ateroskelerosis
- Spasme pembulu
darah

Pajanan
terhadap
dingin

Latihan
fisik

stress

Kebutuha
n O2
jantung
me↑

Adrenalin
me ↑

Makan
makanan
berat
aliran O2 me ↑

ke
mesentrikus

vasokontriksi
Aliran O2
ke jantung
me ↓

Aliran O2 arteri

koronaria me ↓

jantung ke kurangan O2
Ischemia otot jantung

Kontraksi jantung me ↓

Curah jantung
me ↓

Nyeri b.d iskhemia

Nyeri

Takut mati
cemas
Cemas b.d kematian

Perlu menghindari
kompilkasi
Diperlukan
pengetahuan
tinggi

Kurang pengetahuan
bd deficit knoeledge

3

e. Diagnosa
- Anamnese
Diagnosa angina pectoris terutama didapatkan dari anamnese mengenai
riwayat penyakit, karena diagnosa pada angina sering kali berdasarkan adanya
keluhan sakit dada yang mempunyai cirri khas sebagai berikut :
-

letaknya, seringkali pasien merasakan adanya sakit dada di daerah sternum
atau dibawah sternum, atau dada sebelah kiri dan kadang-kadang menjalar
ke lengan kiri kadang-kadang dapat menjalar ke punggung, rahang, leher,
atau ke lengan kanan.

-

Kualitas sakit dada pada angina biasanya timbul pada waktu melakukan
aktivitas. Sakit dada tersebut segera hilang

bila pasien

menghentikan

aktivitasnya. Serangan angina dapat timbul pada waktu tidur malam
-

Lamanya serangan sakit dada biasanya berlangsung 1 – 5 menit, walaupun
perasaan tidak enak di dada masih dapat terasa setelah sakit dada hilang .
bila sakit dada berlangsung lebih dari 20 menit , mungkin pasien mendapat
serangan infark miokard akut dan bukan disebabkan angina pectoris biasa.

Dengan anamnese yang baik dan teliti sudah dapat disimpulkan mengenai tinggi
rendahnya kemungkinan penderita tersebut menderita angina pectoris stabil atau
kemungkinan suatu angina pectoris tidak stabil. Ada 5 hal yang perlu digali dari
anamnese mengenai angina pectoris yaitu : lokasinya, kualitasnya, lamanya,
factor pencetus, factor yang bisa meredakan nyeri dada tersebut.
Beratnya nyeri pada angina pectoris dapat dinyatakan dengan menggunakan
skala dari Canadian Cardiovaskuler Society, seperti pada table di bawa ini :
Class
I

Description
Ordinary physical activity, such as walking and climbing stairs, does not cause angina.
Angina result from strenues or rapid or prolonge exertion at work.

II

Slight limitation of ordinary activity. Walking or climbing stairs rapidly, walking
uphill, walking or stair climbing after meals, in cold, in wind, or when under emotional
stress, or only during the few hour after awakening. Walking more than 2 blocks on
the level and climbing more than 1 flight of ordinary stairs at a normal pace and under
normal conditions.

III

Marked limitations of ordinary physical activity. Walking 1 to 2 block on the level and
climbing more than 1 flight under normal conditions.

IV

Inability to carry on any physical activity without discomfort-angina syndrome may be
present at rest

4

Setelah semua deskriptif nyeri dada tersebut
kesimpulan dari gabungan berbagai komponen

didapat, pemeriksa membuat
tersebut. Kesimpulan yang

didapat digolongkan menjadi tiga kelompok yaitu angina yang tipikal, angina
yang atipikal atau nyeri dada bukan karena jantung. Angina termasuk tipikal
bila : rasa tidak enak atau nyeri dirasakan dibelakang sternum dengan kualitas
dan lamanya yang khas, dipicu oleh aktivitas atau stress emosional, mereda
bila istirahat atau diberi nitrogliserin.
Angina dikatakan atipikal bila hanya memenuhi 2 dari 3 kreteria diatas. Nyeri
dada dikatakan bukan berasal dari jantung bila tidak memenuhi atau hanya
memenuhi 1 dari tiga kreteria tersebut.
f. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik biasanya normal pada penderita angina pectoris. Tetapi
pemeriksaan fisik yang dilakukan saat serangan

angina dapat memberikan

informasi tambahan yang berguna. Adanya gallop, mur-mur regurgitasi mitral,
split S2

atau ronkhi basah basal yang kemudian menghilang

bila nyerinya

mereda dapat menguatkan diagnosa PJK. Hal-hal lain yangn bisa didapat dari
pemeriksaan fisik adalah tanda-tanda adanya factor resiko, misalnya tekanan
darah tinggi.
g. Pemeriksaan Penunjang
Setiap penderita dengan

gejala yang mengarah pada angina harus

dilakukan EKG 12 lead. Namun hasil EKG akan normal pada 50 % dari penderita
dengan angina pectoris. Depresi

atau elevasi segmen ST menguatkan

kemungkinan adanya angina dan menunjukkan suatu ischemia pada beban kerja
yang rendah.
Foto thoraks pada penderita angina pectoris biasanya normal. Foto thoraks
lebih sering menunjukkan kelainan pada penderita dengan riwayat infark miokard
atau penderita dengan nyeri dada yang bukan berasal dari jantung. Manfaat
pemeriksaan foto thorak secara rutin pada penderita angina masih dipertanyakan.
Uji latih beban dengan monitor EKG merupakan prosedur yang sudah
baku. Dari segi biaya, tes ini merupakan termurah bila dibandingkan dengan tes

5

echo. Untuk mendapatkan informasi yang optimal, protocol harus disesuaikan
untuk masing-masing penderita agar dapat mencapai setidaknya 6 menit. Selama
EKG, frekwensi, tekanan darah harus dimonitor dengan baik dan direkam pada
tiap tingkatan dan juga pada saat abnormallitas segmen ST. metode yang dipakai
pada uji beban yaitu dengan menggunakan treadmill

dan sepeda statis.

Interpretasi EKG uji latih beban yang paling penting adalah adanya depresi dan
elevasi segmen ST lebih dari 1 mm. Biasanya uji latih beban dihentikan bila
mencapai 85% dari denyut jantung maksimal berdasarkan umur, namun perlu
diperhatikan adanya variabilitas yang besar dari denyut jantung maksimal pada
tiap individu. Indikasi absolute untuk menghentikan uji beban adalah penurunan
tekanan darah sistolik lebih dari 10 mmHg dari tekanan darah awal meskipun
beban latihan naik jika diikuti tanda ischemia yang lain : angina sedang sampai
berat , ataxia

yang meningkat, kesadaran

menurun, tanda-tanda penurunan

perfusi seperti sianosis.
Pada penderita yang tidak bisa di diagnosa dengan uji latih beban
berdasarkan EKG, maka dilakukan uji latih beban dengan pencitraan. Isotop yang
biasa digunakan adalah thalium-210.
Tes uji latih ekokardiografi dianalisa berdasarkan penilaian penebalan
miokard pada saat uji latih dibandingkan

dengan saat istirahat. Gambaran

ekokardiografi yang mendukung adanya ischemia miokard adalah : penurunan
gerakan dinding pada 1 atau lebih segmen ventrikel kiri, berkurangnya ketebalan
dinding saat sistol atau lebih segmen pada saat uji latih beban, hiperkinesia
kompensasi pada segmen dinding yang berkaitan atau yang tidak ischemia.
Tindakan untuk angiografi koroner diagnostic secara langsung pada
penderita dengan nyeri dada yang

diduga karena ischemia miokard, dapat

dilakukan jika ada kontra indikasi untuk test non invasive.

h. Penatalaksanaan Angina Pektoris
Ada dua tujuan utama penatalaksanaan angina pectoris :
-

Mencegah terjadinya infark miokard dan nekrosis, dengan demikian
meningkatkan kuantitas hidup.

6

-

Mengurangi symptom

dan frekwensi serta beratnya

ischemia, dengan

demikian meningkatkan kualitas hidup.
Prinsip

penatalaksanaan

angina pectoris adalah : meningkatkan

oksigen ( dengan meningkatkan

pemberian

aliran darah koroner ) dan menurunkan

kebutuhan oksigen ( dengan mengurangi kerja jantung ).
Terapi Farmakologis untuk anti angina dan anti iskhemia.
- Penyekat Beta
obat ini merupakan terapi utama pada angina. Penyekat beta dapat menurunkan
kebutuhan

oksigen miokard dengan cara menurunkan frekwensi denyut

jantung, kontraktilitas , tekanan di arteri

dan peregangan

pada dinding

ventrikel kiri. Efek samping biasanya muncul bradikardi dan timbul blok
atrioventrikuler. Obat penyekat beta antara lain : atenolol, metoprolol,
propranolol, nadolol.
- Nitrat dan Nitrit
Merupakan vasodilator endothelium yang sangat bermanfaat untuk mengurangi
symptom angina pectoris, disamping juga mempunyai efek antitrombotik dan
antiplatelet. Nitrat

menurunkan

kebutuhan oksigen miokard

melalui

pengurangan preload sehingga terjadi pengurangan volume ventrikel dan
tekanan arterial. Salah satu masalah penggunaan nitrat jangka panjang adalah
terjadinya toleransi terhadap nitrat. Untuk mencegah terjadinya toleransi
dianjurkan memakai nitrat dengan periode bebas nitrat yang cukup yaitu 8 – 12
jam. Obat golongan nitrat dan nitrit adalah :

amil nitrit, ISDN, isosorbid

mononitrat, nitrogliserin.
- Kalsium Antagonis
obat ini bekerja dengan cara menghambat masuknya kalsium melalui saluran
kalsium, yang akan menyebabkan relaksasi otot polos pembulu darah sehingga
terjadi vasodilatasi pada pembuluh darah epikardial dan sistemik. Kalsium
antagonis

juga menurunkan

kabutuhan oksigen

miokard dengan cara

menurunkan resistensi vaskuler sistemik. Golongan obat kalsium antagonis
adalah amlodipin, bepridil, diltiazem, felodipin, isradipin, nikardipin, nifedipin,
nimodipin, verapamil.

7

Terapi Farmakologis untuk mencegah Infark miokard akut
-

Terapi antiplatelet, obatnya adalah aspirin diberikan pada penderita PJK baik
akut atau kronik, kecuali ada kontra indikasi, maka penderita dapat diberikan
tiiclopidin atau clopidogrel.

-

Terapi Antitrombolitik, obatnya adalah heparin dan warfarin. Penggunaan
antitrombolitik dosis rendah akan menurunkan resiko terjadinya ischemia
pada penderita dengan factor resiko .

-

Terapi penurunan kolesterol, simvastatin akan menurunkan LDL ( low
density lipoprotein )

sehingga memperbaiki fungsi endotel pada daerah

atheroskelerosis maka aliran darah di arteria koronaria lebih baik.
Revaskularisasi Miokard
Angina pectoris dapat menetap sampai bertahun-tahun dalam bentuk serangan
ringan yang stabil. Namun bila menjadi tidak stabil maka dianggap serius,
episode nyeri dada menjadi lebih sering dan berat, terjadi tanpa penyebab yang
jelas. Bila gejala tidak dapat dikontrol dengan terapi farmakologis yang memadai,
maka

tindakan

invasive

seperti PTCA ( angioplasty coroner transluminal

percutan ) harus dipikirkan untuk memperbaiki sirkulasi koronaria.
Terapi Non Farmakologis
Ada berbagai cara lain yang diperlukan untuk menurunkan kebutuhan oksigen
jantung antara lain : pasien
mengakibatkan

takikardia

harus berhenti merokok, karena merokok

dan naiknya tekanan darah, sehingga memaksa

jantung bekerja keras. Orang obesitas dianjurkan menurunkan berat badan untuk
mengurangi kerja jantung. Mengurangi stress untuk menurunkan kadar adrenalin
yang dapat menimbulkan vasokontriksi pembulu darah. Pengontrolan gula darah.
Penggunaan kontra sepsi dan kepribadian seperti sangat kompetitif, agresif atau
ambisius.

8

i. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan pada data pengkajian, diagnosa keperawatan utama untuk klien angina pectoris meliputi :


Nyeri berhubungan dengan ischemia miokardium



Curah jantung menurun berhubungan dengan gangguan kontraksi



Cemas berhubungan dengan rasa takut akan kematian



Kurang pengetahuan tentang penyakit berhubungan dengan deficit knowledge.

j. Nursing Intervention
Diagnosa
Keperawatan

Kreteria evaluasi

Nyeri berhubungan Setelah dilakukan asuhan selama 1dengan
ischemia 3
jam
diharap
nyeri
miokardium
berkurang/hilang dengan kreteria:
- pasien dapat mengekspresikan
bahwa nyeri berkurang/hilang
secara verbal dan oral.
- Tanda vital dalam batas normal.
- Individu
dapat
mendemonstrasikan
teknik
relaksasi untuk meningkatkan
kenyamanan
- Gambaran EKG tidak ada
segmen ST elevated/depresi.

Intervensi
1. anjurkan pasien untuk memberitahu perawat dengan cepat bila terjadi nyeri
dada.
2. observasi pasien tentang skala nyeri atau ketidaknyamanan
3. Gunakan flow sheet untuk memonitor nyeri terhadap efek pemberian obat
angina.
4. Kaji tentang kepercayaan, kebudayaan, terhadap nyeri pasien dan responnya.
5. Managemen nyeri :
- kaji secara komprehensif terhadap nyeri : lokasi, karekteristik, onset, durasi,
frekuensi, dan kualitasnya.
- Observasi nonverbal pasien terhadap ketidaknyamanan.
6. observasi gejala yang berhubungan dengan dispnea, mual/muntah, pusing,
palpitasi.
7. evaluasi laporan nyeri pada rahang, leher, bahu, tangan/lengan khususnya sisi
kiri.
8. Posisikan pasien pada istirahat total selama episode angina.

9

9.
10.
11.
12.

Curah
jantung
menurun
berhubungan dengan
gangguan kontraksi



Setelah dilakukan asuhan selama 13 jam diharap curah jantung normal
dengan kreteria:
- Nyeri angina tidak ada
- Klien bertoleransi terhadap
aktivitas.
- Klien berpartisipasi dalam
prilaku
yang menurunkan
curah jantung
- Tanda vital dalam batas normal.
- Hipotensi orthostatic tidak ada
- AGD dalam batas normal.
- Tidak
ada
suara
nafas
tambahan.
-

Observasi tanda-tanda vital tiap 5 menit selama serangan angina.
Ciptakan lingkungan yang tenang, nyaman bila perlu batasi pengunjung
berikan makanan yang lembut
Kolaborasi :
- pemberian oksigen
- Nitrit
- Penyekat beta
- Morfin sulfat
- EKG serial

1. Kaji tanda vital : blood pressure, status respirasi rate, nadi dan suhu.
2. Kaji status mental : disorentasi, bingung
3. Catat warna kulit : cianosis, capillary refile.
4. Kaji toleransi pasien terhadap aktivitas terhadap perubahan : nafas pendek,
nyeri, palpitasi, pusing.
5. Evaluasi respon pasien terhadap terapi O2.
6. Auskultasi bunyi nafas : bunyi tambahan dan bunyi jantung : murmur
7. Pertahankan posisi tirah baring pada posisi yang nyaman selama episode akut.
8. Berikin periode istirahat dalam melakukn aktivitas keperwatan.
9. Tekankan untuk menghindari regangan : selama defekasi, batuk
10. Pantau dan catat efek terapeutik/efek samping selama pemberian kalsium
antagonis, beta bloker,dan nitrat.
11. Kolaborasi :
- pemberian kalsium antagonis.
- Tes katerisasi untuk persiapan PTCA

Setelah
dilakukan
asuhan1. Jelaskan tujuan prosedur pemeriksaan : EKG, pemasangan monitor
Cemas
keperawatan
selama
12
hari2. Tingkatkan ekspresi pasien terhadap takut : menolak, depresi, marah
berhubungan
diharapkan
kecemasan
berkurang
: 3. Anjurkan keluarga dan teman untuk menganggap pasien seperti sebelumnya.
dengan rasa takut
-

klien menyatakan

ansietas4. Beritahu pasien tentang program

medis yang telah dibuat untuk menurunkan

10

menurun sampai tingkat yang
serangan akan datang
dapat diatasi.
5. Kaji tanda vital
- Klien menunjukkan
strategi6. Kaji orientasi pasien : orang, tempat dan waktu
koping yang efektif
7. Kolaborasi : Pemberian sedative
Kurang
Setelah
dilakukan
asuhan 1. Jelaskan kembali tentang perlunya mencegah serangan ulang.
pengetahuan
keperawatan diharapkan :
2. Dorong klien untuk menghindari factor yang dapat sebagai pencetus episode
tentang penyakit - berpatisipasi dalam proses
angina : stress, kerja fisik, makan terlalu banyak/berat, perubahan suhu yang
berhubungan
belajar
ekstrem.
dengan
deficit - Bertanggung
jawab
untuk 3. Bantu pasien untuk mengidentifikasi sumber fisik dan stress dan diskusikan
knowledge.
belajar dan mencari informasi
cara yang dapat mereka hindari.
tentang penyakitnya.
4. Jelaskan pentingnya mengkontrol berat badan, menghentikan rokok. Perubahan
- Berpartisipasi dalam program
diet dan olah raga.
pengobatan
5. Dorong pasien untuk mengikuti program yang ditentukan untuk pencegahan
- Melakukan perubahan pola
kelelahan.
hidup.
6. Tunjukkan pada pasien untuk memantau nadi sendiri selama aktivitas
7. diskusikan langkah yang diambil bila terjadi serangan angina : menghentikan
aktivitas, pemberian obat, penggunaan teknik relaksasi.
8. Diskusikan tentang obat-obat yang sesuai dengan indikasi.

akan kematian



k. Evaluasi Keperawatan
hasil yang diharapkan :
-

Bebas dari nyeri.

-

Menunjukkan penurunan kecemasan : memahami penyakit dan tujuan perawatannya, mematuhi semua aturan medis, mengetahui
kapan harus meminta bantuan medis bila nyeri menetap.

-

Mematuhi program perawatan diri : menunjukkan pemahaman mengenai terapi farmakologi, kebiasaan sehari-hari mencerminkan
penyesesuaian gaya hidup pada pasien angina.

11

12

III. Kasus
ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. JL DENGAN . NSTEMI
DI RSUP CIPTO MANGUNKUSUMO JAKARTA
A. PENGKAJIAN
1. Identitas Pasien
Nama
Umur
Jenis kelamin
Agama
Alamat
Suku
Pekerjaan
Mrs
Pengkajian
Regester
Diagnosa masuk

: Tn. JL
: 54 tahun
: Laki-Laki
: Islam
: Gg. Damai Poncol 2 RT 004 RW 09 Jati
Waringin - Jaktim
: Batak
: Wiraswasta ( Designer Baju )
: 19 – 12- 2005 jam : 14.00
: 22 - 12 – 2005
: 296 99 92
: NSTEMI

2. Riwayat penyakit sekarang
Alasan utama MRS :
Klien tiba-tiba pingsan
Keluhan utama :
3 jam sebelum MRS klien tiba-tiba pingsan, dada terasa tertekan, nyeri menjalar ke
bahu belakang, keluar keringat dingin. Maka oleh keluarga di bawah ke IGD RSCM
dan masuk ke ICCU. Karena kondisinya membaik maka klien dipindahkan ke ruang
IRNA lantai 6 kanan.
3. Riwayat penyakit dahulu
Sekitar 4 tahun yang lalu klien dirawat di RS Haji dengan sakit jantung dan setelah
itu tidak pernah control.
4. Riwayat penyakit keluarga
Pada keluarga tidak ada yang menderita penyakit hipertensi, DM, atau jantung.
5. Pola-pola fungsi kesehatan
a. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
Kebiasaan merokok seak muda ( sekitar 40 tahun ) dengan konsumsi 3 bungkus/
hari, jamu , Olah raga/gerak badan .
b. Pola nutrisi dan metabolisme
Sebelum MRS klien makan 3 x sehari dengan porsi cukup dan suka makan di
luar rumah, saat MRS pemenuhan nutrisi bubur kasar satu porsi habis setiap kali
makan, kesulitan menelan tidak ada, keadaan yang mengganggu nutrisi tidak

13

ada, status gizi yang berhubungan dengan keadaan tubuh: postur tubuh tinggi
besar, keadaan rambut bersih. BB
Kg, TB cm.
c. Pola eliminasi
BAB
Frekuensi
Warna dan bau
Konsistensi
Keluhan

: 1 x/3 hari
: dbn
: dbn
: tidak ada

BAK
Frekuensi
Warna dan bau
Keluhan

d. Pola tidur dan istirahat
Tidur
Frekuensi
: 2 x/hari
Jam tidur siang
: 1- 3/hari
Jam tidur malam
: 6 – 7 jam/hari
Keluhan
: tidak ada

: Kondom cat
: dbn
: tidak ada

Istirahat
Frekuensi : 4 – 6 x/hari
Keluhan : tidak ada

e. Pola aktivitas
Klien biasanya duduk seharian untuk membuat pola rancangan baju dari
pemesanan. Oleh raga kadang-kadang seminggu sekali jalan-jalan pagi ke TMII.
f.

Pola sensori dan kognitif
Sensori :
Daya penciuman, daya rasa, daya raba, daya pendengaran baik.
Kognitif :
Proses berfikir, isi pikiran, daya ingat baik.

g. Pola penanggulangan stress
Penyebab stress, mekanisme terhadap stress, adaptasi terhadap stress, Pertahanan
diri sementara biasanya klien meminta bantuan keluarga terutama istri.
Pemeriksaan fisik
1. Status kesehatan umum
Keadaan penyakit sedang, kesadaran komposmentis, suara bicara jelas, tekanan
darah 120/80 mmHg, suhu tubuh 365◦C, pernapasan 20 X/menit, nadi
100X/menit, reguler
2. Sistem integument
Tidak tampak pucat, permukaan kulit baik, tekstur baik, rambut tipis dan bersih ,
tidak botak, sianosis tidak ada.
3. Kepala
Normo cephalic, simetris, nyeri kepala tidak ada.
4. Muka
Simetris, odema , otot muka dan rahang kekuatan normal, sianosis pada
circum oris tidak ada

14

5. Mata
Alis mata, kelopak mata normal, konjuktiva anemis (-), pupil isokor sclera tidak
ikterus (-), reflek cahaya positif. Tajam penglihatan norma.
6. Telinga
Secret, serumen, benda asing, membran timpani
pendengaran menurun.

dalam batas normal,

7. Hidung
Deformitas, mukosa, secret, bau, obstruksi tidak ada, pernafasan cuping hidung
tidak ada.
8. Mulut dan faring
Bau mulut , stomatitis (-), gigi lengkap, Kelainan lidah tidak ada.
9. Leher
Simetris, kaku kuduk tidak adak, pembesaran vena jugularis 5+0 cmH2O
10. Thoraks
Paru
Gerakan simitris, retraksi supra sternal (-), retraksi intercoste (-), perkusi resonan,
rhonchi -/-, wheezing -/-, vocal fremitus kuat dan simitris, perkusi resonan
11. Jantung
Batas jantung kiri ics 2 sternal kiri dan ics 4 sternal kiri, batas kanan ics 2 sternal
kanan dan ics 5 axilla anterior kanan.perkusi dullness. Bunyi s1 dan s2 tunggal,
gallop (-), mumur (-). capillary refill 2 – 3 detik

12. Abdomen
Bising usus +, tidak ada benjolan, nyeri tekan pada kuadran kanan bawah tidak
ada, pembesaran hepar tidak ada.
13. Inguinal-Genitalia-Anus
Nadi femoralis teraba, tidak ada hernia, pembengkakan pembulu limfe tidak ada.,
tidak ada hemoroid.
14. Ekstrimitas
Akral hangat, edema -/-, kekuatan 5/5, gerak yang tidak disadari -/15. Tulang belakang
Tidak ada lordosis, kifosis atau scoliosis.

Pemeriksaan penunjang
Laboratorium ( 19 – 12 – 2005 )

15

- Hb
- Leukosit
- Trombosit
- SGOT/PT
- Albumin
- Na
-K
- Cl
- Ureum
- Creatinin
- GDA
- Diff Count
- APTT

: 13,2
: 11.800
: 284.000
: 27/ 34
: 3,7
: 138
: 3.7
: 97
: 24
: 1,2
: 119
: -/-/75/24/: 49.4

Ecokardiograp
Ef : 22 %, dilatasi LV dan LA, hipokinetik global.
EKG ( 22 – 12- 2005 )
Irama sinus, HR : 100/mnt, axis normal, hipertropi ventrikel tidak ada, ST elevasi
dan depresi tidak ada, interval PR < 0.20. ( terlampir )

I. Terapi
Obat-obatan.

19-12-2005 Di ICCU
ISDN
3 x 10 mg
Ascardia
1 x 160 mg
Laxadin
3 x C1
Diazepam
3 x 2 mg
KSR
2 x 1 tab
Digoxin
1 x 1 tab
Captopril
2 x 6.25 mg
Furosemid 1 x 1 tab
Bosoprolol 1 x 25 mg
IVFD heparin drip 10.000/
12 jam

22-12-2005
Furosemid
Captopril
Digoxin
ISDN
Ascardia
Omeprazole
Laxadin
Diazepam
KSR

1 x 40 mg
2 x 6.25 mg
1 x 0,25 mg
3 x 5 mg
1 x 160 mg
1 x 20 mg
3 x C1
3 x 2 mg
2 x 1 tab

16

B. Diagnosa, Intervensi, Implementasi Dan Evaluasi Keperawatan
NO
1

Data
Resiko
Nyeri
berhubungan
dengan ischemia
miokardium
S;
Klien
mengatakan
nyeri sudah tidak
ada, tapi 4 hari
yang lalu nyeri
mendadak
dan
sekarang
baru
keluar dari ICCU
O:
tekanan darah
120/80 mmHg,
suhu
tubuh
365◦C,
pernapasan 20
X/menit, nadi
100X/menit,
reguler , EKG
Irama
sinus,
HR : 100/mnt,
axis
normal,
hipertropi
ventrikel tidak

Kreteria evaluasi

Nursing intervensi

Setelah dilakukan 1. anjurkan pasien untuk
asuhan selama 1- 3
memberitahu perawat
jam diharap nyeri
dengan cepat
bila
berkurang/hilang
terjadi nyeri dada.
dengan kreteria:
2. observasi
pasien
- pasien dapat
tentang skala nyeri atau
mengekspresik
ketidaknyamanan
an
bahwa 3. Gunakan flow sheet
nyeri
untuk memonitor nyeri
berkurang/hila
terhadap
efek
ng
secara
pemberian obat angina.
verbal
dan 4. Kaji
tentang
oral.
kepercayaan,
- Tanda
vital
kebudayaan, terhadap
dalam
batas
nyeri
pasien
dan
normal.
responnya.
- Individu dapat 5. Managemen nyeri :
mendemonstra
- kaji
secara
sikan
teknik
komprehensif
relaksasi
terhadap nyeri :
untuk
lokasi, karekteristik,
meningkatkan
onset,
durasi,
kenyamanan
frekuensi,
dan
- Gambaran
kualitasnya.
EKG tidak ada
- Observasi nonverbal
segmen
ST
pasien
terhadap
elevated/depre
ketidaknyamanan.
si.
13. 6. observasi gejala
yang

Implementasi
23-12 -2005
24-12 -2005
1. menganjurkan 1. mengobservasi
pasien
untuk
pasien tentang
memberitahu
skala
nyeri
perawat dengan
yaitu
pada
cepat
bila
skala 1.
terjadi
nyeri2. mengukur
dada.
tanda vital T :
2. mengobservasi
120/80 mmHg,
pasien tentang
Hr
100/mnt
skala nyeri yaitu
regular
pada skala 1. 3. melakukan
3. mengkaji
EGK.
tentang
4. mengkaji
kepercayaan,
adanya
kebudayaan,
mual/muntah,
terhadap nyeri :
dispnea
bahwa nyerinya5. menganjurkan
karena penyakit
klien istirahat
jantungnya
6. menganjurkan
bukan
oleh
klien
makan
sebab yang lain
makanan yang
4. mengukur
lembut
tanda vital T :
120/80 mmHg,
Hr
100/mnt
regular
5. melakukan
EGK ( hasil

Evaluasi
23-12-2005
S
Klien mengatakan
sudah tidak nyeri
lagi
O
- skala nyeri 1,
tanda vital T :
120/80 mmHg, Hr
100/mnt
regular,
EKG tidak ada ST
depresi/elevasi

24-12 -2005
S
Klien mengatakan
sudah tidak nyeri
lagi
O
- skala nyeri 1,
tanda vital T :
120/80 mmHg, Hr
100/mnt regular,
EKG tidak ada ST
depresi/elevasi

A
Masalah
tetap
dalam resiko

A
Masalah
tetap
dalam resiko

P
Pertahankan
intervensi

P
Pertahankan
intervensi

17

ada, ST elevasi
dan
depresi
tidak
ada,
interval PR <
0.20.
( terlampir

2.

Kurang
pengetahuan
tentang penyakit
berhubungan
dengan
deficit
knowledge.
S:
Klien mengatakan
suka makan di luar

berhubungan dengan dispnea,
mual/muntah,
pusing,
palpitasi.
8. evaluasi laporan nyeri
pada rahang, leher, bahu,
tangan/lengan khususnya
sisi kiri.
9. Posisikan pasien
pada
istirahat
total
selama
episode angina.
10. Observasi
tanda-tanda
vital tiap 5 menit selama
serangan angina.
11. Ciptakan lingkungan yang
tenang, nyaman bila perlu
batasi pengunjung
12. berikan makanan yang
lembut
13. 13. Kolaborasi :
- pemberian oksigen
- Nitrit
- Penyekat beta
- Morfin sulfat
- EKG serial
Setelah dilakukan 1.
asuhan
keperawatan
diharapkan :
- berpatisipasi
2.
dalam proses
belajar
- Bertanggung
jawab untuk

Jelaskan
kembali tentang
perlunya
mencegah
serangan
ulang.
Dorong
klien untuk
menghindari factor yang
dapat sebagai pencetus episode angina : stress,
kerja fisik, makan terlalu

terlampir )

menjelaskan
tentang
penyebab nyeri
nya yaitu karena
penyempitan
pembulu darah.
Menganjurkan
klien
untuk
menghindari

mendiskusika
n
langkah
yang diambil
bila
terjadi
serangan
angina
meliputi
:
menghentikan
aktivitas,

S
Klien mengatakan
mengetahui tentang
penyebab nyeri dan
kerugian
dari
merokok serta halhal yang harus di
hindari
untuk
mencegah

S
Klien mengatakan
mengetahui
tentang
cara
memeriksa nadi,
obat angina.
O
Klien
dapat
menjelaskan

18

rumah dan tidak
bisa menghindari
makanan
berlemak.
O:
Klien dirawat 2
kali, tidak suka
olal raga, sering
makan berlemak

-

belajar
dan
mencari
informasi
3.
tentang
penyakitnya.
Berpartisipasi
dalam program
pengobatan
4.
Melakukan
perubahan
pola hidup.
5.

6.
7.

8.

banyak/berat, perubahan
suhu yang ekstrem.
Bantu pasien untuk
mengidentifikasi sumber
fisik dan stress dan
diskusikan cara yang dapat mereka hindari.
Jelaskan
pentingnya
mengkontrol berat badan,
menghentikan
rokok.
Perubahan diet dan olah
raga.
Dorong pasien untuk mengikuti
program
yang ditentukan untuk
pencegahan kelelahan.
Tunjukkan pada pasien
untuk memantau nadi
sendiri selama aktivitas
diskusikan langkah yang
diambil
bila
terjadi
serangan
angina
:
menghentikan aktivitas,
pemberian
obat,
penggunaan
teknik
relaksasi.
Diskusikan tentang obatobat yang sesuai dengan
indikasi.

penyebab
terjadinya
serangan angina
misal
stress,
kerja berat.
Menganjurkan
klien
untuk
berhenti
merokok karena
merokok dapat
merusak
pemdulu darah.
Menjelaskan
kepada pasien
tentang
cara
pemeriksaan
pasien.

pemberian
obat,
penggunaan
teknik
relaksasi yaitu
nafas panjang
( nafas lewat
hidung dan di
keluarkan
lewat mulut )
mendiskusika
n
tentang
obat-obat
yang sesuai
dengan
indikasi,
meliputi
nitrat,
beta
bloker,
kalsium
antagonis.

terjadinya
serangan.
O
Klien
dapat
menjelaskan
kembali
tentang
penyabab angina,
hal-hal yang harus
dihindari
untuk
mencegah
terjadinyab
serangan angina.

tentang
memeriksa
obat angina

cara
nadi,

A. masalah teratasi
P.
Hentikan
intervensi

A. masalah teratasi
sebagian
P.
Lanjutkan
intervensi no. 5, 6,
7, 8.

19

IV. Kesimpulan
-

Tipe angina adalah unstabil angina atau Angina Refrakter / intraktabel

-

Pemeriksaan fisik antara kasus dan teori sama yaitu tidak ditemukan
kelainan fisik.

-

Pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada kasus adalah EKG karena
sudah di pandang cukup untuk menegakkan diagnosa.

-

Pada

pemeriksaan

laboratorium

seharusnya

adanya

pemeriksaan

kolesterol, kadar LDL dan HDL untuk mencari factor predisposisi.
-

Pengobatan pada kasus sama dengan teori yaitu meliputi nitrit, beta bloker
dan calsium antagonis

-

Tidak semua diagnosa keperawatan muncul pada kasus, karena pengkajian
pasien setelah 4 hari serangan.

V. Daftar pustaka
Brunner & Suddarth, ( 2002 ) Keperawatan Medical-Bedah Vol 2. Jakarta : EGC
Judith M. Wilkinson, ( 2005 ) Prentice Hall Nursing Diagnosis Handbook with
NIC Interventions and NOC Outcome. New Jersey : Horrisonburg.
Marilyn E. doenges at all (2000), Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC
Betram G Katzung, ( 1998 ) Farmakologi Dasar Dan Klinik. Jakarta : EGC
Sjaifoellah Noor, ( 1996 ) Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Balai
Pustaka.
PERKI, (2003) Holistic Management of Cardiovaskuler Disease, Surabaya :
Surabaya Pres.

20

Judul: Asuhan Keperawatan Klien Dengan Angina Pektoris Oleh: Sunardi (residensi Sp.kmb

Oleh: Hikmah Wahyu


Ikuti kami